• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Bimbingan Kelompok dengan Teknik Modeling terhadap Peningkatan Empati Mahasiswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Dampak Bimbingan Kelompok dengan Teknik Modeling terhadap Peningkatan Empati Mahasiswa"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Diterima: Agustus 2020. Disetujui: Oktober 2020. Dipublikasikan: Desember 2020 23

Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Volume 1 Nomor 1 (2020) 23-36 http://jurnal.iais.ac.id/index.php/ihtisab Fakultas Dakwah, Institut Agama Islam Sukabumi

Dampak Bimbingan Kelompok dengan Teknik Modeling terhadap Peningkatan

Empati Mahasiswa

Erni Johan1*, Pemil Nurhadi2 & Siti Aisyah3

1Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah, Institut Agama Islam, Sukabumi

2Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah, Institut Agama Islam, Sukabumi

* email: [email protected] ABSTRACT

This study aimed to explore the effects of group guidance by using modeling technique to improve the student empathy from Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS). The purpose of this study is to investigate the effects of modeling technique for group. The experimental method is used in this study with pretest and multiple post-test group that involves the research subject as many as 7 who students with analysis of repeated oneway ANOVA test. The results showed that the group guidance by using modeling technique can improve the student empathy. Understanding about the mechanisms, knowledge and experiences of empathy are basic for helping the students guidance and counseling who have a social behaviors for doing effective intervention.

Keywords: Empathy, Modeling Technique, Student ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi efek bimbingan kelompok, dengan teknik modeling untuk meningkatkan empati mahasiswa bimbingan dan konseling Islam Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS). Metode penelitian yang digunakan eksperimen, desain pretest and multiple posttest design dengan melibatkan subjek penelitian sebanyak 7 orang dengan analisis uji repeated one way ANOVA. Hasil menunjukkan bahwa bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik modeling mampu meningkatkan empati mahasiswa. Pemahaman tentang mekanisme, pengetahuan serta pengalaman empati merupakan dasar dalam membantu mahasiswa bimbingan dan konseling dengan gangguan kognisi dan perilaku sosial yang memungkinkan untuk pelaksanaan intervensi yang efektif.

(2)

24 Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36

Kata Kunci: Empati, Tehnik Modeling, Mahasiswa PENDAHULUAN

Empati merupakan salah satu alternatif pemecahan yang harus dikembangkan oleh mahasiswa. Menurut Watson dkk (1984: 290) kemampuan empati adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami emosi, pikiran, serta sifat orang lain. Rogers (dalam Gladding, 2012) menjabarkan sebagai kemampuan individu untuk masuk kedalam dunia fenomenal orang lain dan merasakan sebagaimana yang dirasakan dan dialami oleh orang lain tanpa kehilangan identitasnnya sendiri.

Kemampuan tersebut berupa respon emosional yang sangat menyerupai respon emosional orang lain (Eisenberg dkk, 1994: 776).

Empati merupakan salah satu hal penting yang perlu ditingkatkan sebagai kemampuan untuk merasakan atau membayangkan perasaan emosi orang lain. Adanya empati akan berdampak pada sikap individu terhadap orang lain dan hubungannya pada lingkungan yang lebih luas. Dengan adanya empati dapat mendorong orang untuk bertindak memberi bantuan, menjadikan seseorang lebih altruism dan bermoral, serta dapat merasakan kesengsaraan orang lain dan kemampuan untuk meringankannya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ishak dkk (2013) mengungkapkan bahwa semua dimensi keterampilan sosial berkorelasi positif dengan empati sehubungan dengan pemberian konseling untuk individu yang berbakat. Perilaku sosial dimana kehadiran empati tidak diragukan lagi sebagai indikator saling membantu. Pertama, individu- individu yang baik dalam mengambil perspektif, melihat dan mengakui perasaan dari sudut pandang orang lain akan membantu menjauhkan dari

(3)

Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36 25

konflik sosial. Ataupun tidak terjadi konflik mereka mampu mengelolanya.

Kedua, empati cenderung menghasilkan komunikasi yang baik, lebih akurat dan lebih konstruktif. Ketiga, empati membuat orang lebih baik budi, perhatian dan cenderung bijaksana. Dan terakhir keempat, para empatisan yang baik cenderung mengevaluasi hubungan-hubungan mereka secara positif (Davis, 1994; Howe 2015).

Empati yang dilakukan dengan baik dan akurat dalam proses bimbingan dan konseling dapat memberikan pemahaman dasar apa yang dirasakan klien dan pengalaman yang melandasi perasaan mereka serta dapat membangun hubungan konseling. Mahasiswa yang memiliki empati dalam kategori tinggi dapat memahami masalah yang dihadapi mahasiswa lain secara lebih baik, dengan adanya empati yang memadai, maka mahasiwa memiliki kemampuan mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik, menerima sudut pandang orang lain, dan peka terhadap perasaan orang lain. Jika mahasiswa memiliki kesadaran diri, semakin terbuka kepada emosi diri, maka semakin mampu membaca perasaan orang lain dan jika empatinya rendah maka mahasiswa tersebut akan memiliki perilaku cuek, mementingkan diri sendiri (egois), serta tidak khawatir pada kondisi krisis pada orang lain.

Salam (2013) mengatakan bahwa berbagai bentuk kekerasan dan konflik yang terjadi belakangan ini merupakan akibat minimnya empati di masyarakat indonesia. Kebanyakan orang tidak lagi mau mencoba untuk memahami perasaan dan memposisikan diri diposisi orang lain. Rendahnya empati dapat diamati melalui sikap perilaku yang ditampakan oleh

(4)

26 Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36

mahasiswa dalam berinteraksi dengan orang lain dilingkungannya sosial, baik lingkungan rumah (masyarakat), maupun lingkungan kampus.

Kampus merupakan tempat dimana mahasiswa bimbingan dan konseling Sebagai calon konselor melaksanakan tugas-tugas kuliah, mahasiswa bimbingan dan konseling juga dituntut untuk dapat (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan kerangka teoretik bimbingan dan konseling, (3) dapat menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan (ABKIN: 2009).

Dalam penelitian IKIZ (2009) mengatakan bahwa empati mahasiswa dapat ditingkatkan dalam proses training dan pelatihan yang teratur dan untuk memperkuat penelitian tersebut dalam riset yang dilakukan Ohrt (2010) mengatakan bahwa empati meningkat setelah diberikan intervensi dan pelatihan pada kelompok mahasiswa pascasarjana dan kelompok konselor berpengalaman dan hasilnya dalam pengembangan empati meningkat setelah diberikan post-test baik pada empati kognitif maupun empati afektif.

Penelitian empatipun terdapat penelitian yang menolak kefektifan dalam meningkatkan empati dilakukan oleh Yigitera & Kurub (2014) mengatakan bahwa tingkat keterampilan empati mahasiswa tidak berbeda antara kelompok perenang dan non-perenang pada mahasiswa baik sebelum diberikan pre-test maupun setelah diberikan post-test pada kelompok yang diberikan intervensi.

(5)

Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36 27

Berdasarkan hasil temuan penelitian dan gap teori serta pendapat para ahli di atas, maka dalam hal ini calon konselor/Mahasiswa dituntut untuk dapat mengkomunikasikan dan mengekplorasi empati yang dapat menunjang kinerja yang optimal. Memiliki kompetensi dan kepribadian yang mendukung dalam memberikan pelayanan kepada siswanya. Salah satu intervensi yang bisa digunakan untuk meningkatkan empati pada mahasiswa adalah dengan teknik modeling.

Modeling ialah belajar melalui observasi dengan menambahkan atau mengurangi tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif. Dalam kehidupan sehari-hari banyak perilaku individu terbentuk sebagai hasil dari peniruan dari model/contoh. Individu-individu termasuk anak yang telah memandang model (orang lain) yang murah hati akan menjadi orang yang murah hati dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memandang model prososial. Modeling adalah belajar dengan mengamati, menirukan, dengan menambahkan atau mengurangi tingkah laku yang teramati.

Modeling dilakukan oleh perilaku seseorang individu atau kelompok (model) sebagai stimulus terjadinya pikiran, sikap, dan perilaku yang serupa di pihak pengamat.

Modeling dapat digunakan untuk mengajarkan banyak macam keterampilan kepada klien. Secara umum live modeling tampaknya lebih efektif dalam mengajarkan keterampilan personal dan sosial, sementara itu, symbolic modeling kognitif. Video modeling dan video live-modeling telah digunakan dengan sukses pada individu-individu yang memiliki disabilitas

(6)

28 Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36

perkembangan pada masalah-masalah externalizing (mengarah keluar diri), seperti prilaku disruptif atau agresif (Green et al., Bradley, 2015).

Modeling adalah belajar dengan mengamati, menirukan, dengan menambahkan atau mengurangi tingkah laku yang teramati. Modeling dilakukan oleh perilaku seseorang individu atau kelompok (model) sebagai stimulus terjadinya pikiran, sikap, dan perilaku yang serupa di pihak pengamat. Teknik modeling dapat dilakukan melalui bimbingan kelompok maupun klasikal, maka dari itu dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan bimbingan kelompok.

Berdasarkan kajian dan kesenjangan riset di atas menunjukan teknik modeling efektif untuk meningkatkan perilaku prososial individu sehingga menjadi landasan bagi peneliti untuk melakukan penelitian dengan teknik modeling (multiple model) melalui live model/model langsung dan symbolic model melalui video agar mahasiswa mengarah pada perilaku yang baru dan dapat direpresentasikan secara simbolis dalam ingatan dan teraplikasi dengan perilaku berempati.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini mengaplikasikan model rancangan eksperimen repetead measure eksperiment dengan desain pretest and multiple posttest design (pra dan pasca perlakuan), Dalam rancangan repetead measure, seluruh partisipan dalam suatu kelompok tunggal berpartisipasi di semua pengukuran eksperimental, dimana setiap kelompok menjadi kontrolnya sendiri. Desain pretest and multiple posttest design, pemberian posttest dilakukan berulang yang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan beberapa titik data dari

(7)

Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36 29

waktu ke waktu untuk mempelajari laju perubahan dari perlakuan yang diberikan (Edmonds, 2013).

Pada kelompok eksperimen, diberikan intervensi berupa bimbingan kelompok dengan teknik modeling. peserta yang terlibat pada pretest 76 mahasiswa pada angkatan 2016-2017. Penggunaan teknik purposive Sampling dilakukan untuk memilih subjek penelitian dengan kriteria mahasiswa yang memiliki tingkat empati yang rendah, sehingga terpilih 7 orang dalam satu kelompok.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan alat ukur Skala empati. Skala empati terdiri dari 40 aitem dengan aitem gugur 4. Hasil uji instrumen, aitem empati dinyatakan valid (rentang rxy: 0.370-0.662) dengan koefisien alpa sebesar 0.912 (skala empati). Data yang didapatkan kemudian di analisis menggunakan uji one- way ANOVA for repeated measures.

Pretest

Bimbingan Kelompok menggunakan teknik modeling

Posttest 1

Posttest 2

Gambar 1. Tahapan Penelitian

(8)

30 Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36

HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Penelitian

Hasil pretest terhadap 7 subyek penelitian sebelum pemberian bimbingan kelompok diperoleh nilai rata-rata skor empati mahasiswa sebesar 92,7. Setelah dilakukan bimbingan kelompok, hasil posttest1 diperoleh nilai rata-rata 104 dan hasil postest2 diperoleh nilai rata-rata menjadi 124. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan empati setelah diberikan bimbingan kelompok. Data empati mahasiswa pretest, postest1 dan postest2 apabila digambarkan dalam bentuk grafik diperoleh visualisasi sebagai berikut :

Gambar.2 Visualisasi pretest, posttest1 dan postest2 subjek penelitian

Hasil analisis dengan repeated one way ANOVA menunjukan bahwa bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik modeling efektif meningkatkan empati pada mahasiswa berdampak pada aspek empati (F (2,12) = 118.272, p < 0.01).

0 500 1000

postest2 posttest1 pretest

(9)

Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36 31

Tabel 1. Hasil Uji Hipotesis Empati Mahasiswa BK FIP Angkatan 2016-2017

Uji

Hipotesis Pretest Posttest1 Posttest2 F (2, 14) Empati M 92,71 104,00 124,00 118.272

***

SD 6.157 2.160 2.160 Keterangan:* p > 0,01 * *p > 0,05 *** p< 0,01

Selanjutnya keefektifan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik modeling mengalami peningkatan skor empati secara signifikan untuk keseluruhan anggota kelompok. maka dapat disimpulkan bahwa empati efektif dengan teknik modeling disebabkan mahasiswa/individu memiliki hubungan kausalitas dan berkombinasi dengan lingkungan, perilaku sebelumnya, dan variabel pribadi lainnya terutama ekspektasi akan hasil, untuk menghasilkan perilaku model maka dalam hal ini jeda waktu dua minggu memungkinkan individu mengalami peningkatan dalam perilaku sosialnya.

Tabel 2. Pairwise Comparisons Empati Mahasiswa BK Angkatan 2016-2017

Pairwise

Comparisons Perbandingan MD SE p

Empati Pretest-Posttest1 -11.286* 2. 179 .006 Pretest-Posttest2 -31.286* 2.514 .000 Posttest1 Posttest2 -20.000* 1.291 .000

Dari hasil penyebaran skala angket empati pada mahasiswa bimbingan dan konseling, data hasil penelitian mengindikasikan profil empati mahasiswa memiliki kecenderungan pada tingkat rendah dan sedang. Hal

(10)

32 Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36

ini menunjukkan bahwa, sebagian mahasiswa belum mencapai tingkat perkembangan empati yang optimal sehingga menyebabkan rendahnya sikap prososial terhadap orang lain maupun rekan rombelnya dalam pergaulan sosialnnya, ditambah fakta bahwa 12 % mahasiswa memiliki kecenderungan rendah empati dan 74% mahasiswa yang memiliki kecenderungan empati pada tingkat sedang oleh sebagian mahasiswa bimbingan dan konseling Institut Agama Islam Sukabumi. Fenomena tersebut tentu saja memerlukan penanganan yang sifatnya segera karena sebagaimana dipaparkan pada bagian pendahuluan penelitian, individu dengan tingkat empati yang rendah tidak hanya rentan terhadap gangguan emosional tapi juga terhadap berbagai perilaku maladaptif yang membawa konsekuensi negatif berkepanjangan bagi individu tersebut.

Berdasarkan hasil studi sebeumnya yang berkaitan dengan empati yang rendah serta pengaruhnya terhadap sikap non-prososial yang dimiliki individu juga pernah dilakukan oleh Galvan, dkk (2015) mengemukakan bahwa psikopati dan perilaku kekerasan dikenal karena kurangnya empati;

kondisi tersebut berarti dimensi empati memberikan pemahaman yang lebih baik dari mekanisme yang mendasari perilaku non-prososial.

Apalagi tuntutan terhadap mahasiswa bimbingan dan konseling harus memiliki empati yang tinggi, harapan kedepannya mengarahkan individu pada ekspektasi kinerja konselor yang mengampu pelayanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik dalam arti selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan pengguna pelayanannya, dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindak

(11)

Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36 33

pelayanannya itu terhadap pengguna pelayanan, sehingga pengampu pelayanan profesional itu juga dinamakan “the reflective practitioner”. Dengan demikian, sikap empati memiliki kontribusi dalam perkembangan moral individu dalam berbagai budaya dan negara.

Dari hasil uji statistik didapatkan hasil bimbingan kelompok dengan teknik modeling efektif untuk meningkatkan empati hasil menggunakan uji Repeated Measures ANOVA pada ukuran berulang mengungkapkan signifikan aspek empati F (2,12) = 118. 272, p = 0,01 dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan secara statistik pada empati mahasiswa setelah berpartisipasi dalam bimbingan kelompok dengan teknik modeling. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis Ho ditolak dan Ha diterima.

Urgensi dan kegunaan adanya empati adalah dapat mendorong orang untuk bertindak memberi bantuan, menjadikan seseorang lebih altruism dan bermoral, serta dapat merasakan kesengsaraan orang lain dan kemampuan untuk meringankannya. Goleman (2007: 147-148). Mengingat pentingnya kemampuan empati dalam hubungan antar manusia, maka upaya melatih dan mengembangkan empati di keluarga-keluarga, sekolah- sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya terutama pada mahasiswa bimbingan dan konseling yang melakukan pelayanan pada individu lain perlu dilakukan sedini mungkin. Temuan yang dilakukan oleh Storjiljkovic, dkk (2012) menunjukkan bahwa empati dapat berkontribusi pada keberhasilan peran profesional.

Harapannya bahwa mahasiswa bimbingan dan konseling Islam mampu untuk mempelajari individu lain mengungkapkan perasaan mereka

(12)

34 Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36

lewat kata-kata. Sehingga mahasiswa dapat membaca melalui nada suara, ekspresi wajah, atau cara-cara nonverbal lainnya yang mampu menunjukan tingkat profesionalitas kinerja yang diharapkan semua pihak dalam profesi ini.

Menurut Goleman (2007) dengan lemahnya empati yang dimiliki oleh seseorang dapat berakibat memicu adanya tindak kejahatan dan memunculkan perasaan tidak nyaman. Hal ini diantaranya: (1) Dapat memicu adanya tindak kejahatan atau kriminal; (2) Memunculkan perasaan yang tidak nyaman seperti marah, depresi, kesepian.

Beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan empati, antara lain:

(1) Membaca buku tentang bagaimana cara meningkatkan sikap empati; (2) Mengikuti pelatihan secara langsung tentang bagaimana melatih dan meningkatkan sikap empati; (3) Melakukan konsultasi pada orang yang sudah ahli; (4) Mengikuti workshop tentang bagaimana memahami sudut pandang orang lain, menunjukkan kepedulian, dan aspek-aspek lain tentang sikap empati; (5) Menggunakan imajinasi untuk membayangkan bagaimana rasanya ketika kita berada disituasi yang sedang orang lain alami; (6) Belajar untuk mendengar; (7) Bayangkan tentang orang lain.

Analisis lebih lanjut tentang efek dari teknik modeling akan dibutuhkan untuk memahami sepenuhnya empati yang lebih baik dan temuan untuk penilaian anggota kelompok pada penelitian saat ini. Namun, karena kendala statistik memicu timbulnya prasangka-prasangka yang tidak baik dan tentunya tidak membangun kultur empati yang tidak termasuk sebagai variabel dalam penelitian saat ini. Jadi penelitian empiris lebih banyak lagi diperlukan untuk menyempurnakan mekanisme spesifik dibalik temuan ini.

(13)

Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36 35

PENUTUP

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik modeling efektif untuk membantu meningkatkan empati mahasiswa bimbingan dan konseling mahasiswa dan mahasiswi Bimbingan dan Konseling Islam, Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS) . Penggunaan metodologi penelitian dalam penelitian ini juga dapat dijadikan pijakan untuk menyempurnakan berbagai keterbatasan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga direkomendasikan kepada para peneliti selanjutnya untuk merancang penelitian yang lebih sophisticated dalam hal metodologi misalnya dalam mengkaji aspek-aspek empati secara lebih spesifik dan dapat menggunakan metode yang sifatnya lebih individual daripada general misalnya Single Subject Research, atau metode penelitian Mixed method dan pengembangan.

DAFTAR PUSTAKA

ABKIN.2009. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Bandung.

Eisenberg, dkk. 1994. The relation of emotion and regulation to dispotitional andsituational empathy related responding. Journal of Personality and Social Psychology, 66 (4), 467 – 472.

Edmonds, W. A., dan Kennedy, T. D. 2013. An Applied Reference Guide to Re-search Design: Quantitative, Qualitative, and Mixed Method. USA:

Sage Publication. Inc.

Geitz, dkk. 2016. Changing learning behaviour: Self-efficacy and goal orientation in PBL groups in higher education. International Journal of Educational Research. 75, 146-158

Gladding, T. 2012. Konseling Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: PT. Indeks.

(14)

36 Ihtisab: Jurnal Bimbingan Konseling Islam 1(2)(2020) 23-36

Goleman, Daniel. (2007). Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Galvan, dkk. (2015). Cognitive and Affective Empathy: The Role in Violent Behavior and Psychopathy. Journal Rev Med Hosp Gen Méx.

78, 27- 35

Howe, David. (2013). Empati Makna dan Pentingnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ishak dkk. (2013). Dimensions of social skills and their relationship with empathy among gifted and talented students in Malaysia. Procedia Social and Behavioral Sciences.116, 750-753

Ikiz, F. Ebru, (2009). Investigation Of Counselor Empathy With Respect To Safe Schools. Procedia Social and Behavioral Sciences. 1, 2057-2062 Ohrt, Jonathan H. 2010. The Effects Of Two Group Approaches On

Counseling Students’ Empathy Development, Group Leader Self- Efficacy Development, And Experience Of The Therapeutic Factors. Disertation. Dipublikasikan.

Salam, Aprinus. (2013). Empati Masyarakat Indonesia Rendah.

http://www.antaranews .com/berita/366821/empati- masyarakat indonesia-rendahdiakses 12 Februari 2017 3:59 PM Yogyakarta.

Watson, D.L, Tragerhan, G. & Frank, J. (1984). Social Psychology: Science and Application. Chicago-Illinois: Scott, Foresman and Company.

Yigitera, Korkmaz & Kurub, Mihrac. 2014. A Comparative Study On Empathy Skills Of Kid Swimmers And Nonswimmers. Journal.

Referensi

Dokumen terkait

Lampirkan dokumen Rencana Strategis (RENSTRA) dan Rencana Operasional (RENOP) yang memuat rencana pembukaan program studi baru yang diusulkan. 1.2.2 Berikan

Sedangkan adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pelayanan pendidikan Bahasa Daerah di Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan ialah faktor ketersediaan

Adapun upaya yang dilakukan penyidik Kepolisian Sektor Konda dalam mengtasai hambatan dalam penyidikan Tindak Pidana illegal logging di Kecamatan Konda yaitu:

Adapun maksud dan tujuan dalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui proporsi campuran beton yang menggunakan split palu dengan campuran pasir mahakam ,

BMI merupakan bank syariah pertama di negara Indonesia kondisi kinerja BMI dari tahun 1992 sampai sekarang masih tergolong cukup baik, meskipun banyak

Untuk mengetahui intensitas pencitraan yang lebih baik dari ke dua radiofarmaka maka rasio tulang-darah dihitung dari nilai persentase penimbunan dalam organ (% ID) (6,12). Dari

Salah satu cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan nilai jual apel adalah membuat sari buah apel berkarbonasi, karena minuman berkarbonasi banyak digemari

Sedangkan aplikasi SIPPMA PUSAT merupakan aplikasi yang ditempatkan pada pusat perhitungan suara yang bertugas untuk menyaring suara yang di unduh dari SIPPMA TPS