• Tidak ada hasil yang ditemukan

MM /OT.02.02/BGN.1/1/19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MM /OT.02.02/BGN.1/1/19"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI BAHAN GALIAN NUKLIR

Jalan : Lebak Bulus Raya No.9, Ps.Jum’at, Jakarta 12440 Telp : (021) 7695394, Faks : (021) 7691977

e-mail : [email protected]

MM 001.001/OT.02.02/BGN.1/1/19

(2)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat, karunia dan hidayah-Nya, Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir dapat melaksanakan kegiatan sesuai dengan Perjanjian Kinerja yang telah ditetapkan. Seluruh sasaran kegiatan dapat tercapai dengan baik dan pengukuran capaian kinerja disajikan dalam Laporan Kinerja Tahun 2018 ini.

Laporan Kinerja Tahun 2018 disusun sebagai media pertanggungjawaban berupa hasil pengukuran dan evaluasi kinerja, hal ini merupakan perwujudan status pencapaian pelaksanaan visi dan misi Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir.

Laporan Kinerja Tahun 2018 disusun sesuai standar baku dengan harapan dapat memberikan gambaran lengkap tentang status kinerja pelaksanaan kegiatan Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir sebagai wujud akuntabilitas unit kerja.

Segala kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan laporan kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir di masa yang akan datang.

Jakarta, 30 Januari 2019 Kepala Pusat

Teknologi Bahan Galian Nuklir

Ir. Yarianto Sugeng Budi Susilo, M.Si

(3)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 ii

RINGKASAN EKSEKUTIF

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 disusun berdasarkan pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Kepala BATAN Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Perjanjian Kinerja dan Pelaporan Kinerja.

Akuntabilitas kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir mengacu pada Rencana Strategis Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir tahun 2015 – 2019 dan Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2018. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja dapat disimpulkan bahwa pencapaian sasaran strategis seperti yang telah ditetapkan dalam Renstra Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir telah dilaksanakan sesuai dengan rencana, bahkan 3 dari 6 indikator kinerja tercapai melebihi target. Capaian kinerja yang diperjanjikan dalam dokumen PK berdasarkan hasil pengukuran kinerja dapat direalisasikan sesuai dengan rencana, bahkan 4 dari 7 indikator kinerja tercapai melebihi target. Capaian kinerja tersebut adalah sebagai berikut : 1) Jumlah data riset eksplorasi bahan galian nuklir (IK 1.a) sebesar 100%; 2) Jumlah tonase potensi sumber daya Uranium kategori tereka (IK 1.b) sebesar 101,2%; 3) Jumlah tonase potensi sumber daya Thorium kategori tereka (IK 1.c) sebesar 102,2%; 4) Jumlah publikasi ilmiah (IK 1.d) sebesar 240%; 5) Jumlah prototipe Amang Plant (IK 2.a) sebesar 100%; 6) Jumlah dokumen teknis litbang pengolahan Uranium dan Thorium dari Slag II, Monasit dan Bijih Uranium (IK 2.b) sebesar 100%; dan 7) Indeks kepuasan pelanggan (IK 2.c) sebesar 101,25%.

Capaian kinerja PTBGN yang baik tersebut pada tahun mendatang diupayakan untuk ditingkatkan dengan komitmen, keterlibatan dan dukungan aktif dari pemangku kepentingan. Langkah-langkah konkrit untuk meningkatkan kinerja dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang dapat mempengaruhi kinerja, yaitu:

1. Melakukan evaluasi daerah-daerah potensial berdasarkan data sekunder dan hasil eksplorasi yang pernah dilakukan.

2. Memperluas kerjasama eskplorasi dengan pihak lain yang melaksanakan kegiatan eksplorasi mineral dan batubara pada daerah yang berpotensi mengandung uranium dan thorium, seperti BUMN dan instansi pemerintah lainnya.

3. Mengusulkan pelaksanaan pemboran guna meningkatkan data sumber daya uranium dan thorium terkategori.

4. Melakukan peremajaan alat untuk pemantauan pengolahan bahan galian nuklir dan proteksi radiasi.

(4)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 iii

5. Mendorong kepada seluruh pejabat fungsional terutama peneliti, penyelidik bumi, dan pranata nuklir untuk lebih produktif dan berperan aktif dalam mempublikasikan karya ilmiahnya.

6. Memberikan kesempatan seluruh pejabat fungsional terutama peneliti, penyelidik bumi dan pranata nuklir untuk mengikuti seminar nasional dan internasional.

7. Memberikan kesempatan kepada staf yunior untuk meningkatkan kompetensi melalui pendidikan formal, diklat, seminar, workshop, bimtek, dll.

8. Meningkatkan jejaring dan kerja sama dengan stakeholder.

9. Melakukan revitalisasi dan peningkatan fungsi fasilitas litbang dan layanan.

Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir dalam pencapaian kinerja ditunjang oleh anggaran yang berasal dari APBN sebesar Rp 34.683.465.000,00 dengan realisasi sebesar Rp 29.378.344.502,00 atau terserap 84,70%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sasaran kegiatan tercapai dengan efektif (capaian kinerja ≥ 100%) dan efisien (realisasi anggaran yang digunakan < 100%).

(5)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 iv

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i

RINGKASAN EKSEKUTIF ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ...vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Profil dan Sejarah Singkat ... 1

C. Tugas dan Fungsi ... 3

D. Struktur Organisasi ... 4

E. Proses Bisnis PTBGN ... 5

F. Isu Strategis ... 6

BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 12

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 14

A. Capaian Kinerja Organisasi ... 14

Sasaran Kegiatan 1 (SK 1) - Diperolehnya data sumber daya Uranium dan Thorium terkategori di Indonesia ... 14

Jumlah Data Riset Eksplorasi Bahan Galian Nuklir (IK 1.a) ... 15

Jumlah tonase potensi sumber daya Uranium kategori tereka (IK 1.b) ... 21

Jumlah tonase potensi sumber daya Thorium kategori tereka (IK 1.c) ... 23

Jumlah publikasi ilmiah (IK 1.d) ... 25

Sasaran Kegiatan 2 (SK 2) - Diperolehnya teknologi pemisahan Uranium dan Thorium ... 28

Jumlah prototipe Amang Plant (IK 2.a.) ... 28

Jumlah Dokumen Teknis Litbang Pengolahan U dan Th dari Slag II, Monasit dan Bijih Uranium (IK 2.b.) ... 31

Jumlah Indek Kepuasan Pelanggan (IK 2.c) ... 35

B. Realisasi Anggaran ... 37

C. Capaian Kinerja Lain di Luar PK ... 41

BAB IV PENUTUP ... 45

(6)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 v

Lampiran I ... 47 Lampiran II ... 52

(7)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 vi

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Klasifikasi SDM berdasarkan jenis kelamin. ... 2

Gambar 2. Klasifikasi SDM berdasarkan tingkat Pendidikan ... 2

Gambar 3. Klasifikasi SDM berdasarkan golongan. ... 3

Gambar 4. Klasifikasi SDM berdasarkan Jabatan Fungsional. ... 3

Gambar 5. Struktur Organisasi Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir. ... 5

Gambar 6. Proses Bisnis Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir. ... 5

Gambar 7. Evolusi peningkatan Kebutuhan rata-rata LTJ di Pasar dunia 2010 hingga 2035 sekitar 5.3%, (a) kebutuhan LTJ total, (b) kebutuhan LTJ tiap unsur. ... 8

Gambar 8. Peta laju dosis radiasi gamma lingkungan Indonesia (Iskandar, 2007) . ... 10

Gambar 9. Lokasi sebaran sampel bor sedimen laut Pulau Bangka. ... 16

Gambar 10. Lokasi Kegiatan Geologi dan Radiometri Kalan. ... 18

Gambar 11. Lokasi pendataan geologi dan pengukuran radiometri soil atau batuan di Desa Long Tuyoq. ... 19

Gambar 12. Prototipe Amang Plant berupa Magnetic Separator. ... 29

Gambar 13. Kegiatan Scientific Visit IAEA 2018 ... 42

Gambar 14 Kegiatan Loka PTBGN ... 43

Gambar 15. Dokumen Perjanjian Kerjasama dan Laporan Studi Tekno Ekonomi ... 44

(8)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pemanfaatan logam tanah jarang di industri ... 7 Tabel 2. Perjanjian Kinerja Tahun 2018 Pusat Teknologi Bahan Galian

Nuklir ... 12 Tabel 3. Perbandingan capaian IK 1.a Tahun 2017 dan 2018. ... 15 Tabel 4. Perbandingan Realisasi IK 1.a terhadap Target Jangka

Menengah. ... 21 Tabel 5. Perbandingan Capaian IK 1.b Tahun 2018 dan 2017. ... 22 Tabel 6. Perbandingan Realisasi IK 1.b terhadap Target Jangka

Menengah. ... 23 Tabel 7. Perbandingan Capaian IK 1.c Tahun 2018 dan 2017. ... 24 Tabel 8. Perbandingan Realisasi IK 1.c terhadap Target Jangka

Menengah. ... 25 Tabel 9. Perbandingan Capaian IK 1.d Tahun 2018 dan 2017. ... 26 Tabel 10. Perkembangan Capaian IK 1.d. tahun 2015 - 2018. ... 27 Tabel 11. Perbandingan Realisasi IK 1.d terhadap Target Jangka

Menengah. ... 27 Tabel 12. Perbandingan Capaian IK 2.a Tahun 2018 dan 2017. ... 28 Tabel 13. Perkembangan Capaian IK tahun 2015 - 2018. ... 29 Tabel 14. Perbandingan Realisasi IK 2.a terhadap Target Jangka

Menengah. ... 30 Tabel 15. Perbandingan Capaian IK 2.b Tahun 2018 dan 2017. ... 31 Tabel 16. Perkembangan Capaian IK 2.b. tahun 2015 - 2018. ... 34 Tabel 17. Perbandingan Realisasi IK 2.b. terhadap Target Jangka

Menengah. ... 34 Tabel 18. Perhitungan IKM Tahun 2018 ... 36 Tabel 19. Perbandingan Capaian IK 2.c. Tahun 2018 dan 2017. ... 36 Tabel 20. Realisasi IK 2.c. s/d Tahun 2018 dibandingkan Target Jangka

Menengah ... 37 Tabel 21. Realisasi anggaran terkait langsung dengan kinerja. ... 39 Tabel 22. Realisasi anggaran tidak terkait langsung dengan kinerja.. ... 40 Tabel 23. Tingkat capaian kinerja, penyerapan anggaran serta efektivitas

anggaran. ... 41

(9)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka mendorong terwujudnya akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai salah satu prasyarat terciptanya pemerintahan yang baik dan terpercaya, serta didukung oleh semangat reformasi untuk mewujudkan sebuah sistem pemerintahan yang bersih, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 29 tahun 2014, Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang mewajibkan seluruh instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, Perpres ini dilengkapi dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan untuk lingkungan internal BATAN dengan Peraturan Kepala BATAN Nomor 2 Tahun 2016, tentang Pedoman Penyusunan Perjanjian Kinerja dan Penyusunan Laporan Kinerja Badan Tenaga Nuklir Nasional, Kedeputian/Sekretariat Utama, dan Unit Kerja.

Akhirnya, Laporan Kinerja disusun sebagai wujud pertanggungjawaban pencapaian kinerja dikaitkan dengan anggaran serta pencapaian sasaran-sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam Renstra PTBGN Tahun 2015-2019.

B. Profil dan Sejarah Singkat

Pada awalnya PTBGN merupakan suatu proyek di bawah Lembaga Tenaga Atom berdasarkan Kepres No. 225 Tahun 1963 dengan nama proyek adalah Proyek Bahan-bahan Tenaga Atom yang berkantor di Pasar Jumat.

Kemudian pada tanggal 20 April 1964 keluar SK Dirjen LTA no. UP. 10/5/12 tentang pengangkatan Ir. Corputy menjadi Kepala Proyek Survey Geologi/Eksplorasi pada Bahan-bahan Tenaga Atom, Lembaga Tenaga Atom mulai 1 Mei 1963. Pada tahun 1968 keluar Kepres RI No. 299 tahun 1968 tentang unsur-unsur pelaksana BATAN yang salah satunya adalah Direktorat Survey Geologi (DSG). Untuk kelancaran tugas BATAN dipandang perlu menyempurnakan organisasi DSG sesuai dengan perkembangannya, maka surat keputusan DIRJEN BATAN No. 27/DD/VII/1969 tanggal 12 Juli 1969 ditetapkan struktur organisasi serta tugas kewajiban para pejabat DSG.

DSG telah beberapa kali mengalami perubahan nama sesuai dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan perkembangan bahan galian nuklir.

Perubahan nama DSG antara lain: Pusat Eksplorasi Pengolahan Bahan Nuklir (PEPBN) tahun 1980, Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir (PPBGN) tahun 1986, Pusat Pengembangan Bahan Galian dan Geologi Nuklir (P2BGGN) tahun 2003, Pusat Pengembangan Geologi Nuklir (PPGN) tahun

(10)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 2

2005, dan tahun 2013 hingga saat ini menjadi Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN).

Berdasarkan uraian tentang berbagai Keputusan Presiden Republik Indonesia dan Keputusan Direktur Jenderal BATAN No. 27/DD/VII/1969 tanggal 12 Juli 1969 disepakati sebagai Hari Kelahiran Direktorat Survey Geologi (DSG).

PTBGN memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) dengan berbagai kompetensi teknis yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan Teknik Geologi dan Teknik Kimia. Pada tahun 2018 SDM PTBGN berjumlah 78 orang dengan klasifikasi sebagai berikut:

Gambar 1. Klasifikasi SDM berdasarkan jenis kelamin.

Gambar 2. Klasifikasi SDM berdasarkan tingkat Pendidikan

(11)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 3

Gambar 3. Klasifikasi SDM berdasarkan golongan.

Gambar 4. Klasifikasi SDM berdasarkan Jabatan Fungsional.

C. Tugas dan Fungsi

Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir merupakan salah satu unit kerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional di bawah Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir yang dibentuk berdasarkan Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional No. 14 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja Batan sebagaimana telah diubah menjadi Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional No. 16 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Batan.

Sesuai dengan Pasal 183 Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional No. 14 Tahun 2013, Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pelaksanaan, dan pembinaan dan bimbingan di bidang pengembangan teknologi eksplorasi, penambangan dan pengolahan bahan galian nuklir.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 183, Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir menyelenggarakan fungsi:

(12)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 4

1. pelaksanaan urusan perencanaan, persuratan dan kearsipan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan rumah tangga, dokumentasi ilmiah dan publikasi serta pelaporan;

2. pelaksanaan eksplorasi bahan galian nuklir;

3. pelaksanaan pengembangan teknologi penambangan dan pengolahan bahan galian nuklir;

4. pelaksanaan pemantauan keselamatan kerja dan pengelolaan instalasi penambangan;

5. pelaksanaan jaminan mutu;

6. pelaksanaan pengamanan nuklir; dan

7. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir

D. Struktur Organisasi

Struktur organisasi Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir berdasarkan Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional No. 14 Tahun 2013 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional No. 16 Tahun 2014 terdiri dari:

a. Bagian Tata Usaha, terdiri dari:

1) Subbagian Persuratan, Kepegawaian, dan Dokumentasi Ilmiah 2) Subbagian Keuangan

3) Subbagian Perlengkapan

b. Bidang Eksplorasi, terdiri dari sejumlah tenaga fungsional yang terbagi dalam beberapa kelompok

c. Bidang Teknologi Penambangan dan Pengolahan terdiri dari: sejumlah tenaga fungsional yang terbagi dalam beberapa kelompok

d. Bidang Keselamatan dan Lingkungan, terdiri dari:

1) Subbidang Keselamatan Kerja dan Proteksi Radiasi 2) Subbidang Pengelolaan Limbah

3) Subbidang Pengelolaan Instalasi Penambangan e. Unit Pengamanan Nuklir

f. Unit Jaminan Mutu

(13)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 5

Gambar 5. Struktur Organisasi Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir.

E. Proses Bisnis PTBGN

Gambar 6. Proses Bisnis Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir.

(14)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 6

1. Proses manajemen mengkomunikasikan ke seluruh pegawai dan/atau pihak berkepentingan.

2. Dalam hal pihak berkepentingan memerlukan jasa penelitian / eksplorasi /analisis/ pemantauan lingkungan masuk ke proses utama.

3. Pada proses utama ini, penelitian dilaksanakan sesuai dengan bidang kompetensinya.

4. Dalam pelaksanaan proses utama, juga dibantu oleh Subbag.

Perlengkapan, Subbag. PKDI, Subbag. Keuangan dan Subbid.

Pengelolaan Instalasi penambangan sebagai proses pendukung.

5. Output dari proses utama berupa Kepuasan Pihak berkepentingan, Potensi BGN, Pilot Plan, Dokumen Teknis dan Publikasi ilmiah.

6. Proses Output secara sirkulasi akan kembali ke Pihak Berkepentingan.

7. Dalam hal pengukuran dan penilaian ; UJM berperan dalam melakukan audit internal baik itu SMM maupun SMK3.

8. Setelah melakukan audit internal, dilakukan tindakan perbaikan dan pencegahan dari hasil ketidaksesuaian audit.

Dari tindakan perbaikan dan pencegahan : dilakukan peningkatan berkesinambungan, dalam proses ini dilakukan evaluasi pada sistem manajemen (SOP SMM dan SMK3) apakah masih relevan atau tidak.

Jika sudah tidak relevan perlu dilakukan revisi-revisi pada SOP yang sudah tidak relevan. Disamping itu juga melakukan pengembangan sistem manajemen lainnya (seperti manual Mutu Sistem manajemen Laboratorium ISO 17025).

F. Isu Strategis

Beberapa isu strategis yang sedang berkembang pada tahun 2018 yang berkaitan dengan tugas dan fungsi PTBGN antara lain: Kebutuhan dan nilai strategis logam tanah jarang (LTJ) yang berasosiasi dengan uranium dan thorium, Nilai radioaktivitas alam tertinggi di Indonesia terdapat di daerah Mamuju, dan Regulasi pemanfaatan mineral radioaktif.

1. Kebutuhan dan nilai strategis logam tanah jarang (LTJ) yang keterdapatannya di dalam mineral radioaktif.

Logam tanah jarang (LTJ) terdiri dari 15 unsur dalam grup lantanida meliputi Lanthanum (La), Cerium (Ce), Praseodymium (Pr), Neodymium (Nd), Promethium (Pm), Samarium (Sm), Europium (Eu), Gadolinium (Gd), Terbium (Tb), Dysprosium (Dy), Holmium (Ho), Erbium (Er), Thulium (Tm), Ytterbium (Yb), dan Lutetium (Lu), serta 2 unsur yang dapat dikategorikan sebagai LTJ yaitu Scandium (Sc) dan Yttrium (Y) karena memiliki kemiripan sifat dan juga keterdapatannya

(15)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 7

di alam cenderung bersama dengan unsur-unsur lantanida.

Pemanfaatan LTJ sangat beragam, mulai dari teknologi sederhana (pemantik, pemoles kaca), teknologi tinggi (laser, magnet, baterai), hingga teknologi futuristik (superkonduktor). Cukup banyak industri yang mengandalkan kualitas produknya pada LTJ dikarenakan keistimewaan karakteristiknya yang tidak dapat ditandingi atau bahkan digantikan oleh material lain. Oleh karena itu, nilai keekonomian LTJ sangat tinggi dan cenderung selalu meningkat.

Tabel 1. Pemanfaatan logam tanah jarang di industri

No Aplikasi Unsur LTJ Permintaan LTJ 2005

Pertumbuhan pemakaian logam tanah jarang 1 Magnet Nd, Pr, Dy,

Tb, Sm

17,17 ton motor listrik pada mobil hybrid, Power steering elektrik, Air conditioners, generator, hard disk drives

2 Baterai NiMH La, Ce, Pr, Nd

7,2 ton Baterai mobil Hybrid, baterai Rechargeable

3 Auto Catalysis

Ce, La, Nd 5,83 ton Gasoline and hybrids diesel fuel additive, untuk peningkatan standar emisi otomotif global 4 Fluid Cracking

Catalysis

La, Ce, Pr, Nd

15,4 ton Produksi minyak, peningkatan kegunaan minyak mentah 5 Phosphors Eu, Y, Tb, La,

Dy, Ce, Pr, Gd

4,007 tons LCD TV dan monitor, plasma TV, energy

efficient compact fluorescent lights 6 Polishing

Powders

Ce, La, Pr, mixed

15,15 ton LCD TV dan monitor, plasma TV dan display, silicon wafers dan chips

7 Glass additives

Ce, La, Nd, Er, Gd, Yb

13,59 ton Kaca optic untuk kamera digital, bahan fiber optic

Seiring dengan aplikasinya yang beragam, kebutuhan LTJ di dunia pada tahun 2010 mencapai 136.000 ton/tahun dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 185.000 ton/tahun pada tahun 2015 dan terus meningkat hingga tahun 2035. Produksi logam tanah jarang tahun 2010 sejumlah 127 000 ton REO, sebanding dengan 107 000 ton metal LTJ. Produksi tersebut akan meningkat hingga 27 - 35% pada 2035. Tingginya kebutuhan LTJ tersebut sebagian besar dipenuhi oleh China. Dengan memiliki cadangan LTJ terbesar, Hingga tahun 2010, China memproduksi LTJ lebih dari 90%

kebutuhan dunia. Berdasarkan data yang bersumber dari industri mineral Australia bahwa China menjadi salah satu Negara pemasok LTJ terbesar di dunia karena permintaan akan LTJ di dunia sangat tinggi dan diprediksikan China menguasai pasar LTJ dunia hingga

(16)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 8

tahun 2015. Namun pada beberapa tahun terakhir China membatasi ekspor logam tanah jarang, Kebijakan tersebut memicu negara-negara yang selama ini mengandalkan LTJ untuk industrinya mencari alternatif suplai LTJ dari negara selain China. Indonesia merupakan salah satu negara yang menarik minat para pengguna LTJ, karena Indonesia memiliki mineral monasit dan senotim yang mengandung LTJ dan cukup melimpah.

Gambar 7. Evolusi peningkatan Kebutuhan rata-rata LTJ di Pasar dunia 2010 hingga 2035 sekitar 5.3%, (a) kebutuhan LTJ total, (b) kebutuhan

LTJ tiap unsur.

Monasit dan senotim kurang mendapatkan perhatian baik pengelolaan dan pengolahannya. Karena sebagai produk samping hasil pengolahan timah maka hanya dijual dengan harga yang sangat murah, bahkan di beberapa tempat dibuang begitu saja. Mineral monasit maupun senotim di Indonesia terutama dapat diperoleh dari tailing penambangan timah. Dengan lokasi Indonesia yang berada pada jalur Tin Belt, maka cadangan bijih timah (mineral cassiterite) beserta mineral ikutannya, termasuk monasit dan senotim, juga berlimpah. Berdasarkan informasi dari Badan Geologi dalam neraca mineral logam tahun 2012, Indonesia memiliki sumber daya hipotetik monasit sebesar 1,5 miliar ton terutama di Propinsi Kepulauan Riau dan Bangka-Belitung. Dengan potensi sebesar itu, pengolahan monasit dan senotim di Indonesia menjadi sangat menarik untuk dikembangkan tidak hanya sebatas produk LTJ hidroksida, tetapi juga produk oksida maupun logam individu LTJ. Hasil pengolahan tersebut dapat mendorong pemanfaatan LTJ untuk industri hilir seperti magnet dan aplikasi LTJ lainnya yang dapat menunjang ketahanan energi dan transportasi di Indonesia. Hal ini merupakan peluang bagi Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki potensi sumber daya Logam Tanah Jarang dan telah melakukan pengembangan hasil penelitian yang sudah siap untuk skala pilot dan apabila telah diketahui cadangan monasit terukur maka dapat dikembangkan menjadi skala industri yang bersifat komersial.

(17)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 9

Monasit adalah senyawa logam tanah jarang fosfat (La,Ce,Nd,Y,Th)PO4 atau sering pula ditulis sebagai (LTJ,Th)PO4 dengan kadar 50-70% oksida LTJ. Pasir monasit memiliki kandungan thorium (Th) yang cukup tinggi. Sedangkan senotim adalah senyawa logam tanah jarang fosfat (Y,LTJ)PO4 atau sering pula ditulis sebagai YPO4 dalam bentuk struktur kristal tetragonal dengan kadar itrium (Y) sekitar 20%. Total kadar campuran oksida LTJ berkisar antara 55% sampai 70%. Banyak juga senotim yang mengandung uranium sampai 4% dan sedikit Th. Sehingga baik monasit maupun senotim memiliki sifat radioaktif. Riset mengenai pengolahan monasit yang mengandung unsur radioaktif telah puluhan tahun dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Penelitian ini diawali sebagai upaya untuk mendapatkan uranium dan thorium dari monasit serta Logam Tanah Jarang (LTJ) yang bebas radioaktif. Hal ini dilakukan berdasarkan PP No. 23/2010 jo. PP No. 24/2012 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba dalam Pasal 2, Ayat (2) huruf a, berbunyi : mineral radioaktif meliputi radium, thorium, uranium, monasit, dan bahan galian radioaktif lainnya.

Sinergi antar instansi dan lembaga penelitian, industri serta universitas terus dilakukan dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari pengolahan monasit dan senotim. Beberapa instansi yang terlibat diantaranya BATAN, BPPT, Tekmira (ESDM), BBLM (Kemenperin), UI, UNPAD, ITB, serta didukung PT Timah (Persero) Tbk. Langkah awal industrialisasi dari pengembangan monasit telah dimulai dengan berdirinya pilot plant LTJ hidroksida yang merupakan hasil kerjasama BATAN dengan PT. Timah (Persero) Tbk. Koordinasi kegiatan penelitian dan pengembangan LTJ dari berbagai instansi/lembaga penelitian, industri termasuk universitas tersebut akan menjalin konektivitas antar intansi/lembaga penelitian dan hasil riset yang terfokus, terdiri dari pembuatan LTJ hidroksida, oksida dan logam individu LTJ, paduan LTJ, serta bahan magnet dan material energi berbasis LTJ dalam skala industri dalam mendukung rantai industri LTJ nasional, ketahanan energi dan transportasi Indonesia. Dengan demikian tujuan pengembangan industri LTJ di Indonesia yang akan memberikan manfaat sangat strategis :

ξ Meningkatkan sinergi antara Litbang, Bisnis dan Pemerintah, ξ Meningkatkan kemampuan SDM iptek nasional dalam

penguasan teknologi untuk industri,

ξ Membuka peluang pengembangan industri sesuai rantai nilai industrinya,

ξ Meningkatkan nilai tambah ekonomi Monasit & Senotim yang sebelumnya merupakan produk samping pertambangan timah, ξ Industri LTJ akan membuka lapangan kerja baru,

ξ Meningkatkan pendapatan daerah & nasional,

ξ Dengan terekstraknya U dan Th dari LTJ, potensi cadangan

(18)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 10

energi nasional dapat terkelola dengan baik,

ξ Melindungi masyarakat dari potensi bahaya radiasi di sekitar lokasi pertambangan timah.

2. Nilai radioaktivitas alam tertinggi di Indonesia terdapat di Daerah Mamuju.

Pada tahun 2007, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN (PTKMR-BATAN) melakukan pemetaan dan pembuatan peta laju dosis radiasi gamma lingkungan Indonesia.

Pemetaan meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sebagian Sulawesi. Pemetaan menemukan lokasi dengan laju dosis yang tinggi di wilayah Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Gambar 4).

Peralatan yang digunakan dalam survei adalah Exploranium GR130 dengan fungsi pemetaan radionuklida dan laju dosis.

Gambar 8. Peta laju dosis radiasi gamma lingkungan Indonesia (Iskandar, 2007) .

Pada tahun 2011, pemetaan laju dosis pulau Sulawesi dilanjutkan untuk keseluruhan pulau. Temuan secara lebih detil di Kabupaten Mamuju di Desa Takandeang, dengan laju dosis mencapai 2.844 nSv/jam. Beberapa titik lain ditemukan di lokasi tersebut diantaranya dengan laju dosis 2.250 dan 2.200 nSv/jam. Laju dosis di Kabupaten Mamuju secara umum relatif tinggi dengan latar diatas 300 nSv/jam. Secara regional di Pulau Sulawesi tidak ditemukan lokasi lain dengan tingkat laju dosis yang tinggi selain di Mamuju.

Kadar yang relatif tinggi lainnya ditemukan di Kabupaten Mamasa, namun hanya mencapai 250 nSv/jam. Dengan adanya temuan laju dosis yang tinggi tersebut maka daerah Mamuju menjadi prioritas utama sebagai daerah eksplorasi/prospeksi uranium dan thorium.

(19)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 11

Pada tahun 2012, PTBGN-BATAN telah melakukan survei tinjau di beberapa titik di Wilayah Mamuju, yaitu di Desa Takandeang dan Desa Botteng. Dari hasil peninjauan tersebut, maka direkomendasikan bahwa Daerah Mamuju layak untuk ditindaklanjuti ke dalam eksplorasi yang lebih detil.

Pada tahun 2013, PTBGN-BATAN telah melakukan survei pendahuluan untuk mengetahui sebaran anomali radioaktivitas di seluruh daerah Mamuju. Dari kegiatan tersebut telah dihasilkan daerah-daerah yang memiliki nilai radioaktivitas tinggi tetapi belum dapat dilakukan pengamatan secara detil sehingga perlu dilakukan penyelidikan secara lebih detil pada daerah-daerah anomali dan untuk mengetahui pola sebaran anomali radioaktivitas batuan, mineralisasi, jenis mineral radioaktif serta genesis mineral tersebut di Kabupaten Mamuju.

3. Regulasi Pemanfaatan Mineral Radioaktif secara Komersial.

Mineral radioaktif merupakan mineral yang strategis. Mineral radioaktif bisa didapatkan melalui aktivitas penambangan dan pengolahan mineral ikutan suatu komoditas pertambangan.

Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, mineral radioaktif diatur sesuai peraturan ketenaganukliran. Dalam Undang-undang No. 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, bahan galian nuklir yang diatur pemanfaatannya hanya terbatas pada keperluan non-komersial, dimana hal ini menjadi otoritas BATAN.

Sehingga pemanfaatan bahan galian nuklir atau mineral radioaktif secara komersisal, baik sebagai mineral utama maupun mineral ikutan belum diatur. Kekosongan regulasi ini turut menyebabkan terjadinya penjualan mineral radioaktif secara ilegal yang merugikan negara, khususnya mineral monasit yang mengandung unsur radioaktif dan logam tanah jarang. Oleh karena itu, mengingat nilai strategis yang dimiliki mineral radioaktif maka diperlukan regulasi untuk pemanfaatannya secara optimum serta digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

(20)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 12

BAB II PERENCANAAN KINERJA

Perumusan target kinerja merupakan langkah awal dalam tahapan perencanaan kinerja di PTBGN. Target kinerja tersebut selaras dengan arah dan tujuan PTBGN yang telah ditetapkan. Target kinerja PTBGN tahun 2018 mengacu kepada target yang ditetapkan dalam Renstra PTBGN 2015-2019, serta memperhatikan kebijakan BATAN tahun 2015-2019 (top down).

Perencanaan Kinerja PTBGN seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perjanjian Kinerja Tahun 2018 Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir.

No. Sasaran Indikator Kinerja Target

(1) (2) (3) (3)

1. Diperolehnya data sumber daya Uranium dan Thorium terkategori di Indonesia

Jumlah Data Riset Eksplorasi

Bahan Galian Nuklir 5 Data Riset Data riset pemantauan geologi

teknik, geohazard dan geohidrologi

1

Data Riset Potensi Sumber Daya Uranium

2 Data Riset Potensi Sumber Daya

Thorium 1

Data riset hasil pemantauan pengolahan bahan galian nuklir dan proteksi radiasi

1

Jumlah tonase potensi sumber daya Uranium kategori tereka

1000 ton

Jumlah tonase potensi sumber daya Thorium kategori tereka

500 ton

Jumlah Publikasi Ilmiah 10 Publikasi 2. Diperolehnya

teknologi pemisahan Uranium dan Thorium

Jumlah prototipe Amang Plant 1 Prototipe Prototipe Amang Plant monasit 1 Prototipe Jumlah Dokumen Teknis Litbang

Pengolahan Uranium dan Thorium dari Slag II, Monasit dan Bijih Uranium

3 Dokumen Teknis

Dokumen Teknis Litbang Pengolahan Uranium dan Thorium dari Slag II, Monasit dan Bijih Uranium

3 Dokumen Teknis

Indeks kepuasan pelanggan 3,2

Kegiatan Anggaran

Pengembangan Eksplorasi dan Teknologi Pengelolaan Bahan Galian Nuklir

Rp.34.683.465.000

(21)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 13

Pada awal tahun anggaran 2018 untuk mencapai sasaran program BATAN, PTBGN melaksanakan kegiatan pengembangan eksplorasi dan teknologi pengelolaan bahan galian nuklir dengan sasaran kegiatan (SK):

Diperolehnya data sumber daya Uranium dan Thorium terkategori di Indonesia dan teknologi pemisahan Uranium dan Thorium, sebagaimana tertuang dalam Penetapan Kinerja (PK) Tahun 2018 dengan didukung input anggaran dari DIPA PTBGN sejumlah Rp. 34.683.465.000,-.

(22)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 14

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Organisasi

Pengukuran capaian kinerja PTBGN tahun 2018 dilakukan dengan cara membandingkan antara target (rencana) dan realisasi kinerja tahun 2018, realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun 2018 dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir, dan realisasi kinerja hingga tahun 2018 dengan target jangka menengah. Penjelasan capaian kinerja untuk setiap sasaran kegiatan adalah sebagai berikut.

Sasaran Kegiatan 1 (SK 1) - Diperolehnya data sumber daya Uranium dan Thorium terkategori di Indonesia

SK 1 yang dimaksud adalah diperolehnya dan terpublikasikannya data riset eksplorasi bahan galian nuklir yang meliputi potensi sumber daya uranium dan thorium; pemantauan geologi teknik, geohazard dan geohidrologi; dan pemantauan pengolahan bahan galian nuklir dan proteksi radiasi dalam rangka penentuan jumlah potensi sumber daya uranium dan thorium.

SK 1 meliputi kegiatan eksplorasi sumber daya U dan Th di Indonesia, melalui survei permukaan yang diawali dari penyelidikan umum, hingga tahapan detail dan estimasi sumber daya. Lingkup kegiatan yang dilakukan pada masing-masing tahapan disesuaikan dengan luas daerah dan kerapatan data, yang secara umum berupa pemetaan geologi, radiometri, geokimia, geofisika, dan analisis laboratorium (mineralogi dan petrografi) serta pemantauan keselamatan radiasi dan lingkungan kegiatan eksplorasi pengolahan bahan galian nuklir.

SK 1 dicapai melalui empat Indikator Kinerja (IK) yaitu :

1. IK 1.a. Jumlah Data Riset Eksplorasi Bahan Galian Nuklir 1) Data Riset Potensi Sumber Daya Thorium: 1 data

2) Data Riset Potensi Sumber Daya Uranium: 2 data

3) Data riset pemantauan geologi teknik, geohazard dan geohidrologi:

1 data

4) Data riset hasil pemantauan pengolahan bahan galian nuklir dan proteksi radiasi: 1 data

2. IK 1.b Jumlah tonase potensi sumber daya Uranium kategori tereka:

1000 ton

3. IK 1.c Jumlah tonase potensi sumber daya Thorium kategori tereka:

500 ton

4. IK 1.d Jumlah publikasi ilmiah: 10 KTI

(23)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 15

Jumlah Data Riset Eksplorasi Bahan Galian Nuklir (IK 1.a)

IK1.a ini mengukur kuantitas perolehan data riset sumber daya Uranium dan Thorium serta pemantauan keselamatan radiasi dan lingkungan baik yang dilakukan dengan atau tanpa kerjasama dengan pihak lain. Kegiatan eksplorasi merupakan kegiatan bertahap yang dimulai dengan penyelidikan awal hingga tahap eksplorasi detail dan estimasi sumber daya. Indikator ini merupakan bagian dari tahapan tahunan untuk mencapai IK jumlah tonase U dan Th terkategori.

Target yang dimaksud dalam IK 1.a ini adalah didapatkannya data riset terkait lokasi dan potensi sumber daya U dan Th di Indonesia baik dalam bentuk sumber daya konvensional maupun sumber daya uranium sebagai mineral ikutan, data riset aspek geologi, geoteknik dan geohazard dalam penyiapan tapak pembangunan RDE, serta data pemantauan keselamatan radiasi dan lingkungan kegiatan eksplorasi serta pengolahan bahan galian nuklir.

Pada tahun 2018 telah tercapai 5 data riset dari target 5 data riset.

Data riset tersebut terdiri dari: (1) Satu data riset riset potensi Th di Daerah Lepas Pantai Bangka Belitung hasil kerjasama dengan P3GL- KESDM, (2) Dua Data Riset Sumber Daya Uranium yang meliputi data geologi dan geofisika dari Mamuju, Kalan, dan Mahakam Hulu, (3) Satu Data Pemantauan Geologi Teknik, Geohazard, Geohidrologi di Serpong, (4) Satu data riset hasil pemantauan pengolahan bahan galian nuklir dan proteksi radiasi. Oleh karena itu, capaian IK ini adalah sebesar 100%.

Perkembangan capaian IK 1.a. antara tahun 2018 dan perbandingan dengan tahun 2017 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Perbandingan capaian IK 1.a Tahun 2017 dan 2018.

Indikator Kinerja

Tahun 2018 Tahun 2017

Target Realisasi Capaian

Kinerja Target Realisasi Capaian Kinerja Data Riset

Eksplorasi Bahan Galian Nuklir

5 data

riset 5 data

riset 100% 5 data

riset 5 data

riset 100%

Capaian kinerja tahun 2018 sama dengan tahun 2017, yaitu sebesar 100%. Data yang dihasilkan pada tahun 2018 merupakan data yang lebih detail dibandingkan tahun 2017 serta menggunakan lebih banyak metode pengambilan data, seperti penambahan metode seismik refraksi pada kegiatan eksplorasi Uranium di Mamuju, sehingga semakin melengkapi data geologi, geofisika, dan geokimia wilayah eksplorasi PTBGN. Oleh karena itu, secara umum terdapat kenaikan kualitas data riset yang

(24)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 16

dihasilkan pada tahun 2018. Namun data tersebut masih belum dapat digunakan untuk kegiatan pemodelan geologi dan korelasi karena tidak adanya kegiatan pengeboran pada tahun 2018. Selain itu data riset eksplorasi pada tahun 2018 telah berkembang dari konsep target eksplorasi di daratan berkembang ke konsep keberadaan Thorium pada sedimen laut.

Data riset yang dihasilkan pada Tahun 2018 antara lain :

1. Data riset potensi sumber daya Thorium sebagai hasil kegiatan kerjasama dengan P3GL-KESDM.

Data riset ini menyajikan informasi keterdapatan thorium pada sedimen dasar laut di perairan pantai Muntok, Bangka Barat dan pantai Tanjung Berikat, Bangka Tengah (Gambar 9). Kegiatan ini merupakan tahap awal pengembangan eksplorasi thorium di daerah pantai dan laut karena selama ini kegiatan penelitian dan pengembangan thorium dilakukan di kawasan darat. Kegiatan ini dilaksanakan bersama P3GL- KESDM di Cirebon sebagai penyedia/pemilik sampel bor. Pengamatan kadar thorium dalam sampel core dilakukan dengan metode XRF di Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir BATAN, KNPJ.

Gambar 9. Lokasi sebaran sampel bor sedimen laut Pulau Bangka.

Hasil pengamatan dan analisis sampel bor menunjukkan bahwa keterdapatan thorium pada sedimen dasar laut di perairan sekitar Muntok Bangka Barat dan perairan sekitar Tanjung Berikat Bangka Tengah berhubungan dengan keterdapatan granit Klabat berumur Trias Akhir di Pulau Bangka. Kadar torium sedimen dasar laut di perairan sekitar Muntok dan perairan sekitar Tanjung Berikat berkisar antara 14 ppm hingga 31 ppm. Kadar tersebut secara umum relatif sama dengan kadar thorium pada aluvial sungai di seluruh daratan pulau Bangka.

U

P. Bangka

(25)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 17

Selain itu, hasil analisis butir dari mineral berat di Bangka Barat dan Bangka Tengah juga memunculkan hipotesis bahwa keterdapatan thorium di perairan Bangka Barat dan Bangka Tengah berhubungan dengan keterdapatan mineral monasit di daratan. Pengamatan dan analisis ini masih terbatas pada sampel sedimen dasar laut karena ketersediaan core yang tidak mencapai lapisan yang lebih dalam.

2. Data riset potensi sumber daya Uranium terdiri dari dua data dari lokasi yang berbeda, yaitu:

a. Potensi Sumber Daya Uranium Mamuju

Data riset potensi sumber daya Uranium di Mamuju terdiri dari 6 kegiatan yaitu:

1) Prospeksi Hulu Mamuju, skala 1:10.000

2) Pemetaan geologi di Sektor Botteng, Sub-Sektor Taludu, Skala 1:10.000

3) Pemetaan geologi di Sektor Botteng, Sub-Sektor Trans Botteng, Skala 1:10.000

4) Pemetaan geologi di Sektor Takandeang, Sub-Sektor Salumati, 1:10.000

5) Analisis struktur geologi dan penyusunan draft peta geologi Sektor Hulu Mamuju, Skala 1:10.000

6) Pengukuran Seismik Refraksi di Sektor Botteng, Kabupaten Mamuju

Kegiatan eksplorasi wilayah Mamuju tahun 2018 merupakan kegiatan dalam tahap yang lebih detail dibandingkan tahun 2017 yang menggunakan skala 1:50.000 - 1:25.000 dan belum mencakup sektor-sektor tersebut. Kegiatan tahun 2018 telah dilengkapi dengan metode seismik refraksi sebagai metode pendahuluan pemetaan bawah permukaan, namun pada beberapa sektor, metode ini kurang tepat dilakukan karena jenis batuan yang relatif homogen dan metode seismik refraksi tidak mampu untuk membedakannya. Untuk melengkapi data bawah permukaan perlu dilakukan pengeboran pada sektor-sektor yang telah dipetakan secara detail.

b. Data Riset Potensi Sumber Daya Uranium Kalan dan Long Pahangai, Kalimantan

Data Riset Potensi Sumber Daya Uranium Kalan dan Long Pahangai, Kalimantan menyajikan hasil kegiatan eksplorasi dengan metode geologi dan geofisika di kedua daerah tersebut.

Pendataan geologi dan pengukuran radiometri soil atau batuan di Kalan pada tahun 2018 dilakukan di sector Rabau dan sector Eko-Remaja (Gambar 10) untuk melengkapi hasil penyelidikan terdahulu. Hasil pengukuran radiometri kemudian diolah menjadi

(26)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 18

peta radiometri dan dilakukan uji stasistik untuk mengetahui distribusi dan probabilitas harapan data. Hasil pendataan geologi di kedua sector tersebut menunjukkan bahwa batas satuan litologi sektor Rabau dapat dikorelasikan dengan nilai radiometri batuan khususnya nilai kadar uranium, akan tetapi untuk sektor Remaja lebih rumit untuk menarik batas satuan litologinya. Kadar Uranium tertinggi terdapat di litologi meta batulanau dengan eU 96,4 ppm, kadar Thorium tertinggi pada litologi meta batulanaud engan eTh 22,8 ppm. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa data terdistribusi normal pada data K dan Th sedangkan data U menunjukkan distribusi tidak normal. Probabilitas harapan K, U, danTh adalah 2,42%, 16,71%, dan 18,79%.

Gambar 10. Lokasi Kegiatan Geologi dan Radiometri Kalan.

Pendataan geologi dan pengukuran radiometri soil atau batuan di Desa Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai (Gambar 11) menunjukkan adanya pengkayaan mineral atau mineralisasi di bagian selatan dan baratdaya daerah penelitian. Adanya intrusi mikrodiorit di daerah tersebut diduga menyebabkan peningkatan kadar uranium, torium, kalium, serta beberapa mineral bijih lain seperti emas dan logam tanah jarang (LTJ).

(27)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 19

Gambar 11. Lokasi pendataan geologi dan pengukuran radiometri soil atau batuan di Desa Long Tuyoq.

Pengukuran laju dosis di daerah penelitian berkisar 5,5–147,6 nSv/jam dengan anomali 83,8 nSv/jam. Kadar kalium berkisar antara 0–4,1% dengan nilai anomali 2,1%. Kadar Eu berkisar antara 0–8 ppm Eu dengan anomali kadar sebesar 2,7 ppm Eu. Kadar eTh berkisar antara 0–29,3 ppm eTh dengan anomali sebesar 13 ppm eTh.

Mineralisasi uranium dan torium yang dimungkinkan bersamaan dengan akumulasi LTJ ditemukan pada area kontak antara metabatulanau dengan mikrodiorit yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan kadar Eu, eTh, dan K. Daerah ini belum cukup prospek untuk dikembangkan sebagai deposit uranium dan thorium karena nilai kadarnya yang rendah. Akan tetapi untuk keterdapatan mineral lain seperti LTJ dan emas sekunder daerah ini cukup menarik untuk ditindaklanjuti.

3. Data riset hasil pemantauan geologi teknik, geoharzard, dan hidrogeologi.

Data pemantauan Geologi Teknik, Geohazard, Geohidrologi di Serpong diperoleh melalui kegiatan pengambilan data lapangan seismik refraksi, pengukuran geolistrik tahanan jenis, dan pengukuran muka air tanah secara rutin. Kegiatan pengukuran seismik refraksi dilakukan dengan alat seismik refraksi DAQ LINK-III pada 3 lintasan pengukuran di area Serpong dengan spasi antar geopon 3 dan 5 meter. Pengambilan data tahanan jenis dilakukan dengan menggunakan alat ukur resistivitymeter multichannel MAE

(28)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 20

X612EM+. Pengukuran dilakukan dengan sistem per lintasan/ secara 2-D menggunakan 48 channel. Jumlah elektroda yang digunakan adalah 48 buah dengan interval jarak pemasangan antar elektroda 5 m. Konfigurasi pengukuran yang digunakan adalah Wenner- Schlumberger. Jumlah lintasan pengukuran adalah 4 lintasan yang terbagi menjadi 3 lintasan arah Utara-Selatan dan 1 lintasan arah Barat-Timur. Pengukuran dilakukan selama 6 jam yang meliputi 2 jam untuk persiapan bentang kabel dan koneksi dan 3-4 jam pengukuran harga tahanan jenis semu. Pengukuran muka airtanah dilakukan secara menerus setiap minggu, dimulai dari triwulan 2.

Selain itu dilakukan kegiatan pemeliharaan kepala bor (well head) untuk memastikan tidak terjadi kesalahan pengukuran akibat berubahnya ketinggian pipa diatas permukaan tanah. Hasil pengukuran muka air tanah menunjukkan variasi maksimal di DH-20 dengan perubahan sebesar 3.06 m. Perubahan kedalaman tersebut mulai terjadi pada bulan Juli 2018. Hasil pengukuran pada tahun 2018 menunjukkan kecenderungan data yang sama dengan tahun 2017.

Pada tahun 2018, terdapat pengurangan anggaran pelaksanaan riset untuk Pemantauan Geologi Teknik, Geohazard dan Geohidrologi lokasi tapak RDE Serpong dalam rangka mendukung data keselamatan tapak dan Riset Potensi Sumberdaya Th, sehingga dilakukan perubahan antara perencanaan awal dan pelaksanaan kegiatan. Rencana pengeboran sesuai rekomendasi BAPETEN tidak dapat dilaksanakan sehingga digantikan dengan pengukuran geofisika, geolistrik, dan seismik refraksi untuk membantu korelasi antar lubang bor.

4. Data riset hasil pemantauan pengolahan bahan galian nuklir dan proteksi radiasi.

Hasil Pemantauan dan Proteksi Radiasi di PTBGN menunjukkan nilai dosis tertinggi 2,56 mSv. Nilai tersebut masih berada di bawah Nilai Batas Dosis (NBD) berdasarkan Perka BAPETEN No 4 Tahun 2013 Pasal 14. Nilai Paparan Radiasi Lingkungan sebesar 0,85 µSv, berada dibawah laju dosis yang ditetapkan pada Perka BAPETEN No 4 Tahun 2013 Pasal 14 yaitu sebesar 10 µSv/jam, Kualitas air sungai di sekitar kegiatan eksplorasi Kalan berada di bawah Baku Mutu (BM) yang mengacu pada PP No.82 Tahun 2001. Pada tahun 2018, kegiatan Medical Check Up/ Pemantauan Kesehatan Pegawai terlaksana 100 %, Budaya Keselamatan melalui Penilaian Kaji Diri memperoleh nilai B (768,42), dan tidak ada kehilangan jam kerja akibat kecelakaan yang atinya Zero Accidenty. Dengan demikian keamanan dan keselamatan baik pekerja maupun lingkungan aman terkendali. Kegiatan sarana prasarana Kalan saat ini didukung oleh Mikrohidro dengan kapasitas 2x5 kW.

(29)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 21

Tabel 4. Perbandingan Realisasi IK 1.a terhadap Target Jangka Menengah.

Indikator Kinerja

Target Tahun

Realisasi s/d tahun

2018

Persentase Realisasi 2018

dibandingkan target 2019 2015 2016 2017 2018 2019

Data Riset Eksplorasi Bahan Galian Nuklir

9 data riset

9 data riset

5 data riset

5 data riset

5 data riset

28 data

riset 84,8 %

Hasil perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun 2018 dengan target jangka menengah menunjukkan bahwa capaian IK 1.a ini telah sesuai dengan target jangka menengah Renstra 2015-2019.

Hingga tahun 2018, PTBGN telah menghasilkan data riset eksplorasi bahan galian nuklir sebanyak 28 data sehingga jika dibandingkan dengan target realisasi taun 2019, telah tercapai 84,8% dari target Renstra.

Berdasarkan hasil ini, PTBGN akan melakukan upaya-upaya perbaikan di periode mendatang, antara lain:

1. Melakukan evaluasi daerah-daerah potensial berdasarkan data sekunder dan hasil eksplorasi yang pernah dilakukan, khususnya untuk wilayah Kalan.

2. Memperluas kerjasama eskplorasi dengan pihak lain yang melaksanakan kegiatan eksplorasi mineral dan batubara pada daerah yang berpotensi mengandung uranium dan thorium, seperti BUMN dan instansi pemerintah lainnya.

3. Mengusulkan pelaksanaan pemboran guna meningkatkan sumberdaya uranium dan thorium terkategori.

4. Melakukan peremajaan alat untuk pemantauan pengolahan bahan galian nuklir dan proteksi radiasi.

Jumlah tonase potensi sumber daya Uranium kategori tereka (IK 1.b)

IK 1.b. Yang dimaksud dalam Indikator Kinerja ini adalah mengetahui dan menginventarisasi potensi serta mendapatkan gambaran jumlah tonase potensi sumber daya U di Indonesia baik dalam bentuk sumber daya konvensional maupun sumber daya uranium sebagai mineral ikutan, dengan target setiap tahun sebesar 1.000 ton.

(30)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 22

Realisasi IK 1.b – Jumlah potensi sumberdaya uranium yang diperoleh pada tahun 2018 adalah sebesar 1022 ton kategori tereka dari target 1000 ton kategori tereka. Oleh karena itu, capaian IK 1.b pada tahun 2018 adalah 102,2 %.. Nilai potensi sumberdaya uranium tersebut diperoleh dari perhitungan data pemboran dari sub sektor Rantai Dunia dan Salumati Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat dan Daerah Sibolga Sumatera Utara. Pada tahun 2018, PTBGN tidak memiliki anggaran untuk kegiatan pengeboran sehingga perhitungan potensi sumber daya Uranium memanfaatkan data bor tahun-tahun sebelumnya dari daerah Mamuju, Sulawesi Barat (tahun 2015) dan Sibolga, Sumatera Utara (tahun 1990-an).

Secara rinci, perkembangan capaian IK 1.b dari tahun 2017 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Perbandingan Capaian IK 1.b Tahun 2018 dan 2017.

Indikator Kinerja

Tahun 2018 Tahun 2017

Target Realisasi Capaian

Kinerja Target Realisasi Capaian Kinerja Jumlah tonase

potensi sumber daya Uranium kategori tereka (IK 1.b)

1000

ton 1022 ton 102,2% 1000

ton 431 ton 43,1%

Pada tahun 2018 terjadi perubahan Indikator Kinerja untuk jumlah tonase potensi sumber daya Uranium. Pada tahun 2017 jumlah tonase Uranium yang dimaksud dalam Indikator Kinerja merupakan jumlah tonase sumberdaya terkategori yang di dalamnya dapat mencakup sumberdaya spekulatif dan tereka, sementara Indikator Kinerja pada tahun 2018 telah spesifik menyebutkan kategori tereka, sehingga secara umum hasil realisasi tidak dapat secara langsung dibandingkan. Estimasi sumber daya Uranium pada tahun 2017 dan 2018 sama-sama dilakukan dengan menggunakan data pengeboran lama namun meskipun sama- sama menggunakan data yang telah lama, jumlah tonase yang diperoleh pada estimasi sumber daya tahun 2018 seluruhnya telah dapat memenuhi kategori tereka. Secara umum, jika dibandingkan dengan keseluruhan capaian pada tahun 2017, capaian kinerja IK 1.b mengalami peningkatan sebesar 59,1 %.

(31)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 23

Tabel 6. Perbandingan Realisasi IK 1.b terhadap Target Jangka Menengah.

Indikator Kinerja

Target Tahun (Data Riset) Realisasi s/d tahun

2019

Persentase Realisasi

2018 dibandingkan

target 2019 2015 2016 2017 2018 2019

Jumlah tonase potensi sumber daya Uranium kategori tereka (IK 1.b)

1000

ton 1000

ton 1000

ton 1000

ton 1000 ton

5560 ton (4107 kategori spekulatif,

1453 ton kategori

tereka)

111.2 %

Berdasarkan table diatas, dapat disimpulkan bahwa persentasi realisasi IK 1.b terhadap target Renstra 2019 telah mencapai 111.2%

dengan jumlah tonase potensi sumberdaya Uranium sebesar 5560 ton.

Namun dari keseluruhan capaian tersebut, baru sebanyak 1453 ton potensi sumberdaya Uranium yang termasuk dalam kategori tereka sehingga masih perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan di periode mendatang. Diharapkan pada tahun 2019, dilaksanakan kegiatan pemboran sehingga jumlah potensi sumberdaya tereka didapatkan dari estimasi data pada tahun berjalan.

Berdasarkan hasil tersebut, PTBGN akan melakukan upaya-upaya perbaikan sebagai berikut:

a. Melakukan pemboran dengan perbandingan yang lebih rapat untuk mendapatkan data data yang bisa mewakili untuk mendapatkan ke tingkat kategori yg lebih tinggi.

b. Mencari mitra yang bisa melakukan kerjasama eksplorasi pada daerah potensial uranium.

c. Melaksanakan survey lapangan lebih awal sehingga penghitungan sumberdaya dapat segera diketahui.

d. Mencari daerah-daerah baru yang lebih potensial.

Jumlah tonase potensi sumber daya Thorium kategori tereka (IK 1.c)

IK 1.c. Yang dimaksud dalam Indikator Kinerja ini adalah mengetahui dan menginventarisasi potensi serta mendapatkan gambaran jumlah tonase potensi sumber daya Th di Indonesia baik dalam bentuk sumber daya konvensional maupun sumber daya thorium sebagai mineral ikutan, dengan target setiap tahun sebesar 500 ton.

Realisasi IK 1.c. – Jumlah potensi sumberdaya Thorium yang diperoleh pada tahun 2018 adalah sebesar 506 ton kate gori tereka dari target 500 ton kategori tereka. Oleh karena itu, capaian IK 1.c pada tahun 2018 adalah 101,2%. Nilai potensi sumberdaya thorium tersebut

(32)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 24

diperoleh dari perhitungan data pemboran dari sub sektor Rantai Dunia, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pada tahun 2018, PTBGN tidak memiliki anggaran untuk kegiatan pengeboran pada tahun 2018 sehingga perhitungan potensi sumber daya thorium memanfaatkan data bor tahun 2015 dari daerah Mamuju, Sulawesi Barat.

Secara rinci, perkembangan capaian IK 1.c dari tahun 2017 dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 7. Perbandingan Capaian IK 1.c Tahun 2018 dan 2017.

Indikator Kinerja

Tahun 2018 Tahun 2017

Target Realisasi Capaian

Kinerja Target Realisasi Capaian Kinerja

Jumlah tonase potensi sumber daya Thorium kategori tereka (IK 1.c)

500 ton 506 ton 101,2% 500 ton 2.752 ton 552 %

Pada tahun 2017 jumlah tonase Thorium yang dimaksud dalam Indikator Kinerja merupakan jumlah tonase sumberdaya terkategori yang di dalamnya dapat mencakup sumberdaya spekulatif dan tereka, sementara Indikator Kinerja pada tahun 2018 telah spesifik menyebutkan kategori tereka, sehingga secara umum hasil realisasi tidak dapat secara langsung dibandingkan. Berdasarkan tabel di atas, jika dilakukan perbandingan secara umum, maka capaian kinerja tahun 2018 (101.2%) lebih rendah dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2017(572%), hal ini disebabkan kegiatan evaluasi sumber daya thorium dilakukan mengggunakan data lama tanpa ada data pemboran baru. Estimasi sumber daya thorium pada tahun 2017 dan 2018 sama-sama dilakukan dengan menggunakan data pengeboran lama namun meskipun menggunakan data yang telah lama, keseluruhan jumlah tonase yang dihasilkan pada perhitungan tahun 2018 telah dapat memenuhi kategori tereka.

(33)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 25

Tabel 8. Perbandingan Realisasi IK 1.c terhadap Target Jangka Menengah.

Indikator Kinerja

Target Tahun (Data Riset) Realisasi s/d tahun

2019

Persentase Realisasi

2018 dibandingkan

target 2019 2015 2016 2017 2018 2019

Jumlah tonase potensi sumber daya thorium kategori tereka (IK 1.c)

500 ton

500 ton

500 ton

500 ton

500 ton

11.678 ton (8.420 ton

kategori spekulaif dan 3.258 ton kategori

tereka)

467.12 %

Berdasarkan table diatas, dapat disimpulkan bahwa persentasi realisasi IK 1.b terhadap target Renstra 2019 telah mencapai 467.12%

dengan jumlah tonase potensi sumberdaya Thorium sebesar 11.678 ton.

Namun dari keseluruhan capaian tersebut, baru sebanyak 3.258 ton potensi sumberdaya thorium yang termasuk dalam kategori tereka sehingga masih perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan di periode mendatang.

Berdasarkan hasil ini, PTBGN akan melakukan upaya-upaya perbaikan di periode mendatang, antara lain:

a. Mengupayakan kerjasama pemboran dengan pihak lain yang melakukan eksplorasi di daerah yang berpotensi terdapat thorium.

b. Melaksanakan kegiatan lanjutan untuk meningkatkan kuantitas dan kategori sumber daya.

Jumlah publikasi ilmiah (IK 1.d)

IK 1.d yang dimaksud adalah merupakan ukuran keunggulan litbang PTBGN melalui perolehan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berkualitas oleh pelaku litbang di PTBGN, jurnal nasional terakreditasi dan prosiding baik di tingkat nasional maupun internasional.

Pada Tahun 2018 karya tulis ilmiah dipublikasikan pada jurnal internasional, jurnal nasional terakreditasi, prosiding seminar internasional, dan prosiding seminar nasional. Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN dengan nomor p-ISSN: 0854-1418 dan e-ISSN: 2503-426X, merupakan salah satu jurnal nasional terakreditasi yang telah diakreditasi ulang untuk ke dua kalinya, baik secara online dan cetak dengan nomor LIPI No.749/AU2/P2MI- LIPI/08/2016. Selain terakreditasi LIPI, Eksplorium juga telah terindeks pada beberapa lembaga pengindeks kelas sedang hingga tinggi, yaitua:

ESCI (Emerging Sources Citation Index) - Clarivate Analytics - Web of

(34)

Laporan Kinerja Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Tahun 2018 26

Science, DOAJ (Directory of Open Access Journal), Crossreff, BASE, Google Scholar, Indonesia One Search, Portal Garuda (IPI), INIS, WorldCat, dll. Naskah yang dimuat dalam jurnal ini merupakan hasil pengkajian, penelitian, dan pengembangan geologi nuklir dengan ruang lingkup: eksplorasi, geologi, pertambangan, pengolahan bahan galian nuklir, keselamatan kerja dan lingkungan serta pengembangan teknologi nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Eksplorium terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu pada bulan Mei dan November.

Realisasi IK 1.d. – Jumlah publikasi ilmiah (IK 1.d) sebanyak 24 publikasi ilmiah dari target sebelumnya 10 publikasi ilmiah, sehingga capaian kinerjanya sebesar 240%. Hasil 23 publikasi ilmiah terdiri dari: 3 publikasi pada jurnal internasional, 7 publikasi pada jurnal nasional terakreditasi, 7 prosiding seminar konferensi internasional, dan 7 prosiding seminar nasional. Hasil secara rinci disajikan pada Lampiran II.

Adapun secara rinci, perkembangan capaian IK 1.d. antara tahun 2018 dan 2017 dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Perbandingan Capaian IK 1.d Tahun 2018 dan 2017.

Indikator Kinerja

Tahun 2018 Tahun 2017

Target Realisasi Capaian

Kinerja Target Realisasi Capaian Kinerja

Jumlah Publikasi

Ilmiah

10 publikasi

24

publikasi 240% 8 publikasi

20

publikasi 237,5%

Berdasarkan Tabel 10. di atas, capaian kinerja tahun 2018 (240%) lebih tinggi dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2017 (237,5%), hal ini disebabkan karena adanya peningkatan kerja sama dengan peneliti di instansi dan perguruan tinggi sehingga dapat menghasilkan lebih banyak publikasi ilmiah nasional dan internasional.

Pada tahun 2018 terdapat 4 personil sedang melanjutkan Pendidikan, diantaranya 1 personil program doctoral, 2 personil pascasarjana, dan 1 personil D-IV guna meningkatkan kompetensi personil dalam menghasilkan karya ilmiah.

Jika dibandingkan dengan target 2019 dalam Rencana Implementasi Renstra Tahun 2015-2019, realisasi tahun 2018 disajikan pada tabel 10 berikut.

Gambar

Gambar 2. Klasifikasi SDM berdasarkan tingkat Pendidikan
Gambar 3. Klasifikasi SDM berdasarkan golongan.
Gambar 5. Struktur Organisasi Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir.
Gambar 7. Evolusi peningkatan Kebutuhan rata-rata  LTJ di Pasar dunia  2010 hingga 2035 sekitar 5.3%, (a) kebutuhan LTJ total, (b) kebutuhan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sumatera Selatan Sejahtera, Lebih Maju dan Berdaya Saing Internasional... Bappeda Provinsi

Dewan Pimpinan Pusat IKatan Mahasiswa Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah, 2009, hal 10.. pengetahuan kader pada semua sisi, sehingga kader dengan

Sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis secara parsial (uji t) jika t hitung lebih besar dari t tabel maka didapat pengaruh yang signifikan antara X1 dan

Tentunya alat ini akan sangat membantu bagi para pengusaha maupun petani dalam pengolahan daun cengkeh menjadi minyak atsiri, pengolahan yang dilakukan tidak lagi

tabel (5,455 &gt; 3,481) dan p-value = 0,020 &lt; 0,05, artinya ada perbedaan keikutsertaan responden yang diberikan penyuluhan dengan yang tidak diberikan

Mempermudah area check 4 Cari area welding check material pada lensa 4.. Pastikan pandangan part

Tingkat kelayakan dari kedua metode analisa yaitu : dari analisa daya dukung fisik menunjukkan kawasan pantai Dalegan “layak” dijadikan tempat pariwisata dengan nilai 75.2,