• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH LITERATUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TELAAH LITERATUR"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

9

BAB II

TELAAH LITERATUR

2.1 Pembangunan Pedesaan

Menurut Adisasmita (2006) dalam menerapkan pembangunan desa semestinya tidak bersifat sempit atau kaku, tetapi seharusnya bisa lebih luas dan bersifat fleksibel untuk mewujudkan pertumbuhan pedesaan yang cepat dan kokoh untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat desa yang lebih tinggi. Menjadi hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan, sebelum menjalankan program yang berbasis pembangunan desa yakni penyesuaian terhadap masalah yang terjadi, potensi, kondisi, dan kebutuhan masyarakat setempat secara parsial dan terpadu.

Tujuan dari pembangunan desa adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan secara langsung melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan pendapatan berdasarkan pendekatan bina lingkungan, bina usaha, dan bina manusia, dan secara tidak langsung adalah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan nasional.

Tujuan yang sama tercermin pada keberadaan OVOP di Indonesia, yakni sebagai salah satu jalan untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui produk yang dihasilkan oleh UMKM. Oleh karena sudah diadopsi banyak negara, maka konsep OVOP disesuaikan oleh masing-masing negara berdasarkan karakteristik negara yang bersangkutan. Denpaiboon dan Amatasawatdee (2012) berpandangan bahwa tujuan akhir dari OVOP ialah pengembangan produk yang

(2)

berbasis pada budidaya kemampuan sumber daya manusianya. Sehingga yang dimaksudkan “produk” disini bukan hanya berarti dalam bentuk barang fisik semata. Penelitiannya yang membahas mengenai perbandingan antara OVOP Jepang dan OTOP Thailand untuk strategi pembangunan pedesaan masing- masing, diperoleh bahwa; guna mempersiapkan SDM, Pemerintah Jepang berupaya dengan mendirikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembelajaran warga dengan mengundang experts dari perusahaan besar. Sehingga setelah lulus dari lembaga tersebut, warga bisa menjadi pemimpin dalam masyarakat.

Berbeda dengan OTOP yang hanya mengandalkan pelatihan masyarakat melalui kunjungan lapangan untuk mendapatkan pengalaman dan menyelenggarakan konferensi yang mengundang masyarakat, tokoh masyarakat, dan para sarjana untuk bertukar pengetahuan. Akan tetapi usaha ini tidak menunjukan hasil yang baik, oleh karena buruknya partisipasi masyarakat untuk saling bertukar pikiran. Pelaksanaan OVOP asli berorientasi pada pembangunan masyarakat yang didorong oleh pemerintah daerah, tentang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal. Berbeda dengan hal tersebut, OTOP ditandai dengan pembangunan yang berorientasi pada produksi massal dan pemasaran, bukan pada pembangunan masyarakat yang diprakarsai oleh pemerintah pusat.

OTOP sebagai program top down membuat implementasinya hanya akan mengikuti rencana dari pemerintah nasional.

Penelitian Natsuda et.al (2011) yang melihat OVOP sebagai strategi pembangunan pedesaan - kasus OTOP, menunjukan bahwa pelaksanaan OTOP bertujuan untuk merangsang pembangunan pedesaan melalui UKM. Pemerintah

(3)

menciptakan strategi pemasaran dengan menggunakan merek agar para produsen lebih memproduksi produk yang bernilai tambah, sehingga nantinya kapasitas ditingkatkan ke ekspor dengan skema OTOP Product Champion (OPC). Manfaat dari keberadaan OPC yaitu (1) untuk memfasilitasi OTOP branding dengan pelabelan/logo, dan (2) untuk manfaat keuangan dan lainnya, produk yang memiliki bintang lebih tinggi cenderung mendapat dukungan keuangan, pemasaran, pelatihan, dan penyediaan alat yang lebih baik. Selain itu ada juga OTOP Village Champion (OVC) untuk mempromosikan industri pariwisata lokal di daerah pedesaan Thailand. Kesulitan dari pelaksanaan OTOP adalah pengembangan gerai penjualan, kekurangan modal, dan riset pemasaran. Fakta lain yang diperoleh dalam penelitian ini, adalah untuk memiliki ketrampilan pengusaha hanya menggantungkan pengalaman dan belajar mandiri, karena pelatihan yang diberikan Pemerintah tidak relevan.

Di Indonesia sendiri pandangan Badrudin (2012) mengenai pembangunan ekonomi di daerah pedesaan melalui OVOP, mampu untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan dengan memperhatikan segi produksi sampai pemasaran, layanan informasi pasar dan teknologi, distribusi input, modal, dan sumberdaya manusia, infrastruktur dan layanan transportasi dan kelembagaan. Keberhasilan OVOP yang berbasis potensi ekonomi lokal dapat tercapai apabila daerah tersebut memiliki potensi memasarkan berbagai produk (barang dan jasa) ke luar daerah dan hasil dari pendapatan menjual produk ke luar daerah harus dapat menghasilkan perputaran ekonomi yang baru dalam perekonomian lokal melalui pembelian bahan baku dan pengeluaran konsumsi rumah tangga. Peranan para

(4)

pelaku, seperti Pemerintah dan pengusaha masing-masing adalah Pemerintah sebagai penggerak pelaksanaan gerakan OVOP di setiap desa yang mempunyai produk unggulan dan peranan pengusaha sebagai pihak yang mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada, guna meningkatkan daya saing baik di pasar nasional maupun global.

2.2 Daya Saing

Secara umum konsep daya saing menurut Michael E. Porter (1990) dalam buku Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi (2005), gambaran daya saing internasional dijelaskan melalui pengembangan model berlian. Model ini menerangkan bahwa suatu negara secara nasional dapat meraih keunggulan kompetitif, apabila memenuhi empat syarat yang saling terkait dan membentuk empat titik sudut dari poin yang dinamakan ‘bangunan intan’, yakni seperti berikut.

i. Keadaan faktor produksi, seperti tenaga kerja terampil atau prasarana

ii. Keadaan permintaan dan tuntutan mutu di dalam negeri untuk hasil industri tertentu.

iii. Eksistensi industri terkait dan pendukung yang kompetitif secara internasional

iv. Strategi perusahaan itu sendiri dan struktur serta sistem persaingan antar perusahaan.

(5)

Selain itu, Porter (1990) juga menambahkan bahwa terdapat faktor lain dalam penentu daya saing, yakni faktor manusia. Dimana faktor tersebut dibagi dalam dua, yaitu sistem pemerintahan dan terdapatnya kesempatan dalam melakukan suatu hal.

Sedangkan daya saing dalam OVOP yang tercermin dalam tujuan pengembangan OVOP menurut Kementrian Koperasi dan UKM RI berfokus pada kualitas dan nilai tambah dari produk OVOP yang dihasilkan. Selain itu, pendapat Syarif Hasan (Menteri Negara Koperasi dan UKM periode 2005/2010) yang dimuat dalam sebuah artikel yang berjudul “One Village One Product Jadi Gerakan Nasional”, meyakini bila setiap daerah atau desa fokus mengembangkan produk yang memang benar-benar unggul, baik dari sisi kualitas maupun pemenuhan produksi, visi program OVOP untuk menciptakan produk lokal bereputasi global akan mudah dicapai. Sehingga dapat dikatakan bahwa produk yang berdaya saing (produk yang unggul) dilihat dari sisi kualitas dan pemenuhan produksi.

2.3 Kelembagaan Ekonomi

Merujuk pada pemikiran Rintuh dan Miyar (2005), salah satu lembaga ekonomi yang mampu memberikan kesempatan dan menumbuhkan prakarsa masyarakat di pedesaan untuk meningkatkan usaha sesuai dengan kebutuhan, serta sekaligus memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi kesejahteraan mereka adalah koperasi. Koperasi perlu diperkuat dan dibudayakan dalam kehidupan ekonomi rakyat. Penguatan dan pengembangan kelembagaan ini perlu

(6)

mendapat perhatian yang sangat khusus karena pada akhirnya disini terletak kunci keberhasilan pemberdayaan ekonomi rakyat serta mendorong pengembangan potensi ekonomi rakyat pedesaan.

Atas pentingnya peran dan kontribusi koperasi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka koperasi dipilih sebagai lembaga ekonomi yang mewadahi pelaksanaan OVOP. Sesuai dengan arahan dari Kementrian Koperasi dan UKM RI, menyatakan bahwa kelembagaan koperasi bermanfaat untuk memperkuat posisi/keberadaan kelompok sehingga mendapatkan kepastian hukum. Di bidang usaha, kelembagaan koperasi ini berfungsi:

a. Untuk memediasi akses pembiayaan b. Untuk memediasi akses produksi c. Untuk memediasi akses pemasaran

d. Untuk memenuhi persyaratan pengucuran program Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah

Fungsi koperasi dalam memediasi pembiayaan ditunjukan oleh penelitian Retno (2013) di Kota Surakarta dengan Produk OVOP batik Kauman (produk OVOP tahun 2012), menunjuk Koperasi Serikat Dagang Kauman (SDK) yang berdiri pada tahun 2012 untuk memfasilitasi permodalan bagi usaha batik Kauman. Koperasi tersebut merupakan koperasi serba usaha unit jasa keuangan syariah. Alasan fasilitasi permodalan usaha melalui koperasi, karena kelembagaan koperasi juga dapat bermanfaat untuk memperkuat keberadaan kelompok sehingga mendapatkan kepastian hukum.

(7)

Sedangkan pola yang berbeda ditunjukan oleh koperasi yang juga menjadi rintisan OVOP pada tahun 2010. Koperasi Mitra Tani Parahyangan yang berada di Kota Cianjur. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yuliani (2012) menunjukan bahwa koperasi tersebut bertindak sebagai badan perantara. Maksud dari badan perantara ialah yang menghubungkan anggota dengan pasar. Kelompok tani yang dinaungi oleh koperasi memiliki hubungan erat dengan keberadaan kelembagaan koperasi. Kelompok tani membutuhkan koperasi sebagai tempat menjual produk- produk sayuran yang telah dibudidayakan, sebagai lembaga yang mampu memberikan jaminan harga tertentu, dan sumber untuk memperoleh fasilitas sarana produksi. Sebaliknya, koperasi dibantu dengan para petani untuk menyediakan bermacam-macam sayuran guna memenuhi permintaan supermarket yang bermacam-macam. Sehingga setiap kelompok petani memiliki spesialisasi tersendiri mengenai komoditi yang dihasilkan. Maka dari hubungan keduanya mereka sama-sama saling menguntungkan.

Kemampuan yang berbeda ditunjukan oleh koperasi dari OVOP kerajinan batik kayu di Krebet, Bantul, Yogyakarta dalam penelitian Eka (2013). Sentra ini memiliki 49 sanggar kerajinan batik kayu yang bernaung dibawah koperasi dan paguyuban pengerajin kayu. Anggota dari paguyuban pengerajin ini sudah menjadi anggota koperasi. Koperasi yang telah berdiri pada tahun 2004 dan telah berbadan hukum pada tahun 2008 ini, sampai saat ini hanya mampu menyediakan dana untuk bahan baku membatiknya saja. Sedangkan untuk membuat 1 pintu (produk OVOP) dibutuhkan dana yang lebih besar. Untuk itu sangat dibutuhkan bantuan dari pemerintah terkait permasalahan tersebut.

(8)

2.4 Kriteria, Prinsip, dan Tahapan OVOP

Merujuk dari Kementrian Koperasi dan UKM RI mengenai segala penjelasan tentang OVOP, One Village One Product (OVOP) merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam wadah koperasi atau UKM.

Produk unggulan yang dimaksud dalam OVOP, memiliki kriteria tersendiri untuk membedakan dari produk lain sejenis. Kriteria-kriteria tersebut meliputi :

i. Merupakan unggulan daerah yang telah dikembangkan secara turun-temurun;

ii. Merupakan produk khas daerah setempat;

iii. Berbasis pada sumberdaya lokal;

iv. Memiliki penampilan dan kualitas produk yang sesuai dengan tuntutan pasar;

v. Memiliki peluang pasar yang luas, baik domestik maupun internasional;

vi. Memiliki nilai ekonomi yang tinggi;

vii. Bisa menjadi penghela bagi perekonomian daerah.

Selain terdapat kriteria khusus, terkandung juga tiga prinsip dasar dalam penyelenggaraan OVOP, seperti lokal tapi global, kemandirian dan kreatifitas, dan pengembangan sumberdaya manusia. Penjelasan dari ketiga prinsip tersebut adalah:

i. Lokal Tapi Global

(9)

Pengembangan Gerakan OVOP bertujuan untuk meningkatkan, mengembangkan dan memasarkan produk yang bisa menjadi sumber kebanggaan masyarakat setempat. Terutama yang bisa dipasarkan baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga tercapai tujuan “Lokal Tapi Global”.

ii. Kemandirian dan Kreativitas

Sebagai penghela Gerakan OVOP adalah masyarakat setempat.

Agar mampu mandiri masyarakat harus mampu bangkit dan kreatif.

iii. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Pemerintah Daerah harus menyadari dan mampu mendorong sumberdaya manusia yang kreatif dan inovatif. Mampu melakukan terobosan baru di sektor Pertanian, Industri, Pariwisata, Jasa, serta Pemasaran produknya. Sehingga meningkatkan kualitas, produktivitas, dan daya saing.

Salah satu penelitian yang pernah menganalasis implementasi OVOP berdasarkan ketiga prinsip OVOP diatas adalah penelitian dari Triharini dkk (2014) di Plered Purwakarta (salah satu wilayah yang dipilih Pemerintah sebagai pioner) dengan produk gerabah atau keramik hias. Prinsip pertama OVOP yaitu local but global yang dilaksanakan dengan cara meningkatkan kualitas produk

melalui proses pelatihan teknis peningkatan mutu produksi dan desain. Hasil akhir pelatihan tidak mengindikasikan adanya peningkatan dalam produksi produk yang dapat diterima secara global. Prinsip dasar kedua OVOP yaitu self reliance and creativity sudah cukup terlihat dalam pelaksanaan OVOP di Plered. Dengan

(10)

memanfaatkan potensi SDA dan SDM yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Plered dalam kehidupan sehari-hari, melalui program OVOP dukungan yang diperoleh dari pemerintah lebih besar.

Prinsip ketiga yaitu human resource development, OVOP sebagai program pemerintah tidak difokuskan pada pengembangan potensi masyarakat daerah secara menyeluruh sehingga semangat OVOP seolah-olah hanya diperkenalkan pada peserta program, yaitu pengrajin dan pengusaha saja. Secara umum, pelaksanaan OVOP di Plered tidak sesuai dengan prinsip mendasar OVOP yang seharusnya selalu ada dalam penerapan OVOP. Ketidaksesuaian ini dapat dikurangi apabila seluruh langkah pelaksanaan program OVOP yang sudah disusun oleh pemerintah, sepenuhnya dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Guna tercipta sinergisitas yang efektif, Pemerintah Pusat telah menyusun skema tahapan penyelenggaraan OVOP untuk setiap tahunnya. Sehingga dari skema ini diharapkan OVOP terus mengalami keberlanjutan dan perkembangan disetiap tahunnya. Tahapan-tahapan yang dimaksud ditunjukan dalam tabel 2.3.

(11)

Tabel 2.4

Tahapan Penyelenggaraan OVOP Tahun Pertama (Koordinasi) Tahun 2010

 Identifikasi potensi yang diusulkan daerah untuk dikembangkan dengan pendekatan OVOP

 Rapat koordinasi dan evaluasi penetapan lokasi pengembangan OVOP yang memenuhi kriteria seleksi

 Penyusunan rencana tindak pengembangan OVOP di masing-masing lokasi atau daerah potensi yang ditetapkan

 Identifikasi peran koperasi dan UKM penghela (Champion) di daerah potensi yang ditetapkan

 Sosialisasi konsep pengembangan OVOP di lokasi terpilih

 Tindak lanjut rencana aksi yang sudah ditetapkan yang mungkin dilakukan pada tahun pertama.

Tahun Kedua (Kerjasama) Tahun 2011

 Peningkatan nilai tambah produk unggulan melalui industri pengolahan/prosesing (value chain)

 Peningkatan akses pasar produk yang dihasilkan melalui temu usaha/business matching serta promosi produk: lokal, nasional dan internasional

 Peningkatan supply chain produk unggulan OVOP

 Peningkatan kapasitas SDM melalui pendampingan, penyuluhan, pelatihan, dan studi banding.

(12)

Tabel 2.4 (lanjutan)

Tahun Ketiga (Kelanjutan) Tahun 2012

 Peningkatan nilai tambah produk unggulan melalui industri pengolahan/prosesing (value chain)

 Peningkatan akses pasar produk yang dihasilkan melalui temu usaha/business matching serta promosi produk: lokal, nasional dan internasional

 Peningkatan supply chain produk unggulan OVOP

Peningkatan kapasitas SDM melalui pendampingan, penyuluhan, pelatihan, dan studi banding.

Tahun Keempat (Peningkatan berkelanjutan) Tahun 2013

 Peningkatan dan perluasan pendampingan komunitas masyarakat lokal sesuai dengan potensi ekonomi daerah

 Peningkatan nilai tambah produk melalui industri pengolahan/prosesing dan packaging

 Peningkatan promosi ekonomi masyarakat secara menyeluruh (budaya, produk dan potensi alam) di tingkat provinsi

 Peningkatan promosi produk unggulan OVOP secara nasional dan internasional (fairs and events, festival).

Tahun Kelima (Lanjutan) Tahun 2014

 Peningkatan dan perluasan pendampingan komunitas masyarakat lokal sesuai dengan potensi ekonomi daerah.

 Peningkatan nilai tambah produk melalui industri pengolahan/prosesing dan packaging.

 Peningkatan promosi ekonomi masyarakat secara menyeluruh (budaya, produk dan potensi alam) di tingkat provinsi.

 Peningkatan promosi produk unggulan OVOP secara nasional dan internasional (fairs and events, festival).

Sumber : Kementrian Koperasi dan UKM RI

(13)

2.5 Kerangka Berpikir

Penjelasan atau pembahasan singkat dari penelitian ini dapat diketahui melalui kerangka berpikir yang ditunjukan pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5

Kerangka Berpikir Penelitian

IMPLEMENTASI OVOP

KOORDINASI ANTAR PELAKU

PEMDA KOPERASI KELOMPOK

OVOP UMKM

Indikator:

Bentuk dukungan, bentuk koordinasi, dan bentuk monitoring

Indikator : Bentuk pelayanan dan bentuk koordinasi.

Indikator : Pemahaman pengembang- an pasar dan daya saing

Indikator : Pemenuhan input, perkembang- an aset, perkembang- an usaha

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Budhiartama dan Jati (2016) menyatakan bahwa pengetahuan pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam

Lalu, menurut IAPI (2019) dalam Kode Etik Profesi Akuntan Publik, setiap akuntan publik atau CPA yang berpraktik melayani publik yang diminta untuk menggantikan

Penelitian Simon dan Kurnia (2017) menyatakan bahwa likuiditas yang diproksikan dengan current ratio dan GCG yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial, ukuran dewan direksi,

Wajib pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tetapi wajib melakukan pencatatan, adalah wajib pajak orang

Alasan mendasar penggunaan net profit margin tersebut karena merupakan rasio yang paling banyak digunakan dalam menilai kinerja perusahaan, selain itu juga dalam perspektif

Jika informasi yang dihasilkan dari software akuntansi yang digunakan semakin akurat dan memiliki reabilitas yang baik, maka akan semakin meningkatkan kepercayaan

Kebijakan dividen perusahaan dapat tercermin dari Dividend Payout Ratio yang merupakan rasio yang mengukur seberapa besar laba yang diterima oleh pemegang saham

Kualitas aset (assets quality) merupakan faktor yang sangat penting bagi BPR dalam menilai tingkat kekuatan pengelolaan keuangan pada BPR, faktor ini menjadi salah satu