REALITA KEHIDUPAN PENDERITA KUSTA
1.2. Identitas Komunitas
Komunitas yang ada di Lau Simomo adalah kumpulan dari orang-orang yang berbeda suku, agama dan daerah. Berkumpul di Lau Simomo karena adanya kesamaan kepentingan, menetap di sana, dan membentuk kehidupan serta aktivitas baru.
Mayoritas masyarakat di Lau Simomo bersuku Karo, namun ada juga pendatang dari luar kota. Mereka jauh-jauh datang dari luar kota untuk mengobati penyakitnya.
Diantaranya ada yang berasal dari Gayo Aceh, Melayu, Jombang
Keberagaman warga yang ada disana masih dapat dilihat dari khasnya bentuk wajah mereka yang menjadi salah satu identitas asal mereka. Selain itu dapat juga kita dengar dari logat mereka berbicara, walaupun memang hampir rata-rata masyarakat disana menggunakan bahasa Karo untuk berkomunikasi. Namun, jika berkomunikasi dengan orang yang sesama suku, maka menggunakan bahasa daerah suku mereka.
Namun jika berkomunikasi dengan yang diluar suku mereka, maka mereka akan menyesuaikan bahasanya, namun biasanya menggunakan bahasa Indonesia.
Mayoritas agama masyarakat Lau Simomo adalah Kristiani. Ini dapat terbukti dengan adanya tiga gereja yang berdiri kokoh. Sedangkan yang beragama Islam hanya sekitar 80 kepala keluarga dari hampir 200 kepala keluarga yang ada.
1.3. Gambaran Demografi
Desa Lau Simomo terletak di dataran tinggi Sumatera Utara tepatnya di Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo. Iklim suhu di daerah ini adalah 17. 25 derajat celcius. Disebelah tenggara terdapat sebuah perkampungan penduduk yang juga merupakan keluarga komunitas penderita kusta. Namanya adalah Desa Singa Walaupun kedua desa ini sangat berdekatan, namun berbeda kecamatan. Desa Singa terletak di Kecamatan Tiga Panah. Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa tempat ini dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan. Masyarakat setempat mengolah lahan garapan yang diberikan oleh pemerintah untuk bertani.
Berikut yang ditanam adalah; padi kering, kopi, sayuran, kacang-kacangan dan buah seperti jeruk.
BAB II
GAMBARAN TUJUH UNSUR KEBUDAYAAN
Seperti yang kita ketahui bahwa kebudayaan terdapat 7 unsur. Berikut adalah penjelasan terkait kehidupan masyarakat Lau Simomo dengan tujuh unsur kebudayaan.
2.1. Sistem Pengetahuan
Pengetahuan merupakan kunci bagi kita untuk kelanjutan hidup. Setiap aktivitas kita didasari oleh pengetahuan. Dan banyak cara untuk mendapatkan pengetahuan.
Pengalaman mengajarkan banyak hal, termasuk pengalaman kami selama tiga hari tinggal bersama masyarakat Lau Simomo. Banyak hal-hal dan pengetahuan baru yang kami dapatkan. Mulai dari cara mereka berinteraksi dengan orang yang dikenal dan tidak dikenal, cara mereka bertani dan bekerja , cara mereka menangani penyakit mereka
Keramahan mereka menyambut pendatang sangat baik. Teguran atas pertanyaan yang mereka lontarkan kepada kami suatu pertanda bahwa merek perduli terhadap kami. Mereka mengatakan bahwa tamu yang datang harus dihormati dan dihargai.
Mereka memperlakukan kami dengan sangat baik. Kami merasa seperti sudah lama saling mengenal. Hal lainnya adalah cara mereka menanam padi. Kalau biasanya seorang petani menanam padi itu mundur, kali ini berbeda. Petani padi ini menanam dengan cara maju. Penuturan mereka adalah karena padi ini adalah padi tanah kering, jadi lebih mudah jika menanam dengan cara seperti itu, bukan seperti menanam padi sawah. Ditemukan juga para petani jeruk yang menggunakan cara sederhana untuk melindungi tanamannya dari hama lalat dan agas. Ditemukan juga beberapa rumah warga yang berpagar rumput namun tidak hanya sebatas rumput. Seperti yang kita ketahui, pagar adalah salah satu alternatif orang untuk melindungi rumah dari gangguan orang. Rumput hanyalah tumbuhan yang sangat mudah untuk dilalui, maka masyarakat
sekitar meletakkan kawat-kawat berduri sepanjang pagar rumput itu yang hampir tidak terlihat jika tidak di perhatikan dengan seksama.
Gambar. 1. Sekolah Dasar di Lau Simomo
Memotret sedikit pendidikan di Lau Simomo, tempat dimana anak-anak mendapatkan pengajaran ilmu pengetahuan. Kami mendatangi satu-satunya SD yang ada disana, yaitu SD Negeri No. 040466 Lau Simomo. Walaupun dapat dikatakan desa ini jauh lebih baik dan maju dari beberapa tahun yang lalu, namun pendidikannya masih minim akan fasilitas. Hanya tersedia satu SD dan satu TK. Sekolah dasar negeri memiliki sekitar 8 ruangan belajar mengajar dan 3 bangunan yang dijadikan ruangan guru, kepala sekolah dan UKS Sekolah tersebut memiliki jumlah siswa sekitar 400, dengan jumlah pengajar dan tenaga kerja sekitar 20 orang, Kebanyakan siswa/i SD ini merupakan penduduk luar dari Lau Simomo, karena hal itu sangat membutuhkan transportasi untuk pergi ke sekolah. Transportasi yang tersedia hanya satu mobil Pick Up dan satu mobil angkutan pedesaan dengan keadaan yang jauh dari layak. Mobil ini menjemput dan menghantar anak sekolah setiap harinya dengan jumlah sekitar 30-an.
Tidak jarang terjadi perkelahian antara satu anak dengan anak yang lain untuk mendapatkan tempat duduk. Bahkan mereka membahayakan diri mereka sendiri karena tidak mendapat tempat duduk, mereka naik ke atap angkutan dan menggantung di pintu angkutan. Tetapi semangat mereka menuntut ilmu sangat luar biasa, karena mereka mempunyai cita-cita yang juga luar biasa.
2.2. Sistem Religi
Sudah disinggung diawal mengenai agama yang ada di Lau Simomo. Setiap tahunnya, mereka melakukan upacara panen padi pada bulan ke tiga Masehi yaitu Bulan Maret. Mereka berharap untuk kedepannya panen mereka akan jauh lebih baik.
Gambar.2. Gereja GBKP di Lau Simomo
Toleransi antar agama di desa ini sangat kuat Terbukti dengan berdirinya rumah ibadah masjid dan gereja yang berdampingan. Jumlah rumah ibadah yang ada di Laut Simomo ada 5, yaitu; 3 gereja, 1 mesjid dan 1 Mushola
2.3. Sistem Mata Pencaharian
Penduduk Lau Simomo mayoritas adalah masyarakat dengan mata pencaharian yang bergerak dibidang pertanian. Selebihnya bekerja sebagai Bidan, Buruh kerja, Wiraswasta, Guru dan PNS.
Di daerah ini banyak terdapat petani padi darat, jagung, kacang-kacangan, kopi dan buah-buahan. Padi darat merupakan jenis tanaman biji-bijian dengan proses tanam panen membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Jenis padi ini sangat mudah hidup karena tidak membutuhkan banyak air. Tanah yang diberikan pemerintah untuk digarap dan hasilnya di konsumsi dan di jual. Banyak pedagang kecil yang menjual sembako dan jajan-jajan kecil. Ditempat inilah saya mengenal yang namanya "pasar jalan". Yaitu, sebuah mobil yang membawa bahan-bahan untuk di jual ke pedagang pedagang kecil.
Untuk para pedagang sendiri, diantara mereka ada yang bekerja paruh waktu. Setengah hari mereka bertani, setengah hari mereka kembali berdagang
Gambar.3. Petani Jeruk di Lau Simomoh
2.4. Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam berinteraksi pada umumnya tetap bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Namun, bahasa daerah wilayah ini masih sangat kental. Kebanyakan mereka menggunakan bahasa Karo, walaupun bukan suku Karo.
terjadi karena sudah cukup lama tinggal wilayah tersebut. Bagi mereka yang berasal dari suku yang sama, maka mereka akan berinteraksi menggunakan bahasa yang sama.
Misalnya; sesama suku Aceh, maka mereka akan berbahasa Aceh.