LANDASAN KONSEPTUAL PERANCANGAN TUGAS AKHIR
DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI TUGAS-TUGAS DALAM MEMENUHI SYARAT-SYARAT GUNA MENCAPAI GELAR SARJANA
TEKNIK ARSITEKTUR PERIODE APRIL 2015
ARENA KOMPETISI DAN PUSAT PELATIHAN BARONGSAI DI DENPASAR
MAHASISWA:
SAPTA HARTAWAN NIM. 1104205094
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
2015
ABSTRAK
Kini barongsai merupakan salah satu cabang olahraga yang telah diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). di Bali telah banyak lahir klub Barongsai. Untuk di Bali sendiri terdapat 20 klub Barongsai (Data FOBI Provinsi Bali 2013) yang tersebar di beberapa Kabupaten di Bali. Jumlah klub tersebut terus meningkat sejak klub pertama berdiri tahun 2000, yakni perkumpulan Mutiara Naga dari Klenteng Tanah Kilap, Denpasar. Hal ini menandakan bahwa peminat olahraga Barongsai terus meningkat setiap tahunnya. Namun peningkatan jumlah klub serta peminat Barongsai tersebut belum diikuti dengan prestasi yang diraih. Olahraga barongsai di Bali hingga saat ini belum bisa menunjukkan prestasi di tingkat nasional. Olahraga Barongsai di Bali sebenarnya memiliki potensi untuk berprestasi. Arena Kompetisi ini diharapkan mampu menciptakan iklim kompetisi yang sehat agar dapat mengangkat prestasi olahraga Barongsai khususnya di Provinsi Bali. Selain itu, tempat pelatihan ini diharapkan mampu menampung dan memfasilitasi pelatihan para atlet Barongsai serta pelatihan untuk para pelatih dan juri olahraga Barongsai di Provinsi Bali.
Kata Kunci: Arena Kompetisi, Pelatihan, Barongsai.
| i KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan landasan konsepsual perancangan tugas akhir berjudul “Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai di Denpasar” tepat pada waktunya.
Tersusunnya landasan konsepsual perancangan tugas akhir ini tidak lepas dari bimbingan, petunjuk, informasi, dan bantuan berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Ir. I Wayan Redana, MASc., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Teknik, Universitas Udayana.
2. Bapak Ir. I Made Suarya, MT., selaku Ketua Jurusan Arsitektur.
3. Bapak Dr. Ir. Syamsul Alam Paturusi, MSP., selaku Dosen Koordinator Mata Kuliah Seminar Tugas Akhir.
4. Bapak Ir. Ida Bagus Ngurah Bupala, MT., selaku Dosen Koordinator Mata Kuliah Studio Tugas Akhir.
5. Bapak Ir. A.A Gde Dharma Yadnya selaku Dosen Pembimbing I.
6. Bapak Ir. Ciptadi Trimarianto, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing II.
7. Ibu Dr. Ir. Ida Ayu Armeli, MSi., selaku Dosen Penguji I.
8. Bapak Ir. I Ketut Mudra, ST,. MT., selaku Dosen Pembimbing II.
9. Ibu Ni Made Swanendri, ST., MT., selaku Dosen Penguji III.
10. Seluruh Staf Dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, yang telah memberikan pengetahuan dan arahan selama perkuliahan.
11. Ikrianto Wijaya, Putu Kurniawati dan Simulyati Ariani selaku orang tua dan wali yang memberikan banyak dukungan dari segi moral maupun material.
12. Tanniya Purnama Sari yang selalu memberikan semangat dan motivasi.
13. Rekan-rekan mahasiswa arsitektur yang banyak memberikan bantuan selama proses perkuliahan.
14. Semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan laporan ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
| ii Penulis menyadari bahwa landasan konsepsual perancangan tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk penyempurnaan laporan ini.
Denpasar, Agustus 2015 Penulis,
Sapta Hartawan 1104205094
| iii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi... iii
Daftar Gambar ... vii
Daftar Tabel ... x
Daftar Lampiran ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan ... 4
1.4 Metode Perancangan ... 4
1.4.1 Teknik Pengumpulan Data ... 5
1.4.2 Teknik Analisis Data ... 6
1.4.3 Teknik Penyimpulan Data ... 6
BAB II PEMAHAMAN TERHADAP ARENA KOMPETISI DAN PELATIHAN BARONGSAI 2.1 Pemahaman Arena kompetisi dan pelatihan barongsai ... 7
2.1.1 Pengertian Arena Kompetisi ... 7
2.1.2 Pengertian pusat Pelatihan ... 8
2.1.3 Pemahaman Barongsai ... 9
2.1.4 Fungsi Dan Manfaat Barongsai. ... 10
2.1.5 Metode Pelatihan Barongsai ... 12
2.1.5.1 Sarana Pelatihan Barongsai ... 12
2.1.5.2 Program Pelatihan Barongsai ... 14
2.1.5.3 Evaluasi Atlet ... 17
2.1.5.4 Syarat peserta Pelatihan Barongsai... 17
2.1.5.5 Waktu Pelatihan Barongsai ... 18
2.1.6 Metode Kompetisi Barongsai ... 19
2.1.6.1 Sistem Kompetisi ... 19
2.1.6.2 Kategori Pertandingan Barongsai ... 20
2.2 Arena Barongsai ... 23
| iv
2.2.1 Standar arena Barongsai ... 23
2.2.2 Tribun penonton ... 24
2.3 Studi Fasilitas Sejenis ... 25
2.3.1 Gelanggang olahraga DBL Arena ... 26
2.3.2 Sasana Perkumpulan Pusaka Tantra di Kuta Badung ... 30
2.3.2 GOR Lila Bhuana saat penyelenggaraan kejuaraanBarongsai... 33
2.4 Spesifikasi Umum Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ... 36
2.4.1 Pengertian Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai ... 36
2.4.2 Fungsi ... 36
2.4.3 Tujuan dan sasaran ... 37
2.4.4 Civitas ... 37
2.4.5 Fasilitas yang akan disediakan ... 38
2.4.6 Pengelola ... 38
BAB III STUDI PERENCANAAN ARENA KOMPETISI DAN PELATIHAN BARONGSAI DI DENPASAR 3.1 Kota Denpasar Sebagai Wilayah Perencanaan ... 39
3.1.1 Dasar Pemilihan Kota Denpasar ... 40
3.1.2 Kondisi Kota Denpasar ... 40
3.1.3 Rencana Wilayah Pengembangan Kota Denpasar (Menurut RTRW Kota Denpasar 2011-2031) ... 44
3.2 Potensi Olahraga Barongsai di Bali ... 45
3.2.1 Induk Organisasi Olahraga Barongsai ... 45
3.2.2 Jumlah dan perkembangan klub Barongsai... 45
3.2.3 Perkembangan jumlah atlet ... 46
3.2.4 Perkembangan Kompetisi Barongsai ... 47
3.2.5 Kondisi wadah Pelatihan Barongsai ... 48
3.2.6 Permasalahan-permasalahan pada olahraga Barongsai ... 48
3.3 Analisa S.W.O.T Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai ... 49
3.4 Spesifikasi Khusus Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ... 50
3.5.1. Definisi ... 50
3.5.2. Fungsi ... 50
3.5.3. Tujuan dan Sasaran ... 50
| v
3.5.4. Kegiatan yang akan diwadahi ... 51
3.5.5. Civitas ... 51
3.5.6. Fasilitas yang akan disediakan ... 51
3.5.7. Persyaratan lokasi... 52
3.5.8. Pengelolaan Proyek ... 52
BAB IV TEMA DAN PEMROGRAMAN ARSITEKTURAL ARENA KOMPETISI DAN PUSAT PELATIHAN BARONGSAI DI DENPASAR 4.1 Tema ... 53
4.1.1 Pendekatan tema... 53
4.1.2 Pemilihan dan pengertian Tema ... 54
4.1.3 Penjabaran Tema ... 54
4.2 Program Fungsional ... 55
4.2.1 Identifikasi Fungsi ... 55
4.2.2 Identifikasi Pelaku dan Kegiatan ... 55
4.2.3 Proses Kegiatan ... 57
4.2.4 Kebutuhan Ruang ... 60
4.2.5 Pendekatan Kapasitas ... 61
4.2.4.1 Pengelola ... 61
4.2.4.2 Pengunjung ... 62
4.2.4.3 Jumlah atlet prediksi 20 tahun mendatang ... 62
4.2.4.2 Parkir ... 64
4.3 Program Performansi ... 64
4.4 Program Arsitektural ... 67
4.4.1 Studi Besaran Ruang... 67
4.4.2 Perhitungan Kebutuhan Luas Site ... 68
4.4.3 Hubungan Ruang ... 68
4.4.3.1 Hubungan Ruang Makro ... 68
4.4.3.2 Hubungan Ruang Mikro ... 69
4.4.4 Sirkulasi Ruang ... 71
4.5 Program Tapak ... 72
4.5.1 Analisis Pemilihan Lokasi ... 72
4.5.2 Analisis Pemilihan Tapak ... 72
| vi
4.5.3 Analisis Tapak ... 78
4.5.3.1 Analisis bentuk dan ukuran tapak ... 78
4.5.3.2 Analisis pergerakan/sirkulasi di sekitar tapak ... 79
4.5.3.3 Analisis Kontur dan Pola Drainase ... 80
4.5.3.5 Analisis Jenis Tanah/Geologi dan hidrologi ... 80
4.5.3.6 Analisis Jaringan Utilitas ... 82
4.5.3.8 Analisis Kebisingan ... 82
4.5.3.9 Analisis Iklim/klimatologi ... 83
BAB V KONSEP PERANCANGAN ARENA KOMPETISI DAN PUSAT PELATIHAN BARONGSAI DI DENPASAR 5.1 Konsep Perancangan Tapak ... 85
5.1.1 Konsep Entrance Tapak ... 85
5.1.2 Konsep Zoning Tapak ... 87
5.1.3 Konsep Bentuk, Pola dan Orientasi Massa ... 89
5.1.4 Konsep Pola Sirkulasi pada Tapak ... 90
5.1.5 Konsep Ruang Luar... 91
5.1.6 Konsep Utilitas Pada Tapak ... 93
5.2 Konsep Perancangan Bangunan ... 95
5.2.1 Konsep Zoning ... 96
5.2.2 Konsep Entrance dan Sirkulasi ... 97
5.2.3 Konsep Tampilan Bangunan ... 100
5.2.4 Konsep Ruang Dalam ... 101
5.2.5 Konsep Struktur Bangunan ... 102
5.2.6 Konsep Utilitas Bangunan... 104
5.2.6.1 Sistem Jaringan Listrik ... 104
5.2.6.2 Sistem Pencahayaan ... 105
5.2.6.5 Sistem Penghawaan ... 105
5.2.7 Konsep pengaman Bangunan ... 105
5.2.7.1 Sistem Penangkal Petir ... 105
5.2.7.2 Sistem Pemadam Kebakaran ... 106
Daftar pustaka ... xi
Lampiran ... xiii
| vii DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Arena pertandingan Barongsai ... 8
Gambar 2.2 Barongsai pada perayaan 17 Agustus 2010 di Istana Negara ... 9
Gambar 2.3 Salah satu atraksi dari barongsai ... 10
Gambar 2.4 Altar barongsai di Wihara Dharma Ratna Klungkung ... 11
Gambar 2.5 Barongsai di panggung hiburan... 11
Gambar 2.6 Salah satu kejuaraan dunia di Malaysia ... 12
Gambar 2.7 Matras sebagai alas dan perlindungan ... 13
Gambar 2.8 Alat musik pengiring barongsai. ... 13
Gambar 2.9 Kepala barong sai dengan badannya ... 13
Gambar 2.10 Tonggak ... 14
Gambar 2.11 Bangku dan meja sebagai bagian dari atraksi ... 14
Gambar 2.12 Kuda-kuda depan... 15
Gambar 2.13 Kuda-kuda tengah ... 15
Gambar 2.14 Kuda-kuda samping... 15
Gambar 2.15 Kuda-kuda silang depan ... 15
Gambar 2.16 Kuda-kuda silang belakang ... 15
Gambar 2.17 Sikap sempurna ... 16
Gambar 2.18 Pertandingan barongsai kategori tradisional ... 21
Gambar 2.19 Pertandingan Barongsai kategori International ... 22
Gambar 2.20 Ukuran arena Barongsai ... 23
Gambar 2.21 Tampak Depan GOR Purna Krida ... 26
Gambar 2.22 Denah GOR Purna Krida ... 26
Gambar 2.23 Tribun penonton pada GOR Purna Krida ... 27
Gambar 2.24 Rangka Baja pada upper struktur ... 27
Gambar 2.25 Kolom pada GOR Purna Krida ... 27
Gambar 2.26 Jendela dan ventilasi sebagai tempat sirkulasi udara ... 28
Gambar 2.27 Pencahaayan alami melalui jendela yang berada di sekeliling hall ... 29
Gambar 2.28 Penempatan lampu sebagai pencahayaan buatan ... 29
Gambar 2.29 Tampak depan ... 30
Gambar 2.30 Denah tempat latihan Klub/Perkumpulan Pusaka Tantra ... 30
Gambar 2.31 Hall ... 31
| viii
Gambar 2.32 Rangka beton pada upper struktur ... 31
Gambar 2.33 Tampak kolom pada hall ... 31
Gambar 2.34 Penampang lantai pada Hall ... 32
Gambar 2.35 Penempatan lampu sebagai cahaya buatan... 33
Gambar 2.36 Posisi juri yang mengakibatkan berkurangnya privasi ... 33
Gambar 2.37 para klub meletakkan barang-barang mereka disisi arena ... 34
Gambar 2.38 Jemuran pakaian pada tribun ... 34
Gambar 2.39 Perawatan atlet yang cedera parah hanya di arena ... 35
Gambar 2.40 Pemanasan pada koridor yang sempit ... 35
Gambar 2.41 Para juri ketika bersiap sebelum dimulainya pertandingan ... 36
Gambar 3.1Pulau Bali ... 41
Gambar 3.2 Peta kota Denpasar ... 41
Gambar 3.3 Peta kota Denpasar ... 44
Gambar 3.4 Struktur Organisasi FOBI Prov. Bali ... 45
Gambar 3.5 Struktur Organisasi pengelolaan ... 52
Gambar 4.1 Proses kegiatan pengelola ... 57
Gambar 4.2 Proses kegiatan pelatihan ... 58
Gambar 4.3 Proses kegiatan kompetisi ... 58
Gambar 4.4 Proses kegiatan penunjang ... 59
Gambar 4.5 Proses kegiatan service... 59
Gambar 4.6 Hubungan ruang makro ... 68
Gambar 4.7 Hubungan ruang kegiatan kompetisi dan pelatihan ... 69
Gambar 4.8 Hubungan ruang kegiatan pengelola ... 70
Gambar 4.9 Hubungan ruang kegiatan penunjang dan service ... 70
Gambar 4.10 Sirkulasi ruang... 71
Gambar 4.11 Pulau Bali ... 73
Gambar 4.12 Peta Kota Denpasar ... 73
Gambar 4.13 Lokasi Tapak ... 73
Gambar 4.14 Tapak alternatif 1 ... 74
Gambar 4.15 Kondisi Tapak ... 74
Gambar 4.16 Tapak alternatif 2 ... 75
Gambar 4.17 Kondisi Tapak ... 75
| ix
Gambar 4.18 Tapak alternatif 2 ... 76
Gambar 4.19 Kondisi Tapak ... 76
Gambar 4.20 Lokasi tapak terpilih ... 78
Gambar 4.21 Data eksisting bentuk dan ukuran tapak ... 79
Gambar 4.22 sirkuklasi di sekitar tapak ... 79
Gambar 4.23 Data eksisting drainase tapak ... 80
Gambar 4.24 Data geologi dan hidrologi tapak ... 81
Gambar 4.25 Jenis tanah ... 81
Gambar 4.26 Jaringan utilitas ... 82
Gambar 4.27 Analisa kebisingan dan polusi ... 83
Gambar 4.28 Klimatologi tapak ... 84
Gambar 5.1 Konsep entrance tapak ... 86
Gambar 5.2 Konsep tampilan entrance tapak ... 87
Gambar 5.3 Konsep zoning tapak ... 88
Gambar 5.4 Konsep zoning tapak ... 88
Gambar 5.5 Konsep orientasi dan pola massa ... 90
Gambar 5.6 Pola sirkulasi ... 91
Gambar 5.7 Konsep tata hijau ... 92
Gambar 5.8 Konsep parkir ... 93
Gambar 5.9 Alur distribusi listrik ... 94
Gambar 5.10 Alur distribusi air bersih ... 94
Gambar 5.11 Utilitas tapak ... 95
Gambar 5.12 Konsep zoning lantai 1 ... 96
Gambar 5.13 Konsep zoning lantai 2 ... 97
Gambar 5.14 Konsep entrance dan sirkulasi ... 98
Gambar 5.15 konsep sirkulasi lantai 2 ... 99
Gambar 5.16 Konsep sirkulasi vertikal ... 99
Gambar 5.17 Konsep tampilan bangunan ... 100
Gambar 5.18 Konsep interior lobby ... 101
Gambar 5.19 Konsep tribun arena ... 102
Gambar 5.20 Konsep super structure ... 103
Gambar 5.21 Konsep upper stucture ... 104
| x
Gambar 5.22 Konsep sistem jaringan listrik ... 104
Gambar 5.23 Konsep sistem keamanan penangkal petir ... 106
Gambar 5.24 Konsep pemadam kebakaran ... 108
Gambar 5.25 Alur sirkulasi darurat pada tribun... 108
DAFTAR TABEL 2.1 Jenis tribun penonton ... 25
3.1 Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk kota Denpasar ... 43
3.2 Kepadatan penduduk Kota Denpasar ... 43
3.3 Data klub Barongsai di Bali ... 46
3.4 Laju pertumbuhan atlet ... 47
3.5 Hambatan, Tantangan serta rekomendasi pemecahan masalah ... 49
4.1 Pelaku dan kegiatan... 56
4.2 Kebutuhan ruang ... 60
4.3 Jumlah kapasitas... 61
4.4 Pemanfaatan fasilitas ... 63
4.5 Persyaratan ruang ... 65
4.6 Luasan ruang ... 67
4.7 Pembobotan Kriteria Pemilihan Tapak ... 77
4.8 Pemilihan Tapak... 77
5.1 Jenis vegetasi ... 92
5.2 Kuat penerangan... 105
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan besaran ruang... xiii
Lampiran 2. Transformasi Konsep ... xiv
Lampiran 3. Building Desain ... xv
| 1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyaknya warga keturunan Tionghoa yang menetap di Indonesia, membuat masyarakat Indonesia lama kelamaan beradaptasi dengan kebudayaan- kebudayaan Tionghoa tersebut dan mulai timbul ketertarikan. Salah satu kebudayaan yang dibawa oleh orang Tionghoa adalah kesenian Barongsai atau Lion Dance dalam bahasa Inggris.
Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Perkembangan Barongsai sempat terhenti pada masa pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Dengan adanya Intruksi Presiden No 14 Tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina tanggal 6 Desember 1967, maka pertunjukan barongsai, arak-arakan toapekong dan perayaan Imlek hanya boleh dirayakan dalam lingkungan keluarga saja. (Greif 1994:39).
Namun, perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian Barongsai. Bangkitnya kembali kesenian
| 2 Barongsai di Indonesia ini berawal dari dukungan Mantan Presiden Abdurahman Wahid terhadap kebudayaan Tionghoa. Pada tanggal 18 Januari 2000, Pemerintah mengumumkan Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000 yang mencabut Intruksi Presiden No. 14 Tahun 1967. Sejak saat itu, masyarakat Tionghoa di indonesia dinyatakan bebas kembali menjalankan acara-acara agama, kepercayaan, dan adat istiadat mereka (Sudjoko 2001:108).
Setelah itu, kesenian Barongsai mulai mengalami perkembangan.
Barongsai mulai sering dipentaskan bahkan dipertandingkan. Tidak hanya sebagai sebuah seni pertunjukan namun juga sebagai sebuah cabang olahraga. Olahraga Barongsai memiliki induk organisasi yaitu Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI). FOBI adalah wadah dari olahraga barongsai yang berada di Indonesia dan berada dibawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). FOBI berdiri pada tanggal 9 Agustus 2012 di Jakarta dan pada tanggal 11 Juni 2013, FOBI resmi masuk KONI. Pada PON XIX di Jawa Barat mendatang, Barongsai akan dipertandingkan pertama kali sebagai cabang olahraga eksibishi. Federasi Olahraga Barongsai Indonesia juga telah mengirimkan atlet barongsai untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Barongsai International Dragon and Lion Dance Federation (IDLDF) ke 5, yang diselenggarakan di Putian, Fujian, China, 14-18 November 2013. Hasilnya Tim FOBI Indonesia berhasil meraih 3 perak dan 2 perunggu. (Dikutip dari website FOBI).
Kini barongsai bukan lagi hanya sebagai sarana ritual, namun sudah menjadi sebuah olahraga dengan seni akrobatik yang dapat dimainkan oleh seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, jenis kelamin, status sosial, dll. Kini di Indonesia, khususnya di Bali telah banyak lahir klub pelatihan Barongsai. Untuk di Bali sendiri terdapat 20 klub Barongsai (Data FOBI Provinsi Bali 2013) yang tersebar di beberapa Kabupaten di Bali. Jumlah klub tersebut terus meningkat sejak klub pertama berdiri tahun 2000, yakni perkumpulan Mutiara Naga dari Klenteng Tanah Kilap, Denpasar. Hal ini menandakan bahwa peminat olahraga Barongsai terus meningkat setiap tahunnya. Namun peningkatan jumlah klub serta peminat Barongsai tersebut belum diikuti dengan prestasi yang diraih. Olahraga barongsai di Bali hingga saat ini belum bisa menunjukkan prestasi di tingkat nasional. Hanya ada satu perkumpulan yang pernah mengikuti
| 3 kejuaraan di Surabaya, dan meraih juara 1 Barongsai kategori tradisional, yakni perkumpulan Pusaka Tantra dari Kuta, Badung. Klub yang lainnya belum pernah mengikuti kejuaraan. (Survei 2014)
Olahraga Barongsai di Bali sebenarnya memiliki potensi untuk berprestasi. Hal tersebut dibuktikan dengan terus bertambahnya jumlah klub-klub Barongsai di Bali. Semakin banyak klub tentunya akan menambah ketat persaingan yang sehat diantara klub-klub tersebut. Namun, di Bali, talenta-talenta atlet Barongsai tersebut belum pernah dipertandingkan pada event kejuaraan.
Belum meningkatnya prestasi olahraga Barongsai di Bali disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya ialah, Bali belum memiliki tempat yang representatif dan secara khusus berfungsi untuk menyelenggarakan pertandingan Barongsai. Beberapa GOR di Bali kurang layak untuk menyelenggarakan pertandingan Barongsai, karena beberapa GOR tersebut tidak khusus didesain untuk olahraga Barongsai melainkan didesain untuk cabang olahraga lain seperti basket, voli, bulutangkis, dll. Maka dari itu kebutuhan ruang yang diperlukan pun berbeda. Kekurangan tersebut terlihat pada Kejuaraan Barongsai yang diselenggarakan pada 13-14 Oktober 2014 di GOR Lila Bhuana Denpasar.
Selain wadah, penyebab lainnya ialah karena awamnya pengetahuan klub- klub barongsai di Bali tentang standar aturan pertandingan Barongsai yang dikeluarkan oleh IDLDF (International Dragon and Lion Dance Federation), sehingga diperlukan banyak pelatihan-pelatihan untuk pelatih, juri dan para atlet oleh FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia).
Oleh sebab itu, judul 'Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai' diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang ada. Arena Kompetisi ini diharapkan mampu menciptakan iklim kompetisi yang sehat agar dapat mengangkat prestasi olahraga Barongsai khususnya di Provinsi Bali. Selain itu, tempat pelatihan ini diharapkan mampu menampung dan memfasilitasi pelatihan para atlet Barongsai serta pelatihan untuk para pelatih dan juri olahraga Barongsai di Provinsi Bali. Semakin banyak wadah untuk menempa generasi muda melalui olahraga, maka akan semakin besar kesempatan untuk meluruskan jalan generasi penerus bangsa agar lebih mengarah ke aktifitas positif.
| 4 1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada laporan landasan konsepsual perencanaan dan perancangan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana spesifikasi umum dan khusus untuk sebuah fasilitas Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai tersebut?
2. Apa program ruang dan tapak yang sesuai untuk sebuah fasilitas Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai tersebut?
3. Bagaimana tema serta konsep perancangan yang tepat untuk fasilitas Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai tersebut?
1.3 Tujuan
Tujuan pada laporan landasan konsepsual perencanaan dan perancangan ini terbagi menjadi 2, yakni sebagai berikut:
a) Tujuan Proyek
Sebagai sarana pengenalan dan pendidikan non formal akan olahraga Barongsai melalui kegiatan pelatihan dengan sarana dan prasarana yang lebih baik dan dengan waktu latihan yang berkala. Diharapkan menjadi wadah yang baik bagi generasi muda untuk berlatih Barongsai guna meningkatkan prestasi olahraga Barongsai Provinsi Bali di Tingkat Nasional maupun International.
b) Tujuan Penulisan
Menyusun landasan konseptual Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai di Denpasar, yang akan ditransformasikan ke dalam desain arsitektur.
Landasan konseptual tersebut berupa rumusan spesifikasi umum dan khusus, program ruang dan program tapak serta tema yang mengikat konsep perancangan yang tepat untuk fasilitas Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai.
1.4 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu teknik pengumpulan data, pengolahan data, dan penyimpulan.
1.4.1. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikelompokkan terdiri dari dua jenis data yaitu :
| 5 a) Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya serta semua keterangan yang untuk pertama kalinya diamati dan dicatat oleh peneliti (Bungin, 2004:122). Data primer ini diperoleh melalui :
• Interview/wawancara
Mengadakan wawancara dengan para ahli pihak-pihak terkait untuk memperoleh data-data yang digunakan untuk pendekatan dan penganalisisan data. Dalam perencanaan arena kompetisi dan pusat pelatihan barongsai ini pihak pihak yang perlu untuk di wawancarai antara lain:
Bapak Cahaya Wirawan Hadi selaku Ketua FOBI Provinsi Bali
Jerry Kho selaku atlet Barongsai dari Klub Surya Naga Surabaya yang berpengalaman mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional.
Dan beberapa pengurus klub-klub barongsai yang ada di Bali termasuk para atlet-atletnya.
• Studi Banding
Studi banding dilakukan pada fasilitas-fasilitas sejenis untuk memperoleh gambaran umum tentang proyek yang akan dibuat. Studi banding dilakukan pada GOR Purna Krida, Sasana Barongsai Pusaka Tantra, serta GOR Lila Bhuana pada saat kejuaran BISW 2014.
b) Data sekunder :
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak lain, artinya data tersebut tidak diusahakan sendiri pengumpulannya (Bungin: 2004:122). Data sekunder diperoleh melalui :
• Studi literatur
Pengumpulan data penunjang sebagai bahan pertimbangan proses perencanaan dan perancangan yang terdiri dari buku-buku, jurnal, koran, internet, dan lain-lain, yang terkait dengan Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai.
• Survey instansional
Melakukan survey ke instansi-instansi terkait guna memperoleh data yang berhubungan dengan pengadaan proyek.
| 6 1.4.2 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang dilakukan terdiri dari tiga tahapan yaitu :
• Kompilasi data
Data yang telah dikumpulkan dikelompokkan dengan kriteria data masing- masing yang kemudian dicari kaitannya antara yang satu dengan yang lainnya.
• Analisis data
Berdasarkan kompilasi data, dilakukan analisis dengan berbagai pertimbangan.
Teknik analisis dilakukan dengan dua cara yaitu :
a) Kualitatif, yaitu menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data dan membuat diagramatik seperti menyimpulkan beberapa studi banding dan lain-lain.
b) Kuantitatif, yaitu menganalisis data dengan cara perhitungan matematis.
Analisis Data yang akan digunakan di dalam proses perancangan ini adalah dengan menyederhanakan seluruh data yang telah dikumpulkan, kemudian menyajikannya secara sistematis. Selanjutnya, data-data tersebut diolah, ditafsirkan dan kemudian digunakan dalam setiap proses perancangan yang dilakukan.
• Sintesis
Mengintegrasikan setiap permasalahan yang ada ke dalam kelompok-kelompok beserta faktor pengaruhnya sebagai jalan keluar tebaik untuk memecahkan permasalahan.
1.4.3. Teknik Penyimpulan Data
Dalam teknik penyimpulan data dipergunakan metode deduksi, yaitu suatu metode penyimpulan data dengan bertolak dari hal – hal umum yang mengarah pada kesimpulan yang sifatnya khusus.
| 7
BAB II PEMAHAMAN TERHADAP PROYEK
Bab II ini berisi penjelasan mengenai pemahaman terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai, baik pemahaman yang didapat dari berbagai sumber literatur, wawancara maupun tinjauan proyek sejenis sebagai bahan pertimbangan.
2.1 Pemahaman Judul Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai.
Berikut ini merupakan penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai terkait dengan pengertian dari judul serta pembahasannya.
2.1.1 Pengertian Arena Kompetisi.
Pengertian arena kompetisi dibagi menjadi 2 kata yaitu arena dan kompetisi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sebagai berikut:
| 8 a) Definisi arena ialah berarti sebuah tempat atau gelanggang yang menjadi
tempat untuk berjuang ataupun bersaing.
b) Definisi kompetisi adalah aktivitas pertandingan untuk meraih juara dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok.
Pengertian arena kompetisi adalah sebuah tempat atau gelanggang yang difungsikan untuk suatu aktivitas untuk mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau berkelompok.
Gambar 2.1 Arena pertandingan Barongsai
Sumber: http://www.tempo.co/read/beritafoto/10098/8-Negara-Beradu-di-Kom/
2.1.2 Pengertian Pusat Pelatihan.
Pengertian Pusat Pelatihan dibagi menjadi 2 kata yaitu Pusat dan Pelatihan, menururt menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sebagai berikut:
a) Definisi pusat yaitu tempat/pokok pangkal atau yg menjadi pumpunan (berbagai-bagai urusan, hal, dsb).
b) Pelatihan adalah salah satu bentuk pendidikan luar sekolah yang menyangkut proses pembentukan sikap dan cara melalui belajar dan latihan di bidang- bidang tertentu.
Pengertian Pusat Pelatihan adalah wadah atau tempat yang merupakan sebuah fasilitas untuk proses pembentukan sikap melalui belajar maupun latihan dalam bidang tertentu dengan melatih suatu yang mengkhusus atau umum berupa perbuatan, cara membina, pembaharuan, penyempurnaan, perbaikan, usaha, atau upaya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
| 9 2.1.3 Pemahaman Barongsai
Barongsai merupakan kesenian dan olahraga asli Tiongkok yang kini telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Seperti kesenian dan olahraga lain pada umumnya barongsai memiliki latar sejarah yang panjang. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi. Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan- Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi.
Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian Barongsai melegenda. (Haly 2010;10)
Barongsai diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Barongsai di Indonesia populer ketika masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan yang berdiri pada 17 Maret 1900.
Setiap perkumpulan tersebut di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan Barongsai (Greif 1994:39). Gambar 2.2 berikut membuktikan bahwa barongsai telah diterima di Indonesia.
Gambar 2.2 Barongsai pada perayaan 17 Agustus 2010 di Istana Negara Sumber: http://www.tionghoa.info/barongsai/
Barongsai dimainkan oleh dua orang yang masing-masing menjadi pemain kepala dan yang lainnya menjadi pemain ekor. Satu orang yang paling ahli yang menggerakkan kepala barongsai bisa melompat tinggi sehingga seolah barongsai bisa berdiri tegak. Satu orang bertugas sebagai pemain belakang atau ekor harus
| 10 pandai mengikuti gerak kepala sehingga barongsai akan tampak hidup dengan berbagai ketangkasannya. Atraksi permainan barongsai yang menirukan gerak, karakter, dan mimik singa ini sangat atraktif. Sosok kepala singa yang berupa 'barong' dengan tanduk tunggal di bagian kepalanya dengan warna-warna yang menyala yang didominasi warna merah dan kuning keemasan bagaikan binatang mitologi. Gerakan yang lincah meloncat tinggi, berguling, melewati rintangan dan diiringi iringan musik yang berdegup dan berdentang-dentang membuat barongsai semakin hidup dalam gerakan akrobatiknya. (lihat Gambar 2.3)
Gambar 2.3 Salah satu atraksi dari barongsai Sumber: http://www.kabar24.com/foto/view/20130207
2.1.4 Fungsi dan Manfaat Barongsai
Fungsi Barongsai bagi masyarakat adalah sebagai ritual, hiburan dan olahraga. (Putra 2009:11)
A. Fungsi ritual
Menurut ajaran Taoisme, pada hakekatnya yang memerintah kerajaan di dunia adalah Tuhan (Thian). Hanya saja dalam pelaksanaannya diserahkan kepada putra tuhan sebagai perantara dunia fana dan dunia alam baka. Putra tuhan itu adalah Yao dan Shun. Praktek ritual, kepada Yao dan Shun dilambangkan dengan binatang mitologi naga dan singa. Lambang dari kedua putra tuhan itulah, kemudian muncul prototipe naga atau liong dan singa atau samsi atau barongsai (Ong 1994:234).
Oleh sebab itu, setiap hari raya imlek selalu dipertunjukkan Barongsai dan Naga. Meskipun bentuknya sama dengan ketika dipertunjukkan dan
| 11 dipertandingkan, tapi sebenarnya memiliki perbedaan dalam pelaksanaannya.
Perbedaan itu terletak pada sebelum pertunjukan dimulai, biasanya barongsai disembahyangkan terlebih dahulu di klenteng dan ditempel Hoo (kertas kuning bertulisan mandarin yang dipercaya dapat memberi perlindungan pada yang memakainya) pada dahinya (Suk Bun, penasihat Klenteng Dharmayana Kuta, wawancara 22 september 2014). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa fungsi ritual Barongsai tetap dipertahankan kelangsungannya oleh masyarakat Tionghoa di Bali. (lihat Gambar 2.5)
Gb 2.4 Altar barongsai sakral di Wihara Dharma Ratna Klungkung
B. Fungsi hiburan
Barongsai sebagai seni hiburan dikemas berbeda dengan sajian ritual.
Atraksinya yaitu pertunjukan keterampilan pemain dalam mempertunjukan gerakan-gerakan atraktif dan akrobatik baik di lantai maupun di tonggak. Bahkan, kadang-kadang ditambah dengan tarian-tarian. Tidak hanya dipentaskan pada saat perayaan besar imlek saja, melainkan bisa dilakukan di luar imlek seperti pesta pernikahan, peresmian, pemelaspas, dan lain-lain. (lihat Gambar 2.6)
Gambar 2.5 Barongsai di panggung hiburan Sumber: Dokumentasi Februari 2013
Sumber: Observasi September 2014
| 12 C. Fungsi olahraga
FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia) adalah wadah dari olahraga barongsai yang berada di Indonesia dan dibawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). FOBI berdiri pada tanggal 9 Agustus 2012 di Jakarta dan memiliki tujuan untuk mengembangkan Olahraga Barongsai Indonesia. Pada tanggal 11 Juni 2013, FOBI resmi masuk KONI. Dalam susunan Pengurus Besar FOBI, nama Dahlan Iskan tercantum sebagai Ketua Umum didampingi Kuncoro Wibowo sebagai wakilnya (dikutip dari website resmi FOBI).
Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) telah mengirimkan atlet Barongsai untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Barongsai International Dragon and Lion Dance Federation (IDLDF) ke 5, yang kali ini diselenggarakan di Putian, Fujian, China, 14-18 November 2013. Hasilnya Tim FOBI Indonesia berhasil meraih 3 perak dan 2 perunggu. Barongsai bukan hanya sebagai sarana ritual, namun sudah menjadi sebuah olahraga dengan seni akrobatik yang dapat dimainkan oleh seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, jenis kelamin, status sosial, dll. (lihat Gambar 2.7)
Gambar 2.6 Salah satu kejuaraan dunia di Malaysia Sumber: http://elainetan5212.blogspot.com/
2.1.5 Metode Pelatihan Barongsai
Berikut ini merupakan penjelasan dari metode kegiatan pelatihan Barongsai berserta sarana latihan yang dibutuhkan:
2.1.5.1 Sarana Latihan Barongsai
Adapun sarana-sarana atau peralatan yang dibutuhkan dalam latihan Barongsai, sarana tersebut antara lain:
| 13
• Matras
Gambar 2.7 Matras sebagai alas dan perlindungan Sumber: http://shengwailiondance.blogspot.com/
Atraksi akrobatik pada olahraga barongsai rentan akan cedera jika terjatuh. Oleh karena itu untuk menjaga keamanan diperlukan matras sebagai alas untuk meminimalisir kemungkinan cedera yang ditimbulkan. (lihat Gambar 2.8)
• Alat musik
Setiap atraksi atau pertandingan Barongsai pasti diiringi dengan musik. Alat musik tersebut antara lain tambur, simbal dan tung. Tambur biasanya dilengkapi dengan besi penyangga berisi roda agar lebih mudah dipindahkan. (lihat Gambar 2.9)
Gambar 2.8 Alat musik pengiring Sumber: http://www.kaskus.co.id/
• Seperangkat Barongsai
Bagian kepala dari Barongsai terbuat dari bambu dan rotan sedangkan bagian badan / ekor terbuat dari kain yang ditutupi dengan bulu sintetis. Satu orang akan menjadi pemain kepala dan satu orang lagi menjadi pemain ekor. (lihat Gambar 2.10)
Gambar 2.9 Seperangkat Barongsai Sumber: http://shengwailiondance.blogspot.com/
1 2 4 3
| 14
• Tonggak
Tonggak terbuat dari besi dengan diameter 10 cm. Tonggak menjadi rintangan dari barongsai dan menjadi bagian dari atraksi akrobatik. Tidak semua perkumpulan/klub di Bali memilikinya.
Sesuai standar pertandingan, tinggi tonggak minimal ialah 50cm dan tinggi tonggak maksimal ialah 3 meter.
Gambar 2.10 Tonggak
• Properti pendukung lainnya
Barongsai selalu dimainkan menggunakan alur cerita, diperlukan alat peraga atau properti tambahan. Yang lazim dan biasa digunakan ialah bangku yang disusun sedemikinan rupa dan diibaratkan sebagai jembatan yang akan dilalui.
Gambar 2. 11 Peralatan bagian dari atraksi
2.1.5.2 Program Pelatihan
Progam pelatihan yang dimaksud adalah dengan melakukan pembinaan terhadap atlet-atlet yang Barongsai. Menurut Hadi Gunawan (wawancara 29 November 2014) penekanan pembinaan lebih diarahkan pada penguasaan keterampilan bermain barongsai, kematangan pertandingan dan pembentukan tim yang solid dan peningkatan raihan prestasi secara individu dan tim setiap mengikuti kompetisi. Adapun program pembinaan serta ruang yang dibutuhkan, ialah sebagai berikut:
a) Bidang pemahaman teori.
Merupakan fase pengenalan terhadap Barongsai. Pengenalan berupa pengenalan terhadap peralatan hingga teori gerakan-gerakan pada Barongsai.
Pada fase ini juga diberikan teori tentang gerakan kepala, gerakan dasar hingga etika ketika tampil pada pertandingan. Ruang yang dibutuhkan ialah ruang kelas yang dilengkapi dengan papan tulis serta tempat duduk untuk para atlet menyimak penjelasan dari pelatih.
| 15 b) Bidang dasar dan kuda-kuda.
Bidang ini mulai mempraktekkan gerakan dasar kuda-kuda. Kuda-kuda pada olahraga Barongsai sama dengan pada olahraga wushu.
Adapun jenis kuda-kuda yang digunakan, yaitu:
.
4. Kuda-Kuda Silang Depan
dibentuk dengan menyilang 1 kaki ke depan atau kebelakang kaki yang lain,.
1. Kuda-Kuda Depan.
dibentuk dengan posisi kaki didepan ditekuk dan kaki belakang lurus, berat badan ditumpukan pada kaki depan.
2. Kuda-Kuda Tengah
Dibentuk dengan kedua kaki ditekukan
3. Kuda-kuda samping
dilakukan dengan cara 1 kaki ditekuk, berat badan pada kaki yang ditekuk, bahu sejajar atau segaris dengan kaki.
Gambar 2.13 Kuda kuda depan kudakudawushu.blogspot.com,2014
Gambar 2.14 Kuda kuda tengah kudakudawushu.blogspot.com,2014
Gambar 2.15 Kuda kuda samping kudakudawushu.blogspot.com,2014
Gambar 2.16 Kuda kuda silang depan kudakudawushu.blogspot.com,2014
Gambar 2.17 Kuda silang belakang kudakudasilat.blogspot.com,2014
5. Kuda-Kuda Silang Belakang
salah satu kaki berada di belakang dengan keadaan menyilang, badan tetap lurus agar tidak jatuh saat melakukan gerakan tersebut.
| 16 c) Bidang teknik dan artikulasi Barongsai.
Berlatih teknik-teknik lompatan pada Barongsai dan mengolaborasikan gerakan dasar kepala Barongsai dengan ekspresi/mimik muka Barongsai agar sesuai dengan gerakannya. Latihan bidang ini dilakukan pada arena/hall.
d) Bidang seni dan kreasi musik.
Setiap gerakan Barongsai harus terkoreografi dengan musik pengiringnya.
Harus terjalin kerja sama yang kuat antara pemain Barongsai dengan pemain musik, agar musik bisa mengikuti setiap gerakan pemain Barongsai. Latihan bidang ini akan langsung dilakukan pada arena/hall.
e) Bidang kekuatan dan kelincahan fisik.
Diperlukan pemantapan fisik agar terbiasa melakukan gerakan-gerakan tersebut. Selain itu, pemantapan juga diperlukan agar pemain menjadi lincah.
Latihan bidang ini akan dilakukan di dua tempat, yakni pada arena/ hall serta pada ruang pelatihan beban.
f) Pemahaman terhadap peraturan permainan dan pertandingan.
Diperlukan pemahaman terhadap aturan yang berlaku di pertandingan agar bisa mengkreasikan gerakan-gerakan Barongsai. Untuk pemahaman ini kembali dilakukan di ruang kelas yang dilengkapi dengan papan tulis serta tempat duduk untuk para atlet.
g) Sikap dan karakter pengembangan diri.
Terkait dengan kedisiplinan berlatih serta menunjukkan jiwa seorang atlet yang berkelakuan baik. Peningkatan teknik bermain Barongsai diimbangi
Gambar 2.18 Sikap Sempurna barongsaylion.blogspot.com,2014
| 17 dengan sikap dan nilai-nilai moralitas sangatlah penting untuk Barongsai bisa tampil memukau.
h) Keikutsertaan pada kompetisi pada level Nasional maupun Internasional.
Untuk menambah jam terbang atlet, diperlukan keikutsertaan pada kompetisi.
2.1.5.3 Evaluasi atlet
Untuk mengetahui perkembangan prestasi atlet akan dilakukan evaluasi secara menyeluruh baik itu prestasi teknis maupun non teknis. Atlet yang lambat peningkatan prestasinya dikelompokkan dalam kelompok pembinaan khusus sedangkan atlet yang prestasinya meningkat dikelompokkan dalam kelompok pengembangan.
Evaluasi terhadap atlet akan diadakan setiap 3 bulan skali. Atlet baru dapat melanjutkan ke bidang berikutnya jika telah dinyatakan lulus dalam evaluasi dan siap untuk berlatih tahap bidang berikutnya.
2.1.5.4 Syarat Peserta Pelatihan
Peserta yang akan mengikuti pelatihan adalah pemula dan atlet yang dinilai memiliki potensi yang dapat dikembangkan guna meraih prestasi. Para peserta berasal dari pelajar dan umum atau berasal dari klub-klub yang ada yang memenuhi kriteria-kriteria tes.
1. Segi usia
a). Tingkat SMP (usia 12-14 tahun) b). Tingkat SMA (usia 15-18 tahun) c). Umum (usia 12-25 tahun) 2. Komponen-komponen kebugaran
a). Kekuatan d). Kelincahan
b). Kecepatan e). Kelenturan
c). Daya tahan f). Ketepatan
3. Fungsi organ tubuh baik (jantung, paru-paru, pencernaan, syaraf, panca indra).
4. Mental dan Psikologis
| 18 2.1.5.5 Waktu Pelatihan
Dalam pelatihan olahraga, untuk mencapai prestasi yang maksimal diperlukan latihan secara berkala. Pada olahraga barongsai umumnya memerlukan waktu ±2 tahun. Tahapan latihan di mulai dari atlet pemula hingga atlet senior dapat dibagi menjadi tiga yaitu tahap dasar, tahap menengah dan tahap lanjut.
(Gunawan, 2013:26) 1. Tahap Dasar
Tahap ini ditujukan untuk atlet pemula. Latihan pada tahap ini berlangsung selama satu tahun. Latihan latihan ini bertujuan untuk nmenumbuhkan rasa senang berolahraga, meningkatkan kondisi fisik yang meliputi kekuatan, daya tahan, kelincahan, kelenturan dan koordinasi.
Pelatihan bagi pemula sebaiknya 2-3 kali seminggu.
2. Tahap Menengah
Tahap menengah ini ditujukan untuk atlet junior, pada dasarnya merupakan tahap lanjutan pembinaan tahap dasar. Waktu yang diperlukan selama satu tahun. Isi dan arah latian tahap menengah ini adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan kondisi fisik 2) Latian kondisi khusus 3) Meningkatkan keterampilan 4) Memantapkan teknik-teknik dasar
Pada tahap ini sebaiknya 2-3 kali seminggu dengan intensitas latihan minimal 2 jam.
3. Tahap Lanjut
Tahap lanjut ditujukan untuk atlet senior, memerlukan waktu 3 tahun.
Tujuan utamanya ialah ntuk mencapai prestasi setinggi-tingginya dan mempertahankan prestasi tersebut. Latihannya mengarah pada:
1) Menjaga kondisi fisik agar selalu prima 2) Meningkatkan keterampilan sebaik mungkin 3) Mempertahankan kestabilan prestasi puncak
Pada tahap ini dapat dilakukan lebih dari 2-3 kali seminggu dengan intensitas minial 2-3 jam setiap latihan.
| 19 2.1.6 Metode Kompetisi Barongsai
Besar kecilnya suatu pertandingan ditentukan oleh skala pertandingan itu sendiri, misalnya pertandingan tingkat daerah, nasional, atau internasional. Sistem pertandingan yang digunakan dalam olahraga barongsai ialah sistem kompetisi penuh. Setiap tim akan menunjukkan kemampuannya masing-masing dihadapan paling sedikit 3 juri.
2.1.6.1 Sistem Penilaian
Setiap tim akan dinilai sesuai dengan kriteria sebagai berikut: (dikutip dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013)
A. Kriteria Penilaian Barongsai:
a. Bentuk Barongsai, Kostum, Sopan santun, Dekorasi Nilai max 1 b. Judul dan Alur Cerita Nilai max 1
c. Keserasian Gerak Kepala dan Ekor Nilai max 2 d. Keserasian Musik dan Gerakan Barongsai Nilai max 2 e. Tingkat Kesulitan Nilai max 3
f. Ekspresi Nilai max 1 B. Durasi / Waktu
Waktu permainan Barongsai tidak boleh kurang dari 8 menit dan tidak boleh lebih dari 10 menit, persipan alat peraga tidak boleh lebih dari 5 menit.
C. Pemotongan Nilai
a) Pemotongan nilai yang diberikan oleh Juri berdasarkan warna, yaitu:
Merah : Pemotongan nilai 0,4 - Kepala dan ekor jatuh dari alat peraga.
- Kepala dan ekor terjatuh dan barongsai terlepas.
- Tidak ada tema cerita dalam permainan.
Hitam : Pemotongan nilai 0,3
- Pemain jatuh dari alat peraga tetapi barongsai masih dapat dipegang.
- Objek makanan terjatuh dan pemain tidak dapat meraihnya kembali.
- Waktu main tidak stabil, jatuh dan ditahan dengan tangan.
Kuning : Pemotongan nilai 0,2 - Terpeleset di alat peraga atau berdiri kurang stabil
| 20 - Waktu naik/main alat peraganya jatuh, rusak atau bergeser
- Waktu main peralatannya jatuh (misal stik tambur jatuh).
- Objek makanan terjatuh tapi pemain dapat meraihnya kembali.
- Makan objek makanan tidak melalui mulut.
Hijau : Pemotongan nilai 0.1
- Waktu naik ke paha terpeleset tetapi tidak smapai jatuh.
- Waktu naik alat peraga kurang stabil dan pindah tempat.
- Aksesoris terjatuh/jatuh.
- Kepala dan ekor barongsai berbenturan atau bertabakan.
- Peserta keluar dan masuk tidak teratur/rapi.
- Barongsai tidak memberi hormat.
- Membentur alat peraga.
b) Pemotongan nilai lain lain
- Permainan lebih dari waktu 6 menit dan kurang dari 8 menit (6,01 sampai 8 menit) pemotongan nilai 1.
- Permainan lebih dari waktu 10 menit dan kurang dari 12 menit (10,01 sampai 12 menit) pemotongan nilai 1.
- Permainan apabila kurang dari waktu 6 menit dan lebih dari 12 menit , permainan di – diskualifikasi
D. Larangan
Seluruh Peserta, baik Pemain Barongsai maupun pemain musik tidak boleh membawa alat bantu petunjuk waktu seperti jam tangan, stop watch dan sebagainya.
2.1.6.2 Kategori Pertandingan Barongsai
Menurut data dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dirilis oleh FOBI tahun 2013 dan merujuk pada standar International Dragon and Lion Dance Federation, terdapat 2 kategori pertandingan Barongsai, yakni:
| 21 1. Pertandingan nomor lantai
Barongsai nomor lantai (Tradisional) adalah dasar dari permainan barongsai, Barongsai ini sering kita sebut sebagai barongsai tradisional.
Permainan barongsai lantai dilakukan diatas lapangan seluas 8×8 m2 untuk barongsai tunggal dan 10×10 m2 untuk barongsai kembar, mempunyai alur cerita dan kadang-kadang menggunakan alat-alat bantu lain seperti kursi, guci, meja, jembatan, dll. Selain itu biasanya juga ada pawang singa atau Chu yang bermain bersama singa tersebut.
Ketentuan alat peraga: (dikutip dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013)
• Tinggi alat peraga, maksimum 2 meter.
• Panjang alat peraga, maksimum 10 meter
• Alat peraga harus tradisional, misalnya: kursi, meja, tangga, lemari,dll.
• Semua alat peraga dapat dilihat oleh mata.
• Tidak boleh memakai makhluk hidup.
• Jika memakai kendi/tong/guci tidak boleh diisi semen.
Ketentuan pemain dalam satu tim:
• 1 orang manajer
• 1 orang pelatih
• 1 pemain kepala
• 1 pemain ekor
Gambar 2.19 Pertandingan barongsai kategori tradisional Sumber: http://news.xinhuanet.com/english/photo/2014-01/06
• 1 orang pemain tambur
• 1 orang pemain tung
• 4 orang pemain simbal
• Maksimal 5 orang penjaga alat peraga
| 22 2. Pertandingan Nomor Tonggak
Barongsai nomor tonggak (Internasional) adalah barongsai yang dimainkan diatas deret tonggak. Dalam pertandingan barongsai internasional, jenis deret tonggak inilah yang dipertandingkan. Teknik permainan barongsai tonggak ini cukup sulit karena pemain harus melakukan gerakan-gerakan akrobatik diatas tonggak-tonggak yang diameternya sekitar 30 cm.
Ketentuan tonggak: (dikutip dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013)
• Tonggak yang paling tinggi tidak lebih dari 3 meter.
• Tonggak paling rendah tidak kurang dari 0,5 meter.
• Panjang deret tonggak maksimal 15 meter, minimal 10 meter.
• Setengah dari total tonggak harus mempunyai minimal tinggi 2 meter.
• Lingkaran pijakan tonggak berdiameter maksimal 0,38 meter
• Jarak antar tonggak minimal 0,66 meter.
Ketentuan pemain dalam satu tim
• 1 orang manajer
• 1 orang pelatih
• 1 pemain kepala
• 1 pemain ekor
Gambar 2.20 Pertandingan Barongsai kategori International Sumber: http://kwongngai.blogspot.com/
• 1 orang pemain tambur
• 1 orang pemain tung
• 4 orang pemain simbal
• Maksimal 5 orang penjaga alat peraga
| 23 2.2. Arena Barongsai
Adapun standar arena pertandingan barongsai menurut Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI pada tahun 2013 yang merujuk pada standar dari induk organisasi olahraga Barongsai di dunia, yakni International Dragon And Lion Dance Federation.
2.2.1 Standar Arena Barongsai Menurut International Dragon And Lion Dance Federation.
Pada pedoman tercantum standar ukuran lapangan, standar pencahayaan, standar suhu arena, serta fasilitas apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang arena kompetisi.
a. Lapangan
Gambar 2.21 Ukuran arena Barongsai
(Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013) Lapangan permainan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 20 meter x 10 meter. Minimal panjang lapangan ialah 18 meter. Jarak antara permukaan lantai dengan langit-langit minimal 8 meter. Permukaan dasar lapangan harus rata dan terbuat dari kayu atau beralaskan karpet.
| 24 b. Pencahayaan
Dari International Dragon And Lion Dance Federation, untuk pencahayaan pada arena barongsai yaitu 1000-1500 lux.
c. Suhu
Suhu minimum tidak boleh dibawah dari 100 C. suhu maksimum tidak boleh lebih tinggi dari 340 C.
d. Fasilitas yang dibutuhkan dalam arena barongsai sesuai dengan standar International dragon and lion dance federation.
- Arena kompetisi - Tribun penonton - Area pemanasan
- Ruang sekretariat dan ruang statistik - Ruang layanan medis
2.2.2 Tribun Penonton
Tempat duduk penonton di tribun harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (Neufert 1996:150)
Daerah penonton harus dibagi dalam kompartemen masing-masing menampung 200 orang atau maksimal 300 orang. Antara kompartemen yang bersebelahan harus dipisahkan dengan pagar permanen transparan minimal tinggi 100 cm dan maksimal 120 cm.
Tribun yang berupa balkon dipergunakan pagar dengan tinggi bagian masif minimal 40 cm dari tinggi keseluruhan 100-120cm.
Jarak antara pagar dengan tempat duduk terdepan ialah 100 cm - 120 cm.
Untuk tempat duduk VIP dibutuhkan lebar minimal 50 cm dan maksimal 60 cm dengan ukuran panjang minimal 80 cm dan maksimal 90 cm, tidak boleh ada kolong di bawah tempat duduk.
- Ruang pemain - Ruang Pers
- Ruang Komentator - Ruang Pelatihan Beban - Ruang Juri
| 25 Jenis tempat duduk tribun:
Tabel 2.2 jenis tribun penonton
Jenis Tempat Duduk Tipe dan Standar
Bench Seat (bangku)
One Piece Seats (tempat duduk per
orang)
Sumber: Neufert, 1996 : 33
2.3. Study Fasilitas Sejenis
Studi fasilitas sejenis dilakukan di tiga lokasi yang masing-masing disesuaikan dengan kebutuhan yang akan diamati. Lokasi pengamatan pertama pada GOR Purna Krida yang diamati ialah sistem struktur bentang lebar, utilitas, serta kapasitas pada gelanggang. Lokasi kedua pada Sasana Pusaka Tantra yang diamati ialah fasilitas apa saja yang dibutuhkan untuk tempat pelatihan Barongsai.
Lokasi ketiga ialah pada GOR Lila Bhuana pada saat berlangsungnya Kejuaraan Barongsai BISW (Bali International Sport Week) 13-14 Oktober 2014, yang diamati ialah kelayakan dari gelanggang tersebut untuk mengadakan pertandingan barongsai tingkat Internasional.
| 26 2.3.1 GOR Purna Krida Kerobokan
A. Lokasi
GOR Purna Krida ini berlokasi di Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Gedung ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Badung dengan fungsi utama untuk mewadahi kegiatan olah raga indoor seperti bulu tangkis, basket, voli, senam, serta kegiatan non olahraga.
Gambar 2.22 Tampak Depan GOR Purna Krida
B. Fasilitas
Fasilitas pada GOR Purna Krida dapat dilihat pada gambar 2.18 berikut:
Gambar 2.23 Denah GOR Purna Krida Sumber: Observasi September 2014
Sumber: Observasi September 2014
| 27 Gambar 2.24 Hall Utama GOR Purna Krida
C. Kapasitas
Kapasitas penonton pada GOR Purna Krida ialah sejumlah 3000 orang.
Gambar 2.25 Tribun penonton pada GOR Purna Krida D. Struktur Bangunan
Sistem upper struktur pada GOR Purna Krida menggunakan rangka baja dan terdapat akses untuk perbaikan pada bagian atas, baik untuk lampu, struktur atap, dll.
Gambar 2.26 Rangka Baja pada upper struktur Sumber: Observasi September 2014
Sumber: Observasi September 2014 Sumber: Observasi September 2014
| 28 Super struktur menggunakan struktur rangka, penggunaan kolom-kolom yang memiliki dimensi 40 cm x 40 cm. pada kolom difinishing dengan cat serta paras kerobokan yang menjadi elemen estetika.
Gambar 2.27 Kolom pada GOR Purna Krida E. Material lantai pada arena olahraga.
Lantai pada bagian arena olahraga menggunakan bahan parket.
Penggunaan parket bertujuan untuk meredam suara dan agar tidak licin. Pada bagian area bebas , lantai dilapisi dengan lantai keramik berwarna abu berukuran 30cm x 30 cm.
F. Utilitas
Sistem utilitas yang diamati ialah sistem penghawaan serta sistem pencahayaan.
• Penghawaan
Pada GOR Purna Krida menggunakan penghawaan alami dan buatan.
- Alami
Menggunakan penghawaan dari ventilasi yang berada pada bagian atap serta terdapat jendela pada bagian tribun penonton.
Gambar 2.28 Jendela dan ventilasi sebagai tempat sirkulasi udara Sumber: Observasi September 2014
Sumber: Observasi September 2014
| 29 - Buatan
Menggunakan air conditioner hanya pada ruang-ruang tertentu seperti pada ruang vip, ruang pemain, kantor KONI Badung, ruang wasit dan Ruang Medis. Selain itu terdapat juga kipas angin pada hall olahraga.
• Pencahayaan - Alami
Pencahayaan alami berasal dari setiap jendela yang ada di hall olahraga.
Gambar 2.29 Pencahaayan alami melalui jendela yang berada di sekeliling hall
- Buatan
Cahaya dihasilkan oleh cahaya lampu yangdigunakan pada setiap ruang.
Penempatan lampu pada arena olahraga diatur sedemikian rupa agar tidak menyilaukan mata.
Gambar 2.30 Penempatan lampu sebagai pencahayaan buatan Sumber: Observasi September 2014
Sumber: Observasi September 2014
| 30 2.3.2 Tempat latihan Klub/Perkumpulan Pusaka Tantra Kuta
A. Lokasi
Tempat latihan klub/perkumpulan Pusaka Tantra berlokasi di JL. Padma, No. 10 Kuta, Badung, Bali, satu lahan dengan Wihara Dharmayana Kuta. Gedung ini dikelola oleh pengurus dari Wihara Dharmayana Kuta dengan fungsi sebagai Ruang Serbaguna.
Gambar 2.31 Tampak depan
B. Denah
Gambar 2.32 Denah tempat latihan Klub/Perkumpulan Pusaka Tantra Sumber: Observasi September 2014
Sumber: Observasi September 2014
| 31 Fasilitas yang ada pada tempat latihan klub/perkumpulan Pusaka Tantra ialah gudang untuk menyimpan peralatan barongsai, toilet, padmasana, ruang serbaguna, dan parkir.
C. Struktur Bangunan
Sistem upper struktur menguunakan rangka beton dengan penutup atap menggunakan genteng.
Gambar 2.34 Rangka beton pada upper struktur
Super struktur menggunakan struktur rangka, penggunaan kolom-kolom yang memiliki dimensi 20 cm x 20 cm. pada kolom difinishing dengan keramik berwarna krem yang menjadi elemen estetika.
Gambar 2.35 Tampak kolom pada hall Gambar 2.33 Hall
Sumber: Observasi September 2014
Sumber: Observasi September 2014 Sumber: Observasi September 2014
| 32 D. Material Lantai
Material lantai yang digunakan pada hall tempat latihan ialah lantai yang difinishing dengan semen poles. Selain pada ruang tempat latihan, material yang digunakan ialah keramik berukuran 30 cm x 30 cm.
Gambar 2.30 Penampang lantai pada Hall
E. Utilitas
Adapun sistem utilitas yang diamati ialah sistem penghawaan serta sistem pencahayaan.
• Penghawaan
Penghawaan pada tempat latihan Pusaka Tantra menggunakan penghawaan alami.
Bangunan bersifat terbuka tanpa dinding masif. Sehingga sirkulasi udara menjadi lancar.
• Pencahayaan
Pencahayaan pada tempat latihan Pusaka Tantra menggunakan pencahayaan alami dan buatan.
- Alami
Bangunan bersifat terbuka tanpa dinding masif, sehingga cukup cahaya.
- Buatan
Cahaya dihasilkan oleh cahaya lampu yang digunakan pada setiap ruang.
Penempatan lampu pada ruang latihan diatur sedemikian rupa agar tidak menyilaukan mata.
Sumber: Observasi September 2014
| 33 Gambar 2.31 Penempatan lampu sebagai cahaya buatan
2.3.3 GOR Lila Bhuana saat penyelenggaraan kejuaraan Barongsai BISW 2014 (Bali International Sport Week)
Penyelenggaraan kompetisi Barongsai pada tanggal 13-14 Oktober 2014 diikuti oleh 7 negara yakni: Indonesia, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, Vietnam, Makau dan Singapura. Ada banyak kekurangan yang dimiliki oleh gelanggang olahraga ini untuk menyelenggarakan kompetisi Barongsai. Kekurangan tersebut antara lain ialah sebagai berikut:.
1. Luas arena/hall tidak sesuai standar
Sesuai standar yang di keluarkan oleh International Dragon And Lion Dance Federation, diperlukan lebar 3 meter dari garis terluar dari arena sebagai tempat untuk juri dan meja juri penilai. Sementara pada pengamatan di lapangan, hanya tersedia jarak 1,2 meter dari garis terluar dan sudah terhimpit dengan tribun penonton. Hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan bagi juri yang menilai, membahayakan juri karena berada terlalu dekat dengan arena, privasi penilaian menjadi berkurang karena bersentuhan langsung dengan tribun penonton.
Gambar 2.33Posisi juri yang mengakibatkan berkurangnya privasi Sumber: Observasi September 2014
Sumber: Observasi Oktober 2014
| 34 2. Tidak tersedianya ruang untuk pemain dari klub-klub yang bertanding
Seperti halnya GOR Purna Krida di Kerobokan, Badung dan gelanggang- gelanggang lainnya di Bali, GOR Lila Bhuana hanya memiliki 2 ruang pemain (karena pertandingan cabang olahraga seperti voli, basket, futsal, dll hanya mempertandingkan 2 tim yang berhadapan). Sementara kompetisi Barongsai mempertandingkan banyak klub yang tampil bergantian dan masing-masing klub membawa peralatan atau properti pendukung yang tidak sedikit. Hal ini mengakibatkan para atlet dari berbagai klub berlesehan di sisi-sisi arena, berdesakan dengan peralatan atau properti yang mereka bawa. Bahkan untuk berganti dan menjemur pakaian pun langsung mereka lakukan di tempat tersebut, sehingga mengganggu pemandangan penonton ke arena.
Gambar 2.34 para klub meletakkan barang-barang mereka disisi arena
Gambar 2.35 jemuran pakaian pada tribun
3. Tidak terdapat ruang medis
Seperti hal nya ruang UKS pada sekolah, gelanggang olahraga selayaknya memiliki ruang medis yang berfungsi sebagai pertolongan pertama jika terjadi insiden atau cedera yang dialami atlet yang bertanding.
Sumber: Observasi Oktober 2014
| 35 Gambar 2.38 perawatan atlet yang cedera parah hanya di arena
4. Tidak terdapat area pemanasan
Dibutuhkan area untuk pemanasan para atlet sebelum memasuki arena pertandingan. Dari pengamatan di lapangan, para atlet yang bertanding melakukan pemanasan pada koridor. Hal ini tentunya mengganggu sirkulasi dan para atlet pun terganggu oleh lalu lalangnya penonton.
Gambar 2.39 pemanasan pada koridor yang sempit
5. Tidak terdapat ruang pelatihan beban
Sesuai standar yang di keluarkan oleh International Dragon And Lion Dance Federation, dibutuhkan ruang pelatihan beban untuk meningkatkan kemampuan fisik para atlet. Namun beberapa gelanggang di Bali khususnya pada GOR Lila Bhuana tidak tersedia fasilitas tersebut.
6. Tidak terdapat ruang untuk para juri
Pada pengamatan di lapangan, pada GOR Lila Bhuana fungsi ruang juri untuk beristirahat, bersiap menuju arena, serta meletakkan barang belum berfungsi secara maksimal.
Sumber: Observasi Oktober 2014
Sumber: Observasi Oktober 2014
| 36 Gambar 2.40 Para juri ketika bersiap sebelum dimulainya pertandingan
7. Tidak tersedianya ramp
Tidak tersedianya ramp mengakibatkan klub-klub yang bertanding kesulitan untuk memindahkan properti yang akan mereka gunakan. Beberapa properti seperti alat musik sebenarnya sudah dilengkapi dengan roda, tapi tidak adanya ramp membuat roda tersebut seakan percuma.
2.4. Spesifikasi Umum Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai Adapun spesifikasi umum dari Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai, ialah sebagai berikut:
2.4.1 Pengertian Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai
Arena kompetisi dan pusat pelatihan barongsai merupakan suatu tempat atau wadah untuk melaksanakan kompetisi atau pertandingan olahraga barongsai dan juga sebagai tempat pembinaan yaitu dengan melakukan pelatihan terhadap atlet-atlet barongsai serta pelatih hingga juri pertandingannya.
2.4.2 Fungsi A. Fungsi Utama
Kompetisi
Fungsi utama dari Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini adalah sebagai tempat untuk mewadahi kompetisi antar klub barongsai, baik tingkat daerah, nasional hingga internasional.
Pelatihan
Pembinaan kepada atlet-atlet barongsai agar mampu berprestasi di berbagai kompetisi tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Sebagai tempat
Sumber: Observasi Oktober 2014
| 37 silaturahmi antara atlet dari berbagai klub untuk berbagi ilmu yang dimiliki melalui rutinitas latihan Selain itu pembinaan juga dilakukan agar terjadi regenerasi atlet untuk keberlangsungan olahraga barongsai di Bali.
B. Fungsi Penunjang
Cafetaria
Gym/fitness
2.4.3 Tujuan dan sasaran
Adapun tujuan dari fasilitas ini ialah:
a. Memfasilitasi kegiatan Olahraga barongsai untuk mendapatkan fasilitas khusus yang lebih aman, lengkap dan menarik dalam melakukan latihan.
b. Sebagai usaha untuk mengembangkan Olahraga Barongsai di Bali agar mampu berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
c. Sarana untuk menyalurkan minat dan bakat masyarakat yang mencintai olahraga barongsai dan ingin berlatih barongsai dengan fasilitas yang mendukung.
2.4.4 Civitas.
Adapun civitas Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini adalah sebagai berikut :
1. Klub yang bertanding beserta perangkat pertandingan.
Merupakan civitas yang menggunakan fungsi utama dari arena kompetisi ini, seperti: Pelatih, atlet dan juri pertandingan.
2. Pengguna tempat latihan
Merupakan civitas yang menggunakan fungsi utama dari Pusat Pelatihan ini, seperti: Pelatih,dan Murid.
3. Pengelola
Merupakan civitas orang-orang yang mempunyai tugas sebagai pegelola gedung pelatihan dan staff atau karyawan fungsi penunjang.
4. Pengunjung
Pengunjung merupakan orang yang menonton kompetisi hingga yang mengantar jemput atlet, dan civitas-civitas lain yang datang selain untuk latihan barongsai.
| 38 2.4.5 Fasilitas yang akan disediakan.
Adapun fasilitas-fasilitas yang akan disediakan pada Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini adalah:
a. Fasilitas Utama
Fasilitas utama yang akan disediakan di Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini lebih ditujukan untuk menampung kegiatan utama yang akan terjadi:
1. Arena kompetisi dan latihan.
2. Area pemanasan 3. Ruang pemain 4. Ruang Medis
5. Gudang Penyimpan Peralatan barongsai b. Fasilitas Penunjang dan Service
Fasilitas Penunjang dan Service Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai:
1. Lobby 2. Asrama atlet 3. Fitness Area 4. Cafetaria 5. KM/WC/Urinoir 6. Parkir
7. ME
2.4.6 Pengelola
Sistem pengelolaan sepenuhnya dipegang oleh induk organisasi olahraga Barongsai yakni Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Bali sehinga event kompetisi dan program latihan maupun pembinaan dapat berjalan dengan baik. Untuk memantau proyek ini diperlukan lembaga khusus. Dalam hal ini yang berwenang dalam pemantauan dan pengawasan kegiatan keorganisasian yaitu garis koordinasi di atasnya yaitu Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali.
| 39
BAB III
STUDI PERENCANAAN ARENA KOMPETISI DAN PUSAT PELATIHAN BARONGSAI DI DENPASAR
Pada bab ini mengungkapkan tiga buah komponen yaitu, pertama potensi kota Denpasar sebagai kawasan perencanaan serta kondisi dari Kota Denpasar yang mengemukakan tentang kondisi fisik dan non fisik. Komponen yang kedua analisis pengadaan proyek dengan menggunakan metode analisis Strength, Weakness, Opportunity, Treathness (SWOT). Dan komponen yang ketiga adalah spesifikasi khusus.
3.1 Kota Denpasar sebagai Wilayah Perencanaan
Kedudukan Kota Denpasar dalam konteks regional yaitu sebagai pusat wilayah pengembangan Bali tengah dan juga Bali secara keseluruhan. Kota Denpasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengendalian arah dan kebijakan pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan selanjutnya. Berikut akan dibahas mengenai Kota Denpasar sebagai wilayah perencanaan beserta
| 40 alasan dipilihnya Denpasar sebagai wilayah perencanaan dan kondisi fisik maupun non fisik Kota Denpasar.
3.1.1 Dasar pemilihan Kota Denpasar Sebagai Wilayah Perencanaan
Terdapat 2 faktor yang mendasari Denpasar sebagai lokasi perencanaan, yakni faktor umum dan faktor khusus.
1. Umum
a. Denpasar merupakan ibu kota Provinsi Bali, sehingga untuk fasilitas arena kompetisi dan pusat pelatihan yang mencakup provinsi Bali, Denpasar merupakan wilayah perencanaan yang tepat.
b. Kota Denpasar yang sangat strategis dengan fasilitas umum dan infrastruktur yang lengkap serta mudah untuk dicapai dari kabupaten-kabupaten yang ada di Bali.
2. Khusus
a. Provinsi Bali dengan Kota Denpasar sebagai ibu kota belum memiliki fasilitas yang secara khusus untuk olahraga Barongsai.
b. Lokasi yang strategis karena sebagian besar klub yang ada di Bali berasal dari Kota Denpasar dan sekitarnya.
3.1.2 Kondisi Kota Denpasar Sebagai Lokasi Perencanaan
Kondisi yang akan dibahas ialah tentang kondisi fisik dan kondisi non fisik Kota Denpasar.
1. Kondisi Fisik
Kondisi fisik dari Kota Denpasar dapat dilihat berdasarkan letak astronomis dan geografis, luas wilayah, topografi dan geologi.
A. Letak Astronomis dan Geografis
Secara letak astronomis dan geografis, Kota Denpasar terletak antara koordinat 08°35’31”-08°44’49” LS dan 115°10’23”-115°16’27” BT, dan merupakan ibu kota Provinsi Bali. Adapun batas-batas wilayah dari Kota Denpasar adalah sebagai berikut :
• Utara : Kecamatan Mengwi (Kab. Badung) dan Kecamatan Sukawati (Kab. Gianyar)
• Timur : Kecamatan Sukawati (Kab. Gianyar) dan Selat Badung.