A. Pendekatan JAS
1. Definisi Pendekatan JAS
Menurut Ridlo dkk (2005) dalam Husamah (2013) pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kehidupan peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, teknologi maupun budaya sebagai obyek belajar biologi yang fenomenannya dipelajari melalui kerja ilmiah.
Pendekatan pembelajaran JAS adalah salah satu inovasi pendekatan pembelajaran Biologi dan merupakan kajian ilmu lain yang bercirikan memanfaatkan lingkungan sekitar dan simulasinya sebagai sumber belajar melalui kerja ilmiah, serta diikuti pelaksanaan belajar yang berpusat pada peserta didik.
Belajar adalah kegiatan aktif peserta didik dalam membangun pemahaman atau makna. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran JAS memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk membangun gagasan yang muncul dan berkembang setelah pembelajaran berakhir, di sisi lain dengan pendekatan pembelajaran JAS tampak secara eksplisit bahwa tanggung jawab belajar berada pada peserta didik dan guru mempunyai tanggungjawab menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. ( Mulyani dkk, 2008 : 7).
Pendekatan pembelajaran JAS dalam implementasinya menekankan pada pembelajaran yang menyenangkan. Ini merupakan salah satu komponen dari PAKEM yang mempunyai kepanjangan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Namun dalam pendekatan pembelajaran JAS, karakter menyenangkan, terekspresi secara eksklusif dalam istilah Bioedutainmen (asal kata bio = biology, edu = education dan trainmen = entertainment ) yakni merupakan strategi pembelajaran biologi yang menghibur dan menyenangkan melibatkan unsur ilmu atau sain, proses penemuan ilmu (inquiri), keterampilan berkaya, kerja sama, permainan yang mendidik, kompetisi, tantangan dan sportivitas, Mulyani dkk (2008).
Jelajah Alam Sekitar (JAS) merupakan pendekatan yang masih aksiomatis, sehingga perlu dikonkritkan. Dalam implementasinya, penjelajahan
9
merupakan penciri kegiatan termasuk di dalamnya adalah discovery dan inkuiri, sedangkan alam sekitar merupakan objek yang dieksplorasi.
Menurut Isnaeni (2007) dalam Wibowo (2007:5), kegiatan belajar semacam itu akan mendorong siswa untuk melakukan berbagai tindakan yang akan memberikan pengalaman langsung dan konkrit bagi mereka. Pembelajaran dengan pendekatan JAS, mengajak siswa untuk mengenal obyek, gejala dan permasalahan, menelaah dan menemukan simpulan atau konsep tentang sesuatu yang dipelajarinya ( Ridlo (2005) dalam Mariana (2007) ). Pendekatan ini membuat siswa lebih mudah mengingat dan memahami dengan hal-hal yang telah dipelajarinya secara langsung. Seperti saat siswa melakukan eksplorasi terhadap fenomena alam yang terjadi. fenomena tersebut dapat ditemui di lingkungan sekeliling siswa atau fenomena alam sehingga akan sangat membantu siswa untuk mengamati sekaligus memahami gejala atau konsep yang terjadi.
Menurut Husamah (2013 : 37), pendekatan pembelajaran JAS menekankan kepada kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi dunia nyata, sehingga selain dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh peserta didik, pendekatan ini memungkinkan peserta didik dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dengan dunia nyata sehingga hasil belajarnya lebih berdaya guna.
Dapat disimpulkan dari beberapa definisi mengenai pendekatan pembelajaran JAS, maka dapat diartikan bahwa Pendekatan JAS lebih menekankan pada kegiatan belajar yang dikaitkan dengan lingkungan alam sekitar kehidupan siswa dan dunia nyata, sehingga siswa dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dengan masalah - masalah kehidupan sehari hari dan kehidupan nyata. Pengetahuan yang diperoleh siswa tidak secara langsung dari guru atau buku, akan tetapi melalui kegiatan ilmiah seperti mengamati, mengumpulkan data, membandingkan, memprediksi, merancang kegiatan, membuat hipotesis, merumuskan simpulan berdasarkan data dan membuat laporan secara komprehensif. Berdasarkan hal tersebut, maka hasil belajar siswa menjadi lebih bermakna.
Model – model pembelajaran yang biasa dikembangkan dalam pendekatan JAS adalah model yang lebih bersifat student centered, lebih memaknakan sosial, lebih memanfaatkan multiresources dan assessment yang berbasis mastery learning. Beberapa strategi pembelajaran yang sejiwa dengan
JAS antara lain CBSA, inquiry-based learning, problem-based learning, cooperative learning, project-based learning, pendekatan keterampilan proses sain. (Husamah, 2013 : 37).
Menurut Marianti dkk (2008), menyatakan bahwa ada 8 hal yang menggambarkan hakikat pembelajaran dengan pendekatan JAS, yaitu:
a). Siswa belajar dengan melakukan secara nyata dan ilmiah.
b). Bentuk kegiatan lebih utama daripada hasil c). Berpusat pada siswa
d). Terbentuknya masyarakat belajar e). Berfikir tingkat tinggi
f). Memecahkan masalah
2. Komponen JAS
Menurut Mulyani dkk (2008 : 9) Komponen–komponen JAS adalah sebagai berikut:
a. Eksplorasi
Dengan melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya, seseorang akan berinteraksi dengan fakta yang ada di lingkungan sehingga menemukan pengalaman dan sesuatu yang menimbulkan pertanyaan atau masalah.
Dengan adanya masalah manusia akan melakukan kegiatan berpikir untuk mencari pemecahan masalah. Dalam memecahkan masalah tidak berdasar pada perasaan tetapi lebih ke penalaran ilmiah. (Suriasumantri, (2000) dalam Mulyani (2008)). Lingkungan yang dimaksud disini tidak hanya lingkungan fisik saja, akan tetapi juga meliputi lingkungan sosial, budaya dan teknologi.
b. Konstruktivisme
Pengetahuan dahulu dianggap sebagai kumpulan fakta. Akan tetapi sekarang, pendapat ini mulai bergeser, terutama di bidang sains, pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berubah dan berkembang (Suparno (1997) dalam Mulyani dkk, (2008). Sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah alat inderanya. Seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui alat inderanya, melihat, mendengar, menyentuh, mencium dan merasakannya.
Menurut Lorsbach dkk, (1992) dalam Mulyani dkk (2008 : 10) selama proses berinteraksi dengan lingkungan, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Jadi pengetahuan ada dalam diri sesorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru). Paserta didik sendiri yang harus mengartikan pelajaran yang disampaikan guru dengan menyesuaikan terhadap pengalaman- pengalaman mereka sebelumnya. Dalam pembentukan pengetahuan, menurut Piaget (1970) dalam Mulyani dkk (2008 : 10) terdapat dua aspek berpikir yaitu aspek figuratif dan aspek operatif. Aspek operatif lebih penting karena menyangkut operasi intelektual atau sistem transformasi. Berpikir operatif inilah yang memungkinkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuannya dari suatu level tertentu ke level yang lebih tinggi.
c. Proses Sains
Proses sains atau proses kegiatan ilmiah dimulai ketika seseorang mengamati sesuatu. Sesuatu diamati karena menarik perhatian, mungkin memunculkan pertanyaan atau permasalahan. Permasalahan ini perlu dipecahkan melalui suatu proses yang disebut metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Menurut Huxley (1964) dalam Mulyani dkk (2008 : 10) metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerjanya pikiran, sedangkan berpikir adalah suatu kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dengan metode ilmiah bersifat rasional dan teruji sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam membangun pengetahuan.
d. Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, antara yang tahu dengan yang belum tahu. Dalam kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan untuk melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar.
Anggota kelompok sebaiknya yang heterogen, sehingga yang pandai dapat mengajari yang kurang pandai, yang cepat menangkap pelajaran dapat mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan dapat mengajukan usul. Guru juga dapat melakukan kolaborasi dengan
mendatangkan “ahli” ke kelas sebagai nara sumber sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung dari ahlinya.
Masyarakat belajar dapat terbentuk jika terjadi proses komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga minta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Dalam praktek pembelajaran di kelas, masyarakat belajar dapat terwujut dalam:
1. Pembentukan kelompok kecil 2. Pembentukan kelompok besar 3. Mendatangkan “ahli” ke kelas 4. Bekerja dengan kelas sederajat
5. Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya 6. Bekerja dengan masyarakat
e. Bioedutainment
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa profesi pendidik akan tetap eksis apabila ada pembaharuan atau dinamika paradigma. Dimana pendekatan pembelajaran biologi terus berkembang sesuai perkembangan ilmu dasar dan terapan yang menyertainya. Biologi merupakan salah satu kajian ilmu strategis untuk dapat memahami tentang fenomena alam. Pengembangan biologi yang kompleks perlu diikuti dengan pendekatan pembelajaran yang mengarah pada pembekalan dan ilmu disertai sikap untuk mau belajar sepanjang hidup. Untuk itu pendekatan pembelajaran yang mengasyikan yang menghibur dan menyenangkan perlu dikembangkan secara konsisten.
Bioedutainment dimana dalam pendekatannya melibatkan unsur utama ilmu dan penemuan ilmu, keterampilan berkarya, kerjasama, permainan yang mendidik, kompetisi, tantangan dan sportivitas dapat menjadi salah satu solusi dalam menyikapi perkembangan biologi saat ini dan masa yang akan datang.
Melalui penerapan strategi pembelajaran bioedutainment, aspek kognitif, afektif dan psykomotorik pada diri siswa dapat diamati. Strategi bioedutainment menekankan kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata, sehingga dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh peserta didik. Strategi ini memungkinkan seluruh peserta didik dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkan dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajarnya lebih berdaya dan berhasil guna.
Pembelajaran biologi dengan menerapkan strategi bioedutainment memungkinkan peserta didik untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah dunia nyata dan masalah yang disimulasikan. Strategi pembelajaran bioedutainment dapat diterapkan di luar kelas (out door classroom) atau di dalam kelas (in door classroom), maupun di tempat pembelajaran lainnya dikaitkan dengan metode pembelajaran konvensional yakni ceramah, diskusi, permainan edukatif, eksperimen, bermain peran yang bersifat multi strategi dan multi media. Strategi pembelajaran biologi dengan pendekatan JAS bercirikan ekplorasi sumber daya alam serta eksplorasi potensi peserta didik.
Pembelajaran bioedutainment dapat diterapkan pada semua standart kompetensi.
f. Asesmen Autentik
Asesmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Bila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru bisa segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Jadi asesment dilakukan selama proses pembelajaran, terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran, bukan hanya pada akhir periode pembelajaran saja.
Pembelajaran yang benar ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada banyak sedikitnya informasi yang diperoleh pada akhir periode pembelajaran. Karena assessment menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan semata-
mata dari hasil. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa. Sebagai penilai tidak hanya guru, tetapi juga teman lain atau orang lain.
1) Karakteristik penilaian autentik adalah:
a. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran b. Biasa digunakan untuk formatif maupun sumatif c. Yang diukur keterampilan dan performansi d. Berkesinambungan
e. Terintegrasi
f. Dapat digunakan sebagai umpan balik
2) Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa adalah:
a. Proyek/kegiatan dan laporannya pekerjaan rumah b. Kuis
c. Karya siswa
d. Presentasi atau penampilan siswa e. Demonstrasi
f. Laporan g. Jurnal
h. Hasil tes tertulis
3. Penerapan Pendekatan JAS
Dalam praktiknya, pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran alam, siswa dapat dihadapkan langsung dengan lingkungan konkretnya maupun manipulatifnya selama proses belajar. Jelajah Alam Sekitar (JAS) merupakan pendekatan yang masih aksiomatis, sehingga perlu dikonkretkan. Dalam implementasinya, penjelajah merupakan penciri kegiatan termasuk di dalamnya adalah discopery dan inkuiri, sedangkan alam sekitar merupakkan objek yang dieksplorasi. (Husamah 2013 : 38 ).
Menurut Ridlo (2005) dalam Mulyani dkk (2005 : 14) kegiatan penjelajahan merupakan suatu strategi alternatif dalam pembelajaran biologi.
Kegiatan ini mengajak peserta didik aktif mengeksplorasi lingkungan sekitarnya untuk mencapai kecakapan kognitif, afektif, dan psikomotornya sehingga memiliki penguasaan ilmu dan keterampilan, penguasaan berkarya, penguasaan menyikapi dan penguasaan bermasyarakat. Lingkungan sekitar dalam hal ini
bukan saja sebagai sumber belajar tetapi menjadi obyek yang harus diuntungkan sebagai akibat adanya kegiatan pembelajaran. Pendekatan JAS berbasis pada akar budaya, dikembangkan sesuai metode ilmiah dan dievaluasi dengan berbagai cara.
Menurut Santosa dalam Marianti (2006 : 14) Yang menjadi penciri dalam kegiatan pembelajaran berpendekatan JAS adalah
a. Selalu dikaitkan dengan alam sekitar secara langsung maupun tidak langsung yaitu dengan menggunakan media.
b. Selalu ada kegiatan berupa peramalan (prediksi), pengamatan, dan penjelasan.
c. Ada laporan untuk dikomunikasikan baik secara lisan, tulisan, gambar, foto atau audiovisual.
Kegiatan pembelajarannya dirancang menyenangkan sehingga menimbulkan minat untuk belajar lebih lanjut.
Penerapan pendekatan JAS mengajak peserta didik mengenal objek, gejala dan permasalahan, menelaahnya dan menemukan kesimpulan atau konsep tentang sesuatu yang dipelajarinya. Jika dicermati, maka pendekatan pembelajaran JAS dikembangkan berdasarkan pemikiran Piaget dan Vygotsky yang menekankan pada konstruktivisme kognitif dan sosial. Seseorang akan lebih epektif dalam proses belajar jika kognitifnya secara aktif mengalami rekonstruksi, baik ketika berbenturan dengan suatu fenomena maupun kondisi sosial. Sebagi implikasinya, pembelajaran seharusnya memperhatikan pengembangan hands-on dan minds-on peserta didik.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS), siswa mamapu mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dan dapat belajar secara mendalam melalui objek – objek yang dihadapi. Hal ini juga mampu menambah kecintaa siswa terhadap alam dan siswa mampu lebih menghargai lingkungan yang berada disekitarnya.
4. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan JAS
Menurut Marianti dkk (2008) dalam Munafiah (2009) Kelebihan- kelebihan pembelajaran dengan penerapan Jelajah Alam Sekitar antara lain:
1. Siswa diajak secara langsung berhubungan dengan lingkungan sehingga mereka memperoleh pengalaman tentang masalah yang dipelajarinya.
2. Pengetahuan bisa diperoleh sendiri melalui hasil pengamatan, diskusi, belajar mandiri dari buku diktat sekolah, atau sumber lain.
3. Evaluasi tidak hanya didapat dari aspek kognitif, tetapi afektif dan juga psikomotor.
4. Kerja kelompok lebih nyata.
5. Dengan pembelajaran JAS dapat membentuk pada diri siswa rasa sayang terhadap alam sehingga dapat menimbulkan minat untuk memelihara dan melestarikannya.
Menurut Winataputra dkk (2001) dalam Munafiah (2009) Kekurangan- kekurangan pembelajaran dengan penerapan Jelajah Alam Sekitar antara lain:
a. Tidak terkontrolnya proses belajar mengajar.
b. Menghabiskan banyak waktu
c. Proses belajar mengajar kurang efektif.
B. Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan hal yang sangat penting dalam usaha memperoleh ilmu pengetahuan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar, oleh sebab itu dengan kemampuan berubahnya manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya. Dengan demikian dapat kita katakan, tidak ada ruang dan waktu dimana manusia dapat melepaskan dirinya dari kegiatan belajar, dan itu berarti bahwa belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu, karena perubahan yang menuntut terjadinya aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti.
Menurut Aunurrahman (2009 : 33), belajar merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk di dalamnya belajar bagimana seharusnya belajar. Menurut Hamalik (2005: 36) Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan, dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami.
Ada beberapa termonologi yang berkaitan dengan belajar yang sering kali menimbulkan keraguan dalam penggunaannya terutama di kalangan mahasiswa, yakni termonologi mengajar, pembelajaran dan belajar. Belajar diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk mencapai suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar. Sedangkan pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mendukung dan
mempengaruhi terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Dalam pembelajaran, situasi atau kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh guru. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri siswa.
Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila di dalam dirinya telah terjadi perubahan, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya. (Aunurrahman, 2009 : 34).
Menurut Aunurrahman (2011 : 35), belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar suatu proses yang dilakukan individu untuk memeperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan dari beberapa uraian mengenai pengertian belajar diatas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku seseorang yang didapatkan dari berbagai pengalaman dan latihan. Belajar tidak mengenal waktu, usia dan tempat dimanapun kapanpun bisa belajar dan seseorang dapat dikatakan belajar jika ada suatu perubahan dalam dirinya yang mengalami proses belajar melalui latihan dan pengalaman yang berinteraksi dengan lingkungannya.
Mengajar, belajar dan pembelajaran merupakan suatu rangkaian yang sangat berkaitan satu sama lain, suatu pembelajaran yang dikatakan epektif karena didalamnya terjadi proses balajar dalam diri siswa.
2. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2005:5), menyatakan bahwa hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku dan sebagai umpan balik dalam upaya memperbaiki proses belajar mengajar. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar merupakan penentuan akhir dalam rangkaian aktifitas belajar dan keberhasilan siswa dalam belajar tercermin dari hasil akhir yang diperolehnya. Menurut Nasution (2006:36), hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar mengajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru.
Kekurangan dari hasil belajar siswa terletak pada keterbatasan proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut slameto (2003:13) belajar suatu
proses usaha yang dilakukkan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara menyeluruh, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memeberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan.
a. Jenis-jenis Hasil Belajar
Bloom (dalam Sudjana 2005) membagi hasil belajar dalam tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris.
1) Ranah kognitif
Ranah ini berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni:
1. Pengetahuan (knowledge)
2. Pemahaman : Pemahaman dapat dilihat dari kemampuan individu dalam menjelaskan sesuatu masalah atau pertanyaan.
3. Aplikasi: Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis.
4. Analisis adalah usaha memilih suatu integritas menjadi unsur-unsur ataum bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya dan atau susunannya.
5. Sintesis, Berpikir sintesis adalah berpikir divergen dimana menyatukan unsur-unsur menjadi integritas.
6. Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara kerja, pemecahan metode, dll.
2) Ranah afekif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
3) Ranah psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Djamarah (2003) menyatakan bahwa berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu dan faktor dari luar individu.
1) Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar a) Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa. Dalam lingkunganlah siswa hidup dan berinteraksi. Lingkungan yang mempengaruhi hasil belajar siswa dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Lingkungan alami
Lingkungan alami adalah lingkungan tempat siswa berada dalam arti lingkungan fisik. Yang termasuk lingkungan alami adalah lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan bermain.
2. Lingkungan sosial
Makna lingkungan dalam hal ini adalah interaksi siswa sebagai makhluk sosial, makhluk yang hidup bersama atau homo socius. Sebagai anggota masyarakat, siswa tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat tempat siswa tinggal mengikat perilakunya untuk tunduk pada norma-norma sosial, susila, dan hukum. Contohnya ketika anak berada di sekolah, ia menyapa guru dengan sedikitm membungkukkan tubuh atau memberi salam.
b) Faktor Instrumental
Setiap penyelenggaraan pendidikan memiliki tujuan instruksional yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan seperangkat kelengkapan atau instrumen dalam berbagai bentuk dan jenis. Instrumen dalam pendidikan dikelompokkan menjadi:
1 Kurikulum
2 Program atau bahan pengajaran 3 Sarana dan prasarana
4 Tenaga pendidik (guru)
2) Faktor-faktor Internal yang Mempengaruhi Hasil Belajar a) Fisiologis
Merupakan faktor internal yang berhubungan dengan proses-proses yang terjadi pada jasmaniah.
1. Kondisi fisiologis
Kondisi fisiologis umunya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar individu. Siswa dalam keadaan lelah akan berlainan belajarnya dari siswa dalam keadaan tidak lelah.
2. Kondisi panca indera
Merupakan kondisi fisiologis yang dispesifikkan pada kondisi indera. Kemampuan untuk melihat, mendengar, mencium, meraba, dan merasa mempengaruhi hasil belajar. Anak yang memiliki hambatan pendengaran akan sulit menerima pelajaran apabila ia tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
3. Psikologis
Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri individu yang berhubungan dengan rohaniah. Faktor psikologis yang mempengaruhi hasil belajar adalah:
4. Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang memerintahkan. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
5. Kecerdasan
Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan siswa untuk beradaptasi, menyelesaikan masalah dan belajar dari pengalaman kehidupan. Kecerdasan dapat diasosiasikan dengan intelegensi.
Siswa dengan nilai IQ yang tinggi umumnya mudah menerima pelajaran dan hasil belajarnya cenderung baik.
6. Bakat
Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dilatih dan dikembangkan. Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu.
7. Motivasi
Motivasi adalah suatu kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
8. Kemampuan kognitif
Ranah kognitif merupakan kemampuan intelektual yang berhubungan dengan pengetahuan, ingatan, pemahaman dan lain- lain.
C. Pokok Bahasan Ekosistem
Ekosistem merupakan suatu hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya sehingga terjadi Ekosistem terbentuk oleh komponen makhluk hidup dan makhluk tak hidup. Komponen makhluk hidup juga disebut komponen biotik (bio = hidup) dan komponen makhluk tak hidup disebut komponen abiotik (a = tidak; bio = hidup).
1. Satuan satuan Ekosistem a. Individu
Individu adalah makhluk hidup tunggal yang menempati wilayah/
habitat. Contohnya: seekor kucing, seekor ayam, seekor kambing.
b. Populasi
Populasi adalah sekumpulan individu sejenis yang hidup dalam suatu habitat tertentu. Contohnya sekumpulan rumput diladang, tiga pohon kelapa di pantai, dua ekor kupu-kupu diladang
c. Komunitas
Komunitas adalah sekumpulan berbagai macam populasi makhluk hidup yang hidup dalam suatu wilayah tertentu. Suatu komunitas tersusun dari semua populasi yang hidup dan saling berinteraksi antar satu dengan yang lain dalam suatu wilayah dan waktu tertentu. Contohnya : komunitas sawah, komunitas kolam.
2. Komponen ekosistem terdiri dari dua komponen, yaitu:
a. Komponen abiotik adalah komponen yang tak hidup. Contohnya antara lain:
tanah, air, udara, cahaya matahari.
b. Komponen biotik adalah komponen yang terdiri dari makhluk hidup.
Contohnya antara lain : tumbuhan dan hewan.
Berdasarkan fungsi, komponen biotik dibedakan menjadi:
1) Produsen
Produsen merupakan kelompok organisme yang dapat membuat makanan sendiri. Semua jenis tumbuhan hijau termasuk produsen.
2) Konsumen
Kelompok yang terdiri dari hewan dan manusia. Kelompok ini tidak dapat membuat makanan sendiri, untuk itu tergantung pada organisme lain. Organisme tersebut disebut organisme heterotrof , yang artinya organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri sehingga untuk memenuhi kebutuhannya tergantung pada organisme lain. Berdasarkan tingkat memakannya, terbagi menjadi:
a. Konsumen I atau primer: organisme yang makan produsen (tumbuhan hijau).
b. Konsumen II atau sekunder: organisme yang makan konsumen I atau primer.
Berdasarkan jenis makanannya, konsumen sebagai organisme heterotrof dibagi menjadi:
a. Herbivora: hewan pemakan tumbuhan. Contoh: kerbau, kambing, belalang.
b. Karnivora: Hewan pemakan daging. Contoh: anjing, elang, harimau.
c. Omnivora: hewan pemakan segalanya. Contoh: tikus, ayam, luwak.
3) Pengurai atau dekomposer
Merupakan mikroorganisme yang menguraikan senyawa organik atau bahan makanan yang ada pada sisa organisme menjadi senyawa an organik yang lebih kecil. Pengurai biasanya dari golongan jamur dan bakteri yang tidakdapat membuat makanan sendiri dan mereka memperoleh makanan dengan cara menguraikan organisme yang telah mati. Hasil penguraian ini berupa zat mineral yang akan meresap ke dalam tanah. Zat mineral tersebut akan diambil tumbuhan. Terdapat dua macam ekosistem, yaitu :
a. Ekosistem buatan yang sengaja dibuat oleh manusia. Misal: sawah, kolam akuarium.
b. Ekosistem alami; yang tidak dibuat oleh manusia tetapi sudah ada dari alam. Misal: sungai, pantai, hutan.
Ekosistem yang terbesar di bumi disebut biosfer yang terdiri dari seluruh ekosistem yang ada di permukaan bumi.
Di dalam ekosistem terjadi saling ketergantungan antar komponen, sehingga apabila salah satu komponen mengalami gangguan maka mempengaruhi komponen lainnya. Ekosistem dikatakan seimbang apabila jumlah antara produsen, konsumen I dan konsumen II seimbang keterangan gambar anak panah dimakan.
3. Pola Interaksi
Makhluk hidup baik hewan, tumbuhan dan manusia, selalu berinteraksi atau berhubungan dengan makhluk hidup lain. Hubungan interaksi anatar dua makhluk hidup dapat terjadi sangat erat sehingga membentuk hubungan yang sangat khas. Hubungan tersebut di sebut dengan himbiosis. Himbiosis adalah cara hidup bersama antar dua jenis makhluk hidup yang bersifat langsung atau erat.
Terdapat beberapa jenis hubungan antar makhluk hidup, yaitu sebagai berikut :
1. Hubungan Netral
Hubungan netral yaitu hubungan yang tidak saling memengaruhi.
Netralisme terjadi apabila nisianya berbeda. Namun sesungguhnya hubungan yang benar-benar netral tidak ada, sebab setiap organisme memerlukan komponen abiotik (udara, ruangan, air, dan cahaya) yang sama, sehingga timbul persaingan. Selain itu setiap organisme juga mengeluarkan zat sisa yang dapat mengganggu organisme lain. Contoh hubungan netral ini adalah hubungan antara kambing dan ayam yang dipelihara manusia dalam kandang yang berdekatan.
2. Hubungan Simbiosis
Hubungan simbiosis yaitu hubungan saling memengaruhi antara dua organisme. Hubungan simbiosis ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut :
a. Simbiosis Mutualisme
Simbiosis mutualisme yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang saling menguntungkan. Contohnya adalah kupu-kupu dengan tumbuhan berbunga. Kupu-kupu memperoleh madu dari bunga sedangkan tumbuhan berbunga dibantu proses penyerbukannya.
Simbiosis mutualisme juga terjadi antara manusia dengan bakteri Eschericia coli yang hidup di usus. Bakteri tersebut menghasilkan vitamin K yang berperan pada proses pembekuan darah manusia.
Sedangkan manusia memberikan perlindungan, makanan, dan lingkungan yang cocok bagi bakteri di dalam usus.
b. Simbiosis Komensalisme
Simbiosis komensalisme yaitu hubungan antara dua jenis organisme di mana yang satu diuntungkan dan yang lain tidak dirugikan saat saling berinteraksi. Contohnya adalah tanaman anggrek dengan pohon yang ditumpanginya. Tanaman anggrek diuntungkan karena dapat hidup di pohon yang ditumpanginya, sedangkan pohon tidak mendapatkan keuntungan atau kerugian apapun dari hadirnya tanaman anggrek.
c. Simbiosis Parasitisme
Simbiosis parasitisme yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang merugikan salah satu pihak, sedangkan pihak yang lain diuntungkan saat berinteraksi. Contohnya adalah tumbuhan tali putri dan benalu dengan inangnya. Tali putri tidak dapat membuat makanan sendiri sehingga mengambil sari makanan dari tumbuhan inang. Contoh lain adalah kutu yang hidup pada kulit hewan. Kutu mendapat untung karena mengisap darah, sebaliknya hewan dirugikan karena darahnya diisap dan menjadi gatal-gatal.
3. Hubungan Kompetisi
Hubungan kompetisi terjadi jika dalam suatu ekosistem terdapat ketidakseimbangan, misalnya kekurangan air, makanan, pasangan kawin, dan ruang. Hubungan kompetisi dapat terjadi antara individu-individu dalam satu spesies maupun individu-individu yang berbeda spesies.
Contoh hubungan kompetisi yang berbeda spesies adalah hubungan antara banteng dan rusa yang menempati padang rumput yang sama. Contoh
hubungan kompetisi dalam satu jenis adalah persaingan antara pejantan kumbang badak untuk memperebutkan betina ketika musim kawin tiba.
4. Hubungan Predasi
Hubungan predasi yaitu hubungan antara organisme yang memangsa dan organisme yang dimangsa. Contohnya adalah hubungan antara rusa dengan singa. Meskipun tampaknya kejam, hubungan predasi diperlukan untuk mengendalikan jumlah populasi mangsa. Kamu tentu tahu bahwa\ rusa dapat berkembang biak dengan cepat. Jika sebagian populasi rusa tidak dimakan oleh singa, maka rusa-rusa itu dapat kekurangan makanan. Keseimbangan ekosistem dapat terjadi bila ada hubangan timbal balik di antara komponen–komponen ekositem.
4. Saling ketergantungan antar komponen biotik
a. Hubungan antara komponen biotik dan komponen abiotik
Keberadaan komponen abiotik dalam ekosistem sangat mempengaruhi komponen biotik. Misal: tumbuhan dapat hidup baik apabila lingkungan memberikan unsur-unsur yang dibutuhkan tumbuhan tersebut, contohnya air, udara, cahaya, dan garam–garam mineral. Begitu juga sebaliknya komponen biotik sangat mempengaruhi komponen abiotik yaitu tumbuhan yang ada di hutan sangat mempengaruhi keberadaan air, sehingga mata air dapat bertahan, tanah menjadi subur.
b. Hubungan antara komponen biotik dengan komponen biotik
Saling ketergantungan antarspesies yang berbeda jenis juga terjadi dalam peristiwa makan dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan menimbulkan perpindahan materi dan energi. Hal ini akan membentuk jaring-jaring kehidupan yang terdiri dari rantai makanan, jaring-jaring makanan, dan piramida makanan. Di antara produsen, konsumen dan pengurai adalah saling ketergantungan. Tidak ada makhluk hidup yang hidup tanpa makhluk lainnya. Terjadi melalui peristiwa makan dan memakan melalui peristiwa sebagai berikut:
1) Rantai makanan Merupakan peristiwa makan dan dimakan dalam suatu ekosistem dengan urutan tertentu.
2) Jaring-jaring makanan Merupakan sekumpulan rantai makanan yang saling berhubungan dalam suatu ekosistem. Seperti contoh jaring-jaring makanan di bawah ini terdiri dari 5 (lima) rantai makanan.
3) Piramida makanan Merupakan gambaran perbandingan antara produsen, konsumen I, konsumen II, dan seterusnya. Dalam piramida ini semakin ke puncak biomassanya semakin kecil. Piramida terdiri dari piramida massa, piramida jumlah dan piramida energy.