• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIDAKTIKA PGRI, 7 (1), MEI 2021, ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DIDAKTIKA PGRI, 7 (1), MEI 2021, ISSN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA KOMPETENSI MENDESKRIPSIKAN LINGKUNGAN SEKOLAH

DALAM BENTUK KONSEP

MELALUI PENERAPAN METODE KERJA KELOMPOK PADA SISWA KELAS II SD NEGERI 2 KRAGAN

Sujud Subekti

*)

SD Negeri 2 Kragan

Kecamtan Kragan Kabupaten Rembang

*)e-mail: [email protected]

Abstrak

Pembelajaran Bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan lingkungan sekolah dalam bentuk konsep di kelas II semester gasal SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan tahun pelajaran 2019/2020 maseih menunjukkan hasil pembelajaran dan ketuntasan yang rendah. Hasil pembelajaran belum menunjukkan ketercapaian kompetensi. Hasil tes menunjukkan dari 14 siswa hanya 8 siswa yang tuntas atau sekitar 57,14%. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bahwa penerapan Kerja kelompok dapat dijadikan metode pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia kompetensi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam Bentuk Konsep siswa Kelas II Semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang tahun pelajaran 2019/2020. Setelah dilakukukan tindakan penelitian, diperoleh (1) nilai rata-rata hasil tes siklus I 67,64 dan ketuntasan 64,29 %, (2) nilai rata-rata hasil tes siklus II 76,43 dan ketuntasan 85,71 %. Dengan demikian nilai rata-rata dan ketuntasan terus meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Penerapan metode Kerja Kelompok dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia kompetensi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam Bentuk Konsep siswa Kelas II semester II SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang tahun pelajaran 2019/2020.

Kata kunci: Hasil belajar siswa, Metode Kerja Kelompok

1. Pendahuluan

Komunikasi menjadi kebutuhan manusia yang sekaligus tidak terpisahkan dalam kelangsungan hidup manusia.

Untuk dapat berkomunikasi diperlukan bahasa sebagai alat komunikasi. Dalam kehidupan modern seperti dewasa ini bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia, dan bukan sekedar isyarat atau bunyi yang tanpa lambang yang jelas seperti zaman prasejarah, yakni manusia baru dapat mengucapkan tetapi belum dapat menuangkan dalam tulisan.

Setelah manusia mengenal huruf atau aksara di samping ujaran yang didengar, wujud kongkrit bahasa berupa tulisan yang dapat dibaca. Oleh karena itu dalam kegiatan berbahasa dikenal empat keterampilan yaitu (1) kemampuan menyimak, (2) kemampuan berbicara, (3) kemampuan membaca, (4) kemampuan menulis.

Membaca merupakan faktor utama. Dengan membaca seseorang akan menemukan informasi dan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar dan sosial. Untuk memperoleh pengetahuan yang dibawa seseorang dituntut untuk memahami makna dan menemukan informasi.

Setiap keterampilan berbahasa itu erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur, kemudian pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa. kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca, dan menulis. Menyimak dan berbicara dipelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur empat.

Selanjutnya, setiap keterampilan itu erat pula berubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa.

Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin trampil seseorang berbahasa, semakin cerdas dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat di peroleh dan di kuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. (Tarigan, 2000:1).

Pada jenjang sekolah dasar keterampilan berbahasa diajarkan kepada peserta didik secara terpadu, karena setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa

(2)

seseorang mencerminkan pikirannya, sehingga efektivitas pembelajaran bahasa Indonesia akan ikut menentukan ketercapaian kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia.

Sebagai bentuk keterampilan, tidak layak dalam pembelajaran bahasa hanya disampaikan dengan ceramah.

Dalam upaya mengeksplorasi bakat dan kemampuan siswa dalam bahasa siswa dapat diberikan tugas sesuai kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran.

Sebagai keterampilan berbahasa, menulis dan membaca memiliki peran penting sejak manusia mengenal bahasa tulis atau disebut zaman sejarah. Sebuah tulisan dapat dijadikan sebagai bukti tertulis sekaligus sebagai sumber informasi. Oleh karena itu, aturan penulisan kata yang kemudian dirangkai menjadi kalimat harus dipahami, dimengerti dan diterapkan dalam pemakaian bahasa.

Aturan penulisan itu perlu disampaikan kepada peserta didik sedini mungkin, sehingga seiring perkembangan usia, peserta didik bukan saja memahami tetapi juga sudah dapat menerapkan aturan penulisan dalam bahasa tulis.

Dalam upaya mengenalkan dan membiasakan penerapan aturan bahasa tulis, pada jenjang kelas II sekolah dasar, peserta didik diharapkan dapat memiliki kompetensi penggunaan aturan bahasa tulis dengan mulai dapat menyusun atau merangkai kata menjadi kalimat. Kalimat adalah hasil rangkaian kata yang mengandung makna lengkap, selanjutnya kalimat akan membentuk paragraf yang dapat dibaca dan dipahami maknanya. Sesuatu yang dibaca dalam peristiwa tata bahasa disebut dengan bacaan atau konsep, namun muncul istilah lain yang disebut wacana, yakni rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat tersebut (Dardjowidjojo, dkk, 2008: 34).

Penerapan metode sebagai upaya memperbaiki pembelajaran siswa kelas II semester gasal SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan tahun pelajaran 2019/2020 untuk materi Pendeskripsikan Lingkungan dalam bentuk Konsep. Hasil pembelajaran belum menunjukkan ketercapaian kompetensi. Sebelum memastikan untuk dilakukan pembelajaran perbaikan dilakukan pembelajaran pra siklus perbaikan dan dilakukan tes pra siklus. Ternyata hasil tes prasiklus menunjukkan keuntasan yang jauh dari ketentuan, yakni dari 14 siswa hanya 8 siswa yang tuntas atau sekitar 57,14% padahal ketuntasan sekurang-kurangnya 85%.

Peserta didik kelas II sekolah dasar belum tentu semua dapat menguasai kompetensi menyusun konsep sederhana. Oleh karena itu, penulis berusaha memperbaiki pembelajaran dengan materi Pendeskripsian Lingkungan dalam bentuk Konsep, dengan mencoba menerapkan metode kerja kelompok dan mengkaji efektivitas metode pembelajaran tersebut. metode kerja kelompok yaitu metode pengajaran dimana siswa belajar dalam Pendeskripsikan Lingkungan dalam bentuk Konsep yang

memiliki tingkat kemampuan berbeda lalu melakukan analisis kalimat. Gambaran penerapan metode ini adalah (1) membentuk kelompok siswa yang hetrogen, (2) memberikan tugas untuk mengamati lingkungan sekitar sekolah dan mendeskripsikan secara tertulis, (3) guru membimbing siswa dalam mengamati lingkungan sekitar sekolah dan mendeskripsikan secara tertulis, (4) mengkonfirmasi hasil analisis kerja kelompok, (5) mengambil kesimpulan.

Dalam menyelesaikan tugas mengamati lingkungan sekitar sekolah dan mendeskripsikan secara tertulis, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Berdasarkan gambaran yang terurai di atas, peneliti melakukan pembelajaran perbaikan dengan mengambil judul Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Kompetensi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam Bentuk Konsep melalui Penerapan Metode Kerja kelompok pada Siswa Kelas II Semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan Kabupaten RembangTahun Pelajaran 2019/2020.

2. Materi dan Metode 2.1. Materi

Metode mengajar memiliki peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Soetomo (2003: 144) mengemukakan bahwa metode mengajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan pengajaran yang ingin ditentukan, sehingga semakin baik penyusunan metode mengajar semakin berhasillah pencapaian tujuan.

Penyusunan metode mengajar secara tepat dapat menumbuhkan minat siswa untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik, sehingga kreatifitas siswa akan muncul dan berkembang dengan baik pula. Namun sebaliknya, jika penyusunan metode mengajar ini kurang tepat, maka akan menjadi tidak bermakna bahkan dapat mematikan kreatifitas siswa.

Pemilihan metode mengajar sangat tergantung pada situasi dan kondisi pada saat guru mengajar. Tidak semua metode mengajar selalu tepat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Metode mengajar sangat banyak ragamnya, antara lain: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode pem-berian tugas, metode bermain peran, metode inkuiri, metode demontrasi, metode pemecahan masalah. Berbagai metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Dalam kegiatan belajar mengajar, penyusunan metode mengajar tidak lepas dari strategi belajar mengajar.

Bahkan makna strategi belajar mengajar lebih luas dibandingkan dengan makna metode mengajar. Slameto (2001: 90) menyebutkan, bahwa strategi adalah suatu rencana tentang cara-cara pendayagunaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektifitas dan

(3)

efisiensi (pengajaran). Dengan demikian di dalam strategi sudah terkandung unsur metode belajar mengajar, teknik mengajar, serta penyusunan alat-alat bantu mengajar atau media pembelajaran. Penerapan strategi perlu didisain dalam bentuk Metode pembelajaran. Metode pembelajaran adalah suatu disain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lungkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan diri siswa.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah cara penyampaian materi dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang ditentukan disertai dengan langkah-langkah pembelajaran. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, metode pembelajaran menyangkut efektivitas kegiatan belajar mengajar yang akan dilaksanakan dan penentuan metode, untuk selanjutnya ditentukan, metode yang dianggap paling tepat digunakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pemilihan terhadap alternatif-alternatif metode dalam lingkup Metode pembelajaran didasarkan pada kondisi sekolah dan lingkungannya, fasilitas yang tersedia, materi pelajaran, dan kondisi siswa, baik secara individu maupun secara kelompok, sehingga akan memberikan jaminan bahwa Metode pembelajaran yang ditentukan dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi yang diprogramkan dalam kurikulum.

Kerja kelompok merupakan metode yang sudah dikenal dalam pembelajaran. Perbaikan pembelajaran bukan berarti menggunakan metode yang langka atau mungkin metode dan pendekatan yang belum pernah dikenal oleh tenaga pendidik, tetapi yang penting diarahkan agar siswa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar yang meningkat. Istilah ‘kerja kelompok’ terdiri dari dua kata, yakni kerja dan kelompok. Willie Wijaya (2017) mengartikan istilah kerja sebagai kemampuan melakukan usaha atau dalam istilah eksak disebut energi.

Kelompok mengandung arti kumpulan yang terdiri dari dua orang atau lebih. Oleh karena itu, kerja kelompok dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh dua orang lebih.

Dalam hal ini, Hasibuan dan Moedjiono (2006: 10) mendefinisikan mengajar sebagai penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran terjadi saling mempengaruhi antara tujuan, guru, siswa, materi, jenis kegiatan yang dilakukan, dan sarana pembelajaran dalam suatu sistem lingkungan. Tujuan pembelajaran dan materi pelajaran ditentukan berdasarkan kompetensi dan diarahkan kepada tercapainya kompetensi oleh siswa. Untuk mencapai kompetensi dilaksanakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa dengan suatu metode. Metode yang dipilih guru diterapkan dengan melakukan serangkaian langkah.

Metode kerja kelompok dalam penelitian ini dapat diterapkan dengan langkah-langkah:

1) Membentuk kelompok siswa yang hetrogen;

2) Guru mengajak siswa melakukan pengamatan di lingkungan sekitar sekolah;

3) Kelompok siswa melakukan pengamatan lingkungan sekitar sekolah dan menyusun konsep dalam wujud beberapa kalimat berdasarkan sesuatu yang telah diamati;

4) Guru membimbing siswa dalam pendeskripsian lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep;

5) Guru bersama siswa mengkonfirmasi kalimat yang telah tersusun;

6) Guru mengambil kesimpulan bersama siswa.

2.2. Metode

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yakni sebuah inquiri yang bersifat reflektif mandiri yang dilakukan oleh guru secara partisipan dalam kependidikan dengan maksud untuk meningkatkan kemantapan rasionalitas dari (a) praktek-praktek sosial maupun kependidikan, (b) pemahaman terhadap praktek-praktek tersebut, dan (c) situasi pelaksanaan praktek-praktek pembelajaran. Sedangkan sesuai tinjauan Metodologis penelitian tindakan kelas diartikan sebagai suatu kegiatan sirkulistik yang bersifat menyeluruh, terdiri dari analisis, penemuan fakta, konseptualisasi, perencanaan, pelaksanaan, penemuan fakta tambahan, dan evaluasi.

Bila digabungkan kedua definisi diatas akan diperoleh suatu batasan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang atau bersifat sirkulistik dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi kependidikan melalui penelitian.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang, pada Kelas II yang berjumlah 14 siswa. Tingkat kemampuan siswa rata-rata berada pada tingkat yang normal, tidak ada yang berada di atas atau di bawah normal. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan bulan Juli – Desember 2019, dengan pengumpulan data melalui perbaikan pembelajaran dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2019 dengan rincian sebagai berikut:

1) Hari Sabtu, 14 September 2019 pelaksanaan Prasiklus 2) Hari Sabtu, 28 September 2019 pelaksanaan Siklus I 3) Hari Sabtu, 12 Oktober 2019 pelaksanaan Siklus II Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif. Secara garis besar kegiatan analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menelaah seluruh data yang dikumpulkan.

Penelaahan dilakukan dengan cara menganalisis, mensintesis, memaknai, menerangkan, dan membuat kesimpulan. Kegiatan penelaahan pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal penjaringan data.

2) Mereduksi data yang didalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Hasil yang

(4)

diperoleh dapat berupa pola-pola dan kecenderungan- kecenderungan yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran dengan kerja kelompok.

3) Menyusun keterkaitan atau pengaruh dari kerja kelompokdengan aktifitas dan hasil belajar siswa.

4) Menyusun kesimpulan dari keterkaitan atau pengaruh yang ada.

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu.

Teknik analisis data kualitatif digunakan untuk menganalisis data non tes. Data kualitatif ini diperoleh dari data angket, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data kualitatif digunakan selama dan setelah pengumpulan data mengikuti siklus yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas. Teknik data kualitatif ini juga dapat dilakukan untuk mendeskripsikan permasalahan dan proses pembelajaran materi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam Bentuk Konsep.

Hasil dari analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes siswa yang berupa angka. Nilai hasil tiap-tiap tes dihitung jumlahnya dalam satu kelas (∑N) kemudian dihitung dalam persentase dengan menggunakan

Persentase kompetensi materi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam bentuk konsep

Kalimat

Keterangan :

∑N = jumlah nilai dalam satu kelas n = nilai maksimal soal tes

s = banyaknya siswa dalam satu kelas

Teknik analisis data kuantitatif dilakukan pada akhir pembelajaran setelah diberikan tes materi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam Bentuk Konsep dengan berpedoman pada ejaan dan susunan kalimat. Hasil presentase kemampuan siswa tiap- tiap tes kemudian dibandingkan antara pra siklus, siklus pertama, dan siklus kedua. Peneliti akan mengukur kompetensi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam Bentuk Konsep, sehingga dapat diketahui nilai rata-rata kemampuan siswa dalam materi Mendeskripsikan Lingkungan sekitar Sekolah dalam bentuk konsep

3. Hasil dan Pembahasan 3.2. Deskripsi Kondisi Awal

Perencanaan perbaikan pembelajaran penulis laksanakan sebagai dasar untuk menentukan langkah perbaikan pembelajaran. Perencanaan ini dilakukan dengan pengumpulan data lewat wawancara dan tes prasiklus kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep pada siswa kelas II semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kabupaten Rembang tahun pelajaran 2019/2020. Dalam tahap ini peneliti melakukan serangkaian kegiatan:

1) Melakukan wawancara dengan siswa tentang kesulitan dalam kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep;

2) Menyiapkan materi tentang mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep;

3) Merancang langkah-langkah penbelajaran;

4) Menentukan indikator ketercapaian, yakni pembelajaran klasikal dinyatakan tuntas apabila ≥ 85% dari jumlah siswa memperoleh nilai ≥ 65 atau daya serap 65 %.

Berdasarkan hasil tes prasiklus diperoleh data nilai tertinggi 86, nilai terendah 45, nilai rata-rata 63,29, siswa yang telah mencapai ketuntasan 8 siswa dari 14 siswa atau 57,14 %. Data tersebut menunjukkan perlunya dilakukan pembelajaran perbaikan pada kompetensi Mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep, karena hasil tes prasiklus menunjukkan bahwa pembelajaran kompetensi Mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep belum tuntas, karena dinyatakan tuntas bila sudah mencapai ketuntasan 85%.

3.3. Deskripsi Tiap Siklus 3.3.1. Deskripsi Siklus I

a. Perencanaan Tindakan Siklus I

Hasil pembelajaran prasiklus perbaikan dan hasil tes prasiklus menunjukkan masih jauh dari indikator ketuntasan, sehingga perlu dilakukan perbaikan pembelajaran. Perbaikan pembelajaran sebagai siklus I diawali dengan Perencanaan dalam siklus I, yakni diawali dengan penyusunan Rencana Perbaikan Pembelajaran dengan lebih dahulu memperhatikan hasil uji kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep prasiklus siswa kelas II semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kabupaten Rembang tahun pelajaran 2019/2020.

Dalam tahap perencanaan ini peneliti melakukan serangkaian kegiatan:

1) Mengidentifikasi masalah dan mengontrol kesiapan siswa;

2) Menyiapkan materi dan sumber materi tentang mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep;

(5)

3) Merancang langkah-langkah penbelajaran dengan penerapan metode kerja kelompok, langkah- langkah ini terpapar dalam rencana perbaikan pembelajaran;

4) Menentukan indikator ketercapaian, yakni pembelajaran klasikal dinyatakan tuntas apabila ≥ 85%dari jumlah siswa memperoleh nilai serendah- rendahnya 65 atau daya serap 65 %.

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Pada tahap ini pembelajaran dengan metode kerja kelompok team dilaksanakan dengan kegiatan sebagai berikut:

1) Kegiatan pra-KBM, yakni;

a) Menyiapkan perangkat pembelajaran;

b) Menyiapkan sumber bahan;

c) Menyiapkan lembar penilaian.

2) Kegiatan inti selama 2 x 70 menit sebagai berikut:

a) Mengabsen siswa;

b) Membagi siswa dalam empat kelompok berdasarkan kompetensi akademiknya.

c) Membimbing siswa dalam kelompok sesuai dengan metode kerja kelompok;

d) Presentase dan konfirmasi hasil pengerjaan tugas oleh kelompok siswa dan guru;

e) Melaksanakan tes akhir siklus I (pada pertemuan berikutnya selama 70 menit).

c. Observasi Siklus I

Pada tahap ini, data yang berupa nilai-nilai hasil tes akhir siklus I diorganisir dan diolah dalam tabel Tabel 1. Nilai Hasil Tes Siklus I

No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum Tuntas Keterangan

1 Ahmadina Ihsanudin 80 v

1. Nilai tertinggi 90 2. Nilai terendah 44 3. Nilai rata-rata 67,64 4. Jumlah siswa 14 5. Jumlah siswa yang

telah tuntas belajar 9 siswa atau 64,29 % 6. Jumlah siswa yang

belum tuntas belajar 5 siswa atau 35,71 % 7. Pembelajaran belum

tuntas

2 Afina Damayanti 90 v

3 Ahmad Labib Murtaqi 48 v

4 Cika Noviana 72 v

5 Dwi Sagita 44 v

6 Fahril Maulana Abraham 57 v

7 Fairuz Dwi Putra Mayda 56 v

8 Fika Febriyani 57 v

9 Kamilah Fauziyah 86 v

10 Lawrence Ivander Prasetyo 71 v

11 Rizki Imam Gunuri 67 v

12 Sabrina Nur Oktaviani 71 v

13 Setyo Budi Utomo 65 v

14 Sitiara Niswatul Amiria 83 v

Jumlah 947

Rata-rata 67,64

Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran siklus I dan dilakukan tes, maka diperoleh data nilai tertinggi 90, nilai terendah 44, nilai rata-rata 67,64, siswa yang telah mencapai ketuntasan 9 siswa dari 14 siswa atau 64,29 %. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata telah mencapai KKM yang ditentukan, yakni 65 bahkan terlampaui. Akan tetapi, ketuntasan klasikal belum tercapai karena dari 14 siswa, baru 9 siswa yang telah tuntas, sehingga masih jauh dari indikator ketuntasan klasikal, yakni 85%. Dengan memperhatikan hasil pembelajaran dan tes siklus I maka dipandang perlu dilakukan pembelajaran

perbaikan pada kompetensi Mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep untuk kedua kalinya. Nilai-nilai yang diperoleh dalam siklus I memberikan gambaran sebagai berikut:

1) nilai tertinggi pada prasiklus 86 pada siklus I menjadi 90;

2) nilai terendah pada prasiklus 40 pada siklus I menjadi 44;

3) nilai rata-rata pada prasiklus 63,29 pada siklus I menjadi 67,64;

4) ketuntasan pada prasiklus 57,14 pada siklus I menjadi 64,29%

d. Refleksi Tindakan Siklus I

Hasil tes akhir tersebut memberikan gambaran bahwa pembelajaran materi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep belum tuntas, karena rata-rata nilai tes akhir siklus I belum mencapai KKM mata pelajaran Bahasa Indonesia, yakni 65 demikian juga ketuntasan belajar baru mencapai 73,33

% padahal sesuai indikator ketercapaian ketuntasan harus mencapai 85%. Oleh karena itu, masih perlu dilanjutkan dengan pembelajaran perbaikan siklus II

3.3.2. Deskripsi Siklus II

a. Perencanaan Tindakan Siklus II

Perencanaan dalam siklus II sama dengan siklus I, yakni diawali dengan penyusunan Rencana Perbaikan Pembelajaran dengan lebih dahulu memperhatikan hasil uji kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep siklus I siswa kelas II semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kabupaten Rembang tahun pelajaran 2019/2020.

Dalam tahap perencanaan ini peneliti melakukan serangkaian kegiatan:

1) Kembali mengidentifikasi masalah dan kembali mengontrol kesiapan siswa;

2) Menyiapkan materi tentang mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep;

3) Merancang langkah-langkah penbelajaran dengan penerapan metode kerja kelompok, langkah- langkah ini terpapar dalam rencana perbaikan pembelajaran;

4) Menentukan indikator ketercapaian, yakni pembelajaran klasikal dinyatakan tuntas apabila ≥ 85%dari jumlah siswa memperoleh nilai ≥ 65 atau daya serap 65 %.

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Pada tahap ini pembelajaran dengan metode kerja kelompok team dilaksanakan dengan kegiatan sebagai berikut:

1) Kegiatan pra-KBM, yakni;

a) Menyiapkan perangkat pembelajaran;

b) Menyiapkan sumber bahan;

c) Menyiapkan lembar penilaian.

2) Kegiatan inti selama 70 menit sebagai berikut:

a) Mengabsen siswa;

(6)

b) Meminta siswa untuk bergabung kembali dengan kelompoknya;

c) Membagikan tugas untuk materi pendeskripsian lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep;

d) Meminta siswa untuk mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep bersama kelompoknya;

e) Membimbing siswa dalam kelompok dalam pendeskripsian lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep;

f) Presentase dan konfirmasi hasil kerja setiap kelompok;

g) Melaksanakan tes akhir siklus II (pada pertemuan berikutnya selama 70 menit).

c. Observasi Siklus II

Pada tahap ini, data yang berupa nilai-nilai hasil tes akhir siklus II diorganisir dan diolah dalam tabel 2 Tabel 2, Nilai Hasil Tes Siklus II

No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum Tuntas Keterangan

1 Ahmadina Ihsanudin 90 v

1. Nilai tertinggi 100 2. Nilai terendah 53 3. Nilai rata-rata 76,43 4. Jumlah siswa 14 5. Jumlah siswa yang

telah tuntas belajar 12 siswa atau 85,71 % 6. Jumlah siswa yang

belum tuntas belajar 2 siswa atau 14,29 7. Pembelajaran telah

tuntas

2 Afina Damayanti 100 v

3 Ahmad Labib Murtaqi 56 v

4 Cika Noviana 82 v

5 Dwi Sagita 53 v

6 Fahril Maulana Abraham 67 v 7 Fairuz Dwi Putra Mayda 65 v

8 Fika Febriyani 67 v

9 Kamilah Fauziyah 96 v

10 Lawrence Ivander Prasetyo 81 v

11 Rizki Imam Gunuri 67 v

12 Sabrina Nur Oktaviani 81 v

13 Setyo Budi Utomo 69 v

14 Sitiara Niswatul Amiria 96 v

Jumlah 947 1070 12

Rata-rata 67,64 76,43

Sebagai tindak lanjut hasil perbaikan pembelajaran siklus I, maka perbaikan pembelajaran siklus II.

Setelah dilakukan perbaikan siklus II dan dilakukan tes akhir siklus II diperoleh data nilai tertinggi 100, nilai terendah 53, nilai rata-rata 76,43, siswa yang telah mencapai ketuntasan 12 siswa dari 14 siswa atau 85,71 %. Data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran perbaikan pada kompetensi Mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep siklus II telah mencapai ketuntasan, karena hasil tes siklus II menunjukkan bahwa pembelajaran kompetensi Mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep ketuntasan 85,71 %, yang secara nyata peningkatan nilai seperti berikut ini:

1) nilai tertinggi pada siklus I 90 pada siklus II menjadi 100;

2) nilai terendah pada siklus I 44 pada siklus II menjadi 53;

3) nilai rata-rata pada siklus I 67,64 pada siklus II menjadi 76,43;

ketuntasan pada siklus I 64,29% pada siklus II menjadi 85,71%

d. Refleksi Tindakan Siklus II

Nilai rata-rata 76,43 atau daya serap 76,43 %, dan siswa telah tuntas belajar secara klasikal sebanyak 12 siswa dari 14 siswa atau 85,71%. Apabila dibandingkan dengan hasil tes kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep siklus I maka hasil ini sudah menunjukkan peningkatan, karena nilai rata-rata siklus I 67,64, sehingga nilai meningkat 8,79 atau 13%, jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat 3 siswa (12 siswa – 9 siswa) atau 33,33%. Hasil tes akhir siklus II sudah mencapai KKM dan telah mencapai ketuntasan secara klasikal, meskipun masih terdapat dua siswa yang belum mencapai ketuntasan. Oleh karena itu, ketuntasan yang telah tercapai harus tetap perlu dipertahankan dan ditingkatkan, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan perlu diupayakan agar para siswa tersebut dapat mencapai ketuntasan belajar untuk kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep.

3.4. Pembahasan

Pembahasan hasil perbaikan pembelajaran didasarkan pada nilai-nilai yang diperoleh dari prasiklus, siklus I dan siklus II yang dilengkapi juga dengan hasil analisis pada nilai tertinggi, nilai terendah, nilai rata-rata dan tingkat ketuntasan. Berdasarkan hasil-hasil tersebut, peningkatan hasil tes, ketuntasan belajar dan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran materi kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep dapat diketahui. Selanjutnya peningkatan hasil tes, dan ketuntasan belajar berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran dipaparkan dalam tabel 4 sebagai tabel analisisnya.

Tabel 3. Analisis Peningkatan Hasil Tes Aspek

Analisis Siklus Peningkatan

Prasiklus I II I II

Nilai Tertinggi 86 90 100 4 10

Nilai Terendah 40 44 53 4 9

Nilai Rata-rata 63,29 67,64 76,43 4,35 8,79 Ketuntasan (%) 57,14 64,29 85,71 7,15 21,42

Hasil analisis dalam tabel 4 tersebut memberikan gambaran bahwa metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia untuk kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep pada siswa kelas II semester Gasal SD Negeri 2 Kragan tahun pelajaran 2019/2020.

Analisis berikutnya dilakukan terhadap data hasil pengamatan yang menggambarkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan metode kerja kelompok kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep.

Analisis ini dilakukan dengan mendasarkan ketentuan bahwa Skor nilai untuk minat siswa dikategorikan nilai A

(7)

skor 4, nilai B skor 3, nilai C skor 2 dan nilai D skor 1.

Jumlah responden yang diteliti 14 siswa, maka skor maksimal yang bisa diperoleh seorang siswa adalah 3 x 4

= 12. Hasil analisis minat siswa disajikan dalam tabel 4.

Tabel 4. Hasil Pengamatan Minat Siswa dalam proses Pembelajaran

Siklus Aspek

Keaktifan A Jumlah Reponden B C D Jumlah

Pra siklus Keaktifan 8 2 4 - 14

Kerjasama 7 2 5 - 14

Kedisiplinan 10 2 2 - 14

Jumlah 25 6 11 - 42

I Keaktifan 10 3 1 - 14

Kerjasama 10 3 1 - 14

Kedisiplinan 11 2 1 - 14

Jumlah 31 8 3 - 42

II Keaktifan 12 2 - - 14

Kerjasama 12 2 - - 14

Kedisiplinan 13 1 - - 14

Jumlah 37 5 - - 42

Jumlah seluruhnya 93 19 14 - 126

Jika ditelaah maka nampak bahwa skor yang menunjukkan minat siswa senantiasa mengalami kenaikan dari setiap siklusnya, yakni pada jawaban A dan jawaban B, A = sangat tinggi, B = tinggi. Sedangkan jawaban C dan jawaban D nampak semakin menurun dari siklus I hingga siklus II, C = rendah dan D = sangat rendah.

Kategori A dan B semakin meningkat sementara kategori C semakin berkurang. Dengan demikian minat siswa dalam pembelajaran kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep dengan metode kerja kelompok dikategorikan tinggi dan sangat tinggi.

Dari data yang tersajikan dalam tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai/skor yang menunjukkan minat siswa mengikuti pembelajaran kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep, dari masing-masing aspek setiap siklus mengalami kenaikan, sehingga diperoleh nilai/skor yang termasuk kategori tinggi dan sangat tinggi.

Selain itu berdasarkan hasil analisis nilai rata-rata dan ketuntasan belajar diperoleh gambaran bahwa metode kerja kelompok team dapat meningkatkan hasil belajar kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep beserta minat belajar siswa kelas II semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kabupaten Rembang tahun pelajaran 2019/2020.

Dengan memperhatikan pada hasil pembelajaran perbaikan siklus II diperoleh gambaran bahwa beberapa masalah yang muncul pada siklus-siklus sebelumnya sudah dapat diatasi. Dan hasil tersebut menunjukkan bahwa metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep.

Selanjutnya hasil penelitian ini dapat dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian tindakan kelas.

4. Simpulan

Melalui serangkaian kegiatan penelitian, data telah terkumpul dan dianalisis sesuai dengan teknik yang telah ditentukan. Berdasarkan data yang terkumpul dan hasil analisisnya dapat dismpulkan bahwa:

a) Hasil belajar Bahasa Indonesia kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep siswa Kelas II semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang Tahun Pelajaran 2019/2020 sebelum penerapan Metode kerja kelompok team rendah.

b) Penerapan kerja kelompok team dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia kompetensi mendeskripsikan lingkungan sekitar sekolah dalam bentuk konsep siswa Kelas II semester Gasal SD Negeri 2 Kragan Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang tahun pelajaran 2019/2020.

Referensi

Dardjowidjojo, Soenjono,dkk. 2008. Tata Bahasa baku Bahasa Indonesia. Jakarata: PT Balai Pustaka.

Hasibuan, J.J. dan Moedjiono. 2006. Proses Belajar Mengajar.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution. S. 2002. Dasar-dasar pembelajaran. Bandung:

Angkasa.

Slameto. 2001. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Soetomo. 2003. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar.

Surabaya: Usaha Nasional.

Tarigan, Henry Guntur. 2000. Menulis sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Wijaya, Willie. 2017. Kamus Lengkap 500 Milyar Inggris- Indonesia Indonesia-Inggris. Semarang: Widya Karya.

--- 2016. Peraturan Meneri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

--- 2016. Peraturan Meneri Pendidikan dan Kebuayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan nilai moral dan karakter bangsa dapat dilakukan dengan cara memberikan ilmu pengetahuan, dan mengutamakan moral, karakter,

[r]

No Kode Atribut Pertanyaan Kategori IPA Kategori Kano Perbaikan 1 RS1 Kecepatan petugas dalam menangani keluhan pelanggan Prioritas Utama M Ditingkatkan 2 T10

abu ampas tebu dengan campuran HRS-WC memenuhi persyaratan memenuhi persyaratan dalam Spesifikasi Umum Bina Marga 2010, sebagai bahan alternatif pengganti filler abu

Hasil penelitian pada tahun 2012 menunjukkan bahwa wilayah penelitian memiliki daya dukung lahan yang cukup luas, dengan potensi pertanian-peternakan yang cukup tinggi;

Rubin, eds., Human Rights and Legal History (Oxford: Oxford University Press, 2000) 29, Bijon Roy, “An Empirical Survey of Foreign Jurisprudence and International Instruments