Beberapa Tipe Mahasiswa
Saya pernah memiliki cita-cita menjadi presiden, agar bisa melakukan perubahan dinegeriku. Tapi, ternyata negeriku sudah mengalami kerusakan yang sangat parah. Tak mungkin mampu dilakukan perubahan. Akhirnya kuturunkan cita-citaku menjadi gubernur. Dengan harapan bisa melakukan perubahan diprovinsi. Sayang sekali, aku rasanya tak mungkin mampu karena diprovinsi juga mengalami kerusakan parah.
Terpaksa cita-citaku kuturunkan menjadi wali kota. Harapannya bisa segera merubah kotaku yang makin tak tertata. Lagi-lagi kotaku sangat parah kerusakannya. Aku takan mungkin sanggup merubahnya. Akhirnya cita-citaku kuturunkan lagi untuk melakukan perubahan dikeluargaku. Sama juga, keluargaku sangat berantakan. Sulit bagiku melakukan perubahan. Dengan terpaksa kuturunkan lagi cita-citaku. Aku hanya bercita-cita melakukan perubahan pada diri sendiri.
Akhirnya aku berpikir, andai saja dari dulu bercita-cita merubah diri sendiri, pasti bisa melakukan perubahan dikeluargaku. Dan akhirnya bukan tidak mungkin aku mampu merubah kotaku. Juga sangat mungkin aku bisa merubah provinsi. Bahkan, bukan sesuatu yang mustahil pada akhirnya aku juga bisa merubah negeriku.
Dalam buku “Rich Dad Poor Dad”, Robert Kiyosi memjelaskan bahwa ada 4 tipe orang dalam cashflow quadrant, yaitu Employee, Self-Employed, Business owner, dan investor. Kuadran 1 atau orang yang bekerja untuk uang, yakni Employee dan Self-Employe. Sedangkan dikuadran 2 atau orang yang bekerja untuk orang, yakni Business owner dan investor. Dari kedua kuadran tersebut, secara jelas Kiyosi menyatakan bahwa orang-orang yang berada dikuadran ke-2 lah yang bisa menjadi orang kaya.
Business owner seperti Bill Gates (USA), Laksmi Mittal (India), dan Carlos Lim (Meksiko) Investor seperti Warren Beffet (USA)
Melengkapi Diri Dengan Berbagai Keahlian
Jika aku harus berenang dilaut untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan belajar bagaimana berenang, dan aku akan mengerungi lautan itu.
Jika aku harus mendaki gunung tertinggi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan belajar memanjatnya, dan aku akan memanjat gunung itu.
Jika aku harus menyelam samudra terdalam untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan belajar bagimana menyelam, dan aku akan menyalami samudra itu.
Jika aku kecewa karena hal-hal yang tidak tampak seperti yang aku inginkan, maka aku akan belajar menerimanya, dan aku mencoba untuk menerimanya.
Setidaknya sekarang aku telah mengalami bagaimana berenang, mendaki dan menyelam dan bagaimana untuk menerima segala sesuatu yang berasal dari usahaku....
Kemudian, aku akan mencoba kembali untuk melakukan lebih baik. Demi apa yang aku inginkan...
Aku akan datang... dan mencapai semua itu... semoga saja keinginan ini adalah baik... dan untuk kebaikan.