• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Bahasa Arab pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Bahasa Arab pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu"

Copied!
268
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA MAN 2 MODEL PALU

Disertasi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Doktor dalam Bidang Pendidikan dan Keguruan

pada Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Oleh

MOHAMAD IDHAN

NIM: 80100309102

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2016

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN DISERTASI

Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Mohamad Idhan

NIM : 80100309102

Tempat/Tgl. Lahir : Palu, 26 Januari 1972 Jur/Prodi/Konsentrasi : Pendidikan Dan Keguruan Program : Strata 3

Alamat : Jl. Towua No 56 A Palu

Judul : Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Bahasa Arab pada MAN 2 Model Palu

Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa disertasi ini benar adalah hasil karya penulis sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain secara keseluruhan atau sebagian, maka disertasi ini beserta gelar yang diperoleh karenanya, batal demi hukum.

Makassar, 4 Oktober 2016 Penulis,

Mohamad Idhan NIM. 80100309102

(3)
(4)

iv

KATA PENGANTAR

رلا نوحرلا الله نسب نيح

دّيس الله لوسر ىلع ملاسلاو ةلاصلا و نيولاعلا بر لله دو حلا هلآ ىلعو دوحه ان

نيعوجأ هباحصأو دعب اهأ ،

Puji syukur ke hadirat Allah swt. atas rahmat dan hidayah-Nya yang senantiasa diperuntukkan kepada hamba-hamba-Nya. Salawat dan salam kepada Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti risalahnya.

Dalam penyusunan disertasi ini yang berjudul "Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Bahasa Arab pada MAN 2 Model Palu", penulis menghadapi berbagai kesulitan karena terbatasnya kemampuan penulis. Akan tetapi, berkat bantuan dan motivasi yang dari berbagai pihak, maka penulisan disertasi ini bisa sampai terselesaikan. Oleh karena itu, penulis patut menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara moral maupun material kepada penulis, khususnya kepada:

1. Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Musafir Pababbari, M.Si., para pembantu Rektor, Prof. Dr. Mardan, M.Ag. (Wakil Rektor I), Prof. Dr. H.

Lomba Sultan, M.A. (Wakil Rektor II), Prof. St. Aisyah, M.A., Ph.D. (Wakil Rektor III), dan Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D. (Wakil Rektor IV) sebagai penentu kebijakan di Perguruan Tinggi ini, tempat penulis mengikuti studi Program Doktor.

2. Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag.

serta para staf yang senantiasa memberikan pelayanan administratif kepada penulis selama menempuh perkuliahan Program Doktor.

(5)

3. Prof. Dr. H. Achmad Abu Bakar, M. Ag., selaku Asisten Direktur I, Dr.

Kamaluddin Abunawas, M. Ag., selaku Asisten Direktur II dan Dr. Hj. Mulyati Amin, M. Ag., selaku Asisten Direktur III, yang telah menfasilitasi penulis selama menempuh pendidikan sampai penyelesaian disertasi di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

4. Prof. Dr. H. Sabaruddin Garancang, M.A., Dr. H. Salehuddin, M.Ag., dan Dr.

Muljono Damopolii, M.Ag., selaku Promotor dan Kopromotor, yang telah tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan sejak awal penulisan disertasi ini sehingga bisa penulis selesaikan dengan baik.

5. Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A., Dr. Muhammad Yaumi, M.Hum., M.A., dan Dr. Munir, M.Ag., selaku penguji yang turut memberikan bimbingan, arahan, dan saran-saran yang berharga kepada penulis sehingga disertasi ini dapat disempurnakan.

6. Para guru besar dan dosen pemandu mata kuliah pada Program Doktor UIN Alauddin Makassar yang senantiasa ikhlas mentransfer ilmu pengetahuannya kepada penulis selama ini.

7. Kepala Perpustakaan Pusat UIN Alauddin dan Pengelola Perpustakaan Unit Pascasarjana UIN Alauddin yang selama ini telah membantu penulis mengatasi kekurangan literatur dalam penyusunan disertasi ini.

8. Teman teman seperjuangan di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar serta seluruh sahabat dosen pada IAIN Palu dan para mahasiswa Program Doktor UIN Alauddin pada umumnya yang bersedia membantu dan memberikan informasi, terkhusus para informan yang telah memberikan data tentang penelitian yang digeluti penulis, dan rekan-rekan pada khususnya, tanpa terkecuali yang selama ini telah banyak membantu penulis dalam mengikuti Program Doktor.

(6)

vi

9. Kedua orang tua penulis, dengan penuh kasih sayang serta tulus ikhlas telah berupaya membesarkan, mengasuh, mendidik, dan membiayai penulis sejak kecil.

Merekalah yang mula-mula memberikan dasar pengetahuan dan moral kepada penulis. Demikian pula berkat iringan doa keduanya sehingga penulis dapat menjalani kehidupan sebagaimana sekarang ini

10. Untuk ungkapan cinta dan sayang saya sampaikan kepada isteri yang tercinta dan dua orang putra yang tersayang, semoga menjadi anak yang saleh dan cerdas.

Betapa banyak nama lain, yang tidak dapat disebut satu persatu, yang telah berjasa dan patut saya berterima kasih kepada mereka atas jasa-jasanya mereka yang tidak sempat penulis membalasnya. Oleh karena itu, semoga Allah swt. memberikan balasan yang setimpal kepada mereka dan senantiasa mendapat naungan rahmat dan hidayah-Nya. Akhirnya, penulis berharap semoga keberadaan disertasi ini dapat bermanfaat kepada segenap pihak dan menjadi amal jariah dalam pengembangan studi pendidikan, Amin.

Wassalam

Makassar, 4 Oktober 2016 Penulis,

Mohamad Idhan

(7)

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN DISERTASI ... ii

PENGESAHAN PROMOTOR/KOPROMOTOR ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... xiii

TRANSLITERASI DAN SINGKATAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 18

C. Rumusan Masalah ... 23

D. Kajian Pustaka ... 23

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 29

BAB II TINJAUAN TEORETIS... 31

A. Kompetensi Guru ... 31

1. Pengertian Kompetensi Guru ... 31

2. Jenis Kompetensi Guru ... 57

B. Pembelajaran Bahasa Arab ... 81

1. Pengertian Pembelajaran Bahasa Arab ... 81

2.Aspek-aspek Pembelajaran Bahasa Arab ... 92

C. Madrasah ... 108

1. Pengertian Madrasah ... 110

2. Pembinaan Madrasah ... 113

D. Kerangka Konseptual ... 117

BAB III METODOLOGI PENELITIAN………. .. 122

A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 123

B. Pendekatan Penelitian ... 123

(8)

viii

C. Sumber Data ... 125

D. Metode Pengumpulan Data ... 127

E. Instrumen Penelitian ... 129

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 130

G. Pengujian dan Keabsahan Data Penelitian ... 132

BAB IV ANALISIS KOMPETENSI GURU DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA MAN 2 MODEL PALU... ... 134

A. Profil MAN 2 Model Palu ... 134

B. Gambaran Realitas Kompetensi Guru Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu ... 143

C. Bentuk Penerapan Kompetensi Guru pada Pembelajaran Bahasa Arab di MAN 2 Model Palu ... 176

D. Hasil Pembelajaran Bahasa Arab sebagai Konsekuensi dari Implementasi Kompetensi Guru Bahasa Arab pada MAN 2 Model Palu ... 208

BAB V PENUTUP... 228

A. Kesimpulan ... 228

B. Implikasi Penelitian ... 230

DAFTAR PUSTAKA... . 232

LAMPIRAN-LAMPIRAN... 242

RIWAYAT HIDUP PENULIS... 287

(9)

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN A. Transliterasi Arab-Latin

Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut:

1. Konsonan Huruf

Arab

Nama Huruf Latin Nama

ا alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan

ب ba B be

ت ta T te

ث s\a S es (dengan titik di atas)

ج jim J Je

ح h}a h} ha (dengan titik di bawah)

خ kha Kh ka dan ha

د dal D de

ذ z\al z\ zet (dengan titik di atas)

ر ra R er

ز zai Z zet

س sin S es

ش syin Sy es dan ye

ص s}ad s} es (dengan titik di bawah)

ض d}ad d} de (dengan titik di bawah)

ط t}a t} te (dengan titik di bawah)

ظ z}a z} zet (dengan titik di bawah)

ع „ain „ apostrof terbalik

غ gain g ge

ؼ fa f ef

ؽ qaf q qi

ؾ kaf k ka

ؿ lam l el

ـ mim m em

ف nun n en

و wau w we

ػى ha h ha

ء hamzah ‟ apostrof

ى ya y ye

(10)

x

Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apa pun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda (‟).

2. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:

Contoh:

ََفػْيػَك : kaifa

َْوػَى

َََؿ : haula 3. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Nama Huruf Latin Nama Tanda

fath}ah a a

َ ا

kasrah i i

َ ا

d}ammah u u

َ ا

Nama Huruf Latin Nama

Tanda

fath}ah dan ya>’

ai a dan i

َْىَػ

fath}ah dan wau au a dan u

َْوَػ

Nama Harakat dan

Huruf

Huruf dan Tanda

Nama fath}ahdan alif atau

ya>’

ىَ ََ...َ|َاَ ََ...

d}ammahdan wau

وػػُػ

a>

u>

a dan garis di atas kasrah dan ya>’ i> i dan garis di atas

u dan garis di atas

ىػػػػِػ

(11)

Contoh:

ََتاَػم : ma>ta ىػَمَر : rama>

ََلػْيػِق : qi>la

َُتْوُػمػَي : yamu>tu 4. Ta>’ marbu>t}ah

Transliterasi untuk ta>’ marbu>t}ah ada dua, yaitu: ta>’ marbu>t}ah yang hidup atau mendapat harakat fath}ah, kasrah, dan d}ammah, transliterasinya adalah [t]. Sedangkan ta>’ marbu>t}ah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h].

Kalau pada kata yang berakhir dengan ta>’ marbu>t}ah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta>’

marbu>t}ah itu ditransliterasikan dengan ha (h).

Contoh:

َُةػَضْوَر

َِؿاَفْطَلأاََ : raud}ah al-at}fa>l

َُةػَنػْيِدػَمػْلَا

َُةَلػػِضاَػفػْلَاََ : al-madi>nah al-fa>d}ilah

َُةػػَمػْكػِحْػلَا : al-h}ikmah 5. Syaddah (Tasydi>d)

Syaddah atau tasydi>d yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydi>d ( ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan ـّـ huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.

Contoh:

ػَػّبَر

ََان : rabbana>

ََانػػْيَػّجػَن : najjaina>

َ قػَحػْػلَا : al-h}aqq

ََمػِػّعُػن : nu“ima

َ وُدػَع : ‘aduwwun

Jika huruf ى ber-tasydid di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah ( ّىـِــــ), maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah menjadi i>.

Contoh:

َ ىػِلػَع : „Ali> (bukan „Aliyy atau „Aly)

َ ىػِػبَرػَع : „Arabi> (bukan „Arabiyy atau „Araby)

(12)

xii 6. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan hurufَ (alif ؿا lam ma‘arifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiyah maupun huruf qamariyah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).

Contoh:

َُسػْمػَّشلَا : al-syamsu (bukan asy-syamsu)

َُةػَػلَزػْػلَّزلَا : al-zalzalah (az-zalzalah)

َُةَفػَسْلػَفػْػلَا : al-falsafah

َُدَلاػِػػبػْػلَا : al-bila>du 7. Hamzah

Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (‟) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.

Contoh:

ََفْوُرػُمْأَػت : ta’muru>na

ََّنػػلَا

َُعْوػ : al-nau‘

َ ءْيػَش : syai’un

َُتْرػِمُأ : umirtu

8. Penulisan Kata Arab yang Lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia

Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya, kata al-Qur‟an(dari al-Qur’a>n), alhamdulillah, dan munaqasyah. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka harus ditransliterasi secara utuh. Contoh:

Fi> Z{ila>l al-Qur’a>n Al-Sunnah qabl al-tadwi>n

(13)

9. Lafz} al-Jala>lah (للها)

Kata “Allah”yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mud}a>f ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.

Contoh:

َُنْػيِد

َ

َِللها di>nulla>h َِللهاِب billa>h

Adapun ta>’ marbu>t}ah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz} al- jala>lah, ditransliterasi dengan huruf [t]. Contoh:

َْمػُى

َِْفََ

َِةَمػْػػحَر

َ

َِللها hum fi> rah}matilla>h 10. Huruf Kapital

Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All Caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK, DP, CDK, dan DR). Contoh:

Wa ma> Muh}ammadun illa> rasu>l

Inna awwala baitin wud}i‘a linna>si lallaz\i> bi Bakkata muba>rakan Syahru Ramad}a>n al-laz\i> unzila fi>h al-Qur’a>n

Nas}i>r al-Di>n al-T{u>si>

Abu>> Nas}r al-Fara>bi>

Al-Gaza>li>

Al-Munqiz\ min al-D}ala>l

Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibnu (anak dari) dan Abu>

(bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi. Contoh:

(14)

xiv B. Daftar Singkatan

Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:

swt. = subh}a>nahu> wa ta‘a>la>

saw. = s}allalla>hu ‘alaihi wa sallam a.s. = ‘alaihi al-sala>m

H = Hijrah

M = Masehi

SM = Sebelum Masehi

l. = Lahir tahun (untuk orang yang masih hidup saja)

w. = Wafat tahun

QS …/…: 4 = QS al-Baqarah/2: 4 atau QS A<li „Imra>n/3: 4

HR = Hadis Riwayat

Abu> al-Wali>d Muh}ammad ibn Rusyd, ditulis menjadi: Ibnu Rusyd, Abu> al- Wali>d Muh}ammad (bukan: Rusyd, Abu> al-Wali>d Muh}ammad Ibnu) Nas}r H{a>mid Abu> Zai>d, ditulis menjadi: Abu> Zai>d, Nas}r H{a>mid

(bukan: Zai>d, Nas}r H{ami>d Abu>)

(15)

ABSTRAK Nama : Mohamad Idhan

NIM : 80100309102

J u d u l : Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Bahasa Arab pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu

Pokok masalah yang dibahas dalam disertasi ini adalah bagaimana kompetensi guru dalam pembelajaran Bahasa Arab pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu.

Selanjutnya pokok masalah tersebut di-breakdown ke dalam beberapa submasalah, yaitu: pertama, bagaimana realitas kompetensi guru Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu, kedua, bagaimana bentuk kompetensi guru pada pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu, dan ketiga, bagaimana hasil pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu sebagai konsekuensi dari implementasi kompetensi guru.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan pedagogik, sosiologis, manajerial, dan psikologis. Sumber data penelitian ini terdiri atas kepala madrasah, wakil kepala madrasah, pegawai, para guru, dan pengawas pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu sebagai informan. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, interviu atau wawancara, dan dokumentasi.

Teknik pengolahan dan analisis data menggunakan 3 cara: (1) reduksi data, (2) display data, dan (3) verifikasi data serta penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan, pertama, realitas kompetensi guru Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu yaitu senantiasa mengembangkan kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial, profesional, dan leadership yang berorientasi pada pengembangan nilai-nilai pembelajaran yang berbasis Iptek dan tidak mengabaikan nilai-nilai moralitas (Imtak), serta berusaha untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar utuh. Realitas kompetensi guru Bahasa Arab dalam pengembangan pembelajaran pada MAN 2 Model Palu, yaitu meningkatkan pemahaman terhadap tujuan pembelajaran serta meningkatkan kinerja madrasah baik prestasi akademik maupun non akademik, kedua, bentuk kompetensi guru dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu yaitu guru yang memiliki kompetensi pada MAN 2 Model Palu senantiasa menciptakan iklim belajar yang kondusif, mengatur kelas, melakukan umpan balik, memberi penguatan dalam mengemukakan materi pembelajaran, mengembangkan seluruh komponen pembelajaran, melakukan perubahan pola pikir, mewujudkan pola kerja yang rasional, dan profesional dalam penataan kurikulum pembelajaran yang kontekstual, dan ketiga hasil pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu sebagai konsekuensi dari implementasi kompetensi guru yaitu penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola keilmuan yang mendukung mata

(16)

xvi

pelajaran yang diampu, penguasaan kompetensi inti dan kompetensi dasar, pengembangan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif serta pengembangan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif

Implikasi penelitian ini adalah Kompetensi guru pada MAN 2 Model Palu sangat terkait dengan motivasi, sertifikasi pendidik, dukungan kepala madrasah, pembinaan dari pengawas pendidikan, dan peningkatan kuantitas dan kualitas kegiatan pendidikan dan pelatihan. Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu di harapkan memberi kontribusi bagi guru dalam mengajarkan materi pembelajaran Bahasa Arab kepada peserta didik, sehingga dapat membudayakan bahasa Arab dalam lingkungan Madrasah, dan kepada seluruh pembina dan guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu, agar selalu meningkatkan metode mengajar dalam pembelajaran Bahasa Arab supaya dapat membentuk peserta didik yang interaktif, kreatif, inovatif, aktif, dan menyenangkan serta menciptakan generasi muda yang cerdas dan bertakwa kepada Allah swt.

(17)

ABSTRACT

Name : Mohamad Idhan

Student’s Reg. No. : 80100309102

Title : The Teachers’ Competence in Learning Arabic at Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu.

The problem discussed in this study is how the competence of the teachers in learning Arabic at Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu. The problem were breakdown into several sub-problems, namely: first, how was the reality of the Arabic teachers‟ competence at Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu?; second, what forms were the application of the teachers‟ competence in learning Arabic at Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu?; and third, how was the Arabic learning outcomes in Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu as a consequence of the implementation of teachers‟ competence?

The study was a descriptive study using pedagogical, sociological, managerial, and psychological approaches. The data sources were from the principals, vice principals, staff, teachers, and supervisors at Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu as informants. Observation, interview, and documentation were employed in collecting the data, which then processed and analyzed using (1) data reduction, (2) data display, and (3) data verification as well as drawing conclusions.

The results revealed that, first, the reality of the Arabic teachers‟ competence in Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu were constantly developing the pedagogical, personality, social, professional, and leadership competence in the development of learning values that are based on science and technology without neglecting the morality values (belief and faith) as well as striving to improve the truly completed human resources (HR). The realities of Arabic teachers‟ competence in learning development at MAN 2 Model Palu were enhancing the performance of the madrasah both academic and non academic achievement, developing the teaching materials and providing effective guidance. Second, the forms of the application of the teachers‟ competence in the Arabic teaching at Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu were the competent teachers always created a conducive classroom climate, arranged feedback and provided reinforcement in delivering the learning materials, developed all learning components, changed the mindset, rational work patterns, and were professional in structuring the contextual learning curriculum. Third, the learning outcomes in learning Arabic at Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu as a consequence of the implementation of the teachers‟ competence were mastering the learning materials, structures, concepts and scientific patterns that supported the teaching subjects, mastering the core and basic competencies, development of

(18)

xviii

teaching learning materials in a creative way, and professional development in a sustainable manner by taking the reflective actions.

The research implications were the teachers‟ competence at MAN 2 Model Palu was strongly associated with motivation, teachers‟ certification, principal‟s support, and supervisor‟s coaching. It was also related to the quantity and quality improvement of education and training activities, as well as the scientific forum that teachers needed to be constantly motivated and facilitated to be able to participate in the forum as well as encouraged a research culture among teachers. The school can facilitate and motivate the teachers as well to perform classroom action research activities.

(19)

َرجت ثحبلاَدي

َ

مسلاا

َ :

َ فاىدإَدممح

َ َ : َ ليجستلاَمقر

20100300102

َ َ : َ ةحورطلأاَفاونع

َةيموكحلاَةيلاعلاَولابَةسردمبَةيبرعلاَةغللاَميلعتَيفَنيسردملاَةءافك ةيناثلاَةيجذومنلا

===========================================================================================================

َ

َ

َةغللاَميلعتَفَينسردلداَةءافكَتناكَفيكَيىَةحورطلأاَهذىَاهتلوانتَتيلاَةيساسلأاَةلأسلدا ةيناثلاَ ةيجذومنلاَ ةيموكلحاَ ةيلاعلاَ ولابَ ةسردبمَ ةيبرعلا .

َ تمَ دقف

َثلالَ ى إَ ةروكذلداَ ةلأسلداَ لييفتَ

يسردمَةءافكَةيعقاوَتناكَفيكَ:اىلاوأَ،ةيعرفَتلاكشم

َةيبرعلاَةغللا

َف

َةيموكلحاَةيلاعلاَولابَةسردم

َةيبرعلاَةغللاَميلعتَفَينسردلداَةءافكَقيبطتَابهَتمَتيلاَؿاكشلأاَيىَامَ:اهتينالوَ؟ةيناثلاَةيجذومنلا اهيف اتنَتناكَفيكَ:اهتثلالوَ؟

َةيبرعلاَةغللاَميلعتَجئ اهيف

َ

؟ينسردلداَةءافكَقيبطتَةجيتن

َ

َفاعتساَثيحَ،ةيعونلاَثوحبلاَبورضَنمَبرضَثحبلاَاذىو

َوتاءارجإَف

َلخدلداَنمَلكب

َرظانَنمَوتانايبَرديمَفاكوَ،يسفنلاوَ،يرادلإاوَ،يعامتجلااوَ،يوبترلا لدا

َامأَ.ابوجتسمَهرابتعابَةسرد

سلأا الي لاَب تي بهَتمَ

اَ

بلاَعجم هفَتاناي ي

َت قيلوتلاوَةلباقلداوَ،ةظحلالداَ:لمش .َ

ينقتلاَامأو تا

َ

َابهَتمَتيلا

(َ:يهفَ،اهليلتحوَتانايبلاَميظنت 1

(َ،رايتخلااَ) 2

(َ،ضرعلاَ) 3

.جاتنتسلااَ)

َ

َ:يليَامَىلعَثحبلاَجئاتنَتلدَدقلو لاوأ

َةيبرعلاَةغللاَيسردمَةءافكَةيعقاوَفأَ:

لداَف

َةسرد

ةروكذلدا

َّوطتَ تلظ َ دلداَ ةيؤرَ ر

َةفرعلداَ ىلعَ ةمئاقلاَ ةيميلعتلاَ ميقلاَ ىلعَ زكرمتتَ تيلاَ اهتلاسروَ ةسر

َ؛ةيافكَلكَةيفاكلاَةيرشبلاَدراولداَينستحَؿواتحَتناكوَ،ةيقلاخلأاَميقلاَؿاهمإَـدعَعمَايجولونكتلاو

َريوطتَفَةيبرعلاَةغللاَيسردمَةءافكَةيعقاوف لدا

َةسردلداَطاشنَينستحَفَلثمتتَةسرد

َاهسفن

َفاكأَءاوس

في

َةيميلعتلاَةمدلخابَـايقلاوَ،ةيميلعتلاَداولداَريوطتَفوَ،ييمداكلأاَيرغَـأَييمداكلأاَؽوفتلابَقلعتيَام

َ،ؿاعفَلكشب ايناث

يفَةيبرعلاَةغللاَميلعتَفَينسردلداَةءافكَقيبطتَابهَتمَتيلاَؿاكشلأاَفأَ:

اه

َ

َفوكت

لإَدنعَةيوقتلاَءاطعإوَيربدتلاوَ،ةقئلالاَةيفيلاَءاوجلأاَدايجإب

َميلعتلاَرصانعَعيجمَريوطتوَ،داولداَءاق

َ،ةيعضولاَةيميلعتلاَداولداَدرسوَةيميلعتلاَجىانلداَميظنتَفَفاترحلااوَنيهلداَلمعلاوَيركفتلاَةقيرطو اثلاث

َ:

يفَةيبرعلاَةغللاَميلعتَجئاتنَفأ اه

َ

َ،دعاوقلاوَ،داولداَىلعَةرطيسلاَفَلثمتتَينسردلداَةءافكَقيبطتَةجيتن

(20)

xx

اوَ،ميىافلداو

َ،ةيساسلأاَةيافكلاوَةيرىولجاَةءافكلاَىلعَةرطيسلاوَ،ةيميلعتلاَداومللَةديؤلداَةيملعلاَطانملأ

.ةيزيرغلاَةطشنلأابَـايقلاَعمَـاودلاَىلعَؼاترحلااَريوطتوَيعادبإَلكشبَةدالداَريوطتو

َ

اثلاَةيموكلحاَةيجذومنلاَةيلاعلاَولابَةسردبمَينسردلداَةءافكَفأَثحبلاَاذىَنمَدافتسلداو

ََقلعتتَةين

َوَ ،عفاودلابَ ايرثك ةيقيلوت

َ

َ،يوبترلاَ ؼرشلداَ لبقَ نمَ رمتسلداَ بيذهتلاوَ ةسردلداَ رظانَ دييأتوَ ،ينبرلدا

َةسردمللَ يغبنيفَ ،ةيملعلاَ تايدتنلداَ فَ ةكراشلداوَ ةيبيردتلاوَ ةيوبترلاَ ةطشنلأاَ ةيعونوَ ةيمكَ ينستحو

َرغتوَةروكذلداَةطشنلأاَفَةكراشلداَىلعَملذَليهستلاوَمهعيجشت

َ،ينسردلداَسوفنَفَةيثحبلاَةفاقثلاَسي

َََ.ةيفيلاَةطشنلأاَفَثحبلابَـايقلاَىلعَمهعيجشتوَمهليهستَةسردلداَليوؤسمَىلعو

َ

(21)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Guru yang berkompetensi merupakan figur sentral dalam penyelenggaraan pendidikan, karena guru yang memiliki kompetensi adalah sosok yang sangat diperlukan untuk memacu keberhasilan peserta didiknya. Betapapun baiknya pembelajaran yang dirancang, tetapi pada akhirnya keberhasilan para peserta didik sangat tergantung pada kompetensi guru dalam melaksanakan tugasnya terutama pada aspek pedagogik.1

Guru merupakan unsur pendidikan yang sangat dekat dengan peserta didik dalam upaya pendidikan sehari-hari dan banyak menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan. Peranan guru semakin penting dalam era global. Hanya melalui bimbingan yang profesional, setiap peserta didik dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, kompetitif, dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi persaingan yang makin ketat dan berat, sekarang dan di masa yang akan datang.2

Begitu sangat strategisnya kedudukan guru sebagai tenaga profesional, di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tepatnya Bab III Pasal 7, diamanatkan bahwa profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

1Lihat Ali Mudlofir, Pendidik Profesional, Konsep, Strategi, dan Aplikasinya dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), h. 66.

2Ditjen Dikdasmen Depdiknas, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) (Cet. I; Jakarta: Ditjen Dikdasmen, 2002), h. 7.

(22)

(a) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; (b) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia (c) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; (d) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (e) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; (f) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (g) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (h) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan (i) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.3

Untuk melaksanakan profesi keguruan, guru sangat memerlukan beragam pengetahuan dan keterampilan yang memadai sesuai dengan tuntutan zaman. Guru harus memiliki seperangkat kemampuan, baik terkait dengan bahan yang akan disampaikan maupun kemampuan untuk menyampaikan bahan itu sehingga mudah diterima oleh peserta didik. Adapun kemampuan pedagogik yang harus dimiliki oleh guru, guru Bahasa Arab, dalam kaitannya dengan pembinaan peserta didik meliputi kemampuan mengawasi, membina, dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berbagai aspeknya. Untuk meningkatkan mutu madrasah pada kenyataannya banyak komponen yang terkait dalam menentukan keberhasilan mutu pendidikan, seperti guru, peserta didik, kurikulum, sarana dan prasarana serta pengetahuan.4

Kompetensi guru pada umumnya cukup kompleks, sehingga baik dalam pendidikan prajabatan maupun selama berada dalam pekerjaannya dituntut sejumlah pengetahuan dan seperangkat keterampilan tentang jabatannya. Guru dituntut untuk melaksanakan berbagai tugas edukatif dan tugas administratif. Setiap guru memiliki kelebihan dan keterbatasan kemampuan dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini

3Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab III Pasal 7.

4Lihat Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam dari Paradigma Pengembangan, Manajemen, Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), h. 16.

(23)

ditentukan oleh latar belakang pengetahuan, keterampilan dan motivasinya.

Kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dan kegiatan supervisi secara teratur dan terencana.5

Upaya pemerintah untuk selalu meningkatkan kualitas guru telah dilakukan sejak Indonesia merdeka. Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah adalah melakukan supervisi pendidikan di Madrasah dan sekolah. Adanya supervisi pendidikan sebagai upaya meningkatkan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional bagi guru, setelah guru secara formal berada dalam posisinya sebagai guru bukan calon guru, merupakan suatu yang sangat membanggakan dan perlu mendapatkan dukungan. Sebab, dalam meningkatkan profesionalisme guru melalui kompetensi pembelajaran Bahasa Arab dimaksudkan pula untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya. Guru Bahasa Arab yang mau aktif mengembangkan profesinya akan memperoleh dua keuntungan yaitu dapat meningkatkan kemampuan dan kualitas guru sebagai tenaga pendidikan juga dapat memperoleh angka kredit untuk keperluan kenaikan pangkat jabatan guru. Usaha meningkatkan profesionalisme guru dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Dengan meningkatkan kompetensi guru baik secara pedagogik maupun profesional diharapkan kemampuan guru semakin meningkat demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah direncanakan sebelumnya.6

Pemerintah mengeluarkan peraturan perundang-undangan sebagai landasan untuk melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pendidikan. Oleh karena itu,

5Lihat Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam dari Paradigma Pengembangan, Manajemen, Kelembagaan Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. h. 17.

6Lihat Suyanto, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia (Cet. I; Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2009), h. 13.

(24)

pendidikan pada madrasah mempunyai peranan yang sangat besar bagi penyiapan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas, yang dewasa ini dituntut tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama melainkan juga ilmu pengetahuan dan teknologi serta penguasaan keterampilan yang berguna bagi pengembangan masyarakat.

Usaha meningkatkan kualitas pendidikan diawali dengan peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya pembelajaran Bahasa Arab, karena pembelajaran Bahasa Arab merupakan pembelajaran inti di madrasah serta menjadi ciri khas madrasah yang membedakan antara organisasi madrasah dengan organisasi sekolah. Eksistensi pendidikan madrasah di satu sisi mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam sistem pendidikan nasional dengan lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang ini disebutkan pada Bab VI pasal 17 dan 18, bahwa kedudukan madrasah sama dengan sekolah umum.7

Madrasah sebagai institusi pendidikan tidak dapat mengelak dari kebijaksanaan reformasi pendidikan yang bersifat desentralistik.8 Kewenangan tugas di bidang pendidikan di lingkungan Kementerian Agama, akan dengan sendirinya tidak terlepas

7Departemen Agama RI, Kumpulan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan (Jakarta: Direkorat Jenderal Pendidikan Islam, 2007), h. 17.

8Salah satu bentuk nyata dari reformasi pendidikan adalah pelaksanaan otonomi penyelenggaraan pendidikan yang biasa juga disebut dengan desentralisasi pendidikan. Desentralisasi pendidikan harus diarahkan pada upaya pemberdayaan masyarakat pada level sekolah dengan tetap berpegang kepada standar minimum kompetensi (basic competencies) yang berlaku secara nasional.

Pendekatan penyelenggaraan pendidikan harus diubah dari sentralisasi menjadi desentralisasi dengan menekankan pada peningkatan partisipasi masyarakat dalam kerangka community based education (CBE). Desentralisasi pendidikan tidak hanya menyangkut pelimpahan wewenang birokrasi dari pusat ke daerah, melainkan juga mencakup otonomi pada tingkat lembaga pendidikan. Hal demikian akan sejalan dengan konsep manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (school based management). Kunandar, Guru Profesional, Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru (Cet. I;Jakarta: Rajawali Pers, 2007), h. 104.

(25)

dari kewenangan tugas di bidang agama. Pengelolaan pendidikan di lingkungan madrasah merupakan bentuk pengelolaan pendidikan yang ditandai dengan otonomi yang luas pada tingkat madrasah yang ditandai semakin meningkatnya partisipasi masyarakat.

Melalui pengelolaan pendidikan berbasis madrasah, sistem pembinaan madrasah yang semula bersifat sentralistik bergeser ke daerah dan bersifat otonom, setidaknya pada kelembagaan madrasah. Dengan demikian, madrasah akan ditempatkan sebagai institusi pendidikan yang memiliki kewibawaan dalam pengelolaan pendidikannya.

Dewasa ini berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru yang telah bertugas di sekolah dan madrasah melalui pendidikan dan pelatihan baik melalui jalur PLPG maupun PPG. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan mengajar, penguasaan terhadap materi ajar, serta komitmen dan motivasi guru dalam melakukan proses pembelajaran terkhusus pembelajaran Bahasa Arab.9

Lebih lanjut di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tepatnya Bab III Pasal 7 juga diamanatkan bahwa pemberdayaan profesi guru diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi.10 Pada dasarnya pilihan seseorang untuk menjadi guru adalah “panggilan jiwa” untuk memberikan pengabdian pada sesama manusia dengan mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih, yang diwujudkan

9Ditjen Dikdasmen Depdiknas, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) (Jakarta: Ditjen Dikdasmen, 2002), h. 7.

10Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, h. 7.

(26)

melalui proses pembelajaran serta pemberian bimbingan dan pengarahan kepada peserta didik agar mencapai kedewasaan masing-masing.11

Dalam kenyataannya menjadi guru tidak cukup sekadar untuk memenuhi panggilan jiwa, tetapi juga memerlukan seperangkat keterampilan dan kemampuan khusus dalam bentuk menguasai pengetahuan secara pedagogik yang dibarengi dengan kompetensi guru, sesuai dengan kualifikasi jenis dan jenjang pendidikannya. Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan dan dianggap sebagai orang yang berperanan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan yang merupakan pencerminan mutu pendidikan. Keberadaan guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor internal dan faktor eksternal yang membawa dampak pada perubahan kinerja guru. Faktor yang mempengaruhi penerapan kompetensi guru, khususnya guru Bahasa Arab, yaitu:

1. Kepribadian dan dedikasi

Setiap guru khususnya guru Bahasa Arab memiliki pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru khususnya guru Bahasa Arab dari guru lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah suatu masalah abstrak, hal ini dipertegas Zakiah Darajat bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak, sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan, misalnya dalam tindakan, ucapan, caranya bergaul, berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.12

Kepribadian adalah suatu cerminan dari citra seorang guru dan akan

11Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Suatu Pendekatan Psikologis) (Cet. I; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), h. 49.

12Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 2005), h. 106.

(27)

mempengaruhi interaksi antara guru dan peserta didik. Oleh karena itu, kepribadian merupakan faktor yang menentukan tinggi rendahnya komitmen guru dalam menjalankan keprofesionalannya.

Kepribadian guru khususnya guru Bahasa Arab akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya dalam membina dan membimbing peserta didik. Semakin baik kepribadian seorang guru diharapkan semakin baik pula dedikasinya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru, ini berarti tercermin suatu dedikasi yang tinggi dari guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Klages dalam Suryabrata mengemukakan bahwa ada tiga aspek kepribadian, yaitu;

1) materi kepribadian, yaitu semua kemampuan (daya) pembawaan beserta keistimewaan-keistimewaannya,

2) struktur kepribadian, yaitu sifat-sifat bentuknya atau normal nya, dan 3) kualitas kepribadian atau sifat, yaitu sistem dorongan-dorongan.13

Aspek-aspek tersebut merupakan kompetensi kepribadian sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Karena tanpa aspek tersebut sulit bagi guru untuk dapat melaksanakan tugas sesuai dengan harapan. Kepribadian dan dedikasi yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran akan pekerjaan dan mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi. Guru yang memiliki kepribadian yang baik dapat membangkitkan kemauan untuk giat memajukan profesinya dan meningkatkan dedikasi dalam melakukan pekerjaan mendidik sehingga dapat dikatakan guru tersebut memiliki komitmen yang baik dalam menjalankan profesinya.

13Suryabrata, Psikologi Kepribadian (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), h. 129.

(28)

2. Pengembangan Profesi

Profesi guru khususnya guru Bahasa Arab kian hari menjadi perhatian seiring dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut kesiapan agar tidak ketinggalan. Menurut Pidarta bahwa profesi ialah suatu jabatan atau pekerjaan biasa seperti halnya dengan pekerjaan-pekerjaan lain, tetapi pekerjaan itu harus diterapkan pada masyarakat untuk kepentingan masyarakat umum, bukan untuk kepentingan individual, kelompok, atau golongan tertentu.14

Pengembangan profesi guru Bahasa Arab merupakan hal penting untuk diperhatikan guna mengantisipasi perubahan dan beratnya tuntutan terhadap profesi guru. Pengembangan profesionalisme guru menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Tuntutan memenuhi standar profesionalisme bagi guru sebagai wujud dari keinginan menghasilkan guru yang mampu membina peserta didik sesuai dengan tuntutan masyarakat, di samping sebagai tuntutan yang harus dipenuhi guru dalam meraih predikat guru yang profesional sebagaimana yang dijelaskan dalam Educational Leadership dalam Supriadi bahwa untuk menjadi profesional, seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal, yaitu:

a. Guru harus mempunyai komitmen,

b. Guru menguasai secara mendalam bahan/materi mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada peserta didik,

c. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar peserta didik melalui berbagai cara evaluasi,

d. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya,

e. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam

14M. Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia (Cet. I; Edisi Revisi, Jakarta: Bina Aksara, 2008), h. 112.

(29)

lingkungan profesinya.15

Menyadari akan profesi merupakan wujud eksistensi guru sebagai komponen yang bertanggung jawab dalam keberhasilan pendidikan maka menjadi satu tuntutan bahwa guru harus sadar akan peran dan fungsinya sebagai pendidik. Hal ini dipertegas Pidarta bahwa kesadaran diri merupakan inti dari dinamika gerak laju perkembangan profesi, merupakan sumber dari kebutuhan mengaktualisasi diri.16

Makin tinggi kesadaran seseorang makin kuat keinginannya meningkatkan profesi, artinya semakin sering profesi guru dikembangkan melalui berbagai kegiatan maka semakin mendekatkan guru pada pencapaian predikat guru yang profesional dalam menjalankan tugasnya sehingga harapan kinerja guru yang lebih baik akan tercapai.

3. Kemampuan melakukan pembelajaran

Guru dalam melaksanakan tugas profesi mengajar memerlukan kemampuan, sebagaimana Cooper dalam Agung mengemukakan bahwa guru harus memiliki kemampuan merencanakan pembelajaran, memberikan pertanyaan kepada peserta didik, mengajarkan konsep, berkomunikasi dengan peserta didik, mengamati kelas, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.17

Salah satu kompetensi guru adalah kompetensi pedagogik yaitu kemampuan atau kesanggupan guru dalam mengelola pembelajaran. Danim menyatakan bahwa titik tekan dari kompetensi pedagogik bagi guru adalah kemampuan guru dalam pembelajaran, guru dituntut mampu menciptakan dan menggunakan keadaan positif

15Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru (Cet. I; Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa, 1999), h. 42.

16M. Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, h. 120.

17Iskandar Agung, Peningkatan Kreativitas Pembelajaran bagi Guru (Cet. I; Jakarta: Bestari Buana Murni, 2010), h. 85.

(30)

untuk membawa mereka ke dalam pembelajaran agar peserta didik dapat mengembangkan kompetensinya.18 Hal senada diungkapkan Sutadipura bahwa Aspek- aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran peserta didik yang diciptakan guru, guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap peserta didik akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya, oleh karena itu guru harus mampu berkompetensi, harus memiliki jiwa inovatif, kreatif dan kapabel, meninggalkan sikap konservatif, tidak bersifat defensif, tetapi mampu membuat peserta didik lebih bersifat opensif.19

Dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 tahun 2009 tentang Guru menyebutkan, kompetensi profesional merupakan kemampuan Guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan: a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan b. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.20 Dapat dikatakan, kompetensi profesional adalah penguasaan terhadap kemampuan berkaitan dengan proses pembelajaran.

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

18Sudarwan Danim, Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru (Cet. I; Bandung: Cv. Alfabeta, 2011), h. 73.

19Sutadipura, Kompetensi Guru dan Kesehatan Mental (Cet. I; Bandung: Angkasa, 1994), h.

89.

20PP RI No.41 tahun 2008 tentang Guru, Bab.I, pasal.3, ayat:7.

(31)

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal.21 Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesional tertentu yang tercermin dari komitmen terhadap kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan adalah penjabaran dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merupakan dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi sistem pendidikan nasional. Undang Undang tersebut memuat visi, misi, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional serta strategi pem-bangunan pendidikan nasional, untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pembaruan sistem pendidikan nasional dilakukan untuk memperbarui visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.22

Visi tersebut kemudian dijabarkan dalam sejumlah misi pendidikan nasional, yaitu:

a. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia,

b. Meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional,

21Departemen Agama RI, Kumpulan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, h. 73.

22Departemen Agama, Kumpulan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2007), h. 48.

(32)

c. Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global,

d. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar,

e. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral,

f. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pemberdayaan pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengala- man, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan g. Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan

berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.23

Berdasarkan visi dan misi pendidikan nasional tersebut, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pengembangan pendidikan tetap aktual untuk dibicarakan, karena semakin berkembang masalah ini semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Masa- lah pendidikan merupakan suatu masalah yang kompleks, karena sangat terkait dengan semua bidang kehidupan lainnya. Muhaimin dalam Syaefuddin menyatakan bahwa pada saat ini pendidikan nasional masih dihadapkan pada permasalahan yang menonjol.24

Rendahnya mutu pendidikan telah memberikan akibat langsung pada rendah- nya mutu sumber daya manusia bangsa Indonesia. Proses untuk melahirkan sumber

23Departemen Agama, Kumpulan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, h. 49.

24Udin Syaefuddin Saud, Pengembangan Profesi Guru (Cet. I; Bandung: Alfabeta. 2009), h.

17.

(33)

daya manusia yang bermutu hanya bisa melalui jalur pendidikan dan proses pem- belajaran yang bermutu pula.

Mutu pendidikan ditentukan oleh sistem pendidikan, baik dari segi pengelo- laan maupun proses pendidikan itu sendiri, di arahkan secara efektif untuk mening- katkan nilai tambah dari faktor-faktor input agar menghasilkan output setinggi- tingginya. Faktor input pendidikan terdiri dari: (1) peserta didik, (2) tenaga kependidikan termasuk guru, anggaran, kurikulum, sarana prasarana dan administrasi, (3) lingkungan yang meliputi faktor sosial ekonomi, politik, dan keamanan.25

Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh seberapa jauh para pelaku pendidikan melaksanakan tugas dan tanggung jawab mengelola pendidikan. Brandt dalam Supriadi menyatakan, bahwa guru merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan, guru berada di titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif.26

Peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional bagi guru sangat penting agar guru peka dan tanggap terhadap perubahan-perubahan, pembaruan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Berbagai upaya dilakukan untuk peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru terutama dalam pembelajaran Bahasa Arab yaitu: (1) program penyetaraan untuk peningkatan kualitas guru Bahasa Arab, (2) penataran-penataran untuk peningkatan kemampuan guru yang sifatnya khusus, (3) pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional guru

25Ace Suryadi & Wiana Mulyana, Kerangka Konseptual Mutu Pendidikan dan Pembinaan Kemampuan Profesional Guru (Cet. I; Jakarta: PT. Candimas Metropole. 1992), h. 49.

26Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru (Cet. I; Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 1999), h. 52.

(34)

Bahasa Arab.27 Ketiga usaha pembinaan tersebut diberikan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran khususnya pada pelajaran Bahasa Arab.

Setiap usaha peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru akan memberi hasil dengan baik jika diikuti oleh kompetensi dan motivasi guru untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Asrorun Ni’am mengungkapkan bahwa upaya peningkatan kompetensi guru harus mendasarkan pada kemauan dan kemampuan guru. Artinya, guru tidak harus didikte dan diberi berbagai arahan dan instruksi. Oleh karena itu, perlu disusun standar profesional guru yang akan dijadikan acuan pengembangan mutu guru.28 Glickman dalam Bafadal menyebutkan aspek pada guru yang menentukan orientasi profesionalnya, yaitu komitmen guru (teacher’s commitment). Aspek tersebut harus melekat pada diri seorang guru, karena ia akan menentukan tipe guru tersebut dalam melaksanakan proses pembelajaran.29 Hal lain diungkapkan oleh Asrorun Ni’am, bahwa yang mengakibatkan rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru yakni kelemahan yang terdapat pada diri guru itu sendiri, di antaranya rendahnya kemampuan untuk bekerja secara profesional.30

Bekerja secara profesional juga sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, seperti dalam QS al-Taubah/9: 105, yang berbunyi:

27Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, h. 54.

28Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya UU Guru dan Dosen (Cet. I; Jakarta: Elsas, 2006), h. 42. Liha pulah Ibrahim Bafadal & A. Imron, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Cet. I; Malang: Kerjasama FIP UM dan Ditjen- Dikdasmen. 2004), h. 51.

29Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya UU Guru dan Dosen, h. 42.

30Asrorun Ni’am Sholeh, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya UU Guru dan Dosen, h. 43.

(35)

ِِلُقَو

ِْاوُلَمْعا ِ ىَرَ يَسَف ِ

ُِهّللا ِ

ِْمُكَلَمَع ِ

ُِهُلوُسَرَو ِ

َِنوُنِمْؤُمْلاَو ِ

َِنوُّدَرُ تَسَو ِ

َِلِإ ِ

ِِِلاَع ِ

ِِبْيَغْلا ِ

ِِةَداَهَّشلاَو ِ

ِ

مُكُئِّبَنُ يَ ف اَِبِِ ِ

ِْمُتنُك

َِنوُلَمْعَ ت ِ

ِ

Terjemahnya;

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan- Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.31

Demikian pula dalam al-Qur’an perintah atau anjuran bekerja dan mempertanggungjawabkan terhadap apa yang telah menjadi tugas dan fungsinya serta tidak berkhianat terhadap apa yang telah disepakati, karena hal itu akan berdampak baik di kemudian hari. Firman Allah dalam QS al-Zumar/39: 39:

ِْلُق

ِاَي

َِِ ق

ِِمْوِ

اوُلَمْعا ىَلَع ِ

ِْمُكِتَناَكَم ِ

ِِّنِّإ ِ

ِ لِماَع ِ

َِفْوَسَف ِ

َِنوُمَلْعَ ت ِ

ِ

ِ

Terjemahnya:

Katakanlah (Muhammad), "Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukan-mu, Akupun berbuat (demikian), Kelak kamu akan mengetahui."32

Guru merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan mereka berada di titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan- perubahan kualitatif. Setiap usaha peningkatan mutu pendidikan seperti perubahan kurikulum, pengembangan metode-metode pembelajaran, penyediaan sarana dan prasarana akan berarti apabila melibatkan guru.

Madrasah Aliyah tak terkecuali MAN 2 Model Palu tersebut diupayakan agar dapat memenuhi standar nasional pendidikan melalui peningkatan kompetensi baik kompetensi pedagogik maupun kompetensi profesional, mengejar ketertinggalan

31Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Cet. I; Semarang: PT.Karya Toha Putra. 2002), h. 273.

32Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 664.

(36)

dibandingkan dengan sekolah umum. Upaya peningkatan kualitas pendidikan pada Madrasah, baik mengenai pengembangan kurikulum, peningkatan profesionalitas guru, pemenuhan kebutuhan sarana prasarana dan pemberdayaan pendidikan kini telah, sedang, dan akan dilaksanakan secara terus menerus.33 Apabila setiap lembaga penyelenggara pendidikan selalu berupaya untuk memberikan jaminan kualitas dan upaya ini secara terus menerus dilakukan maka diharapkan kualitas pendidikan pada madrasah secara keseluruhan di seluruh Indonesia akan terus meningkat. Peningkatan kualitas pendidikan pada madrasah semacam itu akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia secara nasional.

Agar menjadi orang yang profesional, guru harus memenuhi standar kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik, di samping 7 standar lainnya sebagaimana ketentuan yang ditegaskan dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), serta memperhatikan ketentuan lainnya berkaitan dengan tenaga kependidikan.

Menurut PP RI Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28: Ayat (1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Ayat (2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-

33Lebih lanjut baca, Upaya tersebut merupakan agenda pemerintah cq. Kementerian Agama yang diarahkan agar setiap satuan pendidikan madrasah selalu berupaya untuk memberikan jaminan kualitas kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu suatu jaminan agar setiap penyelenggara pendidikan di madrasah sesuai dengan apa yang seharusnya dan sesuai pula dengan harapan masyarakat.

Abdul Rahman Saleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi, dan Aksi (Cet. I; Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2004), h. 88.

(37)

undangan yang berlaku.34

Upaya peningkatan mutu pembelajaran akan berhasil optimal jika guru me-miliki kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional serta berperan serta secara aktif dalam proses pembinaan dan pengembangan pendidikan. Hal ini sejalan dengan Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.35

Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Terkait dengan kompetensi guru tersebut, di dalam Penjelasan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 10 ayat (1) diterangkan sebagai berikut: yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik;

yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam; serta yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.36 Guru adalah profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang

34Abdul Rahman Saleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi, dan Aksi. h. 89.

35Abdul Rahman Saleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi, dan Aksi. h. 73.

36Ahmadi Syukran Nafis, Pendidikan Madrasah: Dimensi Profesional dan Kekinian. (Cet. I;

Yogyakarta: LaksBang PRESSindo. 2010), h. 47.

(38)

pendidikan.37

Kompetensi seorang guru Bahasa Arab sangat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Untuk itu, apabila seseorang ingin menjadi guru yang profesional maka guru tersebut seharusnya memiliki komitmen untuk selalu meningkatkan wawasan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Dari latar belakang di atas, penelitian dan pengkajian ini membahas secara mendalam tentang kompetensi guru dalam pembelajaran Bahasa Arab pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu, sehingga nantinya dapat menjadi acuan untuk membuat rencana strategis dalam mengoptimalkan kompetensi guru terhadap peningkatan mutu pembelajaran khususnya pelajaran Bahasa Arab. Agar kualitas pendidikan pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu sesuai dengan apa yang seharusnya dan apa yang diharapkan, maka pengembangan kompetensi guru dalam pembelajaran Bahasa Arab sangat diharapkan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia secara umum.

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus 1. Fokus Penelitian

Berdasarkan judul pada disertasi ini, maka fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan kompetensi guru dalam pembelajaran Bahasa Arab pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palu. Pembahasan tentang pengertian dan bentuk penerapan kompetensi guru pada pembelajaran Bahasa Arab yaitu; potensi peserta didik, motivasi, komunikasi, sertifikasi guru, peran kepala madrasah, dan pengawas pendidikan.

Pembahasan tentang kompetensi guru meliputi; pengertian dan tujuan

37Sudarwan Danim, Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru (Cet. I; Bandung: Alfabeta.

2010), h. 58.

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi pembelajaran tersebut jauh berbeda yang dikemukan Irwandi (2012), bahwa pendekatan saintifik merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran.. keterampilan

Terlaksananya model pembelajaran Alquran, baik itu Model kaedah Tajwid, Model Guru Asuh, Model klasikal dalam membaca dan menghafal Alquran di MAN 2 Model Medan dapat

Pada komponen inti kegiatan pembelajaran guru sudah menggunakan berbagai model, metode dan pendekatan sebagai upaya meningkatkan keterlibatan peran aktif peserta didik dalam

Berbicara tentang proses pembelajaran, selama ini bahasa arab diajarkan dengan metode yang dapat dikatakan masih konvensional. Artinya, proses belajar

Untuk mencapai kualitas proses belajar mengajar dan kualitas hasil belajar yang baik dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diperlukan

Proses pembelajaran akan dapat terlaksana dengan baik bila guru dapat merencanakan dan mengelola kelas dengan baik, dengan kata lain guru tidak hanya bertanggung jawab

Hasil penelitian menunjukkan; (1) Guru mampu melakukan keseluruhan aspek pembelajaran dengan kategori baik, (2) Aktivitas guru yang dominan adalah mengelola KBM

Abstrak Pembelajaran bahasa Arab merupakan sebuah proses yang dilakukan antara pendidik dan peserta didik baik dikelas maupun diluar kelas agar siswa mampu menguasai 4 maharah dalam