PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS DISCOVERY LEARNING
PADA KOMPETENSI DASAR MENJELASKAN KONSEP PDB, PDRB, PNB, DAN PN DI SMA
SEJAHTERA SURABAYA
Angga Juliyanto
Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected]
Ady Soejoto
Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected]
Abstrak
Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia(Mulyasa, 2006) dengan kata lain pendidikan merupakan kunci pembangunan di masa mendatang. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa(LKS) berbasis discovery learning bertujuan mengembangkan LKS berbasis discovery learning pada materi pendapatan nasional. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Tahap pada penelitian ini adalah tahap 4D (define, design,develope,disseminate). Instrumen penelitian yang peneliti gunakan adalah angket lembar telaah dan validasi LKS serta angket respon siswa. Teknik analisis datanya menggunakan analisis lembar validasi dan angket respon siswa terhadap LKS berbasis discovery learning.Hasil pengolahan data analisis lembar validasi para ahli terhadap LKS berbasis discovery learning adalah sangat layak digunakan dengan kriteria kelayakan sebesar 90%. Dan Hasil pengolahan data angket respon siswa terhadap LKS berbasis discovery learning adalah sangat layak digunakan dengan kriteria kelayakan sebesar ≥87%.dengan kategori sangat layak digunakan.
Kata Kunci : Lembar Kegiatan Siswa, Discovery Learning, Ekonomi Abstract
Education is also a vehicle to enhance and develop the quality of human resources (Mulyasa, 2006) in other words, education is the key to development in the future. The development of the student activity sheet (LKS) discovery-based learning aims to develop is LKS based discovery learning material on national income. This research is development research. The stage of the research is the definition stage, design stage, development, and deployment phase of the deployment stage however was not done because of limited use for themselves (Ibrahim,2002:4). Research instrument used in this research is the question from sheet review and validation of LKS as well as student response now. The data analysis techniques using analysis sheet validation and student response against of LKS discovery-based learning. Analysis of data processing results sheets validation experts against of LKS based discovery learning is a very decent for used with eligibility criteria by 90%. And the results of the data processing student response against the now of LKS discovery-based learning is very decent for used with the eligibility criteria of ≥87% with a very worthy category used.
Keyword: Learning media, Economy PENDAHULUAN
Generasi penerus merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada di negaranya guna memajukan bangsa dan negaranya. Pendidikan diharapkan dapat menggerakkan setiap individu untuk meningkatkan kualitas keberadaannya serta mampu berpartisipasi dalam gerak pembangunan. Senada dengan pendapat Mulyasa, 2006 yang mengatakan “Pendidikan juga merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.” Dengan kata lain pendidikan merupakan kunci pembangunan di masa mendatang.
Guru mendidik dan mengajar siswa-siswinya di sekolah melalui proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan jiwa institusi satuan
pendidikan yang mutunya wajib ditingkatkan secara terus menerus. Hal ini dapat dimengerti, karena peserta didik mendapatkan pengalaman belajar formal terbanyak selama mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
“Guru sebagai pendidik professional mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang strategis perlu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi serta sertifikat pendidik yang sesuai dengan standar pendidik (Nurjanah, 2015).“ Karena, proses pembelajaran dan hasil belajar sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru (Munadi dalam Nurjanah, 2013).“
SMA Sejahtera Surabaya adalah salah satu sekolah swasta di Surabaya yang menggunakan kurikulum KTSP. Pemilihan kurikulum yang dianut oleh sekolah sudah tentu akan memengaruhi cara guru
dalam mendidik anak didiknya termasuk di dalamnya adalah merancang perangkat pembelajaran dan menentukan bahan ajar yang bisa membantu aktivitas proses belajar mengajar di kelas.
“Lembar Kegiatan Siswa (LKS) adalah salah satu media pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai media belajar di dalam kelas. Dahar (2006: 110) mengungkapkan bahwa lembar kegiatan siswa adalah lembar kegiatan yang berisikan informasi dan instruksi dari guru kepada siswa agar siswa dapat mengerjakan sendiri suatu aktivitas belajar, melalui praktik atau penerapan hasil belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.”
Depdiknas (2005: 4) menjelaskan “lembar kegiatan siswa adalah lembaran-lembaran yang berisi tugas yang biasanya berupa petunjuk atau langkah untuk menyelesaikan tugas yang harus dikegiatankan siswa dan merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan keterlibatan siswa atau aktivitas dalam proses belajar mengajar.” “LKS biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya.” “LKS juga harus dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya (Madjid, 2007: 177).” “Hal-hal yang dimuat dalam LKS dapat membantu guru dalam memudahkan proses belajar mengajar dan mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri dalam kelompok kegiatan. (Darmodjo dan Kaligis,1993:40).” Dengan melihat beberapa pengertian LKS seperti diatas, peneliti menyimpulkan bahwa lembar kegiatan siswa adalah sebuah media berupa lembar kegiatan yang memuat petunjuk, ringkasan materi, dan kegiatan yang harus dikerjakan oleh siswa.
Hasil observasi pada LKS yang digunakan di SMA Sejahtera Surabaya, lembar kerja siswa ekonomi di SMA Sejahtera tidak disusun sendiri oleh guru mata pelajaran. Siswa diminta untuk membeli LKS yang ada di pasaran. Menurut Suyanto, dkk (2011), “LKS merupakan lembaran di mana siswa mengerjakan sesuatu terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya.” Menurut darmodjo dan kaligis dalam Rena Liansari (2015) Standar LKS yang benar haruslah memenuhi persyaratan didaktik, konstruksi dan teknis. Beberapa syarat yang peneliti tidak temukan adalah adanya tekananpada proses untuk menemukan konsep-konsep dalam materi pendapatan nasional, tidak adanya tujuan pembelajaran dan indikator pembelajaran yang tercantum, dan tidak adanya langkah-langkah pembelajaran yang memandu siswa mempelajari materi pendapatan nasional, yang ada hanya materi dan tugas siswa saja.
Dengan mempertimbangkan kondisi yang terjadi, dirasa sangat perlu untuk mengembangkan bahan ajar (LKS) yang menarik, mampu untuk mengarahkan siswa menjadi lebih aktif agar pembelajaran menjadi aktif, menarik, berorientasi pada siswa dan berkesan pada pemahaman.
Discovery learning adalah salah satu model pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada peserta didik agar lebih aktif dalam pembelajaran baik secara individu maupun berkelompok melalui aktifitas penemuan. “Kegiatan belajar mengajar menggunakan metode penemuan (discovery), sebenarnya mirip dengan inkuiri (inquiry). Inkuiri adalah proses menjawab pertanyaan dan menyelesaikan masalah berdasarkan fakta dan pengamatan, sedangkan discovery adalah menemukan konsep melalui serangkaian data atau informasi yang diperoleh melalui proses pengamatan atau percobaan.” Menurut Sani (2014: 98) menyatakan bahwa “pembelajaran discovery merupakan metode pembelajaran kognitif yang menuntut guru lebih kreatif membuat peserta didik belajar aktif menemukan pengetahuan sendiri. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).” Pernyataan lebih lanjut dikemukakan oleh Hosnan (2014: 282) “bahwa discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi.”
Penerapan model pembelajaran penemuan (discovery learning) dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan menggunakan LKS Berbasis penemuan (Discovery Learning) yang bertujuan untuk menumbuhkan pembelajaran yang menarik, aktif, dan mandiri. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Ika Nurul, Lisa Tania, dkk Menghasilkan LKS dengan Discovery Learning yang valid dan layak yang ditunjukkan oleh hasil belajar dengan ketuntasan klasikal sebesar 87,17%. Dan juga penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh Isnaningsih(2013) menunjukkan bahwa penerapan LKS discovery berorientasi keterampilan proses sains meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPA materi gerak bagi siswa kelas VII C SMP N 1 Jepara. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan lembar kerja siswa (LKS) berbasis discovery learning pada kompetensi dasar menjelaskan konsep PDB, PDRB, PNB, dan PN di SMA Sejahtera Surabaya”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LKS berbasis discovery learning pada kompetensi dasar menjelaskan konsep PDB, PDRB, PNB, dan PN, mengetahui bagaimana kelayakan LKS sesuai dengan standart yang berlaku dan untuk mengetahui bagaimana respon siswa terhadap LKS agar bisa diketahui deskripsi hasil dari pengembangan LKS berbasis discovery learning.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (Research and Development). Prosedur penelitian yang digunakan dalam pengembangan LKS berbasis discovery learning menggunakan model 4-D dari Thiagarajan, semmel dan semmel yaitu 4 tahap pengembangan, yaitu define (tahap pendefinisian), design (tahap perencanaan), develope (tahap pengembangan), dan disseminate (tahap penyebaran).
Pada tahap pendefinisian mula-mula dilakukan analisis kurikulum guna mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar yang wajib dicapai siswa. Kemudian dilanjutkan dengan tahap analisis siswa dimana analisis ini bertujuan untuk melihat karakteristik siswa yaitu meliputi usia dan tingkat kedewasaan, pengalaman, kemampuan bekerjasama, dan keterampilan psikomotor siswa kelas X SMA Sejahtera Surabaya tahun ajaran 2016-2017. Langkah terakhir yaitu mengidentifikasi konsep dari kompetensi dasar yang akan di ajarkan dan menyusunya secara sistematis sesuai urutan penyajian serta merinci konsep-konsep yang sesuai dengan materi konsep PDB, PDRB, PNB, dan PN.
Pada tahap kedua yakni tahap perancangan, pada awal bagian materi LKS menyajikan seklumit pengantar tentang hal-hal yang berhubungan dengan pendapatan nasional supaya siswa mengerti tentang gambaran awal pada materi yang akan dipelajari dengan metode discovery learning. Selanjutnya siswa akan diberikan sebuah stimulasi kasus yang dalam penemuan jawabannya siswa diharuskan melewati langkah-langkah(sintaks) pembelajaran dengan pendekatan discovery learnin. Kemudian dilakukan penentuan format teknis untuk dijadikan draf 1 LKS yang akan di seminarkan sebelum di validasi.
Pada tahap ketiga yakni tahap pengembangan terdiri dari: 1) telaah ahli: 2) revisi telaah ahli: 3) validasi ahli: dan 4) uji coba terbatas. Setelah draf 1 LKS diselesaikan, draf 1 LKS di telaah oleh beberapa ahli terkait untuk diberi komentar & masukan yang membangun demi penyempurnaan LKS sebelum diujicobakan kepada siswa. Selanjutnya dilakukan revisi terhadap draf 1 sesuai dengan saran yang ditulis pada lembar telaah ahli dan akhirnya jadilah draft 2 LKS. Kemudian para ahli terkait melakukan validasi terhadap draf 2 LKS yang telah diperbaiki agar diketahui kelayakan dari LKS berbasis discovery learning sebelum diujicobakan kepada siswa. Setelah dinyatakan layak oleh para ahli terkait, LKS siap untuk diujicobakan terhadap siswa kelas X SMA Sejahtera Surabaya Tahun Ajaran 2016-2017.
Pada lembar instrumen validasi dan angket respon siswa menggunakan kisi-kisi sebagai berikut ini:
Tabel 1 Kisi – Kisi Instrumen Telaah, Validasi, dan Angket Respon Siswa
NO Aspek Indikator
1. Kelayakan Isi
Kesesusian topik LKS dengan KI dan KD
Mencantumkan tujuan pembelajaran
Mencantumkan petunjuk kegiatan yang harus dilakukan dalam LKS
Kesesuaian substansi materi pembelajaran
Manfaat untuk penambahan wawasan
2. Kelayakan Kebahasaan
Kalimat yang digunakan jelas, operasional, dan tidak menimbulkan makna ganda Bahasa yang digunakan mudah dimengerti oleh siswa
Kesesuaian dengan kaidah baahasa Indonesia yang baik dan benar
3. Kelayakan Penyajian
Kejelasan tujuan (indicator) yang ingin dicapai
Urutan sajian
Pemberian motivasi dan daya tarik
Interaksi (pemberian stimulasi dan respon)
Kelengkapan Informasi
4. Pembelajaran Discovery
Learning
LKS melatih siswa untuk belajar mandiri
Siswa terlibat aktif dalam menemukan konsep LKS membantu siswa meningkatkan rasa ingin tahu terhadap materi
LKS membantu siswa mengidentifikasi masalah LKS membimbing siswa mencari informasi terkait msalah yang berasal dari sumber-sumber selain LKS LKS membimbing siswa dalam mengolah informasi/data dan melakukan pembuktian atas hasil dari pengolahan informasi Siswa mampu menarik
kesimpulan secara mandiri Sumber : Depdiknas (2008: 28) dan dioleh peneliti
Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dipergunakan sebagai bahan analisis menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif, yang meliputi : 1. Analisis Lembar Telaah
Analisis lembar telaah di telaah oleh ahli materi, ahli penyajian, guru mata pelajaran ekonomi, dan ahli bahasa. Setelaah telaah dilakukan hasilnya dianalisis sebagai bahan untuk perbaikan draf 1.
2. Analisis Lembar Validasi
Lembar validasi divalidasi oleh oleh ahli materi, ahli penyajian, guru mata pelajaran ekonomi, dan ahli bahasa. Data yang diperoleh berupa skor-skor tiap komponen dari hasil revisi draft 1. Hasil penilaian validasi pada LKS dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan menghasilkan data berupa dengan menggunakan presentase dari tiap komponen pada angket. Kriteria penilaian validasi oleh para ahli dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.6 Kriteria Penilaian Lembar Validasi Berdasarkan Skala Likert
Skor Kriteria 5 Sangat baik 4 Baik 3 Sedang 2 Buruk 1 Buruk sekali
Sumber : Adaptasi dari Riduwan (2012: 13) Hasil lembar validasi LKS dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Nilai kelayakan LKS =
Kriteria skor dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3.7 Kriteria Skor Kelyakan Para Ahli
Skor Kriteria
81% - 100% Sangat Layak
61% - 80% Layak
41% - 60% Cukup Layak
21% - 40% Tidak Baik
0% - 20% Sangat Tidak Baik Sumber : adaptasi dari Riduwan (2012: 15)
3. Analisis Angket Respon Siswa
Angket respon siswa digunakan untuk mengukur validasi LKS melalui tanggapan siswa. Angket respon siswa ini berisi tanggapan siswa. Angket respon siswa ini berisi tanggapan dari siswa terkait pengembangan LKS berbasis discovery learning. Kriteria penilaian respon siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.8 Kriteria Penilaian Angket Respon Siswa Berdasarkan Skala Guttman
Skor Kriteria
1 Ya
0 Tidak
Hasil respon siswa terhadap lembar kegiatan Siswa (LKS) dianalisis menggunakan rumus sebagai berikut :
Nilai respon siswa=
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa Berbasis Discovery Learning
Pada tahap pendefinisian mula-mula dilakukan analisis kurikulum guna mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar yang wajib dicapai siswa. Kemudian dilanjutkan dengan tahap analisis siswa dimana analisis ini bertujuan untuk melihat karakteristik siswa yaitu meliputi usia dan tingkat kedewasaan, pengalaman, kemampuan bekerjasama, dan keterampilan psikomotor siswa kelas X SMA Sejahtera Surabaya tahun ajaran 2016-2017. Langkah terakhir yaitu mengidentifikasi konsep dari kompetensi dasar yang akan di ajarkan dan menyusunya secara sistematis sesuai urutan penyajian serta merinci konsep-konsep yang sesuai dengan materi konsep-konsep PDB, PDRB, PNB, dan PN.
Pada tahap kedua yakni tahap perancangan, pada awal bagian materi LKS menyajikan seklumit pengantar tentang hal-hal yang berhubungan dengan pendapatan nasional supaya siswa mengerti tentang gambaran awal pada materi yang akan dipelajari dengan metode discovery learning. Selanjutnya siswa akan diberikan sebuah stimulasi kasus yang dalam penemuan jawabannya siswa diharuskan melewati langkah-langkah(sintaks) pembelajaran dengan pendekatan discovery learnin. Kemudian dilakukan penentuan format teknis untuk dijadikan draf 1 LKS yang akan di seminarkan sebelum di validasi.
Pada tahap ketiga yakni tahap pengembangan terdiri dari: 1) telaah ahli: 2) revisi telaah ahli: 3) validasi ahli: dan 4) uji coba terbatas. Setelah draf 1 LKS diselesaikan, draf 1 LKS di telaah oleh beberapa ahli terkait untuk diberi komentar & masukan yang membangun demi penyempurnaan LKS sebelum diujicobakan kepada siswa. Selanjutnya dilakukan revisi terhadap draf 1 sesuai dengan saran yang ditulis pada lembar telaah ahli dan akhirnya jadilah draft 2 LKS. Kemudian para ahli terkait melakukan validasi terhadap draf 2 LKS yang telah diperbaiki agar diketahui kelayakan dari LKS berbasis discovery learning sebelum diujicobakan kepada siswa. Setelah dinyatakan layak oleh para ahli terkait, LKS siap untuk
diujicobakan terhadap siswa kelas X SMA Sejahtera Surabaya Tahun Ajaran 2016-2017.
Thiagarajan, Semmel, dan Semmel dalam Trianto (2007:66) menyatakan “bahwa tahap penyebaran (disseminate) terdiri dari pengemasan produk. Pengembangan LKS berbasis discovery learning ini tidak melakukan tahap penyebaran (disseminate).” Menurut Ibrahim (2002:4) “menyatakan bahwa tahap penyebaran belum dilakukan apabila produk yang dikembangkan hanya untuk kalangan sendiri atau sekolah sendiri.”
2. Kelayakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Berbasis Discovery Learning Ditinjau Dari Penilaian Para Ahli Dan Guru Mata Pelajaran Ekonomi
Hasil kelayakan LKS berbasis discovey learning yang peneliti kembangkan akan peneliti paparkan dalam beberapa uraian di bawah ini.
Berdasarkan hasil validasi, diketahui bahwa LKS berbasis discovery learning dilihat dari indikator komponen isi didapatkan skor kelayakan sebesar 92% dengan kriteria sangat layak. Dapat diambil kesimpulan bahwa LKS yang peneliti kembangkan sesuai dengan kriteria isi, seperti keseuaian dengan SK dan KD, mencantumkan tujuan pembelajaran, mencantumkan petunjuk kegiatan dalam LKS, kesesuaian substansi materi pembelajaran, dan manfaat untuk penambahan wawasan.
Hasil kelayakan komponen bahasa memperoleh presentase sebesar 90% , dengan rincian 1 item pertanyaan mendapatkan presentase 80% dengan kriteria layak. 1 item pertanyaan mendapatkan presentase 90% dengan kategori sangat layak, dan 1 item pertanyaan mendapatkan kriteria 100% dengan kategori sangat layak.
Sedangkan untuk komponen kelayakan penyajian diperoleh presentase sebesar 96% dari 3 item pertanyaan mendapat presentase 90% dengan kriteria sangat layak, dan 2 item pertanyaan mendapat presentase 100% dengan kriteria sangat layak.
Terakhir untuk komponen pembelajaran discover learning mendapatkan kategori sebesar 96% dengan 1 item pertanyaan mendapat presentase 80%, 1 item pertanyaan mendapat presentase 90%, dan 5 item pertanyaan mendapat presentase 100% .
Berdasarkan ke-4 aspek kelayakan, diperoleh hasil rata-rata presentase sebesar 90% dan LKS berbasis discovery learning ini dinyatakan sangat layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Tania (2015) tentang pengembangan LKS dengan model discovery learning pada teori atom mekanika kuantum yang juga dinyatakan valid dan layak digunakan dan
penelitian oleh Astuti (2014) tentang pengembangan LKS dengan model discovery learning untuk siswa SMP kelas VII yang dinyatakan sangat layak.
3. Respon Siswa Terhadap Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Berbasis Discovery Learning
Respon siswa yang diperoleh dari semua komponen (komponen isi, bahasa, penyajian dan pembelajaran discovery learning) memperoleh rata-rata presentase sebesar 87% dengan kategori sangat layak. Sehingga peneliti menyimpulkan LKS berbasis discovery learning ini sesuai dengan komponen bahasa, isi, penyajian dan pembelajaran discovery learning.
LKS yang telah dikembangkan akan diuji cobakan terbatas kepada 20 siswa agar diketahui bagaimana hasil respon siswa ketika menggunakan LKS berbasis discovey learning.
LKS diujikan kepada 20 siswa “karena uji coba produk pengembangan jika dilakukan kurang dari 10 responden maka kemungkinan data yang diperoleh kurang menggambarkan populasi target, sedangkan jika lebih dari 20 siswa maka data yang diperoleh melebihi data yang diperlukan (Sadiman, 2011).” Respon yang didapatkan dari angket respon siswa, dianalisis dan diperoleh hasil untuk komponen isi mendapat presentase 92%, untuk komponen bahasa didapat presentase 87%, untuk komponen penyajian didapat presentase 85%, terakhir pada komponen pembelajaran discovery learning didapat presentase 84% yang menggambarkan bahwa dalam mengerjakan LKS siswa telah benar-benar menggunakan tahapan discovery learning.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) berbasis discovery learning pada kompetensi dasar menjelaskan konsep PDB, PDRB, PNB, dan PN ini menggunakan model pengembangan dari Semmel, dkk dalam Trianto (2007:65) yaitu 4D (Define, Design, Develop, Disseminate). tahap disseminate tidak dilakukan.
2. Kelayakan pengembangan LKS berbasis discovery learning memperoleh presentase kelayakan sebesar 93,5% dan dapat dikategorikan sangat layak berdasarkan penilaian dari ahli terkait dan guru mata pelajaran ekonomi ditinjau dari aspek komponen bahasa, komponen isi, komponen pembelajaran discovery learning dan komponen penyajian.
3. Hasil respon siswa yang didapatkan dari pengembangan LKS berbasis discovery learning memperoleh hasil validasi sebesar 87% dengan kategori sangat layak ditinjau dari aspek komponen
bahasa, komponen isi, komponen pembelajaran discovery learning dan komponen penyajian.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian pengembangan LKS berbasis discovery learning pada kompetensi dasar menjelaskan konsep PDB, PDRB, PNB, dan PN dengan menggunakan model pengembangan dari Semmel dkk yaitu 4D sebaiknya semua tahapan penelitian mulai dari Define, Design, Develop, Disseminate dilakukan semua agar hasil penelitian yang didapatkan lebih lengkap.
2. Bagi peneliti yang ingin mengembangkan LKS berbasis discovery learning dianjurkan untuk memilih kompetensi dasar (KD) yang selain dari penelitian yg dikembangkan oleh peneliti.
3. Pengembangan LKS ini diujikan secara terbatas kepada 20 siswa, sehingga perlu dilakukan ujicoba dengan jumlah siswa pada kelas yang lebih besar lagi supaya ditemukan hasil yang lebih valid.
DAFTAR PUSTAKA.
Abdurrahman, Rini Sintia, dkk. 2015. “Pengembangan LKS Model Discovery Learning Melalui Pendekatan Saintifik Materi Suhu dan Kalor”. Lampung: UNILA Press.
Bimo, D. S. & Isnaningsih. 2013. “Penerapan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Discovery Berorientasi Keterampilan Proses Sains Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA”. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. Vol. 2 (2): hal 136-141.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Depdiknas: Jakarta.
Depdiknas. 2005. Pedoman Penyusunan LKS SMA. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2005. Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005. Dewi Astuti. 2014. “Pengembangan Lembar Kegiatan
Siswa (LKS) IPA Model Discovery Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP Kelas VII” Jurnal Pendidikan IPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Hosnan, 2014. Pendekatan Scientific Dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.
Ibrahim, Muslimin. 2002. Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Surabaya: UNESA University Press.
Kemdikbud. 2012. Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru. Jakarta: Kemdikbud
Kemdikbud. 2013. Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning). Jakarta: Kemdikbud
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori dan Produk. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurjanah, Dewi. 2015. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Berbasis Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) Pada Materi Ketenagakerjaan Kelas XI Di MA Matholi’ul Anwar Lamongan. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya.
Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.
Prastowo, Andi. 2014. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif Menciptakan Metode Pembelajaran yang Menarik dan Menyenangkan. Yogyakarta: Diva Press.
Riduwan. 2012. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian”. Bandung: Alfabeta.
Sadiman, Arief, S, dkk. 2011. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Pers.
Sani, Ridwan Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif Konsep, Landasan, dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.