DAMPAK JANGKA PANJANG HIPOKSIA PERINATAL
Sjarif Hidajat Effendi
Minerva Riani Kadir
September 2013
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HASAN SADIKIN
DAFTAR ISI
Halaman
PENDAHULUAN 1
DEFINISI .. 1
FAKTOR RISIKO 2
PATOFISIOLOGI . 2
DIAGNOSIS . 6
DAMPAK HIPOKSIA PERINATAL .. 7
TATALAKSANA . 9
SIMPULAN .. 12
DAMPAK JANGKA PANJANG HIPOKSIA PERINATAL
PENDAHULUAN
Empat puluh persen kematian anak di bawah lima tahun terjadi pada usia neonatus. Hipoksia
perinatal masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara maju dan
berkembang.1,2 Berdasarkan data World Health Organization (WHO), kurang lebih empat
sampai sembilan juta bayi lahir dalam keadaan hipoksia setiap tahunnya. Angka kejadian
hipoksia lebih tinggi pada negara berkembang, di Cape Town didapatkan 4,6 per 1000
kelahiran hidup dan di Nigeria didapatkan 26 per 1000 kelahiran hidup.3 Di Rumah Sakit
Hasan Sadikin/ Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran dari tahun 2011 2013 didapatkan 166 neonatus lahir dalam keadaan hipoksia dari
total 1485 kelahiran.4
Seiring dengan kemajuan tatalaksana di bidang neonatologi secara intensif, 80% bayi
yang dilahirkan dalam keadaan prematur dapat bertahan hidup, namun 50% di antaranya
mengalami gangguan motorik, kognitif, tingkah laku, dan cerebral palsy/ palsi serebral
(CP).5-7 Pada kasus hypoxic ischemic encephalopathy/ ensefalopati hipoksik iskemik (HIE),
didapatkan 20 30% bayi yang bertahan hidup akan mengalami kerusakan otak.7-9
Hipoksia perinatal dapat disebabkan faktor ibu, plasenta dan janin. Hipoksia perinatal
dapat menyebabkan gangguan 72% pada sistem saraf pusat, ginjal 42%, jantung serta
gastrointestinal 29%, dan paru 26%.10 Hipoksia akan menyebabkan disfungsi otak temporer bahkan permanen yang berdampak gangguan neurodevelopmental jangka panjang.1,11
Penilaian perinatal terhadap faktor risiko serta penanganan yang baik mutlak diperlukan
untuk mencegah kerusakan neurodevelopmental jangka panjang. Dalam sari pustaka ini akan
dibahas mengenai definisi, faktor risiko, patofisiologi, dampak jangka panjang hipoksia
perinatal dari segi neurodevelopmental dan tatalaksananya.
DEFINISI
Hipoksia perinatal adalah kondisi terganggunya pertukaran gas selama periode intrapartum
yang apabila berkelanjutan mengakibatkan hipoksemia dan hiperkarbia, dan fetal
asidosis.12,13 Awalnya terminologi hipoksia perinatal hanya dibuat berdasarkan penanda
tunggal berupa skor Apgar (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration)yang rendah,
namun saat ini untuk diagnosis yang lebih akurat digunakan penanda ganda berupa indikator
terlambat, skor Apgar yang rendah (kurang dari 6 atau 7 setelah 5 menit), asidosis metabolik
dan memerlukan bantuan ventilasi tekanan positif. Berdasarkan The American Academy of
Pediatrics (AAP) dan The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG)
karakteristik hipoksia perinatal yaitu asidosis (pH<7.00), skor Apgar 0-3 menetap lebih dari
5 menit, terdapat manifestasi neurologi: kejang, hipotoni, serta didapatkan disfungsi
multiorgan.14,15
Ensefalopati neonatal merupakan terminologi yang digunakan apabila didapatkan
terdapat gangguan neurologis berupa manifestasi penurunan tonus otot dan refleks,
penurunan kesadaran. Beberapa terminologi yang seringkali dipakai untuk menggambarkan
gangguan hipoksia lebih lanjut adalah hypoxic ischemic encephalopathy/ Ensefalopati
hipoksik iskemik (HIE), yaitu gangguan tingkat kesadaran disebabkan oleh hipoksia
berkelanjutan yang dipengaruhi aliran darah ke otak.12,15
FAKTOR RISIKO
Hipoksia dapat terjadi pada periode antepartum dan intrapartum sebagai akibat dari
pertukaran gas melalui plasenta yang berdampak tidak adekuatnya suplai oksigen dan
perpindahan karbon dioksida serta hidrogen (H+) dari janin. Etiologi hipoksia perinatal antara
lain meliputi faktor maternal, uteroplasenta dan janin itu sendiri.
Faktor maternal antara lain infeksi (korioamnionitis), penyakit ibu (hipertensi kronik,
penyakit jantung, penyakit ginjal, dan diabetes. Faktor uteroplasenta juga berperan dalam hal
ini, yang tersering adanya insufisiensi plasenta, oligohidramnion, polihidramnion, ruptur
uterus, gangguan tali pusat (tali pusat menumbung, lilitan tali pusat, prolaps tali pusat).
Faktor janin yaitu prematuritas, bayi kecil masa kehamilan, kelainan bawaan, infeksi, depresi
saraf pusat oleh obat-obatan,dantwin to twin transfusion.12,16,17
PATOFISIOLOGI
Kerusakan otak yang disebabkan oleh gangguan hipoksik iskemik terdiri dari 2 fase. Fase
pertama terdiri dariearly energy failuremeliputi penurunan metabolisme energi oksidatif dan
menginisiasi terjadinya nekrosis sel. Fase kedua terdiri dari kematian sel yang disebut late
energy failure. Pada fase ini terjadi reperfusi dan reoksigenasi beberapa jam setelah fase
inisial.5 Gangguan reperfusi akan menyebabkan penurunan asupan oksigen dan glukosa yang
menyebabkan kegagalan energi dan menginisiasi gangguan biokimia yang menyebabkan
deteriorasi metabolisme otak, ditandai dengan peningkatan stres oksidatif, peningkatan
glutamat ekstraseluler, aktivasi berlebihan reseptor glutamat, peningkatan kalsium dan
radikal bebas.5 Gangguan hipoksia iskemik juga akan menyebabkan membran depolarisasi,
mempengaruhi eksositosis dan stres oksidatif yang menunda proses apoptosis, serta
pengeluaran mediator inflamasi seperti tumor necrosis factor, interleukin. Depolarisasi
membran persisten dapat menyebabkan pelepasan glutamat presinaps, mengubah transpor
glutamat, mempengaruhi perubahan transpor glutamat pada glia dan terminal neural.
Hilangnya membran potensial mitokondrial disertai dengan peningkatan konsentrasi glutamat
akan mengaktivasiN-methyl D aspartic acid(NMDA) dan kanal kalsium sehingga masuk ke
sel neuron. Hal ini meningkatkan prduksi radikal bebas dan aktivasi lipase, protease dan
endonuklease dan menyebabkan kematian sel. Efek dari ketiadaan sistosolik kalsium
menyebabkan degradasi lipid seluler dengan mengaktivasi fosfolipase DNA sel dengan
aktivasi nukleus dan radikal bebas serta nitrit oksida dengan peningkatannitrit oxide synthase
(NOS).18 Nitrit oksida akan bereaksi dengan superoksida membentuk peroxynitrite. Reaksi
ini menyebabkan peningkatan produksi radikal hidroksi sehingga meningkatkan peroksidase
lipid yang menyebabkan kerusakan otak lebih jauh (gambar 1).5
Secara histopatologi berdasarkan penelitian yang dilakukan di hewan didapatkan
kerusakan hipoksik iskemik akan mengganggu perkembangan otak, predominan pada bagian
Gambar 1. Mekanisme biokimia hipoksik-iskemik
Sumber : Cerio,dkk.5
Hipotermia dan hipoksia
Secara fisiologis bayi akan merespon kejadian hipotermia dengan peningkatan pelepasan
norepinefrin sehingga menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer yang akan
meningkatkan panas tubuh. Apabila hipotermia berlangsung terus menerus vasokonstriksi
akan memicu peningkatan asidosis metabolik. Respon terhadap dingin akan meningkatkan
metabolisme dan konsumsi oksigen serta metabolisme lemak coklat pada kulit. Metabolisme
lemak coklat akan memacu pelepasan asam lemak yang memperparah kondisi asidosis
metabolik dan berdampak hipoksia yang lebih berat sehingga terjadi distres pernapasan. Bayi
dengan distres napas yang mengalami hipotermia, tidak mampu memenuhi kebutuhan
oksigen yang meningkat. Hal ini dapat memperparah hipoksemia, dan vasokonstriksi
pembuluh darah paru. Peningkatan konsumsi oksigen akan menyebabkan tubuh
meresponsnya dengan penigkatan usaha nafas sehingga memacu metabolisme aerob menjadi
anaerob sehingga terjadi penumpukkan asam laktat dan peningkatan konsumsi glukosa.
Peningkatan metabolisme akan meningkatkan penggunaan cadangan glikogen sehingga
terjadi hipoglikemia. Bayi dengan berat sangat rendah (<1000 gram) akan memiliki respon
vasomotor yang sangat kurang sehingga lambat merespon suhu lingkungan (gambar 2).19,20
Gambar 2. Dampak hipotermi terhadap hipoksia
DIAGNOSIS
Diagnosis hipoksia perinatal dapat ditegakkan berdasarkan penilaian awal pada neonatus,
risiko yang dialami neonatus dengan Apgar skor yang rendah, gangguan pH, serta presentasi
klinis.
Presentasi klinis dari hipoksia perinatal dapat bervariasi, hal ini dapat disebabkan oleh
trauma lahir, aspirasi mekonium, hipertensi pulmonal. Rendahnya Apgar skor lebih lanjut
akan menggambarkan kerusakan integritas kardiovaskular, penilaian ini apabila didapatkan
Apgar skor 3 pada menit ke-10 termasuk faktor depresi akibat anestesi, trauma, infeksi, dan
gangguan kardiopulmonal. Gangguan asidosis berat didapatkan bila pH 7, base defisit 16
mmol/L.
Hipoksia perinatal yang perlu diwaspadai menjadi gangguan neurodevelopmental jangka
panjang apabila didapatkan denyut jantung <60 kali/menit, Apgar 3 pada 10 menit,
memerlukan ventilasi tekanan positif pada menit 1 atau belum menangis lebih dari 5 menit,
kejang pada usia 12 sampai 24 jam, gambaranburst suppressed pada EEG.12 Adanya kejang
yang terdeteksi pada awal jam pertama kehidupan menunjukkan prognosis ke arah yang lebih
buruk. Pada saat kejang, metabolisme energi akan meningkatkan hiperaktivitas neuron dan
berimplikasi pada eksitoksisitas. Pemantauan kejang dapat dilakukan dengan menggunakan
Electroencephalography(EEG), atau menggunakan Cerebral Function Monitor(CFM) yang
menggunakan metodeAmplitude-Integrated Electroencephalography(aEEG)18,21
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Horn dkk, dilakukan penilaian prediksi
gangguan ensefalopati sedang dan berat yang akan timbul pada 5 hari pertama, kerusakan
yang tersering ditemukan adalah pada bagian fronto-parietal. Gambaran EEG yang tampak
abnormal minimal maupun normal pada kasus HIE dapat mengalami perubahan perburukan
pada follow up2 tahun kemudian.22,23
Gejala klinis HIE sendiri dibagi menjadi 3 menurut Sarnat dan Sarnat yang pertama kali
diperkenalkan tahun 1976. Gangguan jangka panjang yang ditimbulkan pada HIE stadium 1
didapatkan lebih ringan dibandingkan pada gangguan yang ditimbulkan HIEstadium2 dan 3.
Stadium 1 ditandai dengan hyperalert, EEG normal, moro dan refleks regangan baik.
Stadium 2 ditandai dengan hipotonia, fleksi distal, kejang multifokal, stadium 3 ditandai
Tabel 1. Klasifikasi ensefalopati hipoksik iskemik
Stadium 1 Stadium 2 Stadium 3
Tingkat kesadaran Hyper alert/irritable Letargis Stupor
Tonus otot Normal Hipotoni Flaksid
Postur Normal Fleksi Deserebrasi
Refleks regangan Hiperaktif Hiperaktif Penurunan refleks/tidak
ada
Mioklonus Ada Ada Tidak ada
Suckingreflex Lemah Lemah Tidak ada
Moro Kuat Lemah Tidak ada
Occulovestibular Normal Tidak ada atau lemah
Tonic neck Berkurang Kuat Tidak ada
Function autonomic Dominan simpatik Dominan parasimpatik Terganggu parasimpatik dan simpatik
Pupils Midriasis Miosis Bervariasi, refleks cahaya
berkurang
Denyut jantung Takikardi Bradikardi Bervariasi
Motilitas gastrointestinal Berkurang Berkurang Bervariasi
Kejang Tidak ada Fokal atau multi fokal Uncommon (deserebrasi)
EEG Normal Voltase rendah sampai
bangkitan kejang
Burst suppression ke isoelektrik
Durasi <24 jam 24 jam sampai 14 hari Beberapa hari sampai
minggu Sumber: Sarnat dan Sarnat24
DAMPAK HIPOKSIA PERINATAL
Berdasarkan waktunya, jejas yang ditimbulkan oleh kejadian hipoksik iskemik dibagi
menjadi dua yaitu akut dan berkelanjutan. Kerusakan otak yang disebabkan oleh fase akut
contohnya terjadinya ruptur uterus, sering diikuti dengan adanya bradikardia, dan jejas otak
yang ditimbulkan lebih ke arah bagian tengah otak. Sebaliknya jejas otak yang disebabkan
proses yang berkelanjutan akan disertai terdeteksinya perlambatan denyut jantung janin
(contohnya insufisiensi plasenta) lebih banyak menyebabkan jejas otak pada daerah
wathershed zone.25 Gangguan perkembangan lebih lanjut yang disebabkan oleh jejas akut
antara lain cerebral palsy, athetoid, spastik kuadriplegia, mikrosefal, gangguan kognitif.
Kerusakan pada watershed akan menyebabkan berbagai gangguan kognitif, kerusakan
penglihatan (tabel 1).25,26 Lamanya waktu terjadinya hipoksia serta tingkat keparahan
gangguan neurologisnya sangat berpengaruh menentukan dampak hipoksia tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Robertson pada tahun 2002 dengan
membandingkan tingkat kemampuan motorik dan kognitif anak usia sekolah didapatkan anak
dengan riwayat HIE stadium 3 memiliki gangguan neurodevelopmental yang parah
Tabel 2. Hubungan hipoksia, kerusakan otak dan tipe disabilitas
Waktu kejadian Area jejas otak Gangguan disabilitas
Acute, near total Sedang Gangglia basalis
Thalamus
Atetoid atau CP distonik, gangguan kognitif ringan
Prolong, partial Sedang Area watershed Variasi gangguan kognitif,
spastik quadriplegia
Palsi serebral / cerebral palsy (CP) merupakan dampak jangka panjang yang seringkali
dikhawatirkan terjadi. Gangguan ini merupakan kerusakan permanen non progresif pada otak
yang terjadi sebelum, selama atau setelah lahir, namun intervensi dini dapat meminimalisasi
kelainan neurologis pada penderita CP. Diduga kerusakan terjadi pada daerah gangglia
basalis, thalamus dan area perirolandik akibat hipoksia perinatal berperan pada terjadinya CP
di masa yang akan datang.29
Palsi serebral / cerebral palsy (CP) tipe diskinetik lebih sering terlihat pada asfiksia
acute near total, pada pemeriksaan magnetic resonance imagine (MRI) akan terlihat
gambaran substansia alba pada korteks perirolandik. Berdasarkan penelitian Barnet pada
tahun 2004 dengan menggunakan Griffith Mental Development Scales didapatkan anak
dengan ensefalopati neonatal sedang berisiko menjadi CP pada 12 bulan berikutnya dengan
persentase 23 82%.30 Disfungsi motorik pada penderita CP bisa disebabkan primer karena
lesi otak yang terjadi, berupa gangguan tonus otot, keseimbangan, kekuatan otot, dan sensasi,
sekunder berupa kontraktur dan deformitas, serta tersier berupa mekanisme adaptif dan
respons terhadap gangguan primer dan sekunder. Anak dengan gangguan ensefalopati
neonatal yang terdiagnosis CP pada usia 12 bulan memiliki prognosis neurodevelopmental
yang buruk, sedangkan pada riwayat ensefalopati neonatal ringan, rata-rata anak memiliki
kemampuan sama dengan teman sebayanya yang lahir tanpa riwayat asfiksia.15 Pencegahan
atau penanganan yang tepat pada masalah-masalah yang menyertai CP akan meningkatkan
kualitas hidup penderita CP dan keluarganya.
Dampak lain yang seringkali menyertai adalah gangguan kognitif dan tingkah laku
seringkali diakibatkan oleh ensefalopati neonatal. Gangguan kognitif dapat terjadi akibat jejas
substansia alba, thalamus, dan gangglia basalis.9 Gangguan kemampuan kognitif yang
seringkali terdeteksi pertama kali adalah keterlambatan membaca dan berhitung serta mulai
Struktur ini terkait dengan fungsi kognitif seperti ingatan dan perhatian yang merupakan
patogenesis terjadinya gangguan attention deficit hyperactive disorder (ADHD),autisme dan
skizofrenia.9,15,31,32 Berdasarkan penelitian Badawi, dkk anak dengan riwayat ensefalopati
neonatal sedang sampai berat memiliki risiko berkembang menjadi gangguan tingkah laku
autisme.32
Hal yang memperberat gangguan neurodevelopmental pada anak dengan riwayat
hipoksia adalah adanya gangguan fungsi indra antara lain penglihatan dan pendengaran.
Beberapa hal yang perlu terus dipantau pada anak yang memiliki risiko hipoksia perinatal
antara lain adanya sensorihearing losspada tahun pertama serta gangguan penglihatan akibat
jejas pada korteks lateral oksipitoparietal bilateral yang mempengaruhi penglihatan.15
Tatalaksana yang tepat dengan monitoring ketat akan mencegah terjadinya kasus ambliopia
sekunder di masa yang akan datang dan mengoptimalkan penglihatan. Hipoksia
menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi sel rambut dalam yang dapat mengakibatkan
perubahan pada neuron pendengaran. Menurut satu teori pelepasan spontan pada neuron
pendengaran merupakan hasil dari pelepasan spontan transmiter oleh sel rambut. Dengan
adanya rangsangan suara akan menyebabkan depolarisasi dari sel rambut yang akan
mengakibatkan peningkatan pelepasan transmiter kimia dan loncatan saraf. Pada hipoksia
akan terjadi hiperpolarisasi dari sel rambut yang akan mengakibatkan penurunan jumlah
transmiter yang dilepaskan dan berakibat penurunan dari aktivitas saraf. Dalam penelitian
histopatologi tulang temporal, lesi koklea telah diamati pada bayi dengan asfiksia berat. Hal
ini didukung dengan fakta bahwa amplitudo, masa laten, dan interval gelombang interpeak
semua terpengaruh yang menunjukkan terjadinya kerusakan.33 Kejadian HIE yang disertai
hipertensi pulmonal memberikan risiko lebih tinggi untuk keterjadian tuli sensorineural, oleh
karena itu penting untuk dilakukan skrining awal pendengaran.25
TATALAKSANA
Perinatal hipoksia merupakan sebab kematian tersering dan penyebab disabilitas jangka
panjang terbesar yang memerlukan perawatan secara intensif. Perawatan suportif yang
hendaknya diperhatikan antara lain meliputi koreksi hemodinamik dan asidosis,
memperhatikan kadar glukosa, kalsium, magnesium dan elektrolit, memperhatikan kadar
kecukupan oksigen. Kekurangan oksigen akan menyebabkan gangguan autoregulasi
serebrovaskular dengan konsekuensi tekanan pasif pada serebral yang menyebabkan aliran
alba.12 Penggunaan terapi oksigen dapat berimplikasi jangka panjang lain yaitu displasia
bronkopulmonal. Tatalaksana komplikasi displasia bronkopulmonal ini juga dapat
mengurangi efek jangka panjang neurodevelopmental yang buruk. Penelitian di Pusan
kesehatan anak di Oslo tahun 2012 menyatakan dengan tatalaksan komprehensif pihak medis
dan orangtua mampu menurunkan angka dirawat di rumah sakit dan didapatkan pengurangan
persentase gangguan motor, kongnitif maupun bahasa.34
Strategi Neuroprotektif
Penggunaan neuroprotektif untuk mengurangi gejala sisa dari hipoksia perinatal masih
merupakan perdebatan, tidak dapat dipastikan mekanisme terjadinya proteksi secara biokimia.
Penggunaan terapi farmakologis dan non farmakologis diterapkan sesuai dengan insidens
terjadinya hiposik iskemik (gambar 3). Tujuan dari keseluruhan terapi adalah untuk
mengurangi jejas pada otak dengan mengurangi pembentukan radikal bebas, menghambat
influks kalsium yang berlebihan ke dalam neuron dan meminimalkan edema serebral.
Penggunaan N-acetylcysteine, magnesium glutamat receptor, allopurinol, eritropoetin serta
teknik hipotermia diduga dapat meminimalkan radikal bebas dan jejas pada otak.5
Hipoksik iskemik
Menit jam hari
Gambar 3. Terapi neuroprotektif, waktu pemberian dan hubungannya dengan mekanisme aksi
hipoksik iskemik
Sumber : Cerio,dkk.5
Pada teknik hipotermia (cooling therapy), diharapkan dengan penuruhan suhu 3 5
derajat Celsius akan mampu mengurangi jejas pada otak dan meminimalkan penggunaan
energi, mengurangi ukuran infark yang disebabkan oleh hipoksia, mengurangi ameliorasi sel
neuronal serta struktur hipokampus dan diharapkan mampu meningkatkan kemampuan
perkembangan neurologis. Suhu yang digunakan untuk standar mengurangi jejas otak akibat Melantonin
Allopurinol
Hipotermi
Magnesium sulfat
Cannabinod
N-acetylcysteine
Statin Xenon Iminobiotin
Argon Melatonin
Deferoksamin Eritropoetin
Cannabinoid Sel punca
hipoksik iskemik pada neonatus adalah 32 34 C, dengan pengurangan 1 C pada suhu inti
akan membantu mengurangi laju metabolisme 6 7%.5
Terapi hipotermi pada kepala dan badan diharapkan akan mengurangi insidens jejas
pada thalamus. Mekanisme neuroproteksi dari hipotermi ini adalah mempertahankan neuron
yang normal di gangglia basalis dan supresi aktivasi caspase-3. Hipotermia akan menekan
aktivasi mikroglia, dan lebih lanjut menekan proses inflamasi dengan menurunkan produksi
TNF , IL-1 , dan IL-18. Pada tingkat seluler, hipotermia memproteksi dinding sel dan
mempertahankan integritas membran lipoprotein. Lebih lanjut, proses ini akan mengurangi
reaksi enzimatik yang memperparah kematian sel. Proses hipotermia akan meningkatkan
suplai oksigen ke area iskemik otak sehingga mengurangi tekanan intrakranial.35,36
Beberapa obat-obatan dicoba digunakan untuk mengurangi radikal bebas dan
menghambat influks kalsium secara berlebihan utuk mengurangi terjadinya edema serebral.
Beberapa diantaranya adalah allopurinol, magnesium sulfat, eritropoetin, statin, xenon dan
cannabinoid.5
Allopurinol diduga mampu mengurangi pembentukan radikal bebas dan mampu
menghambat kerja xanthine oksidase yang terlibat pada kerusakan reperfusi, efek lainnya
yang diperkirakan adalah allopurinol menghambat akumulasi neutrofil, kelasi besi seperti
ferri dan memfasilitasi transpor elektron ke sitokrom.37Xenon, yang merupakan zat antagonis
non kompetitif dari N methyl D aspartate (NMDA) dengan menghambat pelepasan
neurotransmiter, menginhibisi kalsium/calmodulin dependent protein kinase II.38Magnesium
sulfat berperan sebagai agen neuroprotektif dengan mencegah terjadinya eksitotoksik dari
jejas yang disebabkan oleh masuknya kalsium dengan menginhibisi reseptor NMDA.5
Cannabinoid merupakan agen neuroprotektif dengan cara menginduksi terjadinya penutupan
kanal kalsium sehingga menginduksi neuroproteksi dengan mengurangi respons glutamat.39
Terapi neuroprotektif lain yang digunakan antara lain eritropoetin, melantonin,
desferoksamin, magnesium sulfat. Eritropoetin yang memiliki efek antiapoptotik dan
angiogenik. Melantonin memiliki efek antiapotosis dan antiinflamasi sehingga meningkatkan
aktivasi mikroglia dan meningkatkan sitokin pro inflamasi. Desferoksamin pada penelitian di
SIMPULAN
Hanya sedikit penelitian mengenai dampak jangka panjang neurodevelopmental dan kognitif
pada bayi yang mampu bertahan hidup. Tatalaksana di beberapa negara maju telah meliputi
secara komprehensif dari awal dilahirkan sampai perkembangan selanjutnya melalui rawat
jalan maupun rawat inap dengan melibatkan multidisplin ilmu, namun di Indonesia masih
jarang dilakukan pemantauan secara menyeluruh terhadap bayi-bayi yang lahir dengan
hipoksia. Diharapkan tatalaksana tidak selesai hanya pada saat bayi dirawat di pusat
kesehatan, namun diteruskan sampai pada rawat jalan dan evaluasi tes perkembangan
DAFTAR PUSTAKA
1. Mach M, Dubovický M, Navarová J, Brucknerová I, Ujházy E. Experimental modeling of hypoxia inpregnancy and early postnatal life. Interdisc Toxicol. 2012;2(1):28-32.
2. Mwaniki MK, Maurine Atieno, Lawn JE, Newton CRJC. Long-term neurodevelopmental outcomes after intrauterine and neonatal insults: a systematic review. Lancet 2012;379:445 52.
3. Haider BA, Bhutta ZA. Birth asphyxia in developing countries: current status and public health implications. Curr Probl Pediatr Adolesc Health Care 2006;36:178-88.
4. Rekam m. Data Ilmu Kesehatan anak FK Unpad-RSHS 2011-2013.
5. Cerio FGd, Lara-Celador I, Alvarez A, Hilario E. Neuroprotective Therapies after Perinatal Hypoxic-Ischemic Brain Injury. Brain Sci. 2013;3:191-214.
6. Covey MV, Levison SW. Pathophysiology of Perinatal Hypoxia-Ischemia and the Prospects for Repair from Endogenous and Exogenous Stem Cells. NeoReviews 2006;7:352-62.
7. Qureshi AM, Rehman Au, Siddiqi TS. Hypoxic ischemic encephalopathy in neonates. J Ayub Med Coll Abbottabad. 2010;22(4):190-4.
8. Schmidt J, Walsh WF. Hypoxic-ischemic encephalopathy in preterm infants. Journal of NeonatalPerinatal Medicine 2010;3:277 84.
9. Armstrong-Wellsa J, Bernarda TJ, Boadaa R, Manco-Johnson M. Neurocognitive outcomes following neonatal encephalopathy. NeuroRehabilitation 2010;26:27-33.
10. Martín-Ancel A, García-Alix A, Cabañas FGF, Burgueros M, Quero J. Multiple organ involvement in perinatal asphyxia. J Pediatr. 1995;127:786-93.
11. MacDonald MG, Seshia MMK, Mullett MD. Avery's Neonatology. 6: Lippincott Williams & Wilkins; 2005.
12. Hansen AR, Soul JS. Perinatal asphyxia and hypoxic ischemic encephalopathy. In: Cloherty JP, Eichenwald EC, Hansen AR, Stark AR, editors. Manual of Neonatal Care. 7. Philadelphia: Lippincott Williams and Witkins; 2012. p. 721-6.
13. Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Tuttle D. Perinatal Asphyxia. 6. United States of America: The McGraw-Hill; 2009. p. 624-35.
14. American AoP. The Apgar Score. The American college of obstetrician and gynecologists. 2006;117(4):1444-7.
15. Handel Mv, Swaab H, Vries LSd, Jongmans MJ. Long-term cognitive and behavioral consequences of neonatal encephalopathy following perinatal asphyxia: a review. Eur J Pediatr 2007;166:645-54.
16. Levene MI, Vries Ld. Hypoxic Ischemic Encephalopathy. In: Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, editors. Fanaroff and Martin's Neonatal Perinatal 8: Elseveir Mosby; 2006.
17. Martinez-Biarge M, Madero R, González A, Quero J, García-Alix A. Perinatal morbidity and risk of hypoxic-ischemic encephalopathy associated with intrapartum sentinel events. Am J Obstet Gynecol 2012;206(148):1-7.
18. Lai M-C, Yang S-N. Perinatal Hypoxic-Ischemic Encephalopathy. Hindawi publishing coorporation. 2010:1-6.
19. Ringer SA. Core concepts: Thermoregulation in the newborn, part ii: Prevention of aberrant body temperature. NeoReviews. 2013;14:221-9.
20. Nayeri F, Nili F. Hypothermia at Birth and its Associated Complications in Newborns: a Follow up Study. Iranian J Publ Health. 2006;35(1):48-52.
22. Horn AR, Swingler GH, Myer L, Linley LL, Raban MS, Joolay Y, et al. Early clinical signs in neonates with hypoxic ischemic encephalopathy predict an abnormal amplitude-integrated electroencephalogram at age 6 hours. BMC Pediatrics 2013;13:52-62.
23. Murray DM, Boylan GB, Ryan CA, Connolly S. Early EEG findings in hypoxic-ischemic encephalopathy predict outcomes at 2 years. Pediatrics 2009;124:459-69.
24. Sarnat H, Sarnat M. Neonatal encephalopathy following fetal distress. A clinical and electroencephalographic study. Arch Dis Child Fetal Neonatal. 1976;75:145-51.
25. Robertson CM, Perlman M. Follow-up of the term infant after hypoxic-ischemic encephalopathy. Paediatr Child Health. 2006;11(5):278-82.
26. Vries LSd, Jongmans MJ. Long-term outcome after neonatal hypoxic ischemic encephalopathy. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed 2010;95:220 F4.
27. Handel Mlv, Swaab H, Vries LSd, Jongmans MJ. Behavioral outcome in children with a history of neonatal encephalopathy following perinatal asphyxia. Journal of Pediatric Psychology 2010;35(3): 286 95.
28. Edwards AD, Brocklehurst P, Gunn AJ, Halliday H, Juszczak E, Levene M, et al. Neurological outcomes at 18 months of age after moderate hypothermia for perinatal hypoxic ischaemic encephalopathy: synthesis and meta-analysis of trial data. BMJ 2010;340:363-70.
29. Perez A, Ritter S, Brotschi B, Werner H, Caflisch J, Martin E, et al. Long-Term Neurodevelopmental Outcome with Hypoxic-Ischemic Encephalopathy. J Peds. 2013:1-7. 30. Barnett A, Mercuri E, Rutherford M, Haataja L, Cowan F, Dubowitz L. Can the Griffiths scales
predict neuromotor and perceptual motor impairment in term infants with neonatal encephalopathy? Arch Dis Child Fetal Neonatal. 2004;89:637-43.
31. deHaan M, Wyatt J, Roth S, Vargha-Khadem F, Gadian D, Mishkin M. Brain and cognitive-behavioral development after asphyxia at term birth. Dev Sci. 2006;9(4):350-8.
32. Badawi N, Dixon G, Felix J, Keogh J, Petterson B, Stanley F, et al. Autism following a history of newborn encephalopathy: more than a coincidence? . Dev Med Child Neurol. 2006;48:85-9. 33. Borg E. Perinatal asphyxia, hypoxia, ischemia and hearing loss. Scand audiol. 1997;26:77-91. 34. Shepherd E, Knupp A, Welty S, Susey K, Gardner W, Gest A. An interdisciplinary
bronchopulmonary dysplasia program is associated with improved neurodevelopmental outcomes and fewer rehospitalizations. J Perinatol. 2012;32(1):33-8.
35. Barrett R, Bennet L, Davidson J, Dean J, George S, Emerald B, et al. Destruction and reconstruction: hypoxia and the developing brain Birth Defects Res 2007;81: 163 76.
36. Polderman KH. Mechanisms of action, physiological effects, and complications of hypothermia. Crit Care Med 2009;37(7):1-17.
37. Marro P, Mishra O, Delivoria-Papadopoulos M. Effect of allopurinol on brain adenosine levels during hypoxia in newborn piglets. Brain Res. 2006;444-450.
38. Ma D, Williamson P, Januszewski A, Nogaro M, M Hossain M, Ong L, et al. Xenon mitigates isoflurane-induced neuronal apoptosis in the developing rodent brain. Anaesthesiology. 2007;106:746 53.