• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. uncertainties and risk inherent in business situation are adequately. lingkungan bisnis sudah cukup dipertimbangkan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. uncertainties and risk inherent in business situation are adequately. lingkungan bisnis sudah cukup dipertimbangkan."

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Konservatisme Akuntansi

Dalam SFAC No. 2 para. 95 (dalam Warikki, 2008) dijelaskan bahwa: “Conservatism is a prudence reaction to uncertainty to try to ensure that uncertainties and risk inherent in business situation are adequately considered.” Definisi ini menyatakan bahwa konservatisme adalah reaksi yang hati-hati terhadap ketidakpastian yang melekat dalam perusahaan untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan resiko yang inheren dalam lingkungan bisnis sudah cukup dipertimbangkan.

Secara umum, konservatisme akuntansi adalah suatu prinsip pengecualian atau modifikasi dalam arti bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan terhadap penyajian data akuntansi yang relevan dan andal. Konservatisme menyatakan bahwa akuntan harus melaporkan informasi akuntansi yang terendah dari beberapa kemungkinan nilai untuk aktiva dan pendapatan, serta yang tertinggi dari beberapa kemungkinan nilai kewajiban dan beban. Konservatisme adalah usaha untuk memilih metode akuntansi berterima umum yang akan menghasilkan pengakuan pendapatan selambat mungkin, pengakuan beban secepat mungkin, penilaian aktiva yang lebih rendah dan penilaian kewajiban yang lebih tinggi (Work dan Tearney, 1997, dalam Sayidah, 2005). Prinsip konservatisme telah lama digunakan dalam

(2)

akuntansi, dan merupakan konvensi laporan keuangan yang penting dalam akuntansi, sehingga disebut sebagai prinsip akuntansi yang dominan. Prinsip konservatisme ini yang menjadi pertimbangan dalam akuntansi dan laporan keuangan karena aktivitas perusahaan yang selalu dilingkupi ketidakpastian. Walaupun telah lama mempengaruhi mempengaruhi praktek akuntansi, konservatisme masih tetap menimbulkan pro dan kontra mengenai perlunya penerapan prinsip ini dalam perusahaan. Para pengkritik konservatisme menyatakan bahwa prinsip ini menyebabkan para pengkritik konservatisme berpendapat bahwa prinsip ini menyebabkan laporan keuangan menjadi bias sehingga tidak dapat dijadikan alat oleh pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. Monahan, 1999 (dalam Fala, 2007) menyatakan bahwa semakin konservatif akuntansi maka nilai buku ekuitas yang dilaporkan akan semakin bias. Hal ini juga didukung oleh penelitian Feltham dan Ohlson, 1995; Basu, 1997; Penman dan Zhang, 2002 (dalam Warikki, 2008), yang memperkirakan bahwa konservatisme menghasilkan kualitas laba yang rendah, dan kurang relevan.

Disisi lain para pendukung konservatisme menyatakan bahwa konservatisme menghasilkan laba yang lebih berkualitas karena prinsip ini mencegah perusahan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan menyajikan laba dan aktiva yang tidak overstate. Penelitian yang mendukung diantaranya dilakukan oleh Watts, 1993 (dalam Warikki, 2008). Penelitian mereka membuktikan bahwa laba dan aktiva yang dihitung dengan akuntansi konservatif dapat

(3)

meningkatkan kualitas laba sehingga dapat digunakan untuk menilai perusahaan. Konservatisme dapat membatasi tindakan manajer secara oportunistik mengelola laba dengan memanfaatkan posisinya sebagai pihak yang memiliki informasi lebih banyak. Perusahaan yang sedang tumbuh cenderung menggunakan akuntansi konservatif karena investor akan dapat mengawasi pelaksanaan kebijakan yang dilakukan pihak manajemen.

Munculnya konservatisme disebabkan adanya kecenderungan dari pihak manajemen untuk menaikkan nilai asset dan pendapatan suatu perusahaan. Konservatisme saat ini lebih dikaikan dengan kehati-hatian (prudence). Konservatisme dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang dalam mendefenisikan dan menginterprestasikannya. Prinsip konservatisme menganggap bahwa ketika memilih antara dua atau lebih teknik akuntansi yang berlaku umum, maka suatu preferensi ditunjukkan untuk memilih opsi yang memiliki dampak paling tidak menguntungkan terhadap ekuitas pemegang saham. Oleh karena itu, prinsip konservatisme mengharuskan akuntan untuk mengambil sikap pesimistis secara umum ketika memilih teknik akuntansi untuk pelaporan keuangan.

Sterling, 1967 (Bekaoui, 2006:48) menyebut konservatisme sebagai “ prinsip akuntansi yang paling kuno dan paling mungkin bertahan”. Di masa lalu, konservatisme telah digunakan ketika berurusan dengan ketidakpastian dalam lingkungan dan terlalu optimisnya manajer dan pemilik perusahaan serta juga digunakan untuk melindungi kreditor terhadap distribusi yang tidak sah atas aktiva perusahaan sebagai deviden. Dari sudut pandang manajemen,

(4)

konservatisme didefinisikan sebagai metode akuntansi berterima umum yang melaporkan aktiva dengan nilai terendah, kewajiban dengan nilai tertinggi, menunda pengakuan pendapatan, serta mempercepat pengakuan biaya. Definisi ini menunjukkan bahwa akuntansi konservatif tidak saja berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi, tetapi juga estimasi yang mengakibatkan nilai buku aktiva menjadi relatif rendah. Konsep konservatisme menyatakan bahwa dalam keadaan yang tidak pasti manajer akan menentukan pilihan atau tindakan akuntansi yang didasarkan pada keadaan, harapan kejadian atau hasil yang dianggap kurang menguntungkan. Implikasi konsep ini terhadap prinsip akuntansi adalah mengakui dengan segera segala biaya atau rugi yang kemungkinan akan terjadi, tetapi tidak segera mengakui pendapatan atau laba yang akan datang walaupun kemungkinan terjadinya besar.

Bliss, 1924 (dalam Suaryana, 2008) menyatakan konservatisme dalam praktik secara umum berarti “anticipate no profits but anticipate all losses.” Pengantisipasian rugi berarti pengakuan rugi sebelum suatu verifikasi secara hukum dapat dilakukan, dan hal yang sebaliknya dilakukan terhadap laba. Konservatisme akuntansi merupakan asimetri dalam permintaan verifikasi terhadap laba dan rugi. Interprestasi tersebut berarti bahwa semakin besar perbedaan tingkat verifikasi yang diminta terhadap laba dibadingkan terhadap rugi, maka semakin tinggi tingkat konservatisme akuntansi.

2. Kualitas Laba Akrual

Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu tertentu. Laba sering digunakan sebagai

(5)

suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi. Pengukuran laba bukan saja penting untuk menentukan prestasi perusahaan tetapi penting juga penting sebagai informasi bagi pembagian laba dan penentuan kebijakan investasi. Oleh karena itu, laba menjadi informasi yang dilihat oleh banyak seperti profesi akuntansi, pengusaha, analis keuangan, pemegang saham, ekonom, fiskus, dan sebagainya.

Laporan keuangan adalah salah satu sumber informasi yang digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan serta merupakan media untuk melaporkan pertanggungjawaban manajer dalam mengelola modal pemilik. Informasi laba adalah perhatian utama untuk menentukan kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Salah satu ukuran dalam laporan keuangan untuk mengukur kinerja manajemen adalah laba yang dihasilkan. Pengguna laporan keuangan akan menggunakan laba yang dilaporkan untuk tujuan berbeda-beda. Laba selalu digunakan sebagai dasar untuk pembuatan dalam kontrak bisnis dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Laba juga digunakan sebagai dasar pemberian bonus bagi manajer, dan sebagai kriteria penilaian kinerja perusahaan. Perusahaan dengan laba yang tinggi akan terlihat memiliki kinerja yang lebih baik daripada perusahaan yang memiliki laba rendah. Manajer dapat menggunakan kesempatannya untuk memodifikasi laba dalam rangka untuk mempengaruhi pembuatan keputusan perusahaan. Beberapa perusahaan menaikkan laba mereka dengan tujuan untuk meningkatkan kesempatan dalam memperoleh perlindungan.

(6)

Kecenderungan untuk lebih memberikan perhatian pada laba, dan pengukuran kinerja manajemen berdasarkan laba, mendukung berbagai perilaku disfungsional, salah satu diantaranya adalah manajemen laba. Jika hal ini terjadi maka akan mengakibatkan rendahya kualitas laba. Rendahnya kualitas laba akan membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Laba dapat dikatakan berkualitas tinggi jika laba yang dilaporkan tersebut dapat digunakan oleh pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan yang terbaik.

Semakin agresif metode akuntansi yang diterapkan, semakin rendah kualitas laba; semakin rendah kualitas laba, semakin tinggi penetapan resiko (risk assessment); semakin tinggi penetapan resiko, semakin rendah nilai suatu perusahaan yang dianalisis (Hennie Van Greuning, 2005:32). Kualitas laba yang ditentukan secara konservatif dianggap lebih tinggi karena lebih kecil kemungkinan kinerja kini dan perkiraan kinerja masa depan dinyatakan terlalu tinggi dibandingkan dengan laba yang ditentukan dengan cara yang lebih agresif (K.R Subramanyam, 2005:134).

Dalam literatur penelitian akuntansi, terdapat berbagai pengertian kualitas laba dalam perspektif kebermanfaatan dalam pengambilan keputusan (decision usefulness). Schipper dan Vincent, 2003 (dalam Sutopo, 2009) mengelompokkan konstruk kualitas laba dan pengukurannya berdasarkan cara

(7)

menentukan kualitas laba, yaitu berdasarkan: sifat runtun-waktu dari laba, karakteristik kualitatif dalam rerangka konseptual, hubungan laba-kas-akrual, dan keputusan implementasi. Empat kelompok penentuan kualitas laba ini dapat diikhtisarkan sebagai berikut :

Pertama, berdasarkan sifat runtun-waktu laba. Kualitas laba meliputi: persistensi, prediktabilitas (kemampuan prediksi), dan variabilitas. Atas dasar persistensi, laba yang berkualitas adalah laba yang persisten yaitu laba yang berkelanjutan, lebih bersifat permanen dan tidak bersifat transitori. Persistensi sebagai kualitas laba ini ditentukan berdasarkan perspektif kemanfaatannya dalam pengambilan keputusan khususnya dalam penilaian ekuitas. Kemampuan prediksi menunjukkan kapasitas laba dalam memprediksi butir informasi tertentu, misalnya laba di masa datang. Dalam hal ini, laba yang berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai kemampuan tinggi dalam memprediksi laba di masa datang. Berdasarkan konstruk variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai variabilitas relatif rendah atau laba yang smooth.

Kedua, kualitas laba didasarkan pada hubungan laba-kas-akrual yang dapat diukur dengan berbagai ukuran, yaitu: rasio kas operasi dengan laba, estimasi abnormal/discretionary accruals (akrual abnormal/ kebijakan), dan estimasi hubungan akrual-kas. Dengan menggunakan ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas laba ditunjukkan oleh kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba yang semakin dekat dengan aliran kas operasi mengindikasi laba yang semakin berkualitas. Dengan menggunakan discretionary accruals,

(8)

laba berkualitas adalah laba yang mempunyai discretionary accruals yang kecil. Estimasi discretionary accruals dapat diukur secara langsung untuk menentukan kualitas laba. Semakin kecil discretionary accruals semakin tinggi kualitas laba dan sebaliknya.

Ketiga, kualitas laba dapat didasarkan pada Konsep Kualitatif Kerangka Konseptual (Financial Accounting Standards Board, FASB, 1978). Laba yang berkualitas adalah laba yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan yaitu yang memiliki karakteristik relevansi, reliabilitas, dan komparabilitas /konsistensi. Pengukuran masing-masing kriteria kualitas tersebut secara terpisah sulit atau tidak dapat dilakukan. Oleh sebab itu, dalam penelitian empiris koefisien regresi harga dan return saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait yang lain misalnya aliran kas) diinterpretasi sebagai ukuran-ukuran kualitas laba berdasarkan karakteristik relevansi dan reliabilitas.

Keempat, kualitas laba berdasarkan keputusan implementasi meliputi dua pendekatan. Dalam pendekatan pertama, kualitas laba berhubungan negatif dengan banyaknya pertimbangan, estimasi, dan prediksi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan. Semakin banyak estimasi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan dalam mengimplementasi standar pelaporan, semakin rendah kualitas laba, dan sebaliknya.

Kualitas laba yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah kualitas laba yang berkaitan dengan pengukuran kualitas akrual dari informasi laba yang dihasilkan perusahaan. Ini diukur dengan melihat ada tidaknya manajemen laba, yang dihitung dengan discretionary accruals. Manajemen laba adalah

(9)

tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi mengenai keuntungan ekonomis (economic advantage) yang sesungguhnya tidak dialami perusahaan, yang dalam jangka panjang tindakan tersebut bisa merugikan perusahaan ( Merchan dan Rockness, 1994, dalam Ma’ruf, 2006). Setiawati dan Na’im, 2000 (dalam Vidiyanto, 2009) mengemukakan bahwa manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Hal senada juga diungkapkan oleh Schipper, 1989 (dalam Vidiyanto, 2005) yang berpendapat bahwa manajemen laba adalah suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal yang dengan sengaja memperoleh beberapa keuntungan pribadi.

Dalam pendekatan ini, kualitas berhubungan negatif dengan besarnya keuntungan yang diambil oleh manajemen dalam menggunakan pertimbangan agar menyimpang dari tujuan standar (manajemen laba). Manajemen laba yang semakin besar mengindikasi kualitas laba yang semakin rendah, dan sebaliknya. Konsep pengukuran akrual ini dianggap paling sesuai untuk memprediksi kinerja perusahaan.

3. Good Corporate Governance (GCG)

Isu corporate governance muncul karena terjadinya pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian perusahaan, atau sering dikenal dengan masalah keagenan. Ada beberapa definisi dari GCG yang telah dikemukakan diantaranya oleh : Organization for Economics Cooperation and

(10)

Development (OECD), dan Forum for Corporate Governance in Indonesia

(FCGI). Seperti dijelaskan dalam OECD (dalam Warikki, 2008) Corporate Governance merupakan cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab kepada para pemiliknya (pemegang saham). Sedangkan penjelasan dalam FCGI (dalam Warikki, 2008), corporate governance adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya, yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.

Seperti diuraikan dalam OECD ( dalam Fala, 2007), terdapat empat prinsip dasar pengelolaan perusahaan yang baik. Keempat prinsip tersebut adalah :

1. Keadilan (fairness), menjamin perlindungan hak-hak para pemegang saham, termasuk hak-hak pemegang saham minoritas dan para pemegang saham asing, serta menjamin terlaksananya komitmen dengan para investor.

2. Transparansi (transparency), mewajibkan adanya suatu informasi yang terbuka, tepat, waktu, serta jelas dan dapat diperbandingkan yang menyangkut keadaan keuangan, pengelolaan perusahaan, dan kepemilikan perusahaan.

3. Dapat dipertanggungjawabkan (accountability), menjelaskan peran dan tanggung jawab, serta mendukung usaha untuk menjamin penyeimbangan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sebagaimana diawasi oleh dewan komisaris.

4. Pertanggungjawaban (responsibility), memastikan dipatuhinya peraturan serta ketentuan yang berlaku sebagai cerminan dipatuhinya nilai-nilai sosial.

Menurut Lins dan Wanock, 2004 ( dalam Warikki, 2008) secara umum mekanisme Good Corporate Governance dapat diklasifikasikan kedalam dua

(11)

kelompok. Pertama adalah mekanisme internal spesifik perusahaan yang terdiri atas struktur kepemilikan dan struktur pengelolaan. Kedua adalah mekanisme eksternal spesifik negara yang terdiri atas aturan hukum dan pasar pengendalian korporat. Penelitian ini akan memasukkan mekanisme internal spesifik perusahaan sebagai variabel pemoderasi, yaitu :

a. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen puncak (Morck, Schleifer, dan Vishny, 1989 dalam Boediono, 2005). Kualitas laba yang dilaporkan dapat dipengaruhi oleh kepemilikan manajerial. Tekanan dari pasar modal menyebabkan perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang rendah akan memilih metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan, yang sebenarnya tidak mencerminkan keadaan ekonomi dari perusahaan yang bersangkutan. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh pihak manajemen cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba yang berkaitan dengan kandungan informasi dalam laba.

b. Komisaris Independen

Peranan dewan komisaris juga diharapkan dapat membatasi tingkat manajemen laba melalui fungsi monitoring atau pelaporan keuangan. Komisaris Independen memiliki tanggung jawab pokok untuk mendorong diterapkannya prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate

(12)

Governance) di dalam perusahaan melalui pemberdayaan Dewan Komisaris agar dapat melakukan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada Direksi secara efektif dan lebih memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Melalui perannya dalam fungsi pengawasan, komposisi dewan dapat mempengaruhi pihak manajemen dalam menyusun laporan keuangan sehingga dapat diperoleh suatu laporan laba yang berkualitas. Keberadaan komisaris independen diharapkan dapat meningkatkan fungsi pengawasan terhadap manajemen, karena komisaris independen tidak mempunyai kepentingan yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk menjalankan kewajiban secara adil di perusahaan.

B. Tinjauan Penelitian Terdahulu Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian

Agung Suaryana (2006) Pengaruh Konservatisme Laba terhadap koefisien respon laba Cumulatif abnormal return, unexpected earning, dan daya prediksi laba sebagai variabel dependen, dan Konservatisme, persistensi laba, pertumbuhan laba, sebagai variabel independen Akuntansi konservatif mempunyai daya prediksi laba yang lebih rendah dibandingkan akuntansi non konservatif. Dwi Yana Amalia S.Fala (2007) Pengaruh Konservatisme Akuntansi terhadap penilaian ekuitas perusahaan Market to book ratio sebagai variabel dependen dan konservatisme sebagai variabel Konservatisme berpengaruh signifikan terhadap penilaian ekuitas perusahaan.

(13)

Good Corporate Governance (GCG) kepemilikan manajerial dan komposisi komisaris independen sebagai variabel moderasi dewan komisaris independen sebagai salah satu mekanisme GCG dapat menjadi variabel pemoderasi yang dapat menginteraksi hubungan konser vatisme dengan penilaian ekuitas. Sedangkan mekanisme GCG lainnya yaitu kepemilikan manajerial tidak dapat menjadi variabel pemoderasi yang dapat menginteraksi hubungan konser vatisme dengan penilaian ekuitas perusahaan. Magdalena Warikki (2008) Pengaruh Konservatisme Akuntansi terhadap Kualitas Laba Perusahaan dimoderasi oleh Good Corporate Governance (GCG) Discretionary accruals sebagai variabel dependen dan konservatisme sebagai variabel independen serta kepemilikan manajerial dan komposisi komisaris independen sebagai variabel moderasi Konservatisme berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba. Sedangkan dua variabel GCG yaitu kepemilikan manajerial dan komposisi komisaris independen tidak dapat menjadi variabel pemoderasi yang dapat menginteraksi konservatisme dengan kualitas laba perusahaan.

(14)

Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah : 1. Pada penelitian terdahulu populasinya adalah seluruh perusahaan

manufaktur yang terdatar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sedangkan penelitian yang dilakukan penulis membatasi pada kategori perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Penelitian yang dilakukan penulis memiliki periode waktu penilaian yang lebih panjang yaitu selama lima tahun (2004-2008), sedangkan penelitian sebelumnya memiliki periode selama empat tahun (2004-2007).

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka konseptual akan menghubungkan antara variable-variabel penelitian, yaitu variabel dependen dan variabel independen (Maya, 2009).

Konservatisme menyatakan bahwa akuntan harus melaporkan informasi akuntansi yang terendah dari beberapa kemungkinan nilai untuk aktiva dan pendapatan, serta yang tertinggi dari beberapa kemungkinan nilai kewajiban dan beban. Lo, 2005 (dalam Warikki, 2008) mendefinisikan konservatisme sebagai suatu pandangan pesimistik dalam akuntansi Penerapan konservatisme diharapkan akan membawa pengaruh terhadap kualitas laba perusahaan, khususnya kualitas akrual. Besarnya laba yang dihasilkan

(15)

perusahaan sering dijadikan tolak ukur untuk menilai kinerja manajemen. Rendahnya kualitas laba akan membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor dan kreditor. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan keuangan. Selain prinsip konservatisme, penerapan

Good Corporate Governance (GCG), khususnya mekanisme internal (kepemilikan manajerial dan komposisi komisaris independen) diduga juga mempunyai pengaruh terhadap hubungan konservatisme dan kualitas laba akrual. Atas dasar pemahaman tersebut, maka dibuatlah kerangka konseptual penelitian ini, yaitu :

H3 H1 H2 Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Konservatisme Akuntansi (X1)

Kualitas Laba Akrual (Y) Komposisi Komisaris Independen (X3) Kepemilikan Manajerial (X2)

(16)

Keterangan :

Y = Kualitas Laba Akrual X1 = Tingkat konservatisme X2 = Kepemilikan Manajerial

X3 = Komposisi komisaris independen 2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis menurut Erlina (2008:49), menyatakan hubungan yang diduga secara logis antara dua variabel atau lebih dalam rumusan proposisi yang dapat diuji secara empiris. Hipotesis dari penelitian yang akan dilakukan berdasarkan permasalahan dan tujuan adalah sebagai berikut :

H1 : Konservatisme akuntansi berpengaruh terhadap kualitas laba akrual pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

H2 : Kepemilikan manajerial mampu memoderasi hubungan antara konservatisme akuntansi dengan kualitas laba akrual pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

H3 : Komposisi komisaris independen mampu memoderasi hubungan antara konservatisme akuntansi dengan kualitas laba akrual pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Pada pertemuan rutin tersebut, para KSK dan staf BPS yang hadir juga menceritakan proses pengolahan data yang akan berlangsung, mendiskusikan kaitan antara proses pengolahan

Setelah kelompok terbentuk peneliti sedikit mengulas dan menjelaskan mekanisme pembelajaran Active Learning Tipe Rotating Trio Exchange (RTE) yang kemarin sudah

fitoplankton tidak selalu merata pada setiap lokasi di dalam suatu ekosistem, karena keberadaan fitoplankton sangat tergantung pada kondisi lingkungan perairan yang

3) Pengembangan ke deapan Pondok Pesantren Pangung Tulungagung Adapun teknik pengambilan sumber data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik bola salju (snow

Musrenbangkal adalah musyawarah antara BPK, Pemerintah Kalurahan, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kalurahan untuk menetapkan prioritas, program, kegiatan,

Adpaun hasil dari kegiatan pendampingan pembagian tanggungjawab pengembangan wisata budaya terhadap stakeholders yang terlibat adalah sebagai berikut : Peran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penambahan lidah buaya memberikan perbedaan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap viskositas dan kecepatan meleleh

Untuk mengetahui awal siswa tentang materi pelajaran, maka terlebih dahulu siswa diberikan soal. Maka dari hasil pengajaran pada pemberian tes awal yang telah diberikan