• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PERAN UNICEF (United Nations International Children s Fund) DALAM MENGATASI PERDAGANGAN ANAK DI INDIA MELALUI CPAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV. PERAN UNICEF (United Nations International Children s Fund) DALAM MENGATASI PERDAGANGAN ANAK DI INDIA MELALUI CPAP"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PERAN UNICEF (United Nations International Children’s Fund) DALAM MENGATASI PERDAGANGAN ANAK DI INDIA MELALUI CPAP 2018-2020

Maraknya kasus perdagangan anak di India yang terjadi secara terus menerus menjadikannya sebagai kasus pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan juga menjadi ancaman bagi keamanan manusia. Oleh karena itu, diperlukan peran pemerintah dalam menangani kasus tersebut. Namun, karena permasalahan/isu perdagangan anak semakin meluas dan juga dengan berbagai macam maka permasalahan ini tidak dapat ditangani oleh pemerintah itu sendiri sehingga kemudian dibutuhkan peran ekstra dari lembaga/organisasi internasional. UNICEF sebagai salah satu organisasi internasional yang memegang teguh pada konvensi hak anak dan misi kemanusiaan lainnya turut andil dalam penanganan perdagangan anak, khususnya di India. Berdasarkan klasifikasi organisasi internasional, UNICEF merupakan organisasi yang dapat diklasifikasikan sebagai global membership and limited purpose organization karena keanggotaan UNICEF tidak dibatasi namun memiliki tujuan spesifik dalam menangani permasalahan terkait hak anak.

Dalam melaksanakan peran dan fungsinya UNICEF memiliki program-program sesuai dengan kebutuhan di setiap negara yang mengalami permasalahan terhadap pemenuhan hak anak.

Organisasi ini bekerjasama dengan pemerintah dan mitra lainnya melalui program yang diberlakukan di India yaitu Country Program Action Plan (CPAP) yang telah disepakati pada 14 September 2012 sebagai program rencana kerja lima tahunan UNICEF dalam mewujudkan pemenuhan hak anak di India.

4.1 Perdagangan Anak di India

India adalah negara yang terkenal akan budayanya yang kaya dan sangat berciri khas. India juga merupakan salah satu negara yang terletak di kawasan Asia Selatan dengan ibukota New Delhi. Negara ini terbagi menjadi 29 negara bagian dan 7 uni-teritorial. India adalah salah satu negara yang memiliki populasi penduduk terbanyak di dunia, World Bank mencatat jumlah populasi penduduk India mencapai 1,3 milyar (1,311,050,527 jiwa) tercatat pada bulan Juli 2020 (World Population Clock, 2020). Keadaan penduduk India yang banyak menjadikan setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan.

(2)

Berdasarkan data yang ditemui penulis, World Bank mencatat bahwa terdapat sekitar 270 juta jiwa masyarakat miskin yang berada di India per tahun 2016 (World Bank, 2017). Sehingga demi mendapatkan uang, tawaran apapun yang datang akan diambil demi mencukupi kehidupan sehari-hari mereka. Hal inilah yang membuat India menjadi sasaran perkembangan perdagangan manusia terutama pada perempuan dan anak-anak.

India merupakan negara sumber, tujuan, dan transit bagi laki-laki, anak-anak, dan perempuan yang menjadi sasaran perdagangan manusia seperti pekerja anak paksa dan pekerja seks komersial. Pada tahun 2016 terdapat 9.034 orang yang berusia dibawah 18 tahun telah menjadi korban perdagangan manusia, dimana antaranya ada 4.123 laki-laki dan 4.911 perempuan (NCRB, i2017). Perdagangan manusia yang diperuntukan sebagai pekerja paksa dan eksploitasi seksual sangat banyak, melansir data dari NCRB tercatatiada 10.509 orang yang mengalami kerja paksa dan ada 7.570 orang yang mengalami eksploitasi sosial selama tahun 2017 (NCRB, 2018).

Beberapa literatur menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan penyebab utama terjadinya perdagangan manusia di negara-negara berkembang, tak terkecuali India. Selain kemiskinan, penyebab sekunder dari perdagangan manusia meliputi prospek lapangan pekerjaan yang rendah, masih adanya budaya patriarki yang sangat dianut kental di suatu negara, rendahnya hak-hak perempuan, rendahnya tingkat pendidikan, adanya diskriminasi dan marginalisasi perempuan, dan faktor budaya seperti pernikahan dini. Selain itu juga terdapat faktor lain seperti bencana alam, konflik bersenjata, dan tingkat buta huruf yang tinggi di suatu negara akan memperparah terjadinya perdagangan manusia (Putri, 2019).

Kemudian dari pada itu, tingkat pengangguran di India sangatlah tinggi, dimana kemudian UNDP memperkirakan tingkat pengangguran di India sebesar 3,5% (UNDP, 2019). Di sisi lain, tidak banyak juga peluang finansial untuk mereka bekerja, hal tersebut semakin memperburuk tingkat pengangguran di India. Ketika anak-anak ditawari pekerjaan oleh seseorang, kemungkinan besar mereka akan dieksploitasi. Anak-anak miskin sering kali dipaksa untuk melakukan pekerjaan seksual agar mendapatkan tempat tinggal dan makanan untuk dimakan, dan kemudian membawa mereka keluar dari kemiskinan. Beberapa orang tua bahkan terpaksa untuk menjual anak-anak mereka kepada pedagang untuk dapat melunasi hutang-hutang keluarga (Sarkar, 2014).

Dalam menangani permasalahan mengenai perdagangan manusia khususnya pada anak- anak, India telah meratifikasi beberapa konvensi dan perjanjian, yaitu sebagai berikut (Putri, 2018):

(3)

1. Convention on the Elimination of All Form of Discrimination against Women (CEDAW) yang membahas tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

2. Konvensi SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation) tentang mencegah dan memerangi perdagangan perempuan dan anak-anak untuk prostitusi.

3. CRC (Convention on the Right of the Child) yang membahas mengenai hak anak.

4. Konvensi PBB yang menentang kejahatan tradisional terorganisir dan protokolnya untuk mencegah, menekan, dan menghukum perdagangan manusia khususnya pada perempuan dan anak-anak.

Adapun peraturan-peraturan mengenai tindak kejahatan perdagangan perempuan dan anak- anak juga diatur pada Pasal 23 Konstitusi India yang melarang perdagangan manusia dan kerja paksa. Kemudian diatur juga pada The Immoral Traffic (Prevention) Act 1956 yang menetapkan ketentuan untuk hukuman yang ketat bagi para pelaku kejahatan perdagangan untuk tujuan seksual komersial. Dan yang terakhir adalah Indian Penal Code yang membahas tentang menghukum pelanggaran yang terkait dengan perdagangan manusia (MCWD India, 2017).

Perdagangan manusia merupakan bentuk dari perbudakan modern, dimana para korban dieksploitasi dengan menggunakan kekerasan, ancaman, penculikan, dan penipuan. Para korban yang rentan terhadap perbudakan modern mendapat bayaran yang sangat minim bahkan nyaris tidak dibayar sama sekali dan korban tidak bisa keluar dari sistem itu. Praktik perbudakan modern meliputi perdagangan seks, pekerja anak paksa, pelayanan domestik (PRT), serta perekrutan dan penggunaan anak-anak sebagai tentara ilegal. Perdagangan manusia, terutama terhadap perempuan dan anak-anak melanggar prinsip dasar hak asasi manusia termasuk hak untuk hidup dengan martabat dan harga diri. Di India, kasus perdagangan anak memiliki berbagai peruntukannya seperti pernikahan anak, eksploitasi seksual komersial, pekerja anak paksa, pengambilan organ tubuh, dan masih banyak lagi. Peruntukan perdagangan anak tersebut terjadi di berbagai negara bagian di Indiadengan bermacam-macam latar belakang. Berikut merupakan bentuk perdagangan anak di negara-negara bagian di India yang disoroti:

Tabel 2

Bentuk Perdagangan Anak di Negara Bagian

States Types of trafficking

Maharashtra Foreigners want to adopt tribal children as they are considered ‘pure’ and indigenous.

(4)

Andhra Pradesh Due to emerging issues such as privatization of school/education as well as healthcare, families are pushing young women and girls into prostitution.

Telangana

Illegal adoption is on the rise. Also it has been seen that many parents come to CWCs to relinquish their children but the relinquishment documents are processed by the agencies under Integrated Child Protection Scheme.

Kerala

The agricultural crisis and globalization in India also giving rise to new forms of trafficking in Kerala. Tribals are trafficked for purpose of cheap labor for the ginger farms. Also public auctions are held where children are sold for the purpose of domestic labor.

Tamil Nadu Trafficked for the purpose of begging, illegal adoption, labor in textile industries and poultry farms.

Gujarat

Underage girls from far off district are trafficked for ‘marriage racket’. Girls are made to leave the husbands home after the first night and then married off for at least 10-12 times. Children in the age group of 16 to 17 y/o are trafficked to be surrogate mothers.

Uttar Pradesh Inter-country trafficking especially from Nepal.

Karnataka

Girls between the ages of 15 to 18 y/o are taken away to undergo a ‘Mysore marriage’ or forced marriage and later taken away to become surrogate mothers.

Girls from Northern Karnataka are taken to Maharashtra, Gujarat, Goa, and Nepal to either become a Devdasi or to enter into forced marriage.

Odisha Girls between 14 to 25 y/o are being trafficked to Haryana and Punjab for marriage.

West Bengal Inter-country trafficking of girls from Bangladesh.

Jharkhand

Children are trafficked to work as domestic helps. Also trafficking is done for the purpose of making children work in kilns, admission to Madarsas as well as to join the Naxal forces.

Thukal 2016

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa terdapat banyak sekali modus dari perdagangan manusia dan alasan-alasan mereka diperdagangkan juga sangat beragam.

Perdagangan anak lintas batas terjadi di perbatasan Uttar Pradesh dan Nepal serta di West Bengal terjadi di perbatasan Bangladesh. Banyak anak perempuan yang diimpor dari Nepal maupun Bangladesh ke India untuk dijadikan sebagai pekerja seks komersial. Di India, anak-anak diperdagangkan lebih banyak untuk tujuan pekerja anak dan pernikahan.

India merupakan negara sumber, dan transit trafficking untuk berbagai tujuan. Mayoritas korban adalah dari India sendiri, namun juga ada beberapa warga Nepal dan Bangladesh yang diperdagangkan di India. Kasus perdagangan anak yang terjadi di India tidak terdata dengan baik dikarenakan terselubungnya perdagangan anak tersebut sehingga menyulitkan pemerintah untuk mendata secara spesifik jumlah anak-anak dan perempuan yang diperdagangkan setiap tahunnya, namun dapat diperkirakan ada sekitar i40% korban adalah anak-anak dan perempuan. Negara

(5)

bagian yang memiliki jumlah terbanyak anak-anak yang diperdagangkan berada di Andhra Pradesh, Karnataka, West Bengal, dan Tamil Nadu. New Delhi dan Goa merupakan negara bagian penerima utama dari anak-anak dan perempuan yang diperdagangkan (Childline India, 2018).

Di India, korban perdagangan anak biasanya terjadi karena harus membayar hutang dari keluarganya dan menjadi korban perdagangan seks. Global Slavery Index pada tahun 2016 menghitung terdapat 40,3 juta orang yang menjadi korban perbudakan modern di seluruh dunia dengan 7,9 juta orang diantaranya berasal dari India. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang terikat dalam hutang dipaksa bekerja di industri seperti pabrik batu bata, penggilingan padi, pertanian, pabrik, dan kemudian mendapatkan perlakuan yang tidak wajar seperti kekerasan fisik dan kekerasan seksual terutama pada perempuan dan anak-anak (Walk Free Foundation, 2018, Hal.180).

Kebanyakan kasus perdagangan manusia terjadi di West Bengal yang berbatasan langsung dengan Bangladesh yang menjadi tempat transit perdagangan manusia ke luar negeri, untuk kemudian didistribusikan ke kota-kota di India atau bahkan ke luar negeri. Kota Rajasthan menjadi kota kedua dengan tingkat perdagangan manusia terbanyak di India, dimana Kota Rajasthan ini berbatasan langsung dengan Pakistan. Kedua wilayah ini memiliki arus migrasi yang cukup tinggi sehingga rentan terhadap kasus perdagangan manusia.

Di India, korban perdagangan manusia yang paling dominan adalah perempuan dan anak- anak. Hal ini disebabkan oleh kondisi budaya masyarakat yang masih memarjinalkan posisi perempuan di dalam kehidupan masyarakat, budaya patriarki masih dianut terutama di pedesaan.

Sebagaian kecil masyarakat India masih menganggap bahwa yang berhak menjadi penerus keluarga adalah keturunan laki-laki, secara tersirat posisi perempuan berada di bawah laki-laki sehingga di India menjadikan laki-laki memiliki hak istimewa dibanding perempuan, dimana dominasi laki-laki tidak hanya mencakup ranah keluarga saja melainkan juga pada ranah yang lebih luas seperti partisipasi politik, pendidikan, ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain. Faktor lain yang menyebabkan perdagangan manusia ini yaitu kemiskinan, kerentanan perempuan dan ank- anak, rendahnya tingkat pendidikan di masyarakat, rendahnya akses ke perawatan kesehatan, kurangnya pilihan mata pencaharian, semakin berkembangnya modus yang dilakukan oleh para trafficker, serta kurangnya sosialisasi mengenai bahaya perdagangan manusia.

(6)

4.2 Peran UNICEF dan Pemerintah India dalam Menangani Perdagangan Anak Melalui Program CPAP

Country Program Action Plan merupakan program pemenuhan hak anak dan tidak secara khusus menangani masalah perdagangan anak, namun UNICEF tetap menaruh perhatian terhadap perdagangan anak di India melalui komponen program perlindungan anak (Child Protection).

Child Protection digunakan UNICEF untuk menanggapi dan mencegah kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan terhadap anak. Dalam hal ini, penguatan sistem perlindungan anak akan diperkuat dengan mengeluarkan program ICPS (Integrated Child Protection Scheme), kemudian meningkatkan kualitas data dan pemantauan sistem dan meningkatkan kesadaran akan fungsionaris ICPS, lembaga peradilan, legislatif, masyarakat sipil, dan media untuk mengenali, mencegah, serta menangani pelanggaran hak anak.

4.2.1 Keberhasilan CPAP 2013-2017

Pada tahun 2013, UNICEF melalui iCPAP telah menerapkan fungsionaris ICPS yang bertujuan untuk berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan anak dalam keadaan sulit, serta untuk mengurangi kerentanan anak terhadap situasi dan tindakan yang dapat menyebabkan pelecehan, penelantaran, eksploitasi, pengabaian, dan pemisahan. ICPS ini berprinsip pada perlindungan anak yang merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, keluarga, komunitas, para ahli, dan masyarakat sipil. Seiring berjalannya waktu, pelaksanaan ICPS mengalami kemajuan dalam hal pengaturan struktur di tingkat negara bagian, distrik, blok, dan sub-distrik. Pengembangan kapasitas fungsionaris ICPS telah sesuai dengan jalurnya, serta pemetaan untuk pengembangan kapasitas tenaga kerja sosial juga telah dikembangkan. Kemudian penerapan ICPS berlanjut sampai sekarang untuk terus meningkatkan sistem pencegahan pekerja anak paksa dan kekerasan terhadap anak-anak juga tetap dijalankan di berbagai unit administratif untuk menerapkan kebijakan perlindungan anak.

Melalui penerapan ICPS tersebut, UNICEF mengangkat kembali fokus mengenai perdagangan anak dengan memposisikan perdagangan anak sebagai prioritas di tingkat nasional. Kemudian, UNICEF melakukan beberapa rangkaian upaya yang dimulai di tahun 2013 dengan memetakan pada dua strategi yang

(7)

bertujuan untuk memperkuat mekanisme penyelamatan dan pada saat yang sama mengurangi kerentanan anak terhadap perdagangan melalui fokus khusus pada tindakan pencegahan yaitu memperkuat mekanisme penyelamatan terhadap korban perdagangan anak serta mengurangi resiko kerentanan terhadap trafficking melalui fokus khusus pada tindakan pencegahan.

Dalam hal penyelamatan terhadap korban trafficking, UNICEF bersama Pemerintah India dan negara yang berbatasan langsung yaitu Bangladesh dan Pakistan merancang SOP dan MoU tentang Rescue, Recovery, Repatriation, and Integration (RRRI) anak-anak yang diperdagangkan di kedua perbatasan.

Kemudian UNICEF juga memberikan bantuan dengan berfokus pada pembentukan kerangka pengawasan terhadap skema Ujjwala (skema bantuan terhadap perempuan yang terpinggirkan) dan rehabilitasi para korban. Dalam hal mengurangi resiko kerentanan terhadap trafficking melalui fokus khusus pada tindakan pencegahan, UNICEF dengan dukungan Pemerintah India dan organisasi masyarakat sipil telah membuat pedoman perlindungan anak dalam keadaan darurat (CpiE) sehingga pedoman family tracing and reunification (FTR), dukungan psikososial, penciptaan ruang child-friendly, pencegahan pelecehan terhadap anak, serta perdagangan perempuan dan anak selama keadaan darurat telah tersedia.

Kemudian UNICEF bekerjasama dengan Kementerian Perempuan dan Perkembangan Anak (MCWD) dalam pembuatan situs web Missing Children untuk memfasilitasi pelacakan dan pengembalian anak yang hilang untuk menghindari tindakan kriminal, pekerja anak, dan memastikan pendidikan dasar menjadi terjamin. Ministry of Woman and Child Development (MWCD) merupakan mitra kerja UNICEF yang utama dalam menangani permasalahan yang terkait dalam pelanggaran hak asasi terhadap anak dan perempuan, UNICEF bekerjasama dengan 125 kemitraan untuk advokasi yang didirikan pada tahun 2014, terutama di tingkat negara bagian, termasuk dengan perwakilan terpilih, departemen pemerintah negara bgaian, selebritis, dan korporasi. Kemudian melalui programnya UNICEF juga memperluas kerjasama dengan perusahaan sektor publik maupun sektor swasta.

Masing-masing mitra memiliki perannya dalam menjalankan program di negara

(8)

bagian maupun di wilayah persatuan. Dukungan UNICEF dalam penanganan perdagangan anak juga dapat dilihat pada peran peradilan dan kepolisian yang melakukan pelatihan dan merespon dengan baik program yang dicangkan bersama pemerintah.

Di tahun 2016, UNICEF bersama dengan UNFPA (United Nations Fund for Population Activities) telah memulai penandatanganan MoU untuk program bersama mengakhiri pernikahan anak yang menghasilkan peluncuran rencana aksi dan kampanye di seluruh negara bagian untuk mencegah pernikahan anak di Rajasthan. Untuk peningkatan dan keberlanjutan program tersebut, UNICEF bekerjasama dengan Kementrian Panchayati Raj (lembaga di desa), Kementrian Pemuda, dan Komisi Nasional untuk Perlindungan Hak Anak.

Bersama dengan mitra kerjanya tersebut UNICEF tekah mengembangkan sebuah perangkat untuk pemerintah dan pelaksana yang bekerja pada pemberdayaan remaja dan mengakhiri pernikahan anak. Program ini telah dilaksanakan di 13 negara bagian. Lembaga Swadaya Masyarakat Pravah untuk melakukan konsultasi dengan remaja dan lembaga spesialis dalam melakukan latihan pelingkupan untuk lebih memahami platform yang dibutuhkan untuk meningkatkan partisipasi remaja.

UNICEF terus mendukung pemetaan bahan-bahan komunikasi dan pengembangan kapasitas yang sedang berlangsung mengenai pernikahan anak, kekerasan terhadap anak-anak dan pekerja anak yang akan membantu mengidentifikasi kesenjangan dan peluang terkait dengan materi komunikasi yang diperlukan oleh mitra kerja UNICEF. Melalui penyiaran televisi tentang isu-isu remaja termasuk gender dan pemberdayaan remaja secara nasional telah dilihat lebih dari 15 juta pemirsa dalam enam minggu pertama dari penyiaran tersebut.

Penyiaran ini didukung oleh Kementrian Kesehatan Keluarga dan Kesejahteraan, dan dana juga dijamin oleh National Public Broadcaster Doordarshan untuk disiarkan secara nasional. Konten ini difokuskan pada peningkatan kesadaran akan gender, mengatasi norma sosial negatif, meningkatkan kompetensi dan kepercayaab di kalangan remaja untuk meningkatkan kesadaran tentang mengakhiri

(9)

pernikahan anak, kesadaran akan pendidikan dan kekerasan yang berbasis gender.

Hingga pada tahun 2017, program pemberdayaan remaja dan penguatan sistem ICPS tetap berlajut. Terdapat 420 rumah remaja yang didanai oleh ICPS, dimana ada sekitar 316 rumah observasi, 39 rumah khusus, 54 rumah observasi khusus dan 11 ruang aman untuk para remaja dalam masa rehabilitasi dan pengembangan kapasitas remaja melalui diskusi mengenai isu-isu perlindungan anak (Ministry of Women and Child Development, 2017).

4.2.2 CPAP Program 2018-2020

CPAP 2013-2017 telah menunjukkan sedikit kemajuan dalam menangani masalah perdagangan anak di beberapa negara bagian di India dan membawa perubahan sosial bagi anak-anak. CPAP 2013-2017 telah memiliki banyak kemitraan strategis untuk penelitian yang berpusat pada anak, advokasi dan investasi dalam hak-hak anak, maka dari itu dibentuklah CPAP baru yaitu periode 2018-2022 untuk melanjutkan program sebelumnya dan meningkatkan pendekatan kepada masyarakat sosial.

Sejalan dengan prioritas pemerintah, UNICEF’s Strategic Plan and the United Nations Sustainable Development Framework, the Program of Cooperation (2018-2022) antara pemerintah pusat dan UNICEF berkontribusi pada upaya nasional untuk memungkinkan semua anak, terutama yang paling kurang beruntung, untuk memiliki hak-hak mereka. terpenuhi dan untuk mengembangkan potensi penuh mereka dalam masyarakat yang inklusif dan protektif.

Program CPAP periode kedua ini dimulai dengan diadakannya kampanye sosial yang digerakkan oleh polisi di setiap negara bagian untuk mengatasi pelecehan seksual terhadap anak. Dalam hal ini, UNICEF mengambil langkah inisiatif nasional untuk mencegah kekerasan terhadap anak menggunakan media massa bersama dengan Komisi Nasional untuk Perlindungan Hak Anak yang mencakup 100 kabupaten (dari 712 kabupaten) untuk melakukan kampanye multimedia. Di tingkat negara bagian, Kepala Menteri Odisha dan Departemen Kepolisian meluncurkan kampanye 15 hari berskala besar di seluruh negara bagian untuk meningkatkan kesadaran mengenai pelecehan seksual anak dengan tema

(10)

“Paree Paien Katha Tiye” yang mana artinya adalah “Sebuah Kata untuk Malaikat Kecil”. Kampanye ini adalah pertama kalinya dilakukan oleh pemerintah negara bagian dalam skala besar dengan komitmen yang kuat untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anak, memobilisasi beberapa departemen pemerintah, media massa dan masyarakat sipil. Kampanye ini menggerakkan lebih dari 60.000 personel kepolisian, menggunakan kendaraan dengan perangkat multimedia termasuk media rakyat untuk menjangkau 1,2 juta orang secara langsung dan 1,2 juta orang melalui media massa.

Kemudian kerjasama antara UNICEF dengan pemerintahan negara bagian di India terkonsentrasi pada penguatan keterampilan tenaga kerja perlindungan anak serta mekanisme negara bagian untuk menanggapi kasus perlindungan terhadap anak. Sembilan negara bagian telah mendirikan ±76 pengadilan ramah anak di tingkat distrik, dan tujuh negara bagian telah mendirikan kantor polisi ramah anak. UNICEF bekerja dengan berbagai mitranya untuk meningkatkan pengaturan kelembagaan diiringi dengan perbaikan infrastruktur untuk perawatan anak-anak. Kemudian, enam negara bagian sedang mengembangkan pusat satu atap atau layanan khusus untuk korban perdagangan anak, adapun fasilitas yang ada meliputi hukum gratis, bantuan medis serta bimbingan konseling (UNICEF Annual Report India, 2018).

Di tingkat nasional, kemitraan UNICEF dengan Mahkamah Agung India telah memperkuat reformasi perlindungan anak melalui dialog dan pengawasan kebijakan baik itu di tingkat negara bagian/regional/nasional. Di tingkat negara bagian, UNICEF juga terlibat dengan pengadilan tinggi untuk memperkuat fungsi pengawasan/koordinasi mereka dan dalam memanfaatkan sumber daya keuangan yang ada dari berbagai depaartemen untuk perlindungan anak. Kemudian, dengan dukungan dari UNICEF, 12 negara bagian sedang mengembangkan dan meningkatkan MIS yang mana nantinya akan mampu untuk memantau kinerja layanan perlindungan anak. Di dua negara bagian, sistem ini juga dapat memantau manajemen kasus kekerasan terhadap anak.

(11)

Di tahun 2018, UNICEF dengan mitra kerjanya secara aktif terlibat dengan remaja, orang tua, masyarakat dan pekerja garis depan untuk mengakhiri pernikahan anak. Kemitraan nasional untuk kaum muda ini berusaha untuk menunjukkan bahwa “pasar pernikahan” harus dialihkan ke “pasar aspirasi”

merupakan pilihan yang tepat untuk mengakhiri pernikahan anak. Upaya untuk mendorong perubahan ini telah dilaksanakan di 640 kabupaten dari total 712 kabupaten di India. Selain itu, demi mengakhiri pernihakan anak, enam negara bagian mendirikan Mekanisme Koordinasi Multi-sektor yang dinaungi oleh Sekertaris Kepala dan Administrasi Distrik untuk memberdayakan remaja. Ketua Menteri Jharkhand meluncurkan rencana tindakan untuk mengakhiri pernikahan anak dengan anggaran senilai 50 juta USD dan telah mencapai satu juta anak perempuan. Di Bihar memperkuat kapasitas 9.500 sukarelawan dan 38.000 pekerja garis depan, yang bertujuan untuk menjangkau 1 juta remaja dan mendirikan sel remaja negara bagian untuk membentuk kelompok remaja perempuan dan laki-laki.

Di Uttar Pradesh, program pemberdayaan perempuan (Mahila Samakhya) diperluas dari tujuh distrik menjadi 20 distrik.

Dalam hal mengurangi pernihakan anak, di tahun 2018 ini UNICEF dan Pemerintah India dibantu dengan masyarakat sipil telah memperkuat kekuatan dari media sosial, influencer, dan kemitraan lain untuk melancarkan program CPAP ini.

UNICEF mendukung Pemerintah Nasional dan Negara Bagian melalui strategi pendekatan media sosial yang berfokus pada menciptakan kesadaran dan menghilangkan mitos budaya menggunakan bukti, fakta, dan angka yang jelas.

Selain itu, UNICEF juga memfasilitasi diskusi dengan Parliamentary Forum for Children untuk aksi pemberdayaan remaja dan mengakhiri pernikahan anak.

Pada tahun 2019, UNICEF terus berupaya untuk pencegahan kekerasan terhadap anak dan memperkuat layanan untuk penyembuhan dan pemulihan kepada korban. UNICEF juga mempercepat upayanya untuk mengakhiri pernikahan anak dengan bekerja pada pemberdayaan remaja. Penekanannya adalah pada penguatan keluarga dan standar perawatan untuk anak-anak. Untuk anak-anak yang rentan karena kurangnya pengasuhan orang tua, akan fokus pada peningkatan sistem

(12)

pengasuhan alternatif, yaitu dimana anak-anak diasuh oleh orang tua angkat yang memiliki kondisi finansial yang baik atau dimasukkan ke panti asuhan. Selain itu, model pengasuhan alternatif non-institusional seperti panti asuhan telah dikembangkan untuk meningkatkan anak-anak yang berisiko berpisah dengan keluarga atau di luar pengasuhan keluarga. Pencapaian utama di tahun 2019 adalah sebagai berikut:

1) Mencegah kekerasan terhadap anak dan mendukung penyintas, UNICEF mendukung pembangunan sistem dan mobilisasi masyarakat untuk mencegah kekerasan terhadap anak. Ada struktur perlindungan anak di 15 negara bagian, dan 15.000 penyedia layanan perlindungan anak didukung dengan keterampilan untuk penanganan kasus yang lebih baik, koordinasi dan konseling melalui SMART Kit online. Di 10 negara bagian, UNICEF memfasilitasi penguatan keterampilan penyedia layanan psikososial primer.

2) Mereformasi sistem penitipan anak. Disini, fokus UNICEF adalah pada transisi dari ketergantungan sistemik pada perawatan institusional ke perawatan berbasis keluarga. Sementara melakukan proses jangka panjang untuk memungkinkan transisi ini, kapasitas 48.998 fungsionaris di 15 negara bagian juga telah dibangun untuk memberikan pengasuhan yang lebih baik bagi anak- anak tanpa dukungan orang tua.

Pada tahun 2019, UNICEF terus menangani dimensi kunci dari eksklusi dan ketidakadilan yang mencegah anak-anak mewujudkan hak-hak mereka dan berkontribusi pada hasil-hasil berikut:

1) Kebijakan perlindungan sosial berbasis bukti. UNICEF bekerja sama dengan NITI Aayog untuk membentuk Kelompok Penasihat Nasional untuk program Perlindungan Sosial Terpadu. Kelompok ini akan menilai hasil program perlindungan sosial utama untuk anak-anak dan mempromosikan kebijakan berbasis bukti untuk memperkuat sistem perlindungan sosial bagi anak-anak.

2) Memprioritaskan investasi pada anak. UNICEF mengusulkan memberikan hibah anak universal untuk anak-anak di bawah lima tahun. Hal ini diperuntukan negara-negara bagian dengan kapasitas keuangan yang rendah

(13)

dan pengeluaran yang rendah untuk anak-anak untuk diberikan hibah pemerataan, sehingga anak-anak di negara bagian ini tidak terpengaruh.

3) Memantau kemajuan untuk anak-anak dan remaja. UNICEF menganjurkan dimasukkannya indikator sentris anak dan remaja oleh Kantor Statistik Nasional (NSO) dan kementerian terkait lainnya untuk menjembatani kesenjangan data penting yang akan membantu mengukur dan melaporkan kemajuan implementasi CPAP. Inisiatif advokasi telah menghasilkan keputusan NSO untuk melakukan survei rumah tangga multiindikator khusus setiap tiga tahun. UNICEF juga mendukung Pemerintah Assam, Rajasthan, Odisha, Maharashtra dan Chhattisgarh dalam mengembangkan kerangka SDG’s mereka yang berfokus pada prioritas pembangunan.

4) Mempromosikan perencanaan yang berpusat pada anak. UNICEF bersama Pemerintah India telah mengkaji secara mendalam dan mengungkapkan bahwa anak-anak miskin di perkotaan lebih terpinggirkan jika dibandingkan dengan anak-anak di perdesaan. Penggambaran kerentanan sistem perlindungan sosial di Jharkhand telah memberikan suatu pandangan yang jelas mengenai kesenjangan yang dihadapi oleh anak-anak dan perempuan. Selain itu, UNICEF juga bekerja untuk mengembangkan program perlindungan sosial lebih mudah diakses oleh mereka yang rentan di Madhya Pradesh dan Bihar.

Pada tahun 2020, penyebaran virus COVID-19 berdampak besar pada perekonomian dan kehidupan anak-anak. Selain penyebaran virus COVID-19 yang melaju cepat di India, India juga menghadapi beberapa bencana alam, termasuk angin topan di Benggala Barat dan Tamil Nadu, serta banjir di Assam, Bihar dan Telangana. Data dari tahap pertama Survei Kesehatan Keluarga Nasional-5 (NFHS- 5) 2019-2020 telah dirilis oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga, mengungkapkan bahwa beberapa negara bagian telah mendapatkan akses ke sanitasi dan memasak bersih.

Jutaan orang India sudah berisiko terkena penyakit menular dan krisis COVID-19 telah memperburuk situasi. Mempraktikkan social distancing, mencuci tangan, dan bahkan mengisolasi diri bukanlah hal yang mudah bagi keluarga yang

(14)

tinggal di ruang padat atau di kawasan kumuh perkotaan. Hal tersebut telah mengurangi akses ke bahan makanan yang bersih serta air yang bersih.

Dampak dari pandemi ialah meningkatnya tingkat kemiskinan, ketidaksetaraan gender, hambatan terhadap pendidikan, meningkatnya tekanan dan masalah yang terkait dengan kesehatan mental, dan semua hal ini telah memperburuk resiko perlindungan anak. Selama minggu-minggu pertama isolasi/karantina, diperkirakan bahwa 50% dari anak-anak di lembaga pengasuhan anak ada di sana karena kondisi sosial ekonomi dan persentasenya kemungkinan akan naik karena meningkatnya tekanan ekonomi keluarga. Temuan awal dari pemantauan berbasis masyarakat yang diprakarsai oleh UNICEF untuk menilai dampak pandemi COVID-19 pada keluarga rentan mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi di antara keluarga-keluarga ini telah meningkat sejak Juli 2020. Akses ke pangan telah membaik tetapi beberapa keluarga terpinggirkan masih melaporkan kekurangan makanan untuk minggu depan dan bantuan tunai belum menjangkau setiap keluarga rentan; banyak yang melaporkan beban utang akibat pandemik (UNICEF Annual Report 2020).

Sejalan dengan prioritas pemerintah dalam melindungi hak-hak anak yang paling terdampak pandemi dan Kerangka Kerja PBB untuk Respons Sosial Ekonomi terhadap COVID-19, upaya UNICEF di bidang kesehatan memiliki skala dan cakupan yang luas. UNICEF bergabung dengan WHO dan mitra lainnya untuk mempertahankan tanggapan langsung pemerintah terhadap COVID-19. UNICEF membantu merancang dan memperkenalkan pedoman dan protokol untuk layanan kesehatan reproduksi, ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja. Ini juga mendukung adaptasi layanan di 24 negara bagian. UNICEF meningkatkan mekanisme untuk e- mentoring, e-monitoring dan pengawasan layanan penting lainnya.

Program Child Protection telah mendukung kesinambungan layanan kritis dengan memperluas cakupan terhadap anak-anak yang terdampak pandemi.

UNICEF mendukung peningkatan dukungan kesehatan mental dan psikososial berbasis masyarakat dari 10 menjadi 17 negara bagian, memanfaatkan kemitraan strategis dengan National Institute of Mental Health and Neurosciences, Childline

(15)

dan struktur perlindungan anak lainnya, menjangkau 446.032 anak dan pengasuh (42 persen perempuan).

UNICEF meluncurkan strategi Ending Violence Against Children, meletakkan dasar yang kuat untuk aksi multi-sektoral. Melalui dukungan UNICEF, sistem perlindungan anak telah diperkuat di 17 negara bagian, yang memberi manfaat bagi 285.953 anak (40 persen perempuan) yang memiliki akses ke layanan pencegahan dan respons yang lebih baik. Strategi Ending Violence Against Children telah diintegrasikan dengan kuat ke dalam School Health Program and School Safety Program di tingkat nasional dan negara bagian, dengan strategi multi- sektoral untuk mengatasi kekerasan terhadap anak-anak diluncurkan di empat negara bagian.

Pentingnya pengasuhan alternatif didorong melalui perintah Mahkamah Agung untuk perlindungan anak dalam konteks COVID-19 yang dikembangkan dengan bimbingan teknis UNICEF. Sekitar 64% anak di panti (±145.788 anak) dikembalikan ke keluarga dan 9.316 diberikan pengasuhan alternatif berbasis keluarga. UNICEF juga memberikan panduan tentang mekanisme alternatif untuk menangani pekerja anak dan perdagangan manusia, terutama di antara populasi migran. Dengan dukungan teknis UNICEF, 5.440 (88 persen anak laki-laki) pekerja anak direhabilitasi dan 716.221 keluarga migran memperoleh akses ke perlindungan dan layanan sosial. Bahkan sebelum pandemi, seperlima dari populasi migrasi adalah anak-anak. Situasi ini diperparah oleh COVID-19 – penilaian cepat terhadap pekerja migran di Bihar mengungkapkan bahwa sekitar 600.000 adalah migran anak yang kembali ke negara bagian selama pandemi. UNICEF memperkuat koordinasi antar-sektor untuk mendukung anak-anak dan keluarga yang bergerak untuk memastikan mereka memiliki akses ke perlindungan sosial, layanan dan informasi.

Selain dari itu, selama kurun waktu 2018-2020, UNICEF bersama dengan Pemerintah India juga melakukan kerjasama dengan International Labor Organisation (ILO) untuk memberantas pekerja paksa, terutama pada anak-anak dan perempuan yang mana berfokus pada penanggulangan terhadap bentuk-bentuk

(16)

terburuk dari pekerjaan anak. Upaya mereka dalam mencegah serta menarik pekerja anak melalui serangkaian aktivitas yang berbasis lapangan (field-based programme) di masing-masing negara yang mengalami permasalahan terkait dengan pekerja anak. Aktivitas yang akan dijalankan seperti program pendidikan kepada para pekerja anak baik secara formal dan non-formal, penyuluhan kepada orang tua pekerja anak terkait isu yang ada dan pelatihan-pelatihan pada keluarga sehingga mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan kesempatan membuka usaha.

Melalui upaya tersebut UNICEF mengharapkan para orang tua yang anak- anaknya memasuki pelatihan dalam bidang pendidikan untuk masuk dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Sebelum memberikan bantuan dalam perekonomian kelurga, ibu-ibu akan dilatih terlebih dahulu terkait dengan bidang usaha. Pada akhir program pelatihan, masing-masing ibu maupun keluarga yang telah mengikuti pelatihan dan akan melakukan pengembangan usaha mikro akan diberikan sumbangan atau subsidi sebagai dana awal dari usaha mikro. KSM akan memberikan subsidi sebesar 1000 Rupee atau Rp. 200.000 kepada masing-masing keluarga. KSM juga berfungsi sebagai pemantau kepada masing-masing keluarga agar dapat menggunakan subsidi tersebut sesuai dengan pelatihan yang diberikan dan mampu mendorong orang tua untuk membuka tabungan untuk investasi masa depan (IPEC, 2016).

4.3 Faktor Pendukung UNICEF dalam Penanganan Perdagangan Anak di India

Dalam menjalankan perannya sebagai organisasi internasional dalam mengatasi permasalahan perdagangan anak di India, terdapat beberapa faktor pendukung yang dapat mempengaruhi UNICEF dalam menjalankan program untuk mengatasi perdagangan anak baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Yaitu yang pertama adalah pengalaman, disini UNICEF sebagai organisasi internasional yang berfokus pada pemenuhan hak anak telah banyak membantu negara-negara di dunia dalam mencapai kepentingannya untuk memberikan pemenuhan dan kesejahteraan anak di dunia, khususnya terhadap negara berkembang.

Kiprah pertama UNICEF berawal dari bantuan kemanusiaan yang diberikan setelah Perang Dunia II untuk meringankan beban anak-anak yang mengalami kerentanan. Kemudian pada tahun

(17)

1950, UNICEF berencana untuk menutup organisasi ini dikarenakan kondisi anak yang menjadi korban Perang Dunia II telah berangsur membaik, namun beberapa dunia tidak sepakat dikarenakan masih terdapat banyak anak di seluruh dunia yang membutuhkan peranan dari UNICEF. Sehingga pada akhirnya di tahun 1953 UNICEF telah menjadi bagian permanen dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperluas mandatnya di berbagai belahan dunia terkhusukan pada negara berkembang dengan kerentanan anak yang buruk. Kiprah UNICEF juga tidak terlepas dari perannya di India pada tahun 1949 yang telah bekerjasama dengan 16 negara bagian India serta telah mendirikan pabrik penisilin pertama di Pimpiri, India.

Kedua, hubungan jaringan eksternal. UNICEF sebagai organisasi internasional telah banyak melakukan kerjasama dengan organisasi internasional lainnya dan pemerintah negara lain di negara-negara maju dan berkembang. Sehingga kepercayaan pemerintah negara di dunia memberikan peluang besar UNICEF dalam menjalankan programnya. Dengan memegang teguh pada Konvensi Hak Anak, UNICEF diberikan kepercayaan oleh PBB dalam melaksanakan mandatnya untuk mencapai hasil yang terbaik dalam penanganan permasalahan dan pemenuhan hak anak di dunia. Kemitraan UNICEF dengan perusahaan di dunia antara lain adalah Amadeus, Cartier Philanthropy, FC Barcelona, Educate a Child, Gucci, H&M Foundation, IKEA Foundation, ING, Kiwanis International, La Caixa Foundation, LEGO Foundation Group, Louis Vuitton, Montblanc, MSC Cruises, Olympiakos, P&G Pampers, UNIQLO, Unilever, Starwood Hotels &

Resort, dan masih banyak lagi mitra perusahaan UNICEF di seluruh dunia (UNICEF, 2018). Mitra organisasi masyarakat sipil dengan UNICEF antara lain adalah organisasi non-pemerintahan internasional dan nasional (NGO), organisasi berbasis masyarakat, organisasi pendidikan sosial, organisasi berbasis agama, kelompok advokasi, serikat buruh, kelompok perempuan, asosiasi sukarelawan profesional, media pendidikan, jaringan sosial, lembaga penelitian, dan masih banyak lagi.

Ketiga, Dukungan dari pemerintah. Tanpa adanya kerjasama dari pemerintah, UNICEF tidak dapat menjalankan programnya di negara-negara. Seperti halnya di India, UNICEF mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah India dalam menjalankan programnya di India.

UNICEF juga bekerjasama dengan mitra lainnya di tingkat nasional, tingkat negara bagian maupun wilayah persatuan. Bentuk dukungan dari pemerintah adalah memperluas kerjasama UNICEF dengan pemerintah di seluruh negara bagian dan segala sektor terkait perdagangan anak. Ministry

(18)

of Woman and Child Development (MWCD) merupakan mitra kerja UNICEF yang utama dalam menangani permasalahan yang terkait dalam pelanggaran hak asasi terhadap anak dan perempuan, UNICEF bekerjasama dengan 125 kemitraan untuk advokasi yang didirikan pada tahun 2014, terutama di tingkat negara bagian, termasuk dengan perwakilan terpilih, departemen pemerintah negara bgaian, selebritis, dan korporasi. Kemudian melalui programnya UNICEF juga memperluas kerjasama dengan perusahaan sektor publik maupun sektor swasta. Masing-masing mitra memiliki perannya dalam menjalankan program di negara bagian maupun di wilayah persatuan. Dukungan UNICEF dalam penanganan perdagangan anak juga dapat dilihat pada peran peradilan dan kepolisian yang melakukan pelatihan dan merespon dengan baik program yang dicangkan bersama pemerintah.

4.4 Faktor Penghambat UNICEF dalam Penanganan Perdagangan Anak di India Selain adanya faktor pendukung yang disebutkan diatas, juga terdapat beberapa faktor yang menghambat UNICEF dalam melakukan peranannya untuk menangani kasus perdagangan anak di India. Adapun faktor yang pertama adalah faktor ekonomi yang merupakan akar masalah utama dari perdagangan anak. Masyarakat India yang memiliki ekonomi rentan tentunya menginginkan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, sehingga banyak diantara mereka yang mencari pekerjaan di kota-kota besar dengan iming-iming gaji besar. Sehingga tidak sedikit orang tua yang ikut mempekerjakan anak-anak mereka bahkan sampai memperdagangkannya. Dengan memperdagangkan anaknya kepada biro, anak-anak juga berkemungkinan untuk melakukan migrasi ilegal yang mana hal ini akan berakibat pada semakin sulitnya menangani masalah perdagangan anak di India. Seseorang yang berpindah secara ilegal sangat rentan menjadi korban perdagangan. Dengan keadaan yang terperangkap di dalam kemiskinan dan kebutuhan hidup yang harus terpenuhi mengharuskan banyak masyarakat yang mau bekerja dalam tekanan dan eksploitasi.

Yang kedua adalah faktor budaya, akar permasalahan kedua dalam perdagangan anak.

Kondisi budaya masyarakat yang masih memarjinalkan posisi perempuan dalam kehidupan masyarakat khusunya, budaya patriarki masih sangat kental ditemui terutama di pedesaan.

Sebagian kecil masyarakat di India masih menganggap bahwa yang berhak menjadi penerus keluarga adalah keturunan laki-laki, secara tersirat posisi perempuan berada di bawah laki-laki sehingga di India menjadikan laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan, dimana

(19)

dominasi laki-laki tidak hanya mencakup ranah personal saja melainkan juga pada ranah yang lebih luas seperti partisipasi politik, pendidikan, ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain.

Ketiga faktor geografis, akar permasalahan ketiga dalam perdagagan anak. India adalah negara terbesar dengan luas wilayah sebesar 3,28 juta km2 dan terbagi dalam 29 negara bagian dan 7 wilayah persatuan yang mana beberapa negara bagian terletak di wilayah perbatasan. Maka dari itu, wilayah-wilayah perbatasan ini terkadang dijadikan sebagai jalur perdagangan anak yang terselubung dan menjadikan anak-anak yang tinggal di daerah terpinggirkan menjadi sasaran perdagangan anak. Luasnya wilayah India ini mengakibatkan kurang terjangkaunya mereka terhadap pemenuhan hak yang mereka miliki, seperti akses pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Sehingga banyak diantara mereka yang mengalami keadaan yang sangat rentan.

Keempat semakin meningkatnya kasus mengenai permasalahan pemenuhan hak anak terutama pada perdagangan anak yang terjadi di India. Pada tahun 2006 hingga tahun 2016 terjadi peningkatan kasus kejahatan yang terjadi yang mana memenuhi syarat sebagai kasus perdagangan anak yaitu dari 3.549 korban yang tercatat pada tahun 2006 terus meningkat ditahun-tahun selanjutnya hingga tahun 2016 tercatat ada 21.255 korban. Kemiskinan yang tinggi, 19endidikan yang rendah, kurangnya lapangan pekerjaan merupakan hal yang paling mendasar dan krusial yang menyebabkan tingkat perdagangan anak di India meningkat per tahunnya.

Yang terakhir adalah tidak adanya data yang konkrit mengenai korban perdagangan anak di India karena sifatnya yang terselubung. Data yang dapat dijadikan rujukan hanya data yang dicatat oleh National Crime Record of Bureau (NCRB) mengenai data hilangnya anak di bawah 18 tahun dan perkiraan tujuan dari hilangnya anak setelah anak tersebut keluar dari cengkeraman trafficker. Jumlah korban spesifik tidak terdata dengan baik. Data anak hilang yang dijadikan rujukan pun tidak spesifik karena terkadang data yang diperoleh memiliki perbedaan dari data yang diperoleh organisasi ataupun lembaga lain. Hal inilah yang menjadi salah satu hambatan UNICEF dalam menangani perdagangan anak di India.

4.5 Country Program Action Plan sebagai Bentuk Kerjasama UNICEF dengan Pemerintah India

Begitu banyak upaya yang telah dilakukan oleh UNICEF dalam memainkan perannya sebagai organisasi internasional untuk menangani masalah perdagangan anak. Namun secara

(20)

keseluruhan dapat dilihat bahwa pengupayaannya yang memalui CPAP tersebut menitikberatkan pada fokus penjaminan dan pemenuhan hak anak yang merujuk pada pembaharuan dan pembenahan sistem dari struktur yang telah bekerja. Melihat dari hal ini, melalui CPAP tersebut ketercapaian akan hasil yang diinginkan yaitu mengurangi tingkat perdagangan anak masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan di lapangan. Hal ini dikarenakan data anak hilang masih mengingkat dari tahun ke tahun, dimana data dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3

Anak Hilang di bawah 18 Tahun Jenis

Kelamin

Tahun

Total

2018 2019 2020

Male 15.250 15.894 15.573 46.717

Female 48.106 55.370 57.817 161.293

Total 63.356 71.264 73.390 208.010 Diolah berdasarkan data dari NCRB Report 2018-2020

Berdasarkan data anak hilang diatas, dapat dilihat bahwa selama berjalannya program tidak ada hasil signifikan yang memperlihatkan adanya pengurangan angka korban anak hilang yang dijadikan rujukan dari keberhasilan UNICEF dalam menjalankan perannya sebagai organisasi internasional dalam menangani permasalahan perdagangan anak di India. Angka korban anak hilang juga semakin meningkat dibandingkan dengan CPAP periode sebelumnya yang mana pada tahun 2014 dengan total 36.704 data anak hilang yang di publikasikan oleh NCRB melalui laporan Crime in India 2014, kemudian pada tahun 2015 total data anak hilang naik mencapai 48.162 anak hilang, dan kemudian semakin meningkat pada tahun 2016. Kemudian total tertinggi terjadi pada tahun 2020 yaitu mencapai 73.390 korban anak hilang yang didata oleh NCRB yang meliputi 15.573 korban laki laki dan 57.817 korban perempuan. Selain meningkatnya jumlah korban anak hilang, jumlah kasus penculikan anak-anak yang memenuhi syarat sebagai kasus perdagangan anak juga meningkat, dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4

Kasus Penculikan Anak-Anak yang Memenuhi Syarat sebagai Kasus Perdagangan Anak

Tujuan Penculikan Tahun

2018 2019 2020

Adoption 145 38 56

(21)

Begging 54 16 23

Illicit intercourse 1.727 1.533 1.337

Marriage 24.487 25.824 24.571

Prostitution 197 98 209

Selling body parts 0 0 0

Unlawful activity 1.635 1.995 1.782

Forced labor/ slavery 355 607 853

Total 28.600 30.111 28.831

Source: NCRB 2018-2020

Berdasarkan dari tabel tersebut, dapat dilihat bahwa terjadi kenaikan dan penurunan yang tidak stabil dari jumlah angka kasus penculikan yang terjadi di tahun 2018-2020.iAdapun itujuan dari penculikan yang paling banyak adalah kasus pernikahan anak yang selalu mencapai angka tertinggi dan angka yang meningkat di setiap tahunnya, dimana angka tertinggi yang dicatat mencapai 25.824 kasus perdagangan anak untuk pernikahan dini. Merujuk pada data yang telah diperoleh dan diolah mengenai kasus perdagangan anak di India maka dapat dikatakan bahwa peranan yang dilakukan oleh UNICEF belum sepenuhnya mencapai titik berhasil. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, masih terdapat kenaikan angka dari kasus anak hilang terlebih lagi pada tahun 2019 yang mana angkanya meningkat drastis hingga mencapai 71.264 kasus.

Oleh karena itu penulis menganalisis melalui program CPAP ini, yang mana fokus utamanya adalah penjaminan dan pemenuhan hak anak. Keberadaan UNICEF di India pada dasarnya telah membantu Pemerintah India dalam memenuhi hak-hak anak melalui beberapa upaya yang dilakukan dengan berfokus pada pencegahan dan menangani dampak jangka panjang untuk kedepannya dalam menangani perdagangan anak. Namun, program CPAP ini tidak berpengaruh terhadap penurunan korban perdagangan anak, karena pada posisi saat ini UNICEF hanyalah sebagai organisasi internasional yang memang hanya melakukan tugas untuk pemenuhan hak-hak anak sehingga dapat memberikan perlindungan yang berkualitas bagi anak dan terjauhkan dari kekerasan maupun pelecehan.

Melihat dari data statistik yang didapat dari NCRB mengenai angka anak hilang dan kasus penculikan yang dapat dikategorikan sebagai perdagangan anak telah meningkat setiap tahunnya, serta data korban spesifik mengenai perdagangan anak juga tidak terdata dengan baik. Sehingga dalam penanganannya dibutuhkan kerjasama antara peran pemerintah, organisasi nasional, dan

(22)

masyarakat untuk membantu menyadarkan diri akan buruknya dampak dari perdagangan anak bagi anak itu sendiri.

Inti dari keunggulan komparatif UNICEF adalah kemampuannya untuk memanfaatkan sumber daya dan mengumpulkan mitra untuk mencapai hasil yang baik bagi anak-anak. Pada tahun 2020, UNICEF memperdalam keterlibatannya dengan sektor swasta, dan ini menjadi bidang keahlian yang kuat. Perubahan signifikan dalam lingkungan operasi juga meningkatkan upaya mobilisasi sumber daya UNICEF. Misalnya, RUU Amandemen Perusahaan 2019 sekarang mewajibkan pengeluaran tanggung jawab sosial perusahaan untuk entitas yang lebih besar. Dan pandemi COVID-19 dan tanggapan UNICEF telah membuka peluang untuk kemitraan dengan sektor publik.

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dalam penelitian ini yang dimaksud dengan Peran UNICEF ( United Nations International Children s Emergency Fund ) Dalam Melindungi Anak-anak terhadap Kekerasan