MODALITAS TERAPEUTIK I
Koma Bariturat
Endarterektomi Karotis
Kraniotomi
TANDA
TANDA
TTIK
1. Nyeri kepala
2. Peningkatan tekanan
darah
3. Papil edema
(anisokor)
4. Muntah proyektil
5. Bradikardi
6. Penurunan kesadaran
RUMUS MENGHITUNG CEREBRAL PERFUSION PRESSURE (CPP)
• CPP = MABP-ICP
• MABP = SYSTOLIK + 2DIASTOLIK
3
MABP
: 80-100 mmHg
ICP
: 5-10 mmHg (<20mmHg)
CPP
: 70-96 mmHg
1.KOMA BARBITURAT
• Penggunaan barbiturat
digunakan pada pasien yang
mengalami cedera kepala
berat
• Penggunaan barbiturat
dalam menangani kasus TIK
maligna (TIK terus berthan
lebih dari 20 mmHg) masih
kontroversial
• Mekanisme kerja barbiturat tidak
sepenuhnya diketahui
• Diyakini berperan dalam mengurangi
aliran darah serebral, kebutuhan
oksigen dan metabolisme serebral
sehingga menurunkan TIK.
• Barbiturat dapat mengurangi
pembengkakan dan meningkatkan
resolusi edema serebral
Penatalaksanaan pasien
1. Intubasi, ventilasi mekanis dan NGT 2. Pantau EEG
3. Dosis muatan penobarbital adalah 5-10 mg/kg IV dengan kecepatan tidak lebih dari 100 mg/menit 4. Dosis rumatan biasanya 1-3 mg/kg/jam dan dpt
diberikan setiap jam sebgai bolus atau infus konstan
5. Selama beberapa jam pertama kaji status neurologis
6. Dosis osmotik dan drainage CSS dapat diteruskan sesuai kebutuhan
7. Setelah TIK menurun dan tetap stabil selama lebih dari 48 jam, penurunan dosis barbiturat dpt
Observasi kritis
Kolaborasi dengan dokter untuk hal berikut : 1. TIK tidak berespon terhadap barbiturat 2. CPP <60 mmHg
3. Hipotensi 4. SPO2 <95% 5. Hipotermia
6. Dicurigai terjadi aspirasi 7. Perubahan ukuran pupil
2.ENDARTEREKTOMI KAROTIS
• Dilakukan untuk
mengangkat plak
aterosklerosis yg secara
signifikan mengurangi
lumen arteri atau menjadi
ulseratif dan sumber
• Tujuan endarterektomi adalah
untuk mengangkat sumber
embolisme dan memperbaiki
sirkulasi serebral
Pengkajian pasien
1. Kaji skala nyeri
2. Kaji status neurologis
3. Kaji kepatenan arteri karotis
4. Kaji TTV
5. Kaji status pernafasan
6. Pantau EKG
Penatalaksanaan pasien
• Head up 30 derajat
• Pertahankan balutan kering
• Kolaborasi analgetik
• Berikan vasopresor (kolaborasi)
• Ubah posisi
Observasi kritis
Konsultasikan dengan dokter untuk hal: 1. Gejala TIA (transient ischemic attack):
penurunan aliran darah serebral akibat area stenosis yg sempit akibat emboli, gumpalan trombosit atau bekuan darah kecil
2. Hemiparese, iregularitas pupil, afasia 3. Sulit bernafas
4. Perdarahan lokasi insisi
3. KRANIOTOMI
• Kraniotomi mengevakuasi
hematoma, memotong atau
meligasi aneurisma, AVM,
Pengkajian pasien
• Kaji ukuran pupil, reaksi,
lapang pandang, tingkat
kesadaran kualitas kompressi
bicara
• Observasi tanda dan gejala
kaku kuduk
• Kaji TIK dan CPP
• Pantau TD dan MAP
• Ukur balance cairan
• Kaji fungsi pernafasan
• Periksa balutan bedah
Penatalaksanaan pasien
• Kolaborasi analgetik
• Beri O2 dan pantau AGD
• Penatalaksanaan cairan
• Head up 30 derajat
• Kolaborasi pemberian vasoaktif
• Status nutrisi
Observasi kritis
• Perubahan tingkat kesadaran
• Hilangnya refleks muntah dan menelan • TIK>15 mmHg dan tidak berespon
terhadap terapi yang diprogramkan • Dicurigain ada kebocoran CSS
• Urine output > 200 ml/jam (tanpa
diuretik), atau urine output <30 ml/jam • Hipernatremi dan hiponatremi
• Drainage darah yg mendadak akibat ventrikulostomi
4.MODALITAS PARU
DRAINAGE DADA
Selang dada mengalirkan darah,
cairan atau udara yg terakumulasi
pada thorax untuk mengembalikan
tekanan intrapleura negatif dan
memungkinkan reekspansi paru yg
terkompresi
Merupakan suatu tindakan invasive
yang dilakukan untuk mengeluarkanudara, cairan baik darah atau pus dari rongga pleura dengan menggunakan
selang penghubung dari rongga ke botol WSD
TUJUAN
:
1. Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura
2. Mengembalikan tekanan negatif pada rongga pleura 3. Mengembangkan kembali
paru yang kolaps atau kolaps sebagian
4. Mencegah refluks
drainage kembali ke dalam rongga dada
PLEURAL ANATOMY
Cairan pada rongga Pleura mengurangi
gesekan selama proses bernapas .
normal cairan pleura sebanyak 25 ml
PLEURAL PHYSIOLOGY
• Normal tekanan negative dalam intra pleura
• Selama inspiration, the intrapleural pressure
sekitar -8 cmH
20 (dibawah tekanan
atmosphere)
• Selama exhalation, intrapleural pressure
sekitar -4 cmH
20
A
danya udara didalam ronggaBlood in the pleural space
Pasca operasi, luka tusuk dsb
.
3. Efusi pleura : Post operasi jantung
Transudate or
exudate in the
pleural space
HEMOTHORAK
ATAU
PLEURAL EFUSI
insersi pada intrcostal ke 5 – 6
karena
cairan
4. Thorakotomy :
a. Lobektomi : pengangkatan lobus
b. Pneumektomy :
pengangkatan seluruh paru-paru
5. Emfiema :
a. Penyakit paru serius b. Kondisi inflamasi
JENIS WSD
SISTEM SATU BOTOL
Merupakan sistem drainage yang sangat
sederhana
Botol berfungsi selain sebagai water seal juga
berfungsi sebagai botol penampung.
Drainage berdasarkan adanya gravitasi. Tekanan
mengalir dari yang tinggi ke rendah
Kelemahan bila cairan bertambah maka tekanan
untuk mengeluarkan cairan juga harus
bertambah sehingga sistem ini menjadi kurang efisien.
SISTEM DUA BOTOL
- Botol pertama sebagai
penampung /
drainase
- Botol kedua sebagai
water seal
- Selang pertama harus
tenggelam dalam air di
botol ke dua
SISTEM 3 BOTOL
1. Botol pertama sebagai penampung / drainase 2.Botol kedua sebagai
water seal
3 .Botol ketiga sebagai
suction kontrol, tekanan dikontrol dengan
TEMPAT PEMASANGAN WSD
1. Bagian apex paru (apical)
intercostal III mid klavikula
( udara dari rongga pleura )
2. Bagian basal
intercostal V –VI atau
intercostal VIII - IX mid aksila
( cairan / darah, pus)
KOMPLIKASI
1
. Primer
a. Perdarahan b. Edema paru c. Tension pneumothoraks d. Atrial Aritmia 2. Sekunder a. Infeksi b. EmpyemaPROSEDUR PEMASANGAN WSD
1. Pengkajian
inform consent2. Persiapan pasien 3. Persiapan alat 4. Pelaksanaan
Sarung tangan steril Steril drape spuit 2,5 cc dan 10 cc Cairan desinfectan Jarum no 22 Pisau no 11 Pincet steril Clamp slang Kassa steril Chest tube
Water seal dranage
Benang silk no 1
Kelly clamp / pean besar Gunting steril Konektor cabang / Y conektor Troley emergency 38 38
PERSIAPAN ALAT
Lurus dan lengkung Lunak dan keras
Kombinasi dengan trocard Radiopaque
*** Product NOT CE Marked
39
39
Chateter /
Conector lurus dan bercabang sebagai penyambung
TEHNIK PEMASANGAN
Berikan penjelasan mengenai prosedur Ukur tanda vital pasien
Bila mungkin penderita posisi duduk, setengah duduk,
tiduran sedikit miring ke sisi yg sehat.
Dr menentukan tempat pemasangan bila kanan sela
iga VII / VIII bila kiri sela iga VIII atau IX
Desinfeksi sekitar incisi yg akan di pasang Tutup dg duk steril
Berikan anestesi lokal biarkan beberapa saat Incisi kulit sub cutis dan otot dada
TEHNIK OPERASI
..
• Pasien dalam keadaanposisi ½ duduk (+ 45 °). • Dilakukan desinfeksi dan
penutupan lapangan
operasi dengan doek steril. • Dilakukan anestesi
setempat dengan lidocain 2% secara infiltrasi pada daerah kulit sampai pleura
NURSING CONSIDARATION
1. Setelah Pemasangan WSD
a. Perhatikan undulasi
b. Observasi TTV 15 menit pada 1 jam pertama c. Monitor pendarahan
d. Posisi yang nyaman selang tidak terlipat e. Anjurkan pegang selang rubah posisi
f. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu
SETELAH PEMASANGAN WSD
g. Ganti botol WSD tiga hari / bila sudah penuh,
catat jumlah cairan yang dibuangh. Lakukan pemijatan pada selang
i. Observasi pernafasan , cyanosis, empisema.
j. Anjurkan menarik nafas dalam dan cara batuk efektif k. Botol WSD selalu lebih rendah dari tubuh
l. Selang WSD tidak boleh di klem, kecuali sangat
PEMANTAUAN PADA WSD
a. Cek ruang kontrol suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar dengan tepat
b. Cek batas cairan pada botol WSD, pastikan ujung pipa berada 2 cm dibawah air