• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II APRILIA DWI SETIYANI MANAJEMEN'10

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II APRILIA DWI SETIYANI MANAJEMEN'10"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

.A Kinerja

Seseorang akan mendambakan penghargaan terhadap hasil

pekerjaanya dan mengharapkan imbalan yang adil. Penilaiaan kinerja perlu

dilakukan seobyektif mungkin karena akan memotivasi karyawan

dalam melakukan kegiatannya. Disamping itu, penilaian kinerja dapat

memberikan informasi untuk kepentingan pemberian gaji, promosi dan

melihat perilaku karyawan.

Faustino C. Gomes (1995) mengemukakan definisi kinerja karyawan

sebagai ungkapan seperti output, efisiensi serta efektifitas sering dihubungkan

dengan produktivitas. Kinerja (performance) mengacu pada kadar pencapaian

tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan karyawan.

Menurut Mangkunegara (2005), dalam Kusumah (2009) kinerja

dapat didefinisikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang

dapat dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai

dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.

Kinerja organisasi atau kinerja perusahaan merupakan indikator

tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan

manajer atau pengusaha. Kinerja merupakan hasil yang dicapai dari perilaku

anggota oranisasi, Gibson (1998), dalam Soedjono (2005). Jadi kinerja

organisasi merupakan hasil yang diinginkan organisasi dari perilaku

(2)

Soeprihantono (1988), dalam Koesmono (2005) mengatakan bahwa

kinerja merupakan hasil pekerjaan seorang karyawan selama periode

tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, misalnya standard,

target/sasran/kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah

disepakati bersama. Dengan demikian kinerja berarti hasil kerja seseorang

dalam melaksanakan tugas-tugasnya dengan rasa tanggungjawab.

Berbagai macam jenis pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan ,

tentunya membutuhkan kriteria yang jelas, karena masing-masing jenis

pekerjaan tentunya mempunyai standar yang berbeda-beda tentang

pencapaian hasilnya. Makin rumit jenis pekerjaan, maka standard operating procedure yang ditetapkan akan menjadi syarat mutlak yang harus dipatuhi.

.B Budaya Organisasi

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidak akan terlepas dari

lingkungannya. Kepribadian seseorang akan dibentuk pula oleh

lingkungannya dan agar kepribadian tersebut mengarah kepada sikap dan

perilaku yang positif tentunya harus didukung oleh suatu norma yang diakui

tentang kebenarannya dan dipatuhi sebagai pedoman dalam bertindak. Pada

dasarnya manusia atau seseorang yang berada dalam kehidupan organisasi

berusaha untuk menentukan dan membentuk sesuatu yang dapat

mengakomodasi kepentingan semua pihak, agar dalam menjalankan

aktivitasnya tidak berbenturan dengan berbagai sikap dan perilaku dari

(3)

dimana individu berada, seperti nilai, keyakinan, anggapan, harapan dan

sebagainya.

Budaya organisasi merupakan sistem penyebaran kepercayaan dan

nilai-nilai yang berkembang dalam suatu organisasi dan mengarahkan

perilaku anggota-anggotanya Soedjono (2005). Budaya organisasi dapat

menjadi instrumen keunggulan kompetitif yang utama, yaitu bila budaya

organisasi mendukung strategi organisasi, dan bila budaya organisasi dapat

menjawab atau mengatasi tantangan lingkungan dengan cepat dan tepat.

Lain halnya dengan Robbins (2008), budaya organisasi merupakan

suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, dan

merupakan suatu sistem makna bersama. Mengingat budaya organisasi

merupakan suatu kesepakatan bersama para anggota dalam suatu organisasi

atau perusahaan sehingga mempermudah lahirya kesepakatan yang lebih luas

untuk kepentingan perorangan. Keutamaan budaya organisasi merupakan

pengendali dan arah dalam membentuk sikap dan perilaku manusia yang

melibatkan diri dalam suatu kegiatan organisasi. Secara individu maupun

kelompok seseorang tidak akan terlepas dengan budaya organisasi dan pada

umumnya mereka akan dipengaruhi oleoh keanekaragaman sumber-sumber

daya yang ada sebagai stimulus seseorang bertindak.

Kreitner dan Kinicki (1995), dalam Koesmono (2005) mengemukakan

bahwa budaya organisasi adalah perekat sosial yang mengingat anggota dari

(4)

berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain dapat disatukan

dalam suatu kekuatan organisasi maka perlu adanya perekat sosial.

Kartono (1994), mengatakan bahwa bentuk kebudayaan yang muncul

pada kelompok-kelompok kerja di perusahaan-perusahaan berasal dari

macam-macam sumber, antara lain : dari stratifikasi kelas sosial asal

buruh–buruh/pegawai, dari sumber-sumber teknis dan jenis pekerjaan, iklim

psikologis perusahaan sendiri yang diciptakan oleh majikan, para direktur

dan manajer-manajer yang melatarbelakangi iklim kultur buruh-buruh

dalam kelompok kecil-kecil yang informal.

Buchanan dan Huczyski (1997), dalam Koesmono (2005)

elemen-elemen budaya organisasi atau perusahaan adalah nilai-nilai,

kepercayaan-kepercayaan, pendapat-pendapat, sikap-sikap dan norma-norma. Berbagai

tindakan yang dilakukan oleh seseorang tentunya berbeda-beda dalam bentuk

perilakunya. Dalam organisasi implementasi budaya dirupakan dalam bentuk

perilaku artinya perilaku individu dalam organisasi akan diwarnai oleh

budaya organisasi yang bersangkutan.

.C Motivasi Ekstrinsik

Berbagai usaha yang dilakukan oleh manusia tentunya untuk

memenuhi keinginan dan kebutuhannya, namun agar keinginan dan

kebutuhannya dapat terpenuhi tidaklah mudah didapatkan apabila tanpa

usaha yang maksimal. Mengingat kebutuhan orang yang satu dengan yang

(5)

Dalam memenuhi kebutuhannya seseorang akan berperilaku sesuai dengan

dorongan yang dimiliki dan apa yang mendasari perilakunya, untuk

itu dapat dikatakan bahwa dalam diri seseorang ada kekuatan yang

mengarah kepada tindakannya. Teori motivasi merupakan konsep yang

bersifat memberikan penjelasan tentang kebutuhan dan keinginan

seseorang serta menunjukkan arah tindakannya.

Robbins (2008) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang

menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai

tujuannya. Unsur kunci dalam definisi diatas adalah intensitas, arah dan

ketekunan. Intensitas menyangkut seberapa kerasnya seseorang berusaha.

Akan tetapi intensitas yang tinggi tidak akan membawa hasil yang diinginkan

kecuali kalau upaya itu diarahkan ke suatu tujuan yang menguntungkan

organisasi. Akhirnya motivasi memiliki dimensi ketekunan, ini adalah ukuran

tentang berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya. Individu –

individu yang termotivasi tetap bertahan pada pekerjaan cukup lama untuk

mencapai tujuan mereka.

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) penggerak

seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasmenya

dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri

individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi

ekstrinsik). Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah memperoleh

kekuatan untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam kehidupan..

Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak

(6)

konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang

motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan

pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya

pencapaian kinerja (prestasi) seseorang.

Motivasi dapat berasal dari dalam (Intrinsik) dan dari luar diri

seseorang (Ekstrinsik). Motivasi yang berasal dari dalam diri yaitu yang

didorong oleh faktor kepuasan dan ingin tahu. Jenis motivasi ini timbul dari

dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas

dasar kemauan sendiri.yang kemudian disebut juga dengan motivasi intrinsik.

Sedangkan motivasi yang berasal dari luar yaitu perangsang ataupun stimulus

dari luar (sebagai contohnya ialah nilai, hadiah serta bentuk-bentuk

penghargaan lainnya) adalah ‘motivasi ekstrinsik’. Jenis motivasi ini timbul

sebagai akibat pengaruh dari luar individu.

.1 Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang berasal dari rangsangan di

dalam diri setiap individu. Ia terdiri daripada dorongan dan minat individu

untuk melakukan suatu aktivitas tanpa mengharap ataupun meminta ganjaran.

Sebagaimana yang sudah dibicarakan, Bruner (1966) mengaitkan motivasi

intrinsik ini dengan naluri ingin tahu dan dorongan mencapai kemudahan

belajar bagi murid yang baru masuk sekolah. Bagaimanapun, bukan semua

motivasi intrinsik diwujudkan secara nyata, akan tetapi ada juga motivasi

intrinsik yang dibentuk melalui pembelajaran dan pengalaman yang membawa

(7)

.2 Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik merupakan bentuk rangsangan dari luar yang

bertujuan menggerakkan individu untuk melakukan suatu aktivitas yang

membawa manfaat kepada individu itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini dapat

dirangsang dalam bentuk-bentuk seperti pujian, insentif, hadiah, dan nilai.

Selain itu membentuk suasana dan lingkungan yang kondusif juga dapat

dikategorikan kedalam bentuk motivasi ekstrinsik, karena hal tersebut dapat

mendorong seorang pelajar untuk lebih giat belajar.

Contoh motivasi ekstrinsik yaitu, penghargaan yang diberikan oleh

atasan kepada karyawan karena pekerjaannya yang baik akan menyebabkan

daya usaha atau motivasi karyawannya tersebut meningkat. Dalam hal ini

berlakulah apa yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan

bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai

konsekwensi yang menguntungkan dirinya (konsekuensi positif) dan

mengelakkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang

merugikan (konsekuensi negatif).

Konsekuensi positif ialah stimulus atau peristiwa yang menyebabkan

kemajuan dalam pembelajaran ataupun perubahan kelakuan kearah yang

positif. Konsekwensi ini lazimnya menggembirakan dan dapat disebut sebagai

ganjaran. Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru ketik yang mampu

menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru ketik tersebut

mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji

yang dipercepat. Karena juru ketik tersebut menyenangi konsekwensi

(8)

teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya

dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin

bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekuensi positif

lagi di kemudian hari.

Konsekuensi yang tidak menyebabkan kemajuan dalam pembelajaran

adalah konsekuensi negatif. Konsekuensi negatif adalah stimulus atau

peristiwa yang diberikan setelah suatu respons berlaku, sehingga

dimungkinkan akan mengakibatkan peningkatan respons itu.

(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/teori-motivasi-4/).

Teori-teori Motivasi

Teori motivasi dipahami agar pimpinan mampu mengidentifikasi apa

yang memotivasi karyawan bekerja, hubungan perilaku kerja dengan motivasi

dan mengapa karyawan berprestasi tinggi.

1. Teori Dua Faktor

Teori dua faktor dikembangkan oleh Frederick Herzberg. Ia menggunakan

teori Abraham Maslow sebagai teori acuannya. Penelitian Herzberg

diadakan dengan melakukan wawancara terhadap subyek insinyur dan

akuntan. Masing-masing subyek diminta menceritakan kejadian yang

dialami oleh mereka baik yang menyenangkan (memberikan kepuasan)

maupun yang tidak menyenangkanatau tidak memberikan kepuasan.

Kemudian, hasil wawancara tersebut dianalisis dengan analisis isi (content analysis) untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan

atau ketidakpuasan. Dua faktor yang menyebabkan timbulnya rasa puas

(9)

(maintenance factors) dan faktor pemotivasian (motivational factors).

Faktor pemeliharaan disebut pula dissatifiers, hygiene factors, job content, extrinsic factors yang meliputi administrasi dan kebijakan perushaan,

kualitas pengawasan, hubungan dengan pengawas, hubungan dengan

kondisi kerja, dan status. Sedangkan faktor pemotivasian disebut pula

satisfier, motivators, job content, intrinsic factors yang meliputi dorongan

berprestasi, pengenalan, kemajuan (advancement), work it self, kesempatan berkembang, dan tanggung jawab.

2. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Kebutuhan merupakan fundamental yang mendasari perilaku pegawai.

Kita tidak mungkin memahami perilaku pegawai tanpa mengerti

kebutuhannya.

Abraham Maslow mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan manusia

adalah sebagai berikut :

a) Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum,

perlindungan fisik, bernafas, seksual. Kebutuhan ini merupakan

kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang

paling dasar.

b) Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri

ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup.

c) Kebutuhan untuk rasa memiliki, yaitu kebutuhan untuk diterima oleh

kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai

(10)

d) Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan

dihargai oleh orang lain.

e) Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk

menggunakan kemampuan, skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dan mengemukakan ide-ide member penilaian dan kritik

terhadap sesuatu.

3. Teori David McClelland

McClelland seorang ahli psikologi dan masyarakat dari Universitas

Harvard dalam teori motivasi berprestasinya mengemukakan bahwa

prestasi seseorang sangat ditentukan oleh “Virus Mental” yang ada pada

diri seseorang. Virus mental adalah kondisi jiwa yang mendorong

seseorang untuk mampu mencapai prestasi secara maksimal. Virus mental

yang dimaksud adalah Achievement Motivation. Motivasi berprestasi dapat

diartikan sebagai suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan

atau mengerjakan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya.

.4 Teori ERG-Alderfer

Teori Alderfer menghipotesiskan bahwa himpunan kebutuhan yang

berkisar mulai dari yang paling nyata sampai kurang nyata, teori ini

mengasumsikan jika usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan pada tingkat

tertentu terus menerus tidak berhasil, maka pribadi tersebut mungkin

mundur ke belakang pada perilaku yang memenuhi kebutuhan yang lebih

(11)

Teori ini berdasarkan atas tiga aspek dasar kebutuhan, yaitu :

a. Existence Needs, kebutuhan ini berhubungan dengan fisik atau keberadaan dari individu tersebut.

b. Relatedness Needs, kebutuhan interpersonal yang mengangkut kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungannya.

c. Growth Needs, kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan

pribadi.

Masing-masing teori kebutuhan berusaha menjelaskan perilaku dari sudut

pandang yang berbeda. Tidak ada satupun teori yang itu yang diterima

sebagai dasar tunggal untuk menjelaskan motivasi. Berikut adalah bagan

yang menggambarkan pemahaman dari empat buah teori motivasi tersebut:

Gambar 2 Sinopsis dari empat kebutuhan teori motivasi Maslow,

Alderfer, Herzberg, dan Mc Clelland. Gibson et al.(1996) dalam Kusumah

(2009).

Maslow

Self –actualization

Esteem

Belongingness social and love

Safely and security

Physiological Growth Relatedness Existence Satisfier or Motivating Condition Disatifiers Or hygiene Condition

The work it selft Respon Stability advancement growth

Achievement trrcognition

Qualoty of interpersonal Relation among peers With supervisions with Subordinate

Job security

Working condition salary Need for Achieveme nt Need for power Need for Alifitation

Aldefer Herzberg Mc. CLELLAND

(12)

D. Kepuasan Kerja

Pada dasarnya seseorang dalam bekerja akan merasa nyaman dan

tinggi kesetiannya pada perusahaan apabila dalam bekerjanya memperoleh

kepuasan kerja sesuai dengan apa yang diinginkan. Kepuasan adalah sesuatu

perasaan yang dialami oleh seseorang, dimana apa yang diharapkan telah

terpenuhi atau bahkan apa yang diterima melebihi apa yang diharapkan,

sedangkan kerja merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan

dengan memperoleh pendapatan atau kompensasi dari kontribusinya

kepada tempat pekerjaannya.

Robbins (2008) kepuasan kerja dapat didefinisikan sebagai suatu

perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari

sebuah evaluasi karakteristiknya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja

yang tinggi memiliki perasaan-perasaan positif tentang pekerjaan tersebut,

sementara orang yang tidak puas memiliki perasaan-perasaan negatif tentang

pekerjaan tersebut.

Dole and Schroeder (2001), dalam Koesmono (2005) kepuasan

kerja dapat didefinisikan sebagai perasaan dan reaksi individu terhadap

lingkungan pekerjaannya, sedangkan menurut Handoko (1992), dalam

Soedjono (2005) kepuasan kerja atau job satisfaction adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para

karyawan memandang pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan cerminan

dari perasaan pekerja terhadap pekerjaannya. Hal ini tampak dalam sikap

(13)

Sebaliknya, karyawan yang tidak puas akan bersikap negatif terhadap

pekerjaan dan bentuk yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan analisis yang terdahulu oleh Kusmono, (2005)

disimpulkan bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap motivasi dan

kepuasan kerja serta kinerja pada karyawan industri pengolahan kayu skala

menengah di Jawa Timur dapat diterima. Keempat variabel tersebut

merupakan faktor-faktor dalam perilaku organisasi yang harus mendapatkan

perhatian khusus bagi semua pihak yang terkait dengan proses produksi.

Penelitian ini dapat memberikan informasi pada manajemen dalam mengelola

sumber daya manusia, artinya bahwa mengelola sumber daya manusia tidak

terlepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerjanya. Pada

prinsipnya tujuan mengelola sumber daya manusia adalah untuk mencapai

kesejahteraan bersama antara perusahaan dan semua karyawan yang terlibat

dengan aktivitas perusahaan.

E. Hubungan Budaya Organisasi, Motivasi Ekstrinsik, dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja.

Adanya keterkaitan hubungan antara budaya korporat dengan kinerja

karyawan yang dapat dijelaskan dalam model diagnosis budaya organisasi

Tiernay bahwa semakin baik kualitas faktor-faktor yang terdapat dalam

budaya organisasi makin baik kinerja organisasi tersebut. Karyawan yang

sudah memahami keseluruhan nilai organisasi akan menjadikan

(14)

tersebut akan diwujudkan menjadi perilaku keseharian mereka dalam bekerja,

sehingga akan menjadi kinerja individual. Didukung dengan adanya sumber

daya manusia yang berkualitas, sistem dan teknologi yang tersedia, strategi

perusahaan yang telah direncanakan serta logistik yang dibutuhkan, yang

terdapat dalam organisasi tersebut, maka masing-masing kinerja individu

diharapkan lebih maksimal, karena kinerja individu yang baik akan

menimbulkan kinerja organisasi yang baik pula.

Dampak budaya organisasi terhadap kinerja dapat dilihat pada

beberapa contoh perusahaan yang memiliki kinerja yang tinggi, seperti

Singapore Airlines yang menekankan pada perubahan-perubahan yang

berkesinambungan, inovatif dan menjadi yang terbaik. Baxter International,

salah satu perusahaan terbesar di dunia, memiliki budaya respect,

responsiveness dan result, dan nilai-nilai yang tampak disini adalah

bagaimana mereka berperilaku ke arah orang lain, kepada customer,

pemegang saham, supplier dan masyarakat.

Untuk mengetahui hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja

pegawai haruslah diperhatikan dari kumpulan sikap-sikap individu dalam

hubungannya dengan kelompok dalam suatu organisasi, kinerja pegawai yang

maksimal karena adanya hubungan antara individu dari kelompok kerja

maupun terhadap organisasinya, oleh sebab itu apabila tujuan untuk

mendapatkan kepuasan-kepuasan individu tersebut dapat terpenuhi. Dengan

demikian pegawai akan bertingkah laku tertentu untuk mencapai tujuan

(15)

kekuatan yang menggerakkan tingkah laku mereka yang ditujukan pada

pencapaian tujuan organisasi.

Seorang pimpinan haruslah dapat memberikan perhatian dan menaruh

minat terhadap pegawai serta harus pula memberikan pengakuan kepada

mereka atas hasil-hasil yang telah dicapai didalam proses usaha kerjasama

tersebut.Untuk itu maka dapatlah disimpulkan bahwa dengan pemberian

motivasi kepada para pegawai maka hal ini akan meningkatkan kinerja

pegawai tersebut.

Kepuasan kerja juga penting untuk aktualisasi diri. Karyawan yang

tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mengalami kematangan

psikologik dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Karyawan seperti ini

akan sering melamun, mempunyai semangat rendah, cepat lelah dan bosan,

emosi yang tidak stabil, sering absen dan melakukan kesibukan yang tidak

ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan.

Sedangkan karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja biasanya

mempunyai catatan kehadiran yang baik, dan berprestasi kerja lebih baik dari

pada karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja. Kepuasan kerja

mempengaruhi tingkat perputaran karyawan dan absensi. Jika kepuasan kerja

karyawan meningkat maka perputaran karyawan dan absensi menurun.

Pengaruh kepuasan kerja organisasi terhadap kinerja karyawan terjadi

karena kebanggaan karyawan atas keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.

Manajemen kinerja adalah suatu proses yang dirancang untuk

menghubungkan pencapaian tujuan organisasi dengan tujuan individu

(16)

maka karyawan benar-benar termotivasi dalam pencapaian tujuan organisasi

dan mendapatkan kepuasan yang lebih besar.

Gambar

Gambar  2  Sinopsis  dari  empat  kebutuhan  teori  motivasi  Maslow,

Referensi

Dokumen terkait

Formulir E, apabila yang bersangkutan tidak masuk kerja lebih dari 2 (dua) hari kerja karena sakit, yang bersangkutan dapat mengajukan cuti sakit dan melakukan pengisian

Di bagian timurlaut daerah penyelidikan yaitu Wae Nere dekat Kampung Cepang terdapat zona batuan ubahan kuat berupa ubahan lempung dan silika, kemudian klorit dan epidot pada

sebuah pesan dari publisher cocok dengan subscription expression milik sebuah Receiver, event router akan mengirimkan pemberitahuan bahwa ada pembaruan pada content yang

Setelah melakukan observasi tentang kecerdasan sosial, peneliti melakukan observasi tipe pola asuh orang tua siswa kelas VI SD Jatimulyo 0I,setelah dilakukan

5 Tahun 1999 tercantum dalam Pasal 8 yang mengatur mengenai larangan membuat perjanjian yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak akan menjual

Tera atau Tera Ulang merupakan salah satu jenis jasa umum, pengertian Tera ulang ialah hal menandai berkala dengan tanda-tanda tera sah atau tera batal yang berlaku

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan yang nyata antara variabel jarak tempat tinggal penyuluh dengan tempat bertugas, pengalaman, pendapatan,