• Tidak ada hasil yang ditemukan

View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN GURU DALAM MENSTIMULASI MOTORIK HALUS ANAK MELALUI VARIASI MEDIA PEMBELAJARAN DI RA

MUSLIMAT NU MASYITHOH 01 SOKARAJA KULON KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Purwokerto untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan (S.Pd.)

Oleh

AFRIANI HIDAYAH NIM. 1617406048

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO

2020

(2)

i

PERAN GURU DALAM MENSTIMULASI MOTORIK HALUS ANAK MELALUI VARIASI MEDIA PEMBELAJARAN DI RA

MUSLIMAT NU MASYITHOH 01 SOKARAJA KULON KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Purwokerto untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan (S.Pd.)

Oleh

AFRIANI HIDAYAH NIM. 1617406048

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO

2020

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

NOTA DINAS PEMBIMBING

Purwokerto, 14 September 2020

Hal : Pengajuan Munaqasyah Skripsi Sdr. Afriani Hidayah Lampiran : 3 Eksemplar

Kepada Yth.

Dekan FTIK IAIN Purwokerto Di Purwokerto

Assalamu‟alaikum Wr. Wb.

Setelah melakukan bimbingan, telaah, arahan dan koreksi, maka melalui surat ini saya sampaikan bahwa :

Nama : Afriani Hidayah NIM : 1617406048

Jurusan : Pendidikan Islam Anak Usia Dini Program Studi : Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Judul : Peran Guru Dalam Menstimulasi Motorik Halus Anak Melalui Variasi Media Pembelajaran di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas Sudah dapat diajukan kepada Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Purwokerto untuk dimunaqosyahkan dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

Demikian, atas perhatian Bapak, saya mengucapkan terimakasih.

Wassalamu‟alaikum Wr. Wb.

Pembimbing,

Layla Mardliyah, M.Pd NIP.

(6)

v

PERAN GURU DALAM MENSTIMULASI MOTORIK HALUS ANAK MELALUI VARIASI MEDIA PEMBELAJARAN DI RA MUSLIMAT NU

MASYITHOH 01 SOKARAJA KULON KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

AFRIANI HIDAYAH NIM. 1617406048

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran serta tugas dan tanggungjawab guru di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara objektif keadaan ditempat penelitian dengan menggunakan kata-kata atau kalimat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan data reduction, data display, dan data verification. Keabsahan data menggunakan triangulasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon adalah: 1) Sebagai pembimbing, yang membantu dan mengarahkan anak dalam menggunakan variasi media pembelajaran, 2) Sebagai pelatih, yang melatih koordinasi mata dan tangan anak dalam menggunakan variasi media pembeajaran, 3) Sebagai fasilitator, yang memberi kemudahan pada anak dan menyediakan berbagai media pembelajaran, 4) Sebagai evaluator, yang melakukan penilaian terhadap proses pembelajaran anak, baik melalui ketepatan, kecepatan, kecekatan, ketelitian ataupun ketelatenan anak dalam menggunakan variasi media pembelajaran. Bentuk aktivitas kegiatan motorik halus yang dilakukan di RA yaitu menggambar, mewarnai, melipat kertas origami, menggunting, meronce, mencap, membentuk, menyusun puzzle, membatik, mencocok, dan meraba. Hasil yang diperoleh anak di rumah setelah mendapat stimulasi oleh guru di RA adalah: 1) Anak mampu memegang sendok dengan benar ketika makan, 2) Anak mampu mengancing baju dengan tepat, dan 3) Anak mampu mengikat tali sepatu dengan benar.

Kata Kunci : Peran Guru, Motorik Halus, Variasi Media Pembelajaran.

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peran Guru Dalam Menstimulasi Motorik Halus Anak Melalui Variasi Media Pembelajaran Di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas”. Tak lupa, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang menjadi panutan dan selalu dinantikan syafa‟atnya di Hari Kiamat kelak.

Penulis sangat menyadari penulisan skripsi ini tak lepas dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya atau semua bantuan, bimbingan, dorongan dan saran yang telah diberikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. H. Suwito, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Purwokerto.

2. Bapak Dr.Heru Kurniawan, S.Pd.,M.A. selaku Ketua Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Purwokerto.

3. Ibu Layla Mardliyah, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Skripsi.

4. Bapak Kholid Mawardi, S.Ag.,M.Hum. selaku Dosen Penasehat Akademik 9 PIAUD B.

5. Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Purwokerto.

6. Keluarga Besar RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas, Ibu Siti Nur Asiyah, S.Pd.I selaku Kepala Sekolah dan semua guru RA, terutama Ibu Triatun Qomariyah, S.Pd.I dan Ibu Alini Liharsari selaku guru kelas B1. Mereka yang telah membantu proses penelitian dari awal hingga akhir.

7. Abah Abdul Aziz dan Ummi Siti Zulehah selaku orang tua tercinta yang telah memberikan do‟a restu dan memberikan dukungan berupa materi maupun

(8)

vii

nonmateri. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah kalian lakukan.

8. Taat Memuji selaku partner hidup yang telah memberikan dukungan dan semangat selama saya menyelesaikan skripsi ini.

9. Amir Syaifullah selaku adik yang turut mendoakan.

10. Ibu Siti Zahroh, S.Pd selaku tante dan Bapak Muhammad Ghufron selaku eyang yang selalu memberi support kepada saya.

11. Serta sahabat terbaik Tiara, Desi, Iin, Momy Dessy, Ana dan teman-teman seangkatan PIAUD B 2016 yang sudah membantu memberikan dukungan dalam penelitian ini.

Tidak ada yang dapat penulis sampaikan kecuali kata terimakasih yang tak terhingga dan permohonan maaf kepada semuanya.

Semoga segala bantuan yang diberikan akan dibalas dengan yang lebih oleh Allah SWT. Penulis menyadari bahwa karya ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca selalu penulis harapkan demi perbaikan di masa mendatang

Purwokerto, 14 September 2020 Penulis,

Afriani Hidayah NIM. 1617406048

(9)

viii

PERSEMBAHAN

Bismillaahirrahmaanirrohiim.

Alhamdulillahirabbil‟alamiin, sembah sujud syukur saya kepada Allah SWT atas kehendakNya, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW yang menjadi panutan dan selalu di nantikan syafa‟atnya di Yaumil Akhir.

Penulis mempersembahkan skripsi ini untuk :

1. Abah dan Ummiku yaitu Abah Abdul Aziz dan Ummi Siti Zulehah. Mereka yang selalu mendukung saya baik melalui do‟a yang tak pernah ada henti- hentinya maupun melalui materi. Setiap langkah keberhasilan saya merupakan kebesaran do‟a dari abah dan ummi..

2. Teman hidupku yaitu Taat Memuji yang selalu mensupport, menemani, dan membantu ketika saya mengerjakan skripsi ini.

3. Teman-teman PIAUD khususnya teman kelasku PIAUD B. Suka cita dan canda tawa selalu di lalui bersama selama kurang lebih 4 tahun lamanya.

Banyak sekali kenangan bersama mereka baik belajar bersama dan lain sebagainya. Maka dari itu, saya ucapkan banyak terimakasih untuk kalian.

(10)

ix MOTTO

“Teruslah melangkah ke depan dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT dan berusahalah, niscaya engkau akan mendapatkan apa yang selama ini diharapkan”

(Allah Yuftah „Alaikum)

(11)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBIM ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

PERSEMBAHAN ... viii

MOTTO ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Definisi Operasional ... 9

C. Rumusan Masalah ... 11

D. Tujuan dan Manfaat ... 12

E. Kajian Pustaka ... 13

F. Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II : KAJIAN TEORI A. Pengertian Guru ... 16

B. Tugas dan Tanggungjawab Guru ... 17

1. Tugas Guru ... 17

2. Kompetensi Guru ... 19

C. Peran Guru ... 21

1. Korektor ... 22

2. Inspirator ... 22

3. Informator ... 22

4. Organisato ... 22

5. Motivator ... 22

6. Inisiator ... 22

(12)

xi

7. Fasilitator ... 23

8. Pembimbing ... 23

9. Demonstator ... 23

10. Pengelola Kelas ... 23

11. Mediator ... 23

12. Supervisor ... 24

13. Evaluator ... 24

D. Peran Guru Dalam Menstimulasi Motorik Halus Anak ... 24

1. Guru Sebagai Pembimbing ... 24

2. Guru Sebagai Pelatih ... 25

3. Guru Sebagai Fasilitator ... 25

4. Guru Sebagai Evaluator ... 26

E. Motorik Halus ... 27

1. Pengertian Motorik Halus ... 27

2. Perkembangan Motorik Halus... 28

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motorik Halus ... 30

4. Karakteristik Perkembangan Motorik Halus ... 31

5. Prinsip dan Tujuan Pengembangan Motorik Halus ... 32

F. Variasi Media Pembelajaran ... 33

1. Pengertian Variasi Media Pembelajaran ... 33

2. Fungsi Media Pembelajaran ... 35

3. Klasifikasi Media Pembelajaran ... 37

BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 40

B. Setting Penelitian... 41

C. Subjek Penelitian ... 42

D. Teknik Pengumpulan Data ... 43

E. Teknik Analisis Data ... 46

F. Keabsahan Data ... 48

(13)

xii

BAB IV : PERAN GURU DALAM MENSTIMULASI MOTORIK

HALUS ANAK MELALUI VARIASI MEDIA

PEMBELAJARAN

A. Profil Sekolah ... 49

1. Sejarah Singkat RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas ... 49

2. Letak Geografis ... 50

3. Visi dan Misi ... 50

4. Data Guru RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon ... 51

5. Data Anak Didik... 51

6. Keadaan Pendidik dan Anak Didik ... 52

7. Sarana dan Prasarana ... 53

B. Aktivitas Pembelajaran Di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas .. 53

C. Tugas dan Tanggungjawab Guru di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas ... 54

D. Peran Guru Dalam Menstimulasi Motorik Halus Anak Melalui Variasi Media Pembelajaran ... 60

E. Bentuk-Bentuk Aktivitas Kegiatan Motorik Halus ... 77

F. Hasil Pengembangan Motorik Halus Anak Di Rumah Setelah Mendapat Stimulasi Oleh Guru Melalui Variasi Media Pembelajaran.. ... 80

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan... 82

B. Saran ... 83 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tingkat Pencapaian Perkembangan Motorik Halus Anak 5-6 Tahun, 32 Tabel 2 Daftar Nama Guru RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja, 52 Tabel 3 Data Nama Anak Didik Kelompok Usia 5-6 Tahun (Kelas B1), 52 Tabel 4 Keadaan Anak Didik, 54

(15)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Observasi Lampiran 2 Transkip Wawancara

Lampiran 3 Rencana Pelaksaan Pembelajaran Harian RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon

Lampiran 4 Nilai Raport Anak Didik Kelas B1 Lampiran 5 Catatan Lapangan

Lampiran 6 Foto-Foto Aktivitas Kegiatan Pembelajaran Motorik Halus, Ruang Kelas B1 dan Media Pembelajaran

Lampiran 7 Permohonan Izin Observasi Pendahuluan

Lampiran 8 Keterangan Telah Melakukan Observasi Pendahuluan Lampiran 9 Permohonan Izin Riset Individual

Lampiran 10 Keterangan Telah Melakukan Riset Individual Lampiran 11 Surat Keterangan Mengikuti Semprop

Lampiran 12 Blangko Bimbingan Proposal Skripsi Lampiran 13 Daftar Hadir Ujian Proposal Skripsi Lampiran 14 Blangko Bimbingan Skripsi

Lampiran 15 Surat Keterangan Lulus Ujian Komprehensif Lampiran 16 Surat Rekomendasi Munaqosyah

Lampiran 17 Surat Wakaf Perpustakaan Lampiran 18 Sertifikat OPAK

Lampiran 19 Sertifikat Aplikasi Komputer Lampiran 20 Sertifikat Bahasa Arab Lampiran 21 Sertifikat Bahasa Inggris Lampiran 22 Sertifikat BTA PPI Lampiran 23 Sertifikat PPL Lampiran 24 Sertifikat KKN

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah salah satu hal terpenting dalam kehidupan manusia agar manusia mempunyai pengetahuan dan keterampilan.

Sebagai insan yang memiliki akal dan pikiran, manusia membutuhkan proses pendidikan dalam hidupnya. Maka dari itu, proses pendidikan tidak terlepas dari peran seorang guru.

UU Republik Indonesia No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi yang ada pada dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.1

Dalam proses pembelajaran, peran guru sangat sulit digantikan oleh orang lain. Peran berbeda dengan tugas. Peran merupakan keikutsertaan dalam suatu kegiatan, sedangkan tugas merupakan suatu hal yang wajib dilaksanakan.

Guru bertanggungjawab dalam pembelajaran yang diharapkan mampu untuk merancang, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan yang melibatkan seluruh aspek perkembangan sehingga tercapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Aspek perkembangan pada anak usia dini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah peran guru di sekolah. Seorang guru mempunyai peran yang sangat penting untuk membantu anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Guru mempunyai peran dalam membantu menstimulasi/

merangsang perkembangan anak didiknya, baik dalam aspek fisik motorik, kognitif maupun psikososial emosional.

1 Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru. Purwokerto: STAIN Press. hlm 18.

(17)

Guru adalah orang yang profesinya atau pekerjaannya mengajar. Guru berperan sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun anak didiknya dalam belajar.2 Dalam proses pendidikan dan pembelajaran juga memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih.3 Pelatihan yang dilakukan oleh guru disamping memperhatikan kompetensi dasar dan kompetensi inti juga mampu memperhatikan perkembangan motorik pada masing-masing anak didik.

Ahmad Tafsir mengemukakan pendapatnya bahwa guru adalah orang- orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anak didiknya dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif maupun psikomotorik.4 Guru yaitu seseorang yang tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi anak didik pada pendidikan anak usia dini pada jalur formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Guru juga harus dapat memahami tahapan perkembangan anak usia dini, menguasai metode pembelajaran dengan memperhatikan prinsip pendekatan saintifik dan menyusun evaluasi tiap-tiap anak berdasarkan pencapaian perkembangan secara berkala.5

Guru berperan sebagai pembimbing, yang membantu anak didik dalam mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran.6 Sebagai pembimbing, guru mempunyai tanggungjawab yang besar dalam setiap kegiatan pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan. Sehingga anak didik dapat melaksanakan kegiatan yang dapat menstimulasi motorik halusnya dengan diberi arahan dan bimbingan oleh guru. Anak juga akan mendapatkan pengalaman dari kegiatan tersebut.

2 Tumiran. 2018. “Pengelolaan Murid Unggul Berbasis Manajemen Kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)”, Jurnal Almufida. Vol. 3, No. 1. hlm 74.

3 E. Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. hlm 42.

4 Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru …, hlm 54.

5 Putri Puspitarani, Achmad Mujab Masykur. 2018. “Makna Menjadi Guru Taman Kanak-Kanak (Sebuah Studi Kualitatif Fenomenologis)”, Jurnal Empati. Vol. 7, No. 1. hlm 312.

6 Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru..., hlm 129.

(18)

Selain itu, dalam menstimulasi motorik halus anak, guru juga berperan sebagai fasilitator, dimana guru tersebut menyediakan kemudahan-kemudahan bagi anak didik dengan memfasilitasi segala hal termasuk dalam menyediakan berbagai macam media pembelajaran yang baik agar motorik halus anak dapat dikembangkan.

Guru juga berperan sebagai evaluator, yang melakukan penilaian terhadap kemajuan belajar anak didik. Guru akan menilai perkembangan motorik halus anak sesuai dengan STTPA (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak) sesuai dengan usianya. Ada beberapa variasi media pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam menstimulasi motorik halus anak antara lain melalui media kertas origami, playdough, bahan alam, puzzle, manik-manik, kotak raba dan batik cloth.

Media pembelajaran memiliki peranan penting dalam menunjang kualitas proses belajar mengajar.7 Guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi kepada anak didik dengan menggunakan media pembelajaran. Namun, agar media pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan tidak menimbulkan kebosanan pada anak didik, maka dalam hal ini guru mempunyai peran penting dalam memberikan pembelajaran terutama dalam menstimulasi perkembangan anak didiknya dengan menggunakan variasi media pembelajaran. Variasi adalah perubahan dalam proses kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar anak didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Kejenuhan atau kebosanan yang dialami dalam kegiatan proses pembelajaran sering terjadi. Agar suasana di dalam kelas menjadi hidup, lebih kondusif dan menyenangkan, maka guru harus mampu memberikan variasi baik melalui penggunaan media pembelajaran atau bahan belajar lainnya.

Proses pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses komunikasi. Agar proses komunikasi berjalan dengan efektif dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima secara utuh. Maka dari itu, guru harus menggunakan variasi dalam menggunakan media pembelajaran. Dengan variasi media pembelajaran

7 Talizaro Tafanao. 2018. “Peranan Media Pembelajaran Dalam Meningkatkan Minat Belajar Mahasiswa”, Jurnal Komunikasi Pendidikan. Vol. 2, No. 2. hlm 105.

(19)

tersebut diharapkan dapat mewujudkan pembelajaran yang lebih bermakna sehingga anak didik senantiasa menunjukkan ketekunan, antusias, serta penuh partisipasi dalam menggunakan media pada suatu aktivitas pembelajaran.

Anak adalah manusia kecil yang memiliki berbagai potensi yang masih harus dikembangkan. Anak memiliki karakteristik tertentu yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa, mereka selalu aktif, dinamis, antusias dan ingin tahu terhadap apa yang dilihat, didengar, dirasakan, mereka seolah-olah tak pernah berhenti bereksplorasi dan belajar. Anak bersifat egosentris, memiliki rasa ingin tahu secara alamiah, merupakan makhluk sosial, unik, kaya dengan fantasi, memiliki daya perhatian yang pendek, dan merupakan masa yang paling potensial untuk belajar.8

Anak usia dini adalah masa paling sibuk dalam kehidupan seorang anak.

Berlari, melompat dan bermain sepanjang hari menggambarkan perkembangan fisik motorik yang sedang berkembang pesat. Anak adalah individu yang memiliki berbagai potensi yang harus dikembangkan. Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang mengalami suatu proses perkembangan yang pesat.

Setiap anak memiliki karakteristik tertentu yang khas dan mereka selalu aktif, antusias dan memiliki rasa ingin tahu tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasakan serta seolah-olah tak pernah berhenti bereksplorasi.

Anak usia dini sering disebut anak prasekolah yang memiliki masa peka dalam perkembangannya, dan terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon berbagai rangsangan dari lingkungannya.9 Masa ini dapat disebut juga dengan masa keemasan yang merupakan masa paling tepat dalam mengembangkan potensi dan kemampuan fisik-motorik, kognitif, bahasa, seni, sosial emosional, spiritual, konsep diri, disiplin diri, dan kemandirian pada diri seorang anak.

Usia 4-6 tahun merupakan masa peka yang sangat penting bagi seorang anak untuk mendapat pendidikan maupun keterampilan-keterampilan lainnya.

Pengalaman yang diperoleh anak dari lingkungannya, termasuk stimulasi atau

8 Yuliani Nurani Sujiono. 2013. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks. hlm 6.

9 Mulyasa. 2017. Manajemen PAUD. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm 16.

(20)

rangsangan yang diberikan oleh seorang guru ataupun orang dewasa akan mempengaruhi kehidupan anak di masa yang akan datang.

UU nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 nomor 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.10

Pendidikan anak usia dini dapat diartikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal.11

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan sangat menentukan perkembangan anak dikemudian hari. Secara naluri, keluarga (terutama orang tua) merupakan pendidikan yang pertama dan utama ketika anak dilahirkan. Oleh karena itu, sebenarnya kita tidak bisa melarang siapapun yang ingin berpartisipasi dalam penyelenggaran pendidikan anak usia dini bagi putra dan putrinya. Pemerintah juga tidak bisa melarang orang tua untuk mengirimkan putra-putrinya yang masih usia dini ke lembaga pendidikan anak usia dini sesuai yang dikehendaki. Untuk itu, pendidikan anak usia dini harus benar-benar diperhatikan, karena kematangan pendidikan anak usia dini sangat berpengaruh bagi perkembangan anak.

Pendidikan anak usia dini adalah usaha sadar dalam memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui penyediaan pengalaman dan

10 Riyati dan Rachma Hasibuan. 2018.”Pengaruh Permainan Congklak Berkartu Bilangan Terhadap Kemampuan Mengenal Konsep Bilangan dan Konsep Banyak dan Sedikit pada Anak Usia Dini”, Early Childhood Education Jurnal of Indonesia. Vol. 1, No. 1, hlm 2.

11 Lilis Madyawati. 2016. Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Jakarta: Kencana.

hlm 2.

(21)

stimulasi yang bersifat mengembangkan secara terpadu dan menyeluruh agar anak dapat tumbuh berkembang secara sehat dan optimal sesuai dengan nilai, norma, dan harapan masyarakat.12

Dengan pendidikan anak usia dini menjadikan anak lebih siap untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Dalam pendidikan anak usia dini, anak juga akan diberi stimulasi untuk mendapatkan rangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan anak. Anak yang mendapatkan stimulasi tentu perkembangannya akan lebih optimal dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan stimulasi, maka perkembangan anak cenderung lambat.

Masa lima tahun pertama adalah masa emas bagi perkembangan motorik anak. Motorik adalah semua gerakan yang mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh. Sedangkan perkembangan motorik diartikan perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Perkembangan motorik ini erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak.13

Perkembangan motorik tergantung pada kematangan otot dan saraf. Oleh karena itu, anak akan sulit menunjukkan suatu keterampilan motorik tertentu apabila yang bersangkutan belum mengalami kematangan otot dan sarafnya.

Perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik, sesuai dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang. Gerakan-gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan dan minatnya juga cenderung menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang cukup gesit dan lincah, bahkan sering kelebihan gerakan yang disebut juga dengan over activity.14

Salah satu aspek pengembangan yang mendapat stimulasi di PAUD/ TK/

RA adalah pengembangan motorik halus. Pengembangan motorik halus pada anak berkaitan dengan pengembangan kemampuan koordinasi antara mata dan jari-jari tangannya untuk dapat melakukan berbagai kegiatan pembelajaran.

12 Desmawati Roza, dkk. 2020. “Urgensi Profesionalisme Guru Pendidikan Anak Usia Dini dalam Penyelenggaraan Perlindungan Anak”, Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 4, No. 1. hlm 269.

13 Mustamir Pedak dan Handoko Sudrajad. 2009. Saatnya Bersekolah!. Yogyakarta: Buku Biru. hlm 20.

14 Husnuzziadatul Khairi. 2018. ”Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini dari 0-6 Tahun”, Jurnal Warna. Vol.2, No. 2. hlm 23.

(22)

Misalnya, kemampuan anak memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan lain sebagainya. Perkembangan motorik halus dipandang penting untuk dipelajari, karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perilaku anak setiap hari.

Motorik halus dapat diartikan apabila hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja, dan dilakukan oleh otot-otot kecil. Gerakan ini tidak begitu memerlukan tenaga, akan tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat.15 Contohnya, gerakan mengambil suatu benda dengan hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan, mengikat tali sepatu, mengacingkan baju, menempel, meronce, dan lain sebagainya.

Motorik halus adalah koordinasi gerak tubuh yang melibatkan mata dan tangan untuk dapat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan gerakan tangan, seperti menggenggam, memegang, merobek, menggunting, melipat, mewarnai, menggambar, menulis, menumpuk mainan dll.

Keterampilan motorik halus merupakan suatu gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil (halus) serta memerlukan koordinasi yang cermat, seperti menggunting, mengikuti garis, melipat, menulis, mewarnai, menggambar, memasukkan kelereng ke dalam lubang, membuka dan menutup objek dengan mudah, menuangkan air ke dalam gelas tanpa berceceran, menggunakan kuas, krayon, dan spidol, dsb.

Mengembangkan kemampuan motorik halus pada anak akan lebih mudah dilakukan apabila telah memahami karakteristik motorik halus pada anak, dimana dalam penjelasan karakteristik motorik halus terlihat ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh anak seusianya.

Jika dari karakteristik tersebut anak belum mampu melakukan salah satu kemampuan yang ada, maka dapat digunakan beberapa media penunjang untuk menstimulasi kemampuan motorik halus anak. Kemampuan motorik halus merupakan kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang

15 Mustamir Pedak dan Handoko Sudrajad. 2009. Saatnya Bersekolah..., hlm 21.

(23)

melibatkan otot-otot kecil dan koordinasi mata-tangan.16 Otot dan syaraf inilah yang nantinya mampu mengembangkan gerak motorik halus, seperti melipat dan meremas kertas, menyobek, menggambar, menulis dan lain sebagainya.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan motorik halus anak merupakan kemampuan yang menggunakan otot-otot kecil dengan mengkoordinasikan antara mata dan tangan, seperti keterampilan menggunakan jari-jemari tangan dalam menggunakan media pada suatu kegiatan. Dalam menstimulasi motorik halus diperlukan adanya media pembelajaran untuk anak usia dini seperti kertas origami, playdough, bahan alam, puzzle, manik-manik, batik cloth dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil studi observasi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan Januari 2020 di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja bersama Ibu Triatun Qomariyah, S.Pd.I mengatakan bahwa dalam proses pembelajaran, guru mempunyai peranan penting terutama dalam menstimulasi motorik halus anak dengan menggunakan media pembelajaran yang bervariasi.

Salah satu media yang pernah saya amati yaitu media batik cloth, Di awal kegiatan, guru mempersiapkan alat dan bahannya. Anak melakukan aktivitas kegiatan dengan menggunakan media batik cloth secara bergiliran supaya mempermudah guru dalam menstimulasi motorik halusnya. Guru membimbing dan melatih sambil memegang tangan anak didiknya lalu mulai menulis dengan menggunakan canting yang berisi malam cair dan mengikuti pola-pola gambar yang sudah dibuat oleh guru. Pola-pola gambar tersebut merupakan salah satu bentuk fasilitas yang disediakan oleh guru untuk mempermudah anak dalam menggunakan media batik cloth. Dengan perlahan, guru sedikit melepaskan tangannya dan anak mulai menulis sendiri di atas kain. Ada beberapa anak yang sudah mampu menggunakan tangannya untuk menulis di atas kain dengan mengikuti pola gambar, tetapi ada juga yang belum mampu.

Kegiatan lain yang saya amati di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja dalam menstimulasi motorik halus adalah kegiatan mencap, dimana

16 Achmad Afandi. 2019. Pendidikan dan Perkembangan Motorik. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia. hlm 60.

(24)

kegiatan mencap ini menggunakan bahan alam sebagai medianya. Media bahan alam mudah sekali ditemukan di lingkungan sekitar, seperti pelepah pohon pisang, batang pepaya, daun dan lain-lain. Dalam kegiatan mencap menggunakan media bahan alam, guru menyiapkan terlebih dahulu batang pepaya, pewarna dan selembar kertas kosong yang digunakan untuk kegiatan mencap. Setelah itu, guru memberikan contoh pada anak dalam kegiatan mencap menggunakan media batang pepaya dan selanjutnya anak mengikuti apa yang dicontohkan oleh guru.

Dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak hanya menggunakan media batik cloth dan bahan alam saja, tetapi juga menggunakan media kertas origami, playdough, manik-manik, dan lain-lain. Dengan variasi media pembelajaran selain dapat menstimulasi motorik halus juga dapat memberikan pengetahuan serta pengalaman pada anak.

B. Definisi Operasional

Untuk memperoleh gambaran yang jelas dalam memahami persoalan yang di bahas, serta agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami penafsiran dan memperjelas maksud pada judul ini, maka ditegaskan secara tertulis dalam pengertian istilah yang terkandung di dalam judul, seperti uraian di bawah ini : 1. Peran Guru

Guru merupakan orang-orang yang bertanggung-jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif maupun psikomotorik.17

Beberapa peran guru diantaranya yaitu :

a. Sebagai pembimbing, yang membantu anak didik mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran

b. Sebagai pelatih, yang melatih anak didik dalam berbagai keterampilan, baik intelektual maupun motorik.

c. Sebagai fasilitator, yang menyediakan kemudahan-kemudahan bagi anak didik untuk melakukan kegiatan belajar mengajar.

17 Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru... hlm 54.

(25)

d. Sebagai evaluator, yang melakukan penilaian terhadap kemajuan belajar anak didik.

Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan peran guru adalah yang menstimulasi motorik halus anak sehingga dapat meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak.

2. Motorik Halus

Motorik halus adalah suatu gerakan yang dilakukan oleh jari-jari dengan susunan sel saraf pusat. Motorik halus adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi dengan mata, keterampilan yang mencakup pemanfaatan menggunakan alat-alat untuk mengerjakan suatu objek.18

Motorik halus dapat diartikan juga sebagai aktivitas motorik yang melibatkan otot-otot kecil atau halus, gerakan ini menuntut koordinasi mata dan tangan serta pengendalian gerak yang baik yang memungkinkannya melakukan ketepatan dan kecermatan dalam gerak.

3. Variasi Media Pembelajaran

Variasi dapat diartikan selingan atau hasil perubahan dari keadaan semula.19 Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan- perbedaan yang sengaja diciptakan atau dibuat untuk memberikan kesan yang baik. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.20

Jadi, dapat disimpulkan bahwa variasi media pembelajaran merupakan suatu bentuk peralatan atau bahan yang digunakan secara bergantian dalam proses pembelajaran, sehingga dapat membangkitkan minat dan motivasi anak didik dalam mengikuti proses belajar mengajar.

18Achmad Afandi. 2019. Buku Ajar Pendidikan dan Perkembangan Motorik ..., hlm 57.

19 KBBI Online. Diakses melalui https;//kbbi.web.id.variasi, 3 Januari 2020, pukul 09.21.

20 Guslinda dan Rita Kurnia. 2018. Media Pembelajaran Anak Usia Dini. Surabaya: CV.

Jakad Publishing. hlm 2.

(26)

4. Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang mengalami suatu proses perkembangan yang pesat. Pada masa tersebut merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek dalam rentang kehidupan manusia. Proses pembelajaran terhadap anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki dalam tahap perkembangan anak.21 Setiap anak pasti memiliki karakteristik tertentu yang khas dan mereka selalu aktif, dinamis, antusias dan ingin mengetahui tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasakan serta seolah-olah tidak pernah berhenti bereksplorasi.

5. RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja

RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja adalah lembaga pendidikan yang terletak di Jalan Pesarehan Kebutuh Desa Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. RA ini merupakan lembaga pendidikan yang berada dibawah asuhan Departemen Agama dan berbadan hukum sehingga telah di akui secara sah dan tercatat dalam buku Stambuk Inspeksi Pendidikan Agama Perwakilan Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah, sebagai Perguruan Agama Swasta terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1957 dengan nomor induk 491.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah penelitian ini yaitu :

“Bagaimana peran guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas?”.

21 Ahmad Susanto. 2018. Pendidikan Anak Usia Dini (Konsep dan Teori). Jakarta: Bumi Aksara. hlm 1.

(27)

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja peran guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat atau pengaruh terhadap penelitian yang hendak diteliti.

a. Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan ilmu pengetahuan bagi dunia pendidikan, khususnya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di bidang kemampuan motorik halus pada anak usia dini.

b. Praktis 1) Sekolah

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan, terutama dalam menstimulasi motorik halus pada anak dalam proses pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar, sehingga tercapai perkembangan anak yang optimal dan sesuai dengan harapan. Dan juga bagi sekolah agar lebih menambahkan media atau kegiatan untuk menstimulasi motorik halus pada anak.

2) Pendidik, sebagai bahan masukan dan informasi terkait pentingnya menstimulasi motorik halus anak dengan menggunakan variasi media pembelajaran.

3) Anak Didik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menstimulasi koordinasi gerak otot-otot halus pada anak dan menjadikan anak senang serta memiliki pengalaman baru terhadap kegiatan yang berkaitan dengan motorik halus.

(28)

4) Peneliti

a. Manfaatnya adalah menambah pengetahuan atau wawasan baru tentang cara menstimulasi motorik halus pada anak.

b. Peneliti dapat mengetahui atau mengamati secara langsung peran guru dalam menstimulasi motorik halus.

E. Kajian Pustaka

Jurnal Edukasi Vol. III No.3, tahun 2016 yang disusun oleh Windri Rosania Ulfa, Misno A. Lathif, dan Khutobah dengan judul “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Membatik Jumputan Pada Anak Kelompok B TK Asy-Syafa'ah Jember Tahun Pelajaran 2015/2016”. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok B melalui kegiatan membatik jumputan di TK Asy-Syafaah Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2015/2016.

Jurnal Riset Tindakan Indonesia Vol. 3 No. 2 tahun 2018 yang disusun oleh Meli Susanti dengan judul “Peningkatan kemampuan motorik halus melalui permainan menganyam dari bahan alam di taman kanak-kanak cahaya hati Kabupaten Pasaman barat”. Tujuan penelitian dari ini adalah untuk mengetahui kemampuan anak dalam menggerakkan jari tangannya, kemampuan anak dalam menganyam dengan teknik anyaman tunggal, dan kemampuan anak dalam memasukkan daun kedalam tempat anyaman.

Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini Vol.4 No.2 tahun 2018 yang disusun oleh Nur Faizatin dengan judul “Peningkatan Motorik Halus Melalui Kegiatan Origami Pada Anak Kelompok A TK DWP Kedungrukem Benjeng Gresik Tahun Pelajaran 2015/2016”. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motorik halus anak melalui kegiatan pembelajaran yang lebih menarik seperti melipat kertas dan melipat berbagai macam lipatan kertas yang disesuaikan dengan tema sebagai sumber belajar yang terbukti mampu untuk meningkatkan kemampuan melipat kertas pada anak, yaitu terlihat dari lembar data hasil pengamatan pada saat kegiatan pembelajaran dengan melipat kertas.

(29)

Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol. 11 No. 1 tahun 2018 disusun oleh Erni Yuniati dengan judul “Puzzle Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Prasekolah di TK At-Taqwa Mekarsari Cimahi”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan alat permainan edukatif jenis puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah di Taman Kanak-Kanak at Taqwa Mekarsari, Cimahi Jawa Barat.

Sedangkan pada penelitian yang peneliti lakukan lebih membahas pada apa saja peranan guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran di RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja. Maka, akan terlihat bagaimana pengembangan motorik halus anak didik melalui variasi media pembelajaran, seperti dengan menggunakan media kertas origami, bahan alam, puzzle, batik cloth, dan lain-lain.

F. Sistematika Pembahasan

Untuk memudahkan dalam memahami isi yang terkandung dalam skripsi ini, maka peneliti membagi menjadi tiga bagian yaitu awal, bagian utama dan bagian akhir. Penjabarannya adalah sebagai berikut:

Bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman pernyataan keaslian, halaman pengesahan, nota dinas pembimbing, abstrak, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Pada bagian utama, peneliti membagi menjadi lima bab, yaitu:

Bab I Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, definisi operasional, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka dan sistematika penulisan.

Bab II Landasan Teori, yang berkaitan dengan peran guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran yang diperjelas dengan sub-subnya, yaitu pengertian guru, tugas dan tanggungjawab guru, peran guru, pengertian motorik halus, pengembangan motorik halus, faktor-faktor yang mempengaruhi motorik halus, karakteristik perkembangan motorik halus, prinsip dan tujuan pengembangan motorik halus, pengertian

(30)

variasi media pembelajaran, fungsi media pembelajaran, dan klasifikasi media pembelajaran.

Bab III Membahas tentang metode penelitian. Dalam bab ini akan dibahas tentang jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian dan teknik pengumpulan data, analisis data dan keabsahan data.

Bab IV Membahas tentang peran guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran, yang mencakup gambaran umum RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja Kulon Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas, tugas dan tanggungjawab guru, peran guru dalam menstimulasi motorik halus anak melalui variasi media pembelajaran, bentuk- bentuk aktivitas kegiatan motorik halus dan hasil pengembangan motorik halus anak di rumah setelah mendapat stimulasi oleh guru di RA

Bab V Penutup meliputi kesimpulan, saran, dan kata penutup.

Sedangkan pada bagian akhir skripsi ini berisi tentang daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat hidup.

(31)

16 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Guru

Istilah dalam paradigma Jawa terkait dengan pengertian guru, pendidik diidentikkan dengan guru yang mempunyai makna “digugu dan ditiru” artinya mereka yang selalu dicontoh dan dipanuti. Menurut Ahmad Tafsir, guru adalah orang-orang yang bertanggung-jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Pengertian guru dapat dilihat dari dua sisi. Pertama secara sempit, guru adalah orang yang berkewajiban mewujudkan program kelas. Sedangkan secara luas diartikan guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung-jawab dalam membantu anak didik dalam mencapai kedewasaan masing-masing.22 Guru diartikan sebagai sosok yang memiliki rasa tanggungjawab sebagai seorang pendidik dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru secara profesional yang pantas menjadi figur atau teladan bagi anak didiknya.23

Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat diartikan sebagai orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak harus di lembaga pendidikan formal saja, tetapi juga bisa di masjid, di mushola, di rumah dan sebagainya.24 Guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan penilaian atau evaluasi kepada anak didik.25

Guru diartikan pula sebagai unsur penting dalam kegiatan pembelajaran. Guru juga yang menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Guru memang bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan. Banyak faktor-faktor lain yang juga ikut menentukan, tetapi proses

22 Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru. Purwokerto: STAIN Press. hlm 54.

23 Moh. Roqib dan Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru. Yogyakarta: Grafindo Litera Media. hlm 23.

24 Dewi Safitri. 2019. Menjadi Guru Profesional. Riau: PT Indragiri Dot Com. hlm 7.

25 Dewi Safitri. 2019. Menjadi Guru Profesional …, hlm 5.

(32)

pembelajaran sebagai inti dari pendidikan sangat tergantung pada guru. Guru merupakan seseorang yang sangat berjasa dalam dunia pendidikan, tidak hanya dalam segi pengetahuan saja tetapi juga keterampilan yang lainnya, sehingga selain anak didik mendapatkan pengetahuan melalui kegiatan pembelajaran, guru juga membantu anak didik untuk mengembangkan keterampilan yang dimilikinya terutama dalam mengkoordinasikan mata dan tangan. Dalam mengembangkan keterampilan, seorang guru harus mengetahui kemampuan masing-masing yang dimiliki anak didik, sehingga guru dapat memilih kegiatan apa saja yang dapat dilakukan untuk dapat mengembangkan kemampuan anak didik tersebut.

B. Tugas dan Tanggungjawab Guru

Mengacu pada pengertian guru di atas, seorang guru memiliki tugas dan tanggungjawab yang cukup besar dalam proses kegiatan pembelajaran. Tugas dan tanggungjawab tersebut harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Guru memiliki tugas yang bermacam-macam dan diterapkan dalam bentuk pengabdian.26 Tanggungjawab guru terhadap anak didiknya dalam belajar yang terpenting adalah merencanakan dan melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.

Agar guru dapat menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik, maka guru harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Tugas Guru

Pada dasarnya, tugas guru adalah mendidik dengan mengupayakan pengembangan seluruh potensi anak, baik dari segi aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.27

Berdasarkan UU RI No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Bab 1 pasal 1 ayat 1 terkait dengan tugas seorang guru, dijelaskan bahwa :

“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,

26 Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru …, hlm 106.

27 Moh. Roqib. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara. hlm 50.

(33)

dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”28 Adapun tugas utama seorang guru, yaitu29:

a. Mengajar peserta didik

Seorang guru bertanggungjawab untuk mengajarkan ilmu pengetahuan pada peserta didik. Fokus utama dalam kegiatan mengajar adalah dalam hal intelektual sehingga para murid mengetahui tentang materi dalam suatu pembelajaran.

b. Mendidik para murid

Mendidik murid merupakan hal yang berbeda dengan mengajarkan suatu ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, kegiatan mendidik bertujuan untuk mengubah tingkah laku murid menjadi lebih baik.

c. Melatih peserta didik

Guru harus bertindak sebagai pelatih karena pendidikan dan pengajaran memerlukan bantuan latihan keterampilan baik intelektual, sikap maupun motorik. Seorang guru juga memiliki tugas untuk melatih muridnya agar memiliki keterampilan dan kecakapan dasar. Bila disekolah umum, para guru melatih murid tentang keterampilan dan kecakapan dasar, maka disekolah kejuruan para guru memberikan keterampilan dan kecakapan lanjutan.

d. Membimbing dan mengarahkan

Guru berusaha membimbing anak didik agar dapat menemukan potensi yang dimilikinya serta dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mandiri dan produktif. Guru dituntut agar mampu mengidentifikasi anak didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Para peserta didik mungkin saja mengalami kebingungan dalam proses pembelajaran. Seorang guru bertanggungjawab untuk membimbing dan mengarahkan anak didiknya agar tetap berada pada jalur yang tepat sesuai dengan tujuan pendidikan.

28 UU RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

29 Dewi Safitri. 2019. Menjadi Guru Profesional. Riau: PT Indragiri Dot Com. hlm 10-14.

(34)

e. Memberikan dorongan pada anak didik

Poin terakhir dari tugas seorang guru adalah untuk memberikan dorongan pada anak didik agar berusaha keras untuk lebih maju. Bentuk dorongan yang diberikan oleh guru kepada anak didiknya bisa dengan berbagai cara, misalnya memberikan hadiah.

Seorang guru harus mengerti juga memahami apa saja tugas-tugas yang sudah menjadi tanggungjawabnya agar dapat dilaksanakan dengan baik. Secara detail, tugas-tugas guru yaitu30 :

a) Merencanakan pembelajaran, yaitu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam lembaga pendidikan anak usia dini atau sejenisnya, guru membuat Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian (RKH).

b) Melaksanakan pembelajaran, yaitu kegiatan tatap muka guru dengan anak didik, yang dimulai dengan kegiatan awal. Kegiatan inti dan kegiatan akhir.

c) Menilai hasil pembelajaran, yaitu serangkaian kegiatan memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data proses dan hasil belajar anak didik, serta dilaksanakan menggunakan tes dan non tes.

d) Membimbing dan melatih anak didik, yaitu bimbingan dan latihan pada kegiatan pembelajaran di kelas, kegiatan intrakurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler.

2. Kompetensi Guru

Kata “kompetensi” secara harfiah diartikan sebagai kemampuan.31 Kompetensi pada hakikatnya menggambarkan pengetahuan, sikap dan nilai- nilai yang harus dikuasai peserta didik dan direfleksikan dalam kebiasaaan berpikir dan bertindak32 Kompetensi guru dapat juga diartikan sebagai penguasaan terhadap suatu tugas (mengajar dan mendidik), keterampilan,

30Mohammad Ahyan Yusuf Sya‟bani. 2018. Profesi Keguruan: Menjadi Guru yang Religius dan Bermartabat. Gresik: Caremedia Communication. hlm 41.

31Moh. Roqib dan Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru …, hlm 72.

32 Moh. Roqib dan Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru …, hlm 71.

(35)

sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukannya.33

Dalam menjalankan tugasnya, guru dituntut untuk memiliki beberapa kompetensi agar guru dapat mencapai keberhasilan dalam menjalankan tugas-tugas yang sudah menjadi tanggungjawabnya.

Berdasarkan UU Guru dan Dosen, ada empat kelompok (dimensi) dari kompetensi guru, yaitu34:

a. Kompetensi Pedagogik

Guru harus paham terhadap anak didik, perancangan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, dan pengembangannya, yakni dengan memahami semua aspek potensi anak didik, menguasai teori dan strategi belajar serta pembelajarannya, guru mampu merancang pembelajaran, menata latar dan pelaksanaannya, dan mampu melakukan pengembangan akademik dan nonakademik.

b. Kompetensi Kepribadian

Guru harus memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, dewasa, arif, berwibawa, dan berakhlak mulia dengan melaksanakan norma- norma hukum dan sosial, memiliki rasa bangga dengan profesinya sebagai guru, konsisten dengan norma, mandiri, memiliki etos kerja tinggi, memiliki pengaruh positif, diteladani dan disegani, melaksanakan norma religius, serta jujur.

c. Kompetensi Profesional

Guru harus menguasai keilmuan bidang studi yang diajarkannya, serta mampu melakukan kajian kritis dan pendalaman isi bidang studi.

d. Kompetensi sosial

Seorang guru harus mampu berkomunikasi dan bergaul dengan anak didik, wali murid, dan masyarakat yakni dengan kemampuan

33Cut Fitriani, dkk. 2017. “Kompetensi Profesional Guru Dalam Pengelolaan Pembelajaran di MTs Muhammadiyah Banda Aceh”, Jurnal Magister Administrasi Pendidikan, Vol. 5, No. 2. hlm 89.

34 Moh. Roqib. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara. hlm 52.

(36)

bersikap menarik, simpati, empati, suka menolong, menjadi panutan, komunikatif dan kooperatif.

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, seorang guru perlu memiliki pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang disebut dengan kompetensi. Keempat kompetensi yang mencakup pedagogik, kepribadian, professional dan sosial harus dimiliki oleh seorang guru, agar guru dapat menjalankan perannya dalam dunia pendidikan. Guru yang berkompeten tentu saja dapat mengatasi segala permasalahan yang terjadi baik itu menyangkut soal pendidikan ataupun proses pembelajaran terutama dalam bidang pengembangan yang diampu atau diajarkannya.

C. Peran Guru

Peran merupakan keikutsertaan dalam suatu kegiatan pembelajaran.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan terutama terhadap keberhasilan pembelajaran dikelas.

Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan anak didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal.35 Peran guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua di sekolah yang senantiasa membantu anak didik dalam mengembangkan potensi atau kemampuan yang ada di dalam dirinya. Minat, bakat, dan potensi-potensi anak didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini, guru perlu memperhatikan masing-masing individu anak didik, karena antara satu anak dengan yang lainnya memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

Peran guru merupakan suatu tindakan yang dimiliki oleh orang yang memiliki kedudukan sebagai guru, perwujudan suatu ide melalui tindakannya harus sesuai dengan ciri khas guru yang nantinya bisa memberikan dampak positif bagi anak didik pada setiap bidang yang diperlukan untuk kehidupan anak didik selanjutnya.

35 Amika Sapan, Muhammad Darwis, dan Ilham Minggi. 2017. “Analysis On Math Teacher Competence SMK Pelayaran In Makasar”, Jurnal Daya Matematis. Vol. 5, No. 1. hlm 87.

(37)

Banyak peran yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, diantaranya yaitu36 :

1. Korektor

Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai ini mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah mempengaruhinya sebelum anak didik masuk sekolah.

2. Inspirator

Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan petunjuk/ ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Guru juga harus memberikan bagaimana cara belajar yang baik.

3. Informator

Sebagai informator, seorang guru harus dapat memberikan informasi terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru. Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi informator yang baik dan efektif, kuncinya adalah pada penguasaan bahasa yang mudah dipahami oleh anak didik.

4. Organisator

Sebagai organisator adalah sisi lain dari peran yang diperlukan dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, dan lain sebagainya.

5. Motivator

Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didiknya agar bersemangat dan aktif belajar. Setiap saat guru harus bisa sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif tidak mustahil ada di antara anak didik yang malas belajar dan sebagainya. Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik.

6. Inisiator

Sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang

36 Moh. Roqib dan Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru …, hlm 107-111.

(38)

ada sekarang harus diperbaiki sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan.

7. Fasilitator

Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan dapat memudahkan anak dalam kegiatan pembelajaran. Suasana kelas yang gaduh, ruang belajar yang kotor, meja yang berantakan dan lain sebagainya menjadikan anak didik malas belajar.

Oleh karena itu menjadi tugas guru bagaimana menyediakan fasilitas agar menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi anak didik.

8. Pembimbing

Peran guru sebagai pembimbing harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing anak didik proses pembelajaran berlangsung. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.

9. Demonstrator

Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat dipahami oleh anak didik. Apalagi anak didik yang memiliki kecerdasan yang sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami, seorang guru harus berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengaan pemahaman anak didik.

10. Pengelola kelas

Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Sedangkan kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pembelajaran.

11. Mediator

Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan atau pembelajaran dalam

(39)

berbagai bentuk dan jenisnya. Keterampilan menggunakan semua media diharapkan dari guru yang disesuaikan dengan pencapaian tujuan pembelajaran.

12. Supervisor

Sebagai supervisor, seorang guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran

13. Evaluator

Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian. Penilaian terhadap kepribadian anak didik tentu lebih diutamakan daripada penilaian terhadap jawaban anak didik ketika diberikan tes.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang guru harus bisa menjalankan semua peran, walaupun terkadang masih banyak guru yang tidak menjalankan peran-peran tersebut sepenuhnya. Akan tetapi guru harus selalu berusaha menjalankan perannya dengan baik, agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan tuijuan dari pembelajaran maupun pendidikan tersebut dapat tercapai.

D. Peran Guru Dalam Menstimulasi Motorik Halus Anak

Peran guru dalam menstimulasi motorik halus dapat diartikan sebagai keikutsertaan guru dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak.

Menstimulasi motorik halus anak adalah suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh guru dalam mengembangkan kemampuan motorik halus melalui berbagai/

variasi media pembelajaran.

Dalam menstimulasi motorik halus, ada beberapa peran yang harus guru lakukan yaitu :

1. Guru sebagai pembimbing

Bimbingan merupakan proses bantuan yang diberikan oleh guru kepada anak didik dalam memperhatikan kemungkinan adanya hambatan atau kesulitan yang dihadapi anak didiknya dalam rangka mencapai

(40)

perkembangan yang optimal.37 Guru sebagai pembimbing yaitu yang membantu anak didik mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran.

Dalam menstimulasi motorik halus, peran guru sangat dibutuhkan terutama dalam menggunakan berbagai atau variasi media pada setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh anak. Sebagai pembimbing, selain membantu anak mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran, guru juga membantu anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dan memberikan petunjuk atau bimbingan terhadap media pembelajaran dalam suatu kegiatan yang sedang dilakukan, sehingga anak dapat menyelesaikan kegiatan tersebut dengan baik.

Tanpa bimbingan, anak akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan kegiatan pembelajaran, sehingga kemampuan motorik halusnya tidak dapat berkembang secara optimal. Pada awal usianya, anak didik lebih banyak bergantung pada bantuan guru. Tetapi semakin dewasa, ketergantungan anak didik akan semakin berkurang.

2. Guru sebagai pelatih

Proses pendidikan dan pembelajaran tentunya memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih.38 Tanpa latihan, seorang anak tidak akan mampu menunjukkan penguasaan Kompetensi Dasar (KD), Kompetensi Inti (KI) dan tidak mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan tingkat usia masing-masing anak didik.

Guru perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap anak didik agar memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya, khususnya untuk mempraktekan berbagai jenis media pembelajaran dalam suatu kegiatan yang memerlukan koordinasi mata dan keterampilan tangannya.

3. Guru sebagai fasilitator

Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan kemudahan-kemudahan bagi anak didiknya untuk melakukan

37 Yuliani Nurani Sujiono. 2013. Konsep Dasar Pendidikan Anak …, hlm 15.

38 E. Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional …, hlm 42.

(41)

kegiatan belajar mengajar39. Sebagai fasilitator, guru hendaknya mampu mengusahakan media pembelajaran yang berguna dan dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar-mengajar. Seorang guru juga perlu menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan membangkitkan kemauan anak untuk melakukan eksplorasi. Guru sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada anak dalam proses pembelajaran, media yang digunakan harus menarik, dan bermanfaat untuk memperjelas materi yang disampaikan guru.

Guru akan bertindak dengan sebaik-baiknya dalam kegiatan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Dalam melaksanakan perannya, guru selalu dihadapkan pada berbagai pilihan, karena kenyataan yang ada dilapangan kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, beberapa diantaranya yaitu seperti cara bertindak, media pembelajaran yang paling sesuai, metode pembelajaran yang paling efektif, alat bantu yang paling cocok dan sumber belajar yang paling lengkap.

Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan anak didiknya dalam kegiatan pembelajaran. Seorang guru harus memahami berbagai jenis media pembelajaran serta memperhatikan kesesuaian antara media yang digunakan dengan materi yang akan disampaikan agar tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai dan anak didik merasa senang, tertarik, dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan. Dalam hal ini, guru juga dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi maupun berinteraksi dengan anak didik.

4. Guru sebagai evaluator

Sebagai Evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyeluruh.

Sebagai evaluator, guru tidak hanya menilai produk (hasil pengajaran), tetapi juga menilai proses (jalannya pengajaran).40

39 Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru …, hlm 129.

40 Moh. Roqib dan Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru …, hlm 111.

(42)

Penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian perkembangan anak didik terutama dalam mengembangkan kemampuan motorik halusnya. Penilaian sangat perlu dilakukan karena hal ini dapat terlihat kemampuan guru dalam mengajar dan kemampuan anak didik dalam belajar. Guru sebagai evaluator harus benar-benar objektif dalam melaksanakan penilaian, karena evaluasi dapat mengadakan perbaikan selanjutnya.41

Selain itu, penilaian juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana materi dalam proses pembelajaran telah diketahui anak didik, apakah cukup memberikan hasil yang memuaskan atau sebaliknya, sehingga guru dapat memperbaiki pembelajaran di masa mendatang, apakah dari segi materi pembelajaran atau metode pembelajaran, pengelolaan kelas, komunikasi yang digunakan, media pembelajaran yang digunakan, cara mengevaluasi, atau gaya mengajar yang tidak disenangi oleh anak bila hasilnya tidak memuaskan dan selalu adanya pembaharuan apabila hasil yang diharapkan baik.

E. Motorik Halus

1. Pengertian Motorik Halus

Motorik halus merupakan suatu gerakan yang dilakukan oleh jari-jari dengan susunan sel saraf pusat, sedangkan menurut Sumantri menyatakan bahwa motorik halus adalah pengoorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi dengan mata, keterampilan yang mencakup pemanfaatan menggunakan alat-alat untuk mengerjakan suatu objek.42

Motorik halus dapat diartikan sebagai gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil saja. Oleh karena itu, gerakan didalam motorik halus tidak membutuhkan tenaga akan

41 Nurhaidah, M. Insya Musa. 2016.”Pengembangan Kompetensi Guru Terhadap Pelaksanaan Tugas Dalam Mewujudkan Tenaga Guru Yang Profesional”, Jurnal Pesona Dasar.

Vol.2, No.4. hlm 19.

42 Achmad Afandi. 2019. Buku Ajar Pendidikan dan Perkembangan Motorik ..., hlm 57.

Gambar

Tabel 1 Tingkat Pencapaian Perkembangan Motorik Halus Anak 5-6 Tahun, 32  Tabel 2 Daftar Nama Guru RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja, 52  Tabel 3 Data Nama Anak Didik Kelompok Usia 5-6 Tahun (Kelas B1), 52  Tabel 4 Keadaan Anak Didik, 54
Tabel 1: Tingkat Pencapaian Perkembangan Motorik Halus Anak 5-6  Tahun  Lingkup  Perkembangan  Sub Lingkup  Perkembangan  Tingkat Pencapaian  Perkembangan Anak Usia
Tabel 2. Daftar Nama Guru RA Muslimat NU Masyithoh 01 Sokaraja
Tabel 4. Keadaan Anak Didik
+2

Referensi

Dokumen terkait

a) Multiplatform, Kelebihan utama dari java ialah dapat dijalankan di beberapa platform / sistem operasi komputer. b) OOP (Object Oriented Programming – Pemrograman Berorentasi

Penelitian yang dilakukan di perusahaan telah berhasil membuat rancangan perbaikan dan telah dilakukan implementasi perbaikan untuk 6 jenis cacat yang penting untuk

Pada awalnya Vipro-G memperkenalkan produknya sebagai salah satu minuman kesehatan yang ditujukan hanya untuk para perokok agar dapat menetralisir radikal bebas yang ada di

INTERA KSI MATER NAL BAYI Pemeriksaan dan evaluasi kesejahtera an dan tumbuh kembang janin (antenatal screening) INTERAKSI MATERNAL BAYI Pemeriksaan dan evaluasi

Unsur sensualitas sangat tergambar dari gambar di atas serta pada lirik lagu di atas yaitu pada kalimat “cinta-cinta lakukan dengan cinta bila kamu mau” makna dari

Aplikasi Irama Kenjoan Pada Bass Drum, Floor Tom, Hi-hat, Snare Drum Dan Small Tom Dalam Bentuk Notasi Drumset .... Score Irama Krotokan Dalam Bentuk Notasi Kendang

Adanya regenerasi pada organisme dewasa mununjukkan suatu bukti bahawa medan morfogenesis tetap terdapat setelah periode embrio, umpamanya regenerasi anggota badan yang

Adapun tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak metanol daun jambu biji pada dosis 10,5 dan 21,0 mg/ml menunjukkan efek