Belajar Geometri Transformasi Berbantuan GeoGebra di SMA Negeri 1 Kandangan?”
2. KAJIAN PUSTAKA A. Kemandirian Belajar
Secara khusus tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum 2013 menurut Kemendikbud (2013) yaitu memahami fakta di dalam matematika atau fenomena yang berkaitan dengan subjek matematika secara konseptual, faktual, atau prosedural yang dimiliki. Kurikulum 2013 juga menerapkan prinsip, konsep, atau kaidah atau sistem aksioma pada matematika dalam konteksnya di kehidupan sehari-hari. Kurikulum 2013 mengandung konsep analisis dan evaluasi sebuah gejala, fenomena, fakta, dan data dengan menggunakan konsep, kaidah atau prinsip atau sistem aksioma dalam matematika. Kurikulum 2013 selanjutnya mengevaluasi pemikiran seseorang terhadap gejala, fakta, fenomena, konsep, kaidah atau prinsip atau sistem aksioma matematika. Tujuan kurikulum 2013 juga memberikan ide atau gagasan, atau hasil dari sebuah analisis dan penyelidikan dalam pembelajaran matematika. Tujuan kurikulum 2013 juga untuk memecahkan masalah-masalah dengan menggunakan kaidah yang sesuai dengan metode ilmiah dan kemudian mengolah serta menganalisis beberapa solusi alternatif terhadap masalah sederhana dan kemudian dihasilkan sebuah keputusan. Tujuan yang terakhir kurikulum 2013 ialah untuk merencanakan serta melaksanakan percobaan atau observasi atau penyelidikan dalam matematika, kemudian menciptakan ide atau gagasan, prosedur, dan produk di dalam matematika.
Kemandirian belajar adalah sifat dan kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan kemauan sendiri untuk menguasai suatu kompetensi yang telah dimiliki (Taman, 2012). Selain itu, pendapat lain mengenai kemandirian belajar dikemukakan oleh Egok (2016) yang menyatakan bahwa kemandirian belajar adalah keadaan dimana seseorang memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya, serta dapat bertanggung jawab
4
dengan apa yang dilakukannya. Sejalan dengan hal tersebut, Aini (2012) menyatakan bahwa kemandirian belajar merupakan aktivitas belajar peserta didik yang prosesnya lebih dimotivasi oleh kemauan sendiri yang disertai dengan rasa tanggung jawab dari seorang peserta didik.
Berdasarkan pendapat di atas, maka bisa dikatakan bahwa kemandirian belajar adalah aktivitas atau kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa atas kemauannya sendiri untuk menguasai suatu kompetensi yang disertai dengan rasa tanggung jawab, disiplin, inisiatif dan percaya diri. Lestari (2016) mengemukakan indikator kemandirian belajar diantaranya 1) inisiatif belajar 2) Mendiagnosa kebutuhan belajar 3) Menerapkan tujuan atau target belajar 4) Memilih menerapkan strategi belajar 5) Memonitor, mengatur, dan mengkontrol belajar 6) Memandang kesulitan sebagai tantangan 7) Memanfaatkan dan mencari sumber yang relevan 8) Mengevaluasi proses dan hasil belajar 9) self eficacy atau Konsep diri atau Kemampuan diri. Hal ini dapat diamati saat siswa tersebut mengerjakan tugas ataupun ulangan. Adapun kemandirian belajar dapat dilihat dari kebiasaan belajar peserta didik baik dalam merencanakan dan melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari. Kemandirian belajar yang tinggi dari siswa sangat penting untuk dipupuk demi meningkatkan hasil belajar siswa karena tentunya akan berpengaruh terhadap terciptanya semangat diri dalam belajar (Fudayanti, 2011).
B. Hasil Belajar Siswa
Tujuan belajar adalah termasuk bertambahnya pengetahuan serta keterampilan, sehingga seseorang mencapai tujuan belajar dan mendapatkan hasil belajar dengan baik. Sehingga, seorang pendidik harus dapat memaparkan tujuan belajar dengan baik. Hamalik (2013) menyatakan bahwa hasil belajar sebagai fenomena perubahan dalam tingkah laku pada diri peserta didik yang dapat diamati serta diukur yakni dalam bentuk berubahnya sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hasil belajar adalah kemampuan yang didapatkan oleh siswa setelah menerima suatu pengalaman belajar (Sudjana, 2009). Sejalan dengan hal tersebut,
5
Rosyidah (2015) menyatakan hasil belajar merupakan tingkat kemampuan siswa setelah mengikuti pembelajaran selama kurun waktu tertentu.
Menurut Bloom (Tampubolon,2013) secara garis besar membagi hasil belajar dalam tiga aspek, yakni aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik.
1. Aspek Kognitif
Aspek kognitif merupakan hasil belajar intelektual seseorang yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, proses analisis, sintesis, dan evaluasi.
2. Aspek Afektif
Aspek afektif berhubungan dengan sikap dan nilai seseorang. Jenis hasil belajar dalam aspek afektif dapat diamati dalam berbagai tingkah laku yang ditunjukkan seperti perhatiannya terhadap pembelajaran, disiplin, motivasi dalam belajar, meghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan jalinan hubungan sosial di sekitarnya.
3. Aspek Psikomotorik
Hasil belajar dalam aspek psikomotorik dapat diamati dalam bentuk keterampilan dan kemampuan dalam bertindak pada seseorang atau individu. Ranah psikomotorik dibagi menjadi enam, yaitu pengetahuan hafalan, pemahaman atau komprehensif, penerapan aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Aspek kognitif dalam pembelajaran matematika sangat berkaitan erat dalam pemecahan masalah matematika. Kemampuan menyelesaikan soal matematika menuntut cara berpikir tingkat tinggi untuk peserta didik yang dinyatakah oleh (Dewi, 2014), antara lain: 1) Menentukan sesuatu yang diketahui, 2) Menentukan sesuatu yang ditanyakan, 3) Menentukan model matematika yang diperlukan, dan 4) Melakukan perhitungan sesuai dengan model matematikanya. Untuk itu, perlu adanya mekanisme kognitif dalam memecahkan soal matematika.
Polya (1973) menyatakan bahwa dalam memahami langkah- langkah dalam menyelesaikan soal matematika yaitu: 1) Langkah pertama adalah memahami masalah. Peserta didik pada langkah ini untuk
6
menguraikan apa yang diketahui dengan kalimat sendiri, mengidentifikasi apa yang diperlukan, merumuskan apa yang dinyatakan, dan menggambarkan permasalahannya. 2) Langkah kedua yaitu membuat rencana penyelesaian. Peserta didik melakukan permisalan data yang diketahui dan ditanya dalam bentuk permisalan, selain dengan melakukan permisalan peserta didik juga merumuskan penyelesaian dengan benar. 3) Langkah ketiga adalah melaksanakan rencana penyelesaian untuk mendapatkan hasil dari permasalahan soal cerita. Menyusun rencana penyelesaian yang berperan ialah pikiran maka pada tahap ini pikiran dan fisik bersama-sama melakukan kegiatan. Tahap ini melakukan perhitungan atau mengerjakan soal berdasarkan rencana yang telah dirumuskan. 4) Tahap yang keempat ialah meninjau kembali pekerjaan yang sudah diselesaikan. Penyelesaian yang telah dikerjakan dari tahap sebelumnya diperiksa kembali kebenarannya untuk mengetahui apakah ada jawaban kurang atau belum sempurna penyelesaiannya.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat dikatakan bahwa hasil belajar secara kognitif merupakan manifestasi dari pemahaman siswa dalam memahami masalah, membuat rencana, dan melaksanakan rencana pemecahan soal matematika. Adapun keberhasilan dalam melakukan langkah-langkah tersebut berhubungan erat dengan pemahaman siswa mengenai materi dalam matematika. Untuk itu, penting bagi pendidik untuk menyampaikan tujuan pembelajaran untuk merencanakan proses dan kegiatan belajar agar hasil belajar siswa dapat dicapai secara maksimal.
C. Media Pembelajaran
Media adalah bentuk plural atau jamak yang berasal dari kata medium dimana artinya adalahpenyalur atau perantara. Sundayana (2013) mendeskripsikan media adalah alat atau sejenisnya yang bisa dimanfaatkan dalam membawa pesan pada topik pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar. Arsyad (2010) menyatakan bahwa suatu benda dan alat bisa dikategorikan sebagai media pembelajaran apabila berisi sebuah informasi dan pesan yang bersifat instruksional dan mengandung maksud dari
7
pembelajaran. Sejalan dengan itu, Sadiman (2010) menjabarkan media sebagai segala sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan dari pendidik kepada peserta didik sehingga bisa membangkitkan pikiran, perhatian, perasaan, dan ketertarikan peserta didik dan terjadi proses pembelajaran.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu yang berisi materi atau topik pembelajaran demi memudahkan proses belajar. Mempermudah dalam hal ini yakni memfasilitasi proses penyampaian materi pembelajaran dari pendidik ke peserta didik sehingga dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih efektif dan efisien
1) Klasifikasi dari Media Pembelajaran
Pengelompokan atau klasifikasi media pembelajaran memiliki tujuan agar memudahkan para pengguna media baik siswa maupun guru dalam rangka melihat karakter serta kesesuaiannya terhadap berbagai kondisi pembelajaran. Kustandi & Bambang (2011) menyatakan bahwa media pembelajaran bisa dikategorikan menjadi tiga klasifikasi, yaitu bergantung pada perspektif mana dalam melihat media tersebut:
a) Dilihat dari sifat media, media dapat dibagi yaitu:
1) Media auditif, yakni media yang memiliki sifat audio atau hanya bisa didengarkan dalam penyampaiannya. Contohnya yaitu radio dan rekaman suara.
2) Media visual, yaitu media yang dapat dilihat dengan mata sebagai bentuk penyampaian pesan, seperti film, buku, gambar, slide, dan sebagainya.
3) Media audio-visual, yakni media yang memiliki unsur suara dan visual yang dapat dilihat dengan mata, misalnya video.
b) Ditinjau dari teknik penggunaanya, media dapat dibagi menjadi:
1) Media elektronik, yakni media yang pemakaiannya menggunakan alat yang bersifat elektronik, contohnya slide dan film strip.
8
2) Media non-elektronik, yakni media yang dalam pemanfaatannya tidak membutuhkan adamya alat elektronik, seperti foto, gambar, lukisan, buku, dan lain-lain.
c) Ditinjau dari luas cakupannya, media bisa diklasifikasikan menjadi:
1) Media luas jangkauannya dan serentak, seperti radio, televisi dan sosial media.
2) Media jangkauan terbatas, yaitu seperti video, film, slide, dan sebagainya.
Penggolongan media dapat juga dilihat dari perkembangannya.Wati (2016) menyatakan bahwa media pembelajaran bisa diklasifikasikan sebagai berikut berdasarkan perkembangan media.
a. Media pembelajaran dengan basis visual
Yaitu media yang mempunyai komponen utama yakni bentuk, garis, tekstur, dan warna dalam penyajiannya. Biasanya media visual bersifat menarik dan tentunya meningkatkan pemahaman peserta didik pada materi pembelajaran. Media visual mampu memaparkan konsep yang bersifat abstrak kepada peserta didik. Media visual umumnya bersifat dua dimensi. Contohnya yaitu buku, lukisan, foto, gambar, dan lain lain.
b. Media pembelajaran dengan basis audio-visual.
Media berbasis audio-visual adalah media yang mampu menampilkan unsur suara dan gambar. Media ini adalah berupa alat yang dapat membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam rangka menyampaikan topik, materi, ide dan sikap dalam proses pembelajaran.
Adapun contohnya yaitu video, televisi, slide, dan lain sebagainya.
c. Media pembelajaran dengan basis komputer
Media bentuk komputer mulai populer eksistensinya dikalangan institusi pendidikan. Perkembangan teknologi dalam bidang komputer berkontribusi banyak hal terutama inovasi dalam pendidikan. Media ini dibuat dengan menggunakan prinsip dan program-program tertentu yang dikoding dan mempunyai instruksi perintah di dalam komputer.
Beberapa ciri media ini yaitu dapat digunakan secara random, dapat
9
disesuaikan dengan keinginan peserta didik, menerapkan prinsip- prinsip ilmu kognitif, dan menuntut interaksi peserta didik yang tinggi.
Penggunaan media sangat bergantung pada tujuan dari pembelajaran, ketersediaan bahan yang diperlukan untuk membangun media, serta kemampuan guru dalam memanfaatkan media dalam proses belajar mengajar. Adapun faktor kemampuan guru dalam membuat dan memanfaatkan media adalah kunci keberhasilan proses pembelajaran yang sukses dan tentunya menyenangkan.
2) Manfaat dan Fungsi dari Media Pembelajaran
Menurut (Arsyad, 2010) mengatakan bahwa fungsi dari media pembelajaran yakni sebagai fasilitas dan alat bantu dalam mengkondisikan lingkungan dan suasana belajar terlihat menyenangkan oleh guru. Adapun manfaat media menurut Sundayana (2013) yaitu menambah ketertarikan belajar peserta didik dalam proses belajar mengajar dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik itu sendiri.
Sadiman (2010) berpendapat bahwa media pembelajaran memiliki fungsi-fungsi berikut
1) Mempejelas kesan dalam menyajikan pesan guna mengurangi sifat verbalitas dalam pembelajaran.
2) Menyelesaikan persoalan ruang dan waktu, serta daya indera, contohnya
a) Objek besar atau kecil dapat direpresentasikan dengan menggunakan gambar, model, atau film.
b) Gerak yang cenderung terlalu cepat atau sangat lambat, dapat diselesaikan dengan bantuan alat dan media.
c) Objek yang relatif kompleks bisa direpresentasikan dengan bentuk diagram, model, kurva, dan sebagainya.
3) Pemanfaatan media dengan tepat dan bervariasi tentunya membangkitkan kegairahan dalam belajar bagi peserta didik sehingga memungkinkan peserta didik untuk belajar mandiri berdasarkan minat dan kemampuannya.
10
Akbar (2013) berpendapat bahwa media memiliki manfaat praktis di dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut.
1) Media pembelajaran mampu memperjelas sebuah sajian topik pembelajaran sehinga bisa meningkatkan dan memperlancar proses belajar dan mengajar serta hasil belajar siswa.
2) Media pembelajaran mampu memotivasi peserta didik untuk belajar.
3) Media pembelajaran dapat menjelaskan topik melalui pengalaman yang representatif kepada peserta didik tentang fenomena di sekitar dan membuat interaksi yang intensif berlangsung antara pendidik, peserta didik, dan lingkungannya.
D. GeoGebra
GeoGebra adalah software pembelajaran matematika yang didesain oleh ilmuwan Howenwarter pada proyek tesisnya di Universitas Salzburg di tahun 2012 (Lingguo & Robert, 2011).
GeoGebra adalah aplikasi yang dapat diakses oleh peselancar internet secara bebas dan luar dalam rangka belajar aljabar, geometri serta kalkulus dengan tingkat pembelajaran tertentu di kelas yang berbeda.
Pada tampilannya, GeoGebra memiliki 3 jendela menu yaitu: jendela (aljabar), jendela grafis (visual), dan jendela numerik (spreadsheet).
Hal tersebut membuat GeoGebra terlihat memang didesain untuk memenuhi prinsip dan kaidah pembelajaran matematika yang berkualitas.
Setelah didesain oleh Hogenwarter, GeoGebra sekarang perangkatnya dikembangkan dengan freeware. GeoGebra bisa diunduh melalui www.geogebra.com. Gagasan dibalik GeoGebra yaitu menghubungkan aljabar, geometri, dan representasi menarik dengan cara interaktif. Kita difasilitasi agar memungkinkan membuat konstruksi dengan memanfaatkan titik, garis, vektor, kerucut, dan fungsi, kemudian mengubahnya secara dinamis. GeoGebra memberikan kemungkinan bagi kita agar langsung terlibat dalam proses
11
manipulasi persamaan koordinat dan kurva. Sehingga, kita mampu melakukan plot fungsi dengan cara menggeser garis dan titik untuk menyelidiki parameter dan menentukan turunan dengan mudah.
Karakteristik utama GeoGebra adalah ekspresi dalam aljabar yang sesuai antara objek dengan tampilan grafik dan sebaliknya.
GeoGebra menggunakan sistem multi-platform dynamic mathematics for everyone praktis yaitu perangkat pembelajaran bagi setiap orang dan dapat digunakan dengan sangat mudah. Program GeoGebra sangat bermafaat bagi guru maupun siswa. GeoGebra dapat diinstal pada komputer pribadi dan dimanfaatkan kapan dan dimanapun oleh siswa maupun guru. Program GeoGebra merupakan salah satu program yang bersifat dinamis dan interaktif untuk mendukung terjadinya pembelajaran serta penyelesaian masalah dalam matematika khususnya materi geometri, aljabar dan kalkulus (Retno, 2014).
E. Geometri Transformasi
Materi transformasi geometri merupakan pokok bahasan materi mata pelajaran matematika SMA kelas XI di semester 1 dalam kurikulum 2013 revisi 2017 sesuai dengan kompetensi dasar pada tabel 1 sebagai berikut.
Tabel 1 Kompetensi Dasar serta Indikator
Kompetensi Dasar Indikator
4) Menyelesaikan masalah berkaitan dengan transformasi geometri
4.1.1 Menyelesaikan masalah kontekstual berkaitan dengan transformasi geometri
Pada penelitian ini materi geometri transformasi hanya dibahas tentang translasi, refleksi dan rotasi. Translasi atau yang bisa disebut dengan pergeseran merupakan transformasi yang memindahkan titik dengan jarak dan arah tertentu. Pada translasi digunakan pendekatan koordinat. Pada bidang koordinat dapat diasumsikan bahwa pergeseran ke arah sumbu 𝑋𝑋 positif adalah ke arah sebelah kanan, kemudian pergerakan ke arah sumbu 𝑋𝑋 negatif adalah ke arah sebelah kiri, dan pergerakan ke arah sumbu 𝑌𝑌 positif adalah ke arah atas, serta pergerakan ke arah sumbu 𝑌𝑌 negatif adalah ke arah bawah. Translasi
12
dinyatakan oleh T = �a
b� dengan a menyatakan jarak dan arah dengan perpidahan secara horizontal pada sumbu 𝑋𝑋 dan 𝐵𝐵 menyatakan jarak dan arah perpindahan secara vertikal pada sumbu 𝑌𝑌.
Titik 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦) ditranslasikan oleh T = �a
b� sehingga diperoleh bayangan 𝐴𝐴′(𝑥𝑥′, 𝑦𝑦′)dengan 𝑥𝑥′ = 𝑥𝑥 + 𝑎𝑎dan 𝑦𝑦′= 𝑦𝑦 + 𝑏𝑏.Dengan menggunakan konsep matriks maka translasi titik A disusun seperti berikut.
�x' y'� = �
x y� + �
a b�
�x' y'� = �
x + a y + b�
Refleksi atau pencerminan merupakan transformasi yang memindahkan titik menurut sifat-sifat cermin. Pencerminan biasanya terhadap sebuah garis tertentu yang bertindak sebagai cermin atau sumbu refleksi (sumbu simetri). Pada transformasi refleksi juga digunakan pendekatan koordinat. Jika ada titik 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦)yang direfleksikan terhadap suatu garis. Bayangannya yaitu titik 𝐴𝐴′(𝑥𝑥′, 𝑦𝑦′) pada suatu refleksi, segmen garis yang menghubungkan titik mula-mula (titik 𝐴𝐴) dengan hasil refleksi (titik 𝐴𝐴′) akan terbagi dua sama panjang dan tegak lurus terhadap sumbu refleksinya.
Hasil refleksi beserta matriks transformasinya disajikan dalam tabel 2 berikut.
Tabel 2 Hasil Refleksi Beserta Matriks Transformasinya
Refleksi Pemetaan Persamaan Matriks
Transformasi Terhadap sumbu 𝑋𝑋 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦) → 𝐴𝐴′(𝑥𝑥, −𝑦𝑦) �x'
y'�=�1 0 0 -1� �
x y�
Terhadap sumbu 𝑌𝑌 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦) → 𝐴𝐴′(−𝑥𝑥, 𝑦𝑦) �x'
y'�=�-1 0 0 1� �
x y�
Terhadap garis 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦)→ 𝐴𝐴′(𝑦𝑦, 𝑥𝑥) �x'
y'�=�0 1 1 0� �
x y�
Terhadap garis 𝑦𝑦 = −𝑥𝑥 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦)→ 𝐴𝐴′(−𝑦𝑦, −𝑥𝑥) �x'
y'�=� 0 −1
−1 0 � � x y�
Terhadap titik 𝑂𝑂(0,0) 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦)→ 𝐴𝐴′(−𝑥𝑥, −𝑦𝑦) �x'
y'�=�-1 0 0 -1� �
x y�
Terhadap garis 𝑥𝑥 = 𝑎𝑎 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦)→ 𝐴𝐴′(2𝑎𝑎 − 𝑥𝑥, 𝑦𝑦) �x'
y'�=�-1 0 0 1� �
x y� + �2a
0 � Terhadap garis 𝑦𝑦 = 𝑏𝑏 𝐴𝐴(𝑥𝑥, 𝑦𝑦)→ (𝑥𝑥, 2𝑏𝑏 − 𝑦𝑦) �x'
y'�=�1 0 0 -1� �
x y� + �0
2b�
13
Perputaran atau rotasi adalah berubahnya kedudukan sebuah objek dengan cara diputar baik melalui sudut tertentu atau dari pusat.
Besarnya rotasi dalam transformasi geometri sebesar 𝑎𝑎 disepakati untuk arah yang berlawanan dengan arah jalan jarum jam. Jika arah perputaran rotasi suatu benda searah dengan jarum jam, maka sudut yang dibentuk adalah −𝑎𝑎. Hasil rotasi suatu objek tergantung dari pusat dan besar sudut rotasi.
Tabel 3 Hasil Rotasi Beserta Matriks Transformasinya
Rotasi Pemetaan Persamaan Matriks
Transformasi Terhadap pusat 𝑂𝑂 dengan
sudut 𝑎𝑎 𝑥𝑥′= 𝑥𝑥 cos 𝛼𝛼 − 𝑦𝑦 sin 𝛼𝛼)
𝑦𝑦′= 𝑥𝑥 sin 𝛼𝛼 − 𝑦𝑦 cos 𝛼𝛼) �cos 𝛼𝛼 −sin 𝛼𝛼sin 𝛼𝛼 cos 𝛼𝛼 �
3. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemandirian belajar siswa dan hasil belajar siswa. Jenis penelitian dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang memiliki tujuan untuk menjelaskan situasi, fenomena, atau masalah dengan apa adanya (Arifin, 2011). Penelitian deskriptif dalam penelitian ini yaitu menjelaskan mengenai bagaimana hasil kemandirian dan hasil belajar peserta didik dengan berbantuan GeoGebra kemudian dideskripsikan sesuai dengan hasil yang dianalisis.
Kemudian, pendekatan dalam penelitian ini merupakan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang memperoleh data berupa angka dan data yang terukur secara tepat (Sugiyono, 2011). Data kuantitatif yang diperoleh berasal dari skor hasil tes dan lembar angket kemandirian siswa. Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang memperoleh data dalam bentuk deskripsi atau penjelasan dari fenomena, persoalan atau permasalahan di lapangan (Ali, 2013). Adapun pendekatan kualitatif dengan menggunakan wawancara ketika mengerjakan soal tes.
14