PELUANG PENINGKATAN KADAR KURKUMIN PADA
TANAMAN KUNYIT DAN TEMULAWAK
Natalini Nova Kristina, Rita Noveriza, Siti Fatimah Syahid dan Molide Rizal Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
ABSTRAK
Produksi kurkumin menggunakan teknik budidaya secara konvensional dianggap memer-lukan waktu yang sangat panjang mulai dari tanam, panen sampai proses menghasilkan simplisia/bahan aktif. Pemanfaatan bioteknologi tepatnya kultur kalus diharapkan dapat mem-bantu mengatasi hal ini, karena dengan di-dapatkannya metode perbanyakan kalus, akan terbuka jalan untuk memproduksi kurkumin secara massal. Untuk meningkatkan produksi kalus dapat digunakan zat pengatur tumbuh, dan untuk meningkatkan bahan aktif (kurkumin) pada kalus dapat digunakan agen seleksi filtrat atau elisitor. Dengan teknik kultur kalus ataupun kultur suspensi dan penerapan agen seleksi filtrat atau elisitor diharapkan akan terbentuk kalus dengan kadar kurkumin tinggi sehingga dapat diproduksi dalam skala industri. Kurku-min yang terdapat pada tanaman temu-temuan, terutama kunyit dan temulawak, dapat diman-faatkan sebagai pengganti Tamiflu (antibiotik untuk penyakit flu burung). Tamiflu dinyatakan kurang efektif dalam mengatasi penyakit ini dan saat ini penyakit flu burung semakin merebak, korban terus berjatuhan. Kondisi ini merupakan tantangan bagi dunia penelitian khususnya pertanian untuk segera menghasilkan bahan tanaman yang dapat diformulasikan menjadi produk untuk meningkatkan sistim imunitas tubuh manusia. Produksi massal kurkumin dengan teknologi induksi kalus secara kultur jaringan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Kata kunci : kunyit, temu lawak, kurkumin, Tamiflu
PENDAHULUAN
Kurkumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder dari tanaman Zingiberaceae, khususnya
kunyit dan temulawak. Yang telah di-manfaatkan dalam industri farmasi, makanan, parfum, dan lain-lain. Ada banyak data dan literatur yang menun-jukkan bahwa kunyit dan temulawak berpotensi besar dalam aktifitas farma-kologi yaitu anti imflamatori, anti imunodefisiensi, anti virus (virus flu burung), anti bakteri, anti jamur, anti oksidan, anti karsinogenik dan anti infeksi (Joe et al., 2004; Chattopadhyay
et al., 2004; Araujo dan Leon, 2001). Senyawa kurkumin ini, seperti juga senyawa kimia lain seperti anti-biotik, alkaloid, steroid, minyak atsiri, resin, fenol dan lain-lain merupakan hasil metabolit sekunder suatu tanaman (Indrayanto, 1987). Tanaman obat dan aromatik dapat menghasilkan senyawa metabolit sekunder bernilai ekonomi tinggi, seperti vinblastina/vinkristina pada tanaman tapak dara (Vinca rosea), ajmalisina, digitalis (Dioscorea sp), kinina pada tanaman kina (Cinchoa
serta hama dan penyakit. Salah satu upaya untuk menghasilkan kurkumin dengan jumlah yang banyak adalah dengan teknologi kultur jaringan seperti kultur kalus. Ada peluang untuk meningkatkan kadar kurkumin dalam kultur kalus tanaman kunyit dan temu-lawak dengan in duksi elisitor.
Dilain pihak, masyarakat dunia membutuhkan kurkumin untuk obat flu burung sebagai pengganti Tamiflu. Tetapi Tamiflu terbukti tidak efektif pada suatu kasus di Vietnam dan men-jadi tidak berguna selain karena mahal juga terjadi resistensi akibat sebuah mutasi yang sederhana.
Tulisan ini menguraikan peluang penerapan bioteknologi tepatnya kultur kalus dengan menggunakan zat tum-buh dan elisitor sebagai bahan untuk meningkatkan produksi kurkumin pada tanaman temulawak dan kunyit yang nanti akan digunakan sebagai bahan baku obat flu burung sebagai pengganti Tamiflu.
KANDUNGAN KURKUMIN DAN MANFAATNYA SEBAGAI
PENGGANTI TAMIFLU
Kurkuminoid adalah kelompok senyawa fenolik yang terkandung da-lam rimpang tanaman famili Zingibera-ceae antara lain : Curcuma longa syn.
Curcuma domestica (kunyit) dan Cur-cuma xanthorhiza (temulawak). Kurku-minoid bermanfaat untuk mencegah timbulnya infeksi berbagai penyakit. Kandungan utama dari kurkuminoid adalah kurkumin yang berwarna ku-ning. Kandungan kurkumin di dalam kunyit berkisar 3 – 4% (Joe et al.,
2004; Eigner dan Schulz, 1999). Tiga varietas unggul kunyit yang telah di-lepas Balittro memiliki kadar kurkumin cukup tinggi yaitu 8,7%.
Kurkumin (C2H20O6) atau diferu-loyl methane (Gambar 1) pertama kali diisolasi pada tahun 1815. Kemudian tahun 1910, kurkumin didapatkan ber-bentuk kristal dan bisa dilarutkan tahun 1913. Kurkumin tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam etanol dan aceton (Joe et al., 2004; Chattopadhyay
et al., 2004; Araujo dan Leon, 2001).
Gambar 1. Struktur kimia kurkumin
Banyak hasil penelitian menun-jukkan bahwa kurkumin aman dan ti-dak toksik bila dikonsumsi oleh manu-sia. Jumlah kurkumin yang aman di-konsumsi oleh manusia adalah 100 mg/ hari sedangkan untuk tikus 5 g/hari (Commandeur dan Vermeulen, 1996). Adapun data standar kadar kurkumin total pada rimpang kunyit tertera pada Tabel 1.
Dari beberapa eksperimen dinya-takan bahwa bahan obat alami seperti kurkumin, EGCG dan beberapa sup-lemen bisa digunakan sebagai peng-ganti Tamiflu untuk mengatasi infeksi virus Avian Influenza (AI). Menurut drh. CA Nidom MS, staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan yang juga Ketua Tropical Disease Diagnostic Center, Universitas Airlangga, kurku-min yang terdapat pada kunyit dan temulawak dapat berfungsi sebagai antisitokin. Seperti diketahui, bila sese-orang terinfeksi virus Avian Influenza (AI) atau flu burung maka kadar sitokin dalam tubuhnya akan naik. Kenaikan
ini menjadi berbahaya karena sitokin dapat menyebabkan perubahan Oksi-gen (O2) menjadi peroksida (H2O2) yang meracuni sel-sel paru. Peneliti lain melaporkan bahwa dalam tubuh orang yang terinfeksi virus H5N1, terjadi reaksi badai sitokin (cytokin storm) yang berarti terjadi banjir sitokin yang mengakibatkan keru-sakan sel yang parah pada sel paru-paru sehingga sangat membahayakan nyawa si pasien. Untuk itu, dengan adanya antisitokin, maka jumlah sitokin dalam tubuh akan ditekan se-hingga produksi peroksida juga berkurang. Dengan demikian, keru-Tabel 1. Hasil standarisasi kadar kurkuminoid total dari berbagai bentuk sampel
umur dan asal rimpang kunyit
No Bentuk sampel/umur/asal Kisaran
(% B/B)
Kadar kurkuminoid Rata-rata
II Kunyit segar
* Muda (8 bulan) eks Limbangan
* Tua (11 bulan) eks Limbangan
4,323 – 5,463
5,627 – 6,648
5,012 ± 0,374
6,108 ± 0,358 III Kunyit Kering
* Muda (8 bulan) eks Limbangan
* Tua (11 bulan) eks Limbangan
5,423 – 5,811
7,799 – 8,452
5,609 0,110
8,107 ± 0,186 IIII Ekstrak pekat
* Eks. Produksi RG 530 A3 (SC = 21.32% b/b)
* Eks Risbang RG 610 A (SC = 23.00% b/b)
7,584 – 8,484
7,133 – 9,707
7,932 ± 0,248
7,936 ± 0,940
IV Sediaan jadi
Alternatif formula-1
Sediaan – 1
Sediaan - 2
0,158 – 0,203 0,081 – 0,106 0,100 – 0,115
0,180 ± 0,017 0,93 ± 0,009 0,108 ± 0,005
sakan se-sel paru dapat dicegah (Kompas, 2005a).
Dalam upaya mandiri mengatasi flu burung, masyarakat telah meman-faatkan kurkumin dan temu-temuan yang dikombinasikan dengan tanaman obat lainnya sebagai jamu untuk ternak unggas mereka. Di sekitar Gunung Kidul, masyarakat memberikan ramuan ramuan jamu yang terdiri dari temu lawak, kunyit putih, temu ireng, laos, jahe, daun sereh, secang, daun salam, cengkeh, arang bathok kelapa dan gin-seng pada unggas dan ayam yang dise-kitarnya telah terserang flu burung (Silalahi, 2005). Demikian juga dengan Sumardi dari Univ. Katolik Semarang, memberikan ramuan tradisional yang terdiri dari tepung cabe jawa, ekstrak temulawak dan ekstrak temu ireng serta tepung jahe liar yang dicampur dengan madu, gula dan air pada unggas yang terserang flu burung. Wabah flu burung akan bersifat pandemik (Verkerk et al., 2006). Walaupun sampai saat sekarang, hal ini belum terjadi.
SUMBER KURKUMIN ALAMI
Kunyit
Kunyit (Curcuma domestica Val) merupakan salah satu tanaman obat potensial penghasil kurkumin. Selain sebagai bahan baku obat dapat juga dipakai sebagai bumbu dapur dan zat pewarna alami. Rimpangnya sangat bermanfaat sebagai antikoagulan, me-nurunkan tekanan darah, obat cacing, obat asma, penambah darah, mengobati sakit perut, penyakit hati, karminatif, stimulan, gatal-gatal, gigitan serangga, diare, dan rematik. Kandungan utama
didalam rimpangnya terdiri dari mi-nyak atsiri, kurkumin, resin, oleoresin, desmetoksikurkumin, dan bidesmetok-sikirkumin, damar, gom, lemak, pro-tein, kalsium, fosfor dan besi. Zat warna kurkumin dimanfaatkan sebagai pewarna untuk makanan manusia dan ternak. Kandungan kimia minyak atsiri kunyit terdiri dari artumeron, ά dan β -tumeron, tumerol, α-atlanton, β -kario-filen, linalol, 1,8 sineol (Rahardjo dan Rostiana, 2004).
dipanen pada umur 20 – 24 bulan setelah tanam.
Temulawak
Temulawak digunakan sebagai bahan baku obat, karena dapat merang-sang sekresi empedu dan pankreas. Sebagai fitofarmaka, temulawak ber-manfaat untuk mengobati penyakit saluran pencernaan, kelainan hati, kan-dung empedu, pankreas, usus halus, tekanan darah tinggi, kontraksi usus, TBC, sariawan dan dapat digunakan sebagai tonikum. Secara tradisional temulawak banyak digunakan untuk mengobati diare, disentri, wasir, beng-kak karena infeksi, eksim, cacar, jera-wat, sakit kuning, sembelit, kurang nafsu makan, kejang-kejang, radang lambung, kencing darah, ayan dan kurang darah.
Banyaknya ragam manfaat temu-lawak baik untuk obat tradisional mau-pun fitofarmaka karena rimpangnya mengandung protein, pati, zat warna kuning kurkuminoid dan minyak atsiri. Kandungan kimia minyak atsiri antara lain : feladren, kamfer, tumerol, tolil-metilkarbinol, arkurkumen, zingiberen, kuzerenon, germakron, β-tumeron serta xanthorrizol yang mempunyai limpah-an tertinggi sampai 40% (Rahardjo dlimpah-an Rostiana, 2004). Senyawa xanthorizol telah dipatenkan di Korea Selatan seba-gai fitofarmaka untuk mengobati kan-ker. Balittro memiliki 10 nomor ha-rapan temulawak yang berpotensi pro-duksi 20 - 40 ton/ha, kadar minyak at-siri 6,2 – 10,6% dengan kadar kur-kumin 2,0 – 3,3%. Panen dapat dilaku-kan pada umur 9 – 12 bulan setelah tanaman atau daun telah menguning
dan gugur. Sebagai bahan tanaman untuk bibit digunakan tanaman yang sehat berumur 12 bulan. Perbanyakan tunas secara in vitro telah berhasil dilakukan pada tanaman ini dengan menggunakan media Murashige dan Skoog (MS) yang diperkaya dengan Benzil Adenin 1,5 mg/l + Naptheline Acetic Acid 0,5 mg/l dengan rata-rata jumlah tunas 3,65 selama 8 minggu (Syahid dan Hadipoetyanti, 2002). Perbanyakan ini tidak perlu melalui fase perakaran karena pada media tersebut telah terbentuk eksplan sem-purna. Dari hasil uji analisa kimia didapatkan bahwa temulawak hasil kultur in vitro ini menghasilkan kan-dungan kurkumin yang lebih tinggi (Syahid dan Hadipoentyanti, 2007) di-bandingkan dengan kandungan kurku-min temulawak asal koleksi plasma nutfah di kebun percobaan Sukamulia yang berkisar antara 2,11 – 3,24% (Setiyono dan Ajijah, 2002).
KENDALA PRODUKSI KURKUMIN SECARA
KONVENSIONAL
untuk produksi kurkumin dalam jumlah besar juga kurang optimal.
Masalah yang dihadapi dalam pengembangan tanaman penghasil obat dan atsiri pada umumnya adalah meru-pakan tanaman musiman atau tahunan sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil-nya. Berbagai kendala dijumpai dalam perbanyakan temu-temuan antara lain : budidaya, pasca panen, mutu dan fluk-tuasi harga. Di sisi lain, desakan pen-duduk dan perkembangan industri yang semakin menyempitkan ketersediaan lahan-lahan pertanian. Selain itu, pro-duksi kurkumin secara alami dari ta-naman kunyit dan temulawak memer-lukan tenggang waktu yang panjang sekitar 9 bulan, mulai dari pembibitan, penanaman, panen sampai dengan pro-sesing. Hal ini setiap tahun terus ber-gulir secara kontinue. Pemecahan ma-salah dapat ditanggulangi dengan tek-nik kultur jaringan tepatnya kultur ka-lus secara in vitro. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Syahid dan Hadipoentyanti (2002), kandungan kur-kumin tanaman temulawak hasil kultur
in vitro, ternyata lebih tinggi diban-dingkan koleksi plasma nutfah yang diperbanyak secara konvensional.
Penggunaan teknik kultur jaring-an jadi lebih menarik dari pada me-numbuhkan di lapangan yang mem-punyai banyak hambatan (Mantel dan Smith, 1983; Sudiarto et al., 1990). Perbanyakan dan pengembangan temu-temuan dengan teknik kultur jaringan mulai dilirik untuk mempercepat proses dalam mengatasi berbagai kendala tersebut di atas.
Tetapi ternyata pada penerapan teknik perbanyakan secara in vitro, juga belum dapat menjawab tantangan un-tuk menyediakan bahan tanaman dalam jumlah besar. Sebab walaupun dapat diperbanyak dalam jumlah besar secara
in vitro, tanaman tetap harus dikeluar-kan dan dibudidayadikeluar-kan kembali di lapang dan hal ini bahkan memper-panjang periode panen karena membu-tuhkan waktu yang panjang agar ter-bentuk rimpang yang selanjutnya di-jadikan simplisia guna menghasilkan kurkumin. Penerapan bioteknologi, khususnya bioreaktor atau fermentor yang dapat memperbanyak sel tanaman yang mengandung bahan aktif dalam jumlah besar diharapkan dapat diman-faatkan untuk produksi masal kurku-min di masa mendatang.
PELUANG PENINGKATAN KURKUMIN SKALA KOMERSIAL DENGAN
BIOTEKNOLOGI
Penerapan bioteknologi untuk mem-produksi kurkumin
Metabolit sekunder seperti kur-kumin dapat dibentuk dengan cara menginduksi jaringan tanaman pada media yang mengandung zat pengatur tumbuh untuk membentuk kalus. Kalus selanjutnya diperbanyak dengan cara kultur kalus ataupun suspensi dan dapat juga menggunakan elisitor dalam fermentor atau bioreaktor, contohnya ginseng.
Keberhasilan sintesa metabolit sekunder dipengaruhi oleh faktor ling-kungan dan kendala biologis. Faktor lingkungan dapat meliputi cahaya, penggunaan zat pengatur tumbuh, pre-kusor, unsur hara yang tersedia, kom-posisi medium, perbedaan morfologi, jaringan tanaman yang digunakan dan
aktivitas biosintesa (Tabata dalam
Dalimunthe, 1987). Bahan kimia atau yang lebih dikenal sekarang de-ngan sebutan bahan aktif dari suatu tanaman ini, dapat diperoleh dari ta-naman lengkap. Tata-naman berinterak-si dengan lingkungannya mempro-duksi metabolit sekunder yang ber-macam-macam (Harborne, 1996). Beberapa dari senyawa tersebut ber-peran dalam aktivitas pharmakolo-gikal, industri dan pertanian yang mana akan meningkatkan nilai ta-naman secara komersial (Paganga et al., 1999; Bingham et al., 1998).
Sejak penelitian kultur jaringan berkembang dengan pesat, ditemukan bahwa sel-sel dalam kultur menghasil-kan juga persenyawaan-persenyawaan Tabel 2. Produksi metabolit sekunder dari sel kultur tanaman
No Senyawa Jenis tanaman Berat kering (%)
Kultur Tanaman
1 Shikonin Lithospermum
erythrorhizon
20 1,5
2 Ginsenoside Panax ginseng 27 4,5
3 Anthaquinones Morinda citrifolia 18 0,3
4 Armalicine Canharanthus roseus 1,0 0,3
5 Rosmarinic acid Coleus blumeii 15 3
6 Ubiquinone-10 Nicotiana tabacum 0,036 0,003
7 Diosgenin Dioscorea detoides 2 2
8 Benzylisoquinoline
alkaloid
Coptis japonica 11 5-10
9 Berberine Thalictrum minor 10 0,01
10 Berberine Coptis japonica 10 2-4
11 Anthraquinones Galium verum 5,4 1,2
12 Anthraquinones Galium aparine 3,8 0,2
13 Nicotine Nicotiana tabacum 3,4 2,0
14 Bisoclaurine Stephania cepharantha 2,3 0,8
15 Tripdiolide Tripteryqium wilfordii 0,05 0,001
yang dibutuhkan manusia dengan ting-kat produksi per unit berat kering yang setara atau bahkan lebih tinggi dari ta-naman asalnya. Kultur kalus telah ber-hasil dilakukan pada beberapa tanaman obat seperti pada tanaman solanum (Solanum khasianum dan Solanum laciniatum) yang menghasilkan solaso-din untuk bahan KB, ataupun pada tanaman Mentha (Mentha piperita) untuk menghasilkan pipperint sebagai bahan mint dalam industri (Kristina, 1992) (Tabel 2).
Senyawa metabolit sekunder ini dapat dihasilkan dari kultur kalus atau-pun kultur suspensi sel (Furaya, 1982). Kalus berasal dari potongan organ yang telah steril dalam media yang mengan-dung auksin dan kadangkala sitokinin. Kalus ini adalah sel-sel parenkim yang mempunyai ikatan yang renggang de-ngan sel-sel lain. Kalus berupa kum-pulan sel dan selalu melakukan proses dediferensiasi. Kalus atau yang dikenal dengan kultur sel ini diharapkan dapat memperbanyak dirinya menjadi massa sel yang besar secara terus-menerus. Hal lain yang menguntungkan adalah kultur sel tidak dipengaruhi oleh per-ubahan-perubahan lingkungan seperti iklim, penyakit tanaman dan peningkat-an produksi dapat tersedia bila dibutuh-kan sewaktu-waktu.
Senyawa sekunder melalui kultur jaringan dapat diisolasi dari kalus atau sel. Kandungannya dapat ditingkatkan melalui seleksi bahan tanaman atau jaringan, tingkat pertumbuhan tanam-an, pemakaian zat pengatur tumbuh dan prekusor, pemakaian mutagen baik secara fisik maupun kimia serta
mani-pulasi faktor lingkungan. Kalus sebagai bahan senyawa sekunder dan produk lainnya dapat dipacu pembentukan dan pertumbuhannya dengan pemakaian zat pengatur tumbuh 2,4-D, NAA dan se-ring pula dikombinasikan dengan sito-kinin. Adakalanya kombinasi auksin dengan sitokinin selain dapat merang-sang proses pembelahan sel juga mem-pengaruhi kandungan senyawa sekun-dernya. Hasil penelitian Marshall dan Staba (1976) mendapatkan peningkatan kandungan diosgenin dengan peng-gunaan 2,4-D pada tanaman Dioscorea deltoidea.
Pada kultur sel, harus diperhati-kan bahwa masa kultur yang panjang dalam media yang tetap, akan kehabis-an unsur hara dkehabis-an air, karena media menguapkan air dari waktu ke waktu. Selain kehabisan hara, sel-sel dalam kalus juga mengeluarkan persenyawa-an-persenyawaan hasil metabolit se-kunder. Pertumbuhan kultur kalus mi-rip dengan grafik pertumbuhan kultur bakteri (Dodds and Roberts dalam
Gunawan. 1978), sehingga dapat bayangkan bila proses fermentor ini di-terapkan maka akan dihasilkan senya-wa kurkumin dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Sedangkan kultur suspensi ada-lah kalus yang ditumbuhkan pada me-dia cair dan kultur suspensi ini praktis digunakan untuk produksi bahan-bahan sekunder. Dalam kultur suspensi sel di-kenal dua kelompok kultur yakni kultur
batch dan continuous. Dalam kultur
inkubasi terjadi pertambahan biomass yang mengikuti pola sigmoid. Setelah mecapai suatu masa tertentu sel ber-henti membelah. Oleh karena itu kultur
batch harus selalu diperbaharui.
Sementara kultur continuous me-rupakan kultur sel jangka panjang dengan suplai hara yang konstan dalam wadah yang besar. Dalam kultur ini ter-dapat sistem untuk sirkulasi mengeluar-kan media lama dan ditambah dengan media baru. Dalam kultur sel conti-nuous terdapat dua tipe, yaitu tipe tertutup (close type) dan tipe terbuka (open type). Dalam tipe tertutup sel ber-tambah terus tanpa dipanen, hanya me-dia yang disirkulasi. Sedangkan pada tipe terbuka, penambahan media baru disertai juga dengan panen sel dan media. Tipe kultur continuous yang ter-buka dapat menggunakan chemostat atau turbidostat. Chemostat menggu-nakan standard konsentrasi bahan-ba-han kimia tertentu yang mengatur laju pertumbuhan, misalnya konsentrasi N, P atau glukosa. Persenyawaan N, P atau glukosa diatur sedemikian rupa pada suatu level yang tetap untuk mengatur populasi sel yang tertentu. Pada kultur continuous dengan turbi-dostat, diatur jumlah sel tertentu, yang diatur dengan turbiditas. Kerapatan bio-mass yang melebihi turbiditas yang sudah ditentukan, akan dikeluarkan.
Untuk tujuan komersial telah di-lakukan pengembangan produksi meta-bolit sekunder tanaman obat dengan sistem bioreaktor. Sistem bioreaktor ini dapat digunakan untuk kultur embrio-nik ataupun organogeembrio-nik dari berbagai
spesies tanaman (Levin et al., 1988; Preil et al., 1988).
Dari salah satu hasil percobaan yang menggunakan sistem bioreaktor ini dapat dihasilkan saponin sebesar 500 mg/l/hari dari bioreaktor kultur jaringan akar ginseng (Park et al., 1992) dan produksi alkaloid ginseno-side dari kultur akar Panaxginseng de-ngan sistem bioreaktor berskala besar 1 – 10 ton (Hahn et al., 2003). Teknik kultivasi bioreaktor ini juga telah ber-hasil dilakukan untuk memproduksi zat anti kanker dari beberapa spesies Taxus
dengan cara–cara konvensional dima-na untuk mendapatkan 1 kg komponen aktif taxol harus menebang 1 pohon
Taxus yang kira-kira telah berumur 100 tahun (Muhlbah, 1998).
Sementara itu perbanyakan ku-nyit secara in vitro dapat juga dilaku-kan dengan menggunadilaku-kan media Mu-rashige dan Skoog yang diperkaya dengan Benzil Adenin 2 mg/l dan bah-kan dari hasil penyimpanan pada media pertumbuhan minimal yang mengguna-kan manitol 1%, tunas masih mampu beregenerasi secara normal dengan rata-rata jumlah tunas 4,2 (Syahid, 2004).
Peningkatan produksi bahan aktif kurkumin dengan elisitor
harapkan mampu mengubah sifat-sifat sel.
Seleksi in vitro untuk mendapat-kan kalus kunyit yang mengandung kurkumin tinggi dapat dilakukan de-ngan menggunakan agen seleksi filtrat atau elisitor yang ditambahkan ke da-lam media tumbuh. Teknik ini sudah diterapkan pada beberapa tanaman bu-didaya dan berhasil memperoleh varian baru yang tahan terhadap OPT.
Jamur Colletotrichum lagenarum
dapat menginduksi sintesa saponin (ginsengosides) pada sel kultur ginseng (Xiaojie et al., 2005). Atau Aspergillus niger menginduksi produksi hypericin pada kultur suspensi sel Hypericum perforatum (Xu et al., 2005).
KESIMPULAN
Peluang pengembangan bahan aktif kurkumin dari tanaman kunyit dan temulawak untuk mengatasi flu burung dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan yang menghasilkan kalus. Strategi untuk meningkatkan kandung-an kurkumin dalam kalus dapat diberi-kan elisator, sehingga peluang untuk menghasilkan kurkumin dengan teknik biofermentor untuk skala industri dapat dilakukan.
SARAN
Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk mendapatkan teknik untuk meningkatkan kurkumin pada kalus tanaman kunyit hasil kultur jaringan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ireng Darwati yang telah banyak memberi saran dalam perbaikan tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Araujo, C.A.C and L.L. Leon, 2001. Biological activities of Curcuma longa L. Mem. Inst. Oswaldo Cruz, Rio de Janeiro 96 (5) : 723 - 728.
Byron, J.R., 2006. H5N1 Avian flu virus therapy. Conventional and Herbal Options : Jrb at med-owl dot com. Version 2, February, 2006.
Chattopadhyay, I., Biswas, K., Bandyopadhyay, U. and Banerjee, R.K., 2004. Tumeric and Curcumin : Biological actions ans medicinal applications. Current Science. 87 (1) : 44 - 53.
Commandeur, J.N. and N.P.
Vermeulen, 1996. Cytotoxicity and cytoprotective activities of natural compounds. The case of curcumin. Xenobiotica 26 : 667 - 680.
Eigner, D. And D. Schulz, 1999. Ferula asa-foetida and Curcuma longa in traditional medical treatment and diet in Nepal. J. Ethnopharmacol 67 : 1 - 6.
Furaya, T., 1982. Production of pharmacologically active principles in plant tissue culture. Proc. 5th Intl. Cong. Plant Tissue and Cell Cul-ture. Plant Tissue CulCul-ture. 269-272.
Harborne, J. B., 1996. Recent advance in chemical ecology. Natural Product Reports 12 : 83 - 98.
Haris, R., 1989. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta. 172 hal.
IIndrayanto, G., 1987. Produksi meta-bolit sekunder dengan teknik kultur jaringan. Dalam buku Risalah Se-minar Nasional Metabolit Sekunder 1987. (Ed.) Suwijiyo Pramono, D. Gunawan dan C.J. Soegiarto. 6-9 September. Yogyakarta. PAU Bio-teknologi UGM. hal. 32 – 44.
Joe, B.; M. Vijaykumar and B.R. Lokesh, 2004.Biological properties of curcumin-cellular and molecular mechanisms of action. Critical Review in Food Science and Nutrition 44 (2) : 97 - 112.
Komarawinata, D., 2006. Budidaya dan pasca panen tanaman obat untuk meningkatkan kadar bahan aktif. Makalah pada Seminar Status Tek-nologi Tanaman Obat dan Aro-matik. 13 Desember 2006. 8 hal.
Kristina, N.N., 1992. Produksi meta-bolit sekunder melalui kultur in
vitro. Medkom Puslitbangtri. hal. 18 – 22.
Levin, R., V. Gaba; B. Tal; S. Hirsch; D. De Nola; K. Vasil, 1988. Auto-matic plant tissue culture for max propagation. Biotechnology. 6 : 1035 - 1040.
Marshall, J.O.G. and E.J. Staba, 1976. Hormonal effect on diosgenin bio-synthesis and growth in Dioscorea deltoidea tissue culture Phytochem 15 : 53 - 55.
Mantell, SH & H. Smith, 1983. Cul-tural factors that influensce secon-dary metabolite accumulations in plant cel and tissue culture. In : S.H. Mantell and Smith (eds.) Plant Biotechnology cambridge. Univ. Press. London. p. 75 - 108.
Misawa, M., 1994. Plant tissue culture: An alternative for production of useful metabolite. FAO Agricultu-ral services Bulletin. No. 108. Toronto-Canada.
Paganga, G., N. Miller and C.A. Rice Evans, 1999. The polyphenolic content of fruit and vegetables and their anti-oxidant activities. What does a serving constitue? Free Redic. Research 30 : 153 - 162.
Preil, W.; P. Florek; V. Wix, A. Beck, 1988. Toward mass propagation by use of bioreactors. Acta Horticult. 226 : 99 - 105.
somni-ferum in bioreactor. J. Ferm. Bioeng. 74 : 292 - 296.
Prosea, 1999. Plant Resources of South –East Asia. No. 12 (1). Medicinal and poisonous plants 1. Ed. de Padua, L.S., Bunyapraphatsara, N., and Lemmens, R.H.M.J. p. 215 – 216.
Rahardjo, M. dan O. Rostiana, 2004. Standar prosedur Operasional Bu-didaya Kunyit dalam Standar Pro-sedur Operasional Jahe, Kencur, Kunyit dan Temulawak. Badan Litbang Pertanian. Balittro-Bogor. 46 hal.
Setiyono, R.T dan N. Ajijah, 2002. Evaluasi beberapa sifat agronomi plasma nutfah temulawak ( Cur-cuma xanthorhiza Roxb.). Buletin Littro XIII (2) : 7 - 12.
Sudiarto, Emmyzar, S.M. Rosita, O. Rostiana, S. Affandi dan D. Sitepu, 1990. Hasil penelitian dan pengem-bangan tanaman obat. Dalam : Tanaman Obat (Buku VI). Seri Pengembangan No. 12. Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. hal. 813 – 829.
Syahid, S.F., 2004. Konservasi kunyit (Curcuma domestica Vahl.) mela-lui pertumbuhan minimal. Prosi-ding Simposium IV Hasil Peneli-tian Tanaman Perkebunan. Bogor 28 - 30 September 2004. hal. 231 - 236.
Syahid, S.F. dan E. Hadipoentyanti, 2002. Pengaruh zat pengatur tumbuh Benzyl Adenin (BA) dan
NAA terhadap pertumbuhan temu-lawak (Curcuma xanthorrhiza
Roxb). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. XIII (2): 1 - 6.
Syahid, S.F. dan E. Hadipoentyanti, 2007. Respon temulawak hasil rim-pang kultur in vitro genersi kedua terhadap pemupukan. Jurnal Puslit-bangbun (Proses Editing).
Syukur, Ch.. L. Udarno, Supriadi, O. Rostiana &. S.F. Syahid, 2006. Usulan pelepasan varietas kunyit. Balittro-Puslitbangbun. 25 hal.
Verkerk, R.; D. Downing; J. Meldrum and S. Hickey, 2006. The pivotal role for natural products in coun-tering an avian influenza pandemic. Alliance for Natural Health. p. 63.
Wasito, R., 2005. Malaikat pencabut nyawa itu ternyata lalat. Harian Suara Pembaharuan. Rabu, 21 September 2005.
Xiaojie, X; H. Xiangyang; S. J. Neill; F. Jianying and C. Weining, 2005. Fungal elicitor induce singlet oxy-gen oxy-generation, ethylene release and saponin synthesis in cultured cells of Panax ginseng. C.A. Meyer. Plant Cell Physiol. 46 (6) : 947 - 954.