PENDAHULUAN Latar Belakang
Semburan lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 di luar pengeboran (Underground blowout) kegiatan eksplorasi gas di sumur Banjarpanji-1 PT. Lapindo Berantas, Sidoarjo, Jawa Timur, semakin tidak terkendali. Lumpur yang menggenang mengalir mengikuti relief area yang digenangi. Perubahan relief pada area genangan, mengakibatkan arah aliran lumpur menjadi berubah dan tidak terkontrol. Hilangnya tanggul cincin
mengakibatkan lumpur semakin tidak terkendali.
Penginderaan jauh merupakan suatu teknologi yang digunakan untuk mengamati perkembangan genangan lumpur pada area terdampak. Metode ini sangat dibutuhkan mengingat kasus yang diamati sangat rumit dan sangat beresiko, dan dengan penginderaan jauh kita dapat mengamati suatu objek tanpa berkontak langsung dengan objek tersebut. Citra adalah media SIG UNTUK PEMANTAUAN AREA TERDAMPAK LUMPUR LAPINDO
DENGAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL 2006-2010
Riko Endriyo, Dr. Ing. Ir. Teguh Hariyanto, MSc
Program Studi Teknik Geomatika, FTSP, ITS-Sukolilo, Surabaya-60111 Abstrak
Semburan lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 di luar pengeboran (underground blowout) kegiatan eksplorasi gas di sumur Banjarpanji-1 PT. Lapindo Berantas, Sidoarjo, Jawa Timur, semakin tidak terkendali. Lumpur yang menggenang mengalir mengikuti relief area yang digenangi. Perubahan relief pada area genangan, mengakibatkan arah aliran lumpur menjadi berubah dan tidak terkontrol. Hilangnya tanggul cincin mengakibatkan lumpur semakin tidak terkendali.
Penginderaan jauh adalah teknologi yang digunakan dalam penelitian ini. Citra satelit IKONOS temporal 17 Juli 2006 - 9 Februari 2010, data pengamatan pergerakan tanah temporal 2008-2010, dan data SRTM 2002 adalah media yang digunakan untuk memantau dan mengontrol sebaran lumpur.
Berdasarkan data SRTM 2002 diketahui prediksi arah aliran lumpur, mengalir ke arah titik yang memiliki elevasi 2-6 meter. Hal tersebut disebabkan karena elevasi titik semburan adalah 4 meter. Proses pengendapan yang terjadi pada area terdampak mengakibatkan berubahnya relief pada area yang digenangi. Pergerakan tanah yang terjadi karena pengendapan lumpur ditunjukkan oleh data-data pengamatan pergerakan tanah temporal 2008 – 2010. Berdasarkan analisa SIG, diprediksikan arah aliran lumpur mengalir ke arah Barat daya, Barat, Barat laut, Utara, Timur laut, dan Tenggara.
Kata kunci : Citra Satelit IKONOS, Data SRTM, Endapan Lumpur, Penginderaan Jauh, Relief, Semburan Lumpur.
yang sangat penting dalam pengamatan suatu objek dalam teknologi penginderaan jauh. Dengan parameter tertentu kita dapat melakukan analisa pada suatu citra, sehingga didapat suatu keluaran yang menggambarkan karakteristik suatu objek.
Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana memperoleh informasi tentang pengolahan citra IKONOS multitemporal, agar dapat dimanfaatkan untuk mengetahui sebaran lumpur pada area terdampak.
2. Bagaimana mengombinasikan data-data pengolahan citra dengan data kelandaian area terdampak lumpur dan data pengamatan pergerakan tanah baik secara vertikal maupun horizontal untuk mengetahui karakteristik dari aliran lumpur, sehingga dapat digunakan untuk mengontrol sebaran dari lumpur yang menggenang.
3. Bagaimana menyusun Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memberi informasi mengenai perubahan arah sebaran semburan lumpur temporal 2006-2010, yang nantinya digunakan sebagai media untuk mengetahui titik-titik rawan pada tanggul dan untuk mengetahui titik-titik atau area yang perlu penanganan lebih serius dibandingkan titik-titik yang lainnya.
Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian dilakukan dengan menggunakan citra satelit IKONOS multitemporal, yaitu citra temporal 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008,
14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Desember 2009, 9 Februari 2010. Citra IKONOS digunakan karena penelitian ini membutuhkan ketelitian tinggi. Citra IKONOS memiliki resolusi spasial 4 meter.
2. Penelitian dilakukan pada area terdampak genangan lumpur yang diamati secara temporal menggunakan citra satelit, untuk mengetahui sebaran lumpur dari waktu ke waktu.
3. Data-data pendukung yang lain berupa data kelandaian area terdampak lumpur dan data-data pengamatan pergerakan tanah baik secara horizontal maupun secara vertikal untuk mengetahui perkembangan sebaran lumpur, perubahan arah sebaran lumpur, memprediksi arah sebaran lumpur, dan mengetahui titik-titik rawan pada tanggul atau titik-titik yang perlu mendapatkan penanganan lebih serius dibandingkan titik-titik yang lainnya.
Tujuan Tugas Akhir
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberi informasi mengenai perkembangan sebaran lumpur, memberi informasi mengenai perubahan arah aliran lumpur, memberi informasi mengenai titik-titik rawan pada tanggul atau titik-titik yang perlu mendapatkan penanganan lebih serius, dibandingkan dengan titik-titik yang lainnya, berdasarkan kecendrungan arah sebaran lumpur, dan berdasarkan analisa Sistem Informasi Geografis (SIG).
Manfaat Tugas Akhir
Manfaat dari penelitian ini adalah
menggunakan hasil analisa Sistem Informasi
Geografis (SIG) sebagai media untuk
mengetahui titik-titik rawan pada area
terdampak. Informasi ini digunakan untuk melakukan antisipasi lebih dini terhadap titik-titik tersebut, sehingga dapat meminimalisir dampak yang akan terjadi.
METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada area terdampak genangan lumpur yang secara administratif terletak di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, dan secara geografis terletak antara 112°42’00’’- 112°43’30”
Bujur Timur dan antara 7°30’00”- 7°32’30”
Lintang Selatan. Batas bagian utara Kodya Surabaya, sebelah timur Selat Madura, sebelah selatan Kabupaten Pasuruhan, dan sebelah barat Kabupaten Modjokerto.
Gambar 1. Lokasi penelitian
Peralatan dan Bahan Peralatan
Perangkat keras (Hardware) : 1. Laptop ACER ASPIRE 4730Z 2. Flashdisk Kingston 4G 3. Printer HP F-380
Perangkat lunak (software) : 1. Sistem Operasi Windows XP SP3 2. ER Mapper 7.0 untuk pengolahan citra 3. Microsoft word dan Microsoft excel 2007 4. Autodesk Land Desktop 2004
5. ArcView 3.3
6. Visual Basic 6.0 untuk pembuatan SIG
Bahan
1. Citra Satelit Ikonos daerah aliran lumpur di Jawa Timur yang terdiri dari Citra Satelit Ikonos temporal 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008, 14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Desember 2009, 9 Februari 2010 (sumber : CRISP 2010).
2. Citra Satelit Ikonos daerah aliran lumpur di Jawa Timur tanggal 17 Juli 2006 yang digunakan sebagai citra referensi (sumber Teguh Hariyanto, Teknik Geomatika-ITS).
3. Data SRTM tahun 2002.
4. Peta sebaran Bubble 2006-2010.
5. Data pengamatan pergerakan tanah temporal 2008-2010, baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Metodologi Penelitian
Gambar 2. Diagram alir penelitian
Perumusan Masalah dan Penetapan Tujuan dengan Study Literatur
Pengolahan Data Spasial
Pembuatan Basis Data Data
Spasial
Data Nonspasial
Pembuatan SIG Sebaran Lumpur
Pengujian Aplikasi SIG
Kesesuaian Informasi dan Lokasi dengan Data Atribut
Analisa SIG Sebaran Lumpur
Pembuatan Laporan Ya
Tidak
Penjelasan diagram alur tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tahap Awal Identifikasi
Dalam tahapan ini yang akan dilakukan adalah perumusan masalah dan penetapan tujuan dengan studi literatur.
2. Tahap Pengumpulan Data
Tahapan ini adalah tahapan pengumpulan data yang terdiri dari data spasial dan data nonspasial. Kedua jenis data ini dibutuhkan untuk penyusunan SIG, data- data yang diambil adalah data-data yang sesuai dengan kebutuhan penyajian data, 3. Tahap Pengolahan Data
Data-data yang telah diperoleh kemudian dilakukan pengolahan data. Ada dua kegiatan dalam tahapan ini yaitu :
a. Pengolahan Data Spasial
Data-data spasial yang digunakan dan dilakukan pengolahan yaitu :
• Citra Satelit Ikonos daerah terdampak lumpur di Jawa Timur yang terdiri dari Citra Satelit Ikonos temporal 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008, 14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Desember 2009, 9 Februari 2010.
• Data SRTM tahun 2002.
• Peta sebaran Bubble 2006-2010.
• Peta sebaran titik pengamatan pergerakan tanah temporal 2008- 2010.
b. Pembuatan Basis Data
Data atribut yang digunakan dalam pembuatan basis data yaitu :
• Data luasan area peta tutupan lahan daerah terdampak lumpur hasil degitasi citra IKONOS temporal 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2
April 2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008, 14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Desember 2009, 9 Februari 2010.
• Data sebaran elevasi area hasil pengolahan data SRTM tahun 2002.
• Data koordinat sebaran titik-titik Bubble 2006-2010.
• Data koordinat dan perubahan elevasi titik-titik pengamatan pergerakan tanah temporal 2008 - 2010.
4. Tahap Akhir
Pada tahap ini dilakukan analisa Sistem Informasi Geografis (SIG) dan pembuatan laporan Tugas Akhir yang berisi dokumentasi dari pelaksanaan Tugas Akhir.
Diagram Pengolahan Data dan Analisa Diagram pengolahan data dan analisa dalam penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 1.
Penjelasan diagram alir diatas adalah : 1. Data Citra IKONOS (raw data) temporal
31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22
April 2007, 5 Januari 2008, 2 April
2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008,
14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29
Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30
September 2009, 5 Desember 2009, 9
Februari 2010 dikoreksi secara
geomatrik agar koordinat citra sama
dengan koordinat geografi. Dalam
koreksi geometrik, yang digunakan
sebagai acuan penentuan titik GCP
(Ground Control Point) adalah Citra
Ikonos tanggal 17 Juli 2006 yang telah
terkoreksi geometrik.
2. Perhitungan RMS.
Apabila nilai RMS tidak memenuhi nilai toleransi yaitu RMS ≤ 1 Pixel, maka dilakukan koreksi geometrik kembali.
Apabila memenuhi toleransi, maka citra tersebut menjadi citra yang telah terkoreksi.
3. Interpretasi visual Citra.
Langkah selanjutnya adalah Interpretasi citra secara visual. Pada tahapan ini proses pengamatan di lapangan (Groundtruth) sangat penting dilakukan untuk mendapatkan hasil interpretasi yang sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Dalam hal ini klasifikasi area berdasarkan proses interpretasi visual terbagi menjadi 14 jenis objek, yaitu :
• Lumpur
• Tanggul
• Permukiman
• Sawah
• Kebun Campur
• Semak
• Lahan Terbuka
• Kawasan Industri
• Fasilitas Umum
• Sungai
• Jalan Arteri
• Jalan Lokal
• Jalan Layang
• Jalan Kereta Api 4. Uji ketelitian
Tahapan selanjutnya adalah uji ketelitian interpretasi untuk mengetahui seberapa besar kesalahan identifikasi obyek pada citra setelah disesuaikan dengan hasil pengamatan di lapangan (Groundtruth). Uji ketelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan rumus :
Keterangan :
KI = Ketepatan Interpretasi
JKI = Jumlah Kebenaran Interpretasi JSL = Jumlah Sampel Lapangan
Ketelitian peta tutupan lahan masuk toleransi apabila ketelitian seluruh klasifikasi memiliki nilai diatas 80 % (Anderson dalam Masita, 2008). Jika hasil uji ketelitian tidak memenuhi toleransi, maka dilakukan interpretasi ulang pada citra.
5. Digitasi.
Proses selanjutnya yaitu proses digitasi citra hasil interpretasi visual. Proses digitasi ini dilakukan untuk mengubah format raster citra menjadi format vektor, sehingga dapat digunakan untuk perhitungan lebih lanjut. Proses digitasi ini dilakukan dengan menggunakan Software ArcView 3.3. Proses ini menghasilkan peta tutupan lahan temporal 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008, 14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Desember 2009, 9 Februari 2010.
6. Overlay
Tahapan selanjutnya yaitu melakukan proses Overlay antar peta tutupan lahan sehingga didapat perubahan tutupan lahan secara horizontal. Dalam hal ini pengamatan perubahan tutupan lahan difokuskan pada lumpur dan tanggul penahan lumpur.
7. Klasifikasi Lumpur/Pembagian Level Lumpur.
Pengamatan pada penelitian ini difokuskan pada lumpur dan tanggul penahan lumpur. Lumpur yang terbendung akan menghasilkan klasifikasi yang berbeda. Berdasarkan hasil
KI = JKI x 100%JSL
interpretasi citra, menurut Prasetyo (2009) lumpur terbagi menjadi 4 level, yaitu :
• Lumpur Level 1
• Lumpur Level 2
• Lumpur Level 3
• Lumpur Level 4
Keterangan : 1 = Cair
2 = Lumpur dengan konsentrasi rendah 3 = Lumpur dengan konsentrasi tinggi 4 = Kering
8. Pengumpulan data-data tambahan
Data-data tambahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
• Data elevasi (SRTM 2002)
• Data pengamatan pergerakan tanah baik secara vertikal maupun horizontal
9. Overlay data
Tahap selanjutnya adalah melakukan proses overlay data, yaitu data hasil klasifikasi lumpur, data elevasi (SRTM 2002), dan data pengamatan pergerakan tanah baik secara vertikal maupun secara horizontal.
10. Analisa
Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara data-data yang digunakan dalam penelitian ini. Jika masing-masing data yang digunakan menunjukkan indikasi yang serupa, maka tujuan dari penelitian ini telah tercapai.
11. Pembuatan SIG
Tahapan ini dilakukan untuk menghasilkan output yang lebih informatif, yang menggambarkan bagimana penelitian ini dilakukan, dan apa hasil akhir dari penelitian ini.
HASIL DAN ANALISA Hasil
Pengolahan Data Spasial Koreksi Geometrik
Koreksi geometrik citra dilakukan untuk menyesuaikan unsur geografis citra dengan suatu referensi, dalam hal ini acuan dari proses koreksi geometrik citra, yaitu citra IKONOS terkoreksi temporal 17 Juli 2006. Perlu diketahui syarat ketelitian suatu proses koreksi geometrik adalah nilai Strength of Figure (SOF ≤ 1), dan nilai RMS eror (RMS ≤ 1).
1. Strength of Figure (SOF)
Desain jaring geodetic pada setiap citra dalam penelitian ini tersusun dari 27 titik dan 61 baseline, dari keterangan tersebut maka perhitungan nilai SOF pada jaring tersebut adalah sebagai berikut :
1
2
2
3
3
4
Gambar 3. Desain jarring titik control
Jumlah titik : 27
Jumlah baseline : 61
N ukuran : baseline x 3 = 61 x 3 = 183 N parameter : titik x 3 = 27 x 3 = 81 U : N(u) – N(p) = 183 – 81 = 102 Besarnya SoF : (trace (A
T0.00008
Hasil nilai SOF yang dihasilkan pada semua citra sama dikarenakan jumlah titik dan jumlah baseline sama. Nilai semua citra memenuhi toleransi (mendekati nol), sehingga desain jaring SOF tersebut dianggap kuat (Abidin, 2000).
2. RMS Eror
Dalam melakukan koreksi geometrik pada citra terdapat syarat yang harus dipenuhi, yaitu nilai RMS Eror ≤ 1.
Digitasi Citra
Digitasi citra dilakukan berdasarkan hasil penyesuaian antara hasil interpretasi visual citra dengan hasil survei lapangan (Groundtruth). Proses digitasi dilakukan pada citra temporal 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008, 14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Des
mbar 3. Desain jarring titik control
: baseline x 3 = 61 x 3 = 183 : titik x 3 = 27 x 3 = 81
81 = 102
T
. A))
-1/ U =
yang dihasilkan pada semua citra sama dikarenakan jumlah sama. Nilai SOF semua citra memenuhi toleransi (mendekati nol), sehingga desain jaring tersebut dianggap kuat (Abidin,
Dalam melakukan koreksi geometrik pada citra terdapat syarat yang harus dipenuhi,
Digitasi citra dilakukan berdasarkan hasil penyesuaian antara hasil interpretasi visual citra dengan hasil survei lapangan ). Proses digitasi dilakukan 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008, 5 Mei 2008, 5 Desember 2008, 14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Desember
2009, 9 Februari 2010 terkoreksi.
Gambar 4. Citra IKONOS 17 Juli 2006 (Sumber : http:// www.crisp.nus.edu.sg
Gambar 5. Hasil digitasi citra IKONOS 17 Juli 2006
Uji Ketelitian
Pada tahapan ini sebagai sempel, uji ketelitian dilakukan pada peta tutupan lahan temporal 9 Februari 2010. Pada temporal tersebut terdapat hasil klasifikasi yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, yaitu :
• Objek yang terin
lumpur level 4 seharusnya terinterpretasi sebagai lumpur level 3.
2009, 9 Februari 2010, yang telah
. Citra IKONOS 17 Juli 2006 www.crisp.nus.edu.sg)
. Hasil digitasi citra IKONOS 17 Juli 2006
Pada tahapan ini sebagai sempel, uji ketelitian dilakukan pada peta tutupan lahan temporal 9 Februari 2010. Pada temporal tersebut terdapat hasil klasifikasi yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, yaitu :
Objek yang terinterpretasi sebagai
lumpur level 4 seharusnya terinterpretasi
sebagai lumpur level 3.
• Objek yang terinterpretasi sebagai lumpur level 1 seharusnya terinterpretasi sebagai lumpur level 2.
• Objek yang terinterpretasi sebagai lahan terbuka seharusnya terinterpretasi srbagai sawah.
Diketahui : JKI = 60 – 3 = 57 JSL = 60
Maka : KI =
୍ୗ
x 100 % =
ହ
x 100 % = 95 %
Dari hasil tersebut, maka hasil interpretasi memenuhi toleransi.
Klasifikasi Lumpur/Pembagian Level Lumpur
Dilakukan untuk mengetahui sebaran endapan lumpur pada area terdampak.
Pengolahan Data-data SRTM (2002) Hasil digitasi data SRTM temporal 2002 adalah sebagai berikut :
Gambar 6. Hasil pengolahan data SRTM 2002
Pengolahan Data Non-Spasial Data Perubahan Luasan Lumpur
Tabel 1. Perubahan luasan sebaran lumpur 2006 – 2010
Data Pengamatan Pergerakan Tanah 1. Kala 1 (2008) – Kala 2 (2008)
Tabel 2. Pergerakan vertikal tanah 22 April 2008 – 25 Mei 2008
NO NAMA
TITIK
AWAL AKHIR
∆H
X Y X Y
1 BM01b 688086.01 9168227 688086.04 9168227.1 -0.231 2 BMW03 688972.46 9165956.3 688972.47 9165956.3 0.012 3 BMW08 690098.51 9169071.4 690098.52 9169071.4 -0.087 4 BMW13 687841.65 9166787.6 687841.67 9166787.7 -0.041 5 TTG1304 686566.92 9162606.1 686566.55 9162606 -0.024 No Temporal
Luasan Lumpur (Ha)
Perubahan Luasan
Lumpur (Ha) Keterangan 1 17 Juli 2006 173.9270
90.5870
Luas sebaran
naik
31 Oktober
2006 264.5140
2
31 Oktober
2006 264.5140 208.2830
Luas sebaran
naik 5 Januari 2007 472.7970
3 5 Januari 2007 472.7970
127.3470
Luas sebaran
naik 22 April 2007 600.1440
4 22 April 2007 600.1440
27.2320
Luas sebaran
naik 5 Januari 2008 627.376
5 5 Januari 2008 627.376
31.9140
Luas sebaran
naik 2 April 2008 659.2900
6 2 April 2008 659.2900
1.7920
Luas sebaran
naik 5 Mei 2008 661.0820
7 5 Mei 2008 661.0820
8.4190
Luas sebaran
naik
5 Desember
2008 669.5010
8
5 Desember
2008 669.5010
-0.7000
Luas sebaran
turun
14 Februari
2009 668.8010
9
14 Februari
2009 668.8010 6.6350
Luas sebaran
naik 30 Maret 2009 675.4360
10 30 Maret 2009 675.4360
16.0050
Luas sebaran
naik 29 Juli 2009 691.4410
11 29 Juli 2009 691.4410
-1.0830
Luas sebaran
turun
29 Agustus
2009 690.3580
12
29 Agustus
2009 690.3580
3.7040
Luas sebaran
naik
30 September
2009 694.0620
13
30 September
2009 694.0620
-2.2530
Luas sebaran
turun
5 Desember
2009 691.8090
14
5 Desember
2009 691.8090 0.3760
Luas sebaran
naik 9 Februari 2010 692.1850
6 TTG1305 687353.37 9165632.4 687353.38 9165632.4 0.177 7 TTG1307 688853.71 9171609.7 688853.73 9171609.7 -0.002 8 TTG1322 689470.83 9163399.3 689470.71 9163399.2 0.317 9 VK08 691115.82 9168220 691115.81 9168219.9 0.057 10 VK09 690298.63 9167321.9 690298.77 9167322 -0.108
11 BMT01 - - 687275.83 9170381.1 -
12 BMT02 - - 687311.29 9169550.5 -
13 BMT03 - - 687447.42 9168700.9 -
2. Kala 2 (2008) – Kala 3 (2008)
Tabel 3. Pergerakan vertikal tanah 25 Mei 2008 – 3 Juli 2008
NO NAMA
TITIK
AWAL AKHIR
∆H
X Y X Y
1 BM01b 688086.04 9168227.1 - - -
2 BMW03 688972.47 9165956.3 688972.47 9165956.3 0.042 3 BMW08 690098.52 9169071.4 690098.49 9169071.5 0.321 4 BMW13 687841.67 9166787.7 687841.62 9166787.6 0.266 5 TTG1304 686566.55 9162606 686566.89 9162606.1 0.146 6 TTG1305 687353.38 9165632.4 687353.49 9165632.4 -0.142 7 TTG1307 688853.73 9171609.7 688853.75 9171609.7 0.416 8 TTG1322 689470.71 9163399.2 689470.71 9163399.2 0.008 9 VK08 691115.81 9168219.9 691115.78 9168219.9 0.145 10 VK09 690298.77 9167322 690298.63 9167321.9 0.126 11 BMT01 687275.83 9170381.1 687275.82 9170381.1 0.069 12 BMT02 687311.29 9169550.5 687311.25 9169550.5 0.098 13 BMT03 687447.42 9168700.9 687447.41 9168700.9 0.033
14 P01 - - 691275.46 9169049.1 -
15 P02 - - 690719.69 9165145.7 -
16 P03 - - 692994.13 9164609.7 -
17 P05 - - 686360.73 9168670.6 -
18 P06 - - 692980.03 9170158.6 -
19 P07 - - 690099.05 9172692.2 -
20 P08 - - 685049.52 9171061 -
3. Kala 3 (2008) – Kala 4 (2008)
Tabel 4. Pergerakan vertikal tanah 3 Juli 2008 – 30 Juli 2008
NO NAMA
TITIK
AWAL AKHIR
∆H
X Y X Y
1 BMW03 688972.47 9165956.3 - - -
2 BMW08 690098.49 9169071.5 - - -
3 BMW13 687841.62 9166787.6 - - -
4 TTG1304 686566.89 9162606.1 686566.89 9162606.1 -0.251
5 TTG1305 687353.49 9165632.4 687353.38 9165632.5 0.14
6 TTG1307 688853.75 9171609.7 - - -
7 TTG1322 689470.71 9163399.2 - - -
8 VK08 691115.78 9168219.9 - - -
9 VK09 690298.63 9167321.9 - - -
10 BMT01 687275.82 9170381.1 687275.81 9170381.1 -0.291
11 BMT02 687311.25 9169550.5 - - -
12 BMT03 687447.41 9168700.9 - - -
13 P01 691275.46 9169049.1 691275.61 9169049.1 0.05 14 P02 690719.69 9165145.7 690719.78 9165145.7 0.025 15 P03 692994.13 9164609.7 692994.06 9164609.8 -0.526 16 P05 686360.73 9168670.6 686360.74 9168670.6 -0.032 17 P06 692980.03 9170158.6 692980.05 9170158.6 -0.057 18 P07 690099.05 9172692.2 690099.04 9172692.2 -0.039 19 P08 685049.52 9171061 685049.42 9171061 -0.295
4. Kala 4 (2008) – Kala 5 (2008)
Tabel 5. Pergerakan vertikal tanah 30 Juli 2008 – 7 September 2008
NO NAMA
TITIK
AWAL AKHIR
∆H
X Y X Y
1 TTG1304 686566.89 9162606.1 686566.9 9162606.1 0.269 2 TTG1305 687353.38 9165632.5 687353.38 9165632.5 0.026 3 BMT01 687275.81 9170381.1 687275.85 9170381.1 0.327 4 P01 691275.61 9169049.1 691275.6 9169049.1 -0.048 5 P02 690719.78 9165145.7 690719.78 9165145.7 0.066 6 P03 692994.06 9164609.8 692994.07 9164609.8 0.333 7 P05 686360.74 9168670.6 686360.73 9168670.6 -0.013 8 P06 692980.05 9170158.6 692980.04 9170158.6 -0.035 9 P07 690099.04 9172692.2 690099.05 9172692.2 1.421 10 P08 685049.42 9171061 685049.52 9171061 0.228
5. Kala 5 (2008) – Kala 1 (2009) Tabel 6. Pergerakan vertikal tanah 7 September 2009 – 5 September 2009
NO NAMA
TITIK
AWAL AKHIR
∆H
X Y X Y
1 BMW08 - - 690098.4599 9169071.306 -
2 BMW13 - - 687841.7015 9166787.765 -
3 TTG1304 686566.9 9162606.1 686566.8894 9162606.096 0.269 4 TTG1305 687353.38 9165632.5 687353.359 9165632.483 0.026
5 TTG1307 - - 688853.7052 9171609.693 -
6 TTG1322 - - 689470.7104 9163399.271 -
7 BMT01 687275.85 9170381.1 - - -
8 P01 691275.6 9169049.1 -
9 P02 690719.78 9165145.7 -
10 P03 692994.07 9164609.8 -
11 P05 686360.73 9168670.6 -
12 P06 692980.04 9170158.6 -
13 P07 690099.05 9172692.2 -
14 P08 685049.52 9171061 -
15 DG04 - - 688116.8703
16 VK08 - - 691115.9487
17 VK09 - - 690298.6136
6. Kala 1 (2009) – Kala 2 (2009)
Tabel 7. Pergerakan vertikal tanah 5 September 2008 – 5 Oktober 2008
NO NAMA
TITIK
AWAL AKHIR
X Y X
1 BMW08 690098.4599 9169071.306 690098.644 2 BMW13 687841.7015 9166787.765 687841.419 3 TTG1304 686566.8894 9162606.096 686566.898 4 TTG1305 687353.359 9165632.483 687353.39 5 TTG1307 688853.7052 9171609.693 688853.701 6 TTG1322 689470.7104 9163399.271 689470.721 7 DG04 688116.8703 9168211.875 688116.919 8 VK08 691115.9487 9168219.912 691115.585 9 VK09 690298.6136 9167321.998 690298.618
7. Kala 2 (2009) – Kala 3 (2009)
Tabel 8. Pergerakan vertikal tanah 5 Oktober 2008 – 8 Nopember 2008
NO NAMA
TITIK
AWAL AKHIR
X Y X
1 BMW08 690098.4599 9169071.306 690098.332 2 BMW13 687841.7015 9166787.765 687841.716 3 TTG1304 686566.8894 9162606.096 686567.717 4 TTG1305 687353.359 9165632.483 687353.393 5 TTG1307 688853.7052 9171609.693 688853.71 6 TTG1322 689470.7104 9163399.271 689470.711 7 DG04 688116.8703 9168211.875 688116.969 8 VK08 691115.9487 9168219.912 691115.842 9 VK09 690298.6136 9167321.998 690298.628
8. Kala 3 (2009) – Kala 1 (2010) Tabel 9. Pergerakan vertikal tanah 8
Nopember 2008 – 9 Februari 2010
- -
- -
- -
- -
- -
- -
- -
9168211.875 - 9168219.912 - 9167321.998 -
Kala 2 (2009) . Pergerakan vertikal tanah 5
5 Oktober 2008
AKHIR
∆H Y
690098.644 9169071.316 0.0573 687841.419 9166787.755
- 0.0462 686566.898 9162606.1
- 0.0356 687353.39 9165632.442 0.017 688853.701 9171609.682
- 0.0041 689470.721 9163399.26 0.0135 688116.919 9168211.856 0.0579 691115.585 9168219.804
- 0.6322 690298.618 9167322.016 0.0004
Kala 3 (2009) . Pergerakan vertikal tanah 5
8 Nopember 2008
AKHIR
∆H Y
690098.332 9169071.278 -0.023 .716 9166787.778 0.125 686567.717 9162605.957 -4.199 687353.393 9165632.504 0.087
688853.71 9171609.683 -0.02 711 9163399.229 0.016 688116.969 9168211.842 0.098 691115.842 9168219.939 -0.012 690298.628 9167322.043 -0.027
Kala 1 (2010) an vertikal tanah 8
9 Februari 2010
NO NAMA
TITIK
AWAL X
1 BMW08 690098.332 9169071.278 2 BMW13 687841.716 9166787.778 3 TTG1304 686567.717 9162605.957 4 TTG1305 687353.393 9165632.504 5 TTG1307 688853.71 9171609.683 6 TTG1322 689470.711 9163399.229 7 DG04 688116.969 9168211.842 8 VK08 691115.842 9168219.939 9 VK09 690298.628 9167322.043 10 BMPU
288 -
11 TB89 -
Analisa
Prediksi Awal Sebaran Lumpur Prediksi awal
didasarkan pada pengolahan data SRTM 2002 (Datum WGS’84). Dari data tersebut diketahui bahwa titik semburan atau kawah semburan memiliki elevasi yaitu 4 meter, sedangkan elevasi pada titik
adalah sebagai berikut :
• Bagian Utara (2 mete
• Bagian Barat laut (4 meter
• Bagian Barat (4 meter
• Bagian Barat daya (4 meter
• Bagian Selatan (4 meter
• Bagian Tenggara (2 meter
• Bagian Timur (3 meter
• Bagian Timur laut (2 meter
Berdasarkan data tersebut maka diketahui arah awal sebaran lumpur, yaitu :
Gambar 7. Prediksi awal arah aliran lumpur
AKHIR
∆H
Y X Y
9169071.278 690098.459 9169071.329 -0.051 9166787.778 687841.753 9166787.803 -0.059
9162605.957 - - -
9165632.504 687353.52 9165632.456 -0.099 9171609.683 688853.686 9171609.639 0.066 9163399.229 689470.756 9163399.286 0.074 9168211.842 688117.096 9168211.776 -0.503 9168219.939 691115.815 9168219.926 0.661 9167322.043 690298.608 9167322.003 0.098 - 686566.892 9162606.124 - - 688852.148 9171613.905 -
Prediksi Awal Sebaran Lumpur
Prediksi awal sebaran lumpur pengolahan data SRTM 2002 (Datum WGS’84). Dari data tersebut diketahui bahwa titik semburan atau kawah memiliki elevasi yaitu 4 meter, pada titik-titik yang lain, sebagai berikut :
Bagian Utara (2 meter – 6 meter) Bagian Barat laut (4 meter – 7 meter) Bagian Barat (4 meter – 8 meter) Bagian Barat daya (4 meter – 11 meter) Bagian Selatan (4 meter – 9 meter) Bagian Tenggara (2 meter – 5 meter) Bagian Timur (3 meter – 9 meter) Bagian Timur laut (2 meter – 6 meter) Berdasarkan data tersebut maka diketahui arah awal sebaran lumpur, yaitu :
Gambar 7. Prediksi awal arah aliran lumpur
Pengaruh Pengendapan Lumpur Terhadap Arah Aliran Lumpur
Endapan lumpur yang terjadi pada area terdampak mengakibatkan adanya perubahan relief pada area yang digenangi.
Hal tersebut ditunjukkan oleh adanya pergerakan tanah baik secara vertikal maupun horizontal diluar area terdampak lumpur.
Gambar 8. Hasil pengamatan pergerakan tanah
Prediksi Arah Aliran Lumpur
Berikut adalah prediksi arah aliran lumpur berdasarkan perubahan relief pada area terdampak lumpur :
Gambar 9. Prediksi arah sebaran lumpur berdasarkan perubahan relief area
genangan lumpur
Penentuan Daerah Rawan Terdampak Berdasarkan prediksi arah aliran lumpur, maka dapat ditentukan daerah yang di prediksi rawan terdampak genangan lumpur.
Gambar 4.54. Titik rawan terdampak pada tanggul
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Data citra yang digunakan adalah citra IKONOS temporal 17 Juli 2006, 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008, 5 Mei
Pergerakan Tanah disertaikenaikan elevasi
Pergerakan Tanah disertai penurunan elevasi
Rawan Terdampak
2008, 5 Desember 2008, 14 Februari 2009, 30 Maret 2009, 29 Juli 2009, 29 Agustus 2009, 30 September 2009, 5 Desember 2009, dan 9 Februari 2009.
Berdasarkan proses interpretasi visual pada citra dan perbandingan kondisi sebenarnya di lapangan, maka didaptkan 14 kelas objek hasil klasifikasi, yaitu lumpur, permukiman, fasilitas umum, kawasan industri, jalan lokal, jalan arteri, jalan layang, jalan KA, sungai, semak, sawah, kebun campur dan lahan terbuka.
2. Karena aktivitas pembendungan lumpur, pada temporal 2008 – 2010 terdapat endapan lumpur yang tersebar pada area terdampak lumpur. Sebaran dari endapan tersebut diinterpretasikan menjadi 4 kelas objek, yaitu lumpur level 1, lumpur level 2, lumpur level 3, dan lumpur level 4.
3. Data SRTM 2002 (Datum WGS’84), digunakan untuk mengetahui elevasi dari area yang dikaji. Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa elevasi titik semburan adalah 4 meter.
4. Aliran lumpur mengalir mengikuti relief dari area genangan lumpur.
Berdasarkan data SRTM 2002 (Datum WGS’84), diketahui bahwa lumpur mengalir pada area yang memiliki elevasi 2–6 meter, yaitu arah Utara, Timur laut, dan Tenggara.
5. Berdasarkan pengolahan citra IKONOS multitemporal 2006-2010, didapatkan perluasan sebaran lumpur per-tahunnya. Luasan yang didapatkan yaitu pada temporal 17 Juli 2006 adalah 173.9270 Ha, 31 Oktober 2006 adalah 264.5140 Ha, 5 Januari 2007 adalah 472.7970 Ha, 22 April 2007 adalah 600.1440 Ha, 5 Januari 2008 adalah 627.376 Ha, 2 April 2008 adalah 659.2900 Ha, 5 Mei 2008 adalah 661.0820 Ha, 5 Desember 2008 adalah
669.5010 Ha, 14 Februari 2009 adalah 668.8010 Ha, 30 Maret 2009 adalah 675.4360 Ha, 29 Juli 2009 adalah 691.4410, 29 Agustus 2009 adalah 690.3580, 30 September 2009 adalah 694.0620 Ha, 5 Desember 2009 adalah 691.8090 Ha, dan 9 Februari 2010 adalah 692.1850 Ha.
6. Proses pengendapan lumpur menyebabkan adanya perubahan relief dari area terdampak lumpur. Hal tersebut mengakibatkan pola aliran lumpur berubah. Pengaruh endapan pada perubahan relief ditunjukkan adanya pergerakan tanah secara vertikal di luar area terdampak lumpur.
7. Berdasarkan analisa SIG mengenai perubahan relief area terdampak lumpur, diprediksikan lumpur akan mengalir ke arah Barat daya, Barat, Barat laut, Utara, Timur laut, dan ke arah Tenggara tanggul penahan lumpur.
Saran
Dari hasil penelitian tersebut dibuatlah suatu usulan atau saran sebagai berikut : 1. Pengamatan serupa untuk menghasilkan
data-data seperti data-data yang digunakan pada penelitian ini harus terus dilakukan agar kita selalu mendapat informasi terbaru dari setiap aktivitas semburan.
2. Harus ada pemantauan lebih serius pada bagian Barat daya, Barat, Barat laut, Utara, Timur laut, dan bagian Tenggara tanggul. Karena titik-titik tersebut merupakan titik prediksi arah aliran lumpur.
3. Pemantauan secara berkala pada daerah
yang diprediksikan terancam genangan
lumpur harus selalu dilakukan, agar dapat
dilakukan penanganan lebih dini mengenai dampak yang akan terjadi.
4. Mengingat jumlah semburan yang tidak sebanding dengan pembuangan lumpur ke kali porong, maka perlu dilakukan penambahan alat berat untuk mengalirkan lumpur ke kali porong, contohnya penambahan kapal keruk, dan penambahan eksavator untuk membuat aliran lumpur menuju titik pembuangan.
5. Perlu adanya pemantauan secara berkelanjutan mengenai sebaran Bubble baik di luar area terdampak maupun pada area terdampak, agar dapat dilakukan antisipasi lebih dini mengenai dampak dari semburan lumpur tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Agustia, S.M., 2009. Pemanfaatan Data Citra Multitemporal Untuk Prediksi Arah Sebaran Lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo. Teknik Geomatika-ITS, Surabaya.
Bernhardsen,T. 2001. Geogrphic Information System : an Introduction, Third Edition. ISBN 0-47968-0, Canada.
Demers, M.N. 1997. Fundamentals of Geographic Information System. John Wileys & Sons, Inc. New York.
Elly, J.M. 2009. Sistem Informasi Geografi Menggunakan Aplikasi ArcView 3.2 dan ER Mapper 6.4. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Khomsin. 2004. Pemetaan Digital.
Geomatika – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
Kustiyo, 2005. Analisa Ketelitian Ketinggian Data DEM SRTM, Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV, Teknik Geodesi- ITS, Surabaya.
Kusumowidagdo, M., Sanjoto, B.T., Banowati, E. Setyowati, L.D. 2007.
Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. LAPAN dan Universitas Negeri Semarang.
Lillesand T.M., and Kiefer R.W. 1994.
Remote Sensing and Image Interpretation. Second Edition, John Wiley & Sons, New York.
Murai, S. 1999. GIS Work Book. Institute of Industrial science, University of Tokyo, 7-22-1 Roppongi, Minatoku, Tokyo.
Prahasta, E. 2008. Remote Sensing, Praktis Penginderaan Jauh dan Pengolahan Citra Dijital dengan Perangkat Lunak ER Mapper . Informatika, Bandung.
Prahasta, E. 2003. Sistem Informasi Geografis : ArcView Lanjut.
Informatika, Bandung.
Prahasta, E. 2001. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis.
Informatika, Bandung.
Prasetyo, H. 2009. penafsiran dan analisis cepat (quick interpretation and analysis) citra satelit crisp diambil pada 7 juni dan dipublikasi 10 juni 2009,
<URL:http://www.bpls.go.id/files/Kaj ian_teknik/analisa_citra_7Juni09.pdf
> .Dikunjungi pada tanggal 20 April 2010, jam 20.00.
Purwadhi, H.S. 2001. Interpretasi Citra Digital. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Saraswati, D, 2005. Studi Tanah Oloran di Wilayah Pesisir Kabupaten Sidoarjo dengan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh Metode Multitemporal dan Multidata, Teknik Geodesi-ITS, Surabaya.
Subagio. 2002. Pengetahuan Peta. Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.
Susilowati, D, 1999. Analisa Dampak
Perubahan Penggunaan Lahan
Terhadap Tingkat Pencemaran di
Wilayah Kali Surabaya dengan
Menggunakan Metode Penginderaan
Jauh dan SIG , Pasca Sarjana Teknik
Sipil, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya.
Yuswanto., dan Subari. 2008. Panduan Lengkap Pemrograman Visual Basic 6.0. Cerdas Pustaka Publisher.
Jakarta.
Yuwono. 2001. Kartografi Dasar.
Geomatika – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
,Index Citra IKONOS (Mudflow),
<URL:
http://www.crisp.nus.edu.sg/coverages/
mudflow/index.html>. Dikunjungi pada tanggal 20 April 2010, jam 10.00.
,Penanganan Buble, Perinsip
Sederhana Penanganan
Buble,<URL:http://bpls.go.id/index.ph p?option=com_content&view=article
&id=67:penangananbubble&catid=55:
deformasi-geologi>. Dikunjungi pada tanggal 20 April 2010, jam 20.00.
,Peta Geohazard, <URL:
http://bpls.go.id/index.php?option=co m_content&view=article&id=122>.
Dikunjungi pada tanggal 1 Mei 2010, jam 11.00.
,Rencana Strategis BPLS (2010),
<URL: http://www.bpls.go.id/renstra>.
Dikunjungi pada tanggal 2 Mei 2010, jam 10.00.
,2008. Shuttle Radar Topography Mission (SRTM),
<http://beniraharjo.wordpress.com/200
8/07/30/shuttle-radar-topography-
mission-srtm/>. Dikunjungi pada
tanggal 2 Mei 2010, jam 14.00.
Lampiran 1 : Diagram Pengolahan Dat dan Analisa
Citra Satelit IKONOS 2006 - 2010
Koreksi Geometrik
RMS = 1 pixel
Citra Terkoreksi
Interpretasi Visual Citra Ground truth
Peta Tutupan Lahan Hasil Interpretasi Citra
Digitasi
Overlay Antar Peta Tutupan Lahan
Peta Perubahan Tutupan Lahan (Lumpur dan Tanggul)
Overlay Data Elevasi
(SRTM 2002)
Digitasi
Informasi Perkembangan Arah Sebaran Lumpur, Perubahan Arah Sebaran Lumpur, dan Informasi Area yang Terindikasi Rawan Terdampak Lumpur
Berdasarkan Kecendrungan Arah Aliran Lumpur Ya
Tidak
Klasifikasi Lumpur/
Pembagian Level Lumpur
Hasil Klasifikasi Lumpur (Lumpur Level 1, Level 2, Level 3, Level 4)
Uji Ketelitian KI = 80 %
Tidak
Ya
Analisa
Pembuatan SIG
Lampiran 1 : Diagram Pengolahan Data Lampiran 2 : Contoh SIG
Citra Referensi : Citra Satelit IKONOS Temporal 17 Juli 2006 :
Data Pengamatan Pergerakan Tanah
Perubahan Arah Sebaran dan Informasi Area yang Terindikasi Rawan Terdampak Lumpur