ISSN: 0853 - 3098
HIMPSI2012, Volume IX, No. 2
ART THERAPY UNTUK PENINGKATAN SUBJECTIVE WELL-BEING LANSIA
ART THERAPY TO INCREASE THE SUBJECTIVE WELL-BEING OF THE ELDERLY Francesca Tjubandrio, Soerjantini Rahaju, & Sutyas Prihanto
Universitas Surabaya
EFEKTIVITAS PELATIHAN PENGENALAN DIRI UNTUK MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA AWAL
THE EFFECTIVENESS OF UNDERSTANDING TRAINING TO INCREASE SELF-CONFIDENCE IN EARLY ADOLESCENTS
Ziyadatul Khair & Herlina Siwi Widiana Universitas Ahmad Dahlan
STUDI KASUS: TERAPI KOGNITIF PERILAKUAN UNTUK INDIVIDU PENDERITA SCHIZOPHRENIA DI INDONESIA
CASE STUDY: COGNITIVE-BEHAVIOR THERAPY FOR INDIVIDUALS WITH SCHIZOPHRENIA IN INDONESIA
Cicilia Evi
Rumah Sakit Premier Surabaya
PENANGANAN STRESS TERINTEGRASI: KONSEP BIOPSIKOSOIAL DAN SPIRITUAL UNTUK MENANGANI STRESS PADA REMAJA
INTEGRATED HELP STRESS SOLVING: BIOPSYCHOSOCIAL AND SPIRITUAL CONCEPT TO HANDLE STRESS FOR TEENS
Farida Hidayati, Darosy Endah Hyoscyamina, & Pariman Universitas Diponegoro
PENGARUH RESTRUKTURISASI KOGNITIF MELALUI AL-FATIHAH TERHADAP PENURUNAN DERAJAT STRES PADA PENDERITA DEMAM REMATIK DENGAN GEJALA KOREA
THE EFFECT OF COGNITIVE RESTRUCTURATION THROUGH AL-FATIHAH ON
THE DECREASE OF STRESS LEVEL IN “DEMAM REMATIK WITH KOREA SYMPTOMS” PATIENTS
Jurnal Psikologi Indonesia terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Juni dan Desember. Redaksi menerima tulisan berupa laporan hasil penelitian dalam bidang psikologi yang dilakukan oleh para ahli atau pemerhati psikologi. Tulisan dikirimkan dalam bentuk hard copy dan soft copy melalui alamat redaksi dalam satu berkas, atau soft copy dikirimkan secara terpisah melalui e-mail dengan alamat: [email protected].
Sekertaris Dewan Redaksi : TJIPTO SUSANA
MONTI P. SATIADARMA
i
Pengantar
Kontribusi Psikologi dalam ikut memberikan layanan bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat secara paripurna di Tanah Air terasa semakin besar dan
nyata. Sumbangan tersebut diberikan oleh Psikologi baik secara mandiri sebagai
disiplin ilmu tentang perilaku manusia, maupun juga dalam kerja sama dengan
bidang atau disiplin ilmu yang lain. Pengamatan kasar tersebut mendapatkan
sekadar bukti dari artikel-artikel yang disajikan dalam volume ini.
Pada artikel pertama, berdasarkan penelitian yang mereka lakukan di sebuah
panti wreda,
Francesca Tjubandrio,
Soerjantini Rahaju, dan
Sutyas Prihanto,
ketiganya berasal dari Universitas Surabaya berupaya meningkatkan kesejahteraan
psikologis lansia melalui
art therapy
. Penelitian ini membuktikan bahwa aktivitas seni
yang dilakukan meliputi menggambar, melukis, melipat kertas, menempel, menghias,
menggunting, dilanjutkan dengan refleksi dapat meningkatkan kepuasan dan afek
positif serta mengurangi afek negatif pada lansia yang tinggal di panti wreda.
Pada artikel kedua,
Ziyadatul Khair
dan
Herlina Siwi Widiana
dari
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, berdasarkan studi literatur yang dilakukan
menemukan bahwa remaja sedang dalam tahap krisis kepercayaan diri. Menurut
berbagai penelitian, kepercayaan diri remaja sangat berperan dalam mempengaruhi
berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah prestasi akademik. Mengingat
pentingnya kepercayaan diri bagi kesejahteraan remaja, maka kedua peneliti ini
berupaya melakukan intervensi dengan cara memberikan pelatihan mengenal diri
sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan pengenalan diri efektif untuk
meningkatkan kepercayaan diri pada remaja awal.
Pada artikel ketiga,
Farida Dwi Rahma
dan
Hamidah
dari Universitas
Airlangga Surabaya melaporkan bukti yang mereka temukan dari penelitian yang
mereka lakukan pada sekelompok remaja penghuni panti rehabilitasi sosial tentang
efektivitas
group art therapy
dengan metode menggambar untuk menurunkan stres
yang dialami oleh kelompok remaja tersebut.
Indonesia memiliki prevalensi yang tinggi untuk masalah kesehatan jiwa,
termasuk kasus skizofrenia. Pada artikel keempat,
Cicilia Evi
dari Rumah Sakit
Premier Surabaya,
berdasarkan studi kasus terhadap dua pasien skizofrenia dari RS
Jiwa Menur Surabaya, melaporkan bahwa terapi kognitif perilaku bisa membantu
penderita untuk memiliki pemahaman yang benar mengenai delusi, halusinasi dan
berbagai keyakinan yang kurang tepat sebagai gejala dari skizofrenia. Pada sesi
terapi ini, penderita diberi kesempatan untuk mengenali berbagai gejala unik yang
muncul sesaat sebelum mengalami
relapse
. Dengan demikian diharapkan penderita
akan lebih mampu mengantisipasi kekambuhan atau memperpanjang waktu
terjadinya kekambuhan.
ii
Saktiyono B. Purwoko
dari Universitas Islam Bandung melaporkan penelitiannya
tentang pengaruh restrukturisasi kognitif melalui
al-Fâtihah
dalam upaya menurunkan
derajat stres pada penderita demam rematik dengan gejala korea. Dia menemukan
bahwa metode tersebut terbukti efektif untuk mengurangi stres penderita demam
rematik dengan gejala korea pada tingkat
moderate
.
Itulah sekadar gambaran tentang aneka bentuk sumbangan Pskologi dalam
ikut memberikan layanan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara
paripurna di Tanah Air. Selamat membaca!
Penyakit yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor-faktor psikologis dinamakan
psychophysiological disorders (Sarafino &
Smith, 2011). Dalam DSM-IV-TR, gangguan tersebut memiliki sejumlah kriteria. Pertama,
terdapat penyakit medis. Kedua, faktor-faktor psikologis telah mempengaruhi perjalanan kondisi, mengganggu penanganan, meningkatkan resiko kesehatan, atau memperburuk gejala-gejala.
PENGARUH RESTRUKTURISASI KOGNITIF MELALUI
AL-FATI-HAH
TERHADAP PENURUNAN DERAJAT STRES PADA
PEND-ERITA DEMAM REMATIK DENGAN GEJALA KOREA
(THE EFFECT OF COGNITIVE RESTRUCTURATION THROUGH AL-FATIHAH ON
THE DECREASE OF STRESS LEVEL IN “DEMAM REMATIK WITH KOREA
SYMP-TOMS” PATIENTS)
Saktiyono B. Purwoko
Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung
Demam rematik adalah penyakit langka yang merupakan respon autoimmune sistemik terhadap infeksi Strepto-kokus grup A pada tenggorokan. Salah satu gejala utamanya adalah korea, yang ditandai dengan kelemahan otot/ hipotonia. Faktor stres memiliki peran dalam memunculkan dan memperburuk gejala korea. Stres bisa ditimbulkan oleh distorsi kognitif pada individu akibat kurangnya informasi, salah interpretasi, atau keyakinan irasional. Dis-torsi kognitif dapat diatasi dengan restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah dengan mereorganisasi cara individu menginterpretasikan situasi, yaitu dengan menggantikan pikiran disfungsional menjadi pikiran yang lebih fung-sional dari kandungan ayat-ayat al-Fâtihah. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data empirik tentang pengaruh restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah dalam upaya menurunkan derajat stres pada penderita demam rematik dengan gejala korea. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi eksperimental single case dengan ABA design. Subjek adalah satu orang penderita demam rematik dengan gejala korea. Alat ukur stres yang digunakan adalah
Depression Anxiety Stress Scales (DASS). Subjek diberikan restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah selama 6 sesi (3 minggu). Pengukuran DASS per-minggu menunjukkan persentase berturut-turut sebagai berikut: pada Baseline Phase 51,59%, 50,79%, dan 51,59%; pada Treatment Phase menjadi 39,68%, 37,30%, dan 33,33%; dan pada
After Treatment Phase menjadi 35,71%, 34,13%, dan 38,09%. Berarti, restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah
terbukti efektif dalam menurunkan derajat stres pada penderita demam rematik dengan gejala korea di tingkat
moderate. Setback yang dialami subjek setelah terminasi diduga bisa diakibatkan karena munculnya kejadian lain yang tidak dibahas dalam sesi terapi, berkurangnya frekuensi tadabbur ayat-ayat al-Fâtihah, restrukturisasi kognitif tidak sampai mengubah beliefs, dan tidak dilakukannya follow-up pada minggu ke-2.
Kata kunci: Restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah, derajat stres, demam rematik dengan gejala korea.
Rheumatic fever is a rare disease as a systemic autoimmune response against group A streptococcus infection of the throat. One of the main symptom is chorea, which is characterized by muscle weakness/hypotonia. Stress fac-tors have a role in eliciting and aggravating chorea symptoms. Stress can results from cognitive distortions sue to lack of information, misperceptions, or irrational beliefs. Cognitive restructuring through Al Fatihah may be used to overcome cognitive distortions by reorganizing the way individuals interpret situations, by replacing the individual’s dysfunctional thoughts with the more functional thoughts from the content of al-Fâtihah verses. This study aims to obtain empirical data concerning the effect of cognitive restructuring through al-Fâtihah in an effort to reduce the degree of stress on rheumatic fever patients with chorea symptoms. This study used quasi-experimental single case approach with ABA design. The subject was a single person who had rheumatic fever with chorea symptoms. The Depression Anxiety Stress Scales (DASS) was used to measure the stress level. The subject was given cog-nitive restructuring treatment through al-Fâtihah in 6 sessions (3 weeks). A weekly measurement with the DASS gave the following series of percentages: at the Baseline Phase, 51.59%, 50.79% and 51.59%; at the Treatment Phase, 39.68%, 37.30% and 33.33%; and at the After Treatment Phase, 35.71%, 34.13% and 38.09%. This study concluded that cognitive restructuring through al-Fâtihah is effective in lowering the degree of stress in rheumatic fever patients with chorea symptoms to a moderate level. The setbacks experienced by the subject after termination might be caused by the emergence of other events that were not addressed in the therapy sessions, the low fre-quency of the tadabbur al-Fâtihah verses, the fact that cognitive restructuring did not change the subject’s beliefs, and the absence of follow-ups at second week.
Keywords: cognitive restructuring through al-Fâtihah, the degree of stress, rheumatic fever with chorea symptoms. Himpunan Psikologi Indonesia Jurnal Psikologi Indonesia
112
Berdasarkan perspektif kognitif, individu yang terus-menerus menilai kejadian hidup dan pengalamannya sebagai hal yang melampaui sumber dayanya bisa menimbulkan stres kronis dan berpengaruh kurang baik terhadap kesehatan. Berdasarkan perspektif biologis, berbagai stresor menimbulkan perubahan yang bermasalah pada sistem imun. Bila prosesnya salah, sistem imun akan menyerang bagian tubuh yang seharusnya dilindungi. Gangguan yang disebabkan oleh kondisi ini disebut gangguan autoimmune
(Kring, Johnson, Davison & Neale, 2010). Gangguan autoimmune meliputi antara lain
systemic lupus erythematosus dan rheumatic fever (Sarafino & Smith, 2011; WHO, 2004).
Demam rematik (rheumatic fever) merupakan respon autoimmune tertunda yang sistemik terhadap infeksi Streptokokus grup A pada tenggorokan yang terjadi secara akut ataupun berulang dengan satu atau lebih gejala mayor, yaitu: karditis, poliartritis, korea, eritema marginatum, dan nodul subkutan (Siregar, 2008). Menurut para ilmuwan, faktor stres yang ditandai dengan emosi negatif dan perilaku maladaptif memiliki peran dalam memunculkan dan memperburuk gejala korea (Gilman, 2010; Imboden, Hellmann & Stone, 2007; Frey, 2005). Gejala korea ditandai dengan kelemahan otot (Gilman, 2010; WHO, 2004).
Penderita demam rematik merupakan kasus langka. Data terakhir mengenai prevalensi demam rematik di Indonesia adalah bahwa antara tahun 1981–1990 terdapat 0,3 - 0,8 diantara 1000 anak sekolah terkena demam rematik (Siregar, 2008). Efek paling merusak dari penyakit ini adalah pada usia produktif yang bisa menyebabkan 67% penderitanya keluar dari sekolah (WHO, 2004).
Dari temuan tim dokter Indonesian Health Community, terdapat seorang siswi kelas 3 SMA di kota X yang mengalami demam rematik dengan gejala utama korea. Menurut penderita, gejala-gejala demam rematiknya seringkali muncul setelah ia merasa sangat tertekan (stres), terutama akibat sering memikirkan/membayangkan hal-hal tertentu yang membuat perasaannya tidak nyaman. Ia sering pergi ke rumah sakit untuk rawat jalan dan berkonsultasi dengan dokter. Ia
pernah mengalami rawat inap di rumah sakit sebanyak 3 kali. Pada bulan April 2011, ia pernah mengalami koma, masuk ICU dan dirawat inap selama 12 hari di rumah sakit, sehingga ia tidak bisa bersekolah.
Dari fakta-fakta tersebut, peneliti menangkap bahwa ada suatu fenomena psikologis yang kemudian berkembang menjadi gejala-gejala demam rematik pada subjek, yaitu distorsi kognitif. Bila distorsi kognitif pada subjek dibiarkan, maka bisa berkembang menjadi gejala-gejala demam rematik, sehingga mengganggu aktivitas sekolahnya. Oleh karena itu untuk mengatasinya diperlukan restrukturisasi kognitif.
Restrukturisasi kognitif merupakan salah satu metode dimana pikiran atau keyakinan yang menimbulkan stres diganti dengan yang lebih konstruktif atau realistis, sehingga mengurangi penilaian individu akan
ancaman atau bahaya (Sarafino & Smith,
2011). Akhir-akhir ini, berbagai upaya sudah dilakukan psikoterapis untuk mengadaptasi restrukturisasi kognitif dengan pandangan teistik (Waller, Trepka, Collerton & Hawkins, 2010). Upaya restrukturisasi kognitif yang dilakukan adalah mengganti pikiran dan keyakinan disfungsional mengenai diri, orang lain, dan dunia dengan pikiran dan keyakinan yang lebih fungsional dari pandangan atau keyakinan agama (Hamdan, 2008). Ayat-ayat kitab suci telah digunakan psikoterapis dalam restrukturisasi kognitif untuk membantu klien mengubah pikiran dan keyakinan disfungsionalnya (Richards & Bergin, 2006).
Di dalam kitab suci al-Quran terdapat sebuah surat yang merupakan induk dari al-Quran, yaitu al-Fâtihah. Nama lain surat
al-Fâtihah adalah asy-Syâfiyah yang berarti penyembuh dan ar-Ruqyah yang berarti mantera (Shihab, 2004). Dari nama-nama tersebut, maka dapat dikatakan bahwa surat
al-Fâtihah memiliki potensi terapeutik. Berdasarkan penafsiran surat al-Fâtihah
dari berbagai sumber tafsir al-Quran (Arifin,
113
individu, yang kemudian ditawarkan sebagai penjelasan alternatif atau melawan pikiran dan keyakinan disfungsionalnya, antara lain: berserah diri, meminta kekuatan, mensyukuri nikmat, mencari hikmah di balik kejadian, dan mengevaluasi diri atas bencana yang menimpanya.
Sejauh pengetahuan peneliti, restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah
belum pernah diberikan untuk mengurangi derajat stres. Selain itu, penderita demam rematik dengan gejala korea merupakan kasus langka. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah terhadap penurunan derajat stres pada penderita demam rematik dengan gejala korea.
Demam Rematik
Demam rematik merupakan respon
autoimmune tertunda yang sistemik terhadap infeksi Streptokokus grup A pada tenggorokan yang terjadi secara akut ataupun berulang dengan satu atau lebih gejala mayor, yaitu: karditis, poliartritis, korea, eritema marginatum, dan nodul subkutan (Siregar, 2008).
Kejadian infeksi tenggorokan oleh Streptokokus grup A hanya 20% dari keseluruhan kasus infeksi tenggorokan (WHO, 2004). Bahkan, dalam kondisi epidemi, hanya 0,4%-3% pasien yang tidak diobati setelah infeksi Streptokokus grup A yang mengalami demam rematik (Siregar, 2008; Imboden, Hellmann & Stone, 2007).
Gejala korea (sydenham chorea/st. vitus dance) muncul pada 10%-15% pasien demam rematik, lebih sering pada wanita daripada lelaki. Gangguan ini pertama kali dijelaskan oleh seorang dokter yang bernama Thomas Sydenham (Imboden, Hellmann & Stone, 2007). Korea secara dramatis telah berkurang di negara-negara berkembang, dikarenakan ketersediaan antibiotik untuk infeksi Streptokokus. Korea muncul dalam rentang waktu 1-8 bulan setelah tidak tertanganinya infeksi Streptokokus. Korea ditandai dengan kelemahan otot/hipotonia, lemahnya kendali otot halus, gerakan tiba-tiba tanpa tujuan, inkoordinasi, dan facial grimacing (Gilman, 2010; Imboden, Hellmann & Stone, 2007; WHO, 2004), dimana tangan
dan wajah merupakan bagian yang sering terkena dampaknya (Rogers, 2011; Hakim, Clunie & Haq, 2002). Durasi gejala korea bervariasi antara satu minggu sampai lebih dari 2 tahun, rata-rata 15 minggu melalui perawatan di rumah sakit (WHO, 2004).
Gejala korea dapat kambuh pada 20%-30% pasien demam rematik, 3-10 tahun setelah kejadian akut (Gilman, 2010). Uniknya, ketika penderita demam rematik mengalami kembali gejala korea, keberadaan infeksi Streptokokus sulit ditetapkan (WHO, 2004). Oleh karena itu, dalam kriteria WHO tahun 2002-2003, manifestasi mayor lain atau bukti-bukti keberadaan infeksi Streptokokus grup A tidaklah diperlukan dalam menetapkan gejala korea. Para ahli menyatakan bahwa faktor stres yang ditandai dengan emosi negatif dan perilaku maladaptif memiliki peran dalam memunculkan dan memperburuk gejala korea pada penderita demam rematik (Gilman, 2010; Imboden, Hellmann & Stone, 2007; Frey, 2005).
Stres
Stres secara psikologis diartikan sebagai
hubungan spesifik antara individu dan
lingkungan, yang dinilai oleh individu sebagai beban atau melampaui sumber dayanya, dan mengancam kesejahteraannya (Lazarus & Folkman, 1984). Derajat stres dalam penelitian ini adalah frekuensi (seberapa sering) subjek mengalami simptom-simptom stres. Berdasarkan kriteria dari American Psychological Association (2009), simptom-simptom stres meliputi aspek emosi, perilaku,
dan fisiologis. Aspek emosi meliputi antara
lain depresi, sedih, cemas, khawatir, mudah marah, dan merasa tertekan. Aspek perilaku meliputi antara lain mudah lelah,
tergesa-gesa, dan panik. Aspek fisiologis meliputi
antara lain nyeri dada dan reaksi alergi. Model kognitif menyatakan bahwa reaksi
individu (emosi, perilaku, dan fisiologis)
dipengaruhi oleh interpretasinya atas situasi (Beck, 1995).
Penelitian menunjukkan bahwa aktivasi respon stres dalam jangka panjang dapat mengganggu kemampuan sistem imun untuk melawan penyakit, serta meningkatkan
resiko masalah kesehatan fisik dan mental
114
aktivasi imun terhadap antigen self/ innocuous atau alergen dapat memperburuk gangguan proinflammatory dan autoimmune. Sedangkan stres kronis meningkatkan proinflammatory atau respon type-2 cytokine mediated immune, yang juga memperburuk gangguan proinflammatory dan autoimmune.
Berdasarkan perspektif kognitif, stres bisa ditimbulkan oleh distorsi kognitif individu yang seringkali didasari oleh kurangnya informasi, salah interpretasi, atau keyakinan irasional
(Beck, 1995; Sarafino & Smith, 2011).
Faktor-faktor situasi dan kejadian cenderung dinilai
stressfull bilamana melibatkan tuntutan yang kuat, segera terjadi, tidak diinginkan, dan tidak dapat dikontrol. Hal tersebut melibatkan transisi kehidupan yang besar, atau muncul
secara tak terduga semasa hidup (Sarafino &
Smith, 2011). Dalam mengatasi stres, setiap individu memiliki upaya tertentu. Hal inilah yang disebut dengan coping. Fungsi coping
terdiri dari dua jenis, yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping (Lazarus & Folkman, 1984). Problem-focused coping
mengacu pada pengelolaan atau mengubah permasalahan yang menyebabkan distres, sedangkan emotion-focused coping mengacu pada regulasi respon emosional terhadap masalah.
Restrukturisasi Kognitif melalui al-Fâtihah Dalam mengatasi stres, individu sebenarnya telah memperoleh coping skill
melalui pengalamannya, dengan melibatkan strategi-strategi yang pernah dicobanya pada masa lalu atau metode-metode yang pernah ia amati dari orang lain. Namun, terkadang keterampilan yang pernah dipelajari tidak cukup kuat untuk menghadapi stresor saat ini, antara lain karena terlalu kuat, baru dialami, atau terus-menerus muncul. Ketika individu tidak mampu mengatasi stres secara efektif, ia membutuhkan bantuan dalam mempelajari cara-cara baru dan adaptif dalam mengatasi
stres (Sarafino & Smith, 2011).
Berbagai metode telah dikembangkan untuk dilatihkan pada individu dalam mengurangi derajat stres. Restrukturisasi kognitif merupakan salah satu metode dimana pikiran atau keyakinan yang menimbulkan stres diganti dengan yang lebih konstruktif atau realistis, sehingga mengurangi penilaian individu akan ancaman atau bahaya
(Sarafino & Smith, 2011). Restrukturisasi
kognitif memfokuskan pada distorsi kognitif serta bertujuan mereorganisasi cara individu menginterpretasi situasi, yaitu dengan mengganti pikiran dan keyakinan disfungsional menjadi pikiran dan keyakinan yang lebih fungsional. Restrukturisasi
kognitif melibatkan identifikasi, evaluasi, dan modifikasi pada pikiran dan keyakinan
disfungsional dengan menggunakan berbagai strategi seperti membantah secara logis, socratic questioning, dan tugas
behavioral (Scott, Williams & Beck, 1989; Leahy, 2004; Hamdan, 2008; Deacon, Fawzy, Lickel & Taylor, 2011; Rosenberg & Kosslyn,
2011). Evaluasi yang realistis dan modifikasi
pikiran dapat menghasilkan perbaikan pada perasaan dan perilaku individu. Perbaikan yang berlangsung lama bisa dihasilkan dari
modifikasi terhadap keyakinan disfungsional
individu (Beck, 1995). Lazarus dan Folkman (1984) menyatakan bahwa model restrukturisasi kognitif seperti yang dilakukan oleh Beck, Ellis, Goldfried, dan Meichenbaum merupakan pendekatan yang sesuai dengan
cognitive theory of stress and coping, yang mampu mengurangi derajat stres dan memperbaiki coping.
Di kalangan ilmuwan ada yang berupaya mengintegrasikan psikoterapi utama dengan pandangan teistik (ketuhanan) untuk mengatasi gangguan psikologis, dalam hal ini mengurangi derajat stres. Richards dan Bergin (2006) dari American Psychological Association (APA) menawarkan sebuah strategi psikoterapi yang bernama psikoterapi teistik, yaitu pendekatan psikoterapi yang didasari pandangan teistik dan yang bisa diintegrasikan dengan psikoterapi utama seperti psikodinamik, interpersonal,
behavioral, kognitif, dan humanistik (Richards & Bergin, 2006). Integrasi tersebut sudah dipraktikkan, diteliti, dan dipublikasikan hasilnya (Razali, Hasanah, Aminah & Subramaniam, 1998: Hamdan, 2008; Waller, Trepka, Collerton & Hawkins, 2010). Berdasarkan hasil penelitian, restrukturisasi kognitif dengan konten religius secara
signifikan mampu menurunkan skor depresi
dibandingkan rekonstruksi kognitif yang standar (Propst, Ostrom, Watkins, Dean & Mashburn, 1992).
115
individu dibimbing untuk mendiskusikan permasalahan yang paling membuatnya distres dan berulang-kali terjadi. Kemudian, individu dibimbing untuk mengevaluasi dan
memodifikasi pikiran otomatisnya. Setelah
itu, individu dibimbing untuk mengevaluasi
dan memodifikasi asumsi-asumsi dan core beliefs-nya (Hamdan, 2008).
Restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah
didefinisikan sebagai upaya mengubah
pikiran dan keyakinan disfungsional individu melalui tadabbur (memikirkan dan merenungi) ayat-ayat al-Fâtihah. Restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah dilakukan dengan cara mengganti pikiran dan keyakinan disfungsional mengenai diri, orang lain, dan dunia dengan pikiran dan keyakinan yang lebih fungsional dari kandungan ayat-ayat
al-Fâtihah. Restrukturisasi kognitif melalui
al-Fâtihah diharapkan mampu mengurangi penilaian individu terhadap situasi yang sebelumnya dianggap mengancam (stres), sehingga reaksinya (emosi, perilaku, dan
fisiologis) lebih adaptif.
Dalam proses restrukturisasi kognitif tersebut, mula-mula pikiran otomatis, core beliefs, dan asumsi-asumsi disfungsional
individu di identifikasi. Proses selanjutnya adalah mengevaluasi dan memodifikasi
pikiran otomatisnya, kemudian mengevaluasi
dan memodifikasi asumsi-asumsi dan core beliefs-nya.
Kandungan ayat-ayat al-Fâtihah yang diperoleh dari buku tafsir al-Quran surat al-Fâtihah didiskusikan dan kemudian ditawarkan sebagai penjelasan alternatif atau melawan pikiran dan keyakinan disfungsionalnya. Ayat
al-Fâtihah yang akan dipilih bergantung pada permasalahan individu. Pada dasarnya, tafsir
al-Quran manapun bisa digunakan dalam diskusi tersebut, selama tafsir al-Quran tersebut memenuhi kaidah-kaidah penafsiran al-Quran.
Upaya diskusi tersebut bisa dimulai dengan socratic questions, yang bertujuan untuk mengubah pikiran (changing minds).
Pertanyaan standar untuk mengidentifikasi
pikiran dan keyakinan disfungsional individu dalam restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah adalah: “Bila melihat ayat 7, dapatkah anda temukan pikiran/keyakinan yang mengakibatkan emosi negatif ini menimpa anda?”
Setelah pikiran dan keyakinan
disfungsionalnya diidentifikasi, kepada
individu diperlihatkan bacaan tafsir al-Quran surat al-Fâtihah, kemudian diajak berdiskusi untuk mengevaluasi pikiran disfungsionalnya dengan mengajukan pertanyaan standar: “Menurut anda, kandungan ayat al-Fâtihah
mana yang membuat anda merasa lebih nyaman ketika menghadapi situasi ini?”
Dalam proses awal ini, individu dibebaskan untuk memilih kandungan ayat al-Fâtihah
mana saja yang bisa membuat perasaannya lebih nyaman. Bila individu mengalami kesulitan dalam memilih kandungan ayat al-Fâtihah, terapis dapat membimbing individu untuk melihat kandungan ayat al-Fâtihah
tertentu yang dianggap terapis mampu mengatasi pikiran disfungsional individu.
Tabel 1 ini merupakan pertanyaan-pertanyaan standar dalam restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah ketika terapis membimbing individu mengevaluasi pikiran disfungsionalnya.
Pertanyaan-pertanyaan standar untuk mengevaluasi keyakinan disfungsional
Tabel 1
Pertanyaan-pertanyaan Standar dalam Restrukturisasi Kognitif melalui al-Fâtihah untuk Mengevaluasi Pikiran Disfungsional.
Mengevaluasi Pikiran Disfungsional
Apa efeknya bila anda mengubah pikiran dengan melihat ayat 1, 2, 3, 4, 5, 6 atau 7? Bila melihat ayat 2, Hikmah atau pelajaran apa yang mungkin bisa anda peroleh dari situasi ini? Apa yang masih bisa anda syukuri dalam situasi ini? Apa yang masih bisa anda lakukan untuk bersyukur pada-Nya?
Bila melihat ayat 5, Apa permintaan anda pada Allah dalam situasi ini? Apa yang bisa anda lakukan untuk mewujudkannya? Siapa lagi teman anda yang mungkin bisa dimintai tolong? Bila melihat ayat 6, Pikiran atau perilaku apa yang ingin anda ubah agar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah?
116
individu serupa dengan pertanyaan-pertanyaan standar untuk mengevaluasi pikiran disfungsionalnya, misalnya : “Apa efeknya bila anda mengubah keyakinan dengan melihat ayat 1, 2, 3, 4, 5, 6 atau 7?”, atau “Bila melihat ayat 6, keyakinan apa yang ingin anda ubah agar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah?”
Bagi individu yang memiliki core beliefs
“Saya tidak kompeten” bisa mendiskusikan surat al-Fâtihah ayat 1, yaitu “Saya lemah di hadapan Allah, oleh karena itu saya menyandarkan diri kepada-Nya, sambil memohon bantuan-Nya, sehingga saya memperoleh kekuatan”, atau mendiskusikan surat al-Fâtihah ayat 5, yaitu “Saya minta tolong kepada-Mu untuk menjalankan taat dan mencapai semua keperluanku”. Sedangkan bagi individu yang memiliki core beliefs
“Saya tidak dicintai” bisa mendiskusikan surat al-Fâtihah ayat 2, yaitu “Saya berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Allah. Dia tidak membiarkan saya sendiri”, atau mendiskusikan surat al-Fâtihah ayat 3, yaitu “Ar-Rahmân yang memberi nikmat yang sebesar-besarnya. Ar-Rahîm yang memberi nikmat halus sehingga tidak terasa”.
Pikiran dan keyakinan yang ditawarkan sebagai penjelasan alternatif atau melawan pikiran dan keyakinan disfungsionalnya tersebut berkaitan dengan topik yang dibahas dan selaras dengan kandungan tafsir al-Quran surat al-Fâtihah, terutama ayat 6 & 7. Hasil diskusi tersebut diharapkan mampu menghasilkan sejumlah pikiran dan keyakinan yang lebih fungsional pada individu. Dengan demikian dapat mengurangi penilaian individu terhadap situasi yang sebelumnya dianggap mengancam, sehingga reaksinya
(emosi, perilaku, dan fisiologis) lebih adaptif.
Bila sejumlah pikiran dan keyakinan yang lebih fungsional pada individu telah ditemukan, maka proses selanjutnya
adalah memodifikasi pikiran dan keyakinan
disfungsionalnya melalui tugas behavioral
setelah sesi terapi, yaitu men-tadabbur ayat-ayat al-Fâtihah, baik itu ketika shalat ataupun membacanya secara terpisah, dengan merenungi makna, hikmah, serta maksud yang dikehendaki surat al-Fâtihah.
Al-Farmawiy (2002), dalam bukunya “Tafsir Surah al-Fâtihah,” memberikan gambaran tentang cara men-tadabbur surat
al-Fâtihah ayat per-ayat, yaitu: “Berhentilah sejenak dalam membaca surat al-Fâtihah
pada setiap ayatnya, agar anda mampu menghadirkan makna bacaannya, berusaha memahaminya, dan menanti jawaban Allah dari apa yang telah anda ucapkan itu, seolah-olah anda mendengar-Nya. Tujuannya supaya anda merasakan kenikmatan dekat dengan-Nya, sebagaimana yang terungkap dalam hadits shahih”. Misalnya, ketika anda membaca “Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn”, maka hadirkanlah maknanya bahwa segala sanjungan yang baik secara haq, adalah milik Allah Ta’ala sebagai suatu keniscayaan maupun kenyataan. Dia adalah Rabb, Pencipta alam semesta, dan Pengatur urusan seluruh makhluk. Tunggu sebentar, seolah-olah anda mendengar Allah mengatakan “Hamba-Ku telah memuji-Ku”.
Dengan demikian, setelah sesi terapi individu diminta untuk men-tadabbur
(memikirkan dan merenungi) ayat-ayat al-Fâtihah dengan cara-cara yang dikemukakan oleh al-Farmawiy (2002). Yaitu, berhenti sejenak pada setiap ayatnya, menghayati makna bacaannya (pikiran dan keyakinan yang lebih fungsional yang digali saat sesi terapi), dan menanti jawaban Allah dari apa yang telah diucapkannya itu (sebagaimana yang dikemukakan dalam hadits), seolah-olah individu mendengar-Nya. Gambar 1 memperlihatkan aplikasi restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah pada subjek penelitian.
Berdasarkan uraian di atas, masalah dalam penelitian adalah seberapa efektif restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah
dapat membantu menurunkan derajat stres pada penderita demam rematik dengan gejala korea? Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah bahwa jika diberikan restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah, maka derajat stres pada penderita demam rematik dengan gejala korea akan menurun.
Metode
Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pemberian restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah derajat stres.
11
7
▪ Bila melihat ayat 7, dapatkah anda temukan pikiran yang mengakibatkan emosi negatif menimpa anda? ▪ Apa efeknya bila anda mengubah pikiran dengan melihat ayat 1,2,3, atau 5?
▪ Bila melihat ayat 2, apa yang masih bisa anda syukuri dalam situasi ini? Apa yang masih bisa anda lakukan untuk bersyukur pada-Nya? ▪ Bila melihat ayat 5, apa permintaan anda pada Allah dalam situasi ini? Apa yang bisa anda lakukan mewujudkannya? Siapa lagi teman anda
yang mungkin bisa anda mintai tolong?
▪ Bila melihat ayat 6, perilaku apa yang ingin anda ubah agar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah?
Mengidentifikasi dan mengevaluasi pikiran otomatis disfungsional melalui diskusi
Membaca surat Al-Fatihah, berhenti sejenak pada setiap ayatnya, menghayati makna bacaannya(pikiran lebih fungsional yang digali saat sesi terapi), dan menanti jawaban Allah dari apa yang telah diucapkannya itu, seolah-olah subjek mendengar-Nya.
Mengidentifikasi dan mengevaluasi pikiran otomatis disfungsional melalui diskusi Restrukturisasi kognitif melalui Al-Fatihah
Situasi Spesifik Pikiran Otomatis Disfungsional Reaksi Maladaptif
Emosi (-) Perilaku (-) Fisiologis (-)
Derajat Stres Tinggi
Meningkatkan Imumnopathology: Disregulasi respon-respon cytokine Tipe-2
Meningkatkan Gangguan Autoimune: Kambuhnay gejala korea
pada demam rematik
Menurunkan Gangguan Autoimmune: Mencegah gejala korea
pada demam rematik
Menurunkan Immunopathology: Regulasi respon-respon
cytokine Tipe-2
Pikiran Otomatis Lebih Fungsional
Reaksi Lebih Adaptif
Emosi (+) Perilaku (+) Fisiologis (+)
Derajat Stres Rendah
Gambar 1. Proses restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah dalam mengubah pikiran otomatis disfungsional subjek penelitian hingga mempengaruhi derajat stresnya.
SAKTIYONO B. PUR
118
al-Fâtihah adalah upaya mengubah pikiran dan keyakinan disfungsional individu melalui
tadabbur ayat-ayat al-Fâtihah. Restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah bersifat aktif-direktif dan terstruktur.
Stres adalah hubungan spesifik antara
individu dan lingkungan, yang dinilai oleh individu sebagai beban atau melampaui sumber dayanya, dan mengancam kesejahteraannya. Derajat stres dalam penelitian ini adalah frekuensi (seberapa sering) subjek mengalami simptom-simptom stres.
Subjek Penelitian. Pada penelitian ini subjek diambil berdasarkan critical cases,
yaitu kasus-kasus istimewa yang menyoroti
fenomena spesifik untuk diteliti (Coolican,
1995). Subjek dalam penelitian ini adalah satu orang penderita demam rematik dengan gejala korea.
Metode Pengumpulan Data. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat ukur berupa kuesioner, observasi dan interview. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel dependen (derajat stres) adalah
Depression Anxiety Stress Scales (DASS). DASS merupakan self-report instrument
yang terdiri dari 42 item dan bisa mengukur
general psychological distress (Damanik, 2006).
Damanik (2006) telah menguji validitas dan reliabilitas DASS di Indonesia, dengan total sampel 144 individu yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok sampel klinis dan kelompok sampel non-klinis. Sampel klinis terdiri dari 72 individu yang hidup di kota Yogyakarta dan Bantul yang telah mengalami bencana alam (disaster). Sedangkan sampel non-klinis terdiri dari 72 individu yang hidup di kota Jakarta dan sekitarnya yang tidak mengalami bencana alam.
Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas dengan menggunakan formula Cronbach’s alpha ditemukan bahwa tes ini reliabel (α
= .9483). Berdasarkan pengujian validitas dengan menggunakan teknik validitas internal ditemukan 41 item valid dan 1 item tidak valid, yaitu item 2. Sedangkan norma dibuat berdasarkan T score yang dibagi menjadi 5 kategori yaitu Normal, Mild, Moderate, Severe, dan Extremely Severe (Damanik,
2006).
Metode Analisis Data. Hasil penelitian dengan desain Single Case ini disajikan dan diinterpretasikan dengan menggunakan
Visual Inspection Techniques. Perubahan
phase bertujuan untuk memperlihatkan pola perilaku yang ditetapkan pada baseline phase
berubah menjadi pola lain yang berbeda saat peneliti mengubahnya ke treatment phase. Hal itu dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa manipulasi pada satu variabel dapat menyebabkan perubahan pada variabel lain (Gravetter & Forzano, 2006).
Hasil dan Pembahasan
Hasil Perolehan Data. Setelah dilakukan sesi restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah selama 6 kali pertemuan (3 minggu), diperoleh skor DASS subjek sebagaimana disajikan pada gambar 2.
Menurut Kazdin (Gravetter & Forzano, 2006), perbedaan yang besar antara poin data terakhir di satu phase dengan poin data awal di phase berikutnya merupakan indikasi yang baik bahwa subjek menunjukkan respon segera terhadap treatment. Pada subjek, poin data terakhir di Baseline Phase adalah 65, sedangkan poin data awal di Treatment Phase adalah 50, sehingga terdapat selisih 15 poin (turun 11,90%). Selain itu, penurunan 15 poin itu juga mengubah tingkat derajat stres dari severe menjadi moderate.
Pembahasan. Berdasarkan hasil pengukuran derajat stres pada Treatment Phase, skor yang diperoleh subjek menurun secara bertahap. Penurunan ini mengindikasikan bahwa subjek mampu mengubah pikiran-pikiran disfungsionalnya menjadi pikiran-pikiran yang lebih fungsional melalui tadabbur ayat-ayat al-Fâtihah,
sehingga derajat stresnya menurun. Menurut Beck (1995), evaluasi yang realistis dan
modifikasi pikiran dapat menghasilkan
119
kesehatan melalui cara psychobiological, seperti efek langsung dari keadaan psikologis positif yang diperoleh dari agama (keyakinan, harapan), dalam hal ini adalah pikiran-pikiran alternatif dari kandungan ayat-ayat al-Fâtihah
yang diperoleh subjek saat sesi terapi, yang berdampak pada fungsi imun dan endokrin.
Berdasarkan hasil pengukuran derajat stres After Treatment Phase, skor yang diperoleh subjek ada yang mengalami kenaikan. Di minggu pertama pada Phase
ini, subjek mengalami setback (kemunduran) karena sedang menghadapi situasi menekan di sekolah. Selain itu subjek mulai jarang mempraktikkan tadabbur ayat-ayat al-Fâtihah. Di minggu kedua pada Phase ini, subjek mulai kembali men-tadabbur ayat 1 surat al-Fâtihah hingga mampu menurunkan derajat stresnya. Dengan demikian, subjek telah mencoba menjadi terapis bagi dirinya sendiri. Menurut Beck (1995), terapi kognitif mengajarkan klien untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri. Di minggu ketiga pada
Phase ini, subjek mengalami setback
kembali. Ketika itu, subjek sedikit sekali mempraktikkan tadabbur ayat-ayat al-Fâtihah dan sedang menghadapi dua situasi menekan yang muncul secara bersamaan.
Menurut Beck (1995), bila modifikasi hanya
sampai taraf pikiran otomatis saja tanpa
memodifikasi beliefs, maka klien cenderung
mudah mengalami setback.
Selain itu, setback bisa terjadi karena tidak dilakukannya follow-up pada minggu ke-2 setelah terminasi, dimana dalam prosedur terapi kognitif hal tersebut perlu dilakukan (Beck, 1995). Follow-up tidak dilakukan peneliti karena mengacu pada prosedur penelitian yang menyatakan bahwa Phase
harus terdiri dari minimum tiga kali observasi (Gravetter & Forzano, 2006).
Kesimpulan, Saran, dan Penutup
Berdasarkan hasil perolehan data dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah terbukti efektif dalam menurunkan derajat stres pada penderita demam rematik dengan gejala korea di tingkat moderate.
Setback yang dialami subjek setelah terminasi bisa diakibatkan karena munculnya kejadian lain yang tidak dibahas dalam sesi terapi, berkurangnya frekuensi tadabbur
ayat-ayat al-Fâtihah, restrukturisasi kognitif tidak sampai mengubah beliefs, dan tidak dilakukannya follow-up pada minggu ke-2.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dan kesimpulan yang diperoleh, maka peneliti mencoba memberikan saran kepada subjek mengenai perlunya latihan rutin dalam men-tadabbur ayat-ayat al-Fâtihah agar tidak mudah mengalami setback.
A1 A2 A3 B1 B2 B3 A’1 A’2 A’3
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
Phase
Skor DASS
Keterangan: A = Baseline Phase, B = Treatment Phase, A’ = After Treatment Phase
Gambar 2. Distribusi Skor DASS pada Subjek
120
Sedangkan kepada peneliti selanjutnya, bila tertarik menggunakan restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah, maka perlu dilakukan sampai mengubah beliefs, dan melakukan
follow-up setelah terminasi.
Mengingat penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam, maka kontribusi penelitian ini untuk keilmuan psikologi klinis di Indonesia adalah untuk memperkaya jenis intervensi psikologi. Selain itu,
penelitian ini bisa dijadikan landasan dalam mengembangkan restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah agar bisa diterapkan pada gangguan psikologis lainnya. Untuk praktik psikologi klinis di Indonesia, restrukturisasi kognitif melalui al-Fâtihah ini dapat dipertimbangkan sebagai intervensi tunggal atau intervensi tambahan bagi klien (khususnya muslim) yang mengalami
gangguan psikofisiologis.
Daftar Pustaka
Al-Farmawiy, A. H. (2002). Tafsir Surah Al-Fatihah. Akbar Media Eka Sarana.
APA. (2000). DSM-IV-TR. American
Psychi-atric Association.
APA. (2009). Coping with stress and anxiety. American Psychological Association.
Arifin, B. (1976). Samudera Al-Fatihah. PT Bina Ilmu.
Atkinson & Hilgard. (2003). Introduction to psychology. Wadsworth.
Bahreisy, S., & Bahreisy, S. (1993). Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier (Jilid I). PT Bina Ilmu.
Beck, J. S. (1995). Cognitive therapy: Basics and beyond. The Guilford Press.
Contrada, R. J., & Baum, A. (2011). The handbook of stress science: Biology, psy-chology, and health. Springer.
Coolican, H. (1995). Research methods and statistics in psychology (2nd ed.). Hodder & Stoughton.
Damanik, E.D. (2006). Pengujian reliabilitas, validitas, analisis item dan pembuatan norma Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Tesis tidak dipublikasikan, Ja-karta: Universitas Indonesia.
Deacon, B. J., Fawzy, T. I., Lickel, J. J., & Tay-lor, K. B. W. (2011). Cognitive defusion versus cognitive restructuring in the treat-ment of negative self-referential thoughts: An investigation of process and outcome. Journal of Cognitive Psychotherapy: An International Quarterly, 25(3), 218-232.
Frey, R. (2005). Sydenham’s chorea. The
Gale Group.
Gilman, S. (2010). Oxford American
Hand-book of Neurology. Oxford University Press, Inc.
Gravetter, F.J., & Forzano, L.A.B. (2006). Research methods for the behavioral sciences (2nd ed.). Wadsworth/Thomson Learning.
Hakim, A. J., Clunie, G. P. R., & Haq, I. (2002). Oxford handbook of rheumatology (2nd ed.). Oxford University Press.
Hamdan, A. (2008). Cognitive restructuring: An Islamic perspective. Journal of Muslim Mental Health, 3, 99–116.
Imboden, J. B., Hellmann, D. B., & Stone, J. H. (2007). Current rheumatology diagno-sis and treatment (2nd ed.). McGraw-Hill.
Kring, A. M., Johnson, S. L., Davison, G. C., & Neale, J. M. (2010). Abnormal psychol-ogy (11th ed.). John Wiley & Sons.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer.
Leahy, R. L. (2004). Contemporary cognitive therapy: Theory, research, and practice. The Guilford Press.
Lyons, A. C., & Chamberlain, K. (2006). Health psychology: A critical introduction. Cambridge University Press.
121
als. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 60(1), 94–103.
Rasyidi, A., Sitanggal, K.A.U., Aly, H.N., & Abubakar, B. (1992). Terjemah Tafsir Al-Maragi (Jilid 1). CV Toha Putra.
Razali, S. M., Hasanah, C. I., Aminah, K., & Subramaniam, M. (1998). Religious-so-ciocultural psychotherapy in patients with anxiety and depression. Aust N Z J Psy-chiatry, 32(6), 867-72.
Richards, P.S., & Bergin, A.E. (2006). A spiri-tual strategy for counseling and psycho-therapy (2nd ed.). Washington, DC: Amer-ican Psychological Association.
Rogers, K. (2011). The brain and the nervous system. Britannica Educational Publish-ing.
Rosenberg, R. S., & Kosslyn, S. M. (2011). Abnormal psychology. Worth Publishers.
Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2011). Health psychology: Biopsychosocial interactions (7th ed.). John Wiley & Sons.
Scott, J., Williams J. M.G., & Beck, A.T. (1989). Cognitive therapy in clinical prac-tice: An illustrative casebook. Routledge.
Shihab, M.Q. (2004). Tafsir Al-Mishbah:
Pesan, kesan dan keserasian al-Quran (Volume 1). Penerbit Lentera Hati.
Siregar, A. A. (2008). Demam rematik dan
penyakit jantung rematik permasalahan Indonesia. Universitas Sumatera Utara Medan.
Waller, R., Trepka, C., Collerton, D., & Hawkins, J. (2010). Addressing spiritual-ity in CBT. The Cognitive Behaviour Ther-apist, 3, 95–106.
WHO. (2004). Rheumatic fever and
rheumat-ic heart disease. Singapore: World Health Organization.
---Email: [email protected]