11 1. Pembelajaran IPS
a. Belajar
Belajar merupakan sesuatu yang kompleks dan terjadi pada semua individu yang berlangsung seumur hidup. Belajar dapat berlangsung di mana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. Bambang Warsita (2008: 62), mengemukakan konsep belajar sebagai suatu upaya atau proses perubahan perilaku seseorang sebagai akibat interaksi peserta didik dengan berbagai sumber belajar yang ada di sekitarnya. Rusman (2012: 85), mengemukakan belajar merupakan suatu aktivitas yang dapat dilakukan secara psikologis maupun fisiologis.
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku melalui aktivitas psikologis dan fisiologis. Aktivitas psikologis dapat berupa berfikir, menyimak, menelaah, menyimpulkan, menganalisis, dan sebagainya. Aktivitas fisiologis dapat berupa praktik, percobaan, latihan, membuat produk, dan sebagainya. Proses belajar siswa harus disesuaikan dengan perkembangan dan lingkungannya. Siswa harus mampu belajar dari berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekitarnya. Sumber belajar dapat berupa peristiwa atau masalah yang terjadi dalam diri individu maupun lingkungannya.
Belajar mempunyai prinsip-prinsip yang dapat dijadikan dasar atau acuan dalam kegiatan belajar. Dimyati dan Mudjiono (2002: 42),
mengemukakan prinsip-prinsip belajar meliputi: 1) Perhatian dan motivasi; 2) Keaktifan belajar; 3) Keterlibatan langsung/pengalaman belajar; 4) Pengulangan belajar; 5) Tantangan belajar; 6) Pemberian balikan dan penguatan belajar; 7) Perbedaan individual.
Belajar mengandung prinsip-prinsip yang penting dalam prosesnya. Perhatian dan motivasi harus ada pada siswa sebagai pendorong awal kegiatan belajar. Setiap siswa harus aktif dan terlibat langsung dalam pembelajaran agar mendapatkan pengalaman belajar. Setiap siswa harus mengulang kembali kegiatan belajarnya agar lebih dapat memahami. Tantangan belajar dapat menjadi pendorong bagi siswa. Pemberian umpan balik dan penguatan belajar perlu diberikan kepada siswa agar siswa lebih mendalami. Perbedaan individual pada setiap siswa harus menjadi perhatian khusus oleh guru dalam setiap kegiatan belajar.
Berdasarkan teori di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut dapat berupa perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Belajar menuntut adanya perubahan yang relatif permanen pada pengetahuan dan perilaku seseorang melalui proses dan pengalaman yang telah dialami.
Berdasarkan teori tentang belajar di atas dapat disimpulkan bahawa belajar merupakan usaha sadar seseorang sebagai bentuk
perubahan tingkah laku. Belajar merupakan aktivitas psikologis dan fisiologis.
b. Pembelajaran
Pembelajaran merupakan komponen yang sangat penting dalam sebuah proses belajar. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 A ayat 20, mengemukakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Hamalik Oemar (2005: 57), mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Rusman (2012: 94), mengemukakan pembelajaran merupakan proses komunikasi antara siswa, guru, dan sumber belajar.
Pembelajaran merupakan proses transfer ilmu pengetahuan dari satu pihak kepada pihak lain. Proses tersebut dapat berlangsung secara langsung melalui tatap muka, maupun tidak langsung seperti melalui media. Proses belajar tidak akan dapat berjalan tanpa adanya pembelajaran. pembelajaran dapat dilaksanakan oleh guru maupun siswa. Kedua pihak tersebut saling mempengaruhi melalui interaksi yang terbangun dalam proses belajar mengajar.
Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam proses belajar. Bambang Warsita (2008: 269), mengemukakan strategi pembelajaran adalah seperangkat cara atau teknik yang ditempuh oleh guru dan
siswa dalam melakukan upaya terjadinya suatu perubahan tingkah laku atau sikap. Strategi pembelajaran merupakan cara yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Strategi pembelajaran sangat menentukan dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Tercapai tidaknya sebuah tujuan pembelajaran sangat tergantung pada strategi pembelajaran yang diterapkan baik oleh guru maupun siswa.
Strategi pembelajaran mempunyai beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya. Bambang Warsita (2008: 272), mengemukakan secara garis besar komponen strategi pembelajaran dapat dikelompokan sebagai berikut: a) Urutan kegiatan pembelajaran yang meliputi pendahuluan, penyajian, dan penutup; b) Metode Pembelajaran; c) Media Pembelajaran; d) Alokasi waktu untuk tatap muka; e) Pengelolaan kelas. Komponen-komponen tersebut perlu diperhatikan agar kegiatan pembelajaran dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Salah satu komponen penting dalam strategi pembelajaran adalah media yang dipakai. Setiap media pembelajaran mempunyai karakteristik yang berbeda. Hal tersebut membuat sebuah media pembelajaran tidak selalu sesuai dengan tujuan mata pelajaran yang
dilaksanakan. Seorang guru harus mampu memilih dan menggunakan metode yang baik dan tepat dalam pembelajaran. Misalnya dalam penerapan strategi pembelajaran pada pembelajaran IPS.
Media pembelajaran yang dipakai dalam mata pelajaran IPS harus disesuaikan dengan tujuan IPS itu sendiri, yaitu mampu dalam pemecahan masalah-masalah sosial yang ada di lingkungan. Berdasarkan tujuan tersebut, maka media pembelajaran yang tepat untuk dilaksanakan adalah e-learning. Melalui penerapan e-learning baik guru maupun siswa akan lebih mudah dalam mencari materi, sumber belajar, peristiwa atau permasalahan sosial di mana pun, dan membuka pengetahuan yang luas. Hal tersebut dapat mempermudah siswa untuk berfikir kritis dan berusaha memecahkan masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya.
Berdasarkan teori pembelajaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi yang terjalin antara siswa, guru, dan sumber belajar. Pembelajaran dapat terjalin dengan adanya guru, siswa, fasilitas, material, dan prosedur yang dapat saling mempengaruhi. Strategi pembelajaran merupakan komponen yang sangat penting dalam pembelajaran.
c. Ilmu Pengetahuan Sosial
1) Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan integrasi dari cabang-cabang ilmu sosial. Cabang-cabang-cabang ilmu sosial meliputi sejarah,
geografi, sosiologi, ekonomi, politik, hukum, antropologi, dan budaya. Trianto (2010: 171), mengemukakan ilmu pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial. Numan Soemantri (2001: 92), mengemukakan IPS merupakan penyerdehanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang disederhanakan dan disajikan secara ilmiah untuk tujuan pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
IPS adalah salah satu mata pelajaran yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah. IPS berisi tentang materi ilmu-ilmu sosial. Materi tersebut merupakan hasil dari keterpaduan cabang-cabang ilmu sosial yang saling berkaitan. Cabang-cabang ilmu sosial yang saling terkait diintegrasikan dan kemudian akan menghasilkan materi atau topik yang kompleks.
2) Karakteristik Ilmu Pengetahuan Sosial
Mata pelajaran IPS mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Trianto (2010: 174), mengemukakan bahwa karakteristik mata pelajaran IPS di SMP/MTs antara lain sebagai berikut: 1) IPS merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, humaniora, pendidikan, dan agama; 2) SK dan KD IPS berasal dari struktur keilmuan cabang-cabangnya yang dikemas
menjadi topik tertentu; 3) SK dan KD IPS menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdispliner dan multidisipliner; 4) SK dan KD IPS menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya perjuangan hidup agar survive seperti perumusan kebutuhan, kekuasaan, keadilan, dan jaminan sosial.
Karekteristik IPS terlihat pada unsurnya. IPS mempunyai unsur kompleks yang merupakan gabungan dari ilmu-ilmu sosial. Karakteristik IPS selain terlihat dari unsurnya, juga pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS. SK dan KD IPS merupakan sebuah tema yang merupaka gabungan dari dari ilmu-ilmu sosial. Tema tersebut dapat berupa masalah sosial, peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, serta kebutuhan manusia.
IPS merupakan mata pelajaran yang mempunyai karakteristik tersendiri, sehingga dapat membedakan dengan mata pelajaran lain. IPS merupakan mata pelajaran yang mengintegrasikan cabang-cabang ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. SK dan KD merupakan sebuah tema yang terstruktur dari cabang-cabangnya, SK dan KD IPS berupa masalah sosial dan peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat.
3) Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial
Mata pelajaran IPS mempunyai tujuan yang baik dan mulia. Hal tersebut berkaitan dengan konsep IPS yang sangat dekat dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Trianto (2010: 176), mengemukakan bahwa tujuan IPS adalah untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental yang positif terhadap perbaikan segala ketimpangan sosial yang terjadi, dan terampil mengatasi masalah sosial yang terjadi pada dirinya sendiri maupun masyarakat sekitar. Supardi (2011: 186), mengemukakan tujuan IPS yaitu: a) membentuk siswa menjadi warga negara yang baik dan sadar akan hak dan kewajibannya, sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan, bersifat demokratis, tanggung jawab, memiliki identitas dan kebanggan nasional; b) mengembangkan kemampuan berpikir dan inkuiri dalam memahami, mengidentifikasikan, menganalisis, dan memiliki ketrampilan sosial untuk ikut berpartisipasi memecahkan masalah-masalah sosial; c) melatih belajar mandiri dan membangun kebersamaan; d) mengembangkan kecerdasaan dan ketrampilan sosial; e) mampu menghayati nilai-nilai hidup yang baik; f) mengembangkan kesadaran dan kepedulian sosial.
IPS mempunyai tujuan yang mulia. Tujuan utama mata pelajaran IPS adalah mempersiapkan dan menjadikan siswa menjadi warga negara yang baik. Siswa harus mampu memahami konsep
yang dipelajari di sekolah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan memiliki kesadaran, kepekaan, dan kepedulian yang tinggi terhadap masalah sosial dan mampu memecahkannya. Siswa tidak hanya mampu menguasai serentetan materi atau pokok-pokok bahasan tertentu saja, namun juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan.
d. Pembelajaran IPS
Pembelajaran IPS merupakan kegiatan penyampaian ilmu pengetahuan dalam pelajaran IPS. Pembelajaran IPS yang diselenggarakan pada umumnya harus disesuaikan dengan konsep dan tujuan mata pelajaran IPS tersebut. Konsep dan tujuan dari pelajaran IPS harus diintegrasikan dalam pembelajaran agar tujuan intruksional pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Berdasarkan konsep dan tujuan pelajaran IPS, pembelajaran IPS yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah harus mampu membekali siswa dengan ketrampilan yang dapat diunggulkan dalam kehidupan. Pembelajaran juga harus mampu membuka wawasan siswa menjadi lebih terbuka dan luas. Pembelajaran yang dilaksanakan harus mampu melatih kemampuan berfikir kritis siswa terhadap suatu fenomena dan mampu memecahkannya dengan melihat dari beberapa sudut pandang yang kompleks.
Guru harus mampu menciptakan pembelajaran IPS yang dapat menunjang pemahaman siswa tentang konsep dan tujuan IPS.
Pembelajaran harus melibatkan metode, media, dan sumber belajar yang mampu mendukung tujuan pembelajaran. Pemilihan metode, media, dan sumber belajar yang tepat dengan karakteristik IPS mampu menunjang tercapainya tujuan intruksional pembelajaran. Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, e-learning dapat menjadi media penunjang dalam pembelajaran IPS.
Pembelajaran IPS merupakan proses interaksi antara siswa, guru, dan sumber belajar pada ilmu-ilmu sosial. Pembelajaran IPS harus disesuaikan dengan karakteristik dan tujuan IPS berdasarkan kurikulum sekolah. pembelajaran IPS melibatkan beberapa komponen penting seperti media, metode, dan sumber belajar.
Pembelajaran IPS adalah interaksi antara guru, siswa, dan sumber belajar dalam memberikan transfer ilmu-ilmu sosial. Pembelajaran IPS harus menggunakan strategi yang tepat dalam pelaksanaannya. Salah satu komponen penting dalam strategi pembelajaran adalah media pembelajaran. Pembelajaran IPS memperlukan media yang mampu menjadi sumber belajar, penyampaian materi dan pemberian tugas. 2. E-Learning
a. Pengertian E-Learning
Himpunan masyarakat Amerika untuk kegiatan pelatian dan pengembangan (The American Society for Training and Development), dalam Rusman (2012: 291), mengemukakan definisi e-learning sebagai berikut:
“E-learning is a broad set of applications and processes which include web-based learning, computer-based learning, virtual and digital classrooms. Much of this is delivered via the internet.” Definisi tersebut menyatakan bahwa e-learning merupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web, komputer, kelas virtual, dan kelas digital. Materi dalam pembelajaran tersebut dikirim melalui media internet.
Munir (2009: 169), mengemukakan e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan bantuan perangkat elektronik, khususnya perangkat komputer. E-Learning lebih memfokuskan pada proses belajar, perangkat komputer hanya sebagai medianya.
E-Learning merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar dengan memanfaatkan teknologi informasi yaitu internet, sehingga dalam proses belajar mengajar guru dapat menyampaikan materi atau bahan ajar dengan mengunakan komputer melalui jaringan internet. Pemanfaatan teknologi informasi berupa internet, intranet, atau jaringan komputer lain sebagai media dalam proses belajar mengajar.
b. Karakteristik E-Learning
E-Learning mempunyai beberapa karekteristik dalam
pelaksanaannya. Munir (2009: 170), mengemukakan karakteristik e-learning antara lain: a) Memanfaatkan jasa teknologi elektronik sehingga dapat memperoleh informasi dan melakukan komunikasi dengan mudah dan cepat antara guru dengan siswa; b) Memanfaatkan media komputer seperti jaringan komputer; c) Menggunakan materi
pembelajaran untuk dipelajari secara mandiri oleh siswa; d) Materi pembelajaran disimpan di komputer sehingga dapat diakses siapa saja, kapan saja, di mana saja sesuai dengan keperluannya; e) Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran, mengetahui hasil belajar, administrasi pendidikan, serta untuk memperoleh informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.
Rusman (2012: 292), mengemukakan karakteristik e-learning ada empat, yaitu: a) Interactivity (interaktivitas), tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung seperti chatting atau massanger, maupun tidak langsung seperti forum, mailing list, atau buku tamu; b) Independency (kemandirian), fleksibilitas dalam penyediaan waktu, tempat, pengajar, dan bahan ajar sehingga pembelajaran lebih terpusat; c) Accessbility (aksebilitas), sumber-sumber belajar lebih mudah diakses melalui jaringan internet; d) Enrichment (pengayaan), kegiatan pembelajaran, presentasi materi pelajaran sebagai pengayaan memungkinkan menggunakan teknologi informasi.
Pelaksanaan e-learning mempunyai karakteristik, di mana e-learning memanfaatkan media komputer dan jaringan internet yang digunakan dalam penyampaian materi pelajaran, hasil dan sumber belajar, serta administrasi sekolah. Pelaksanaan e-learning tidak hanya dalam penyajian materi secara online, akan tetapi juga untuk
memperoleh informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber informasi yang bersifat online.
Berdasarkan beberapa teori tentang e-learning, dapat disimpulkan bahwa e-Learning merupakan proses pembelajaran modern dengan bantua jaringan internet. Komponen dalam e-learning seperti media komputer dan perangkatnya.
c. Kelebihan E-Learning
E-Learning mempunyai beberapa kelebihan dalam
pelaksanaannya. Munir (2009: 174), mengemukakan bahwa kelebihan e-learning dalam pembelajaran adalah: a) Meningkatkan interaksi pembelajaran; b) Mempermudah interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja; c) Memiliki jangkauan yang lebih luas; d) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.
Rusman (2012:299), mengemukakan kelebihan pembelajaran dengan e-learning antara lain: a) Memungkinkan setiap dimanapun, kapanpun untuk belajar; b) Peserta didik dapat belajar sesuai dengan karakteristik dirinya sendiri karena pembelajaran dengan e-learning ini lebih bersifat individual; c) Lebih mendorong peserta didik untuk lebih aktif dan mandiri.
Berdasarkan beberapa kelebihan e-learning dalam proses pembelajaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa e-learning sangat membantu dalam proses pembelajaran sebagai media pendukung
belajar siswa. Hal tersebut karena e-learning dilaksanakan bukan pada saat tatap muka dengan guru.
E-Learning mempunyai beberapa kelebihan apabila diterapkan dalam pembelajaran. Pembelajaran kepada siswa tidak hanya lagi terbatas di ruang kelas, tapi dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
d. Kekurangan E-Learning
E-Learning mempunyai beberapa kekurangan dalam
pelaksanaannya. Munir (2009: 176), mengemukakan bahwa kekurangan e-learning dalam pembelajaran adalah: a) Menjadikan guru dengan siswa kurang akrab; b) Aspek pendidikan akan lebih terabaikan karena lebih fokus pada aspek teknologinya; c) Kurang menekankan aspek afektif siswa, d) Guru yang tidak menguasai teknologi, mempunyai motivasi rendah, dan tidak mampu belajar mandiri akan kesulitan dalam pembelajran; e) Keterbatasan software yang biayanya masih relatif mahal; f) Kurangnya keterampilan dan pengetahuan mengoperasionalkan komputer; g) Keterbatasan fasilitas teknis.
Rusman (2012: 302), mengemukakan kekurangan pembelajaran dengan e-learning adalah: a) Keberhasilan pembelajaran ini bergantung pada kemandirian dan motivasi peserta didik; b) Akses untuk mengikuti pembelajaran berbasis web seringkali menjadi masalah bagi peserta didik; c) Peserta didik akan bosan jika jaringan yang digunakan tidak memadai untuk mengakses informasi.
E-Learning mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kekurangan e-learning terdapat pada sumber daya manusia, fasilitas, dan pembelajaran. Kurangnya sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan e-learning dalam pembelajaran membuat pembelajaran tidak dapat dilaksanakan oleh semua guru, terutama guru-guru yang sudah lanjut usia.
E-Learning mempunyai beberapa kelemahan yang dapat ditemui apabila diterapkan dalam suatu pembelajaran. Kekurangan tersebut diantaranya adalah sumber daya. Sumber daya baik yang berupa fasilitas maupun SDM yang kurang sehingga dapat pelaksanaan e-learning.
e. Fasilitas Sistem E-Learning
Aplikasi sistem e-learning dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Munir (2009: 190), mengemukakan terdapat tiga fasilitas yang ditawarkan sistem e-learning yaitu:
1) Fasilitas khusus, yaitu fasilitas yang hanya dapat diakses oleh guru, pegawai administrasi, dan pihak lain yang berwenang dalam web server. Untuk menggunakan fasilitas ini diperlukan password yang hanya pihak-pihak tertentu yang mengetahuinya. Data yang termasuk dalam fasilitas khusus adalah data pribadi, sistem ujian dan nilai, pembayaran uang sekolah, materi pembelajaran lengkap, dan soal.
2) Fasilitas umum, yaitu fasilitas yang dapat diakses secara umum oleh semua pengguna web. Pengguna akan diberikan fasilitas berupa forum diskusi, proses pendaftaran, cara mengakses, e-mail, dan sebagainya.
3) Fasilitas penunjang, yaitu fasilitas yang memberikan kemudahan kepada pengguna yang mendukung terhadap kelancaran proses pembelajaran, seperti link, download, dan upload.
Pada umumnya fasilitas yang diperlukan dalam e-learning ada tiga, yaitu fasilitas khusus, umum, dan penunjang. Fasilitas khusus merupakan fasilitas yang hanya dapat diakses oleh guru, pegawai administrasi, dan pihak lain yang berwenang. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat diakses secara umum oleh semua pengguna.Fasilitas penunjang merupakan fasilitas yang memberikan kemudahan kepada pengguna dalam mengakses.
Fasilitas yang terdapat dalam e-learning merpakan sistem yang dapat ditemukan dalam pelaksanaannya. Pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapa saja secara mudah dan cepat melalui fasilitas sistem e-learning tersebut.
3. Pemanfaatan E-Learning dalam Pembelajaran IPS
E-Learning merupakan terobosan baru dalam dunia pendidikan. Munir (2009: 169), mengemukakan e-learning sebagai sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Istilah e-learning biasanya ditujukan sebagai usaha untuk
membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah ke dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi internet.
E-Learning mempunyai beberapa manfaat dalam pembelajaran. Munir (2009: 171), mengemukakan manfaat e-learning dalam pembelajaran antara lain: a) Guru dapat berkomunikasi secara mudah dan cepat tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu; b) Guru dapat menggunakan materi pembelajaran yang ruang lingkup dan urutannya sudah sistematis terjadwal melalui internet sehingga dapat menilai seberapa jauh materi yang telah disajikan; c) Pembelajaran yang sulit dan rumit menjadi mudah dan sederhana; d) Mempermudah dan mempercepat mengakses informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran; e) Dapat dijadikan media untuk berdiskusi antar siswa maupun antara siswa dengan guru; f) Guru menjadi lebih aktif mempelajari materi pembelajaran secara mandiri; g) Pembelajaran lebih efisien dari segi tempat, waktu, dan biaya.
Pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran ada beberapa bentuk, Rusman (2012: 309), mengemukakan e-learning mempunyai peran sebagai sumber belajar siswa. Hal tersebut dikarenakan dalam pelaksanaan e-learning harus terhubung dengan jaringan internet untuk dapat mengaksesnya. Rusman (2012: 307), mengemukakan salah satu kelebihan e-learning adalah proses pembelajaran tidak terbatas pada waktu tatap muka. Bahan ajar atau materi dapat dikemas dan dimasukan ke dalam jaringan sehingga dapat diakses melalui internet. Soekartawi dalam Made
Wena (2010: 213), mengemukakan melalui e-learning guru dapat memberikan tugas tentang pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan. Guru juga dapat melihat tugas-tugas yang telah terkumpul, melihat jawaban siswa, serta memberitahukan hasilnya.
Berdasarkan teori di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran IPS dibagi menjadi tiga, antara lain:
a. Pemanfaatan E-Learning Sebagai Sumber Belajar IPS
E-Learning dapat digunakan sebagai sumber belajar. Munir (2009: 176), mengemukakan seseorang dapat belajar dengan sumber belajar yang telah dikemas secara elektronik dan siap diakses melalui online learning. Lantip dan Riyanto (2011: 231), mengemukakan siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Rusman dkk (2011: 289), mengemukakan e-learning dapat memperkaya kajian materi pelajaran selain dengan buku teks.
E-Learning dalam kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran IPS sangat penting dilakukan. Hal tersebut karena IPS merupakan pelajaran yang sangat dekat dengan fenomena yang ada di masyarakat. Melalui e-learning pembelajaran IPS lebih kontekstual. Siswa dapat mengetahui sebuah fenomena yang baru dan memancing untuk berfikir kritis terhadap penyelesaiannya. Siswa tidak hanya menerima pelajaran dari guru atau dari buku saja, namun siswa dapat menemukan sendiri informasi dan pengetahuan mengenai suatu permasalahan.
Peran siswa dalam pembelajaran bukan sebagai objek yang pasif, namun menjadi subjek yang aktif, kreatif, dan partisipan. Munir (2009:43), mengemukakan melalui e-learning siswa tidak hanya mengingat fakta-fakta atau mengungkap kembali informasi yang diterima, melainkan mampu menemukan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan. Misalnya dalam materi penyimpangan sosial, siswa dapat mencari data angka tingkat kejahatan di kota-kota besar di Indonesia melalui internet. Data-data tersebut kemudian dapat menjadi bahan diskusi yang menarik dalam pembelajaran IPS.
Pemanfaatan e-learning sebagai sumber belajar IPS dapat dilakukan siswa dengan cara, siswa mengkases jaringan internet melalui komputer, setelah itu mereka mencari bahan ajar yang sebelumya sudah dikemas dan dimasukkan ke dalam jaringan sehingga dapat diakses melalui internet. Salah satu bentuk sumber belajar melalui e-learning seperti buku-buku online, buku online tersebut disediakan oleh guru dengan cara mengupload, selain itu guru juga memberikan link atau alamat web yang berisi tentang bahan belajar, hal ini bisa dijadikan siswa sebagai sumber belajar serta mencari informasi.
Menggunakan internet dengan segala fasilitasnya dapat memberikan kemudahan. Melalui e-learning siswa dapat mengakses berbagai sumber informasi yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Pencarian bahan belajar tersebut dapat secara langsung
meningkatkan pengetahuan siswa karena sumber belajar mereka tidak terbatas hanya dengan buku teks. Internet dapat dijadikan sebagai sumber belajar yang fleksibel dari segi waktu dan tempat.
b. Pemanfaatan E-Learning Sebagai Media Penyampaian Materi IPS E-Learning dapat digunakan sebagai media penyampaian materi. Rusman dkk (2012: 289), melalui e-learning siswa dan guru dapat berdiskusi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.
IPS merupakan mata pelajaran yang mengintegrasikan cabangnya seperti sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah. Keterpaduan tersebut membuat mata pelajaran IPS begitu kompleks. Materi IPS yang sangat kompleks dirasa kurang cukup jika dilaksanakan hanya dengan tatap muka di dalam kelas saja. Kurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran IPS, berdampak pada penyampaian materi yang diberikan kepada siswa kurang mendalam. Melalui sistem e-learning guru dan siswa tidak terbatas lagi pada alokasi jam pelajaran yang ada di sekolah karena dapat diakses di luar jam pelajaran. Guru dapat menyampaikan materi pembelajaran melalui e-learning.
Penyampaian materi tersebut dapat dilakukan dengan cara guru memasukkan materi pelajaran ke dalam komputer atau jaringan e-learning SMPN 2 Klaten dengan cara upload materi, siswa yang sudah diberitahu sebelumnya membuka materi yang disampaikan oleh guru melalui geschool.net atau smpn2klt.blogspot.com dan membaca materi
yang sudah diupload oleh guru. Setelah membaca materi siswa dapat berdiskusi dengan guru atau dengan siswa yang lain tentang materi pemebelajaran yang belum dimengerti melalui chatting, sehingga antara siswa dan guru dapat saling berkomunikasi dengan langsung. c. Pemanfaatan E-Learning Sebagai Media Pemberian Tugas IPS
E-learning dapat menjadi media dalam pemberian tugas. Munir (2009: 175), menemukakan tugas-tugas pembelajaran dapat diserahkan kepada guru begitu selesai dikerjakan, tanpa harus menunggu waktu luang guru untuk mendiskusikan tugas-tugas tersebut. Pemberian tugas yang diberikan oleh guru dapat diakses melalui internet. Siswa yang telah selesai mengerjakan tugas-tugas tersebut dapat langsung dikirim melalui internet. Hasil belajar atau nilai dari tugas-tugas yang telah terkumpul juga dapat diakses.
Pemberian tugas melalui e-learning dilakukan oleh guru dengan cara, guru mengupload tugas yang akan dikerjakan siswa di forum e-learning tersebut, kemudian siswa membuka komputer yang sudah terkoneksi jaringan internet untuk mengalses sistem e-learning, siswa mengerjakan tugas yang tlah dikirim oleh guru, setelah selesai tugas tersebut dapat langsung dikumpulkan tanpa harus bertatap muka dengan guru tersebut. Siswa yang belum paham dngan tugas yang diberikan oleh guru bisa langsung menanyakan kepada guru tersebut melalui chatting atau dengan forum diskusi, sehingga siswa dapat langsung mengerti dengan tugas yang diberikan oleh guru.
Pemberian tugas melalui e-learning dirasa lebih menguntungkan guru dan siswa. Melalui e-learning tugas-tugas yang diberikan oleh guru dapat dikerjakan dan dipahami siswa dengan lebih mudah dan cepat, karena siswa dapat memahahi dan mengejarkan tugas tersebut melalui komputer yang terkoneksi jaringan internet yang memungkinkan dapat mengakses informasi dari sumber manapun. Tugas yang telah selesai dikerjakan dapat langsung dikumpulakan tanpa harus bertatap muka.
E-Learning sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan teori tentang berbagai pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan e-learning dalam proses pembelajaran sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran IPS. E-Learning memberikan berbagai kelebihan seperti mempermudah siswa mengakses materi pembelajaran IPS di luar pelajaran, menambah sumber belajar siswa, mempermudah dalam pemberian tugas.
Pemanfaatan e-learning dalam kegiatan pembelajaran IPS dapat dibedakan sebagai sumber belajar, penyampaian materi, dan pemberian tugas. E-learning dapat dijadikan sebagai sumber belajar yang aktual bagi guru maupun siswa, siswa dapat mencari berbagai informasi dari berbagai sumber melalui e-learning yang terhubung dengan internet. Hal tersebut dapat membuka wawasan siswa menjadi luas dan kompleks melalui proses yang menarik dan menyenangkan.
Guru dapat menyampaikan materi melalui e-learning apabila alokasi waktu di kelas kurang. Materi yang membutuhkan alokasi wakru yang banyak dapat selesai melalui e-learning. Siswa tidak perlu khawatir tertinggal pelajaran apabila berhalangan hadir.
Pemberian tugas juga dapat dilakukan melalui e-learning. Guru dapat mengirimkan tugas kepada siswa secara mudah. Siswa juga dapat secara langsung mengerjakan dan mengirim tugas apabila sudah selesai dalam pengerjaannya melalui e-learning.
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian relevan digunakan untuk memperkuat sebuah kegiatan penelitian dari sisi teoritik. Berikut ini merupakan penelitian relevan yang dapat mendukung penelitian mengenai “Studi Eksplorasi Pemanfaatan E-learning dalam Pembelajaran IPS di SMPN 2 Klaten”. Penelitian yang relevan tersebut, yaitu:
1. Alfia Kurnia Rizki (2011) berjudul “Studi Pengembangan dan Pemanfaatan E-Learning dalam Pembelajaran Biologi di SMAN 1 Yogyakarta” merupakan skripsi Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan: E-Learning SMAN 1 Yogyakarta menggunakan fasilitas moodle yang di dalamnya terdapat fasilitas kuis online, penilaian, dan pengiriman tugas. Guru biologi belum memanfaatkan e-learning dengan maksimal. Sebagian guru hanya memanfaatkan perangkat TIK dalam pembelajaran.
Persamaan penelitian yang dilaksanakan oleh Alfia Kurnia Rizki dengan penelitian ini terletak pada variabel penelitian. Kedua penelitian sama-sama mempunyai variabel pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran.
Perbedaan penelitian yang dilaksanakan oleh Alfia Kurnia Rizki dengan penelitian ini terletak pada pendekatan yang digunakan dalam penelitian. Penelitian yang dilaksanakan oleh Alfia Kurnia Rizki menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatak kuantitatif. Perbedaan lain terletak pada pelajarannya. Penelitian yang dilaksanakan oleh Alfia Kurnia Rizki pada pembelajaran Biologi, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada pembelajaran IPS.
2. Budi Lestari (2011) berjudul “Pengaruh Motivasi Belajar dan Pemanfaatan E-Learning terhadap Prestasi Belajar Siswa SMKN 2 Pengasih” merupakan tesis Program Studi Pasca Sarjana, Universitas Negeri Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang positif antara motivasi belajar dan pemanfaatan e-learning terhadap prestasi belajar siswa SMKN 2 Pengasih.
Persamaan penelitian yang dilaksanakan oleh Budi Lestari dengan penelitian ini terletak pada variabel penelitiannya. Kedua penelitian sama-sama mempunyai variabel pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran.
Pebedaan kedua penelitian ini ada dua. Perbedaan penelitian yang dilaksanakan oleh Budi Lestari dengan penelitian ini terletak pada jenis
penelitian. Penelitian yang dilaksanakan oleh Budi Lestari merupakan penelitian korelasi, sedangkan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif eksploratif. Perbedaan lain terletak pada subjek penelitiannya. Penelitian yang dilakukan oleh Budi Lestari subjek penelitiannya adalah siswa SMK, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti subjek penelitiannya adalah siswa SMP.
C. Kerangka Pikir
Globalisasi mempunyai dampak besar dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu dampak globalisasi dapat dilihat dalam berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi dan terlihat pada meningkatnya penggunaan internet. Peningkatan penggunaan internet dapat dilihat dari banyak bermunculannya warung internet (warnet) yang ada di kota-kota besar maupun kecil di Indonesia. Keberadaan warnet bukan hanya di kota saja, melainkan juga mulai terlihat di desa-desa, hal tersebut karenanya adanya globalisasi.
Penggunaan internet yang terus menigkat membuat masyarakat merasa ketergantungan dengan internet. Internet menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat. Masyarakat memanfaatkan internet di hampir setiap kegiatan mereka. Banyak manfaat yang masyarakat rasakan dengan adanya internet di kehidupan mereka, di antaranya adalah masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya di mana saja dan kapan saja.
Pemanfaatan internet dapat dirasakan dalam aspek kehidupan. Salah satu bidang yang terkena dampak pemanfaatan internet adalah bidang pendidikan.
Dewasa ini muncul sistem baru yang berbasis internet dalam dunia pendidikan, yaitu e-learning. E-learning merupakan sistem pembelajaran dengan basis utamanya adalah internet. Pembelajaran yang pada awalnya bersifat konvensional, kini mulai berganti menjadi pembelajaran modern dengan bantuan internet.
E-learning memberikan kemudahan untuk siswa dalam memperoleh sumber informasi. Menjadikan siswa lebih peka dan kritis terhadap materi pembelajaran yang disajikan oleh guru.
Pemanfaatan E-learning dalam kegiatan pembelajaran IPS meliputi, sebagai media sumber belajar bagi siswa. E-learning dapat menjadi perpustakaan yang sangat lengkap bagi guru maupun siswa, selain menggunakan buku teks. Penyampaian materi oleh guru kepada siswa di luar jam pelajaran juga dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan e-learning. Materi dapat diupload oleh guru dan dapat diakses oleh siswa. E-learning juga dapat digunakan sebagai media pemberian tugas. Tugas dapat diberikan oleh guru melalui e-learning. Siswa dapat mengirim tugas yang telah selesai dikerjakan tanpa harus menunggu tatap muka dengan guru. Berikut adalah bagan kerangka berpikir dalam penelitian ini:
Gambar 1. Kerangka Pikir Globalisasi
Perkembangan TI
Pemanfaatan e-learning dalam bidang pendidikan
Pembelajaran IPS dengan e-learning
Sumber belajar Penyampaian materi Pemberian tugas
Gambaran pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran IPS di SMPN 2 Klaten