LAU SIMOMO :
DESA PENDERITA KUSTA di MATA "CALON" ANTROPOLOG
R. Hamdani Harahap Abdullah Akhyar Nasution
Husni Thamrin
USU Press
Art Design, Publishing & Printing Gedung F. Pusat Sistem Informasi (PSI) Kampus USU
JI. Universitas No. 9 Medan 20155, Indonesia
Telp. 061-8213737; Fax 061-8213737
usupress.usu.ac.id
C USU Press 2013
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang: dilarang memperbanyak menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
ISBN: 679 458 680 3
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Lau Simomo: Desa Penderita Kusta di Mata "Calon" Antropolog 1 R. Hamdani Harahap: Abdullah Akhyar Nasution; Husni Thamrin--Medan: USU Press, 2013.
vi, 63 p. : ilus. : 20 cm Bibliografi
ISBN: 679-458-680-3
1. Kusta I. Judul
Dicetak di Medan, Indonesia
KATA PENGANTAR
Bagi calon antropolog, ada beberapa kemampuan dasar lapangan yang harus dimiliki. Kemampuan itu diantaranya adalah melakukan observasi dan variasinya serta melakukan ragam wawancara. Untuk bisa melakukan kedua teknik pengumpulan data tersebut. Pada dasarnya pelatihan merupakan salah satu keharusan. Ini artinya kedua keahlian itu tidak akan bisa dimiliki secara otomatis tanpa melalui proses pelatihan berulang.
Tidak itu saja, kemampuan melakukan kedua teknik pengumpulan dasar fundamental tersebut juga hanya bisa dilakukan jika sang "calon" antropolog memahami banyak hal (terutama konsep, dalil dan teori) tentang ilmu sosial. Ini artinya kemampuan kognisi sang "calon" antropolog serta merta juga akan membantu proses pematangan kemampuan penggunaan teknik pengumpulan melalui observasi dan wawancara.
Tulisan berikut ini merupakan sebuah kompilasi dari sebuah proses pelatihan dasar yang dilakukan oleh Mahasiswa Departemen Antropologi USU di sebuah desa yang sebagian penduduknya adalah (mantan) penderita Kusta. Sebagai sebuah proses pelatihan, tulisan yang dipaparkan berikut ini secara substansi tidaklah diolah melalui proses peng-edit-an yang seharusnya layaknya sebuah karya ilmiah yang dipublikasi.
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar para mahasiswa yang terlibat dalam proses penulisan laporan berikut ini bisa mengetahui perkembangan kemampuannya berdasarkan perbandingan tulisan berikut ini dengan tulisan yang akan dibuatnya di masa yang akan datang.
Pada kesempatan ini tim penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang mendukung pelaksanaan PKL I tahun 2011 terutama kepada Ketua dan Sekretaris Departemen Antropologi FISIP-USU serta pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Semoga tulisan berikut ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Medan, Oktober 2012 An. Tim Penyusun
Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...
Daftar Isi ...
BAB I.
PENDAHULUAN ...
1.1. Latar Belakang ...
1.2. Bentuk Kegiatan ...
1.3. Lokasi Praktek Kerja Lapangan ...
1.4. Jumlah Peserta . ...
1.5. Waktu dan Jadwal Kegiatan ...
BAB II.
METODE PELAKSAAN PKL. ...
2.1. Persiapan Kegiatan ...
2.2. Kegiatan Lapangan. ...
2.3. Pelaporan. ...
BAB III.
HASIL LAPORAN PESERTA PKL... ...
Bab I. Gambaran Umum Komunitas ...
1.1. ...
Sejarah dan Asal-Usul Komunitas...
1.2. ...
Identitas Komunitas ...
1.3. ...
Gambaran Demografi. ...
Bab II. Gambaran Kebudayaan....
2.1. Bahasa ...
2.2. Sistem Pengetahuan... ...
2.3. Organisasi Sosial/Sistem Kekerabatan ...
2.4. Sistem Mata Pencaharian.. ...
2.5. Sistem Teknologi dan Peralatan Hidup... ...
2.6. Sistem Religi ...
2.7. Sistem Kesenian ...
Bab III. Pandangan Terhadap Diri dan Lingkungannya ...
3.1. Pandangan Komunitas Terhadap Dirinya ...
3.2. Harapan Mereka. ...
Bab IV. Penutup...
Kesimpulan Temuan ... .
Realita Kehidupan Penderita Kusta. ...
Bab I. Gambaran Umum Komunitas ...
1.1. ... Sejar ah dan Asal Usul Komunitas ...
1.2. Identitas Komunitas.. ...
1.3. Gambaran Demografi. ...
Bab II. Gambaran Tujuh Unsur Kebudayaan ...
2.1. Sistem Pengetahuan
2.2. Sistem Religi... ...
2.3. Sistem Mata Pencaharian. ...
2.4. Bahasa ...
2.5. Sistem Teknologi ...
2.6. Kesenian.. ...
2.7. Organisasi Sosial dan Kekerabatan ... ..
Bab III. Pandangan Terhadap Diri dan Lingkungan... ...
3.1. Pandangan Komunitas Terhadap Penderita Kusta ... . 3.2. Harapan ... ...
Bab IV. Penutup ...
4.1. Kesimpulan ...
Daftar Pustaka ...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Matakuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL) 1 adalah salah satu matakuliah wajib yang secara spesifik ditawarkan oleh Departemen Antropologi FISIP USU Tujuan diadakannya matakuliah ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menguasai dan mempraktekkan kemampuan dasar pengumpulan data dengan metode khas antropologi. Guna memaksimalkan upaya pencapaian tujuan diadakannya matakuliah ini, maka dirasa sangat penting untuk secara aktif berlatih menggunakan beberapa teknik dasar pengumpulan data yang diajarkan di kelas. Pada matakuliah PKL I ini materi dasar yang diharapkan dikuasai mahasiswa adalah kemampuan melakukan observasi dan variasinya serta metode wawancara. Atas dasar itu, maka para peserta yang mengikuti matakuliah ini bersama dengan dosen pengasuh berencana melakukan kunjungan ke lapangan (Field Work) selama 3 hari.
Field Work yang akan dilaksanakan ini dirasa sangat penting sebagai sebuah wadah uji coba memanfaatkan kemampuan teoritis yang dipelajari secara langsung di lapangan. Ini merupakan hal yang relevan sebab adalah hal yang tidak mungkin bila proses belajar mengajar yang tujuannya untuk meningkatkan keahlian namun hanya mengandalkan pada proses transfer pengetahuan yang bersumber dari teks semata.
Karenanya diperlukan upaya kreatif lain untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menguasai kedua teknik dasar pengumpulan data tersebut.
1.2. Bentuk Kegiatan
Kegiatan studi banding ini berbentuk Filed Work dengan model Life In. Selama Field Work berlangsung, mahasiswa peserta matakuliah akan diharuskan untuk mempraktekkan kedua teknik pengumpulan data yang dipelajari dan dituangkan ke
dalam laporan tertulis. Laporan yang dibuat akan dapat berupa laporan kelompok dan laporan kelas.
1.3. Lokasi Praktek Kerja Lapangan
Menurut rencana, Filed Work yang akan diikuti oleh peserta matakuliah PKL I akan dilangsungkan di :
Desa : Lau Simomo
Kecamatan : Kabanjahe Kabupaten : Tanah Karo
Dipilihnya lokasi ini dikarenakan secara khusus, di desa ini terdapat komunitas penderita serta mantan penderita penyakit kusta. Pola dan dinamika hubungan anggota komunitas tersebut dengan penduduk desa biasa lainnya serta pola strategi hidup komunitas tersebut menjadi salah satu objek yang secara keilmuan antropologi menarik untuk diungkap.
1.4. Jumlah Peserta
Peserta yang mengikuti Field Work ini adalah seluruh mahasiswa yang mengikuti matakuliah Praktek Kerja Lapangan I.
1.5. Waktu dan Jadwal Kegiatan
Menurut rencana kegiatan ini akan dilaksanakan pada: Hari/ tanggal: Jum'at - Minggu/25 - 27 November 2011.
BAB II
METODE PELAKSANAAN PKL
2.1. Persiapan Kegiatan
Pada dasarnya rangkaian kegiatan PKL I di Lau Simomo dipersiapkan sejak perkuliahan di awal Semester Ganjil 2010/2011 dilakukan. Pada tahap persiapan
ini ada beberapa hal yang dilakukan oleh peserta matakuliah diantaranya adalah:
a. Memilih dan menyusun struktur pengelola PKL I.
Proses memilih dan menyusun struktur pengelola ini sepenuhnya dilakukan oleh mahasiswa tanpa ada intervensi oleh tim pengasuh mata kuliah. Proses ini juga dilakukan untuk mempermudah proses koordinasi antara sesama mahasiswa, mahasiswa dengan dosen dan mahasiswa dengan stakeholder yang ada di desa lokasi PKL 1. Tidak itu saja, tim pengelola PKL juga bertanggung jawab penuh atas proses penyiapan transportasi dari kota medan menuju lokasi dan sebaliknya serta juga bertanggung jawab untuk mengelola akomodasi peserta PKL I.
Tanggung jawab kelancaran konsumsi selama di lokasi PKL 1 juga menjadi tanggung jawab tim pengelola.
b. Pengumpulan dana
Kegiatan PKL 1 ini sepenuhnya dibiayai secara mandiri oleh para mahasiswa. Oleh karena itu, iuran peserta matakuliah merupakan sumber pendanaan utama kegiatan PKL 1 tahun 2011. Proses pengumpulan dana sepenuhnya menjadi tugas tim pengelola. Oleh karena itu besaran dana serta alokasi dana selama proses PKL 1 berlangsung diketahui oleh semua mahasiswa karena dilaporkan secara berkala.
2.2. Kegiatan Lapangan
Sebagaimana disebutkan bahwa pelaksanaan PKL I ini menggunakan teknik
"Life In" selama tiga hari dua malam. Selama di lokasi, mahasiswa yang sebelumnya telah dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok ditugaskan untuk mencari data
sesuai dengan yang telah direncanakan. Secara garis besar pembagian tugas dan jenis data yang dikumpulkan selama di lokasi adalah sebagai berikut:
a. Kelompok Etnografi Komunitas Penderita/ Mantan Penderita Kusta di Lau Simomo (Kelompok 1,3,5,7)
Teknik pengumpulan
data
Sumber data
Instrumen pengumpulan
data
Objek yang dikaji
Observasi partisipasi
Masyarakat Mata dan kamera
Profil/wajah penduduk
Praktek bahasa
Teknologi/peralatan hidup
Mata pencaharian
Praktek religi, ketersediaan dan kondisi sarana ibadah
Pola pemukiman penduduk
Ketersediaan sarana dan prasarana ekonomi, pendidikan, transportasi, telekomunikasi.
Ketersediaan sarana dan prasarana air bersih dan penerangan/energi.
Pembagian kerja di rumah tangga
Sarana interaksi sosial/ruang terbuka umum
Sarana dan prasarana kesehatan
Potensi sumberdaya alam/lingkungan
Sarana kesenian
Upacara seputar lingkungan hidup (life cycle rites).
Instrumen pokok : Aparatur Desa/Tetua
Desa
Interview Guide
Sejarah komunitas
Prosedur mendiami pemukiman dan variasinya
Wawancara Mendalam
Informan pokok : Masyarakat
yang mendiami pemukiman
khusus
Interview guide
Life history beberapa penduduk penderita/mantan penderita kusta.
Dinamika dalam menjalankan mata pencaharian (pengetahuan, pengalaman dan harapan).
Dinamika dalam menjalankan ajaran agama
Pola dan dinamika pembagian kerja di rumah tangga
penderita kusta
Tanggapan terhadap penyakit yang di derita.
Tanggapan atas proses pengobatan yang diterima.
Tanggapan terhadap masyarakatg yang tidak menderita kusta.
Strategi hidup dan pada hubungan dengan sesama penderita kusta dan dengan tidak tidak menderita.
Dinamika kehidupan berkeluarga (perkawinan dan pertalian darah).
Dinamika pemanfaatan sarana dan prasarana ekonomi, pendidikan, transportasi, telekomunikasi, ruang terbuka umum, air bersih, energi dan kesehatan.
Tanggapan tentang pelaksanaan uparaca adat dan upacara sekitar kehidupan dinamika.
Jumlah penduduk
Studi
Literatur Dokumen - Jumlah penduduk
Luas wilayah dan lain-lain.
b. Kelompok Etnografi Komunitas Bukan Penderita Kusta di Lau Simomo (Kelompok 2, 4, 6, 8)
Teknik pengumpulan
data
Sumber data
Instrumen pengumpulan
data
Objek yang dikaji
Observasi
Partisipasi Masyarakat Mata dan kamera
Profil/wajah penduduk
Praktek bahasa
Teknologi/peralatan hidup
Mata pencaharian
Praktek religi, ketersediaan dan kondisi sarana ibadah
Pola pemukiman penduduk
Ketersediaan sarana dan prasarana ekonomi, pendidikan, transportasi, telekomunikasi.
Ketersediaan sarana dan prasarana air bersih dan penerangan/energi.
Pembagian kerja di rumah tangga
Sarana interaksi sosial/ruang terbuka umum
Sarana dan prasarana kesehatan
Potensi sumberdaya alam/lingkungan
Sarana kesenian
Upacara seputar lingkungan hidup (life cycle rites).
Instrumen pokok : Aparatur Desa/Tetua
Desa
Interview Guide
Sejarah komunitas
Prosedur mendiami pemukiman dan variasinya
Wawancara Mendalam
Informan pokok : Masyarakat
yang mendiami pemukiman
khusus penderita
kusta
Interview guide
Life history beberapa penduduk penderita/mantan penderita kusta.
Dinamika dalam menjalankan mata pencaharian (pengetahuan, pengalaman dan harapan).
Dinamika dalam menjalankan ajaran agama
Pola dan dinamika pembagian kerja di rumah tangga
Tanggapan terhadap penyakit yang di derita.
Tanggapan atas proses pengobatan yang diterima.
Tanggapan terhadap masyarakatg yang tidak menderita kusta.
Strategi hidup dan pada hubungan dengan sesama penderita kusta dan dengan tidak tidak menderita.
Dinamika kehidupan berkeluarga (perkawinan dan pertalian darah).
Dinamika pemanfaatan sarana dan prasarana ekonomi, pendidikan, transportasi, telekomunikasi, ruang terbuka umum, air bersih, energi dan kesehatan.
Tanggapan tentang pelaksanaan uparaca adat dan upacara sekitar kehidupan dinamika.
Jumlah penduduk
Studi
Literatur Dokumen - Jumlah penduduk
Luas wilayah dan lain-lain.
2.3. Pelaporan
Sebagai bagian dari sebuah proses perkulihan, maka hasil akhir dari kegiatan ini adalah adanya laporan hasil PKL I. Laporan ini jelas merupakan hasil kerja terukur yang isinya tentunya bersifat amat relatif. Namun demikian, penilaian akhir dari keberhasilan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan ini sepenuhnya didasarkan atas keikutsertaan pada proses PKL 1 sendiri serta laporan hasil PKL I yang mereka buat.
Sebagai acuan, laporan PKL I yang disepakati adalah sebagai berikut:
Bab I. Gambaran Umum Komunitas
- Sejarah dan Asal usul Komunitas - Identitas komunitas
- Gambaran demografi - Dll
Bab II. Gambaran Kebudayaan Bahasa - Sistem Pengetahuan
- Organisasi Sosial Sistem Kekerabatan - Sistem Mata Pencaharian
- Teknologi/ Peralatan hidup - Sistem Religi
- Sistem Kesenian
Bab III. Pandangan Terhadap Diri dan Lingkungan - Pandangan komunitas terhadap dirinya - Harapannya
Bab IV. Penutup
BAB III
HASIL LAPORAN PESERTA PKL
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN I DISUSUN OLEH KELOMPOKI
Eki Gunawan (100905003) Laura Priskila (100905008) Pricilia Harianja (100905020)
Effendi (100905024)
Cessilia F. Pasaribu (100905025) Soraya Azmi (100905039) Elisa Novi Yanti (100905048)
Mario (100905053)
Risa Yustika (100905069)
BAB I
GAMBARAN UMUM KOMUNITAS
1.1. Sejarah dan Asal-Usul Komunitas
Desa Lau Simomo merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Dimana Desa Lau Simomo pertama kali dibuka oleh salah seorang dari pemerintahan Belanda, tepatnya seorang dokter (sekaligus missionaris) berkewarganegaraan Belanda. Pada masa itu, dokter tersebut meminta kepada raja-raja Karo untuk diberikan sebuah daerah baru untuk penampungan orang-orang yang menderita penyakit kusta. Permintaan pun disetujui oleh raja-raja Karo, maka diberikanlah sebuah desa tempat penampungan penderita kusta dan diberi nama Lau Simomo. Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, Desa Lau Simomo awalnya terbentuk sekitar tahun 1906. Kata Lau Simomo sendiri diambil dari bahasa Karo.
Asal-usul Lau Simomo dapat kita lihat melalui nama desa itu sendiri.
Gambar 1. Kondisi Lau Simomo (Sumber: Koleksi foto pribadi)
Lau Simomo terdiri dari 2 suku kata yaitu, Lau yang berarti air dan Simomo yang berarti kuman, secara garis besar dapat diartikan sebagai air yang menghancurkan kuman. Sifat dari air tersebut hanya menggenang di daerah itu saja. Di desa Lau Simomo terdapat 3 mata air yaitu mata air pertama, mata air kedua dan mata air ketiga.
Mata air tersebut diberi nama dengan mata air taktuk, nama ini diberikan karena pada
waktu penggalian mata air tersebut menggunakan sebuah alat yang menghasilkan bunyi tak tuk. tak.tuk, maka sampai saat ini mata air tersebut diberi nama mata air taktuk.
Masyarakat setempat meyakini bahwa dahulu ada suara gaib dari mata air tersebut, yang memberitakan akan ada kabar gembira yang datang ke desa tersebut.
Dibangunnya lokalisasi bagi penderita kusta dan dibangunnya rumah sakit yang dikhususkan bagi penderita kusta menjadi acuan penduduk Lau Simomo untuk meyakini suara tersebut memang ada. Hal tersebut jugalah yang dimaksud kabar gembira oleh penduduk.
Gambar 2. Mata air Taktuk (Sumber : Koleksi foto pribadi)
Melihat kondisi desa yang sulit akan air bersih, maka pada waktu itu (dimana pemerintah Belanda merupakan salah satu pihak pertama yang membuka desa tersebut) membuat kincir angin agar air tersebut dapat mengalir ke rumah warga setempat.
Tetapi saat ini kincir angin tersebut tidak lagi digunakan mengingat kinerjanya yang kurang maksimal, saat ini penduduk memilih menggunakan pipa pipa yang disambungkan agar air dapat mengalir ke rumah-rumah warga terutama penduduk Lau Simomo.
Gambar 1.1c Pipa yang disambungkan ke kamar mandi umum (sumber : koleksi foto pribadi)
Dimana hampir keseluruhan fasilitas, diutamakan untuk warga Lau Simomo, mengingat mereka lebih membutuhkan dan memang dibuat untuk difokuskan pada mereka.
Rumah sakit yang didedikasikan untuk membantu warga Lau Simomo, terletak di sebelah timur dari Gereja GBKP, rumah sakit ini hanya diperuntukkan bagi para penderita penyakit kusta, agar mereka mendapat perawatan yang lebih intensif. Dahulu rumah sakit ini dibangun dengan seadanya dimana bangunan tersebut terbuat dari papan dan beratapkan seng, yang terdiri dari dua bagian yaitu ruangan pria dan ruangan wanita. Pada waktu itu perawatan dilakukan oleh para tenaga medis yang didatangkan dari Medan dan daerah lainnya. Pada masa itu, selain tenaga medis yang berasal dari Medan, ada juga seorang dokter Belanda yang ikut menjadi bagian dari tenaga medis.
Gambar 1.1d Rumah Sakit (sumber: koleksi foto pribadi)
Seiring berjalannya bangsa Belanda meninggalkan Indonesia maka berakhir juga kepemilikan Belanda atas rumah sakit tersebut. Saat ini sepenuhnya rumah sakit tersebut ditangani oleh pemerintah daerah provinsi Sumatera Utara. Dengan demikian semua urusan diatur langsung oleh Pemda Sumut. Kini rumah sakit tersebut telah banyak mengalami perubahan, setelah tahun 1947 (saat setelah Belanda meninggalkan Indonesia). Perubahan yang ada dimulai dari sisi bangunan, kamar perawatan serta tenaga medis. Dari sisi bangunan saat ini rumah sakit tersebut lebih modern dengan bangunan bertembok cat putih, beratapkan seng serta halaman yang luas dan ditumbuhin oleh bunga-bunga, rerumputan dan beberapa tumbuhan lainnya yang tentu
lebih terawat Kamar perawatan kini pun lebih bersih dengan kasur yang baru dengan tambahan bantal dan selimut yang juga berwarna putih, maka terasa lebih nyaman.
Gambar 1.1e Ruang rawat inap (sumber: koleksi foto pribadi)
1.2. Identitas Komunitas
Penyakit kusta merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae dan pertumbuhan bakteri tersebut didukung oleh faktor kebiasaan kurang menjaga kebersihan diri. Penyakit kusta ini ditandai dengan pengerasan, penebalan kulit dan mati rasa (umumnya disebut seperti kapalan dan mempunyai bercak titik putih seperti panu). Hal ini dapat dibuktikan dari pengalaman penderita kusta bila terkena benda tajam maka mereka tidak merasakan sakit sekalipun daerah tubuhnya tersebut telah berdarah, hal ini disebabkan karena adanya mati rasa yang dirasakan oleh penderita kusta. Selain itu, tanda-tanda lainnya adalah adanya penebalan kulit di daerah tertentu yang dirasakan penderita, maka area kulit tersebut terlihat lebih tebal (seperti kapalan) dibanding daerah kulit lainnya Hal paling fatal yang terjadi pada penderita kusta adalah kecacatan tubuh, hal ini disebabkan kekurang- pengetahuan penderitanya bahwa ia sedang mengalami fase awal dari penyakit kusta, selain itu dikarenakan adanya perasaan malu (minder), dimana bagi beberapa penderita kusta, penyakit ini menjadi aib sehingga ia memilih menahankannya dan menutup dirinya dibanding mencari informasi pengobatan dari orang-orang. Seiring "kediaman”
tersebut, penyakit ini pun semakin berkembang dan saat terlambat untuk ditangani, maka berakhir dengan kecacatan. Faktor lain, yang memungkinkannya kecacatan adalah ketidakteraturan mereka perawatan (misalnya dalam hal dalam menjalani
meminum obat memeriksakan diri/check-up) sehingga membuat sebagian dari tubuh mereka mengalami kecacatan.
Penderita kusta yang berada di desa Lau Simomo ini tidak hanya dari masyarakat Karo yang berada di desa Lau Simomo atau desa-desa lain yang berada di dekat desa Lau Simomo, melainkan penderita kusta dari seluruh penjuru Indonesia.
Sehingga Lau Simomo menjadi kepulauan kepulauan kecil Indonesia. Hal ini menyebabkan, mayoritas penduduk Lau Simomo adalah para pendatang. Terdapat hal lain yang perlu kita perhatikan, yakni mengenai cara penderita memenuhi kebutuhan hidupnya seperti, kebutuhan primer yaitu pangan, sandang, dan papan. Dalam hal pangan penderita mendapat subsidi dari Pemda Sumut (Departemen Sosial) maupun donatur-donatur kemanusiaan lainnya. Penderita dan keluarganya memperoleh beras, telur, ikan basah (2x sebulan) dan daging (1x sebulan). Dalam hal sandang penderita memenuhi kebutuhan berpakaian mereka sendiri melalui bantuan uang tunai yang juga diberikan. Dalam hal papan, penderita kusta mendapat sebuah rumah, dimana rumah tersebut dibangun sesuai dengan rumah adat Suku Karo. Rumah tersebut diberi nama dengan Kurung Manik, rumah ini berukuran 2,5 x 2 rumah ini ditandai dengan penggunaan 2 ayo ayo yaitu suatu bidang berbentuk segitiga sama kaki yang berfungsi sebagai penutup bagian depan dan belakang atap sekaligus sebagai hiasan, serta bagian atap berbentuk pelana yang dilengkapi tanduk kerbau pada bagian ujungnya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa rumah-rumah yang terdapat di desa Lau Simomo umumnya masih memiliki ciri seperti rumah adat Karo pada umumnya dengan bagian atap menggunakan ijuk tetapi tidak dilengkapi dengan tanduk kerbau di bagian ujungnya.
Gambar 1.2a Rumah penduduk
(sumber: koleksi foto pribadi)
Gambar 1.2b Rumah penduduk serta lingkungan (sumber: koleksi foto pribadi)
Seiring berjalannya waktu, pemukiman para penderita kusta ini mengalami banyak perubahan. Dimana beberapa rumah yang disebut dengan Kurung Manik tampak sudah mulai berkurang pada saat ini telah dibangun beberapa rumah-rumah permanen. Hal ini dilakukan oleh Pemda Sumut agar para penderita mendapat penghidupan yang lebih layak. Dapat dikatakan pemukiman tersebut semakin lama semakin lebih baik dan nyaman. Hal lain yang perlu kita perhatikan lagi ialah mengenai perawatan yang didapat oleh para penderita kusta tersebut. Dibandingkan dulu, sekarang ini terdapat perubahan yang sangat besar dalam hal pengobatan yang diterima oleh para penderita, dimana sudah banyak alat-alat medis yang lebih modern, serta didukung jumlah tenaga medis yang lebih banyak dari yang sebelumnya.
Tidak hanya itu dalam hal pengobatan, obat yang diberikan sudah lebih praktis dimana obat tersebut sudah dapat dipaketkan, misalnya untuk penderita kusta bilamana mengalami dibutuhkan terdapat dalam ketakjuban peneliti saat berbincang dengan sumber (terutama mantan penderita). Memiliki sedikit kemampuan untuk menakarkan cairan maupun cairan infus kepada penderita. Diperoleh dari ajaran tenaga medis, bilamana ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat dimana kosongnya jam kerja, mengingat rumah dari para tidak berada di area Simomo.
1.3. Gambaran Demografi
Penelitian ini dilakukan di Desa Lau Simomo, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Batas-batas Desa Lau Simomo :
Sebelah Utara berbatasan dengan Guru Benua Kecamatan
Sebelah Selatan berbatasan dengan Perladangan Kandibata kecamatan Sebelah barat berbatasan dengan Desa Kuta Gerat
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Singa Kecamatan Tiga Panah
Tidak hanya pemukiman bagi penderita kusta tetapi juga dibangun berbagai fasilitas sosial seperti: rumah sakit serta gereja. Terdapat tiga dusun yaitu dusun Kasien Belang, Kasien Pasar, dan Kasien Tiga.
BAB II
Gambaran Kebudayaan
2.1. Bahasa
Bahasa merupakan sesuatu yang tidak terlepas dari kehidupan manusia dimana bahasa merupakan suatu alat yang dipakai untuk mengungkapkan sesuatu yang ingin disampaikan kepada orang lain yaitu berupa informasi. Dengan bahasa, maka dapat dimengerti informasi apa yang disampaikan oleh orang lain.
Setiap suku bangsa memiliki bahasa yang berbeda satu sama lain. Sama halnya dengan masyarakat di Desa Lau Simomo, satu hal lagi yang menarik dari desa ini adalah sifat kemajemukan masyarakatnya. Masyarakat yang tinggal di Desa Lau Simomo ini bersifat heterogen, terdiri dari berbagai suku dan budaya. Namun dominan sebagian besar penduduknya adalah Karo, Toba, Jawa dan Aceh. Bahasa yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa daerah asal yaitu, bagi orang Karo mereka akan berbahasa Karo, begitu juga dengan orang Toba mereka memakai bahasa Toba kepada sesama orang Toba, demikian dengan suku Aceh dan suku Jawa. Tetapi mereka semua disatukan dengan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
Setiap upacara yang dilakukan seperti upacara perkawinan bahasa yang digunakan merupakan bahasa sesuai dengan adat yang dipakai pada pada upacara pernikahan tersebut, tidak hanya bahasa daerah yang digunakan tetapi juga menggunakan bahasa Indonesia.
2.2. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan penduduk desa Lau Simomo dapat terlihat melalui berbagai hal baik yang formal dan non-formal, contoh pengetahuan yang diperoleh secara formal, misalnya pendidikan (sekolah) yang diperoleh masyarakat Lau Simomo tersebut. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Penduduk Lau Simomo pun sepemikiran dengan hal tersebut. Hal ini tampak dari orang tua yang
menginginkan anaknya menjadi orang yang berpendidikan dengan mulai menyekolahkan anak-anaknya di SDN Lau Simomo sampai bahkan dengan perasaan rela tak rela melepaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu ke luar kota, provinsi bahkan keluar negeri, sehingga tak heran jika melihat kehidupan mereka semakin membahagiakan, oleh adanya pengharapan.
Hanya terdapat 1 sekolah yang ada, bahkan itu pun hanya sekolah dasar yakni SDN 040466, dimana sekolah ini dibangun Pemda Sumut, agar anak-anak dari desa ini dapat mengenal pendidikan. Murid di sekolah dasar 040466 tidak hanya berasal dari anak-anak penduduk desa Lau Simomo ini saja tetapi juga dari desa lain, seperti anak- anak penduduk dari desa Singa.
Gambar 2.2a Sekolah (sumber: koleksi foto pribadi)
Dikarenakan sekolah ini hanya sampai pendidikan SD saja maka untuk bersekolah lanjutan seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menegah Atas (SMA) bahkan Perguruan Tinggi, harus dijalani ke luar Desa Lau Simomo.
Contoh sistem pengetahuan yang diperoleh secara non-formal misalnya, pengetahuan berladang, yang dalam hal berladang, masyarakat Lau Simomo memilih tanaman jeruk, jagung, kopi dan padi darat. Dalam hal berladang, tanah yang digarap oleh penduduk Lau Simomo merupakan tanah yang dimiliki oleh pemerintah dan diberikan hak sementara pada mereka untuk diolah, jadi masyarakat meminta izin untuk mengusahakan tanah tersebut. Tetapi apabila masyarakat sudah memiliki cukup uang untuk membeli tanah, maka hak milik tanah menjadi milik orang tersebut. Jeruk
merupakan tanaman yang paling mendominasi dari daerah ini. Hasil dari jeruk tersebut dijual masyarakat ke luar dari desa seperti ke Kabanjahe, Berastagi, dan ke Medan bahkan luar Sumatera
Gambar 2.2b Pusat penyuluhan pertanian (sumber: koleksi foto pribadi)
Sistem pengetahuan yang lain yang dimiliki oleh masyarakat desa Lau Simomo ialah dalam hal pemukiman mereka. Rumah yang mereka tempati merupakan hunian yang mirip dengan rumah adat suku Karo hanya saja bedanya terdapat pada rumah adat suku Karo memasang kepala karbau pada ujungnya namun pada rumah ini tidak.
Suasana di desa Lau Simomo juga cukup dingin sehingga untuk menghangatkan rumah, maka bagian dinding rumah tersebut diolesi dengan lumpur.
2.3. Organisasi Sosial/Sistem Kekerabatan
Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri sekalipun bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik (penderita kusta/
mantan penderita). Hal ini tercermin dari kehidupan sosial masyarakat Lau Simomo, terutama bagi mereka kusta) yang hidup bertetangga tanpa membeda-bedakan satu sama lain baik dari segi suku, ras ataupun agamanya sekalipun. Hal ini terlihat dari cara mereka yang ramah dan santun terhadap siapapun. Walaupun mereka mempunyai keterbatasan fisik tapi mereka tidak pernah putus asa untuk menjalani kehidupannya, karena dengan fisik yang tidak sempurna mereka masih mampu bekerja dan beraktivitas seperti bertani/berladang, berdagang bahkan berorganisasi. Hal ini mencerminkan bahwa "keterbatasan itu bukanlah suatu hambatan mereka dalam
mencapai sesuatu". Bukan hanya itu, dalam kehidupan bermasyarakat misalnya, mereka juga terlihat solid satu sama lain, serta mampu berorganisasi salah satunya melalui aktifitas keorganisasian (dalam hal ini Islam) misalnya, 'perwiritan/wirid' yang biasanya dilakukan organisasi/serikat secara tersebut rutin. Dengan adanya mereka dapat bersosialisasi/berbaur dengan kelompok lain yang bukan penderita. Pada setiap hari Jum'at sore, adalah saatnya mereka mengadakan Wirid. Wirid ini adalah upacara keagamaan yang kegiatannya meliputi pembacaan ayat Al Qur'an, berdoa dan bedzikir bersama. Upacara ini dilakukan sekali dalam seminggu dan diadakan secara bergiliran di rumah warga. Organisasi ini juga turut aktif dalam suatu musibah atau kemalangan seperti meninggal dunia dari salah satu anggotanya, yang mana pengurusnya sering disebut juga dengan STM (serikat tolong menolong), disini juga ada pembagian kerja misalnya memandikan enazah/mayat, memberikan sumbangan baik secara material maupun non material.
Kampung ini terdiri dari beragam suku diantaranya suku Aceh, Jawa, Batak dan Karo tetapi tidak didapati kesenjangan yang terlalu mendalam disana. 1 hal lagi yang menarik dari desa ini adalah kemampuan mempertahankan budaya Karo meskipun banyak orang-orang pendatang. Hal ini terlihat dari aturan yang mereka sepakati, misalnya dalam hal perkawinan, walaupun yang menikah adalah orang yang bersuku Jawa, Aceh, Batak Toba, mereka harus mengikuti adat Karo terlebih dahulu dalam artian dari segi pakaian, hiburan, dsb, semuanya itu harus menggunakan makna simbolik suku Karo.
Berdasarkan pengamatan yang diperoleh, kebanyakan dari mereka menggunakan prinsip patrilineal untuk meneruskan garis keturunannya, dimana anak anaknya mengikuti nama keluarga dari Ayahnya dan laki laki memiliki otoritas yang lebih besar dibanding perempuan. Hal tersebut dianut oleh penduduk yang bersuku Batak Toba dan Karo sedangkan suku Jawa lebih ke arah parental, dimana pria dan wanita memiliki otoritas yang relatif lebih seimbang dan stabil.
2.4. Sistem Mata Pencaharian
Desa dengan luas tanah 100 ha tepatnya di bawah kaki gunung Sinabung ini memiliki penduduk yang mayoritas bermatapencaharian yang bergerak di bidang
pertanian. Tetapi ada juga beberapa orang yang bekerja sebagai wirausaha dalam bidang perniagaan. Sisanya mereka bekerja sebagai abdi negara dan masyarakat seperti bidan, guru dan PNS.
Pertanian
Lau Simomo merupakan daerah yang berada di Dataran Tinggi Tanah Karo dan memiliki iklim dingin dengan suhu berkisar antara 17 derajat celcius sampai 25 derajat celcius. Untuk itu tanah di daerah ini sangat cocok untuk dijadikan lahan pertanian dengan tanaman buah-buahan. Misalnya saja jeruk. Tanaman yang berbentuk pohon dengan buah yang berdaging dengan rasa asam yang segar, meskipun banyak diantara anggotanya yang juga memiliki rasa manis. Rasa asam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang menjadi terkandung pada semua anggotanya. Jeruk sangat bagus bila ditanam di dataran tinggi dengan suhu antara 18 derajat celcius sampai 25 derajat celcius. Tanaman buah ini merupakan tanaman tahunan yang sangat membutuhkan banyak air untuk proses metabolismenya. Mengingat keadaan jeruk tersebut sangat cocok ditanam di daerah tersebut maka jeruk menjadi salah satu jenis tanaman buah- buahan yang dapat kita temui dengan mudah di Desa Lau Simomo.
Selain jeruk ada banyak lagi jenis tanaman lain yang ditanam oleh penduduk di sekitar Lau Simomo. Salah satunya adalah tanaman padi darat. Padi darat merupakan jenis tanaman biji-bijian dengan proses tanam hingga panen, membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Jenis padi ini sangat mudah hidup karena tidak membutuhkan intensitas air yang banyak dalam arti intensitasnya lebih sedikit dibandingkan air yang dibutuhkan oleh padi sawah. Masyarakat Lau Simomo memulai tanam padi pada bulan Agustus dan memanennya pada bulan Maret.
Gambar 2.4a Tanaman jeruk (sumber: koleksi foto pribadi)
Gambar 2.4b Tanaman padi darat (sumber: koleksi foto pribadi)
Berternak
Penduduk Lau Simomo tidak hanya bermata pencaharian dibidang bercocok tanam saja, tetapi juga berternak, seperti babi, sapi, dan kerbau, dengan menghasilkan hewan ternak yang berkualitas bagus sehingga banyak agen dari luar kota jauh-jauh ke Desa Lau Simomo hanya untuk membeli hewan ternak mereka.
Gambar 2.4c Salah satu ternak yang dikembangbiakan masyarakat (sumber: koleksi foto pribadi)
2.5. Sistem Teknologi dan Peralatan Hidup
Teknologi merupakan suatu alat dimana teknologi ini membantu pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi tidak terlepas dari kehidupan manusia. Sama
halnya dengan Desa Lau Simomo, masyarakat di desa ini memiliki teknologi yang mungkin belum secanggih teknologi yang ada di kota Kabanjahe maupun tempat lain.
Salah satu teknologi yang terdapat di Desa Lau Simomo ini adalah adanya angkutan umum yang digunakan penduduk Desa Lau Simomo (bukan hanya Desa Lau Simomo, namun juga beberapa desa yang berdekatan). Angkutan umum mulai beroperasi mulai dari pukul 06.30, dimana angkutan umum ini mengantar anak-anak yang hendak bersekolah ataupun para ibu yang hendak berjualan atau berbelanja di pasar. Jumlah angkutan ini hanya berjumlah 3 buah, tetapi hanya 2 yang beroperasi dan sedangkan yang 1 lagi mengalami kerusakan mesin.
Gambar 2.5a Angkutan Umum (sumber: koleksi foto pribadi)
Tidak hanya pada angkutan umum ini, teknologi yang terdapat di Desa Lau Simomo adalah sistem pengairannya. Dahulu setiap masyarakat harus mengambil keperluan air seperti untuk minum, mandi dan untuk keperluan lainnya ke sumber mata air. Seiring dengan berjalannya waktu, maka dibuatlah pipa yang mengaliri air ke rumah-rumah warga. Tidak hanya itu, terdapat juga kamar mandi umum yang dapat digunakan oleh warga Lau Simomo untuk keperluan sehari-hari.
Gambar 2.5b Pusat air Lau Simomo (sumber:koleksi foto pribadi)
Sistem peralatan hidup yang terdapat di Desa Lau Simomo dapat terlihat dari cara masyarakat desa Lau Simomo memasak , alat masak yang digunakan mayarakat tersebut ada yang masih menggunakan kayu bakar, kompor dan ada juga yang sudah menggunakan kompor gas. Sedangkan untuk sistem peralatan hidup lainnya sama dengan masyarakat yang ada di sekitar Desa Lau Simomo tersebut.
2.6. Sistem Religi
Pada umumnya pasien/mantan pasien yang tinggal di lokalisasi Lau Simomo beragama Kristen dan Islam. Hal ini juga tampak dengan hanya terdapat 2 rumah ibadah saja, yakni gereja GBKP dan Masjid yang terdapat di Desa Singa (meskipun dibangun di Desa Singa, tetapi Masjid tersebut "diatas-namakan" oleh Desa Lau Simomo, Masjid sengaja dibangun di desa Singa, agar penduduk muslim lain di desa Singa pun dapat beribadah di Masjid tersebut, karena terbatasnya jumlah Masjid yang ada di daerah tersebut).
Gambar 2.6a Gereja GBKP (sumber: koleksi foto pribadi)
Jadwal ibadah yang dilaksanakan di GBKP yakni di hari Minggu, untuk anak- anak di jam 08.00 wib dan untuk orang dewasa (umum) di jam 10.00 wib, namun
gereja juga digunakan saat hari-hari besar keagamaan lainnya. Sementara untuk Masjid, penjadwalan sholat sama seperti masjid-masjid lainnya. Dalam GBKP, musik pengiring hanya menggunakan kibot sedangkan di Masjid Lau Simomo menggunakan bedug (seperti di Masjid yang lain) maupun rebana. Orang yang memimpin peribadatan di GBKP adalah seorang pendeta sedangkan orang yang memimpin peribadahan di Masjid dilakukan secara bergilir, terkadang juga oleh seorang ustad.
Gambar 2.6b Masjid Lau Simomo (sumber : koleksi foto pribadi)
Gambar 2.6b Tata cara wudhu mantan/pasien kusta (sumber: koleksi foto pribadi)
Seperti diketahui sistem religi mengandung emosi keagamaan. Hal ini juga terwujud diantara penduduk Desa Lau Simomo melalui beberapa kepercayaan.
Misalnya saja, adanya kepercayaan bahwa dahulu terdengar suara gaib yang menyatakan bahwa akan ada kabar gembira di daerah tersebut. Meskipun begitu, tak diketahui secara pasti si empunya suara dan tak diketahui juga secara pasti siapa saja orang-orang yang mendengar suara tersebut. Dan ternyata, pembangunan rumah sakit dianggap masyarakat sebagai pembuktian dari suara gaib tersebut, sehingga masyarakat mengakui bahwa suara itu memang ada, walaupun tidak terdapat bukti yang pasti. Ada juga kepercayaan bahwa penyakit kusta tersebut adalah sebuah kutukan, namun tak
juga diketahui secara pasti, mengapa kutukan tersebut terjadi atau bahkan siapa pengutuknya. Menurut peneliti, banyak hal yang menjadi maksud dan tujuan dari dihembuskannya kisah-kisah tersebut. Terlepas apakah kisah-kisah tersebut benar atau tidak, tetapi pengisahan tersebut telah mampu menjadi main-set bersama. Hal ini sangat berpengaruh dalam cara berperilaku ataupun cara bertindak. Dapat dilihat bahwa, kesan magis yang ditebarkan menjadikan orang-orang yang berada di Desa Lau Simomo, baik itu penduduk tetap dari dulu, penghuni baru (pendatang) sampai kepada para pengunjung, sangat menjaga tata kramanya disana, misalnya dengan tidak mencuri hasil ladang penduduk lain, padahal ladang tersebut tidak dijaga secara intens atau juga tidak bertutur kata sembarangan. Pengkisahan tersebut, sedikit banyak menghasilkan keteraturan dan kesopanan dalam bersikap bagi setiap orang saat mereka berada di Lau Simomo.
2.7. Sistem Kesenian
Para informan menyatakan bahwa tak ada suatu bentuk kesenian apapun yang diwujudkan secara spesifik dalam sebuah perayaan, baik itu sebagai wujud syukuran ataupun peringatan. Hal ini dikarenakan saat ini, para pasien/mantan pasien yang berkediaman disana, kebanyakan adalah pendatang sehingga memiliki latar belakang dari suku, agama dan ras yang berbeda-beda. Jika pun ada suatu bentuk syukuran maupun perayaan, itu pada khususnya bukan diadakan di Desa Lau Simomo, tetapi di Desa Singa. Namun meskipun begitu, peneliti melihat beberapa wujud kesenian yang diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, misalnya dari bentuk rumah (kediaman) sampai kepada rumah ibadah (dalam hal ini, gereja). Dari bentuk rumah, kebanyakan yang masih ditempati sampai sekarang adalah rumah-rumah pertama (awal) dibangun oleh biaya pemerintah Belanda. Rumah rumah tersebut dibangun dengan model/bergaya rumah adat Karo (seperti rumah panggung), ini disebabkan karena dahulunya mayoritas yang menjadi penderita kusta adalah orang Karo dan ditambah lagi, karena lokasi daripada Lau Simomo ada di Tanah Karo. Saat ini, meskipun rumah rumah tersebut bermodel/bergaya rumah adat Karo, tapi pada umumnya yang menempatinya bukan orang Karo lagi. Para pendatanglah yang kebanyakan menjadi penghuni di lokalisasi tersebut, sehingga ada sedikit modifikasi
yang sengaja dibuat oleh beberapa "penghuni baru" sebagai perwujudan identitas mereka, misalnya terdapat rumah dengan tempelan ukiran gorga yang ada disisi-sisi rumah, untuk menyatakan bahwa si pemilik sekarang adalah orang Batak Toba.
Gambar 2.7a Rumah penduduk (sumber: koleksi foto pribadi)
Sementara, dari rumah ibadah yakni gereja, dari nama gerejanya saja dapat diketahui bahwa bangunan tersebut perwujudan dari seni Karo, yakni GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Masuk kepada bagian dalam daripada gereja, yakni terdapat semacam tulisan berupa ukiran dalam bahasa Belanda dan Karo yang terdapat di salah satu kayu penyanggah gereja.
Gambar II.7b Ukiran di tiang penyangga gereja GBKP (sumber: koleksi foto pribadi)
Masuk kepada bagian bahasa pengantar yang digunakan dalam peribadatan, yakni menggunakan Bahasa Karo selain itu juga menggunakan sentuhan musik Karo dalam menyanyikan kidung-kidung (nyanyian rohani Kristen) dengan iringan kibot (alat musik seperti piano).
BAB III
Pandangan Terhadap Diri dan Lingkungannya
3.1. Pandangan Komunitas Terhadap Dirinya
Salah seorang informan adalah Bapak Supriyadi yang berasal dari Jawa.
Gambar 3.1a Bapak Supriyadi (sumber: koleksi foto pribadi)
Beliau tinggal di Lau Simomo bersama dengan keluarganya. Dengan berjualan beliau dapat menghidupi kelurganya, dulunya ia adalah seorang pemborong bangunan.
Menurut cerita beliau, ia telah menderita penyakit kusta sejak kecil sewaktu ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Lalu beliau pergi dari Jawa dan memilih tinggal di Lau Simomo karena ia mendengar kabar bahwa di Lau Simomo terdapat Rumah Sakit yang merawat orang-orang yang mengidap penyakit kusta. Beliau mengatakan juga bahwa penyakit kusta ada 2 macam, yaitu kusta basah dan kusta biasa. Kusta biasa yang dimaksudkan adalah penyakit kusta pada umumnya diderita sedangkan kusta basah mengakibatkan tidak tumbuhnya bulu di sekitar tubuh seperti bulu mata, alis mata, kumis, dll. Menurut beliau penyakit kusta adalah penyakit menurunnya fungsi saraf.
Umumnya, orang-orang menganggap kusta adalah penyakit berbahaya, menular dan kotor. Menurut bapak Supriyadi, bibit penyakit kusta memang sudah ada di dalam tubuh tiap orang dan berkembang. Sebenarnya proses penyembuhan penyakit kusta aupun pencegahannya tergantung kepada diri sendiri. Mereka yang menderita penyakit kusta kurang menjaga kebersihan diri. Beliau juga sempat tidak diakui oleh orangtuanya terutama ayahnya karena ia positif mengidap penyakit kusta. Hal tersebut membuat beliau merasa minder. Bahkan hal itu juga yang semakin mendorong ia untuk jauh dari keluarganya dan memilih berkediaman di desa Lau Simomo. Namun, lain halnya dan ibu dan saudara-saudarinya, mereka tak menganggap "miring" terhadap dirinya. Bukan hanya merasa minder dengan keluarganya, beliau juga merasa minder terhadap para pengunjung Lau Simomo (dalam hal ini, misalnya saja, peneliti). Hal ini disebabkan oleh kondisi fisiknya yang kurang sempurna. Namun, saat ini beliau lebih percaya diri dibandingkan dahulu, karena mungkin beliau sudah jauh lebih menerima keadaanya dibandingkan dahulu. Ditambah dengan memiliki istri yang sehat dan
"normal" serta memiliki putra-putri yang sehat dan berprestasi.
Informan lainnya adalah bapak Sagala.
Gambar 3.1b bapak Sagala (sumber: koleksi foto pribadi)
Beliau merupakan salah seorang penduduk Lau Simomo yang tertua. Beliau adalah mantan penderita kusta yang tidak tinggal lagi di lokalisasi, melainkan telah berbaur dan berkediaman di desa Singa. Bapak Sagala sudah kehilangan sebagian dari tubuhnya, seperti jari tangan dan kaki, bahwa beliau sudah kehilangan mata kirinya dan penglihatannya menurun, karena penyakit kusta tersebut. Beliau menceritakan bahwa
kehidupan mereka sebagai penderita kusta dahulu sangat menderita, bukan hanya mereka tetapi anak-anak mereka yang "normal" saja mendapatkan perlakuan yang tak jauh beda dengan mereka. Mereka dikucilkan dan dianggap rendah bahkan dianggap kotor oleh masyarakat. Bahkan di Lau Simomo dulu terdapat batas-batas yang membatasi para komunitas penyakit kusta dan masyarakat. Disana terdapat gapura, para penderita tidak boleh keluar atau melewati gapura tersebut, begitu juga sebaliknya.
Akan ada sanksinya bila peraturan tersebut dilanggar.
Gambar 3.1c Gapura pembatas (sumber: koleksi foto pribadi)
Walaupun bapak Sagala menderita penyakit kusta, ia tidak begitu saja menyerah. Beliau terus berjuang agar anak anaknya berhasil. Beliau tidak malu dan tidak minder dengan apa yang dialaminya. Alhasil semua perjuangannya, mulai dari berusaha menjual hasil ternaknya (ayam) dengan cara berkeliling agar ada seseorang yang mau membeli demi membiayai kehidupan anak dan istrinya sampai kepada pengucilan yang diterima kini telah berbuah hasil, anak anaknya menjadi orang-orang sukses dan mandiri, mulai dari seorang bidan, guru sampai kepada seorang anaknya yang bekerja dan menempuh pendidikan di Jepang. Kini, bapak Sagala tidak lagi dikucilkan bahkan menjadi salah satu orang yang dituakan.
3.2. Harapan Mereka
Bapak Supriyadi dan Bapak Sagala mengharapkan agar penanganan terhadap para penderita kusta lebih baik lagi, terutama dalam hal kinerja tenaga medis yang dianggap masih kurang memuaskan dalam hal pengabdian dan pelayanan. Sebaiknya
juga pihak rumah sakit yang bertanggung jawab di dalamnya lebih intensif lagi dalam memberikan perawatan terhadap pasien. Terdengar pula isu bahwa rumah sakit tersebut akan dipindahkan karena tempat tersebut akan dibangun untuk latihan militer. Respon warga akan isu ini tidaklah begitu mempersalahkan namun bagi mereka yang sudah betah tinggal di tempat ini pasti ada rasa keberatan. Untuk itu perlu dipertimbangkan lagi oleh Pemda untuk mengambil keputusan. Harapan dari masyarakat Lau Simomo lainnya adalah agar rumah mereka tidak lagi rumah yang seperti saat ini, dimana menurut mereka rumah tersebut sudah seharusnya diganti dengan rumah yang permanen secara keseluruhan tanpa adanya "intrik-intrik" yang berjalan, yang menghasilkan perbedaan perlakuan pada mereka. Tidak hanya dalam hal rumah tetapi juga dalam hal pendidikan masyarakat setempat, khususnya para orang tua berharap agar pendidikan di SDN 040466 Lau Simomo lebih mendapat perhatian lagi.
Masyarakat desa Lau Simomo berharap, agar sekolah mempunyai standar pendidikan yang sama dengan yang ada di kota lain yang memilki standard pendidikan tinggi.
Dalam hal lain, mereka mengharapkan agar setiap orang (khususnya yang tidak menderita kusta) dapat menerima keadaan mereka dan mau berinteraksi serta tak memandang mereka rendah.
BAB IV Penutup
Desa Lau Simomo merupakan lokalisasi penderita kusta yang memiliki sejarah panjang hingga kini. Dimulai dari pembangunan oleh Belanda sampai kepada kini ditangani oleh PEMDA Sumut. Desa Lau Simomo menjadi bentuk kebhinekaan Indonesia, dimana para penduduknya saling berlatar belakang suku, agama dan ras, suku dan agama yang berbeda, namun dapat hidup saling menghargai dan menghormati. Meskipun mereka memiliki keterbatasan dibanyak hal serta mendapat berbagai fasilitas dari berbagai donatur, hal itu tak membuat mereka berleha-leha atau bahkan terlalu lama terpuruk dalam ketidak-menerimaan kenyataan. Hal ini terbukti dari semangat mereka sebagai orang tua dan anak-anak mereka untuk bersekolah dan melanjutkan pendidikan bahkan sanggup untuk menembus batas wilayah, untuk berbagai tujuan yang lebih membahagiakan. Keramahan dan kesahajaan menjadi ciri khas dari penduduknya. Hal tersebut tampak dari penerimaan mereka terhadap orang yang datang untuk sekedar mengunjungi bahkan untuk memperoleh informasi. Mereka tak memamerkan hal-hal apapun, bahkan sekalipun mereka punya hal untuk ditonjolkan dan dibanggakan di depan orang lain. Berdasarkan keterangan yang juga diperoleh bahwa penyakit kusta ini tidak menjadi fokus yang menyebabkan seseorang meninggalkan dunia, namun akibat penyakit lain yang lebih mendominasi di tubuh si penderita
Kesimpulan Temuan
Lau Simomo berada di Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Medan, Sumut.
Lau Simomo adalah lokalisasi bagi para mantan/penderita kusta.
Lau Simomo pertama kali dibuka oleh seorang dari pemerintahan Belanda yang meminta sebuah lahan untuk penampungan penderita kusta di Tanah Karo kepada raja-raja Karo.
Secara harafiah, Lau Simomo terdiri dari dua kata yakni, Lau yang berarti air dan Simomo yang berarti kuman. Singkatnya diartikan sebagai air yang menghancurkan kuman-kuman.
Terdapat mata air sebagai sumber pengairan di Lau Simomo dan beberapa desa di sekitarnya. Mata air tersebut bernama Mata Air Taktuk.
Dibangun rumah sakit yang diperuntukkan demi membantu pemulihan para penderita kusta. Dulu, rumah sakit tersebut dimiliki oleh Belanda, namun sekarang sudah beratas namakan Pemda Sumut.
Masyarakat Lau Simomo diberikan subsidi, baik dalam hal sandang, pangan dan papan.
Menurut beberapa orang, salah satu penyebab kusta karena kebiasaan kurang menjaga kebersihan.
Ada 3 penyebab faktor penyebab kecacatan terjadi pada tubuh penderita kusta yakni, faktor ketidaktahuan, faktor "mendiamkan" dan faktor ketidakteraturan dalam pengobatan.
Batas-batas desa Lau Simomo:
- Utara berbatasan dengan desa Guru Benua Kecamatan Munthe
- Selatan berbatasan dengan Perladangan Kandibata Kecamatan Kabanjahe - Barat berbatasan dengan Desa Kuta Gerat Kecamatan Munthe
- Timur berbatasan dengan Desa Singa Kecamatan Tiga Panah
Terdapat keanekaragaman penggunaan bahasa di desa Lau Simomo, namun
"bahasa pengikat" adalah bahasa Indonesia.
Sistem pengetahuan di desa Lau Simomo dibagi atas dua (menurut cara memperolehnya), yakni:
- Formal, misalnya sekolah.
- Non formal, misalnya berladang.
Salah satu bentuk aktifitas keorganisasian di Desa Lau Simomo, misalnya wirid dan STM.
Penggunaan adat Karo wajib dalam banyak aktifitas di Lau Simomo, bagi suku manapun, misalnya saja dalam perkawinan.
Sistem mata pencaharian utama yang ada di Desa Lau Simomo adalah bertani/berladang dan beternak.
Angkutan umum dan sarana sumber air merupakan bentuk dari sistem teknologi dan peralatan hidup di Desa Lau Simomo.
Agama Kristen dan agama Islam merupakan agama mayoritas.
Daftar informan:
1. Nama : Supriyadi Usia : 41 Tahun Pekerjaan : Wirausaha 2. Nama : Op. Br. Pasaribu Usia : 60 Tahun
Pekerjaan : Pengangguran 3. Nama : Ny. Br. Sagala Usia : 31 Tahun Pekerjaan : Bidan
4. Nama : Bp. Ginting Munthe Usia : 72 Tahun
Pekerjaan : Petani jeruk 5. Nama : Bp. Sagala Usia : 74 Tahun Pekerjaan : Petani jeruk
REALITA KEHIDUPAN PENDERITA KUSTA
"Studi Kasus di Desa Lau Simomo Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo"
Oleh Kelompok 1
1. Ramot Tampubolon (100905067) 2. Shelly Andriani (100905056) 3. Rina Berutu (100905001) 4. Marliani sembiring (100905006) 5. Desy Iriana (100905014) 6. Zulham Rusdi (100905017) 7. Andi Sasongko (100905033) 8. Reza Mayendra (100905061) 9. Roy Neker (100905060)
BAB I
GAMBARAN UMUM KOMUNITAS
1.1. Sejarah dan Asal Usul Komunitas
Pada awal abad ke-19 tepatnya tahun 1902, pemerintahan Belanda menemukan sejenis penyakit kulit yang di derita oleh masyarakat Indonesia. Penyakit ini disinyalir adalah penyakit menular, bahkan masyarakat Indonesia sendiri ada yang mengganggap itu sebagai "penyakit kutukan". Penderita penyakit ini memang sedikit dan asal-usul dari penyakit ini pun tidak diketahui masyarakat, sehingga masyarakat membuat definisi tersendiri tentang penyakit itu seperti penyakit kutukan ataupun karena diguna- guna.
Pendapat-pendapat yang timbul dari masyarakat tentang penyakit kusta itu membuat kecemasan dan kekhawatiran pada diri mereka. Mereka takut akan tertular dan terkena imbas dari penyakit itu. Karena itulah mereka mengucilkan dan bahkan mengasingkan si penderita dari lingkungannya. Melihat tragedi itu, seorang pendeta tergugah hatinya untuk menolong mereka yang dikucilkan dari tempat tinggalnya karena penyakit yang diderita.
Pendeta tersebut membawa mereka (si penderita) ke tempat yang cukup jauh dari pemukiman penduduk, yaitu di wilayah dataran tinggi Sumatera Utara. Tanah kosong tidak berpenghuni dan tidak bertuan yang cukup luas dan hanya ada pohon sejauh mata memandang. Tempat ini dikelilingi perbukitan dan sebuah gunung yang aktif, yaitu Gunung Sinabung. Untuk bertahan hidup, pendeta itu meminta kepada penjajah Belanda untuk membantu membuat Gereja serta Rumah Sakit Dan selagi pembangunan rumah sakit berlangsung, sementara para penderita penyakit kulit itu dirawat di Gereja. Setelah rumah sakit itu selesai, mereka dirawat dengan layak dan baik selayaknya pasien sakit yang membutuhkan pertolongan. Hingga hari ini rumah sakit itu hanya menampung penderita yang mengalami penyakit yang sama, yaitu penyakit kusta.
Penyakit kusta adalah penyakit kulit yang penderitanya akan mengalami gatal- gatal binti merah yang lama-kelamaan akan menjadi mati rasa. Tidak hanya sampai disitu, jika tidak segera diberi vaksin maka virus akan menyebar keseluruh tubuh dan akan menyusutkan tulang. Tidak hanya menyebar keseluruh tubuh, tetapi juga menular ke orang lain. Karena menurut Ilmu Kedokteran, virus tersebut akan merusak sel-sel tubuh dan kekebalan tubuh si penderita. Itulah mengapa si penderita mengalami mati rasa dan tidak dapat berfungsinya anggota tubuh yang sudah terkena virus. Bahkan beberapa penderita yang ditemui, mereka harus rela kehilangan sebagian anggota mereka. Itulah kondisi penderita kusta yang ada di dataran tinggi wilayah Sumatera utara yang kami jumpai pada tanggal 2-4 Desember 2011 lalu. Wilayah yang dahulunya sangat sunyi dan jauh dari jangkauan masyarakat, telah berubah menjadi pemukiman yang ramai dengan segala aktivitasnya. Nama daerah tersebut diambil dari bahasa Suku Karo, yaitu "Lau Simomo". Arti dari nama itu sendiri adalah Lau yang berarti air, dan Simomo yang berarti tidak mengalir. Jika digabungkan kedua kata tersebut maksudnya adalah air yang tergenang dan tidak mengalir kemanapun. Air tesebut hanya meresap ke bawah tanah atau menguap ke atas. Ini sesuai harapan mereka, yaitu agar air yang mereka pakai sehari-harinya tidak mengalir kemanapun dan menulari siapapun.
Nama desa ini yang dahulu tak pernah terdengar dan bahkan tidak dianggap ada, sekarang sudah terdengar dimana-mana bahkan sudah ter-uploud di internet.
Bahkan teknologi canggih dan transportasi modernpun sudah ada. Pandangan orang terhadap penyakit ini sudah berubah seiring majunya ilmu pengetahuan. Kehidupan para penderita kusta sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan para penderita kusta terdahulu. Fasilitas yang diberikan oleh negara cukup memuaskan untuk mereka.
Sebelum kita bercerita lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Lau Simomo hari ini. Ada baiknya kita kembali ke cerita kehidupan masyarakat Lau Simomo di waktu lampau, dimana pada saat Belanda masih menjajah Indonesia. Belanda juga membangun rumah untuk para penderita kusta yang letaknya di belakang rumah sakit dan samping gereja. Rumah ini sangat sederhana. Berbentuk segitiga pada atap yang terbuat dari jerami Badan rumah yang berbentuk kubus dan terbuat dari papan.
Di badan rumah ini juga terdapat gambar cicak dengan badan yang cukup panjang dan
juga jendela kecil bagian depan Rumah yang berbentuk panggung ini terdapat tangga kecil di depan dan belakangnya. Rumah sederhana berukuran 3x4 m ini berjumlah 17 buah dan dihuni oleh keluarga penderita kusta.
Inilah awal terbentuknya komunitas masyarakat di Lau Simomo. Lahan kosong yang hanya dihuni oleh flora dan fauna, kini sudah menjadi permukiman yang cukup ramai. Salah satu anggota keluarga yang menderita dan dirawat di rumah sakit itu, maka keluarganya juga ikut menetap disana. Ada sebagian yang kembali ke rumah asal mereka tinggal setelah berobat disana. Namun tidak sedikit juga yang menetap disana, apalagi setelah Indonesia merdeka negara ini memberikan fasilitas yang baik untuk para penderita kusta.
Ternyata tidak hanya Belanda yang perduli terhadap kelangsungan hidup para penderita penyakit kusta di Lau Simomo. Pemerintah Indonesia juga perduli terhadap mereka. Terbukti dengan fasilitas yang diberikan kepada mereka. Seperti fasilitas hak pakai yaitu rumah, listrik, air dan tanah. Adapun selain itu ialah hewan ternak, sembako mingguan, tunjangan bulanan, dan perobatan gratis.
Mereka sangat nyaman dengan kehidupan mereka sekarang, walaupun masih ada juga diantara mereka yang harus jauh dari keluarga mereka. Menerima kucilan- kucilan dari kelurga dan sanak-saudara mereka sendiri. Satu hal yang harus kita contoh dari mereka adalah sikap ketegaran dan kesabaran serta rasa syukur kepada Tuhan apapun kondisi mereka hari ini.
1.2. Identitas Komunitas
Komunitas yang ada di Lau Simomo adalah kumpulan dari orang-orang yang berbeda suku, agama dan daerah. Berkumpul di Lau Simomo karena adanya kesamaan kepentingan, menetap di sana, dan membentuk kehidupan serta aktivitas baru.
Mayoritas masyarakat di Lau Simomo bersuku Karo, namun ada juga pendatang dari luar kota. Mereka jauh-jauh datang dari luar kota untuk mengobati penyakitnya.
Diantaranya ada yang berasal dari Gayo Aceh, Melayu, Jombang
Keberagaman warga yang ada disana masih dapat dilihat dari khasnya bentuk wajah mereka yang menjadi salah satu identitas asal mereka. Selain itu dapat juga kita dengar dari logat mereka berbicara, walaupun memang hampir rata-rata masyarakat disana menggunakan bahasa Karo untuk berkomunikasi. Namun, jika berkomunikasi dengan orang yang sesama suku, maka menggunakan bahasa daerah suku mereka.
Namun jika berkomunikasi dengan yang diluar suku mereka, maka mereka akan menyesuaikan bahasanya, namun biasanya menggunakan bahasa Indonesia.
Mayoritas agama masyarakat Lau Simomo adalah Kristiani. Ini dapat terbukti dengan adanya tiga gereja yang berdiri kokoh. Sedangkan yang beragama Islam hanya sekitar 80 kepala keluarga dari hampir 200 kepala keluarga yang ada.
1.3. Gambaran Demografi
Desa Lau Simomo terletak di dataran tinggi Sumatera Utara tepatnya di Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo. Iklim suhu di daerah ini adalah 17. 25 derajat celcius. Disebelah tenggara terdapat sebuah perkampungan penduduk yang juga merupakan keluarga komunitas penderita kusta. Namanya adalah Desa Singa Walaupun kedua desa ini sangat berdekatan, namun berbeda kecamatan. Desa Singa terletak di Kecamatan Tiga Panah. Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa tempat ini dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan. Masyarakat setempat mengolah lahan garapan yang diberikan oleh pemerintah untuk bertani.
Berikut yang ditanam adalah; padi kering, kopi, sayuran, kacang-kacangan dan buah seperti jeruk.
BAB II
GAMBARAN TUJUH UNSUR KEBUDAYAAN
Seperti yang kita ketahui bahwa kebudayaan terdapat 7 unsur. Berikut adalah penjelasan terkait kehidupan masyarakat Lau Simomo dengan tujuh unsur kebudayaan.
2.1. Sistem Pengetahuan
Pengetahuan merupakan kunci bagi kita untuk kelanjutan hidup. Setiap aktivitas kita didasari oleh pengetahuan. Dan banyak cara untuk mendapatkan pengetahuan.
Pengalaman mengajarkan banyak hal, termasuk pengalaman kami selama tiga hari tinggal bersama masyarakat Lau Simomo. Banyak hal-hal dan pengetahuan baru yang kami dapatkan. Mulai dari cara mereka berinteraksi dengan orang yang dikenal dan tidak dikenal, cara mereka bertani dan bekerja , cara mereka menangani penyakit mereka
Keramahan mereka menyambut pendatang sangat baik. Teguran atas pertanyaan yang mereka lontarkan kepada kami suatu pertanda bahwa merek perduli terhadap kami. Mereka mengatakan bahwa tamu yang datang harus dihormati dan dihargai.
Mereka memperlakukan kami dengan sangat baik. Kami merasa seperti sudah lama saling mengenal. Hal lainnya adalah cara mereka menanam padi. Kalau biasanya seorang petani menanam padi itu mundur, kali ini berbeda. Petani padi ini menanam dengan cara maju. Penuturan mereka adalah karena padi ini adalah padi tanah kering, jadi lebih mudah jika menanam dengan cara seperti itu, bukan seperti menanam padi sawah. Ditemukan juga para petani jeruk yang menggunakan cara sederhana untuk melindungi tanamannya dari hama lalat dan agas. Ditemukan juga beberapa rumah warga yang berpagar rumput namun tidak hanya sebatas rumput. Seperti yang kita ketahui, pagar adalah salah satu alternatif orang untuk melindungi rumah dari gangguan orang. Rumput hanyalah tumbuhan yang sangat mudah untuk dilalui, maka masyarakat
sekitar meletakkan kawat-kawat berduri sepanjang pagar rumput itu yang hampir tidak terlihat jika tidak di perhatikan dengan seksama.
Gambar. 1. Sekolah Dasar di Lau Simomo
Memotret sedikit pendidikan di Lau Simomo, tempat dimana anak-anak mendapatkan pengajaran ilmu pengetahuan. Kami mendatangi satu-satunya SD yang ada disana, yaitu SD Negeri No. 040466 Lau Simomo. Walaupun dapat dikatakan desa ini jauh lebih baik dan maju dari beberapa tahun yang lalu, namun pendidikannya masih minim akan fasilitas. Hanya tersedia satu SD dan satu TK. Sekolah dasar negeri memiliki sekitar 8 ruangan belajar mengajar dan 3 bangunan yang dijadikan ruangan guru, kepala sekolah dan UKS Sekolah tersebut memiliki jumlah siswa sekitar 400, dengan jumlah pengajar dan tenaga kerja sekitar 20 orang, Kebanyakan siswa/i SD ini merupakan penduduk luar dari Lau Simomo, karena hal itu sangat membutuhkan transportasi untuk pergi ke sekolah. Transportasi yang tersedia hanya satu mobil Pick Up dan satu mobil angkutan pedesaan dengan keadaan yang jauh dari layak. Mobil ini menjemput dan menghantar anak sekolah setiap harinya dengan jumlah sekitar 30-an.
Tidak jarang terjadi perkelahian antara satu anak dengan anak yang lain untuk mendapatkan tempat duduk. Bahkan mereka membahayakan diri mereka sendiri karena tidak mendapat tempat duduk, mereka naik ke atap angkutan dan menggantung di pintu angkutan. Tetapi semangat mereka menuntut ilmu sangat luar biasa, karena mereka mempunyai cita-cita yang juga luar biasa.
2.2. Sistem Religi