1 PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM TERHADAP
KINERJA PERUSAHAAN
(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2015)
Lestari Ronauli Boru Hutasoit
Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana [email protected]
PENDAHULUAN
Salah satu informasi dari laporan keuangan ialah mengenai kinerja perusahaan (PSAK No.1). Informasi mengenai kinerja perusahaan diukur untuk mengetahui apakah perusahaan sudah mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Terdapat berbagai teknik analisis yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini menggunakan analisis rasio. Proses analisis rasio yang dilakukan dalam laporan keuangan akan menunjukkan apakah kinerja perusahaan tersebut dalam kondisi yang baik atau buruk (Waskito 2014).
Informasi mengenai kinerja perusahaan bermanfaat bagi pihak pemegang saham, pihak pemberi dana serta pihak manajemen perusahaan (Hanafi 2004).
Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.
Faktor-faktoryang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan antara lainstruktur kepemilikan saham, good corporate governance, corporate social responsibilitydan lain sebagainya. Dalam bukunya, Prihadi (2013)mengungkapkan bahwa keputusan yang dibuat oleh pihak manajemen juga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.Dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah kaitan antara struktur kepemilikan saham dengan kinerja perusahaan.
Semakin besar ukuran dan kompleknya suatu perusahaan maka semakin terbatas pengendalianyang dilakukan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham).
Sehingga yang dilakukan ialah mempekerjakan karyawan untuk mengelola perusahaan. Karyawan yang dimaksud adalahpihak manajemen(Sartono 2001).
2 Hubungan antara pemegang sahamdengan pihak manajemen disebut sebagai hubungan keagenan (agency relationship)(Santoso 2015).
Hubungan keagenan dalam penerapannya mengalami konflik kepentingan antara pemegang saham dan pihak manajemen. Hal ini dijelaskan oleh Ahmad dan Septriani(2008) yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pihak manajemen yang hanya bertindak sebagai pengelola didalam perusahaan ternyata memiliki kepentingan yang berbeda dengan pemegang saham. Perbedaan kepentingan ini membuat pihak manajemen membuat keputusan yang berbeda dengan pemegang saham untuk kepentingan pihak manajemen. Pengambilan keputusan dapat berupa pengambilan keputusan terkait pendapatan dan biaya. Salah satu perbedaan keputusan yang dilakukan oleh pihak manajemen adalah pembuatan keputusan terkait penggunaan biaya oleh perusahaan (Sugiarto 2009). Sementara, keputusan terkait pendapatan lebih banyak dipengaruhi oleh pasar. Keputusan penggunaan biaya ini dapat mempengaruhi laba yang diterima oleh perusahaan. Semakin besar penggunaan biaya maka penerimaan laba akan semakin kecil. Apabila laba yang diterima oleh pemegang saham tidak sesuai dengan apa yang telah mereka targetkan maka hal tersebut akan berpengaruh pada peningkatan kinerja perusahaan.
Peningkatan kinerja perusahaan dapat tercapai apabila perusahaan mampu beroperasi dengan baik sehingga dapat memberikan laba yang sesuai dengan target pemegang saham. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan laba perusahaan adalah dengan menyetarakan kepentingan antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Hal ini dapat dilakukan dengan menjadikan pihak manajemen sebagai pihak pemegang saham (Hanafi 2004).
Dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak manajemen maka diharapkan akan memperhitungkan setiap keputusan yang mereka tetapkan baik dari segi pendapatan maupun biaya.
Setiap keputusan yang diambil oleh pihak manajemen diawasi oleh pihak auditor (eksternal dan internal). Hubungan antara pihak manajemen dan auditor menimbulkan biaya pengawasan. Auditor ditetapkan oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Selain auditor, pihak manajemen juga
3 diawasi oleh pihak institusional perusahaan. Pihak institusional terdiri dariperusahaan asuransi, bank, perseroan terbatas, perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lainnya (Ilmaniyah 2016). Auditor dan pihak institusional melakukan pengawasan untuk memastikan bahwa pembuatan keputusan manajemen dapatselaras dengan kepentingan pemegang saham dan berpengaruh pada laba yang akan diterima oleh pemegang saham sehingga memberikan dampak perubahan pada kinerja perusahaan tersebut.
Dengan demikian, struktur kepemilikan saham berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan karena mampu meminimalkan konflik kepentingan antara pihak manajemen dengan pemegang saham (Ilmaniyah 2016).
Perusahaan diharapkan mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan sehingga dapat memperbaiki dan mengatasi persoalan yang dihadapi oleh perusahaan sehingga keberlangsungan hidup suatu perusahaan dapat bertahan lama ataupun dapat dipertahankan (Waskito 2014).
Peningkatan kinerja perusahaan salah satunya dilihat dari laba yang diterima oleh perusahaan. Pengukuran laba dalam penelitian ini menggunakan analisis rasio. Analisis rasio keuangan digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang berhubungan dengan penjualan, total aktiva maupunmodal sendiri adalah rasio profitabilitas (Sartono 2001). Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur kinerja perusahaan adalah ROE (Return On Equity).Pemegang saham dapat menggunakan ROE untuk melihat seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba.Semakin besar tingkat ROE maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang diterima perusahaan (Hery 2015).
Penelitianterdahulu yang dilakukan oleh Wiranata(2013) mengenai pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap kinerja perusahaan mendapatkan hasil bahwa kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dan kepemilikan saham institusional tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Sedangkan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Waskito (2014) menyatakan bahwa kepemilikan saham manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan dan kepemilikan saham institusional berpengaruh
4 positifterhadap kinerja perusahaan. Selain itu hasil dari penelitian Wida dan Suartana(2014) mengungkapkan bahwa kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaantetapi kepemilikan saham institusional berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja perusahaan. Berdasarkan penelitian terdahulu masih terdapat adanya inkonsistensi hasil penelitian.
Sehingga dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap kinerja perusahaan. Perbedaan dalam penelitian sebelumnya, kinerja perusahaan dalam penelitian ini diukur denganROE.
Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan, persoalan dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh positif antara kepemilikan saham manajerial terhadap kinerja perusahaan dan apakah terdapat pengaruh positif antara kepemilikan saham institusional terhadap kinerja perusahaan pada perusahan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)Tahun 2013- 2015. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan membuktikan secara empiris, pengaruh antara kepemilikan saham manajerial terhadap kinerja perusahaan dan pengaruh antara kepemilikan saham institusional terhadap kinerja perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Tahun 2013- 2015. Data yang digunakanberasal dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama Tahun 2013-2015. Dengan dilakukannya penelitian ini, penulis berharap agar hasil yang diperoleh dapat memberikan manfaat diantaranya, (1)Bagi perusahaan, dapat dijadikan sumbangan informasi untuk kalangan perusahaan manufaktur dalam meningkatkan kinerja perusahaan khususnya dengan struktur kepemilikan saham.
(2) Bagi pembaca, diharapkan dapat menjadi refrensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai bahan eksplorasi mengenai struktur kepemilikan saham (kepemilikan saham manajerial dan institusional) terhadap kinerja perusahaan.
5 TINJAUAN PUSTAKA
Teori Keagenan
Dalam buku yang ditulis olehSantoso(2015) definisi dari teori keagenan adalah hubungan antara prinsipal (pemegang saham) dengan agen (pihak manajemen). Pihak pemegang saham membuat suatu kontrak perjanjian yang telah disepakati dengan pihak manajemen dan mengalihkan pengelolaan perusahaan terhadap pihak manajemen.Prinsipal menyediakan dana serta fasilitas yang dibutuhkan oleh agen dan memberikan tanggungjawab terhadap agen dan agen menjalankan setiap tanggungjawab yang diberikan oleh prinsipal. Agen yang bekerja dalam perusahaan berkewajiban untuk mengelola perusahaan serta diberi kewenangan untuk mengambil keputusan oleh pemegang saham yang terkait dengan keputusan perusahaan (Sugiarto 2009).
Pengambilan keputusan oleh pihak manajemen seringkali tidak sejalan dengan pemegang saham sehingga hal ini berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan (Sugiarto 2009). Pihak manajemen cenderung mengutamakan kepentingannya, sehingga konflik kepentingan antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Pemegang saham menginginkan laba maksimalakan tetapi, pihak manajemen menginginkan keuntungan pribadi sehingga pihak manajemen tidak berkonsentrasi pada peningkatkan kesejahteraan pemegang saham (Ahmad dan Septriani2008).Perbedaan sangat mungkin terjadi karena pihak manajemen dalammengambil keputusan tidak perlu menanggung resiko sebagai akibat adanya kesalahan dalam pengambilan keputusan bisnis, begitu pula jika mereka tidak dapatmeningkatkan nilai perusahaan. Resiko tersebut sepenuhnya ditanggung oleh pemegang saham. Oleh karena itu, pihak manajemen cenderung membuat keputusan yang tidak optimal.Konflik kepentingan antara pihak manajemen dengan pemegang saham disebut sebagai konflik keagenan (agency conflict).Konflik keagenan yang terjadi didalam perusahaan akan menimbulkan biaya keagenan. Hal ini dikarenakan adanya informasi yang asimetri didalam perusahaan tersebut. Biaya keagenan meliputi monitoring cost, bonding cost dan residual loss. Munculnya biaya keagenan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan pengeluaran pada biaya
6 keagenan oleh perusahaan dapat berpengaruh terhadap laba yang akan diterima oleh perusahaan.
Konflik keagenan antara pihak manajemen dengan pemegang saham dapat diminimalkan dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak manajemen (Hanafi 2004). Dengan adanya proporsi saham pada pihak manajemen dapat memberikan perubahan terhadap peningkatan kinerja perusahaan dikarenakan dapat menyetarakan kepentingan pihak manajemen dengan pemegang saham.
Hal selanjutnya yang dapat meminimalkan konflik kepentingan adalah pengawasan. Pengawasan pihak manajemen dilakukan oleh auditor (eksternal dan internal) dan pihak institusional. Pihak auditor ditetapkan oleh pemegang saham didalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pihak institusional terdiri dari perusahaan asuransi, bank, perseroan terbatas, perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lainnya (Ilmaniyah 2016). Pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi terhadap pihak manajemen mampu meminimalkan konflik kepentingan antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Dengan adanya kepemilikan saham institusional didalam perusahaan maka dapat berperan sebagai bentuk pencegahan terhadap penyelewengan yang dilakukan oleh pihak manajemen(Wida dan Suartana 2014). Mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi tersebut dapat menjamin peningkatan kesejahteraan pemegang saham didalam perusahaan. Dengan demikian permasalahan keagenan dapat hilang apabila pihak manajemen memiliki status ganda didalam perusahaan dimana sebagai pengelola perusahaan dan sebagai pemegang saham serta pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi terhadap kinerja pihak manajemen (Welim dan Rusiti2014).
Struktur Kepemilikan Saham
Saham adalah tanda bukti penyertaan kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaandimana pemiliknya disebut sebagai pemegang saham (Ilmaniyah2016).Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan didalam perusahaan yang mempelajari tentang bagaimana perusahaan mendanai aktivanya. Struktur modal terdiri dari modal hutang (debt) dengan komponen hutang jangka panjang dan modal sendiri (equity capital) dengan komponen
7 saham preferen dan saham biasa (Gitman 2009).Komponen struktur kepemilikan saham yang berada didalam modal sendiri dapat dijadikan sebagai indikator yang digunakan untuk mengurangi konflik keagenan yang terjadi didalam perusahaan (Wida dan Suartana2014).
Struktur kepemilikan saham adalah proporsi saham yang ada didalam perusahaan yang dimiliki para pemegang saham (Annisa dan Nazar 2014).. Dalam struktur kepemilikan saham, kepemilikan saham mayoritas berbeda dengan kepemilikan saham minoritas. Kriteria pemegang saham mayoritas memiliki lebih dari sama dengan 20% total saham perusahaan yang berfungsi melakukan pengawasan serta mempengaruhi pengambilan keputusan pihak manajemen.
Diluar dari persentase tersebut disebut sebagai pemegang saham minoritas (Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-85/PM/1996 Tentang Peraturan Bapepam No. IX. F. 1, Tentang Penawaran Tender. 1996).
Struktur kepemilikan saham dapat dijelaskan dari dua sudut pandang yaitu pendekatan keagenan dan pendekatan informasi asimetri (Ituriaga dan Sanz 1998 dalam Faizal 2004). Menurut pendekatan keagenan, struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik keagenan antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Sugiarto (2009)dalam bukunya mengungkapkan bahwa tindakan pihak manajemen dapat dipengaruhi melalui struktur kepemilikansaham yang terdapat didalam perusahaan. Dengan posisi pihak manajemen didalam struktur kepemilikan saham maka pihak manajemen akan mengutamakan kepentingan pemegang saham (on the best of interest of stakeholders) (Sartono 2001). Hal ini dapat berpengaruh pada tujuan yang telah ditargetkan oleh pemegang saham terkait laba. Dengan demikian,pihak manajemen dapat termotivasi meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran pemegang saham dikarenakan adanya kesetaraaan kepentingan antara pemegang saham dengan pihak manajemen didalam perusahaan (Hanafi 2004).
Dalam pendekatan informasi asimetri, struktur kepemilikan dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi antara pihak manajemen dengan pihak pemegang. Penyebab timbulnya informasi asimetri didalam perusahaan adalah pihak manajemen memiliki informasi yang lebih
8 mengenai kondisi perusahaan dibandingkan dengan pihak pemegang saham.Informasi yang tidak dimiliki oleh pemegang saham cenderung membuat pihak manajemen untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Hal ini membuat pemegang saham menjadi sulit untuk mengendalikan tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen (Sugiarto 2009).
Adanya kepemilikan pihak institusi mampu melakukan pengawasan terhadap kinerja pihak manajemen sehingga tidak terjadi informasi asimetri antara pihak manajemen dengan pemegang saham (Ahmad dan Septriani 2008). Menurut Jensen danMeckling (1976) dalam penelitian Wiranata(2013)pihak institusimampu meminimalkan konflik keagenan antara pihak manajemen dengan pemegang saham karena adanya pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi terhadap kinerja pihak manajemen. Dengan demikian struktur kepemilikan saham memiliki peran penting terhadap peningkatan kinerja perusahaan karena mampu meminimalkan konflik kepentingan antara pihak manajemen dengan pemegang sahamdidalam perusahaan(Ilmaniyah2016).
Kinerja Perusahaan
Salah satu alasan para pemegang saham menanamkan modalnya dalam suatu perusahaan ialah untuk mendapatkan keuntungan. Nilai pemegang saham akan meningkat apabila kinerja perusahaan meningkat yang ditandai dengan tingkat pengembalian investasi yang tinggi kepada pemegang saham(Ilmaniyah 2016).Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dalam penelitian Wida dan Suartana(2014) adalah struktur kepemilikan saham.Dalam penelitiannya,Puspito(2011) juga mengungkapkan bahwa kinerja perusahaan dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan saham didalam perusahaan.
Dalam buku yang ditulis oleh Surya dan Yustiavandana (2006) konflik keagenan yang terjadi didalam perusahaan dapat menimbulkan biaya keagenan.
Hal ini dikarenakan adanya informasi yang asimetri. Sehinggastrategi yang dilakukan oleh pemegang saham untuk meminimalkan konflik keagenan ialah memberikan proporsi saham perusahaan pada pihak manajemen (Hanafi 2004).
Setiap keputusan yang ditetapkan oleh pihak manajemen ini diawasi oleh pihak
9 institusional yang memiliki proporsi saham pada perusahaan tersebut (Welim dan Rusiti 2014). Menurut Sugiarto(2009) pengawasan oleh pihak institusional dilakukan agar pihak manajemen bekerja sesuai dengan kontrak yang telah disepakati yaitu memaksimalkan kemakmuran pemegang saham.
Kinerja perusahaan dapat dilihat melalui hasil akhir kegiatan operasi perusahaan (Puspito 2011). Hery(2015) menemukan bahwa rasio profitabilitas dapat menjelaskan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu. Kinerja pihak manajemen yang efektif adalah tercapainya suatu tujuan pihak manajemen dalam meningkatkan laba perusahaan. ROE merupakan bagian dari rasio profitabilitas yang terdiri dari komponen laba bersih dengan ekuitasyang mampu menjelaskan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham. Semakin tinggi ROE maka semakin tinggi pula laba yang dihasilkan oleh perusahaan sehingga akan menarik minat pemegang saham untuk menanamkan modalnya(Hery 2015). Dengan demikian hal tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap kinerja perusahaan.
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Pengaruh Kepemilikan Saham Manajerial terhadap Kinerja Perusahaan Definisi kepemilikan saham manajerial ialah proporsi saham yang dimiliki oleh karyawan, manajer, direksi dan dewan komisaris di dalam perusahaan(Ilmaniyah 2016). Perusahaan memberikan proporsi saham terhadap pihak manajemen sehingga pihak manajemen terdaftar dalam struktur kepemilikan saham perusahaan. Ketika pihak manajemen merupakan bagian dari pemegang saham maka pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak manajemen cenderung memperhitungkan semua kepentingan didalam perusahaan.
Sehingga dapat dikatakan pihak manajemen memiliki status ganda didalam perusahaan dimana sebagai pengelola dalam kegiatan operasional perusahaan dan juga sebagai pemegang saham didalam perusahaan (Welim dan Rusiti 2014).
Kepemilikan saham pada pihak manajemen ada untuk mengurangi konflik keagenan antara pihak manajemen dengan pemegang sahamsehingga dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan (Hanafi 2004). Hal ini
10 dikarenakan konflik keagenan yang terjadi didalam perusahaan dapat menimbulkan biaya keagenan (Surya dan Yustiavandana 2006). Munculnya biaya keagenan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan karena pengeluaran pada biaya keagenan berpengaruh terhadap laba yang akan diterima oleh perusahaan. Menurut Ahmad dan Septriani(2008)pemegang saham harus meminimalkan konflik keagenan didalam perusahaan agar menghindari permasalahan yang dapat berpengaruh pada kinerja perusahaan dimasa mendatang.Dalam temuan Waskito (2014) mengungkapkan bahwa kepemilikan saham manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
H1 : Kepemilikan saham manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
Pengaruh Kepemilikan Saham Institusional terhadap Kinerja Perusahaan Definisi dari kepemilikan saham institusional adalah kepemilikan saham yang terpisah dari pihak manajemen. Yang dimiliki oleh perusahaan asuransi, bank, perseroan terbatas, perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lainnya (Ilmaniyah 2016). Hal ini menjelaskan bahwa proporsi kepemilikan ini tidak aktif dalam kegiatan operasional perusahaan. Kepemilikan saham institusional dapat digunakan untuk mengurangikonflik keagenan didalam perusahaan (Wiranata 2013 dalam Jansen dan Meckling 1976). Ahmad dan Septriani(2008) dalam penelitiannya menemukan bahwa dengan adanya kepemilikan pihak institusi mampu melakukan pengawasan terhadap kinerja pihak manajemen sehingga tidak terjadi informasi asimetri antara pihak manajemen dengan pemegang saham.
Konflik keagenan yang terjadi didalam perusahaan akan menimbulkan biaya keagenan (Surya dan Yustiavandana 2006). Munculnya biaya keagenan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan karena pengeluaran pada biaya keagenan oleh perusahaan dapat berpengaruh terhadap laba yang akan diterima oleh pemegang saham. Konflik keagenan dapat diminimalkan dengan upaya pengawasan. Pengawasan dilakukan oleh pihak institusional terhadap kinerja manajemen didalam perusahaan untuk menekan setiap pemenuhan kepentingan pihak manajemen
.
Pengawasan yang dilakukan oleh pihak11 institusional terhadap kinerja manajemen dapat meminimalkan konflik kepentingan antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Hal ini menjadi bentuk pengawasan yang efektif bagi perusahaan dan pada akhirnya mampu meningkatkan kinerja perusahaan.
Adanya kepemilikan saham institusional didalam perusahaan dapat berperan sebagai bentuk pencegahan terhadap penyelewengan yang dilakukan oleh pihak manajemen(Wida dan Suartana 2014). Mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi tersebut akan menjamin peningkatan kesejahteraan pemegang saham didalam perusahaan. TemuanWida dan Suartana(2014)mengungkapkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
H2 : Kepemilikan saham institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
Metode Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder yang diperoleh dari BEI dengan mengakses semua laporan tahunan (annual report) perusahaan manufakur selama Tahun 2013-2015yang dipublikasikan di (www.idx.co.id).Populasi dalam penelitian ini menggunakan seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) selama Tahun 2013- 2015.Alasan peneliti memilih perusahaan manufaktur dikarenakan pengaruh perusahaan manufaktur dalam dinamika perdagangan dinilai signifikan (Wiranata 2013). Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling.Adapun kriteria sampel sebagai berikut :
1. Perusahaan yang telah terdaftar di BEI selama tahun 2013-2015.
2. Perusahaan yang mempublikasikan laporan tahunan (annual report) selama tahun 2013-2015.
3. Perusahaan yang mencantumkan kelengkapan data mengenai variabel ROE, Kepemilikan saham manajerial, Kepemilikan saham institusional, Size dan Leverage yang digunakan dalam penelitian ini.
12 Definisi Operasional Variable Penelitian
Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja perusahaan. kinerja perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan ROE (Ratio On Equity). ROE merupakan rasio antara laba bersih dengan ekuitas (Hery 2015).
Adapun rumusnya sebagai berikut :
ROE =
x 100%
Variabel Independen
Terdapat dua variabel dependen dalam penelitian ini. Diantaranya kepemilikan saham manajerial serta kepemilikan saham institusional. Berikut penjelasannya :
1. Kepemilikan Saham Manajerial
Kepemilikan saham manajerial adalah saham yang dimiliki oleh karyawan, manajer, direksi dan dewan komisarisperusahaan yang diukur dengan proporsi jumlah saham yang dimiliki oleh pihak manajemen (Ilmaniyah 2016).
Adapun rumusnya sebagai berikut :
Kepemilikan Saham Manajerial =
x 100%
2. Kepemilikan Saham Institusional
Kepemilikan institusional adalah saham yang dimiliki oleh pihak institusi perusahaan yang diukur dengan proporsi jumlah saham yang dimiliki oleh institusi(Ilmaniyah 2016). Adapun rumusnya sebagai berikut :
Kepemilikan Saham Institusional =
x 100%
13 Variabel Kontrol
Terdapat dua variabel kontrol dalam penelitian ini. Diantaranya ukuran perusahaan serta leverage. Berikut penejelasannya :
1. Ukuran Perusahaan (Size)
Ukuran perusahaan dalam penelitian diukur dengan menggunakan logaritma natural dari total aset yang dimiliki oleh perusahaan (Wiranata2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Munthe(2014) menyatakan bahwa ukuran perusahaanberpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan semakin besar pula total aset yang dimiliki perusahaan.
Ukuran Perusahaan = Ln (total aset perusahaan) 2. Leverage
Dalam penelitian ini leverage diukur dengan menggunakan rasio total hutang terhadap total ekuitas (Wiranata 2013).Hasil temuan yang dilakukan oleh Wiranata(2013)menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Semakin besar leverage berarti semakin besar total aset yang dimiliki perusahaan.
Leverage =
x 100%
14 Teknik Analisis Data
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan program SPSS 20 (Statistic Package Social Science) dengan metode analisis data regresi berganda.
Adapun model regresinya sebagai berikut :
ROE = a+b1KEPMAN+b2KEPINST+b3SIZE+b4LEVERAGE+e Keterangan:
ROE : Return on Equity sebagai pengukur kinerja perusahaan
a : Konstanta
b1 : Koefisien dari regresi kepemilikan manajerial b2 : Koefisien dari regresi kepemilikan institusional b3 : Koefisien dari regresi ukuran perusahaan
b4 : Koefisien dari regresi leverage KEPMAN : Kepemilikan Saham Manajerial KEPINST : Kepemilikan Saham Institusional SIZE : Ukuran Perusahaan
LEVERAGE : Leverage
e : Error atau kesalahan
15 Model Penelitian
Gambar 1
X1 H1(+)
H2(+) X2
Untuk mengetahui hubungan antar variabel dalam model regresi perlu dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu dalam penelitan. Uji asumsi tersebut diantaranya :
1. Uji Normalitas dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independen memiliki distribusi yang normal atau tidak normal. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal (Purnomo 2015). Dalam penelitian ini menggunakan pengujian uji statistik Kolmogorov-Smirnov.
Apabila p-value lebih besar dari nilai signifikansi maka dapat disimpulan suatu data berdistribusi normal(Purnomo 2015).
2. Uji Multikolineritas dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen (Purnomo 2015). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Dalam penelitian ini menggunakan pengujian uji statistik nilai Variance Inflation Factor (VIF).
Nilai VIF disekitar angka 1 dan mempunya nilai tolerance mendekati angka 1 dapat disimpulkan tidak terjadi multikolonieritas (Purnomo 2015).
Kepemilikan
Saham Manajerial Kinerja
Perusahaan Kepemilikan
Saham Institusional
Variabel Kontrol :
Size Leverage
16 3. Uji Heteroskedastisitas dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain(Purnomo 2015). Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Untuk mendeteksi heteroskedastisitas menggunakan ujiScatter Plot dengan memasukkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik Scatter Plot (Purnomo 2015).
4. Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu terhadap data yang yang bersifat time series (data berdasarkan waktu)(Purnomo 2015). Model regresi yang baik adalah tidak terjadi autokorelasi. Pengujian ini dilakukan dengan melihat nilai statistik Durbin-Watson dengan syarat nilai Durbin- Watson berada diantara -2 sampai +2 maka dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi (Purnomo 2015).
Setelah memenuhi uji asumsi klasik, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan :
1. Koefisien Determinasi menjelaskan seberapa besar kemampuan variabel dependen dalam menjelaskan variabel independen.Secara sederhana koefisien determinasi dihitung dengan mengkuadratkan Koefisien Korelasi. Nilai minimum koefisien determinasi adalah nol dan maksimumnya adalah satu. Apabila koefisien determinasi sama dengan 1 menjelaskan bahwa variabel independen memberikan hampir semua informasi yang diperlukan untuk memprediksi variabel dependen(Purnomo 2015).
2. Uji Statistik t dalam penelitian ini dilakukan untuk menguji nilai signifikansi masing-masing variabel independen dengan variabel dependen dengan alpha (α) sebesar 5%. Jika nilai signifikasi lebih kecil dari α, maka hipotesis dapat diterima dimana mendeskripsikan variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen (Purnomo 2015).
17 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Objek Penelitian
Berdasarkan data BEI selama Tahun 2013-2015 terdapat 138 sampel perusahaan dalam penelitian ini. Berikut proses pemilihan sampel dalam penelitian ini :
Tabel 1 Pemilihan Sampel
No Kriteria Sampel Penelitian Jumlah
1 Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI berturut- turut dari tahun 2013-2015.
145
Perusahaan yang tidak masuk sebagai sampel :
a. Jumlah perusahaan manufaktur yang tidak memiliki data lengkap berturut-turut dari tahun 2013-2015.
(8)
b. Delisting (2)
c. Ipo di tahun 2013-2015 (12)
d. Perusahaan yang berpindah sektor dari manufaktur (2) e. Perusahaan manufaktur yang tidak memiliki
kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional.
(75)
Total sampel penelitian 46
Tahun Pengamatan 3
Total sampel penelitian selama 3 tahun pengamatan 138 Sumber : diolah oleh peneliti, 2017.
18 Gambaran StatistikPerusahaan Manufaktur
Penelitian ini memiliki tingkat keyakinan sebesar 95% dengan tingkat α = 5%. Berikut gambaran statistik perusahaan manufaktur yang meliputi variabel KinerjaPerusahaan, Kepemilikan Saham Manajerial, Kepemilikan Saham Institusional, Size dan Leverage :
Tabel 2
Hasil PerhitunganKinerja Perusahaan, Kepemilikan Saham Manajerial, Kepemilikan Saham Institusional, Size dan Leverage
Variabel Mean (%) Minimum (%) Maximum (%)
ROE 7,408 -157,730 134,500
KEP_MANJ 6,282 0,001 89,286
KEP_INST 44,628 0,110 96,330
SIZE 27,960 6,701 48,909
LEVERAGE 131,282 -343,000 634,000
Sumber : diolah SPSS 20 (2017)
Rata-rata ROE pada perusahaan manufaktur selama tahun 2013-2015 dari tabel diatas menunujukkan sebesar 7,408%. Nilai terendah dimiliki oleh perushaan Inti Keramik Alam Asri Industri Tbk sebesar -157,730% sedangkan nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Unilever Indonesia Tbk sebesar 134,500%.
Dari 138 perusahaan yang dijadikan sampel, kepemilikan saham manajerial terendah dimiliki oleh perusahaan Mandom Indonesia, Unilever Indonesia Tbk dan Langgeng Makmur Industri Tbk sebesar 0,001% dari total saham. Untuk kepemilikan saham manajerial yang tertinggi dimiliki oleh perusahaan Kabelindo Murni Tbk sebesar 89,286% dari total saham. Berdasarkan tabel 2 rata-rata kepemilikan saham manajerial pada perusahaan manufaktur selama tahun 2013-2015 sebesar 6,282%dari total saham.
Proporsi kepemilikan investor institusional tersebar dari yang terkecil 0,1% dari total saham yang dimiliki oleh perusahaan Gajah Tunggal Tbk dan yang terbesar 96,330% dari total saham dimiliki oleh perusahaan Argo Pantes Tbk.
Rata-rata proporsi kepemilikan investor institusional sebesar 44,628% dari total saham.
19 Nilai size terkecil dalam penelitian ini sebesar 6,701% yang dimiliki oleh perusahaan Sat Nusa Persada Tbk dan nilai terbesar adalah 48,909% dimiliki oleh perusahaan Tembaga Mulia Semanan Tbk. Dan rata-rata ukuran perusahaan dalam penelitian ini adalah 27,960%.
Rata-rata leverage dalam penelitian ini sebesar 131,282% dengan nilai tertinggi sebesar 634,000% dimiliki oleh perusahaan Indal Alumunium Industri Tbk dan nilai terendah sebesar -343,000% pada perusahaan Sumalindo Lestari Jaya Tbk.
Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas Residual
Uji Normalitas Residual dalam penelitian ini menggunakan uji statistik Kolmogorof-Smirnov. Berdasarkan hasil output, nilai p-valuesebesar 0,099lebih besar dari nilai signifikansi yaitu 0,05. Maka dapat disimpulkan dalam penelitian ini, distribusi data residualnya normal.
Tabel 3
Hasil dari Uji Normalitas Residual Variabel Kolmogorov-Smirnova
Statistic df Sig.
Unstandardized
Residual 0,080 104 0,099
Keterangan :
a. Lilliefors Significance Correction Sumber : diolah SPSS 20 (2017)
20 2. Uji Multikolineritas
Berdasarkan hasil output dapat diketahui bahwa semua nilai tolerance mendekati angka 1 dan semua nilai VIF disekitar angka 1. Maka dapat disimpulkan dalam penelitian ini tidak terjadi multikolonieritas.
Tabel 4
Hasil Uji MultiKoloniearitas
Variabel
Unstandardized Coefficients
Standardize d Coefficients
Collinearity Statistics B
Std.
Error Beta Tolerance VIF (Constant) 3,955 1,550
Log_Kep_Manj -0,059 0,046 -0,124 0,992 1,008
Kep_Inst 0,002 0,002 0,076 0,927 1,078
Log_Size -2,571 1,029 -0,240 0,963 1,039
Log_Leverage 0,231 0,139 0,163 0,913 1,095
Keterangan :
a.Dependent Variable: LOG_ROE Sumber : diolah SPSS 20 (2017)
3. Uji Heterokedastisitas
Berdasarkan hasil output dengan menggunakan uji Scatter Plotdiketahui tidak terdapat pola yang jelas dan terdapat titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Maka dapat disimpulkan dalam penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas.
Tabel 5
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber : diolah SPSS 20 (2017)
21 4. UjiAutokorelasi
Berdasarkan hasil outputnilai Durbin-Watson sebesar 1,344. Hasil tersebut menunjukkan nilai Durbin-Watson berada diantara -2 sampai +2. Maka dapat disimpulkan dalam penelitian ini tidak terjadiautokorelasi.
Tabel 6
Hasil Uji Autokorelasi
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
1 0,352 0,124 0,088 0,571 1,344
Keterangan :
Predictors: (Constant), LOG_LEVERAGE, LOG_KEP_MANJ, LOG_SIZE, KEP_INST Dependent Variable: LOG_ROE
Sumber : diolah SPSS 20 (2017)
Uji Hipotesis
Koefisien Determinasi
Koefisien Determinasi dalam penelitian ini menjelaskan seberapa besar kemampuan variabel dependen dalam menjelaskan variabel independen.Apabila koefisien determinasi sama dengan 1 menjelaskan bahwa variabel independen memberikan hampir semua informasi yang diperlukan untuk memprediksi variabel dependen(Purnomo 2015).
Tabel 7
Hasil Koefisien Determinan
R R Square Adjusted R
Square
Std. Eror of the Estimates
0,352 0,124 0,088 0,571
Keterangan :
a. Predictors: (Constant), LOG_LEVERAGE, LOG_KEP_MANJ, LOG_SIZE, KEP_INST
b. Dependent Variable: LOG_ROE Sumber : diolah SPSS 20 (2017)
Dari tabel 3 angka R menunjukkan sebesar 0,352, aritinya hubungan antara kinerja perusahaan dengan kepemilikan saham manajerial dan hubungan antara kinerja perusahaan dengan kepemilikan saham institusional memiliki korelasi positiflemah. Sementara angka koefisien determinasi adalah 0,124.
Namun, karena jumlah independen lebih dari satu maka angka yang digunakan ialah angka Adjusted R Square, yang besarnya adalah 0,088. Yang artinya, pengaruh kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional terhadap kinerja perusahaan sebesar 8,8% Sedangkan sisanya 91,2% (100%-
22 8,8%) dipengaruhi oleh variabel lain selain variabel kepemilikan saham manajerial dan variabel kepemilikan saham institusional.
Analisis Regresi Berganda
Teknik analisis regresi yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi berganda dikarenakan jumlah independen dalam penelitian ini lebih dari satu. Berikut hasil output yang telah dilakukan dalam penelitian sebagai berikut :
Tabel 8
Hasil Uji Regresi Linear Berganda, Uji t secara Parsial
Variabel
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std.
Error Beta
(Constant) 3,955 1,550 2,553 0,012
Log_Kep_Manj -0,072 0,045 -0,152 -1,596 0,114
Kep_Inst 0,002 0,002 0,076 0,775 0,440
Log_Size -2,571 1,029 -0,240 -2,499 0,014
Log_Leverage 0,231 0,139 0,163 1,660 0,100
Keterangan :
a. Dependent Variable: LOG_ROE Sumber : diolah SPSS 20 (2017)
Uji Statistik t
Hasil uji statistik t dapat dilihat dari nilai signifikansi. Nilai signifikansi kepemilikan saham manajerial sebesar 0,114 dan nilai signifikansi kepemilikan saham institusional sebesar 0,440. Nilai signifikansi kedua variabel ini lebih besar dibandingkan dengan α sebesar 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan. Begitu pula untuk kepemilikan saham institusional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Pengaruh Kepemilikan Saham Manajerial Terhadap Kinerja Perusahaan
23 Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi kepemilikan saham manajerialsebesar 0,114lebih besar dari α. Dengan demikian hipotesis pertama dalam penelitian ini yaitu kepemilikan saham manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan ditolak.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Wiranata (2013) dan Wida dan Suartana(2014) yang menyatakan bahwa kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Akan tetapi, bertolak belakang dengan hasil temuan yang dilakukan oleh Waskito (2014). Dimana dalam temuannya mengungkapkan hasil yang positif antara kepemilikan saham manajerial dengan kinerja perusahaan. Penelitian ini memiliki rata-rata kepemilikan saham manajerial pada perusahaan manufaktur tahun 2013-2015 sebesar 6,283% dari total saham. Hasil dalam penelitian menjelaskan strategi yang dilakukan oleh pemegang saham dengan memberikan kesempatan kepada pihak manajemen untuk memiliki saham didalam perusahaan ternyata tidakdapat meminimalkan konflik keagenan sepenuhnya antara pihak manajemen dengan pemegang saham dan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan.
Dengan adanya kepemilikan saham manajerial pada perusahaan manufaktur belum dapat memberikan perubahan terhadap kinerja perusahaan.
Konflik keagenan dalam penelitian disebabkan karena adanya perbedaan keputusan penggunaan biaya antara pemegang saham dengan pihak manajemen.
Kepemilikan saham manajerial dalam penelitian ini belummemberikan kontribusi yang signifikan dalam membuat suatu keputusan terkait penggunaan biaya. Pihak manajemen lebih diuntungkan dengan keputusan penggunaan biaya daripada menerima dividen. Perbedaan sangat mungkin terjadi karena pihak manajemen dalammengambil keputusan tidak perlu menanggung resiko sebagai akibat adanya kesalahan dalam pengambilan keputusan bisnis, begitu pula jika mereka tidak dapatmeningkatkan nilai perusahaan. Karena tidak menanggung resiko maka pihak manajemen cenderung membuat keputusan yang tidak optimal. Dengan demikian kepemilikan saham manajerialdalam perusahaan manufaktur tahun 2013-2015 belum optimal dalammenyetarakan kepentingannya dengan pemegang saham.
24 Kinerja pihak manajemen dalam penelitian ini belum efektif dikarenakan belum tercapainya suatu tujuan pihak manajemen dalam meningkatkan laba perusahaan. Adanya kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan belum memberikan perubahan terhadap peningkatan kinerja perusahaan karena belum mampu beroperasi dengan baik dalam hal konflik keagenan sehingga belum dapat memberikan laba sesuai dengan yang ditargetkan oleh pemegang saham.
Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Perusahaan
Nilai signifikansi kepemilikan saham institusional menunjukkan sebesar 0,440 lebih besar dari α. Hal ini menjelaskan bahwa kepemilikan saham institusional tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan manufaktur selama tahun 2013-2015. Sehingga hipotesis kedua dalam penelitian ini dimana kepemilikan saham institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan ditolak.
Temuan ini konsisten dengan hasil penelitianWiranata (2013), yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Akan tetapi, bertolak belakang dengan hasil penelitian Waskito (2014) dan Wida dan Suartana(2014) yang mengungkapkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.Rata- rata kepemilikan saham institusional dari 138 sampel penelitian yaitu 44,62785%.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa besar kecilnya kepemilikan institusional didalam perusahaan tidak secara langsung berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan adanya informasi asimetri antara pihak institusi dengan pihak manajemen. Pihak manajemen memiliki informasi yang lebih dibandingkan dengan informasi yang dimiliki oleh pemegang saham mengenai kondisi perusahaan. Pihak manajemen yang memiliki informasi lebih mengenai kondisi perusahaan mampu mengendalikan perusahaan dalam membuat suatu keputusan didalam perusahaan. Dengan demikian kepemilikan saham institusionaldalam perusahaan manufaktur tahun 2013-2015 belum optimal dalammelakukan proses pengawasan terhadap kinerja manajemen. Keberadaan kepemilikan saham institusional dalam penelitian ini belum efektif dalam
25 meminimalkan konflik keagenan didalam perusahaan. Sehingga belum memberikan perubahan pada kinerja perusahaan manufaktur tahun 2013-2015.
Size Terhadap Kinerja Perusahaan
Nilai signifikansi size sebesar 0,014 lebih kecil dari α. Dapat disimpulkan bahwa size berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Temuan ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Wiranata (2013) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Akan tetapi, temuan ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Munthe (2014) yang mengungkapkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Penjelasan atas hasil dari penelitian ini adalah semakin besar ukuran perusahaan maka semakin mudah perusahaan tersebut mendapatkan sumber dana dari pasar modal. Menurut pratiwi (2011) dalam penelitian yang dilakukan oleh Nurminda et al (2016) menjelaskan bahwa ukuran perusahaan yang besar akan berpengaruh terhadap peningkatan harga saham. Dan tentunya hal ini akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. Ukuran perusahaan yang besar juga memberi informasi perusahaan tersebut memiliki laba bersih yang relatif besar. Dengan demikian hal ini akan menarik para pemegang saham untuk menanamkan modalnyadanberpengaruh baik bagi peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
Leverage Terhadap Kinerja Perusahaan
Nilai signifikansi leverage sebesar 0,1 lebih besar dari α. Dapat disimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Temuan ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Wiranata (2013) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
Salah satu kegiatan pihak manajemen dalam perusahaan ialah melakukan kegiatan operasional. Kegiatan operasional tersebut membutuhkan modal perusahaan. Modal yang digunakan oleh pihak manajemen dapat berasal dari
26 modal perusahaan itu sendiri dan modal yang berasal dari pinjaman. Rasio leverage yang digunakan dalam penelitian ini ialah Debt to Equity Ratio (DER).
Rasio ini membandingkan sumber modal yang berasal dari hutang (hutang jangka panjang dan hutang jangka pendek) dengan modal sendiri (Syari dan Suhermin 2014).
Besarnya rata-rata leverage dalam penelitian ini yaitu sebesar 131,282%
menunjukkan bahwa sumber modal yang berasal dari hutang lebih besar dari modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan. Dengan kata lain perusahaan dalam membiayai asetnya lebih banyak berasal dari hutang dibandingkan dengan modal sendiri. Hal ini akan berdampak pada kinerja perusahaan. Dimana para pemegang saham akan berpikir dua kali untuk menanamkan sahamnya pada perusahaan tersebut. Hal itu dikarenakan banyaknya perusahaan menggunakan dana yang berasal dari hutang. Sehingga resiko yang dihadapi oleh pemegang saham besar untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan tersebut. Karena hutang adalah salah satu indikator untuk mengukur kondisi keuangan didalam perusahaan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan dalam penelitian ini, peneliti dapat meringkas hasil penilitian sebagai berikut :
1. Kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh positif terhadap kinerja pada perusahaan manufaktur selama tahun 2013-2015.
2. Kepemilikan saham institusional tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur selama tahun 2013-2015.
3. Untuk menyelesaikan masalah keagenan dalam suatu perusahaan, pemegang saham dapat mempertimbangkan kembali untuk memberikan proporsi saham perusahaan kepada pihak manajemen. Hal ini dikarenakan proporsi kepemilikan saham manajerial serta institusional dalam perusahaan manufaktur selama tahun 2013-2015 tidak memberikan pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
27 IMPLIKASI TERAPAN
Penelitian ini memberikan informasi mengenai pengaruh kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional terhadap kinerja perusahaan. Hasil penelitian yang telah dilakukan menjelaskan tidak terdapat pengaruh antara kepemilikan saham manajerial dengan kinerja perusahaan. Begitu pula untuk kepemilikan saham institusional. Tidak terdapat pengaruh antara kepemilikan saham institusional dengan kinerja perusahaan. Sehingga dapat melihat faktor-faktor lain selain kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional.
KETERBATASAN DAN SARAN
Dari penelitian yang sudah dilakukan, peneliti memberikan saran untuk penelitian selanjutnya yaitu :
1. Keterbatasan penelitian ini adalah data yang digunakan hanya terbatas pada perusahaan manufaktur tahun 2013-2015. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan keseluruhan perusahaan yang terdaftar di BEI atau dapat menggunakan populasi perusahaan yang memiliki tingkat pengawasan yang tinggi seperti Bank sehingga diharapkan dapat mendukung hasil penelitian.
2. Untuk penelitian selanjutnyadapat menambah jumlah variabel lain seperti kepemilikan asing, kepemilikan pemerintah atau mekanisme corporate governance yang lain yang berdampak pada kinerja perusahaan.
Dikarenakan nilai Adjusted R Square mengindikasikan variabel kinerja perusahaan yang diproksikan oleh ROE hanya dapat dijelaskan oleh variabel independen kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional hanya sebesar 8,8% sedangkan sisanya yaitu 91,2%
dijelaskan oleh faktor-faktor di luar model penelitian ini maka untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan variabel yang mungkin dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.
28 3. Untuk mewakili proksi dari kinerja perusahaan dapat menggunakan PER (Price Earning Ratio) agar lebih tepat dan akurat dalam mengukur kinerja perusahaan karena menyangkut struktur kepemilikan saham perusahaan.
4. Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan variabel kontrol yang berkaitan dengan struktur modal perusahaan sehingga diharapkan dapat mendukung hasil penelitian.
5. Untuk penelitian selanjutnya dapat memberikan batasan pada proporsi kepemilikan saham manajerial yang dijadikan sampel dalam penelitian.