• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surat Edaran Dirjen Pajak, SE - 28/PJ/2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Surat Edaran Dirjen Pajak, SE - 28/PJ/2017"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

23 Oktober 2017

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 28/PJ/2017

TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2021

(2)

A. Umum

Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) adalah laporan yang berisi tentang pelaksanaan dan hasil Pemeriksaan yang disusun oleh Pemeriksa Pajak secara ringkas dan jelas serta sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan Pemeriksaan. Laporan yang ringkas dan jelas diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan yang efektif dan efisien. Laporan yang sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan diperlukan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan dan strategi pemeriksaan yang berfokus pada manajemen penyelesaian Pemeriksaan SPT Lebih Bayar Restitusi, optimalisasi Petugas Pemeriksa Pajak, pemeriksaan khusus paska Pengampunan Pajak dan pemeriksaan tematik secara nasional dan regional. Para stakeholder LHP saat ini memerlukan perbaikan untuk menunjang hasil pemeriksaan yang lebih berkualitas. Tim Pemeriksa memerlukan LHP Yang ringkas dan terhubung dengan Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) sehingga memudahkan penyusunannya. Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan (UP2) membutuhkan LHP yang mudah dipahami serta memberikan informasi yang cepat dan akurat atas hasil pemeriksaan. Account Representative dapat memanfaatkan hasil pemeriksaan dalam rangka penggalian potensi Wajib Pajak. LHP yang fokus dan jelas juga dapat digunakan pihak lain yang terkait dengan proses Keberatan dan Banding sebagai bahan pertimbangan dalam persidangan. Untuk mengakomodir pelaksanaan beberapa hal tersebut, Direktur Jenderal Pajak perlu melakukan revitalisasi pada format LHP dengan menerbitkan Surat Edaran Direktorat Jenderal tentang Pedoman Penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan.

Berdasarkan Pasal 6 dan Pasal 9 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-23/PJ/2013 tentang Standar Pemeriksaan, bentuk, isi, dan format Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) disusun dengan merujuk pada standar pelaporan hasil pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan pemeriksaan untuk tujuan lain. Dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal ini bentuk, isi, dan format LHP disusun ulang dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Bagian Umum dan bagian Pelaksanaan Pemeriksaan disusun dengan penekanan pada penguatan pemahaman atas Wajib Pajak yang diperiksa dan tertib administrasi pemeriksaan; dan

2. Bagian Hasil Pemeriksaan disusun per Surat Pemberitahuan (SPT) per jenis pajak yang diperiksa sesuai dengan ruang lingkup pemeriksaan.

Pedoman ini dibuat agar format LHP menjadi seragam. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan LHP adalah sebagai berikut:

1. LHP adalah laporan yang berisi tentang pelaksanaan dan hasil pemeriksaan yang disusun oleh Pemeriksa Pajak secara ringkas dan jelas serta sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup pemeriksaan.

2. Kegiatan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan harus dilaporkan dalam bentuk LHP yang disusun sesuai dengan standar pelaporan hasil pemeriksaan, yaitu LHP disusun secara ringkas dan jelas, memuat ruang lingkup atau pos-pos yang diperiksa sesuai dengan tujuan pemeriksaan, memuat simpulan Pemeriksa Pajak yang didukung temuan yang kuat tentang ada atau tidak adanya penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, dan memuat pula pengungkapan informasi lain yang terkait dengan pemeriksaan.

3. LHP untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan menjadi dasar pembuatan nota penghitungan dalam rangka penerbitan Surat Ketetapan Pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak.

4. Kegiatan pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilaporkan dalam bentuk LHP yang disusun sesuai dengan standar pelaporan hasil pemeriksaan, yaitu LHP disusun secara ringkas dan jelas, memuat ruang lingkup atau pos-pos yang diperiksa sesuai dengan tujuan Pemeriksaan, memuat simpulan Pemeriksa Pajak dan memuat pula pengungkapan informasi lain yang terkait.

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2021

(3)

5. LHP harus dilengkapi dengan Executive Summary, yang memuat ringkasan hasil pemeriksaan dan daftar 5 (lima) koreksi terbesar atas jenis pajak dan pos-posnya dalam Surat Pemberitahuan (SPT), yang ditujukan untuk memudahkan Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan (UP2) dalam memahami isi LHP secara cepat dan tepat. Pospos dalam SPT yang merupakan koreksi terbesar dapat berupa pos:

a. Peredaran bruto;

b. Harga Pokok Penjualan;

c. Biaya usaha lainnya;

d. Penghasilan bruto di luar usaha;

e. Biaya di luar usaha;

f. Penyesuaian fiskal;

g. Kompensasi kerugian;

h. Kredit Pajak;

i. Objek Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan;

j. Objek Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri;

k. Objek PPN lmpor/Pemanfaatan Barang Kena Pajak (BKP) Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean/Pemanfaatan Jasa Kena Pajak (JKP) dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;

l. Objek Pajak Pertambahan Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM);

m. Objek Pajak Penghasilan (PPh) Final;

n. Objek Bea Meterai; dan/atau o. Objek Pajak Lainnya.

Kelompok koreksi diisi dengan kode sebagai berikut:

a. Koreksi karena bukti diisi dengan kode 1;

b. Koreksi karena perbedaan penerapan ketentuan perpajakan diisi dengan kode 2;

c. Koreksi karena transfer pricing diisi dengan kode 3.

Pada Executive Summary ditulis tempat dan tanggal pembuatan serta ditandatangani oleh Supervisor.

6. Pedoman Penyusunan LHP yang diatur dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal ini berlaku untuk:

a. Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan pemeriksaan tujuan lain tetapi tidak termasuk pemeriksaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

b. Jenis Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor.

c. Ruang Lingkup Pemeriksaan atas satu, beberapa, atau seluruh jenis pajak, baik untuk satu atau beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak dalam tahun-tahun lalu maupun tahun berjalan.

d. Wajib Pajak Badan, Bentuk Usaha Tetap, atau Orang Pribadi.

B. Maksud dan Tujuan

1. Maksud

Surat Edaran Direktorat Jenderal ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman dalam memenuhi standar pelaporan hasil pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan standar pelaporan hasil pemeriksaan untuk tujuan lain.

2. Tujuan

Surat Edaran Direktorat Jenderal ini disusun dengan tujuan menciptakan tertib administrasi dan keseragaman dalam pelaporan hasil pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan tujuan lain secara ringkas, jelas, dan terperinci.

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2021

(4)

C. Ruang Lingkup

Surat Edaran Direktorat Jenderal ini mencakup beberapa hal sebagai berikut:

1. LHP untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan yang terdiri dari:

a. LHP untuk pemeriksaan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN):

1) LHP untuk pemeriksaan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Wajib Pajak Badan;

2) LHP untuk pemeriksaan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Wajib Pajak Orang Pribadi.

b. LHP untuk pemeriksaan data yang bersifat konkret:

1) LHP untuk pemeriksaan data konkret berupa data Harta Bersih untuk Wajib Pajak Badan;

2) LHP untuk pemeriksaan data konkret berupa data Harta Bersih untuk Wajib Pajak Orang Pribadi;

3) LHP untuk pemeriksaan data konkret selain data Harta Bersih untuk Wajib Pajak Badan;

4) LHP untuk pemeriksaan data konkret selain data Harta Bersih untuk Wajib Pajak Orang Pribadi.

c. LHP untuk pemeriksaan Wajib Pajak yang mempunyai peredaran bruto tertentu:

1) LHP untuk pemeriksaan Wajib Pajak Badan yang mempunyai peredaran bruto tertentu;

2) LHP untuk pemeriksaan Wajib Pajak Orang Pribadi yang mempunyai peredaran bruto tertentu.

d. LHP untuk pemeriksaan Wajib Pajak Orang Pribadi; dan e. LHP untuk pemeriksaan Wajib Pajak Badan.

2. LHP untuk tujuan lain;

3. Penyusunan LHP;

4. Ketentuan lain-lain; dan 5. Ketentuan peralihan.

D. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009;

2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak;

3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.03/2013 Tahun 2013 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2015 tentang Tata Cara Pemeriksaan; dan 4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-23/PJ/2013 Tahun 2013 tentang Standar Pemeriksaan.

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2021

Referensi

Dokumen terkait

(ii) Berdasarkan tindasan Surat Permintaan Pemeriksaan tersebut, maka Kantor Wilayah atasan Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Terkait menyampaikan Surat Permintaan Penerbitan

Berdasarkan tujuan Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam angka Romawi II angka 3 (tiga) sampai dengan angka 8 (delapan), Kepala Kanwil DJP atau Direktur P4 membuat

Untuk menunjang penerimaan pajak tahun anggaran 2000, ketentuan mengenai persetujuan Direktur Pemeriksaan Pajak untuk melakukan Pemeriksaan Khusus sebagaimana dimaksud dalam butir

3.2.2Permintaan untuk mengusulkan pemeriksaan khusus dapat diajukan oleh Kepala KARIKPA dalam rangka pemeriksaan lengkap terhadap Wajib Pajak berdomisili di KANWIL lainnya

Hasil Pemeriksaan dalam rangka penetapan pajak terutang harus diberitahukan secara tertulis kepada WP dengan menggunakan Surat Pemberitahuan tentang hasil pemeriksaan sesuai

Pemberitahuan perluasan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka romawi IV butir 1 huruf a dilakukan oleh Kepala UP3 yang melakukan pemeriksaan untuk tahun pajak lainnya

Dalam PIPB 1973 sebenarnya telah digariskan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pemeriksa di dalam melaksanakan pemeriksaan, seperti mengenai pelaksanaan

Dalam hal UP3 Domisili melakukan pemeriksaan khusus all taxes berdasarkan persetujuan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan karena adanya usulan dari UP3 Lokasi sebagaimana diatur