• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya adalah modal manusia. Teori modal manusia pertama kali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. diantaranya adalah modal manusia. Teori modal manusia pertama kali"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Unsur pembangunan yang mendukung kemajuan dari sebuah negara diantaranya adalah modal manusia. Teori modal manusia pertama kali diperkenalkan oleh Schultz (1961). Di dalam teori ini dikatakan bahwa baik pengetahuan maupun ketrampilan merupakan bentuk modal yang dapat digunakan sebagai investasi. Menurutnya, pendidikan, pelatihan, dan kesehatan merupakan bentuk investasi untuk membuka kesempatan dan pilihan yang seharusnya tersedia bagi banyak individu.

Untuk mengukur mutu modal manusia, United Nations Development Program (UNDP) mengenalkan konsep mutu modal manusia yang diberi nama Human Development Index atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Konsep IPM pertama kali dipublikasikan UNDP melalui Human Development Report tahun 1990, yang kemudian berlanjut setiap tahun. Dalam publikasi ini pembangunan manusia didefinisikan sebagai “a process of enlarging people’s choices” atau proses yang meningkatkan aspek kehidupan masyarakat.

Menurut UNDP (1990), pembangunan manusia merupakan model pembangunan yang ditujukan untuk memperluas pilihan yang dapat ditumbuhkan melalui upaya pemberdayaan penduduk. Pemberdayaan penduduk ini dapat dicapai melalui upaya yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan dasar manusia yaitu meningkatkan derajat kesehatan, pengetahuan, dan keterampilan

(2)

agar dapat digunakan untuk mempertinggi partisipasi dalam kegiatan produktif sosial, budaya, dan politik.

Kualitas pembangunan manusia menjadi hal yang sangat penting dalam strategi kebijakan nasional untuk pembangunan ekonomi. Pentingnya kualitas pembangunan manusia menjadi suatu kebutuhan karena dengan sumber daya yang unggul akan menghasilkan tatanan kehidupan yang maju di berbagai bidang baik sosial, ekonomi, maupun lingkungan sehingga kualitas manusia memiliki andil besar dalam menentukan keberhasilan pengolahan pembangunan wilayah.

Menurut Brata (2002), tingkat pembangunan manusia yang tinggi sangat menentukan kemampuan penduduk dalam menyerap dan mengelola sumber- sumber pertumbuhan ekonomi, baik kaitannya dengan teknologi maupun terhadap kelembagaan sebagai sarana penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.

Ranis, Frances, dan Ramirez (2000), menyatakan bahwa pembangunan manusia merupakan dampak dari pengembangan modal manusia. Perbaikan dari modal manusia itu sendiri tidak terlepas dari perbaikan pertumbuhan ekonomi.

Dengan kata lain antara pertumbuhan ekonomi dan dampaknya terhadap pembangunan manusia maupun sebaliknya merupakan kaitan yang cukup kuat.

Secara khusus Human Development Report tahun 1996 membahas mengenai hubungan saling mempengaruhi (two way relationship) antara IPM dan pertumbuhan ekonomi. Hubungan timbal balik antara IPM dan pertumbuhan ekonomi secara sederhana dijelaskan pada Gambar 1.1.

(3)

Sumber: UNDP, 1996

Gambar 1.1

Hubungan antara Pembangunan Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi Menurut Human Develompent Report Tahun 1996

Institusi dan Pemerintahan

Reproduksi Sosial

Komposisi Output dan Ekspor

Ketenagakerjaan Pengeluaran rumah

tangga untuk kebutuhan dasar Pengeluaran

Prioritas Kemampuan

pekerja dan petani, pengusaha, manajer

Pembangunan Manusia

Model Sosialisasi,LSM dan organisasi Kemasyarakatan

Kegiatan dan Pengeluaran Rumah Tangga Kebijaksanaan dan

Pengeluaran Pemerintah Produksi R & D

dan Teknologi

Distribusi Sumber Daya Swasta dan Masyarakat

Pertumbuhan Ekonomi

Tabungan Dalam Negeri Modal Fisik

Tabungan Luar Negeri

(4)

IPM Provinsi Sumatera Utara terkait dengan pembangunan manusianya, menunjukkan peningkatan dari tahun 2009-2013 seperti pada Gambar 1.2.

Sumber: BPS Sumatera Utara, 2014

Gambar 1.2

IPM Indonesia dan Provinsi Sumatera Utara ,2009-2013

Gambar 1.2 menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2009-2013 IPM Provinsi Sumatera Utara terus mengalami peningkatan, yaitu sebesar 73,80 pada tahun 2009 menjadi 75,55 pada tahun 2013. Selain nilainya yang terus mengalami peningkatan, IPM Provinsi Sumatera Utara juga selalu lebih besar daripada IPM Indonesia selama lima tahun berturut-turut. Tahun 2009 misalnya, disaat IPM Provinsi Sumatera Utara sebesar 73,80, IPM Indonesi hanya sebesar 71.76.

Demikian pula pada tahun 2013, di saat IPM Provinsi Sumatera Utara sebesar 75,55, IPM Indonesia hanya sebesar 73.81.

Tinggi dan rendahnya IPM akan berdampak pada tingkat produktivitas penduduk, semakin rendah IPM maka tingkat produktivitas penduduk juga akan rendah, begitu pula sebaliknya semakin tinggi IPM, maka akan semakin tinggi tingkat produktivitas penduduk yang kemudian mendorong tingkat pendapatan

69.00 70.00 71.00 72.00 73.00 74.00 75.00 76.00

2009 2010 2011 2012 2013

IPM

Tahun

IPM Sumatera Utara IPM Indonesia

(5)

menjadi semakin tinggi. Permasalahan yang terjadi adalah IPM pada tiap daerah berbeda, hal ini menjadikan IPM salah satu faktor yang berpengaruh pada ketimpangan pendapatan antardaerah/wilayah. Berikut gambaran posisi IPM Provinsi Sumatera Utara dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia.

Sumber: BPS Sumatera Utara, 2014

Gambar 1.3

Peringkat IPM Provinsi Sumatera Utara Tingkat Nasional,2009-2013

Gambar 1.3 menunjukkan bahwa IPM Provinsi Sumatera Utara cukup tinggi jika dibandingkan dengan Provinsi lainnya. Selama kurun waktu 2009-2013 Provinsi Sumatera Utara tetap masuk sebagai 10 besar Provinsi dengan IPM tertinggi dengan menduduki ranking ke-8. Hal ini menegaskan bahwa Provinsi Sumatera Utara dapat dikategorikan sebagai Provinsi dengan kualitas modal manusia yang cukup baik.

Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia secara empiris tidak terbukti otomatis. Artinya, beberapa daerah mungkin mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat tanpa diikuti oleh pembangunan manusia yang seimbang. Sebaliknya, daerah lainnya yang mengalami pertumbuhan ekonomi

2009 2010 2011 2012 2013

IPM 73.80 74.19 74.65 75.13 75.55

Peringkat IPM 8 8 8 8 8

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

72.50 73.00 73.50 74.00 74.50 75.00 75.50 76.00

IPM

(6)

pada tingkat sedang tetapi dapat meningkatkan kinerja pembangunan manusia.

Namun, bukti empiris ini tidak berarti bahwa pertumbuhan ekonomi tidak penting bagi pembangunan manusia. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat diukur dengan melihat PDRB dan laju pertumbuhannya atas dasar harga konstan. Berikut gambaran posisi laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia.

Sumber: BPS Sumatera Utara, 2014

Gambar 1.4

Peringkat Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumatera Utara Tingkat Nasional,

2009-2013 (%)

Gambar 1.4 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 selalu berada diatas 6 persen. Perekonomian Provinsi Sumatera Utara mulai stabil setelah pemulihan dari krisis global tahun 2008, yang dampaknya masih terlihat pada pertumbuhan ekonomi tahun 2009 di mana pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07 persen.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara tahun 2013 sebesar 6,01 persen,

2009 2010 2011 2012 2013

Laju Pertumbuhan 5.07 6.42 6.63 6.22 6.01

Peringkat Laju Pert. 19 15 13 21 20

0 5 10 15 20 25

- 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00

Laju Pertumbuhan Ekonomi

(7)

menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan bila dibandingkan dengan tahun 2012 yang tercatat sebesar 6,22 persen. Salah satu penyebab yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan tersebut adalah menurunnya ekspor.

Gambar 1.3 dan 1.4 menunjukkan bahwa tingginya peringkat nasional IPM tidak diikuti dengan dengan peringkat nasional pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sumber daya manusia di Provinsi Sumatera Utara secara keseluruhan belum sepenuhnya diikuti dengan keberhasilan pertumbuhan ekonomi.

Selain pembangunan manusia, hal yang penting dipertimbangkan dalam masalah pertumbuhan ekonomi adalah pembangunan infrastruktur. Esfahani dan Ramírez (2003), membuktikan bahwa infrastruktur mempunyai dampak kuat terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurut Kuncoro (2010: 399), infrastruktur merupakan dasar utama dalam memasarkan daerah. Slogan dan image-positioning tidak akan ada artinya tanpa diikuti oleh tersedianya prasarana dan sarana yang mampu menarik orang, investasi, dan modal. Hal yang perlu ditekankan dalam mempromosikan infrastruktur adalah: aksebilitas dan kualitas infrastruktur.

Menurut Maqin (2011), pada dasarnya infrastruktur pembangunan dapat dibedakan menjadi:

1. infrastruktur ekonomi yaitu infrastruktur fisik baik yang digunakan dalam proses produksi maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat, meliputi semua prasarana umum seperti tenaga listrik, telekomunikasi, perhubungan, irigasi, air bersih, dan sanitasi serta pembuangan limbah;

2. infrastruktur sosial yaitu prasarana sosial seperti kesehatan dan pendidikan;

(8)

Infrastruktur jalan merupakan salah satu sarana yang penting untuk memperlancar dan mendorong kegiatan perekonomian. Semakin meningkatnya usaha pembangunan, menuntut pula peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lainnya. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara menitikberatkan pada sektor pertanian dan pariwisata, yang dalam pelaksanaannya tentu harus didukung dengan infrastruktur yang memadai.

Sumber: BPS Sumatera Utara, 2014

Gambar 1.5

Persentase Panjang Jalan di Provinsi Sumatera Utara Menurut Kondisi Jalan (%)

Gambar 1.5 menunjukkan bahwa keadaan infrastruktur jalan Provinsi Sumatera Utara cukup memprihatinkan. Lebih dari 30 persen dari total jalan yang ada di Provinsi Sumatera Utara mengalami kerusakan. Hal ini tentu saja cukup mengganggu mobilitas perekonomian antarkabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.

(9)

Modal manusia dan modal fisik berupa infrastruktur memiliki peran penting dalam proses pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, penulis tertarik untuk mengetahui seberapa besar keterkaitan antara pembangunan manusia dan infrastuktur dengan pertumbuhan ekonomi pada kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.

1.2 Keaslian Penelitian

Penelitian dan kajian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu disajikan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Lokasi, periode Alat analisis Hasil penelitian 1. Prasetyo dan

Firdaus (2009)

26 Provinsi di Indonesia

Regresi data panel 1.Infrastruktur listrik, jalan,dan air bersih mempunyai pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

2.Kegiatan produksi di Indonesia masih dikategorikan sebagai labor intensive, hal ini ditunjukkan oleh angka elastisitas tenaga kerja lebih besar daripada elastisitas modal.

2. Adawo (2011)

Nigeria (1970- 2006)

Pengujian dengan Dickey-Fuller (DF), dan Augmented Dickey-Fuller (ADF)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Sekolah Dasar, pembentukan modal fisik, dan kesehatan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sekolah menengah dan perguruan tinggi tidak berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

(10)

No Peneliti Lokasi, periode Alat analisis Hasil penelitian 3. Hendarmin

(2011)

Data panel Kabupaten Kota di Provinsi Kalimantan Barat (2001-2008)

Metode persamaan simultan dengan Two Stage Least Square (TSLS)

1.Ada hubungan timbal balik antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia.

2.Populasi, investasi dan pembangunan manusia berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

3.Pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran pemerintah pada sektor pendidikan dan kesehatan berpengaruh positif signifikan terhadap

pembangunan manusia.

4. Kreishan dan Hawarin (2011)

Yordania (1978- 2007)

Uji kointegrasi dan kausalitas

1.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan jangka panjang antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.

2.Tenaga kerja terdidik berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

5. Tatoğlu (2011)

20 negara anggota Organisation for Economic Co- operation and Development (OECD) (1975 2005)

Uji kointegrasi dan kausalitas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal manusia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan

meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

6. Craigwell, Lowe dan Bynoe (2012)

19 negara di Karibia

Regresi data panel Hasil penelitian menunjukkan bahwa belanja pemerintah pada bidang kesehatan berpengaruh positif signifikan terhadap status kesehatan, sedangkan belanja pemerintah pada bidang pendidikan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sekolah dasar dan sekolah menengah

7. Afzal, Arshed dan Sarwar

(2013)

Pakistan (1971- 1972 s/d 2010- 2011)

Uji kointegrasi dan kausalitas dengan pendekatan ARDL

1.Inflasi pangan memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan pendidikan memiliki dampak langsung pada pertumbuhan ekonomi baik dalam jangka pendek mapun jangka panjang.

2.Terdapat hubungan kausalitas antara pertumbuhan ekonomi dan pendidikan, pendidikan dan inflasi pangan serta inflasi

(11)

No Peneliti Lokasi, periode Alat analisis Hasil penelitian pangan dan pertumbuhan ekonomi.

8. Anwar, Mirdad dan Pujianto (2013)

Provinsi-provinsi di pulau Jawa (2000 – 2009)

Regresi data panel 1.Peningkatan jumlah pekerja tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Pulau Jawa.

2.Modal manusia, infrastruktur listrik dan infrastruktur air bersih berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur jalan tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

9. Arabi dan Abdala (2013)

Sudan (1982- 2009)

Metode persamaan simultan dengan Three Stage Leasts Squares

1.Kualitas pendidikan

berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

2.Rasio total pengeluaran pemerintah terhadap PDB berpengaruh negatif pada rasio investasi asing terhadap PDB.

3.Faktor kualitas kesehatan berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

10. Atmakuri, Reddy dan Rao

(2014)

15 daerah padat penduduk di India (1993-1994 dan 2004-2005)

Model variabel dummy untuk menguji hubungan dua arah antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia

1.Hasil model ANOVA dengan pendapatan per kapita sebagai variabel dummy menunjukkan nilai rata-rata yang lebih rendah untuk kelompok negara dengan pertumbuhan yang rendah dibandingkan dengan kelompok negara dengan pertumbuhan yang tinggi untuk periode 1993- 1994 dan 2004-2005

2.Hasil model ANOVA dengan IPM sebagai variabel dummy menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelompok negara dengan pembangunan manusia yang tinggi dengan kelompok negara dengan pembangunan manusia yang rendah untuk periode 1993- 1994 dan 2004-2005.

(12)

No Peneliti Lokasi, periode Alat analisis Hasil penelitian 11. Baltaci, Sekmen

dan Akbulut (2015)

Data panel di Turki (2004-2013)

Metode persamaan simultan dengan Two Stage Least Square (TSLS)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa transportasi udara berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi pada 26 daerah tingkat 2 di Turki.

Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian sebelumnya dalam hal topik yang berkaitan dengan pengaruh pembangunan manusia dan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada lokasi, periode data serta variabel yang diteliti.

Penelitian ini menganalisis pengaruh IPM dan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi pada 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara selama kurun waktu 5 tahun, yang dimulai dari tahun 2009 hingga 2013.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan terkait IPM, infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut.

1. Tingginya peringkat nasional IPM tidak diikuti dengan tingginya pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara. Selama kurun waktu 2009-2013, Provinsi Sumatera Utara tetap masuk sebagai 10 besar provinsi dengan IPM tertinggi dengan menduduki ranking ke-8. Namun peringkat nasional pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara tidak pernah masuk peringkat 10 besar nasional selama kurun waktu 2009-2013.

2. Keadaan infrastruktur di Provinsi Sumatera Utara dinilai belum cukup memadai untuk mendukung peningkatan perekonomian. Pada infrastruktur

(13)

jalan misalnya, persentase jalan yang rusak di Provinsi Sumatera Utara sangat tinggi, hanya 37 persen dari total panjang jalan yang berada dalam kondisi baik.

1.4 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah perkembangan IPM dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara?

2. Apakah terjadi hubungan saling mempengaruhi (two way relationship) antara IPM dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara?

3. Bagaimana pengaruh proporsi pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan, proporsi pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan dan Tingkat Partisipasi Angakatan Kerja (TPAK) terhadap IPM Provinsi Sumatera Utara?

4. Bagaimana pengaruh IPM, Infrastruktur (Jalan, kesehatan, air) dan Tingkat Partisipasi Angakatan Kerja (TPAK) terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara?

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Menganalisis perkembangan IPM dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara.

(14)

2. Menganalisis apakah terjadi hubungan saling mempengaruhi (two way relationship) antara IPM dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara.

3. Menganalisis pengaruh proporsi pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan, proporsi pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan dan Tingkat Partisipasi Angakatan Kerja (TPAK) terhadap IPM Provinsi Sumatera Utara.

4. Menganalisis pengaruh IPM, Infrastruktur (Jalan, kesehatan, air) dan Tingkat Partisipasi Angakatan Kerja (TPAK) terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara.

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui pengaruh IPM dan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi pada kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.

2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah Provinsi Sumatera Utara selaku pengambil keputusan dalam pembangunan ekonomi khususnya masalah pertumbuhan ekonomi.

3. Sebagai pertimbangan dalam memproyeksi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara.

4. Menjadi bahan referensi tambahan untuk pengembangan keilmuan tentang analisis pertumbuhan ekonomi.

(15)

1.7 Sistematika Penulisan

Penulisan tesis ini terdiri dari 5 bab. Bab I Pendahuluan, memuat dan menguraikan menganai latar belakang dilakukannya penelitian, keaslian penelitian, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan. Bab II Landasan Teori/Kajian Pustaka, berisikan uraian tentang landasan teori, kajian terhadap penelitian terdahulu, formula hipotesis dan kerangka penelitian. Bab III Metode Penelitian, menjelaskan tentang desain penelitian, metode pengumpulan data, definisi operasional dan metode analisis data. Bab IV Analisis, berisi deskripsi data, uji hipotesis dan pembahasan.

Bab V Simpulan dan Saran, memuat kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakukan dan saran-saran.

Referensi

Dokumen terkait

Metode demonstrasi adalah metode pembelajaran dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu

Pelaksanaan Penghitungan Suara berpedoman kepada ketentuan sebagai dimaksud dalam Pasal 122 sampai dengan Pasal 136 Peraturan Pemerintah dengan ketentuan bahwa Penghitungan

Topologi jaringan komputer yang telah ada di SMK Negeri 1 Sawit terkait dalam pelayanan internet untuk pembelajaran maupun keperluan lain kepada siswa maupun guru

Pada penyimpanan Freezer utama bagian atas terdapat beberapa bahan makanan yang sudah jadi dan dibekukan yang sering digunakan atau sering dipesan pada restoran

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui : (1) seberapa besar kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan model

Berdasarkan pemaparan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pengaruh pembelajaran lintas minat Ekonomi terhadap prestasi belajar Ekonomi

Abstrak ± Genangan Dinding penahan tanah dibuat untuk dapat menahan gaya tanah lateral dari tanah isian dibelakang dinding, hal yang harus diketahui adalah sifat-sifat

Pasien menjalani pemeriksaan rontgen torak dan diperoleh gambaran efusi pleura pada hemitorak kanan, kemudian pasien dilakukan pungsi pleura untuk dilakukan