• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HUBUNGAN BELANDA DAN JEPANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II HUBUNGAN BELANDA DAN JEPANG"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

HUBUNGAN BELANDA DAN JEPANG

2.1 Hubungan Awal Belanda Dan Jepang

Hubungan Belanda dengan Jepang berawal dari kedatangan kapal Belanda ke Jepang.Lebih tepatnya, kapal Belanda yang bernama “De Liefde” (artinyakepedulian/cinta) mendarat untuk pertama kalinya di Kyushu pada tahun 1600 pada jaman Azuchi-Momoyama. Tujuan pendaratan mereka di Jepang adalah untuk mengeskplor Jepang. Hal ini dilakukan karena Belanda yang semakin kehilangan posisi perdagangan mereka di Eropa akibat perang dengan Spanyol (yang kemudian terpaksa bersekutu dengan Portugis) selama delapan tahun (Yamashita, 2015). Awalnya selain De Liefde ada empat kapal lainnya yang ikut berlayar. Mereka adalah “T Gheloove” (artinya iman), “Bilijde Bootschap” (artinya kabar baik), “Trouwe” (artinya beriman), dan “Hoope” (artinya pengharapan). Mereka mulai berlayar dari Rotterdam pada bulan Juni tahun 1598. Namun di tengah perjalanan, mereka mengalami badai dan penyerangan yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis sepanjang rute Amerika Selatan dan Asia. Namun setelah badai dan penyerangan tersebut, hanya kapal De Liefde yang bertahan dan sampai ke daerah Timur. Kapal lainnya seperti T Gheloove kembali ke Rotterdam sebelum memasuki Magellan, Biljde Bootschap bertempur dengan Spanyol dan Hoope tenggelam ketika terjadi badai. Orang-orang yang berada dalam kapal De Liefde adalah Kapten J. Quaeckernaeck, Officer Joosten van Lodensteyn, dan seorang nahkoda asal Inggris bernama William Adams. Ada juga 24 kru kapal yang bertahan dari 110 orang yang ikut berangkat ke Jepang.

Sampai di Jepang, semua yang berada di dalam kapal De Liefde tinggal di daerah Bungo (sekarang kota Usuki di perfektur Oita). Kapal Liefde membawa 19 meriam, beberapa pasukan penembak, panah api, dan beberapa senjata lainnya. Beberapa tahun kemudian setelah mereka mendarat, didirikanlah VOC (Perdagangan Hindia Belanda)

(2)

pada tahun 1602 untuk berdagang di seluruh dunia, termasuk Jepang.Setelah tinggal di daerah Bungo, para penghuni kapal Liefde tersebutakhirnya dipanggil oleh shogun Tokugawa ke Osaka untuk mencari info tentang barat dengan bantuan interpreter Portugis. Kemudian, Jan Joosten van Lodensteyn menerima penghargaan berupa sertifikat izin dagang. Ia merupakan pedagang aktif dan kemudian dipanggil dengan sebutan “Yaesu-san”. William Adams juga akhirnya menjabat sebagai penasihat hubungan internasional bagi shogundan diberi nama Jepang, Miura Anjin. William diberi nama demikian karena ia diberi hadiah berupa tanah di Miura dan juga merupakannahkoda kapal tersebut (Anjin : nahkoda kapal). Hanya Belanda, yang merupakan negara barat penerima penghargaan (dan perlakuan istimewa) tersebut. Kedua pelaut tersebut sangat dihormati di Jepang. Miura Anjin dijadikan nama jalan di Tokyo (sebelumnya Edo),yaitu Anjin-dori dan Yaesu menjadi nama pintu keluar selatan dari stasiun Tokyo pada saat ini.Replika kapal Liefde yang mempresentasikan sarjana Belanda dan filsuf Erasmus bisa dilihat di Museum Nasional di distrik Ueno, kota Tokyo (Dutch Embassy of Japan).

Semua penyambutan yang dilakukan bagi pelaut Belanda tersebut, ada alasan lain bagi Tokugawa untuk memperhatikan mereka. Yaitu, ia ingin menghancurkan keberadaan Kristen di Jepang yang dibawa oleh Jesuit Portugis. Maka dari situlah Tokugawa mulai melakukan perlawanannya terhadap Portugis (dan Kekristenannya) dengan “menggunakan” Belanda. Tokugawa memang sejak awal tidak menyukai keberadaan Kristen di Jepang, ia lebih memilih paham konfusianisme yang berasal dari Tiongkok. Kristen di Jepang sendiri berkembang pesat sejak pemerintahan shogun Oda Nobunaga yang memang secara terang-terangan mendukung Kristen. Keberadaan Kristen di Jepang selain menimbulkan ketakutan bagi shogun, juga pihak yang mendukungnya sehingga mereka merasa perlu untuk membuat kebijakan khusus bagi orang Kristen di Jepang berikut misionarisnya.

Pada saat kedatangan Belanda, Portugislah yang paling aktif melakukan perdagangan di Jepang sejak Portugis datang terlebih dahulu ke Jepang untuk pertama

(3)

kalinya pada tahun 1543. Kemudian shogun Ieyasu memberi izin perdagangan pada Belanda terhadap Jepang untuk menjadi kompetitor bagi pihak Portugis. Setelah itu mereka mendaratkan kapalnya di Hirado, Kyushu pada tahun 1609 sebagai pusat perdagangan mereka. Semenjak itulah perdagangan antara Belanda dengan Jepang dimulai. Orang Belanda pun juga bebas menjelajahi seluruh wilayah Jepang. Belanda memulai perdagangan di Jepang bersama-sama dengan Inggris (Tadao, 1990). Beberapa orang Jepang pun dijadikan sebagai pengrajin oleh mereka karena kekaguman orang Belanda terhadap kualitas dan kompetensi yang dimiliki para pengrajin Jepang tersebut, namun profit yang mereka dapat tidak seberuntung pedagang dari negara lainnya karena keterbatasan komunikasi dengan VOC di negara lainnya serta keterbatasan kain sutra karena Belanda tidak mempunyai hubungan ataupun mengadakan kontak sama sekali dengan Tiongkok.

2.2 Hubungan Jepang dan Belanda pada Masa Sakoku

Tahun 1614 shogun Tokugawa benar-benar memulai pelawanannya terhadap Kristen di Jepang, ia membuat kebijakan untuk menghapus segala unsur Kekristenan (termasuk orang Kristen di Jepang).Para misionaris pun juga diusir dari wilayah Jepang. Kebijakan ini semakin mengintimidasi orang Kristen di Jepang, sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain mati martir atau bersembunyi (menjadi penganut Kristen namun tidak mengakuinya, hanya dirinya sendiri yang tahu). Banyak orang Kristen dan pendeta Katholik diburu oleh bakufu untuk menarik kembali pengakuan iman percaya mereka (terhadap Kristus) atau dieksekusi.Patut diingat juga bahwa Nagasaki mempunyai penduduk sebanyak 25.000 orang dan hampir semuanya menganut agama Kristen. Hal ini yang mengakibatkan Kematian Martir Besar-besaran di Nagasaki pada tahun 1622 dimana lima puluh lima orang Kristen diantaranya dieksekusi (Elisonas, 2008).

Pemburuan orang Kristen tersebut disebabkan oleh perang Shimabara yang merupakan pemberontakan yang dilakukan oleh orang Kristen di Jepang, yang

(4)

sebenarnya didalangi oleh daimyo setempat, Matsukura Katsuie yang menentang pemerintahan shogun, namun daimyo tersebut tidak mau bertanggung jawab dengan menyalahkan orang Kristen yang berada di dalam daerah tersebut. Disitulah, Belanda justru yang membela pihak shogun melawan pemberontakan tersebut meskipun gagal, dan hal itulah yang membuat pihak Belanda merasa stress. Dalam pemberontakan tersebut Belanda melawan Portugis yang membawa ajaran Kristen di Jepang. Setelah itu, kebijakan Sakoku (isolasi nasional) pun dimulai pada tahun 1633 dengan menuduh pihak Kristen sebagai penyebab shogun memberlakukan kebijakan ini. Semenjak itu hubungan internasional pun terputus dan kapal-kapal asing diusir semua dari wilayah Jepang. Perdagangan Portugis di Nagasaki pun berakhir setelah 65 tahun mereka membuka perdagangannya dan diusir keluar dari Jepang bersamaan dengan pedagang Spanyol.

Tak lama kemudian, pihak shogun memutuskan untuk membuat pulau yang dinamakan pulau Deshima yang awalnya ditujukan untuk semua orang Portugis di Jepang. Kebijakan tersebut bertujuan untuk membatasi hubungan antara Portugis dengan Belanda di Jepang, namun pada akhirnya, bakufu memutuskan untuk memindahkan Belanda ke pulau Deshima dari pusat perdagangannya di Hirado pada tahun 1640 (yang akhirnya baru terlaksana pada tahun 1641). Mereka tidak diperkenankan meninggalkan pulau tersebut tanpa izin resmi dari Bakufu dan pulau Deshima terlarang untuk para wanita kecuali wanita dari distrik Maruyama. Izin meninggalkan pulau tersebut hanya dikeluarkan oleh shogun di Edo. Sebenarnya ada sebab yang lainya di balik dipindahkannya Belanda dari Hirado ke Deshima selain kekalahan pada pemberontakan di Shimabara, yaitu mereka membangun sebuah menara yang menggunakan penanggalan Kristen (kalender Gregorian dalam hal ini). Sehingga pihak shogun pun geram dan akhirnya terjadilah kebijakan pemindahan tersebut (Goodman, 1986). Semenjak itu pulau Deshima menjadi populer di kalangan pihak VOC.

(5)

Tahun 1639 anak dari hasil pernikahan orang Jepang dan non Jepang (yang merupakan orang barat) dipaksa keluar dari Jepang dan tidak diperkenankan mengadakan kontak lagi dengan orangtuanya. Salah satunya adalah putri dari teknisi Van Nijenroode yang terpaksa meninggalkan Hirado dan pergi ke kota Batavia di Indonesia (sekarang Jakarta). Di dalam Museum Sejarah Hirado ada surat yang menyentuh hati dari anak untuk orang tuanya dimana media untuk menulis surat tersebut adalah kain sutra yang dipakai untuk kimono. Surat tersebut ditulis oleh Koshioro atau sebutan lainnya, Jagatara-bun.

2.3 Penyebab Belanda menjadi satu-satunya negara Eropa yang masuk Jepang Pada saat kebijakan sakoku berlangsung, hanya Tiongkok, Korea, dan Belanda yang boleh masuk wilayah Jepang. Jadi, Belanda merupakan satu-satunya negara Eropa/barat yang diizinkan masuk Jepang dan memberikan pengaruhnya. Selain Tiongkok yang memang dianggap penting terutama bagi shogun dan Korea yang berbasis di Tsushima (sekarang bagian dari Prefektur Nagasaki). Alasannya adalah karena Belanda dianggap bukan negara Katholik seperti Spanyol dan Portugis, setidaknya negara mereka tidak mempunyai simbol ataupun unsur Katholik seperti Italia yang mempunyai kota Roma sebagai pusat perkembangan Katholik yang dipimpin oleh seorang paus, ataupun Portugis yang selama ini membawa ajaran Kristen ke seluruh dunia termasuk Jepang. Selain itu, Belanda juga berjanji tidak akan mempropagandakan apapun tentang Kristen meskipun negara Belanda sendiri merupakan negara Kristen. Hal itulah yang meyakinkan pihak shogun sehingga mau berhubungan dengan Belanda, Korea, dan Tiongkok. Selain diperbolehkan berdagang, mereka juga berkewajiban mengirim upeti secara teratur untuk shogun yang berada di Edo.

(6)

Gambar 2.1 Pengiriman Upeti ke Bakufu di Edo

(sumber : press.illinois.edu)

Selama masa isolasi berkepanjangan ini, pihak Belanda-pun sedapat mungkin mempromosikan Jepang kepada orang-orang barat lainnya. Maka dari itu tulisan-tulisan Kaempfer dan von Siebold menyebar hingga ke Eropa (The Journal of The Rutgers University Libraries vol. LII, 1990).

Perdagangan oleh pihak asing di Jepang pada masa ini terbagi menjadi dua kelompok dari tiga negara. Yaitu kelompok A yang terdiri dari Belanda dan Tiongkok, yang memiliki hubungan langsung dengan Bakufu di Nagasaki. Meskipun mereka mempunyai hubungan “dekat” dengan Bakufu, mereka tetap diwajibkan membayar sewa rumah mereka dan membayar berbagai pajak yang ditetapkan saat itu. Kemudian kelompok B yang terdiri dari Korea dan Kerajaan Ryukyu yang lebih banyak berhubungan dengan pihak Tsushima dan Satsuma.

Belanda juga diperbolehkan menyebarkan informasi barat mereka dan secara otomatis juga boleh dipelajari oleh orang Jepang. Kecuali membicarakan atau

(7)

menyebut apapun tentang kekristenan. Sejak itu, studi Belanda tentang barat dimulai di Jepang yang kemudian disebut dengan rangaku, dengan pembelajarnya disebut dengan rangakusha. Salah satu rangakushasekaligus interpreter untuk Belanda, Sugita Gempaku menulis Rangaku Kotohajime (Awal Mula Studi Belanda) yang menggambarkan awal mula kemunculan rangaku di Jepang. Semenjak itu, ia menjadi pintu bagi segala ilmu pengetahuan dari barat seperti sains, produk, dan kedokteran bagi Jepang. Terlebih karena waktu itu hanya Nagasaki yang diperbolehkan sebagai pusat studi Belanda.

Di sisi lain, rangaku tetap dibatasi dan didominasi oleh konfusianisme yang terlebih dahulu diperkenalkan di Jepang pada tahun 285 Masehi. Terlebih lagi, orang Jepang pada saat itu lebih tertarik pada praktek ritual konfusianisme daripada filosofi dan etika. Biasanya mereka berkonsultasi pada ahli konfusius tentang cara membangun rumah (disebut dengan feng shui) dan menentukan hari yang baik untuk melakukan acara pernikahan. Akan tetapi, mereka mengabaikan cara untuk membangun negara dan mengatur manusia.

Pada saat awal mula rangaku, kebijakan larangan impor buku dari Barat berlangsung sejak tahun 1630, mereka melarang buku yang ditulis oleh Matteo Ricci dan beberapa orang Eropa lain terutama buku yang menyebut satu patah katapun tentang Kristen. Hal ini disebabkan karena mereka khawatir bahwa penulis Eropa tersebut akan mempropagandakan Kekristenan. Mukai Gensei, seorang sarjana konfusianismelah yang mensortir dan mengeliminasi buku buku yang menyebut “Yesus”, “Kristen”, “Barat”, “Eropa”, “Ricci” dan bahkan buku yang menunjukkan peta negara Kristen, namun tak lama kemudian setelah sakokuberlangsung, yaitu tahun 1652,bakufu memesan buku dari Belanda. Belanda pun bahkan mengirim peta globe Eropa ke Nagasaki. Dalam pemesanan itu bahkan termasuk buku berbahasa Inggris dan Rusia. Di Deshima, pihak Belanda mengadakan lelang barang termasuk diantaranya adalah buku, ketika datang ke Edo pun mereka menjual buku pada konsumen. Orang Jepang yang membelinya kemudian menjual lagi, namun karena harga buku yang tinggi membuat orang Jepang memilih untuk menyalinnya dan

(8)

menyimpannya ke dalam perpustakaan pribadi mereka. Bahkan buku yang membahas tentang kekristenan juga ditemukan meskipun sebenarnya dilarang (Okinawa International University).

Seiring berjalannya rangaku di Jepang, dari situlah muncul para interpreter yang berada di Nagasaki yang bekerja untuk Belanda, yang selanjutnya disebut dengan Oranda Tsujimeskipun dengan berbagai keterbatasannya (buku ajar, kamus, tenaga pengajar, dan lain sebagainya). Beberapa interpreter Nagasaki diantaranya adalah, Sugita Gempaku, Maeno Ryotaku, dan Baba Sojiro. Para penterjemah inilah yang memegang peranan penting dalam pengaruh ilmu pengetahuan dari barat (khususnya Belanda). Mereka bekerja sebagai interpreter sekaligus “mata-mata” (Goodman, 1986). Beberapa diantara para interpreter ada yang menjadi ilmuwan bidang kedokteran dan sains, salah satunya adalah Sugita Gempaku. Pada masa itu para interpreter Belanda menjadi tsujinakuma no kashira (kepala persatuan interpreter) meskipun posisi mereka hanya di sekitaran pabrik milik Belanda di kota Hirado. Mereka tidak bekerja di bawah naungan pemerintah, melainkan secara individual oleh pihak Belanda itu sendiri. Posisi interpreter ini dilakukan secara turun temurun oleh keluarga di Nagasaki. Sementara orang Jepang mempelajari bahasa Belanda dan menjadi interpreter, orang Belanda sendiri tidak belajar bahasa Jepang karena tidak diizinkan oleh pihak shogun. Hal ini disampaikan oleh Carl Peter Thurnberg, seorang peneliti sains asal Swiss dalam buku hariannya, beliau juga mengkritik minat orang Belanda yang kurang terhadap budaya Jepang (Yamashita, 2015).

Ketika terjadi pemindahan pusat perdagangan dari kota Hirado ke pulau Deshima, ada delapan keluarga interpreter yang mendampingi pihak Belanda. Beberapa diantarnya adalah Hideshita, Inomata, Ishibashi, Takasago, dan Yokoyama. Kemudian ada juga keluarga Nishi yang sebelumnya adalah keluarga interpreter Portugis dan Baba Sojiro yang sebelumnya menjadi interpreter untuk Tiongkok. Setelah itu bertambah lagi interpreter untuk Belanda di pulau Deshima. Mereka adalah Hori, Shizuki, Imamura, Kafuku, Motoki, Yoshio, Narabayashi, dan Shigei.

(9)

Para interpreter Belanda tersebut tidak hanya menjadi dasar pembelajaran medis barat, tetapi juga studi bahasa dan astronomi barat. Berdasarkan laporan dari Itazawa Takeo, sampai pada akhir masa keshogunan ada sebanyak 140 orang yang menjadi interpreter Belanda. Engelbert Kaempfer juga melaporkan bahwa ada 8 orang yang disebut dengan hontsuji (kepala interpreter), 4 otsuji (interpreter senior), dan 4 kotsuji (interpreter junior), kurang dari 8 orang keikotsuji (interpreter magang), dan lebih dari 100 orang naitsuji (interpreter yang mengambil komisi untuk menterjemahkan pada acara diskon tahunan yang diadakan Belanda) (Goodman, 1986).

Interpreter yang mendapat predikat otsuji dan kotsuji masing-masing satu orang akan mendapat giliran rotasi tugas secara berkala dengan sebutan nemban (sedang dalam tugas tahun ini) dan mendapat tugas tambahan seperti mendampingi datang dan keluarnya pejabat tinggi. Para nemban yang menemani pihak Belanda ketika berangkat ke Edo, dan mereka inilah resmi berkomunikasi dengan pihak Belanda.

Besarnya pemasukan para interpreter yang dibayar pihak Belanda dijelaskan sebagai berikut,

Tabel 2.1 Penghasilan Interpreter Bahasa Belanda Berdasarkan Pangkat pada Masa Awal Rangaku

Nomor Pangkat Pemasukan

7 Otsuji (oppertolken, Interpreter Senior) 11 kamme, untuk 5 orang 10 Kotsuji (ondertolken, Interpreter Junior) 7 kan, 300 me, untuk 3 orang

6 Kotsujisuke (temporaire ondertolken,

Asisten Interpreter Junior) 3 kan, 500 me atau 3 kamme Kotsujinami (vice ondertolken,

Interpreter Junior Menengah) 16 Kotsujimasseki (provisioneele

ondertolken, Interpreter Junior Bawah)

3 kan, 300 me atau tanpa renumerisasi 19 Keikotsuji (leerlingen, Interpreter

Magang)

3 kamme atau 2 kan atau tanpa renumerisasi

Naitsuji (particuliere tolken, interpreter yang mendapat komisi untuk

menterjemahkan pada acara diskon tahunan yang diadakan Belanda

2 kamme atau 170 me atau tanpa renumerisasi

(10)

(sumber : Japan : The Dutch Experience, 1986 Goodman) Keterangan : 1 kan/kamme = 3,75miligram, 1 me = 15,4 gram dalam bentuk logam mulia (emas).

2.4 Hubungan Belanda dan Jepang pada Masa Keemasan Rangaku

Pada masa pemerintahan shogunTokugawa Yoshimune, beliau penasaran dengan keberadaan rangaku. Atas nama rasa penasaran ia menginterogasi beberapa sarjana rangaku. Beberapa diantaranya adalah Takabe Hikojiro, Nakane Genkei, dan Nishikawa Joken. Salah satu diantara mereka, Nakane Genkei memohon pada shogun agar bersedia menghapus kebijakan penghapusan buku impor dari barat. Terlebih, ia ingin membuat kalender yang akurat bagi shogun.

Pada tahun 1720, pada masa pemerintahan shogun Yoshimune setelah desakan dari Genkei, ditambah lagi dengan keingintahuan Yoshimune tersebut, akhirnya pihak shogun menghapus kebijakan larangan impor buku asing setelah bertahun-tahun lamanya diberlakukan pada masa sakoku. Buku-buku tersebut boleh beredar kecuali buku – buku yang menyebut tentang “Kristen”, “Yesus”, dan “Katholik”. Selain itu yang paling penting adalah, rangaku boleh dipelajari selain di pulau Deshima. Semenjak itu rangaku mengalami perkembangan yang luar biasa terutama di kota Edo, sehingga pada abad ke 18 perkembangan tersebut disebut dengan “Edo Rangaku”. Hal tersebut menandakan kota Edo menjadi pusat baru studi Belanda setelah Nagasaki. Kebijakan shogun yang selama ini bersifat militer, berubah menjadi bersifat intelektual. Perubahan kebijakan ini bisa disebut era renaissance di Jepang, seperti halnya era renaissance yang juga terjadi di Eropa.Semenjak itu, buku-buku Belanda mulai banyak diimpor oleh bakufu dengan jumlah yang sangat besar dan dibaca oleh pelajar Jepang. Hal ini membuat buku konfusianisme menjadi berkurang peminatnya. Kurang lebih ada 240 buah buku yang diimpor dan 70 persen diantaranya merupakan buku, paper, dan laporan dari Eropa (Wolfgang, 2011).

(11)

Tak lama kemudian, badan penterjemahan resmi Bakufu yang disebut dengan Banshowagegoyo mulai didirikan atas permintaan dari Takahashi Kageyoshi. Salah satu tujuannya adalah untuk menterjemahkan beberapa ensiklopediaversi bahasa Belanda yang ditulis olehM. Noel Chomel, seorang pendeta Prancis dengan judul bahasa Jepang, Kosei Shinpen (Pekerjaan Baru Publik). Artikel dalam ensiklopedia tersebut diseleksi secara ketat. Tidak jelas berapa lama pengerjaannya namun yang jelas pekerjaan terjemahan tersebut berlangsung selama 11 sampai 45 tahun (Okinawa International University) dan pekerjaan tesebut tidak pernah terselesaikan.

Banyak sarjana – sarjana terkemuka pada masa ini. Selain orang Jepang, juga ada beberapa orang asing (terutama yang berprofesi sebagai dokter) yang masuk Jepang dan memberi pengaruhnya. Selain itu, sekolah-sekolah swasta yang berbasis rangaku juga banyak berdiri di berbagai kota di Jepang. Salah satunya adalah Narutaki-juku yang didirikan oleh dokter asal Jerman, Philip von Siebold di kota Nagasaki. Sekolah – sekolah tersebut juga memunculkan para perintis dan pejuang pada masa Restorasi Meiji kedepannya. Salah satunya adalah Fukuzawa Yukichi, ilmuwan barat terkemuka pada masanya.Kemudian secara nasional, ada dua tokoh yang berperan besar dalam perkembangan rangaku, diantaranya adalah Arai Hakuseki, Sugita Gempaku, Maeno Ryotaku, Takebe Seian, Udagawa Genzui, Udagawa Genshin, dan Otsuki Gentaku.

Pada masa keemasan ini, beberapa buku medis Belanda diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hasilnya beberapa sarjana Jepang dapat memahami bahasa Belanda. Tidak semua buku medis yang diterjemahkan berasal dari Belanda, tetapi juga ada yang kebanyakan berasal dari Jerman dan Rusia, dengan tambahannya berasal dari Inggris, Prancis, dan Swedia dengan Joseph Jacob Elder von Plenck sebagai pengarang buku medis yang paling populer di kalangan medis rangakusha, meskipun Plenck sendiri kurang populer secara nasional di Jepang (Ishida, 1999).

Perkembangan ini dilakukan secara terus menerus hingga kemunculan kapal Komandan Perry 212 tahun kemudian setelah kebijakan sakoku, yaitu pada tahun 1853, dimana KomondorMatthew Calbraith Perry yang berasal dari Amerika Serikat datang

(12)

dengan empat kapalnya muncul di pelabuhan Uraga perairan Edo (sekarang prefektur Kanagawa). Ia datang dengan 560 orang lainnya dan sebuah surat untuk “Penguasa Jepang” dengan tambahan terjemahan bahasa Belanda untuk menuntut Jepang agar membuka kembali pelabuhannya (maksudnya negaranya) untuk dunia. Hal ini membuat pihak bakufu terkejut dan meminta mereka untuk keluar dengan senjata mereka, yang sebenarnya mereka tidak siap untuk menghadapi barat.

Sebelum kedatangan Komondor Perry, kapal-kapal dari Amerika dan Rusia sudah mendarat terlebih dahulu di Jepang. Kapal ekspedisi Rusia yang dinahkodai oleh Nikolai Petrovich Rezanov mendarat di Jepang pada tahun 1804 dan meminta hal yang sama pada Jepang, namun gagal dan akhirnya menggrebek wilayah utara Ezo (sekarang Hokkaido). Ia meninggalkan dokumen berbahasa Rusia dan Prancis namun tidak ada yang bisa menerjemahkannya. Akhirnya, bakufu dengan sakit hati dan terpaksa menyerahkan pada pihak asing untuk menterjemahkan dokumen tersebut. Sebelum Jepang, Tiongkok terlebih dahulu terpaksa membuka kembali wilayahnya untuk pihak Barat setelah mengalami kekalahan pada Perang Opium tahun 1840-1842. Kejadian yang menimpa Tiongkok tersebut membuat Jepang menjadi cemas hal itu akan terjadi pada negara mereka dan terus memantau Tiongkok mengenai hal ini (Hommes, 1993). Setahun kemudian, yaitu tahun 1854 Komandan Perry datang kembali dengan tiga kapal uap dan “Kapal Hitam” yang lebih banyak lagi daripada sebelumnya, yaitu berjumlah lima kapal dari sebelumnya hanya berjumlah tiga kapal.Selain menuntut pembukaan kembali pelabuhannya, mereka juga menuntut dibukanya kembali hubungan dengan luar negeri (dalam artian membuka wilayahnya untuk seluruh dunia). Mereka mengancam Bakufu dengan cara menanam meriam ke teluk Edo.Hayashi pun memberi balasan berupa jawaban bakufu atas permintaan Komondor Perry yang ditemani oleh dua interpreter dari Banshowagegoyo, Nomura Gohajiro dan Moriyama Einosuke yang menjawab dalam bahasa inggris, “well enough” (yang berati, sudah cukup).

(13)

Para samurai bahu membahu menguatkan pihak bakufu agar tidak meladeni pihak barat. Tetapi beberapa saat kemudian, bakufu akhirnya tidak mempunyai pilihan lain selain menandatangani suatu perjanjian persahabatan dan perniagaan lain dengan konsul jenderal Amerika Serikat bernama Townsend Harris (Ishii, 1989). Selain dengan Amerika Serikat, Jepang juga menandatangani perjanjian dengan negara lainnya seperti Rusia, Prancis, dan Inggris. Penandatanganan perjanjian tersebut menandakan dibukanya kembali negara Jepang untuk seluruh dunia, dan kebijakan sakoku pun berakhir.

Pelabuhan – pelabuhan pun dibuka oleh pihak Jepang pasca perjanjian dengan Amerika Serikat. Pelabuhan yang dibuka diantaranya adalah pelabuhan Hakodate dan Shimoda, kemudian disusul oleh pembukaan pelabuhan Kanagawa (Yokohama) yang menjadi basis perdagangan Jepang terpopuler, Nagasaki, Niigata, dan Hyogo (Kobe) (Indah, 2005). Seiring dengan berakhirnya sakoku, kekuasaan bakufu saat itupun semakin melemah dan mendekati kejatuhannya.

2.5 Hubungan Jepang dan Belanda Setelah Sakoku Berakhir

Setelah sakoku berakhir, bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa resmi untuk berkomunikasi dengan negara lainnya. Maka dari itu untuk komunikasi antara pihak Amerika dan pihak Jepang dijembatani oleh pihak Belanda. Pihak Jepang pun akhirnya mengerti perubahan yang terjadi di dunia selama kebijakan sakoku. Lalu kemudian mengirim beberapa utusan untuk belajar ke Amerika dan Eropa. Setelah pengembalian kekuasaan dari bakufu pada kaisar dan dimulainya Restorasi Meiji, pihak Belanda mulai mengirimkan beberapa teknisi dari luar untuk membantu mempercepat proses Restorasi Meiji. Salah satunya adalah C.J. van Doorn yang mendesain saluran irigasi di Perfektur Fukushima. Setelah berhasil, beliau mengundang beberapa orang lain lagi untuk membuat sesuatu. Selain saluran irigasi di Fukushima, beliau juga membuat

(14)

pelabuhan – pelabuhan gaya moderen di Osaka, Nagasaki, dan Yokohama. Sehingga total ada 12 orang Belanda yang datang ke Jepang pada masa periode Meiji ini.

Selain orang-orang Belanda yang datang ke Jepang, pada tanggal 11 April 1862, beberapa sarjana Jepang ditunjuk untuk belajar ke Belanda melalui kota Nagasaki. Beberapa diantaranya adalah Enomoto Takeaki, Sawa Tarozaemon, Akamatsu Noriyoshi, Uchida Masao, dan Taguchi Shunpei serta Ito Genpuku dan Hayashi Kenkai. Tanggal 14 Juli mereka meninggalkan Edo untuk berangkat ke Nagasaki. Setibanya di Nagasaki tanggal 16 November, mereka terlebih dahulu berangkat ke Batavia, Hindia Belanda pada tanggal 2 November dengan kapal bernama Calijpso. Akhirnya pada tanggal 9 Desember, mereka sampai di kota Batavia setelah mengalami kapal karam di daerah timur pulau Sumatra pada tanggal 27 November. Setelah mengunjungi kota Batavia, mereka kembali berangkat ke Belanda dan sampai di kota Leiden (via Rotterdam) pada tanggal 2 Juni 1863. Sebelum sampai ke kota Leiden, mereka sempat mengunjungi situs bersejarah Napoleon di pulau St. Helena.

Di Belanda inilah mereka belajar tentang teknik navigasi, ilmu sosial, medis, dan lain-lainnya. Usai belajar, mereka kembali ke kota Edo secara terpisah. Ito dan Hayashi meninggalkan Belanda pada tanggal 15 Januari 1869, Akamatsu kembali pada tanggal 6 Juli 1868 setelah Restorasi Meiji dimulai, dan sisanya kembali terlebih dahulu pada November 1868 dengan kapal bernama Kaiyomaru yang dipesan dari Jepang.

Sebelum kelompok Ito dan Hayashi, ada beberapa utusan lain yang juga ditunjuk untuk berangkat ke Belanda seperti Nishi Amane dan Tsuda Mamichi. Mereka belajar di Universitas Leiden dengan bimbingan Simon Vissering, seorang profesor Fakultas Hukum Universitas Leiden untuk mempelajari hukum alam, hukum internasional, hukum konstitusi, ekonomi politik, dan statisika. Bahkan Nishi dan Tsuda merupakan utusan pertama yang dikirim ke Belanda dan menerima pengarahan langsung dari pembimbing yang merupakan keturunan asli Eropa. (Okubo, 2013).

(15)

Semenjak Restorasi Meiji, Jepang terus menerus belajar dan menerima informasi dari barat sehinggarangaku atau studi Belanda di Jepang lama-lama berubah menjadi studi barat.Hal ini dikarenakan minat orang Jepang terhadap negara barat selain Belanda yang semakin meningkat seiring dengan kesadaran mereka bahwa barat bukan hanya Belanda saja. Pada awal restorasi Meiji, empat universitas dan delapan sekolah baru didirikan. Sekolah-sekolah tersebut mempelajari bahasa Prancis, Inggris, dan Jerman, namun tidak mempelajari bahasa Belanda. Tahun 1916, Akademi Bahasa Asing Tokyo membuka kelas Belanda meskipun tidak secara spesifik mempelajari bahasa dan kebudayaan Belanda, namun pada tahun 1917, Sekolah Komersial Nagasaki dibuka dan akhirnya bahasa Belanda dipelajari di sana meskipun awalnya kelas Belanda hanya dibuka untuk mempelajari perdagangan internasionalnya. Sejak tahun 1970an banyak universitas di Jepang yang membuka kelas bahasa Belanda. Salah satunya adalah Universitas Tokyo yang sebelumnya lebih fokus pada bahasa dan kebudayaan Indonesia, mulai mempelajari bahasa Belanda setelah mempelajari sejarah hubungan Indonesia dan Belanda. Universitas Hokkaido dan Kyushu juga pernah membuka kelas yang sama, namun pada akhirnya kelas tersebut ditutup. Universitas Nagasaki juga membuka kelas bahasa dan kebudayaan Belanda pada tahun 2007.

Mengenai pulau Deshima, sejak pembukaan negara Jepang untuk dunia, awalnya pulau Deshima dibuka untuk umumpada tahun 1858. Pulau tersebut dijadikan sebagai kantor konsulat jendral Belanda yang baru, namun hal itu tidak berlangsung lama karena pada tahun 1860 pihak Belanda menutup seluruh pabriknya dan tahun 1866 pulau tersebut dijadikan sebagai Settlement Luar Negeri Nagasaki. Seiring berjalannya waktu, akibat reklamasi yang dilakukan terus menerus, akhirnya pulau Deshima benar-benar tenggelam dan hilang dari permukaan bumi. Beberapa tahun kemudian setelahnya, replika pulau Deshima dibuat di kota Nagasaki pada tahun 1996 kemudian selesai dan dibuka untuk umum sebagai obyek wisata pada tahun 2006.

Gambar

Gambar 2.1 Pengiriman Upeti ke Bakufu di Edo
Tabel 2.1 Penghasilan Interpreter Bahasa Belanda Berdasarkan Pangkat pada  Masa Awal Rangaku

Referensi

Dokumen terkait

Lebih lanjut Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa uang yang dibelanjakan oleh pemerintah berasal dari penduduk melalui pajak. Pemerintah dapat meningkatkan pengeluarnnya hanya

[r]

Bank di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu bank syariah dan bank konvensional. Nasabah yang menabung di bank Syariah tidak akan diberikan keuntungan bunga

Paling tidak ada 5 metode takhrij dalam arti penulusuran hadits dari sumber buku hadits yaitu takhrij dengan kata (bi al-lafdzi), Takhrij dengan tema (bi al- maudhui),

Bahwa benar sebagai seorang prajurit Terdakwa mengetahui, memahami dan menyadari perbuatannya yang meninggalkan kesatuan tanpa ijin yang sah dan tidak memberi

“ Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Lingkungan Keluarga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi (Survey pada Siswa Kelas X dan XI IIS SMA Negeri 1

Heriyanto (2011) melakukan penelitian dengan judul ―Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat

Kemitraan adalah pola yang sesuai dengan prinsip-prinsip partisipasi masyarakat yang seluas-luasnya yang ingin kita dorong dalam perekonomian dan