BAB II
KERANGKA TEORITIS A. Landasan Teori
1. Metode Pembelajaran Aktif Tipe Tim Kuiz
a. Pengertian Metode Pembelajaran Aktif Tipe Tim Kuiz
Metode berasal dari dua kata yaitu meta yang artinya melalui dan hodos yang artinya jalan atau cara. Jadi metode artinya jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Sementara itu, metode dalam bahasa Arab, dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik.1
Pembelajaran aktif merupakan suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Sehingga mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pembelajaran, memecahkan persoalan maupun mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Belajar aktif itu sangat diperlukan oleh peserta didik untuk
1Basyiruddin. Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam,( Jakarta:Ciputat
Press,2004),h.4
mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima materi dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu, diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru saja diterima dari pendidik. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama.2
Menurut Hisyam Zaini, metode tim kuiz merupakan salah satu metode pembelajaran bagi siswa yang membangkitkan semangat dan pola pikir kritis.3 Pembelajaran Tipe tim kuiz ini merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan oleh Silberman. Dalam pembelajaran tim kuiz ini siswa dituntut untuk bekerjasama dan dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa atas apa yang dipelajari dengan cara yang menyenangkan dan tidak mengancam atau membuat siswa takut. Pembelajaran ini diawali dengan menerangkan materi pelajaran secara klasikal, maksudnya guru tersebut terlebih dahulu menyampaikan materi yang akan dikuiskan nantinya, lalu siswa dibagi kedalam kelompok besar. Semua anggota kelompok
2
Hisyam Zaini, et.all, Ibid., h. 28
sama mempelajari materi pelajaran tersebut. Mereka mendiskusikan materi, saling memberi arahan, dan membuat pertanyaan. Setelah itu, diadakan suatu kompetisi akademis, yaitu kuiz tim, sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Dengan adanya kompetisi akademis ini, maka terciptalah kompetisi antar kelompok, para siswa akan senantiasa berusaha belajar dengan motivasi yang tinggi agar dapat memperoleh nilai yang tinggi dalam pertandingan.4
b. Langkah-langkah pembelajaran metode pembelajaran aktif tipe Tim Kuiz
Menurut Malvin Silberman adalah sebagai berikut :
1) Pilih topik atau pokok bahasan yang dapat dipresentasikan dalam tiga atau lebih bagian.
2) Kelompokkan siswa sesuai dengan jumlah pembagian topik. 3) Menjelaskan kepada siswa bentuk sesi atau teknis pembelajaran.
Selanjutnya persilahkan siswa mempelajari materi dalam beberapa menit dan mulai presentasi. Batasi presentasi dalam 10 menit atau kurang.
4) Minta tim A untuk mempersiapkan kuis yang berjawaban singkat. Kuis ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit untuk persiapan, di lain pihak tim lain memanfaatkan waktu untuk meninjau ulang catatan mereka.
5) Tim A menguji anggota tim B. Jika tim B tidak bisa menjawab maka kesempatan diberikan kepada tim C untuk menjawabnya. 6) Tim A selanjutnya menguji tim C, jika tim C tidak mampu
menjawab maka pertanyaan diajukan ke tim B.
7) Ketika kuis untuk tim A selesai, lanjutkan dengan bagian ke dua dari materi pelajaran. Lanjutkan tim B sebagai pemimpin kuis dengan teknis yang sama seperti tim A.
8) Setelah tim B selesai lanjutkan dengan materi ke tiga. Tim C bertindak sebagai pemimpin kuis. 5
Menurut Raisul, langkah-langkah dari pembelajaran kuiz tim ini adalah sebagai berikut:
1) Bagilah siswa menjadi tiga tim.
2) Jelaskan format pembelajaran dan mulailah penyajian materinya. Batasi hingga 10 menit atau kurang dari itu.
3) Perintahkan tim A untuk menyiapkan kuiz jawaban singkat. Kuiz tersebut haruslah sudah siap dalam waktu tidak lebih dari 5 menit, tim B dan tim C menggunakan waktu ini untuk memeriksa catatan mereka.
4) Tim A memberi kuiz kepada tim B, jika tim B tidak dapat menjawab satu pertanyaan, Tim C segera menjawabnya.
5) Tim A mengarahkan pertanyaan berikutnya kepada anggota tim C, dan mengulang proses tersebut.
5
6) Ketika kuiz nya selesai, lanjutkan segmen kedua dari pelajaran anda, dan tunjuklah tim B sebagai pemandu kuiz.
7) Setelah selesei tim B menyeleseikan kuiznya, lanjutkan dengan segmen ketiga dari pelajaran anda dan tunjuklah tim c sebagai pemandu kuiz.6
Adapun menurut Istarani, langkah-langkah pembelajaran tim Kuiz ini adalah:
1) Pilihlah topik yang dapat disampaikan dalam tiga bagian. 2) Bagilah Siswa menjadi 3 kelompok yaitu A,B,dan C
3) Sampaikan kepada Siswa format penyampaian pelajaran kemudian 4) mulai penyampaian materi
5) Batasi penyampaian materi maksimal 10 menit.
6) Setelah penyampaian, minta kelompok A menyiapkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi yang baru saja disampaikan. Kelompok B dan C menggunakan waktu ini untuk melihat lagi catatan mereka.
7) Mintalah kepada kelompok A untuk memberi pertanyaan kepada kelompok B. Jika kelompok B tidak dapat menjawab pertanyaan, lempar pertanyaan tersebut kepada kelompok C.
8) Kelompok A memberi pertanyaan kepada kelompok C, jika kelompok C tidak dapat menjawab, lemparkan kepada kelompok B.
6
Raisul, Muttaqin, Active Learning, 101 Strategies to Teach ani Subject ( Melvin L.
9) Jika tanya jawab selesai, lanjutkan pelajaran kedua dan tunjuk kelompok B untuk menjadi kelompok penanya. Lakukan seperti proses untuk kelompok A.
10) Setelah kelompok B selesai dengan pertanyaannya, lanjutkan penyampaian materi pelajaran ketiga dan tunjuk kelompok C sebagai kelompok penanya.
11) Akhiri pelajaran dengan menyimpulkan tanya jawab dan jelaskan sekiranya ada pemahaman siswa yang keliru.
12) Dan kelompok yang mendapatkan point tertinggi mendapatkkan Reward dari guru.
c. Kelebihan Metode Tipe Tim Kuiz
1) Adanya kuis akan membuat tertarik anak untuk mengikuti proses pembelajaran.
2) Melatih siswa untuk dapat membuat kuis secara baik.
3) Dapat meningkatkan persaingan diantara siswa secara sportif. 4) Setiap kelompok memiliki tugas masing-masing.
5) Memacu siswa untuk menjawab pertanyaan secara baik dan benar. 6) Memperjelas rangkaian materi karena diakhir pelajaran guru
memperjelas semua rangkaian pertanyaan yang dianggap perlu untuk dibahas kembali.
d. Kelemahan Metode Tipe Tim Kuiz
1) Menyusun pertanyaan secara berkualitas merupakan pekerjaan sulit bagi siswa.
2) Siswa tidak tahu apa yang mau ditanyakan kepada gurunya. 3) Pertanyaan yang dibuat adakalanya hanya bersifat sekedar
dibuat-buat saja, yang penting ada pertanyaannya dari pada tidak bertanya.
4) Adanya kelompok yang bekerja kurang profesional dalam menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.7
Dalam penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran tim kuiz yang peneliti terapkan adalah langkah-langkah pembelajaran tim kuiz yang peneliti modifikasi sendiri, yaitu memperbaiki kembali karena menurut Silberman, tipe tim kuiz ini dapat dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan kelas.8
Adapun langkah-langkah dari pembelajaran kuiz tim yang peneliti terapkan mengacu pada pendapat Silberman adalah sebagai berikut:
a. Membagi Siswa menjadi 4 tim, yaitu tim A, tim B, tim C dan tim D. Tim terdiri dari Siswa yang berkemampuan akademik yang berbeda. b. Setiap tim mendapatkan indikator materi masing-masing.
c. Menjelaskan kepada siswa bentuk sesi atau teknis pembelajaran. d. Kuiz dimulai dari tim yang pertama yaitu tim A untuk
mempresentasikan topik pembahasannya, lalu mempersiapkan pertanyaan sebanyak 5 buah pertanyaan, di lain pihak tim lain memanfaatkan waktu untuk meninjau ulang catatan mereka.
7
Istarani, 58 Model Pembelajaran inovatif,(Medan: Media Persada, 2012),h. 211-212
8
e. Tim A menguji anggota tim B, yang mana pertanyaan tertuju pada tim tersebut, Jika tim B tidak bisa menjawab maka kesempatan untuk merebut point diberikan kepada tim C dan tim D.
f. Ketika kuis yang dipandu oleh tim A selesai, lanjutkan dengan bagian ke dua dari materi pelajaran. Lanjutkan tim B sebagai pemimpin kuis dengan teknis yang sama seperti tim A.
g. Begitu seterusnya sampai tim C dan tim D mendapat kesempatan menjadi pemandu kuiz.
h. Setelah kuiz selesai dilakukan oleh semua tim, point setiap tim dikumpulkan, dan tim yang mendapatkan point tertinggi menjadi pemenang dalam kuiz tersebut, dan tim yang menang akan mendapatkan reward.
Dalam pelaksanaan kuiz tim ini, setiap tim secara bergiliran menjadi pemandu kuiz. Pertanyaan kuiz berupa soal-soal yang berkaitan dengan materi yang baru saja dipelajari. Hal ini bertujuan untuk mengulang kembali pelajaran yang baru dberikan oleh guru, sehingga pelajaran lebih berbekas dan bertahan lama dalam ingatan Siswa. Selain itu, soal kuiz yang diberikan dapat dijadikan sebagai pengganti latihan soal bagi siswa. Dengan cara seperti ini siswa akan lebih bersemangat untuk mengerjakan soal dan menyenangi pelajaran PAI karena mereka belajar bersama teman, dan dapat membantu siswa agar lebih menguasai materi pelajaran yang baru dipelajari dan siswa juga akan berusaha memahami materi pelajaran dengan cara berdiskusi dengan teman, bertanya, dan
berbagi pengetahuan dengan yang lainnya demi mempertahankan tim mereka.
2. Metode Konvensional
Metode mengajar konvensional yaitu metode mengajar yang lazim dipakai oleh Guru atau sering disebut metode tradisional. Berikut ini terdapat beberapa metode mengajar konvensional, antara lain:
a. Metode ceramah b. Metode diskusi c. Metode tanya jawab
d. Metode demonstrasi dan eksperimen e. Metode resitasi
f. Metode kerja kelompok
g. Metode sosio drama dan bermain peran h. Metode karya wisata
i. Metode drill
j. Metode sistem regu9
Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang diterapkan oleh guru di SMAN 5 Padang yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, dan metode tanya jawab.
9
a. Metode Ceramah
1) Pengertian Metode Ceramah
Metode ceramah adalah tekhnik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim dipakai oleh para Guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan oleh Guru di muka kelas. Peran murid di sini sebagai penerima pesan, mendengarkan, memperhatikan, dan mencatat keterangan- keterangan Guru bilamana diperlukan.
2) Keunggulan metode ceramah ini adalah:
a) Penggunaan waktu yang efesien dan pesan yang disampaikan dapat sebanyak-banyaknya.
b) Pengorganisasian kelas lebih sederhana dan tidak diperlukan pengelompokkan siswa secara khusus.
c) Dapat memberikan motivasi dan dorongan terhadap siswa dalam belajar.
d) Fleksibel dalam penggunaan waktu dan bahan, jika bahan banyak sedangkan waktu terbatas dapat dibicarakan pokok-pokok permasalahannya saja, sedangkan bila materi sedikit sedangkan waktu masih panjang, dapat dijelaskan lebih mendetail.
3) Kelemahan metode ceramah ini adalah:
a) Guru seringkali mengalami kesulitan dalam mengukur pemahaman siswa sampai sejauhmana pemahaman mereka tentang materi yang diceramahkan.
b) Siswa cenderung bersifat pasif dan sering keliru dalam menyimpulkan penjelasan Guru.
c) Bilamana Guru menyampaikan bahan sebanyak-banyaknya dalam tempo yang terbatas, menimbulkan kesan pemaksaan terhadap kemampuan siswa.
d) Cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang, karena Guru kurang memperhatikan faktor-faktor psikologis siswa, sehingga bahan yang dijelaskan kembali menjadi kabur.10
b. Metode Tanya Jawab
1) Pengertiam Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberikan kesempatan bertanya dan Guru yang menjawab pertanyaan. Dalam kegiatan belajar mengajar melalui tanya jawab, Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan atau siswa diberikan kesempatan untuk bertanya terlebih dahulu pada saat memulai pelajaran. Bilamana
10
metode tanya jawab ini dilakukan secara tepat akan dapat meningkatkan perhatian siswa untuk belajar secara aktif.
2) Keunggulan metode tanya jawab:
a) Kelas akan menjadi hidup karena siswa dibawa kearah berfikir secara aktif.
b) Siswa terlatih berani mengemukakan pertanyaan atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Guru.
c) Dapat mengaktikan retensi siswa terhadap pelajaran yang telah lalu.
3) Kelemahan metode tanya jawab:
a) Waktu yang digunakan dalam pelajaran tersita dan kurang dapat kontrol secara baik oleh Guru karena banyaknya pertanyaan yang timbul dari siswa.
b) Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian siswa bilamana terdapat pertanyaan atau jawaban yang tidak berkenaan dan sasaran yang dibicarakan
c) Jalannya pengajaran kurang dapt terkoordinir secara baik karena timbulnya pertanyaan dari siswa yang mungkin tidak dapt dijawab secara tepat, baik oleh Guru maupun siswa.11
11
2. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil belajar
Belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang di dalamnya terkandung beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adalah bertambahnya jumlah pengetahuan, adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi, ada penerapan pengetahuan, menyimpulkan makna, menafsirkan dan mengaitkan dengan realitas, dan adanya perubahan sebagai pribadi.
Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar. Hal ini kiranya mudah dipahami, karena bila ada yang belajar sudah barang tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajar tentu ada yang belajar. Dari proses belajar mengajar ini akan diperoleh suatu hasil, yang pada umunya disebut hasil belajar. Tetapi agar memperoleh hasil yang optimal, proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisasi secara baik.12
Menurut Nana sujana sebagaimana yang dikutip oleh Kunandar, hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan.13Hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif,
12
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja grafindo Persada, 2011), Cet. 20, h. 19
13 Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), h.276
dan psikomotorik.14 Dimyati dan Mudjiono juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pembelajaran.15
Nana Sudjana mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Benjamin S. Bloom menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
14
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung : Sinar Baru Algensido Offset, 1989), h. 3
15
4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program.
6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.16
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Sugihartono menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut:
1) Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.
2) Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.17
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas, didalam pembahasan ini menggunakan faktor eksternal yang berkaitan dengan ekternal non sosial yaitu fasilitas belajar yang digunakan siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung.
c. Tipe tipe hasil belajar
Dasar proses belajar mengajar, tipe hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa penting diketahui oleh guru, agar guru dapat merancang/mendesain pengajaran secara tepat dan penuh arti. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, di samping diukur dari segi prosesnya. Tipe hasil belajar harus nampak dalam tujuan pengajaran, sebab tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses belajar mengajar. Tujuan pengajaran yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang yakni kognitif, afektif, dan psikomotor.
Berikut ini unsur-unsur yang terdapat dalam ketiga aspek hasil belajar.
1) Tipe hasil belajar bidang kognitif
2) Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (Knowledge) Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya faktual, di samping pengetahuan yang mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali seperti bahasan, peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat, rumus, dan lain-lain.
3) Tipe hasil belajar pemahaman (Comprehensif) Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari sesuatu konsep.
4) Tipe hasil belajar penerapan (Aplikasi) Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan dan mengabstraksikan suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi yang baru. Aplikasi bukan keterampilan motorik tapi lebih banyak keterampilan mental. 5) Tipe hasil belajar analisis adalah kesanggupan memecah,
mengurangi integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagianbagian yang mempunyai arti, atau mempunyai timgkatan.
6) Tipe hasil belajar sintesis adalah lawan analisis. Bila pada analisis tekanan pada kesanggupan menguraikan suat integritas menjadi bagian yang bermakna, sintesis adalah kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi satu integritas.
7) Tipe hasil belajar evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan Judgment yang dimilikinya, dan criteria yang dipakainya.
8) Tipe hasil belajar bidang Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti atensi/perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan lain-lain.
9) Tipe hasil belajar bidang Psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.18
3. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan dalam bahasa inggris disebut dengan “ education”, yang berarti pengembangan atau bimbingan, sedangkan dalam Bahasa Arab sering diterjemahkan dengan “Tarbiyah”. Kata Tarbiyah mengandung arti “memelihara, membesarkan dan mendidik, sekaligus mengandung makna mengajar.19
Ramayulis mendefenisikan pendidikan sebagai “bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar menjadi dewasa”.20
Dengan demikian pendidikan berarti interaksi dalam diri individu dengan masyarakat sekitarnya baik dilihat dari segi kecerdasan
18
Nana Sudjana. Op.Cit.,h.50-54 19
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: PT Logos, 2001),cet ke 4 h.5
20
atau kemampuan, minat maupun pengalaman. Mendidik adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara sadar dengan bantuan alat pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, sehingga terbentuk manusia yang bertanggung jawab.
Berdasarkan definisi-defenisi tentang pendidikan yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses yang terdiri dari usaha yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap peserta didik, baik berupa bimbingan, pengarahan, pembinaan atau latihan. Tujuan yang ingin dicapai adalah membawa peserta didik kearah terbentuknya kepribadian yang utama, baik jasmani, maupun rohani bagi perjalanan hidupnya di masa yang akan datang.21
b. Dasar Pendidikan Agama Islam
1) Al-Qur’an
Allah SWT menganugerahkan Al-Qur’an yang lengkap dengan segala petunjuk yang meliput seluruh aspek kehidupan manusia dan bersifat universal, sudah tentu dasar pendidikan adalah Al-Qur’an.22
2) As-Sunnah
Dasar kedua PAI adalah As-Sunnah yang mempunyai arti “ segala yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW berupa perkataan perbuatan dan ketetapan yang berkaitan dengan hukum”.
21
Ibid.,h. 29
22
Sunnah dapat dijadikan dasar PAI karena sunnah menjadi sumber utama PAI karena Allah menjadikan Muhammad SAW sebagai teladan bagi umatnya. Oleh karena itu, dasar terpenting dalam PAI adalah Al-Qur’an dan sunnah.23
c. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam
Tujuan PAI identik dengan tujuan Agama Islam, karena tujuan Agama adalah “ agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan.24
Sedangkan fungsi PAI bagi anak adalah membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, mempunyai akhlak yang luhur, berilmu pengetahuan dan memiliki keterampilan yang dapat disalurkan. 25
Jadi fungsi PAI adalah untuk membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, mempunyai akhlak yang mulia serta hidup dengan panduan dari Al-Qur’an dan sunnah yang merupakan pedoman umat Islam melalui pengajaran yang diberikan.
23
Nasroen Haroen, Ushul Fiqh I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001),cet ke 3,h. 38
24Zakiyah Daradjat.Ilmu Pendidikan islam Op.Cit.,h. 29 25
Aat Syafaat, Sohari Sahrani, dan Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam
Mencegah Kenakalan Remaja,( Jakarta: Rajawali Pers, 2008),h. 175
B. Penelitian Yang Relevan
Penelitian merupakan sebuah pengkajian permasalahan oleh seseorang yang dituntut sebuah keilmiahan, baik secara metode maupun konsep yang secara rasional dapat diterima. Sebuah penelitian seseorang tidak tertutup kemungkinan membutuhkan informasi-informasi dari karya orang lain, baik itu sebuah teori maupun karya yang relevan dengan penelitiannya.
Dalam penelitian ini, penulis mengambil beberapa hasil penelitian yang relevan dengan permasalahan yang peneliti rumuskan. Hal ini dilakukan dengan tujuan dapat mengambil informasi dari penelitian sebelumnya sebagai salah satu referensi dan sebagai penyempurnaan penelitian sebelumnya. Maka diambil referensi hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan rumusan permasalahan yang akan diteliti.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Indri Andriani (2010) dengan judul penelitian Perbedaan Hasil Belajar Menggunakan Pembelajaran Aktif Tipe Tim Kuiz dengan Metode Ceramah Bervariasi Pada Mata Pelajaran IPS Kelas X SMAN 3 Lengayang Kab. Pesisir Selatan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa metode tim kuiz dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Persamaannya dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode tim kuiz dalam pembelajarannya sedangkan perbedaannya terletak paada variabel terikatnya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Indri Andriani variabel terikatnya adalah aktivitas belajar siswa pada pelajaran IPS kelas X SMAN 3 Lengayang Kab. Pesisir
Selatan. Sedangkan variabel terikat dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI di SMAN 5 Padang.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Winda Sustyanita (2011) dengan judul penelitian Penerapan metode tim kuiz untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas VIII di SMPN 27 Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Tim Kuiz dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas VIII.Persamaannya dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode tim kuiz dalam pembelajarannya, sedangkan perbedaannya terletak pada variabel terikatnya Pada penelitian yang dilakukan oleh Winda Sustyanita variabel terikatnya adalah pembelajaran IPA kelas VIII di SMPN 27 Padang, sedangkan variabel terikat dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI di SMAN 5 Padang. Selain itu perbedaannya juga terletak pada jenis penelitiannya pada penelitian yang dilakukan oleh Winda Sustyanita jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas sedangkan peda penelitian ini jenis penelitiannya adalah eksperimen.
3. Nanang Risantoro ( 2013), penelitian yang berjudul “ Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Tipe tim kuiz Pada Peserta Didik Kelas X SMAN 3 Padang. Jenis Penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas.
Berdasarkan kajian empiris tersebut didapat informasi umum bahwa terdapat perbedaan hasil belajar metode Pembelajaran aktif tipe tim
kuiz dengan metode konvensional . Hasil kajian tentang perbedaan hasil belajar metode Pembelajaran aktif tipe tim kuiz dengan metode konvensional menjadi acuan dalam pelaksanaan penelitian ini. Persamaan antara penelitian sebelumnya pada kajian empiris tersebut dengan penelitian yang dilakukan adalah pada perbedaan hasil belajar metode Pembelajaran aktif tipe Tim Kuiz dengan metode Konvensional. Sedangkan perbedaannya terletak pada, mata pelajaran, dan lokasi penelitian, sehingga penelitian yang dilakukan ini berupaya mengembangkan jika dikaitkan dengan penelitian sebelumnya.
C. Kerangka Konseptual
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan sebelumnya maka hal utama dalam penelitian ini adalah mengetahui perbedaan hasil belajar metode pembelajaran tipe tim kuiz dengan metode konvensional pada mata pelajaran PAI dikelas X.
Adapun variabel X (variabel bebas) yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat, yaitu metode belajar dan variabel Y (variabel terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi suatu akibat adanya variabel bebas, yaitu hasil belajar siswa.
BAB III
Hasil Belajar PAI siswa (Y)
Metode Tim Kuiz dengan Metode Konvensional (X)
D. Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis penelitiannya sebagai berikut:
Ha =Terdapat Perbedaan Hasil Belajar Metode Pembelajaran Aktif Tipe Tim Kuiz dengan Metode Konvesional Pada Mata Pelajaran PAI Kelas X di SMAN 5 Padang.
H0 =Tidak terdapat Perbedaan Hasil Belajar Metode Pembelajaran Aktif Tipe Tim Kuiz dengan Metode Konvesional Pada Mata Pelajaran PAI Kelas X di SMAN 5 Padang.