• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II QIRAATI DAN MINAT MEMBACA ALQURAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II QIRAATI DAN MINAT MEMBACA ALQURAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

QIRAATI DAN MINAT MEMBACA ALQURAN

A. Pengertian dan Tujuan Metode Qiraati

1. Pengertian Metode Qiraati

Dalam bahasa Arab metode disebut “Thoriqot”, Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud metode adalah cara yang teratur dan berfikir baik untuk mencapi maksud, sehingga dapat dipahami bahwa metode adalah suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercipta tujuan pengajaran.1Menurut Nana Sudjana, metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik saat berlangsungnya pelajaran.2

Sedangkan qiraati adalah pembacaan.3Secara etimologis, qiraatiyaitu perbedaan lafal-lafal Alquran, baik menyangkut huruf-huruf tersebut seperti takhfif, tasydid, dan lain-lain.4Ibn Al-Jazari membuat definisi bahwa qiraati adalah pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat-kalimat Alquran dan perbedaannya dengan membangsakannya kepada penukilnya.5Al- Dimyathi sebagaimana dikutip oleh Abdul Hadi

1

Arnei Arief, M.A, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press : 2002), hlm.40.

2

Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 76.

3

Atabik Ali dan A.Z. Mudhor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1999), cet. V. hlm.27.

4

Hasanuddin AF. Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum dalam Al-Qur’an (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1995), hlm.21.

5

Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’I, Ulumul QuranI (Bandung: Pustaka Setia,1997),hlm.225.

(2)

al-Fadli, mengemukakan qiraati yaitu suatu ilmu untuk mengetahui cara pengucapan lafal-lafal Alquran, baik yang disepakati oleh para ahli qiraat.6

Metode qiraati adalah suatu metode dalam belajar membaca Alquran yang langsung memasukkan danmempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwidnya,7 yaitu diajarkan secara langsung cara membaca huruf hijaiyah dengan fasih dan menerapkan hukum-hukum tajwidnya yang ada didalamnya.

Metode qiraati merupakan metode praktis belajar membaca Alquran yang disusun oleh H. Dachlan Salim Zarkasyi di Semarang yang terdiri dari enam jilid dan ditambah dengan satu jilid Ghoribul Quran yang menurut muskilat dan bacaan-bacaan asing didalam Alquran, yang disusun sesuatu dengan tingkat kemampuan anak, diantaranya yaitu :

a. Qiraatiuntuk Pra TK

Adalah buku pelajaran untuk mengenal huruf arab khususnya untuk anak-anak usia 3 atau 4 tahun. Pengenalan huruf-huruf hijaiyah.

b. Qiraatiuntuk TK Alquran

Yaitu untuk anak usia 4-6 tahun. Bukunya terdiri dari enam jilid didalamnya ditambah dengan bacaan-bacaan tajwid, yang diajarakan secara bertahap sesuai dengan kemampuan peserta

6

Abdul Hadi al-Fadli, Al-qiraat alquraniyyat (Beirut: Dar al-Majma’ al-Ilmi,1979), hlm. 63.

7

M. Khumaidi, Buku Panduan Pengajaran TPQ dalam Diklat Guru TPQ yang Diselenggarakan UKM LPTQ STAIN Pekalongan, 2003, hlm.13.

(3)

didik.Apabila sudah mampu pada jilid satu maka naik ke jilid dua dan seterusnya.

c. Qiraatiuntuk SD usia 7-13 tahun d. Qiraati untuk SLTP/SLTA e. Qiraatiuntuk Dewasa

f. Pelajaran bacaan ghorib dan muskylat.8

Metode qiraati memiliki beberapa perbedaan dengan metode lain diantaranya :

1. Berkesinambungan antara halaman ke halaman berikutnya. 2. Berkesinambungan antara jilid satu dan seterusnya

3. Disesuaikan dengan usia para pelajar Alquran

4. Kata dan kalimatnya tidak keluar kaidah ayat-ayat Alquran tidak kedaerahan

5. Setiap Pokok Bahasan sudah diterapkan ilmu Tajwid 6. Dilengkapi Petunjuk mengajar setiap Pokok Bahasan 7. Dilengkapi Buku Gharib, Musykilat dan Tajwid Praktis 8. Sangat mudah untuk diucapkan.9

2. Tujuan Metode Qiraati

Metode qiraati merupakan metode dalam belajar membaca Alquran.Tujuan dari membaca Alquran adalah bisa membaca Alquran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah dan qiraah dan tajwidnya,

8

Dachlan Salim Zarkasyi, Metode Praktis Belajar (Semarang: Raudlotul Mujawwidin, 1990), hlm.1.

9

(4)

sebagaimana dalam buku pedoman pengajian Alquran. Dijelaskan bahwa maksud dan tujuan dari pengajian (pendidikan) Alquran antara lain :

a. Agar peserta didik mampu membaca Alquran dengan baik dan benar dan tepat makhraj hurufnya, panjang pendeknya, ghunnah dan lain sebagainya.

b. Agar peserta didik suka dan senang membiasakan diri membaca Alquran dengan baik.

c. Agar peserta didik dapat menghafal sejumlah surat-surat pendek dalam Alquran yang dapat diterapkan dalam sholat sehari-hari.

d. Agar peserta didik taat dan patuh kepada Allah Swt. dalam melaksanakan ibadah lainnya, seprti sholat, puasa, bersodaqah dan sebagainya, sehingga merupakan sebagian dari pengenalan dan penghayatan isi kandungan Alquran.10

Sedangkan kandungan secara umum metode qiraatiadalah :

a. Menjaga kesucian dan kemurnian Alquran dari segi bacaannya yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Dengan belajar membaca Alquran anak di harapkan membaca Alquran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah Qiraah dan tajwidnya, sehingga dapat membaca Alquran tanpa merubah bacaannya. Karena apabila merubah salah satu bacaan saja, maka akan merubah arti dari Alquran sendiri. Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Q. S. Al-Muzammil ayat 4

10

Depag RI, Pedoman Pengajian Al-Qur’an Bagi Anak-anak (Jakarta: Proyek Penerangan Bimbingan dan Dakwah/khutbah Agama Islam, 1985), hlm.4-5.

(5)



Artinya:“Bacalah Alquran itu dengan

perlahan-lahan.”(Q.S.Muzammil:4)

Disamping itu dalam hadits juga diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik bahwa Rasulullah selalu membaca Alquran sesuai dengan kaidah qiraah dan tajwidnya.

b. Menyebarluaskan ilmu membaca Alquran

Alquran diibaratkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud sebgai jamuan Tuhan. Layaknya jamuan, maka ia harus didatangi, dilahap, dan dinikmati kelezatannya. Bila jamuan telah tersedia, sedang ia dibiarkan sia-sia, tentulah suatu kerugian dan penyesalan di kemudian hari. Begitulah Alquran sebagai jamuan Tuhan, ia harus dikaji, dibaca, dipahami dan dinikmati apalagi oleh kaum muslimin. c. Mengajarkan Alquran dengan penuh ketelitian

Sebagaimana telah dipesankan oleh para ulama salaf kalau mengajarkan Alquran harus hati-hati jangan sembarangan/sembrono nanti berdosa karena yang kita ajarkan itu bukan perkataan manusia tetapi firman-firman Allah Swt. yang penuh keagungan dan kemuliaan.

d. Meningkatkan kualitas pendidikan Alquran

Metode qiraati merupakan metode yang dapat dipakai oleh semua kalangan, baik anak usia 3 tahun sampai ornag dewasa. Maka dari itu dalam pendidikan Alquran dengan menggunakan metode

(6)

qiraati diharapkan dapat meningkatkan kualitas peniddikannya dalam membaca Alquran.11

B. Prinsip Dasar Qiraati

Metode qiraati adalah metode dalam belajar membaca Alquran, tujuan belajar membaca Alquran adalah bisa membaca Alquran dengan fasih sesuai dengan kaidah qiraah dan tajwidnya agar tujuan tersebut bisa berhasil dengan baik, maka guru dan peserta didik harus diperhatikan beberapa prinsip dalam penerapannya. Adapun prinsip dasar metode qiraati, yaitu

1. Untuk Guru

Adapun yang harus diperhatikan oleh guru adalah a. Daktun (tidak boleh menuntun)

Dalam mengajarkan qiraati, guru tidak boleh menuntun, guru hanya menerangkan seperti pokok pelajaran saja dan memberi contoh bacaan yang benar, sekedar satu atau dua baris saja.

b. Tewasgas (teliti, waspada, tegas)

Dalam memberi contoh, guru harus teliti dan benar jangan sampai salah.Dalam menyimak/mendengarkan bacaan Alquran, guru harus teliti dan waspada.Dalam menentukan kenaikan peserta didik guru harus tegas tidak boleh segan, ragu ataupun berat hati.Maka dari itu guru harus mengkoordinasikan antara mata, telinga, lisan dan hati. 2. Untuk Peserta Didik

Adapun prinsip yang harus diperhatikan oleh peserta didik adalah :

11

(7)

a. Dalam belajar, peserta didik harus aktif membaca sendiri tanpa dituntun oleh gurunya

b. Dalam membaca, peserta didik harus membaca dengan lancar, cepat, tepat dan benar.12

C. Sistem Pengajaran dalam Qiraati

Metodeqiraati adalah suatu metodedalam belajar membaca Alquran yang langsung memasukkan dan mempratekkan bacaan tertil sesuai sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.13 Sebagaimana tujuan dalam belajar membaca Alquran adalah bisa membaca Alquran dengan fasih sesuai dengan kaidah Qiraah dan tajwid. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalammenyampaikan pelajaran qiraati harus memperhatikan sistem pengajarannya. Adpun sistem pengajarannya adalah sebagai berikut :

1. Sejak awal peserta didik langsung membaca huruf-huruf hijaiyah yang berharokat tanpamengeja

2. Langsung praktek secara mudah dan praktis bacaan yang bertajwid. Peserta didik tidak harus belajar ilmu tajwid untuk dapat membaca dengan baik dan benar.

3. Materi pelajaran diberikan secara bertahap dari yang muadah menuju yang sulit, dari umum kepada yang khusus sesuai dengan kaidah

12

Ibid. hlm. 15.

13

(8)

4. Materi pelajaran diberikan sesuai dengan sistem modul. Dalam hal ini peserta didik tidak diperbolehkan belajar modul diatasnya kalau belum menguasai modul yang dibawahnya

5. Pelajaran diberikan selalu diulang-ulang dengan memperbanyak latihan sehingga menjadikan peserta didik selalu ingat dan menguasai pelajaran yang sudah diberikan dengan pola yang sederhana

6. Belajar sesuai kemampuan kecerdasan peserta didik 7. Evaluasi dilakukan setiap kali pertemuan.14

Belajar dan mengajarkan Alquran merupakan kewajiban bagi umat islam. Pendidikan Alquran sebaiknya ditanamkan pada anak muali umur sedini mungkin (sejak pra sekolah/anak berumur 3 tahun), sebagaimanadalam pengajaran qiraati yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Pendidikan Alquran di tingkat dasar diberi pelajaran pelajaran mulai jilid satu sampai jilid enam bagi yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyah maka diberi pelajaran dengan menggunakan buku qiraati Pra TK Alquran.

Adapuncara mengajar qiraati Pra TK Alquran (anak usia 3-4 tahun) adalah sebagi berikut :

1. Guru mengenalkan huruf A dengan menggunakan peraga besar. Selanjutnya seluruh murid membaca huruf A bersama-sama dengan guru. Dilanjutkan dengan percobaan membaca huruf A beberapa murid. Setelah guru memperkirakan seluruh murid mengerti, guru menambah huruf A lagi disampingnya. Selanjutyna guru memberikan contoh membacadua huruf

14

(9)

AA dengan cepat, dan jangan memanjangkan suara huruf A yang pertama atau A yang kedua.

2. Setelah guru menyakinkan setiap murid mampu membaca dua huruf AA dengan cepat tanpa memanjangkan suara huruf A yang pertama atau kedua, maka huruf A yang kedua di lepas ditukar dengan huruf BA (berbunyi A BA). Selanjutnya seluruh murid bersama guru membaca berulang-ulang A BA, dilanjutkan beberapa murid disuruh membaca membaca peraga besar A BA. Setelah guru memperkirakan seluruh murid telah memahaminya, huruf paraga dibalik menjadi BA A, setelah murid dapat membaca A BA dan BA A pelajaran peraga besar telah selesai. 3. Pelajaran beralih ke peraga kecil, sehuruf setiiap murid disuruh menyusun

huruf A BA diatas mejanya masing-masing. Setelah selesai dan setelah guru menyaksikan, maka seluruh murid disuruh menyusun huruf BA BA, dilanjutkan BA A. selesailah sudah pelajara menggunakan peraga kecil. 4. Pelajaran membaca buku, halaman pertama. Cara mengajarkannya seluruh

murid dan guru membaca bersama (halaman pertama dibaca dua kali), selanjutnya setiap murid membaca buku halaman pertama. (perhatikan, guru supaya berusaha agar setiap murid mampu belajar lancar, tanpa memanjangkan suara huruf yang pertamaatau huruf kedua).

5. Pada hari berikutnya palajaran tidak menggunakan peraga besar, cukup menggunakan peraga kecil. Supaya murid tidak menjumpai kesukaran membaca buku halaman dua, maka pelajaran dimulai murid-murid menyusun peraga kecil di mejanya masing-masing sebagai berikut;

(10)

AA - A BA- BA BA –BA A. dilanjutkan menyusun tiga huruf -- A A BA –A BA BA – BA BA A – BA A A-A BA A-BA A BA.selanjutnya pelajaran buku halaman dua dimulai, guru membaca seluruh murid menirukan. Selanjutnya guru dan seluruh murid membaca bersama dua atau tiga kali, dilanjutkan setiap murid membaca buku. (perhatikan; Guru supaya berusaha agar setiap murid berusaha dapat membaca lancar, dan tidak memanjangkan suara huruf yang pertama atau huruf yang ketiga).

6. Demikian cara mengajarkan dihalaman berikutnya. Dan jangan lupa usahakan agar setiap murid dapat membaca lancar.15

Sedangkan cara mengajar buku qiraati atau jilid satu sampai dengan jilid enam adalah sebagai berikut :

a. Untuk Jilid Satu

Adapun petunjuk untuk jilid satu adalah

1) Guru menjelaskan pokok pelajaran, dilanjutkan memberikan contoh membaca sekedar satu atau dua baris, tanpa diurai. (ALIF fathah A. BA fathah BA). Dibaca langsung huruf hidup dua-dua huruf/tiga-tiga huruf, dengan cepat dan tidak memanjangkan suara huruf yang pertama atau huruf yang terakhir. Supaya dibaca sama pendeknya setiap hurufnya.

2) Mengajarkan buku ini tidak dibenarkan menuntun, murid harus mampu baca sendiri sejak jilid satu sampai membaca Alquran.

15

(11)

3) Pelajaran dalam kotak baris paling bawah. (huruf hijaiyah) dibaca menurut kelompok huruf. (ALIF, BA, TA, TSA). Jangan dipisah-pisah ALIF-BA-TA-TSA16

b. Untuk Jilid Dua

Cara mengjar jilid dua ini, tidak berbeda dengan mengajar jilid satu: 1) Dibaca langsung huruf hidup, tidak diurai.

2) Setelah guru menjelaskan pokok pelajaran murid baca sendiri.

3) Setiap tulisan dalam kotak baris Bawah, termasuk pelajaran, yang harus dibaca oleh murid.

4) Supaya murid mengerti nama-nama harokat, maka guru seharusnya sering menanyakan nama harakat.

5) Pelajaran angka arab tidak harus berbahasa arab, terserah guru. 6) Guru supaya berusaha agar setiap murid dapat membaca lancar,

tanpa salah baca.

7) Halaman 25 sampai terakhir, pelajaran MAD. (Mad dengan ALIF,YA,WAWU) dan setiap murid membaca MAD, supaya jelas panjang pendeknya.

8) Murid dibolehkan melanjutkan ke jilid berikutnya, apabila telah dapat membaca lancar tanpa ada salah baca.17

c. Untuk Jilid Tiga

Adapun petunjuk untuk jilid tiga adalah sebagai berikut:

16

Ibid, jilid I

17

(12)

1) Metode mengajarkan jilid tiga ini seperti mengajar jilid-jilid sebelumnya yaitu dibaca langsung, tidak diurai dan tidak menuntun membaca, murid membaca sendiri setiap halaman, setelah guru menjelaskan pokok pelajaran dan memberikan contoh membaca sekedar satu baris.

2) Jangan dipindah kehalaman berikutnya, jika murid belum dapat membaca lancar tanpa banyak salah membaca.

3) Buku ini terdiri dari 13 pokok bahasan / pokok pelajaran (yang diberi garis bawah) perhatikan halaman 1, 2, 3, 4, 5, 6, 10, 15, 19, 26, 28, 31, 35, 38, 41.

Setiap murid diharuskan menguasai pokok bahasan, dan guru jangan memindahkan ke pokok bahasan berikutnya jika murid belum lancar membaca dan banyak salah baca.

4) Garis paling bawah (dalam kotak) halaman 13, 14, 17, 18, 20, 21, 22, 24, 29,30,32 dibaca menurut bacaan hijaiyah tanpa suara panjang.

5) Insya Allah jika petunjuk mengajar ini dapat dilaksakan dengan baik, maka pada jilid-jilid berikutnya tidak menjumpai kesulitan.18

18

(13)

D. Pengertian Minat Membaca Alquran

1. Pengertian Minat Membaca

a. Pengertian Minat

Pada hakikatnya minat merupakan hal yang mendasar pada diri masyarakat, karena minat baca dalam kehidupan sehari-hari itu adalah suatu modal pokok setiap individu dalam melaksanakan suatu kegiatan.Minat berarti kecenderungan untuk mendekati objek dan terdapat pula perasaan senang untuk menyertainya. Dengan adanya minat pada diri seseorang terdapat sesuatu, maka keinginan besar yang diinginkan akan memperoleh sesuai dengan harapan.

Minat perlu ditingkatkan, apalagi dalam masalah membaca karena hanya membaca manusia dapat meningkatkan pengetahuannya, bila minat telah tumbuh dalam diri pribadi individu, maka dengan sendirinya kebiasaan membaca akan menjadi semacam kebutuhan dalam hidupnya.

Mengenal pengertian minat para ahli berpendapat sebagai berikut.Sardiman A.M, menjelaskan minat adalah suatu kondisis yang terjadi apabila ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihububungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhan sendiri.19 Sedangkan menurut Victor Celebrikof, minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi proses pembentukan atas perkembangan seseorang. Minat adalah sikap senang terhadap suatu

19

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm.76.

(14)

hal dan berfungsi sebagai pendorong seseorang untuk membuatnya berusaha dalam mencapai tujuan.20

Bimo Walgito, bahwa Minat adalah suatu kegiatan dan seseorang mempunyai perhatian sesuatu dan disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mepelajari maupun membuktikan lebih lanjut.21 Sedangkan menurut Dyles Friyer, Minat atau interest adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada individu. 22 dan menurut Whitherington, Minat adalah kecenderungan jiwa pada sesutau, karena kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu tersebut. Pada umumnya disertai dengan akan sesuatu itu.23

Dari berbagai pengertian tersebut diatas, maka dapat disimpilkan bahwa minat adalah suatu kecenderungan hati atau keinginan seseorang yang timbul untuk melaakukan sesuatu dengan memuaskan perhatian pada suatu objek yang disenangi, serta ada maksud dan tujuan dari kegiatan yang dilakukannya tersebut.

b. Pengertian Membaca

Adanya ungkapan yang menyatakan kunci ke arah pemanfaatan buku adalah kegiatan membaca.Karena tanpa dibaca, buku tidak aka nada artinya.Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Meliputi:

20

Victor Cerebrikof, Tes IQ (Semarang: Dahara Prize,1996), hlm.37.

21

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia,2002), hlm.38.

22

Wayan Nurkacana, Evaluasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional.1986). hlm.229.

23

(15)

orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati dan mengingat-ingat. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Pemahaman dan kecepatan membaca menjadi amat tergantung pada kecakapan dalam menjalankan setiap tubuh yang diperlukan untuk itu.24

Meskipun sekarang media elektronik semakin canggih dan telah banyak menggantikan buku.Akan tetapi, membaca masih memegang peranan penting dalam kehidupan menusia.Dengan semakin meningkatnya kemajuan tersebut, masyarakat harus semakin memperkaya pengetauan dan ketrampilannya.Pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat diperoleh melalui kegiatan membaca.Kegemaran membaca perlu ditingkatkan, karena melalui membaca fungsi otak dapat dioptimalisasikan.25

Mengenai pengertian membaca, banyak ahli memberikan konstribusi mengenai definisi membaca, diantaranya adalah,

Tampubolan dalam buku Mengembangkan Minat dan Kebiasaan

Membaca Bagi Anak, bahwa membaca adalah suatu kegiatan fisik dan

mental untuk menentukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan huruf-huruf.26 Sedangkan menurut Henry Guntur Tarigan baca adalah suatu proses yang

24

Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 4.

25

Conny Semiawan, Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan Sekolah Dasar (Indeks, 2008), hlm.29.

26

Tampubolon, Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Bagi Anak (Bandung: Angkasaa,1991), hlm.111.

(16)

dilakukan pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak dicapai oleh penulis melalui media kata-kata/bahan.27

Nurhadi dalam buku Membaca Cepat dan Efektif, membaca

adalah aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar.28Membaca adalah suatu ketrampilan selain menyimak, berbiacara dan menulis yang harus ditanamkan sedini mungkin pada anak.29

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca itu tidak hanya melisankan dan melafalkan kembali kata dalam tulisan saja, melainkan dengan memahami makna yang tertulis dalam bacaa tersebut.

Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya.30

2. Pengertian Membaca Alquran

Membaca termasuk aktifitas kreatif dalam membentuk kreativitas anak.31Dalam kamus besar bahasa Indonesia di sebutkan bahwa membaca

27

Henry Guntur Tarigan, Membaca sebagai suatu keterampilan Membaca (Bandung: Angkasa,1987), hlm.7.

28

Nurhadi, Membaca Cepat dan Efektif (Bandung: CV Sinar Baru,1997), hlm.124.

29

Majalah Ummi, Menumbuhkan Minat Baca Anak, no 12/IX tahun1418/1998, hlm.64.

30

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar (Jakarta: Rineka Cipta,1999), hlm.200.

31

Umma Farida, Mengembangkan Kreativitas Anak (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2008), hlm.130.

(17)

adalah melihat serta memahami isi apa yang tertulis,32 yaitu suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi, maka pesan yang tersusun tidak akan tertangkap atau dipahami dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.Alquran adalah firman Allah Swt. yang bersifat mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw, yang tertulis didalam mushaf, dinukil dari padanya secara mutawatir dan dipandang beribadah dengan membacanya.33

Jadi, membaca Alquran adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis di Alquran. Adapun cara membaca Alquran menurut para ulama terbagi menjadi empat macam, yaitu :

a. Tahqiq

Adalah membaca Alquran dengan memberikan hak-hak setiap huruf secara tegas, jelas dan teliti, seperti memanjangkan, mad, menegaskan hamzah, menebalkan harakat serta melepas huruf secara tertil, pelan-pelan, memperhatikan panjang pendek, naqaf dan ibtida’ tanpa merampas huruf.

b. Tartil

Hampir sama dengan tahqiq, hanya tartil lebig luwes dibanding tahqiq. Az-Zarkasyi mengatakan bahwa kesempurnaan tartil ialah

32

Henri Guntur Taringan, op.Cit, hlm. 7.

33

Sudaryo El Kamali, M.A. Pengantar Studi Alquran(Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2006), hlm.3.

(18)

menebalkan kalimat sekaligus menjelaskan huruf-hurufnya. Perbedaan lain ialah tartil lebih menekankan aspek memahami dan merenungi kandungan ayat-ayat Alquran, sedangkan tahqiq tekanannya pada aspek bacaan. Dalam membaca Alquransecara tartil ini hukumnya amat ditekankan.

c. Tadwir

Ialah membaca Alqurandengan memanjangkan mad, tidak sampai penuh. Tadwir merupakan cara membaca Alqurandibawah tartil diatas hard (tingkatan keempat).

d. Hard

Ialah membaca Alqurandengan cepat, ringan, pendek, namun tetap menegakkan awal dan akhir kalimat serta meluruskan dan suara berdengung tidak sampai hilang. Meskipun cara membacanya cepat dan ringan, ukurannya harus sesuia dengan kaidah qiraahnya.

Meskipun empat cara membaca tersebut mempunyai nama-nama yang berbeda, namun pada hakikatnya tetap dapat disebut bacaan tartil yang diserukan Alquran dalam surat Al-Muzammil ayat 4.







Artinya:“Bacalah Alquranitu dengan perlahan-lahan.”(Qs..Muzammil : 4) Dari keempat cara tersebut menurut As-Suyuti yang paling ideal untuk dipraktekkan dikalangan anak adalah cara membaca dengan tahqiq,

(19)

karena anak akan terlatih membaca Alquran sekaligus dengan meresapi artinya.34

E. Faktor-faktor yang Memengaruhi Minat Baca

Membaca adalah suatu kegiatan yang kompleks, sehingga dalam membaca terlihat berbagai faktor yang memengaruhinya minat membaca baik faktor internal dan eksternal.35

1. Faktor Internal

a. Intelegensi adalah kemampuan yang dibawah, yang memungkinkan seseorang berbuat dengan cara tertentu.36

b. Minat adalah mengarahkan perbuatan kepada sutau tujuan yang merupakan dorongan bagi perbuatan itu.

c. Sikap adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang,

d. Memotivasi adalah tenaga penggerak yang menimbulkan upaya keras untuk melakukan suatu atau sesuatu yang mendorong seseorang untuk bergerak baik disadari maupun tidak disadari.

2. Faktor Eksternal

a. Keadaan fisik, ruang yang bersih, dimana buku-buku tersusun rapi serta terawat

b. Sarana membaca c. Teks bacaan

34

Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis dan Mencintai Al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm.79-80.

35

Nurhadi, Op. Cit. hlm.13.

36

(20)

d. Latar belakang sosial ekonomi

e. Kebiasaan dan tradisi keluarga pembaca.

Beberapa faktoryang mempengaruhi rendahnya minat baca, diantaranya:37 a. Faktor budaya

b. Kesenangan berkumpul untuk mengontrol

c. Menariknya media elektronik dengan segala macam bentuk acara didalamnya

d. Lengkapnya bacaan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan. Beberapa faktor yang menjadi hambatan dalam masalah membaca adalah38

a. Faktor kebiasaan b. Faktor sarana

c. Faktor buku-buku yang dibaca

d. Faktor kurang sesuainya bahan bacaan yang tersedia.

F. Cara-cara Membangkitkan Minat Baca

Peran perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan rasa kesadaran membaca, kegiatan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dalam tersediaannya bahan bacaan yang memadai, baik dalam segi jumlah maupun dalam kualitas bacaannya.

Minat baca seseorang dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi orang tersebut kepada suatu sumber bacaan tertentu pendorong bagi bangkitnya minat baca ialah kempuan membaca pendorong bagi kegemaran

37

Perpustakaan Nasional RI, Pedoman Pembinaan MinatBaca (Jakarta: Perpustakaan RI, 2002), hlm.1.

38

(21)

membaca adalah kebudayaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik jelas bacaan, jumlah maupun mutunya. Dari rumus tersebut terserat tentang perlunya minat baca itu dibangkitkan dari sejak usia dini, dimulai dengan perkenalan bentuk-bentuk huruf dan angka pada masa pendidikan prasekolah sampai menguasai baca-tulkis-hitung bada awal pendidikan disekolah dasar.39

Menurut Sardiman AM, minat dapat dibangkitkan dengan cara sebagai berikut, membangkitkan adanya suatu kebutuhan, menghubungkan adanya persoalan pengalaman masa lampau, memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, menggunakan berbagai macan pengajaran.40

Bimo Walgito melanjutkan tentang cara membangkitkan minat, yaitu : 1. Sejarah dan hari depan masing-masing pelajaran

2. Fungsi dan kegunaan masing-masing pelajaran dalam rangka membangun jiwa masyarakat Indonesia.41

Menurut Abd. Rahman Abror, indikator minat baca meliputi a. Kognisi (mengenal)

Minat didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai obyek yang dituju oleh minat tersebut.

b. Emosi (perasaan)

39

Sutarno NS, Manajemen Perpustakan Suatu pendekatan Praktik (Jakarta: Samitra Media Utama, 2004), hlm.20.

40

Sardiman, Op. cit. Hlm. 224.

41

Bimo Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah (Yogyakarta : Andi Offset, 1995), cet 3, hlm. 63.

(22)

Partisipasi atau pengalaman itu disertai dengan perasaan tertentu (biasanya perasaan senang).

c. Konasi (kehendak)

Diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu kegiatan.42

42

Abd. Rahman Abror, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm.112

Referensi

Dokumen terkait

Pengukuran dilakukan pada akhir peneltian, berat basah akar dihitung dengan cara menimbang akar yang telah dipisahkan dari batang dan daun bibit yang telah

Adapun tujuan penelitian adalah membangun system simulasi tata surya planet Bima Sakti sebagai media pembelajaran iteraktif bagi Siswa menggunkan teknologi

Pasien datang dengan keluhan gangguan pergerakan pada articulatioralocruris. 1 bulan yang lalu terjadi kecelakaan yang menyebabkan luka pada lateral capitatum fibulae...

Sepertinya Hitam tidak suka dengan menjalankan bidak ke d6 ini, karena mungkin lebih mudah bertahan dengan bidak tetap di d7 misalnya dengan Bc6 dan memberikan

Pada makalah ini mempelajari pembentukan struvite crystal dengan berbagai variabel yaitu pH larutan dan perbandingan reaktan Mg:PO4 serta kinetika reaksi kristalisasi

bagian dalam tubuh dari teripang ), dan identifikasi mikroskopik dengan mengamati bentuk dan komposisi spikula (ossicle) yang diisolasi dari jaringan integumen

Penegakan hukum yang dilakukan oleh pihak Kecamatan dengan Kepolisian memang masih boleh dikatakan kurang maksimal, walaupun telah berhasil menangkap 10 (sepuluh)

Arief Darmawan., Sp.Ort (K)., MMR seorang lulusan termuda PPDS-I Ortopedi Universitas Airlangga Surabaya dengan pengalaman manajemen rumah sakit yang