• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYULUHAN GENERASI BERENCANA (GenRe) DAN PERUBAHAN SIKAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENYULUHAN GENERASI BERENCANA (GenRe) DAN PERUBAHAN SIKAP"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

PENYULUHAN GENERASI BERENCANA (GenRe) DAN PERUBAHAN SIKAP

(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Penyuluhan Program Generasi Berencana Oleh Pusat informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK

R/M) Terhadap Perubahan Sikap Siswa/I di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan)

SKRIPSI

ARIF RAKHMAT ISLAMI NASUTION

120904030

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

PENYULUHAN GENERASI BERENCANA (GenRe) DAN PERUBAHAN SIKAP

(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Penyuluhan Program Generasi Berencana Oleh Pusat informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK

R/M) Terhadap Perubahan Sikap Siswa/I di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Univerrsitas Sumatera Utara

ARIF RAKHMAT ISLAMI NASUTION 120904030

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Arif Rakhmat Islami Nasution NIM : 120904030

Departemen : Ilmu Komunikasi (Humas/Public Relations)

Judul : PENYULUHAN GENERESI BERENCANA (GENRE) DAN PERUBAHAN SIKAP (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Penyuluhan Program Generasi Berencana Oleh PIK R/M Terhdap Perubahan Sikap Siswa/I di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Medan)

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Dra. Dayana, M. Si Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A NIP. 196007281987032002 NIP. 196208281987012001

Dekan

Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si NIP. 197409302005011002

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiarisme), maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Arif Rakhmat Islami Nasution

NIM : 120904030

Tanda Tangan :

Tanggal : Januari 2017

(5)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:

Nama : Arif Rakhmat Islami Nasution NIM : 120904030

Departemen : Ilmu Komunikasi (Humas/Public Relations)

Judul Skripsi : PENYULUHAN GENERESI BERENCANA (GENRE) DAN PERUBAHAN SIKAP (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Penyuluhan Program Generesi Berencana Oleh PIK R/M Terhdap Perubahan Sikap Siswa/I di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Medan)

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji

Ketua Penguji : ( )

Penguji : ( )

Penguji Utama : ( )

Ditetapkan di : Medan Tanggal : Januari 2017

(6)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil’alamin, dengan segala puji dan syukur tak hentinya saya (peneliti) lantunkan kepada Allah Subhanahuwata’ala atas segala curahan rahmat dan ridha Nya yang tak dapat saya hitung sehingga salah satu ridha Nya bisa mengizinkan saya untuk dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan baik.

Shalawat teriring salam saya ucapkan kepada junjungan sekalian alam Baginda Rasulullah Muhammad Sallallahu’alaihiwassalam yang telah menuntun ummatnya ke jaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang dapat kita rasakan saat ini.

Skripsi ini disusun oleh peneliti untuk menambah kajian ilmu pengetahuan khususnya pada Ilmu Komunikasi di bidang Komunikasi Penyuluhan, serta memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana (S1) di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Selanjutnya terima kasih yang sangat sebesar-besarnya saya ucapkan kepada kedua orang tua saya Ayahanda Moh. Amin Nasution, B.A dan Ibunda Hj.

Sarminah, Am.Keb yang senantiasa selalu mendo’akan dan meridhai peneliti untuk dapat menuntut ilmu pengatahuan lebih banyak lagi selama ini. Terimakasih atas semua kasih sayang yang diberikan, atas semangat dan kesabaran dalam mendidik dan mendukung peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini, dan terima kasih juga kepada Abangda dr. Akhmat Affandi Nasution, Abangda Ali Indrawan Nasution, S.Kep, Ns dan kepada kakak Aidah Nurdiana Nasution Am.keb terimkasi untuk dukungannya selama ini terimakasi juga sebagai contoh dalam berpikir, bertanggung jawab, dan bersikap dewasa dalam menatap masa depan dengan baik.

Tanpa bantuan dari berbagai pihak, peneliti rasa Skripsi ini tidak akan mungkin dapat diselesaikan, oleh karena itu pada kesemapatan yang terhormat ini saya sampaikan ucapan terimakasih kepada:

(7)

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, atas segala dukungan yang diberikan kepada peneliti.

3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi sekaligus Dosen Pembimbing Skripsi peneliti, saya sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan waktu, kesabaran, dukungan dan kemudahan yang diberikan kepada peneliti dalam membimbing peneliti untuk menyelesaikan penelitian ini dari awal hingga akhir penelitian.

4. Bapak Drs. Mukti Sitompu, M,Si selaku Dosen Pembimbing Akademik.

5. Bapak dan Ibu Dosen yang ada di lingkungan FISIP USU khususnya Bapak dan Ibu Dosen Departemen Ilmu Komunikasi yang telah mengajarkan dan menambah ilmu peneliti, terima kasih atas ilmu yang telah diberikan kepada peneliti selama menjadi mahasiswa, semoga suatu saat ilmu-ilmu pengatahuan sosial ini dapat saya terapkan di masyarakat nantinya. Amin.

6. Kak Maya yang selalu datang lebih awal dengan segudang informasi tentang perkulihan, terima kasih saya ucapkan atas bantuan dan kemudahan dalam informasi yang diberikan kepada peneliti selama ini.

7. Terimaksi kepada Aulia muhhamad, Fadlan Ananda Lubis, Mhd Soleh Hrp, Maulida Sari, Melisa Puspadini, Rika Nafritri, Lia pakpahan, dan Elfri terman berbagi keluh kesah baik suka maupun duka. Semoga kita diberikan kesuksesan dan kesehatan di kemudian hari Amin.

8. Terimakasi kepada keluarga besar HMI FISIP USU yang selalu memberikan kontribusi wadah pengajaran ilmu yang bermanfaat yang banyak peneliti ambil.

9. Terimakasi kepada Serikat dua belas (SERDADU) yang memberikan semangat yang tak perna henti-henti berteman lebih dari sodara semoga kita masih dalam garis perjuangan, Yakin Usaha Sampai.

10. Terimakasi kepada BKKBN SUMUT yang telah membantu peneliti dalam mengerjakan skripsi.

11. Terimakasi kepada siswa/I Madrasyah Aliyah Negeri 1 Medan peneliti ucapkan banyak terima kasih.

(8)

12. Terimakasi kepada Kost Pelangi yang selalu stand up comedi yang takperna berhenti mengasih keceriaan disetiap waktunya.

13. Terimakasi kepada Raja Aulia Amsadama Silalahi, Alfat Khadafi Nasution, Adek Mahira Maulida Amsadama Silalahi dan adek khadafi Nasution.

Semoga kedepannya diberikan kesuksesan Amin.

14. Teman-teman seperjuangan Ilmu Komunikasi Stambuk 2012 yang akan peneliti ingat sampai kapan pun, dan akan peneliti do’akan untuk keberhasilan kita semua dalam membangun kampung halaman dan Indonesia yang lebih bermartabat.

Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Skripsi ini, oleh karena itu peneliti menerima segala kritikan dan masukan yang membangun demi perkembangan penelitian-penelitian selanjutnya, semoga Skripsi ini memberikan manfaat bagi yang membacanya, terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Medan, Januari 2017

Arif Rakhmat Islami Nasution

(9)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Penyuluhan Generasi Berencana (GenRe) dan Perubahan Sikap. Studi korelasional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh Penyuluhan Program Genre oleh Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) terhadap Perubahan Sikap Siswa/I di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi penyuluhan dan teori sikap dan perubahan sikap.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa/i Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan yang berjumlah 1638 orang, dengan menggunakan rumus Slovin diperoleh jumlah sampel sebanyak 95 orang, sementara teknik penarikan sampel menggunakan purposive sampling dan accidental sampling. Penelitian ini dilakukan dari bulan Oktober-November 2016. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini melalui dua cara, yaitu penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research) dengan cara menyebarkan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tabel tunggal, analisis tabel silang dan uji hipotesis melalui rumus uji koefisien regresi sederhana (uji t) dengan menggunakan aplikasi SPSS 15. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai t hitung = 9,493 dan nilai t tabel = 1,98.

Berdasarkan kriteria uji hipotesis yaitu jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yaitu Terdapat Pengaruh penyuluhan program Generasi Berencana terhadap perubahan sikap siswa/i di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan. Dari hasil regresi didapatkan nilai koefisien kolerasi (R) sebesar 0,692 dalam kategori memiliki hubungan yang kuat/erat antara penyuluhan GenRe dan perubahan sikap, dan nilai R Square atau Koefisien Determinasi (KD) sebesar 47,9% yang artinya variabel penyuluhan GenRe memiliki pengaruh sebesar 47,9% terhadap variabel perubahan sikap siswa/i di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan, dengan sisanya sebesar 52,1% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Kata kunci: Komunikasi Penyuluhan, Generasi Berencana, Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan, Studi Korelasional

(10)

ABSTRACT

This study entitled Counseling Generation Planning (GenRe) and Attitude Change. Correlational study aimed to determine the effect of Counseling Program GenRe by Information and Counseling Center Youth/Students (PIK R/M) to Change Attitudes Students in Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan. The theory used in this research is the theory of communication, communication counseling and theory of attitude and a change in attitude. The population in this study were all students Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan totaling 1638 people, using the formula Slovin obtained a total sample of 95 people, while the sampling technique used purposive sampling and accidental sampling. This study was conducted from October-November 2016. Data collection techniques used in this research in two ways, namely the library research and field research by distributing questionnaires. Data analysis techniques used in this research is the analysis of single table and test hypotheses through a formula simple regression coefficient test (t test) by using SPSS 15. From these results obtained by value t = 9,493 and t table value = 1.98. Based on the hypothesis that the test criteria if t > t table then Ho is rejected. It can be concluded that Ha received counseling programs that are Effect Generation planning to change attitudes Students in Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan. From the regression results obtained value of the coefficient of correlation (R) of 0,692 in the category has a close relationship between the counseling GenRe and changes in attitude, and the value of R Square or the coefficient of determination (KD) of 47,9% which means that the variable counseling GenRe has the effect of 47,9% to variable changes in attitudes Students in Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan, with the remaining 52,1% is influenced by other variables not examined in this study.

Keywords: Communication Counselling, Generation Planning, Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan, Correlational Study

(11)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERSETUJUAN ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vii

ABSTRAC ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Pembatasa Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 7

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori... 8

2.2.1 Komunikasi ... 8

2.2.1.1 Pengertian Komunikasi ... 8

2.2.1.2 Proses Komunikasi ... 10

2.2.1.3 Fungsi-Fungsi Komunikasi ... 12

2.2.1.4 Tujuan Komunikasi ... 13

2.2.2 Komunikasi penyuluhan... 14

2.2.2.1 Pengertian Komunikasi Penyuluhan ... 14

2.2.2.2 Penyuluhan Sebagai Agen Perubahan ... 16

2.2.2.3 Faktor-Faktor Pendukung Efektifitas Penyuluhan ... 17

2.2.2.4 Tujuan Komunikasi Penyuluhan ... 19

2.2.2.5 Fungsi Komunikasi Penyuluhan ... 19

2.2.3 Remaja ... 20

2.2.3.1 Pengertian Remaja ... 20

2.2.3.2 Ciri-Ciri Remaja ... 20

2.2.3.3 Perkembangan Masa Remaja ... 21

2.2.4 Sikap dan Perubahan Sikap ... 23

2.2.4.1 Pengertian Sikap ... 23

2.2.4.2 Komponen Sikap ... 23

2.2.4.3 Ciri-Ciri Sikap ... 24

2.2.4.4 Faktor Mempengari Sikap ... 25

2.2.4.5 Perubahan Sikap ... 26

2.2.5 Kesadaran ... 27

2.2.6 Generasi Berencana ... 29

2.2.6.1 Ciri-Ciri Generasi Berencana ... 30

(12)

2.2.6.2 Tujuan Program Generasi Berencana ... 31

2.2.6.3 Sasaran dan Fokus Program Generasi Berencana ... 31

2.2.6.4 Arahan Program Generasi Berencana ... 31

2.2.6.5 Pendewasaan Usia Perkawinan ... 32

2.2.6.6 Pentinya Pendewasaan Usia Perkawinan ... 33

2.2.6.7 Perencanaan Keluarga ... 35

2.2.7 Penelitian Terdahulu ... 36

2.3 Kerangka Konsep ... 37

2.4 Variabel Penelitian ... 38

2.5 Definisi Operasional ... 39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 44

3.2 Lokasi Penelitian ... 44

3.3 Populasi dan Sampel ... 44

3.4 Teknik Penarikan Sampel ... 45

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 46

3.5 Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ... 49

4.1.1 Tahapan Pengumpulan Data ... 49

4.2 Teknik Pengolahan Data ... 49

4.3 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 50

4.3.1 Sejarah Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan ... 50

4.3.2 Visi danMisi Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan ... 52

4.3.3 Struktur Organisasi Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan ... 53

4.3.4 Generasi Berencana dan Kepengurusan di MAN 1 Medan ... 54

4.4 Analisis Tabel Tunggal ... 57

4.4.1 Karakteristik Responden ... 57

4.4.2 Penyuluhan Program Generasi Berencana oleh PIK- R/M ... 59

4.4.3 Perubahan Sikap Siswa Perhadap Program GenRe ... 70

4.5 Analisis Tabel Silang ... 81

4.6 Metode Regresi Linier Sederhana ... 87

4.7 Uji Hipotesis ... 88

4.8 Pembahasan ... 90

(13)

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ... 92

5.2 Saran ... 93

DAFTAR REFERENSI ... 94

LAMPIRAN ... 96

(14)

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

2.3 Model Teoritis 38

2.4 Variabel Penelitian 38

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 44

4.1 Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Umur 57 4.2 Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 58 4.3 Tabel Karakteristik responden berdasarkan Kelas 58 4.4 Tabel Kompetensi Penguasaan Materi Pada Penyuluh 59 4.5 Tabel Sikap/Cara Penyampaian Komunikasi Penyuluh 60 4.6 Tabel Tujuan Penyampain Informasi Penyuluh 60

4.7 Tabel Kepribadian Penyuluh 61

4.8 Tabel Dinamika Kekuatan Mempengaruhi Dalam Membawa Perubahan61 4.9 Tabel Kesamaan Antara Penyuluh Dan Disuluh 62

4.10 Tabel Kekerabatan Dikenal Baik 63

4.11 Tabel Menyukai Penyuluhan 63

4.12 Tabel Penampilan Fisik penyuluh 64

4.13 Tabel Kepercayaan Diri Penyuluh 64

4.14 Tabel Penyuluhan Berdialog Secara Tatap Muka 65 4.15 Tabel Penyuluhan untuk Pendekatan Kelompok 66

4.16 Tabel Penyuluhan Pendekatan Massal 66

4.17 Tabel Media Penyuluhan Munggunakan Alat Bantu 67 4.18 Tabel Mengerti Dengan Informasi Yang Disampaikan 68 4.19 Tabel Mengerti tentang penjelasan berperilaku sehat, penundaan usia

perkawinan terhindar dari seksualitas, NAPZA, HIV / AIDS dan

menwujudkan keluarga kecil bahagia 68

4.20 Tabel Pemahaman Dan Tujuan Yang Disampaikan Penyuluh 69

4.21 Tabel Waktu dan Tempat Penyuluhan 70

4.22 Tabel Pendapat Tentang Program Generasi Berencana 70 4.23 Tabel Pendapat Tentang Penjelasan Berprilaku Sehat 71 4.24 Tabel Pendapat Tentang Penjelasan Penyuluhan Terhindar Dari

Seksualitas,NAPZA dan HIV / AIDS 71

(15)

4.25 Tabel Pendapat Penjelasan Penyuluhan Tentang Penundaan Usia

Perkawinan 72 4.26 Tabel Pendapat Penjelasan Penyuluhan Tentang Mewujudkan Keluarga

Kecil Bahagia 73

4.27 Tabel Mengerti Dan Memahami Uraian yang disampaikan Tentang

Berperilaku Sehat 73

4.28 Tabel Mengerti Dan Memahami Uraian yang disampaikan Tentang Terhindar dari risiko Seksualitas, NAPZA dan HIV /AIDS 74 4.29 Tabel Mengerti Dan Memahami Uraian yang disampaikan Tentang

Penundaan Usia Perkawinan 75

4.30 Tabel Pengetahuan Bertambah Setelah Dilakukan Penyuluhan Generasi

Berencana 75

4.31 Tabel Penyuluhan Program Generasi Berencana Memberikan Manfaat76 4.32 Tabel Keyakinan Tentang Program Generasi Berencana 76 4.33 Tabel Program Generasi Berencana Memberikan Cara Hidup

Yang baik 77

4.34 Tabel Minat Untuk Ikut Dalam Program Generasi Berencana 77 4.35 Tabel Merasa Puas tentang Penyuluhan Program Generasi Berencana 78

4.36 Tabel Merasakan Yakin Dan Bermanfaat 78

4.37 Tabel Respon Tentang Program Generasi Berencana 79 4.38 Tabel Hasrat Mengikuti Program Generasi Berencana 80 4.39 Tabel Kesiapan Melakukan Program Generasi Berencana 80 4.40 Tabel Melangsungkan Program Generasi Berencana 81 4.41 Tabel Hubungan antara Sikap/Cara penyampaian komunikasi/

penyuluhan dengan pendapat siswa/i tentang program generasi

berencana 82

4.42 Tabel Hubungan antara dinamika kekuatan mempengaruhi dalam membawa perubahan dengan bertambahnya pengetahuan siswa/i setelah dilakukan program penyuluhan generasi berencana 83 4.43 Tabel Hubungan antara pemahaman siswa/i mengenai informasi yang

disampaikan dengan keyakinan siswa/i terhadap adanya manfaat

Program generasi berencana 85

(16)

4.44 Tabel Hubungan antara ketepatan Waktu dan tempat penyuluhan dengan Respon siswa/i terhadap program generasi berencana 86 4.45 Tabel Hasil Regresi Linier Sederhana 87

4.46 Tabel Koefisien Determinasi 88

4.47 Tabel Hasil Uji T 89

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi di setiap tahunnya membuat kepadatan di setiap wilayah menghadapi banyak masalah berkaitan bidang kependudukan yang dikhawatirkan akan menjadi masalah besar dalam pembangunan apabila tidak ditangani dengan baik. Hal ini menimbulkan berbagai dampak negatif seperti perekonomian yang melemah ditandai dengan meningkatnya jumlah pengangguran kemudian merembes pada peningkatan kejahatan, dan menurunnya kualitas pendidikan dan dampak lain yang dapat merugikan negara.

Semakin tingginya jumlah pertumbuhan penduduk Indonesia, menyebabkan pemerintah mencanangkan program keluraga berencana yang diperuntukkan bagi pasangan menikah agar membatasi jumlah anak menjadi dua anak. Bagi remaja, pemerintah juga mencanangkan program Generasi Berencana (GenRe). Program tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap masih tingginya angka pernikahan dini di Indonesia.

Penduduk Indonesia diperkirakan bertambah sekitar 4,5 juta jiwa per tahunnya (jabar.bkkbn.go.id). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 diketahui bahwa 27,6% dari jumlah penduduk Indonesia berada pada kelompok umur remaja 10-24 tahun yaitu sekitar 64 juta jiwa. Lebih lanjut BKKBN menyatakan bahwa jumlah tersebut sangat besar sehingga menjadikan remaja sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan menjadi manusia yang sehat secara jasmani, rohani, mental dan spiritual. Namun ternyata saat ini, BKKBN menyebutkan bahwa faktanya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja mempunyai permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialami remaja (BKKBN, 2012:1). Selanjutnya BKKBN juga menyebutkan bahwa masalah yang menonjol dikalangan remaja yaitu permasalahan seputar tiga hal yang berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi Remaja (TRIAD KRR) yakni seksualitas, Human Immunodeficiency Virus

(18)

(HIV)/ AIDS serta Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA), serta rendahnya pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan median usia kawin pertama perempuan relatif masih rendah (BKKBN, 2012:1).

Pernikahan dini memang menjadi salah satu masalah krusial pada remaja.

Di kalangan remaja sendiri pernikahan dini lebih banyak dilakukan secara terpaksa, bukan karena keinginan sendiri. Pergaulan bebas yang menjurus pada perilaku sex diluar nikah adalah salah satu penyebabnya. Berdasarkan survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 dan 2012 menunjukkan bahwa remaja usia 15-19 tahun yang sudah pernah melahirkan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Kondisi ini tentu saja sangat merisaukan, karena jika ditinjau secara medis, proses kelahiran pada usia ini beresiko menyebabkan kematian bayi maupun ibu. Sementara untuk pengasuhan anak, secara psikologis usia tersebut dianggap belum cukup matang untuk menjadi seorang ibu. Selain itu, ada resiko yang harus ditanggung akibat pernikahan dini adalah perceraian.

Tingkat kematangan psikologis yang masih jauh dari cukup menyebabkan pasangan muda lebih banyak bertindak emosional. Pernikahan yang tanpa dilandasi bekal spiritual, finansial, sosial, intelektual dan mental yang matang biasanya diwarnai dengan berbagai kisah tragis.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data Sensus 2014 dan 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini mengkhawatirkan, karena cukup tinggi dan kualitasnya masih rendah. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini 1,49 persen, harus diturunkan paling tidak 1,1 persen. Laju pertumbuhan seperti itu maka setiap tahun penduduk Indonesia bertamabh 4,5 juta orang. Demikian pula halnya di kota Medan yang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dimana pertumbuhan penduduk berkembang semakin pesat. Jumlah penduduk di kota Medan pada tahun 2015 mencapai 2,7 juta jiwa. (15 juni 2016:http://www.bps.bps.id).

Meskipun merupakan kota yang besar, namun pernikahan usia dini juga membuat salah satu faktor utama peningkatan jumlah penduduk. Hal ini

(19)

disebabkan oleh pergaulan yang sangat bebas yang mengakibatkan kehamilan sebelum pernikahan dan pada akhirnya menikah pada usia yang belum matang.

Menyadari ini Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yaitu sebuah lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Program Keluarga Berencana (KB), merupakan sebuah upaya pemerintah untuk mengontrol laju pertumbuhan penduduk Indonesia.

Dengan tujuan agar mengurangi kepadatan penduduk di setiap wilayah Indonesia.

dalam rangka mencapai Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera.

Pada saat ini program yang sedang digencarkan oleh BKKBN kepada masyarakat khususnya pada remaja adalah program Generasi Berencana (GenRe).

GenRe dapat juga diartikan sebagai penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja, GenRe juga sebagai bentuk subjek yang didefinisikan adalah remaja dan pemuda yang memiliki pengetahuan, bertindak dan berperilaku sebagai remaja untuk menyiapkan dan perencanaan menuju keluarga berencana, yang bertujuan untuk memfasilitasi remaja agar belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak. Sasaran utama dalam program Generasi Berencana adalah para remaja dan yang belum menikah. Remaja dipilih karena dianggap sebagai bibit-bibit yang dapat melakukan perubahan demi kesejahteraan bangsa kelak pula. Selain itu ada juga program yang memfasilitasi untuk mengandalikan jumlah penduduk diantaranya melalaui Pendewasaan Usia Perkawanian (PUP) yang di dalam pelaksanaannya telah diintegerasikan dengan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

Kenyataan yang berkembang saat ini menunjukan bahwa remaja mempunyai permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialami remaja. Masalah yang menonjol di kalangan remaja yaitu permasalahan seputar seksualitas, HIV/AIDS dan narkotika. Remaja sejatinya adalah harapan semua bangsa, negara-negara yang memiliki remaja yang kuat serta memiliki kecerdasan spiritual, intelektual serta emosional yang kuat menjadikan bangsa tersebut kelak akan kuat pula.

Perkembangan dunia yang kian mengglobal, menjadikan perubahan- perubahan besar terhadap prilaku remaja, namun perubahan tersebut lebih cenderung mengarah pada kegiatan negatif di banding positifnya. Masalah remaja

(20)

yang timbul biasanya berkaitan dengan masalah seksualitas hamil di luar nikah, aborsi, AIDS, penyalahgunaan Napza dan sebaginya. Remaja dalam kondisi ini tentu saja membutuhkan penanganan serta informasi seluas-luasnya mengenai kesehatan reproduksi, pentingnya menata masa depan dengan baik lewat meninggalkan prilaku yang tidak bermanfaat dan merusak masa depan remaja itu sendiri, menjalani kehidupan remaja yang jauh dari prilaku sex bebas, pernikahan dini dan ketergantungan pada obat-obatan, tentulah hal ini remaja tidak dapat berjalan sendiri tanpa pendamping orang tua, masyarakat, lingkungan serta negaranya.

Menyadari ini, BKKBN sebagai wakil pemerintah yang bertanggung jawab dalam menjalankan program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR) suatu program yang memfasilitasi remaja agar dapat belajar memahami dan mempraktikkan prilaku hidup sehat dan berahlak untuk mencapai ketahanan remaja sebagai dasar mewujudkan Generasi Berencana (GenRe).

Sehingga dalam hal ini untuk mendukung program tersebut BKKBN membuat suatu wadah atau tempat untuk memfasilitasi program GenRe dengan membuat PIK (Pusat dan informasi konsultasi). PIK adalah sebagai strategi pendekatan terhadap remaja dalam program GenRe yang juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang banyak untuk memberikan informasi serta wadah konsuling bagi remaja sekolah dan mahasiswa. salah satu wadah yang dikembangkan dalam progam GenRe yang dikelolah dari, oleh dan untuk remaja/mahasiswa guna memberikan pelayanan informasi dan konsultasi tentang PUP (Pendewasaan Usia Perkawanian), keterampilan hidup dan keterampilan berkomunikasi informasi dan edukasi. Keberadaan dan peranan PIK R/M dilingkungan remaja sangat penting, artinya dalam membantu remaja untuk memperoleh informasi dan konsultasi yang cukup benar tentang penyiapan berkeluarga bagi remaja.

Menjalankan kegiatan konsultasi, informasi dan edukasi pada PIK R/M maka remaja diharapkan dapat menjadikan remaja yang sehat, kreatif, mandiri dan berakhlaqulkarimah dalam rangka terwujudnya keluarga yang berkualitas. Hal ini dalam upaya peningkatan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi, menjadikan remaja tegar dalam menghadapi masalah dan mampu mengambil

(21)

keputusan terbaik bagi dirinya, maka dari itu pelayanan konsultasi sangat diperlukan bagi remaja.

Pada progam GenRe ini adalah remaja yang berusia pada usia (16-20 tahun) dan belum menikah, karana usia pernikahan pertama bagi remaja saat ini idealnya 21 bagi perempuan dan laki-laki 25 tahun karena pada usia itu remaja sudah tumbuh pengetahuan dan kesadaran dalam pengelolaan kesehatan reproduksi. Dalam hal ini remaja dilibatkan langsung dalam memahami pentingnya GenRe dan pendewasaan usia perkawinan. Dalam hal ini BKKBN melakukan pendekatan dengan melibatkan pihak sekolah dan kampus sebagai bagian dari pendekatan GenRe, dengan pembekalan-pembekalan serta buku-buku, majalah dan modul, serta membentuk PIK-R/M (Pusat Informasi Konseling Remaja/Mahasiswa) yang bertujuan untuk meningkatkan strategi pendekatan terhadap remaja dalam program GenRe.

Menyadari ini BKKBN membuat penyuluhan kepada pihak-pihak sekolah sekolah untuk memberikan penerangan bagi remaja, tujuannya diadakannya penyuluhan adalah terjadinya perubahan perilaku sasaran yang terujudnya merupakan pengetahuan, kesadaran, sikap, dan keterampilan yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung dengan indera manusia. Dengan demikian, penyuluhan dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, pengetahuan, kesadaran, sikap, dan keterampilan di kalangan remaja agar mereka tahu, mau, mampu melaksanakan perubahan demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan/keuntungan dan perbaikan kesejahteraan keluarga yang ingin dicapai.

Penyuluhan pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan pendidikan nonformal dalam rangka merubah masyrakat menuju keadaan yang lebih baik seperti yang dicita-citakan. Penyuluhan juga mengandung usaha yang menyebarluaskan hal-hal baru sehingga mau meninggalkan kebiasaan yang lama dan menggantinya dengan perilaku baru yang berakibat pada kualitas kehidupan yang lebih baik.

Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan dengan mengambil pertimbangan berdasarkan pengamatan bahwa Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan susah perna disuluh oleh BKKBN untuk penyuluhan Generasi

(22)

Berencana dan untuk melihat sikap siswa yang sudah disuluh oleh BKKBN. Oleh karena itu, maka komunikasi penyuluhan yang dilakukan baik dari segi teknik, bahasa, dan sarana yang digunakan harus disesuaikan dengan daya nalar siswa/i, serta teknik komunikasi yang dapat menarik perhatian siawa/i tersebut agar penyuluhan yang dilakukan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi siswa/i yang telah disuluh tersebut sadar akan pentingnya menunda usia perkawinan agar tercapai cita-cita yang diinginkan akan tercapai dan menjadikan kedepannya berkelurga sejatera bagi mereka.

Berdasarkan permasalahan penjelasan uraian di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan, sikap dan keterampilan harus dimiliki oleh remaja sedangkan cara peningkatannya melalui berbagai kegiatan positif yang salah satunya melalui penyuluhan program GenRe agar para remaja dapat mengetahui kemampuannya saat melaksanakan perannya di lingkungan sekolah maupun di masyarakat pada umumnya. Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Penyuluhan Program Generasi Berencana (GenRe) terhadap Perubahan Sikap“ (studi Korelasional tentang pengaruh penyuluhan program GenRe oleh PIK R/M terhadap perubahan sikap siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: ”Bagaimana Pengaruh Penyuluhan Program Generasi Berencana (GenRe) oleh PIK R/M terhadap Perubahan Sikap siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan”.

1.3 Batasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian in adalah:

1. Penelitian ini bersifat korelasional, yaitu untuk menguji dan mengetahui pengaruh penyuluhan progam Generasi Berencana oleh PIK R/M terhadap perubahan sikap siswa/i Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan.

2. Objek penelitian adalah siswa/i Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan yang pernah mengikuti progam penyuluhan Generasi Berencana oleh PIK R/M.

3. Penelitian ini dimulai pada bulan Mei 2016 sampai dengan selesai.

(23)

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kegiatan penyuluhan progam GenRe yang dilakukan oleh PIK R/M di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan.

2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa/I di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan setelah diberikan penyuluhan Program Generasi Berencana.

3. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Program Generasi Berencana (GenRe) oleh PIK R/M terhadap Perubahan Sikap siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan memperkaya ilmu yang sudah didapat selama menjadi mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi.

2. Secara akademis, penelitan ini diharapkan dapat menambah ilmu serta memperluas pengetahuan, sumbangan ilmia, pemikiran dan ide-ide serta sarana untuk memahami ilmu komunikasi, khususnya mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

3. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi refrensi bagi pihak-pihak yang memerlukan informasi seiring dengan pesatnya mobilitas, terkhusus mengenai program GenRe yang di lakukan oleh PIK-RM.

(24)

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1 Kerangka Teori

Kerangka teori adalah yang dimana kemampuan seseorang peneliti dalam mengaplikasikan pola berpikirnya dalam menyusun secara sistematis teori-teori yang mengandung masalah penelitian. Menurut Kerlinger, teori adalah himpunan konstruk (konsep), defisinisi dan proposisi yang mengemukankan pandangan sistematis. Kerangka toeri juga sebagai kejelasan titik tolak atau landasan berfikir dalam memecahkan dan menyoroti masalah. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang akan memuat pokok–pokok pikiran yang dapat menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian ini akan dibahas (Nawawi, 2005:39). Berdasarkan hal tersebut, teori yang digunakan untuk melandasi penelitian ini adalah sebagai berikut:

2.2.1 Komunikasi

2.2.1.1 Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampian informasi pesan, ide, atau gagasan dari satu pihak kepihak lainnya. Manusia sebagai makhluk sosial pasti perna melakukan proses komunikasi. Bahkan, komunikasi sudah berlangsung semenjak manusia lahir. Komunikasi tidak akan perna terlepas dari kehidupan manusia. Manusia yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka dari itu manusia harus melakukan pertukaran pesan antara satu dengan yang lain dengan cara berkomunikasi.

- Pengertian komunikasi secara umum

Pengertian Komunikasi secara umum dapat dilihat dari dua segi : a. Pengertian komunikasi secara etimologis

Secara etimologis, istilah komunikasi dalam bahas inggris communication berasal dari bahasa latin yaitu communis yang artinya “sama”, communico, communicare yang artinya “membuat sama” yaitu sama makna mengenai suatu

(25)

hal. Jadi, komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara mereka itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara orang-orang itu tidak komunikatif. (Mulyana, 2007:46).

b. Pengertian komunikasi secara terminologis

Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi, yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia.

Karena itu, komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah komunikasi manusia atau dalam bahasa asing human communication, yang sering pula disebut komunikasi sosial atau social communication. Komunikasi manusia sebagai singkatan dari komunikasi antarmanusia dinamakan komunikasi sosial atau komunikasi kemasyarakatan karena hanya pada manusia yang bermasyarakat terjadi komunikasi. Masyarakat terbentuk dari paling sedikit dua orang yang saling berhubungan dengan komunikasi sebagai penjalinnya. (Mulyana, 2007:46).

- Pengertian Komunikasi Secara Paradigmatis

Dalam pengertian paradigmatis, komunikasi mengandung tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka atau melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio, televisi, atau film, maupun media nonmassa, misalnya surat, telepon, papan pengumuman, poster, sapanduk, dan sebagainya. Jadi, komunikasi dalam pengertian paradigmatic bersifat intensional (intentional), mengandung tujuan, karena itu harus dilakukan dengan perencanaan.

Sejauh mana kadar perencanaan itu, bergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan dan pada komunikan yang dijadikan sasaran.

Pengertian komunikasi secara paradigmatis ini banyak dikemukakan oleh para ahli, tetapi dari sekian banyak definisi itu dapat disimpulkan secara lengkap dengan menampilkan maknanya yang hakiki, yaitu: “Komunikasi adalah proses

(26)

penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tidak langsung melalui media yang ada. (Mulyana, 2007:46).

Menurut Bertnad Berelson dan Gary A. Steiner (Mulyana, 2007:68), komunikasi adalah transisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar atau lambang dan sebagainya. Hal ini dapat dikatakan sebagai tindakan atau proses transisi yang biasanya disebubut sebagai komunikasi.

Sementara, menurut Harold Lasweel memberikan pengertian bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “Siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa, dan apa pengaruhnya. (Effendy, 2006 : 9).

Paradigma Lasswell diatas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai pertanyaan yang diajukan, yaitu :

1. Who: Komunikator, orang yang menyampaikan pesan.

2. Says What: Pesan, adalah Pernyataan yang didukung oleh lembaga, bahasa, gambar dan sebagainya.

3. In Which Channel: Media, sarana atau saluran yang mendukung pesan yang disampaikan.

4. To Whom: Komunikan, orang yang menerima pesan.

5. With What Effect: Efek dampak sebagai pegaruh pesan atau dapat juga dijadikan sebagai hasil dari proses komunikasi.

Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepda komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.

2.2.1.2 Proses Komunikasi.

Proses komunikasi terbagi atas dua tahap, yakni secara primer maupun sekunder.

a. Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol)

(27)

sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi diantaranya adalah bahasa, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu tidak langsung dengan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Apakah itu bentuk ide, informasi, atau opini, baik mengenai hal yang konkret maupun yang abstrak, bukan saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang (Effendy, 2006:16).

b. Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses pencapaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Karena proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan dari komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, maka dalam menata lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi tersebut. Sehingga dalam prosesnya komunikasi sekunder ini akan semangkin efektif dan efisien karna didukung oleh teknologi komunikasi yang semangking canggih, yang ditopang oleh teknologi- teknologi lainnya.(Effendy, 2006:16).

Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil jika adanya pengertian serta kedua belah pihak dapat memahaminya. Dimana dapat disimpulkan bahwa komunikasi sangat penting sama halnya dengan bernafas.

Kualitas komunikasi menentukan keharmonisan hubungan dengan sesama induvidu. Adapun bentuk dari komunikasi yaitu (Effendy, 2006: 12):

a. Komunikasi Personal (Personal Communication)

Terdiri dari komunikasi intrapersonal (Intrapersonal communication) dan komunikasi antarpersonal (Interpersonal Communication).

b. Komunikasi Kelompok

 Komunikasi kelompok kecil (Small group communication), terdiri dari ceramah, forum, diskusi dan seminar.

 Komunikasi kelompok besar (large group communication), terdiri dari kampanye.

(28)

c. Komunikasi Organisasi (Organization Communication).

d. Komunikasi Massa (Mass Communication).

2.2.1.3 Fungsi-Fungsi Komunikasi

Komunikasi sebagai ilmu dan seni, sudah tentu memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam terjadinya komunikasi tidak terlepas dari bentuk dan fungsi komunikasi, dimana komunikasi yang baik tidak jauh dari fungsi yang mendukung keefektifikan komunikasi. Adapun fungsi-fungsi komunikasi sebagai berikut (Effendy, 2006):

a. Menyampaikan Informasi (To Inform)

Komunikasi berfungsi dalam menyampaikan informasi, tidak hanya informasi tetapi juga pesan, ide gagasan, opini maupun komentar. Sehingga masyarakat mengetahui keadaan yang terjadi dimanapun.

b. Mendidik (To Entertain)

Komunikasi sebagai sarana komunikasi yang mendidik, menyebarluaskan kreatifitas, tidak hanya sekedar memberi hiburan, tetapi juga memberi pendidikan untuk membuka wawasan dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara luas, serta memberikan sebagai informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, lebih maju dan lebih berkembang.

c. Menghibur (To Influence)

Komunikasi juga memberikan warna dalam kehidupan, tidak hanya informasi tetapi juga hiburan. Semua golongan dapat menikmatinya sebagai alat hiburan dalam bersosialisasi. Menyampaikan dalam lagu, lirik dan bunyi maupun gambar dan bahasa.

d. Mempengarui (To Educate)

Komunikasi sebagai sarana untuk mempengarui khalayak untuk memberi motivasi, mendorong untuk mengikuti kemajuan orang lain melalaui apa yang dilihat, dibaca dan didengar. Serta memperkenalkan nilai-nilai baru untuk mengubah sikap dan prilaku kearah yang lebih modrenisasi.

(29)

2.2.1.4 Tujuan Komunikasi

Dalam berkomunikasi tidak hanya untuk memahami dan mengerti satu dan lainnya tetapi juga memiliki tujuan dalam berkomunikasi. Ada empat tujuan berkomunikasi (Effendy, 2006):

a. Perubahan Sikap

Memberikan sebagai informasi kepada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan berubah sikapanya. Misalnya memberikan informasi tentang progam Generasi Berenca yang didalamnya penundaan usia perkawinan bagi remaja yang belum menikah, dimana agar tujuannya memberikan rangsangan kepada remaja bahwa penunundaan usia perkawinan sangat penting bagi mereka, untuk mencapai cita-cita yang diinginkan bagi mereka dan menjadikan kelak sebagai keluarga bahagia sejahterah.

b. Perubahan Pendapat

Memberikan berbagai komunikasi pada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat mau berubah pendapat dan perinsipnya terhadap tujuan informasi yang disampaikan. Misalnya informasi mengenai kebijakan baru pemerintah yang biasanya selalu mendapat tantangan dari masyrakat maka harus disertai penyampaian informasi yang lengkap supaya pendapat masyrakat dapat terbentuk untuk mendukung kebijakan tersebut.

c. Perubahan Prilaku

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan berubah prilakunya. Misalnya informasi mengenai bahayanya HIV/AIDS dan Narkotika yang sering kali terjadi di masyarakat. Sehingga dengan informasi yang didapat bisa merubah prilaku mereka bahwa yang merugikan mereka sangat berbahaya bagi mereka yang bisa merusakkan diri merekan sendiri.

d. Perubahan Sosial

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat, yang pada akhirnya bertujuan agar masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi yang disampaikan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan, gagasan informasi dengan melalui media yang menimbulkan dampak atau efek tertentu. Melalui komunikasi orang dapat menyampaikan

(30)

informasi, ide, pengetahuan, perasaan, sikap dan perbuatan kepada orang lain secara timbal balik, baik sebagai pemberi atau penerima komunikasi serta dapat mempengaruhi dan mengubah prilaku seseoarang.

2.2.2 Komunikasi Penyuluhan

2.2.2.1 Pengertian Komunikasi Penyuluhan

Penyuluhan berasal dari kata suluh yang berarti “obor”, dalam artian mampu memberikan penerangan dalam keadaan gelap menjadi terang. Samsuddin menyebut penyuluhan sebagai usaha pendidikan non formal yang mengajak orang lain melaksankan ide- ide baru (Mulyana, 2007 :11). Penyuluhan juga merupakan kegitan mendidik sesuatu kepada masyarakat, memberi mereka pengetahuan, informasi-informasi, dan kemampuan-kemampuan baru, agar mereka dapat membentuk sikap dan berprilaku hidup menurut apa yang seharusnya (Nasution, 1990:7).

Claar et al (Nasution, 1990:16) membuat rumusan bahwa penyuluhan merupakan jenis khusus pendidikan pemecahan masalah (problem solving) yang berorentasi pada tindakan yang mengajarkan sesuatu, mendemonstrasikan, dan memotivasi, tapi tidak melakukan pengaturan (regulating) dan juga tidak melaksanakan program yang non eduktif. Begitu juga dengan Samsudin, menyebut penyuluhan sebagai suatu usaha pendidikan non-formal yang dimaksudkan untuk mengajak orang sadar dan mau melaksanakan ide-ide baru.

Peyuluhan merupakan suatu usaha menyebarluaskan hal-hal yang baru agar masyarakat tertarik dan berminat untuk melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penyuluhan juga merupakan suatu kegiatan mendidikkan sesuatu kepada masyarakat, memberi mereka pengetahuan, informasi-informasi, dan kemampuan-kemampuan baru agar mereka dapat membentuk sikap dan perilaku hidup menurut apa yang seharusnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyuluhan dimaksud sebagai kegiatan memberi penerangan ataupun penjelasan kepada mereka yang disuluh agar tidak berada pada kegelapan mengenai suatu masalah tertentu.

Mardikanto (Yustina, 2003:1991) mencatat bahwa penyuluhan dapat diartikan dalam berbagai pemahaman seperti:

(31)

1. Penyebarluasan informasi 2. Penerangan atau penjelasan

3. Pendidikan non-formal (luar sekolah) 4. Perubahan prilaku

5. Perubahan sosial (prilaku individu, nilai-nilai, hubungan antar individu, kelembagaan dll)

6. Pemasaran inovasi

Maka dari itu penyuluhan diartikan sebagai suatu proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar bersama yang partisipasif, agar terjadi perubahan prilaku pada diri dan semua stakekholder (induvidu, kelompok, dan kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan, demi terwujudnya kehidupan yang semakain berdaya, mandiri, dan partisipasif yang semakin sejatera secara berkelanjutan.

Penyuluhan adalah suatu kegiatan komunikasi. Proses yang dialami mereka yang disuluh sejak mengetahui, mamahami, meminati, dan kemudian menerarpkannya dalam kehidupan nyata, adalah suatu proses komunikasi. Dengan demikian diperlukan persyaratan komunikasi yang baik untuk mencapai hasil penyuluhan yang baik.

Pada hakekatnya penyuluhan dalam penyampain hal-hal yang di suluh adalah amat penting. Kerena itu, penyuluhan menuntut di persiapkannya terlebih dahulu suatu desain, yang secara terperinci dan spesifikasi menggambarkan hal- hal pokok berikut ini (Nasution, 1990 : 10):

1. Masalah yang dihadapi.

2. Siapa yang akan menerima penyuluhan.

3. Apa tujuan yang hendak dicapai dari setiap kegiatan penyuluhan.

4. Pengembangan pesan.

5. Metode atau saluran yang akan digunakan.

6. Sistem evaluasi.

(32)

2.2.2.2 Penyuluhan Sebagai Agen Perubahan

Dalam proses perubahan, komunikator, yang adalah penyuluh merupakan fasilitator yang membantu anggota masyarakat melaksanakan proses yang dimaksud. Dengan gagasan atau ide-ide yang disebarluaskan, penyuluh adalah agen perubahan atau orang-orang yang menyebarkan inovasi ke tengah-tengah masyarakat. Karena itu, seorang penyuluh juga menjadi tempat bertanya, tempat anggota masyarakat menanyakan sesuatu untuk memperoleh informasi yang mereka perlukan. Jadi, seorang penyuluh adalah juru informasi atau juru penerang bagi khalayak disekitarnya. Pada penelitian ini yang menjadikan perubahan adalah BKKBN yang membuat penyuluhan program GenRe melalui PIK R/M (Pusat Informasi Konseling Remaja/Mahasiswa). Menurut Havelock, agen perubahan adalah orang-orang yang membantu pelaksanaan perubahan sosial atau suatu inovasi berencana. Selanjutnya menurut Rogers dan Shoemaker agen perubahan merupakan tugas profesional yang mempengaruhi suatu putusan pada inovasi menurut arah yang diinginkanya. Para agen perubahan ini dipandang sebagai mata rantai komunikasi antara dua atau lebih sistem sosial. (Setiana, 2005 : 10 ).

Untuk mencapai komunikasi yang mengena, seorang penyuluh atau komunikator selain mengenal dirinya sendiri, ia juga harus memiliki kepercayaan (credebility), daya tarik, dan kekuataan. (Cangara, 2006:95-100).

a. Kepercayaan (credebility)

Kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang kelebihan-kelebihan atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan yang dimiliki sumber sehingga diterima atau diikutin oleh khalayak (penerima). James McCrokey menjelaskan bahwa kredibilitas seseorang komunikator dapat bersumber dari kompetensi (competence), sikap (character), tujuan (intention), kepribadian (personality), dan dinamika (dynamism).

Kompetensi ialah penguasaan yang dimiliki komunikator pada masalah yang dibahasnuya. Sikap menunjukan pada pribadi komunikator apakah ia tegar atau toleran dalam prinsip. Tujuan menunjukkan apakah hal-hal yang disampaikan itu punya maksud yang baik atau tidak. Kepribadian menunjukan apakah pembicara memiliki pribadi yang hangat dan bersahabat, sedangkan dinamika

(33)

menunjukkan apakah hal yang disampaikan itu menarik atau sebalikknya justru membosankan.

b. Daya Tarik (Attractive)

Selain kredibilitas, daya tarik adalah salah satu faktor yang harus dimiliki oleh penyuluh PIK R/M sebagai seseorang komunikator. Faktor daya tarik banyak menentukan berhasil atau tidaknya komunikasi. pendengar atau pembaca bisa saja mengikuti pandangan seorang komunikator kerena ia memiliki daya tarik dalam hal kesamaan (similarity), dikenal baik (familiarity), disukai (liking), dan fisiknya (physic).

c. Kekuatan (power)

Kekuatan ialah kepercayaan diri yang harus dimiiki penyuluh PIK R/M sebagai seorang komunikator jika ia ingin mempengarui orang lain.

2.2.2.3 Faktor-Faktor Pendukung Efektifitas Penyuluhan

Komunikasi penyuluhan lebih tepat dimaksukkan kedalam kolom definisi secara paradigmati, karena pada proses komunikasi dalam penyuluhan selalu dikaitkan dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau prilaku pengetahuan dan keterampilan sasaran komunikasi, baik secara langsung ataupun tidak langsung sehingga sasaran komunikasi akan berubah menuju kearah lebih baik dengan cara mengikuti saran, gagasan atau inovasi yang diajarkan. Berikut ini adalah faktor-faktor pendukung efektivitas penyuluhan, berdasarkan pendekatan metode penyuluhan adalah salah satu faktor terpenting untuk diketahui dan diperdalam pemahamannya agar tujuan penyuluhan dapat tercapai secara optimal yakni. (Setiana, 2005 : 18 ):

1. Metode penyuluhan

a. Pendekatan perseorangan

Metode ini, penyuluhan berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan sasaran perseorangan seperti kunjungan kerumah, lokasi, hubungan telfon dan lain sebagainya. Namun pendekatan ini dinilai kurang efektif kerena banyak memamakan waktu.

(34)

b. Pendekatan kelompok

Banyak manfaat yang diambil dari pendekatan kelompok, disamping dari transfer teknologi informasi juga terjadi tukar pendapat dan pengalaman antar sasaran penyuluhan dalam kelompok yang bersangkutan. Metode pendekatan kelompok lebih menguntukan karna adanya umpan balik dan interaksi kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap prilaku dan norma pada anggotanya.

c. Pendekatan massal

Metode yang menjangkau sasaran dengan jumlah yang cukup banyak dan dapat mempercepat proses perubahan, hal ini di sebabkan karena pemberi dan penerima pesan cendrung mengalami proses selektif saat menggunakan media masaa sehingga pesan yang disampaikan mengalami distorsi.

2. Media penyuluahan

Media penyuluhan merupakan alat bantu penyuluhan yang berfungsi sebagai perantara yang dapat di percaya menghubungkan antar penyuluh dengan sasaran sehingga pesan atau informasi akan lebih jelas dan nyata. Dalam penyuluhan dikenal beragam media ataupun alat bantu penyuluhan, seperti benda (sampel, model tiruan), barang cetakan (brosur, poster, photo), gambar dan film pendek.

3. Materi penyuluhan

Materi penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan berupa informasi-informasi atau pesan. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan, atau maksud. Selanjutnya Lasswell (Mulyana, 2007:63) mengatakan pesan memiliki tiga komponen yaitu makna (gagasan , ide dan nilai ), simbol yang digunakan (bahasa atau kata-kata) dan bentuk pesan (verbal dan nonverbal). Materi dalam penyuluhan adalah yang sesuai dengan kebutuhan sasaran dan dapat memecahkan masalah yang sedang di hadapi oleh sasaran penyuluhan.

4. Waktu dan tempat penyuluhan

Waktu dan tempat dalam penyuluhan, adalah harus sesuai situasi dan kondisi masyarakat sasaran penting yang saling berkaitan dalam mencapai tujuan penyuluhan. Kapan dan dimana dilaksanakan penyuluhan harus terkesan tidak mengganggu dan merugikan sasaran.

(35)

2.2.2.4 Tujuan Komunikasi Penyuluhan

Dalam perencanaan dan pelaksanaan penyuluhan, harus mencakup tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Adapun tujuan jangka panjang dan pendek yang dimaksud adalah sebagai berikut (Kartasapoetra, 1987:7) :

A. Tujuan Jangka Pendek

1. Perubahan tingkat pengetahuan

2. Perubahan tingkat kecakapan atau kemampuan 3. Perubahan sikap

4. Perubahan motif tindakan B. Tujuan Jangka Panjang

1. Better farming, mau dan mampu mengubah cara-cara hidup lama dengan cara-cara yang lebih baik.

2. Better business, berusaha yang lebih menguntungkan.

3. Better living, menghemat dan tidak berfoya-foya setelah tujuan utama telah tercapai.

2.2.2.5 Fungsi Komunikasi Penyuluhan

Penyuluhan pertama-tama harus berfungsi memberikan jalan kepada para objek penyuluhan untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhannya itu. Komunikasi penyuluhan juga dapat dijabarkan sebagai berikut (Kartasapoetra, 1987:18-13):

1. Fungsi penyuluhan dengan demikian menimbulkan dan merangsang kesadaran para peserta penyuluhan agar dengan kemauan sendiri dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya itu.

2. Menjembatani gap antara praktek yang harus atau biasa dijalankan oleh para objek yang disuluh dengan pengetahuan teknologi atau umum yang selalu berkembang menjadi kebutuhan sehari-hari.

3. Sebagai penyampai, pengusaha dan penyesuai program nasional dan regional agar dapat diikuti dan dilaksanakan oleh objek yang disuluh.

4. Sebagai pemberian pendidikan dan bimbingan yang kontinyu, yang artinya penyuluh tidak akan berhenti karena yang dikehendakinya, keadaan yang berkembang, lebih baik dan lebih maju dengan perkembangan zaman.

(36)

2.2.3 Remaja

2.2.3.1 Pengertian Remaja

Remaja adalah suatu usia dimana induvidu menjadi terintegerasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar. Masa remaja merupakam masa peralihan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa, dimana ketika anak tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya belum dapat dikatakan sebagai orang dewasa.

Remaja sering kali membangun interaksi sesama temannya atau seteratanya, secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktifitas bersama. Remaja juga sebetulnya tidak memiliki tempat yang jelas, mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi juga belum dapat diterima sepenuhnya sebagai golongan orang dewasa. Remaja ada diantaranya anak-anak dan dan dewasa. Oleh karna itu, remaja sering kali dikenal sebagai fase “mencari jadi diri”

atau fase “topan atau badai”. Dikarenakan remaja belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun pikirannya (Soetjiningsih,2004:45).

Masa remaja secara umum dapat dibagi menjadi dua fase yaitu remaja awal atau remaja muda dimulai pada usia (antara 13-15 tahun) dan remaja akhir (antara 16-20 tahun). Pada penelitian ini ditunjukan kepada remaja akhir yang sudah berprilaku sebagai orang dewasa saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 16 sampai 20 tahun yaitu menjelang masa dewasa akhir. Remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yaitu diawali dengan matangnya organ-organ fisik atau (seksual) sehingga mampu berproduksi.

2.2.3.2 Ciri-Ciri Remaja

Ada beberapa ciri-ciri remaja menurut (Zulkifli, 2005:65) yang harus diketahui pada masa remaja yaitu:

1. Pertumbuhan fisik

Pertumbuhan fisik remaja mengalami perubahan yang sangat cepat, lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa. Dimana pertumbuhan fisik mengalami rangsangan sehingga menjadikan pertumbuhan lebih cepat.

(37)

2. Perkembangan Seksual

Remaja yang meningkatnya sel-sel hormon memberikan Seksual yang mengalami perkembangan bagi remaja itu yang kadang- kadang menimbulkan rangsangan terhadap remaja itu sendiri.

3. Cara berfikir

Cara berfikir adalah kualitas yaitu menyangkut hubungan sebab dan akibat.

misalnya remaja duduk didepan pintu, kemudian orang tua melarangnya sambil berkata “ pantang”. Andai yang dilarang itu anak kecil pasti ia akan menuruti orang tuanya, tetapi remaja yang dilarang itu akan nempertanyakan mengapa ia tidak boleh duduk di depan pintu.

4. Emosional

Keadaan emosional remaja masih sangat labil dimana emosional mereka sering kali naik turun tanpa ada kejelasan karna eratnya hubungannya dengan keadaan hormon sehingga mereka sulit untuk mengendalikan emosinya. Suatu saat ia bisa sedih sekali, dilain waktu ia bisa marah sekali.

5. Mulai tertarik pada lawan jenis

Pada kehidupan sosial remaja, mereka lebih tertarik kepada lawan jenisnya, Dalam hal ini ditandai dengan mulainya berpacaran.

6. Menarik perhatian lingkungan

Pada masa ini remaja mulai mencari perhatian lingkungannya, berusaha mendapatkan status dan peran seperti melalui kegiatan remaja di kampung- kampung.

7. Terikat dengan kelompok

Remaja dalam kehidupan sosialnya tertarik pada kelompok sebayanya sehingga tidak jarang orang tua dinomor duakan sedangkan kelompok dinomor satukan.

2.2.3.3 Perkembangan Masa Remaja

Masa remaja adalah masa transisi diri periode anak ke dewasa. Apabila diperhatiakn dan mengikuti pertumbuhan anak sejak lahir sampai besar, maka akan didapatlah bahwa anak tersebut tumbuh secara berangsur- angsur bersama dengan bertambahnya umur. Berikut ini adalah beberapa tahapan masa remaja (Zulkifli, 2005: 67), yaitu:

(38)

1. Masa Pueral

Dalam psikologi, kata puer berarti anak besar. Puer adalah anak yang tidak suka lagi diperlakukan sebagai anak- anak, tetapi belum termasuk golongan orang dewasa. Dalam masa pueral perasaan harga diri bertambah kuat, keberanian melewatin batas, suka menyombongkan diri, sering bertindak tidak sopan dan gemar akan pengalaman yang luar biasa. Pada masa pueral ini seorang anak ingin diberikesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Ia tidak mau selalu diperlakukan sebagai anak-anak dan suka menyampaikan perasaanya sampai memberontak, namun tidak dapat dikatakan menentang kewibawaan orang tua maupun guru.

2. Masa Prapubertas

Masa prapubertas termaksud masa dalam peralihan. Pada saat ini anak perempuan mengalaminya lebih singkat dari pada lamanya yang dialami anak laki-laki. Keduanya berangsur-angsur melepas diri dari ikatan orang tua untuk bertindak dan berfikir lebih bebas. Apabila mereka tidak dapat melepaskan diri dari keterikatan tersebut maka mereka akan merasa kebebasannya terancam dan terdapat pula kemungkinan untuk bertindak memberontak, tidak mau menuruti perintah dan tidak tunduk pada peraturan. Gejala datangnya masa ini ditandai dengan sukanya bertindak sesuka hati, sering bertindak tidak sopan, suka mencela tetapi dirinya sendiri belum tentu mampu berbuat lebih baik.

3. Masa Pubertas

Masa pubertas disebut sebagai masa bangkitanya kepribadian ketika minat lebih ditujukan kepada perkembangan pribadi sendiri. Pribadi tersebut yang menjadi pusat pemikirannya.

4. Masa Adolesen

Masa Adolesen berada di antar usia 17 sampai 20 tahun dimana permulaanya pada masa remaja mengalami perkembangan jasmani yang sangat menonjol dan batas akhir pada masa ini adalah berakhirnya perkembangan masa jasmani. Adapaun terdapat gejala-gejala yang menandakan seorang anak sedang melewati masa Adolesen ini di antaranya perkembangan seksual, perkembangan sikap terhadap nilai-nilai kehidupan, perkembangan religius (Ketuhanan Yang

(39)

Maha Esa), dan perkembangan etika dalam menghadapi tentang suatu hal yang baik dan buruk.

2.2.4 Sikap dan Perubahan Sikap 2.2.4.1 Penegertian Sikap

Manusia dalam hidupnya mempunyai sikap untuk menentukan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Sikap merupakan tindakan atau respon individu untuk bertindak terhadap obyek tertentu dengan didasari oleh pandangan, perasaan dan keyakinannya. Hal inilah yang menyebabkan sikap orang terhadap sesuatu hal berbeda satu dengan yang lainnya meskipun menghadapi obyek yang sama.

Dijelaskan Walgito (1991: 109), bahwa sikap, pendapat, keyakinan, tindakan perbuatan manusia merupakan hal penting dalam kehidupan psikologis manusia. Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan atau tidakan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif, disertai oleh adanya suatu perasaan tertentu, yang pada akhirnya memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya. Sikap yang ada pada diri manusia akan memberikan corak pada tingkah laku atau perbuatan manusia tersebut. Penerimaan atau penolakan yang dilakukan oleh seseorang dalam menanggapi suatu masalah dapat juga ditentukan oleh faktor- faktor yang berasal dari luar dirinya. Dengan mengetahui sikap seseorang akan dapat memprediksi reaksi atau tindakan yang akan diambil oleh seseorang.

Menurut (Gerungan, 2000: 149) Manusia tidak dilahirkan dengan sikap- sikap tertentu, akan tetapi sikap tersebut dibentuk oleh seorang individu sepanjang perkembangan hidupnya. Sikap inilah yang berperan besar dalam kehidupan manusia karena sikap yang telah terbentuk dalam diri manusia turut menentukan cara-cara manusia itu memunculkan tingkah laku terhadap suatu obyek atau dengan kata lain sikap menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap obyeknya.

(40)

2.2.4.2 Kompnen sikap

Komponen sikap menurut Mann (Syaifuddin, 1969: 24) antara lain adalah sebagai berikut :

a. Komponen kognitif

Yaitu pengetahuan, persepsi, kepercayaan, dan kerangka berfikir yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama bila menyangkut masalah atau problem yang kontroversial.

b. Komponen afektif

Merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi seperti perhatian, rasa senang, dan rasa puas. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang.

c. Komponen konatif/perilaku

Yaitu perilaku di mana individu mencapai tingkat "tahu" pada objek yang diperkenalkan dimana perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu melakukan sesuatu tindakan.

2.2.4.3 Ciri-ciri Sikap

Menurut (Gerungan, 2000: 162) adapun beberapa ciri-ciri sikap yang mempengarui sesorang dalam berbuat suatu tindakan yang menjadikan sutu reaksi induvidu tersebut diantaranya adalah:

1. Sikap selalu terdapat hubungan subjek-objek, tidak ada sikap yang tanpa objek, objek ini bisa berupa benda, orang, kelompok orang, nilai-nilai sosial, pandangan hidup, hukum, lembaga masyarakat dan sebagainya.

2. Sikap tidak dibawak sejak lahir, melainkan dipelajarin dan dibentuk melalui pengalaman-pengalaman.

3. Karna sikap dipelajari, maka sikapa dapat berubah-rubah sesai dengan keadaan lingkungan disekitar induvidu yang bersangkutan pada saat-saat yang berbeda.

4. Dalam sikap tersangkut juga factor motivasi atau dorongan yang mempengaruinya.

Gambar

Gambar 2  Variabel Penlitian
Tabel 4.11  Menyukai Penyuluhan
Tabel  di atas  menunjukan  hasil jawaban  responden  mengenai  pendekatan  kelompok  yang  diberikan  (PIK  R/M)  melalu  diskusi  kelompok  yang  diharapkan  dapat memberikan efektifitas informasi yang terima
Tabel di atas menunjukan hasil jawaban responden mengenai ada tidaknya   pengaruh  penyuluhan  program  Generasi  Berencana  dengan  pendekatan  massal  melalui  media  massa  kepada  siswa/i
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner pada 100 orang responden, dapat diketahui frekuensi jawaban mengenai pernyataan bahwa adanya pemberitaan mengenai

Sedangkan nilai keterampilan responden pada kelompok intervensi setelah diberikan penyuluhan didapatkan didapatkan nilai minimum sebesar 11, nilai maksimum sebesar

Setelah mendapatkan penyuluhan, peserta dapat memahami dan mampu mencegah terjadinya Perubahan Fisiologis Masa Nifas dan Kebutuhan Dasar Masa

Salah satu faktor yang mempengaruhi masih kurangnya pemanfaatan PIK- KRR adalah persepsi responden tentang kebutuhan terhadap pelayanan PIK- KRR.Wawancara secara informasi

Setelah diberikan penyuluhan kesehatan reproduksi atau pada saat posttest, sebagian besar atau 59,3% responden diketahui memiliki sikap seks pranikah yang baik

Dari tabel 5 diketahui bahwa tingkat pengetahuan responden setelah penyuluhan mengenai penularan skabies tidak berbeda bermakna dengan karakteristik responden

Hasil penelitian diperoleh bahwa Sebelum diberikan penyuluhan kesehatan tentang Gout Arthritis kepada 45 responden GoutArthritis, terjadi peningkatan signifikan yakni

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengembangan Program Generasi Berencana (GenRe) belum berjalan maksimal hal ini dikarenakan tidak aktifnya Bina Keluarga Remaja (BKR) di