ANGKA KREDIT BAGI
JABATAN ARSIPARIS
SURAT EDARAN BERSAMA
KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN
KEPALA BADAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARA
NOMOR : 01/SEB/1990 NOMOR : 46/SE/1990 TANGGAL : 8 NOPEMBER 1990
DAFTAR ISI
NO. URAIAN HALAMAN
I. PENDAHULUAN ... 1
1. Umum ... 1
2. Dasar ... 2
3. Tujuan ... 2
4. Pengertian ... 2
II. JABATAN ARSIPARIS ... 7
1. Umum ... 7
2. Jenjang jabatan, pangkat dan golongan ruang ... 7
3. Bidang kegiatan Arsiparis ... 8
4. Tugas pokok jabatan Arsiparis ... 8
5. Unsur yang dinilai ... 10
6. Angka kredit kumulatif yang harus dipenuhi oleh Arsiparis ... 11
III. PEJABAT YANG BERWENANG MENETAPKAN ANGKA KREDIT ... 12
1. Umum ... 12
2. Tim Penilai Pusat ... 12
3. Tim Penilai Instansi ... 13
4. Sekretariat Tim Penilai ... 13
5. Masa kerja Tim Penilai ... 13
IV. TATA CARA PENGAJUAN USUL PENETAPAN ANGKA KREDIT ... 14
V. TATA CARA PENILAIAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT ... 15
VI. PENGANGKATAN DALAM JABATAN ARSIPARIS ... 15
1. Umum ... 15
2. Syarat Pengangkatan untuk pertama kali atau pengangkatan kembali dalam jabatan Arsiparis ... 15
VII. KENAIKAN PANGKAT/JABATAN ARSIPARIS ... 17
VIII. PENYESUAIAN DALAM JABATAN ARSIPARIS ... 18
IX. PEMBEBASAN SEMENTARA DAN PENGANGKATAN KEMBALI DALAM JABATAN ARSIPARIS ... 19
1. Umum ... 19
2. Pembebasan sementara karena tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal 3. Pembebasan sementara lainnya ... 21
4. Pengangkatan kembali dalam jabatan ... 22
X. PEMBERHENTIAN DARI JABATAN ARSIPARIS ... 22
XI. LAIN-LAIN ... 23
XII. PENUTUP ... 23
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran I : Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12 Mei 1990 tentang Angka kredit Bagi Jabatan Arsiparis; ... 25 Lampiran II : Contoh daftar usul penetapan angka kredit jabatan Arsiparis; ... 48 Lampiran III : Contoh surat pernyataan melakukan kegiatan kearsipan; ... 57
Lampiran IV : Contoh surat pernyataan melakukan kegiatan pengembangan profesi kearsipan; ... 59 Lampiran V : Contoh surat pernyataan melakukan kegiatan penunjang kearsipan; ... 61 Lampiran VI : Contoh penetapan angka kredit; ... 63
Lampiran VII : Contoh Surat Keputusan pengangkatan pertama/ pengangkatan kembali dalam jabatan Arsiparis; ... 65 Lampiran VIII : Contoh Surat Keputusan penyesuaian jabatan angka kredit Arsiparis; ... 67
Lampiran IX : Contoh nota peringatan karena tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal; ... 69
Lampiran X : Contoh nota pemberitahuan karena belum dapat mengumpulkan angka kredit minimal; ... 71
Lampiran XI : Contoh Surat Keputusan pembebasan sementara karena belum berhasil mengumpulkan angka kredit minimal; ... 72 Lampiran XII : Contoh Surat Keputusan pembebasan sementara karena sebab-sebab
lain; ... 74
Jakarta, 8 Nopember 1990.
Kepada
Yth. 1. Semua Menteri Kabinet Pembangunan V 2. Panglima ABRI
3. Jaksa Agung
4. Semua Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen
5. Semua Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara
6. Semua Gubernur Kepala daerah Tingkat I 7. Semua Kepala Pusat/Perwakilan Arsip
Nasional Rl di daerah Tingkat I di
T E M PAT
SURAT EDARAN BERSAMA
KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN
KEPALA BADAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : 01/SEB/1990
NOMOR : 46/SE/1990 TENTANG
ANGKA KREDIT BAGI JABATAN ARSIPARIS
I. PENDAHULUAN
1. Umum
a. Dalam pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1980 tentang Pengangkatan Dalam Pangkat Pegawai Negeri Sipil, ditetapkan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang memangku jabatan fungsional, untuk kenaikan pangkatnya disamping harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, diharuskan pula memenuhi angka kredit;
b. Sebagai pelaksanaan dari ketentuan Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1980 tersebut, telah ditetapkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36 /1990 tanggal 12 Mei 1990 tentang Angka Kredit Bagi Jabatan Arsiparis;
c. Untuk menjamin keseragaman pelaksanaannya, dipandang perlu mengeluarkan petunjuk teknis mengenai pelaksanaan penilaian penetapan angka kredit, pengangkatan, kenaikan pangkat, pembebasan sementara dan pemberhentian pejabat Arsiparis.
2. Dasar
a. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan (Lembaran Negara Tahun 1971 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2964);
b. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041);
c. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1975 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1975 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3058);
d. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3098) jo Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1985 (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 21);
e. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1980 tentang Pengangkatan Dalam Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3156);
f. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1974 tentang Arsip Nasional Republik Indonesia;
g. Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1988 tentang Badan Administrasi Kepegawaian Negara;
h. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 11/MENPAN/1988 tentang Pengecualian Dari Ujian Dinas;
i. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tentang Angka Kredit Bagi Jabatan Arsiparis.
3. Tujuan
Surat Edaran Bersama ini adalah sebagai pedoman bagi pejabat yang berkepentingan dalam melaksanakan cara penilaian, penetapan angka kredit, pengangkatan, kenaikan pangkat, pembebasan sementara dan pemberhentian pejabat Arsiparis.
4. Pengertian
Dalam Surat Edaran Bersama ini yang dimaksud dengan:
1. Arsiparis adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kearsipan pada instansi pemerintah, tidak termasuk kegiatan mengurus, memberkaskan dan mengelola arsip-arsip aktif.
2. Kegiatan kearsipan adalah kegiatan dalam bidang pembinaan, pengolahan dan pelayanan kearsipan, penilaian dan penyeleksian arsip, serta pemasyarakatan kearsipan.
3. Angka kredit adalah angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi yang dicapai oleh Arsiparis dalam mengerjakan butir rincian kegiatan yang digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat dalam Jabatan Arsiparis.
4. Pendaftaran arsip adalah membuat sarana penemuan arsip berupa daftar berkas arsip inaktif baik sebagian maupun keseluruhan khazanah arsip dari suatu Lembaga/Badan.
5. Pemerian arsip adalah pencatatan arsip berdasarkan ciri-ciri arkivistik.
6. Skema Pengaturan Arsip adalah kerangka yang dipergunakan sebagai pedoman pengelompokan kartu pemerian arsip.
7. Senarai Arsip adalah sarana penemuan arsip berupa susunan hasil pemerian arsip statis dari sebagian kelompok/khazanah arsip.
8. Penilaian Senarai Arsip adalah melakukan evaluasi terhadap Senarai Arsip.
9. Inventaris Arsip adalah sarana penemuan arsip berupa susunan hasil pemerian arsip statis secara menyeluruh dari satu kelompok/khazanah arsip suatu Lembaga/Badan, dilengkapi dengan sejarah organisasi dan fungsi Lembaga/Badan penciptanya , pertanggungjawaban pengaturannya, indeks serta lampiran-lampiran yang diperlukan.
10. Penilaian Inventaris Arsip adalah melakukan evaluasi terhadap Inventaris Arsip.
11. Arsip Pandang-dengar adalah arsip yang dapat dilihat dan atau didengar dengan menggunakan peralatan khusus yang memiliki bentuk fisik beraneka ragam tergantung pada media teknologi yang digunakan pada saat penciptaannya.
12. Penyusunan data informasi arsip pandang-dengar adalah membuat rincian informasi yang terkandung dalam arsip pandang dengar yaitu arsip film, video, rekaman suara (audio) dan gambar statik baik yang beridentitas maupun yang tidak, untuk digunakan sebagai sarana penemuan kembali.
13. Arsip pandang dengar yang tidak beridentitas adalah arsip pandang dengar yang tidak memiliki ciri-ciri yang menunjukkan proses penciptaannya secara lengkap serta tidak memiliki keterangan mengenai tempat, tanggal, nama orang, dan peristiwa.
14. Arsip film adalah arsip yang isi informasinya berupa citra bergerak (moving images), terekam dalam rangkaian gambar fotografik dan suara pada bahan dasar film, yang penciptaannya menggunakan rancangan teknis dan artistik dengan peralatan khusus.
15. Arsip video adalah arsip yang isi informasinya berupa citra bergerak (moving images), terekam dalam rangkaian gambar fotografik dan suara pada pita magnetik yang penciptaannya menggunakan media teknologi elektronik.
16. Arsip rekaman suara adalah arsip yang isi informasinya terekam dalam sinyal suara dengan menggunakan sistem perekam tertentu.
17. Arsip gambar statik adalah arsip yang isi informasinya berupa citra diam (still visuals)/
tidak bergerak; yang termasuk dalam katagori arsip gambar statik adalah foto, slides, gambar dan poster.
18. Penyusunan indeks informasi arsip pandang-dengar adalah membuat catatan berkenaan dengan kegiatan /masalah, nama orang dan nama tempat, ataupun tentang ciri karakteristik tertentu yang terdapat dalam koleksi arsip film, video, rekaman suara (audio) dan gambar statik.
19. Transkripsi arsip paleografis adalah penyalinan naskah dari tulisan kuno ke tulisan sekarang.
20. Transkripsi rekaman wawancara Sejarah Lisan adalah penyalinan dari rekaman suara ke dalam bentuk tulisan.
21. Transliterasi arsip adalah penyalinan arsip dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain.
22. Indeks rekaman wawancara Sejarah Lisan adalah sarana penemuan berupa daftar nama dan masalah yang menunjuk pada isi rekaman wawancara sejarah lisan atau transkripsinya.
23. Layanan jasa dan bahan kearsipan adalah kegiatan penyediaan dan pemberian informasi dari atau mengenai arsip serta penyajian arsip untuk kepentingan pengguna arsip, termasuk penyediaan kopi (copy) atau reproduksinya apabila diperlukan.
24. Abstraksi bahan kearsipan adalah merumuskan intisari rekaman wawancara Sejarah Lisan.
25. Pembuatan Sistem Kearsipan adalah menciptakan sistem pengelolaan arsip, baik arsip dinamis maupun arsip statis.
26. Pemantauan pelaksanaan Sistem Kearsipan adalah kegiatan pengumpulan data dalam rangka pemantapan Sistem Kearsipan.
27. Penyempurnaan Sistem Kearsipan adalah usaha untuk menyempurnakan Sistem Kearsipan berdasarkan hasil kajian.
28. Pemberian bimbingan teknis kearsipan adalah memberikan bimbingan secara langsung di lapangan mengenai pelaksanaan Sistem Kearsipan.
29. Penilaian hasil pemantauan pelaksanaan Sistem Kearsipan adalah mengevaluasi laporan hasil pemantauan Sistem Kearsipan.
30. Publikasi bahan kearsipan adalah menerbitkan bahan kearsipan dengan topik tertentu.
31. Pembuatan panduan/pedoman kearsipan adalah kegiatan membuat sarana bantu bagi pengguna arsip berupa ihtisar dari sebagian atau seluruh kelompok/khazanah arsip termasuk sejarah lembaga penciptanya.
32. Manual kearsipan adalah petunjuk praktis tentang pengelolaan arsip.
33. Petunjuk Praktis tentang Cara Melacak Arsip adalah sarana bantu bagi pengguna arsip untuk menelusuri arsip.
34. Layanan konsultasi mengenai pengenalan sumber kearsipan adalah memberikan penjelasan mengenai berbagai sumber arsip kepada pengguna arsip.
35. Layanan karya arsip program pandang-dengar adalah menyediakan karya-karya produksi bahan pandang-dengar yang isi dan informasinya berasal dari koleksi arsip pandang-dengar untuk keperluan apresiasi kearsipan.
36. Penyusunan rancangan Jadwal Retensi Arsip adalah menyusun Jadwal Retensi Arsip dari rancangan hingga layak diajukan kepada Kepala Arsip Nasional Rl.
37. Penilaian rancangan Jadwal Retensi Arsip adalah mengevaluasi rancangan Jadwal Retensi Arsip yang diajukan kepada Kepala Arsip Nasional Rl.
38. Penilaian arsip yang akan disusutkan adalah menentukan berkas arsip yang akan disimpan secara permanen atau dimusnahkan berdasarkan nilai guna arsip atau dengan kriteria tertentu yang menyangkut segi kelangkaan dan keunikan.
39. Penyeleksian arsip yang akan disusutkan adalah memilah-milah arsip yang akan disusutkan sesuai dengan Jadwal Retensi Arsip.
40. Penilaian arsip pandang-dengar adalah menilai arsip pandang-dengar dalam rangka penyimpanan permanen dan perawatan fisik yang didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu yang menyangkut segi historis, artistik, teknik dan kondisi fisik.
41. Evaluasi rekaman wawancara Sejarah Lisan adalah menilai hasil rekaman wawancara Sejarah Lisan yang meliputi teknik perekaman, sistimatika, metode dan teknik sejarah lisan, serta kelengkapan informasi dan pengembangan wawancara.
42. Pembuatan materi penyuluhan kearsipan adalah menyiapkan materi sebagai bahan penerangan kearsipan.
43. Penyuluhan kearsipan adalah memberikan penerangan kepada masyarakat tentang kearsipan.
44. Pembuatan materi apresiasi kearsipan adalah menyiapkan materi sebagai bahan untuk meningkatkan kesadaran kearsipan.
45. Apresiasi kearsipan adalah kegiatan untuk meningkatkan kesadaran kearsipan khalayak tertentu melalui kuliah umum/ceramah atau media lainnya.
46. Pelaksanaan program kearsipan melalui media massa adalah memberikan penyuluhan tentang kegiatan kearsipan dan atau apresiasi kearsipan melalui media cetak/
elektronik/ film.
47. Pameran kearsipan adalah kegiatan memasyarakatkan arsip dengan cara menyajikan arsip untuk dapat dilihat oleh masyarakat luas, dengan menampilkan sebagian khasanah/ koleksi arsip menurut tema tertentu.
48. Evaluasi penyelenggaraan pameran adalah melakukan penilaian terhadap proses pelaksanaan pameran, mulai dari pemilihan tema, pemilahan bahan arsip, penyajian artistik dan kombinasi aspek historisnya, penyusunan katalog atau brosur, press release dan publisitas penyelenggaraan pameran.
49. Karya ilmiah adalah karya tulis yang disusun baik secara berkelompok maupun perorangan yang membahas suatu pokok bahasan dengan menuangkan gagasan- gagasan tertentu melalui identifikasi, diskripsi, analisis permasalahan dan saran-saran pemecahannya.
50. Karya ilmiah hasil penelitian, survai dan atau evaluasi adalah suatu karya tulis seseorang atau kelompok yang membahas suatu pokok bahasan yang merupakan hasil penelitian, survai, dan atau evaluasi dalam bidang kearsipan.
51. Karya tulis berupa tinjauan atau ulasan ilmiah adalah suatu tulisan yang disusun seseorang atau kelompok yang membahas tentang perkembangan kearsipan.
52. Penemuan teknologi tepat guna adalah hasil kegiatan dan atau proses yang meliputi pengungkapan, perekayasaan, pembaruan, penyesuaian, pengalihan dan atau penerapan ilmu pengetahuan dan atau teknologi di bidang kearsipan.
53. Penulis utama adalah seseorang yang memprakarsai penulisan, pemilik ide tentang hal yang akan ditulis, pembuat outline, serta penyusun draf akhir
54. Penulis pembantu adalah seseorang atau sekelompok orang yang memberikan bantuan kepada penulis utama dalam hal pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, dan penyempurnaan draf.
55. Membimbing Arsiparis adalah kegiatan yang bersifat memberikan dorongan dan petunjuk kepada pejabat Arsiparis yang lebih junior.
56. Pelatihan adalah suatu proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan dengan lebih mengutamakan praktek dari pada teori.
57. Terjemahan adalah pengalihbahasaan suatu karya tulis dari suatu bahasa ke bahasa lain.
58. Saduran adalah gubahan bebas dengan cara meringkaskan, menyederhanakan atau mengembangkan tulisan tanpa mengubah intisari tulisan aslinya.
59. Organisasi profesi kearsipan, adalah organisasi yang mengkhususkan kegiatannya pada keahlian/ keilmuan di bidang kearsipan.
60. Tanda jasa adalah tanda kehormatan yang diberikan oleh Pemerintah Rl, negara asing atau organisasi profesi nasional/ internasional yang mempunyai reputasi baik di kalangan masyarakat ilmiah kearsipan.
61. Gelar kehormatan akademik adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang oleh perguruan tinggi atau lembaga ilmiah di dalam dan di luar negeri karena jasa-jasanya dalam pengembangan ilmu/ aplikasi bidang kearsipan.
II. JABATAN ARSIPARIS
1. Umum
a. Jabatan Arsiparis adalah jabatan fungsional.
b. Jabatan Arsiparis hanya dapat dijabat oleh Pegawai Negeri Sipil.
2. Jenjang Jabatan, Pangkat dan Golongan Ruang
Jenjang jabatan Arsiparis, Pangkat dan Golongan ruang dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi adalah sebagai berikut:
No. JABATAN ARSIPARIS PANGKAT GOLONGAN
RUANG
1. Asisten Arsiparis Madya Pengatur Muda Tingkat 1 II/b
2. Asisten Arsiparis Pengatur II/c
3. Ajun Arsiparis Muda Pengatur Tingkat 1 II/d
4. Ajun Arsiparis Madya Penata Muda III/a
5. Ajun Arsiparis Penata Muda Tingkat 1 III/b
6. Arsiparis Pratama Penata III/c
7. Arsiparis Muda Penata Tingkat 1 III/d
8. Arsiparis Madya Pembina IV/a
9. Arsiparis Utama Pratama Pembina Tingkat 1 IV/b
10. Arsiparis Utama Muda Pembina Utama Muda IV/c
11. Arsiparis Utama Madya Pembina Utama Madya IV/d
3. Bidang Kegiatan Arsiparis Bidang kegiatan Arsiparis terdiri dari:
a. Pendidikan, yang meliputi kegiatan:
1. mengikuti pendidikan formal;
2. mengikuti pendidikan dan latihan kedinasan.
b. Kegiatan kearsipan, yang meliputi:
1. melakukan pengolahan dan pelayanan kearsipan;
2. menilai dan menyeleksi arsip;
3. memasyarakatkan kearsipan.
c. Pengembangan profesi kearsipan, yang meliputi:
1. membuat karya tulis/karya ilmiah;
2. menemukan teknologi tepat guna;
3. membimbing Arsiparis.
d. Penunjang kegiatan kearsipan, yang meliputi:
1. mengajar/melatih;
2. membimbing mahasiswa;
3. membuat terjemahan/saduran;
4. peran serta dalam kegiatan ilmiah;
5. duduk dalam organisasi profesi;
6. duduk dalam Tim Penilai jabatan Arsiparis;
7. memperoleh gelar kesarjanaan;
8. memperoleh tanda kehormatan/penghargaan/tanda jasa.
4. Tugas Pokok Jabatan Arsiparis
a. Tugas pokok Asisten Arsiparis Madya, Asisten Arsiparis dan Ajun Arsiparis Muda adalah:
1. mendaftar arsip;
2. membuat Daftar Pertelaan Arsip;
3. memerikan/mendeskripsikan arsip dengan bimbingan;
4. membuat Skema Pengaturan Arsip dengan bimbingan;
5. membuat Senarai Arsip;
6. membuat Inventaris Arsip dengan bimbingan;
7. melakukan transliterasi arsip;
8. memberikan layanan jasa dan bahan kearsipan dengan bimbingan;
9. membuat abstraksi bahan kearsipan dengan bimbingan;
10. memantau pelaksanaan sistem kearsipan dengan bimbingan
11. memberikan layanan konsultasi tentang pengenalan sumber kearsipan dengan bimbingan.
12. menyeleksi arsip yang akan disusutkan dengan bimbingan;
13. melakukan penyuluhan kearsipan dengan bimbingan;
14. melaksanakan program kearsipan melalui media massa dengan bimbingan;
15. menyelenggarakan pameran kearsipan dengan bimbingan;
b. Tugas pokok Ajun Arsiparis Madya, Ajun Arsiparis, Arsiparis Pratama dan Arsiparis Muda adalah:
1. mendaftar arsip;
2. membuat Daftar Pertelaan Arsip;
3. memerikan/mendeskripsikan arsip;
4. membuat Skema Pengaturan Arsip;
5. membuat Senarai Arsip;
6. membuat Inventaris Arsip;
7. menilai Senarai Arsip;
8. menilai Inventaris Arsip;
9. menyusun data informasi arsip pandang-dengar;
10. menyusun indeks informasi arsip pandang-dengar;
11. melakukan transkripsi arsip;
12. melakukan transliterasi arsip;
13. membuat indeks rekaman wawancara Sejarah Lisan;
14. memberikan layanan jasa dan bahan kearsipan;
15. membuat abstraksi bahan kearsipan;
16. memantau pelaksanaan sistem kearsipan;
17. membuat sistem kearsipan dengan bimbingan;
18. menyempurnakan sistem kearsipan dengan bimbingan;
19. memberikan bimbingan teknis kearsipan;
20. mempublikasikan bahan kearsipan;
21. membuat petunjuk praktis tentang cara melacak arsip/sumber sejarah;
22. mempersiapkan pembuatan panduan/pedoman/petunjuk kearsipan;
23. memberikan layanan konsultasi tentang pengenalan sumber kearsipan;
24. memberikan layanan karya arsip program pandang dengar;
25. menemukan teknologi tepat guna;
26. membimbing Arsiparis yang berada di bawah jabatannya;
27. ikut serta dalam penyusunan rancangan Jadwal Retensi Arsip;
28. ikut serta dalam menilai rancangan Jadwal Retensi Arsip;
29. menilai arsip yang akan disusutkan;
30. menilai arsip pandang dengar;
31. membuat evaluasi rekaman wawancara Sejarah Lisan;
32. menyeleksi arsip yang akan disusutkan;
33. membuat materi penyuluhan kearsipan;
34. membuat materi apresiasi kearsipan dengan bimbingan;
35. melakukan penyuluhan kearsipan;
36. memberikan apresiasi kearsipan;
37. melaksanakan program kearsipan melalui media massa;
38. menyelenggarakan pameran kearsipan;
39. membuat evaluasi penyelenggaraan pameran.
c. Tugas pokok Arsiparis Madya, Arsiparis Utama Pratama, Arsiparis Utama Muda dan Arsiparis Utama Madya:
1. memerikan/mendeskripsikan arsip;
2. membuat skema pengaturan arsip;
3. membuat Inventaris Arsip;
4. menilai Senarai Arsip;
5. menilai Inventaris Arsip;
6. menyusun data arsip pandang-dengar;
7. menyusun indeks informasi arsip pandang-dengar;
8. melakukan transkripsi arsip;
9. melakukan transliterasi arsip;
10. membuat indeks rekaman wawancara Sejarah Lisan;
11. memberikan layanan jasa dan bahan kearsipan;
12. membuat abstraksi bahan kearsipan;
13. membuat sistem kearsipan;
14. menyempurnakan sistem kearsipan;
15. memberikan bimbingan teknis kearsipan;
16. menilai hasil pemantauan pelaksanaan sistem kearsipan;
17. mempublikasikan bahan kearsipan;
18. membuat petunjuk praktis tentang cara melacak arsip/sumber sejarah;
19. mempersiapkan pembuatan panduan/pedoman/petunjuk kearsipan;
20. memberikan layanan konsultasi tentang pengenalan sumber kearsipan;
21. memberikan layanan karya arsip program pandang-dengar;
22. menemukan teknologi tepat guna;
23. membimbing Arsiparis yang berada di bawah jabatannya;
24. ikut serta dalam penyusunan rancangan Jadwal Retensi Arsip;
25. ikut serta dalam menilai rancangan Jadwal Retensi Arsip;
26. menilai arsip yang disusutkan;
27. menilai arsip pandang dengar;
28. membuat evaluasi rekaman wawancara Sejarah Lisan;
29. menyeleksi arsip yang disusutkan;
30. membuat materi penyuluhan kearsipan;
31. membuat materi apresiasi kearsipan;
32. melakukan penyuluhan kearsipan;
33. memberikan apresiasi kearsipan;
34. melaksanakan program kearsipan melalui media massa;
35. menyelenggarakan pameran kearsipan;
36. membuat evaluasi penyelenggaraan pameran;
37. membuat karya tulis/karya ilmiah.
5. Unsur Yang Dinilai
Unsur yang dinilai dalam memberikan angka kredit terdiri dari:
1. Unsur utama, terdiri dari:
a. pendidikan;
b. kegiatan kearsipan;
c. pengembangan profesi kearsipan.
2. Unsur penunjang, terdiri dari kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas pejabat Arsiparis, yaitu;
a. mengajar/ melatih;
b. membimbing mahasiswa;
c. membuat terjemahan dan saduran;
d. peran serta dalam kegiatan ilmiah;
e. duduk dalam organisasi profesi;
f. memperoleh gelar kesarjanaan lainnya;
h. memperoleh gelar kehormatan/tanda jasa.
3. Rincian dan angka kredit masing-masing unsur sebagaimana dimaksud di atas, adalah sebagai tersebut dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12 Mei 1990 yang menjadi Lampiran I Surat Edaran Bersama ini.
6. Angka Kredit Kumulatif Yang Harus Dipenuhi Oleh Arsiparis
a. Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh setiap Pegawai Negeri Sipil untuk dapat diangkat dalam jabatan Arsiparis adalah sebagai tersebut dalam Lampiran II Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12 Mei 1990, yaitu:
1. Asisten Arsiparis Madya : 40 angka kredit; IIb 2. Asisten Arsiparis : 60 angka kredit; IIc 3. Ajun Arsiparis Muda : 80 angka kredit; IId 4. Ajun Arsiparis Madya : 100 angka kredit; IIIa 5. Ajun Arsiparis : 150 angka kredit; IIIb 6. Arsiparis Pratama : 200 angka kredit; IIIc 7. Arsiparis Muda : 300 angka kredit; IIId 8. Arsiparis Madya : 400 angka kredit; IVa 9. Arsiparis Utama Pratama : 550 angka kredit; IVb 10. Arsiparis Utama Muda : 700 angka kredit; IVc 11. Arsiparis Utama Madya : 850 angka Kredit. IVd b. Jumlah angka kredit tersebut di atas harus terdiri dari:
1. sekurang-kurangnya 70% (tujuh puluh persen) angka kredit berasal dari unsur utama;
2. sebanyak-banyaknya 30% (tiga puluh persen) angka kredit berasal dari unsur penunjang.
c. Apabila beberapa Arsiparis secara bersama-sama membuat suatu karya tulis/ karya ilmiah dalam bidang kearsipan, maka pembagian angka kreditnya ditetapkan sebagai berikut:
1. 60% (enam puluh persen) bagi penulis utama;
2. 40% (empat puluh persen) bagi semua penulis pembantu.
Contoh:
Saudara Djoko Utomo, JR. Chaniago, dan Asep Mukhtar Mawardi, bersama-sama membuat karya ilmiah di bidang kearsipan yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional. Saudara Djoko Utomo adalah penulis utama, sedang saudara JR. Chaniago dan Asep Mukhtar Mawardi adalah sebagai penulis pembantu. Dalam hal demikian, pembagian angka kredit bagi mereka adalah sebagi berikut:
a) Sdr. Djoko Utomo 60% x 12.50 = 7.50 angka kredit;
b) Sdr. JR. Chaniago 1/2 x 40% x 12.50 = 2.50 angka kredit;
c) Sdr. Asep Mukhtar Mawardi 1/2 x 40% x 12.50 = 2.50 angka kredit.
Jumlah = 12.50 angka kredit.
3. Jumlah penulis pembantu sebagimana dimaksud dalam angka (2) sebanyak- banyaknya 5 (lima) orang.
III. PEJABAT YANG BERWENANG MENETAPKAN ANGKA KREDIT
1. Umum
a. Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit adalah:
(1) Kepala Arsip Nasional Rl bagi Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Utama Madya;
(2) Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, dan Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya bagi Asisten Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Muda di lingkungan instansi masing-masing.
b. Keputusan pejabat yang berwenang tersebut di atas dalam menetapkan angka kredit bersifat tetap dan tidak dapat diajukan keberatan.
c. Dalam menjalankan kewenangannya, pejabat sebagaimana dimaksud di atas dibantu oleh:
(1) Tim Penilai Jabatan Arsiparis Pusat untuk Kepala Arsip Nasional Rl yang selanjutnya disebut Tim Penilai Pusat;
(2) Tim Penilai Jabatan Arsiparis Instansi untuk Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, dan Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I yang selanjutnya disebut dengan Tim Penilai Instansi.
2. Tim Penilai Pusat
a. Pembentukan Tim Penilai Pusat dan susunan anggotanya ditetapkan oleh Kepala Arsip Nasional Rl, dengan susunan keanggotaan sebagai berikut:
(1) seorang Ketua merangkap Anggota;
(2) seorang Wakil Ketua merangkap Anggota;
(3) seorang Sekretaris merangkap Anggota, dan (4) sekurang-kurangnya 4 (empat) orang Anggota.
b. Syarat keanggotaan Tim Penilai Pusat adalah sebagai berikut:
(1) Sekurang-kurangnya telah menduduki pangkat/jabatan setingkat Arsiparis Madya;
(2) Mempunyai kemampuan untuk menilai prestasi kerja Arsiparis;
(3) Dapat aktip melakukan penilaian.
c. Tugas pokok Tim Penilai Pusat adalah sebagai berikut:
(1) Membantu Kepala Arsip Nasional Rl dalam menetapkan angka kredit bagi Arsiparis yang menjadi wewenangnya;
(2) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Arsip Nasional Rl yang berkaitan dengan penetapan angka kredit bagi Arsiparis.
3. Tim Penilai Instansi
a. Pembentukan Tim Penilai Instansi dan susunan anggotanya ditetapkan oleh Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, dengan susunan keanggotaan sebagai berikut:
(1) seorang Ketua merangkap Anggota;
(2) seorang Wakil Ketua merangkap Anggota;
(3) seorang Sekretaris merangkap Anggota;
(4) sekurang-kurangnya 4 (empat) orang Anggota.
b. Syarat keanggotaan Tim Penilai Instansi adalah sebagai berikut:
(1) Sekurang-kurangnya telah menduduki pangkat/jabatan setingkat Ajun Arsiparis Madya;
(2) Mempunyai kemampuan untuk menilai prestasi kerja Arsiparis;
(3) Dapat aktip melakukan penilaian.
c. Tugas pokok Tim Penilai Instansi adalah sebagai berikut:
(1) Membantu Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dalam menetapkan angka kredit bagi pejabat Arsiparis yang menjadi wewenangnya.
(2) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pejabat termaksud di atas yang berkaitan dengan penetapan angka kredit bagi pejabat Arsiparis.
4. Sekretariat Tim Penilai
a. Untuk membantu Tim Penilai Pusat dan Tim Penilai Instansi dibentuk sebuah Sekretariat, untuk masing-masing Tim Penilai yang dipimpin oleh Sekretaris Tim Penilai yang bersangkutan;
b. Sekretaris Tim Penilai dijabat oleh Arsiparis atau pejabat lain;
c. Pembentukan dan penunjukan Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan pada Sekretariat Tim Penilai ditetapkan oleh:
(1) Kepala Arsip Nasional Rl untuk Tim Penilai Pusat;
(2) Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, atau Gubemur/Kepala Daerah Tingkat I untuk Tim Penilai Instansi masing-masing.
5. Masa Kerja Tim Penilai.
a. Masa kerja Tim Penilai Pusat dan Tim Penilai Instansi adalah 5 (lima) tahun;
b. Apabila masa jabatan anggota Tim Penilai habis, masa jabatannya dapat diperpanjang untuk 1 (satu) masa jabatan lagi;
c. Anggota Tim Penilai yang telah menjadi Anggota Tim Penilai Pusat atau Tim Penilai Instansi dalam dua kali masa jabatan berturut- turut, dapat diangkat kembali setelah melampaui tenggang waktu 1 (satu) kali masa jabatan.
d. Dalam hal terdapat anggota Tim Penilai Pusat dan Tim Penilai Instansi yang ikut dinilai, maka masing-masing Ketua Tim Penilai dapat mengangkat anggota Tim Penilai Pengganti.
e. Pejabat yang berwenang dapat memberhentikan atau mengganti anggota Tim Penilai sebelum masa jabatannya 5 (lima) tahun habis.
IV. TATA CARA PENGAJUAN USUL PENETAPAN ANGKA KREDIT
1. Usul penetapan angka kredit diajukan oleh:
a. Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/ Tinggi Negara, dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya kepada Kepala Arsip Nasional Rl bagi Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Utama Madya.
b. Masing-masing pirnpinan Unit Kearsipan kepada Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/ Tinggi Negara, dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya, bagi Asisten Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Muda di lingkungannya.
c. Kepala Pusat di lingkungan Arsip Nasional Rl atau Kepala Perwakilan Arsip Nasional Rl di Daerah Tingkat I kepada Kepala Arsip Nasional Rl atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya bagi Asisten Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Utama Madya.
2. Usul penetapan angka kredit dilampiri dengan:
a. Salinan sah Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaaan (DP-3) tahun terakhir (khusus untuk pengangkatan pertama atau pengangkajuan kembali sebagai pejabat Arsiparis);
b. Salinan sah surat keputusan terakhir pengangkatan/pengangkatan kembali dalam jabatan Arsiparis;
c. Salinan sah dari bukti-bukti mengenai:
(1) Pendidikan, formal dan atau pendidikan dan latihan kedinasan apabila ada;
(2) Surat pernyataan melakukan kegiatan kearsipan, menurut contoh seperti terdapat dalam Lampiran III Surat Edaran Bersama ini;
(3) Surat pernyataan melakukan kegiatan pengembangan profesi kearsipan menurut contoh seperti terdapat dalam Lampiran IV Surat Edaran Bersama ini.
(4) Surat pernyataan melakukan kegiatan penunjang kearsipan menurut contoh seperti yang terdapat dalam Lampiran V Surat Edaran Bersama ini;
(5) Apabila ada, surat keterangan/foto copy tanda kehormatan/ penghargaan/tanda jasa yang pernah diterima Arsiparis yang bersangkutan.
3. Usul penetapan angka kredit bagi jabatan Arsiparis dibuat menurut contoh sebagai tersebut dalam Lampiran 11 Surat Edaran Bersama ini.
4. Penyampaian usul penetapan angka kredit bagi Arsiparis dilakukan 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun, yaitu setiap bulan Januari dan bulan Juli.
V. TATA CARA PENILAIAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT
1. Usul penetapan angka kredit dinilai dengan seksama oleh Tim Penilai Pusat dan atau Tim Penilai Instansi menurut wewenang masing-masing;
2. Ketentuan teknis mengenai tata kerja dan tata cara penilaian Tim Penilai Pusat dan Tim Penilai Instansi ditetapkan oleh Kepala Arsip Nasional Rl;
3. Hasil penilaian disampaikan oleh:
a. Tim Penilai Pusat kepada Kepala Arsip Nasional Rl bagi Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Utama Madya;
b. Tim Penilai Instansi kepada Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, dan Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya, bagi Asisten Arsiparis Madya sampai Arsiparis Muda di lingkungan instansi masing- masing;
4. Angka kredit bagi Arsiparis yang diusulkan sebagai tersebut di atas, ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menurut contoh sebagaimana tersebut dalam Lampiran.VI Surat Edaran Bersama ini.
5. Penetapan angka kredit tersebut di atas dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap 6 (enam), dengan ketentuan:
a. 2 (dua) rangkap disampaikan kepada pimpinan Unit Kerja Kearsipan yang bersangkutan, yaitu:
(1) satu rangkap untuk Arsiparis yang bersangkutan;
(2) satu rangkap untuk pimpinan unit kerja Arsiparis.
b. satu rangkap disampaikan kepada Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Up. Deputi Tata Usaha Kepegawaian;
c. satu rangkap disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah BAKN di wilayah tempat Arsiparis bekerja;
d. satu rangkap disampaikan kepada Sekretariat Tim Penilai yang bersangkutan;
e. satu rangkap untuk pejabat yang menetapkan angka kredit.
VI. PENGANGKATAN DALAM JABATAN ARSIPARIS 1. Umum
a. Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan Arsiparis ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Pejabat sebagaimana dimaksud pada huruf a. di atas dapat mendelegasikan wewenangnya untuk mengangkat dalam jabatan Ajun Arsiparis Muda ke bawah.
2. Syarat Pengangkatan Untuk Pertama Kali atau Pengangkatan Kembali Dalam Jabatan Arsiparis
a. Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan Arsiparis harus memenuhi syarat sebagai berikut;
(1) berijazah serendah-rendahnya program Diploma II di bldang kearsipan; atau (2) berijazah serendah-rendahnya Program Diploma II di bidang ilmu lain setelah
tamat pendidikan dan atau latihan dalam bidang kearsipan yang ketentuan dan petunjuk teknisnya ditetapkan oleh Kepala Arsip Nasional Rl;
(3) setiap unsur Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3) sekurang-kurangnya bernilai baik.
b. Untuk menetapkan jabatan Arsiparis seperti tersebut dalam butir a. di atas, digunakan angka kredit yang berasal dari pendidikan formal, pendidikan kedinasan dan unsur utama, yang diperoleh sebelum diangkat dalam jabatan Arsiparis;
c. Perpindahan Pegawai Negeri sipil dari jabatan lain ke dalam jabatan Arsiparis dapat dilakukan dengan ketentuan, bahwa di samping harus memenuhi syarat sebagaimana ditentukan dalam huruf a. di atas, diharuskan pula memiliki pengalaman di bidang kearsipan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan sekurang- kurangnya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun berdasarkan peraturah perundang-undangan yang berlaku.
Contoh:
Drs. Sukisno Wiseno NIP 360000017, sarjana administrasi lulusan STIA-LAN adalah Pegawai Negeri Sipil pada Arsip Nasional Rl. dengan pangkat Penata Tingkat I golongan ruang Ill/d dan menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian Kepegawaian pada Sekretariat Arsip Nasional.
Yang bersangkutan dilahirkan tanggal 21 April 1943 dan pada bulan April tahun 1990 usianya genap 47 tahun. Dengan terbitnya SK Menpan Nomor 36/1990 beliau dicalonkan untuk menjadi Arsiparis. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 1992 dengan Keputusan Kepala Arsip Nasional Rl, yang bersangkutan diangkat sebagai Arsiparis. Dalam hal demikian, maka pengangkatan Drs. Sukisno Wiseno sebagai Arsiparis dilakukan sebagai berikut:
1). Pangkat dan golongan ruang ditetapkan sama yaitu, Penata Tingkat I golongan ruang Ill/d.
2). Jabatan Arsiparis ditetapkan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki sesuai dengan hasil penilaian Tim Penilai.
d. Pegawai Negeri Sipil yang diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis, dapat menggunakan angka kredit yang pernah dimilikinya.
Contoh:
Sdr. Drs. Yuwono Dwi Priyantono adalah pejabat Arsiparis, jabatan terakhir Ajun Arsiparis (golongan ruang Ill/b berpendidikan Sarjana). Sewaktu menjabat Arsiparis (sebelum pindah ke jabatan di luar Arsiparis), Sdr Drs. Yuwono Dwi Priyantono telah memiliki angka kredit 170 (seratus tujuh puluh). Selama di luar jabatan Arsiparis, ia telah memperoleh kenaikan pangkat Penata dengan golongan ruang Ill/c. Dalam hal demikian maka pengangkatan kembali Sdr. Drs. Yuwono Dwi Priyantono dalam jabatan Arsiparis dapat dilaksanakan sebagai berikut:
1). Pangkatnya ditetapkan sebagai Penata, golongan ruang Ill/c.
2). Jabatannya ditetapkan sama dengan jabatan Arsiparis yang terakhir didudukinya yaitu Ajun Arsiparis dengan angka kredit 170.
e. Keputusan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan Arslparis sebagaimana dimaksud dalam angka (2) di atas dibuat sekurang-kurangnya rangkap 6 (enam) dengan menggunakan formulir seperti contoh tersebut dalam Lampiran VII Surat Edaran Bersama ini. Asli Surat Keputusan Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan Arsiparis tersebut disampaikan kepada Arsiparis yang bersangkutan serta tembusannya disampaikan kepada:
1). Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Up. Deputi Tata Usaha Kepegawaian;
2). Kepala Kantor Wilayah BAKN yang bersangkutan;
3). Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit;
4). Pimpinan unit organisasi tempat Arsiparis bersangkutan bekerja;
5). Ketua Tim Penilai Arsiparis yang bersangkutan;
6). Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara yang bersangkutan.
VII. KENAIKAN PANGKAT/ JABATAN ARSIPARIS
1. Angka kredit yang ditetapkan oleh pejabat sebagaimana dimaksud dalam angka III angka 1. huruf a. digunakan untuk mempertimbangkan kenaikan pangkat/jabatan Arsiparis berdasarkan pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1980 jo Surat Edaran Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor 05/SE/1980 tanggal 12 Pebruari 1980 angka III angka 4.
2. Pengangkatan Arsiparis ke dalam pangkat satu tingkat lebih tinggi ditetapkan dengan keputusan Pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang bertaku setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan kenaikan pangkat dari Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara bagi Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke bawah. Sedang Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b ke atas ditetapkan dengan Keputusan Presiden setelah memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Admnistrasi Kepegawaian Negara.
3. Pengangkatan Arsiparis ke dalam jabatan satu tingkat lebih tinggi, ditetapkan oleh pejabat yang berwenang setelah diterbitkan surat keputusan pengangkatan dalam pangkat yang sesuai dengan jabatan Arsiparis berdasarkan Lampiran II Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12 Mel 1990.
4. Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh setiap Arsiparis untuk kenaikan pangkat/jabatan yang lebih tinggi, adalah sebagai tersebut dalam Lampiran II Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12 Mei 1990 dengan ketentuan sebagai berikut;
a. sekurang-kurangnya 70% (tujuh puluh persen) angka kredit berasal dari unsur utama;
b. sebanyak-banyaknya 30% (tiga puluh persen) angka kredit berasal dari unsur penunjang.
5. Apabila seorang Arsiparis dalam pengangkatan pertama memiliki angka kredit melebihi jumlah yang ditentukan untuk tingkat jabatan yang dipangkunya, maka untuk kenaikan pangkatnya ke dalam pangkat setingkat lebih tinggi dari pangkat yang didudukinya dalam pangangkatan pertama, yang bersangkutan hanya memerlukan angka kredit sejumlah selisih angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan berikutnya dengan angka kredit yang ditetapkan dalam pengangkatan pertama.
6. Bagi Arsiparis yang telah mencapai angka kredit untuk kenaikan pangkat berikutnya pada tahun pertama dalam jenjang pangkat/jabatannya, yang bersangkutan diharuskan mengumpulkan 20% angka kredit lagi dari unsur kegiatan kearsipan dan pengembangan profesi kearsipan pada tahun berikutnya;
Contoh:
Sdr. Drs. Sauki Hadiwardojo, tanggal 1 Oktober 1990 mulai rnemangku jabatan Ajun Arsiparis dalm pangkat Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b. Tanggal 1 Oktober 1991 Sdr. Drs. Sauki Hadiwardojo telah memperoleh angka kredit yang dipersyaratkan baginya untuk kenaikan pangkat menjadi Penata, golongan ruang III/c yaitu 50. Karena kenaikan pangkat paling cepat baru dapat dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 1992, maka pada tanggal 1 Oktober 1991 sampai dengan tanggal 1 Oktober 1992 (satu tahun) Saudara Drs. Sauki Hadiwardojo diwajibkan mengumpulkan 20% dari 70/100 x 50 angka kredit = 7 angka kredit.
7. Arsiparis yang memiliki angka kredit melebihi angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat dan golongan ruang yang lebih tinggi, maka Arsiparis tersebut dapat diangkat dalam jabatan yang lebih tinggi sesuai dengan jumlah angka kredit yang dimiliki (loncat jabatan). Dalam hal yang demikian, maka Arsiparis tersebut untuk setiap kenaikan pangkat yang setingkat lebih tinggi tetap diwajibkan mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya 20% dari angka kredit untuk kenaikan pangkat berikutnya yang berasal dari unsur utama.
8. Arsiparis yang memperoleh ijazah yang lebih tinggi dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya sebagai penyesuaian ijazah, apabila dipenuhi syarat sebagai berikut:
a. Pengetahuan atau keahlian yang diperolehnya sesuai dengan jabatan/tugas pokoknya;
b. Sekurang-kurangnya telah 1 (satu) tahun dalam pangkat terakhir;
c. Memenuhi jumlah angka kredit minimal yang ditentukan untuk pangkat/jabatan yang baru;
d. Setiap unsur dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3) sekurang- kurangnya bernilai baik dalam tahun terakhir.
VIII. PENYESUAIAN DALAM JABATAN ARSIPARIS
1. Dengan berlakunya Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12 Mei 1990, maka Pegawai Negeri Sipil yang dinyatakan oleh Kepala Unit Kerja Teknis Kearsipan telah dan masih bekerja pada bidang kearsipan, pangkatnya tetap diakui, jabatan dan angka kreditnya disesuaikan dengan Lampiran III Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12 Mei 1990 Contoh:
Saudara WASMIT pada saat dikeluarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur 1 Negara Nomor 36 tanggal 12 Mei 1990 tentang Angka Kredit Bagi Jabatan Arsiparis telah diberi tugas berdasarkan keputusan pejabat yang berwenang sebagai tenaga kearsipan. Pada saat itu Sdr. WASMIT memiliki pangkat Pengatur Muda Tingkat I golongan ruang II/b serta berpendidikan SLTA dengan masa kerja terakhir 3 (tiga) tahun.
Apabila saudara WASMIT diangkat dalam jabatan Arsiparis maka yang bersangkutan disesuaikan menjadi AsistenJ Arsiparis Madya dengan angka kredit 55 (lima puluh lima).
2. Penyesuaian jabatan dan angka kredit Arsiparis sebagaimana dimaksud di atas, ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Surat keputusan penyesuaian jabatan Arsiparis dibuat menurut contoh sebagaimana tersebut dalam Lampiran VIII Surat Edaran Bersama ini dan disampaikan kepada Arsiparis yang berkepentingan dengan tembusannya kepada:
a. Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Up. Deputi Tata Usaha Kepegawaian;
b. Kepala Kantor Wilayah BAKN yang bersangkutan;
c. Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit;
d. Ketua Tim Penilai yang bersangkutan;
e. Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara yang bersangkutan.
IX. PEMBEBASAN SEMENTARA DAN PENGANGKATAN KEMBALI DALAM JABATAN ARSIPARIS
1. Umum
a. Arsiparis dibebaskan sementara dari jabatannya apabila tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang ditentukan;
b. Pembebasan sementara dari jabatan Arsiparis ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pembebasan Sementara Karena Tidak dapat Mengumpulkan Angka Kredit Minimal a. Asisten Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Utama Muda dibebaskan
sementara dari jabatannya, apabila dalam jangka waktu 6 (enam) tahun sejak diangkat dalam jabatan terakhir, tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat/jabatan Arsiparis setingkat lebih tinggl;
b. Arsiparis Utama Madya dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak diangkat dalam jabatannya, tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang- kurangnya 20 (dua puluh) yang berasal dari unsur utama;
c. Angka kredit minimal yang harus dikumpulkan adalah:
(1) Asisten Arsiparis Madya sebanyak 20 (dua puluh) angka kredit;
(2) Asisten Arsiparis sebanyak 20 (dua puluh) angka kredit;
(3) Ajun Arsiparis Muda sebanyak 20 (dua puluh) angka kredit;
(4) Ajun Arsiparis Madya sebanyak 50 (lima puluh) angka kredit;
(5) Ajun Arsiparis sebanyak 50 (lima puluh) angka kredit;
(6) Arsiparis Pratama sebanyak 100 (seratus) angka kredit;
(7) Arsiparis Muda sebanyak 100 (seratus) angka kredit;
(8) Arsiparis Madya sebanyak 150 (seratus lima puluh) angka Kredit;
(9) Arsiparis Utama Pratama sebanyak 150 (seratus lima puluh) angka kredit;
(10) Arsiparis Utama Muda sebanyak 150 (seratus lima puluh) angka kredit.
d. Angka kredit minimal sebagai tersebut di atas harus terdiri dari:
(1) sekurang-kurangnya 70% (tujuh puluh persen) angka kredit yang berasal dari unsur utama;
(2) sebanyak-banyaknya 30% (tiga puluh persen) angka kredit berasal dari unsur penunjang.
e. Kepala Arsip Nasional Rl atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya sesuai dengan fungsi dan tugasnya memberi peringatan tertulis kepada :
(1) Asisten Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Utama Muda di lingkungan Arsip nasional Rl dan instansi lainnya yang dalam jangka waktu 6 (enam) tahun sejak diangkat dalam jabatan terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat/jabatan Arsiparis setingkat lebih tinggi;
(2) Arsiparis Utama Madya di lingkungan Arsip Nasional Rl dan instansi lainnya yang dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak diangkat dalam jabatannya tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) yang berasal dari unsur utama.
f. Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya memberi peringatan tertulis kepada Asisten Arsiparis Madya sampai dengan Arsiparis Muda di lingkungan instansi masing-masing yang dalam jangka waktu 6 (enam) tahun sejak diangkat dalam jabatan terakhir, belum berhasil mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat /jabatan Arsiparis yang setingkat lebih tinggi.
g. Peringatan sebagai tersebut di atas diberikan selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum batas waktu tersebut di atas berakhir, dan tembusannya disampaikan kepada Pimpinan unit kerja Arsiparis yang bersangkutan dan pajabat yang berwenang menetapkan angka kredit serta dibuat menurut contoh sebagai tersebut dalam Lampiran IX Surat Edaran Bersama ini.
h. Apabila ada Arsiparis yang tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan sebagai tersebut di atas, maka pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit memberitahukan kepada pejabat yang berwenang mengangkat dan atau memberhentikan Arsiparis, dengan Nota Pemberitahuan yang dibuat menurut contoh sebagai tersebut dalam Lampiran X Surat Edaran Bersama ini.
i. Berdasarkan Nota Pemberitahuan sebagai tersebut di atas, pejabat yang berwenang mengambil tindakan dengan mengeluarkan surat keputusan pembebasan sementara dari jabatan Arsiparis menurut contoh sebagai tersebut dalam Lampiran XI Surat Edaran Bersama ini.
j. Asli Surat Keputusan tersebut disampaikan kepada Arsiparis yang bersangkutan dan tembusannya disampaikan kepada:
(1) Kepala Arsip nasional Rl Up. Kepala Bagian Kepegawaian;
(2) Kepala Pusat/ Kepala Perwakilan Arsip Nasional Rl yang bersangkutan;
(3) Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Kesekretariatan Tertinggi/Tinggi Negara atau Gubernur/ Kepala Daerah Tingkat I Up. Kepala Biro Kepegawaian pada instansi masing-masing.
(4) Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Up. Deputi Tata Usaha Kepegawaian;
(5) Kepala Kantor Wilayah BAKN yang bersangkutan;
(6) Pejabat yang menetapkan angka kredit;
(7) Ketua Tim Penilai yang bersangkutan;
(8) Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara yang bersangkutan.
k. Selama pembebasan sementara, Arsiparis yang bersangkutan wajib melakukan tugas pokoknya dan kegiatan tersebut tetap diberikan angka kredit berdasarkan Lampiran I Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 36/1990 tanggal 12Mei 1990.
3. Pembebasan Sementara Lainnya
a. Selain dari alasan tersebut di atas, pembebasan sementara dapat dilakukan kepada Arsiparis yang bersangkutan apabila:
(1) sedang ditugaskan di luar jabatan Arsiparis;
(2) sedang menjalankan tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan;
(3) dijatuhi hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1980 dengan tingkat hukuman disiplin sedang atau tingkat hukuman disiplin berat;
(4) diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 1966:
(5) sedang menjalani cuti di luar tanggungan negara, kecuali cuti di luar tanggungan negara untuk persalinan keempat dan seterusnya.
b Apabila terjadi pembebasan sementara Arsiparis dengan alasan sebagaimana dimaksud di atas, maka berdasarkan surat keputusan yang berkenaan dengan itu, pejabat yang berwenang mengeluarkan surat keputusan pembebasan sementara menurut contoh sebagai tersebut dalam Lampiran XII Surat Edaran Bersama ini.
c. Asli surat keputusan pembebasan sementara tersebut disampaikan kepada Arsiparis yang bersangkutan dan tembusannya kepada:
(1) Kepala Pusat/Kepala Perwakilan Arsip Nasional Rl yang bersangkutan;
(2) Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pimpinan Sekretariat Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara atau Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan Up. Kepala Biro Kepegawaiannya;
(3) Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Up. Deputi Tata Usaha Kepegawaian.
(4) Kepala Kantor Wilayah BAKN yang bersangkutan;
(5) Pejabat yang menetapkan angka kredit;
(6) Ketua Tim Penilai yang bersangkutan;
(7) Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara yang bersangkutan.
d. Pegawai Negeri sipil yang dibebaskan sementara dari jabatan Arsiparis, diberhentikan hak-haknya sebagai Arsiparis.
4. Pengangkatan Kembali Dalam Jabatan Arsiparis
a. Arsiparis yang dibebaskan sementara dari jabatannya karena tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan dapat diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis apabila ia telah dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat/jabatan Arsiparis setingkat lebih tinggi;
b. Arsiparis yang ditugaskan di luar jabatannya dapat diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis apabila ia telah selesai melaksanakan tugas di luar jabatan Arsiparis;
c. Arsiparis yang dijatuhi hukuman tingkat sedang dapat diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis apabila masa berlaku hukumannya telah berakhir;
d. Arsiparis yang telah selesai menjalankan tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan, diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis;
e. Arsiparis yang dibebaskan sementara karena diberhentikan sementara berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1966, dapat diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis apabila berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap:
(1) dinyatakan tidak bersalah, atau (2) dijatuhi pidana percobaan.
f. Arsiparis yang telah selesai menjalani cuti di luar tanggungan negara dan telah diangkat kembali dalam instansi semula, dapat diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis;
g. Tata cara pengangkatan kembali dalam jabatan Arsiparis sebagaimana dimaksud dalam butir a sampai dengan e dilakukan menurut ketentuan pada angka VI SEB ini;
h. Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam angka IX angka 3 huruf b, c, d, e dan f di atas yang diangkat kembali dalam jabatan Arsiparis, dapat menggunakan angka kredit terakhir yang pernah dimilikinya.
X. PEMBERHENTIAN DARI JABATAN ARSIPARIS
1. Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil dari jabatan Arsiparis, ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
2. Arsiparis diberhentikan dari jabatannya, apabila:
a. Tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang dipersyaratkan dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak pembebasan sementara karena tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang dipersyaratkan dalam tempo 6 (enam) tahun;
b. dijatuhi hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 dengan tingkat hukuman disiplin berat dan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
XI. LAIN-LAIN
1. Arsiparis sebagaimana dimaksud dalam Surat Edaran Bersama ini, dikecualikan/
dibebaskan dari:
a. Ujian Dinas Tingkat II untuk kenaikan pangkat dari Pengatur Tingkat I golongan ruang II/d menjadi Penata Muda golongan ruang III/a;
b. Ujian Dinas Tingkat III untuk kenaikan pangkat dari Penata Tingkat I golongan ruang III/d menjadi Pembina golongan ruang IV/a;
sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 11/MENPAN/1988 tanggal 16 Pebruari 1988 jo Surat Edaran Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor 11/SE/1988 tanggal 27 Mei 1988 tentang Pengecualian Dari Ujian Dinas, sebagai tersebut angka II angka 3.
2. Arsiparis yang dibebaskan sementara karena sedang menjalani tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan, selama tugas belajar dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya selama belajar, apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir;
b. Masih dalam jenjang pangkat berdasarkan pendidikan tertinggi yang dimilikinya;
c. Semua unsur Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan dalam DP-3 sekurang- kurangnya bernilai baik;
3. Penyesuaian jabatan dan angka kredit sebagaimana dimaksud dalam angka VIII Surat Edaran Bersama ini ditetapkan terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1991 dan harus sudah selesai dilaksanakan selambat-lambatnya pada akhir bulan Maret 1992.
XII. P E N U T U P
1. Hal-hal pelaksanaan teknis yang belum cukup diatur dalam Surat Edaran Bersama ini, akan diatur kemudian.
2. Demikian untuk menjadikan periksa dan untuk pelaksanaan yang sebaik-baiknya.
KEPALA KEPALA
BADAN ADMINSTASI KEPEGAWAIAN NEGARA ARSIP NASIONAL RI
WASKITO REKSOSOEDIRDJO SOEMARTINI
NIP. 180 000 429 NIP. 360 000 007
TEMBUSAN Surat Edaran Bersama ini disampaikan dengan hormat kepada:
1. Bapak Presiden, sebagai laporan;
2. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan;
3. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, sebagai laporan;
4. Menteri/ Sekretaris Negara;
5. Menteri Keuangan, Up. Direktur Jenderal Anggaran;
6. Direktur Perbendaharaan dan Kas Negara;
7. Semua Kepala Kantor Wilayah BAKN;
8. Semua Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara.
LAMPIRAN I : SURAT EDARAN BERSAMA KEPALA ARSIP NASIONAL Rl
DAN KEPALA BADAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN NEGARA
Nomor : 01/SEB/1990 Nomor : 46/SE/1990 Tanggal : 8 Nopember 1990
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : 36/1990
TENTANG
ANGKA KREDIT BAGI JABATAN ARSIPARIS
MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA,
Menimbang:
a. bahwa dalam rangka membina profesionalisme, daya kreativitas dan produktivitas tenaga kearsipan, dan dalam usaha meningkatkan pelayanan, serta mutu dan manfaat kearsipan, sangat diperlukan adanya Arsiparis yang ditugaskan secara penuh dalam melaksanakan kegiatan kearsipan;
b. bahwa untuk menjamin pembinaan karier dan kepangkatan, dipandang perlu menetapkan angka kredit bagi jabatan Arsiparis;
Mengingat:
1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan (Lembaran Negara Tahun 1971 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2964);
2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1975 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negari Sipil (Lembaran Negara Tahun 1975 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3058);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3098), jo Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1985 (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 21);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1980 tentang Pengangkatan Dalam Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3156);
6. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1974 tentang Arslp Nasional Republik Indonesia;
7. Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi, dan Tata Kerja Menteri Negara serta susunan organisasi staf Menteri Negara.
Memperhatikan:
1. Surat Kepala Arsip Nasional Rl Nomor KP.30.6/0058/1990 tanggal 16 Januarl 1990;
2. Pertimbangan Teknis Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor K.18-25/V.2-47 tanggal 23 April 1990.
MEMUTUSKAN
Menetapkan:
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA TENTANG ANGKA KREDIT BAGI JABATAN ARSIPARIS
Pasal 1
(1) Arsiparis adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kearsipan pada instansi pemerintah;
(2) Jabatan Arsiparis adalah jabatan fungsional;
(3) Jabatan Arsiparis dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi adalah sebagai berikut:
a. Asisten Arsiparis Madya;
b. Asisten Arsiparis;
c. Ajun Arsiparis Muda;
d. Ajun Arsiparis Madya;
e. Ajun Arsiparis;
f. Arsiparis Pratama;
g. Arsiparis Muda;
h. Arsiparis Madya;
i. Arsiparis Utama Pratama;
j. Arsiparis Utama Muda;
k. Arsiparis Utama Madya.
Pasal 2 Bidang kegiatan jabatan Arsiparis terdiri dari:
a. Pendidikan, yang meliputi:
1. mengikuti pendidikan formal;
2. mengikuti pendidikan dan latihan kedinasan.
b. Kegiatan kearsipan, yang meliputi:
1. melakukan pengolahan dan pelayanan kearsipan;
2. menilai dan menyeleksi arsip;
3. memasyarakatkan kearsipan.
c. Pengembangan profesi kearsipan, yang meliputi:
1. membuat karya tulis/karya ilmiah;
2. menemukan teknologi tepat guna;
3. membimbing Arsiparis di bawahnya.
d. Penunjang kearsipan, yang meliputi:
1. mengajar/melatih;
2. membimbing mahasiswa;
3. membuat terjemahan/saduran;
4. peran serta dalam kegiatan ilmiah;
5. duduk dalam organisasi profesi;
6. keanggotaan dalam Tim Penilai Jabatan Arsiparis;
7. memperoleh gelar kesarjanaan lainnya;
8. memperoleh gelar kehormatan/penghargaan tanda jasa.
Pasal 3
(1) Tugas Asisten Arsiparis Madya, Asisten Arsiparis dan Ajun Arsiparis Muda adalah:
1. mendaftar arsip;
2. membuat Daflar Pertelaan Arsip;
3. memerikan/mendeskripsikan arsip dengan bimbingan;
4. membuat skema dengan bimbingan;
5. membuat Senarai Arsip;
6. membuat Inventaris Arsip dengan bimbingan;
7. melakukan transliterasi arsip;
8. memberikan layanan jasa dan bahan kearsipan dengan bimbingan;
9. membuat abstraksi bahan kearsipan dengan bimbingan;
10. memantau pelaksanaan sistem kearsipan dengan bimbingan;
11. memberikan layanan konsultasi tentang pengenalan sumber kearsipan dengan bimbingan;
12. menyeleksi arsip yang disusutkan dengan bimbingan;
13. melakukan penyuluhan kearsipan dengan bimbingan;
14. melaksanakan program kearsipan melalui media massa dengan bimbingan;
15. menyelenggarakan pameran kearsipan dengan bimbingan.
(2) Tugas Ajun Arsiparis Madya, Ajun Arsiparis, Arsiparis Pratama dan Arsiparis Muda adalah:
1. mendaftar arsip;
2. membuat Daftar Pertelaan Arsip;
3. memerikan/mendeskripsikan arsip;
4. membuat skema pengaturan arsip;
5. membuat Senarai Arsip;
6. membuat Inventaris Arsip;
7. menitai Senarai Arsip;
8. menilai Inventaris Arsip;
9. menyusun data informasi arsip pandang dengar;
10. menyusun indeks informasi arsip pandang dengar;
11. melakukan transkripsi arsip;
12. melakukan transliterasi arsip;
13. membuat indeks rekaman wawancara;
14. memberikan layanan jasa dan bahan kearsipan;
15. membuat abstraksi bahan kearsipan;
16. memantau pelaksanaan sistem kearsipan;
17. membuat sistem kearsipan dengan bimbingan;
18. menyempurnakan sistem kearsipan dengan bimbingan;
19. memberikan bimbingan teknis kearsipan;
20. mempublikasikan bahan kearsipan;
21. membuat petunjuk praktis tentang cara melacak arsip/sumber sejarah;
22. mempersiapkan pembuatan panduan/pedoman/petunjuk kearsipan;
23. memberikan layanan konsultasi tentang pengenalan sumber kearsipan;
24. memberikan layanan karya arsip program pandang dengar;
25. membimbing Arsiparis yang berada di bawah jabatannya;
26. ikut serta dalam penyusunan rancangan Jadwal Retensi Arsip;
27. ikut serta dalam menilai rancangan Jadwal Retensi Arsip;
28. menilai arsip yang disusutkan;
29. menilai arsip pandang dengar;
30. membuat evaluasi rekaman wawancara sejarah lisan;
31. menyeleksi arsip yang disusutkan;
32. membuat materi penyuluhan kearsipan;
33. membuat materi apresiasi kearsipan dengan bimbingan;
34. melakukan penyuluhan kearsipan;
35. memberikan apresiasi kearsipan;
36. melaksanakan program kearsipan melalui media massa;
37. menyelenggarakan pameran kearsipan;
38. membuat evaluasi penyelenggaraan pameran.
(3) Tugas Arsiparis Madya, Arsiparis Utama Pratama, Arsiparis Utama Muda dan Arsiparis Utama Madya adalah:
1. memerikan/mendeskripsikan arsip;
2. membuat skema pengaturan arsip;
3. membuat Inventaris Arsip;
4. menilai Senarai Arsip;
5. menilai Inventaris Arsip;
6. menyusun data arsip pandang dengar;
7. menyusun indeks informasi arsip pandang dengar;
8. melakukan transkripsi arsip;
9. melakukan transliterasi arsip;
10. membuat indeks rekaman wawancara;
11. memberikan layanan jasa dan bahan kearsipan;
12. membuat abstraksi bahan kearsipan;
13. membuat sistem kearsipan;
14. menyempurnakan sistem kearsipan;
15. memberikan bimbingan teknis kearsipan;
16. menilai hasil pemantauan pelaksanaan sistem kearsipan;
17. mempublikasikan bahan kearsipan;
18. membuat petunjuk praktis tentang cara melacak arsip/sumber sejarah;
19. merpersiapkan pembuatan panduan/pedoman/petunjuk kearsipan;
20. memberikan layanan konsultasi tentang pengenalan sumber kearsipan;
21. memberikan layanan karya arsip program pandang dengar;
22. membimbing Arsiparis yang berada di bawah jabatannya;
23. ikut serta dalam penyusunan rancangan Jadwal Retensi Arsip;
24. ikut serta dalam menilai rancangan Jadwal Retensi Arsip;
25. menilai arsip yang disusutkan;
26. menilai arsip pandang dengar;
27. membuat evaluasi rekaman wawancara sejarah lisan;
28. menyeleksi arsip yang disusutkan;
29. membuat materi penyuluhan kearsipan;
30. membuat materi apresiasi kearsipan;
31. melakukan penyuluhan kearsipan;
32. memberikan apresiasi kearsipan;
33. melaksanakan program kearsipan melalui media massa;
34. menyelenggarakan pameran kearsipan;
35. membuat evaluasi penyelenggaraan pameran;
36. membuat karya tulis/karya ilmiah.
Pasal 4
Untuk dapat diangkat dalam jabatan Arsiparis seorang Pegawai Negeri Sipil harus memenuhi angka kredit yang ditentukan.
Pasal 5
(1) Unsur yang dinilai dalam memberikan angka kredit terdiri dari:
a. unsurutama;
b. unsur penunjang.
(2) Unsur utama terdiri dari:
a. pendidikan;
b. kegiatan kearsipan;
c. pengembangan profesi kearsipan.
(3) Unsur penunjang adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas Arsiparis, terdiri dari:
a. mengajar/melatih;
b. mernbimbing mahasiswa;
c. membuat terjemahan dan saduran;
d. peran serta dalam kegiatan ilmiah;
e. duduk dalam organisasi profesi;
f. keanggotaan dalam Tim Penilai Jabatan Arsiparis;
g. memperoleh gelar kesarjanaan lainnya;
h. memperoleh gelar kehormatan/tanda jasa; (4) Rincian dan angka kredit masing-masing unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah sebagai tersebut dalam Lampiran I Keputusan Ini.
Pasal 6
(1) Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh setiap Pegawai Negeri Sipil untuk dapat diangkat dalam Jabatan Arsiparis, adalah sebagai tersebut dalam Lampiran II Keputusan ini, dengan ketentuan:
a. sekurang-kurangnya 70% (tujuh puluh persen) angka kredit berasal dari unsur utama;
b. sebanyak-banyaknya 30% (tiga puluh persen) angka kredit berasal darl unsur penunjang.
(2) Arsiparis yang mencapai angka kredit melebihi angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi, dapat diperhitungkan untuk kenaikan pangkat/jabatan berikutnya.
(3) Arsiparis yang telah mencapai angka kredit sebesar atau melebihi angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi pada tahun pertama dalam masa pangkat/jabatan yang dipangkunya, tetap diwajibkan mengumpulkan angka kredit yang berasal dari kegiatan kearsipan dan pengembangan profesi kearsipan, sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi pada tahun berikutnya.
Pasal 7
(1) Apabila beberapa Arsiparis bersama-sama membuat suatu karya tulis/karya ilmiah di bidang kearsipan, maka pembagian kreditnya ditetapkan sebagai berikut:
a. 60% (enam puluh persen) bagi penulis utama;
b. 40% (empat puluh persen) bag! semua penulis pembantu.
(2) Jumlah penulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, sebanyak- banyaknya 5 (lima) orang.