Persepsi Pemilih Pemula Terhadap Personal Branding (Profil) Pemimpin Muda Indonesia di Media Sosial 2021 (Studi Kasus Gubernur DKI Jakarta)
Mila Faradhila Sani, Sovia Sitta Sari
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Indonesia
ABSTRAK
Membangun pencitraan politik untuk menimbulkan persepsi positif guna mendapatkan sebanyak mungkin pemilih merupakan salah satu bagian dari marketing politik yang sangat penting keberadaannya untuk saat ini bagi tokoh politik. Persepsi khalayak terhadap elit politik dapat dibangun lewat personal branding melalui media online.
Media online menjadi semacam senjata bagi para pemimpin muda Indonesia saat ini, sebab pada tahun 2024 para pemilih pemula, baik mereka yang akan pertama kali memilih di tahun 2024 ataupun mereka yang pada tahun 2019 menjadi pemilih pemula, akan memiliki kontribusi signifikan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana persepsi pemilih pemula terhadap personal branding pemimpin muda yang pada kasus ini diwakili oleh Gubernur DKI Jakarta. Anies Baswedan dipilih berdasarkan sejarah politik di Indonesia bahwa barometer agar terpilih sebagai Presiden RI biasanya jabatan sebelumnya adalah Gubernur DKI Jakarta.
Studi pada pada pemilih pemula karena pemilih pemula dianggap belum memiliki pengalaman voting pada pemilihan sebelumnya, jadi masih berada pada sikap dan pilihan politik yang belum jelas. Pemilih pemula juga baru memasuki usia hak pilih belum memiliki jangkauan politik yang luas untuk menentukan kemana mereka harus memilih.
Tujuan studi ini mendeskripsikan bagaimana persepsi yang terbentuk dan faktor apa yang turut berperan dalam pembentukan persepsi tersebut. Analisa terhadap kasus ini menggunakan pendekatan persepsi, proximity serta kajian terhadap personal branding terutama bagaimana membangun pencitraan didunia maya.
Hasil dari penelitian ini akan menunjukan bagaimana persepsi positif pemilih pemula melihat Anies Baswedan sebagai pemimpin muda kharismatik, ganteng dan merakyat. Salah satu faktor terbentuknya dikarenakan pemilih pemula tersebut juga terpengaruh dengan faktor kedekatan secara psikologis mengingat keduanya pernah atau berasal dari satu daerah yaitu Yogyakarta. Dengan demikian personal branding para pemimpin muda perlu memperhatikan faktor kedekatan psikologis seperti kesukaan dan kedekatan pada kelompok umur tersebut.
Keywords: Persepsi,Personal Branding, Pemilih Pemula
1. Menuju RI 1
Era kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) akan berakhir tahun 2024. Berdasarkan ketetapan secara konstitusi maka beliau sudah tidak bisa mencalonkan diri
lagi. Dengan demikian peluang memimpin negara tersebut terbuka lebar untuk beberapa tokoh politik. Menjelang tahun 2024, atau bahkan dimasa sekarang ini beberapa partai politik mulai mempromosikan meskipun dengan tidak eksplisit, tokoh-tokoh muda yang akan diproyeksikan sebagai pemimpin masa depan menggantikan Jokowi, seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, AHY ataupun Ridwan Kamil dan lainnya.
Guna memuluskan jalan para kader pimpinan muda tersebut, maka partai politik berupaya melakukan kampanye secara implisit dalam membangun persepsi positif dikalangan pemilih pemula, dan tidak hanya dilakukan dengan cara konvensional seperti melakukan orasi dilapangan terbuka, menyebar pampflet atau memasang berbagai macam banner disepanjang jalan namun memanfaatkan media online. Teknologi internet yang sekarang ini sudah sangat berkembang pesat sehingga politisi memiliki cara masing-masing untuk menarik hati para pemilih melalui internet. Berbagai fasilitas internet seperti sosial media untuk menarik masa. Dengan itu politisi tidak hanya digambarkan sebagai sosok yang konvensional namun menjadikan sebagai selebriti didunia politik.
(Subiakto Henri. 2017:154)
Pemilih pemula atau pemilih muda adalah generasi baru dalam pemilihan umum. Pemilih pemula memiliki sifat dan karatkteristik, latar belakang pengalaman, dan tantangan yang berbeda dengan pemilih generasi sebelumnya. (Nur Wardani Primadha Sukma,2018:61)
Basuki Rachmat dalam penelitiannya menjalaskan pemilih pemula menunjukan perilakunya dengan mengidentifikasi kandidat dengan penilaian dan sikap. Hal tersebut disebabkan adanya keterkaitan atau saling berhubungan antara faktor sosiologis dan psikologis. Dalam proses terbentuknya perilaku ini dilatarbelakangi oleh faktor sosiologis. Dimana pemilih pemula dalam menjatuhkan pilihannya mengedepankan persepsi terhadap kandidat dan kemudia menentukan sikap. (Rachmat Basuki, 2016: 34).
Dengan itu kecenderungan sebagaian besar pemilih pemula berasal dari generasi muda (remaja) dan pastinya mereka tersentuh dengan alat-alat canggih seperti kemajuan teknologi infomasi baik handphone, laptop, tablet, jenis gadget yang lainnya. Mereka juga fasih dalam penggunaan media sosial seperti, facebook, twitter, instagram, youtube, Linkedl dan platform media sosial yang lainnya, untuk itu bagaimana pemilih pemula mempersepsikan pemimpin muda yang kredibel dan menarik yang ada pada media online tersebut. bagaimana persepsi mereka terbangun ketika melihat pencitraan para pemimpin muda Indonesia.
Kekuatan media online dimanfaatkan sesuai dengan tujuan untuk mempersuasi audiens yakni pemilih pemula sebagai calon pemenang pemilihan capres-cawapres Republik Indonesia tahun 2024. Selain kemenarikan pesan dari masing-masing calon maka kesuksesan kampanye politik semestinya didukung oleh tampilan visual yang berbeda dan mampu menimbulkan persepsi positif dimata pemilih. Proses persepsi akan terbentuk dimulai dari adanya pemaknaan pesan pencitraan dibenak pemilih.
Meningkatkan “Nilai Jual” dalam kontestasi politik sangat penting sehingga melalui personal branding aktor politik terus memberikan image atau citra diri yang baik, skill, visi dan misi politik yang menarik masyarakat untuk memilihnya sebagai wakil rakyat, pemimpin daerah hingga bahkan sebagai pemimpin negara (Presiden) dalam pemilihan umum yang dilaksanakan. Montoya (dalam Afrilia, 2018) memandang bahwa dalam proses personal branding aktor politik dituntut untuk mengontrol persepsi masyarakat untuk mampu dekat dan dapat diterima dalam sebuah komunitas atau masyarakat. Sehingga tujuan untuk membentuk persepsi di masyarakat untuk menentukan kemenangan bagi aktor politiknya. Fenomena diatas terlihat dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta tahun 2017, dimana pasangan calon Anies-Sandi melakukan personal branding dengna membangun relasi internal dalam partai, hingga terjun langsung ke masyarakat dan meyampaikan gagasan serta program-program pro terhadap masyarakat (Ulya & Mulyana, 2017). Lebih lanjut, kemenangan inilah yang menjadi “rumus” bagi pasangan Anies-Sandi dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Fakta menarik muncul yaitu dengan membentuk persepsi masyarakat berdampak pada partisipasi yang tinggi dalam menggunakan hak pilihnya. Sehingga masyarakat mampu untuk percaya pada lembaga negara dalam hal ini KPU/D dapat menjadi penguat keabsahan (legitimated) pemenang dalam kontestasi politik tersebut (Asri, 2018).
2. KONSTRUKSI PERSONAL BRANDING DI MEDIA ONLINE MENCIPTAKAN PERSEPSI POSITIF
Penelitian ini menggunakan teori persepsi agar peneliti lebih mudah mengetahui sejauh mana persepsi pengguna Instagram melalui peroleh yang mereka dapatkan, penafsiran tentang aplikasi Instagram, pemilihan Instagram sebagai media sosial yang mereka gunakan serta pengaturan informasi terkait nilai positif dan negatif sebuah aplikasi yang mereka gunakan dengan menganalisis berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhi persepsi. Pengertian Persepsi diartikan sebagai proses perolehan, penafsiran, pemilihan, dan pengaturan informasi inderawi tentang orang lain (dalam Johana, 2017). Lebih lanjut, menurut Liliweri (2011) merupakan proses dimana individu memilih, mengorganisasi dan menginterpretasi apa yang dibayangkan tentang dunia di sekelilingnya. Sebanding dengan pengertian persepsi yang diungkapkan oleh Walgito (2004) melihat bahwa persepsi merupakan proses stimulus yang diterima oleh alat indera yang diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf, dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Lebih Lanjut, Stimulus yang masuk kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga
individu menyadari tentang apa yang di inderanya itu.
Persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada disekitarnya, apa yang dilihat dan juga tentang diri individu yang bersangkutan. Persepsi itu akan terjadi apabila adanya rangsangan dari luar diri individu seperti informasi, kejadian dan lain-lain. Senada dengan Muchsin (2012) mengemukakan persepsi adalah
“proses dimana kita menjadi sadar akan objek atau peristiwa dalam lingkungan melalui ragam indera kita, penglihatan, pengrabaan, penciuman dan pengecapan. Persepsi juga tentang pengalaman objek, peristiwa-peristiwa dan hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan serta memberi makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru.
Persepsi yang terbentuk pada individu menurut Irwanto (2012) di golongkan menjadi dua bentuk yaitu, persepsi negatif yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang
tidak selaras
dengan objek yang dipersepsi. Sedangkan persepsi positif merupakan persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang diteruskan dengan upaya pemanfaatannya.
Pembentukan persepsi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor Menurut Robbins dan Judge (dalam Rakhmat, 2017), yaitu (1) preceiver, orang yang memberikan persepsi, (2) target, orang atau objek yang menjadi sasaran persepsi, dan (3) situasi, keadaan pada saat persepsi dilakukan. Lebih lanjut, faktor lain yang mempengaruhi persepsi yaitu, (1) Faktor Perhatian Perhatian adalah proses mental ketika stimulus atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimulus lainnya melemah. Penarik perhatian, bisa datang dari luar (eksternal), bisa juga dari dalam diri yang bersangkutan (internal). Faktor luar (eksternal) yang secara psikologis menarik perhatian biasanya disebabkan karena hal itu mempunyai sifat- sifat yang menonjol dibanding stimuli yang lain, misalnya karena bergerak sementara yang lain diam, atau karena adanya unsur kontras, kebaruan atau perulangan. Sedangkan (2) Faktor Fungsional Faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi antara lain faktor kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang budaya.
. Konsep personal branding pertama kali dipopulerkan oleh Tom Peters pada tahun 1997 melalui tulisannya “The Brand Called You” yang mengungkapkan bahwa tidak memandang umur, tidak melihat kedudukan, tidak peduli dalam bisnis apa kita berada, kita semua harus memahami betapa pentingnya branding (Haroen, 2014).
Dalam keilmuan politik, personal branding merupakan bagian strategi dari pengembangan praktik pemasaran politik yang dipinjam dari beberapa disiplin ilmu sosial yang berada.
Perkembangan personal branding dimulai dengan penemuan diri yang berakar pada nilai-nilai, kepribadian, keyakinan pribadi dan kepentingan tertantu. Pada dasarnya personal branding merupakan upaya diri seseorang untuk mendapatkan perhatian dan tempat dalam persaingan antar individu. Dalam ranah politik praktis, tujuan personal branding adalah sebagai proses pemasaran kandidat untuk dikenal di masyarakat dengan mengkomunikasikan
kompetensi dan kekhasan dari kompetitor lainnya melalui nilai-nilai yang unggul guna mendapatkan citra yang positif dari publik. Upaya personal branding kini menjadi sebuah kajian yang amat berepran dalam membantu seorang aktor politik untuk dapat tampil di masyrakat dan diterima di benak masyarkat. Oleh sebeb itu, dibutuhkan sebuah model personal branding aktor politik tersebut. Maka, penelitian ini ditunjukan untuk mengetahui bagaimana persepsi mahasiswa dari terbentuknya personal branding aktor politik yang sesuai dengan perkembangan tren dan minat segmentasi pemilih yang dituju melalui tren media baru.
3. PERSEPSI PEMIMPIN MUDA DIMATA PEMILIH PEMULA
Proses persepsi pemilih pemula yang berasal ataupun pernah tinggal di Yogyakarta terhadap personal branding Anies Baswedan yang dicitrakan di media sosialnya tahun 2021 hampir semuanya bersifat positif meskipin dengan sudut pandang yang berbeda. Interpretasi personal branding dari sosok Anies Baswedan sebagai pemimpin muda yang diproyeksikan akan menjadi calon presiden Indonesia menggantikan Joko widodo di tahun 2024. Pengertian persepsi itu sendiri ialah persepsi merupakan salah satu aspek psikologi yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala disekitarnya. Ada yang mengertikan persepsi sebagai perspektif, pandangan atau pola pikir (Suciati 2016:92).
Setiap aspek berdasarkan faktor-faktor terbentuknya persepsi seperti. faktor penilai, target, dan situasi memberi kontribusi pada tahapan respon.. Persepsi informan menilai apakah pencitraan tersebut sudah masuk dalam ciri menonjol dari era digital komunikasi politik seperti penggunaan bahasa, penggunaan gambar, visualisasi iklan, dan life style.
Faktor-faktor persepsi yang terbentuk bisa dipengaruhi dari faktor keluarga, lingkungan sekitar, bahkan kegiatan seperti keorganisasian yang di ikuti, karena setiap pergerakan manusia ketika kedua invidu saling bertemu dimana kedua individu itu akan memberikan informasi satu sama lain. Menginformasikan sebuah hal yang dilihat dan apa yang kedua individu tersebut ungkapkan itulah bagaimana keduanya mempersepsikan apa yang mereka lihat.
Hal ini seperti dengan pengertian persepsi menurut Kenneth.
K. Sereno dan Edward M dalam buku Deddy Mulyana yang mendefinisikan bahwa pada dasarnya persepsi ialah proses pengematan yang sifatnya kompleks dalam menerima dan menginterpretasikan informasi-informasi yang didapat.
Para informan memiliki persepsi yang berbeda-beda bagaimana dalam personal branding Anies di media sosialnya. Informan Y menganggap bahwa pencitraan Anies Baswedan hanya memperlihatkan bagaimana konstruk sosok saja. Sesuatu yang dikemas ini menjadi sebuah perhatian khusus dimana adanya persepi bahwa dalam mengadakan sebuah komunikasi dan pemasaran calon pasangan harus adanya strategi yang dapat menyadarkan dan mempengaruhi pilihannya. Kemasan yang diambil oleh tim Anies Baswedan adalah mengenai sosok yang sangat merakyat walaupun Y beranggapan pada sosok yang tidak melihat impact tersebut namun sosok Anies yang kharismatik dan ganteng yang
dibangun begitu kuat sehingga menghasilkan afeksi pada Y mengenai bagaimana sosok pemimpin muda ini bisa melekat pada rakyatnya.
Persepsi sendiri tidak akan jauh dengan konten media sosial sebagai produk yang dimana pesan itu sendiri dipandang sebagai sebuah penawaran kepada masyarakat.
Profil Anies Baswedan merupakan hal yang ditawarkan dan diperkuat dengan program yang dapat mensejahterakan dan menangani permasalahan yang selama ini ada di DKI Jakarta sendiri dan penawaran tersebut dapat dilakukan baik secara lisan dan tulisan. Sosok nya ini yang terlintas dalam Y merupakan pemikiran yang ada dalam Y melihat personal branding mengenai Anies Baswedan dan hal-hal yang ditujukkan. Seperti berita mengenai Anies sehingga munculah pendapat mengenai sosok pemimpin muda yang ramah dan merakyat.
Pemilih pemula memiliki persepsi bagaimana personal branding sebagai pemimpin merakyat yang kharismatik sebagai hal yang lumarah-lumrah saja karena dengan seiring perkembangan zaman bagaimana teknologi seakan memaksa setiap manusia untuk memanfaatkannya tidak terkecuali dalam dunia politik sekarang. Hal yang besar dari iklan dan politik ini membawa pandangan ke 4 informan tersebut mengenai bagaimana iklan dalam politik harus dikemas secara informatif dan menarik apalagi ketika mengusung seseorang yang akan menjadi pemimpin bagi hajat banyak orang..
Para pemuda memiliki penilain terhadap personal branding pemimpin muda, pada fakor penilai ini para pemilih pemula menilai bahwa personal branding Anis Baswedan dalam media sosialnya fokus dalam membangun sebuah citra. Mereka memberi penilaian dalam melihat pencitraan yang ada di media sosial terhadap gubernur DKI Jakarta ini yang banyak diberitakan dan jelas terlihat adalah bagaimana beliau ini mengangkat isu mengenai rakyat.
bahwa ia akan banyak melakukan perubahan dan mementingkan rakyat agar bisa meminimalisir permasalahan yang ada di Indonesia. Pandangan yang muncul dari beberapa infoman ini merupakan hasil dari iklan yang banyak di lihat melalui media sosial Twitter, Youtube dan Instagram.
Harapan yang banyak orang gantungkan terhadap calon pemimpin membuat penilian dari informan bisa disimpulkan bahwa Anies Baswedan membangun dirinya sebagai orang yang tidak mempunyai sekat antara pemimpin dan rakyat.
Melihat pandangan setiap pemilih pemula dalam kategori target ini, tentunya memiliki statement yang mereka lontarkan berdasarkan dari pengalaman dan juga pengetahuan yang mereka dapatkan. Seperti yang dijeaslan oleh Rakhmat (2007: 51) menyatakan persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Dari penjelasan tersebut bahwa kita menilai target yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana seseorang melihat suatu kampanye atau iklan dengan latar belakang dan menjadikannya sebuah tafsiran sendiri. Menurut Robbins perilaku seseorang dapat disebabkan secara internal atau eksternal. Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang dipengaruhi karena kendali pribadi individu itu sendiri. Perilaku yang disebabkan secara eksternal diasumsi sebagai akibat dari sebab-sebab luar, yaitu individu tersebut
dianggap dipaksa karena berperilaku demikian oleh situasi tertentu.
4. CONCLUSION
Persepsi pemilih pemula terhadap personal branding gubernur DKI ini bervariasi, hal tersebut bisa dilihat dari pandangan informan mengenai politik itu sendiri yang berbeda-beda. Perbandingkan persepsi pemilih pemula berdasarkan latar belakang nya serta aktivitas informan salah satunya adalah organisasi atau pergerakan yang diikuti.
Kecendurungan persepsi pemilih pemula melihat pencitraan di media sosial seperti Instagram dan Youtube dari latar belakang figure kandidat. Selain itu, pemilih pemula selalu tertuju pada sosok pemimpin Anies Baswedan. Para informan pemilih pemula selalu menilai bagaimana sosok mantan Rektor Universitas Paramadina yang memang seakan mempunyai kecenderungan menjadi point penting dalam setiap citra pemimpin muda kharismatik, ganteng dan merakyat.
Meskipun demikian ada pendapat bahwa pesan- pesan dimedia sosialnya belum menggambarkan semua visi- misinya. Pesan personal branding hanya berisikan bagaimana gambaran umun masyarakat sekarang serta kembali lagi yaitu menggambarakan keberhasilan Anies Baswedan pada kepemimpinan sekarang ini.
ACKNOWLEDGMENTS
The title "ACKNOWLEDGMENTS" should be in all caps and should be placed above the references. The references should be consistent within the article and follow the same style. List all the references with full details.
REFERENCES
Halim Fitria, Sherly, Acai Sudirman. (2020). Marketing Dan Media Sosial. Bandung: CV Media Sains Indonesia.
Irwanto. 2017. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Prehallindo.
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana .
Liliweri, Alo M.S. Komunikasi Serba Ada Dan Serba Makna Ed. 1, Cetakan ke-1. Jakarta: Kencana.
McQuail, D. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Moleong, L. J. (2001). Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moleong, L. J. (2013). Metode Penelitian Kualitatif - Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Rosadakarya.
Mondry, & Risman Sikumbang. (2016). Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik (2nd ed.). Bogor: Ghalia Indonesia.
Muchsin, Faizah. 2012. Psikologi Dakwah. Jakarta: Prenada Media Group.
Prastowo, A. (2014). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.
Rakhmat, J. (2009). Metode Penelitian Komunikasi Dilengkapi Contoh Analisis Statistik. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin. 2017. Psikologi Komunikasi. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Robbins, Stephen., Coulter, Mary. (2002). Manajemen.
Jakarta: Gramedia.
Walgito, Bimo. 2004. Psikologi Sosial Suatu Pengantar.
Yogyakarta: Andi.
Jurnal
Afrilia, A. M. (2018). Personal Branding Remaja di Era Digital. Mediator: Jurnal Komunikasi, Volume 11 (1), 20-30.
Anshari, F. (2013). Komunikasi Politik di Era Media Sosial.
Jurnal Komunikasi, Vol 8 No 1, hal. 91-101.
Anshori, A. (2018). Pengaruh Iklan Politik Terhadap Persepsi Pemilih Kota Medan Tahun 2018. Jurnal Interaksi, Vol 2 No 2, hal. 132–144.
Asri, R. (2018). Re-Branding Personal Anies Baswedan di Kalangan Pemilih Pemula: Analisis Isi Kampenye
"Tweet Jahat" Paslon Anies-Sandi Pada Pilkada 2017. Media dan Dinamika Sosial Politik Indonesia, 93-110.
Petruca, I. (2016). Personal Branding Through Social Media.
International Journal of Communication Research, Vol 6 No 4, hal. 389-392.
Susanto, E. H. (2017). Media Sosial Sebagai Pendukung Jaringan Komunikasi Politik. Jurnal ASPIKOM, Vol 3 No 3, hal. 379.
Ulya, K. A., & Mulyana, D. (2017). Personal Branding Anies-Sandi di Pilkada DKI Jakarta dalam Meraih Citra Diri di Kalangan Masyarakat DKI Jakarta.
Hubungan Masyarakat, 364-368.
Y.S, Putra. (2017). Teori Perbedaan Generasi. Among Makarti, Vol 9 No.18, hal 127-129.
Lestari, I Gusti Agung Krisna., I Ketut Yadnyana. 2013.
Persepsi Dan Minat Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Terhadap Profesi Akuntan Publik. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 3 (1): 195-211.
Yodha, Seno Abi., Zainul Abidin., dan Eka Pramono Adi.
2019. Persepsi Mahasiswa Terhadap Pelaksanaan E- Learning Dalam Mata Kuliah Manajemen Sistem Informasi Mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang. Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 2 (3): 181-187.
Hapsari, Adelia Winda. 2018. Tingkat Persepsi Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat di Kota Banjarmasin Terhadap Strategi Personal Branding Rosehan Noor Bahri. Jurnal Mutakallimin, 1 (1): 28- 33.