5 A. Landasan Teori
1. Pengertian Persediaan
SAK EMKM mendefinisikan persediaan adalah aset:
a. Untuk dijual dalam kegiatan normal.
b. Dalam proses produksi untuk kemudian dijual.
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. (IAI, 2016:21)
Secara garis besar persediaan adalah barang yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1) Persediaan adalah sejumlah jumlah jadi, bahan baku, dan barang dalam proses yang dimiliki perusahaan dengan tujuan atau diproses lebih lanjut. (Rudianto, 2012:222)
2) Secara istilah persediaan barang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual.
Dalam perusahaan dagang, barang-barang yang dibeli dengan tujuan akan dijual kembali diberi judul persediaan barang.
(Baridwan, 2015:149)
3) Persediaan barang dagang adalah barang-barang yang dimiliki perusahaan siap untuk dijual kembali. (Soemarso,2009:384) 4) Persediaan barang baik dalam usaha dagang maupun perusahaan
manufaktur merupakan jumlah yang akan mempengaruhi neraca maupun laba/rugi, oleh karena itu persediaan barang yang dimiliki selama satu periode harus dapat dipisahkan mana yang sudah dapat dibebankan sebagai biaya (harga pokok penjualan) yang akan dilaporkan dalam laporan laba/rugi dan mana yang
masih belum terjual yang akan menjadi persediaan dalam neraca. (Baridwan, 2015:150)
2. Arti Penting Persediaan
Persediaan berpengaruh terhadap neraca maupun laporan laba/rugi.
Dalam neraca sebuah perusahaan dagang atau perusahaan manufaktur persediaan seringkali merupakan bagian yang sangat besar dari keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Meskipun demikian, jumlah dan persentasenya berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan lainnya. Pada perusahaan tertentu kadang-kadang persediaan menggambarkan 70% dari keseluruhan aktiva lancar. Angka persentase ini merupakan bukti betapa pentingnya kegiatan pembelian dan penjualan persediaan dalam operasi perusahaan. Dalam laporan laba/rugi persediaan memegang peran sangat vital dalam penentuan hasil operasi perusahaan untuk suatu periode. Angka laba kotor misalnya (penjualan dikurangi harga pokok penjualan) adalah sesuatu yang diamati terus-menerus oleh manajemen,pemilik,dan pihak-pihak yang berkepentingan. (Al. Haryono Jusup, 2010:99-100)
Dalam laporan keuangan, persediaan barang dagang disajikan baik di neraca maupun laporan laba rugi. Persediaan barang dagang yang tercantum di neraca mencerminkan nilai barang dagang yang ada pada tanggal neraca, yang biasanya merupakan akhir dari suatu periode akuntansi. Pada laporan laba/rugi, persediaan barang dagang muncul dalam harga pokok penjualan. Harga pokok penjualan dihitung sebagai persediaan barang dagang awal periode ditambah pembelian bersih selama periode dikurangi persediaan barang dagang akhir periode. Ada saling hubungan antara persediaan barang dagang di neraca dan laporan laba/rugi. Bahkan, ada saling hubungan antara persediaan barang dagang pada tahun berjalan dengan tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang. Dari adanya hubungan ini terlihat betapa pentingnya persediaan dalam menentukan laba/rugi dalam posisi keuangan perusahaan, tidak saja terhadap tahun berjalan, tetapi juga terhadap tahun sebelumnya dan tahun
yang akan datang. Kesalahan dalam menentukan nilai persediaan barang dagang akan mempengaruhi tidak saja laporan laba/rugi tahun yang akan datang. (Soemarso, 2009:384)
3. Klasifikasi Persediaan
Dalam menentukan klasifikasi persediaan itu sangat penting untuk jenis perusahaan. Apabila perusahaan itu adalah perusahaan dagang maka hanya ada satu klasifikasi persediaan yaitu persediaan barang dagang.
Sedangkan apabila jenis perusahaan itu adalah perusahaan industry, maka klasifikasi persediaan dibagi atas:
a. Persediaan bahan baku adalah barang-barang yang akan menjadi bagian dari produk jadi yang dengan mudah dapat diikuti biayanya.
b. Persediaan bahan penolong adalah barang-barang yang juga menjadi bagian dari produk jadi tetapi jumlahnya relatif kecil atau sulit diikuti biayanya.
c. Persediaan Supplies pabrik adalah barang-barang yang mempunyai fungsi melancarkan proses produksi. Misalnya oli mesin dan bahan pembersih mesin.
d. Persediaan barang dalam proses adalah barang-barang yang sedang dijalankan (diproses) tetapi pada tanggal neraca barang-barang di belum selesai dikerjakan untuk dapat dijual masih diperlukan pengerjaan lebih lanjut.
e. Persediaan produk selesai adalah barang-barang yang sudah selesai dikerjakan dalam proses produksi dan menunggu saat penjualnya.
(Zaki Baridwan, 2015:150) 4. Kepemilikan Persediaan
Menurut Zaki Baridwan, barang-barang yang akan dicatat sebagai persediaan pihak yang dimiliki barang-barang tersebut, sehingga perubahan catatan persediaan akan didasarkan pada perpindahan hak pemilikan barang. Ada beberapa cara dalam menentukan hak pemilikan atas barang, yaitu:
a. Barang-barang dalam perjalanan (Goods in Transit)
Barang-barang yang ada pada tanggal neraca masih dalam perjalanan menimbulkan masalah apakah masih menjadi milik penjual atau sudah berpindah haknya pada pembeli. Untuk mengetahui barang-barang itu milik siapa harus diketahui syarat pengiriman barang-barang tersebut.
b. Barang-barang yang dipisahkan (Segregated Goods)
Barang-barang yang akan dijual dalam jumlah besar pengirimannya tidak dapat dilakukan sekaligus. Barang-barang yang dipisahkan tersendiri dengan maksud untuk memenuhi kontrak- kontrak atau pesanan-pesanan walaupun belum dikirim, haknya sudah berpindah pada pembeli. Oleh karena itu, pada tanggal penyusunan laporan keuangan jika ada barang-barang yang dipesan harus dikeuarkan dari jumlah persediaan penjual dan dicatat sebagai penjualan. Begitu pada pembeli dapat mencatat pembelian dan menambah pesediaan barangnya.
c. Barang-barang Konsinyasi (Consigment Goods)
Dalam penjualan titipan, barang-barang yang dititipkan untuk dijualkan (dikonsinyasi) haknya tetap pada yang menitipkan sampai saat barang-barang tersebut dijual. Sebelum barang-barang tersebut dijual masih tetap menjadi persediaan pihak yang menitipkan (songsinor). Pihak yang menerima titipan (congsinee) tidak mempunyai hak atas barang-barang tersebut sehingga tidak mencatat barang-barang tersebut sebagai persediaan. Apabila barang-barang tersebut sudah dijual, maka yang menerima titipan membuat laporan pada yang menitipkan. Pada waktu menerima laporan pihak yang menitipkan (consignor) mencatat penjualan dan mengurangi persediaan barang. (Baridwan,2015:152-154)
5. Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang
Menurut Zaki Baridwan, pencatatan persediaan dalam perusahaan yang jumlahnya cukup besar dapat ditentukan dengan 2 (dua) metode yaitu metode fisik dan metode perpetual.
a. Metode fisik
Menurut metode ini perhitungan persediaan (stok opname) ini diperlukan untuk mengetahui berapa jumlah barang yang masih ada dan kemudian diperhitungkan harga pokoknya. Pencatatan hanya dilakukan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi dengan menghitung,mengukur, dan menimbang secara fisik barang-barang yang ada di gudang. Dalam metode ini semua pembelian dan penjualan barang yang tidak dibukukan dalam perkiraan persediaan, sehingga dalam buku besar tidak terlihat jumlah persediaan. Oleh karena itu, dengan menggunakan metode fisik, harga pokok penjualan juga tidak dapat diketahui sewaktu-waktu. Harga pokok penjualan baru dapat dihitung apabila persediaan akhir sudah dihitung.
Perhitungan harga pokok penjualan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Persediaan awal Rp xxx Pembelian Netto Rp xxx (+) Tersedia untuk dijual Rp xxx Persediaan barang akhir Rp xxx (-) Harga pokok penjualan Rp xxx
Selama periode berjalan pencatatan mutasi persediaan yaitu:
1) Jurnal untuk mencatat pembelian
Pembelian Rp xxx
Hutang dagang/kas Rpxxx
2) Jurnal untuk mencatat penjualan
Penjualan Rp xxx
Hutang dagang/kas Rp xxx
b. Metode buku (perpetual)
Dengan metode ini semua pemasukan dalam pembelian dan semua pengeluaran atau penjualan barang yang dibukukan ke dalam perkiraan persediaan dari barang yang bersangkutan. Oleh sebab itu dengan hanya melihat catatan dalam perkiraan perusahaan sudah dapat diketahui setiap saat berapa sisa persediaan yang masih ada digudang.
Dengan metode perpetual setiap jenis persediaan dibuatkan rekening sendiri-sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Rincian dalam buku pembantu bias diawasi dari rekening control persediaan barang dalam buku besar. Rekening yang digunakan untuk mencatat persediaan ini terdiri dari beberapa kolom yang dapat dipakai untuk mencatat pembelian, penjualan, dan saldo persediaan. Dalam menggunakan metode perpetual penyusunan laporan keuangan dapat dilakukan setahun sekali untuk memastikan apakah jumlah persediaan barang dalam gudang sesuai dengan jumlah rekening persediaan.
Dibandingkan dengan metode fisik maka metode perpetual merupakan cara yang lebih baik untuk mencatat persediaan yang dapat membantu memudahkan penyusunan neraca dan laporan laba/rugi juga dapat digunakan untuk mengawasi barang-barang dalam gudang.
Pencatatan dalam mutasi persediaan selama periode berjalan adalah sebagai berikut:
1) Jurnal untuk mencatat pembelian
Persediaan Rp xxx
Hutang dagang/kas Rp xxx
2) Jurnal untuk mencatat penjualan
Piutang dagang/kas Rp xxx
Persediaan Rp xxx
Harga pokok penjualan Rp xxx
Persediaan Rp xxx
6. Biaya Persediaan Barang Dagang
Biaya persediaan terdiri dari biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lainnya yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
a. Biaya pembelian
Biaya pembelian terdiri dari harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagihkan kembali kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan, biaya penanganan, biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, rabat, dan hal-hal yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.
b. Biaya konversi
Biaya konversi adalah biaya yang timbul untuk memproduksi bahan baku menjadi barang jadi. Biaya ini terdiri dari biaya yang secara langsung terkait dengan unit produksi, termasuk alokasi sistematis biaya overhead produksi yang bersifat variabel atau bersifat tetap yang timbul dalam mengkonversi bahan menjadi barang jadi. Biaya overhead yang bersifat tetap dialokasikan berdasarkan kapasitas fasilitas produksi normal. Sedangkan biaya overhead yang bersifat varibel, biayanya dialokasikan berdasarkan pada setiap unti produksi atas dasar penggunaan aktual fasilitas produksi. Pengalokasian jumlah overhead tetap perunit produksi tidak bertambah dan overhead yang tidak teralokasi diakui sebagai beban pada periode yang terjadi jika suatu entitas mengalami produksi yang rendah. Sebaliknya jika suatu entitas mengalami produksi yang tinggi, maka jumlah overhead tetap yang dialokasikan
pada tiap unit produksi menjadi berkurang sehingga persediaan tidak diukur di atas biayanya.
c. Biaya lainnya
Biaya yang timbul dalam kondisi dan lokasi saat ini adalah bagian biaya lain yang dapat dibebankan sebagai biaya persediaan.
Yang dimaksud biaya lainnya seperti biaya desain dan biaya sebelum melakukan produksi yang di tujukan ke konsumen. Untuk biaya yang tidak dapat dibebankkan sebagai biaya persediaan yaitu biaya penelitian dan pengembangan, biaya administrasi dan penjualan, biaya pemborosan, dan biaya penyimpanan. (Martani, 2016:249) 7. Harga Pokok Persediaan
Harga pokok persediaan terdiri dari seluruh pengluaran langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan perolehan sampai penempatan untuk dijual. Dalam kasus bahan mentah, atau barang yang diperoleh untuk diproses dan dijual kembali, harga perolehannya meliputi harga beli, ongkos angkut masuk, biaya penyimpanan, biaya tenaga kerja, dan biaya produksi lainnya yang dikeluarkan dalam proses barang sampai siap untuk dijual. Pengeluaran tertentu yang dialokasikan kesetiap item akan diakui sebagai baya produk. Biaya produk yang di maksud disini adalah biaya yang melekat pada persediaan dan dicata dalam akun persediaan.
Biaya produk meliputi biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung dan biaya produksi tidak langsung bagi perusahaan manufaktur. Akan tetapi, pengeluaran lainnya yang relatif kecil dan sulit untuk dialokasikan, tetapi di akui sebagai beban periode berjalan dan tidak akan dihitung sebagai harga perolehan persediaan. Beban periode berjalan ini seperti beban penjualan dan beban umum serta adminstrasi tidak dianggap sebagai bagian dari biaya persediaan . (Hery, 2013: 54-55)
8. Rumus biaya
Rumus biaya yang digunakan oleh entitas dapat berbeda-beda sesuai dengan asumsi arus fisik dari barang persediaannya. Standar akuntansi tidak mengatur suatu entitas harus memiliki rumus biaya yang sesuai dengan arus fisik persediaan. Suatu entitas akan mempertimbangkan dampak pemilihan rumus biaya tersebut dalam laporan laba rugi. Ada tiga alternatif yang dapat dipertimbangkan oleh suatu entitas terkait dengan rumus biaya yaitu rumus biaya identifikasi khusus, masuk pertamaa keluar pertama, rata-rata tertimbang. (Martani, 2016:250)
a. Identifikasi khusus
Identifikasi khusus biaya artinya biaya-biaya tertentu yang diatribusikan ke unti persediaan tertentu. Pada rumus biaya ini suatu entitas harus mengidentifikasikan barang yang dijual dengan tiap jenis dalam persediaan secara spesifik. Rumus biaya ini pada dasarnya merupakan metode yang paling ideal karena terdapat kecocokan antara biaya dan pendapatan, tetapi dibutuhkannya pengidentifikasian barang persediaan secara satu persatu, biasanya rumus biaya ini hanya diterapkan pada suatu entitas yang memiliki persediaan sedikit, nilainya tinggi, dan dapat dibedakan satu sama lain. Dengan menggunakan rumus biaya identifikasi khusus ini maka perhitungan dengan menggunakan sistem perpetual akan sama dengan perhitungan sistem periodik. Karena dengan sistem identifikasi khusus nilai persediaan dikaitkan secara spesifik terhadap unit barang tertentu. (Martani, 2016:252)
b. Rumus biaya dengan sistem masuk pertama keluar pertama Sistem Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) mengasumsikan unit persediaan yang pertama dibeli akan digunakan terlebih dahulu sehingga unknit yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibelu atau diproduksi kemudian. Sistem ini merupakan metode relatif konsisten dengan arus fisik dari persediaan terutama untuk industri yang memiliki perputaran persediaan yang tinggi.
Sistem ini mempunyai kelebihan salah satunya adalah dari sisi relevansi nilai persediaan yang dimasukkan dalam laporan posisi keuangan entitas. Hal ini disebabkan karea nilai persediaan yang dimasukkan merupakan nilai yang didasarkan pada harga yang paling kini. Dalam menggunakan metode ini entitas dapat menghasilkan laporan posisi keuangan yang kini entitas. Sedangkan untuk kelemahan pada sistem ini adalah tidak merefleksikan nilai laba yang paling akurat karena metode ini kurang cocok antara biaya dengan pendapatan. (Martani, 2016:253)
c. Rata-rata tertimbang
Rumus biaya rata-rata tertimbang digunakan dengan menghitung biaya setiap unitnya berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari unit yang serupa pada awal periode dan biaya unti serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Entitas dapat menghitung rara-rata biaya secara berkala atau pada saat penerimaan kiriman.
Untuk menghitung biaya persediaan dengan menggunakan rumus biaya rata-rata tertimang ini terlebih dahulu harus dihitung biaya rata- rata per unit yaitu dengan membagi biaya barang yang tersedia untuk dijual dengan unit yang tersedia untuk dijual. Persediaan akhir dan beban pokok penjualan dihitung dengan dasar harga rata-rata tersebut.
(Martani, 2016:254-255)
9. Metode Pencatatan Persediaan berdasarkan SAK EMKM a. Metode masuk pertama keluar pertama – perpetual
Metode ini mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah barang yang dibeli atau di produksi kemudian, serta HPP dicatat saat transaksi penjualan.
Pencatan saat terjadi penjualan:
Contoh:
Pada tanggal 1 Desember 20X8, Entitas A tidak memiliki saldo persediaan. Pada 5 Desember 20X8, Entitas A membeli 1.000 unit
persediaan pada biaya perolehan Rp1.000 per unit. Pada tanggal 10 Desember 20X8, Entitas A membeli persediaan pada biaya perolehan Rp 1.100 unit. Pada tanggal 15 Desember 20X8, Entitas A menjual 1.000 unit persediaan dengan harga jual Rp1.500 per unit secara tunai.
D. Kas Rp1.500.000
K. Penjualan Rp1.500.000 [=Rp1.500 x 1.000]
D. HPP Rp1.000.000
K. Persediaan Rp1.000.000 [=Rp1.000 x 1.000]
b. Metode rata-rata tertimbang – perpetual
Metode ini mengasumsikan biaya setiap barang di tentukan berdasarkan biaya rata-rata tertimbang persediaan awal periode dan persediaan yang dibeli atau di produksi selama periode, serta HPP dicatat saat transaksi penjualan. Pencatatan saat terjadi penjualan:
D. Kas Rp1.500.000
K. Penjualan Rp1.500.000
[=Rp1.500 x 1.000]
D. HPP Rp1.000.000
K. Persediaan Rp1.000.000
[=Rp1.050* x 1.000]
Rp1.050 = {(Rp1.000 x 1.000) + ( Rp1.100 x 1.000)} / (1.000 + 1.000) c. Metode Periodik
Dengan metode periodik, HPP di hitung dengan dicatat entitas pada akhir periode pelaporan. Untuk persediaan barang dagang. HPP di hitung dengan formula sebagai berikut:
Persediaan awal xxx
(+) Pembelian xxx
(-) Persediaan akhir (xxx)
(=) HPP xxx
Nilai persediaan akhir yang digunakan bergantung pada rumus biaya yang digunakan. Dengan rumus MPKP maka nilai persediaan akhir diasumsikan adalah nilai pembelian terakhir. Sementara itu dengan rumus rata-rata, nilai persediaan akhir adalah nilai pembelian rata-rata. Pada contoh di atas sebagai berikut:
Tabel 2.1. Rumus Biaya MPKP – Periodik
Tabel 2.2. Metode Rata-rata Tertimbang- Periodik
Rumus Biaya MPKP – Periodik
Persediaan awal Rp –
(+) Pembelian Rp2.100.000
(-) Persediaan akhir (Rp1.100.000)
(=) HPP Rp1.000.000
Ayat jurnal penyesuaian (31 Desember 20X8)
D. HPP Rp1.000.000
K. Persediaan Rp1.000.000
Metode Rata-Rata Tertimbang – Periodik
Persediaan awal Rp -
(+) Pembelian Rp2.100.000
(-) Persediaan akhir (Rp1.050.000)
(=) HPP Rp1.050.000
Ayat jurnal penyesuaian (31 Desember 20X8)
D. HPP Rp1.050.000
K. Persediaan Rp1.050.000
Sumber: IAI (2016:57)
Sumber: IAI (2016:57)
10. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi adalah suatu entitas yang disajikan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK EMKM) yang dapat mencakup pos-pos yaitu pendapatan, beban keauangan dan beban pajak. (IAI, 2016:11)
11. Harga Pokok Penjualan
Harga pokok penjualan adalah harga pokok yang dimana produksinya ditambah harga pokok persediaan barang jadi awal periode dan dikurangi harga pokok persediaan barang jadi akhir periode. Harga pokok penjualan menunjukkan jumlah harga pokok barang yang dijual selama periode terjadi. Apabila barang yang dijual berasal dari pembelian, maka harga pokok penjualannya adalah harga beli kuantitas barang yang dijual. Tetapi jika barang yang dijual itu berasal berasal dari hasil produksi itu sendiri, maka harus dihitung terlebih dahulu harga pokok produksinya. (Baridwan, 2015:31)
12. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Laporan posisi keuangan menyajikan informasi keuangan tentang ragam aset (mencerminkan penggunaan dana) maupun ragam liabilitan dan ekuitas (mencerminkan sumber perolehan dana). Akun yang terdapat di laporan posisi keuangan, yaitu akun-akun aset, liabilitas, dan ekuitas, lazim disebut akun rill atau akun permanen (permanent accounts).
Laporan posisi keuangan menyajikan keseimbangan penggunaan dana dan pemerolehan dana yang harus selalu terjaga sebagai perwujudan dari hukum dana (the lauw of fund). (Warsono, dkk, 2013:117)
Tabel 2.3. Laporan Posisi Keuangan
ASET
Kas dan setara kas Kas
Giro Deposito
Jumlah kas dan setara kas Piutang usaha
Persediaan
Beban dibayar dimuka
xxx xxx xxx Rp xxx xxx xxx xxx
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Berikut ini hasil penelitian terdahulu yang penulis jadikan acuan melakukan penelitian sehingga penulis dapat menambah teori. Adapun hasil penelitian terdahulu yang dapat di tunjukkan dalam tabel 2.4. sebagai berikut:
Tabel 2.4. Hasil Penelitian Terdahulu
Aset tetap
Akumulasi penyusutan JUMLAH ASET
LIABILITAS Utang usaha Utang bank
JUMLAH LIABILITAS
EKUITAS Modal
Saldo laba (defisit) JUMLAH EKUITAS
JUMLAH LIABILITAS &
EKUITAS
xxx (Rp xxx)
Rp xxx
xxx xxx Rp xxx
xxx xxx Rp xxx Rp xxx
Aspek Rio IIdha Ariyani (2018) Hilda Amayni (2018) Nurul Azizah (2019) Judul Penilaian persediaan barang
dagang dengan
menggunakan rumus biaya MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) berdasarkan SAK EMKM Tahun 2018 pada Toko Kosmetik Nanda
Penilaian dan pencatatan persediaan barang dagangan dengan menggunakan rumus biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)- Perpetual Berdasarkan SAK EMKM Pada Apotel Azhar Farma Banjarmasin.
Penilaian dan Pencatatan Persediaan Barang Dagang Dengan Menggunakan Rumus Biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) Berdasarkan SAK EMKM pada Apotek
Makmur Bersama
Banjarmasin.
Institusi yang diteliti Toko Kosmetik Nanda Apotek Azhar Farma Banjarmasin
Apotek Makmur Bersama Banjarmasin
Periode Analisis 31 Mei 2018 Januari 2018 – Maret 2018 Januari 2019- Maret 2019
Rumusan Masalah “Bagaimana penilaaian dan pencatatan persediaan
“Bagaimana penilaian dan pencatatan persediaan
“Bagaimana Penilaian dan Pencatatan Persediaan Barang
Sumber: IAI (2016:57)
barang dagangan
menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP)-Perpetual yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM)”
barang dengan
menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP)-Perpetual Berdasarkan SAK EMKM pada Apotek Azhar Farma Banjarmasin”
.
Dagang menggunakan rumus biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) pada Apotek Makmur Bersama Banjarmasin?”
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui penilaian harga persediaan barang dagang dengan
menggunakan rumus biaya MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama)- Perpetual berdasarkan SAK EMKM 2018.
Untuk mengetahui bagaimana penilaian dan pencatatan persediaan barang dagangan dengan menggunakan rumus biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)-Perpetual Berdasarkan SAK EMKM pada Apotek Azhar Farma Banjarmasin.
Untuk mengetahui penilaian dan pencatatan persediaan barang dagang dengan menggunakan rumus biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) Berdasarkan SAK EMKM pada Apotek Makmur Bersama
Banjarmasin.
Metode Penelitian Menggunakan penelitian Kepustakaan dan penelitian lapangan
(observasi,wawancara, dan dokumentasi) serta menggunakan metode MPKP Perpetual.
Menggunakan rumus biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)-Perpetual Berdasarkan SAK EMKM dan menggunakan penelitian secara langsung yaitu dengan cara wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan.
Menggunakan rumus biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) Berdasarkan SAK EMKM
Hasil Penelitian Hasil penilaian 30 (tiga puluh) jenis barang dagangan dengan menggunakan metode MPKP- Perpetual sesuai dengan SAK EMKM 2018 pada Toko Kosmetik Nanda Pelaihari yang dihitung berdasarkan persediaan awal, pembelian barang dagangan, penjualan barang dagangan periode Mei 2018 dapat diketahui jumlah persediaan akhir 30 jenis barang (sampel) periode 31 Mei 2018 adalah sebesar Rp 11.299.275 Selain itu diketahui pula Harga Pokok Penjualan sebesar Rp 17.408.999 dan laba penjualan sebelum pajak adalah Rp 1.220.001
Dari hasil penelitian menunjukkan nilai persediaan akhir barang dagangan yang didapat dari perusahaan dengan yang diperhitungkan penulis yang menerapkan rumus (MPKP)- Perpetual sama tidak ada berubah karena Apotek Azhar Farma menghitung persediaan akhir dengan cara menggunakan harga
pembelian paling akhir yaitu sebesar Rp8.279.010,00.
Tetapi ada perbedaaan di Laporan Laba/Rugi menurut Apotek Azhar Farma Banjarmasin sebesar Rp4.947.810,00, sedangkan yang disarankan oleh penulis sebesar Rp4.831.140,00.
Jadi ada seisih di antara
Sumber: Rio IIdha Ariyani (2018) dan Hilda Amayni (2018)
perhitungan tersebut sebesar Rp116.670,00.