Otonomi Daerah Otonomi Daerah
Fakultas
Fakultas Program Program Studi Studi Tatap Tatap Muka Muka Kode Kode MK MK Disusun Disusun OlehOleh MKCU
MKCU UMB UMB MKCU MKCU UMBUMB Tukina, S. Pd. M. SiTukina, S. Pd. M. Si
Abstract Kompetensi
Abstract Kompetensi
Otonomi Daerah sangat penting Otonomi Daerah sangat penting bagi penyelenggaraan
bagi penyelenggaraan
pemerintahan di daerah agar pemerintahan di daerah agar dapat berjalan secara efektif dan dapat berjalan secara efektif dan effisien. Penyelenggaraan
effisien. Penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah perlu Pemerintahan di Daerah perlu disesuaikan dengan keinginan disesuaikan dengan keinginan rakyat daerah sendiri (Berdasar rakyat daerah sendiri (Berdasar Prakarsa masyarakat setempat) Prakarsa masyarakat setempat)
Mahasiswa diharapkan Mahasiswa diharapkan
mengetahui, memahami, dan mengetahui, memahami, dan menerapkan Otonomi Daerah menerapkan Otonomi Daerah secara nyata
secara nyata
MODUL PERKULIAHAN MODUL PERKULIAHAN
ewarganegaraan
ewarganegaraan
KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN
1. Mahasiswa mampu mendefinisikan Otonomi Daerah
2. Mahasiswa mampu menjelaskan latar belakang Otonomi Daearah 3. Mahasiswa mengerti dan memahami Otonomi Daerah di Indonesia
4. Mahasiswa dapat menerapkan Otonomi Daerah di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara tepat
---
Latarbelakang
Tanda-tanda krisis multidimensi berawal sekitar tahun 1980 di Indonesia.
Dampak krisis tersebut meluas diseluruh sendi kehidupan bangsa Indonesia, baik dalam tatanan kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. Krisis tersebut dialami bangsa Indonesia terasa pahit dan menyakitkan menimbulkan keterpurukan bagi bangsa Indonesia. Tapi krisis multidimensi tersebut juga menimbulkan hikmah positif berupa terbukanya ide pemikiran baru untuk mengadakan perbaikan secara menyeluruh, menimbulkan reformasi menyeluruh disegala bidang kehidupan. Upaya untuk mewujudkan masyarakat sipil yang kuat atau dikenal dengan masyarakat madani (civil society) dalam kehidupan bermasyarakat, berpemerintahan dan bernegara sehingga dasar-dasar demokrasi yang diliputi sikap keterbukaan, kejujuran, transparansi, keadilan dan sikap tidak mengelak dari tanggungjawab mewarnai dalam masa reformasi tersebut.
Semangat perbaikan segala sisi kehidupan bangsa Indonesia terus dipayakan.Untuk mewujudkan demokratisasi dalam penyelenggaraan Pemerintaha daerah dan hubungan pusat dan daerah yang harmonis maka pemerintah dan DPRRI berupaya membuat per Undang-undangan Pemerintahan Daerah yang subtansinya ingin mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis dengan memberikan kekuasaan otonomi kepada daerah untuk mewadahi inspirasi,
mengembangkan peran serta dan prakarsa masyarakat sendiri dan memikirkan apa yang terbaik bagi kehidupan dan masa depan mereka sendiri berdasarkan potensi alam daerah dengan tetap berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Adanya per Undang-undangan yang berkaitan dengan Pemerintahan daerah yang dikenal dengan UU Otonomi daerah merupakan amanat dari pasal 18 UUD 1945 secara lengkap berbunyi:
(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas Kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provingsi, Kabupaten dan kota itu mempunyai Pemerintahan Daerah yang diatur dengan Undang-undang.
(2) Pemerintahan daerah Provingsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asa otonomi dan tugas pembantuan
(3) Pemerintah daerah propingsi, daerah kabupaten dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui Pemilihan Umum
(4) Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah propingsi, kabupaten dan kota dipilih secara
demokratis
(5) Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintah yang oleh Undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat
(6) Pemerintah Daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan
(7) Susunan dan tatacara penyelenggaraan pemerintah daerah diatur dalam undang-undang
Pemberian otonomi daerah bukan berarti daerah-daerah bisa lepas bebas dari pusat. Pemberian otonomi daerah tidak juga berarti masa transisi politik bagi kelompok separatis untuk merdeka. Pemeberian otonomi daerah sejatinya adalah dalam rangka bagaimana agar masalah didaerah bisa dikelola secara efektif dan effisien sesuai dengan harapan dan prakarsa daerah sendiri dan dikelola dengan baik oleh daerah dan tetap berprinsip dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jadi otonomi daerah bukan berarti daerah bisa bebas lepas, untuk lepas dari NKRI tujuan utamanya justru bagaimana NKRI dapat terjaga dan sebagai hargamati.
Konsep Otonomi Daerah (Otoda/Otda)
Otonomi daerah berkaitan dengan pemberian wewenang pemerintah kepada pemerintah daerah untuk secara mandiri dan beradaya guna serta berhasil guna untuk membuat keputusan mengenai kepentingan daerah secara efektif dan efisien dengan memperhatikan potensi daerah yang ada.
Otonomi Daerah sangat berkaitan dengan kemandirian daerah dan juga memberdayakan masyarakat didaerah. Sehingga Otonomi Daerah bermaksud agar pemerintah daerah dapat secara mandiri melaksanakan pemerintahan dan mampu memberdayakan segenap potensi yang ada di daerah untuk kesejahteraan dan kemakmuran daerah dan tentunya masyarakat daerah itu sendiri. Otonomi Daerah menyangkut pelimpahan kewenangan dan tanggunjawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan per undang-undangan. Kemudian ayat 6 nya menyangkut pengertian daerah otonom yang berbunyi: Daerah otonomi selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerinta dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sentralisasi dan desentralisasi terkait dengan hubungan pemerintahan didalam negara kesatuan atau dalam negara bagian dari suatu federasi. Negara terdesentralisasi karena banyak urusan dibidang pelaksanaan kebijakan diserahkan kepada badan-badan umum seperti: Propingsi, Kabupaten, dan Kota. Sedangkan konsentrasi dan dekonsentrasi adalah berkaitan dengan bagian dari negara yang tidak dalam konteks pelibatan atau partisipasi anggota masyarakat daerah, melainkan dalam konteks efektivitas dan effisiensi urusan pemerintah. Pembagian urusan bukan dalam konteks urusan pemerintah pusat dan daerah melainkan hubungan antara organisasi pusat dengan organisasi kedinasan atau aparatur pemerintah yang tersebar di daerah-daerah. Umumnya di Indonesia terdapat kantor wilayah(kanwil) ditingkat Propingsi, Kandep (kantor departemen) di tingkat Kabupaten/Kota.
Undang-undang tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah
1) UU No.1 tahun 1945 tentang Pembangunan Daerah, Dalam UU tersebut ditetapkan daerah otonom yaitu karensidenan, Kabupaten dan Kota
2) UU No. 22 tahun 1948 tentang susunan Pemerintah Daerah;
- Ada2 jenis daerah otonom; biasa dan istimewa
- Tingkatan Daerah Otonom yaitu propingsi
3) UU No. 1 tahun 1957 tentang Pemerintah Daerah yang berlaku menyeluruh dan seragam
4) UU No. 18 tahun 1965 tentang Otonomi Daerah yang menganut Otonomi seluas-luasnya
5) UU No. 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Penyelenggaraan Pemerintah Pusat di daerah
6) UU No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah
7) UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah
8) UU No. 32 tahun 2004, Undang-undang tentang Otonomi Daerah yang berlaku sampai saat ini.
Tujuan Negara Indonesia, Desentralisasi dan Otonomi Daerah
Untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia seperti yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 maka bangsa Indonesia perlu mengedepankan persatuan dan keutuhan wilayah. Dengan persatuan dan kesatuan ditambah perasaan senasib dan sepenanggungan, penderitaan yang sama maka negara Indonesia lahir dan dengan itu pula maka Negara Indonesia tentunya akan bertahan. Persatuan dan kesatuan serta keutuhan negara Indonesia adalah cita-cita pada pendiri negara Indonesia dan itu perlu ditegaskan kembali. Semangat persatuan dan kesatuan sangat penting hanya jangan disalah artikan sebagai negara yang mementingkan kekuasaan, negara kekuasaan (machstaat). Negara Indonesia mementingkan persatuan dan kesatuan adalah dalam rangka pencapaian cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia sendiri.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menganut sistem desentralisasi dalam penyelenggaraan Pemeintahan. Penyelenggaraan
Dengan konsep desentralisasi berarti kekuasaan terbagi antara pemerintahan pusat dan daerah, termasuk dalam hal keuangan maka perlu perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Daerah memiliki hak otonomi untuk menyelenggarakan kekuasaan. Desentralisasi inilah yang menghasilkan Otonomi di Indonesia.
Menurut M. Turner dan Hulme desentralisasi adalah transfers atau pemindahan kewenangan untuk menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada masyarakat dari pemerintahan pusat kepada pemerintah daerah. Menurut Shahid Javid Burki desentralisasi adalah proses pemindahan kekuasaan politik, fiskal dan adsministrasi kepada unit dari pemerintahan pusat dan daerah. Desentralisasi sangat berkaitan dengan pemindahan kewenangan dari pusat dan daerah dan dari situlah lahirlah konsep otonomi daerah. Daerah akan diserahi beberapa kewenangan untuk diselenggarakan oleh pemerintahan daerah secara mandiri, bertanggungjawab dan disesuai dengan situasi, kondisi dan potensi daerah itu
secara mandiri.
Otonomi Daerah dengan demikian dapat diartikan pelimpahan kewenangan dan tanggungjawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
Otonomi daerah merupakan instrumen politikdan adsministrasi atau manajemen yang digunakan untuk mengoptimalkan sumberdaya daerah sehingga dapat digunakan sebesar-besar untuk kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Hal tersebut sesuai dengan tantangan global, mendorong pemberdayaan masyarakat daerah, mencegah urbanisasi, menumbuhkan
kreatifitas, meningkat peran serta masyarakat dalam pembangunan, serta meningkatkan demokrasi.
Reformasi di Indonesia: Otonomi Daerah
Tahun 1997 terjadi krisis multidimensi di Indonesia. Krisis tersebut maluas krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis moral yang mengakibatkan
semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Akar dari masalah krisis bersumber pada sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik. Akibat sentralistik tersebut salah satu agenda reformasi adalah bagaimana pembangunan dilaksanakan dari bawah bukan dari atas. Oleh karena itu, agenda reformasi yang disuarakan mahasiswa salah satunya adalah otonomi daerah. Otonomi daerah untuk memperbaiki hubungan antara pemerintah pusat dan daerah termasuk juga yang berkaitan dengan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Otonomi daerah sendiri pada hakikatnya adalah jawaban atas berbagai permasalahan di daerah. Kenapa jawaban karena pada masa orde sebelumnya banyak permasalahan di daerah, seperti masalah separatisme sebagai akibat ketidakadilan pemerintah terhadap daerah, konflik, permusuhan, pertikaian, pelanggaran HAM dan lain sebagainya. Semua itu berkaitkan dengan manajemen pemerintahan yang sangat sentralistik. Dengan otonomi daerah rakyat daerahlah yang terlibat aktif, menyusun, menjalankan pembangunan serta menyelesaikan masalah didaerah yang muncul dengan tidak ‘dibdohi’ oleh pemerintah pusat.
Dengan pemabangunan yang diprakarsai masyarakat daerah maka akan menjawab berbagai permasalahan di daerah itu sendiri.
Desakan adanya otonomi daerah di Indonesia dirasa sangat perlu dan mendesak, karena faktor:
1. Luasnya wilayah dengan geografi, topografi dan potensi kekayaan alam Indonesia yang berlimpah
2. Jumlah penduduk, penyebarannya serta tingkat densitasnya(persebaran penduduknya) atau nisbah jumlah penduduknya serta struktur dengan luas
wilayah
3. Kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini terpusat di Jakarta dan ironisnya beberapa wilayah / darah lain sering terlupakan
4. Pembagian kekayaan dirasakan tidak adil dan tidak merata, sring terjadi daerah kaya tetapi justru penduduknya memprihatinkan
5. Terjadi kesenjangan sosial dalam arti luas antara satu daerah dengan dengan daerah lain sangat terasa.
Disamping faktor diatas masih ada faktor subjektif dimana dalam sejarah perjuangan daerah dalam merebut, merintis dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Ada lagi keunggulan masing-masing daerah yang tiap daerah belum tentu sama. Faktor-faktor lain berupa perkembangan politik lokal.
Otonomi Daerah dan Demokratisasi
Otonomi daerah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Otonomi Daerah sendiri sebenarnya adalah demokratisasi dalam pelaksanaan pemerintah di daerah. Sehingga dapat dikatakan otonomi daerah sama dengan demokratisasi pelaksanaan pemerintahan daerah, maksudnya adalah bagaimana pelaksanaan pemerintahan daerah sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat daerah itu sendiri, rakyat yang membuat merumuskan dan juga mengontrol dan disitulah bersinggungannya dengan demokrasi. Tujuan Otonomi daerah berkaitan dengan: kesetaraan politik, tanggungjawab daerah, kesadaran daerah
dan juga aspirasi daerah.
Tugas Mahasiswa:
Mahasiswa secara berkelompok diberi tugas untuk mendiskusikan pelakasanaan Otonomi DaerahPada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebutkan dan jelaskan tantangan dan hambatan sertakan contoh kasus.
---
Referensi:
Tim Redaksi Setia Kawan, UUD 1945 amandement Pertama - ke
empat, Jakarta: Setia Kawan Press, 2005
Srijanti, dkk. Etika Berwarganegara, Jakarta: Salemba Empat, 2008
Tim Dosen MKU FIS UNJ, Pokok-pokok materi Pendidikan
Kewarganegaraan, 2010
---