URNA, Jurnal Seni Rupa merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pen-didikan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya. URNA berisikan artikel konsep-tual, resume penelitian, dan tinjauan buku. Bertujuan untuk mengembangkan dan mengomunikasikan secara luas perkembangan seni rupa dan pendidikan seni rupa baik yang sifatnya teoretis maupun pragmatis. Terbit dua kali setahun, tiap bulan Juni dan Desember.
Penanggung Jawab : Eko A.B. Oemar
Ketua Penyunting : I Nyoman Lodra
Wakil Ketua Penyunting : Asy Syams Elya Ahmad
Penyunting Ahli : Djuli Djatiprambudi (Universitas Negeri Surabaya) Martadi (Universitas Negeri Surabaya)
Sofyan Salam (Universitas Negeri Makassar)
Tjetjep Rohendi Rohidi (Universitas Negeri Semarang)
Penyunting Pelaksana : Salamun Kaulam
Asidigisianti Surya Patria Muhajir Nadhiputro Marsudi
Sekretaris : Nova Kristiana
Administrasi : Fera Ratyaningrum
Alamat Redaksi:
Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya Gedung T3 Lt. 2, Kampus Lidah Wetan Surabaya 64732
Telp/Fax. 031-7530865 | E-mail: [email protected]
[email protected] | Website: http://www.urna-jurnalsenirupa.org
ISSN 2301–8135
© 2012 Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya
ISSN 2301–8135
Vol. 1, No. 1 (Juni 2012): 1–105
d a f t a r i s i
Artikel:
PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS DALAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA Martadi (Universitas Negeri Surabaya)
PERLINDUNGAN PENGETAHUAN TRADISIONAL DAN PRAKTIK HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL I Nyoman Lodra (Universitas Negeri Surabaya)
NILAI ESTETIKA DALAM KOMODIFIKASI WADAH DI MASYARAKAT HINDU BALI I Ketut Side Arsa (Institut Seni Indonesia Denpasar)
PROSES APRESIASI DAN KREASI DALAM TRITUNGGAL SENI M. Sattar (Universitas Negeri Surabaya)
PENGGUNAAN UNSUR-UNSUR BUDAYA BALI DALAM BOG-BOG BALI CARTOON MAGAZINE I Wayan Swandi (Institut Seni Indonesia Denpasar)
CITRA WANITA DALAM KARYA SENI RUPA Muhajir Nadhiputro (Universitas Negeri Surabaya)
MAKNA SIMBOLIS RAGAM HIAS PENDAPA TERAS CANDI PANATARAN Rustarmadi (Universitas Negeri Surabaya)
1
11
21
30
42
50
ISSN 2301–8135
Vol. 1, No. 1 (Juni 2012): 1–105
Resume Penelitian:
PERSEPSI GENDER GAMBAR ILUSTRASI DALAM BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SEKOLAH DASAR KELAS I – III Asidigisianti Surya Patria (Universitas Negeri Surabaya)
PENGEMBANGAN MEDIA DIGITAL KRIYA TOPENG MALANG UNTUK PEMBELAJARAN
SENI BUDAYA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Marsudi (Universitas Negeri Surabaya)
Tinjauan Buku:
BUKU PENTING DI TENGAH DUNIA SENI RUPA YANG GENTING Djuli Djatiprambudi (Universitas Negeri Surabaya)
76
89
CITRA WANITA DALAM KARYA SENI RUPA
Muhajir Nadhiputro
Abstrak: Pencitraan wanita dalam karya seni rupa beraneka ragam, bergantung pada latar belakang penciptaan karya tersebut. Kajian atas sejumlah karya seni rupa ini menyimpulkan beberapa jenis pencitraan antara lain wanita sebagai simbol kesuburan, feminin, sifat keibuan, manusia lemah, penghias dunia lelaki, keagungan dari wanita sempurna, simbol kepahlawanan dan didekonstruksi.
Abstract: Imaging of women in art works really vary, depending on the background of the creation of the works. This study concerning a number of art works concluded several types of imaging such: as a symbol of fertility, feminine, maternal love, a delicate human being, a ornament to the world of men, the glory of perfect women a symbol of
heroism, deconsrtucted as an unattractive human being.
Kata kunci: citra, wanita, karya seni rupa
Banyak cara untuk mencitrakan wanita, dalam tradisi Jawa wanita dicitrakan sebagai sumber keberuntungan atau kesuburan (Dewi Sri). Wanita juga sering disimbolkan sebagai bumi yang mengayomi (Dewi Pratiwi). Tetapi di samping citra positif, dalam perspektif gender, wanita lazim pula dicitrakan secara negatif, sebagai sosok inferior di bawah subordinasi laki-laki. Wanita atau perempuan, da-lam masyarakat patriarkhi “didudukkan” lebih rendah daripada laki-laki. Dada-lam perspektif gender atribut-atribut kewanitaan seperti lemah lembut, pasif, patuh, ketergantungan dan sifat-sifat femininitas yang lain bukanlah kodrat akan tetapi konstruksi sosial yang dikreasi oleh kaum laki-laki.
Tiap-tiap pencitraan wanita mulanya muncul dari setting yang bersifat kon-tekstual, dari latar belakang sosial budaya tertentu dan untuk tujuan tertentu pula yang kemudian menjadi mitos. Karena itu, maka tidak terlalu berbeda dasar ke-wanitaannya antara dewi Tamara, raja putri dari Kaukasia, Hatsjepsut dari Mesir Kuno, Nyi Roro Kidul dalam mitologi Jawa dengan kupu-kupu malam di pinggir jalan. Bedanya hanya yang satu penakluk para raja sedang yang lain penakluk para hidung belang. Barangkali selamanya wanita tinggal sebuah misteri. Apakah ia
Muhajir Nadhiputro adalah Staf Pengajar pada Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya. e-mail: [email protected]
akan dianggap sebagai dewi yang agung dan keramat, ataukah dipandang sebagai setan penggoda, tergantung dari kasus dan tradisinya.
Citra wanita tidak hanya lazim diungkapkan secara verbal melalui karya sas-tra, tetapi acap pula terekspresikan dalam bentuk visual seperti yang dilakukan oleh para perupa. Baik citra kewanitaan yang terungkap lewat bahasa verbal mau-pun lewat bahasa rupa pada dasarnya adalah merupakan perwujudan dari konsep kewanitaan suatu bangsa, kelompok etnis, atau bahkan perorangan semata yang karena itu maka beraneka ragam pula bentuknya. Berangkat dari latar belakang tersebut tulisan ini mencoba memaparkan pencitraan wanita oleh para perupa yang terjabarkan lewat karya-karyanya. Data diperoleh dari literatur yang memuat gambar-gambar (reproduksi wanita) yang diambil sesuai kebutuhan dan tujuan.
PATUNG DAN LUKISAN “VENUS”
Patung Venus dari Willendorf boleh jadi merupakan perwujudan patung ter-tua yang menggambarkan figur wanita. Patung ini berasal dari masa prasejarah Eropa, dari era Paleolitikum sekitar 20.000 tahun sebelum masehi. Di dalam sejarah Romawi Venus dikenal sebagai dewi kecantikan, cinta, dan perjodohan. Venus juga diidentikkan dengan Aprodit, yang hidup dalam mitologi Yunani.
Gambar 1. Patung Venus dari Willendorf
Mengamati patung ini dengan menggunakan kriteria kecantikan kita era seka-rang tidak akan menemukan hasil yang memuaskan, karena tidak dapat dijumpai citra kecantikan seorang dewi di dalamnya. Secara bentuk patung ini dapat dika-takan tidak ideal, sebab postur tubuhnya terlalu gendut cenderung bulat. Agaknya Venus dari Willendorf ini merupakan perwujudan dewi kesuburan. Deskripsi
patung tersebut ialah kepala besar yang seolah-olah tidak memiliki leher, dengan berhiaskan rambut keriting. Dengan kata lain, bagian kepala langsung berhubu-ngan deberhubu-ngan tubuh yang didominasi oleh menggelembungnya buah dada dan perut besar, dengan central point bagian pusar. Dalam keadaan demikian, patung bugil ini jelas tidak memiliki pinggang langsing. Lebih lanjut kesan gendutnya disokong pula oleh pangkal paha yang besar, sementara ujung kakinya teramat ke-cil. Agaknya, karena sebagai lambang kesuburan, maka pengerjaan teknis patung Venus dari Willendorf dipusatkan pada organ-organ tubuh yang secara fungsional mendukung aspek reproduksi, yakni buah dada, perut dan wilayah sekitarnya. Raut muka, tangan dan kaki nyaris tidak dikerjakan.
Gambar 2. Lukisan Venus karya Sandro Botticelli
Salah satu karya unggulan Sandro Botticelli ialah Venus yang berangka tahun 1486 (Monteverdi, 1985: 220). Bila dibandingkan antara lukisan Venus kreasi Bot-ticelli dengan patung Venus dari Willendorf terdapat persamaan dan perbedaan sebagai berikut, persamaannya, dua karya tersebut diungkapkan secara telanjang badan dan sama-sama berkesan agung. Sedang perbedaannya, Venus Willendorf lebih memancarkan keagungan esoteric (keagungan dalam), sedang Venus-nya Botticelli adalah perpaduan antara keagungan esoteric dan “keanggunan ekso-terik” yang secara nyata terjabar lewat “kesempurnaan” bentuk lahiriahnya. Mem-bandingkan keduanya secara tata lahiriah memang berbeda kontras. Karakteristik bentuk visual Venus dari Willendorf sebagaimana telah disebutkan serba tambun kebulat-bulatan (identik dengan kesuburan), sedangkan Venus Botticelli digam-barkan sebagai sosok wanita (dewi), dengan kullit kuning langsat (mulus) dan rambut terurai panjang hingga bagian ujungnya dimanfaatkan untuk menutupi
MUHAJIR N., Citra Wanita dalam Karya Seni Rupa • 53 alat kelaminnya. Kesan secara keseluruhan lukisan Venus Botticelli ialah Feminin.
Venus lainnya adalah yang dilukis oleh Francois Boucher (1703–1770). Diban-dingkan dengan Venus-venus terdahulu, Venus karya Boucher terkesan sama sekali tidak memancarkan keagungan esoterik. Ia dapat dikatakan lebih menyinarkan ke-cantikan eksoterik yang cenderung artifisial kulit dangkal. Dalam menggali hakikat kewanitaan agaknya Boucher sangat dipengaruhi oleh gemerlapnya kehidupan para putri bangsawan Perancis yang sangat mewah. Maka lahirlah dari tangan-nya Venus ratu glamour, yang oleh van Peursen (1976) disindir lebih menyerupai seorang wanita muda yang puas diri dan sedang melamun, kenes dan terbuai da-lam kecantikannya. Adegan ini seolah-olah dipandang oleh seorang seniman yang wawasan spiritualnya kurang mendalam, sehingga kendatipun sosok ini digam-barkan dengan beberapa identitas Venus, seperi kulit kerang dan burung-burung dara namun tetap saja kurang memancarkan keagungan seorang dewi.
MADONNA KARYA PARMIGIANINO
Dalam tradisi kesenian Kristen tokoh Madonna (Perawan Suci Maria) banyak digambarkan oleh para seniman. Salah satu di antaranya ialah The Madonna of the Long Neck, karya Francisco Parmigianino (Monteverdi, 1985: 263).
Gambar 3. Madonna, lukisan karya F. Parmigianino
selain ditempatkan di tengah-tengah komposisi, juga digambarkan lebih besar dari objek pelengkap lainnya. Proporsi tubuh Madonna ini serba kepanjang-panjangan, terutama bagian lehernya. Sikap kaki, tangan, dan tubuh Madonna yang tengah memangku bayi (Yesus?) seolah-olah mengalirkan sifat-sifat perawan suci Maria yang agung dan penuh kasih.
WANITA DALAM LUKISAN EUGENE DELACROIX, PIETRO DA CORTANA, DAN MANET
Eugene Delacroix pada tahun 1827 berhasil menciptakan karya yang menggem-parkan berjudul Kematian Sardanapalus. Lukisan itu menggambarkan adegan peperangan antara bangsa Yunani versus orang-orang Turki. Sebagai seniman, Delacroix menaruh interes berat terhadap kesenian dan literatur-literatur Inggris, terutama karya-karya sastra Shakespeare, Scott, dan Byron. Lukisan tentang kema-tian Sardanapalus adalah karya besarnya yang diilhami oleh dongeng sastranya Byron.
Gambar 4. Kematian Sardanapalus, lukisan karya Eugene Delacroix
Lukisan tersebut selain menegaskan tentang pertarungan fisik juga mengeks-ploitasi bentuk pornografi yang terjabar dalam wanita-wanita telanjang/setengah telanjang tak berdaya menghadapi perlakuan garang dari para lelaki perampas ke-hormatan. Suasana garang ditunjang pula oleh pemilihan warna yang tepat, coklat bernuansa kemerah-merahan (Janson, 1984: 128). Posisi wanita dalam subordinasi pria, sebagai makhluk yang lemah, yang tak mampu melindungi dirinya sendiri, bahkan tak berani melakukan perlawanan terhadap bahaya yang mengancamnya.
Adegan serupa Kematian Sardanapalus dapat disimak pada karya Pietro Da
MUHAJIR N., Citra Wanita dalam Karya Seni Rupa • 55 Cortana berjudul The Rape of the Sabine Women (Monteverdi, 1985: 285). Adegan yang menggambarkan perkosaan terhadap wanita Sabina ini berangka tahun 1629, termasuk dalam era Barok. Memang Pietro da Cortana adalah seorang pelukis dekoratif Barok yang memiliki reputasi besar pada jamannya. Ia sangat mengagu-mi, dan karenanya terpengaruh oleh karya-karya Titian yang kaya akan warna. Karya-karya masterpiece-nya berupa fresco banyak menghiasi ceiling (langit-langit) istana Barberini di Roma. Hal ini tidak mengherankan karena Paus VIII, seorang patron kuat Pietro berasal dari keluarga Barberini. Mario Monteverdi menggam-barkan kepiawaian Pietro: “…agaknya Pietro adalah eksponen gaya Lukisan Deko-ratif Barok yang amat tipikal dan spektakuler. Kecakapan teknik tinggi dengan keberanian membuat komposisi warna vibrant (bersemangat, bergetar) adalah ciri khasnya (Monteverdi, 1985: 125). Kembali pada persoalan The Rape of the Sabine Women, lukisan ini menyuguhkan keperkasaan para lelaki yang tengah menjarah tubuh-tubuh wanita. Visualisasi wanita-wanita sintal yang meronta-ronta, didu-kung dengan warna-warna vibrant mampu menggetarkan syahwat para pemirsa. Dengan demikian suasana dalam lukisan ini sangat tepat dengan tema/judulnya. Kendatipun figur-figur wanita dalam lukisan ini tidak sepasrah wanita-wanita da-lam “Kematian Sardanapalus,”—karena berusaha melawan dengan cara meronta-ronta—tetap saja menempatkan wanita dalam posisi subordinasi pria. Dengan kata lain ketidaksetaraan gender telah berhasil digambarkan secara gemilang.
Gambar 5. Le De Jeuner Sur I’Herbe, karya Manet
kebun raya, menampilkan dua pasang lelaki-perempuan dengan teknik pengerjaan naturalis-impressionistis. Dua sosok lelaki dandy nampak sedang merayu pasa-ngannya. Ironisnya, yang lelaki digambarkan berbusana lengkap (parlente), sedang dua ceweknya disuguhkan secara bugil dan setengah bugil. Terasa sekali bahwa dalam adegan tersebut citra wanita tak lebih sebagai penghias dunia lelaki. Ber-beda dengan wanita-wanita dalam “Kematian Sardanapalus” dan wanita-wanita dalam “Pemerkosaan wanita-wanita Sabina,” (yang berada dalam suasana ketaku-tan), wanita-wanita dalam bingkai lukisan Manet ini justeru berada dalam suasana seolah-olah seperti sang putri yang tengah bersanding dengan sang pangeran, yang penuh kenyamanan, keakraban dan kehangatan. Kondisi dan keberadaannya bersama lelaki di perkebunan bukan atas keputusan superior sang lelaki perampas, akan tetapi keputusan yang diprogramkan bersama, dalam posisi tawar yang se-tara. Namun demikian, tetap saja, seperti kodrat umum yang berlaku, keberadaan-nya sebagai penghias, pelengkap.
WANITA-WANITA DALAM KARYA PICASSO.
Pablo Ruis Picasso (1881-1973), pelukis asal Barcelona yang pertama kali be-lajar corat-coret kepada ayahnya, sebelum menjalani studi formalnya di Barcelona School of Art ini, lebih banyak dikenal sebagai tokoh yang berkutat dalam aliran Kubisme daripada sebagai seniman petualang yang selalu gelisah mencipta dan berinovasi. Padahal selain melukis, Picasso juga membuat karya-karya patung dan grafis yang seluruhnya ditaksir mencapai 20.000 karya.
Gambar 6.Marie Therese Walter, lukisan karya Picasso
MUHAJIR N., Citra Wanita dalam Karya Seni Rupa • 57 Ada satu hal lagi yang mungkin terlewat dari pengamatan kita, yaitu ke-nyataan bahwa Picasso banyak mengangkat objek wanita dalam karya-karyanya. Kebesaran nama Picasso (terutama diukur dari segi materi) bukanlah karena dia bapak Kubisme, akan tetapi lebih disebabkan oleh semangat “menggarap wanita.” Misalnya berkat perkenalannya dengan wanita bernama Fernande Oliver, maka mengalirlah sejumlah lukisan dengan objek wanita (periode merah jambu) yang amat terkenal itu. Begitu pun ketika Picasso melompat dan memantapkan diri dalam Kubisme tetap kita jumpai karya-karyanya yang menampilkan objek-objek wanita. Beberapa contoh yang bisa disebutkan antara lain Les Demosseles de Avignon (Perawan-perawan dari Avignon) kreasi tahun 1907 dan Perenang (wanita) sedang duduk (1930), serta Marie Theresa Walter. Perawan-perawan Avignon menggam-barkan lima sosok wanita PSK bugil dalam berbagai gaya, perenang menggambar-kan wanita bugil dalam pose duduk bersantai, sedang Marie Theresa Walter meng-gambarkan kekasih gelap kepercayaan Picasso. Tiga lukisan tersebut diwujudkan dalam gaya Kubisme yang cenderung membelah-belah objek. Berkenaan dengan ini Salvador Dali berujar bahwa Picasso adalah seniman genius abad ke-20, yang telah menghancurkan keindahan.
PATUNG IBU DAN ANAK DARI SUMATERA
Pelacakan sosok wanita dalam karya seni rupa dari dalam negeri menjumpai figur patung batu dari Sumatera Utara yang menggambarkan sosok ibu sedang memangku/merangkul dua anaknya. Patung ini berasal dari masa Prasejarah Megalitikum, suatu periode yang ditandai dengan ciptaan-ciptaan karya dari mate-rial batu berukuran besar. Mengamati patung tersebut dapat dibuat deskripsi se-bagai berikut (1) patung ini nampak massif dan berat, (2) tampak sederhana, kaku, hanya mengutamakan esensi bentuk, (3) tanpa ornamen alias polos, (4) ukuran telinga terlampau besar, (5) menggambarkan seorang ibu sedang memangku dua orang bocah, (6) bentuk bocah tersebut tidak seperti anak-anak, akan tetapi lebih menyerupai orang dewasa yang diperkecil ukurannya. Kesan secara keseluruhan yang dapat dirasakan atas citra wanita dalam patung ini ialah sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan perlindungan.
PRAJNAPARAMITA
Pada abad XIII—dalam sejarah kesenian Indonesia kurun waktu tersebut termasuk Masa Klasik/masa pengaruh Hindu-Budha dari India—dapat dijumpai sebuah patung legendaris Sang Primadona Prajnaparamita. Tingkat kemashyuran patung ini dapat disejajarkan dengan patung Nefertiti dari Kesenian Mesir Kuno, atau Monalisa karya Leonardo da Vinci dari era Renaissance Itali.
patung Prajnaparamita dapat dipaparkan sebagai berikut (1) tokoh digambarkan dalam posisi duduk bersila di atas padmasana, (2) menunjukkan teknik pengerjaan naturalis tingkat tinggi dengan komposisi simetri, (3) kaya ornamen, namun secara keseluruhan tetap menunjukkan kesan tenang dan anggun, atau dapat dikatakan perpaduan antara pancaran keagungan esoterik dengan keindahan eksoterik, (4) semua ciri tersebut menunjukkan karakteristik patung Klasik Jawa Hindu.
Gambar 7. Patung Prajnaparamita dari Singosari
PATUNG DURGA DARI CANDI JAWI
Dalam masa yang sama dengan patung Prajnaparamita, yaitu masa Pengaruh Hindu dapat dijumpai sejumlah patung wanita bernama Dewi Durgamahes Sura-mardini. Salah satu di antaranya, yang akan dibahas ialah patung Durga yang berasal dari candi Jawi, di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Personifikasi Durga dalam bentuk patung pada umumnya berupa seorang dewi berdiri di atas kerbau “njerum” (mendekam). Konon kerbau tersebut merupakan penjelmaan Asura, yang suatu saat pernah menjarah dan menguasai kerajaan para dewa. Untuk mematah-kan kekuatan bala tentara Asura maka para dewa bersekutu mengerahmematah-kan sakti-nya, yang kemudian terjelmalah Dewi Durga (Holt, 2000). Analisis terhadap dewi Durgamahesa Suramardini dapat dikemukakan sebagai berikut (1) patung durga digambarkan dalam sikap berdiri di atas kerbau Asura yang sedang mendekam, (2) Durga digambarkan dengan atribut lengkap seperti mahkota, telinga berhiaskan kendala yang memanjang dan mewah, kalung mutiara yang berangkap-rangkap, memakai gelang dan binggel, (3) tangannya berjumlah delapan: tangan sebelah kanan menarik ekor kerbau, sedang tangan kirinya “menjambak” (menarik paksa) rambut Asura (4) tangan yang lain memegang senjata cakra, sangkha, dhanu,
MUHAJIR N., Citra Wanita dalam Karya Seni Rupa • 59 khadga, trisula, angkusa, khetela, dan sara, (5) komposisi bentuk nyaris simetri, (6) teknik naturalis, dengan kualitas pengerjaan satu tingkat di bawah patung Prajna-paramita di atas.
WANITA DALAM LUKISAN KARYA BASUKI ABDULLAH DAN HENDRA GUNAWAN,
Dalam khasanah seni rupa modern Indonesia dapat dijumpai beberapa penci-traan wanita yang cukup menarik disimak. Tokoh pelukis Indonesia yang banyak melukis wanita ialah Basuki Abdullah. Seniman flamboyan yang oleh istrinya sen-diri dikenal sebagai pengagum wanita cantik ini sangat produktif melukis dan an-tusias mengangkat harkat keindahan wanita dalam karya-karyanya. Wanita yang ia garap mulai dari para ibu Negara hingga artis papan atas. Dari Ratu Juliana, Tien Soeharto, Ranta Sari Dewi, Mahacakri Sirindorn hingga Cintami Atmanegara dan Yenny Rachman. Dari yang berbusana resmi seperti Ibu Tien Soeharto sampai yang resmi tidak berbusana seperti karyanya yang berjudul “Telanjang” dan “Kembali ke Alam.” Tampaknya Basuki Abdullah pria bertipe romantik yang amat menyenangi keindahan. Dan sifat itu agaknya berpengaruh kuat untuk selalu memperindah (mempercantik) objek-objek dalam lukisannya. Ungkapan klise untuk Basuki Ab-dullah mengatakan bahwa pelukis ini mampu melukis wanita jelek menjadi agak cantik, yang cantik menjadi sangat cantik, seperti iklan Fuji Film: ”Lebih indah dari warna aslinya.” Ungkapan tersebut sering berlanjut menjadi ledekan bahwa karya-karya Basuki cenderung turistik, yang memberikan kepuasan kulit luar.
Pilihan berikutnya ialah Hendra Gunawan (1917-1983). Pelukis kelahiran Bandung ini ditinjau dari segi usia seangkatan dengan Basuki Abdullah. Namun ditilik dari kemampuan teknik melukis Naturalis-Turistik, jelas berbeda rumpun. Hendra tidak pernah “kepencut” terhadap karya-karya manis. Ia lebih banyak
menggali tema-tema sosial dari kelas dan suasana kerakyatan, seperti “Sekaten,” “Petan” (Mencari Kutu), Kerokan, Menyusui Anak Tetangga, Tiga Pelacur. Lukisan Sekaten menggambarkan tiga sosok wanita (mungkin ibu dan anak) berada di latar depan, sedang latar belakangnya adalah suasana keramaian pasar malam. Lukisan Petan juga menggambarkan tiga sosok wanita (tiga generasi?) yang komposisinya diatur secara vertikal, sedang Tiga Pelacur menggambarkan Pekerja Seks Komersial (PSK) tengah menghias diri. Karakteristik karya-karya Hendra selain tampak pada tema juga kelihatan pada proporsi bentuk yang agak kepanjang-panjangan, teknik pewarnaannya datar (opaque) menyala, yang seolah-olah tak mau disibuki oleh kecermatan detil. Sifat-sifat demikian ini oleh Claire Holt (2000: 220) dipandang mengingatkan pada karya-karya Gauguin.
WANITA DESA DALAM KARYA SUDARSO
Selanjutnya, kesempatan jatuh pada Sudarso (1914-2006). Pelukis kelahiran Purwokerto ini mengembangkan karir kesenimanannya di kota Gudeg, Yogyakarta. Sudarso pernah bergabung dengan “Kelompok Lima”, yang terdiri atas Affandi, Hendra Gunawan, Barli S, Wahdi Sumanta dan Sudarso sendiri. Pelukis satu ini kesetiaannya terhadap objek wanita tidak pernah ingkar janji. Objek wanita yang diangkat pada kanvasnya selama bertahun-tahun mayoritas ialah wanita desa de-ngan busana kebaya yang bersahaja. Untuk mendukung citra kedesaannya, maka cara mengenakan kain nampak tidak formal. Artinya, kain jarit yang dikenakan tidak mengenal wiru dan lagi “cingkrang” (kurang panjang). Dalam keadaan betisnya hanya tertutup setengah lutut itu justru dimanfaatkan oleh Sudarso untuk menggarap bagian kaki (kebetulan selalu tanpa alas) sebaik mungkin. Satu perta-nyaan yang sering dilontarkan terkait hal ini ialah mengapa Sudarso selalu melukis wanita dalam gaya, bentuk, adegan, dan suasana yang nyaris sama, yaitu wanita Jawa, dalam setting desa, tengah duduk sendiri, dalam suasana sunyi. Misalnya Dik Kedah, Tinah, dan Dik Tiul.
WANITA BERMATA BOLONG JEIHAN
Jeihan Sukmantoro lahir di Solo pada tahun 1938. Ia belajar di HBS (Himpunan Budaya Surakarta) tahun 1953-1955, dan menimba ilmu di ITB (Institut Teknologi Bandung) pada 1960-1966. Jeihan kemudian mengembangkan karir sebagai seni-man professional, menetap dan berkarya di Bandung. Sebagian besar karya lukisan Jeihan menggambarkan sosok-sosok manusia, terutama wanita sederhana, dalam suasana santai, tidak sedang melakukan ativitas, dalam posisi duduk, atau tidur.
Secara fisikal, karakteristik karya-karya Jeihan tampak pada penggambaran objek manusia yang diungkapkan secara datar (flat), dengan warna biru, abu-abu, keputih-putihan yang disokong dengan kontur wana gelap kehitam-hitaman. Sosok-sosok wanita yang ditampilakan Jeihan lazimnya berpostur langsing, se-mentara bagian mata dibuat gelap seolah-olah berlubang (bolong) seperti menatap
MUHAJIR N., Citra Wanita dalam Karya Seni Rupa • 61 dengan pandangan kosong. Nyaris serupa dengan karya-karya Sudarso, wanita-wanita Jeihan lazimnya juga dalam setting kesendirian, sunyi, memendam rindu, seperti yang berjudul Arifah (1987).
Gambar10.Arifah, lukisan karya Jeihan
GAYA KUBIS PADA LUKISAN WANITA IDA HADJAR
Ida Hadjar (1942-2004) belajar melukis di ASRI (Akademi Seni Rupa Indone-sia) Yogyakarta. Karya-karya nya mendapat pengaruh karya Picasso yang kubistis dan karya pelukis Mexico Diego Rivera yang bervisi Realisme Sosial. Pada tahun 1967 Ida Hadjar menerima penghargaan dari Wendy Sorenson Memorial, New York, dan tahun 1992 menerima penghargaan “Canting Emas,” dari Yogyakarta, sebuah penghargaan di bidang lukisan Batik. Berkenaan dengan kepiawaiannya melukis dengan medium batik, pada tahun 1983-1985 Ida Hadjar hijrah sementara ke Amerik dan mengajar melukis batik di Ann Arbor Art Association & The Interna-tional Neighbours di Michigan. Sebagai pelukis wanita, tampaknya Ida Hadjar ingin melawan stereotipe wanita sebagai makhluk yang lembek, sebaliknya ia memba-ngun citra wanita yang “struggle” penuh perjuangan hidup. Kesan itu dinyatakan dalam figur-figur wanita yang kuat, dalam gaya kubis dengan kontur tebal, gelap, dan tegas, seperti karyanya yang menggambarkan empat sosok wanita, berjudul “Pergi ke Pasar.”
KESIMPULAN
bentuk pada aspek-aspek pendukung fungsi reproduksi, seperti buah dada perut dan pusar menjadi penting, misalnya patung Venus dari Willendorf. Kedua, men-citrakan sifat kewanitaan yang terjabar lewat kecantikan paras, keelokan tubuh, lemah lembut, anggun dan sifat-sifat lain yang mengarah pada feminitas. Misalnya lukisan Venus karya Botticelli dan Venus karya Francois Boucher. Ketiga, Sifat keibuan yang penuh kasih sayang, perawatan dan pengasuhan terhadap buah hat-inya, seperti pada lukisan Madonna karya Parmigianino dan sosok patung batu prasejarah dari Sumatra Utara. Keempat, Citra wanita sebagai makhluk lemah, makhluk yang bahkan tak berdaya melindungi dirinya sendiri terhadap kekuatan, keperkasaan, dan kegarangan lelaki yang hendak merampas kewanitaannya. Citra ini tampak pada karya Delacroix “Kematian Sardanapalus” dan karya Da Cortana “Pemerkosaan Wanita-wanita Sabina” yang memposisikan wanita dalam suasana tercekam/ketakutan. Kelima, citra wanita dalam posisi dan suasana hati tersanjung, dikagumi, digandrungi sekaligus sebagai penghias dunia lelaki, seperti karya Manet dan karya-karya Basuki Abdullah. Keenam Citra keagungan wanita “sempurna” yang merupakan perpaduan antara keelokan rupa, derajad kebangsawanan dan kekuatan spiritual, seperti pada patung Prajna Paramita. Ketujuh, penggambaran wanita sebagai simbol kepahlawanan seperti patung Dewi Durgamahesa Suramar-dini. Sifat kepahlawanan dan keperkasaannya tergambar pada sikap badan dan kakinya yang dalam posisi siaga serta sejumlah senjata yang berada dalam geng-gaman tangannya. Kedelapan, citra ironi wanita, maksudnya wanita yang secara generik dicitrakan sebagai simbol keindahan/kecantikan, justru didekonstruksi bentuknya menjadi sosok yang kurang menarik, tidak menarik, bahkan menakut-kan. Pencitraan serupa ini misalnya tampak pada karya-karya Picasso, Hendra Gunawan, dan Ida Hadjar.
Dalam banyak kasus visualisasi dan pencitraan wanita dalam karya seni rupa ternyata sejalan dengan perspektif/teori gender yang memposisikan wanita/ perempuan sebagai sosok inferior, tersubordinasi oleh laki-laki. Kesejalanan terse-but boleh jadi karena ketimpangan gender adalah merupakan produk konstruksi kaum laki-laki, sama halnya pencitraan/visualisasi wanita dalam karya seni rupa juga merupakan konstruksi/kreasi laki-laki.
DAFTAR PUSTAKA
Bowness, Alan, ed. 1985. Book of Art Volume 7: Impressionists and Post-Impressionists. Grolier. Holt, Claire. 2000. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Terjemahan Soedarso RM.
Bandung: Arti.Line.
Janson, H.W. 1984. History of Art. New York: Harry N. Abrams, INC.
Monteverdi, Mario ed. 1985. The Book of Art Volume 2: Italian Art to 1850. Grolier Soedarso, S.P. (Ed), 1992, Seni Patung Indonesia, BP ISI Yogyakarta.
van Peursen, C.A. 1976. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.