• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kegiatan transaksi gadai telah menjadi bagian dari perekonomian masyarakat sejak zaman kolonialisme. Dalam praktiknya transaksi gadai memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pinjaman tanpa kehilangan barang berharga sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati. Usaha pergadaian adalah lembaga yang melakukan pembiayaan dengan bentuk penyaluran kredit atas dasar hukum kredit (Soemitra, 2009: 393). Pada awalnya usaha pergadaian ada untuk membantu masyarakat golongan ekonomi lemah namun pada perkembangannya gadai dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Namun seiring perkembangan zaman berbagai bentuk lembaga pergadaian hadir dalam cara dan metode yang semakin memberikan kemudahan bagi masyarakat.

Pergadaian di Indonesia merupakan sebuah bentuk intermediasi keuangan yang paling mudah dan sederhana. Savina berpendapat bahwa peran pergadaian sebagai kreditur dasar warga sangat meningkat. Berhasil berfungsi di pasar kredit konsumen, pergadaian mempertahankan dan meningkatkan kapasitas pembayaran penduduk, hal ini mengaktifkan permintaan agregat dalam perekonomian dan bertindak sebagai dorongan tambahan dari pembangunan ekonomi negara (Savina,dkk ,2017: 32).

Menanggapi perkembangan usaha pergadaian dewasa ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatur mengenai kegiatan usaha pergadaian melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 21/POJK.05/2016 tentang Usaha Pergadaian. Lembaga pegadaian itu sendiri terbagi atas 2 jenis yakni lembaga gadai milik pemerintah dan lembaga gadai swasta. Berlakunya POJK Usaha Pergadaian ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi OJK untuk melakukan pengawasan terhadap usaha pergadaian sebagai salah satu Industri Jasa

(2)

2

Keuangan Khusus (OJK T. P., 2019: 34). Berdasarkan Pasal 2 hingga Pasal 12 POJK Usaha Pergadaian, yakni dengan syarat antara lain :

1. Perusahaan pergadaian tersebut berbentuk perseroan terbatas atau koperasi;

2. Besaran modal berdasarkan lingkup wilayah usaha, dimana besaran modal untuk lingkup wilayah usaha kabupaten/kota sebesar Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sedangkan besaran modal untuk lingkup wilayah usaha provinsi sebesar Rp. 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah);.

3. Memiliki ahli taksir yang bersertifikat.

Dari catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhitung pada 30 April 2021, terdapat 100 perusahaan gadai swasta yang berstatus terdaftar dan berizin yang terdiri dari 74 perusahaan terdaftar dan sudah berizin sebanyak 26 lainnya terdaftar dan sedang proses untuk memperoleh izin serta 17 lembaga gadai ilegal yang diumumkan OJK terhitung dari 30 Maret 2021 (OJK, 2021).

Praktik pelaksanaan usaha gadai swasta ilegal banyak ditemui di pinggir- pinggir ruas jalanan Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara.

Sejumlah praktik usaha gadai swasta yang tidak terdaftar dan belum memiliki izin antara lain Usaha Gadai Bless 1, Usaha Gadai Bless 2, Usaha Gadai Delta 1, Usaha Gadai Delta 2, Usaha Gadai Mari (Melati Fitri, 2018 : 75).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fitri ia mengemukakan bahwa dalam menjalankan transaksi gadai pada lembaga gadai swasta yang tidak memiliki izin tersebut persyaratan untuk mencairkan dana sangat mudah yakni dengan membayar biaya administrasi sebesar Rp. 10.000,- biaya membeli materai Rp. 10.000,- dan membayar bunga sebesar 10% setiap bulannya dari jumlah pinjaman nasabah. Perjanjian dilaksanakan dalam waktu 1 bulan dan dapat diperpanjang selama 3 bulan dan ketika nasabah telat membayar dikenakan denda sebesar Rp. 5000,- setiap harinya. Ketika nasabah tidak kunjung menebus barang jaminan dalam kurun waktu 14 (empat belas) hari

(3)

3

sejak hari keterlambatannya maka pemilik usaha akan menghubungi nasabah jika tidak ada respon maka pemilik usaha akan menjual atau melelang barang jaminan nasabah tanpa pemberitahuan kepada nasabah serta tidak ada pengembalian kepada nasabah apabila terdapat kelebihan nilai atas penjualan barang jaminan. Hal tersebut jelas melanggar ketentuan Pasal 24 POJK Usaha Pergadaian yang menyatakan bahwa Perusahaan Pergadaian dapat melelang barang jaminan berdasarkan kesepakatan antara Perusahaan Pergadaian dengan Nasabah yang dimuat dalam Surat Bukti Gadai, dalam hal ini nasabah dapat menjual sendiri barang jaminannya atau nasabah memberikan kuasa kepada Perusahaan Pergadaian untuk menjualkan barang jaminannya serta Perusahaan Pergadaian wajib memiliki pedoman tertulis untuk melakukan penjualan Barang Jaminan.. Ketika terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh debitur yang mengakibatkan benda gadai dijual langsung oleh pemegang gadai tanpa pemberitahuan kepada debitur atau benda gadai dimiliki langsung oleh pemegang gadai hal tersebut tentu menyalahi aturan yang berlaku sebab penjualan benda gadai seharusnya dilakukan dengan pemberitahuan (sommatie) terlebih dahulu kepada pemberi gadai. Penjualan benda gadai harus dilakukan di depan umum menurut kebiasaan setempat. Hal ini untuk memberikan perlindungan hukum kepada pemberi gadai (Badriyah, Soeharto,

& Marjo, 2019: 11). Penelitian serupa juga telah dilakukan oleh Audina Nabilla yang melakukan penelitian praktik usaha gadai swasta di Sarwah Mandiri Candi Sidoarjo yang hasilnya menyebutkan bahwa pelaku usaha belum mendaftarkan usaha gadainya sebab belum siap untuk mengelola keuangan secara formal dan rumit. Pelaku usaha dalam menjalankan transaksi gadai belum berdasarkan POJK Nomor 31/POJK.05/2016. Kemudian selain permasalahan izin usaha, pelaku usaha gadai swasta yang tidak memiliki izin tersebut dinilai tidak dapat memberikan perlindungan secara penuh terhadap barang jaminan yang digadaikan. Ketika terdapat kerusakan pada barang jaminan pelaku usaha tidak mau mengganti kerugian karena hal tersebut telah menjadi komitmen pelaku usaha bahwa usaha gadai ini dijalankan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya jadi tidak mau rugi sedikitpun.

(4)

4

Dalam pelaksanaannya usaha gadai tersebut tinggal menjamin kepercayaan saja terhadap barang jaminan milik konsumen walaupun pergadaian tersebut belum menerapkan POJK Nomor 31/POJK.05/2016 (Audina Nabila, 2017 : 51).

Seperti pada contoh kasus di atas menggambarkan maraknya bisnis gadai di Indonesia tidak terlepas dari minat masyarakat yang tinggi terhadap bisnis gadai. Banyaknya papan nama yang terpasang di depan outlet atau di pinggir jalan yang menyatakan bahwa usaha gadai menerima benda-benda bergerak seperti laptop, handphone, televisi, dan barang elektronik lainnya membuat usaha gadai ini mudah dikenal masyarakat. Masyarakat memilih lembaga gadai swasta bukan karena sebab beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat berminat menggunakan jasa gadai swasta yang tidak terdaftar dan belum berizin pelaku usaha menawarkan kemudahan dalam proses pencairan dana, tidak memakan waktu yang lama, serta biaya administrasi yang murah.

Hal tersebut yang memunculkan permasalahan hukum yang perlu dibahas dan diteliti sebab pelaksanaan transaksi gadai dalam lembaga gadai yang tidak terdaftar dan belum memiliki izin sama halnya melakukan transaksi pada lembaga ilegal. Praktik ilegal tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan kecurangan dan sangat merugikan bagi masyarakat. Apabila merugikan masyarakat berarti sama halnya dengan melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana yang telah didefinisikan pada KUHPerdata yang berbunyi bahwa setiap perbuatan melawan hukum, yang oleh karenanya menimbulkan kerugian pada orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya menyebabkan kerugian itu menanggung kerugian. Dengan demikian pelaku usaha memiliki kewajiban untuk menanggung segala kerugian yang timbul akibat perbuatan melawan hukum yang dalam hal ini pelaku usaha tidak mendaftarkan usaha sehingga tidak memiliki izin usaha gadai sebagaimana yang telah diatur dalam POJK Nomor 31/POJK.05/2016 tentang usaha pergadaian. Berdasarkan latar belakang diatas penelitian ini hendak meneliti perlindungan hukum bagi nasabah dalam transaksi gadai oleh lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin di Indonesia.

(5)

5 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dikaji dua rumusan masalah yaitu :

1. Bagaimana perlindungan hukum nasabah yang melakukan transaksi gadai di lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin?

2. Bagaimana tanggung jawab hukum lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin operasional di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian harus memiliki tujuan yang hendak dicapai oleh penulis.

Tujuan penelitian merupakan arah untuk menjelaskan maksud dari penulis yang akan dibuat oleh penulis. Adapun tujuan penelitian ini antara lain :

1. Tujuan Objektif

a. Menganalisis mengenai perlindungan hukum nasabah yang melakukan transaksi gadai di lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin.

b. Menganalisis tanggung jawab hukum lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin operasional di Indonesia.

2. Tujuan Subjektif

a. Menambah ilmu, wawasan dan pengetahuan bagi penulis dalam bidang Ilmu Hukum pada umumnya dan bidang Hukum Perdata pada khususnya.

b. Memberikan wawasan kepada masyarakat tentang perlindungan hukum bagi nasabah yang melakukan transaksi gadai pada lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin.

c. Menerapkan ilmu dan teori hukum yang telah penulis peroleh selama perkuliahan agar dapat bermanfaat bagi penulis dan masyarakat.

d. Memenuhi persyaratan akademis dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum di bidang Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(6)

6 D. Manfaat Penelitian

Penulis berharap penelitian ini memberikan manfaat di bidang hukum perdata baik bagi penulis maupun masyarakat, dengan demikian manfaat dari penulisan ini yaitu :

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangsih pemikiran dan manfaat baik untuk akademisi, praktisi, maupun untuk masyarakat luas demi kemajuan perkembangan Ilmu Hukum secara umum dan untuk hukum perdata pada khususnya.

b. Menambah referensi dan literatur kepustakaan hukum perdata terkait perlindungan jaminan pada objek gadai nasabah yang melakukan transaksi di lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti dapat bermanfaat bagi penulis dan masyarakat pengguna transaksi gadai di Indonesia.

b. Mengembangkan pola pikir penulis dalam menghadapi isu hukum yang berkembang dalam masyarakat sehingga dapat merapakan ilmu yang diterima selama masa studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

E. Metode Penelitian

Penelitian hukum adalah suatu bentuk kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari suatu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan gejala menganalisisnya (Soekanto, 207:43). Metode penelitian yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian hukum, yaitu :

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif atau doktrinal karena penelitian ini cenderung melihat suatu isu hukum dari sudut pandang norma-norma saja, menggunakan berbagai literatur untuk

(7)

7

menjawab rumusan masalah yang telah dipaparkan. Penelitian hukum normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka dan data sekunder dan bahan non hukum, dalam penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dimana jawaban yang dihadapkan adalah right, inappropriate, atau wrong (Peter Mahmud Marzuki, 2016:34-35).

2. Sifat Penelitian

Penelitian hukum yang digunakan dalam penulisan hukum ini bersifat preskriptif. Menurut Peter Mahmud Mrzuki, penelitian hukum normatif bersifat preskriptif dimana objek ilmu hukum merupakan koherensi antara norma hukum dan prinsip hukum, antara aturan hukum dan norma hukum, serta anatar tingkah laku individu dengan norma hukum ( Peter Mahmud Marzuki, 2016: 41).

3. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian dalam penulisan hukum ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang berkaitan dengan isu hukum yang sedang ditangani (Peter Mahmud Marzuki, 2015:133) serta dengan memberikan sudut pandang analisa penyelesaian permasalahan dalam penelitian hukum yang dapat dilihat dari latar belakang atau nilai- nilai yang terkandung dalam sebuah peraturan.

4. Sumber Bahan Penelitian

Sumber bahan penelitian yang digunakan penulis dalam penulisan hukum ini yaitu:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer meliputi peraturan perundang-undangan, catatn resmi, risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan

(8)

8

putusan – putusan hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2014:181).

Bahan hukum primer yang digunakan penulis dalam penulisan hukum adalah sebagai berikut:

1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;

3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;

4) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan;

5) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian;

6) Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2011 Tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero);

7) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan 8) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.05/2016

tentang Usaha Pergadaian.

9) Permen Koperasi dan UMKM No 9 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan dan Pembinaan Perkoperasian.

b. Bahan Hukum Sekunder

Pada penelitian ini bahan hukum sekunder yang digunakan adalah hasil penelitian, buku teks, jurnal hukum maupun non hukum baik tingkat nasional maupun internasional, research paper, skripsi, tesis, disertasi, serta makalah yang berkaitan dengan transaksi gadai pada lembaga gadai swasta yang belum memiliki izin.

(9)

9

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian normatif, penelitian ini menggunakan metode browsing yang artinya penulis melakukan pencarian informasi menggunakan media internet seperti Google Chrome dan Mozila FireFox dengan sistem searching sehingga penulis dapat mencari dokumen yang diperlukan seperti jurnal, artikel, buku maupun literatur lain yang diperlukan. Kemudian setelah mendapatkan dokumen yang diperlukan penulis mengunduh dokumen tersebut atau biasa disebut dengan download. Serta penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data collecting, copying, serta dokumentasi yang didapatkan dari buku, jurnal, maupun artikel.

6. Teknik Analisis Bahan Hukum

Teknik analisis penulisan hukum ini menggunakan teknik interpretasi gramatikal, historis, dan sistematis. Menurut Sudikno Mertokusumo interpretasi gramatikal merupakan cara penafsiran atau penjelasan yang paling sederhana untuk mengetahui makna ketentuan undang-undang dengan menguraikannya menurut bahasa, susun kata atau bunyinya (Sudikno Mertokusumo, 2008: 170). Interpretasi historis yakni suatu metode penafsiran peraturan berdasarkan latar belakang dan sejarah pembentukan peraturan. Penulis menambahkan latar belakang dibentuknya POJK Usaha Pergadaian sebagai salah satu bahan penelitian. Interpretasi sistematis atau logis dilakukan dengan menafsirkan peraturan perundang-undangan yang dihubungkan dengan peraturan hukum yang lain atau dengan keseluruhan sistem hukum.

Pada penelitian ini penulis menghubungkan POJK Usaha Pergadaian dengan UU Perseroan Terbatas, UU Koperasi, dan peraturan perundang-undangan lainnya.

(10)

10 F. Sistematika Penulisan Hukum

Pada penelitian hukum perlu adanya sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penulisan hukum. Secara umum, sistematika penulisan hukum diperlukan untuk mempermudah pemahaman dalam penulisan hukum yang mana terdiri dari 4 (empat) bab yang tiap-tiap bab terbagi dalam sub bagian yang memudahkan dalam pembahasan penulisan hukum Adapun sistematika yang dimaksud sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis akan menguraikan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan hukum.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis menguraikan 2 hal yakni kerangka teori dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka teori terdapat beberapa tinjauan yang dibahas yakni tinjauan umum tentang perjanjian, tinjauan umum tentang gadai, tinjauan umum tentang jaminan gadai, tinjauan umum tentang legalitas, tinjauan umum tentang perlindungan hukum, serta tinjauan umum tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Teori dan materi yang dipaparkan tersebut digunakan sebagai landasan yang melandasi dalam penulisan penelitian yang diperoleh dari studi kepustakaan yang mengacu pada rumusan masalah yang telah disebutkan diatas. Pada kerangka pemikiran penulis menyampaikan bagan untuk menjelaskan alur pemikiran supaya memperoleh pemahaman.

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini berisikan tentang uraian hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis serta analisa permasalahan sesuai dengan rumusan masalah.

(11)

11 BAB IV : PENUTUP

Dalam bab ini penulis menyampaikan simpulan hasil penelitian serta saran yang dapat diberikan penulis berdasarkan hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Lombok Barat adalah verbal bullying (menghina mengejek, mengintimidasi, atau memberikan julukan nama), (financial bullying), (pemalakan (2) Faktor-faktor yang

Persahabatan Raya, Pisangan Timur, Pulogadung 46/BH/KWK.9/I/98 28/01/98 Tidak Aktif 144 Kopeg Kantor Pelayanan Pajak, Jatinegara Jl.. Slamet

Dari angka-angka yang tampak pada Tabel 1 tersebut, kita dapat menghitung secara gampang kuantitas manure yang dihasilkan per hari dari industri feedlot yang, apabila jumlah

Gambar 72 Desain Antar Muka Tambah Data Kemampuan Khusus Pelamar 128 Gambar 73 Desain Antar Muka Lihat Data Pribadi Pelamar

Jika Penawar yang Berjaya ingkar dalam mematuhi mana-mana syarat di atas atau membayar apa-apa wang yang harus dibayar, maka Pihak Pemegang Serahhak/Pemberi Pinjaman boleh

Sistem Informasi Sungai dan Pantai (SISPA) Berbasis Web ini dikembangkan untuk membantu Kementerian Pekerjaan Umum dalam rangka melaksanakan pengelolaan data sumber daya air sungai

Ja sitten oli siellä aikansa ja käytiin nostamassa, niin niitä niin hirmu paljon meiltä karkas, et siellä oli kyllä rapuja hyvin, mutta sillä menetelmällä me ei saatu

Berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa antara perlakuan penambahan gelatin dan proporsi sirup glukosa : sukrosa tidak terjadi interaksi yang nyata (p ≤ 0,05)