1 KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan HidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional I UIN Walisongo Tahun 2016.
Dalam penulisan laporan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional I UIN Walisongo Tahun 2016, kepada narasumber, panitia dan peserta karena telah menuangkan curahan gagasan dan idenya untuk kemajuan UIN Walisongo Semarang.
Akhirnya kami berharap semoga panduan ini dapat memberikan manfaat maupun konsep jelas terhadap mahasiswa dan stakeholder. Semoga Allah memberikan imbalan yang sebaik-baik imbalan kepada seluruh pihak yang telah membantu, Amiin Yaa Robbal
‘Alamiin.
Berikut kami laporkan hasil Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional I UIN Walisongo Tahun 2016.
Semarang, 01 Juni 2016 Ketua PIU,
Dr. H. Musahadi, M.Ag NIP. 19690709 199403 1003
2 DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... 1
DAFTAR ISI ... 2
I. BAB I PENDAHULUAN…...……… 3
1.1. Latar Belakang ... 3
1.2. Nama Kegiatan ………... 4
1.3. Tujuan ... 4
1.4. Dasar Hukum...……… 4
1.5.Waktu & Tempat……… 5
1.6. Peserta, Narasumber & Panitia………..………... 5
1.7. Biaya & Sumber Dana………... 6
II. BAB II REALISASI KEGIATAN…...………. 7
2.1. Persiapan………... 7
2.2. Pelaksanaan………...…….…… 7
III. BAB III EVALUASI DAN KESIMPULAN...…...……….. 17
3.1. Evaluasi... 17
3.2. Kesimpulan………. 17
IV. BAB IV PENUTUP………...…….... 18
LAMPIRAN – LAMPIRAN ... 19
3 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Sejak beberapa tahun terakhir, gelar profesor semakin sulit diraih. Bagi yang telah memperoleh gelar professor, mempertahankan gelar itu setidaknya agar tetap mendapatkan tunjangan kehormatan juga tidak kalah sulitnya. Kesulitan itu antara lain disebabkan adanya syarat artikel yang dimuat di Jurnal Internasional terindeks tertentu. Syarat ini di satu sisi memang menjadi salah satu faktor pelambatan perolehan gelar professor dan menjadi kegelisahan tersendiri di kalangan profesor, tetapi di sisi lain justru bisa dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan iklim akademik dan akselerasi pencapaian kualifikasi akademik secara lebih integratif dan komprehensif.
Sejumlah usaha telah mulai dilakukan dalam rangka mendorong para dosen untuk mendapatkan atau mempertahakan kualifikasi gelar itu, baik bersifat teknis maupun substantif, baik di tingkat lembaga, fakultas maupun universitas. Yang bersifat teknis antara lain workshop penulisan artikel untuk jurnal internasional, langganan jurnal-jurnal internasional sampai pemberian stimulus bagi mereka yang artikelnya dimuat di jurnal internasional. Yang bersifat substantif antara lain penciptaan iklim akademik yang lebih kondusif agar para dosen lebih produktif menulis. Meskipun harus diakui, bahwa perhatian terhadap aspek substantif ini masih lebih rendah dibanding aspek teknis.
Namun demikian, baik aspek teknis maupun substantif selama ini tampaknya belum dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan. Komprehensif yang dimaksud adalah usaha yang melibatkan seluruh elemen dan seluruh aspek terkait. Sedang berkelanjutan yang dimaksud adalah usaha yang terus-menerus yang tidak hanya berhenti pada langkah awal saja, tetapi juga disertai dengan pemantauan terhadap tindaklanjutnya sampai ada artikel yang dimuat dalam jurnal internasional tertentu.
Usaha-usaha teknis yang komprehensif dan berkesinambungan itu antara lain bisa dilakukan dengan memaksimalkan fungsi workshop. Yakni dengan menjadikan workshop sebagai langkah awal bagi langkah-langkah lanjutan yang dirumuskan dan disepakati bersama. Langkah-langkah itu akan laksanakan dan dikontrol secara bersama-sama pula.
Sedang usaha-usaha substantif yang komprehensif dan berkesinambungan itu antara lain bisa dilakukan dengan terus-menerus mensosialisasikan karakteristik keilmuan UIN sebagaimana tercantum dalam visinya. Secara internal, para dosen harus terus didorong agar menerjemahkan visi UIN dalam melaksanakan Tri Dharma; dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan ilmu serta pengabdian kepada
4 masyarakat. Sementara secara eksternal, seluruh elemen terkait perlu mensosialisasikan dan meyakinkan pihak luar akan posisi signifikan keilmuan UIN itu dalam turut serta menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan dan peradaban.
Atas dasar pemikiran sederhana di atas, maka penting untuk dilakukan FGD yang akan diposisikan sebagai bagian dari desain yang menyeluruh dalam rangka mendampingi para dosen, lebih-lebih yang sudah sangat lama seharusnya, memperoleh gelar profesor dan bagi para professor untuk mempertahkan dan meningkatkan kualifikasinya. Tentu saja, harapannya perolehan gelar itu sekali lagi bukan semata-mata bersifat administratif, tetapi lebih dari itu menjadi bagian dari wujud pengembangan keilmuan yang integratif dan komprehensif.
1.2. NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini bernama : Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional I UIN Walisongo Tahun 2016.
1.3. TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 bertujuan untuk :
a. Mendapatkan informasi menyeluruh tentang jurnal internasional, mulai dari gaya selingkung, proses penerimaan naskah, tema-tema yang menjadi fokusnya sampai jurnal-jurnal internasional yang menjadi jaringannya
b. Menjalin komunikasi yang intensif dengan pengelola jurnal internasional yang dihadirkan dan jurnal-jurnal jaringannya
1.4. DASAR HUKUM PENYELENGGARAN KEGIATAN
1. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. Undang-undang nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;
4. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;
5. Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan ;
6. Peraturan Pemerintah nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi;
5 7. Perpres Nomor 130 Tahun 2014 tentang Alih Status Istitut Agama Islam Negeri
Walisongo menjadi Universitas Islam Negeri Walisongo;
8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 170/PMK.05/2010 tentang Penyelesaian Tagihan Atas Beban Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Pada Satuan Kerja ;
9. Keputusan Menteri Keuangan No. 68/KMK.05/2009 tentang Penetapan UIN Walisongo pada Departemen Agama sebagai Instansi Pemerintah yang menerapkan Pola Keuangan BLU;
10. Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Agama;
11. Peraturan Menteri Agama Nomor 54 Tahun 2015 tentang Ortaker UIN Walisongo Semarang;
12. Peraturan Menteri Agama Nomor 57 Tahun 2015 tentang Statuta UIN Walisongo Semarang;
13. MOM antara Concerned Authorities of the Government of the Republic of Indonesia dan the Islamic Development Bank pada tanggal 16 Mei 2012.
1.5. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
Hari, Tanggal : Rabu, 01 Juni 2016
Tempat : Ruang Sidang Rektorat lt 3 UIN Walisongo Semarang
1.6. PESERTA, NARASUMBER DAN PANITIA PESERTA
Peserta dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 terdiri dari: FGD ini akan diikuti oleh seluruh Guru Besar dan Doktor di lingkungan UIN Walisongo
Dan untuk lebih jelasnya peserta sebagaimana terlampir.
PANITIA
NO NAMA/NIP PANGKAT/GOL.
RUANG
JABATAN DALAM DINAS PANITIA 1. H. Tolkah, M.A.
19690507 199603 1005
Pembina (IV/a)
Kepala Pusat Layanan Internasional
Ketua
2. Azum Muallifah, A.Ma - Staff PIU IsDB Sekretaris
6 3. Ulfatun Nihayah, SE - Staff PIU IsDB Anggota
NARASUMBER
NO NAMA/NIP
JABATAN
DALAM DINAS DALAMWORKSHOP
1. Dr. Phil. Al Makin., MA Jurnal Al -
Jami'ah Narasumber
1.7. BIAYA DAN SUMBER BIAYA terlampir.
7 BAB II
REALISASI KEGIATAN
2.1. PERSIAPAN
Agar kegiatan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 dapat berjalan dengan lancar, maka kami panitia membuat persiapan-persiapan sebagai berikut ;
1. Mengadakan rapat-rapat panitia 2. Pembuatan list kegiatan
3. Menyiapkan job deskripsi peserta
4. Menyiapkan sarana dan prasarana Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016.
2.2. PELAKSANAAN
Pengarahan dari Rektor UIN Walisongo
Perguruan tinggi akan dikenal dan dibanggakan, bila mana karya ilmiahnya bisa diakses oleh banyak orang, bukan hanya dalam negeri tapi juga luar negeri. Oleh karena itu, kita harus melakukan sesuatu, salah satunya membangun budaya menulis yang baik dan menghasilkan riset yang baik, sekaligus mematenkan karya-karya kita, supaya tidak diaku orang lain. Kemarin pada pringatan hari kebangkinan teknologi nasional, pihak kementerian telah membuka hasil riset perguruan tinggi untuk diakses publik dan direkomendasikan kepada Eksekutif untuk direalisasikan.
Sebagai perguruan tinggi, apalagi sekarang kita sudah memiliki Fakultas Sains dan Teknologi, kita harus meningkatkan riset-riset kita, supaya bisa memberikan sumbangsih lebih besar. Kemarin sudah diusulkan bahwa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo membawahi beberapa prodi, yaitu teknologi informatika, teknologi lingkungan, dan hubungan internasional Sekarang kita harus mulai berpikir, bahwa ilmu bukan hanya untuk ilmu, namun juga harus menyentuh dan mampu merealisasikan visi kemanusiaan:
ilmu untuk manusia.
Kita dulu memiliki tiga (3) jurnal yang terakreditasi, namun sekarang hanya ada dua (2) jurnal yang terakreditasi, padahal perguruan tinggi yang secara strata di bawah kita, seperti STAIN Salatiga memiliki tiga (3) jurnal yang terakreditasi. Budaya menulis seharusnya menjadi hal yang biasa, sekarang menjadi sesuatu yang luar biasa. Kita terlena terlalu lama. Oleh karena itu perlu ditumbuhkan budaya menulis dikalangan dosen, supaya karya-karya mereka dikenal publik. Mungkin kita juga masih bisa cukup tenang, karena
8 peraturan yang mengaharuskan guru besar tulisannya masuk jurnal internasional belum diberlakukan. Peraturan yang sekarang, tulisan guru besar tidak harus masuk jurnal internasional, namun yang penting masuk jurnal, walaupun belum terakreditasi.
Sambutan ketua PIU UIN Walisongo
Saya sebagai Wakil Rektor 1, ingin sharing tentang realitas UIN Waliosngo.
Kaitanya dengan visi-misi, sampai kepada bagaimana mendayagunakan guru besar, doktor dan dosen kita untuk mewarnai diskursus akademik, baik nasional maupun global. Salah satu indikator yang paing mudah dibaca itu adalah keterlibatan para guru besar kita, mempresentasikan karya-karya mereka di acara internasionalpublikasi internasional.
Namun pada titik terpenting ini, kita mengalami problem yang luar biasa.
Kita telah menetapkan visi kita, yang sudah kita rumuskan sangat panjang, dan melelahkan serta melibatkan hampir seluruh elemen yang ada di UIN Walisongo Semarang. Visi itu kemudian diformalkan menjadi surat keputusan (SK) Rektor, dan kemudia menjadi ciri universitas kita, karena telah masuk menjadi Peraturan Menteri Agama (PMA). Hampir keseluruhan prodak-prodak regulasi kita mengacu pada visi itu.
Kita juga sudah merumuskan strategi perjalanannya dan peta jalannya visi (rut mapp) tersebut, sampai pada tahun 2008, kita ingin menjadi universitas riset terdepan berbasis kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban.
Untuk mensukseskan rut mapp tersebut, tentunya semua elemen yang ada di UIN Walisongo harus memposisikan diri masing-masing dan saling melengkapi. Dalam aspek- aspek yang menyangkut infrastruktur dan kelembagaan itu lebih mudah, karena kita sangat mudah melakukan lobi-lobi politik. Yang mengelisahkan kita, bagaimana aspek- aspek atau ruh akdemik, mulai mengacu pada paradigma Unity of sains.
Walaupun sudah dirumuskan bagaimana strategi implementasinya, sampai pada bagaimana memasukkan dalam kurikulum pembelajarannya, tapi faktanya hal ini masih ada pada level abu-abu. Pada level diskursus filosofis memang clear, tapi pada level bagaimana hal ini terefleksi di UIN waliongo dan bagaimana karya-karya kita bisa mengacu pada paradigma unity of sains masih menjadi sebuah problem.
Ada problem yang lebih serius. Pertama, keterbatasan kita yang luar biasa. Padahal perguruan tinggi yang sejarahnya berada di belakang kita, kini melakukan akselerasi yang luar biasa, di bidang akademik dan jurnal. Saya melihat, UIN walisongo mengalami momeratorium PNS yang panjang. Angkatan di bawah Pak Arif Junaidi mengalami penurunan kualitas. Kita tidak memiliki dosen yang lolos studi ke luar negeri. Proses regenerasi kita punya problem yang serius. Di sisi lain, dosen yang kita trima 90 % dari
9 FITK. Di FITK ada ada projek besar, yakni projek PLPG. Akhirnya, generasi muda yang seharusnya bisa di share untuk mengurusi jurnal, tapi justru sudah kehabisan tenaga, karena harus berkonsentrasi di FITK.
Generasi tua juga banyak yang menjadi pejabat, namun tidak ada pengganti. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, kita harus mulai mengoprasikan jurnal internasional.
Problem kita adalah tidak adanya generasi. Oleh karena itu, kita harus melakukan pembibitan alumni-alumni kita. Caranya, diantaranya dengan merespon berbagai beasiswa, supaya alumni-alumni kita bisa melanjutkan jenjang pendidikannya.
Kita memiliki problem bahasa. Oleh karena itu, kita sudah berencana, nanti setiap prodi harus menyerahkan lima (5) mahasiswa terbaik, yang masih semester 4. Nanti kita akan beri tritmen ke mereka. Setelah itu, kita undang penyedia beasiswa LPDP dan semacamnya. Karena, ternyata kadang mahasiswa kita yang pintar, tak memilki akses informasi untuk studi ke sana (luar negeri), karena yang studi ke sana selain membawa ijazah juga harus membawa dolar.
Kedua, keterbatasan kita dari produktifitas akademik. Jurnal internasional sudah banyak, mari kita memulai manfaatkan. Dalam hal menulis di jurnal internasional, riset kita terlalu formalistik, dan disistematisasi sesuai laporan standar akademik. Menulis di jurnal internasional , sebenarnya tak harus melalui riset besar. Bisa melakukan wawancara kecil di pasar, lalu ditulis dan dikirimkan ke jurnal internasional. Selama ini, kita terlalu fomalistik: melalui pengajuan proposal dan seterusnya, namun tak ada yang masuk jurnal internasional. Maka sekarang, kita tidak boleh terjebak di formalisme riset.
Ketiga, problem bahwa pengalaman LP2M, artikel-artikel yang telah dikirimkan ke reviewer, namun hampir seluruh artikel dari UIN Walisongo ditolak. Ada cara terbaik untuk lolos menulis di jurnal internasiola, berikut poin-poinnya:
1. Menentukan jurnal.
2. Pelajari karakteristik jurnalnya, gaya selingkungnya seperti apa.
3. Model abstraknya.
4. Sub-subnya.
5. Hasil riset kita didesain sesuai dengan jurnal.
Terkait problem bahasa sebenarnya tidak menjadi masalah. Kita bisa menulis dan nanti diterjemahkan oleh ahli bahasa inggris. Namun kita juga memiliki problem yang lain.
Pertama kita tidak memeliki jurnal internasional. Kedua, kita belum memiliki artikel yang sesuai dengan jurnal-jurnal internasional yang telah ada.
10 Materi
Oleh Dr. Phil. Al Makin., MA
Kalau ditanya bagaimana pengalaman di Yogyakarta, maka saya menjawab Yogyakarta admisnistrasinya lebih ribet dari pada Walisongo. Kehebatan Yogyakarta, intelektual tetap hidup walaupun birokrasi dan leadership kacau. Jadi aktifitas intelektual di Yogyakarta hidup, terlepas dari birokrasi dan politik. Realitas sekarang, tidak benar jika guru besar hanya ditentukan dengan karya ilmiah. Maka kalau bapak-ibu mengandalkan modal karya ilmiah, tapi administrasi tidak bagus, maka akan bermasalah. Tapi kalau bapak-ibu tidak punya karya ilmiah, walaupun administrasinya bagus, maka gelar guru besar juga dipertanyakan. Inilah yang terjadi di Yogyakarta.
Al-Ghazali membagi orang menjadi tiga: Pertama, orang awam, yaitu orang yang bermain facebook dan twitter, detik.com, kompas.com dan sebagainya. Itu semua adalah media orang-orang awam, yang bagi para dosen hanya sekedar hiburan, tidak berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Tingkatan kedua dan ketiga adalah orang khawas, dan khawas al-khawas, yaitu mereka yang menganggap facebok, twtter, kompas, tempo dan lain sebagainya sebagai hiburan dan yang dianggap penting adalah membuka jurnal. Jadi kita yang membuka jurnal berada pada level khawas al-khawas. Kalau dulu kita membuka dan membaca jurnal di perpustakaan, yang kadang juga berdebu, maka pada zaman sekarang, jurnal tersaji sebagaimana medianya orang awam, yaitu lewat online. Sekarang semua jurnal, sudah tidak ada sistem akreditasi nasional berupa printout (cetak), tapi semuanya melewati sistem yang disebut sistem online jurnalism (OJS).
Jadi, misalnya ada yang ingin mengirim artikel ke Jurnal Al-Jami’ah, maka sudah tidak melewati email lagi, tapi lewat www.aljami’ah.or.id/www.aljami’ah.org dengan mendaftar dan melakukan login dan langsung upload. File yang telah diupload akan dibaca oleh pengelola jurnal, dan dikirimkan ke reviewer, setelah dikoreksi baru akan dikembalikan kepada penulis, tentu kadang-kadang bahasanya telah diperhalus oleh editor. Kadang pula dikembalikan ke penulis, untuk revisi oleh penulis sendiri. Kalau misalnya artikel yang dikirim tidak sesuai (ditolak), maka akan kami sampaikan kepada penulis.
Setiap jurnal yang kita buka, harus diketahui dulu reputasi jurnal tersebut lewat indek.
Berikut adalah beberapa link untuk melihat indek jurnal:
- moraref.org/moraref.or.id (Berisi seluruh jurnal yang berada di bawah naungan kementrian agama. Berisi 330 jurnal, baik nasional maupun internasional yang memakai sistem OJS).
- portalgaruda.org (IPI).
- scopus (indek internasional) langganan paling murah 1,2 juta.
- Ebsco.
11 - jstor.org harga langanan sekitar 800.000 sampai 900.000 pertahun.
- pnri.com (Perputakaan Republik Indonesia) portal ini mempunyai banyak langganan indek dan portal. Maka silahkan mendaftar dan nikmati langganan yang telah tersedia.
Sekarang juga banyak portal-portal gratis, yang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan tulisan, guna meningkatkan sitasi penulis, misalnya google scoler, academia.edu. di portal-portal tersebut bisa dilihat jumlah pembacanya. Perbedaan karya populer dan karya ilmiah adalah biasanya penulis karya populer itu kaya. Sekali menulis mereka bisa membeli mobil baru. Berbeda dengan penulis karya ilmiah (jurnal), setelah menulis mereka tidak mendapatkan seperti yang didapatkan oleh penulis populer.
Karya ilmiah di jurnal hanya dibaca oleh orang-orang tertentu. Tidak sebanyak pembaca karya populer. Karya di jurnal paling dibaca lima orang, dan itu sudah merupakan keberuntungan. Apalagi mereka mengambil quote dari tulisan tersebut, itu sudah meningkatkan ranking penulis. Jadi menulis jurnal itu tidak membawa keuntungan apa-apa.
Maka pengelola jurnal, harus lebih ikhlas dari takmir masjid.
Kenapa kita harus ke indek atau portal. Analoginya seperti kita punya sesuatu, dan kita jual di kios, maka yang akan melihat hanya bebrerapa orang yang lewat, berbeda kalau kita jual di mall, misalnya. Jadi, kalau kita membuat jurnal tidak masuk indek, maka tak ada yang akan membacanya. Maka, kalau jurnal dimasukan ke indek apalagi scopus, maka yang baca orang seluruh dunia. Semakin tambah indek, semakin banyak yang membaca.
Difinisi Jurnal: Jurnal ilmiah itu berkala. Misalnya terbit 1 tahun dua kali. Memuat artikel ilmiah, artinya melewati penelitian: lapangan atau literatur. Kriteria artikel Jurnal Al- Jami’ah
1. Penelitian, yaitu meneliti dulu sebelum menulis. Jadi artikel adalah hasil penelitian, bukan hasil dari pertapaan.
2. Bukan ringkasan mata kuliah, dan bukan proposal atau laporan ilmiah.Proses peer review.
Prsoses ini membutuhkan kesabaran. Editor atau penulis jurnal bukanlah orang-orang yang cerdas, tapi orang-orang yang sabar, ikhlas dan tawakkal. Yang dimaksud cerdas itu, satu malam bisa membuat bebarapa artikel, itu tanda orang cerdas. Dalam jurnal hal demikian tidak ada. Menulis 1 artikel di jurnal, bisa mencapai dua tahun. Begini proses penulisan artikel dalam jurnal: Penelitianlaporanartikel editkirimmasuk reviewereditorkritik editorperbaiki terbit. Jika ada artikel yang ditolak di jurnal tidak apa-apa. Memang Jurnal bukan tempat orang “cerdas” tapi orang sabar
3. Jurnal biasanya konsentrasi bidang tertentu. Kalau ingin menulis di jurnal, kenali dulu sistem OJS jurnalnya. Jurnal yang baik memiliki autor guidelines, yang nanti disitu bisa dilihat sistem referensinya seperti apa. Penulis dituntut untu mengikuti sistem refrensi
12 jurnal, bukan jurnal mengikuti penulis. Cara paling efektif, langsung klik archiviesartikeldownload pdflihat sistem penulisannya.
Manfa’at menulis jurnal:
1. Meningkatkan ranking/indek diri.
2. Menulis jurnal meningkatkan indek prestasi institusi. Selama ini salah kaprah, jurusan yang ingin terakreditasi membuat jurnal. Padahal itu tak membantu apa-apa. Yang bisa membantu adalah dosen-dosen jurusan tersebut menulis di jurnal yang terakreditasi. Maka hati-hati dengan data webometrik tentang peringkat perguruan tinggi, karena itu adalah robot.
Meningkatkan kualitas jurnal, dari jurnal lokal, nasional hingga jurnal internasional. Begini caranya:
1. Penulis, reviewer, pembaca bersekala nasional atau internasional, tidak hanya dari semarang.
2. Penulis luar yang diberi kehormatan untuk mengisi tulisan di jurnal, akan menjadi corong bagi jurnal tersebut. Misalnya dengan meminta tulisan dari guru besar Leeden, diharapkan teman-temannya yang di sana akan ikut menyumbang artikel juga.
3. Dilema jurnal internasional di Indonesia dianggap nomer dua (2). Sehingga teman-teman kita yang pintar tidak mau mengirimkan artikelnya ke jurnal Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu menjemput bola.
4. Jurnal Al-Jami’ah paling sedikit menerima minimal 100 artikel, dan paling 10 yang diterima reveiwer. Untuk menanggulangi kekurangan tulisan maka penting meminta kepada orang lain, lewat jalur pertemanan.
5. Biar tidak menjadi jurnal lokal, maka adakan tukar menukar tulisan. Tukar menukar biasanya terjadi di level jurnal yang sama.
6. Bahasa juga menjadi hal penting. Kita harus punya bule (orang luar negeri) untuk mengedit artikel. Jurnal Al-Jami’ah meminta bule untuk mengedit, sebelum diterbitkan.
Diskusi
Oleh Pak Yusuf Suyono.
- Bagaimana caranya, supaya perenungan bisa menjadi semacam riset?
Penanya 2
- Portal ada dua jenis, ada yang semacam moraref dan semacam google scoler. Kalau saya sudah meng-upload artikel saya ke google scoler, apakah masih bisa diupload ke portal macam moraref?
Penanya 3#Pak sulaiman
13 - Tulisan yang telah diupload di web, apakah boleh diterbitkan di jurnal?
Penanya 4
- Tulisan lama diterbitkan kembali di jurnal, yang sebelumnya sudah dikutip orang-orang, siapa nanti yang terkena hukuman?
Penanya 5
- Penelitian lama kita angkat lagi menjadi artikel jurnal, bagimana?
- Tentang plagiat, supaya yang demikian tak terbayang-bayang, jadi bisa fakus menulis.
Adakah kiat-kiat tertentu?
Jawaban #Pak Almakin
- Kita menulis di jurnal sebagai cendekiawannya atau ilmuannya bukan pemikirnya. Jurnal bukan tempat pemikir, tapi tempatnya scholar. Jurnal itu pengamat filsuf bukan jadi filsuf.
Jadi kita meneliti Plato, atau Ibnu Arabi tapi tidak menjadi mereka. Kalau kita ingin jadi filsuf, tempatnya bukan di jurnal, tapi di buku. Seperti halnya dalam ilmu biologi, ada obyek penelitian dan peneliti. Misalnya kita ingin meneliti orang hutan, kita hanya meneliti tanpa menjadi orang hutan itu sendiri.
- Buku tidak kalah nilainya dengan artikel di jurnal, hanya orang Indonesia saja yang tak mengakui buku. Sekarang di Dikti dan Diktis mengarah pada jurnal. Padahal di luar negeri seperti Singapura, satu buku nilainya sama dengan 15 artikel jurnal. Jadi kalau ingin jadi profesor di Singapura, tidak perlu menulis jurnal, tapi cukup menulis buku.
- Kita harus melakukan reformasi dan protes ke Dikti, bahwa dalam ilmu sosial buku harus diakui, tapi buku yang terbit di Cambridge, bukan di Mizan. Dikti tidak mau mengakui buku, walaupun terbit di Cambridge.
- Kenapa Dikti tidak mengakui buku, ternyata latar belakang mereka adalah ilmu sains.
Intelektual ilmu sains menulis di jurnal, tidak menulis buku, namun mereka mengukur ilmu sosial dengan ukuran mereka, sehingga di ranah ilmu sosial buku tetap tidak diakui.
Parahnya lagi Diktis juga mengikuti Dikti. Dalam ilmu biologi, jika orang punya laboratorium yang digunakan penelitian oleh mahasiswa, misalnya. Nanti hasil tulisannya mencantumkan pemilik laboratorium sebagai penulis.
- Scopus itu sebenarnya adalah indek milik ilmu eksakta, makanya kita juga harus menuntut Dikti dan Diktis untuk menerima standar yang lain, seperti indek faforit untuk ilmu-ilmu keislaman yang diterbitkan di Leeden.
- Sebaiknya makalah atau artikel kita yang belum terpublis di jurnal, jangan diupload, karena kalau diupload bisa jadi diambil orang dan terbit atas nama orang tersebut. Bagi jurnal yang telah mendaftar ke CrossRef akan mendapatkan DOI (digital obyek identified) pada setiap artikelnya sebagai identitasnya. DOI itu seperti ISBN kita, yang bisa
14 memproteksi dari plagiasi. Makanya sebelum mendapatkan DOI, artikel jangan diupload terlebih dahulu.
- Seperti ISBN (buku), ISSN (jurnal), DOI dan scopus, itu semua berguna memproteksi tulisan kita dari plagiasi.
- Kalau jurnal belum memiliki DOI, minta saja DOI ke jurnal lain yang masih satu kordinator. Karena untuk mendapatkan DOI harus daftar ke CrossRef yang memerlukan biyaya sampai 230 dolar US, dan masing-masing artikel tambah 1 dolar US. Al-Jami’ah sudah mendapatkan DOI, kemudian menyebar ke jurnal-jurnal yang masih dalam satu kordinator (UIN Suka). Jurnal-jurnal di lingkungan UIN Walisongo bisa minta DOI ke jurnal Ulumuna, yang sudah mempunyai DOI. Nanti jurnal Ulumuna silahkan meminta DOI untuk semua artikel yang berada di jurnal-jurnal UIN Walisongo.
- Satu (1) riset sangat mungkin menghasilkan beberapa artikel jurnal. Ketika riset kita sudah lama, maka saat menulis artikel, perlu melakukan update literatur. Untuk memperbarui literatur kita bisa melihat di portal-portal seperti moraref.
- Jika kita riset kemudian menulis artikel untuk jurnal, namun tidak mengikuti perkembangan jurnal-jurnal terbaru, berarti kita tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Di bawah naungan kemenag sendiri terdapat 2000 jurnal, dan yang sudah menggunakan sistem OJS ada sekitar 300 jurnal.
- Jika daftar pustaska artikel lebih dari 10 tahun, maka kemungkinan besar ditolak oleh reviewer. Oleh karena itu, sebaiknya artikel itu memiliki 30 referensi, dan paling tidak 5 diantaranya dari jurnal yang terakreditasi yang usianya belum lebih 5 tahun. Jadi, jurnal harus berdasarkan jurnal.
- Pada dasarnya plagiat adalah jika kita menulis tulisan yang sama, tapi tidak dikasih referensi. Atau kita menghadirkan tulisan kita yang dulu, tanpa memberikan keterangan, misalnya tulisan saya sudah terbit di jurnal Al-Jami’ah, lalu saya terbitkan juga di jurnal Walisongo, atau tulisan saya di jurnal Walisongo menghadirkan argumen yang ungkapannya sama persis dengan tulisan saya di jurnal Al-Jami’ah tanpa adanya keterangan. Tapi kalau hanya mirip atau cara pengungkapannya berbeda itu tidak apa-apa, walaupun ideanya sama.
- Sumber tulisan jurnal yang baik biasanya dari disertasi (Pak Arif junaidi, tidak setuju, dan berkomnentar: kalau untuk memperoleh gelar profesor tidak boleh artikel jurnal dari disertasi)
- Di Indonesia perkembangan jurnal sangat pesat. Untuk melihat perkembangan dan rankingnya bisa di scimago.com/scimagogr.com (raking jurnal dunia berdasarkan publikasi riset ilmiah).
15 - Indonesia publikasinya lemah, kita cenderung tak percaya diri dengan penelitian kita.
Jurnal kita tidak dirawat. Kita juga tidak berani bersaing keluar. Dana penelitian juga kecil dibanding negara-negara lain semisal Singapura, yang satu penelitian dihargai 1 M.
- Kelemahan kita, yaitu antara penelitian dan jurnal tidak ada hubungannya. Hasil penelitian tidak menjadi jurnal, dan jurnal tetap terbit, tapi tidak berdasarkan penelitian. Penelitian dan jurnal berjalan sendiri-sendiri. Sekarang, bagaimana penelitian kita mejadi jurnal, dan jurnal kita berdasarkan penelitian.
Penanya 6#Pak Muhyar Fanani
- Ada beberapa tulisan saya yang sudah masuk di seminar internasional, sudah terlanjur menyebar, tapi akan saya gunakan sebagai atikel di jurnal internasional, bagaimana?
Penanya 7
- Sebagai pemula, tentunya akan memilih kelas bertarung (jurnal) yang tidak begitu berat, bagaimana cara menentukan jurnal, yang kira-kira kita bisa lolos?
Jawaban #Pak Almakin
- Kalau tulisan sudah masuk seminar, dan menyebar sebagai prosiding, maka tidak boleh dibuat untuk artikel di jurnal. Solusinya, menulis lagi dengan cara pengungkapan yang berbeda. Kalau sudah terbit sebagai prosiding harus diikhlaskan.
- Sekarang, kita tidak mampu bersaing dengan negara yang sudah mapan, baik secara ekonomi maupun intelektual. Maka kita harus menjaga jurnal yang ada di tanah air kita.
Tadi sudah dijelaskan ada tiga jurnal yang sudah masuk scopus. Mungkin tiga jurnal ini bisa dipertimbangkan untuk anda . Atau bisa mengirimkan artikel ke jurnal yang mau menolong kita (menerima artikel dalam bahasa Indonesia), misalnya jurnal di Jepang, journal Indonesia and malay word, Journal exchange dan Journal Indonesia terbitan Cornell. Kalau sudah punya tulisan, cepat-cepat mengecek jurnal mana yang cocok.
- Hati-hati dengan predatory journal. Mereka hanya cari uang. Modusnya, biasanya kita dikirim email, suruh bayar. Ingat! Jurnal internasional itu gratis. Cara mengecek predatory journal dengan meng-klik: jeffrey beall predatory journal. Bisa juga ke portal Dikti, untuk melihat jurnal abal-abal.
- Kalau ingin menulis di jurnal nasional, bisa mengirim artikel ke Jurnal nasional Arjuna (arjuna.ristekdikti.go.id). Ada juga Jurnal kontemporer islam.
Penanya 8#Pak Muhyar
- Kalau prof Amin disiplinnya sudah kelihatan (falsafah), tapi sesekali menulis tentang lingkungan dan sebagainya. Bagi seperti saya yang belum jelas, yang tertarik pada semua bidang, bagaimana seharusnya?
Jawaban #Pak Almakin
16 - Positifistik, membatasi fokus, harus linier. Ini sulit untuk dunia sekarang ini. Sejak ada potsmodernisme, sudah tak ada disiplin ilmu pengetahuan. Maka sebaiknya kita menjadi ilmuan yang baik, melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Harus multidisipliner.
- Sekarang yang paling keren dan heboh adalah astranomi. Ilmu astronomi sejak tahun 1990 tidak hanya sains, tapi musik dan lukis. Imajninasi dan seni.
17 BAB III
EVALUASI DAN KESIMPULAN
1.1. EVALUASI
NO KRITERIA PENILAIAN
Sangat Baik Baik Kurang Sangat Kurang
1 Kepanitiaan 5% 70% 20% 5%
2 Materi 10% 80% - 10%
3 Fasilitas 5% 90% 5% -
4 Narasumber 100% - - -
1.2. KESIMPULAN
1. Kepanitiaan dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 sudah bekerja dengan baik, tetapi sebaiknya lebih disiplin dalam waktu.
2. Materi yang diberikan dalam Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 dapat dijadikan sebagai pegangan dan bahan diskusi peserta.
3. Peserta harus komitmen sehingga dapat fokus mengikuti kegiatan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 secara utuh.
4. Penyampaian narasumber dalam kegiatan ini dinilai sangat baik. Materi yang diberikan, penjelasan dinilai sangat jelas dan memacu peserta untuk aktif bertanya dalam sessi diskusi.
18 BAB IV
PENUTUP
Alhamdulillah kegiatan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 terlaksana dengan baik. Panitia berharap kegiatan ini dapat bermanfaat kepada seluruh peserta.
Demikian laporan kegitan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 ini dibuat, semoga bermanfaat bagi perbaikan kegiatan yang akan datang. Selanjutnya tidak lupa kami sampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan kegiatan Forum Group Discussion (FGD): Pengenalan Jurnal Internasional IUIN Walisongo Tahun 2016 ini. Semoga amal Bapak/Ibu/saudar/i menjadi amal sholeh dan mendapat balasan dari Allah dengan kebaikan yang melimpah.
19 LAMPIRAN- LAMPIRAN