• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI SUTRADARA FILM TELEVISI PANGGUNG AKHIR SEKOLAH DI TELEVISI EDUKASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STRATEGI SUTRADARA FILM TELEVISI PANGGUNG AKHIR SEKOLAH DI TELEVISI EDUKASI"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH:

NAJWA ILHAM KELANA NIM 14148157

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA

SURAKARTA

2021

(2)

i

TUGAS AKHIR SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagai persyaratan guna Mencapai derajat Sarjana Strata-1 (S-1)

Program Studi Film dan Televisi Jurusan Seni Media Rekam

OLEH:

NAJWA ILHAM KELANA NIM 14148157

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA

SURAKARTA

2021

(3)

ii

PANGGUNG AKHIR SEKOLAH DI TELEVISI EDUKASI

Oleh

NAJWA ILHAM KELANA NIM. 14148157

Telah disetujui sebagai Proposal Tugas Akhir Skripsi Surakarta, ... ………..2021

Ketua Program Studi Film dan televisi

Titus Soepono Adji, S.Sn. M.A NIP.197609152008121001

Pembimbing yang disetujui

Cito Yasuki Rahmad, S.Sn., M.Sn NIP. 197801062005011001

(4)

iii

Almarhum Nenek tercinta Qomariah yang dulu selalu mendukung saya dalam keadaan apapun.

Adikku Tersayang Ananda Rizqi Winantasya.

Serta saudara dan sahabat-sahabat yang turut serta mengisi cerita hidupku.

(5)

iv

(6)

v

Film dan televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.

Sutradara dalam produksi Film Televisi (FTV) Panggung Akhir Sekolah.

Penelitian ini mendeskripsikan strategi sutradara dalam memproduksi FTV tersebut dalam pengembangan pendidikan karakter anak pada usia remaja. Peneliti melakukan penelitian yang difokuskan pada sutradara, karena dalam pembagian poin besar dari film, sutradara terlibat dalam melakukan riset pembuatan naskah film, sehingga peneliti meyakini untuk memilih bagian strategi sutradara yang sangat berpengaruh dalam pembuatan film yang bertemakan pendidikan. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, sumber data yang didapat dari wawancara dengan sutradara Pendekatan melalui wawancara ini mempermudah untuk mendapatkan informasi secara lisan, studi dokumen pada perpustakaan dan rekaman hasil wawancara, serta memiliki kerangka konseptual dalam penelitian strategi secara singkat, Mendeskripsikan FTV Panggung Akhir Sekolah dari proses praproduksi, produksi dan pasca produksi serta evaluasi dan pengawasan yang dilakukan sutradara. Mengetahui hasil tugas dan tanggungjawab sutradara untuk menyampaikan pesan dan informasi mengenai pendidikan karakter untuk usia remaja yang disampaikan dapat tercapai sebagai strategi dalam menyampaikan informasi proses pembuatan film dengan pembahasan mengenai problematika anak SMP melalui FTV pendidikan di TV Edukasi. Peneliti memilih untuk meneliti tentang FTV tersebut karena berdasarkan riset awal penelitian pada tahun 2018 sedang ramai diperbincangkan mengenai permasalahan antar siswa dengan guru yang dipicu karena alasan kesalahpahaman di beberapa daerah tertentu sehingga tema film tersebut sesuai dengan keadaan ketika diteliti.

Kata Kunci : Sutradara, FTV Panggung Akhir Sekolah, Tugas dan Tanggung Jawab

(7)

vi

diberikan kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan penelitian serta menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi. Dalam pelaksanaan dan penyusunannya ini, penulis tentu tidak luput dari pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak baik materil maupun moril. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Cito Yasuki Rahmad, S.Sn., M.Sn, selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhir Skripsi yang telah membantu dan membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi.

2. Titus Soepono Adji, S.Sn. M.A, selaku Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama ini.

3. Sitti Lestari Martika, S.Sos., M.M. selaku Kasubbid Perancangan dan Produksi Bidang PTP berbasis RTF yang telah memberikan kesempatan penulis untuk melaksanakan penelitian di Pustekkom, TVE.

4. Amar Nugraha selaku produser Film Televisi Panggung Akhir Sekolah di Televisi Edukasi.

5. Bambang Sudjati selaku sutradara Film Televisi Panggung Akhir Sekolah di Televisi Edukasi.

6. Wiwin Mulyani S.Pd. selaku pembimbing penelitian di TV edukasi 7. Mega, Iman, Majid, Hendro dan seluruh kerabat kerja TV Edukasi

(8)

vii

mendukung dan memberikan masukan selama proses mengerjakan skripsi.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam bentuk apapun yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam mengerjakan skripsi. Oleh sebab itu besar harapan penulis atas segala kritik dan saran yang bersifat membangun, guna menyempurnakan skripsi. Semoga sekripsi ini bermanfaat untuk penulis, pembaca dan semua pihak. Atas apresiasinya terhadap skripsi ini penulis mengucapkan terima kasih.

Surakarta, 2020 Penulis

(9)

viii

PERNYATAN ...iii

PERSEMBAHAN... iv

MOTTO...v

ABSTRAK... vi

KATA PENGANTAR ...vii

DAFTAR ISI...ix

DAFTAR GAMBAR... x

DAFTAR TABEL...xii

DAFTAR BAGAN...xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah... 5

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

E. Tinjauan Pustaka... 5

F. Kerangka Konseptual... 7

G. Metode Penelitian... 16

H. Sitematika Penulisan...25

BAB II PROGRAM FILM PENDIDIKAN A. Latar Belakang Televisi Edukasi... 26

1. Visi,Misi dan Slogan TVE...27

2. Slogan TVE... 28

B. Program Film pendidikan...33

C. Sutradara Film Televisi Panggung Akhir Sekolah...34

D. FTV Panggung Akhir Sekolah...35

1. Deskripsi FTV Panggung Akhir Sekolah... 35

(10)

ix PANGGUNG AKHIR SEKOLAH

A. Praproduksi... 45

1 Ide Penciptaan... 47

2 Melakukan Rembuk Naskah... 48

3 melakukan Breakdown Naskah... 49

4. Survei lokasi dan penetapan lokasi... 50

5. Melakukan casting pemain, penetapan dan Reading naskah pemain...51

B. Produksi...53

1. Melakukan Produksi...53

2. Perwujudan mise-en-scene dalam Film...60

3. Sinematografi... 72

4. Tata Suara...78

5. Melakuakan evaluasi produksi harian...78

C. Pascaproduksi ...78

E. Pengawasan dan Evaluasi...80

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 83

B. Saran ...84 DAFTAR ACUAN

DAFTAR NARASUMBER LAMPIRAN

(11)

x

Gambar 1.Logo TV Edukasi 2006-2008...30

Gambar 2.Logo TV Edukasi 2008 Sampai Sekarang... 30

Gambar 3.Materi Siar Televisi Edukasi...31

Gambar 4.Bambang Sudjati...33

Gambar 5.Struktur naratif cerita Panggung Akhir Sekolah... 55

Gambar 6.Kota Bandung... 61

Gambar 7.SMP N 5 Bandung... 61

Gambar 8.Lapangan Upacara SMP N 5 Bandung... 62

Gambar 9.Taman Kota Bandung... 63

Gambar 10.Rumah Fandi...63

Gambar 11.Rumah Deden...64

Gambar 12. Halaman depan rumah Deden... 64

Gambar 13.Ruang kelas SMP N 5 Bandung...65

Gambar 14. Fandi sekolah...66

Gambar 15. Fandi pentas teater...66

Gambar 16. Asti... 67

Gambar 17. Indra...67

Gambar 18. Deden...67

(12)

xi

Gambar 21. Pak Sunandar ...68

Gambar 22. Pak Teddy...68

Gambar 23. Ibu Neni...68

Gambar 24. Ibu Fandi...69

Gambar 25. Bapak Fandi...69

Gambar 26.Pentas Panggung Akhir Sekolah... 70

Gambar 27. Rapat guru... 71

Gambar 28. Suasana sekolah...73

Gambar 29. Balaikota Bandung... 73

Gambar 30. Ekspresi Asti...74

Gambar 31. Ekspresi Pak Sunandar... 75

Gambar 32. Ruang Kepala Sekolah... 75

Gambar 33. Fandi Belajar... 76

Gambar 34. Ekspresi Pak Teddy...77

Gambar 35. Penolakan Asty...77

(13)

xii

Tabel 1. Jadwal Produsi... 49 Tabel 2. Breakdown Lokasi... 49 Tabel 3. Breakdown Pemeran... 50

DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Skema Penelitian

(14)

A. LATAR BELAKANG

Televisi sebagai suatu alat bagian dari suatu sistem yang besar sehingga televisi merupakan alat yang dapat dimanfaatkan untuk mendapak informasi dan komunikasi.1 Stasiun televisi baru yang saling bersaing dengan mengunggulkan programnya masing-masing, memberikan tawaran yang semakin beragam kepada masyarakat untuk memilih siaran yang diminati. Televisi merupakan media massa berbentuk audiovisual. Program acara yang disiarkan oleh stasiun televisi. Pada dasarnya meliputi program berita dan program nonberita yang terdiri dari progra drama dan non drama. TV Edukasi merupakan sarana televisi publik yang memberikan layanan siaran untuk kepentingan masyarakat dengan sifat netral dan tidak komersil.

TV Edukasi menyajikan beberapa jenis program siaran berupa program motivasional, instruksional, hiburan, budaya dan informasi pendidikan. Salah satunya program pendidikan karakter yang kebudayaan mengangkat nilai-nilai inspiratif terkait peran penting pendidikan. TV Edukasi juga melibatkan komunitas dan televisi lokal sebagai bagian dari membangun jejaring dalam pengembangan konten pendidikan. Film televisi yang diproduksi merupakan jenis program FTV Pendidikan yang menyampaikan program hiburan sekaligus memiliki konten pendidikan melalui sebuah karya film. Produksi sebuah film

1Darwanto. Produksi Acara Televisi. (Yogyakarta: Duta wacana university press. 1994). hal 2

(15)

terdapat seseorang yang memiliki jabatan yang penting yaitu Sutradara. Sutradara menyampaian informasi tentang film yang diproduksi kepada khalayak dengan cara yang berbeda melalui sebuah karya film.

Film Televisi Panggung Akhir Sekolah, merupakan film yang ditunjukan untuk kalangan siswa sekolah menengah dengan terget penontotn yaitu remaja sekolah, pengajar sekolah serta orang tua wali murid dengan target usia penonton remaja berkisar jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama) antara usia 13-16 tahun. Film tersebut berlatar cerita tentang remaja SMP yang mengikuti kegiatan pelajaran non akademik atau biasa disebut kegiatan ekstrakulikuler yang tidak didukung oleh seorang guru yang cara mengajar masih mengacu pada aturan lama dan takut kalau muridnya lebih mementingkan kegiatan ektrakurikuler ketimang Ujian Nasional, hingga pada akhirnya dengan beberapa alasan suatu hal guru tersebut dapat menerima kegiatan ekstrakurikuler. Bagaimana permasalahan murid dan guru dalam film tersebut dapat terpecahkan dengan cara yang baik dan dapat dipahami penonton merupakan sebuah tantangan bagi seorang Sutradara.

Peran seorang Sutradara dalam film Panggung Akhir Sekolah ialah agar pesan dari film tersebut dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton. Sutradara memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar ketika produksi film berlangsung, mulai dari awal hingga akhir.

Seorang Sutradara bertanggung jawab sebagai koordinator dan pengarah untuk melahirkan sebuah karya sinematik sebagai karya utuh berdasarkan naskah dan konsep penyutradaraan. Sutradara melakukan strategi dan memiliki karakteristik tersendiri dalam memimpin produksi. Strategi untuk produksi film

(16)

televisi lebih kearah bagaimana pesan film tersebut dapat tersampaikan ke penonton. Bagaimana sutradara dapat menyampaian informasi tentang pentingnya pendidikan di lingkungan sekolah mengharapkan yang menonton program televisi Panggung Akhir Sekolah mengerti, mengetahui, memahami, terhibur dan mendapatkan informasi dan pembelajaran secara jelas melalui media film.

Posisi sutradara terlibat secara langsung dalam proses produksi FTV mulai dari praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi. Sistem kerja Sutradara di stasiun TV Edukasi sepengetahuan penulis merangkap kerja dengan bagian apapun yang bisa dikerjakan bersamaan dengan tugas inti Sutradara meskipun pekerjaan lain tersebut hanya sebatas melengkapi. Seperti di produksi FTV Panggung Akhir Sekolah, sutradara juga ikut berperan dalam pekerjaan selain sutradara contohnya mengikuti kegiatan survei lapangan mencari dan menentukan lokasi produksi. Setelah produksi selesai, selain bertugas mengawasi dan mendampingi ketika editing film, sutradara di TV Edukasi juga ikut berperan dalam hal pengawasan dan evaluasi film yang telah jadi diproduksi hingga layak ditayangkan di TV Edukasi. Hal tersebut yang membedakan sutradara film pada umumnya dengan sutradara di TV Edukasi.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini mendeskripsikan bagaimana strategi sutradara dalam produksi program film

(17)

televisi Panggung Akhir Sekolah yang ada di TV Edukasi dengan fokus kepada tugas serta tanggung jawab sutradara.

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendiskripsikan secara mendalam dan tertulis mengenai strategi sutradara program film televisi Panggung Akhir Sekolah di TV Edukasi yang lebih berfokus kepada tugas dan tanggung jawab sutradara..

D. MANFAAT PENELITIAN

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang strategi sutradara film dengan unsur pendidikan.

Penelitian tersebut dapat menjadi salah satu referensi mahasiswa yang ingin meneliti dengan pembahasan yang serupa.

E. TINJAUN PUSTAKA

Pada penelitian ini ada beberapa bahan acuan dan referesi. Beberapa penelitian tentang strategi sutradara sehingga cukup membantu dalam melakukan penelitian. Beberapa pustaka yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

(18)

Buku berjudul Memahami Film yang ditulis oleh Himawan Pratista, terbit pada tahun 2008 dan diperbarui dengan judul Memahami Film Edisi 2 terbit pada tahun 2017. Buku Memahami film membantu peneliti untuk teknik sutradara baik dari sisi naratif maupun sinematiknya.

Buku Metodologi Penelitian Kualitatif yang ditulis oleh H.B Sutopo pada tahun 2006, juga membantu dalam proses pelaksanaan penelitian kualitatif. Buku ini digunakan sebagai acuan proses pengambilan data, reduksi, hingga validitas.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2007 yang berjudul Pedoman Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi, Dalam buku ini untuk membahas sistem pemanfaatan TV Edukasi sebagai pedoman dalam penelitian mengenai TV Edukasi.

Darwanto tahun 2007 yang berjudul Televisi Sebagai Media Pendidikan yang diterbitkan Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Buku Televisi sebagai media pendidikan dijadikan tinjauan pustaka pada pengertian televisi sebagai media masa dan alat peraga dalam pendidikan. Serta buku karya Darwanto tahun 1994 yang berjudul Produksi Acara Televisi yang diterbitkan di Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Buku ini menjadi tinjauan pada televisi dan pemanfaatanya serta unsur yang ada pada buku tersebut. Selain buku sebagai tinjauan pustaka, penelitian ini juga juga meninjau laporan penelitian lain yang sejenis dan terkait dengan objek kajian penelitian. Laporan tersebut berupa :

Skripsi yang berjudul Strategi Pengarah Acara dalam Produksi Program Campursari Tambane Ati di TVRI Jawa Timur dari Institut Seni Indonesia Surakarta Fakultas Seni Rupa dan Desain Jurusan Seni Media Rekam Program

(19)

Studi Film dan televisi karya Doma Saski Pratyarsi tahun 2014. Penelitian ini membahas tentang strategi Pengarah acara Campur Sari Tambane Ati di TVRI Jawa timur. Penulis menggunakan skripsi Doma sebagai bahan pertimbangan acuan dalam hal dilatar belakang dan kerangka konseptual. Skripsi Doma mengambil tema program acara sehingga penulis menjadikan bahan acuan untuk gambaran dalam penelitian karena film di penelitian penulis merupakan bagian dari program acara film di TV Edukasi.

Skripsi yang berjudul Proses Sutradara Dalam Pembuatan Film Musikal Anak Rena Asih Institut Seni Indonesia Surakarta Fakultas Seni Rupa dan Desain Jurusan Seni Media Rekam Program Studi Film dan televisi karya Rizka Febry Indriani tahun 2018. Skripsi Riska dijadikan bahan acuan penulis sebagai bahan acuan utama dari latar belakang, kerangka konseptual serta tahapan proses yang dilakukan dalam produser sebagai gambaran proses yang dilakukan oleh sutradara.

Perbedaan dalam skrisi Riska dan penulis, Riska menjadikan proses pada film musical sedangkan penulis pada film televisi pndidikan yang berproses pada strategi seorang sutradara dalam menyampaikan informasi mengenai problematika sekumpulan anak remaja.

F. KERANGKA KONSEPTUAL

TV Edukasi merupakan stasiun TV yang program siarannya berfokus pada pendidikan yang dibentuk oleh Pustekkom dengan pengawasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. TV Edukasi memiliki sistem strategi manajemen dalam pembentukan program. TV Edukasi memiliki kualitas program acara yang

(20)

disajikan untuk penonton anak sekolah dan orang tua murid serta pengajar yang diciptakan oleh tim produksi untuk menggundang daya tarik menonton serta pembelajaran.

a. Film Televisi

Film berbasis pendidikan karakter dan kebudayaan mengangkat nilai- nilai inspiratif terkait peran penting pendidikan, diilhami oleh berbagai kisah yang menginspirasi. Melibatkan komunitas dan PEMDA (Pemerintah Daerah) setempat sebagai bagian dari membangun jejaring dalam pengembangan konten TV Edukasi. Film berbasis pendidikan karakter atau yang diproduksi TV Edukasi dengan program film televisi dengan menitik beratkan kebudayaan, mengangkat nilai-nilai inspiratif terkait peran penting pendidikan, diimbangi oleh berbagai kisah yang menginspirasi. Program pendidikan karakter dikemas bukan menjadi sinetron (program drama yang berseri), namun film televisi diproduksi dalam bentuk drama yang ditonton langsung memberikan akhir dari cerita dan pesan yang ingin disampaikan sebagai media penyampai pesan karakter yang kekinian, mengakomodir karakteristik penonton TVE (siswa usia remaja). Pesan karakter yang kekinian, mengakomodir karakteristik penonton TV Edukasi (siswa usia remaja).

Kegiatan produksi program Film Televisi (FTV)yang berjudul Panggung Akhir Sekolah tahun 2015. FTV ini dikembangkan oleh Tim Produksi yang telah memiliki pengalaman dalam memproduksi program- program televisi, khususnya program-program televisi untuk pembelajaran di sekolah. Secara garis besar, film terdiri dari dua unsur pembentuk, yaitu unsur

(21)

naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif lebih pada bagaimana cerita bisa terbentuk, berhubungan dengan tema dan ide cerita. Setiap cerita pasti memiliki unsur seperti: tokoh, masalah, lokasi, dan waktu. Unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan diolah.2 Seluruh jalinan peristiwa tersebut terikat oleh hukum kausalitas (sebab – akibat). Hukum kausalitas bersama ruang dan waktu adalah elemen pokok pembentuk naratif. Unsur naratif memiliki elemen pokok, sebagai beikut :

1) Ruang

Ruang adalah tempat dimana para pelaku cerita bergerak dan beraktivitas. Film cerita pada umumnya mengambil latar atau lokasi yang nyata. Penonton diberi petunjuk melalui gambar maupun teks cerita film tersebut untuk menunjukan lokasi cerita.

2) Waktu

Terdapat beberapa aspek waktu yang berhubungan dengan naratif sebuah film, yaitu urutan waktu, durasi waktu, dan frekuensi. Durasi waktu merupakan rentang waktu yang dimiliki sebuah film untuk menampilkan cerita. Frekuensi waktu merupakan munculnya kembali suatu adegan yang sama dalam waktu yang berbeda.

3) Pelaku cerita

Pelaku cerita terdiri dari karakter utama dan pendukung. Karakter utama adalah motivator utama yang menjalankan alur naratif sejak awal hingga akhir cerita. Karakter pendukung lebih cenderung menjadi

2Himawan Pratista, Memahami Film Edisi 2 (Yogyakarta: Montase Press: 2017: hlm 23)

(22)

antagonis. Karakter pendukung juga sering bertindak sebagai pemicu konflik.

4) Konflik

Konflik atau permasalahan merupakan penghalang yang dihadapai karakter utama untuk mencapai tujuannya. Konflik sering muncul dikarenakan karakter tokoh utama memiliki tujuan yang berbeda dengan karakter pendukung.

5) Tujuan

Tujuan cerita dalam film merupakan harapan atau cita-cita yang dimiliki oleh karakter utama. Tujuan dapat bersifat fisik (materi) dan nonfisik (non materi). Tujuan fisik merupakan tujuan yang bersifat nyata, sedangkan tujuan nonfisik merupakan tujuan yang sifatnya abstrak (tidak nyata).3 Kelima elemen pokok tersebut menciptakan dua aspek penting dalam membangun unsur naratif, yaitu :

6) Cerita dan plot

Sebuah film mampu memanipulasi cerita melalui plot. Plot adalah rangkaian peristiwa yang disajikan secara visual maupun audio dalam film.

Cerita adalah seluruh rangkaian peristiwa baik yang tersaji dalam film maupun tidak.4 Plot atau alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi.

7) Struktur tiga babak

3Himawan Pratista, Memahami Film (Yogyakarta: Homerian Pustaka: 2008: hlm 35-44)

4Himawan Pratista, Memahami Film Edisi 2 (Yogyakarta: Montase Press: 2017: hlm 64)

(23)

Struktur tiga babak mempunyai tiga bagian untuk membangun sebuah cerita yaitu babak I : persiapan, babak II : konfrontasi, babak III : resolusi. Tahap persiapan ini berisi tentang pengenalan tokoh serta latar belakang kisahnya, masalah dan tujuan, serta aspek ruang dan waktu.

Tahap berisi usaha tokoh utama untuk menyelesaikan solusi dari masalah yang telah ditentukan pada tahap permulaan, munculnya konflik, pada tahap ini umumnya karakter utama tidak mampu begitu saja menyelesaikan masalahnya karena terdapat elemen kejutan yang membuat masalah lebih kompleks dari sebelumnya. Unsur sinematik adalah aspek teknis pembentuk film elemen-elemen tersebut adalah :

8) Mise-En-Scene

Mise-en-scene adalah segala hal yang terletak di depan kamera yang akan diambil gambarnya dalam sebuah produksi film.5 Mise-en-scene terdiri dari empat aspek utama, yakni : setting (latar), kostum dan tata rias wajah, pencahayaan, dan pergerakan pemain (akting).

a) Setting (latar)

Setting (latar) adalah seluruh latar bersama segala propertinya.

Properti dalam hal ini adalah semua benda tidak bergerak.6 Fungsi utama setting adalah sebagai penunjuk ruang dan waktu untuk memberikan informasi yang kuat dalam mendukung cerita filmnya. Fungsi lain dari setting adalah sebagai penunjuk status sosial, penunjuk motif tertentu dan pendukung aktif adegan. Terdapat dua jenis setting, yaitu: set studio

5Himawan Pratista, Memahami Film Edisi 2 (Yogyakarta: Montase Press: 2017: hlm 97)

(24)

(lokasi yang dibuat di dalam studio yang ditata sedemikian rupa agar menyamai dengan lokasi yang diinginkan naskah) dan shot on location (lokasi aktual yang sesungguhnya).

b) Pencahayaan (lighting)

Tanpa cahaya sebuah film tidak akan terwujud. Unsur cahaya dikelompokkan menjadi empat unsur, yakni : kualitas, arah, sumber, serta warna cahaya. Keempat unsur ini sangat mempengaruhi tata cahaya dalam membentuk suasana serta mood sebuah film.

c) Pemain serta pergerakannya (acting)

Pemain serta pergerakannya adalah penampilan fisik, gestur, ekspresi, serta gaya bicara yang sama dengan seseorang dalam kenyataan sehari-hari.

9) Sinematografi

Sinematografi mencakup perlakuan sineas terhadap kamera serta stok filmnya. Seorang sineas tidak hanya sekedar merekam sebuah adegan semata namun juga harus mengontrol dan mengatur bagaimana adegan tersebut diambil, seperti jarak, ketinggian, sudut, lama pengambilan.7 10) Editing

Aspek editing dan pergerakan kamera merupakan satu-satunya unsur sinematik yang murni dimiliki oleh seni film. Proses editing adalah tahap pemilihan shot-shot yang telah diambil ketika shooting dan dirangkai hingga menjadi satu rangkaian kesatuan yang utuh.8 Definisi

7Himawan Pratista, Memahami Film Edisi 2 (Yogyakarta: Montase Press: 2017: hlm 129)

8Himawan Pratista, Memahami Film Edisi 2 (Yogyakarta: Montase Press: 2017: hlm 169)

(25)

editing pada tahap produksi (editing on location) adalah proses pemilihan serta penyambungan gambar yang telah diambil, proses editing dilakukan setelah shooting selesai, proses editing di lokasi bertujuan untuk mempercepat proses edit dengan melakukan fokus preview memilah good, choice, or not good ; sinkronisasi suara dan gambar ; serta melakukan assembling. Sementara definisi editing pada pascaproduksi adalah teknik- teknik yang digunakan untuk menyambung dan menghubungkan tiap shotnya.

11) Suara

Suara dalam film dapat dipahami sebagai seluruh suara yang keluar dari gambar, yakni dialog, musik, dan efek suara.9 Fungsi suara secara umum menjaga kesinambungan gambar, member informasi melalui dialog dan narasi. Suara dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu: dialog, musik, dan efek suara.

Film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan dan nilai positif untuk masyarakat penonton. Film memberikan inspirasi bagi dunia pendidikan, social dan budaya. Film merupakan tampilan dari unsur kearifan budaya lokal sebagai kekayaan nilai-nilai budaya. Penyusunan film pendidikan yang di produksi TV Edukasi dengan tema pendidikan karakter pada usia remaja. Film dengan sekelompok siswa SMP yang bekerja keras mempertahankan kegiatan sekolah yang berdasarkan dari kesukaan atau hobi yang di tentang oleh sekelompok guru. Ujian nasional

(26)

dan kegiatan penuh untuk belajar memenuhi kebutuhan menjadikan anak- anak mulai bosan dengan hal tersebut sehingga menuagkan kegelisahannya dalam bentuk kegiatan ekstrakulikuler. Kegiatan ekstrakulikurel merupakan kegiatan diluar pembelajaran akademik. Berlatar belakang pelajar SMP (Sekolah Menengah Pertama) peralihan seorang remaja yang akan menjadi dewasa yang berdasarkan penelitian dalam penyusunan naskah seorang remaja yang sedang mencari jati diri

b. Strategi sutradara

Strategi dapat didefinisikan sebagai penentuan dari tujuan dasar jangka panjang dan sasaran sebuah perusahaan, dan penerimaan dari serangkaian tindakan serta alokasi dari sumber-sumber yang dibutuhkan untuk melaksanakan tujuan tersebut.10 Kreativitas ditinjau dari segi pribadi (person), proses kreatif merupakan pendorong dan hasil kreativitas dari masing-masing kepribadian.

Strategi dapat diartikan sebagai taktik atau rencana yang cermat yang dijalankan untuk mencapai sasaran khusus. Strategi memiliki arti penentuan tujuan jangka panjang perusahaan dan memutuskan arah tindakan serta mendapatkan sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan.11

Sutradara memiliki fungsi sebagai seniman/artist yang mempunyai gagasan terhadap sebuah pesan yang akan disampaikan melalui karya, serta bekerja dalam ranah yang berfungsi menjadi interpretator dari sebuah naskah menjadi sebuah karya visual.

10Andi Fachruddin. Manajemen Pertelevisian Modern. (Yogyakarta: Andi Offset. 2016: hlm. 7)

11Morissan. Manajemen Media Penyiaran. (Jakarta: Kencana, 2011: hlm 155)

(27)

Sutradara film yang berarti bahwa seseorang yang mempunyai profesi menyelenggarakan produksi, mulai dari menganalisa naskah, mengkreasikan rekayasa artistik, memindahkan bahan tulisan ke dalam bahasa visual, memimpin kerabat kerja televisi di berbagai bidang atau profesi sehingga menjadi tontonan yang berbobot dan dapat dinikmati. Semua yang dihadirkan dalam layar dan dampak dari tontonan tersebut menjadi tanggung jawab penuh dari seorang sutradara. Sutradara bertanggung jawab dalam kegiatan praproduksi, produksi dan pascaproduksi.

1. Praproduksi

Kegiatan yang dilakukan pada saat praproduksi melakukan penyusunan penelitan pembuatan naskah dengan produser. Seorang sutradara ikut berperan atas penyusunan naskah film. Sutradara juga bertanggung jawab atas segala kebutuhan pengambilan gambar dari film yang akan diproduksi. Peran penting sutaradara dalam pembuatan film pendidikan di TV Edukasi sebagainya Melakukan rembuk naskah (scriptconverence), Penyusunan kerabat kerja, Melakukan breakdown naskah, Survei lokasi dan penetapan lokasi, Melakukan casting pemain dan penetapan pemain, Reading naskah oleh para pemain.

2. Produksi

Melakukan rapat produksi dalam perencanaan yang sudah disusun saat melakukan finalisasi naskah. Melakukan persiapan peralatan pendukung produksi serta melakukan pengecekan yang sebelum produksi

(28)

dilaksanakan. Melakukan produksi sesuai dengan tenggang waktu yang ditentukan pada saat rapat finalisasi naskah, menyesuaikan segala pengambilan gambar dengan naskah final. Melakuakan evaluasi produksi harian serta memperhatikan kekurangan adegan atau terjadinya cuaca buruk pada saat pengambilan gambar. Merapatkan kembali jika ada adegan yang harus diulangi atau terlewatkan.

3. Pascaproduksi

Seorang sutradara mengawasi jalannya proses pascaproduksi agar berjalan lancar dan dapat memberikan masukan dalam proses editing yang dilakukan oleh editor agar dapat dipertanggungjawabkan kepada produser dan pimpinan. Sebagai berikut tanggung jawab seorang sutradara dalam mengawasi jalannya pascaproduksi di TV Edukasi.

a. Mengawasi Editing video offline dan online.

b. Mengawasi Pembuatan grafis animasi,grading c. Mengawasi Pembuatan Illustrasi Musik

d. Mereview Film e. Revisi Film

G. METODE PENELITIAN

Metode dan langkah – langkah penelitian yang dilakukan meliputi : 1. Jenis Penelitian

(29)

Jenis penelitian yang digunakan berupa penelitian Kualitatif.

Penggunaan penelitian kualitatif karena untuk memperdalam pemahaman dari subjek yang diteliti dengan data yang sudah didapat dari berbagai sumber.

2. Subjek Peneltian

Subjek penelitian ini adalah Bambang Sudjati, sebagai Sutradara dari FTV Panggung Akhir Sekolah dan juga salah satu sutradara dan produser di stasiun TV Edukasi. FTV Panggung Akhir Sekolah yang di sutradarai oleh Bambang Sudjati ini dikembangkan oleh Tim Produksi TV Edukasi yang telah memiliki pengalaman dalam memproduksi Film dan program-program televisi, khususnya program-program televisi untuk pembelajaran di sekolah.

Produksi FTV yang berjudul Panggung Akhir Sekolah dilaksanakan antara tanggal l1 oktober s.d.12 oktober 2015 di kota Bandung dengan tempat/lokasi sesuai kebutuhan program seperti di SMP N 5 Kota Bandung dan Balaikota Bandung yang telah dipilih berdasarkan sasaran dan serinya.

3. Sumber Data a. Data primer

Data primer adalah data yang mengacu pada informasi yang diperoleh minat untuk tujuan spesifik studi. Untuk pengumpulan data primer penelitian dimulai dengan observasi, wawancara dan arsip dari narasumber penelitian akan mengarah pada proses produksi program dari

(30)

Praproduksi, Produksi dan Pascaproduksi pada FTV Panggung Akhir Sekolah.

b. Data skunder

Sumber data yang diperoleh didapatkan dari perpustakaan, arsip narasumber, website resmi di TV Edukasi. Data yang didapat pada sumber data sekunder akan di analisis kembali untuk memperoleh data yang akurat.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan beberapa metode antara lain :

a. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu untuk menggali informasi lebih mendalam dilakukan dua pihak pewawancara (interviewer) mengajukan pertanyaan kepada terwawancara (interviewe).12Pendekatan melalui wawancara ini mempermudah untuk mendapatkan informasi secara lisan dan dapat menjalin kedekatan satu sama lain sehingga tidak menimbulkan kesan canggung saat melakukan wawancara. Wawancara langsung dengan produser dan sutradara film televisi Panggung Akhir Sekolah yang berada di Studio produksi TV Edukasi Tangerang Selatan.

b. Studi Dokumen dan Rekaman

12Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2012) hlm.186

(31)

Analisis dokumentasi dan rekaman merupakan salah satu metode pengumpulan data kualitatif. Dokumen dan record digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong.

Melakukan studi dokumen di perpustakaan yang disediakan oleh TV Edukasi dan melakukan rekaman terhadap produser dan sutradara dari FTV Panggung Akhir Sekolah.

5. Kredibilitas data

Untuk menentukan kredibilitas (Credibility) atau keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan, pelaksanaan, teknik pemeriksaan keabsahan data berguna untuk keperluan penelitian.13 Melakukan usaha pemeriksaan data digunakan untuk validitas data dalam kategori atau menginterprestasi yang telah dibuat. Pada dasarnya menggunkan kepercayaan berfungsi untuk melaksanakan, mempertunjukan, dengan pembuktian yang dilakukan peneliti.

6. Analisis data

Analisa data memiliki arti sebagai proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar14. Dilakukan dengan menganalisa data dengan memilah-milah data yang akan dikelola peneliti. Analisis data sangat diperlukan untuk peneliti agar

13Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2012) hlm.30S0

14Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2012) hlm.268

(32)

penelitian menjadi padat dan berbobot untuk dibaca. Analisis data yang didapat dari hasil observasi, wawancara dan Studi Dokumen dan Rekaman Penelitian, teknik analisis data sebagai berikut :

a. Reduksi data

Reduksi data dilakukan dengan jalan abstraksi yang merupakan usaha membuat rangkuman dari inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga informasi tetap berada di dalamnya. Melakukan identifikasi semua data yang didapat dari bagian terkecil hingga ke bagian terbesar dari data yang diperoleh kemudian memilah-milah data yang tepat dan akurat. Untuk memperoleh data yang lebih jelas dan tepat maka reduksi sangat penting dilakukan.

b. Penyajian data

Penyajian data diperlukan untuk mengolah data yang direduksi.

Untuk memperoleh informasi dalam penelitian perlu dikategorikan bentuk teks naratif, bagan, tabel dan grafik. Pemisahan dan pemotongan (slicing) adalah proses mengidengtifikasi kaitan secara formal di antara kategori- kategori.15 Setelah melakukan pemilahan data dan melakukan sub-kategori maka melakukan penarikan kesimpulan.

c. Penarikan kesimpulan dan Verifikasi

Penarikan kesimpulan dan verifikasi dilakukan oleh peneliti untuk menarik kesimpulan dalam data yang diperoleh serta mampu memecahkan rumusan masalah yang telah ada. Verifikasi menurut HB Sutopo adalah

15Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2012:

hlm.292)

(33)

aktifitas pengulangan untuk tujuan pemantapan dan penelurusan data yang biasanya terjadi pada waktu menulis sajian data dengan melihat penelitian di lapangan.16 Melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi maka hasil akhir dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan.

7. Skema Penelitian

Kesimpulan

Bagan 1. Skema Penelitian

Penelitian ini bermula dari adanya FTV Panggung Akhir Sekolah. Dalam produksi film tidak lepas dari peran seorang sutradara. Sutradara terlibat langsung dalam proses mulai dari praproduksi, produksi, pascaproduksi, selain itu sutradara di TV Edukasi juga berperan dalam pengawasan dan penilaian untuk layak tayang di TV Edukasi.

16HB Sutopo. Metodologi Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Surakarta: UNS Press, 2002.

STRATEGI SUTRADARA

PRAPRODUKSI PRODUKSI PASCAPRODUKSI

FTV PANGGUNG AKHIR EKOLAH

(34)

H. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam penelitian ini, menyajikan dengan 4 sub bab yang masing-masing terdiri dari sub bagian dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I. PENDAHULUAN. Pada bab ini Berisi Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian , Tinjauan Pustaka, Kerangka Konseptuan, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.

BAB II. FTV PANGGUNG AKHIR SEKOLAH. Pada bab ini Berisi Latar Belakang FTV Panggung Akhir Sekolah dan Sutradara FTV Panggung Akhir Sekolah.

BAB III. STRATEGI SUTRADARA DALAM FILM TELEVISI PANGGUNG AKHIR SEKOLAH. Pada bab ini Berisi mengenai Strategi Sutradara dalam memproduksi film Panggung Akhir Sekolah

BAB IV PENUTUP. Dalam bab ini berisi kesimpulan yang mampu menjawab rumusan masalah yang telah disajiakan dan peneliti mampu menarik kesimpulannya.

(35)

A. Deskripsi FTV Panggung Akhir Sekolah

FTV Panggung Akhir Sekolah merupakan Film tentang Pendidikan yang target penontonnya adalah siswa, guru, dan orang tua murid. Untuk target utamaya anak usia berkisar anak sekolah SMP antara usia 13-16 tahun, sedangkan status siswa program ini gabungan antara menengah ke atas dengan menengah ke bawah karena di dalam film pemain dan pemeran utamanya digabung antara karakter status sosial ekonomi redah dan status sosial ekonomi tinggi dengan tokoh pemain mayoritas anak remaja SMP.

FTV Panggung Akhir Sekolah, dikemas sedemikian rupa supaya bahasa atau dialog dalam film dimengerti oleh anak remaja usia SMP, Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta tidak menggunakan bahasa-bahasa kurang sopan seperti

‘elu gue’ karena di TV Endukasi tidak diperbolehkan menggunakan bahasa kurang sopan saat penyampaian kepada masyarakat agar dapat menjadi contoh yang baik. Namun agar tidak jenuh,dan monoton, FTV panggung Akhir Sekolah juga memasukan unsur-unsur bahasa gaul mereka sehari-hari yang digunakan di sekolahnya masing-masing namun masih dalam batas yang sopan.

(36)

Gambar 5. Panggung Akhir Sekolah

(Sumber: Instragram Pustekkom_kemendikbud , 15 Juni 2020)

Film yang diproduksi dengan berlatar cerita tentang kegiatan ekstrakulikuler yang tidak didukung oleh seorang guru yang cara pengajaranya terlalu mengacu pada aturan lama. Kegiatan siswa yang punya aktifitas tinggi disangka tidak akan mampu mengikuti pelajaran normal di sekolah. Amu Fandi yang sebagai tokoh utama dapat mengatur waktu kapan dia belajar dan kapan ketika berkegiatan ekstrakulikuler. Namun kawan-kawannya Fandi menyangka dia tidak pernah belajar namun ternyata dia berbeda dengan murid yang lain, Fandi setiap hari mengunakan hp dengan earphone yang di dalamnya berisi mata pelajaran sekolah untuk belajar dengan cara modern. Hal tersebutlah yang membuat Fandi tetap berprestasi meski sibuk dengan kegiatan ekstrakulikuler. Hal yang dilakukan Fandi merupakan salah satu cara metode belajar yag mengikuti perkembangan zaman sehingga tidak terpaku dengan metode belajar yang baku seperti dulu.

(37)

B. Identitas FTV Panggung Akhir Sekolah

Judul Film : Panggung Akhir Sekolah Kategori : Remaja Siswa SMP s.d. Umum Sasaran : Semua Kalangan

Genre : Fiksi

Durasi : 01.10.53

Bahasa : Bahasa Indonesia Tahun Produksi : 2015

Format : HD 1080i

Warna : Warna RGB dan CMYK

Suara : Stereo

Produksi : TV EDUKASI, PUSTEKKOM Produser : Amar Nugraha

Sutradara : Bambang Sudjati Penulis Naskah : Salman Aristo Pengembangan Ide :- Salman Aristo

- Arief Ash Shiddiq - Hanan Novianti - Bambang Sudjati

C. Sinopsis FTV Panggung Akhir Sekolah

Fandi, Indra, Ijal dan Deden, adalah empat orang sahabat yang bersekolah di SMP N 5 Bandung. Mereka berempat sama-sama duduk di kelas 9 atau kelas 3

(38)

SMP, tetapi, hanya Indra dan Deden yang satu kelas. Persahabatan mereka terjalin ketika mereka mendaftar menjadi anggota Kabaret, salah satu ekstra kurikuler paling top di SMP N 5 Bandung. Fandi menjabat sebagai ketua kabaret karena selalu membawa ide-ide segar di ekstra kulikuler tersebut. Indra menjabat sebagai wakil Fandi, dan Deden bertugas menjadi koordinator. Mereka sangat ingin melaksanakan tradisi tahunan sekolahnya, yaitu pentas drama musikal pada acara ulang tahun sekolahnya. Tetapi mereka harus menghadapi Pak Sunandar yang berusaha membekukan semua kegiatan ekskul dan menghentikan acara tahunan sekolah mereka, karena dianggap mengganggu fokus belajar para siswa yang sebentar lagi akan menghadapi UN.

Sebagai ketua kabaret, Fandi selalu berusaha membujuk Ibu Neni selaku wali kelas mereka untuk membantu mereka. Namun selalu saja ada masalah yang timbul di pihak anggota kabaret yang lain sehingga membuat Pak Sunandar yakin untuk tetap melarang aktivitas ekstra kurikuler. Namun dengan kegigihan Fandi, dia mengajak teman - teman kabaret yang dikenal Pak Sunandar sering berbuat ulah untuk belajar bersama diluar jam belajar sehingga bisa meyakinkan Pak Sunandar untuk memperbolehkan pentas drama musikal berlangsung.

D. Sutradara FTV Panggung Akhir Sekolah

Bambang Sudjati, berprofesi sebagai sutradara, praktisi film serta sebagai dosen perguruan tinggi swasta yang mengajar di Fakultas Komunikasi. Bambang Sudjati telah bekerja di bidang film dan televisi selama hampir 40 tahun. Bagi Bambang Sudjati menggeluti dunia film dan televisi merupakan sebuah hobi.

(39)

Pada akhir tahun 2007 Bambang mengajar di Fakultas Komunikasi dengan mata kuliah yang sama dengan pekerjaan yang ditekuni Bambang yaitu broadcasting televisi maupun film. Menginjak Umur ke 62 tahun, Bambang Sudjati bertempat tinggal di daerah Pamulang, Tangerang Selatan dengan memiliki 5 orang anak dan 1 orang istri. Profesi yang dijalani saat ini ialah sebagai dosen tetap di Universitas Esa unggul, Fakultas Komunikasi dan Fakultas Desain dan Industri untuk mata kuliah Desain Grafis.

Gambar 3. Bambang Sudjati Sutradara FTV Panggung Akhir Sekolah (Sumber: Dokumentasi Pribadi Amar Nugraha, 2019 )

Pada tahun 1982 Bambang Sudjati memulai karir sebagai editor film.

Pengalaman Bambang dalam industri film dan televisi dimulai sebagai editor dari film ACI (Aku Cinta Indonesia), Jendela Rumah Kita, Dongeng Dangdut dan masih banyak lagi yang belum disebutkan Bambang. Pada tahun 1986 Bambang Sudjati mulai menekuni karir sebagai sutradara mulai dari film hingga televisi.

Sudah ratusan produksi dari film televisi, drama sinetron dan film Panjang yang disutradarai. Pada tahun 2018 Bambang Sudjati menyutradarai film yang berjudul Langkah Yang Tersisa yang masuk dalam nominasi festival film di dalam negeri

(40)

serta film tersebut juga di tayangkan di XXI pada 2019. Bambang juga pernah menjadi sutradara dari film dokumenter. Pada bulan Desember tahun 2019 Bambang mendapatkan penghargaan sebagai Conten Creative Radio Dan Pendidikan Singkawang Kalimantan Barat oleh KPI yang ditayangkan melalui stasiun televisi Metro TV. Faktor usia yang sudah lanjut membuat Bambang Sudjati bercerita mengenai pengalaman dan karya-karya yang pernah beliau kerjakan seingatnya saja.

Bambang Sudjati bercerita bahwa di FTV sebagai sutradara, harus mampu mengatur atau memanage tim produksi yang memiliki berbagai macam karakter sebagai kerabat kerja produksi. Satu orang bermasalah akan berantakan dalam mengerjakan sebuah film jenis apapun. Menurut beliau, film yang bertemakan pendidikan dikatakan sangat penting karena Indonesia beragam dalam hal suku budaya Bahasa sehingga kaya akan pelajaran yang didapat. Bambang Sudjati berusaha mempersatukan dan dapat saling mengenal semua suku budaya bahasa dan lainnya. Melalui jalur pendidikan, baik pendidkan formal maupun non formal, mengenal berbagai macam karakter tanpa harus saling menjelekkan pada satu suku maupun budaya. Bambang berusaha merangkul semua perbedaan, tidak ada budaya yang dibedakan, yang ada ialah budaya Indonesia. Sebagai bangsa yang beradab wajib mengenal maupun melestarikannya, terutama manusia-manusia yang berada didaerah tempat tinggal. Manusia khususnya mampu menyatukan seantero nusantara, agar dapat bersaing dalam dunia International khususnya mengenalkan berbagai macam ragam budaya. Banyak hal yang harus dilakukan

(41)

melalui berbagai event ataupun festival yang santun dan mencerdaskan, kalau ingin menjadi manusia berbudaya dengan melalui pendidikan karakter.

Menurut Bambang Sudjati, negara Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, begitu terjadi tragedi revolusi kerusuhan tahun 1998 yang pada saat itu Bambang Sudjati juga merasakan dan mengalami pecahnya tragedi tersebut, sejak itu menurut beliau, Indonesia seperti disingkirkan oleh dunia karena keganasan, beringas terhadap budayanya, pada saat itu juga sudah hilang, kepercayaan dari banyak negara yang tidak menerima masyarakat Indoneisa. Bambang sudjati mencoba untuk membangun kembali persatuan budaya dan karakter manusia terhadap budaya yangg hilang melalui apa yang beliau bisa lakukan yaitu lewat pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang dicoba Bambang Sudjati melaui film televisi pendidikan atau film pendidikan yang dibuat. Bambang Sudjati butuh waktu yang cukup lama untuk dapat menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia. Bambang berusaha membuat bangsa yang ramah, budaya, beragam untuk persatukan perbedaan suku, bangsa dan budaya melalui pendidikan karakter dalam karya-karya beliau yang ada di dunia film maupun di dalam TV Edukasi.

E. Tugas Sutradara TV Edukasi

Dalam produksi FTV Panggung Akhir Sekolah Sutradara di TV Edukasi memiliki tugas yang berbeda-beda sesuai dengan proses yang dilaksanakan:

a) PraProduksi

Proses praproduksi yang dilakukan pada TV Edukasi merupakan tahap awal dalam pembuatan film televisi, dengan serangkaian tahap penyusunan

(42)

naskah, melakukan penelitian untuk melengkapi data, dan analisa naskah.

Gagasan-gagasan sutradara mulai dibentuk menjadi deskripsi adegan ke dalam bentuk storyboard, plotting adegan, pembuatan director shot, casting pemain, hingga hunting lokasi. Proses pemantapan konsep sebelum melakukan produksi naskah, seorang sutradara harus benar-benar matang sebelum melakukan produksi bersama kerabat kerja.

b) Produksi

Proses produksi dilakukan untuk menerjemahkan cerita dari bentuk naskah ke dalam bentuk audio visual menggunakan pendekatan mise-en-scene, sinematografi, dan suara sesuai dengan konsep yang sudah dirancang. Proses produksi memiliki titik kelamahan dalam hal pengambilan gambar dikarenakan beberapa faktor seperti cuaca, kerusakan alat dan kondisi lokasi pengambilan gambar. Hal tersebut harus dialakukan perancangan khusus oleh sutradara dalam memanfaatkan waktu produksi yang sudah ditetapkan. Sutradara harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan cepat pada persoalan yang terjadi di lapangan.

c) Pascaproduksi

Pascaproduksi merupakan proses penggabungan dari hasil pengambilan gambar hasil produksi berupa editing. Proses editing yang dilakukan ketika proses ini sutradara mengontrol dan mengkoreksi. Proses editing dipantau langsung agar hasil yang telah diedit sesuai dengan keinginan sutradara. Tahapan proses-proses

(43)

di atas sangat penting dalam pembuatan sebuah film, karena jika salah satu proses terlewatkan maka produksi sebuah film tidak akan berjalan dengan sempurna.

d) Evaluasi dan Pengawasan

Setelah proses produski selesai, Sutradara memiliki tugas tambahan berupa ikut mengevaluasi dan mengawasi hasil film yang sudah jadi ke dalam proses Quality Control (QC) sebelum film dinyatakan lolos dan layak tayang untuk disiarkan di stasiun televisi.

(44)

PANGGUNG AKHIR SEKOLAH

Strategi dapat diartikan sebagai taktik atau rencana yang cermat yang dijalankan untuk mencapai sasaran khusus. Fungsi Sutradara dari program FTV sebagai seniman/artist yang mempunyai gagasan terhadap sebuah pesan yang akan disampaikan melalui karya, serta bekerja dalam ranah yang berfungsi menjadi interprestasi dari sebuah naskah menjadi sebuah karya visual. Semua yang dihadirkan dalam layar dan dampak dari tontonan tersebut menjadi tanggung jawab penuh dari seorang sutradara. Melalui jalur pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal, mengenal berbagai macam karakter tanpa harus saling menjelekkan pada satu suku. Sutradara berusaha merangkul semua perbedaan, tidak ada budaya yang dibedakan, yang ada budaya Indonesia. Film yang diproduksi adalah pelajaran ekstrakulikuler yang tidak didukung oleh seorang guru yang cara pengajaran terlalu mengacu pada aturan lama. Film Televisi santun dan mencerdaskan, kalau ingin menjadi manusia berbudaya melalui pendidikan karakter. Kegiatan siswa yang melakukan aktivitas ekstra kurikuler disangka tidak akan mampu mengikuti pelajaran di sekolah. FTV ini dikembangkan oleh Tim Produksi yang telah memiliki pengalaman dalam memproduksi program-program televisi, khususnya program-program televisi untuk pembelajaran disekolah.

Karakteristik sasaran yang berbeda, namun masih dalam satu lingkungan yakni

(45)

FTV memerlukan treatment yang khusus. Setiap tema diprogram FTV yang diproduksi memiliki kekhasan tersendiri yang ikut menentukan proses produksinya.

A. Tahapan Kerja Pra Produksi, Produksi, Pasca produksi

a) Pra Produksi

a. Riset lokasi

Proses pembuatan ide penciptaan FTV melakukan beberapakali riset.

Menurut penuturan Bambang, beliau melakukan riset lokasi sampai 3 kali.

Salah satu lokasi yang dituju yaitu wilayah Garut. Setelah meninjau Garut namun tidak cocok dengan bangunan sekolah yang dicari. Bangunan sekolah yang dicari ialah sekolah menengah pertama dengan tipe bagunan kalangan keatas tapi bisa kebawah (sedang). Di Garut itu hampir rata-rata yang Bambang dapatkan lokasi sekolahnya yang bagus tidak mencerminkan bahwa sekolah tersebut cocok dengan visual film panggung akhir sekolah. Bambang melakukan riset bahwa artistik, tekstur, bentuk bangunan harus lebih sesuai, karena mengambil tema gedung sekolah lama seperti gedung zaman romawi namun dengan visual yang sudah terlihat modern dan kebetulan dapat di kota Bandung. Setelah mendapatkan lokasi yang tepat, pak Bambang melakukat riset dan mengembangkan cerita yang sudah ada dengan visual di kota Bandung. Pada bagian ide penciptaan Bambang selaku sutradara memperoleh naskah final yang sudah dibuat dari penulis naskah FTV dengan penyesuaian sesuai riset lokasi produksi.

(46)

Sutradara berperan mewujutkan dalam bentuk audio visual. Sutradara dalam ide penciptaan memberi masukan saat finalisasi naskah FTV.

b. Melakukan rembuk naskah (scriptconverence)

Kegiatan produksi program Film Televisi (FTV) yang berjudul Panggung Akhir Sekolah dilaksanakan antara tangga l1 Oktober s.d.12 Oktober 2015,di kota Bandung dengan tempat/lokasi sesuai kebutuhan program (indoor/outdoor) seperti SMP N 5 Kota Bandung, Balaikota Bandung dan lokasi yang telah dipilih berdasarkan sasaran dan serinya.

Sutradara FTV di TV Edukasi dipercayai sebagai pemimpin dan bertanggung jawab dalam pembuatan jadwal produksi. Jadwal produksi dimulai setelah naskah finalisasi selesai dan dinyatakan siap diproduksi oleh produser.

Tabel 1. Jadwal Produksi

Sumber: Amar Nugraha Produser FTV Panggung Akhir Sekolah, Televisi Edukasi, 2019

NO Aktifitas Waktu Output

1. Finalisasi naskah Naskah Final

2. Penyusunan kerabat

kerja 10 September 2015 Daftar crew FTV

3. Survei lokasi 11-12 September 2015 Survei lokasi 4. Casting peman 14-30 September 2015 Casting

dikantor,Agensidan Lokasi

5. Rembuk naskah dan

Breakdown naskah 15 September 2015 Shootlist, Location, Properti,

waredrobe,dl 6. Reading naskah 1-5 Oktober 2015 Pemain

7. penjadwalan 5 Oktober 2015 Jadwal produksi 8. Persiapan produksi 1-6 Oktober 2015 Pengadaan kebutuhan

produksi

(47)

9. Produksi Program FTVPanggung akhir tahun

1-12 Oktober 2015 MasterShot

10. pascaproduksi 14 Oktober-14

November 2015 Masteredit

c. Melakukan breakdown adegan naskah

Sutradara Melakukan breakdown naskah dengan Tim produksi untuk mengetahui kekurangan yang ada dalam FTV. Sutradara melakukan peran breakdown naskah sebagai gambaran untuk tim produksi dalam mempersiapkan segala yang dibutuhkan dalam produksi mengingat gambaran yang sutradara inginkan dapat tersampaikan kepada tim prouksi mengenai kebutuhan produksi. Breakdown naskah meliputi breakdown lokasi, dan pemeran.

a. BREAKDOWN LOKASI

Tabel 2. Breakdown Lokasi

Sumber: Amar Nugraha Produser FTV Panggung Akhir Sekolah, Televisi Edukasi, 2019

NO LOKASI EXT /INT

D/N SCENE TOTAL

1 AULA INT D 01 03 06 08 4

2 AULA

(SETPANGGU NGLATIHAN)

INT D 35 91 96 102 4

3 AULA INT N 104 105 106 107 4

(48)

b. BREAKDOWN PEMERAN

Tabel 3. Breakdown Pemeran

Sumber: Amar Nugraha Produser FTV Panggung Akhir Sekolah, Televisi Edukasi, 2019

NO KARAKTER SCENE TOTAL

1 FANDI 03 06 08 09 11 13 14 15 17 18

19 23 25 26 27 30 31 32 33 34

36 37 39 40 42 44 46 48 50 51

53 54 55 56 57 58 67 68 69 70

71 73 74 77 79 81 82 83 86 87

88 89 90 91 92 95 97 98 101 102

104 105 106

64

2 ASTI 06 08 09 15 19 25 29 39 46 50

56 69 70 76 85 86 87 89 90 97

105 106 107

23

3 DEDEN 03 06 08 09 11 15 17 19 23 25

26 28 30 31 32 33 38 42 43 59

60 61 62 64 74 77 81 83 84 94

97 100 105 106 107

35

4 IJAL 01 03 08 09 11 13 15 17 19 25

26 33 35 42 44 48 52 53 57 58

35

(49)

59 73 74 77 81 83 86 89 90 92 95 97 98 101 103

d. Survei lokasi dan penetapan lokasi

Sutradara juga melakukan surveri lokasi untuk menenukan tempat yang cocok dan sesuai pada FTV Panggung Akhir Sekolah. Untuk dapat memberikan dukungan dari segi latar belakang dari kehidupan sang tokoh, tim produksi dengan dikepalai oleh sutadara melakukan survei lokasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Tim Produksi memilih suatu daerah di Bandung, alur cerita akan menginformasikan bagaimana tokoh memperjuangan hobi atau kesukaan tokoh utama, yang sangat sulit untuk bertahan di sekolah. Hasil survey lokasi, Bambang sebagai kepala dari Tim produksi melakukan perubahan dibeberapa cerita terutama pada lokasi, yang pada awalnya lokasi SMP bukan di Bandung. Bambang menuturkan terutama masalah lokasi/set karena Tim produksi harus memikirkan mobilisasi (pindah lokasi/set) pada saat produksi, yang otomatis akan merubah alur dan bahkan dialog dalam ceritanya. Perubahan lokasi penting karena pada masa praproduksi, semua persiapan baik lokasi, pemain, property, kostum dipersiapkan dengan matang. Namun Pada waktu melakukan survei di kota Garut kota pertama yang dituju sebelum akhirnya memilih kota Bandung, menurut Sutradara kurang mendukung, sehingga naskah dapat dirubah untuk menyesuaikan tanpa menurunkan kualitas cerita dari yang diharapkan sebelumnya. Pada tahapan tersebut sutradara tidak terlalu banyak membuat setting lokasi, karena pada tahap

(50)

riset sudah mencapai yang diinginkan oleh sutradara dan tim produksi, serta semua lokasi yang asli.

e. Melakukan casting pemain, penetapan dan Reading naskah pemain Film ini dikemas dengan latar dan kultur sosial siswa SMP N 5 Bandung, pemain yang terlibat pun sebagian besar merupakan asli dari siswa-siswi di SMP N 5 Bandung yang diantaranya adalah para seniman teater di ekstrakulikuler di SMP5 Bandung. Lokal dan berbudaya yang memiliki semangat berkarya dan menciptakan kebanggan bersama.

Diantara mereka ada yang artis senior, guru muda yang berbakat, dan anak-anak teater hingga pelajar - pelajar yang minat pada bidang seni peran.

Reading naskah pemain yang sudah ditentukan para pemain FTV Panggung Akhir Sekolah. Reading naskah dilakukan oleh sutradara untuk menyesuaikan karakter dan mendalami peran pemain. Reading naskah perlu dilakukan agar pemain tidak mersakan gerogi ataupun gugup saat memerankan adegan film. Pematangan pemeran dilakukan secara intens atau terus menerus untuk mempermudah waktu pengambilan gambar.

Reading berlangsung selama empat hari untuk melatih ketepatan intonasi dan artikulasi sesuai skenario setelah semua pemain terkumpul sesuai kebutuhan naskah. Setelah reading antar pemain, proses selanjutnya adalah rehearsal. Proses rehearsal berlangsung selama 10 hari dengan melatih pemain beradegan, menyanyi dan menghafal koreografi. Proses

(51)

melatih pemain untuk koreografi berlangsung selama 5 hari untuk kelancaran pada saat adegan teater dilaksanakan.

Casting dilakukan di studio TV Edukasi dan SMP N 5 Bandung, Tim produksi memanggil dan mengumumkan secara terbuka, ada beberapa orang yang datang kemudian Tim produksi casting sesuaikan dengan karakter, tokoh, usia, status sosial, kemudian termasuk wajah. Kalau status sosialnya yang menengah kebawah Tim produksi pasti mencari wajah yang kadang kala tidak terlalu bagus, karena tekanan dari kondisi ekonomi.

Sementara ditokoh yang memerankan menjadi juru parkir juga dipertimbangkan wajah dan status sosial walaupun masih sekolah.

Karakter tersebut juga berperan penting karena tokoh tersebut menggambarkan betapa kerasnya perjuangan untuk sekolah dan tidak meninggalkan mata pelajaran sekolah. Karakter tersebut hanya membantu orang tua ketika orang tuanya berhalangan mengurus parkir. Karakter tokoh ini menggantikan pekerjaan orang tua pada saat setelah jam sekolah selesai. Sehingga casting dilakukan di studio TV Edukasi dan SMP N 5 Bandung. Tim produksi tetap ada beberapa pilihan lagi menyesesuaikan dengan karakter kemudian, komunikatif tidak dengan dialognya, aktingnya, mimic wajah, ukuran tinggi badan segala macem semua sesuai dengan tokoh yang inginkan.

b) Produksi

Proses produksi memerlukan waktu 10 hari, proses produksi shooting. Produksi ini selalu membuat scene-scene yang kira-kira yang Tim

(52)

produksi utamakan terlebih dahulu. Jika kalau ada kendala scene-scene utama Tim produksi sudah buat dulu.

Bukan semua scene tidak penting, semua scene penting, tapi ini scene yang klimaks. Ada yang namanya golden scene, ialah scene yang emas, topnya scene di film itu. Bikin film ambil scene yang penting yang didahulukan seperti itu karena kondisi kerabat kerja yang belum capek, kondisi kerabat kerja yang aktivitasnya masih tinggi.17

Sistem yang Bambang buat terlebih dahulu kemudian pemain juga masih fresh, masih fokus segala macam. Bambang memberi arahan scene- scene yang utama seperti yang diproduksi lebih dulu kemudian scene-scene berikutnya. sehingga kalau mau bikin film nanti seperti yang sudah diarahakan agar menjadi lebih fokus. Film ini menceritakan siswa remaja sekolah menengah pertama yang punya identitas dalam hal ekstra kurikuler tapi dia juga tidak meninggalkan kewajibannya mengikuti mata pelajaran intinya. Bukan tidak ada pro kontra diantara teman-temennya, dan tetap ada pro kontra. Pro kontra di antara teman tetap ada karena ada orang yang menginginkan begini atau begitu atau berbeda pendapat dan keinginan.

Bambang menuturkan justru dengan adanya perbedaan seperti itu menambah dinamisasi dan manisnya di film tersebut, karena kalau film datar, tidak ada yang bisa dijual. Jadi yang jelas bahwa semua perbedaan ada solusi yang terbaik, akhirnya diambillah jalan tengah, terjadilah produksi FTV Panggung Akhir Sekolah kemudian mereka semua mendukung untuk menciptakan sebuah produksi FTV Pendidikan.

17Wawancara Bambang sebagai sutradara FTV Panggung Akhir Sekolah, di Studio TV Edukasi.

tanggl 22 mei 2019

(53)

FTV Panggung Akhir Sekolah memiliki struktur tiga babak yang sama seperti film fiksi pada umumnya. Struktur tiga babak memiliki tahap- tahap yang sesuai dengan grafik naratif. Sutradara membuat alur cerita dengan menampilkan beberapa masalah yang dialami tokoh bertujuan untuk

Gambar 5. Struktur naratif ceritaPanggung Akhir Sekolah

(Sumber : wawancara Bambang Sudjati Sutradara FTV Panggung Akhir Sekolah)

memberikan informasi yang menarik kepada penonton, sehingga penonton akan tertarik pada 5 menit pertama. Mengusung gaya seperti pada karakter Bambang yang belajar dari emosi yang membawa ke egoisan, FTV ini juga menguras emosi den keegoisan dari para tokoh yang dihadirkan pada FTV Panggung Akhir Sekolah. Penjabaran poin-poin struktur naratif dengan metode grafik dapat dijabarkan sebagai berikut :

a. Eksposisi pemain dan lokasi (menit 0-1) :

Gambar 6. Pengenalan para pemain Panggung Akhir Sekolah

(54)

sumber: screen capture Panggung Akhir Sekolah (TC 00:00.34)

1) Mengenalkan karakter para pemain Pak Suandar, Fandi, Asti dan Deden) dengan gambaran karakter pemain.

2) Memberikan kata kunci terhadap salah satu tokoh utama pada Pak Sunandar yang kurang disukai siswa karena ada kelompok siswa yang memandang Pak Suanandar tidak suka.

3) Memberikan informasi mengenai latar belakang cerita dengan sebuah daerah di Bandung.

b. Eksposisi permasalahan (menit 2-10) :

Gambar 7. Usul Pak Sunandar tentang pembekuan kegiatan ekstrakurikuler sumber: screen capture Panggung Akhir Sekolah

(TC 00:06.20)

1) Menampilkan permasalahan mengenai ekskul yang akan diberhentikan kegiatannya. Menampilkan tokoh Fandi yag kecewa akan madding yang di pasang oleh tokoh Asti.

2) Menampilkan karakter Pak Suandar yang memiliki kesuakaan memakan lepet sehingga menimbulkan tokoh siswa memangil Pak Sunandar dengan si lepet.

(55)

3) Menampilkan karakter Pak Sunandar yang kurang suka terhadap siswa yang suka menentang perintahnya dan larangan mengenai kegiatan Ekskul.

4) Perdebatan antar guru mengenai pendisiplinan terjadi, konflik antar guru terjadi ketika salah satu guru menolak peraturan baru.

5) Menampilkan karakter pemain dan kegemaran pemain utama dan pendukung.

c. Konflik (menit 10-40) :

Gambar 8. Permasalahan antara Pak sunandar dengan anggota kabaret yang diketuai Fandi

Sumber: screen capture Panggung Akhir Sekolah (TC 00:22:03)

1) Karakter Pak Teddy selaku kepala sekolah mengumumkan peraturan baru mengenai pendisiplinan dan mengurangi kegiatan ekskul sekolah dan menyarankan untuk kelas 9 berhenti dari kegiatan ekskul.

2) Muncul konflik diantara para guru dan murid yang tidak suka dengan adanya peraturan baru yang dirasa merugikan siswa-siswa dalam kegiatan akademik dan non-akademik

(56)

3) Menampilkan karakter Fandi yang berandalan namun pintar, serta karakter pendukung lainnya.

4) Menampilkan gejolak setiap peran dari Fandi, Deden, Riyan, Ijal dan Asep yang menolak ekskul akan diberhentikan khususnya kelas 9 yang dilarang keras untuk mengikuti kegiatan tersebut.

5) Menampilkan gejolak demo dari seluruh kalangan penggiat kegiatan ekskul dalam menyampaikan aspirasi kepada para guru.

6) Para guru lebih dengan tegas menolak dan memberikan pemberitan pemberhentian kegiatan semua kegiatan ekskul sehingga siswa- siswi semakin menjadi untuk menolak peraturan tersebut.

7) Guru-guru menerapkan kegiatan ujian try-out dengan jadwal yang semakin banyak untuk siswa kelas 9.

8) Menampilkan kegiatan dari Asti selaku ketua madding yang mengaspirasikan ketidak sukaan akan berhentinya ekskul yang sudah lama dia ikuti.

9) Fandi dan karakter pendukung lainnya mencari cara untuk tetap latihan ekskul teater di luar jam sekolah. Fandi berharap Kabaret dapat tampil di kegitan perpisahan sekolah kelas 9.

10) Fandi mendatangi Ibu Neni selaku Pembina Kabaret ekskul teater untuk minta pertimbangan agar Kabaret dapat tampil di kegitan perpisahan sekolah kelas 9.

11) Fandi mendapat dukungan dari Ibu Neni tetapi dengan syarat nilai try-out harus maksimal, Fandi yang dikenal brandalan namun

(57)

pintar tidak menjadi masalah untuk dirinya namun menjadi maslah untuk teman-temannya.

12) Hasil nilai try-out tidak seuai dengan keinginan Fandi sehingga Bu Neni sebagai Pembina merasa malu dan kecewa atas hasil tersebut.

13) Fandi yang merasa kecewa mengumpulkan beberapa anggota Kabaret yang kelas 9 dan melampiaskan rasa kecewa pada teman- temannya.

14) Menampilkan perbedaan karakter utama Fandi pada kegiatan malam hari belajar dengan cara merekam suara hasil bacaan pada buku pelajaran sedangkan waktu bersamaan Deden dan Ryan bermain PS yang beralasan sedang latihan Kabaret.

15) Terjadi perselihan antara Fandi dan Asti mengenai penolakan akan kerjasama untuk membujuk Pak Teddy tentang permasalahan Ekskul.

16) Menampilkan permasalahan mengenai kegiatan malam latihan Kabaret serta kunjungan dari wakil dinas. Pemanggilan orang tua Fandi menjadi konflik besar bagi Fandi, sekolah dan orang tua.

d. Penyelesaian (menit 40-60) :

(58)

Gambar 9. Penyelesaian masalah Fandi belajar bersama di UKS diluar jam pelajaran

Sumber: screen campture Panggung Akhir Sekolah (TC 00:59:38)

1) Fandi pada akhirnya di skorsing selama 3 hari, Fandi mencoba untuk melepaskan kepengurusan kepada kelas 8. Fandi mengetahui permasalah Ijal yang kerap mendapatkan nilai rendah karena ikut membantu orang tua menjadi tukang parkir

2) Menampilkan Ryan yang bersih keras ingin menampilkan pentas Kabaret dengan naskah yang berbeda dengan Fandi. Indra yang diperintah oleh Ryan untuk menemui Bu Neni serta menjadikan kambing hitam Fandi.

3) Bu Neni melakukan negosiasi kembali kepada kepala sekolah.

4) Fandi mengetahui kegiatan yang dilakukan Indra dan Ryan yang sebenarnya, Fandi kecewa dan marah terhadap teman-teman yang menyalahgunakan latihan Kabaret.

5) Menampilkan Asti yang selama ini kerap diam ternyata sangat peduli mengenai kegiatan Kabaret yang sudah diberhentikan.

6) Fandi menjadikan UKS untuk tempat menyelesaikan permasalahan serta tanpa sadar Pak Sunandar mengetahuinya dan memiliki rasa bangga terhadap Fandi.

7) Fandi membantu dan membimbing belajar kepadan teman-teman kelas 9 anggota Kabaret untuk Ujian Nasional yang sebentar lagi dilaksanakan.

(59)

e. Antiklimaks (menit 60-70) :

Gambar 10. Antiklimaks Fandi dan Pak Sunandar Sumber: screen capture Panggung Akhir Sekolah

(TC 01:09:40)

1) Fandi mengarahkan anggota Kabaret latihan di luar jam sekolah dan di tempat yang umum agar para anggota lebih fokus dalam latihan pementasan teater Kabaret.

2) Try-Out terakhir dilaksanakan dan hasil dari try-out menunjukan hasil nilai teman-teman Fandi yang dianggota Kabaret mengalami peningkatan dari hasil try-out yang dilaksanakan.

3) Ujian Nasional dilaksanakan dan hasil dari ujian nasional menunjukan teman-teman Fandi dari anggota Kabaret dinyatakan lulus. Serta informasi pementasan Kabaret tetap dilaksanakan tidak dibatalkan.

4) Pementasan cabaret dihadiri oleh orang tua wali murid dan para guru SMP N 5 Bandung. Pementasan yang mengambil tema nusantara dan peredaan sukses dilaksanakan.

5) Fandi memberika salam terima kasih kepada semua guru dan terutama Pak Sunandar yang selama ini mengalami perselisihan

(60)

namun menjadikan sebagai motivator yang hebat untuk terus mengingatkan para siswa-siswa agar rajin belajar.

Setelah diketahui struktur dari cerita yang telah dibuat tahap selanjutnya adalah memilih adegan yang memiliki potensi. Pemilihan tersebut masih berpijak pada struktur naratif yang memiliki bagian eksposisi, konflik dan penyelesaian.

Lebih lanjut, berikut penjelasan dalam petikan wawancara:

1. Perwujudan mise-en-scene dalam film

a) Setting

Semua latar dari FTV Panggung Akhir Sekolah diambil secara on location tidak ada proses building sebuah setting di dalam studio, hanya saja sutradara meminta tim produksi untuk menata ulang posisi properti dalam ruangan. Sutradara menggambarkan cerita film pada setting yang sudah di rencanakan dan dilakukan bedah naskah. Setting yang digunakan melalu beberapa tahapan riset dan dilakukan dengan kondisi yang ada dilapangan. Diharapkan dengan konsep setting yang ada dapat memperkuat cerita FTV Pendidikan dan dapat tersampaikan kepada penonton. Kekuatan sebuah latar juga dapat mengidentifikasi strata sosial suatu tokoh. Secara umum latar di konsep dengan suasana rumah modern pada masa kini yang terdapat di Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitan dan rancangan yang telah dilakukan oleh penulis, maka penulis membuat Sistem Informasi Pengajuan Cuti yang dapat digunakan oleh perusahaan

(3) bagi Dinas Pendidikan dan Kantor Lingkungan Hidup Kota Batu: penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu dasar pengambilan kebijakan yaitu menetapkan

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan: 1. Bupati adalah Bupati Pangandaran. Daerah adalah Kabupaten Pangandaran. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah

pertama dibangun kemudian Abu Zayd menyatakan bahwa umat Islam saat ini memerlukan kebebasan mutlak dari otoritas teks- teks keagamaan (khususnya al-Qur ’an) dalam

Objek yang dianalisa dalam tugas akhir ini adalah UA Well Platform milik PT. PHE ONWJ yang beroperasi di Uniform Area dan diinstall pada tahun 1973. Analisa umur kelelahan

Larva Kerang Manila (Ruditapes philippinarum) yang dipelihara pada kondisi terkena sinar matahari langsung (15.000–2000 lux), menunjukkan pertumbuhan dan sintasan yang

Kemudian sektor-sektor yang lain seperti Bangunan & Real Estate, Perdagangan, Hotel & Restoran, Pengangkutan & Komunikasi merupakan sektor basis yang

Latar Belakang: Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang yang akan meningkatkan risiko patah tulang. Angka kejadian