BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum SDN Kutowinangun 09 Salatiga
Sekolah ini didirikan pada tahun 1972 dengan biaya INPRES dan merupakan tanah hibah dari masyarakat dan terakreditasi B. Jumlah murid di SD ini ada 117 siswa.Kondisi Penelitian ini dilakukan di SDN Kutowinangun 09 Salatiga semester II tahun pelajaran 2011/2012 dengan subyek penelitian kelas IV dengan jumlah siswa sebanyak 24 orang. SDN Kutowinangun 09 Salatiga terletak di desa canden kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Dengan letaknya yang berada dikawasan pinggiran kota menjadikan SDN Kutowinangun 09 ini memiliki suasana yang tenang dan nyaman sehingga cocok untuk dijadikan tempat belajar.
Fasilitas pembelajaran di SD Negeri Kutowinangun 09 masih terbatas, yakni masih kurangnya alat peraga. Buku paket di SD ini cukup menunjang untuk sarana belajar siswa dan terdapat juga buku-buku lain yang dapat dijadikan sumber bacaan bagi siswa.
Adapun tenaga mengajar di SD Negeri Kutowinangun 09 terdiri dari guru kelas dari kelas 1 sampai kelas 6 dengan setiap kelas diampu oleh 1 guru, 1 guru olahraga, dan 1 guru agama dengan pendidikan terakhir setiap guru adalah S1.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1. Deskripsi Kondisi Awal
Kondisi awal merupakan kondisi sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada kelas VI SDN Kutowinangun 09 Salatiga yang berjumlah 24 siswa pada mata pelajaran IPS, terlihat bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada hasil evaluasi siswa pada mata pelajaran IPS yang telah dilakukan yang dimana, sebagian besar peserta didik memperoleh nilai di bawah KKM = 65.
Data hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan, dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 1
Rekapitulasi Hasil Belajar IPS Sebelum Tindakan
No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan Jumlah Siswa Prosentase
(%) 1 < 50 - - Belum tuntas 2 50 – 54 2 8.34 Belum tuntas 3 55 – 59 5 20.83 Belum tuntas 4 60 – 64 8 33.33 Belum tuntas 5 65 – 69 6 25 Tuntas 6 70 – 74 3 12.5 Tuntas 7 75 – 79 - - - 8 80 – 84 - - - 9 85 – 89 - - - 10 90 – 94 - - - 11 95 – 100 - - - Jumlah 24 100 Rata-rata 60,62 Nilai tertinggi 70 Nilai terendah 50
Mengacu pada tabel di atas, terlihat bahwa perbandingan siswa yang mencapai KKM adalah 9 siswa atau 37.5% dan siswa yang belum mencapai KKM berjumlah 15 siswa atau 62.5%.Nilai rata-rata yang diperoleh kelas adalah59.37, dengan perolehan nilai terendah yaitu 50 dan tertinggi 70. Adapun data rekapitulasi ketuntasan belajar sebelum diberikan tindakan disajikan pada grafik berikut ini:
Gambar 4.1.
Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Sebelum Tindakan
Mengacu pada KKM = 65, maka prosentase keseluruhan siswa yang mencapai kriteria ketuntasan maupun belum tuntas belajar, disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 2
Prosentase Ketuntasan Belajar Sebelum Tindakan
No Nilai
Sebelum Tindakan
Keterangan
Jumlah Siswa Prosentase (%)
1 < 65 15 62.5 Belum tuntas 2 ≥ 65 9 37.5 Tuntas Jumlah 24 100 Rata-rata 59.37 Nilai tertinggi 70 Nilai terendah 50
Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kutowinangun 09 Salatiga sebelum dilakukan tindakan, diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari Kriteria ketuntasan minimal yaitu (KKM = 65) sebanyak 15 siswa atau 62.5% dari total keseluruhan siswa; sedangkan siswa yang
Belum tuntas Tuntas
mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 9 siswa atau 37.5% dari total seluruh siswa.
Berdasarkan pengamatan sebelum dilakukan penelitian, rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh tidak adanya minat dalam belajar terutama dalam IPS, terlihat ketika di kelas, siswa mudah jenuh dalam mengikuti pelajaran karena pelajaran IPS sendiri yang bersifat menghafal. Selain itu, cara guru mengajar yang masih dengan menggunakan metode ceramah membuat kelas menjadi monoton dan sajian pelajaran menjadi kurang menarik perhatian siswa.
Berpatokan pada data hasil belajar awal atau data hasil belajar sebelum dilakukan tindakan, penulis melakukan sebuah penelitian tindakan kelas (PTK) sesuai dengan rancangan penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. Dalam penelitian di SDN Kutowinangun 09 Kec Tingkir Salatiga, penulis akan menggunakan metode pembelajaran mind mapping. Penelitian ini akan dilakukan dalam dua siklus, dimana tiap siklus akan dilakukan dua pertemuan.
4.2.2. Siklus I
a.Tahap Perencanaan Tindakan
Sebelum dilaksanakan tindakan, ada beberapa langkah yang dilakukan oleh penulis, antara lain:
1) Memeriksa RPP yang telah disusun, sambil mencermati kembali setiap butir yang direncakan akan dilaksanakan pada pelaksanaan tindakan.
2) Menyiapkan semua alat peraga dan sarana lain yang akan digunakan.
3) Mengecek kembali kelengkapan dan ketersediaan alat pengumpul data, seperti lembar observasi yang telah disepakati dengan guru yang mendampingi sebagai observer.
b.Pelaksanaan Tindakan
Setelah menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran, pengajar bersama observer menyepakati untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang terdiri dari dua pertemuan pembelajaran yaitu:
Pertemuan I
1) Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan oleh pengajar meliputi beberapa kegiatan seperti yang telah didesain dalam rencana pembelajaran yaitu membuka pembelajaran dengan salam, berdoa, mengabsen, dan melakukan apersepsi. Kegiatan apersepsi yang dilakukan adalah mengingatkan kembali kepada para siswa tentang materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi, sekaligus menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
2) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, yang dilakukan oleh pengajar adalah menjelaskan materi pembelajaran yaitu perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi, pada kegiatan ini penulis mengambil kata kunci yaitu teknologi kemudian menempelkan gambar tersebut, pada kertas karton putih yang telah disediakan, menempelkan gambar tersebut pada tengah-tengah karton, kemudian membuat cabang-cabang dari gambar tersebut dengan spidol berwarna sambil menjelaskan kepada siswa kaitan antara gambar Teknologi dengan cabang-cabang yang dibuat. Cabang pertama yang dibuat adalah teknologi produksi, kemudian cabang yang kedua yang dibuat adalah teknologi transportasi, cabang yang ketiga yang dibuat adalah teknologi komunika. Setelah
membuat cabang-cabang tersebut, pengajar melanjutkan membuat sub-sub cabang. Pada cabang yang lain, pengajar juga membuat sub cabang yaitu macam – macam alat teknologi tersebut. Pada kedua sub cabang yang berbeda, namun ada titik temunya, pengajar membuat garis melengkung, dimana pada ujung garis itu diberikan tanda panah sebagai tanda bahwa dua sub konsep yang berbeda. Setelah pengajar memberikan contoh tentang bagaimana sebuah konsep perkembangan teknologi, diangkat dengan menggunakan salah satu kata sebagai konsep kunci, dan mengacu pada kata tersebut, dapat ditemukan banyak hal melalui metode mind mapping, pengajar meminta siswa untuk melakukan hal yang sama terkait dengan materi yang diberikan. Ketika memulai meminta siswa untuk melakukan hal tersebut, pada saat bersamaan, pengajar juga membagikan angket minat belajar untuk mengetahui bagaimana minat belajar siswa dengan menggunakan metode mind mapping. Persoalan muncul ketika siswa diminta untuk mulai melakukan pembelajaran dengan metode mind mapping.
Suasana menjadi agak ribut, karena masih banyak siswa belum memahami dengan benar bagaimana menggunakan metode mind mapping, sehingga kelas menjadi gaduh karena siswa saling bertanya kepada temannya bagaimana memulai sebuah ide dengan kata kunci tertentu. Untuk mengendalikan suasana agar tidak terlalu ribut, pengajar meminta siswa untuk menanyakan saja apa yang belum dipahami. Pengajar kemudian mendampingi para siswa, memperhatikan cara kerja mereka dengan menggunakan metode mind mapping, sambil memberikan stimulus yang dapat memicu pengetahuan-pengetahuan siswa terkait dengan materi perkembangan teknologi
Setelah waktu membuat mind mapping selesai, pengajar memberikan lembar kerja kepada siswa untuk dikerjakan secara individual. Lembar kerja tersebut dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh siswa mulai memahami materi pelajaran yang sedang dipelajari dengan menggunakan metode mind mapping.
3) Kegiatan penutup
Pengajar bersama-sama dengan siswa mengambil kesimpulan tentang materi yang ditelah dipelajari dengan menggunakan metode mind mapping, sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa yang masih belum memahami materi pelajaran yang diberikan, guru memberikan pesan kepada siswa untuk mempelajari lagi materi tersebut di rumah, karena masih akan dilakukan lagi pertemuan berikutnya, dan memberikan PR.
Pertemuan II 1) Kegiatan awal
Pelaksanaan pada pertemuan II guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di ruangan kelas, dan apersepsi. Kemudian, guru bertanya kepada siswa “siapa yang tidak mengerjakan PR?”. Guru mencocokkan PR dan mengingatkan kembali tentang materi Perkembangan teknologi.
2) Kegiatan inti
Pada kegiatan inti pertemuan kedua ini, yang dilakukan oleh penulis adalah menjelaskan materi pembelajaran tentang teknologi produksi pada masa lalu dan masa kini. Untuk memberikan penjelasan tentang sub materi tersebut, pengajar menggunakan metode mind mapping, dengan memilih kata kunci teknologi produksi sebagai kata kunci utama. Dari konsep utama ini, pengajar membuat cabang-cabang lagi
yaitu teknologi produksi masa kini, dan teknologi masa lampau. Setelah membuat sub-sub cabang tersebut, pengajar
melanjutkan membuat ranting-ranting lagi dengan
menyebutkan macam – macam alat sesuai
perkembangannya.Setelah melakukan pemetaan materi dengan menggunakan metode mind mapping, siswa diminta untuk memetakan materi yang sedang dipelajari dengan menggunakan salah satu materi. Pengajar mendampingi selama siswa melakukan pemetaan materi tersebut, sambil membantu siswa mengaitkan materi tersebut dengan pengetahuan-pengetahuan yang telah didapatkan sebelum-sebelumnya untuk mempermudah mengembangkan konsep-konsep. Pada pertemuan kedua ini, siswa sudah lebih tenang, dimana masing-masing sudah lebih fokus untuk mengerjakan bagiannya sendiri-sendiri. Tidak terlupakan pula, pengajar membagikan angket minat belajar untuk diisi oleh para siswa, secara khusus minat belajar pada mata pelajaran dengan menggunakan metode mind mapping.
3) Kegiatan penutup
Setelah waktu selesai, siswa diberikan tugas secara individual untuk dikerjakan di rumah, penulis sebagai pengajar memberikan kesempatan kepada siswa yang belum memahami pelajaran termasuk metode pembelajarn untuk bertanya, penulis selaku pengajar bersama-sama dengan siswa mengambil kesimpulan dan pengajar mengingatkan untuk mempelajari sub materi berikutnya yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan III
Pada pertemuan ketiga merupakan akhir pelaksanaan dari siklus 1. Kegiatan pada pertemuan ketiga untuk melaksanakan evaluasi dari pembelajaran yang sudah dilaksanakan pada pertemuan pertama dan kedua pada siklus 1 dan penyebaran angket minat belajar siswa. Evaluasi yang akan diberikan berupa tes tertulis dengan bentuk soal isian pendek dan jumlah soal 20. Langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan ketiga yaitu guru menyampaikan kepada siswa tentang kesiapan dalam mengikuti evaluasi pembelajaran. Guru menjelaskan pada siswa tentang peraturan dalam mengerjakan soal evaluasi, kemudian guru membagikan soal evaluasi pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evaluasi dengan baik dan guru mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal evaluasi, guru bersama siswa mencocokkan hasil kerja siswa dan langsung mengumumkan hasil nilai tes kepada siswa.
c.Observasi
Dalam penelitian ini pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan yang mengacu pada kegiatan guru pada saat melakukan pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan rencana tindakan pada pertemuan berikutnya.
Tabel 4.3
Lembar Observasi Guru
No Indikator
Siklus 1 Pertemuan
1 2 3
1 Guru sudah menentukan indikator yang akan
dicapai
√ √ √
2 Guru sudah merumuskan tujuan pembelajaran √ √ √
3 Guru sudah menyusun RPP dengan metode
Mind mapping
√ √ √
4 Kesesuaian RPP dengan kegiatan
pembelajaran
√ √ √
5 Guru sudah mempersiapkan perlengkapan
pembelajaran
√ √ √ 6 Guru sudah menyiapkan peserta didik untuk
mengikuti proses pembelajaran dengan doa
√ √ √ 7 Guru sudah menjelaskan tujuan pembelajaran
atau kompetensi dasar yang akan dicapai
√ √ √
8 Guru sudah memotivasi peserta didik √ √ √
9 Guru sudah melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dalam materi IPS
√ √ √ 10 Guru sudah menggunakan metode mind
mapping, dengan menggunakan Gambar tentang materi yang diajarkan
√ √ √ 11 Guru sudah melakukan tanya jawab tentang
materi pembelajaran
√ √ √ 12 Guru bersama siswa sudah menemukan ide
dalam pembuatan mind mapping tentang materi IPS
√ √ √ 13 Guru sudah Memberikan penguatan kepada
siswa atas pekerjaan yang sudah mereka kerjakan
√ √ √ 14 Sumber belajar guru sudah sesuai dengan
mater ajar
√ √ √ 15 Guru bersama-sama dengan peserta didik
dan/atau sendiri membuat rangkuman/ simpulan pelajaran
√ √ √ 16 Guru sudah melakukan penilaian dan/atau
refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan
√ √ √ 17 Guru sudah memberikan umpan balik terhadap
proses dan hasil pembelajaran
√ √ √ 18 Guru sudah merencanakan kegiatan tindak
lanjut
√ √ √
19 Guru sudah memberikan PR kepada siswa √ √ √
20 Guru sudah menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan
1. Paparan Hasil Belajar Belajar Siklus I
Hasil observasi hasil belajar dan minat belajar pada siklus I yang diperoleh selama proses pembelajaran IPS dengan menggunakan metode mind mapping kelas IV SDN Kutowinangun 09 Salatiga, adalah sebagai berikut:
Tabel 4. 4
Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
No Nilai Tindakan Siklus 1 Keterangan
Jumlah Siswa Prosentase (%) 1 < 50 - - Belum tuntas 2 50 – 54 - - Belum tuntas 3 55 – 59 2 8.33 Belum tuntas 4 60 – 64 10 41.67 Belum tuntas 5 65 – 69 5 20.83 Tuntas 6 70 – 74 4 16.67 Tuntas 7 75 – 79 2 8.33 Tuntas 8 80 – 84 1 4.17 Tuntas 9 85 – 89 - - - 10 90 – 94 - - - 11 95 – 100 - - - Jumlah 24 100 Rata-rata 63.95 Nilai tertinggi 80 Nilai terendah 55
Berdasarkan tabel di atas, terlihat jelas perbandingan hasil belajar siswa pada kondisi sebelum tindakan dan setelah diberikan tindakan pada siklus I, yang mencapai kentuntasan belajar (KKM= 65) sebanyak 12 siswa atau 50% sedangkan siswa yang belum mencapai kentuntasan belajar sebanyak 12 siswa atau 50%. Pada kondisi awal, diketahui bahwa ada 16 siswa atau 75% dari total siswa yang memperoleh nilai di bawah 65. Kondisi ini berubah setelah diberikan tindakan pada siklus I. Siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 50 – 54, 60 – 64 dan 65 – 69 berjumlah 12 siswa. Nilai rata-rata siswa meningkat dari awal sebelum tindakan yaitu 59.37 menjadi 63.95 pada siklus I. Nilai
terendah dicapai dengan nilai 50 dan nilai tertinggi adalah 80. Rekapitulasi perolehan hasil belajar pada siklus I tersebut, disajikan pada gambar berikut ini:
Gambar 4. 2
Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
Berikut disajikan dalam tabel, prosentase ketuntasan belajar pada siklus I. hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. 5
Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan
Jumlah Siswa Prosentase (%)
1 < 65 12 50 Belum tuntas 2 ≥ 65 12 50 Tuntas Jumlah 24 100 Rata-rata 63.95 Nilai tertinggi 80 Nilai terendah 55
Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa SDN Kutowinangun 09, sebelum dilakukan tindakan diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 15 siswa atau 62.5%; sedangkan yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 9 siswa dengan prosentase 37.5%. Kondisi ini berubah setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I, dimana siswa yang berhasil lulus KKM
Belum tuntas Tuntas
dan yang sudah berhasil berimbang yaitu masing – masing sebanyak 12 siswa atau 50%.
2. Perbandingan hasil belajar sebelum tindakan dan siklus 1
Berdasarkan pengamatan, setelah diadakan penelitian tindakan siklus I, terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan karena siswa mulai merasa senang dalam proses pembelajaran. Selain itu siswa mulai menguasai car menuangkan informasi ke dalam mind mapping. Dari hasil ini tampak bahwa pada saat pembelajaran siklus I dengan menggunakan metode
mind mapping, siswa mulai menunjukkan semangat di dalam
belajar.
Untuk mengetahui terjadinya peningkatan hasil belajar setelah dilakukan tindakan pada siklus I, berikut disajikan dalam tabel nilai siswa sebelum tindakan dan setelah tindakan pada siklus I.
Pada studi awal siswa yang tuntas hasil belajar hanya 9 siswa (37.5%). Siswa yang belum tuntas belajar mencapai 15 siswa (62.5%) dari 24 siswa, dengan nilai rata-rata sebelum tindakan 60.62. Pada siklus I peningkatan hasil belajar meningkat mencapai 12 siswa (50%) dari 24 siswa, nilai rata-rata dari studi awal 60.62 naik menjadi 63,95. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa, meskipun peningkatan hasil belajar siswa belum sesuai dengan kriteria yang diinginkan yaitu 70% dari 24 siswa. Adapun perbandingan hasil belajar sebelum tindakan dan setelah tindakan pada siklus I disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 6
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal dan Siklus I
No. Nilai
Kondisi Awal Siklus I
Siswa Presentase Siswa Presentase
1 Tuntas 9 37.5 12 50
2 Belum Tuntas 15 62.5 12 50
Jumlah 24 100% 24 100%
Mengacu pada tabel di atas, dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar setelah diberikan tindakan pada siklus I. Meskipun, peningkatan tersebut belum mencapai kriteria yaitu 70% dari total jumlah siswa. Adapun perbandingan hasil belajar sebelum tindakan dan tindakan pada siklus I, tersaji pada gambar berikut ini:
Gambar 4.3
Perbandingan Hasil Belajar Sebelum Tindakan dan Tindakan Siklus I
Mengacu pada tabel di atas, maka terjadi peningkatan hasil belajar dari sebelum siklus hingga setelah siklus I yaitu terjadi peningkatan 12,5%.
3. Analisis Angket Minat Siklus 1
Penilaian terhadap minat siswa menggunakan skala Likert dengan rentang 4 – 1, skor 4 (sangat setuju), skor 3 (setuju), skor 2 (tidak setuju), dam skor 1 (sangat tidak setuju). Skor keseluruhannya diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor butir pernyataan. Rentangan yang dipakai 1 sampai 4, maka diperoleh skor terendah adalah 1 dan skor tertinggi adalah 4.
Berikut ini dipaparkan hasil pengamatan minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS dengan menggunakan metode mind mapping. Patokan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah skor perolehan siswa dalam menjawab angket dibagi skor maksimal yairu 15 dikali 4, 15 adalah jumlah item soal dan 4 adalah skor tertinggi, lalu dikalikan 100. Uraiannya adalah seperti berikut:
Tabel 4.7
Kategori Interval Skala Likert Angket Minat Belajar Siswa
Interval Kategori
60 – 48,75 Sangat berminat
48,74 – 37,5 Berminat
37,49 – 26,25 Kurang berminat
26,24 - 15 Tidak berminat
Hasil angket minat belajar siswa pada siklus 1 dapat diketahui bahwa minat belajar siswa pada siklus 1 dikategorikan sangat berminat sebanyak 17 siswa, 2 siswa berminat dan 5 siswa kurang berminat dalam mengikuti pembelajaran IPS.
d.Refleksi
Pembelajaran IPS kelas IV pada materi perkembangan teknologi produksi pada siklus I ini belum berhasil sesuai kriteria yang ditentukan karena ketuntasan belajar baru 50%. Ini berarti baru 12 dari 24 siswa mempunyai hasil belajar yang tuntas atau mendapat nilai 65 ke atas.
Hasil diskusi guru dengan observer dapat mengungkapakan faktor penyebab kekurang keberhasilan dalam pembelajaran yaitu:
a) Pembelajaran masih gaduh dan kurang terkendali saat pada saat siswa mulai diminta untuk membuat materinya sendiri dengan menggunakan metode mind mapping.
b) Guru masih kaku dalam memandu siswa yang belum memahami langkah-langkah pembuatan mind mapping, juga dalam mengeksplorasi pengetahuan siswa untuk diasosiasikan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Berdasarkan data yang telah dianalisis dan data hasil diskusi, penulis melakukan penelaahan dan mencoba menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan. Hasil ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa sudah meningkat, meskipun belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditentukan karena ketuntasan belajar baru 50%, atau baru 12 dari 24 siswayang tuntas belajar atau mendapat nilai 65 ke atas.
Berdasarkan hasil evaluasi observasi, peneliti memutuskan untuk mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II sebagai berikut:
1) Memandu siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan siswa untuk diasosiakan dengan materi yang sedang dipelajari melalui metode mind mapping.
2) Memberi penguatan dalam penggunaan metode mind mapping agar siswa cepat memahami.
4.2.3. Siklus II
a.Tahap Perencanaan
Bersama-sama dengan supervisor dan observer penulis yang berperan sebagai pengajar merevisi RPP dan menyiapkan kembali skenario tindakan yang akan dilaksanakan pada perbaikan pembelajaran siklus II. Berdasarkan hasil diskusi dengan observer dan refleksi siklus I maka penulis selaku pengajar melakukan upaya perbaikan pembelajaran, memandu siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan siswa untuk diasosiakan dengan materi yang sedang dipelajari melalui metode mind mapping. dan memberikan reward atau penguatan kepada siswa yang menjawab benar. Selain itu penulis juga menyiapkan kembali lembar kerja siswa, lembar evaluasi, dan menyiapakan alat peraga. Juga, observer bersama guru juga menyepakati fokus observer dan kriteria yang akan digunakan.
b.Pelaksanaan Pertemuan I 1) Kegiatan awal
Pelaksanaan pada pertemuan II guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di ruangan kelas, dan apersepsi. Kemudian, guru bertanya kepada siswa “siapa yang tidak mengerjakan PR?”. Guru mencocokkan PR dan mengingatkan kembali tentang materi tentang diajarkan dipertemuan sebelumnya. 2) Kegiatan inti, pengajar menjelaskan kembali materi tentang
perkembangan alat produksi,komunikasi, dan transportasi. Setelah bertanya jawab sebentar, pengajar melanjutkan materi perkembangan teknologi tansportasi dan komunikasi.
Pengajar pmengambil kata kunci yaitu alat transportasi sebagai konsep kunci dalam menjelaskan materi yang diajarkan. Pengajar lebih dahulu menempelkan gambar alat transportasi pada karton yang telah disediakan, kemudian membuat cabang dengan menggunakan spidol berwarna mulai dari alat transportasi masa kini dan masa lalu. Kemudian penulis membuat cabang – cabang alat transportasi masa kini yaitu alat transportasi darat, laut serta udara, begitu juga seterusnya.Sambil membuat cabang-cabang, pengajar juga ikut menjelaskan isi dari cabang-cabang tersebut kepada siswa. Setelah selesai membuat cabang-cabang, pengajar meminta kepada siswa untuk membuat peta konsep yang sama dengan menambahkan konsep yang dicontohkan.
Pada saat siswa diminta untuk memulai menggunakan peta konsep dengan kata kunci di atas, tampak bahwa tidak seperti pada siklus I, siswa sudah mulai lebih tenang, ada siswa yang sudah berani mengangkat tangan dan bertanya tentang melanjutkan dari membuat cabang ke ranting-ranting dan bagaimana mengaitkan antara dua cabang yang berbeda, namun ada titik temu yang sama. Sambil memberikan penjelasan tentang manfaat menggunakan metode mind
mapping, penulis bersama dengan observer membagikan
angket minat belajar untuk diisi berminat dalam belajar setelah mengerti cara menggunakan metode mind mapping. 3) Kegiatan akhir
Setelah waktu selesai, siswa diberikan tugas secara individual untuk dikerjakan di rumah, penulis sebagai pengajar memberikan kesempatan kepada siswa yang belum memahami pelajaran termasuk metode pembelajarn untuk bertanya, pengajar selaku pengajar bersama-sama dengan siswa mengambil kesimpulan dan pengajar mengingatkan
untuk mempelajari sub materi berikutnya yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Tidak lupa, pengajar juga memberikan pujian kepada siswa yang aktif bertanya, sambil mengingatkan pada siswa yang lain, bahwa bertanya adalah hal penting dan mendasar di dalam belajar.
Pertemuan II
1)Kegiatan awal
Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kegiatan awal dimulai dengan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di ruangan kelas, dan apersepsi. Pengajar kemudian bertanya kepada siswa, “siapa yang tahu alat komunikasi itu apa saja?”. Kemudian pengajar memberikan kesempatan dari beberapa siswa untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Ada siswa yang menjawab telepon,handphone ada yang menjawab bedug, ketongan, alarm. Setelah siswa selesai menjawab tidak lupa pengajar memberikan pujian. Setelah itu, pengajar menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan itu.
2)Kegiatan inti
Melanjutkan materi pada pertemuan sebelumnya, pada pertemuan II siklus II ini, dibahas materi tentang alat – alat komunikasi dan trasportasi. Sama seperti pada pertemuan sebelumnya, pengajar menempelkan karton putih, kemudian menempelkan gambar jenis alat komunikasi, kemudian membuat cabang-cabang dimulai dengan menggunakan pertanyaan dasar yaitu (apa, kapan, dimana, dan bagaimana), yang semua itu terkait dengan alat komunikasi. Setelah itu, pengajar meminta siswa
untuk menjelaskan kegunaan alat tersebut dalam kehidupan sehari – hari.
Sambil siswa mengerjakan tugasnya, pengajar mengingatkan untuk siswa jangan lupa mengisi angket minat belajar yang telah dibagikan pada pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan kedua siklus II ini, terlihat siswa sangat tenang dalam mengerjakan tugasnya, siswa paham menggunakan metode mind mapping, ini terlihat dengan beragam warna yang digunakan siswa dalam membuat cabang-cabang dan ranting-ranting dari konsep utama yang diberikan.
3)Kegiatan akhir
Setelah semua siswa selesai mengerjakan tugasnya, penulis memberikan kesempatan siswa untuk bertanya pada hal-hal yang belum dipahami. Sebelum menutup pelajaran, pengajar melakukan penelitian. Pengajar juga mengingatkan siswa, untuk dapat menggunakan metode mind mapping pada mata pelajaran yang lain, atau mungkin juga dalam membuat rencana-rencana yang lain.
Pertemuan III
Pada pertemuan ketiga merupakan akhir pelaksanaan dari siklus 2. Kegiatan pada pertemuan ketiga untuk melaksanakan evaluasi dari pembelajaran yang sudah dilaksanakan pada pertemuan pertama dan kedua pada siklus 2 dan penyebaran angket minat belajar siswa. Evaluasi yang akan diberikan berupa tes tertulis dengan bentuk soal isian pendek dan jumlah soal 15. Langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan ketiga yaitu guru menyampaikan kepada siswa tentang kesiapan dalam mengikuti evaluasi pembelajaran. Guru menjelaskan pada
siswa tentang peraturan dalam mengerjakan soal evaluasi, kemudian guru membagikan soal evaluasi pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evaluasi dengan baik dan guru mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal evaluasi, guru bersama siswa mencocokkan hasil kerja siswa dan langsung mengumumkan hasil nilai tes kepada siswa.
c.Observasi
Bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, pengajar meminta observer untuk melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi guru dan siswa yang telah disiapkan sebelumnya. Berikut diuraikan hasil observasi yaitu hasil belajar siswa pada siklus II, pengajar ketika mengajar dengan menggunakan metode mind mapping, termasuk minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan metode mind mapping.
Setelah akhir pelaksanaan tindakan pada siklus 1 dan 2, maka di dapatkan kinerja guru dalam mengajar dengan metode mind mapping
Tabel 4.8
Hasil obesrvasi aktivitas guru
No Indikator
Siklus 1 pertemuan
1 2 3
1 Guru sudah menentukan indikator yang akan dicapai √ √ √
2 Guru sudah merumuskan tujuan pembelajaran √ √ √
3 Guru sudah menyusun RPP dengan metode Mind
mapping
√ √ √
4 Kesesuaian RPP dengan kegiatan pembelajaran √ √ √
5 Guru sudah mempersiapkan perlengkapan
pembelajaran
√ √ √
6 Guru sudah menyiapkan peserta didik untuk
mengikuti proses pembelajaran dengan doa
√ √ √
7 Guru sudah menjelaskan tujuan pembelajaran atau
kompetensi dasar yang akan dicapai
√ √ √
8 Guru sudah memotivasi peserta didik √ √ √
9 Guru sudah melibatkan peserta didik mencari
informasi yang luas dalam materi IPS
√ √ √
10 Guru sudah menggunakan metode mind mapping,
dengan menggunakan Gambar tentang materi yang diajarkan
√ √ √
11 Guru sudah melakukan tanya jawab tentang materi
pembelajaran
√ √ √
12 Guru bersama siswa sudah menemukan ide dalam
pembuatan mind mapping tentang materi IPS
√ √ √
13 Guru sudah Memberikan penguatan kepada siswa
atas pekerjaan yang sudah mereka kerjakan?
√ √ √ 14 Sumber belajar guru sudah sesuai dengan materi ajar √ √ √ 15 Guru bersama-sama dengan peserta didik dan/atau
sendiri membuat rangkuman/ simpulan pelajaran
√ √ √ 16 Guru sudah melakukan penilaian dan/atau refleksi
terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan
√ √ √
17 Guru sudah memberikan umpan balik terhadap
proses dan hasil pembelajaran
√ √ √
18 Guru sudah merencanakan kegiatan tindak lanjut √ √ √
19 Guru sudah memberikan PR kepada siswa √ √ √
20 Guru sudah menyampaikan rencana pembelajaran
pada pertemuan
1. Paparan Hasil Belajar dan Minat Belajar Siklus II
Hasil observasi hasil belajar dan minat belajar pada siklus II yang diperoleh selama proses pembelajaran IPS dengan menggunakan metode mind mapping kelas IV SDN Kutowinangun 09 Salatiga, adalah sebagai berikut:
Tabel 4. 9
Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II No Nilai Tindakan Siklus II Keterangan
Jumlah Siswa Prosentase (%) 1 < 50 - - - 2 50 – 54 - - - 3 55 – 59 - - - 4 60 – 64 - - - 5 65 – 69 3 12,5 Tuntas 6 70 – 74 7 29.17 Tuntas 7 75 – 79 9 37.5 Tuntas 8 80 – 84 2 8.33 Tuntas 9 85 – 89 - - - 10 90 – 94 3 12.5 Tuntas 11 95 – 100 - - Jumlah 24 100 Rata-rata 74.58 Nilai tertinggi 90 Nilai terendah 65
Mengacu pada tabel di atas, diketahui bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II dibandingkan dengan pada siklus I. Jika pada siklus I, siswa yang tuntas belajar mencapai 12 siswa, di siklus ini semua siswa mengalami ketuntasan dengan nilai rata – rata 74.58 dengan nilai terendah 70 dan tertinggi 90. Adapun rekapitulasi ketuntasan hasil belajar siswa, disajikan pada grafik berikut ini:
Gambar 4. 4
Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II
Tabel 4. 10
Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Setelah Pelaksanaan Siklus II
No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan
Jumlah Siswa Prosentase (%)
1 < 65 - - Belum tuntas 2 ≥ 65 24 100 Tuntas Jumlah 24 100 Rata-rata 80.75 Nilai tertinggi 93 Nilai terendah 66
Ketuntasan hasil belajar Hasil Ketuntasan belajar siswa SD Negeri Kutowinangun 09 Salatiga, sebelum dilakukan tindakan dapat diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=65) sebanyak 15 siswa pada siklus I kemudian terjadi penurunan menjadi 12 siswa setelah dilakukan siklus II tidak ada lagi siswa yang tidak berada pada di bawah KKM. Sedangkan, yang mencapai ketuntasan minimal sebelum dilaksanakan tindakan yaitu sebanyak 9 siswa pada siklus I kemudian meningkat menjadi 12 siswa dan pada siklus II
mengalami peningkatan lagi menjadi 100% tuntas dalam belajar IPS. Dengan hasil ini membuktikan penelitian yang telah dilakukan telah berhasil karena telah melebihi batas ketuntasan yaitu 70% sedangkan hasil yang didapat adalah 100%.
Berdasarkan pengamatan setelah diadakanya penelitian tindakan siklus II, terjadi kenaikan hasil belajar siswa. Terjadinya kenaikan hasil belajar siswa tersebut karena siswa merasa senang dalam proses pembelajaran. Siswa terlihat sangat antusias, aktif dalam bertanya tentang menggunakan metode mind mapping, bahkan ada siswa yang mengatakan jika metode mind mapping sangat menyenangkan karena membantu menggali pengetahuannya. Berikut disajikan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan trasnportasi dengan menggunakan metode mind mapping.
Mengacu pada lembar observasi siswa, dibantu oleh observer yang mengamati selama proses pembelajaran, diketahui bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran berada pada nilai aktivitas baik atau 95.06% dari total keseluruhan perolehan nilai aktivitas. Dari hasil ini tampak bahwa pada saat pembelajaran siklus II dengan menggunakan metode mind mapping, siswa berada pada kategori keaktifan belajar sangat baik.
2. Perbandingan Hasil Belajar Siklus I dengan Siklus II
Untuk mengetahui terjadinya peningkatan hasil belajar setelah dilakukan tindakan pada siklus II, berikut disajikan dalam tabel nilai yang diperoleh siswa pada siklus I dan setelah tindakan pada siklus II
Gambar 4. 5
Perbandingan Siklus 1 dan Siklus 2
Dari data tabel di atas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Pada siklus I siswa yang tuntas hasil belajar hanya 12 siswa (50%) Siswa yang belum tuntas belajar mencapai 12 siswa (50%) dari 24 siswa, dengan nilai rata-rata sebelum tindakan 63.95. Pada siklus II, peningkatan hasil belajar meningkat mencapai 100% yaitu 24 siswa, nilai rata-rata dari studi awal 62.65 naik menjadi 74.58. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa, dan pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil, karena semua siswa berhasil lulus dari KKM. Berikut disajikan perbandingan ketuntasan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II.
Tabel 4. 11
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I dengan Siklus II No Nilai Siklus I Siklus I Jumlah Siswa Prosentase (%) Jumlah Siswa Prosentase (%) 1 Tuntas 12 50% 24 100 2 Belum Tuntas 12 50% - - Jumlah 24 100% 24 100%
Mengacu pada tabel di atas, berikut akan disajikan dalam bentuk grafik perbandingan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II.
Berikut akan disajikan dalam tabel prosentase perbandingan hasil belajar setelah tindakan pada siklus I dan tindakan pada siklus II.
Tabel 4. 12
Prosentase Ketuntasan Belajar Siklus I dan Siklus II
No Pembelajaran
Siswa Tuntas Siswa Belum Tuntas
Frekuensi Persen tase Frekuensi Persen tase 1. Siklus I 12 50% 12 50% 2. Siklus II 24 100% - -
Berdasarkan tabel 4.15 di atas terlihat jelas peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan, dengan menggunakan metode min mapping. Dari siklus I ke siklus II peningkatan yang terjadi mencapai 50%.
Di bawah ini akan disajikan dalam tabel, perbandingan keseluruhan ketuntasan hasil belajar mulai dari kondisi awal, siklus I, sampai siklus II.
Tabel 4. 13
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No Pembela-
jaran
Tuntas Belum Tuntas
Jumlah Siswa Persentase Jumlah Siswa Persentase 1 Kondisi Awal 9 37,5% 15 62,5% 2 Siklus I 12 50% 12 50% 3 Siklus II 24 100 % - -
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar baik pada siklus I maupun ke siklus II. Pada kondisi awal menuju siklus I, terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar sedangkan ketuntasan hasil belajar pada siklus I ke siklus II meningkat hasil ini dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran dengan metode mind mapping berhasil pada pelajaran IPS materi mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan pada siswa kelas IV SDN Kutowinangun Salatiga semester II tahun pelajaran 2011/2012.
Hasil ini disajikan pada grafik perbandingan ketuntasan hasil belajar pada kondisi awal, siklus I dan siklus II yang dapat dilihat pada grafik yang tersaji berikut ini:
Gambar 4. 6
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
3. Analisis Angket Minat Siklus 1
Penilaian terhadap minat siswa menggunakan skala Likert dengan rentang 4 – 1, skor 4 (sangat setuju), skor 3 (setuju), skor 2 (tidak setuju), dam skor 1 (sangat tidak setuju). Skor keseluruhannya diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor butir pernyataan. Rentangan yang dipakai 1 sampai 4, maka diperoleh skor terendah adalah 1 dan skor tertinggi adalah 4.
Berikut ini dipaparkan hasil pengamatan minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS dengan menggunakan metode mind mapping. Patokan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah skor perolehan siswa dalam menjawab angket dibagi skor maksimal yairu 15 dikali 4, 15 adalah jumlah item
soal dan 4 adalah skor tertinggi, lalu dikalikan 100. Uraiannya adalah seperti berikut:
Tabel 4.14
Kategori Interval Skala Likert Angket Minat Belajar Siswa
Interval Kategori
60 – 48,75 Sangat berminat
48,74 – 37,5 Berminat
37,49 – 26,25 Kurang berminat
26,24 - 15 Tidak berminat
Hasil angket minat belajar siswa pada siklus 1 dapat diketahui bahwa minat belajar siswa pada siklus 1 dikategorikan sangat berminat sebanyak 21 siswa, dan 3 siswa berminat dalam
mengikuti pembelajaran IPS. Daftar perolehan skor tertera di dalam lampiran skor angket minat belajar.
d.Refleksi
Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran,pada materi perkembangan teknologi transportasi, pengajar bersama observer melakukan refleksi. Ternyata hasil perbaikan pembelajaran memberikan hasil sesuai yang diharapkan, dimana semua siswa pada siklus II berhasil tuntas dalam belajarnya.
4.3 Pembahasan
Penelitian ini dilakukan di SDN Kutowinangun 09 pada kelas IV dengan jumlah siswa yaitu 24 siswa. Pada studi awal, siswa yang tuntas belajar hanya 6 siswa, setelah Kolaborator melaksanakan perbaikan pembelajaran, Lalu pada siklus 1 pembelajaran yang sudah diperbaiki di ujikan. Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar menjadi 12 siswa. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dari kondisi awal ke siklus I Setelah mempertimbangkan berbagai kekurangan-kekurangan yang dilakukan pada siklus I, dilakukan lagi perbaikan pembelajaran pada siklus II. Pada siklus II, diketahui bahwa semua siswa berhasil tuntas dalam belajarnya. Pada siklus II semua siswa mengalami ketuntasan belajar dengan raihan hasil belajar yang memuaskan. Mengacu pada hasil sebelumnya dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan pada hasil ini maka dikatakan bahwa pembelajaran dengan metode mind
mapping dapat meningkatkan hasil belajar sesuai dengan yang
direncanakan.
Pada awal pelaksanan tindakan siklus I, dari hasil observasi bersama dengan observer hal-hal yang ditemui selama proses pembelajaran adalah: a. Pembelajaran masih gaduh pada saat siswa diberikan kesempatan
untuk menyusun materi dengan menggunakan metode mind mapping
b. Pengajar belum memandu siswa untuk menggali informasi untuk dapat membuat mind mapping secara mandiri.
Mengantisipasi hal tersebut, sebelum dilakukan tindakan pada siklus II, terlebih dahulu penulis berdiskusi dengan observer tentang hal-hal yang perlu diperbaiki dan lebih difokuskan pada siklus II. Di atas telah dipaparkan bahwa setelah melakukan perbaikan dari kekurangan-kekurangan pada siklus I, setelah diberikan tindakan pada siklus II, terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar. Semua siswa
yang terlibat dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode mind mapping pada mata pelajaran IPS .Demikian juga minat belajar siswa. Pada siklus I, minat belajar siswa untuk menggunakan metode mind mapping sangat tinggi terbukti dari pecarian menggunakan skala likert. Namun masih ada beberapa yang kurang masuk kriteria. Maka di Siklus II , pengajar berusaha membangkitkan minat siswa dengan memperjelas penggunaan metode mind mapping. Pada pelaksanaan siklus II terjadi peningkatan minat yang cukup besar. Hasil ini mengindikasikan bahwa metode mind mapping tepat diterapkan dalam pembelajaran, karena metode ini membantu siswa dalam menuangkan suatu informasi dengan imajinasi yang dimiliki.