Pendahuluan
Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan pro-duksi jagung diantaranya adalah penggunan varietas, pemupukan yang optimum, dan pe-ngaturan populasi tanam. Faktor-faktor ter-sebut saling berkaitan sehingga dalam pe-ningkatan produksi jagung diperlukan pema-haman untuk mengelolanya agar bersinergis sehingga diperoleh hasil yang tinggi.
Tingkat produksi jagung dipengaruhi oleh efisisensi fotosintesis tanaman jagung yang berkaitan dengan arsitektur kanopi tanaman sehingga perlu dilakukan pengaturan populasi tanaman agar penangkapan radiasi surya oleh tanaman dapat maksimal. Di
dae-rah tropik seperti di Indonesia dengan sinar surya melimpah merupakan potensi yang da-pat dimanfaatkan secara optimum untuk proses fotosintesis dengan cara meningkat-kan indeks luas daun melalui pengaturan po-pulasi tanaman. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa hasil biji meningkat secara linier hingga indeks luas daun mencapai 3,3 dan bila populasi tanaman ditingkatkan lebih lanjut mengakibatkan daun saling menutupi sehing-ga daun bagian bawah tidak mendapat radiasi surya yang memadai sehingga akan menurun-kan hasil (Fik dan Hanway, 1996).
Populasi tanaman yang tinggi menim-bulkan kompetisi penyerapan O2, CO2, unsur
hara dalam tanah (Hick dan Strucker, 1972;
Respon Tanaman Jagung Hibrida terhadap Tingkat Takaran
Pemberian Nitrogen dan Kepadatan Populasi
Roy Efendi dan Suwardi Balai Penelitian Tanaman Serealia Jl. Dr. Ratulangi 274 Maros, Sulawesi Selatan Abstrak
Peningkatan produksi jagung sangat dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah genetik, populasi tanaman dan pupuk. Penelitian ini bertujuan mempelajari respontanaman jagung hibrida terhadap tingkat takaran pemberian nitrogen dan kepadatan populasi. Perlakuan disusun dalam Ran-cangan Petak-Petak Terpisah (Split-split Plot) dengan tiga ulangan. Sebagai Petak Utama adalah pem-berian N dengan empat level takaran yaitu 0, 75, 150 dan 225 kg N/ha, sebagai Anak Petak adalah varietas jagung yaitu Pioneer 22 dan Bisi-2, sedangkan Anak-anak Petak adalah populasi tanaman/ha dengan tiga tingkat kepadatan populasi yaitu 65.040 tanama/ha (75 cm x 20,5 cm), 72.072 tanam-an/ha (75 cm x 18,5 cm) dan 80.808 tanamtanam-an/ha (75 cm x 16,5 cm). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan pupuk nitrogen 150 - 225 kg/ha pada varietas Bisi 2 dan Pioneer 22 me-nyebabkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, indeks luas daun, jumlah daun/ta-nanman umumnya meningkat secara kudratik. Populasi tanaman/ha yang semakin padat me-nyebabkan tinggi tanaman menjadi lebih tinggi dan indeks luas daun semakin meningkat, namun pertumbuhan diameter batang menjadi menurun. Varietas Pioneer 22 lebih responsif terhadap pupuk nitrogen dibanding Bisi 2, dimana dengan penambahan pupuk nitrogen sampai takaran 225 kg/ha, Pionner 21 mengalami peningkatan hasil secara linier sedangkan Bisi 2 meningkat secara kuadratik. Varietas Pioneer 22 dapat ditanam dengan populasi lebih padat (72.072 tanaman/ha) dan pemberian pupuk 225 kg N/ha dengan hasil 12,7 t/ha, sedangkan varietas Bisi 2 dapat ditanam dengan populasi optimum (65.040 tanaman/ha) dengan hasil 11,8 t/ha.
Muhadjir, 1984; Fik dan Hanway, 1996), meningkatkan senescence daun, tinggi tanam-an (Stanam-angoi dtanam-an Salvador., 1997), komsumsi air (Tetito-Kagho dan Gardner, 1998), tongkol mandul (Borras et al., 2003), serta menye-babkan penurunan pertumbuhan diameter batang (Paskiewicz dan Butzen, 2003), jumlah biji per tongkol, dan bobot biji (Sangoi et al., 2002). Untuk menentukan populasi tanaman perlu dipertimbangkan penggunaan varietas dan takaran pemberian pupuk yang tepat serta kondisi lingkungan yang mendukung se-perti suhu, radiasi sinar matahari dan keter-sedian CO2 yang cukup (Nelson et al., 1992,
Paszkiewicz dan Butzen, 2003). Hasil peneli-tian Sarifi et al. (2009) menyatakan semakin tinggi kepadatan populasi tanaman semakin tinggi kebutuhan nutrisi yang diberikan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Nitrogen merupakan salah satu unsur hara penting yang sangat mempengaruhi seca-ra nyata pertumbuhan tanaman dan hasil jagung. Untuk menghasilkan 1 kg biji jagung, tanaman membutuhkan 28 g N (Cooke, 1975), sedangkan pemberian pupuk N ke dalam ta-nah hanya dapat diserap 55-60% (Patrik dan Reddy, 1976;; Khot dan Umrani, 1992; Sanjeev dan Bangarwa, 1997). Tanaki et al. (1988) laporkan bahwa pemberian 180 kg N/ha me-rupakan takaran yang optimum untuk ta-naman jagung, namun demikian menurut Singh et al., (2000) dan Syafruddin et al. (2008) pemberian 200-225 kg N/ha masih dapat meningkatan hasil jagung.
Penelitian ini bertujuan mengetahui respon dua varietas jagung hibrida terhadap tingkat takaran pemberian pupuk nitrogen dan kepadatan populasi, sehingga diperoleh informasi yang dapat dimanfaatkan dalam budidaya jagung dengan hasil yang tinggi.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kebun Per-cobaan Maros pada bulan Juni - Oktober 2007. Rancangan penelitian disusun Petak-Petak Terpisah (Split-split Plot) dengan tiga ulangan. Sebagai Petak Utama adalah pembe-rian pupuk N dengan empat tingkat takaran yaitu 0, 75, 150 dan 225 kg N/ha, sebagai Anak Petak adalah varietas jagung yaitu Pio-neer 21 dan Bisi-2, sedangkan Anak-anak pe-tak adalah populasi tanaman dengan kepada-tan 65.040 kepada-tanama/ha (75 cm x 20,5 cm), 72.072 tanaman/ha (75 cm x 18,5 cm) dan 80.808 tanaman/ha (75 x 16,5 cm). Ukuran tiap petak adalah 6,75 cm x 7,6 m.
Takaran pemberian pupuk N pada se-tiap plot sesuai dengan perlakuan yaitu 0, 75, 150, dan 225 kgN/ha. Sedangkan takaran P, K, dan S masing-masing adalah 40 kg P2O5/ha,
150 kg K2O/ha, dan 15 kg S/ ha. Aplikasi
pemupukan dilakukan tiga kali yaitu saat 10 hst dengan takaran 1/3 N, ½ K2O dan seluruh
P2O5 dan S, aplikasi kedua saat tanaman
ber-umur 23 hst dengan takaran 1/3 N dan ½ K2O,
kemudian 1/3 N sisa diaplikasikan saat 43 hst. Pembumbunan dilakukan saat tana-man berumur 21-24 hst dan penyiangan gul-ma dilakukan tiga kali yaitu pada saat 10 hst dengan menggunakan mesin rotari, 15 hst dengan mencabut gulma di dalam barisan ta-naman dan cangkul di antara barisan dan 43 hst dengan herbisida paraquat. Pemberian air dilakukan 4 - 5 hari sekali yaitu menjelang ta-nam sampai tata-naman berumur 21 hari setelah tanam (hst) dengan cara penyemprotan. Sete-lah dilakukan pembumbunan sekaligus pem-buatan saluran air maka penyiraman dilaku-kan 7 – 10 hari sekali sampai umur 90 hst dengan cara mengairi. Dalam pemberian air dihindari terjadinya perpindahan air antara
tiap petak utama. Pengendalian hama dilaku-kan dengan pemberian Furadan pada pucuk tanaman saat 17 dan 36 hst untuk mencegah serangan pengerek batang dan tongkol.
Data yang dikumpulkan adalah tinggi tanaman dan diameter batang saat masak fisiologis, indeks luas daun pada saat fase penyerbukan yang dihitung berdasarkan ru-mus ILD = (luas daun total x jumlah tanam-an)/luas lahan (Gardner et.al., 1991), jumlah daun/tanaman pada saat tanam berumur 60 dan 78 hst, bobot biji/tanaman dan hasil biji.
Hasil dan Pembahasan
Pertumbuhan Tinggi Tanaman dan Diameter Batang
Pertumbuhan tinggi dan diameter ba-tang tanaman semakin meningkat seiring di-tingkatkannya takaran pemberian pupuk ni-trogen. Peningkatan pertumbuhan tersebut berbentuk kuadratik dimana pada tanaman Bisi 2 tinggi tanaman meningkat sampai pada takaran pemberian 150 kg N/ha dengan tinggi mencapai 278,84 cm kemudian menurun
men-jadi 274,57 cm penambahan pupuk N diting-katkan sampai 225 kg N/ha (Gambar 1). Seba-liknya pertumbuhan diameter batang Bisi 2 justru semakin meningkat sampai takaran pemberian 225 kg N/ha dengan diameter ba-tang mencapai 26,52 mm (Gambar 2). Pertum-buhan tinggi tanaman Pioneer 22 cenderung meningkat sampai pada pemberian 225 N kg/ ha dengan tinggi 252,94 cm (Gambar 1), se-dangkan pertumbuhan diameter batangnya meningkat hanya sampai pada takaran 150 kg N/ha yaitu 23,14 mm, kemudian cenderung menurun bila pemberian N ditingkatkan sam-pai 225 kg N/ha menjadi 22,78 mm (Gambar 2). Hal tersebut menunjukan bahwa tanaman Bisi 2 lebih tinggi dibanding dengan Pioneer 22, sehingga tanaman Bisi 2 cenderung me-ningkatkan pertumbuhan diameter batang un-tuk menopang tinggi tanamannya. Sebaliknya pada tanaman Pioneer 22 yang lebih pendek maka seiring dengan peningkatan takaran pemberian N sampai 225 kg N/ha maka tinggi tanaman cenderung meningkat sedangkan di-ameter batang cenderung menurun.
Gambar 1. Pengaruh tingkat takaran pemberian takaran N dan populasi tanaman terhadap tinggi tanamar
Takaran N (kg/ha) 0 75 150 225 T in g g i tan am an ( cm ) 220 230 240 250 260 270 280 290 Pioneer 22 Y=206.2840+28.1186x-4.1500x2 r2=0.980 Bisi 2 Y=13.7036+59.7947x -9.7805x2 r2=0.975 Populasi tanaman/ha 65.040 72.072 80.808 240 245 250 255 260 265 270 275 Pioneer 22 Bisi 2
Respon tanaman Bisi 2 dan Pioneer 22 terhadap peningkatan populasi menunjukan bahwa semakin padat populasi tanaman maka pertumbuhan tinggi tanaman cenderung me-ningkat (Gambar 1), sebaliknya pertumbuhan diameter batang menjadi menurun (Gambar 2). Hasil tersebut serupa dengan hasil pe-nelitian Sarifi et al. (2009) dimana semakin padat populasi tanaman justru menstimulasi pertumbuhan tinggi tanaman, namun pertum-buhan diameter batang menjadi tertekan. Sangio dan Salvador (1997) serta Paskiewcz dan Butzen (2003) menyatakan setiap pe-ningkatan populasi 25.000 tanaman/ha terjadi peningkatan tinggi tanaman sebesar 2,7 cm serta mengurangi pertumbuhan diameter ba-tang yang akan meningkatkan kerebahan tanaman jagung.
Indeks Luas Daun dan Jumlah Daun/ Tanaman
Nilai indeks luas daun cenderung me-ningkat secara kudratik seiring dengan
pe-nambahan takaran pemberian pupuk N (Gambar 3). Hal tersebut menunjukan bahwa peningkatan takaran pupuk N meningkatkan luas daun dan jumlah daun/tanaman sehingga luas daun menjadi lebih lebar dan luas bidang yang tertutupi semakin besar. Dengan daun yang semakin luas maka peluang intersepsi radiasi cahaya semakin besar.
Pada Gambar 3 ditunjukan bahwa se-makin padat populasi tanaman sese-makin me-ningkat indeks luas daun secara linier. Indeks luas daun pada Pioneer 22 meningkat dari 3,4 menjadi 4,2 lebih tinggi dibanding dengan Bisi 2 yang meningkat dari 3,3 menjadi 4,0 dengan ditingkatkanya populasi tanaman dari 65.040 tanam/ha menjadi 80.808 tananman/ha. Me-nurut Stoskops (1981) varietas hibrida mem-punyai indeks luas daun optimal 3,3 – 4,0. Apabila populasi yang tinggi dan sistem tanam mempunyai indeks luas daun di atas 4,5 mengakibatkan daun saling menutupi dan da-un bagian bawah tidak mendapatkan radiasi surya yang memadai. Disamping itu hal
ter-Gambar 2. Pengaruh tingkat takaran pemberian N dan populasi tanaman terhadap diameter batang, Maros, 2007
Takaran pemberian N (kg/ha)
0 75 150 225 Diam eter b atang (m m ) 21 22 23 24 25 26 27 Pioneer 22 Y=0.179+1.841x-0.3055x2 = r2=0.985 Bisi 2 Y=1.5355+0.4101x+ 0.0500x2 r2=0.898 Populasi tanaman/ha 65.040 72.072 80.808 21 22 23 24 25 26 27 Pioneer 22 Bisi 2
sebut menyebabkan sirkulasi O2 dan CO2 yang
rendah dan unsur hara tidak seimbang dimana hara lebih banyak digunakan untuk pertum-buhan vegetatif tanaman sehingga menurun-kan hasil biji jagung.
Jumlah daun/tanaman sangat dipenga-ruhi oleh takaran pemberian pupuk nitrogen. Ketika suplai N terbatas dari akar ke daun dan batang, maka pada fase vegetatif kan-dungan N pada daun paling bawah menjadi sumber N yang dimobilisasi ke daun bagian atasnya (Below 1997). Hal tersebut meng-akibatkan jumlah daun yang mengering akan meningkat. Pada penelitian ini, peningkatan takaran pemberian pupuk N sampai 225 kg/ ha menunjukan jumlah daun/tanaman sema-kin meningkat yaitu 13,5 daun/tanaman pada varietas Bisi 2 dan 12,8 daun/tanaman pada varietas Pionner 21 (Gambar 4). Hal tersebut menunjukan bahwa peningkatan takaran pemberian pupuk N dapat menunda senescence daun, sehingga berpeluang sebagai sumber sink yang nantinya dapat ditranslokasi ke bagian organ generatif seperti biji. Pada Gambar 4 menunjukan hubungan linier posi-tif nyata (r2 = 0,67) antara jumlah daun segar/
tanaman dengan hasil, dimana semakin ba-nyak jumlah daun segar/tanaman pada saat tanaman berumur 60 dan 78 hst semakin besar hasil biji yang diperoleh.
Indeks Panen
Indeks panen merupakan ratio bobot biji dengan bobot biomas. Semakin tinggi in-deks panen tanaman jagung menunjukan bah-wa partisi fotosintat di tajuk banyak ditrans-lokasi ke bagian biji. Indeks panen pada Bisi 2 dan Pioneer 22 cenderung meningkat seiring dengan peningkatan takaran pemupukan N, namun rata-rata indeks panen Pioneer 22 le-bih tinggi dibanding dengan Bisi 2. Rata-rata indeks panen Pioneer 22 pada pemberian 225 kg N/ha pada populasi tanam 88.808 tanam-an/ha berkisar 0,40 – 0,41 sedangkan pada Bisi 2 berkisar 0,39 – 0,40 (Gambar 5).
Pada Gambar 5 ditunjukan pengaruh negatif dari meningkatnya populasi tanaman sampai 88.808 tanaman/ha terhadap indeks panen. Indeks panen pada pemupukan 225 kg N/ha dengan populasi tanam 65.040 tanam-an/ha pada varietas Bisi 2 dan Pioneer 22 masing-masing sebesar 0,39 dan 0,41 Gambar 3. Pengaruh tingkat takaran pemberian N dan populasi tanaman terhadap luas indeks
daun pada saat umur 70 hari setelah tanam. Maros, 2007
Takaran Nitrogen (kg/ha)
0 75 150 225 L u as in d eks d au n 2.8 3.0 3.2 3.4 3.6 3.8 4.0 4.2 4.4 Pioneer 22 Y=2.9665+0.5982x-0.0926 x2 r2=0.916 Bisi 2 Y=2.2183+1.0040x-0.1441x2 r2=0.950 Populasi tanaman/ha 65.040 72.072 80.808 2.8 3.0 3.2 3.4 3.6 3.8 4.0 4.2 4.4 Pioneer 22 Bisi 2
dian nilai tersebut menurun pada populasi yang lebih padat (72.072 tanaman/ha) dengan nilai indeks panen 0,38 dan 0,39. Penurunan indeks panen seiring dengan makin padatnya populasi tanaman/ha disebabkan karena persaingan cahaya, unsur hara, air dan CO2
antar tanaman.
Hasil biji jagung
Hasil analisis statistik menunjukan bahwa bobot biji/tanaman dan hasil biji/ha dipengaruhi secara nyata oleh interaksi antara takaran pemberian N, varietas dan populasi tanaman/ha. Adanya interaksi menunjukan tanggap yang berbeda pada varietas yang diuji terhadap tingkat takaran N dan populasi tanaman/ha. Bobot biji/tanaman dan hasil biji/ha pada Pioneer 22 meningkat secara Gambar 4. Pengaruh tingkat takaran pemberian nitrogen terhadap jumlah daun/tanaman
dan hubungan jumlah daun/tanaman dengan hasil. Maros, 2007
0 75 150 225 Ju m la h da un s eg ar /t an am an 9 10 11 12 13 14 15 Pioneer 22 Y=0.4843+1.9357x-0.1468x2 r2=0.995 Bisi 2 Y=4.6270+5.5270x-0.8254x2 r2=0.997
Takaran pupuk Nitrogen (kg/ha)
6 8 10 12 14 16 18 4 6 8 10 12 14 16 60 hst Y=-2.6887+0.9659x r2=r2=0,66 78 hat Y=0.0562+0.9954x r2=0,67
Jumlah daun per tanaman
H as il bi ji (t /h a)
Gambar 5. Indeks panen jagung hibrida pada tingkat takaran pupuk nitrogen dan populasi tanam. Maros 2007
Populasi 65.040 tanaman/ha T a k a r a n p e m b e r i a n N i t r o g e n ( k g / h a ) 0 75 150 225 In d e k s p a n e n 0.28 0.30 0.32 0.34 0.36 0.38 0.40 0.42 Pioneer 22 Y=0.236+0.092x-0.013x2 r2=0.987 Bisi 2 Y=0.251+0.069x-0.009x2 r2=0.951 Populasi 72.072 tanaman/ha 0 75 150 225 0.28 0.30 0.32 0.34 0.36 0.38 0.40 0.42 Pioneer 22 Y=0.272+0.061x-0.009x2 r2=0.951 Bisi 2 Y=0.254+0.056x-0.006x2 r2=0.980 Populasi 80.808 tanaman/ha 0 75 150 225 0.28 0.30 0.32 0.34 0.36 0.38 0.40 0.42 Pioneer 22 Y=0.286+0.050x-0.005x2 r2=0.900 Bisi 2 Y=0.227+0.087x -0.011x2 r2=0.984
linier dengan penambahan pupuk N sampai 225 kg N/ha dengan kepadatan populasi tanam 65.040 – 72.072 tanaman/ha, sedang-kan peningkatan bobot biji/tanaman dan hasil biji/ha pada Bisi 2 meningkat secara kuadratik (Gambar 6). Hal tersebut menunjukan bahwa Pioneer 22 sangat respon terhadap pemupu-kan N dan dapat ditanam dengan populasi cukup padat yaitu 72.072 tananam/ha, dengan hasil biji/ha 12,7 t/ha. Sedangkan Bisi 2 sebaiknya ditanam dengan kepadatan popu-lasi tanam kurang dari 72.072 ha dan pemupukan 225 kg/ha dengan hasil 11,8 - 12,3 t/ha. Respon terhadap pemupukan N dan adaptasi dengan kondisi lingkungan populasi tanaman yang padat dikendalikan secara genetik (Tollenar et al., 1994). Menurut Sangoi (2000), tanaman yang toleran terhadap populasi tinggi memiliki ciri-ciri fenotipe tanaman seperti tanaman tidak tinggi, jumlah daun/tanaman tidak banyak, ukuran daun lebih sempit, tipe daun tegak (erect) serta
memiliki perakaran dan batang yang kuat sehingga tidak mudah rebah. Ciri-ciri fenotipe tersebut terdapat pada Pioneer 22 dimana tanaman lebih pendek dari Bisi 2 (Gambar 1), indeks luas daun lebih kecil (Gambar 3), jum-lah daun lebih sedikit (Gambar 4 ) dan tipe daun lebih tegak.
Bobot biji/tanaman meningkat seiring dengan peningkatan takaran pemberian pu-puk N, namun cenderung menurun seiring dengan peningkatan populasi tanaman (Gam-bar 6). Peningkatan populasi tanaman me-rupakan salah satu cara untuk meningkatkan penangkapan cahaya matahari melalui canopy tanaman (Moderras et al., 1998). Oleh karena itu efisiensi konversi cahaya yang diintersep dengan hasil biji jagung/tanaman akan menu-run dengan populasi tanaman yang sangat tinggi. Hal tersebut karena populasi yang sa-ngat tinggi mengakibatkan persaingan per-tumbuhan vegetatif dan generatif tanaman dan kompetisi yang semakin tinggi antar
Gambar 6. Bobot biji/tanaman dan hasil biji/ha pada berbagai tingkat takaran pemberian pupuk nitrogen dan populasi tanam. Maros 2009
Populas 65.040 tanaman/ha 0 75 150 225 B ob ot b iji/ ta na m an ( g) 80 100 120 140 160 180 200 Pioneer 22 Y=113,884+16,331x r2=0,995 Bisi2 Y=14,396+43.114x-4.352x2 r2=0.988 Populasi 72.072 tanaman/ha 0 75 150 225 80 100 120 140 160 180 200 Pioneer 22 Y=116,915+12,679x r2=0,985 Bisi 2 Y=39,669+77.649x-11,431x2 r2=0,928 Populasi 80.808 tanaman/ha 0 75 150 225 80 100 120 140 160 180 200 Pioneer 22 Y=27,843+67,260x-9,885x2 r2=0,951 Bisi 2 Y=2,772+74,777x-10,396x2 r2=0,999 T a k a r a n p e m b e r i a n N ( k g / h a) 0 75 150 225 Ha sil biji, k .a 1 5, 5% (t /h a) 6 7 8 9 10 11 12 13 Pioneer 22 Y=5,959+1,622x r2=0,97 Bisi 2 Y=0,462+5,800x -0,791x2 r2=0,98 0 75 150 225 6 7 8 9 10 11 12 13 Pioneer 22 Y=6,064+1,673x r2=099 Bisi 2 Y=2,291+5,165x-0,674x2 r2=0,995 0 75 150 225 6 7 8 9 10 11 12 13 Pioneer 22 Y=2,254+5,773x-0,816x2 r2=0.985 Bisi 2 Y=0.010+4.221x-0.485x2 r2 =0.999
naman terhadap penyerapan hara, CO2, O2 dan
cahaya. Namun demikian hasil biji per/ha da-pat meningkat, karena jumlah tongkol perlu-asan panen lebih banyak sehingga hasil biji/ha meningkat walaupun bobot biji/tanaman-nya menurun. Hasil biji pada varietas Bisi 2 yang pada populasi 65.040, 72.072, dan 80.808 tanaman/ha meningkat masing-masing sebe-sar 11,8, 12,0 dan 12,2 t/ha, sedangkan Pio-neer 22 sebesar 12,4, 12,7 dan 12,8 t/ha.
Kesimpulan
Penambahan pupuk nitrogen 150-225 kg/ha pada varietas Bisi 2 dan Pioneer 21 menyebabkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, indeks luas daun, jumlah daun/tananman umumnya meningkat secara kudratik.
Populasi tanaman/ha yang semakin padat menyebabkan tanaman menjadi lebih tinggi dan indeks luas daun semakin mening-kat, namun pertumbuhan diameter batang menjadi menurun.
Varietas Pioneer 21 lebih responsif terhadap pupuk nitrogen dibanding Bisi 2, dimana dengan penambahan pupuk nitrogen sampai takaran 225 kg/ha Pioneer 21 meng-alami peningkatan hasil secara linier sedang-kan Bisi 2 meningkat secara kuadratik.
Varietas Pioneer 21 dapat ditanam de-ngan populasi lebih padat (72.072 tanaman/ ha) dan pemberian pupuk 225 kg N/ha de-ngan hasil 12,7 t/ha, sedangkan varietas Bisi 2 dapat ditanam dengan populasi opti-mum (65.040 tanaman/ha) dengan hasil 11,8 t/ha.
Daftar Pustaka
Below, F.E. 1997. Growth and productivity of maize under nitrogen stress. P.235-240 dalam G.O. Edmeadest et al.1996.
Developing drought and low-tolerant maize.CIMYYT.Mexico.
Borras L., G.A. Maddoni and M. E. Otegui. 2003. Leaf senescence in maize hybrid: plant population, row spacing and kernel set effect. Field Crops Res. 82:13-26. Cooke. 1975. Fertilizing for Maximum Yiled.
Granada Publishing. London. p71-87. Fik, K. dan J.J. Hanway. 1996. Leaf area in
rela-tion to yield of corn grain. Agron J. 58:16-18.
Gardner, F., R.B. Pearce and R.L Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya: Terjemahan Her-awati Susilo). Penerbit Universitas In-donesia, Jakarta.
Hick, D.R. and R.E. Strucker.1972. Plant den-sity effect on grain yield of corn hybrid diverse in leaf orientation. Agron. J. 64:484-487.
Khot, R.B., and N.K. Umrani. 1992. Seed yield and quality parameters of African Tail maize as influence by spacing and level of nitrogen. Indian J. Agron. 37:183-184.
Moderras, A.M., R.I. Hamilton, M. Dijak, L.M. Dwyer, D.W. Stewart,D.E. Mather, D.L, Smith. 1998. Plant population density effectson maize inbred lines grown in short-season environments. Crop Sci. 38: 104-108.
Muhadjir, F. 1984. Effect of plant density on leaf area index, light penetration and yield of six maize hybrids. Penel. Pert. 4(3);134-138
Nelson W.L., W.I. Segars, S.R. Olsen, W. Wal-lingford, L.F. Welch. 1992. Developing Systems for optimum corn yield. Na-tional Corn Handbook NCH-6.
Paskiewicz S. and S. Butzen. 2003. Corn hy-brid response to plant population. Crop Insights. Vol.11, No.6. Pioneer Hi-Bred International Inc. Diakses dari http://www.pioneer. com /usa/ agronomy/corn/1106.htm. Tgl 24 Ma-ret 2006
Patrik, W.H.Jr., dan K.R. Reddy. 1976. Fate of fertilizer nitrogen in a flooded soil. Soil Sci. Am. Proc. 40:678-681.
Sangoi, L. 2000. Understanding plant density effects on maize growth and develop-ment: an important issue to maximize grain yield. Ciência Rural, Santa Maria, v.31, n.1, p.159-168
Sangoi, L and R.C.Salvador. 1997. Influence of plant height and of leaf number on maize production at high plant densi-ties. Di akses dari http://atlas.sct. em-brapa.br/pab/pab.nsf/0/9f859b3d 15b36032565d800792b51/$FILE/ pab093_96.doc. Tgl.24 Maret 2006. Sanjeev, K. dan A.S. Bangarwa. 1997. Yeild and
yield components of winter maize (Zea Mays L.) as influenced by plant density and nitrogen levels. Agril. Sci. Digest (Kamal), 17:181-184.
Sarifi R.S., M. Sedghi, and A. Gholipouri. 2009. Effect of population density on yield attributes of maize hybrids. Res.Jour. Bio. Sci. 4(4):375-379.
Singh D.P., N.S. Rana dan R.P.Singh. 2000. Growth and yield of winter maize (Zea mays L) as influenced by intercrops and nitrogen application. Indian J. Agron. 45:515-519.
Stoskops, N. 1981 Understanding Crop Pro-duction. Reston Pub. Virginia.p.97 – 109
Syafruddin, S. Saenong dan Subandi. 2008. Penggunaan bagan warna daun untuk efisiensi pemupukan N pada tanaman jagung. Penelitian Pertanian 27(1):24-31.
Tanaki, J.D., P.G. Patel and S.D.Tahnki. 1988. Response of hybrid maize (Zea Mays L.) to graded levels of nitrogen, phos-phorus and potash in the summer sea-son. Gujrat Agril. Univ. Res.J.,14:55-57 Tetito-Kagho, F. and F. P. Gardner. 1988.
Re-sponse of maize to plant population density. I. Canopy development, light relationship, and vegetative growth. Agron J. 80:930-935.
Tollenaar, M., D. E. Mccullough, L. M. Dwyer. 1994. Physiological Basis of The Ge-netic Improvement of Corn. in: SLA-FER, G.A. Genetic improvement of field crops. New York : Marcel Dekker, p.183-236.