• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADOKS IDENTITAS KAUM SALAFIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PARADOKS IDENTITAS KAUM SALAFIS"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PARADOKS IDENTITAS KAUM SALAFIS

A. Arsyul Munir

Dosen Ma’had Aly, Idrisiyyah, Tasikmalaya redaksi [email protected]

Abstrak

Pola keberagamaan kaum salafisme sejatinya menampakkan iden- titas keagamaan yang heterogen. Karenanya, pembacaan atas sala- fisme yang dilakukan oleh tulisan ini mutlak perlu dibedah melalui pendekatan ideologis dus sosiologis, mengingat kompleksitas anasir yang dikandung oleh salafisme sendiri. Kesimpulan awalnya seder- hana: (1) bahwa salafisme sebagai sebuah organisme yang hidup berkorespondensi dengan perilaku adaptif terhadap semua kategori sosial yang terus mempengaruhinya, baik secara negatif maupun positif, dan (2) salafisme sebagai sebuah doktrin sangat dominan menegasikan selain dirinya dari rumah besar al Firqah an Najiyah dan/atau Ahl Sunnah wal Jama’ah. Alih-alih menganggapnya sebagai mitra kerja potensial, malah memandangnya sebagai musuh ideo- logis yang – bilamana perlu–, harus dialienasi dari realitas kehi- dupan sosial.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis pergeseran makna salafisme yang dalam perkembangannya selalu menuai perdebatan klaimitas yang tak pernah selesai [contentious label]. Kecuali itu, pergumulan antar identitas salafisme dengan dimensi kehidupan sosio-politik yang mengiringinya menjadi penting untuk dikaji oleh artikel ini. Sisi lain yang tak kalah penting untuk dianalisis adalah relasi intra/inter personal yang dibangun oleh setiap varian iden- titas salafisme, berkaitan dengan pandangannya terhadap kelompok in group atau out group.

Maka pertanyaan riset dari risalah ini adalah: Pertama, apa dan ba- gaimana makna salafisme sesungguhnya? Kedua, bagaimana ideo- logi salafisme menerjemahkan identitasnya ke dalam segmentasi kehidupan sosio-politik secara umum? Dan bagaimana pula posisi lain [the others] di dalam pandangan dunia kaum salafisme? Semen- tara itu, metode dan pendekatan riset yang digunakan dalam risalah ini sepenuhnya bersifat library research dengan beberapa pendekat- an historis, analisis deskriptif dan fenomenologis.

Kata Kunci : Salafisme, Post-salafisme, Identitas, Parado

(2)

A. Pendahuluan

Kemunculan salafisme dalam konteks Indonesia yang ditenggarai baru berkembang secara massiv pasca keruntuhan regime otoritarian Presiden Soeharto pada Mei 1998,

1

setidaknya makin mengokohkan dua hal; Pertama, salafisme yang merupakan salah sekian ideologi trans-nasional paling berpenga- ruh, tampaknya telah mencipatakan kanal-kanal identitas yang multi-inter- pretativ. Kedua, sebagai akibatnya yang tak langsung, aktualisasi peran yang dimainkan oleh masing-masing identitas salafisme tersebut juga melahirkan pola aktivisme yang saling bersebrangan.

Kondisi yang mencuatkan identitas paradoksal tersebut semakin diper- tajam oleh gempuran faktor pemicu luar yang terejawantahkan ke dalam proyek globalisasi Barat semacam agenda-agenda modernisasi, sekularisasi, multikul- turalisme dan pluralisme yang sampai batasan tertentu, membangkitkan ekses perubahan degradatif pada kemapanan sisi kehidupan sosial manusia secara umum.

2

Kecuali itu, proses penyaduran proyek-proyek tersebut ke dalam sisi lokalitas yang seharusnya menghargai prinsip keunikan identitas

3

tampaknya tak berjalan mulus. Penampakan yang seringkali terasa akut umpamanya adalah kesenjangan diberbagai lini sosial, degradasi moral, kericuhan politik, ekonomi dan seterusnya.

Hingga dalam konteks ini, aktivisme kaum salafisme dengan berbagai varian identitasnya dapat dipotret sebagai aksi reaktiv yang biasanya terkon- figurasi melalui tiga buah nalar praktis yang berlainan; Pertama, perilaku mengalienasi diri dari kehidupan sosial in general. Sederhananya, sikap penge- birian sosial seperti inilah yang kemudian melahirkan banyak pemukiman ghetto

4

yang dominan hidup secara unik dan terpisah. Kedua, perilaku revo- lusioner yang menghendaki adanya perubahan radikal pada semua dimensi ke-

1

Krismono, Salafisme di Indonesia, Ideologi, Politik Negara Dan Fragmentasi, Jurnal Millah, Vol. XVI, No. 2, Februari 2017, H. 174.

2

Hubungan menegangkan antara modernitas dan agama, umpamanya dapat dibaca pada karya; Haedar Nashir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, H. xxii-14.

3

Barangkali keunikan identitas dalam konteks lokalitas berkait kelindan dengan tradisi religius yang dalam pemikiran agama merupakan kategori penting yang meneruskan pewartaan iman, spiritualitas dan moralitas. Lih. Prihatanto, Agama, Modernisasi, dan Teori Kritis: Sebuah Potret Pertautan, Jurnal UNISIA, Vol XXX, No. 64, Juni, 2007, H. 178

4

Ghetto; konsep pinjaman dari istilah yang secara khusus disematkan untuk mengi-dentifikasi pemukiman Yahudi sebagai tempat pemukikan tertutup yang terpisan dari lingkungan sekitar.

Lih. https://id.wikipedia.org/wiki/Ghetto, diakses pada Hari Kamis, 01 Februari 2018.

(3)

hidupan. Objek utama perhatiannya melulu soal politik dan kekuasaan yang acapkali diklaimnya telah keluar dari rel sharia Islam. Itulah mengapa identitas salafisme semacam ini kerap mengantarkan para penganutnya secara berurutan pada militansi sikap yang reaksioner, radikal, ekstrim hingga tindakan teror [baca; terorisme]. Ketiga, perilaku revisioner yang meniscayakan adanya kerja nalar yang selalu terbuka terhadap segala bentuk kemungkinan perjuangan.

Mereformasi jaringan ideologi salafisme tradisional, khususnya yang terkait dengan persoalan sosial-politik–, merupakan ciri khas identitas kaum salafisme revisioner.

Maka dalam konteks Indonesia, kesemua lapisan identitas di atas banyak ditemukan terjalin secara terpintal-pintal, bersinggungan, bahkan berinter aksi secara konfrontativ. Identitas pertama umpamanya biasa terepresentasikan oleh kaum purist salafi [salafisme puritan]

5

dan/atau quietist salafi [salafisme pasif]

6

yang tumpuan gerak dakwahnya terpusat pada upaya pemurnian pemahaman keagamaan [Islam] melawan tradisi keyakinan asing yang disinyalir kuat menyimpang dari Islam.

Sementara itu, identitas kedua tampak lebih populis dibanding selain-nya. Sebabnya, gegap gempita aksi melawan terorisme hampir digemakan oleh corong media mainstream mana pun di belahan dunia saat ini. Tentu saja, terorisme tersebut harus segera diidentikkan dengan identitas salafisme dari variannya yang lebih ganas; jihadis. Setidaknya, simbol-simbol para pelaku suicide bomb pada berbagai tragedi kemanusiaan semacam WTC, bom Bali I & II, bom hotel J. W. Marriot serta Ritz Carlton dan seterusnya semakin mengokohkan adanya ketersinambungan ideologis antara salafisme dengan jihadisme.

7

Di sisi lain, identitas salafisme yang ketiga tertampilkan secara genuine umpamanya melalui wadah organisasi Wahdah Islamiyyah [WI]

8

yang beru-paya memadukan antara ideologi tradisional salafisme dalam praktik ritual keagamaan dengan ideologi IM [al Ikhwan al Muslimun] dalam persoalan sosial-politik.

B. Pembahasan

1. Defenisi Salafisme

Terminologi salafisme dari sudut pandang bahasa berasal dari akar kata “as Salaf” [السلف] atau “as Salif” [السلف] yang berarti terdahulu atau komunitas jemaah yang hidup di masa lalu.

9

Dalam konteks

5

Quintan Wiktorowicz, Anatomy of the Salafi Movement, H. 207

6

Laurent Bonnefoy, Saudi Arabia and the Expanson of Salafism, H. 2

7

John Thayer Sider, Riots, Program, Jihad: Religious Violence in Indonesia, [Ithaca, NY: Cornell University Press, 2006], H. 4.

8

Wahdah Islamiyyah atau biasa disingkat WI adalah organisasi salafisme yang didirikan di Makasar pada era Orba tahun 1989. Dalam perkembangan selanjutnya, WI menam-pilkan karakter khas dengan banyak terlibat dengan budaya Indonesia dan perkem-bangan sosial-politik serta berorientasi nasional dengan mengimitiasi jejak organisasi keagamaan lainnya seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama [NU]. Menurut Chaplin, WI dengan slogan wasa-thiyyah-nya [moderasi, moderatisme] – telah memberikan penegasan ideologi terhadap peningkatan karakter keindonesiaan. Sederhananya, WI memberikan perluasan dan kontekstualisasi atas doktrin-doktrin salafisme tradisional dengan menganggap dirinya sendiri sebagai bagian integral dari Indonesia kontemporer. Lihat. Chris J. Chaplin, Global Salafi Activism dan Indonesian Islam, dalam http://www.

newmandala.org/global-salafi-activism-indonesian-islam/, diakses tanggal 26 Januari 2018.

9

Lih. Ibnu Mandzur, Lisanul ‘Arab, Darul Ma’arif, Cairo, H. 2068.

(4)

kebahasaan, salafisme secara khusus mengacu pada periode awal zaman keemasan Islam yang diasumsikan sebagai formula paling absah di dalam memahami agama, sharia dan seluruh tata kelola dan pelaksanaan ajaran Islam,

10

sesuai dengan salah satu sabda Nabi saw; “Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, lalu disusul generasi yang hidup sesudahnya.”

11

Dari perspektif wacana pemikiran politik, salafisme biasanya didefi-nisikan sebagai gerakan reformasi yang berupaya mengeluarkan diri dari keterbelakangan sains, keterpurukan politik dan cengkraman kolonialisme Barat melalui ajakan terhadap pemurnian kembali ajaran Islam dari seluruh praktek keagamaan/kepercayaan yang heretik [baca; bersifat takhayul, bid’ah, khurafat] dan penguatan dimensi moralitas Islam yang genuine.

12

Sebagian lain mendefinisikan salafisme sebagai aliran kritisisme baru terhadap perkembang-an yang menerpa dua dimensi keberagamaan sekaligus;

aspek ritualitas dan aspek rasionalitas.

13

Dari sudut pandang sejarah, kecenderungan kritis tersebut tampaknya sudah berlayar cukup lama, meskipun pada periode awal perkembangannya tanpa dilabeli dengan embel-embel adjektiv salafisme. Persoalan nomenklatur seperti ini biasanya merupakan unsur identifikasi penting yang kenyataannya sedari awal sudah established. Penamaan aliran-aliran [Islam] lainnya semacam Shia, Khawarij, Mu’tazilah, Murjiah dan seterusnya merupakan bukti penting atas kebaruan istilah salafisme di dalam kancah tradisi pemikiran Islam klasik.

Perselisihan atas makna salafisme sesungguhnya bukan saja diperbin-cangkan oleh kalangan pemikir humaniora, namun perdebatannya yang lebih panas justru seringkali menyelinap ke dalam internal kaum salafisme sendiri. Problem tentang siapa sebetulnya yang merepresentasikan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan point perdebatan krusial paling banyak diperselishkan oleh pelbagai varian identitas salafisme.

Ali Al-Halaby,

14

ideolog salafisme tradisional asal Jordania –umpamanya, menggambarkn salafisme sebagai gerakan yang menyeru atas kepatuhan terhadap otoritas ilmu, kemurnian praktik- praktik keagamaan, dan kekokohan moralitas luhur Islam pada aspek individual/sosial melalui metode tashfiyah dan/atau tarbiyah. Itulah mengapa konstruk pemahaman salafisme demikian, akan secara ketat membatasi dan mengeluarkan varian salafisme lain yang cenderung berbeda dari rumah besar salafisme [claim of truth]. Sehingga tipikal salafisme revolusioner [jihadism] atau bahkan hanya sekedar revisioner [refor-mism], diangap sudah bukan lagi bagian dari akar salafisme yang complicated. Baginya, dakwah salafisme tak dapat dicampur adukkan dengan kerja-kerja pergerakan sistemik yang terintegrasi ke dalam organisasi politik, kepartaian atau gerakan sosial keagamaan bernuansa jihadis.

Hal senada ditegaskan oleh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i dalam bukunya; Hadzihi Da’watuna wa

‘Aqidatuna, bahwa prinsip penentu yang mengabsahkan kategori salafisme sesungguhnya tertumpu

10

Fahmi Gad’an, Al Madli Fil Hadlir; Dirasat Fi Tasyilat wa Masalik at Tajribah al Fikriyyah al ‘Arabiyyah, Cet. I, 1997, Al Muassasah al ‘Arabiyyah Lid Dirasat wan Nasyr, H. 79-104. Bandingkan dengan karyanya yang lain, As Salafiyyah;

Hududuha wa Tahawwulatuha, Majalah ‘Alamul Fikr, Vol. 26, 1988, H. 61-96. Bandingkan juga dengan Anwar Abu Thaha, As Salafiyyah; Ittijahat wa Qadlaya.

11

HR. Muslim dan Bukhari.

12

Lih. Taha Abd. Rahman, Al ‘Amal Ad Diniy wa Tajdidul ‘Aql, Al Markaz Al Tsaqafiy, Beirut, Cet. II, 1997, Hal. 90

13

Abdul Hakim Abu Louz, Al Harakat As Salafiyyah Fil Maghrib [1971-2004]; Bahts Antropology Sosiology, Markaz Dirasat Al Wihdah Al Arabiyyah, Beirut, Cet. I, 2009, H. 38.

14

Salah satu tokoh ulama yang memberikan identitas puritanisme atas salafisme tradisional di Jordania.

(5)

pada dua kondisi yang saling meng-ikat; Pertama, penolakan atas partisipasi dalam politik praktis;

Kedua, kepatuh-an tanpa syarat terhadap pemangku kekuasaan.

15

Itulah mengapa identitas salafisme yang cenderung revolusioner semacam kelompok jihadis dsb, diklaimnya sebagai takfiry dan/atau khawarij.

16

Sementara itu, salafisme dalam kaca mata identitas revolusionarism memiliki makna yang berbanding terbalik dengan entitas sebelumnya. Bagi Abu Muhammad Al Maqdisi misalnya, salafisme yang baik adalah gerakan kritisisme yang menggabungkan antara dakwah tauhid dengan konsep perjuangan di jalan Tuhan [jihad] vis a vis para penguasa lalim, kanonisasi positiv yang tak sesuai dengan sharia Islam, perselingkuhan terlarang dengan dunia Barat yang dapat merusak konsep loyalitas dan disloyalitas terhadap Islam [Al Wala wal Bara] dst.

17

Meskipun makna salafisme sesungguhnya hingga kini masih terus diper-debatkan –sesuai dengan perbedaan sudut pandang politik dan strategi peru-bahan sosial yang dianut oleh masing- masing varian–, namun semua identitas salafisme tersebut tampak sepakat dalam referensi historis yang menjadi penopang semua keyakinan teologis dan keberagamaan kaum salafisme dari awal mula kemunculan Ahlu Hadis di abad pertengahan, lalu disusul intelektual organik salafisme semacam syaikhul Islam Ibnu Tayimiah, sampai kepada masa-masa dakwah salafisme modern di bawah kharisma kepemimpinan syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab di wilayah Jazirah Arabiya, Najd.

Paling tidak, ada sesuatu yang dapat mempersatukan corak pemikiran salafisme ke dalam satu kekhasan yang sama dan unik antar berbagai varian identitas salafisme modern; paradigma, yang berfungsi sebagai pengikat epistemologis atas berbagai pema-haman keagamaan kaum salafisme modern. Paradigma-paradigma tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, perhatian yang begitu luar biasa pada aspek teologi [Aqidah] dalam setiap sikap dan pandangan yang diperankan oleh kaum salafisme, seka-lipun terkait dengan persoalan sosio-politik pragmatis yang dijauhinya. Sebab-nya sederhana, bahwa salafisme modern yang diduga kuat merupakan perpan-jangan ideologis dari kelompok Ahlu Hadis di masa lalu persis mewarisi semua paradigma yang dikembangkannya dalam rangka mengkritisi, menggedor dan membumi hanguskan eksistensi aliran-aliran keagamaan lain yang diklaim telah menyelisihi Islam, semacam: shia, khawarij, mu’tazilah [non-aswaja]; juga terma-suk dari kalangan internal aswaja sendiri: sufisme, asya’irah, maturidiyyah dsb.

18

15

Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy, Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna, Cet. I, 2002, Darul Atsar, Sanaa, Republik Arab Yemen, H. 17-9.

16

Ali bin Husein bin Ali bin Abdul Hamied Al Halaby Al Atsiry, Hadzihi Hiya As Salafiyyah; Da’watul Iman wal Amn wal Aman Al Manhajiyyah Al Ilmiyyah At Tarbawiyyah wa Kasyful Atsr At Tadmiriyyah Lil Afkar At Takfiriyyah, Mansyurat Muntadayat Kull Salafiyyin, Oman, Cet. 1, H. 12-20.

17

Dialog bersama Abu Muhammad Al Muqaddasy, dalam situs; http://www.alsunnah. info/r?i=j37307wg, diakses pada hari Ahad, 28, 2018.

18

Di dalam banyak buku daras resmi yang dimasukan ke dalam standar kurikulum pendidikan madrasah/sekolah yang

bergenre salafisme dengan berbagai identitasnya, pembahasan teologi/metafisika Islam menurut perspektif As Salaf

As Shalih [Ex: pene-tapan semua sifat-sifat Allah Swt, sesuai dengan kelayakan yang di sandang-Nya tanpa proses

penakwilan, sebagaimana yang dilakukan oleh kalangan Asya’irah/Maturidiyyah, Mu’tazilah dst] merupakan suatu

keniscayaan dalam beragama. Itulah mengapa kelom-pok aliran lainnya dalam rumpun aswaja/non-aswaja, seringkali

menuduh kaum salafisme modern sebagai mujassimah atau musyabbihah yang bermakna segerombolan orang yang

memiliki kepercayaan bahwa Tuhan serupa dan sama dengan makhluk-Nya. Perdebatan panjang seputar ini dapat

dilihat umpamanya dalam karya: Dr. Ahmad bin Abd. Rahman bin Uthman Al Qadliy, Mazahib Ahli at Tafwidlh Fi

Nushus Shifat, Cet .II, 1424 H-2003 M, Dar Al ‘Ashimah, Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia.

(6)

Kedua, salah satu aspek sentral teologi Islam adalah dimensi tauhid. Sentralitas aspek ini dalam paradigma salafisme tampaknya dianut umum oleh hampir semua kalangan salafisme. Karena itu, wacana ketauhidan yang diimple-mentasikannya tak hanya berbatasan dengan pola hubungan relasional dengan kelompok keagamaan di luar Islam, melainkan justru dengan kelompok-kelom- pok internal Islam sendiri –yang biasanya– dianggap telah menyimpang dari pakem Islam yang lurus.

Itulah mengapa dalam wacana keilmuan salafisme, terdapat banyak penolakan kepada suatu praktik religiusitas aliran lain atas nama bid’ah yang diklaim dapat menjerumuskan para pelakunya kepada kesyirikan.

19

Ketiga, konsep Al Ittiba’ La Al Ibtidaa’ [prinsip kepatuhan mutlak pada rasulullah saw, tanpa tambahan perilaku inovatif] merupakan postulat universal yang diaplikasikan oleh semua kalangan salafisme dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Karena itu, sesuatu yang menjadi kerangka pemahaman keaga-maan salafisme relative terbakukan ke dalam pemahaman standar 3 [tiga]

generasi awal yang terdiri dari generasi sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in.

Keempat, paradigma yang diyakini merata oleh semua identitas salafisme adalah prinsip pendahuluan otoritas teks atas kerja nalar. Relasi ini tak ber-makna bahwa rasio manusia tidak memiliki peran apa pun dalam kehidupan beragama. Namun, sejauh akal berfungsi sebagai penjelas atas teks yang superbody maka sejauh itu pula relasinya dapat dimungkinkan. Prinsip ini kentara betul terutama dalam karya syaikhul Islam Ibn Tayimiah yang seringkali mengunggulkan sentralitas wahyu di atas kekuatan nalar manusia yang serba terbatas. Dalam konteks ini pula, salah satu prinsip nir-kontradiktiv antara teks Al-Qur’an dan Al Hadis yang mutawatir dengan nalar pikiran yang absah dicanangkan.

20

Kelima, formalisasi atas tradisi kenabian [As Sunnah] secara simbolik merupakan paradigma salafisme lain yang berlaku umum. Karenanya, identitas salafisme dalam konteks ini dapat dengan mudah ditenggarai melalui simbo-lisme formal yang biasanya berupa pengejawantahan ritus keagamaan praktikal dalam keseharian hidup, sebagaimana telah diaplikasikan oleh pribadi Rasulullah Saw, sebagai Sang Qudwah/Model/Idol. Beberapa diantaranya adalah memanjangkan janggut, memendekkan celana di atas mata kaki, berniqab bagi perempuan dan lain sebagainya.

Itulah mengapa guru-guru spiritual salafisme seringkali mengidentifikasi dirinya sebagai kaum atsary [Arab: الأثري].

Keenam, paradigma terakhir sebagai pola identitas umum kaum salafis-me teraktualisir ke dalam doktrin tentang keselamatan [claim of salvation] yang hanya akan direpresentasikan secara terbatas oleh identitas salafisme. Doktrin ini menjadi bagian yang melahirkan banyak konsep turunan lain yang saling terkait. Dasarnya adalah profetik kenabian tentang al Firqah an Najiyah [golongan yang selamat] dalam salah satu hadis Nabi yang berbunyi demikian; “Yahudi terpecah ke dalam tujuh puluh satu sekte, sementara itu Nasrani terpecah ke dalam tujuh puluh dua sekte. Dan umatku akan terpecah ke dalam tujuh puluh satu golongan, semua di neraka kecuali satu”. Kemudian

19

Beberapa upacara keagamaan yang biasanya dianggap asing oleh salafisme di antara-nya; ritual mengelilingi kuburan orang saleh [tawaf], mempercayai keterjagaan para wali dari segala dosa dan kesalahan [prinsip ‘ishmah], tawassulan kepada orang yang telah meninggal dst. Periksa. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaily, Mawqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah Min Ahlil Ahw wal Bida’, Cet. I, 1415 H, Maktabah Al Ghuraba al Atsariyyah, Al Madinah Al Munawwarah, Saudi Arabia.

20

Lih. Syaikhul Islam Ibnu Tayimiah, Dar`u Ta’arudlil ‘Aql wan Naql, Cet. II, 1991 M-1411 H, Universitas Imam

Muhammad bin Saud, Kementrian Pendidikan Tinggi, Kerajaan Saudi Arabia.

(7)

sahabat bertanya: ”Ya Rasulullah, siapa gerangankah golongan yang akan selamat itu?” lalu dijawab:

“siapa pun yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku contohkan hari ini”.

21

2. Identitas Salafisme Dalam Relasi Kehidupan Sosial

Dari paparan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa salafisme sebagai sebuah identitas banyak dibentuk dan dipengaruhi secara signifikan oleh peran agama ketimbang faktor profan lainnya. Karena itu, meskipun ada seribu wajah salafisme yang berlainan satu sama lain, namun konsep-konsep teologis dan ideologis, perilaku individual dan sosial, berikut pilihan nalar praktis dan moralitas salafisme mutlak dibentuk oleh sistem keberagamaan yang ketat. Paling tidak, bagian tulisan ini akan menyoroti sejauh mana identitas salafisme teraktualisir ke dalam ranah aktivisme yang lebih praktis.

Pertama, berkaitan dengan aspek internal keberagamaan salafisme; dimensi keterpengaruhan dan relasi antar aktivis dalam jejaring salafisme. Terlepas dari adanya beragam varian salafisme, umumnya identitas kesalafian komunitas ini mendapatkan pengaruh banyak dari ruang lingkup pranata sosial yang menaungi dan mengaturnya, diantaranya; sentra masjid sebagai pusat seluruh aktivitas keagamaan, jejaring jamaah dalam komunitas masyarakat kampung, para guru dan ustadz-ustadz bermanhaj salaf yang seringkali berfungsi sebagai broker cultural

22

bagi keberlangsungan, keteraturan dan perubahan sosial para penganut salafisme.

Efektivitas semua pranata sosial tersebut semakin berbinar ketika ber-transformasi menjadi semacam saluran ilmu dan informasi yang biasanya berperan untuk memperluas horizon dan cakrawala pengetahuan dan praktik keagamaan salafisme. Lebih dari itu, faktor penunjang lain untuk pengayaan aspek ini lebih dielaborasi melalui pemanfaatan jaringan internet, saluran-saluran televisi salafisme dan jejaring wisata umrah-haji yang menekan tumbuhkan solidaritas lintas generasi antar para penganut paham salafisme.

Kedua, berkaitan dengan aspek fakta sosio-religius yang mengikat. Biasanya, identitas salafisme yang terkonfigurasikan ke dalam konteks ini lebih bersifat formalistik. Hal-hal terkait simbolisme kesalehan individual dan komunal umpamanya, selalu merupakan atribut pembeda paling intrinsik dari gerakan keagamaan Islam lainnya yang serupa [Ex. Gerakan IM, JT, HT dst].

Beberapa sampel identitas simbolik yang dapat disebutkan di sini diantaranya; adanya konsensus semua varian salafisme terhadap haramnya ikhtilath, baik di sekolah, universitas maupun di tempat-tempat kerja. Terhadap lagu, musik, catur dan permainan sepak bola – posisi salafisme cukup ambivalen. Sebagian mengharamkan, sebagian lagi membolehkannya dengan syarat dan kondisi-kondisi tertentu. Identitas simbolik lainnya terekam pada jejak panjang perdebatan yang

21

Terkait status hadits ini, As Sakhawi berkomentar bahwa seluruh perawinya muwats-tsaq [terpercaya]. Ahmad Syakir; Isnad hadits ini saheh. Al Albani dalam “Fis Silsilah as Sahehah” menegaskan bahwa sanadnya baik dan para perawinya tsiqah.

22

Terkait hubungan antara Kiai dan/atau Ustadz [atau apapun istilahnya] dengan perubahan sosial, dalam risetnya,

Hiroko Horikoshi menunjukkan bahwa entitas guru/kiai/ustadz memiliki peran aktiv dalam perubangan sosial. Bukan

karena mereka mencoba meredam akibat perubahan yang terjadi, melainkan justru karena mempe-lopori perubahan

sosial dengan caranya sendiri. Periksa. Hiroko Horikoshi, Kyai Dan Perubahan Sosial [Jakarta: P3M, 1987].

(8)

menyoal wajibnya memelihara janggut, bercadar bagi kaum wanita, dan bercelana cingkrang bagi kaum laki-laki.

Ketiga, berkaitan dengan aspek interaksi sosial yang mengandaikan dua respons tindakan yang berbeda; internal [intra muslim] dan eksternal [non muslim].

Terhadap entitas yang terakhir, kaum salafisme memiliki identitas yang seragam. Apabila bersinggungan dengan perayaan agama kaum non muslim, maka sama sekali tak dibenarkan berpartisipasi secara pro aktiv. Berbeda halnya ketika kondisi yang mengharuskan adanya interaksi sosial sebatas pada pertemanan, persahabatan, partisipasi politik dan/atau sosial semacam pesta perkawinan dsb, maka lagi-lagi perilaku komunitas salafisme saling berlainan; sebagian mengharamkan; sebagian lagi membolehkannya dengan syarat ter-tentu.

Sementara itu, perlakuan penganut paham salafisme terhadap sesama muslim cukup unik.

Unik dalam arti absurd. Sebabnya hubungan antar keduanya lebih bersifat ambigu ketimbang rasional. Satu sisi [masih] mengkategorikannya sebagai saudara seagama. Namun di sisi lain, seolah cenderung memprovo-kasinya sebagai “musuh” dengan panggilan satire beragam; pelaku bid’ah sampai pelaku kesyirikan.

Harus dipahami bahwa semua perilaku ini bersumber dari ego yang merasa diri paling absah, benar, nyunnah dan karena itu merupakan represen-tasi paling murni dari teologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai satu-satunya kelompok yang selamat [Al-Firqah An Najiyah]. Konsep-konsep substitusi yang digunakan sebagai cover identitas sosial salafisme cukup beragam, diantaranya:

prinsip Al Wala wal Bara` [loyalitas dan disloyalitas] dan prinsip At Tahdzir wal Hajr [peringatan dan boikot] dst.

Keempat, berkaitan dengan aspek sosio-politikal. Identitas salafisme yang tertangkap di sini berupa dua hal; konsensus pada level teoretisasi dan silang pendapat pada level aplikasi. Secara prinsip, semua serpihan salafisme menyetujui adanya konsep negara Islam yang substansinya teraktualisir ke dalam implementasi Hukum Islam berbasis nilai-nilai keterbukaan dan sema-ngat keadilan.

Namun dari sudut pandang aplikativ, identitasnya mulai saling berselisih dan bertikai secara tajam. Persoalan tentang how to-nya dalam tataran praktik menjadi sangat kompleks. Umpamanya, apakah berarti memperjuangkan supre-masi hukum Islam harus berpartisipasi ke dalam tradisi kera-kerja kepartaian, demokrasi, sekularisme, multikulturalisme, HAM, pemenuhan hak-hak minori-tas, pemilu legislatif-eksekutif dan lain sebagainya

[?]. Satu hal yang pasti bahwa semua terma-terma politik modern tersebut, dipastikan hampir tak mendapatkan memori akademik dalam kajian siyasah syar’iyyah dalam paradigma berfikir semua irisan himpunan salafisme.

Tampaknya semua penampakan identitas salafisme di atas –dengan me-ngenyampingkan perbedaan yang cukup tajam pada aras politik–, substansinya dapat disederhanakan ke dalam prinsip dasar yang secara generik membangun identitas keberagamaan salafisme menjadi berkarakter; religius simbolistik [patuh terhadap sunnah-sunnah Nabi Saw], religius tekstualistik [setia pada Kebenaran Wahyu], religius formalistik [kanonisasi sharia pada ranah publik] dan religius romantik [masa lalu 3 generasi pertama Islam sebagai model ideal – the way of life].

C. Penutup

(9)

Berawal dari adanya berbagai tipologi salafisme yang berlainan dan saling berselisih, maka itu paling tidak menunjukkan satu kondisi di mana identitas salafisme sesungguhnya sedang mengalami krisis menuju perubahan ekstrem antara kepastian dan ketak pastian. Dikatakan pasti, sebab disadari atau tidak, –salafisme tengah berkembang dengan sendirinya menuju ke arah self destruction. Skisme internal sebagai akibat dari mengkristalnya teologi fana-tisme semakin melahirkan polarisasi antar varian yang saling menegasikan. Kecuali itu, disebut tak pasti, – dikarenakan munculnya fenomena pemahaman hibrid yang biasanya dikonstruksi oleh pelbagai realitas yang berkembang di sepanjang sejarah aliran dan tradisi pemikiran Islam. Barangkali inilah yang disinyalir Ahmed Salim dan ‘Amru Basyuni [intelektual muda salafisme asal Mesir] sebagai fenomena Post-Salafisme.

23

Dalam sudut pandang ini, maka identitasnya seringkali tampak dalam wajah yang tak tunggal.

Selain itu, salafisme sebagai sebuah identitas komunal sangat berbeda dari serpihan puritanisme Islam lainnya yang cenderung hierar-kis; berada dalam sebuah ikatan struktural-emosional yang lebih terorganisir. Salafisme, malah tampak mengalami fragmentasi historis yang semakin mem-buat identitasnya amburadul; mengurai secara acak ke dalam pola pemahaman puritanisme yang saling bertabrakan. Meski demikian, ada dua common platform yang membuatnya tetap menarik untuk dibetot ke dalam keseragaman yang nyata; Pertama, referensi normativitas keilmuan berikut praksismenya sekali-gus yang identik sama. Kedua, romantisisme sejarah atas kekuatan otoritas salafisme sebagai sebuah metode [al-manhaj] beragama yang didaku palig absah.

Paling tidak, kompleksitas anasir ideologi salafisme tercermin ke dalam dua dimensi:

Pertama, tipologi ideologis salafisme yang membentuk identitas inter-personal para penganutnya yang cenderung ambigu; Kedua, konstruksi relasional antara kaum salafisme dengan anasir lian [others] dalam hubungan in groups dan/atau out groups yang paradoksal.

Banyak faktor yang menimbulkan krisis identitas salafisme; baik internal maupun eksternal.

Dan ada dua unsur yang melatar belakangi internalitas beri-kut eksternalitas krisis tersebut, di antaranya; Pertama, gagap intelektualisme. Ujungnya agak mengerikan; terpasungnya nalar pemikiran di mana kreativi-tasnya selalu dipusatkan untuk mencari kemurnian beragama melalui kanal-kanal salafisme historis. Kedua, gagap kulturalisme. Biasanya, poin ini lebih tampak teraktualisir ke dalam kegalauan para penganutnya dalam merespons realitas kehidupan politik yang serba disorientativ.

Sementara itu, kunci lain untuk memahami identitas salafisme modern didapatkan melalui potret apik hubungan yang melulu disharmonis antara modernitas versus agama [baca: salafisme].

Disamping itu, relasi antar keduanya juga merupakan gerbang yang menggawangi penyebaran massif identitas sala-fisme di seantero dunia. Rahasianya terletak pada kekuatan ideologi salafisme yang [dipandang] potensial dalam menajaga dan melestarikan identitas kega-maan masyarakat muslim dari ancaman gempuran modernitas yang berdimensi banyak wajah; westernisasi, globalisasi, sekularisasi, demokrasi dan pelbagai ideolog trans-nasional asing lainnya semacam liberalisme, sosialisme, komunis-me dan kapitalisme. Salafisme-lah yang dalam konteks hubungan oposisional demikian,– menyuntikan rasa kepercayaan diri berlebih bagi masyarakat dunia muslim dalam gerak perlawanan yang mengambil corak rigthists atas segala bentuk peradaban asing.

Maka kesimpulan awalnya sederhana; Pertama, bahwa salafisme sebagai sebuah organisme yang hidup berkorespondensi dengan perilaku adaptif terha-dap semua kategori sosial yang terus

23

Ahmad Salim & Amru Basyuni, Ma Ba’da As Salafiyyah; Qiraah Naqdiyyah Lil Khitab As Salafiy Al Mu’ashir, Cet. I,

2015 M, Markaz Nama Lil Bohoth wad Dirasat, Lebanon.

(10)

mempengaruhinya, baik secara negativ maupun positiv. Kedua, salafisme sebagai sebuah doktrin sangat dominan menegasikan selain dirinya dari rumah besar al Firqah an Najiyah dan/atau Ahl Sunnah wal Jama’ah. Alih-alih menganggapnya sebagai mitra kerja potensial, malah memandangnya sebagai musuh ideologis yang –bilamana perlu–, harus dialienasi dari realitas kehidupan sosial.

Hadza Wa Allahu Ta’ala A’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Louz, Abdul Hakim. Al Harakat As Salafiyyah Fil Maghrib [1971-2004]; Bahts Antropology Sosiology, Markaz Dirasat Al Wihdah Al Arabiyyah, Beirut, Cet. I, 2009

Abu Thaha, Anwar. As Salafiyyah; Ittijahat wa Qadlaya.

Bin ‘Amir Ar Ruhaily, Ibrahim. Mawqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah Min Ahlil Ahw wal Bida’, Cet. I, 1415 H

Bin Abd. Rahman bin Uthman Al Qadliy, Ahmad. Mazahib Ahli at Tafwidlh Fi Nushus Shifat, Cet .II, 1424 H-2003

Bin Hadi Al Wadi’iy, Muqbil. Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna, Cet. I, 2002

Bin Husein bin Ali bin Abdul Hamied Al Halaby Al Atsiry, Ali. Hadzihi Hiya As Salafiyyah; Da’watul Iman wal Amn wal Aman Al Manhajiyyah Al Ilmiyyah At Tarbawiyyah wa Kasyful Atsr At Tadmiriyyah Lil Afkar At Takfiriyyah, Mansyurat Muntadayat Kull Salafiyyin

Gad’an, Fahmi. Al Madli Fil Hadlir; Dirasat Fi Tasyilat wa Masalik at Tajribah al Fikriyyah al ‘Arabiyyah, Cet. I, 1997, Al Muassasah al ‘Arabiyyah Lid Dirasat wan Nasyr

____________. As Salafiyyah; Hududuha wa Tahawwulatuha, Majalah ‘Alamul Fikr, Vol. 26, 1988

Horikoshi, Hiroko. Kyai Dan Perubahan Sosial [Jakarta: P3M, 1987]

Krismono. Salafisme di Indonesia, Ideologi, Politik Negara Dan Fragmentasi, Jurnal Millah, Vol. XVI, No.

2, Februari 2017

Mandzur, Ibnu. Lisanul ‘Arab, Darul Ma’arif, Cairo

(11)

Nashir, Haedar. Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999

Prihatanto, Agama, Modernisasi, dan Teori Kritis: Sebuah Potret Pertautan, Jurnal UNISIA, Vol XXX, No.

64, Juni, 2007

Rahman, Taha Abd. Al ‘Amal Ad Diniy wa Tajdidul ‘Aql, Al Markaz Al Tsaqafiy, Beirut, Cet. II, 1997 Salim & Basyuni, Ahmad & ‘Amru. Ma Ba’da As Salafiyyah; Qiraah Naqdiyyah Lil Khitab As Salafiy Al

Mu’ashir, Cet. I, 2015 M

Sider, John Thayer. Riots, Program, Jihad: Religious Violence in Indonesia, [Ithaca, NY: Cornell University Press, 2006]

Taimiyah, Ibnu. Dar`u Ta’arudlil ‘Aql wan Naql, Cet. II, 1991 M-1411 H Wiktorowicz, Quintan. Anatomy of the Salafi Movement

Chaplin, Chris J. Global Salafi Activism dan Indonesian Islam, dalam

http://www.newmandala.org/global-salafi-activism-indonesian-islam/

http://www.alsunnah.info/r?i=j37307wg https://id.wikipedia.org/wiki/Ghetto

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian, kelembapan udara tertinggi terdapat pada ruangan ASP-B sebesar 68 % hal ini disebabkan karena suhu pada ruangan tersebut agak rendah

Pada bagian pertama akan dilakukan pembandingan objek-objek yang terdapat pada virtual map dengan objek aslinya, sedangkan pada bagian kedua akan dilakukan

menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara suhu udara dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Wonokusumo.. Rata-rata suhu optimum untuk

a) bersihkan dengan cermat saluran pengambilan contoh , tampung 1 liter amoniak cair ke dalam suatu labu didih yang kering dan bersih, dan kemudian pindahkan dengan

99 SMAK 7 PENABUR JONATHAN ELDRIAN FISIKA LULUS. 100 SMAK 7 PENABUR OLIVIA ERIKA

Untuk melestarikan obyek dan atrak- si wisata budaya serta mendapatkan kenyamanan visual dalam berwisata, maka pengendalian erosi tepi sungai dalam kota dan di wilayah hulu

(3) Dalam hal dugaan keracunan pangan bersumber dari pangan yang dikonsumsi di luar wilayah kerja dinas kesehatan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau di

Sama seperti pada media kultivasi cair, kultivasi pada substrat padat juga menunjukan bahwa semakin lama waktu fermentasi semakin tinggi juga produk asam sitrat yang terbentuk..