• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci: Myzus persicae, Piper aduncum, mortalitas.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata kunci: Myzus persicae, Piper aduncum, mortalitas."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

UJI LAMA PENYIMPANAN TEPUNG BUAH SIRIH HUTAN (Piperaduncum L.) DALAM MENGENDALIKAN HAMA KUTU DAUN

PERSIK (Myzus persicae Sulzer) (HOMOPTERA: APHIDIDAE) PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum L.)

Rusli Rustam1, J. Hennie Laoh1, Riyanto Tamba1

1Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru.

Email; [email protected] ABSTRACT

Tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu sayuran penting yang dibudidayakan secara komersial di daerah tropis karena mempunyai nilai ekonomis tinggi. Budidaya tanaman cabai tidak terlepas dari serangan hama, salah satunya adalah serangan hama kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.). Serangan hama kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian berkisar antara 10-30% dan saat musim kemarau kerugian yang ditimbulkan dapat lebih besar lagi yaitu mencapai 40%.

Penggunaan insektisida botani merupakan solusi yang tepat dalam mengendalikan hama kutu daun, salah satunya adalah tumbuhan sirih hutan (Piper aduncum L.)Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas waktu penyimpanan tepung buah tanaman sirih hutan sebagai insektisida nabati dalam mengendalikan hama kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.) pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, yakni P0 (tanpa penyimpanan), P1 (lama penyimpanan 1 bulan), P2 (lama penyimpanan 2 bulan), P3 (lama penyimpanan 3 bulan)dan diulangan sebanyak 5 kali.Konsentrasi yang digunakan untuk setiap perlakuan adalah 75 g/l air. Sediaan insektisida yang diuji yaitu tepung buah sirih hutan (Piper aduncum L.). Parameter yang diamati adalah waktu yang dibutuhkan untuk mematikan serangga uji paling awal, lethal time (LT50), mortalitas harian, mortalitas total, suhu dan kelembaban udara tempat penelitian. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa toksisitas tepung buah sirih hutan (Piper aduncum L.) cenderung menurun selama penyimpanan. Perlakuan tepung buah P.

aduncum tanpa penyimpanan (P0) merupakan perlakuan yang mampu mengendalikan kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer) terbaik dengan waktu awal kematian tercepat 3,8 jam, waktu tercepat dalam mematikan 50% M.

persicae yaitu 25,8 jam, dan mortalitas total sebesar 90%

Kata kunci: Myzus persicae, Piper aduncum, mortalitas.

(2)

UJI LAMA PENYIMPANAN TEPUNG BUAH SIRIH HUTAN (Piperaduncum L.) DALAM MENGENDALIKAN HAMA KUTU DAUN

PERSIK (Myzus persicae Sulzer) (HOMOPTERA: APHIDIDAE) PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum L.)

Rusli Rustam1, J. Hennie Laoh1, Riyanto Tamba1

1Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru.

Email; [email protected] ABSTRACT

Tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu sayuran penting yang dibudidayakan secara komersial di daerah tropis karena mempunyai nilai ekonomis tinggi. Budidaya tanaman cabai tidak terlepas dari serangan hama, salah satunya adalah serangan hama kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.). Serangan hama kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian berkisar antara 10-30% dan saat musim kemarau kerugian yang ditimbulkan dapat lebih besar lagi yaitu mencapai 40%.

Penggunaan insektisida botani merupakan solusi yang tepat dalam mengendalikan hama kutu daun, salah satunya adalah tumbuhan sirih hutan (Piper aduncum L.)Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas waktu penyimpanan tepung buah tanaman sirih hutan sebagai insektisida nabati dalam mengendalikan hama kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.) pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, yakni P0 (tanpa penyimpanan), P1 (lama penyimpanan 1 bulan), P2 (lama penyimpanan 2 bulan), P3 (lama penyimpanan 3 bulan)dan diulangan sebanyak 5 kali.Konsentrasi yang digunakan untuk setiap perlakuan adalah 75 g/l air. Sediaan insektisida yang diuji yaitu tepung buah sirih hutan (Piper aduncum L.). Parameter yang diamati adalah waktu yang dibutuhkan untuk mematikan serangga uji paling awal, lethal time (LT50), mortalitas harian, mortalitas total, suhu dan kelembaban udara tempat penelitian. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa toksisitas tepung buah sirih hutan (Piper aduncum L.) cenderung menurun selama penyimpanan. Perlakuan tepung buah P.

aduncum tanpa penyimpanan (P0) merupakan perlakuan yang mampu mengendalikan kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer) terbaik dengan waktu awal kematian tercepat 3,8 jam, waktu tercepat dalam mematikan 50% M.

persicae yaitu 25,8 jam, dan mortalitas total sebesar 90%

Kata kunci: Myzus persicae, Piper aduncum, mortalitas.

PENDAHULUAN

Tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu sayuran penting yang dibudidayakan secara komersial didaerah tropiskarena mempunyai nilai ekonomis tinggi. Cabai memiliki rasa pedas yang berasal dari suatu senyawa yang terdapat dalam buah cabai yang bernama capsaicin (Setiadi, 2001).

(3)

Hingga saat ini konsumsi cabai merah Provinsi Riau sebagian besar masih harus dipenuhi dari luar daerah karena produktivitas cabai di Riau rendah. Badan Pusat Statistik (2013) melaporkan produktivitas cabai merah Provinsi Riau pada tahun 2011 sebesar 4,49 ton/ha masih jauh dari produktivitas cabai nasional yang mencapai 6,19 ton/ha.

Rendahnya produktivitas cabai ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah karena serangan hama kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.).

Menurut Balfas (2005) kerugian akibat serangan hama kutu daun persik berkisar antara 10-30% dan saat musim kemarau kerugian yang ditimbulkan dapat lebih besar lagi yaitu mencapai 40% bila tidak dilakukan tindakan pengendalian.

Saat ini dalam mengendalikan hama kutu daun persik petani cabai masih menggunakan insektisida kimia sintetis. Penggunaan insektisida kimia sintetis yang tidak bijaksana akan menyebabkanbanyak dampak negatif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek negatif penggunaan insektisida kimia sintetis adalah dengan menggunakan insektisida nabati buah sirih hutan (Piper aduncum L.). Penelitian Daud (2013) melaporkan bahwa konsentrasi ekstrakair buah Piper aduncum 75 g/l air mampu mematikan kutu daun persik (Myzus persicae) dengan mortalitas total sebesar 90%.Selain itu, Arneti(2012)juga melaporkan bahwa P. aduncum memiliki aktivitas insektisida terhadap Crocidolomia pavonana.

Piper aduncum mengandung beberapa senyawa kimiayang besifat insektisida, yaitu senyawa amida, delapan senyawa golongan phenylpropanoid, dua belas senyawa golongan terpenoid, dua senyawa golongan flavonoid (chalcones dan dihydrochalcones) dan senyawa lanjut termasuk turunan asam benzoat dan chromones (Morandim dkk, 2009). Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut mempunyai aktivitas penghambat makan serangga hama (Arneti, 2011).

Sediaan Piper aduncum yang banyak dibuat untuk mengendalikan Myzus persicae adalah dalam bentuk tepung. Dadang dan Prijono (2008) mengatakan bahwa pestisida nabati dalam bentuk sediaan tepung memilki beberapa keuntungan, antara lain dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, menambah nilai ekonomis, tidak mudah diserap kulit dan mudah diaplikasikan.

Penggunaan tepung buah Piper aduncum dalam mengendalikan Myzus persicae masih memiliki kendala, yaitu dalam proses pembuatan tepung Piper aduncum membutuhkan waktu yang relatif lama. Disisi lain tanaman cabai yang terserang harus segera dikendalikan karena serangan Myzus persicae sangat cepat dalam merusak tanaman cabai yang dibudidayakan. Selain itu, serangan Myzus persicae tidak menentu waktunya karena serangan hama ini dipengaruhi oleh musim.

Melihat kendala di atas maka diperlukan persediaan tepung buah P.

aduncum dalam jumlah yang banyak agar dalam pengendalian kutu daun persik lebih efektif.Tepung buah P. aduncum untuk persediaan memiliki potensi untuk disimpan, karena senyawa-senyawa yang terkandung pada buah Piper aduncum dari kelompok flavonoid dan terpenoid masih dapat diekstrak dari bahan-bahan tumbuhan yang telah disimpan dalam keadaan kering dalam jangka waktu yang lama (Dadang dan Prijino, 2008).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengujiefektifitas waktu penyimpanan tepung buah tanaman sirih hutan (Piper aduncum L.) sebagai insektisida nabati dalam

(4)

mengendalikan hama kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.) pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.).

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret - Juni 2014 di Laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau, Pekanbaru dan Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Kualu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, yakni P0 (Tanpa penyimpanan), P1 (Lama penyimpanan 1 bulan), P2 (Lama penyimpanan 2 bulan), P3 (Lama penyimpanan 3 bulan)dan diulang sebanyak 5 kali. Setiap unit percobaan diinfestasikan 20 ekor hama kutu daun persik instar empat .Konsentrasi yang digunakan untuk setiap perlakuan adalah 75 g/l air.

Penanaman tanaman untuk perbanyakanMyzus persicae

Penanaman ini bertujuan sebagai tanaman inang untuk perbanyakanM.

persicae sehingga persediaan koloni M. persicae tersedia sampai aplikasi Piper aduncum terhadap serangga uji dilaksanakan. Pelaksanaannya sebagai berikut : tanah dibersihkan dari gulma dan kotoran, tanah diayak dan ditimbang, kemudian dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1 (tanah top soil : pupuk kandang). Sebelum ditanam benih cabai direndam dengan air hangat selama 1 jam, kemudian benih cabai disemai di bedengan. Setelah bibit cabai yang tumbuh berdaun tiga dipilihyang terbaik dan dipindahkan ke polybag ukuran 10 kg.

Tanaman dipelihara di dalam sungkup kasa sampai berumur 60 hari dan siap digunakan untuk perbanyakan serangga uji.

Perbanyakan hama Myzus persicae

Imago Myzus persicae untuk perbanyakan diambil dari areal pertanaman cabai di Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Kualu, Kabupaten Kampar. Imago Myzus persicae Sulzer diambil dari tanaman cabai dengan memotong bagian daun yang terserang kemudian dipindahkan ke tanaman cabai perbanyakan. Pemindahan dilakukan dengan cara menempelkan bagian daun terserang serta mengganggunya dengan kuas secara perlahan agar mudah dalam memindahkannya. Tujuan menyentuh serangga ini adalah untuk melepaskan stiletnya dari daun sehingga stiletnya tidak terputus, sehingga imago yang diinfestasikan tidak mati. Imago dipelihara sehingga menghasilkan keturunan (F1).

Jumlah imago Myzus persicae yang dibiakkan pada tanaman cabai perbanyakan yaitu 20 ekor per tanaman. Pemeliharaan serangga uji pada tanaman perbanyakan dilakukan untuk menjaga persediaan serangga uji ketika aplikasi.

Penanaman tanaman uji

Penanaman ini bertujuan untuk menyediakan tanaman uji pada saat aplikasi.

Pelaksanaannya sebagai berikut : tanah dibersihkan dari gulma dan kotoran, tanah

(5)

diayak dan ditimbang, kemudian dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1 (tanah top soil : pupuk kandang). Sebelum ditanam benih cabai direndam dengan air hangat selama 1 jam, kemudian benih cabai disemai di bedengan.

Setelah bibit cabai yang tumbuh berdaun tiga dipilih yang terbaik dan dipindahkan ke polybag ukuran 1 kg. Tanaman dipelihara di dalam sungkup kasa sampai berumur berdaun enam (6) dan siap digunakan untuk untuk apikasi pengaruh lama penyimpanan tepung buah sirih hutan. Jumlah tanaman uji yang digunakan saat aplikasi adalah sebanyak 20 tanaman.

Pembuatan sungkup

Salah satu upaya untuk menjaga M. persicae yang diinfestasikan terhindar dari musuh alami serta menjaga datangnya gangguan hama lain dari luar, maka tanaman inang diberi sungkup yang terbuat dari plastik mika berbentuk silinder.

Bagian atas polybag dialas dengan kertas putih agar memudahkan perhitungan serangga uji yang mati dan pada bagian atas sungkup ditutup dengan kain kasa sebagai ventilasi udara. Tinggi sungkup 40 cm dengan diameter 18 cm.

Pembuatan tepung buah sirih hutan

Buah sirih hutan yang masih segar diambil dari tanaman sirih hutan yang tumbuh liar di daerah Rantau Berangin, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Kemudian buah sirih hutan dikering angin selama satu minggu dan dipotong dengan ukuran 5 cm. Selanjutnya buah sirih hutan dihaluskan menggunakan blender dan diayak agar didapati tepung buah sirih hutan yang halus, kemudian tepung buah sirih hutan dimasukkan ke dalam wadah tertutup lalu disimpan di lemari pendingin (refrigerator) pada suhu 10 0C dan kelembaban 40%. Tepung buah sirih hutan disimpan sesuai dengan waktu perlakuan sebelum dibuat dalam bentuk ekstrak cair buah sirih hutan pada saat aplikasi nantinya.

Infestasi hama pada tanaman uji

Imago F1 dari tanaman perbanyakan dipindahkan ke tanaman uji sebanyak 10 ekor per tanaman uji dan dipelihara selama 24 jam hingga menghasilkan keturunan (F2). Nimfa instar-1 F2 hasil keturunan pada tanaman uji dipelihara sebanyak 20 ekor sampai instar-4 yang akan digunakan dalam penelitian. Ciri-ciri nimfa instar-4 adalah telah berwarna hijau tua kekuningan dan pada bagian abdomen serangga sudah jelas tampak kornikelnya. Imago (F1) dan nimfa kutu daun persik lainnya (F2) pada tanaman uji dibuang, sehingga nimfa instar-4 yang digunakan sebagai serangga uji pada saat aplikasi merupakan hasil keturunan yang sama dari imago kutu daun persik yang diinfestasi.

Pembuatan ekstrak cair buah sirih hutan

Buah sirih hutan dalam bentuk tepung yang telah disimpan sesuai dengan perlakuan ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik sebanyak 75 g.

Tepung buah sirih hutan dimasukkan ke dalam gelas elemeyer 1000 ml dan ditambahkan aquades steril sebanyak 1000 ml serta sabun krim 1 g. Campuran tersebut diaduk hingga tercampur merata dan dibiarkan selama 1 jam, kemudian disaring dan ekstrak cair buah sirih hutan siap diaplikasikan.

(6)

Pemberian perlakuan

Ekstrak cair dari tepung buah sirih hutan denganlama penyimpanan berbeda sesuai perlakuan diaplikasikan1 jam setelah dilakukan seleksinimfaM.

persicaeinstar-4 padatanaman uji sebanyak 20 ekor/unit tanaman perlakuan.

Untuk menentukan banyaknya volume semprot yang akan diaplikasikan ke tanaman perlakuan, terlebih dahulu dilakukan kalibrasi terhadap handsprayer yang akan digunakan, yaitu sebagai berikut:Handsprayer berukuran 100 ml diisi penuh dengan air kemudian disemprotkan secara merata ketanamansampel,lalu dihitung jumlah volume air yang tersisa dalamhandsprayertersebut.Volume air sebelum disemprotkan dikurangi dengan jumlah air yang tersisa dalamhandsprayer tersebut, ini merupakan volume semprot.

Aplikasi tepung buah sirih hutan yang telah dibuat dalam bentuk ekstrak cair dilakukan pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Tepung buah sirih hutan yang telah dibuat dalam bentuk ekstrak cair pengaplikasiannya dengan cara disemprotkan pada tanaman uji dan tubuhhama kutudaun persik instar-4 secara merata.

Pengamatan

Adapun parameter yang diamati adalah waktu yang dibutuhkan untuk mematikan serangga uji paling awal, lethal time (LT50), mortalitas harian, mortalitas total, suhu dan kelembaban udara tempat penelitian.

Pengamatan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan serangga uji paling awaldilakukan dengan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui kematian salah satu nimfa serangga uji paling awal setelah diberi perlakuan tepung buah sirih hutan dengan lama penyimpanan yang berbeda. Pengamatan dilakukan setiap jam dan dimulai satu jam setelah aplikasi.

Pengamatan lethal time 50 % dilakukan dengan menghitung waktu yang dibutuhkan dari masing-masing perlakuan untuk mematikan 50% nimfa M.

persicae Sulzer. Pengamatan dilakukan setiap jam dan dimulai satu jam setelah aplikasi.

Pengamatan mortalitas harian dilakukan dengan menghitung nimfa M.

persicae Sulzer yang mati setiap hari setelah diberikan perlakuan. Mortalitas nimfa harian dihitung dengan rumus sebagai berikut :

%

100

x

y MH x

dimana ;

MH = Mortalitas nimfa harian

x = Jumlah M. persicae yang diuji

y = Jumlah M. persicae yang masih hidup

Pengamatan mortalitas total dilakukan dengan menghitung total populasi serangga uji yang mati diakhir pengamatan setelah diberi perlakuan. Persentase mortalitas total dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

%

100

b a MT b dimana ;

MT = Mortalitas total

a = Jumlah M. Persicae Sulzer yang mati setelah aplikasi

(7)

b = Jumlah M. Persicae Sulzer sebelum aplikasi

Selama penelitian berlangsung dilakukan pengamatan terhadap suhu dan kelembaban di ruang penelitian. Pengamatan suhu dan kelembaban laboratorium dilakukan setiap hari pada jam 08.00 WIB, 12.00 WIB, dan 17.00 WIB dengan menggunakan alat Termohygrometer. Data pengamatan disajikan dalam bentuk tabel. Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut:

Suhu rata-rata harian

T(0C) = 2 x suhu pagi+ siang+ sore 4

Kelembaban (RH) rata-rata harian:

RH(%) =2 x RH pagi + siang + sore 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau, Pekanbarudan Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Kualu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Suhu rata-rata 28,08 0C dan kelembaban 70,92%

Waktu Awal Kematian Serangga Uji (jam)

Tabel 1. Rata-rata awal kematian kutu daun persik dengan perlakuan lama penyimpanan tepung buah sirih hutan yang berbeda (jam).

Perlakuan Rerata (jam)

P0 (tanpa penyimpanan) 3,8a

P1 (penyimpanan 1 bulan) 8,4ab

P2 (penyimpanan 2 bulan) 15,2bc

P3 (penyimpanan 3 bulan) 21,8c

Angka-angka pada lajur yang diikuti olehhuruf kecil yang tidak sama berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5%.

Secara umum toksisitas tepung buah sirih hutan (Piper aduncum L.) cenderung menurun selama penyimpanan.Penurunan toksisitas tepung buah sirih hutan ditunjukkan dengan penurunan rerata waktu awal kematian kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer) pada setiap perlakuan. Tabel 1 memperlihatkan bahwa perlakuan tepung buah sirih hutan tanpa penyimpanan (P0) menunjukkan rerata waktu tercepat dalam mebunuh Myzus persicae paling awal yaitu 3,8 jam. Hal ini dikarenakan tepung buah sirih hutan dengan perlakuan tanpa penyimpanan memiliki kandungan bahan aktif yang masih utuh dan daya toksiknya belum mengalami penurunan. Menurut Scott et al (2008), berbagai jenis tumbuhan Piperacea mengandung senyawa aktif piperamida yang bekerja sebagai racun saraf dan mengakibatkan efek knockdown serta kematian serangga dengan cepat.

(8)

Hasyim (2011) juga melaporkan bahwa komponen utama lain dalam fraksi aktif dari ekstrak n-heksana buah P. aduncum adalah dilapiol (golongan fenilpropanoid), dengan area puncak pada kromatogram berdasarkan analisis dengan kromatografi gas sebesar 68,8%.

Senyawa aktif dilapiol dalam buah sirih hutan bekerja sebagai racun metabolik. Dilapiol dapat menghambat proses oksidasi di dalam sel yang dikatalisis oleh enzim polisubstrat monooksigenasae (PSMO). Terhambatnya aktivitas enzim PMSO dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan senyawa beracun di dalam sel yang selanjutnya dapat mengakibatkan kematian sel dan lambat laun mengakibatkan kematian serangga (Bernard et al, 1995 dalam Syahroni dan Prijono 2013).

Senyawa piperamida dan dilapiol yang terkandung pada tepung buah P.

aduncum bekerja secara sinergis dalam membunuh kutu daun persik(Myzus persicae).Hal ini sesuai dengan pendapat Dadang dan Prijono (2008) yang mengatakan bahwa dalam satu spesies tumbuhan mungkin terdapat satu atau beberapa senyawa aktif yang memberikan satu atau beberapa aktifitas biologi pada serangga.

Perlakuan P0 yang menunjukkan waktu terbaik dalam membunuh serangga uji paling awal tidak berbeda nyata dengan perlakuan tepung sirih hutan yang disimpan selama satu bulan (P1) yaitu dengan rerata 8,4 jam. Hal ini menunjukkan bahwa tepung buah sirih hutan setelah disimpan selama satu bulan kandungan senyawa piperamida dan dilapiol-nya masih tinggi namun daya toksisnya dalam membunuh kutu daun persik (Myzus persicae) sudah mulai mengalami penurunan.

Rerata waktu yang terlama dalam membunuh Myzus persicae paling awal ditunjukkan oleh tepung buah sirih hutan yang disimpan selama 3 bulan (P3) yaitu 21,8 jam dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan tepung buah sirih hutan dengan penyimpanan selama 2 bulan (P3) yaitu 15,2 jam, namun kedua perlakuan tersebut berbeda nyata dengan perlakuan tepung buah sirih hutan tanpa penyimpanan (P0) (Tabel 1).

Data tersebut menujukkan bahwa setelah tepung buah sirih hutan disimpan selama 2 bulan dan 3 bulan bahan aktif yang bersifat toksis yaitu piperamida dan dilapiol-nya sudah mengalami degradasi, sehingga menyebabkan tepung buah sirih hutan yang disimpan selama 2 bualan dan 3 bulan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membunuh M. persicae.

Menurut Oudejans (1991) dalam Dono et al (2011) bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penguraian bahan aktif insektida yaitu faktor fisik (panas dan kelembaban), faktor biologi (jamur dan bakteri), faktor kimia (pH dan reaksi oksidasi), atau faktor mekanik (tekanan dan kondisi kemasan).

Selama penyimpanan, secara visual tidak tampak adanya koloni jamur atau bakteri yang tumbuh pada tepung buah sirih hutan, sehingga faktor biologi tampaknya kurang atau tidak berperan dalam mempengaruhi toksisitas.Penurunan toksisitas senyawa aktif P. aduncum pada perlakuan P2 dan P3 diduga karena suhu tempat penyimpanan yang tidak optimum.Hal ini sesuai dengan pendapat Tawali (2004) yang mengatakan bahwa setiap komoditi memiliki suhu optimum yang bervariasi. Suhu dibawah optimum akan menyebabkan pembekuan atau terjadinya chilling injury, sedangkan suhu di atas optimum akan menyebabkan umur simpan menjadi lebih singkat.

(9)

Lethal Time (LT50) (Jam)

Hasil pengamatan Lethal Time 50 setelah dianalisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan lama penyimpanan tepung buah sirih hutan berpengaruh nyata terhadap waktu yang dibutuhkan ekstrak tepung buah sirih hutan untuk mematikan kutu daun persik Myzus persicae sebanyak50% (Lampiran 2b), hasil uji lanjut beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata lethal time 50 dengan perlakuan lama penyimpanan tepung buah sirih hutan yang berbeda (jam).

Perlakuan Rerata (jam)

P0 (tanpa penyimpanan) 25,8a

P1 (penyimpanan 1 bulan) 39,6b

P2 (penyimpanan 2 bulan) 72,0c

P3 (penyimpanan 3 bulan) 72,0c

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5%.

Tabel 2 menunjukkan bahwa hanya terdapat dua perlakuan yang mampu mematikan 50% populasi nimfa Myzus pesicae, yaitu perlakuan tepung buah sirih hutan tanpa penyimpanan (P0) dan perlakuan tepung buah sirih hutan yang disimpan selama 1 bulan (P1). Waktu yang paling cepat mematikan nimfa 50%

populasi Myzus pesicae yaitu perlakuan P0 dengan rerata waktu 25,8 jam. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa perlakuan P0 berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya (P1, P2 dan P3).Hal ini menunjukkan bahwa pada saat pembuatan sediaan tepung buah sirih hutan, kandungan senyawa metabolit sekunder yang bersifat insektisida masih dalam keadaan utuh.

Perlakuan tepung buah sirih hutan yang disimpan selama 2 bulan (P2) dan selama 3 bulan (P3) tidak mampu mematikan nimfa Myzus pesicae 50%.Hal ini diduga bahwa senyawa piperamida dan dilapiol yang terkandung pada kedua perlakuan tersebut daya toksisnya dalam membunuh kutu daun persik (Myzus persicae) sudah mulai mengalami penurunan.sehingga menyebabkan terjadinya penurunan efek insektisida dari tepung buah sirih hutan.

Penurunan daya toksik senyawa piperamida setelah disimpan terjadi karena berbagai faktor. Menurut Sari (2011) terdapat dua faktor yang dapat menyebabkan kerusakan selama proses penyimpanan suatu bahan insektisida botani, yaitu faktor internal seperti perubahan biokimiawi (proses respirasi, reaksi oksidasi, aktifitas jasad renik dan reaksi enzimatis). Sedangkan faktor eksternalnya adalah suhu, kelembaban udara, dan cahaya dalam ruang penyimpanan.

Sediaan buah sirih hutan dalam bentuk tepung merupakan sedian yang sederhana dan toksisitasnya kurang mampu bertahan bila disimpan dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan caralain agar bahan aktif dari P. aduncum tidak mengalami degradasi. Menurut Tarumingkeng (2001) cara yang dapat diupayakan agar bahan aktif pestisida nabati tidak mudah terdegradasi oleh lingkungan sehingga tidak cepat terurai bila diaplikasikan yaitu dengan membuat

(10)

formulasinya. Untuk mempertahankan bahkan meningkatkan toksisitas suatu pestisida nabati biasanya ditambahkan bahan sinergis.

Mortalitas Harian (%)

Hasil pengamatan terhadap persentase mortalitas harian nimfa kutu daun Myzus persicae dengan perlakuan lama penyimpanan tepung buah sirih hutan yang berbeda menunjukkan pengaruh terhadap kematian nimfa kutu daun persik.

Persentase mortalitas harian nimfa kutu daun persik dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Mortalitas harian kutu daun persik (%)

Gambar 1 memperlihatkan bahwa mortalitas harian kutudaun persik M.

persicaemengalami fluktuasi pada setiap perlakuan. Pada perlakuan tepung buah sirih hutan tanpa penyimpanan (P0) puncak jumlah mortalitas kutu daun persik (Myzus persicae) terjadi hari pertama dengan mortalitas sebanyak 51%. Pada hari kedua dan ketiga mortalitas mulai menurun yaitu berturut sebanyak 34% dan 5%.

Data diatas menunjukkan bahwa senyawa piperamida yang terkandung pada perlakuan P0 masih memiliki aktifitas insektisida yang kuat. Senyawa aktif piperamida dalam berbagai jenis tumbuhan Piperacea bekerja sebagai racun saraf dan mengakibatkan knockdown serta kematian serangga dengan cepat (Scott et al, 2008).

Sementara itu untuk perlakuan lainnya (P1, P2 dan P3) menunjukkan fluktuasi mortalitas yang sama, dimana mortalitas tertinggi terjadi pada hari kedua setelah aplikasi, yaitu berturut sebanyak 34%, 16%, dan 12%. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan senyawa aktif piperamida telah mengalami degradasi akibat dari perlakuan penyimpanan yang dilakukan, sehingga untuk membunuh Myzus persicae dibutuhkan waktu yang panjang.

Arneti (2012) mengatakan bahwa buah P. aduncum mengandung senyawa metabolit sekunder yang tergolong senyawa non polar yaitu alkaloid, flavonoid, fenolik, triterpenoid, steroid, saponin, dan kumarin.Senyawa tersebut bersifat sebagai penghambatan makan. Dengan adanya senyawa toksik pada makanannya maka sebagian dari energi makanan yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dialokasikan untuk detoksifikasi senyawa racun, dan hal ini akan menghambat pertumbuhan serangga dan akan menyebabkan kematian pada serangga secara lambat.

Hari ketiga setelah aplikasi mortalitas pada semua perlakuan menunjukkan penurunan, hal ini diduga karena persistensi dari tepung buah sirih

(11)

hutan yang rendah. Dadang dan Prijono (2008) mengemukakan beberapa kekurangan insektisida nabati, antara lain persistensi insektisida nabati rendah, sehingga pada tingkat populasi hama yang tinggi, untuk mencapai keefektifan pengendalian yang maksimum diperlukan aplikasi yang berulang-ulang agar hama mengalai penurunan populasi.

Mortalitas Total (%)

Hasil pengamatan persentase mortalitas total kutu daun persiksetelah dianalisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan lama penyimpanan tepung buah sirih hutan memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas total kutu daun persik (Lampiran 2c). Tingkat mortalitas nimfa Myzus persicae uji setelah dianalisis ragam pada perlakuan lama penyimpanan tepung buah sirih hutan berkisar antara 21% - 90% dan hasil uji lanjut beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Rata-rata mortalitas total dengan perlakuan lama penyimpanan tepung buah sirih hutan yang berbeda (jam).

Perlakuan Rerata (%)

P0 (tanpa penyimpanan) 90a

P1 (penyimpanan 1 bulan) 66b

P2 (penyimpanan 2 bulan) 30c

P3 (penyimpanan 3 bulan) 21c

Angka-angka pada lajur yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5%.

Tabel 3 memperlihatkan data bahwa semua perlakuan mampu membunuh seragga uji Myzus persicae .Perlakuan tepung buah sirih hutantanpa penyimpanan (P0) memperlihatkan rerata mortalitas total sebesar 90%, perlakuan ini merupakan perlakuan terbaik dan berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi awal (tanpa penyimpanan) kandungan senyawa aktif piperamida masih utuh.

Piperamida merupakan senyawa aktif yang menyebabkan Myzus persicae mati.Piperamida merupakan senyawa dari golongan amida. Jenis dari senyawa ini tidak kurang dari dua puluh senyawa, antara lain filfilin, guininsin, pelitorin, piperikosalidin, piperisida, piperin, piperlonguminin, piperoktadekalidin, piplartin, retrofraktamida A, retrofraktamida C, retrofraktamida D, silvatin, dan lain sebagainya. Piperin mempunyai daya antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan saraf pusat (Scott et al, 2008).

Miyakado et al (1989) dalam Syahroni dan Prijono (2013) mengemukakan bahwa senyawa piperamida yang memiliki gugus isobutil amida dan metilendioksifenil, seperti guininsin dan piperisida, memiliki aktifitas insektisida yang kuat bekerja sebagai racun saraf dengan menghambat aliran impuls saraf pada akson.

Senyawa yang terdapat dalam buah sirih hutan yang bekerja sebagai racun syaraf masuk melalui kontak dengan tubuh serangga.Bahan aktif masuk melalui kontak dengan kulit, langsung menembus integumen serangga (kutikula), trakea atau kelenjar sensorik dan organ lainnya yang berhubungan dengan kutikula dan

(12)

menyerang sistem saraf sehingga dapat mengganggu aktifitas serangga yang dapat menyebabkan kematian pada serangga. Senyawa ini juga bekerja sebagai racun perut, bahan aktif masuk melalui proses makan. Bahan aktif tersebut masuk ke saluran pencernaan serangga, sehingga menyebabkan terganggunya aktifitas serangga (Karsidi et al, 2013).

Perlakuan tepung buah sirih hutan yang disimpan selama sebulan (P1) mortalitas total memperlihatkan penurunan yang nyata dari perlakuan P0 yaitu dengan rerata 66%. Hal ini menunjukkan bahwa tepung buah sirih hutan yang disimpan selama satu bulan sudah tidak efektif lagi digunakan sebagai insektisida botani untuk mengendalikan kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.). Putra (2012) mengatakan bahwa suatu ekstrak dikatakan efektif bila perlakuan tersebut dapat mengakibatkan kematian besar sama dengan 90%.

Tepung buah sirih hutan yang disimpan selama dua bulan (P2) dan selama tiga bulan (P3) tidak berbeda nyata dan kedua perlakuan tersebut memiliki tingkat mortalitas yang sangat rendah yaitu berturut dengan rerata 31% dan 20%.Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi penguraian kandungan senyawa-senyawa metabolit sekunder yang bersifat insektisida pada kedua perlakuan tersebut.Menurut Djojosumarto (2000) tepung merupakan bentuk sediaan sederhana yang tidak dapat disimpan lama dan harus digunakan setelah dibuat sediaan.Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dibuat formulasi yang disiapkan dengan pelarut organik.Pembuatan formulasi dapat membantu dalam penyimpanan, penanganan, meningkatkan efektivitas dan keamanan dalam penggunaannya.

PENUTUP

1. Perlakuan tepung buah sirih hutan tanpa penyimpanan (P0) merupakan perlakuan terbaik dan berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya dengan rerata mortalitas total sebesar 90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi awal (tanpa penyimpanan) kandugan senyawa aktif piperamida masih utuh.

2. Perlakuan tepung buah sirih hutan yang disimpan selama sebulan (P1) mortalitas total memperlihatkan penurunan yang nyata dari perlakuan P0 yaitu dengan rerata 66%. Hal ini menunjukkan bahwa tepung buah sirih hutan yang disimpan selama satu bulan sudah tidak efektif lagi digunakan sebagai insektisida botani untuk mengendalikan kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer.).

DAFTAR PUSTAKA

Arneti. 2012. Bioaktivitas ekstrak buah Piper aduncum L. (Piperaceae) terhadap Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera : Crambidae) dan formulasinya sebagai insektisida botani. Tesis Program Pasca Sarjana. Universitas Andalas, Padang. (Tidak dipublikasikan).

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2012. Pestisida dan Aplikasi.

Cet III. Pusat PenelitiandanPengembanganPerkebunan.

Badan Pusat Statstik. 2013. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Cabai 2009 - 2013. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=

(13)

1&daftar=1&id_subyek=55&notab=66. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2013.

Balfas R. 2005. Serangga Penular (Vektor) dan Penyakit Kerdil Pada Tanaman Lada dan Strategi Penanggulangannya.Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.www.Balitro.go.id /index?pg=Pustaka dan Child. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2013.

Bayer Cropscience. 2014. Myzus persicae. http://www.cropscience .bayer.com/en/Crop-Compendium/Pests-Diseases-Weeds/Pests/Myzus- persicae.aspx. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2013.

Capinera J.L. 2014.Green Peach Aphid, Myzus persicae (Sulzer) (Insecta:

Hemiptera: Aphididae). UF/IFAS Extension Service.University of Florida.

Dadang dan Prijono D. 2008.Insektisida Nabati (Prinsip, Pemamfaatan, dan Pengembangan). Departemen Proteksi Tanaman IPB. Bogor.

Daud A. 2013. Uji beberapa konsentrasi ekstrak tepung buah sirih hutan (Pipper aduncum L) untuk mengendalikan hama kutu daun persik Myzus Pesicae Sulzer (Homoptera: Aphididae) pada tanaman cabai (Capsicum Annuum L.). Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru.(Tidak dipublikasikan).

Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura. 2006. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT Tanaman Paprika. Direktorat Jendral Holtikultura.

Jakarta.

Djojosumarto P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian.

Kanisius.Yogyakarta.

Dono, D., E. Santosa., F.P. Ningsih. 2011. Pengaruh lama penyimpanan ekstrak biji Barringtonia asiatica (L) Kurz (Lecythidaceae) terhadap toksisitasnya pada larva Crocidolomia pavonana (F) (Lepidoptera : Pyralidae). Jurnal Bionatura, volume 13 (2): 168-176.

Harada K., M. Rahayu., dan A. Muzakkir. 2006. Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat, Indonesia. PAL Media.

Bandung.

Hasyim D. 2011.Potensi buah sirih hutan (Piper aduncum) sebagai insektisida botani terhadap larva Crocidolomia pavonana.Tesis Program Pasca Sarjana.Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Tidak dipublikasikan).

Irsan C. 2004. Tumbuhan inang, parasitoid dan hiperparasitoid kutu daun Myzus persicae Sulzer (Homoptera;Aphididae) di sekitar Bogor dan Cianjur Jawa Barat.TesisProgram Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Tidak dipublikasikan).

(14)

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Kardinan. 2000. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasinya. Penebar Swadaya.

Jakarta.

Karsidi J., R. Rustam., J. H. Laoh. 2013. Test of some concentrations of Piper aduncum L. leaf extract to control Leptocorisa oratorius Fabricius (Hemiptera; Alydidae) in rice plant (Oryza sativa L.). Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru.(Tidak dipublikasikan).

Morandim A., M.J. Kato., A.J. Cavalheiro and M. Furlan. 2009. Intraspecific variability of dihydrochacone, chromones and benzoic acid derivatives in leaves of Piper aduncum L. (Piperaceae). Journal of Biotechnology, volume 8 (10): 2157-2162.

Nawangsih A., H. Purwanto., dan A. Wahyudi. 2001. Cabai Hot beauty.Penebar Swadaya. Jakarta.

Pracaya. 2007. Hamadan Penyakit Tanaman. Cet X. Penebar Swadaya.Jakarta.

. 2009. Hama dan Penyakit Tanaman. Cet XII. Penebar Swadaya.Jakarta.

Prajnanta F. 2007. Agribisnis Cabai Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta.

Putra I. L. 2012.Uji beberapa konsentrasi ekstrak daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) dalam mengendalikan hama kutu putih (Paracoccus marginatus L.). Skripsi.Fakultas pertanian Universitas Riau, Pekanbaru.(Tidak dipublikasikan).

Rahayuningsih E. 2009. Analisis Kuantitatif Perilaku Pesisida di Tanah. UGM Press.Yogyakarta.

Sari W. 2011.Lama penyimpanan ekstrak biji bengkuang (Pachyrrizus erosus) konsentrasi 25% menurunkan efektivitas ekstrak biji bengkuang sebagai insektisidaMusca domestica dengan metode semprot. Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.(Tidak dipublikasikan).

Scott IM, Jensen HR, Philogene BJR, Arnason JT. 2008. A review of Piper spp.

(Piperaceae)phytochemis, insecticidal activity and mode of action.

Journal Phytochemistry Reviews, volume 7 (1): 65-75.

Setiadi. 2001. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sudrajat., D. Susanto dan A. Rahmat 2011. Bioekologi dan potensi senyawa bioaktif sirih hutan (Piper aduncum L.) sebagai sumber bahan baku

(15)

larvasida nyamuk Aedes aegypti L. Jurnal Mulawarman Scientifie, volume 10 (1): 63-74.

Syahroni, Y.Y dan D. Prijono. 2013. Aktivitas insektisida ekstrak buah Piper aduncum L. (Piperaceae) dan Sapindus rarak DC.(Sapindaceae) serta campurannya terhadap larva

Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera: Crambidae).Jurnal Entomologi Indonesia, volume 10 (1): 39-50.

Tawali, A.B. 2004. Pengaruh suhu penyimpanan terhadap mutu buah- buahan impor yang dipasarkan di Sulawesi Selatan.Tesis Program Pascasarjana.Universitas Hasanuddin. Makassar. (Tidak dipublikasikan).

Syamsuhidayat S dan J.R. Hutapea. 1991. Inventaris tanaman obat indonesia (I). Desertasi Departemen Kesehatan RI. Jakarta. (Tidak dipublikasikan).

Wijoyo P. 2009.Taktik Jitu Menanam Cabai di Musim Hujan.Bee Media Indonesia. Jakarta.

Wiryanta.2003. Bertanam Cabai pada Musim Hujan. Agromedia Pustaka.

Jakarta.

Zarkani, A. 2008. Aktifitas insektisida ekstrak Piper retrofractumVahl dan Tephrosia vogelii Hook. F. terhadap Crocidolomia pavonana (F) dan Plutella xylostella serta keamanan ekstrak tersebut terhadap Diadegma semiclausum (Hellen). Tesis Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tidak dipublikasikan).

Gambar

Gambar 1. Mortalitas harian kutu daun persik (%)

Referensi

Dokumen terkait

Perlakuan pemanasan dalam penyiapan ekstrak sirih hutan, baik yang digunakan langsung maupun yang telah disimpan pada suhu kamar selama 7 hari, tidak meningkatkan keefektifan

Tabel 1 Hasil ekstrak daun Tephrosia vogelii dan buah Piper aduncum pada jumlah perendaman yang berbeda dan mortalitas larva Crocidolomia pavonana akibat perlakuan

Selanjutnya pada pengamatan hari terakhir (6 hari) setelah aplikasi menunjukkan bahwa mortalitas pada perlakuan P1 berbeda nyata P2 dan P3 dan sangat berbeda nyata

Selain itu, hambatan oleh senyawa aktif sirih hutan (dilapiol) terhadap enzim PSMO dalam menguraikan senyawa aktif ekstrak air lerak juga tidak terlalu nyata dalam

yang ada semakin banyak, akibatnya pada konsentrasi tinggi kemampuan bahan aktif piperamidin yang terkandung dalam tepung daun sirih hutan akan semakin meningkat

Tabel 6 memperlihatkan bahwa pemberian suspensi tepung daun sirih hutan dengan konsentrasi 0 g/l air menghasilkan saat muncul gejala awal penyakit busuk buah kakao

Selain itu, hambatan oleh senyawa aktif sirih hutan (dilapiol) terhadap enzim PSMO dalam menguraikan senyawa aktif ekstrak air lerak juga tidak terlalu nyata dalam

Selanjutnya pada pengamatan hari terakhir (6 hari) setelah aplikasi menunjukkan bahwa mortalitas pada perlakuan P1 berbeda nyata P2 dan P3 dan sangat berbeda nyata