• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF IMAM ABU HANIFAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF IMAM ABU HANIFAH"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF IMAM ABU HANIFAH. SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Fakultas Syari’ah Dalam Ilmu Jinayah Siyasah. Oleh : MALIK KHABIBURROHMAN NIM. 052211180. FAKULTAS SYARI’AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2010 i.

(2) ABSTRAK Dalam hukum pidana dikenal beberapa asas yang menjadi dasar bagi pembentukan serta penerapan hukum. Asas-asas ini merupakan asas yang telah diakui oleh hukum Internasional sebagai dasar bagi suatu negara untuk menerapkan hukum yang berlaku di negra tersebut. Akan tetapi dalam penerapannya, asas-asas ini dapat saling bertautan dalam masalah kejahatan yang melibatkan dua atau lebih negara. Islam sendiri meskipun pada dataran ideal ajaran-ajarannya bersifat universal, akan tetapi pada dataran praktis lebih bersifat regional. Berdasarkan hal ini hukumhukum Islam mengenai pidana khususnya hanya dapat diterapkan dalam wilayah-wilayah kekuasaan dar as-salam. Dalam penerapan hukum, suatu negara dapat menerapkan hukum terhadap kejhatan yang terjadi di wilayahnya berdasarkan asas teritorial yang menitik beratkan tempat (locus delicti) sebagai dasar pemberlakuan hukum. Setiap orang (warga negara maupun warga negara Asing) yang mengancam keamanan negara maupun warganya di luar batas-batas wilayah negara berlaku ketentuan pidana berdasarkan asas personalitas (pasif). Adapun dalam hukum pidana Islam ketentuan mengenai batas-batas berlakunya ketentuan pidana salah satunya dapat dilihat dalam teori imam madzhab Hanafi menekankan aspek tempat (locus delicti) sebagai dasar pemberlakuan hukum pidana Islam. Teori Imam Abu Hanifah tidak jauh berbeda dengan hukum pidana Indonesia artinya sama-sama menekankan pada unsur tempat (wilayah teritorial), akan tetapi hukum pidana Indonesia lebih lengkap dalam menerapkan pidana yang lebih dikenal sebagai asas hukum yaitu; asas teritorial, asas personal aktif, personal pasif dan asas universal. Dapat kita ketahui dalam KUHP pasal 2-9. Dalam hukum Internasional setiap negara dianggap memiliki wewenang untuk melaksanakan ketentuan hukum terhadap setiap kejahatan yang terjadi di wilayah negara tersebut. Adapun pemberlakuan hukum terhadap warga negara yang berad di luar wilayah negara tersebut sebagai kewajiban sekaligus tanggung jawab sebagai warga negara. Asas-asas yang menjadi dasar diberlakukannya ketentuan pidana menurut tempat (locu delicti); asas teritorial, asas nasionalitas aktif dan pasif dan asas universal maupun teori Imam Abu Hanifah, dalam penerapannya memilki persamaan dan perbedaan serta titik taut yang dapat dipertemukan. Dalam hal penerapan hukum tehadap kejahatan yang berlaku di wilayah negara (dar as-salam dan dar al-harb), setiap negara memiliki wewenang untuk menerapkan hukum pidana terhadap setiap kejahatan yang terjadi di batas-batas wilayah negara tersebut tanpa melihat kewarganegaraan pelaku. Dalam hukum Internasional hal ini dapt dibenarkan dikarenakan negara yang menjadi tempat dilakukannya suatu kejahatan dianggap sebagai negara yang paling memiliki wewenang untuk menerapkan hukum pidana nasionalnya. Dengan demikian hukum pidana negara yang menjadi tempat (locus delicti) dilakukannya kejahatan berlaku bagi seorang warga dar as-salam yang melakukan kejahatan di wilayah dar al-harb atau seorang warga dar alharb yang melakukan kejahatan di wilayah dar as-salam.. ii.

(3) DEKLARASI. Dengan penuh kejujuran. dan tanggung jawab penulis. menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini satu pun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi dalam referensi yang penulis jadikan bahan rujukan.. Semarang, 31, Mei, 2010 Deklarator,. Malik Khabiburrohman NIM. 052211180. iii.

(4) PERSETUJUAN PEMBIMBING. Lamp. : 4 (empat) eksemplar Hal. : Naskah Skripsi a.n. Sdr. Malik Khabiburrohman. Assalamu'alaikum Wr. Wb. Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini saya kirim naskah skripsi saudara : Nama. : Malik Khabiburrohman. Nim. : 052211180. Judul. : TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF. IMAM ABU HANIFAH Selanjutnya saya mohon agar skripsi saudara tersebut dapat segera dimunaqasyahkan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.. Semarang, 31, Mei, 2010 Pembimbing I. Pembimbing II. Drs. H. Muhyiddin, M. Ag. NIP. 19550228 198303 1 003. Drs. Moh Solek, M.A NIP. 19660318 199303 1 004. iv.

(5) PENGESAHAN PENGUJI. Nama. : MALIK KHABIBURROHMAN. NIM. : 052211180. Jurusan. : JINAYAH SIYASAH. Judul. :TEORI LOCUS DELECTI PERSPEKTIF IMAM ABU HSNIFAH. Telah memunaqasahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang dinyatakan lulus pada tanggal: 28 Juni 2010 Dan dapat diterima sebagai pelengkap ujian akhir Program sarjana Strata satu (1) guna memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Syari'ah. Semarang, 22 Juni 2010 Mengetahui Ketua Sidang. Sekretaris Sidang. Drs. Miftah AF, M. Ag. NIP. 19530515 198403 1 001. Drs. Moh. Solek, M.A. NIP. 19660318 199303 1 004. Penguji I. Penguji II. Drs. H. A. Fatah Idris, M. S.I. NIP. 19520805 198303 1 002. H. Ade Yusuf Mujadid, M. Ag. NIP. 19670119 199803 1 002. Pembimbing I. Pembimbing II. Drs. H. Muhyidin, M.Ag NIP. 19550228 198303 1 003. Drs. Moh. Solek,M.A NIP. 19660318 199303 1 004. v.

(6) MOTTO. ّ ‫ا

(7) ور‬ “Hukum itu berputar bersama illatnya ”.. vi.

(8) PERSEMBAHAN. Salah satu karya sederhana menggapai cita, takkan berarti tanpa kehadiran mereka, penulis persembahkan karya ini sebagai salah satu wujud mengangkat derajat kedua orangtua dan keluarga: 1. ”Kedua pahlawanku paling sabar” dan sumber inspirasi ”(bapak Asnawi, BA dan Ibu Hanik Siti Musyarofah, BA)” pemilik samudera kasih sayang yang tak pernah surut sehingga tetap tegar dalam menyongsong masa depan yang gemilang, yang selalu mendoakan dan tiada henti mendidik dan selalu berjuang untuk kehidupan keluarga, Insya’Alloh Tuhan SWT membalas keduanya dengan derajat yang lebih tinggi, Amin... 2. Saudara ku, keluarga “TELETUBBIS”: mas Fuad, Risma, dan Riza yang selalu memberi motivasi belajar. 3. “Hana Mufida”, My Inspirasi yang selalu mendukung setiap waktu, memotivasi dan fasilitas selama pembuatan skripsi, terima kasih atas kesabaran, perhatian, kesetiaan dan pengabdiannya. 4. “Mas. Syiarudin”, terimakasih atas didikan dan perhatiannya selama di Semarang.. vii.

(9) KATA PENGANTAR. Bismillaahirrahmaanirrahiim Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas nikmat, taufiq dan hidayah-Nya yang telah diberikan kepada makhluk-makluk Nya. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi. Sholawat serta Salam kehadirat Nabi Agung Muhammad Saw, keluarganya, sahabatsahabatnya, semoga kita mendapatkan syafaatnya baik di dunia maupun di akhirat nanti, dan semoga kita betul-betul diakui sebagai umat beliau, Amien. Selanjutnya, penulis juga memanjatkan syukur kepada Allah SWT sehingga untukmelengkapi tugas penulis sebagai mahasiswa dengan menyusun skripsi denganjudul ”TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF IMAM ABU HANIFAH” dapat diselesaikan meskipun masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Penulis sangat menyadari bahwa selain dukungan dan bantuan dari orang tua dalam menyusun skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak baik materi maupun spiritual (do’a). Dengan rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Rektor IAIN Walisongo Semarang 2. Bapak Dekan Fakultas Syari’ah dan staf. Jinayah Siyasah IAIN Walisongo. Semarang 3. Bapak Drs. H. Muhyiddin, M.Ag, dan bapak Drs. Moh.Solek, MA selaku pembimbing yang telah membantu dan membimbing serta memberi pengarahan penulis sehingga skripsi ini selesai. 4. Bapak M. Saifullah, M.Ag, selaku wali studi selama ini. 5. Dosen pengajar di lingkungan Fakultas Syari’ah, dan staf karyawan yang telah membekali ilmu kepada penulis. 6. Kawan-kawan organisasi politik ”GERINDRA” dan LSM ”JOGLO”, terimakasih atas kerjasama dan motivasinya. 7. Teman-teman kost AL-FIRDAUS II: Ridho’, Ahnaf, , Anam, Arip, Anshori, Baidhowi, Jawaher, Sarif, Uly, Amron dan Faesol. viii. yang selalu memberi.

(10) semangat, selalu mendukung, dan senantiasa berbagi rasa dalam suka maupun duka. 8. Sahabat-sahabat se nasib dan se perjuangan, semua anak Jinayah Siyasah khususnya kelas JS B angkatan 2005 yang selalu SEMANGAT…!!! 9. Keluarga besar “KMT” cabang Walisongo Semarang yang telah memberikan banyak pengalaman berharga. 10. Sahabat-sahabat PPL - KKL, terima kasih atas kerjasamanya. 11. Kawan-kawan KKN Pahlawan di desa Curug 1000, terima kasih atas kebersamaan nya. Kapan kita ngajar WB lagi? 12. Om Sowam n Bang Thobroni yang selalu memberikan informasi 13. UKM WSC (Walisongo Sport Club), Ayo… tembus Liga Super,.!!! 14. Semua pihak yang berpengaruh dalam pembuatan skripsi ini, terima kasih. 15. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, atas bantuan, motivasi dan do’a yang telah diberikan kepada penulis. Semua bantuan dan dukungan yang telah mereka berikan dengan tulus ikhlas semoga mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan penulis, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan, demi kemajuan penulis. Selanjutnya bagi para pembaca skripsi ini, semoga skripsi ini dapat memberikan sedikit manfaat meskipun dalam penulisan masih perlu ditindaklanjuti untuk kesempurnaannya. Untuk itu sangat kami harapkan bagi pembaca atas saran serta kritik yang membangun untuk menambah wawasan keilmuan dalam bidang ilmu sosial, ilmu hukum dan ilmu politik.. Semarang, Penulis, 31, Mei, 2010. Malik Khabiburrohman NIM. 052211180. ix.

(11) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ………………………………………………………….… i ABSTRAK ………………………………………………………….…………… ii DEKLARASI …………………………………………………………..……...... iii NOTA PEMBIMBING ……………………………………………….……....... iv PENGESAHAN …………………………………………………………..…….. v MOTTO ………………………………………………..……………………...… vi PERSEMBAHAN …………………………………………………………….… vii KATA PENGANTAR ………………………………………………………...... viii DAFTAR ISI …………………………………………………………………..… x BAB I. : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah …………….……………….…….. 1 B. Rumusan Masalah ……………………….…………….…… 7 C. Tujuan dan Kegunaan ……………….…………..…………. 7 D. Telaah Pustaka …….…………………………….…………. 8 E. Metode Penelitian ……………………………….….………. 12 F. Sistematika Penulisan Skripsi ………………………..……... 15. BAB II. : KETENTUAN HUKUM PIDANA MENURUT TEMPAT (LOCUS DELICTI) PERSPEKTIF HUKUM POSITIF A. Pengertian Locus Delicti …………...…...………......…….… 17 B. Teori Locus Delicti ...............................................…...…….. 18 1. Teori Personal …………………………………………. 18 2. Teori Alat (instrument) ………………………………... 19 3. Teori Akibat …………………………………………… 19 C. Penerapan Teori Locus Delicti (Asas Berlakunya undang-undang pidana menurut hukum pidana positif) …... 20 1. Asas Teritorial ……………………………………..….. 20 2. Asas Kewarganegaraan (Nasional Aktif) ……………... 29 3. Asas Kewarganegaraan (Nasional Pasif) ……………… 34 4. Asas Universal ………………………………………… 36. BAB III. : TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF IMAM ABU HANIFAH A. Biografi Singkat … ..………………...…………..…….…… 41 B. Istinbat Hukum Imam Abu Hanifah ……..……...……..…... 45 C. Teori Locus Delicti .…………………………………….….. 54. x.

(12) BAB IV. : ANALISIS TEORI DAN PENERAPAN LOCUS DELICTI (KETENTUAN HUKUM PIDANA MENURUT TEMPAT) PERSPEKTIF IMAM ABU HANIFAH A. Teori Locus Delicti ............................................................. 63 B. Penerapan Teori Locus Delicti ............................................ 71. BAB V. : PENUTUP A. Kesimpulan …………………………………………….…. 82 B. Saran ………………………………………………….…… 83 C. Penutup ……………………………………………….…… 84. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN. xi.

(13) BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang menganut sistem hukum campuran dengan sistem hukum utama yaitu sistem hukum Eropa Kontinental. Selain sistem hukum Eropa Kontinental, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat dan sistem hukum agama, khususnya hukum (syari’ah) Islam.1 Pengaruh era globalisasi di segala bidang kehidupan masyarakat kini tidak dapat terelakkan dan sudah dapat dirasakan hampir di semua negara, terutama di negara berkembang seperti Indonesia pada umumnya. Pengaruh ini ada yang berdampak positif dan ada yang berdampak negatif. Pengaruh positif yang dapat dirasakan di antaranya adalah adanya peningkatan hubungan masyarakat Internasional yang pesat di bidang perekonomian pada umumnya dan bidang perdagangan pada khususnya. Pengaruh yang berdampak negatif antara lain meningkatnya lalu lintas tindak pidana lintas teritorial antara satu negara dengan negara lainnya. Perkembangan tindak pidana ini selain telah menimbulkan dampak yang sangat merugikan kepentingan kesejahteraan, keamanan dan ketertiban suatu negara, juga telah. 1. http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum/tangal 20, Nopember, 2009, pukul 21.00 WIB.. 1.

(14) 2. menimbulkan sensitivitas hubungan diplomatik antara negara-negara yang terlibat dalam jaringan tindak pidana yang ber dimensi Internasional.2 Salah. satu. dampak. tindak. pidana. Internasional. yang dapat. menimbulkan sensitivitas hubungan diplomatik (karena dominan nya faktor politik dalam penyelesaian kasus pidana yang melibatkan lebih dari satu negara) antara satu negara dengan negara lainnya adalah masalah yuridiksi3 kriminal. Dalam KUHP Indonesia secara tersirat disebutkan beberapa asas yang menjadi landasan bagi pembentukan serta pemberlakuan hukum pidana atas suatu peristiwa pidana menurut tempat yaitu asas teritorial, asas personalitas berdasarkan. kewarganegaraan. aktif,. asas. personalitas. berdasarkan. kewarganegaraan pasif dan yang terakhir adalah asas universal.4 Asas-asas ini merupakan dasar yang di atasnya dapat dilaksanakan yuridiksi suatu negara.. 2. Romli Atmasasmita, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, Bandung: Mandar Maju, 1995, hlm 1. 3 Pengertian yuridiksi atau wewenang harus dibedakan dengan pengertian berlakunya undang-undang. Yuridiksi berkaitan dengan kedaulatan suatu negara untuk menangkap, menahan dan mengadili setiap kejahatan yang terjadi di wilayah teritorial negara yang bersangkutan. Penjelasan khusus mengenai yuridiksi ini berkaitan dengan locus delicti. Doktrin mengenai penentuan locus delicti atau tempat tindak pidana adalah mengenai penetapan kompetensi relatif dari suatu pengadilan dan untuk menentukan berlakunya undang-undang. Penentuan kompetensi pengadilan telah diatur di dalam Bab X Pasal 84-88 KUHAP. Sedangkan pengertian berlakunya undang-undang pidana berkaitan erat dengan jangkauan efektivitas berlakunya undang-undang hukum pidana suatu negara. Hal ini telah diatur dalam Pasal 1 (menurut waktu) dan Pasal 2-9 (menurut tempat). Meskipun berkaitan, kedua pengertian ini mempunyai pengaturan yang berbeda dan perbedaan ini tergantung dilihat dari sudut sistem hukum yang berlaku, yaitu sistem Civil Law atau sistem Common Law. Sistem Civil Law menempatkan undang-undang sebagai sumber hukum utama, sedangkan Common Law menempatkan yurisprudensi sebagai sumber hukum yang utama. Lihat Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana, Bandung: Penerbit Mandar Maju, 1996, hlm. 84-86. 4 Asas-asas ini ditulis secara tersirat dalam Pasal 2-9 KUHP. Meskipun demikian dalam pasal-pasal tersebut dapat ditemukan aturan tentang pemberlakuan undang-undang pidana Indonesia dilihat dari segi tempat. Lihat Moeljanto, Kitab Undang-Undang Hkum Pidana, Jakarta : Bumi Aksara, cet-27, 2008, hlm. 3-5..

(15) 3. Asas-asas tersebut juga dianut oleh sebagian besar hukum pidana negara lain di dunia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asas-asas tersebut merupakan asas-asas hukum pidana Internasional yang berlaku umum.5 Penerapan asas-asas tersebut oleh negara-negara dalam rangka menerapkan hukum pidana nasional nya masing-masing dalam beberapa masalah dapat menimbulkan pertautan yuridiksi, di antaranya adalah terhadap tindak pidana yang melibatkan dua negara atau lebih. Begitu juga dengan hukum pidana Indonesia dalam kasus pidana yang memiliki dimensi Internasional (transnasional).6 Asas teritorial terdapat dalam pasal 2 KUHP yang berbunyi: “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia berlaku bagi setiap orang yang dalam daerah Republik Indonesia melakukan sesuatu tindak pidana”. Asas teritorial ini melahirkan yuridiksi teritorial, yaitu kedaulatan atau kewenangan suatu negara yang berdasarkan hukum Internasional untuk mengatur segala sesuatu yang terjadi dalam batas-batas wilayah negaranya. Salah satu wujud dari yuridiksi teritorial suatu negara adalah membuat serta memberlakukan hukum pidana nasional nya terhadap tindak pidana yang terjadi dalam wilayah negara tersebut. Ketentuan ini berlaku bagi warga. 5. I Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional dan Ekstradisi, Bandung: Yrama Widya, 2003, hlm. 11. 6. Bisa jadi satu kasus kejahatan melibatkan beberapa negara seperti tindak pidana yang dilakukan oleh seorang warga Indonesia di wilayah teritorial Malaysia. Kasus seperti ini akan melahirkan pertautan yuridiksi dalam menentukan hukum pidana negara mana (Indonesia atau Malaysia) yang berlaku terhadap kasus pidana tersebut. Hal ini bisa terjadi karena Malaysia dapat memberlakukan hukum pidana nya terhadap pelaku atas dasar asas teritorial karena perbuatan tersebut terjadi di wilayah teritorial Malaysia sedangkan Indonesia bisa memberlakukan hukum pidana nasional berdasarkan asas nasional aktif. Lihat Ibid., hlm. 17-21..

(16) 4. negaranya sendiri maupun orang asing yang melakukan suatu tindak pidana.7 Ini merupakan dasar yang diunggulkan bagi pelaksanaan yuridiksi negara. Peristiwa yang terjadi dalam batas-batas teritorial suatu negara dan orangorang yang berada di wilayah tersebut sekalipun untuk sementara, pada lazimnya tunduk pada penerapan hukum lokal.8 Dalam hukum pidana Islam sendiri meskipun secara teoritis ajaran Islam untuk seluruh dunia (universal), peraturan-peraturannya tidak saja mengikat kaum muslimin yang hidup di bawah kekuasaan negara Islam melainkan juga mereka yang berada di luar kedaulatan negara Islam,9 Berbeda dengan syari’at nabi-nabi sebelumnya yang bersifat lokal dan temporal, syari’at Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW bersifat Internasional dan kekal hingga akhir zaman. Dengan kata lain syari’at Islam bersifat universal melintasi batas-batas ruang dan waktu. Hal ini ditegaskan dalam Firman Allah SWT dalam surat As-Saba’ ayat 28:. ‫ن‬ َ !ُ#َ$ْ َ َ ‫س‬ ِ 

(17)  ‫ َأ ْآ َ َ ا‬

(18) ِ َ‫س ًَِا َو ًَِا َو‬ ِ 

(19) ِ ً 

(20) َ‫ك ِإ

(21)  آ‬ َ َْ َ ْ‫َوَ َأر‬ (٢٨) Artinya: Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Q.S. AsSaba’: 28).10 Akan tetapi pada dataran praktis tidaklah demikian. Amin Widodo berpendapat bahwa meskipun pada asasnya hukum Islam itu berlaku universal 7. I Wayan Parthiana, 0p.cit., hlm. 12-13. Rebecca M.M. Wallace, Hukum Internasional, alih bahasa Bambang Arumanadi, Semarang: IKIP Semarang Press, 1993, hlm. 120. 9 ‘Abd al-Qadir ‘Audah, at-Tasyri al-Jana’i al-Islamiy Muqaranan bi al-Qanun al-Wad‘iy, Juz. I, Beirut: Muasasah ar- Risalah. 1994, hlm. 275. 10 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah, Semarang : Toha Putra, 2006, hlm.688. 8.

(22) 5. akan tetapi dilihat dari segi ‘amaliyyah-nya adalah bercorak iqlimiyyah, artinya hukum Islam hanya dapat diterapkan dalam lingkungan yuridiksi dar as-salam.11 Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa hukum Islam mempunyai batasan mengenai kekuasaan berlakunya ketentuan pidana dilihat dari segi tempat. Tidak di segala tempat (wilayah atau negara) hukum Islam dapat diterapkan, bahkan dalam negara yang hukum-hukumnya dibangun berlandaskan syariat Islam sekalipun terkait dengan siapa yang menjadi pelaku dan di mana perbuatan tersebut dilakukan. Abu Hanifah berpendapat bahwa Hukum Islam diterapkan atas jarimah (tindak pidana) yang dilakukan di dar as-salam, yaitu tempat-tempat yang masuk dalam kekuasaan pemerintahan Islam tanpa melihat jenis jarimah maupun pelaku, muslim maupun non-muslim.12 Di luar dar as-salam hukum Islam yang menyangkut masalah pidana tidak berlaku kecuali untuk kejahatan-kejahatan yang berkaitan dengan hak perseorangan (haq adamiy). Pendapat yang popular yang selalu menjadi rujukan dan sandaran hujjah ialah pengertian Dar kufr yang disebut oleh al-Kasani dari Mazhab Hanafi dalam Kitabnya Bada'I'alsana'I', juz 7, Al-Kasani menyebut pendapat Abu Yusuf dan Muhammad al-Syaibani (murid Abu Hanifah): Maksudnya: Sesungguhnya kenyataan yang kami sebut dar al-Islam dan dar kufr ialah menyandarkan keadaan negara kepada Islam dan kepada kufur. Sebenarnya disandarkan. 11. L. Amin Widodo, Fiqh Siyasah dalam Hubungan Internasional, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994, hlm. 17. 12 T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Hukum Antar. Golongan, (ed.) H.Z. Fuad Hasbi Ash Shhidieqy, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001, hlm. 8..

(23) 6. negara kepada Islam atau kepada kufur adalah kerana zahir (menonjolnya) Islam atau menonjolnya kufur di dalamnya.13 Teori Abu Hanifah menitikberatkan pada tempat sebagai unsur utama untuk menentukan berlaku tidaknya ketentuan hukum Islam. Pada dasarnya, berlakunya hukum pidana itu berkaitan erat dengan kondisi suatu masyarakat yang mengenal struktur kekuasaan. Dalam pelaksanaannya, sesungguhnya pemberian hukuman kepada setiap pelaku kejahatan yang bersifat publik terdapat dalam setiap masyarakat. Salah satu dari ajaran Islam adalah memperhatikan dan menghormati hak hidup manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. Islam menyamakan kedudukan kaum muslimin dengan kaum śimmi, yaitu orang kafir yang berlindung di bawah kekuasaan Negara Islam, dalam kehidupan sosial dan politik. Sedangkan dalam bidang akidah tidak boleh ada persamaan sama sekali, juga tidak boleh kompromi. Dalam hal ini Islam telah menarik garis nyata antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir.14 Terkait dengan bahasan di atas yang kemudian menjadi persoalan adalah apakah teori Imam Abu Hanifah Indonesia merupakan salah satu bagian dari negara Islam (dar as-salam)? Atau dar al-harby?, bagaimana rumusan (aplikasi) asas yang membatasi berlakunya ketentuan pidana (teori Imam Abu Hanifah)? Artinya, bagaimana bila seorang penduduk Indonesia atau penduduk negara yang memakai hukum pidana positif melakukan suatu 13. Al-Kasani, Badaa’I’alsana’I’ fi tartibi asy-syara’i, juz 7Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997, hlm. 130-131. 14 Hasmi, A., Dimana Letak Negara Islam, cet.I. ( Surabaya : P.T. Bina Ilmu, 1984 ), hlm. 222. Lihat juga ENSIKLOPEDI Islam, Dewan Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994).V: 236..

(24) 7. tindak pidana di negara yang menerapkan aturan pidana Islam (dar as-salam) atau sebaliknya, bagaimana jika seorang muslim atau seorang penduduk dar as-salam melakukan tindak pidana di Indonesia atau negara yang landasan hukumnya berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum pidana positif. Ketentuan hukum pidana manakah yang berlaku dalam kasus tersebut? Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul “TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF IMAM ABUHANIFAH” untuk mendapatkan kajian yang lebih mendalam mengenai permasalahan di atas.. B. Rumusan Masalah Bertolak dari pemikiran di atas, maka skripsi ini mencari pokok permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana aplikasi ketentuan pidana menurut tempat (teori locus delicti) perspektif Imam Abu Hanifah?. C. Tujuan dan Kegunaan Adapun tujuan dan kegunaan yang ingin dicapai dalam skripsi ini adalah: 1. Tujuan a. Untuk mengetahui ketentuan pidana menurut tempat (teori locus delicti) perspektif Imam Abu Hanifah..

(25) 8. b. Untuk mengetahui aplikasi ketentuan pidana menurut tempat (teori locus delicti) perspektif Imam Abu Hanifah. 2. Kegunaan a. Sebagai pengembangan keilmuan khususnya di bidang ilmu hukum di Indonesia, terutama dalam masalah hukum pidana khusus nya Jinayah Siyasah b. Mengetahui teori yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah dalam masalah locus delicti. c. Sebagai bahan acuan bagi yang akan melanjutkan penelitian tentang asas-asas berlakunya ketentuan pidana dalam hukum Islam dan hukum pidana positif. d. Sebagai salah satu kontribusi pemikiran penyusun dalam bidang hukum di Indonesia, terutama dalam masalah pidana.. D. Telaah Pustaka Dalam menulis skripsi ini, penulis melakukan telah pustaka secara fokus membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan judul skripsi. Di dalam skripsi saudara Khoirudin Zuhri (2100093) Fakultas Syari’ah Jurusan Jinayah Siyasah (2004/2005) IAIN Semarang dengan judul “Kewarganegaraan. dalam. Sistem. Ketatanegaraan. Islam”.. Dalam. pembahasan skripsinya mengenai kafir zimmiy di wilayah Negara Islam (kaitannya dengan locus delicti), bahwa dalam pemberlakuan hukum pidana terjadi persamaan antara seorang muslim dengan zimmiy. Sebagaimana warga.

(26) 9. negara non muslim terikat pula oleh hukum pidana yang sama tanpa adanya pembedaan kecuali dalam jarimah yang terkait dengan minum-minuman keras. Di dalam skripsi saudara Suhardi (2199135) Fakultas Syari’ah Jurusan Jinayah Siyasah (2004/2005) IAIN Semarang dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pasal 134 dalam KUHP Tentang Tindak Pidana Penghinaan Terhadap Presiden atau Wakil Presiden”. Dalam pembahasan skripsinya dijelaskan secara global terhadap unsur-unsur delik penghinaan. Seseorang dapat dikatakan telah melanggar hukum dalam suatu tindak pidana, maka perbuatan. tersebut. harus. dapat. dirumuskan.. Adapun. syarat. untuk. memungkinkan adanya penjatuhan pidana ialah adanya perbuatan (manusia) yang memenuhi rumusan delik. Rumusan delik dalam hukum pidana penting sebelum menjatuhkan pidana karena merupakan konsekuensi dari asas legalitas. Salah satu rumusan delik tersebut ialah jelas ruang berlakunya delik tersebut, dalam artian bahwa tempat kejadian perkara pidana tersebut (locus delicti) Dalam makalah nya Romli menulis tentang Pengaruh Konvensi Internasional Terhadap Perkembangan Asas-Asas Hukum Pidana Nasional. Ia mempertanyakan sejauh manakah asas-asas berlakunya hukum pidana nasional dapat dipertahankan seutuhnya dan merupakan “hak eksklusif” dari setiap negara.15 Menurutnya perkembangan kejahatan memasuki abad 21 tidak. 15. http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum/tanggal 5, Desember, 2009, pukul 22.00 WIB.Romli Atmasasmita, “Pengaruh Konvensi Internasional terhadap Perkembangan Asas-asas Hukum Pidana Nasional.”Makalah disampaikan pada Seminar Tentang Asas-asas Hukum Pidana Nasional, diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan.

(27) 10. lagi sebatas wilayah teritorial suatu negara melainkan sudah melampaui batas satu atau lebih. Menurut T. M. Hasbi Ash Shhidieqy dalam bukunya Hukum Antar Golongan, pada dasarnya syari’at Islam hanya diberlakukan terhadap mereka yang melakukan kejahatan di darul Islam, serta kejahatan yang dilakukan di darul harbi.16Namun para fuqaha berbeda pendapat dalam menerapkan prinsip ini. Akibat perbedaan pendapat ini, muncul tiga aliran (paham) tentang penerapan hukum terhadap kejahatan berdasarkan tempat kejadian perkara (locus delicti). I Wayan Parthiana dalam bukunya yang merupakan kumpulan makalah serta artikelnya yang pernah dipublikasikan, menulis tentang suatu pertautan antara yuridiksi negara dan asas-asas hukum pidana nasional dalam suatu peristiwa pidana yang ber dimensi internasional. Ia membahas maksud, tujuan serta substansi dari asas-asas hukum pidana yang diakui oleh kebanyakan negara-negara di dunia ditinjau dari segi hukum internasional dan hukum pidana nasional. Ia mencoba menjawab persoalan tentang pertautan asas-asas hukum pada tindak pidana yang melibatkan dua negara atau lebih (lintas teritorial).17 Selain itu, ia juga membahas masalah penerapan yuridiksi universal melalui mekanisme ekstradisi atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Pada kesimpulannya ia menulis bahwa meskipun terhadap kejahatan kemanusiaan dapat diberlakukan yuridiksi universal dari hukum pidana, akan. Hak Asasi Manusia RI bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang, Semarang, 26-27 April 2004, 16 T.M. Hasbi Ash Shhidieqy, op. cit., hlm. 8. 17 I Wayan Parthiana,op.cit.., hlm. 1-22..

(28) 11. tetapi dalam kenyataannya bukanlah hal yang mudah untuk mengadili serta memberi hukuman terhadap pelaku tindak pidana terhadap kemanusiaan. Hal ini, menurutnya dikarenakan adanya kendala dalam proses peradilan yang terletak pada faktor kedaulatan negara dari segi ada atau tidaknya kemauan politik, baik untuk mengadili sendiri pelaku, mengekstradisikannya kepada negara lain yang meminta atau menyerahkan proses peradilan kepada badan peradilan pidana Internasional.18 Amin Widodo dalam bukunya yang berjudul Fiqh Siyasah dalam Hubungan Internasional menulis pendapat para imam mazhab mengenai berlakunya hukum pidana dari segi tempat. Dalam bukunya dipaparkan teori para imam mazhab yang pada prinsipnya hukuman terhadap pelaku tindak kejahatan yang dilakukan di dar al-harb tidak wajib dilakukan. Begitu juga sebaliknya, setiap kejahatan yang dilakukan oleh penduduk dar as-salam di dalam maupun di luar negeri tetap berhak mendapat hukuman. Larinya pelaku kejahatan ke dar as-salam atau ke dar al-harb tidak dapat menggugurkan hukuman yang telah ditetapkan.19 Sejauh penulis ketahui, belum ada skripsi yang membahas tentang teori Locus Delicti (analisis perbandingan hukum pidana positif dengan Imam Abu Hanifah). Meskipun demikian, buku-buku yang membahas hukum pidana (hukum pidana Islam dan hukum pidana positif) dapat ditemukan membahas mengenai hal ini. Akan tetapi buku-buku tersebut bahasanya tidak terlalu mendalam dan dibahas secara terpisah, artinya dalam hukum pidana Islam 18 19. Ibid., hlm. 38. L. Amin Widodo, op. cit., hlm. 28..

(29) 12. sendiri dan hukum pidana positif sendiri dengan tidak membandingkan antara keduanya.. E. Metode Penelitian Skripsi ini dimaksudkan penulis untuk mengetahui tentang asas berlakunya ketentuan pidana menurut tempat kejadian perkara (teori locus delicti) dalam perspektif hukum pidana positif dan teori Imam Abu Hanifah. Ada beberapa bagian dalam metode penelitian ini, antara lain jenis dan data penelitian, sifat penelitian, pendekatan penelitian dan teknik analisis data. 1. Jenis dan Data Penelitian Ditinjau dari segi metodologi, penelitian ini merupakan library research (penelitian pustaka) yaitu penelitian yang berdasarkan data-data kepustakaan (melalui buku, surat kabar, majalah, jurnal, internet dan lainlain).20 Adapun jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah: a) Data Primer Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek penelitian. dengan. menggunakan. alat. pengukuran. atau. alat. pengambilan langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari. Adapun sumber data ini diperoleh dari buku karangan Alau alDin Abi Bakr Ibn Mas’ud al-Kasaniy, Bada’I as-Sana’I fi Tartib asy-. Syara’I, Juz VII, Beirut: Dar al-Fikr, 1996, Imam Kamaluddin bin Al-. 20. Marzuki, MetodologiRiset, BPFE UII, Jogjakarta, 1995, hlm. 7..

(30) 13. Ghamam, Syarah Fathul Qadir Ala’Hidayah Syarah Bidayatul Mubtadi, Juz IV, Bairut: Darrul Kitab Alamiyah dan pasal 2 sampai 9 kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). b) Data Sekunder Bahan-bahan ini terdiri dari buku-buku, internet, dan kitabkitab lainnya yang di dalamnya terdapat masalah yang berkaitan dengan masalah tersebut di atas misalnya; Abd al-Qadir ‘Audah ‘, atTasyri al-Jana’I al-Islamiy Muqaranan bi al-Qanun al-Wad’iy, Baeirut: Muasasah ar-Risalah, 1994. 2. Sifat Penelitian Sifat penelitian ini adalah deskriptif-analitik, yaitu menjelaskan tentang asas berlakunya ketentuan pidana dari segi tempat serta penerapannya asas-asas tersebut secara sistematis serta memberikan penelitian secara cermat dan tepat terhadap objek kajian tersebut. Selanjutnya konsep tentang asas-asas berlakunya ketentuan pidana dari segi tempat (locus delicti) dibandingkan supaya dapat diketahui dari segi persamaan dan perbedaan dalam hukum pidana positif dengan teori Imam Abu Hanifah. 3. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif-yuridis yakni menginventarisasi norma-norma hukum yang ada, baik dalam hukum pidana Islam maupun hukum positif, yang berkaitan dengan asas berlakunya hukum pidana dari segi tempat (locus delicti)..

(31) 14. 4. Teknik Analisis Data Akumulasi data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode sebagai berikut : a. Induktif, yaitu dengan mengurai data yang bersifat khusus dan menarik kesimpulan yang bersifat umum. Metode ini digunakan dalam menjelaskan pendapat-pendapat dari Imam Abu Hanifah dengan pasal 2 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai locus delicti dan menarik kesimpulan dari pendapat-pendapatnya terebut. b. Komparatif, yaitu menganalisis data yang berbeda dengan jalan membandingkan untuk diketahui mana yang lebih benar atau untuk mencapai kemungkinan mengkompromikan, shingga dapat diketahui kelebihan dan kelamahan dari teori tersebut..

(32) 15. F. Sistematika Penulisan Skripsi Skripsi ini dibagi menjadi lima bab, adapun sistematika pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:. BAB I. PENDAHULUAN Dalam bab ini dibahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan skripsi, Telaah pustaka, metode penelitian skripsi dan sistematika penulisan skripsi.. BAB II. KETENTUAN HUKUM PIDANA MENURUT TEMPAT (LOCUS DELICTI) DALAM HUKUM DI INDONESIA Bab ini membahas locus delicti dalam hukum pidana positif, pengertian locus delicti, Teori locus delicti, dan penerapan locus delicti di Indonesia.. BAB III. TEORI. IMAM ABU HANIFAH TENTANG LOCUS. DELICTI Bab ini membahas mengenai biografi singkat,. metode istinbat. hukum yang digunakan Imam Abu Hanifah dan teori locus delicti yang digunakan Imam Abu Hanifah..

(33) 16. BAB IV. ANALISIS TEORI LOCUS DELICTI PERSPEKTIF IMAM ABU HANIFAH Bab ini merupakan analisis terhadap teori locus delicti dan aplikasi asas-asas berlakunya hukum pidana dari segi tempat (locus delicti) perspektif Imam Abu hanifah.. BAB V. PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan dan penutup..

(34) BAB II KETENTUAN HUKUM PIDANA MENURUT TEMPAT (LOCUS DELICTI) PERSPEKTIF HUKUM DI INDONESIA. A. Pengertian locus delicti Pembentukan undang-undang dapat menetapkan ruang berlakunya undang-undang yang dibuatnya. Pembentukan undang-undang pusat dapat menetapkan berlakunya undang-undang pidana terhadap tindak-tindak pidana yang terjadi dalam atau di luar wilayah Negara sedang pembentuk-pembentuk undang-undang di daerah hanya terbatas pada daerahnya masing-masing, wilayah suatu negara itu hanya pengertian dalam hukum tata negara.1 locus delicti adalah tempat terjadinya suatu tindak pidana atau lokasi tempat kejadian perkara atas suatu tindak pidana terjadi, dalam istilah hukum Internasional locus delicti adalah sebuah istilah yang berarti kewenangan yurisdiksi atau wilayah kewenangan peradilan.2 Sedangkan dalam KUHAP Republik Indonesia dalam pasal pasal 84 menjelaskan locus delicti sebagai berikut: Pasal (1) Pengadilan negeri berwenang mengadili segala perkara mengenai tindak pidana yang dilakukan dalam daerah hukumnya. Pasal (2) Pengadilan negeri yang di dalam daerah hukumnya terdakwa bertempat tinggal, berdiam terakhir, di tempat ia diketemukan atau ditahan, hanya berwenang mengadili perkara terdakwa tersebut apabila 1. Sudarto, hukum Pidana I, Semarang: Yayasan Sudaarto d/a Fakultas Hukum UNDIP, 1990, hlm. 32 2 http://daemien-ocehankosong.blogspot.com/2009/07/polisi-dan-locus-delicti.html/19-0410-19.30.. 17.

(35) 18. tempat kediaman sebagian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada tempat pengadilan negeri itu daripada tempat kedudukan pengadilan negeri yang di dalam daerahnya tindak pidana itu dilakukan. (UU no 8 /1981 tentang KUHAP). B. Teori locus delicti Pembahasan mengenai locus delicti diperlukan karena hal ini berhubungan dengan Pasal 2-9 KUHP yaitu menentukan apakah hukum pidana Indonesia berlaku terhadap tindak pidana atau tidak. Selain itu, locus delicti juga akan menentukan pengadilan mana yang memiliki wewenang terhadap kasus tersebut dan ini berhubungan dengan kompetensi relatif.3 Mengenai locus delicti, ada beberapa teori untuk menentukan di mana tempat terjadinya perbuatan pidana yaitu teori mengenai tempat di mana perbuatan dilakukan secara personal, kedua adalah teori tentang instrument dan yang terakhir adalah teori tentang akibat.4 1. Teori tentang di mana perbuatan dilakukan secara personal Yang dianggap sebagai tempat terjadinya perbuatan dalam teori ini adalah tempat di mana perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman dilakukan. Menurut teori ini, jika seorang pelaku menikam korbannya di Jakarta, setelah terjadi penikaman tersebut si korban pulang ke Bogor dan di sana ia mati, maka meskipun akibatnya (matinya korban) terjadi di Bogor, yang dianggap sebagai tempat dilakukannya perbuatan adalah Jakarta. 3. Moeljanto, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Putra, 2000, hlm. 78. Mengenai teori-teori tentang locus delicti lihat misalnya Satochid Kartanegara, Hukum Pidana (t.tp. Balai Lektur Mahasisiwa, t.th), hlm. 154-158. 4.

(36) 19. 2. Teori tentang alat atau instrument yang digunakan Yang dianggap sebagai tempat kejahatan dilakukan dalam teori ini adalah tempat di mana alat atau instrument yang digunakan untuk melakukan kejahatan menimbulkan akibat. Jika seorang pelaku mengirimkan makanan beracun dari Jakarta ke Bandung untuk seseorang, kemudian orang tersebut (korban) memakan makanan beracun tersebut dan ia mati maka, yang dianggap sebagai tempat terjadinya kejahatan adalah Bandung. Hal ini dikarenakan alat yang digunakan untuk melakukan kejahatan (makanan beracun) menimbulkan akibat, yaitu matinya korban. 3. Teori tentang akibat. Menurut teori ini yang dianggap sebagai tempat dilakukannya tindak pidana adalah tempat di mana suatu kejahatan menimbulkan akibat perbuatan. Dengan demikian, yang dianggap sebagai tempat terjadinya perbuatan dalam contoh pada point (a) adalah Bogor dikarenakan di tempat tersebut akibat dari perbuatan (penikaman) terjadi, yaitu matinya korban..

(37) 20. C. Penerapan teori locus delicti (asas berlakunya undang-undang pidana menurut tempat dalam hukum pidana positif) Mengenai kekuasaan berlakunya undang-undang pidana dapat dilihat dari dua sisi, yang bersifat negatif dan yang bersifat positif.5 Yang bersifat negatif berlakunya undang-undang menurut waktu, hal ini tercantum dalam Pasal 1 KUHP6 sedangkan dari segi positif, berlakunya undang-undang dilihat dari segi tempat. Hal ini diatur dalam Pasal 2 sampai 9 KUHP yang memuat 4 asas yaitu, asas teritorial, asas nasional aktif, asas nasional pasif dan asas universal. 1. Asas Teritorial Asas teritorial terdapat dalam Pasal 2 KUHP yang berbunyi: “ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia berlaku bagi setiap orang yang dalam daerah Republik Indonesia melakukan sesuatu tindak pidana”. Asas teritorial ini melahirkan yuridiksi teritorial, yaitu kedaulatan atau kewenangan suatu negara yang berdasarkan hukum Internasional untuk mengatur segala sesuatu yang terjadi dalam batas-batas wilayah negaranya. Salah satu wujud dari yuridiksi teritorial suatu negara adalah membuat serta memberlakukan hukum pidana nasional nya terhadap tindak pidana yang terjadi dalam wilayah negara tersebut. Ketentuan ini berlaku bagi warga. 5. Lihat misalnya C. S. T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka 1989, hlm. 276. 6 Pasal 1 ayat (1) KUHP berbunyi “Tiada suatu perbuatan dapat dipidana, melainkan atas kekuatan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan iru terjadi”. Dalam Pasal ini terkandung asas legalitas yang berhubungan dengan waktu dilakukannya perbuatan (kejahatan). Asas ini menentukan bahwa suatu perbuatan hanya merupakan tindak pidana apabila ditentukan demikian oleh atau didasarkan pada undang-undang..

(38) 21. negaranya sendiri maupun orang asing yang melakukan suatu tindak pidana.7 Ini merupakan dasar yang diunggulkan bagi pelaksanaan yuridiksi negara. Peristiwa yang terjadi dalam batas-batas teritorial suatu negara dan orangorang yang berada di wilayah tersebut sekalipun untuk sementara, pada lazimnya tunduk pada penerapan hukum lokal.8 Asas atau prinsip teritorial mempersoalkan tentang lingkungan kuasa berlakunya hukum pidana terhadap ruang, jadi lebih luas dari pada tanah (bumi),9 ia merupakan asas yang tertua dari asas-asas berlakunya hukum pidana menurut tempat. Asas teritorial merupakan asas yang fundamental. Hal ini berarti, sekalipun telah diterapkan batas-batas berlakunya hukum pidana Indonesia, dalam keadaan tertentu serta untuk subyek hukum tertentu, dapat diterapkan perluasan-perluasan terhadap asas teritorial.10 Romli, dengan mengutip Bert Swart dan Andre Klip menulis bahwa asas teritorial telah diperluas tidak lagi semata-mata ditujukan terhadap tempat di mana pelaku melakukan kejahatan, melainkan juga tempat di mana akibat dari kejahatan itu dilakukan atau di mana korban berada.11Selain wilayah tanah, asas teritorial juga mencakup seluruh wilayah udara dan wilayah perairan atau laut Indonesia. Wilayah udara Indonesia terhitung dari 7. I Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional dan Ekstradisi, Bandung: Yarma Widya, 2003. hlm. 12-13. 8 Rebecca M.M. Wallace, Hukum Internasional, alih bahasa Bambang Arumanadi, Semarang: IKIP Semarang Press, 1993, hlm. 120. 9 A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I ( Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hlm. 162. 10 Romli Atmasamita, Tindak Pidana Narkotika Transnasional dalam Sistem hukum Pidana Indonesia (Bandung: PT. Citra aditya Bakti, 1997, hlm. 105. 11 Romli Atmasasmita, “Pengaruh Konvensi Internasional terhadap Perkembvangan Asasasas Hukum Pidana Nasional.” Makalah disampaikan pada Seminar Tentang Asas-asas Hukum Pidana Nasional, diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang, Semarang, 26-27 April 2004, hlm. 6..

(39) 22. tanah ditarik ke atas setinggi yang ditentukan menurut perjanjian antar negara. Meskipun demikian, bukan berarti seorang pelaku harus berada di salah satu wilayah tanah, udara atau perairan suatu negara ketika melakukan kejahatan. Hal ini berhubungan dengan bahasan mengenai locus delicti, karena bisa jadi pelaku dapat melakukan kejahatan di suatu negara meskipun ia berada di negara lain. Wilayah perairan Indonesia meliputi seluruh perairan yang terletak di sebelah dalam garis dasar serta laut wilayah (teritorial sea) di sekelilingnya selebar 12 mil laut, diukur mulai garis dasar ke arah luar. Wilayah ini ditambah lagi seluas 200 mil diukur dari garis dasar yang disebut Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE). Seperti halnya terhadap wilayah daratan, Indonesia memiliki kedaulatan penuh (soveregnty) di seluruh wilayah perairan yang diikuti pula oleh yuridiksi kriminal.12 Yang menjadi sasaran yuridiksi kriminal di wilayah lautan adalah delik-delik yang terjadi di laut yang pada pokoknya diatur dalam ordonansiordonansi dan juga diatur dalam pasal KUHP. Sasaran ini selain delik yang sifatnya kejahatan, juga meliputi pelanggaran. Delik ini merupakan sasaran utama yang ditegaskan dalam Ordonansi Laut Wilayah dan Lingkungan Maritim 1939.13 Berlakunya undang-undang Indonesia terhadap tindak pidana yang terjadi dalam pesawat Indonesia tercantum dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1976 tentang Perubahan dan Penambahan Beberapa Pasal dalam Kitab 12. Mustafa Djuang Harahap, Yuridiksi Kriminal di Perairan Indonesia yang Berkaitan dengan hukum Internasional (Bandung: Penerbit Alumni, 1983), hlm. 125. 13 Ibid., hlm. 115.

(40) 23. Undang-undang Hukum Pidana, Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan terhadap Sarana-prasarana Penerbangan. Dalam Pasal I Undang-undang tersebut disebutkan: “Mengubah dan menambah Pasal 3 dan Pasal 4 angka 4 yang tercantum dalam Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia sehingga berbunyi sebagai berikut: Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana di dalam kendaraan air atau pesawat udara Indonesia. Pasal 3 KUHP memperluas ruang lingkup berlakunya undang-undang pidana, yaitu mengenai berlakunya ketentuan hukum pidana bagi setiap tindak pidana yang terjadi di dalam perahu serta pesawat terbang Indonesia meskipun keberadaan perahu serta pesawat tersebut berada di luar wilayah teritorial Indonesia.14 Dengan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 KUHP ini, maka setiap perahu dan kapal terbang Indonesia dianggap atau merupakan perpanjangan dari wilayah teritorial Indonesia dan karenanya setiap tindak pidana yang terjadi di dalamnya tunduk pada ketentuan perundang-undangan pidana Indonesia tanpa mempermasalahkan kewarganegaraan pelaku. Yang dimaksud kapal-kapal Indonesia adalah sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 95 KUHP yang berbunyi: “Kapal Indonesia berarti kendaraan air yang menurut peraturanperaturan umum tentang surat-surat laut dan pas-pas kapal di daerah Republik Indonesia, harus mempunyai surat laut atau pas kapal atau surat-surat izin sebagai pengganti sementara kendaraan air atau pas itu”.15. 14. C. S. T. Kansil, op.cit., hlm. 278. Pasal 95 KUHP. Tentang pemberian surat laut dan pas kapal diatur oleh Ordonansi Surat Laut dan Kapal dalam L.N. tahun 1935. ketetapan surat laut dan pas kapal dalam L.N. tahun 1934 No. 78, diubah dalam L.N. 1937 No. 629. jo. L.N. 1935. No. 565. Lih. R. Sugandhi, KUHP dan Penjelasannya, Surabaya: Usaha Nasional, 1981, hlm. 112-113. 15.

(41) 24. Yang dimaksud pesawat udara Indonesia, ketentuannya tercantum dalam Pasal 95 a ayat (1) dan (2).16 Pasal ini berbunyi: (1) Yang dimaksud dengan “pesawat udara Indonesia” adalah pesawat udara yang didaftarkan di Indonesia; (2) Termasuk pula pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara asing yang di sewa tanpa awak pesawat dan dioperasikan oleh perusahaan penerbangan Indonesia. Meskipun demikian, tidak semua perahu maupun kapal dianggap sebagai perpanjangan wilayah suatu negara, hanya kapal perang dan kapal dagang yang berada di lautan terbuka yang dianggap sebagai wilayah negara.17 Ketentuan ini juga berlaku bagi kapal-kapal dagang Indonesia yang berada di pelabuhan asing. KUHP Indonesia tidak saja berlaku bagi awak serta penumpang, melainkan juga berlaku bagi setiap orang yang ada dalam kapal tersebut.18 Pasal 3 KUHP diperluas lagi dengan Pasal 8. Pasal ini menentukan bahwa nahkoda atau penumpang kapal laut atau perahu Indonesia yang melakukan kejahatan sumpah atau keterangan palsu dan kejahatan pelayaran di luar wilayah Indonesia, dapat dituntut menurut ketentuan pidana Republik Indonesia. Pasal 8 KUHP berbunyi: “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia berlaku di luar Indonesia berlaku di luar Indonesia, juga waktu mereka tidak ada di atas kendaraan air, melakukan salah satu perbuatan yang 16. Pasal ini merupakan perubahan dan penambahan pasal dalam KUHP bertalian dengan perluasan ketentuan perundang-undangan pidana, kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan yang tercantum dalam Undang-undang No. 4 Tahun 1976 Pasal II ke-1. 17 J. E. Jonkers, Buku Pedoman Hukum Pidana Hindia Belanda, alih bahasa Tim Penerjemah Bina Aksara (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hlm. 145. 18 E. Utrecht, Hukum Pidana I (Surabaya: Pustaka Tinta Mas, 1994), hlm. 241..

(42) 25. dapat di pidana yang tersebut dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX Buku Ketiga, demikian juga yang tersebut dalam peraturan umum tentang surat-surat laut dan pas-pas kapal di Indonesia dan yang tersebut dalam “Ordonantie Kapal 1927.” Dalam KUHP Indonesia tidak diatur mengenai ketentuan kejahatan penerbangan yang dilakukan di dalam maupun di luar pesawat udara Indonesia. Namun demikian usaha ke arah sana sudah dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dapat dilihat dengan sudah dicantumkan nya ketentuan mengenai hal ini dalam Rancangan Undang-undang tentang Kitab Undangundang Hukum Pidana. Dalam Rancangan Undang-undang tersebut disebutkan: (1) Ketentuan dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi kapten pilot, awak pesawat udara, penumpang pesawat udara Indonesia yang di luar wilayah Republik Indonesia melakukan salah satu tindak pidana penerbangan sebagai mana di maksud dalam Bab XXXI Buku kedua.19 Pasal ini merupakan perluasan berlakunya ketentuan pidana, yaitu mengenai berlakunya undang-undang pidana Indonesia bagi pelaku kejahatan penerbangan di dalam maupun di luar pesawat udara Indonesia yang sedang melakukan penerbangan di wilayah negara asing. Sedangkan asas eksteritorial tercantum dalam Pasal 9 KUHP yang berbunyi: “Berlakunya Pasal 2 sampai 5, Pasal 7 dan 8 Pasal dibatasi oleh hal yang dikecualikan, yang diakui dalam hukum Internasional.” Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan yang senantiasa ada bahwa berlakunya Pasal 2-5, Pasal 7 dan Pasal 8 KUHP akan bertentangan dengan. 19. Rancangan Undang-undang Republik Indonesia Nomor….Tahun….Tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Pasal 11 ayat (1)..

(43) 26. hukum antar negara, karena ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pasalpasal tersebut berhubungan juga dengan negara asing. Selain itu perlu diketahui bahwa hukum antar negara merupakan kumpulan asas-asas hukum yang mengatur hubungan antar negara di dunia. Hubungan ini biasanya diselenggarakan dengan saling menempatkan perwakilan. dalam. bersangkutan.20. bentuk. Utrecht. kedutaan. dengan. tegas. atau. konsul. mengatakan. di. negara-negara. bahwa ketentuan. sebagaimana tercantum dalam Pasal 9 KUHP tidak diperlukan lagi saat ini. Hal ini disebabkan negara kita telah mengakui adanya primat hukum antar negara. Menurutnya ketentuan tersebut dibuat ketika kedaulatan negara absolut masih diterima.21 Menurut hukum Internasional, yang tidak terikat oleh KUHP Indonesia adalah para duta besar negara serta para utusan negara asing yang secara resmi diterima oleh kepala negara. Selain itu mereka yang tidak tunduk pada KUHP Indonesia adalah para pegawai dalam kedutaan yang berfungsi di bidang diplomatik, para konselir (konsultan) dan sekretaris meskipun mereka tidak berseragam (tidak dalam keadaan dinas). Berdasarkan asas eksteritorial, para diplomat dianggap tidak berada di negara penerima melainkan di negara pengirim meskipun pada kenyataannya ia berada di wilayah negara penerima. Selain itu mereka tidak dapat dikuasai oleh hukum dan peraturan negara penerima. Seorang diplomat menurut asas ini, hanya dikuasai oleh hukum negara pengirim begitu juga gedung atau 20 21. R. Sugandhi, KUHP dan Penjelasannya, Surabaya: Usaha Nasional, 1981. hlm. 11. E. Utrecht, op. cit., hlm. 249..

(44) 27. tempat kediaman mereka di negara penerima dianggap sebagai bagian atau perpanjangan dari wilayah negara pengirim.22 Bammelen berpendapat bahwa ketentuan tentang mereka yang diberi hak immunitas atau kekebalan hukum tercantum dalam perjanjian Wina tanggal 18 April 1961.23 Alat-alat kekuasaan negara penerima tidak dapat menangkap, menuntut maupun mengadili mereka dalam masalah kriminal. Meskipun demikian mereka harus tetap menghormati serta menghargai hukum di negara setempat.24 Mengenai para konsul asing, mereka diberi hak immunitas hukum bukan berdasarkan Pasal 9 KUHP melainkan atas dasar perjanjian yang disepakati antar negara. Hal ini dikarenakan para konsul bukan merupakan wakil diplomatik melainkan hanya merupakan wakil perdagangan. Meskipun demikian mereka diberi keistimewaan seperti yang tercantum dalam Pasal 7a U.U. Pengawasan Orang Asing dan U.U. Dar No. 9 tahun 1953 (L. N. 1953 No. 64). Pasal-pasal ini menentukan bahwa undang-undang tersebut tidak berlaku bagi para pejabat diplomatik dan konselir asing.25 Orang-orang yang memiliki hak immunitas meliputi: a) Kepala negara asing yang berkunjung ke Indonesia secara resmi. Selain itu sanak saudara kepala negara yang bersangkutan, kecuali mereka yang melakukan perjalanan yang berdiri sendiri. Meskipun demikian para sanak saudara kepala negara diperdebatkan hak immunitasnya. Van Hammel. 22. Edy Suryono, Perkembangan Hukum Diplomatik (Bandung: Mandar Maju, 1992), hlm.. 14. 23. A. Zainal Abidin Farid, op.cit., hlm. 167. Edy Suryono, op.cit., hlm. 46. 25 A. Zainal Abidin Farid, op.cit., hlm. 165-166. 24.

(45) 28. secara tegas mengatakan bahwa mereka tidak memiliki hak immunitas. Jonkers sebaliknya mengakui adanya hak tersebut bagi mereka. b) Duta negara asing yang ditempatkan di Indonesia dengan persetujuan kedua negara yang bersangkutan. Hak immunitas juga berlaku bagi para sanak saudara yang tinggal bersama duta tersebut. Adapun para pegawai di kedutaan tersebut dianggap sebagai orang asing yang menempati kedutaan, oleh karenanya mereka tidak memiliki hak immunitas. Meskipun demikian, jika para duta negara asing melakukan perbuatan yang dapat merugikan kepentingan negara yang mereka tempati, mereka tetap berhak mendapatkan sanksi seperti pengusiran, protes maupun permintaan penarikan ke negara asalnya. c) Kapal negara asing yang berlabuh dengan persetujuan pemerintah. Konvensi Hukum Laut 1982 memberikan immunitas kepada kapal perang dan kapal-kapal pemerintah untuk tujuan non-komersial, yaitu diatur dalam Pasal 95 untuk kapal-kapal perang dan Pasal 96 untuk kapal-kapal pemerintah non-komersial. Ketentuan ini berhubungan dengan keberadaan kapal-kapal tersebut di laut lepas. Selama kapal-kapal ini berada di laut lepas, ia memiliki kekebalan dari yuridiksi negara lain selain negara benderanya. d) Pasukan negara asing yang masuk ke suatu negara dengan seizin negara yang didatangi. Bila mereka masuk tanpa izin, mereka dapat diusir dengan cara kekerasan..

(46) 29. Mengenai tentara pendudukan, mereka tidak tunduk pada hukum negara yang diduduki, karena tunduk pada hukum negara yang diduduki dianggap bertentangan dengan hubungan kekuasaan yang ada, tetapi ia akan diadili menurut hukum negaranya sendiri dan diadili oleh pengadilan militer yang mengikuti mereka. Dalam hal ini perbuatan tidak dinilai dengan hukum pidana umum melainkan hukum perang. 2. Asas Kewarganegaraan (Nasional Aktif) Dalam hukum Internasional, suatu negara memiliki yuridiksi yang disebut yuridiksi personal berdasarkan kewarganegaraan (nasionalitas) aktif atas warga negaranya yang berada di luar wilayah negara tersebut yang melakukan suatu kejahatan (tertentu). Yuridiksi ini didasarkan pada adanya hubungan antara negara pada satu pihak dengan warga negaranya yang berada di luar wilayah negaranya pada pihak lain. Hubungan tersebut termanifestasikan dalam hak, kekuasaan serta kewenangan negara untuk memberlakukan hukum nasional terhadap warganya yang berada di luar wilayah teritoir. Sebaliknya warga negara memiliki hak serta memikul tanggung jawab dalam hubungan dengan negaranya selama ia berada di luar wilayah negaranya sendiri. Ini sesuai dengan adagium hukum yang tidak sepenuhnya berlaku, bahwa setiap orang membawa hukum negaranya kemanapun ia pergi dan di manapun ia berada.26 Romli menulis bahwa dalam konteks kedaulatan negara yang berkaitan dengan kewarganegaraan pelaku kejahatan transnasional atau. 26. I Wayan Parthiana, op.cit., hlm. 14..

(47) 30. Internasional, asas nasionalitas merupakan landasan hukum bagi suatu negara untuk melaksanakan penyelidikan, penuntutan serta peradilan atas warga negaranya yang melakukan kejahatan terlepas di mana locus delicti itu terjadi.27 Asas kewarganegaraan aktif atau asas personalitas ini terdapat dalam Pasal 5 KUHP yang berbunyi: (1) Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia berlaku bagi warga negara Indonesia yang melakukan di luar wilayah Indonesia: Ke-1. Salah satu kejahatan yang terdapat dalam Bab I dan II Buku Kedua dan dalam Pasal-pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451; Ke-2. Sesuatu perbuatan yang oleh ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia dipandang sebagai kejahatan dan dapat di pidana menurut perundang-undangan negara tempat perbuatan itu dilakukan. Mengingat bahwa tempat dilakukannya tindak pidana berada di luar wilayah Indonesia maka kejahatan yang tunduk pada asas ini bersifat umum, dalam artian bahwa di samping dapat mengancam kedaulatan negara Indonesia, kejahatan yang dilakukan harus dianggap sebagai kejahatan oleh negara tempat tindak pidana dilakukan. Asas personalitas diperluas lagi dengan adanya ayat (2) Pasal 5 KUHP yang berbunyi: (2) Kejahatan yang tersebut pada No. 2 itu dapat juga dituntut jika terdakwa baru menjadi warga negara Republik Indonesia sesudah melakukan perbuatan itu. Berdasarkan ketentuan tersebut maka hukum pidana Indonesia juga berlaku bagi tiap orang yang berkebangsaan Indonesia meskipun ia berada 27. Romli Atmasasmita, op.cit., hlm. 5-6..

(48) 31. di luar Indonesia melakukan salah satu atau beberapa delik tertentu yang dianggap mengancam negara Indonesia. Delik-delik ini dianggap sangat berbahaya sehingga perlu untuk menjatuhkan hukuman bagi pelaku dimana saja ia berada. Bentuk kejahatan dalam asas personalitas, meliputi: a. Kejahatan yang berupa pelanggaran terhadap keamanan negara yang tercantum dalam Bab I buku Kedua KUHP, yaitu Pasal 104 -129. b. Kejahatan yang melanggar martabat kepala negara serta wakil presiden, ketentuan ini tercantum dalam Pasal 131-139 Bab II Buku Kedua KUHP. c. Kejahatan penghasutan yang tercantum dalam Pasal 160 KUHP. d. Menyebarluaskan tulisan yang bertujuan untuk menghasut yang tercantum Pasal 161 KUHP. e. Dengan sengaja membuat diri maupun orang lain menjadi tidak cakap untuk memenuhi kewajiban militer yang tercantum dalam Pasal 240 KUHP. f. Melakukan perampokan (pembajakan) di laut yang tercantum dalam Pasal 450 dan 451 KUHP. Delik-delik ini dicantumkan secara tidak tegas dalam Pasal 5 ayat 1 Sub1 karena dalam pasal ini terdapat perbuatan yang dapat mengancam kepentingan-kepentingan yang khusus bagi negara Indonesia, di pihak lain perbuatan-perbuatan ini tidak dikenai hukuman menurut UU negara di mana perbuatan tersebut terjadi dan pelaku berada..

(49) 32. Kejahatan yang dianggap oleh KUHP Indonesia dan juga oleh negara tempat terjadinya kejahatan sebagai delik atau kejahatan yang harus dikenai sanksi hukum.28 Untuk kejahatan semacam ini diperlukan adanya dua syarat: 1. Perbuatan tersebut harus diakui sebagai kejahatan oleh KUHP. 2. Kejahatan tersebut dikenai hukuman - diakui sebagai kejahatan oleh negara yang menjadi tempat terjadinya perbuatan.29 KUHP Indonesia hanya menentukan syarat bahwa delik yang bersangkutan merupakan kejahatan. Apabila kejahatan ini tidak dihukum oleh hukum pidana negara asing maka peraturan undang-undang hukum pidana Indonesia tidak berlaku karena tidak terpenuhinya syarat yang kedua. Ketentuan ini sesuai dengan asas internasionalitas bahwa suatu negara tidak dapat menyerahkan warga negaranya kepada pemerintahan negara asing. Asas personalitas aktif ini dibatasi oleh Pasal 6 KUHP yang berbunyi: “Berlakunya Pasal 5, ayat (1) ke-2 itu dibatasi dengan tidak dibolehkan untuk menjatuhkan pidana mati untuk perbuatan yang tiada diancam dengan pidana itu menurut perundang-undangan di tempat perbuatan itu dilakukan.” Dari pasal ini dapat dipahami bahwa hukuman mati hanya dapat dijatuhkan apabila perbuatan itu di wilayah Republik Indonesia maupun di negara lain di mana perbuatan itu dilakukan, diancam dengan hukuman 28. Pengkhususan kejahatan serta dianggap nya perbuatan yang dilakukan sebagai kejahatan di negara asing guna menghindarkan pelanggaran terhadap kedaulatan negara tersebut terhadap satu tindak pidana. Lihat misalnya Satochid Kartanegara, op.cit., hlm. 196. 29 E. Utrecht, op.cit., hlm. 144..

(50) 33. mati. Pembatasan ini tidak meliputi pada kejahatan-kejahatan yang tersebut dalam sub 1 ayat 1 Pasal 5; jadi menurut sub 1 ayat 1 Pasal 5 ini hukuman mati dapat dijatuhkan.30 Ketentuan mengenai asas personal aktif dalam KUHP diperluas dengan berlakunya undang-undang pidana Indonesia bagi pegawai negeri Indonesia yang sedang berada di luar negeri melakukan kejahatan jabatan. Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 7 KUHP yang berbunyi: “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia berlaku bagi pegawai negeri Indonesia yang melakukan di luar daerah Republik Indonesia salah satu kejahatan yang disebut dalam Bab XXVIII Buku Kedua.” Kejahatan-kejahatan yang dimaksud dalam pasal ini adalah kejahatan yang dilakukan dalam jabatan para pegawai negeri Republik Indonesia. Kejahatan tersebut tertuang dalam Pasal 413 – 437 Bab XXVIII Buku Kedua KUHP mengenai kejahatan jabatan. Dengan adanya pasal ini, maka hukum pidana Indonesia berlaku bagi pegawai negeri di luar wilayah Indonesia. Kejahatan yang dilakukan dalam jabatan pegawai negeri adalah pelanggaran yang dapat mengganggu kepentingan negara serta masyarakat Indonesia yang dapat merusak atau menurunkan wibawa pemerintahan Indonesia.31. 30 31. R. Sugandhi, op.cit., hlm. 10. A. Zainal Abidin Farid, op.cit., hlm. 160..

(51) 34. 3. Asas Kewarganegaraan (Nasional Pasif) Dalam hukum Internasional, suatu negara memiliki yuridiksi atas orang yang bukan warga negaranya yang melakukan tindak kejahatan yang dianggap dapat merugikan negara tersebut atau warganya sendiri yang dilakukan. di. luar. wilayahnya.. Yuridiksi. ini. berdasarkan. asas. kewarganegaraan pasif. Berdasarkan asas ini perundang-undangan pidana Indonesia berlaku terhadap siapapun juga yang berada di luar wilayah teritoirial Indonesia melakukan kejahatan tertentu. Adanya yuridiksi ini sebagai upaya perlindungan terhadap negara maupun warganya dari tindakan atau perbuatan kejahatan yang dilakukan oleh orang asing di luar wilayah negara tersebut. Oleh karenanya, yuridiksi ini disebut juga sebagai yuridiksi personal berdasarkan perlindungan32 yang oleh Hazewinkel Suringa asas ini disebut sebagai asas untuk melindungi kepentingan umum yang besar dan tidak ditujukan bagi kepentingan individual.33 Dasar pembenar asas ini adalah bahwa setiap negara berhak melindungi warganya di luar negeri. Apabila negara teritorial di mana tindak kejahatan dilakukan tidak menghukum orang yang menyebabkan kerugian tersebut maka negara asal korban berwenang34 untuk memberlakukan hukum pidana nya apabila orang tersebut berada di wilayahnya.35. 32. I Wayan Parthiana, op.cit., hlm. 14. A. Zainal Abidin Farid, op.cit., hlm. 157. 34 Mengenai wewenang untuk menghukum pelaku pada dasarnya diserahkan kepada negara tempat dilakukannya perbuatan. Bila seorang warga negara asing melakukan penipuan terhadap seorang warga Indonesia maka negara asing dipercaya untuk menuntut maupun memidana warganya yang melakukan kejahatan sebagaimana negara Indonesia akan melindungi hak 33.

(52) 35. Asas nasional pasif dirumuskan dalam Pasal 4 ayat 1 sampai ayat 3 dan Pasal 8 KUHP. Pasal 4 KUHP berbunyi: “Ketentuan perundang-undangan Republik Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan di luar daerah Republik Indonesia: Ke-1 Salah satu kejahatan yang tersebut dalam Pasal-pasal 104, 106, 107 dan 108, 110, 111 bis pada ke-1, 127 dan 131;36 Ke-2 Suatu kejahatan tentang mata uang, uang kertas negara atau uang kertas bank atau tentang materai atau merk yang dikeluarkan atau digunakan oleh pemerintah Republik Indonesia; Ke-3 Pemalsuan surat-surat utang atau sertifikat-sertifikat utang yang ditanggung Pemerintah Indonesia, daerah atau sebagian daerah, pemalsuan talon-talon, surat-surat utang sero (keterangan Dividend) atau surat-surat bunga uang yang masuk surat-surat itu, serta surat-surat keterangan pengganti surat-surat itu, atau dengan sengaja mempergunakan surat palsu atau yang dipalsukan seperti itu seakan-akan surat itu asli dan tidak dipalsukan.” Setiap orang, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang melakukan kejahatan seperti yang tersebut dalam pasal-pasal ini dapat dikenakan ketentuan-ketentuan pidana Indonesia meskipun mereka melakukan kejahatan ini di luar wilayah Indonesia. Pasal ini menggunakan istilah “setiap orang” yang berarti bahwa orang tersebut bisa saja. berkebangsaan. atau. berkewarganegaraan. Indonesia. maupun. berkewarganegaraan negara asing, bahkan tidak berkebangsaan sekalipun. Pasal ini meninggalkan asas teritorial dan menerima asas universal. Sub 1 menjaga kepentingan negara, sedangkan sub 2 dan sub 3 menjaga kepentingan keuangan negara.. individual orang asing yang menjadi korban penipuan oleh warga Indonesia di Indonesia. Lihat ibid. 35 J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, alih bahasa bambang Iriana Djajaatmaja, Jakarta: Sinar Grafika, 2003, hlm. 303. 36 Kejahatan yang dimaksud dalam Pasal 4 Ke-1ini merupakan kejahatan terhadap keamanan negara (Buku Kedua Bab I KUHP) serta kejahatan terhadap martabat Presiden atau Wakil Presiden (Buku Kedua Bab II KUHP)..

(53) 36. Pasal 8 KUHP berbunyi: “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia berlaku di luar Indonesia, juga waktu mereka tidak ada di atas kendaraan air, melakukan salah satu perbuatan yang tersebut dalam bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX Buku Ketiga, demikian juga yang tersebut dalam peraturan umum tentang surat-surat laut dan pas-pas kapal di Indonesia dan yang tersebut dalam “Ordonantie Kapal 1927”.37 Pasal ini menentukan bahwa nakhoda atau penumpang kapal laut atau perahu Indonesia yang melakukan peristiwa pidana di luar wilayah Republik Indonesia, dapat dituntut menurut ketentuan hukum pidana Republik Indonesia.38 Adapun kejahatan yang dimaksud dalam Bab XXIX Buku Kedua adalah kejahatan dalam pelayaran, sedangkan yang dimaksud dalam Bab IX Buku Ketiga. adalah pelanggaran-pelanggaran dalam. pelayaran. 4. Asas Universal Asas universal mengandung pengertian bahwa, suatu negara memiliki yuridiksi atas pelaku suatu kejahatan, di mana dan kapanpun kejahatan itu dilakukan, siapapun pelaku maupun korbannya. Prinsip ini melihat pada suatu tata hukum Internasional yang melibatkan semua negara di dunia. Oleh karenanya jika ada suatu kejahatan yang dapat merugikan kepentingan Internasional, maka setiap negara berhak untuk mengadili pelaku tanpa melihat status kewarganegaraan.39. 37. R. Sugandhi, op.cit., hlm. 10-11. Ibid.,. 39 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung: PT. Eresco, 1989), hlm. 53. 38.

(54) 37. Kejahatan yang pelaku nya ditundukkan pada asas universal ini merupakan kejahatan yang digolongkan sebagai musuh umat manusia (hostis. human. generis). semisal. kejahatan. narkotika,. terorisme,. pembajakan pesawat udara, genocide, kejahatan perang dan lain-lain. Penegasan yuridiksi universal ini terdapat di dalam konvensi tentang kejahatan Internasional atau kejahatan yang mempunyai dimensi Internasional. Konvensi mewajibkan kepada negara-negara peserta konvensi yang di wilayahnya di temukan pelaku kejahatan atau pelaku tindak melawan hukum terhadap keselamatan penerbangan sipil, jika negara tersebut tidak bermaksud untuk meng ekstradisikan pelaku nya, agar menyerahkan kasus tersebut kepada badan yang berwenang untuk dilakukan penuntutan, tanpa terkecuali, baik kejahatan tersebut dilakukan di wilayah negara bersangkutan maupun di luar wilayah negara tersebut. Ditinjau dari segi hukum pidana, khususnya hukum pidana Indonesia, yuridiiksi universal inilah yang dipandang sama dengan asas universal hukum pidana. Tegas nya hukum pidana suatu negara berlaku bagi siapapun, di manapun dan kapanpun suatu peristiwa pidana terjadi.40 Dengan demikian, tampak pula bahwa kaidah hukum pidana berdasarkan asas universal ini tidak tunduk pada asas daluwarsa. Hal ini dikarenakan kejahatan yang tunduk pada yuridiksi atau asas universal,. 40. I Wayan Parthiana, op.cit., hlm. 16..

(55) 38. tergolong peristiwa pidana atau kejahatan yang merupakan musuh umat manusia.41 Asas. universal. dalam. perkembangan. hukum. Internasional. memiliki peranan yang sangat strategis sebagai bentuk solidaritas sekaligus sebagai pertanggungjawaban masyarakat Internasional terhadap kejahatan Internasional. Meskipun demikian masih banyak negara yang meragukan penerapan asas ini jika tidak dilandaskan pada standar tertentu, yaitu kekhawatiran terhadap “intervensi” terhadap kedaulatan suatu negara.42 Keberatan banyak negara dalam menerapkan asas universal ini juga disebabkan kehendak negara-negara tersebut untuk menyerahkan sepenuhnya wewenang menuntut dan mengadili kepada negara yang memiliki yuridiksi yang kuat atas kejahatan Internasional. Oleh karena itu, sebagai jalan keluar yang ditawarkan dalam hukum Internasional dikenal resentation. principle. yang. berarti. bahwa,. penerapan. yuridiksi. ekstrateritorial suatu negara atas kejahatan internasional adalah untuk kepentingan pihak ketiga yang secara langsung mempunyai kepentingan atas kejahatan dimaksud.43 Berdasarkan hal ini pula Romli berpendapat bahwa sekalipun dalam praktik hukum Internasional asas universal dipandang lebih efektif dalam menuntut dan mengadili kejahatan-kejahatan yang sangat kejam serta 41. bertentangan. dengan. Ibid., Romli Atmasasmita, op.cit., hlm. 6-7. 43 Ibid., hlm. 7. 42. kemanusiaan,. pada. saat. yang. sama.

(56) 39. pemberlakuan asas teritorial dan asas nasionalitas (kewarganegaraan) tetap relevan untuk diberlakukan.44 Asas universal bertujuan untuk melindungi kepentingan dunia. Penerapan asas ini diatur dalam Pasal 4 sub ke-2 dan ke-4 KUHP yang berbunyi: “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Republik Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan di luar daerah Republik Indonesia.” Ke-2. suatu kejahatan tentang mata uang, uang kertas negara atau uang kertas bank atau tentang materai atau merk yang dikeluarkan atau digunakan oleh Pemerintah Republik Indonesia; Ke-4. salah satu kejahatan yang tersebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan Pasal 446 tentang pembajakan laut dan Pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan Pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, Pasal 479 huruf l, m, n, dan o tentang kejahatan yang mengancam keselamatan penerbangan sipil. (UU. No. 4/1976). Dalam sub ke-2 Pasal 4 KUHP – berdasarkan Conventie Genewa tahun 1929 - ditetapkan bahwa siapa saja yang memalsukan atau memasukan uang dan uang kertas dari negara manapun juga dapat dituntut menurut pidana Indonesia. Pasal 4 sub ke-4 KUHP sesuai dengan jiwa Declaration of Paris 1856. berdasarkan deklarasi tersebut, maka hukum antar negara modern melarang perampokan di laut tanpa melihat siapa pelaku dan yang menjadi korban.45 Kejahatan pembajakan udara yang tunduk pada asas universal ini diatur dalam U.U. No. 4 tahun 1976 (L.N. No. 26 tahun 1976).46 Undang-. 44. Ibid., hlm. 11. A. Zainal Abidin Farid, op.cit., 160-161. 46 Selain sebagai penambahan pasal dalam KUHP yang bertalian dengan perluasan berlakunya ketentuan perundang-undangan pidana, undang-undang ini juga sebagai penambah Bab 45.

(57) 40. undang ini hanya menyebutkan dua jenis kejahatan yaitu kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana dan prasarana penerbangan. Dalam undang-undang ini tidak disebutkan secara tegas adanya penggolongan tindak pidana penerbangan. Berkaitan dengan hal ini, dalam KUHP Indonesia ditambahkan satu bab baru setelah Bab XXIX dengan Bab XXIX A. tentang Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan terhadap Sarana dan Prasarana Penerbangan yang terdiri dari Pasal 479 huruf a dan Pasal 479 huruf r dengan ketentuan sanksi yang berbeda-beda dalam tiap pasal. Kejahatan penerbangan merupakan suatu perbuatan yang dapat mengancam keselamatan baik jiwa maupun harta manusia, juga merupakan tindakan yang sangat mengganggu serta menghambat pengembangan lalu lintas udara Internasional maupun nasional serta menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap keamanan penerbangan sipil menjadi berkurang.47 Demikianlah keempat asas mengenai ruang berlakunya aturanaturan hukum pidana Indonesia. Selanjutnya dalam KUHP terdapat pengecualian terhadap ketentuan-ketentuan dalam pasal 2-5-7 dan 8, yakni sebagai mana tersebut. Dalam pasal 9.. baru setelah Bab XXIX KUHP dengan XXIX A tentang Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan terhadap Sarana/prasarana Penerbangan. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1976 Tentang Perubahan dan Penambahan Beberapa Pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Bertalian dengan Perluasan Berlakunya Ketentuan Pidana, Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan terhadap Sarana/prasarana Penerbangan. 47 Djoko Prakoso, Tindak Pidana Penerbangan di Indonesia (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 55..

Referensi

Dokumen terkait

Dalam memperoleh kompetensi tersebut para Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) wajib mengikuti proses pembentukan kompetensi melalui kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan

Analisis karakteristik gempa di kota Bengkulu dibagi dalam beberapa analisis sederhana, yaitu penentuan frekuensi kejadian gempa dalam rentang tahun yang ditinjau,

SMK Immanuel Medan telah melakukan terobosan pada tahun 2004 menjadi sekolah berstandar nasional, kerja sama dengan PT ISI Jakarta melalui Lembaga Pendidikan (Lemdiklat)

Terminal Bus juga merupakan suatu area dan fasilitas yang di dalamnya terdapat interaksi berbagai elemen seperti manusia (penumpang, pedagang dan kru bus), fasilitas

Rata-rata pemahaman konsep, miskonsepsi dan tidak paham konsep pada Gambar 1 dan 2, Secara keseluruhan pada pokok bahasan Kingdom Plantae dan Kingdom Animalia

Respons Bibit Manggis (Garcinia Mangostana L.) Terhadap Inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskular, Aplikasi Pupuk Fosfat, dan Penaungan Pada Tanah Ultisol di Padang,

Laporan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Jumlah Peserta Sistem Ujian Online Program Studi Non Pendidikan Dasar di UPBJJ- UT

 SAIDI ( System Average Interruption Duration Index ) menginformasikan tentang durasi pemadaman rata-rata untuk tiap konsumen dalam kurun waktu setahun pada suatu area