LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 5 TAHUN 2004 SERI C NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG

Teks penuh

(1)

LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 5 TAHUN 2004 SERI C NOMOR 2

PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 5 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI PERIZINAN DAN PENDAFTARAN USAHA DI BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALU,

Menimbang : a. bahwa urusan perizinan dan pendaftaran usaha di Bidang

Perindustrian dan perdagangan merupakan salah satu urusan Pemerintah yang telah di serahkan kepada Pemerintah Kabupaten / Kota ;

b. bahwa untuk mengoptimalkan Pengenaan tarif Retribusi Perizinan dan

Pendaftaran Usaha di bidang Perindustriaan dan Perdagangan yang sudah diberlakukan perlu adanya penggabungan, guna memudahkan pengaturan dan pembinaannya ;

c. bahwa sehubungan dengan huruf a dan b di atas, maka perlu diatur

dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1965 tentang Penetapan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 tentang Pergudangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2759);

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);

3. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar

Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4214);

4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274);

(2)

5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1994 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Palu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3555);

6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3587);

7. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3611);

8. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685); sebagaimana di ubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

9. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara

Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

10. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

11. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republi Indonesia Nomor 4437);

12. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1977 tentang Pengakhiran

Kegiatan Usaha Asing Dibidang Perdagangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3113);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Hukum Acara

Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan

Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);

(3)

16. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);

17. Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 4 Tahun 2004 tentang Penyidik

Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Lingkungan Pemerintah Daerah Kota

Palu (Lembaran Daerah Kota Palu Nomor 4 Tahun 2004 Seri E Nomor 2);

18. Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 10 Tahun 2004 tentang

Pengaturan, Pengendalian dan Pengawasan Peredaran Serta Penjualan Minuman Beralkohol (Lembaran Daerah Kota Palu Nomor 10, Tahun 2004 Seri E Nomor 4);

19. Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pokok–

pokok Pengelolaaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kota Palu (Lembaran Daerah Kota Palu Nomor 13, Tahun 2004, Seri E Nomor 5).

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALU dan

WALIKOTA PALU MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALU TENTANG RETRIBUSI PERIZINAN DAN PENDAFTARAN USAHA DI BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah adalah Kota Palu;

2. Kepala Daerah adalah Walikota palu;

3. Pemerintahan Daerah adalah Penyelenggaraan urusan Pemerintahan oleh

pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

(4)

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah;

5. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah

sebagai unsur Penyelenggara Pemerintahan Daerah;

6. Surat Izin usaha industri yang selanjutnya disebut SIUI adalah izin yang diberikan

oleh pemerintah kepada Badan Usaha/peroorangan yang menjalankan usaha dibidang industri;

7. Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku, barang setengah jadi

atau barang jadi, atau mengelola bahan setengah jadi menjadi bahan jadi dan mendatangkan nilai tambah;

8. Perdagangan adalah kegiatan usaha jual beli barang atau jasa yang dilakukan

secara terus menerus dengan tujuan pengalihan hak atas barang dan atau jasa dengan disertai imbalan atau kompensasi;

9. Daftar Perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau

berdasarkan ketentuan Undang-undang Wajib Daftar Perusahaan (UU-WDP) dan atau Peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan/atau memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh Pejabat yang berwenang;

10. Surat Izin Usaha Perdagangan yang disingkat SIUP adalah surat izin untuk dapat

melaksanakan kegiatan usaha perdagangan;

11. Formulir Pendaftaran Perusahaan adalah Daftar isian yang memuat data perusahaan

yang diisi dan ditandatangani pemilik atau perusahaan yang telah disahkan pendaftaran;

12. Tanda Daftar Perusahaan yang selanjutnya disebut TDP adalah tanda daftar yang

diberikan oleh Kepala Daerah terhadap perusahaan yang telah disahkan pendaftarannya;

13. Usaha adalah setiap tindakan, perbuatan atau kegiatan apapun dalam bidang

perekonomian yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba;

14. Pengusaha adalah setiap orang atau persekutuan atau badan hukum yang

menjalankan sesuatu jenis perusahaan;

15. Perwakilan Perusahaan adalah perusahaan yang bertindak mewakili kantor pusat

perusahaan untuk melakukan suatu kegiatan dan/atau Pengurusannya ditentukan sesuai wewenang yang diberikan;

16. Anak Perusahaan adalah perusahaan yang dimiliki secara keseluruhan atau sebagian

dan dikendalikan atau diawasi oleh perusahaan lain yang pada umumnya memiliki seluruh atau sebagian besar saham/modal yang ditempatkan dari anak perusahaan tersebut;

17. Cabang Perusahaan adalah perusahaan yang merupakan unit atau bagian dari

perusahaan induknya yang dapat berkedudukan ditempat yang berlainan dan dapat bersifat berdiri sendiri atau bertugas untuk melaksanakan sebagian tugas dari perusahaan induknya;

(5)

18. Perusahaan perorangan adalah perusahaan yang dimiliki oleh perorangan yaitu seorang manusia pribadi yang juga bertindak sebagai pengusaha yang mengurus dan mengelola sendiri perusahaan miliknya itu termasuk didalamnya seorang yang mengurus dan mengelola atau mengawasi setiap usahanya secara langsung dan tidak merupakan suatu badan hukum atau suatu persekutuan;

19. Distributor dan Sub distributor adalah suatu lembaga perdagangan yang berperan

dalam mendukung kelancaran arus lalu lintas barang melalui upaya untuk menjamin kontinuitas supply (pasokan) dan jaminan purna jual atas barang atau jasa yang di pasarkan oleh principal / produsen dalam negeri;

20. Penyaluran dan penjualan adalah rangkaian kegiatan Agen atau Distributor dan Sub

distributor dalam menjual dan menyalurkan barang kepada Pedagang dan Konsumen;

21. Izin adalah izin usaha atau surat keterangan yang dipersamakan dengan itu yang

diterbitkan oleh instansi yang berwenang dan diberikan kepada pengusaha untuk dapat menjalankan kegiatan usahanya;

22. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang

bersifat tetap atau terus-menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Kota Palu untuk tujuan memperoleh keuntungan dan / atau laba;

23. Agen Perusahaan adalah perusahaan yang diberi kuasa untuk melakukan sebagian

atau seluruh kegiatan dari perusahaan lain yang diageni dengan suatu ikatan perjanjian;

24. Gudang sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1965 adalah suatu ruangan

tidak bergerak yang dapat ditutup dengan tujuan tidak untuk dikunjungi oleh umum melainkan untuk dipakai khusus sebagai tempat penyimpanan barang-barang perniagaan;

25. Usaha Pergudangan adalah kegiatan jasa pergudangan yang dilakukan oleh suatu

perusahaan atau perorangan melalui pemanfaatan gudang miliknya sendiri dan atau pihak lain untuk mendukung / memperlancar kegiatan perdagangan barang;

26. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik

yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, dana Pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, Organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya;

27. Retribusi Perizinan Tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah

Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk Pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, berang prasarana sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kegiatan kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan;

(6)

28. Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi adalah Pungutan Daerah sebagai Pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan / atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan;

29. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan

Perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi termasuk pemungutan atau pemotong Retribusi tertentu;

30. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu

bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan;

31. Surat Setoran Retribusi Daerah yang dapat disingkat SSRD, adalah surat yang oleh

wajib retribusi digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran retribusi yang terhutang ke kas daerah atau ke tempat pembayaran lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah;

32. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya dapat disingkat SKRD, adalah

Surat Ketetapan Retribusi yang menentukan besarnya pokok Retribusi;

33. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang dapat disingkat SKRDLB adalah

surat ketetapan retribusi yan menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari pada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang;

34. Minuman beralkohol termasuk didalamnya pengertian Minuman Keras adalah

minuman yang mengandung Ethanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat tanpa Destilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau tidak maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan Ethanol, atau dengan cara pengeceran minuman dengan ethanol;

35. Importir Minuman Beralkohol adalah perusahaan Importir Terdaftar (IT) pemilik

Angka Pengenal Impor Umum (API/U) yang mendapat izin khusus dari Menteri untuk mengimpor minuman beralkohol;

36. Distributor Minuman Beralkohol adalah perusahaan yang ditunjuk Importir Minuman

Beralkohol dan atau industri minuman beralkohol untuk menyalurkan minuman beralkohol asal impor dan atau hasil produksi Dalam Negeri;

37. Sub Distributor Minuman Beralkohol adalah perusahaan yang ditunjuk oleh

distributor untuk menyalurkan Minuman beralkohol di Daerah ;

38. Agen / Penyalur adalah perusahaan yang menyalurkan minuman beralkohol di

Daerah;

39. Penjual langsung untuk di minum adalah perusahaan yang menjual Minuman

beralkohol untuk di minum di tempat;

40. Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol yang disingkat SIUP-MB adalah

Surat izin untuk melaksanakan kegiatan usaha perdagangan khusus minuman beralkohol golongan A, B dan C;

(7)

41. Rekomendasi adalah surat keterangan untuk memperoleh SIUP-MB sesuai kewenangan Pemerintah Daerah yang bersifat wajib yang didasarkan oleh penilaian kinerja perusahaan yang bersangkutan baik terhadap peraturan Perundang-undangan yang berlaku maupun terhadap lingkungan berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Palu Cq. Dinas Perindagkop dan Penanaman Modal Kota Palu;

42. Surat tagihan Retribusi Daerah yang dapat disingkat STRD adalah surat untuk

melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda;

43. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari,i mengumpulkan,

mengelola data dan / atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban Perpajakan Daerah dan retribusi dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah dan Retribusi;

44. Penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi adalah

serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya;

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 2

Dengan nama Retribusi Perizinan dan Pendaftaran Usaha Dibidang Perindustrian dan Perdagangan dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan pemanfaatan dan penerbitan perizinan dan pendaftaran usaha dibidang perindustrian dan perdagangan;

Pasal 3

Obyek retribusi adalah setiap pelayanan atas penerbitan perizinan dan pendaftaran usaha di bidang perindustrian dan perdagangan yang meliputi :

a. Surat Izin Usaha industri (SIUI);

b. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);

c. Tanda Daftar Perusahaan (TDP);

d. Tanda Daftar Gudang (TDG);

e. Tanda Daftar Keagenan (TDK);

(8)

Pasal 4

Subyek Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh perizinan dan pendaftaran usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 Peraturan Daerah ini ;

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 5

Retribusi penerbitan perizinan dan pendaftaran usaha dibidang perindustrian dan perdagangan digolongkan sebagai retribusi perizinan tertentu;

BAB IV

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 6

(1) Tingkat penggunaan jasa pada pemberian Surat Izin Usaha Industri (SIUI), Pemberian Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), diukur berdasarkan Modal Usaha, dan jasa Pelayanan. Pemberian Jasa Pelayanan Tanda Daftar Perusahaan (TDP), diukur berdasarkan bentuk usaha;

(2) Tingkat Penggunaan Jasa Penerbitan Tanda Daftar Gudang (TDG) diukur berdasarkan luas gudang.

(3) Tingkat penggunaan jasa pada penerbitan Tanda Daftar Keagenan (TDK) diukur berdasarkan pada tingkat jenis produk / barang.

(4) Tingkat penggunaan jasa dan pemberian izin usaha perdagangan minuman beralkohol dan rekomendasi diukur berdasarkan golongan usaha/status perusahaan dan kadar etanol;

BAB V

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF

Pasal 7

Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya retribusi dimaksudkan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang terdiri dari biaya administrasi, pelayanan, pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan;

(9)

BAB VI

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 8

(1) Struktur dan besarnya tarif Retribusi ditetapkan berdasarkan jenis perizinan dan

pendaftaran usaha yang dikeluarkan;

(2) Besarnya tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai

berikut:

a. Surat Izin Industri (SIUI)

1 SIUI KECIL

- Modal Usaha s/d Rp 200.000.000 ……… Rp. 100.000,-

2. SIUI MENENGAH

- Rp. 200.000.001,- s/d Rp. 500.000.000,- ……… Rp. 500.000,-

3. SIUI BESAR

- Modal Usaha s/d Rp. 500.000.001,- ke atas ……….. Rp. 1.000.000,- b. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)

1. SIUP Kecil

- Modal Usaha s/d Rp. 200.000.000 ………. Rp. 100.000,-

2. SIUP Menengah adalah :

- Rp. 200.000.001,- s/d Rp. 500.000.000,- ……… Rp. 500.000,-

3. SIUP Besar adalah :

- Rp. 500.000.001,- ke atas ... Rp. 1.000.000,- c. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

1. Perseroan Terbatas (PT) Nasional ... Rp. 500.000,-

2. Perseroan Terbatas (PT) Asing, Joint Venture ………. Rp. 1.000.000,-

3. Koperasi ……….. Rp. 100.000,-

4. Persekutuan Komanditer (CV) ……….. Rp. 250.000,-

5. Perusahaan Perorangan ………. Rp. 100.000,-

6. Bentuk Usaha Lain ………. Rp. 250.000,-

7. Salinan Resmi Daftar Perusahaan ... Rp. 50.000,-

8. Petikan Resmi Daftar Perusahaan ... Rp. 25.000,-

9. Buku Informasi Perusahaan Hasil Olahan ... Rp. 100.000,-

d. Tanda Daftar Gudang

1. Luas s/d 9 m2 sebesar ………. Rp. 100.000,-

2. Luas diatas 9 m2 s/d 250 m2 Sebesar ……… Rp. 150.000,-

3. Luas diatas 250 m2 s/d 500 m2 Sebesar ………. Rp. 250.000,-

4. Luas diatas 500 m2 s/d 750 m2 Sebesar ………. Rp. 400.000,-

5. Luas diatas 750 m2 s/d 1.000 m2 Sebesar ……… Rp. 500.000,-

(10)

e. Tanda Daftar Keagenan (TDK)

(1)Produk Makanan dan Minuman sebesar ... Rp. 500.000,-

(2)Barang Perlengkapan Rumah Tangga Kantor sebesar ... Rp. 1.000.000,-

(3)Barang Elektronik dan perlengkapan sebesar ... Rp. 1.000.000,-

(4)Barang Tekstil dan Pakaian Jadi serta Perlengkapan

sebesar ……….. Rp. 1.000.000,-

(5)Barang perlengkapan pribadi dan alas kaki sebesar ... Rp. 1.000.000,-

(6)Bahan Bangunan dan perlengkapannya sebesar ... Rp. 500.000,-

(7)Alat Peralatan Listrik, Telekomunikasi dan Air sebesar ... Rp. 500.000,-

(8)Mesin-mesin dan perlengkapan sebesar ... Rp. 1.500.000,-

(9)Bahan Bakar Minyak, Gas Cair dan Padat lainnya

sebesar ... Rp. 1.000.000,-

(10) Produk hasil pengelolaan tembakau / rokok sebesar ... Rp.

2.000.000,-

(11) Alat Peralatan/hasil pertanian, perkebunan,

perikanan, peternakan sebesar ………. Rp. 1.000.000,-

(12) Kendaraan Roda Dua yang menggunakan

mesin dan perlengkapannya sebesar ... Rp. 1.500.000,-

(13) Kendaraan Roda Dua yang tidak menggunakan

mesin dan perlengkapannya sebesar ... Rp. 500.000,-

(14) Kendaraan Roda Empat atau lebih yang

menggunakan mesin dan perlengkapan

sebesar ... Rp. 3.500.000,-

(15) Kendaraan Roda Empat atau lebih yang

tidak menggunakan mesin dan perlengkapan

sebesar ... Rp. 1.000.000,-

(16) Produk Sabun dan deterjen lainnya sebesar ... Rp.

1.000.000,-

f. Surat izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol (SIUP-MB) dan Rekomendasi

1. Rekomendasi untuk Importir Minuman Beralkohol

- Minuman Beralkohol Gol. A ……….. Rp. 13.000.000,- - Minuman Beralkohol Gol. B dan C ... Rp. 15.000.000,- 2. Rekomendasi untuk distributor

- Minuman Beralkohol Gol. A ... Rp. 10.000.000,- - Minuman Beralkohol Gol. B dan C ... Rp. 13.000.000,- 3. Rekomendasi untuk sub distributor

- Minuman Beralkohol Gol. A ... Rp. 10.000.000,- - Minuman Beralkohol Gol. B dan C ……… Rp. 13.000.000,-

4. Agen / Penyalur

- Minuman Beralkohol Gol. A ... Rp. 8.000.000,- - Minuman Beralkohol Gol. B dan C ... Rp. 10.000.000,-

5 Penjual Langsung untuk diminum

- Minuman Beralkohol Gol. A ……….. Rp. 8.000.000,- - Minuman Beralkohol Gol. B ……….. Rp.10.000.000,-

(11)

BAB VII

WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 9

Retribusi yang terutang dipungut di Wilayah Daerah;

BAB VIII

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 10

(1) Surat Izin Usaha Industri (SIUI), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda

Daftar Gudang (TDG), Tanda Daftar Keagenan (TDK), Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol (SIUP-MB) dan rekomendai berlaku selama 1 (satu) tahun dan apabila usaha tersebut masih berjalan, wajib didaftar kembali setiap 1 (satu) tahun sekali dan dikenakan biaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 2 Peraturan Daerah ini;

(2) Tanda Daftar Perusahaan (TDP) berlaku selama 5 (lima) tahun dan apabila usaha

tersebut masih berjalan, wajib didaftarkan kembali setiap 5 (lima) tahun sekali dan dikenakan retribusi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 2 dalam Peraturan Daerah ini;

Pasal 11

Masa Retribusi dan Saat Retribusi terutang adalah pada saat ditetapkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan;

BAB IX

TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 12

(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SSRD atau Dokumen lain yang

dipersamakan;

(2) Hasil pungutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 Peraturan Daerah ini

(12)

BAB X

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 13

(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus;

(2) Retribusi yang terutang dilunasi selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sejak

diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan;

(3) Tata cara pemungutan, pembayaran dan penyetoran Retribusi i diatur dengan

Peraturan Kepala Daerah ;

BAB XI

SANKSI ADMINSTRASI Pasal 14

Dalam hal wajib retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar tepat waktunya atau kurang membayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan kelambatan dari retribusi yang terhutang atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan STRD;

BAB XII

TATA CARA PENAGIHAN RETRIBUSI Pasal 15

(1) Surat tagihan/surat peringatan/ surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan

pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran;

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat teguran/surat peringatan /

surat lain yang sejenis disampaikan, wajib retribusi harus melunasi retribusi yang terutang;

(3) Surat teguran/ surat peringatan/surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud

pada ayat 1 pasal ini dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk;

(13)

BAB XIII

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 16

(1) Kepala Daerah berdasarkan permohonan wajib retribusi dapat memberikan

pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi;

(2) Tata cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BAB XIV

KADALUWARSA PENAGIHAN Pasal 17

(1) Hak untuk melakukan Penagihan retribusi kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila wajib retribusi melakukan tindak pidana;

(2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) tertangguh apabila :

a. Diterbitkan surat teguran atau:

b. Ada pengakuan utang retribusi dari wajib retribusi baik langsung maupun tidak langsung;

BAB XV

TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI YANG KADALUWARSA Pasal 18

(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih karena hak untuk melakukan penagihan sudah kadarluwarsa dapat dihapus;

(2) Kepala Daerah menetapkan Keputusan penghapusan piutang retribusi daerah yang kadarluwarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.

BAB XVI

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 19

Kepala Daerah dapat menunjuk Pejabat tertentu untuk melakukan Pembinaan dan Pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah ini.

(14)

BAB XVI

KETENTUAN PIDANA Pasal 20

(1) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan

keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000.- (lima puluh juta rupiah) ;

(2) Tindak pidana yang dimaksud dalam ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB XVII

KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 21

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi

wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah atau Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku;

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah:

a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan

berkenaan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;

b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau

badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi ;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan

sehubungan dengan tindak pidana di bidang Daerah dan Retribusi ;

d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan

dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan retribusi ;

e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,

pencatatan dan dokumen–dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan

tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;

g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau

tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan / atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

(15)

h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan Daerah dan Retribusi;

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai

tersangka atau saksi;

j. Menghentikan Penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana

di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi menurut hukum yang bertanggung jawab;

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.

BAB XVIII

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 22

Semua surat perizinan dan pendaftaran usaha yang telah diterbitkan sebelumnya, tetap masih berlaku sampai jangka waktunya berakhir.

BAB XIX

KETENTUAN PENUTUP Pasal 23

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Palu :

1. Nomor 9 Tahun 2001 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Industri (SIUI) ;

2. Nomor 10 Tahun 2001 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) ;

3. Nomor 19 Tahun 2001 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang (TDG) ;

4. Nomor 22 Tahun 2001 tentang Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (TDP) ;

5. Nomor 14 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 10

Tahun 2001 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) ;

6. Nomor 2 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Daerah Kota Palu

Nomor 22 Tahun 2001 tentang Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (TDP) ;

7. Nomor 4 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 19

Tahun 2001 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang ;

8. Nomor 5 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 9

Tahun 2001 tentang Retribusi Surat Isin Usaha Industri (SIUI) ;

9. Nomor 9 Tahun 2003 tentang Retribusi Tanda Daftar Keagenan/Distributor Barang

dan Jasa Produksi Dalam dan Luar Negeri. Di cabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

(16)

Pasal 24

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Daerah.

Pasal 25

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan .

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palu.

Ditetapkan di Palu

pada tanggal 12 Juli 2005 WALIKOTA PALU,

Ttd

SUARDIN SUEBO Diundangkan di Palu

pada tanggal 14 Juli 2005

Plt.SEKRETARIS DAERAH KOTA PALU, Ttd

H. ARIFIN H. LOLO, SH PEMBINA TINGKAT I NIP. 570 004 858

LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 5 TAHUN 2004 SERI C NOMOR 2 Disalin sesuai dengan aslinya

KEPALA BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH KOTA PALU

Ttd

R. NOLLY MUA, SH PEMBINA NIP. 570 006 277

(17)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 5 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI PERIZINAN DAN PENDAFTARAN USAHA DIBIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN I. PENJELASAN UMUM

Perkembangan pembangunan di Kota Palu mengalami kemajuan yang cukup, baik pembangunan sarana prasarana maupun fasilitas umum untuk melayani kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

Untuk menutupi biaya pembangunan tersebut, Pemerintah Kota palu dituntut untuk lebih proaktif dalam menggali sumber-sumber pendapatan Daerah agar supaya pembangunan bisa berjalan dan berkesinambungan secara terus menerus dalam usaha melaksanakan dan memantapkan Otonomi Daerah di Kota Palu.

Urusan perizinan dan pendaftaran usaha di bidang perindustrian dan perdagangan merupakan salah satu kewenangan yang diberikan kepada Pemerintah Daerah untuk pengaturan, pembinaan dan pengawasannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pembinaan dan Pengawasan di maksud adalah melalui pengaturan penerbitan perizinan dan pendaftaran usaha yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 cukup jelas. Pasal 2 cukup jelas. Pasal 3 cukup jelas. Pasal 4 cukup jelas. Pasal 5 cukup jelas. Pasal 6 cukup jelas. Pasal 7 cukup jelas. Pasal 8 cukup jelas. Pasal 9 cukup jelas.

(18)

Pasal 10 cukup jelas. Pasal 11 cukup jelas. Pasal 12 cukup jelas. Pasal 13 cukup jelas. Pasal 14 cukup jelas. Pasal 15 cukup jelas. Pasal 16 cukup jelas. Pasal 17 cukup jelas. Pasal 18 cukup jelas. Pasal 19 cukup jelas. Pasal 20 cukup jelas. Pasal 21 cukup jelas. Pasal 22 cukup jelas. Pasal 23 cukup jelas. Pasal 24 cukup jelas. Pasal 25 cukup jelas.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :