i
PENGARUH INFLASI DAN
BI RATE
TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM
JAKARTA ISLAMIC INDEX
(JII)
TAHUN 2012
–
2014
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi Syari’ah (S.E.Sy)
Oleh
SITI ALIYAH
NIM 21311029
JURUSAN S1 PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
v
MOTTO DANERSEMBAHAN
MOTTO
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”
(QS. Al-Insyirah, 5-8) ---o---
“Do not put off doing a job
because nobody knows whether we can meet tomorrow or not”
---o---
“Learn from the past, live for the today, and plan for tomorrow”
PERSEMBAHAN Skripsi ini aku persembahkan kepada: Kedua orang tuaku, kakak dan adikku, Sahabat-sahabatku yang selalu ada dikala susah maupun senang,
tiada hari yang indah tanpa kalian semua serta,
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikun Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Inflasi
dan BI Rate terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) Tahun 2012-2014”dengan baik tanpa kendala yang berarti. Shalawat serta salam semoga tetap dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga,
sahabat-sahabat dan pengikutnya.
Skripsi ini diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi Syariah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, motivasi serta doa sehingga skripsi
ini dapat selesai dengan baik, yaitu kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Dr. Anton Bawono, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga dan membantu
membimbing dalam penulisan skripsi ini.
3. Ibu Fetria Eka Yudiana, M.Si., selaku Kepala Jurusan Perbankan Syariah S1 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
4. Bapak Qi Mangku Bahjatulloh, Lc., M.Si., selaku dosen pembimbing atas semua waktu, arahan, bimbingan, petunjuk, saran serta kesabaran dalam
vii
5. Bapak Farkhani, S.Hi., M.H., selaku dosen pembimbing akademik.
6. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh staf karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang telah memberikan ilmu, motivasi dan bantuan kepada
penulis.
7. Ayah dan ibu yang selalu mendoakan, memberi motivasi, mendidik dan
membesarkanku hingga saat ini. Kakak dan adikku yang selalu aku sayangi. Kalian harta paling berharga yang Allah berikan untukku.
8. Sahabatku selama lebih dari 10 tahun ini, Reny Kartikasari dan Titik Pujiwati
yang selalu ada dikala senang maupun susah, selalu memberikan dukungan dan doa. Hidupku kurang berwarna tanpa kalian.
9. Devi Nur Halimah, Siti Rodiyah, Nasrifah, Hanum Yunesha, Ikhsanudin Pandu Saputra, M. Lutfi Hakim, Arifin Achmad Irfan, terimakasih atas hari-hari yang telah kita lewati bersama dengan canda, tawa dan air mata, semoga
jarak tidak memisahkan persahabatan kita.
10. Shiffa Fauziah dan Yudi Saputra yang telah memberikan ide, saran dan
dukungan dalam pembuatan skripsi ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.
11. Teman-teman Perbankan Syariah S1 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terimakasih telah memberikan warna, cerita dan pelajaran berharga. 12. Mas Sulis yang selalu aku repotkan, terimakasih atas bantuannya, Mas Reza
terimakasih atas semangat dan doanya.
viii
Semoga bantuan dan dukungan yang telah diberikan mendapat balasan
yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata
sempurna. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikumWr. Wb.
Salatiga, 11 Januari 2016 Penulis
ix ABSTRAK
Aliyah, Siti. 2016. Pengaruh Inflasi dan BI Rate terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) Tahun 2012-2014. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Perbankan Syariah (S1). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dosen Pembimbing: Qi Mangku Bahjatulloh, Lc., M.SI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inflasi, BI rate, dan variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2012-2014. Untuk memudahkan pemecahan masalah, penelitian ini dilakukan menggunakan metode regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 21. Data yang digunakan yaitu data sekunder yang terdiri dari variabel inflasi dan BI rate sebagai variabel independen dan indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) sebagai variabel dependen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh transaksi indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) dari tahun 2012-2014 dan sampel diambil sejumlah 36 data dengan metode purposive sampling. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII), BI rate berpengaruh positif dan signifikan terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) dan variabel yang paling berpengaruh terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) adalah BI rate.
x DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
a. Pengertian Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) 33
b. Pengertian Harga Saham ... 35
c. Perbedaan Saham Syariah dan Saham Non Syariah ... 36
d. Macam-macam Harga Saham ... 38
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham ... 39
C. Kerangka Penelitian ... 40
1. Hubungan Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) ... 40
2. Hubungan BI Rate terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) ... 41
3. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 41
xi
2. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 60
3. Hasil Uji Hipotesis ... 61
a. Pengaruh Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) ... 69
xii
c. Variabel yang paling berpengaruh terhadap Indeks Harga
Saham Jakarta Islamic Index (JII) ... 72
BAB V PENUTUP ... 73
A.Kesimpulan ... 73
B. Saran ... 74
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perkembangan Inflasi, BI Rate dan Indeks Harga Saham Jakarta
IslamicIndex (JII) Tahun 2012-2014 ... 5
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif ... 55
Tabel 4.2 Hasil Uji Stasioneritas Inflasi... 57
Tabel 4.3 Hasil Uji Stasioneritas BI Rate... 58
Tabel 4.4 Hasil Uji Stasioneritas Indeks Harga Saham JakartaIslamicIndex (JII) ... 59
Tabel 4.5 Hasil Analisis Regresi Berganda ... 60
Tabel 4.6 Hasil Uji ttest ... 62
Tabel 4.7 Hasil Uji Ftest ... 63
Tabel 4.8 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 64
Tabel 4.9 Hasil Uji Multicollinearity ... 65
Tabel 4.10 Hasil Uji Heteroscedasticity ... 66
Tabel 4.11 Hasil Uji Autocorrelation ... 67
Tabel 4.12 Perbaikan Uji Autocorrelation ... 67
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Inflationary Gap ... 15
Gambar 2.2 Demand-pull Inflation ... 16
Gambar 2.3 Cost Push Inflations ... 17
Gambar 2.4 Teori Klasik tentang Tingkat Bunga ... 29
Gambar 2.5 Teori Keynes tentang Tingkat Bunga ... 30
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Inflasi (dalam persen) Lampiran 2. Data BI Rate (dalam persen)
Lampiran 3. Data Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) Lampiran 4. Tabulasi Data Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara, tidak
terkecuali Indonesia. Hal tersebut dikemukakan oleh Tandelilin (2010: 61), karena dengan adanya pasar modal, investor sebagai pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dananya pada berbagai sekuritas dengan harapan
memperoleh imbalan (return). Sedangkan perusahaan sebagai pihak yang memerlukan dana dapat memanfaatkan dana tersebut untuk mengembangkan
proyek-proyeknya dengan alternatif pendanaan dari pasar modal, perusahaan dapat beroperasi dan mengembangkan bisnisnya dan pemerintah dapat membiayai berbagai kegiatannya sehingga meningkatkan kegiatan perekonomian negara dan
kemakmuran masyarakat luas.
Kegiatan pasar modal di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 8
Tahun 1995 (UUPM). Pasal 1 butir 13 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 menyatakan bahwa pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan Efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. Sedangkan Efek dalam UUPM Pasal 1 butir 5 dinyatakan sebagai
surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersil, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak
2
Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia. Oleh sebab itu
investasi di pasar modal mempunyai peranan yang cukup penting untuk dapat meningkatkan pangsa pasar industri keuangan syariah di Indonesia. Banyak
harapan bahwa investasi syariah di pasar modal Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang pesat. Meskipun perkembangannya relatif baru dibandingkan
dengan perbankan syariah maupun asuransi syariah (http://www.idx.co.id).
Sejak November 2007, Bapepam & LK (sekarang menjadi OJK) telah mengeluarkan Daftar Efek Syariah (DES) yang berisi daftar saham syariah yang
ada di Indonesia. Dengan adanya DES maka masyarakat akan semakin mudah untuk mengetahui saham-saham apa saja yang termasuk saham syariah karena
DES adalah satu-satunya rujukan tentang daftar saham syariah di Indonesia (http://www.idx.co.id).
Kinerja perdagangan saham-saham syariah di Bursa Efek Indonesia dapat
diwakili oleh saham-saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index. Indeks ini diperkenalkan oleh Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Danareksa Investment
Management (DIM) pada 3 Juli 2000. Jakarta Islamic Index terdiri atas 30 saham yang keanggotaannya akan terus ditinjau secara berkala berdasarkan kinerja
transaksi di perdagangan bursa, rasio-rasio keuangannya, dan ketaatannya pada prinsip-prinsip syariah (Nafik, 2009: 260).
Menurut Khalwaty (2000: 263) investor membeli saham perusahaan
dengan harapan memperoleh keuntungan dikemudian hari untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidupnya. Investasi dalam bentuk saham memberikan
3
keuntungan yang diperoleh dari selisih harga antara pembelian saham dan harga
yang lebih rendah daripada harga penjualannya. Dividen merupakan penghasilan yang diperoleh pemilik saham berdasarkan keuntungan yang diperoleh
perusahaan. Sedangkan bonus adalah hak tambahan atau pemasukan potensial yang diberikan kepada pemilik saham.
Berinvestasi dengan membeli saham memiliki resiko yang cukup banyak, untuk meminimalisir resiko tersebut investor harus dapat menganalisis agar mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Secara garis besar terdapat dua jenis
analisis yang dapat digunakan dalam investasi di pasar modal, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental adalah studi tentang
ekonomi, industri, dan kondisi perusahaan untuk memperhitungkan nilai dari saham perusahaan. Analisis teknikal adalah metode analisis tentang pergerakan harga saham yang didasarkan dari pergerakan harga saham itu sendiri di masa
lalu.
Dalam analisis fundamental, investor dapat melakukan analisis
berdasarkan indikator ekonomi. Analisis ini menyangkut faktor-faktor yang memberikan informasi tentang kondisi makro ekonomi yang dapat mempengaruhi
kondisi di pasar modal. Menurut Murhadi (2009: 19) secara teoritis ada beberapa variabel/ indikator makroekonomi yang mempengaruhi pergerakan harga saham seperti Gross Domestic Product (GDP)/ Produk Domestic Bruto (PDB), interest
4
Salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham adalah inflasi. Inflasi
sebagai suatu fenomena ekonomi yang terutama terjadi di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia merupakan objek kajian yang sangat
menarik. Tajul Khalwaty (2000: 6) dalam bukunya Inflasi dan Solusinya mengemukakan bahwa inflasi merupakan suatu keadaan dimana terjadi kenaikan
harga-harga secara tajam (absolute) yang berlangsung terus menerus dalam jangka waktu cukup lama. Seirama dengan kenaikan harga-harga tersebut, nilai uang turun secara tajam pula sebanding dengan kenaikan harga-harga tersebut.
Menurut Larissa (2014: 2) tinggi rendahnya tingkat inflasi dinilai memberi pengaruh positif maupun negatif terhadap pergerakan harga saham sesuai dengan
tingkat inflasi itu sendiri. Tingkat inflasi yang tinggi akan menurunkan harga saham perusahaan, sementara tingkat inflasi yang sangat rendah akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi sangat lamban. Seperti yang
dikemukakan dalam website Bank Indonesia, kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya
memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan
tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Faktor lain yang mempengaruhi harga saham adalah BI Rate. BI rate
merupakan suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik
5
suatu peluang investasi yang menjanjikan karena adanya kepastian pendapatan
yang lebih besar. Akibatnya pasar modal akan mengalami tekanan karena masyarakat akan lebih suka menabung di bank daripada menginvestasikan
dananya di pasar modal.
Suku bunga pada umumnya mempunyai hubungan yang negatif terhadap
harga saham. Suku bunga yang rendah menyebabkan biaya peminjaman yang lebih rendah. Suku bunga yang rendah akan merangsang investasi dan aktivitas ekonomi yang akan menyebabkan harga saham meningkat, peningkatan harga
saham akan mempengaruhi peningkatan indeks harga saham pula.
Berikut perkembangan indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII)
beserta inflasi dan BI Rate tahun 2012-2014: Tabel 1.1
Perkembangan Inflasi, BI Rate dan Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) Tahun 2012-2014
Tahun Inflasi (%) BI Rate (%) IHS JII
2012 4,30 5,75 594,789
2013 8,38 7,50 585,110
2014 8,36 7,75 691,039
Sumber: Bursa Efek Indonesia, Bank Indonesia (2014)
Data dalam tabel 1.1 menunjukkan bahwa adanya fluktuasi dari tingkat
inflasi dan BI Rate yang diikuti terjadinya fluktuasi pada Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) selama tahun 2012-2014. Dapat dilihat bahwa IHS JII tahun 2012 sebesar 594,789 mengalami penurunan pada tahun 2013 yaitu sebesar
6
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh inflasi dan BI Rate terhadap
indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Inflasi dan BI Rate terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII) Tahun 2012-2014”.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul yang telah diajukan di atas beserta latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2012-2014?
2. Bagaimana pengaruh BI rate terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2012-2014?
3. Variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap indeks harga saham
Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2012-2014? C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk menguji dan mengetahui bagaimana pengaruh inflasi terhadap indeks
harga saham Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2012-2014.
2. Untuk menguji dan mengetahui bagaimana pengaruh BI rate terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2012-2014.
7 D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi berbagai pihak, diantaranya:
1. Bagi penulis
Memberi wawasan baru yang lebih mendalam bagi penulis tentang
dunia pasar modal khususnya tentang pengaruh inflasi dan BI rate terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII).
2. Bagi IAIN Salatiga
Menjadi sumber pembelajaran dan kajian lebih lanjut bagi penelitian berikutnya yang berkenaan dengan pengaruh inflasi dan BI rate terhadap
indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII). 3. Bagi praktisi
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu sumber
informasi dan bahan pertimbangan bagi calon investor maupun praktisi pasar modal yang hendak berinvestasi saham di pasar modal.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan dari
8 Bab II Landasan Teori
Landasan teori yang disajikan dalam penelitian ini bermaksud untuk menguraikan tentang telaah pustaka yang berisi ringkasan penelitian
terdahulu, kerangka teori yang berkaitan dengan topik penelitian, kerangka penelitian yang berisi telaah kritis untuk menghasilkan hipotesis dan
model penelitian yang akan diuji, serta hipotesis penelitian yang menjadi pedoman dalam analisis data.
Bab III Metode Penelitian
Bab ini terdiri dari jenis penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, definisi konsep dan operasi, instrumen
penelitian, uji instrumen penelitian dan alat analisis yang digunakan dalam penelitian.
Bab IV Analisis Data
Bab ini menjabarkan tentang deskripsi obyek penelitian dan analisis data penelitian.
Bab V Penutup
9 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Telaah Pustaka
Untuk mendukung materi dalam penelitian ini, berikut beberapa penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya yang berhubungan dengan variabel yang digunakan dalam penelitian.
Hatman Maqdiyah, Sri Mangesti Rahayu, Topowijono (2014) dari
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Tingkat Bunga Deposito, Tingkat Inflasi, Produk
Domestik Bruto (PDB), dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Indeks (JII) Studi pada Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2009 hingga 2013. Metode pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial regresi linear berganda. Berdasarkan hasil analisis data dapat diambil
beberapa kesimpulan, yaitu: tingkat bunga deposito, tingkat inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), dan nilai tukar rupiah simultan pengaruhnya terhadap
indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII), tingkat bunga deposito secara parsial tidak berpengaruh terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII), tingkat inflasi secara parsial tidak berpengaruh terhadap indeks harga saham
Jakarta Islamic Index (JII), Produk Domestik Bruto (PDB) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic
10
terhadap indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) dan variabel Produk
Domestik Bruto (PDB) merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap indeks harga saham JakartaIslamicIndex (JII).
Penelitian selanjutnya berjudul Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Sektor Properti dan Real Estate yang Tercatat di
Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2013 yang dilakukan oleh Putu Fenta Pramudya Cahya, I Wayan Suwendra, Fridayana Yudiatmaja (2015) dari Jurusan Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Data yang diperlukan
dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang dianalisis dengan analisis regresi linear berganda. Hasil dari analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa
ada pengaruh secara simultan yang signifikan dari nilai tukar rupiah dan inflasi terhadap indeks harga saham sektor properti dan real estate, ada pengaruh secara parsial yang positif dan signifikan dari nilai tukar rupiah terhadap indeks harga
saham sektor properti dan real estate, dan ada pengaruh secara parsial yang negatif dan signifikan dari inflasi terhadap indeks harga saham sektor properti dan
real estate yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2013.
Neny Mulyani (2014) dari Universitas Terbuka melakukan penelitian
dengan judul Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Nilai Tukar Rupiah, dan Produk Domestik Bruto terhadap Jakarta Islamic Index. Sampel penelitian adalah data Jakarta Islamic Index periode 2009-2011. Metode analisis dilakukan dengan
11
nilai tukar rupiah berpengaruh negatif terhadap JII, dan PDB berpengaruh positif
terhadap JII.
Penelitian dengan judul Pengaruh Faktor Fundamental Makro terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (Studi pada Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2012) yang dilakukan oleh Agus Suharno dan MG. Kentris Indarti (2014) dari
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Univeraitas Stikubank. Metode analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan tingkat suku bunga SBI berpengaruh negatif signifikan terhadap IHSG, harga minyak dunia
dan harga emas dunia berpengaruh positif signifikan terhadap IHSG, kurs tidak berpengaruh signifikan terhadap IHSG.
Dessy dan Sujito (2012) dari Fakultas Ekonomi Universitas Semarang melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia, Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa
Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2010. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah
berpengaruh negatif terhadap IHSG, tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap IHSG dan inflasi berpengaruh negatif terhadap IHSG.
Penelitian yang dilakukan ini tidak sama dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam penelitian ini tidak semua faktor makroekonomi dijadikan sebagai variabel penelitian. Peneliti hanya menggunakan inflasi dan BI
rate sebagai variabel independen dan indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) sebagai variabel dependen. Data yang diteliti adalah data 3 tahun terakhir
12 B. Kerangka Teori
1. Inflasi
a. Pengertian Inflasi
Dalam literatur ekonomi, definisi inflasi banyak ragamnya. Menurut Khalwaty (2000: 5) keanekaragaman definisi tersebut terjadi karena luasnya
pengaruh inflasi terhadap berbagai sektor perekonomian. Hubungan yang erat dan luas antara inflasi dan berbagai sektor perekonomian tersebut melahirkan berbagai perbedaan pengertian dan persepsi kita tentang inflasi.
Menurut Khalwaty (2000: 6) inflasi merupakan suatu keadaan dimana terjadi kenaikan harga-harga secara tajam (absolute) yang berlangsung terus
menerus dalam jangka waktu cukup lama. Seirama dengan kenaikan harga-harga tersebut, nilai uang turun secara tajam pula sebanding dengan kenaikan harga-harga tersebut.
Menurut Nopirin (2000: 25) yang dimaksud dengan inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus-menerus.
Sedangkan menurut Karim (2008: 135) inflasi merupakan kenaikan tingkat harga secara umum dari barang / komoditas dan jasa selama suatu periode
tertentu. Sebaliknya jika terjadi penurunan merupakan deflasi.
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa inflasi merupakan kenaikan harga-harga secara umum dan terus-menerus dalam
13 b. Macam-macam Inflasi
1) Menurut Ekonom
Menurut penyebabnya, inflasi dapat digolongkan sebagai berikut
(Karim, 2008: 138-139):
a) NaturalInflation dan Human Error Inflation
Sesuai dengan namanya Natural Inflation adalah inflasi yang terjadi karena sebab-sebab alamiah yang manusia tidak mempunyai kekuasaan dalam mencegahnya. Sedangkan Human
Error Inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri.
b) Actual/ Anticipated/ Expected Inflation dan Unanticipated/ Unexpected Inflation
Pada Expected Inflation tingkat suku bunga pinjaman riil
akan sama dengan tingkat suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi. Sedangkan pada Unexpected Inflation tingkat suku bunga
pinjaman nominal belum atau tidak merefleksikan kompensasi terhadap efek inflasi.
c) DemandPull dan Cost Push Inflation
Demand Pull Inflation adalah inflasi yang terjadi karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi Permintaan
Agregatif (AD) dari barang-barang dan jasa pada suatu perekonomian. Sedangkan Cost Push Inflation terjadi karena
14 d) SpirallingInflation
Inflasi jenis ini merupakan inflasi yang diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelumnya yang mana inflasi yang sebelumnya
ini terjadi sebagai akibat dari inflasi yang terjadi sebelumnya lagi dan begitu seterusnya.
e) ImportedInflation dan Domestic Inflation
Imported Inflation bisa dikatakan adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh suatu negara karena harus menjadi price
taker dalam pasar perdagangan internasional. Sedangkan Domestic Inflation bisa dikatakan inflasi yang hanya terjadi di dalam negeri
suatu negara yang tidak begitu mempengaruhi negara-negara lainnya.
Sedangkan menurut Nopirin (2009: 28-31) macam-macam
inflasi menurut sebabnya adalah sebagai berikut:
a) Demand-pullInflation
Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregatedemand), sedangkan produksi telah berada pada keadaan
kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan hampir kesempatan kerja penuh, kenaikan permintaan total disamping menaikkan harga dapat juga
menaikkan hasil produksi (output). Apabila kesempatan kerja penuh (full-employment) telah tercapai, penambahan permintaan
15
permintaan ini menyebabkan keseimbangan GNP berada di atas/
melebihi GNP pada kesempatan kerja penuh maka akan terdapat adanya inflationary gap. Inflationary gap inilah yang dapat
menimbulkan inflasi. Secara grafik dapatlah digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Inflationary Gap
Kenaikan pengeluaran total dari C + I menjadi C’+ I’ akan menyebabkan keseimbangan pada titik B berada di atas GNP full -employment (YFE). Jarak A – B atau YFE – Y1 menunjukkan
besarnya inflationarygap.
Dengan menggunakan kurva permintaan dan penawaran total proses terjadinya demand-pull inflation dapat dijelaskan
sebagai berikut:
YFE C + 1
B
Y1 Y
C + I’
C + 1
A
16
harga naik menjadi P3 sedangkan output tetap pada QFE. Kenaikan
harga ini disebabkan oleh adanya inflationary gap. b) Cost-push Inflation
Cost-push inflation biasanya ditandai dengan kenaikan
harga serta turunnya produksi. Jadi inflasi yang dibarengi dengan resesi. Keadaan ini timbul biasanya dimulai dengan adanya
17
kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi ini dapat timbul
karena beberapa faktor diantaranya:
1. Perjuangan serikat buruh yang berhasil untuk menuntut
kenaikan upah.
2. Suatu industri yang sifatnya monopolistik, manager dapat
menggunakan kekuasaannya di pasar untuk menentukan harga yang lebih tinggi.
3. Kenaikan harga bahan baku industri. Biaya produksi naik,
akibatnya timbul stagflasi. Yakni inflasi yang disertai dengan stagnasi.
Kenaikan biaya produksi pada gilirannya akan menaikkan harga dan turunnya produksi. Kalau proses ini berjalan terus maka timbullah cost push inflation.
18
Bermula pada harga P1 dan QFE. Kenaikan biaya produksi
akan menggeser kurva penawaran total dari AS1 menjadi AS2.
Konsekuensinya harga naik menjadi P2 dan produksi turun menjadi
Q1. Kenaikan harga selanjutnya akan menggeser kurva AS menjadi
AS3, harga naik dan produksi ini (yang sering dibarengi dengan
turunnya produksi) disebut dengan cost-push inflation. 2) Menurut Ekonom Muslim
Menurut Ekonom Islam Taqiuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (Karim
(2008: 140) menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu: a) NaturalInflation
Sesuai dengan namanya, inflasi jenis ini diakibatkan oleh sebab-sebab alamiah, dimana orang tidak mempunyai kendali atasnya. Ibn al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi ini adalah inflasi yang
diakibatkan oleh turunnnya PenawaranAgregatif (AS) atau naiknya Permintaan Agregatif (AD).
Jika memakai perangkat analisis konvensional yaitu persamaan identitas:
MV = PT = Y dimana: M = jumlah uang beredar
V = kecepatan peredaran uang
P = tingkat harga
T = jumlah barang dan jasa (kadang dipakai juga notasi Q)
19
Maka NaturalInflation dapat diartikan sebagai:
1. Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian (T). Misalnya T sedangkan M dan Y tetap,
maka konsekuensinya P.
2. Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya nilai ekspor
lebih besar dari pada nilai impor, sehingga secara netto terjadi impor uang yang mengakibatkan M sehingga jika V dan T tetap maka P.
Lebih jauh jika dianalisis dengan persamaan: AD = AS
dan:
AS = Y
AD = C + I + G + (X-M)
dimana: Y = pendapatan nasional
C = konsumsi
I = investasi
G = pengeluaran pemerintah
(X-M) = net export maka:
Y = C + I + G + (X-M)
20
1. Akibat uang yang masuk dari luar negeri terlalu banyak, dimana
ekspor (X) sedangkan impor (M) sehingga netexport nilainya sangat besar, maka mengakibatkan naiknya Permintaan Agregatif
(AD).
2. Akibat dari turunnya tingkat produksi (AS) karena terjadinya
paceklik, perang, ataupun embargo dan boycott. b) HumanErrorInflation
Human Error Inflation merupakan inflasi yang diakibatkan
oleh kesalahan dari manusia itu sendiri. Menurut penyebab-penyebabnya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Korupsi dan administrasi yang buruk (Corruption and Bad Administration)
Jika merujuk pada persamaan MV = PT, maka korupsi akan
mengganggu tingkat harga (P) karena para produsen akan menaikkan harga jual produksinya untuk menutupi biaya-biaya “siluman” yang telah mereka keluarkan tersebut. Dimasukkannya “biaya siluman” tersebut dalam COGS (Cost Of Good Sold).
COGS akan mendorong ATC dan MC naik ke ATC2 dan MC2,
sehingga harga jual pada keadaan normal profit naik dari P ke P2.
Hal ini akan mengakibatkan COGS menjadi tidak merefleksikan
nilai sumber daya sebenarnya yang digunakan dalam proses produksi. Harga yang terdistorsi oleh komponen yang seharusnya
21
(hight cost economy). Pada akhirnya akan terjadi inefisiensi alokasi
sumber daya yang akan merugikan masyarakat secara keseluruhan. 2. Pajak yang berlebihan (ExcessiveTax)
Efek yang ditimbulkan oleh pajak yang berlebihan pada perekonomian hampir sama dengan efek yang ditimbulkan oleh
korupsi dan administrasi yang buruk yaitu kontraksi pada kurva Penawaran Agregatif (AS).
3. Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang
berlebihan (ExcessiveSeignorage)
Menurut otoritas moneter di negara-negara barat umumnya
meyakini bahwa pencetakan uang akan menghasilkan keuntungan bagi pemerintah (inflation tax), karena suatu tingkat pertumbuhan uang yang tinggi akan menghasilkan tingkat pajak yang lebih
tinggi pula dari pajak memegang uang (tax for holding money). Di lain pihak, ekonom Islam Ibn al-Maqrizi (Karim, 2008:
142) berpendapat bahwa pencetakan uang yang berlebihan jelas-jelas akan mengakibatkan naiknya tingkat harga (P) secara
keseluruhan (inflasi). Menurut Ibn al-Maqrizi, kenaikan harga-harga komoditas adalah kenaikan dalam bentuk jumlah uang atau nominal, sedangkan jika diukur dalam emas, maka harga-harga
22 c. Dampak Inflasi
1) Menurut Ekonom
Dampak inflasi sangat luas dan beraneka ragam, diantaranya
adalah sebagai berikut (Khalwaty, 2000: 53-57): a) EquityEffect
Equity Effect adalah dampak inflasi terhadap pendapatan. Dampak inflasi terhadap pendapatan bersifat tidak merata, ada yang mengalami kerugian dan ada pula yang mengalami keuntungan.
Yang mengalami kerugian adalah mereka yang berpenghasilan tetap karena akan mengalami penurunan nilai riil dari penghasilannya,
sehingga daya belinya menjadi lemah. Yang mengalami keuntungan adalah mereka yang memperoleh kenaikan atau peningkatan pendapatan dengan tingkat persentase yang lebih besar dari tingkat
inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan tidak dalam bentuk uang tunai.
b) EfficiencyEffect
Inflasi selain berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat
dan rumah tangga perusahaan karena lemahya daya beli masyarakat, juga berpengaruh terhadap biaya produksi. Harga-harga faktor produksi akan terus meningkat, sehingga dapat mengubah pola
alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan tersebut dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang
23
tertentu. Dengan adanya inflasi, permintaan barang-barang tertentu
akan mendorong peningkatan produksi terhadap barang-barang tersebut. Kenaikan produksi yang demikian akan mengubah pola
alokasi faktor produksi barang-barang tersebut menjadi lebih efisien. c) OutputEffect
Inflasi dinilai dapat meningkatkan produksi dengan asumsi bahwa produksi akan mengalami kenaikan mendahului kenaikan upah atau gaji para pekerja. Kenaikan harga produksi mengakibatkan
terjadinya keuntungan yang diterima produsen. Keuntungan yang telah dinikmati produsen tersebut akan mendorong produsen untuk
terus meningkatkan produksinya. Jika tingkat inflasi tinggi melebihi dua digit dan berlangsung dalam jangka waktu lama maka biaya produksi akan naik pula dan akibatnya keuntungan yang telah
dinikmati produsen menjadi berkurang. Karena keuntungan terus berkurang sementara biaya produksi terus bertambah, akhirnya
produsen akan mengurangi produksinya sampai batas tertentu yang dianggap aman dan masih dinilai memungkinkan untuk terus
melanjutkan usahanya. Jika dinilai sudah tidak menguntungkan lagi, keputusan terbaik adalah menghentikan atau mengurangi jumlah produksi. Penghentian produksi atau pengurangan produksi akan
24 2) Menurut Ekonom Muslim
Menurut para ekonom Islam inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena (Karim, 2008: 139):
a) Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan, fungsi dari pembayaran di muka dan fungsi dari unit
perhitungan. Orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan akibat dari beban inflasi tersebut. Inflasi juga telah mengakibatkan terjadinya inflasi kembali.
b) Melemahnya semangat menabung dan sikap terhadap menabung dari masyarakat.
c) Meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja terutama untuk non-primer dan barang-barang mewah.
d) Mengarahkan investasi pada hal-hal yang non-produktif yaitu
penumpukan kekayaan seperti: tanah, bangunan, logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi ke arah produktif seperti:
pertanian, industrial, perdagangan, transportasi, dan lainnya.
e) Mengakibatkan masalah-masalah yang berhubungan dengan akuntansi
seperti: apakah penilaian terhadap aset tetap dan aset lancar dilakukan dengan metode biaya historis atau metode biaya aktual, pemeliharaan modal riil dengan melakukan isolasi keuntungan inflasioner,
25 d. Solusi Pengendalian Inflasi
Secara umum terdapat empat macam cara atau kebijakan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi dan mengendalikan laju pertumbuhan
inflasi hingga ke tingkat yang paling rendah dan aman bagi kinerja perekonomian dan struktur ekonomi (Khalwaty, 2000: 59-71):
1) Kebijakan Moneter
Bank sentral harus dapat mengatur peredaran uang giral antara lain dengan cara menentukan cadangan minimum atau Giro Wajib
Minimum bagi setiap bank, melakukan kebijakan uang ketat (tide-money policy) dan tingkat diskonto (discount rate). Jika jumlah cadangan
minimum dinaikkan, maka uang yang beredar akan berkurang. Demikian juga, jika tingkat bunga (discount rate) pinjaman dari Bank Sentral kepada Bank Umum dinaikkan, maka gairah Bank Umum untuk
melakukan ekspansi atau meminjam uang dari Bank Sentral menjadi berkurang dan akibatnya jumlah uang yang beredar menjadi berkurang.
2) Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal akan berpengaruh terhadap permintaan agregat
dan pengeluaran pemerintah disamping mempengaruhi harga.
Pengurangan permintaan agregat pada batas wajar akan melindungi anggaran negara dari defisit, serta dapat menjadi instrumen untuk
26
Kalangan moneteris berpendapat bahwa kebijakan fiskal akan
menyebabkan kenaikan pengeluaran pemerintah yang selanjutnya dapat mendorong kenaikan tingkat bunga dan menekan kenaikan investasi
swasta. Keadaan demikian disebut dengan istilah Crowding Out. Kenaikan pengeluaran pemerintah yang diimbangi dengan penurunan
pengeluaran investasi swasta akan menghalangi kenaikan permintaan agregat. Untuk menghindari defisit anggaran belanja negara yang diakibatkan kenaikan pengeluaran belanja pemerintah, ada beberapa yang
dapat dilakukan. Misalnya mencari pinjaman dari masyarakat dengan menjual obligasi di pasar modal, mencetak uang baru, menaikkan
penerimaan dari sektor pajak dan utang luar negeri. Pemerintah Indonesia mengkombinasikan tiga cara, yaitu dengan menjual obligasi, melalui sektor pajak dan utang luar negeri.
3) Kebijakan Output
Apabila jumlah output meningkat, maka dampaknya akan
menekan laju inflasi. Untuk meningkatkan jumlah output, banyak cara yang dapat dilakukan. Misalnya dengan menurunkan tarif pajak,
mengurangi berbagai pungutan yang berdampak pada ekonomi biaya tinggi (hight cost economic) terhadap output, membebaskan atau menurunkan tarif bea masuk terhadap barang-barang impor, melakukan
27
Dengan bertambahnya jumlah output, harga dapat ditekan
menjadi lebih murah. Jumlah uang yang beredar harus sebanding dengan jumlah output. Kondisi demikian akan mencegah timbulnya inflasi atau
dapat mengendalikan laju pertumbuhan inflasi. 4) Kebijakan Harga dan Indexing
Kebijakan harga dan indexing dapat dilakukan dengan cara menentukan harga dasar (ceiling price) atau Harga Patokan Setempat (HPS) terhadap produk-produk tertentu. Penentuan besarnya gaji dan
upah atau penentuan tingkat Upah Minimum Regional (UMR) harus berdasarkan indeks harga barang-barang kebutuhan hidup yang secara
berkala dilaporkan oleh Biro Pusat Statistik. Jika indeks harga atau biaya hidup mengalami kenaikan, gaji dan upah juga harus dinaikkan sebanding dengan besarnya jumlah kenaikan indeks harga atau indeks
biaya hidup tersebut. Tindakan demikian dapat dijadikan sebagai instrumen untuk mencegah atau mengendalikan laju pertumbuhan inflasi.
Meskipun nilai nominal gaji dan upah mengalami kenaikan, namun nilai riil (intrinsik) gaji dan upah tersebut tetap dan daya beli mereka terhadap
28 2. BIRate
a. Pengertian BIRate
BIRate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau
stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik (http://www.bi.go.id).
b. Teori Suku Bunga
Ada beberapa teori tentang suku bunga, yaitu Teori Klasik dan Teori Keynes. Teori Klasik tentang tingkat bunga adalah sebagai berikut (Nopirin,
2009: 70-72):
Tabungan menurut teori klasik adalah fungsi dari tingkat bunga.
Makin tinggi tingkat bunga makin tinggi pula keinginan masyarakat untuk menabung. Artinya, pada tingkat bunga yang lebih tinggi masyarakat akan lebih terdorong untuk mengorbankan/ mengurangi pengeluaran untuk
konsumsi guna menambah tabungan.
Investasi juga tergantung/ merupakan fungsi dari tingkat bunga.
Makin tinggi tingkat bunga, keinginan untuk melakukan investasi juga makin kecil. Alasannya, seorang pengusaha akan menambah pengeluaran
investasinya apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi lebih besar dari tingkat bunga yang harus dia bayar untuk dana investasi tersebut yang merupakan ongkos untuk penggunaan dana (cost of capital). Makin rendah
29
Tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan (artinya tidak ada
dorongan untuk naik atau turun) akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan keinginan pengusaha untuk melakukan investasi.
Secara grafik keseimbangan tingkat bunga dapat digambarkan seperti dalam gambar 2.4.
Gambar 2.4
Teori Klasik tentang Tingkat Bunga
Keseimbangan pada tingkat bunga ada pada titik i0, dimana jumlah
tabungan sama dengan investasi. Apabila tingkat bunga di atas i0, jumlah
tabungan melebihi keinginan pengusaha untuk melakukan investasi. Para penabung akan saling bersaing untuk meminjamkan dananya dan persaingan
ini akan menekan tingkat bunga turun balik ke posisi i0. Sebaliknya, apabila
tingkat bunga di bawah ini, para pengusaha akan saling bersaing untuk memperoleh dana yang relatif jumlahnya lebih kecil. Persaingan ini akan
mendorong tingkat bunga naik lagi ke i0.
Kenaikan efisiensi produksi misalnya, akan mengakibatkan keuntungan yang diharapkan naik. Sehingga pada tingkat bunga yang sama
Investasi 0
Investasi1
Tabungan
i1
Jumlah Rupiah yang Ditabung & Diinvestasikan S0
30
pengusaha bersedia meminjam dana lebih besar untuk membiayai investasinya, atau untuk dana investasi yang sama jumlahnya, pengusaha bersedia membayar tingkat bunga yang lebih tinggi. Keadaan ini dalam gambar ditunjukkan dengan bergesernya kurva permintaan investasi ke kanan atas, dan keseimbangan tingkat bunga yang baru pada titik i1.
Sedangkan Keynes mempunyai pandangan yang berbeda (Nopirin, 2009: 90-93). Tingkat bunga merupakan suatu fenomena moneter. Artinya, tingkat bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan akan uang (ditentukan dalam pasar uang). Uang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi (GNP), sepanjang uang ini mempengaruhi tingkat bunga. Perubahan tingkat bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan untuk mengadakan investasi dan dengan demikian akan mempengaruhi GNP. Sedang menurut kaum klasik, uang hanyalah mempengaruhi harga barang.
Permintaan akan uang tergantung tingkat bunga. Dalam gambar 2.5 sumbu horisontal mengukur jumlah dan permintaan uang dengan sumbu vertikal untuk tingkat bunga.
Gambar 2.5
Teori Keynes tentang Tingkat Bunga Tingkat bunga (%)
Jumlah uang
Liquidity preference
31
Permintaan akan uang mempunyai hubungan negatif dengan tingkat
bunga. Hubungan negatif antara permintaan uang dengan tingkat bunga dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, Keynes menyatakan bahwa
masyarakat mempunyai keyakinan adanya suatu tingkat bunga yang normal. Apabila tingkat bunga turun di bawah tingkat normal, makin banyak orang
yakin bahwa tingkat bunga akan kembali ke tingkat normal. Jika mereka memegang surat berharga pada waktu tingkat bunga naik mereka akan menderita kerugian. Mereka akan menghindari kerugian ini dengan cara
mengurangi surat berharga yang dipegangnya dan dengan sendirinya menambah uang kas yang dipegang, pada waktu tingkat bunga naik.
Hubungan ini disebut motif spekulasi permintaan uang kas sebab mereka melakukan spekulasi tentang harga surat berharga di masa yang akan datang. Kedua, berkaitan dengan ongkos memegang uang kas (opportunity
cost of holding money). Makin tinggi tingkat bunga, makin tinggi pula ongkos memegang uang kas sehingga keinginan memegang uang kas juga
turun. Sebaliknya, apabila tingkat bunga turun berarti ongkos memegang uang kas juga makin rendah sehingga permintaan akan uang kas naik.
Kedua pendekatan di atas semuanya menjelaskan adanya hubungan negatif antara tingkat bunga dengan permintaan akan uang kas. Bersama dengan jumlah uang beredar yang tetap, permintaan uang ini menentukan
tingkat bunga. Tingkat bunga dalam keseimbangan (req pada gambar)
apabila jumlah uang kas yang diminta sama dengan penawarannya (jumlah
32
keseimbangan, masyarakat akan menginginkan uang kas lebih banyak
dengan cara menjual surat berharga yang dipegangnya. Usaha menjual surat berharga ini akan mendorong harganya turun, sampai ke tingkat
keseimbangan yang mana masyarakat sudah puas dengan komposisi kekayaannya (permintaan sama dengan penawaran uang). Sebaliknya,
apabila tingkat bunga berada di atas keseimbangan, masyarakat menginginkan uang kas lebih sedikit dengan cara membeli surat berharga. Pembelian ini akan mengakibatkan naiknya harga surat berharga (tingkat
bunga turun) sampai keseimbangan tercapai. c. Fungsi Suku Bunga
Menurut Sunariyah fungsi suku bunga adalah sebagai berikut (Hasibuan, 2015: 29):
1) Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih
untuk diinvestasikan.
2) Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka
mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian.
33 d. Mekanisme Penetapan BI Rate
1) Jadwal Penetapan dan Penentuan
Penetapan respons (stance) kebijakan moneter dilakukan setiap
bulan melalui mekanisme RDG Bulanan dengan cakupan materi bulanan yaitu (http://www.bi.go.id):
a) Respon kebijakan moneter (BI Rate) ditetapkan berlaku sampai dengan RDG berikutnya.
b) Penetapan respon kebijakan moneter (BI Rate) dilakukan dengan memperhatikan efek tunda kebijakan moneter (lag of monetary policy) dalam mempengaruhi inflasi.
c) Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan stance Kebijakan Moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui RDG Mingguan.
2) Besar Perubahan BIRate
Respon kebijakan moneter dinyatakan dalam perubahan BIRate
secara konsisten dan bertahap dalam kelipatan 25 basis poin (bps). Dalam kondisi untuk menunjukkan intensi Bank Indonesia yang lebih
besar terhadap pencapaian sasaran inflasi, maka perubahan BI Rate dapat dilakukan lebih dari 25 bps dalam kelipatan 25 bps.
3. Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII)
a. Pengertian Indeks Harga Saham Jakarta Islamix Index (JII)
Indeks harga saham adalah indikator yang mencerminkan kinerja
34
indeks saham yang didasarkan atas prinsip syariah. Saham dalam JII terdiri
atas 30 saham yang keanggotaannya akan terus ditinjau secara berkala berdasarkan kinerja transaksi di perdagangan bursa, rasio-rasio
keuangannya, dan ketaatannya pada prinsip-prinsip syariah sebagaimana termaktub dalam fatwa Dewan Syariah Nasional no 05/DSN-MU/IV/2000
tentang jual beli saham dan fatwa no. 40 DSN-MUI/IX/2003 tentang Pasar Modal, serta Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal. Saham yang dapat masuk ke dalam saham syariah harus memenuhi
syariat yang disebutkan dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan
Investasi untuk Reksadana Syariah, terutama pasal 8 dan pasal 10 (Nafik, 2009: 260).
Kriteria yang digunakan untuk menentukan saham-saham yang
masuk dalam perhitungan JII adalah:
a. Kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan
dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi besar).
b. Saham yang berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun memiliki rasio Kewajiban terhadap Aktiva maksimal sebesar 90%.
c. 60 saham dari susunan saham berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi
pasar (market capitalization) terbesar selama satu tahun terakhir.
d. 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai
35
Saham-saham syariah yang masuk dalam perhitungan Jakarta
Islamic Index (JII) terus dievaluasi dari sisi ketaatannya terhadap prinsip-prinsip syariah sebagaimana tertuang dalam fatwa DSN. Apabila
saham-saham tersebut tidak lagi memenuhi prinsip-prinsip syariah, otomatis akan mengeluarkannya dari JII dan kedudukannya digantikan saham lain yang
memenuhi prinsip-prinsip syariah. Dengan demikian, setiap saat ada saham yang keluar dan yang masuk ke dalam JII. Evaluasi terhadap saham-saham yang masuk dalam perhitungan JII dilakukan setiap enam bulan sekali.
Sedangkan perubahan jenis usaha emiten akan terus diawasi berdasarkan data-data publik yang tersedia (Nafik, 2009: 261).
b. Pengertian Harga Saham
Saham merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas (Anoraga dan Pakarti, 2008: 54). Menurut Marsis (2013: 86) saham
merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan, selembar saham adalah selembar kertas yang
menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemiliknya dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut.
Menurut Marsis (2013: 87) harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa. Anoraga dan Pakarti (2008: 59)
mengemukakan bahwa market price merupakan harga pada pasar riil, dan merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga
36
tutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price). Harga
ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa, baik bursa utama maupun OTC (Over the counter market). Transaksi di sini sudah tidak lagi
melibatkan emiten dan penjamin emisi. Harga pasar ini merupakan harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain, dan disebut sebagai
harga di pasar sekunder. Harga pasar inilah yang menyatakan naik-turunnya suatu saham dan setiap hari diumumkan di surat-surat kabar atau di media-media lainnya
Menurut Jogiyanto (Al Kautsar, 2015: 5) harga saham merupakan harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan
oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa harga
saham merupakan harga saham yang terjadi karena permintaan dan penawaran dari investor yang satu dengan investor yang lain di pasar modal. c. Perbedaan Saham Syariah dan Saham Non Syariah
Menurut Luthvi (2014: 18) saham syariah adalah saham-saham yang
memiliki karakteristik sesuai dengan syariah Islam. Sedangkan saham non syariah adalah saham yang kegiatan usahanya tidak sesuai dengan prinsip syariah Islam. Perbedaan ini terletak pada kegiatan usaha dan tujuannya.
Dalam website Bapepam (http://www.bapepam.go.id) disebutkan bahwa suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut
37
1) Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan dalam
anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
2) Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah
sebagaimana diatur dalam peraturan IX.A.13, yaitu tidak melakukan kegiatan usaha:
1. perjudian dan permainan yang tergolong judi;
2. perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa; 3. perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu;
4. bank berbasis bunga;
5. perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
6. jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian(gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
7. memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi)
yang ditetapkan oleh DSN-MUI; dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat;
38
b) rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total ekuitas tidak
lebih dari 82%, dan
c) rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya
dibandingkan total pendapatan usaha dan total pendapatan lainnya tidak lebih dari 10%.
d. Macam-macam Harga Saham
Menurut Sawidji Widoatmojo, harga saham dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (Marsis, 2013: 86-87):
1) Harga normal
Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan
oleh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena dividen minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
2) Harga perdana
Harga ini merupakan harga pada waktu saham tersebut dicatat di
bursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan
diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.
3) Harga pasar
Harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di
39
harga ini yang disebut harga sebagai harga di pasar sekunder, kecil
sekali terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media lain
adalah harga pasar.
e. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham
Menurut Alwi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham atau indeks harga saham, antara lain (Marsis, 2013: 84-85):
1) Faktor internal (lingkungan mikro)
a) Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti
pengiklanan, rincian kontak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk dan laporan penjualan produk.
b) Pengumuman pendanaan.
c) Pengumuman badan direksi manajemen.
d) Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan merger, invetasi ekuitas, laporan takeover oleh pengakuisisian dan
diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya. e) Pengumuman investasi.
f) Pengumuman ketenagakerjaan.
40 2) Faktor eksternal
a) Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai
regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah. b) Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan
karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
c) Pengumuman industri sekuritas (securitiesannouncements) seperti
laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham perdagangan, pembatasan atau penundaan trading.
d) Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara.
e) Berbagai isu baik dari dalam negeri dan luar negeri. C. Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka teoritis merupakan konsep dari suatu teori atau logika pengertian yang saling berhubungan diantara beberapa faktor penting pada
masalah penelitian (Wijaya, 2013: 10). Dalam penelitian ini, kerangka pemikiran teoritis adalah sebagai berikut:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + e
Dimana:
Y = indeks harga saham JII
41 X2 = BI rate
a = konstanta
b1 = koefisien regresi inflasi
b2 = koefisien regresi BI rate
e = standart error
Gambar 2.6
Kerangka Pemikiran Teoritis D. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban permasalahan sementara yang bersifat dugaan dari suatu penelitian. Dugaan ini harus dibuktikan kebenarannya melalui
data empiris (fakta lapangan). Hipotesis dapat benar atau terbukti dan tidak terbukti setelah didukung oleh fakta-fakta dari hasil penelitian lapangan (Supardi,
2005: 69).
1. Hubungan Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII)
Dalam keadaan inflasi, biaya modal dari suatu proyek investasi akan menjadi semakin mahal karena harga-harga barang-barang naik relatif cepat
dan cukup tinggi. Daya beli masyarakat semakin melemah sehingga terjadi
INFLASI (X1)
INDEKS HARGA SAHAM JII (Y)
42
kelesuan hampir di segala sektor riil. Di sektor industri penerimaan laba
menurun cukup drastis, sehingga menurunkan harga saham perusahaan publik (Khalwaty, 2000: 105). Penurunan harga saham mengakibatkan menurunnya
indeks harga saham. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Cahya dkk (2015), Dessy dan Sujito (2012) yang menyatakan inflasi
berpengaruh negatif terhadap harga saham.
Berdasarkan uraian tersebut, maka diajukan:
H1 = Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap indeks harga
saham Jakarta Islamic Index (JII).
2. Hubungan BI Rate terhadap Indeks Harga Saham Jakarta Islamic Index (JII)
Jika BI rate sebagai suku bunga acuan mengalami peningkatan, maka
suku bunga industri perbankan akan mengalami peningkatan juga, dan ini
menarik investor untuk berinvestasi atau memindahkan investasi dari saham ke sektor perbankan. Hal ini mengakibatkan permintaan saham menjadi menurun
dan penurunan permintaan saham membuat harga saham menurun, sehingga indeks harga saham juga akan menurun. Penelitian yang dilakukan oleh
Mulyani (2014), Dessy dan Sujito (2012) menyatakan bahwa suku bunga berpengaruh negatif terhadap harga saham.
Berdasarkan uraian tersebut, maka diajukan:
43 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini mengenai pengaruh inflasi dan BIrate terhadap indeks harga
saham Jakarta Islamic Index (JII). Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menurut Arikunto (2010: 27) penelitian kuantitatif banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data
tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2010: 23) yang mengemukakan bahwa data kuantitatif adalah data yang
berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan. B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini, data indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII)
diperoleh melalui data statistik yang dipublikasikan oleh PT Bursa Efek Indonesia melalui website (www.idx.co.id). Dan data tingkat inflasi dan BIrate diperoleh
dari website Bank Indonesia (www.bi.go.id). Data indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII), inflasi dan BI rate yang digunakan mulai dari tahun 2012
sampai 2014.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Menurut Bawono (2006: 28), populasi adalah keseluruhan wilayah objek dan subjek penelitian yang ditetapkan untuk dianalisis dan ditarik
44
mengemukakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian iniadalahJakarta Islamic Index (JII). 2. Sampel
Bawono (2006: 28), mengemukakan bahwa sampel adalah objek atau subjek penelitian yang dipilih guna mewakili keseluruhan dari populasi. Hal ini dilakukan untuk menghemat waktu dan biaya. Sehingga di dalam menentukan
sampel harus hati-hati, karena kesimpulan yang dihasilkan nantinya merupakan kesimpulan dari populasi. Penelitian yang menggunakan data sekunder, jumlah
sampel minimum yang dapat digunakan agar hasilnya representatif adalah 35 data.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive
sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan kriteria tertentu (Sugiyono, 2010: 68). Kriteria yang digunakan untuk pengambilan
sampel adalah data indeks harga saham Jakarta Islamic Indeks (JII) akhir bulan (closing price). Sehingga yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah data
indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) dari tahun 2012-2014 sejumlah 36 sampel data.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah bagian instrumen pengumpulan data yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian. Pada penelitian
45
observasi dan dokumentasi (Bungin, 2006: 123). Metode pengambilan data adalah
teknik atau cara yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan data yang akan dianalisis atau diolah untuk menghasilkan suatu kesimpulan. Teknik atau cara
untuk mendapatkan data untuk penelitian adalah dari data primer dan data sekunder. Pada penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder. Data sekunder
adalah data yang diperoleh secara tidak langsung atau penelitian arsip yang memuat peristiwa masa lalu. Data sekunder ini dapat diperoleh oleh peneliti dari jurnal, majalah, buku, data statistik maupun dari internet (Bawono, 2006 : 29-30).
Sesuai dengan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder, maka teknik dalam pengumpulan data menggunakan metode
dokumentasi. Menurut Bungin (2006: 144), metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data historis. Data historis tersebut merupakan data indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) yang dipublikasikan oleh PT
Bursa Efek Indonesia melalui website (www.idx.co.id), data tingkat inflasi dan BIrateyang diperoleh melaluiwebsite Bank Indonesia (www.bi.go.id).Pendekatan waktu yang digunakan adalah data time series. Bawono (2006: 26) mengemukakan bahwa data timeseries adalah data runtun waktu, bisa berupa data
bulanan, triwulanan, semesteran ataupun tahunan. Penelitian ini menggunakan data runtun waktu bulanan.
E. Definisi Konsep dan Operasi 1. Definisi Konsep
Menurut Bawono (2006: 26), definisi konsep merupakan penentuan
46
non eksperimen (observasional). Dalam penelitian ini menggunakan metode
penelitian yang sifatnya observasional karena penelitian ini meneliti hal yang sudah ada.
2. Definisi Operasi
Definisi operasional menjelaskan mengenai definisi variabel-variabel
yang akan digunakan, baik variabel dependen maupun variabel independen. Sehingga nantinya tidak menghasilkan data yang bias yang bisa membuat interpretasi data yang bias (Bawono, 2006: 27).
a. Variabel Independen
Menurut Sugiyono (2010: 4), variabel independen merupakan
variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu:
1) Inflasi
Inflasi merupakan kenaikan harga-harga secara umum dan
terus-menerus dalam periode tertentu. Data tingkat inflasi diperoleh melalui website Bank Indonesia (www.bi.go.id) yang dipublikasikan setiap sebulan sekali.
2) BIRate
BIRate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap