A. Kemampuan Komunikasi Matematis
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan non verbal. Komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan suatu tujuan proses pembelajaran, terutama pembelajaran matematika di sekolah. Melalui komunikasi suatu ide atau gagasan dapat didiskusikan, diperbaiki dan juga dikembangan.
Komunikasi dibagi menjadi dua yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tertulis. Komunikasi lisan yaitu interaksi belajar-mengajar berintikan penyampaian informasi yang berupa pengetahuan utama dari guru kepada siswa. Dalam keadaan ideal informasi dapat pula disampaikan oleh siswa kepada guru dan kepada siswa yang lainya. Informasi disampaikan oleh guru dalam bentuk ceramah terhadap kelas, atau kelompok. Sedangkan komunikasi tertulis adalah interaksi belajar mengajar berintikan penyampaian informasi yang berupa pengetahuan secara tertulis (Syaodih, 2009)
siswa untuk menyatakan dan menafsirkan gagasan matematis secara lisan, tertulis, atau mendemonstrasikan apa yang ada dalam persoalan matematika.
Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi matematis merupakan kecakapan siswa dalam menyampaikan ide-ide matematisnya baik secara lisan, tertulis, gambar, diagram, menggunakan benda, menyajikan dalam bentuk aljabar, atau menggunakan simbol matematika. Dengan memiliki kemampuan komunikasi matematis yang baik, siswa akan lebih mudah dalam memahami konsep dan memecahkan masalah matematika.
Adapun indikator kemampuan komunikasi matematis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a. Merefleksikan benda-benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika adalah siswa dapat menuliskan kedalam ide matematis sesuai pengetahuanya sendiri mengenai benda-benda nyata, gambar, dan diagram.
b. Membuat model situasi atau persoalan menggunakan metode tertulis, konkrit, grafik, dan aljabar adalah penekanan pada kemampuan siswa dalam menjelaskan dalam tulisan, maupun membuat sketsa atau gambar tentang ide-ide matematis yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah. c. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis adalah
siswa dapat menangkap suatu materi yang dituliskan oleh guru.
apa yang telah dipelajari dan membuat suatu pertanyaan mengenai materi apa yang dipelajari.
B. Problem Based Learning (PBL)
Menurut Hamdani (2011), Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang merancang masalah-masalah yang dapat menuntut pembelajar untuk mendapat pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Problem Based Learning adalah inovasi dalam pembelajaran karena PBL mengoptimalkan kemampuan berfikir siswa melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan (Rusman, 2012).
Problem Based Learning terdiri dari menyajikan masalah yang
autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inquiri. Problem Based Learning
merupakan suatu model pembelajaran berdasarkan banyaknya permasalahan yang membutuhkan pembelajaran yang autentik yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan tersebut.
besar Problem Based Learning terdiri dari kegiatan menyajikan kepada siswa suatu masalah yang autentik dan bermakna serta memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inquiri.
Adapun tahap-tahap Problem Based Learning menurut (Rusman, 2012) adalah sebagai berikut :
a. Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan dan memfasilitasi sumber belajar yang diperlukan, dan memantau serta memotivasi siswa dalam proses belajar.
b. Mengorganisasikan siswa dalam belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
c. Membimbing pengalaman individu/ kelompok
Guru mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk penjelasan dan pemecahan masalah. d. Mengembangkan dan menyajikan hasil
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu untuk berbagi tugas dengan temanya.
e. Menganalisis dan mengevaluasi masalah
penyelidikan penyelidikan yang dilakukan siswa dan proses yang siswa gunakan.
C. Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung adalah suatu model pembelajaran yang bersifat
teacher center. Menurut Trianto (2009), model pembelajaran langsung adalah
salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Selain itu, pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang menitik beratkan pada penguasaan konsep dan juga perubahan perilaku dengan melakukan pendekatan secara deduktif. Di sini peran dari guru memang sangat penting sebagai penyampai informasi. Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan procedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah (Depdiknas, 2005)
Ciri-ciri model pengajaran langsung adalah sebagai berikut:
1. Adanya tujuan pemebelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar.
2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
Selain itu, juga dalam pembelajaran langsung harus memenuhi beberapa hal, yakni: (1) Ada alat yang akan di demonstrasikan. (2) Harus mengikuti tingkah laku mengajar (sintaks).
Model pembelajaran langsung memiliki lima fase tahapan. Fase-fase tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Sintak pembelajaran Langsung
Fase Peran guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan TPK, informasi, latar belakan pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
Fase 2
Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Guru mendemonstrasikan
keterampilan dengan benar atau menyajikan tahap demi tahap.
Fase 3
Membimbing pelatihan
Guru merencanakan dan
membimbing bimbingan pelatihan awal.
Fase 4
Mengecek pemehaman dan memberi umpan balik
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, kemudian member umpan balik. Fase 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan terapan
Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
memperhatikan, mendengarkan, dan tanya jawab yang terencana (Trianto, 2009).
D. Kerangka Berfikir
Matematika merupakan suatu bahasa dan pembelajaranya sarat dengan simbol, lambang, grafik, dan tabel yang hendaknya diinterpretasikan lebih dalam sehingga siswa mampu mengkomunikasikan makna yang tersirat dan terkandung dalam lambang-lambang, grafik atau tabel tersebut. Dari makna implisit tersebut siswa dapat memberikan gagasan terkait dengan hasil dari merefleksikan simbol tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran matematika hendaknya mengajak siswa untuk berinteraksi secara aktif dengan temanya di kelas. Interaksi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan dan mengembangkan kemampuanya dalam mengkomunikasikan ide-ide dan gagasan-gagasanya. Selain itu siswa dapat mengevaluasi dan mendiskusikan hasil dari tiap-tiap gagasan yang disampaikan. Siswa dikatakan mempunyai kemampuan komunikasi matematis jika dapat merefleksikan suatu gambar kedalam ide-ide matematika, menyatakan permasalahan metematika dengan menggunakan simbol-simbol dan memberikan penjelasan dengan penulisanya sendiri secara matematis.
pemahaman dan memberi umpan balik, serta pemberian latihan lanjutan lebih banyak direncanakan oleh guru sehingga aktivitas komunikasi matematis yang dibangun antara siswa dengan guru kurang berpengaruh pada proses aktivitas perefleksian suatu benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide-ide matematika serta pembuatan model situasi atau persoalan menggunakan metode lisan, tertulis, konkrit, grafik, dan aljabar dan juga membaca serta menjelaskan presentasi matematis yang telah dipelajari menjadi kurang bermakna pada diri siswa.
Sedangkan tahap-tahap pembelajaran menggunakan Problem Based
Learning (PBL) memberi kesempatan lebih kepada siswa untuk memecahkan
masalah matematika secara kolaboratif antara siswa dengan siswa dan guru dalam proses inquiri. Beberapa prinsip PBL ditekankan pada peningkatan dan perbaikan cara belajar dengan tujuan untuk menguatkan konsep dalam situasi nyata, mengembangkan keterampilan membuat keputusan, menggali informasi, kerjasama dan komunikasi. Dengan tahapan Problem Based
Learning (PBL) yaitu orientasi siswa pada masalah, identifikasi informasi,
metode tertulis, konkrit, grafik, dan aljabar dan juga membaca serta menjelaskan presentasi secara tertulis apa yang telah dipelajari menjadi bermakna. Diduga Problem Based Learning (PBL) berpengaruh untuk menyelesaikan permasalahan kemampuan komunikasi matematis siswa.
Penelitian ini menggunakan Problem Based Learning (PBL) yaitu suatu pembelajaran berbasis masalah untuk belajar. Dimaksudkan siswa setelah melewati tahap pembelajaran berbasis masalah dapat menyampaikan penemuan pemecahan masalah dalam kelompok belajar secara faktual.
E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya hipotesis yang digunakan
adalah : ”Diduga terdapat pengaruh Problem Based Learning (PBL) dan
pembelajaran Langsung terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa