BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemerintah Australia begitu gencar dalam merespon Illegal, Unreported,
Unregulated Fishing (IUU Fishing), salah satu aktivitas ilegal yang mengancam
ketersediaan ikan dan kelestarian ekosistem laut. IUU Fishing merupakan suatu bentuk kegiatan eksploitasi terhadap sumber laut yang tidak terlaporkan dan melanggar aturan yang berlaku di wilayah konservasi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Australia telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pengelolaan perikanan dan terkait upaya pemberantasan IUU Fishing, seperti
National Plan of Action to Prevent, Deter and Eliminate IUU Fishing pada tahun
2005 sebagai implementasi dari aksi internasional dalam upaya penanggulangan IUU Fishing yang dikeluarkan oleh FAO, yaitu FAO International Plan of Action
to Prevent, Deter and Eliminate IUU Fishing, kemudian dalam lingkup domestik
pemerintah Australia telah mengeluarkan Fisheries Management Act, The
commonwealth Fisheries Harvest Strategy Policy and Guidelines, serta beberapa
kebijakan lainnya yang telah direalisasikan dalam beberapa bentuk tindakan seperti patroli laut, pendanaan, pembentukan AFMA.
Selama kebijakan anti IUU Fishing oleh pemerintah Australia berlangsung sejak tahun 2005 hingga 2014, telah menunjukkan hasil pada berkurangnya jumlah kapal yang melakukan illegal fishing di wilayah perairan Australia. Selain itu, ternyata kebijakan dan tindakan pemerintah Australia dalam upaya menanggulangi IUU Fishing ini tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya IUU Fishing, namun juga memberikan kontribusi terhadap pencapaian politik luar negeri Australia. Dalam tulisan ini, akan diangkat mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah Australia dalam merespon IUU Fishing dan bagaimana kebijakan tersebut memberikan kontribusi terhadap pencapaian politik luar negeri Australia. Jika dilihat, kebijakan penanganan IUU Fishing ini dapat menunjukkan respon terhadap isu lain di luar dari IUU Fishing yang terdapat dalam prinsip-prinsip utama politik luar negeri Australia, seperti pelaksanaan prinsip keamanan melalui
upaya penanggulangan smuggling of migrants terutama melalui jalur laut, pelaksanaan prinsip economic diplomacy dan good international citizen melalui
marine conservation dan keberlanjutan penelitian perubahan iklim di Antartika.
Namun, seiring berjalannya waktu, muncul tantangan dari tindakan pemerintah Australia dalam pemberantasan IUU Fishing, yang harus segera mendapat respon dari pemerintah Australia. Terkait apa masalah tersebut, juga akan dibahas dalam tulisan ini.
1.2 Rumusan Masalah
Skripsi ini akan membahas terkait kontribusi dari kebijakan dan tindakan dalam merespon IUU Fishing terhadap politik luar negeri Australia. Kemudian ditarik rumusan masalah yakni Bagaimana kebijakan anti IUU Fishing
memberikan kontribusi terhadap pencapaian politik luar negeri Australia? Dan apa tantangan atau hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan tersebut?
1.3 Kerangka Konseptual
Untuk menjawab rumusan masalah di atas, akan digunakan tiga kerangka konseptual, diantaranya prinsip politik luar negeri Australia, transnational crime, serta Sustainable development.
Prinsip Politik Luar Negeri Australia
Politik luar negeri merupakan serangkaian rencana dan kebijakan yang digunakan oleh suatu negara dalam mencapai kepentingan nasional. Terdapat tiga prinsip utama dalam politik luar negeri Australia, diantaranya security, economic
diplomacy, dan good international citizen. Setelah ditelusuri lebih lanjut,
kebijakan dan tindakan pemerintah Australia dalam pemberantasan IUU Fishing dapat membuka jalan bagi pelaksanaan ketiga prinsip tersebut. Dalam bidang keamanan, IUU Fishing dapat mengancam keamanan Australia dari berbagai aspek, karena dapat memunculkan masalah-masalah baru terkait isu keamanan. Hal ini membuat pemerintah Australia terus berupaya untuk melakukan pemberantasan terhadap IUU Fishing. Dalam economic diplomacy, pemerintah
Australia menekankan empat pilar utama, yakni trade, growth, investment, dan
business.1 Melalui economic diplomacy, pemerintah Australia tidak hanya berupaya untuk menciptakan stabilitas ekonomi nasional, namun juga berupaya membantu negara lain, terutama negara berkembang untuk meningkatkan perekonomian. Seperti yang diketahui, dampak dari IUU Fishing begitu terlihat pada stabilitas ekonomi negara berkembang yang bergantung pada industri perikanan. Sebagai contoh negara-negara Kepulauan Pasifik yang mengalami kerugian sekitar US$ 1.7 triliun akibat IUU Fishing. Upaya pemberantasan yang meliputi kerjasama dengan negara lain, akan dapat membantu memulihkan stabilitas ekonomi. Dalam mempromosikan diri sebagai good international
citizen, pemerintah Australia telah tergabung dalam beberapa traktat marine conservation dan menunjukkan diri sebagai negara yang begitu serius dalam
merespon IUU Fishing.
Transnational Crime
Aktor dalam politik internasional bukan lagi hanya negara, telah bermunculan aktor lain non-negara yang mulai memperlihatkan perannya di arena internasional, seperti aktor individu, Non-governmental Organizations (NGOs) dan Multi-national Corporations (MNCs). Aktor-aktor tersebut tidak hanya berbasis di suatu negara, namun dapat terhubung dan membentuk jaringan di beberapa negara, tentunya dengan visi yang sama. Fenomena tersebut dikenal dengan Transnasionalisme. Kemunculan fenomena tersebut dalam sebagian aspek, memberikan hal yang positif di lingkungan global, seperti banyaknya organisasi yang berbasis dalam bidang lingkungan, perlindungan anak, dan lain sebagainya. Namun di sisi lain, fenomena ini juga dapat memberikan dampak negatif, ketika masalah seperti narkoba, terorisme juga bergerak secara lintas negara, inilah yang disebut sebagai Transnational Crime atau kejahatan transnasional. Transnational crime dapat diartikan sebagai “offences whose
inception, prevention and/or direct or indirect effects involved more than one
1
Australian Government : Department of Foreign Affairs and Trades, Four pillars of Australia’s
economic diplomacy (daring),
country.”2 IUU Fishing merupakan salah satu bentuk kejahatan transnasional, yang telah melakukan eksploitasi secara ilegal terhadap hasil laut di wilayah perairan negara lain dan pelakunya bergerak lintas negara dimana dalam satu
fishing vessel seringkali tidak hanya terdapat satu kewarganegaraan. Kemudian
IUU Fishing juga akan terkait dengan kejahatan transnasional lain yang bergerak melalui jalur laut, seperti human trafficking, smuggling of migrants, penyelundupan narkoba yang menggunakan fishing vessels dan memanfaatkan para nelayan yang kehilangan penghasilan akibat IUU Fishing sebagai transporter maupun sebagai pekerja paksa pada industri perikanan.
Sustainable Development
Terkait konsep sustainable development, akan dijabarkan dalam upaya pemerintah Australia menuju Sustainable Fisheries Management. Sebuah sistem pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, demi keberlangsungan ekonomi nasional dan internasional yang tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan, serta menjamin keberlangsungan ekosistem laut. Arus politik internasional di masa lalu kurang menyentuh pada konsep pembangunan berkelanjutan, sehingga kerusakan lingkungan akibat perang maupun perdagangan industri seringkali terjadi, aspek ketahanan pangan pun kurang diperhatikan dan memunculkan kelaparan. Di era kontemporer, aspek pembangunan berkelanjutan mulai terangkap, dan menjadi salah satu fokus dalam agenda politik internasional. Australia merupakan salah satu negara yang begitu memperhatikan hal tersebut, sejak sekian lama, pemerintah Australia telah menerapkan pendekatan ekosistem pada pengelolaan sumber daya kelautan.
1.4 Argumentasi Utama
Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia dalam merespon IUU Fishing, seperti penangkapan fishing vessels, patroli laut, pendanaan, maupun pemberian bantuan di wilayah-wilayah RFMOs, merupakan
2 P. Williams (eds.), Combating Transnational Crime: Concepts, Activities and Responses, Frank Cass Publishers, New York, 2001, p. 14.
bagian dari kebijakan pemerintah dalam rangka memulihkan kembali segala aspek yang terkena dampak dari IUU Fishing, seperti aspek keamanan maritim, aspek ekonomi yang juga begitu terasa di negara berkembang, dan kelestarian lingkungan. Yang menarik dari kebijakan-kebijakan yang dilakukan dalam menangani IUU Fishing ternyata tidak hanya muncul dari masalah pengelolaan perikanan, melainkan juga terkait masalah konservasi laut yang berkelanjutan, masalah perubahan iklim, serta pergerakan ilegal melalui jalur maritim, seperti
smuggling of migrants yang belakangan memanfaatkan fishing vessels. Hal
tersebut secara tidak langsung mampu memberikan kontribusi pada pencapaian politik luar negeri Australia. terkait bagaimana kebijakan tersebut memberikan kontribusi terhadap pencapaian politik luar negeri adalah dengan membuka jalan bagi terlaksananya prinsip-prinsip politik luar negeri Australia. Prinsip keamanan yang terlaksana melalui terjalinnya kerjasama dalam upaya penanggulangan
Smuggling of Migrants yang belakangan menggunakan fishing vessels dengan
negara-negara yang dapat dikatakan juga memiliki masalah terkait imigran gelap dan dapat dikatakan sebagai negara asal atau negara yang wilayahnya merupakan jalur-jalur yang paling sering dilewati aktivitas Smuggling of Migrants, seperti Indonesia dan Sri Lanka, prinsip economic diplomacy terlaksana dengan pemberian bantuan pemerintah Australia dalam proyek pengelolaan perikanan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang, seperti negara-negara Pasifik dan good international citizen terlaksana melalui upaya marine
conservation dan promosi sustainable fisheries management. Pemerintah
Australia juga mampu memahami dan menentukan respon yang tepat bagi perubahan iklim dan cuaca di negaranya dan membantu negara-negara Pasifik dalam upaya adaptasi terhadap perubahan iklim melalui penelitian di Antartika dan Southern Ocean. Adapun faktor lain yang juga mempengaruhi kebijakan tersebut adalah berkaitan dengan strategic interests pemerintah Australia, yaitu terkait masalah kedaulatan Australia di wilayah pulau terluarnya, kemudian mengenai batas laut, klaim terhadap Australian Antarctic Territory, serta kebebasan navigasi.
1.5 Jangkauan Penelitian
Jangkauan dari penelitian ini dimulai dari tahun 2005, yaitu sejak pemerintah Australia mengimplementasikan International Plan of Action to
Prevent, Deter and Eliminate Illegal, Unreported and Unregulated Fishing yang
dikeluarkan oleh FAO pada tahun 2001 dalam bentuk National Plan of Action to
Prevent, Deter and Eliminate Illegal, Unreported and Unregulated Fishing dan
melihat beberapa data pada beberapa tahun sebelumnya. Kemudian hingga tahun 2014 dan awal tahun 2015.
1.6 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang akan dilakukan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Dalam proses pengumpulan data, penulis akan menggunakan studi literatur/kajian pustaka. Data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pernyataan pemerintah yang terdapat pada sumber-sumber terpecaya dan data sekunder diperoleh buku, jurnal ilmiah, baik berupa cetak maupun digital.
1.7 Sistematika Penelitian
Skripsi ini akan terdiri dari empat bab. Bab pertama akan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, kerangka konseptual, argumen utama, metode penelitian dan sistematika penulisan. Setelah itu, pada bab kedua penulis akan melihat kembali isu IUU Fishing sebagai isu global, dampaknya bagi Australia dan kebijakan pemerintah Australia dalam menangani IUU Fishing dan menuju sustainable fisheries management. Bab ketiga akan menjawab pertanyaan pada rumusan masalah. Bab terakhir akan berisi mengenai kesimpulan yang mencakup keseluruhan penelitian.