1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cafe pertama muncul di negara barat, paling umum dijumpai di Negara Perancis yang kemudian diadposi oleh Inggris pada akhir abad ke-19. Istilah Cafe berasal dari kata coffee yang berarti kopi. Cafe adalah suatu restoran kecil yang berada diluar hotel yang memiliki sistem pelayanan mandiri. Cafe memiliki pilihan makanan yang sangat terbatas dan tidak menjual minuman yang beralkohol tinggi, tetapi tersedia minuman sejenis bir, soft drink, teh, kopi, rokok, kue, camilan dan lain-lain (Budiningsih 71).
Bisnis cafe terus mengalami perkembangan yang signifikan, karena menjadi lokasi yang ideal untuk melakukan berbagai jenis aktivitas bersantai sebagai bagian dari lifestyle masyarakat global. Faktanya, sangat mudah dijumpai cafe di berbagai sudut kota besar di Indonesia. Cafe merupakan suatu tipe restoran yang biasanya menyediakan tempat duduknya di bagian dalam dan luar ruangan. Cafe tidak menyediakan makanan berat, karena lebih fokus pada menu makanan ringan seperti kue, roti dan sup. Minuman yang biasanya disajikan berupa kopi, juice, serta susu coklat. Cafe tidak menyediakan minuman beralkohol yang berat, karena dapat menyebabkan mabuk. (Grafe, Christoph and Franziska Bollerey, ed 9-10)
Namun, seiring dengan perjalanan waktu, cafe di Surabaya tidak lagi difungsikan hanya sebagai tempat aktivitas yang bersifat relaksasi namun juga sebagai aktivitas berat seperti belajar, mengerjakan tugas, pertemuan bisnis dan sejenisnya. Cafe tidak lagi menghidangkan makanan ringan namun juga banyak varian makanan berat. Cafe juga menyediakan beragam fasilitas untuk melakukan aktivitas yang beragam, sehingga kondisi desain interior mulai mengalami perubahan karena harus mengikuti keberagaman kebutuhan aktivitas.
Oleh karena itu, dikarenakan adanya perubahan aktivitas dan perilaku pada cafe di surabaya, sehingga diperlukan sebuah penelitian untuk meneliti perubahan pola perilaku pengunjung cafe terhadap interior cafe.
Konsep behavioral setting adalah suatu upaya menelusuri pola perilaku manusia yang berkaitan dengan tatanan lingkungan fisik (Barker dalam
M.Laurens 131). Istilah setting ini harus dimaknai sebagai model desain yang dapat menjadikan setiap orang menyesuaikan diri dengan eksistensinya, seperti desain interior tempat rapat yang membuat setiap orang berada pada posisi harus fokus dan siap siaga dengan konsep dan pemikirannya. Berdasarkan definisi behavioral setting, maka teori dan metode behavior setting akan digunakan untuk meneliti adanya perubahan pola perilaku terhadap lingkungan dalam hal ini interior cafe di Surabaya dan faktor lingkungan apa saja yang mempengaruhi perubahan ini
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, disusun rumusan masalah sebagai berikut.
a. Bagaimana kajian behavioral setting terhadap pola perilaku masyarakat pada interior cafe di Surabaya?
b. Apa saja komponen behavior setting yang mempengaruhi pola perilaku masyarakat pada cafe di Surabaya?
c. Apa saja aspek interior yang mempengaruhi terjadinya pergeseran pola perilaku masyarakat pada interior cafe?
1.3 Pengertian Judul
Judul pada penelitian ini adalah “Kajian Behavioral Setting pada Interior Cafe di Surabaya” yang memiliki arti sebagai berikut :
a. Kajian adalah hasil belajar; mempelajari; memeriksa; menyelidiki;
memikirkan (mempertimbangkan dsb); menguji; menelaah (Kamus Besar Bahasa Indonesia 618)
b. Setting dalam bahasa Indonesia adalah pengaturan yang didefinisikan sebagai suatu perbuatan mengatur;menata sesuatu untuk pihak lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia 103)
c. Behavioral setting dalam bahasa Indonesia adalah pengaturan perilaku yang didefinisikan sebagai suatu kombinasi yang stabil antara aktivitas dan tempat dengan adanya pola perilaku berulang, waktu dan ruang
tertentu, dan adanya hubungan antara tata lingkungan (milieu) dan perilaku (Studi Perilaku Lingkungan)
d. Desain interior dikembangkan dengan tujuan untuk memasilitasi kegiatan yang dilakukan oleh manusia di dalam ruangan, disesuaikan dengan imajinasi dan pemikiran desainer berdasarkan kebutuhan penggunanya sehingga dalam mendesain selalu berusaha berkompromi tentang berbagai aspek agar selaras dengan harapan pemakainya (Pile 15).
e. Cafe adalah restoran kecil yang melayani atau menjual makanan ringan dan minuman, cafe biasanya digunakan sebagai tempat untuk rileks (Kamus Besar Bahasa Indonesia 432)
Dari penjabaran arti judul “Kajian Behavioral Setting pada Cafe di Surabaya” diatas maka dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan pengujian dan pemeriksaan terhadap hubungan antara tata lingkungan dalam interior cafe di Surabaya dengan perilaku orang didalamnya.
1.4 Tujuan Penelitian
a. Mengkaji konsep behavioral setting terhadap pola perilaku masyarakat pada interior cafe di Surabaya.
b. Mendeskripsikan komponen behavior setting yang mempengaruhi pola perilaku masyarakat pada cafe di Surabaya.
c. Mendeskripsikan aspek interior yang mempengaruhi terjadinya pergeseran pola perilaku masyarakat pada interior cafe
1.5 Manfaat Penelitian a. Masyarakat
- Masyarakat memiliki tambahan pengetahuan mengenai penerapan konsep behavioral setting dalam bidang desain interior yang masih baru bagi masyarakat, bahwa dalam mendesain public space seperti retail bukan hanya sekedar menciptakan kesan cantik, berkelas, dan bisa menarik pelanggan namun juga penerapan konsep behavioral setting.
- Masyarakat mendapatkan gambaran konkrit mengenai faktor yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan desain interior khususnya bagi ruang publik.
b. Desainer interior
- Mengetahui kajian teori behavioral setting yang masih tergolong baru dalam bidang desain interior.
- Mengetahui pentingnya teori behavioral setting pada proses desain interior - Mengetahui karakteriksik terapan teori behavioral setting pada desain
interior cafe.
c. Keilmuan desain
- Menemukan indikator baru yang mempengaruhi keberhasilan diciptakannya sebuah desain interior
1.6 Target Penelitian
Target luaran dari penelitian ini adalah publikasi berupa pamflet yang nantinya dapat dibaca oleh masyarakat luas, mulai dari masyarakat awam maupun para desainer interior agar mengetahui pentingnya penerapan behavioral setting pada desain interior karena faktor ini menentukan tingkat keberhasilan sebuah desain interior tersebut.
1.7 Metodologi Penelitian 1.7.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipakai adalah jenis penelitian kualitatif. Hal ini dikarenakan pendekatan penelitian kualitatif adalah satu-satunya cara handal dan relevan untuk bisa memahami fenomena sosial langsung (tindakan manusia) (Bungin 26).
Jenis penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral (Creswell dalam Raco 37).
Untuk mengerti gejala sentral tersebut peneliti mewawancarai peserta penelitian atau partisipan dengan menajukan pertanyaan yang umum dan agak luas.
Informasi yang disampaikan oleh partisipan kemudian dikumpulkan. Informasi tersebut biasanya berupa kata atau teks. Data yang berupa kata-kata atau teks
tersebut kemudian dianalisis. Hasil analisis itu dapat berupa penggambaran atau deskripsi atau dapat pula dalam bentuk tema-tema. Dari data-data itu peneliti membuat interpretasi untuk menangkap arti yang terdalam. Sesudahnya peneliti membuat penjabaran berdasarkan landasan teori yang dipakai. Hasil akhir dari penelitian kualitatif dituangkan dalam bentuk laporan tertulis.
Lebih dalam penelitian yang dilakukan dalam upaya mengetahui pola perilaku adalah jenis penelitian basic research. Jenis penelitian yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai suatu fenomena serta ditujukan terutama untuk mengembangkan suatu teori tertentu (Setiawan 73-74)
1.7.2 Metode Penelitian
Metode penelitian dalam konteks perilaku memiliki delapan teknik riset berikut (Setiawan 75).
a. Eksperimental, b. Observasi,
c. Dokumen pribadi,
d. Kuisioner (angket), wawancara, e. Pemetaan perilaku,
f. Test psikologi, g. Analisis isi, dan h. Studi kasus
Tabel 1. 1 Tabel Teknik Riset
Permasalahan Pendekatan Teknik Riset
Memperoleh informasi perilaku manusia dan tempat umum
Mengamati yang bersangkutan
Observasi natural
Sumber : Sommer,1986 (dalam Setiawan, Haryadi B,2014:76)
Dari kedelapan teknik riset, dipakai teknik yaitu teknik observasi dengan pertimbangan adanya konsekuensi waktu dan dana yang dilakukan selama penelitian. Bentuk dari observasi sendiri berupa teknik behavioral mapping yang telah dikembangkan oleh Ittelson sejak tahun 1970 yang merupakan teknik popular dan banyak digunakan. Teknik ini mudah untuk digunakan dan mempunyai kekuatan pada aspek spasialnya. Artinya, dengan teknik ini akan
didapat sekaligus suatu bentuk informasi mengenai suatu fenomena, terutama dalam hal perilaku individu dan sekelompok manusia yang terkait dengan sistem spasialnya (Setiawan 81).
Sommer (dalam Setiawan 81) mengatakan bahwa behavioral mapping digambarkan dalam bentuk sketsa atau diagram mengenai suatu area dimana manusia melakukan berbagai kegiatannya. Behavioral mapping ini adalah metode yang digunakan untuk merekam aktivitas seseorang atau sekelompok orang disuatu tempat (ruang) dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk menggambarkan perilaku dalam peta, mengidentifikasikan jenis dan frekuensi perilaku, serta menunjukkan kaitan antara perilaku tersebut dengan suatu bentuk rancangan yang spesifik
Berdasarkan Ittelson, behavioral mapping mengikuti prosedur berikut (dalam Setiawan 81).
a. Sketsa dasar area atau setting yang akan diobservasi,
b. Definisi yang jelas tentang bentuk-bentuk perilaku yang akan diamati, dihitung dan dideskripsikan dan didiagramkana,
c. Satu rencana waktu yang jelas pada saat kapan pengamatan akan dilakukan,
d. Prosedur sistematis yang jelas harus diikuti selama observasi,
e. Serta sistem coding yang efisien untuk lebih mengefisiensikan pekerjaan selama observasi.
Gambar 1. 1 Metode Penelitian
1.7.3 Sumber Data
Sumber data berupa aktivitas pengunjung pada cafe di Surabaya pada waktu tertentu yang telah ditentukan. Data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain :
b. Data mengenai aktivitas pengunjung cafe di Surabaya.
1.7.4 Teknik Pengambilan Data a. Pengumpulan tinjauan pustaka
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan dasar teori yang tepat dan jelas mengenai objek yang akan diteliti, baik mengenai pengertian cafe maupun teori behavioral setting beserta komponen yang menyebabkan terjadinya sebuah behavioral setting sendiri.
b. Teknik place-centered mapping
Teknik ini digunakkan untuk mengetahui bagaimana manusia atau sekelompok manusia memanfaatkan, menggunakan atau mengakomodasikan perilakunya dalam suatu situasi waktu dan tempat tertentu (Setiawan 82).
Dalam melakukan teknik ini terdapat empat dimensi utama berikut.
- Pelaku, - Aktivitas,
- Tempat yang berupa cafe - Waktu
Hal yang dilakukan untuk menjalankan teknik ini adalah sebagai berikut.
- Peneliti menggunakan peta dasar yang telah dibuat untuk memberikan gambaran lokasi area ruang publik. Artinya, bahwa peneliti akan menggambarkan layout cafe yang diteliti dengan program autocad atau meminta softcopy data dari pemilik cafe jika memungkinkan dan datanya tersedia.
- Dalam suatu kurun waktu penelitian, peneliti mencatat berbagai perilaku yang akan terjadi pada masing-masing cafe yang dituju dengan simbol atau sketsa tertentu dengan teknik indexing untuk pemetaan lokasi yang paling banyak ditempati oleh pengunjung cafe dan disertai dengan foto.
Index adalah sebuah tanda yang langsung berhubungan dengan obyeknya dari koneksi aktual, relasi nyata atau reaksi-akibat sehingga mendorong perhatian didalam sebuah waktu dan ruang yang nyata. Tujuan index bukan untuk merepresentasikan sebuah benda yang mati, melainkan untuk
menggambarkan essensi, kehidupan, fenomena, makna kedinamisan dari kejadian-kejadian alam. Hal ini membuat teknik indexing merupakan teknik yang paling tepat untuk peneliti memperlihatkan pola perilaku pengunjung cafe.
c. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan pihak pengunjung dan pengelola cafe untuk mendapatkan data. Pengunjung cafe untuk mendapatkan data mengenai faktor yang menyebabkan pengunjung melakukan perilaku tertentu dalam cafe. Pengelola cafe untuk mendapatkan data mengenai tujuan utama dibangunnya cafe terkait dengan konsep tertentu.
d. Dokumentasi
Penelitian disertai dengan dokumentasi foto dengan kamera untuk merekam pola perilaku pengunjung dalam cafe terkait.
1.7.5 Teknik analisis data
Analisis data yang akan dilakukan berdasarkan hasil temuan data sebagai berikut.
a. Tabulasi data
Pengelompokan komponen behavioral setting yang menyebabkan pola perilaku yang berbeda dalam melakukan aktivitas dalam cafe dan tidak berbeda berdasarkan pengertian sejarah awal cafe.
b. Editing data
Kemudian setiap aktivitas yang berulang dan dan membentuk suatu pola perilaku dalam melakukan aktivitas dalam cafe tertentu akan dikategorikan dalam temuan penelitian yang umum berdasarkan pengertian cafe dan pola perilaku yang tidak umum berdasarkan pengertian sejarah awal cafe.
c. Coding
Data berupa pola perilaku pengunjung yang umum dan tidak umum berdasarkan pengertian cafe diinterpretasikan berdasarkan komponen behavioral setting untuk ditemukan komponen behavioral setting yang mempengaruhi pola perilaku pengunjung yang umum dan tidak umum.
d. Kesimpulan
Dari hasil diatas peneliti akan mendapatkan kesimpulan mengenai pola perilaku pengunjung di cafe Surabaya berdasarkan teori behavioral setting dan komponen behavioral setting yang mempengaruhi pola perilaku pengunjung yang berbeda.
Gambar 1. 2 Bagan Analisa Penelitian