• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Gagasan Pluralisme Agama pada Kaum Teosofi Indonesia (1901-1933)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of Gagasan Pluralisme Agama pada Kaum Teosofi Indonesia (1901-1933)"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

DAFTAR ISI

PEDOMAN TRANSLITERASI

231-258  Jajang A Rohmana

“Tasawuf Sunda dalam Naskah Asmarandana Ngagurit Kaburu Burit (OR. 7876)”

259-274  Mashadi

“Konteks dan Corak Mistisisme Islam

dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Gorontalo”

275-302  Ade Fakih Kurniawan

“Konsep Tajalli „Abd al-Lāh ibn „Abd al-Qahhār al-Bantanī dan Posisinya dalam Diskursus

Wujūdiyyah di Nusantara”

303-322  Damanhuri

“„Umdah al-Muhtājīn:

Rujukan Tarekat Syattariyah Nusantara”

323-346  Munawir Haris

“Spiritualitas Islam dalam Trilogi Kosmos”

347-358  Hans Abdiel Harmakaputra

“Becoming a Perfect Human:

Ibn ʽArabī‟s Thoughts and Its Spiritual Legacy”

359-386  Sulaiman Al-Kumayi

“Konsep Sufisme „Shakhs-i Manevi dan Hizmet‟

Muhammad Fethullah Gülen”

387-420  Media Zainul Bahri

“Gagasan Pluralisme Agama

pada Kaum Teosofi Indonesia (1901-1933)”

421-440  Lalu Supriadi

“Studi Komparatif Pemikiran Tasawuf al-Ghazali dan Ibn Taimiyah”

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(3)

ii

ا = a غ = g

ب = b ف = f

ت = t ق = q

ث = th ك = k

ج = j ل = l

ح = م = m

خ = kh ن = n

د = d و = w

ذ = dh ه = h

ر = r ء =

ز = z ي = y

س = s

ش = sh Untuk Madd dan Diftong

ص = آ = ā (a panjang)

ض = يإ = ă (i panjang)

ط = وأ = ū (u panjang)

ظ = وا = aw

ع = يأ = ay

Contoh penulisan dengan transliterasi:

ميجرلا ناطيشلا نم للهاب ذوعا (a‘ūdhu bi al-Lāh min al-shay╢ān al-rajīm);

ميحلا نمحرلا الله مسب (bism al-Lāh al-ra╪mān al-ra╪īm);

ْْرَث ْو َكْلا َكاَنْيطْعَ َ أ آّهِا (innā a‘╢aynāka al-kawthar);

َكِّبَرِل ِّلَصَف ْر َحْها َو

(fa╣alli lirabbika wan╪ar);

ريخلا حابص (╣abā╪ al-khayr).

(4)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 783

TEOSOFI INDONESIA (1901-1933) Media Zainul Bahri

(Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email: [email protected])

Abstract: This article elucidates the idea of religious pluralism among Indonesian theosophies society (MTI), an association of well-educated people of Nusantara from 1901 through 1933, whose members were dominated by the high-class of Javanese and Sumatran people, Dutch and other Europeans. It argues that MTI‟s ideas about pluralistic and inclusive religious perceptions and attitudes were indeed influenced by perennialism, religious humanism, Javanese Islam and Sufism that accepted religious pluralism. MTI‟s deep religious outlooks and insights resulted from mixed ideas coming from diverse socio-cultural backgrounds: Europe, America, India, China and indigenous Nusantara traditions which emphasizes the principles of harmony.

Abstrak: Artikel ini akan mengurai gagasan pluralisme agama pada Masyarakat Teosofi Indonesia (MTI), suatu perkumpulan masyarakat terpelajar di Nusantara yang eksis pada rentang waktu 1901 hingga 1933, yang anggotanya didominasi oleh kaum priyayi Nusantara (Jawa dan Sumatera), orang-orang Belanda dan Eropa non-Belanda. Gagasan mereka yang bergairah mengenai pandangan dan sikap keagamaan yang inklusif-pluralis pada masa itu sesungguhnya terkait erat dengan ajaran perenialisme, humanisme religius, Islam Jawa, dan pandangan sufistik sufi- sufi Islam yang mereka anggap banyak mengidealisir gagasan mengenai pluralisme agama. Pandangan keagamaan yang mendalam dan wawasan yang luas, pada MTI lahir sebagai hasil dari pergumulan banyak ide dan perjumpaan dengan bangsa-bangsa: Eropa, Amerika, India, Cina, dan kekayaan kultur bangsa sendiri yang condong kepada harmoni.

Keywords: teosofi, pluralisme, Tuhan, sufi, mistis, Nusantara, priyayi, perenialisme.

(5)

388 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

TULISAN ini akan mendeskripsikan suatu pandangan keagamaan yang bercorak inklusif-pluralis yang ditunjukkan oleh sekumpulan masyarakat sipil (civil society) atau katakanlah paguyuban yang dikenal dengan sebutan Gerakan Teosofi Indonesia, atau dalam tulisan ini saya menyebutnya sebagai Masyarakat Teosofi Indonesia (MTI) pada periode 1901-1933.

MTI dapat dikatakan sebagai “mutiara terpendam” dalam suatu episode sejarah sosial-keagamaan atau gerakan spiritual Indonesia sebelum kemerdekaan. Mungkin tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui eksistensi MTI di masa sebelum kemerdakaan dulu sebagai paguyuban yang menghendaki kemajuan pola pikir dan mental kaum pribumi dan terwujudnya persaudaraan universal di antara para pemeluk agama Nusantara yang majemuk. Mungkin pula, sejauh penelusuran saya, MTI adalah sekelompok civil society yang pertamakali mempelopori model studi agama-agama dengan pendekatan mistik atau perenial, mengenal dan mendalami aspek syariat dan hakekat agama-agama di Indonesia dengan cara mendengar (belajar) langsung dari tokoh agama masing-masing sehingga lahir pemahaman yang utuh dan obyektif mengenai agama yang dikaji.

Dalam praktek aktivitasnya, para anggota teosofi biasanya berkumpul secara berkala untuk berdiskusi atadiu mengadakan

“pengajian” di loji-loji (lodges). Ada loji Bogor, Betawi, Cirebon, Bandung, Pasuruan, Semarang, Purwokerto, Pekalongan, Wonogiri, Surabaya dan hampir semua kota kecil dan besar di Jawa memiliki loji. Disebabkan ajaran pokoknya mengenai kemajuan (progress), filsafat-mistik, sains dan persaudaraan universal membuat banyak kaum muda dan tokoh penting dalam pembentukan negara Indonesia kala itu menjadi simpatisan dan anggota teosofi. Sebut saja nama-nama beken seperti Haji Agus Salim, Radjiman Wedjodiningrat, Achmad Subardjo, Cipto Mangunkusumo, Sutomo, Muhammad Yamin, Suwardi Suryaningrat, Raden Sukemi (ayah Sukarno), Datuk St.

Maharadja. Nama-nama lain seperti Ki Hadjar Dewantara, Muhammad Hatta dan Sukarno juga memiliki hubungan erat dengan teosofi. Belum lagi para ningrat Jawa dan Sunda sebagai tokoh-tokoh lokal yang ikut bergabung.

(6)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 783

Iskandar Nugraha melalui karyanya yang sangat baik, Teosofi, Nasionalisme & Elite Modern Indonesia (2001 & 2011), menunjukkan bahwa melalui organisasi teosofi, beberapa kaum terpelajar Indonesia menemukan identitas diri mereka, merasakan persamaan nasib, dan seolah diajak menemukan identitas kebangsaan (diri mereka) sendiri. Karena itulah Iskandar berkesimpulan bahwa Gerakan Teosofi memiliki kontribusi yang sangat penting bagi kebangkitan nasional Indonesia.1 Di sisi lain, kebangkitan itu sesungguhnya berhubungan dengan agama, dan teosofi berperan di situ. Dalam sejarah konvensional Indonesia, jika membicarakan kebangkitan nasionalisme, selalu yang dirujuk adalah Boedi Oetomo (BO), Indische Partij, Jong Islamische Bond, Jong Java, Jong Soematra, jong Ambon dan semacamnya. Organisasi keagamaan tidak pernah disinggung. Padahal, pada level elit ada Gerakan Teosofi dan level bawah ada NU dan Muhammadiyah yang juga menyemai bibit-bibit cinta bangsa alias nasionalisme di masa revolusi fisik dulu. Pada level tengah barulah Budi Utomo dan “kawan- kawan”nya.

Saya merasa beruntung menemukan majalah-majalah (istilah yang digunakan saat itu untuk menyebut jurnal) yang mereka terbitkan mulai tahun 1900 hingga 1954 yang merekam sebuah episode penting dalam kehidupan sosial-keagamaan Indonesia, di antaranya Pewarta Theosophie Boeat Tanah Hindia Nederland (atau PTHN, Bahasa Melayu, 21 Volume, 188 Nomor, 1911-1938), Teosofie In Nederland Indie: Theoshopie Di Tanah Hindia Nederland (Bahasa Belanda dan Melayu, 80 Nomor, 1918-1925), Theosophie in Nederlandsch Indie (atau TINI, Bahasa Belanda, 1912-1930), Kumandang Theosofie (atau KT, Bahasa Melayu, 6 Volume, 46 Nomor, 1932-1937) dan Persatoean Hidoep (atau PH, Bahasa Melayu, 11 Volume, 109 Nomor, 1930-1940), Pewarta Theosofie Boeat Indonesia (atau PTBI, Bahasa Melayu, 1912-1930), dan Pewarta Theosofi Tjabang Indonesia (atau PTTI, Bahasa Melayu,

1Iskandar Nugraha, Teosofi, Nasionalisme & Elite Modern Indonesia (Depok, Komunitas Bambu, 2011), 76, 88. Cetakan pertama karya Nugraha itu berjudul, Mengikis Timur & Barat: Gerakan Theosofi & Nasionalisme Indonesia (Jakarta: Komunitas Bambu, 2001).

(7)

390 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

1954).2 Publikasi MTI yang berbahasa Melayulah yang saya jadikan sumber utama dalam tulisan ini.

Dalam atmosfir keagamaan yang cenderung eksklusif dan intoleran seperti yang kita saksikan dalam satu dasawarsa terakhir, rasanya pandangan dan sikap keagamaan MTI yang inklusif-pluralis kembali relevan dan aktual untuk diangkat dalam diskursus keagamaan kita saat ini.

Pengertian Teosofi

Istilah teosofi dalam diskursus filsafat dan mistisisme tentu saja merupakan nama yang sudah sangat tua dan bahkan identik dengan dua kajian itu. Mari kita lihat seluk beluk pengertian itu seperti yang dipahami (diyakini) oleh kaum teosofi sendiri.

Menurut Blavatsky, “theos” artinya tuhan (god, bukan God),

“sophia” artinya Kebijkasanaan (wisdom). Tapi, theos di sini merujuk kepada atau dalam pengertian “seorang dewa” dalam bahasa Yunani, salah satu dari makhluk-makhluk Ilahi dan bukan dalam pengertian “Tuhan” seperti yang dipahami oleh orang-orang sekarang, bukan “Tuhan Personal.” Karena itu, teosofi bukanlah “Kebijaksanaan Tuhan” seperti yang diterjemahkan oleh sebagian besar orang, melainkan

“Kebijaksanaan Ilahi” seperti yang dimiliki oleh para dewa.

Dalam bahasa lain, Blavatsky menyebut “teosofi” sebagai

“Pengetahuan Ilahi” atau “Sains Ilahi”.3

Dalam pengertian MTI, sophie atau sophia dimaknai sebagai

“Ilmu” atau “Pengetahuan” dan “Theos” adalah “Tuhan” atau

“Allah” (dengan T dan A besar). Menurut mereka, teosofi adalah Ilmu atau Hikmat Allah,4 diartikan juga Pengetahuan tentang Tuhan; alam beserta isinya menjadi tanda yang meyakinkan bahwa Tuhan itu ada. Makna terdalam dari teosofi adalah Ilmu Kesempurnaan.5 Pada MTI, Tuhan dipahami sebagai “Tuhan

2Meskipun PTTI ini terbit pada tahun 1954, namun isinya tidak berbeda dengan jurnal-jurnal (majalah) serupa yang terbit pada masa pra- kemerdekaan.

3Helena Petrovna Blavatsky, The Key to Theosophy (USA, Theosophical University Press, t.t.), 2.

4C.W. Leadbeater, “Kitab Theosofie,” dalam PTHN (1915), 15.

5R.M. Wongsodilogo, “Djalan Oetama,” dalam PTHN (1921), 53.

(8)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 733

Personal” seperti yang dipahami dan dianut oleh agama-agama konvensional di Nusantara, bukan tuhan dalam pengertian Blavatsky sebagai “tuhan impersonal.” Penjelasan Helena Blavatsky mengenai seluk beluk teosofi memang lebih rumit dari apa yang dipahami oleh MTI karena sang Madam lebih menukik kepada penjelasan-penjelasan yang sangat esoterik, hal itu terjadi karena salah satu alasannya adalah “pengalaman mistik” sang madam. Dalam beberapa surat dan ceramahnya, Blavatsky mendefinisikan teosofi sebagai Koan; suatu istilah dalam Budhisme Zen. Koan berarti sebuah formulasi, sebuah titik penting menuju kebenaran yang Absolut. Koan adalah sebuah misteri yang tak bisa dipecahkan hanya dengan penjelasan dan alasan logis, tetapi hanya dapat dipahami oleh kesadaran pada levelnya yang paling dalam yang melampaui konseptualisasi dan penjelasan intelek.6

Kata teosofi menurut Blavatsky diwariskan dari para filsuf Alexandria, yaitu para filsuf pencinta kebenaran, Philaletheians, dari kata „mencintai‟ (phil) dan „kebenaran‟ (aletheia). Kata teosofi berasal dari abad III Masehi yang mulai diperkenalkan oleh Ammonius Saccas7 dan murid-muridnya yang memulai mendiskusikan sistem filsafat eklektik.8 Tujuan sistem filsafat ini pertama-tama menanamkan kebenaran-kebenaran moral luhur tertentu pada murid-muridnya yang semua adalah “para pencinta kebenaran.” Karena itu, semboyan yang digunakan oleh Perhimpunan Teosofi adalah “Tidak ada agama yang lebih tinggi dari Kebenaran (There is no religion higher than Truth, Satyan Nasti Paro Dharmah).” Tujuan utama para pendiri mazhab teosofi eklektik adalah juga salah satu dari tiga tujuan Perhimpunan Teosofi sebagai penerus modernnya, yaitu mendamaikan semua agama, aliran dan bangsa dibawah sebuah sistem etika umum berdasarkan pada kebenaran abadi.9

6Blavatsky, The Key …, 11.

7Seorang filsuf yang dilahirkan sebagai seorang Kristen dan salah satu tokoh komunitas Philaletheians.

8Ibid., 2.

9Ibid., 2. Menurut Herman de Tollenaere, sejak awal teosofi memang mencampurkan berbagai macam ajaran agama, filsafat, tradisi kuno dan banyak sumber lain. Doktrin-doktrin teosofi diambil dari ajaran Hermes, Phytagoras, Plato, Plotinus dan ajaran filsafat Yunani lain serta sistem

(9)

392 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

Ammonius Saccas merupakan tokoh yang mencoba menjembatani berbagai perbedaan pada beragam agama besar kuno dan berbagai aliran/sekte di Mesir dan Palestina. Hal itulah yang akan dilakukan oleh Perhimpunan Teosofi masa kini.

Menurut Blavatsky, kaum Neo-Platonis adalah sebuah perkumpulan besar termasuk berbagai filsuf religius dan para teosof. Pada masa itu, Aristobulus menyatakan bahwa etika Aristoteles mewakili ajaran „dalam/batin‟ (esoterik) Hukum Musa, Philo Judaeus telah berusaha mendamaikan atau menjembatani kitab Taurat (Pentateuch) dengan filsafat Pythagoras dan Plato, dan Yosephus membuktikan bahwa kaum Essenes dari Carmel merupakan peniru serta pengikut para penyembuh Mesir Huno (Therapeutae). Saat inipun agama-agama besar, aliran-aliran dan sekte-sekte adalah ranting-ranting kecil atau tunas-tunas yang tumbuh di dahan-dahan lebih besar, namun harus disadari bahwa tunas-tunas dan dahan-dahan itu muncul dari pohon yang sama yaitu “Agama Kearifan” (Wisdom Religion). Bukti mengenai satunya Agama Kearifan menjadi tujuan ajaran Ammonius yang mencoba menarik kaum Gentile, Kristen, Yahudi, dan penyembah berhala untuk mengesampingkan pendirian (dogma) serta perselisihan mereka, lalu hanya mengingat bahwa mereka semua sejatinya memiliki kebenaran yang sama dengan baju-baju yang berbeda dan mereka adalah anak-anak dari ibu yang sama. Ajaran Kebijaksanaan Agung ini kemudian diteruskan dan didukung oleh para filsuf agung seperti kedua Bapak Gereja, Clement dari Alexandria dan Athenagoras, kaum Rabbi terpelajar, Akademi

keagamaan Romawi, Tarot dari permainan kartu abad pertengahan Italia, model segitiga dan loji (lodge) dari gerakan Freemason dan Mason, percaya kepada dunia cahaya Astral dan roh-roh dari ajaran spiritualisme, mengambil konsep Malaikat dan Dewa-dewa dari ajaran Dionysius tahun 500 SM, konsep Arahat dari agama Buddha, doktrin pertarungan kekuatan (tuhan) putih dan kekuatan hitam dari agama Zoroaster dan Mani; dari Hindu mengambil reinkarnasi, karma dan lain-lain. Karena sinkretisme yang mempesona ini membuat banyak tokoh dan orang terpelajar dari seluruh dunia tertarik untuk menjadi anggota teosofi. Herman Arij Oscar de Tollenaere, The Politics of Divine Wisdom, Theosophy and Labour, National, and Women‟s Movements in Indonesia and South Asia 1857-1947 (Leiden: Universiteit Nijmegen, 1996), 25-7.

(10)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 737

Plato, para pendukung filsafat perenial, kaum pluralis dari berbagai agama dan keyakinan, namun kaum teosofi dan para penerus ajaran Agama Kearifan itu dihujat dan dimusuhi.

Menurut Blavatsky fakta permusuhan itu menunjukkan bahwa 1500 tahun yang lalu orang-orang terlihat lebih toleran dibanding manusia-manusia di abad „pencerahan‟ ini.10

Dari namanya tampak bahwa teosofi berarti ilmu esoterik (batin) atau ilmu kenyataan11 yang akan menjelaskan dimensi terdalam (yang esensi) dari dogma-dogma kering dan kaku.

Teosofi akan membentuk seseorang menjadi bijak, welas asih atau cinta terhadap sesama, suci bersih jalan pikiran dan sikapnya.12 Jadi, pada tataran praktek, teosofi, seperti ditegaskan oleh Blavatsky, adalah praktek hidup penuh cinta kasih, kesucian hati dan diri, tidak rakus, tidak selalu mementingkan diri sendiri dan memiliki solidaritas sosial.13 Karena itu, Perkumpulan Teosofi ini kadang disebut juga Persaudaraan Putih yang Mulia karena fokusnya pada nilai-nilai dan praktek hidup mulia.

Dalam banyak publikasi MTI, terutama yang ditulis oleh orang-orang Islam anggota teosofi, teosofi berarti juga tasawuf, ilmu dan praktek tasawuf, atau jalan sufi. Tasawuf sebagai ilmu dan jalan inilah yang harus ditempuh oleh orang-orang teosofi untuk sampai kepada Kenyataan, Kebenaran, dan Kesempurnaan. Secara umum, teosofi adalah kebijaksanaan Ilahi dan segala peristiwa yang diterangkan oleh Tuhan, pengetahuan tentang semesta alam dan semesta hidup, yang coba ditelaah dari dalam ke luar, dari Kenyataannya yang gaib ke keadaannya yang terang. Maka yang dicari adalah Kenyataan; Kenyataan di dalam agama, filsafat dan ilmu pengetahuan agar tercapai suatu kebijaksanaan dalam hidup, perilaku dan tindakan. Hal yang terpenting dalam teosofi adalah ajarannya bahwa apapun yang diterima oleh seseorang baik ajaran agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan jangan dipercaya begitu saja, tetapi coba diselami

10Ibid., 3.

11Kijahi Somo Tjitro, “Djalan Menoentoet Elmoe Kenjataan,” dalam PTHN (1915), 121.

12Ibid.

13“Pidatonja Dr. Besant pada congres tahoenan jang ke-56 di Adjar, 24 December 1931,” dalam KT (1932), 106.

(11)

394 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

Kebenarannya atau Kenyataannya.14 Pengetahuan apapun semestinya “dirasakan” kebenarannya atau “dialami” langsung kenyataannya, setidaknya dikritisi sampai sedalam-dalamnya. Hal ini mungkin yang paling sulit dilakukan untuk menjadi teosof sejati. Namun, itulah ajaran sejati teosofi.

Munculnya Gerakan Teosofi di Indonesia

Gerakan Teosofi didirikan pertamakali di kota New York, Amerika Serikat, tahun 1875 oleh seorang wanita bangsawan keturunan Rusia yang memiliki bakat mistik atau supranatural yang luar biasa bernama Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891), yang dibantu dua orang Amerika, yakni Henry Steel Olcott dan W.Q. Judge. Segera setelah organisasi tersebut berdiri, H.S.

Olcott diangkat menjadi Presiden perkumpulan yang kemudian diberi nama Theosophical Society (TS). Tahun 1879 pusat TS dipindahkan oleh Madam Blavatsky dari New York ke Adyar, India. Tahun 1895, TS memasuki babak baru karena munculnya seorang tokoh baru, yaitu Annie Bessant. Tokoh inilah yang membawa TS berpengaruh secara tajam, tidak saja di India, namun menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.15

Menurut Iskandar Nugraha, bukti-bukti pasti yang mengungkap kemunculan awal Gerakan Teosofi di Indonesia hampir tidak ada kecuali beberapa catatan yang hanya memberi gambaran bersifat umum. Salah satu gambaran umum itu memberi petunjuk bahwa Gerakan Teosofi di Hindia (Indonesia) pertamakali didirikan di kota Pekalongan, Jawa Tengah, 8 tahun sesudah teosofi berdiri di Amerika tahun 1883, dan sebagai bagian dari Gerakan Teosofi Nederland, dan tentu saja semuanya menginduk kepada gerakan Internasional yang berpusat di Adyar, India. Loji (lodge) teosofi di kota kecil ini dipimpin seorang bangsawan Eropa, Baron van Tengnagel.

Tahun 1883 belum dapat dipastikan sebagai awal Gerakan Teosofi di Hindia secara pasti, sebab sumber lain menyebutkan tahun 1881. Yang dapat diapstikan oleh Nugraha adalah bahwa kemunculan awal Gerakan itu berada di akhir abad XIX. Saat

14KT (1931), no. 1, 45. Derun, “Meditasi Untuk Permulaan (II),” dalam PTTI, no. 27, (1954), 18-9.

15Nugraha, Teosofi …, 5-7.

(12)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 733

itu, setidaknya teosofi telah menarik perhatian sebagian masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah. Siapa, apa, dan bagaimana latar belakan pendiriannya belum diperoleh petunjuk yang pasti. Yang diketahui adalah bahwa The Pekalongan Theosophical Society ini dipimpin seorang Kapitein Infantri tentara Hindia Belanda yang pernah ditempatkan di Dinas Topografi.

Organisasi tersebut secara sah diakui kantor pusat teosofi di Adyar dan izinnya ditanda tangani Kolonel Olcott.16

Namun sesungguhnya, jauh sebelum H.P. Blavatsky mendirikan teosofi di New York (1875), sang Madam diberitakan pernah berkunjung ke Hindia lebih dari satu kali. Menurut majalah teosofi, Lucifer, perhatian sang Madam cukup tinggi kepada Hindia sebelum ia mendirikan teosofi, terutama tentang kemungkinan nilai-nilai Jawa yang menurutnya dapat dijadikan penyumbang ajaran teosofi. Dalam rangka itulah, pada tahun 1852-1860, Blavatsky mengunjungi Candi Mendut dan Borobudur, dan sempat singgah di Pekalongan dan bermalam di Pesanggrahan Limpung di bawah gunung Dieng. Pada tahun 1862, ia kembali berkeliling Pulau Jawa dan diberitakan menyinggahi banyak tempat di Jawa. Menurut Iskandar, kemungkinan munculnya Gerakan Teosofi awal di Pekalongan dapat dikaitkan dengan fakta kunjungan Blavatsky di Jawa, dan kemungkinan kuat kegiatan Gerakan Teosofi paling awal di Hindia ini masih terbatas pada aspek kebatinan saja seperti yang berlangsung di pusatnya saat itu.17 Mengenai kegiatan detail organisasi teosofi di akhir abad XIX di Hindia serta aktivitas Baron van Tenggnagel hingga wafatnya, menurut Iskandar masih gelap alias belum terkuak. Yang diketahui Baron meninggal di Bogor tahun 1893.18

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa di akhir abad XIX hingga tahun 1933, Gerakan Teosofi Indonesia merangkak maju secara pelan namun pasti; dari tahun ke tahun mendapat simpati

16Ibid., 8-9. Karya Iskandar ini merupakan satu-satunya referensi bahasa Indonesia yang menjelaskan cukup detail dan luas mengenai sejarah teosofi Indonesia. Dalam tulisan ini tidak akan dijelaskan secara detail perkembangan hingga pudarnya gerakan ini di akhir tahun 1930.

17Ibid., 8-9, 38.

18Ibid., 9.

(13)

396 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

dan anggota yang terus membengkak. Pada masa keemasannya, kira-kira tahun 1910 hingga 1930, teosofi membangun banyak organisasi sayap demi merealisasikan semangat persaudaraan, menyebarkan paham teosofi, dan memberdayakan kaum pribumi, terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan kualitas moral ketimuran yang adiluhung. Beberapa organisasi penting di bawah teosofi adalah: (1) Bintang Timoer (1911), yang mengkhususkan pengajaran dan praktek tasawuf dan kebatinan, (2) Moeslim Bond (1924), wadah bagi kaum Muslim anggota teosofi untuk belajar menerima kenyataan akan perubahan- perubahan dunia, (3) Mimpitoe atau M 7 (1909), yaitu organisasi yang berfokus memerangi 7 hal: (a) Main (berjudi), (b) Minoem (mabuk), (c) Madon (main perempuan), (d) Madat (mabuk karena menghisap ganja dan sejenisnya), (e) Maling, (f) Modo (mencela atau mengumpat karena dengki dan benci), (g) Mangani (makan berlebihan dari yang dibutuhkan), (4) Perhimpunan Toeloeng-Menoeloeng (1909), (5) Widija-Poestaka (1909), yaitu organisasi yang bertujuan mengumpulkan setiap pengetahuan zaman kuno yang ditemukan di Hindia (Nusantara). Upaya ini dilakukan semata-mata untuk melindunginya dari kemusnahan. (5), NIATWUV (Nederlandsch- Indische Wereld Afdeling Theosofische Wereld Universiteit Vereeniging), yaitu Perhimpunan Universitas Dunia Teosofi Cabang Hindia Belanda yang menyelenggarakan sejumlah sekolah dan mendukung pendirian sejumlah pranata pendidikan di Hindia.

Salah satu sekolah yang didirikan dan menjadi favorit adalah Sekolah Arjuna (Ardjoena-scholen) (1914).19 Sekolah-sekolah yang didirikan kaum teosofi diberi nama Sekolah Arjuna karena tokoh ini sangat digandrungi tidak hanya di dunia wayang, namun juga oleh orang-orang teosofi, dan wayang adalah salah satu media penyebaran paham teosofi yang terfavorit,20 (6) Organisasi Ati Soetji (1914), yang berupaya memajukan kehidupan kaum wanita dan usaha-usaha sosial lainnya. Tiga tujuan Ati Soetji;

menjunjung derajat kebangsaan; memajukah onder-wijs

19Ibid., 19-20. Secara luas Nugraha menjelaskan organisasi-organisasi diatas pada bab “Gerakan Kegiatan Teosofi di Indonesia (1901-1933),” 45- 66.

20Ibid., 12.

(14)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 733

(pengajaran); dan membantu ekonomi kaum Bumiputra. Selain itu juga bertujuan mengadakan perlindungan, pertolongan, dan tunjangan kepada mereka yang terkena celaka atau sengsara karena kejahatan.21

Dalam hal keanggotaan, penting dipertanyakan siapakah mayoritas anggota teosofi Indonesia? Iskandar Nugraha memiliki penjelasan yang cukup jelas. Hasil risetnya menunjukkan bahwa Gerakan Teosofi di Hindia (Indonesia) terdiri orang-orang Belanda asli, Bumiputera, Cina dan Indo- Eropa (keturunan Eropa). Sampai tahun 1900-an mayoritas Indo sebagai bagian dari masyarakat Eropa Hindia Belanda memiliki kedudukan sosio-ekonomi yang buruk dan teralienasi. Hal ini karena mereka ditolak oleh “ayah” mereka sendiri bangsa Eropa dan tuntutan-tuntutan mereka tak pernah digubris. Di sisi lain, mereka juga sulit menyesuaikan diri dengan kaum Bumiputera karena posisi mereka yang tetap sebagai orang Eropa. Dengan keadaan ini, kaum Indo yang menjadi penganjur Gerakan Asosiasi mendominasi keanggotaan teosofi. Dalam gerakan ini, mereka agaknya menemukan konsep yang membawa mereka dekat dengan kalangan Bumiputera dan dapat memperjuangkan persamaan seperti yang dikatakan Ricklefs, “Theosophy was one of the few movements which brought elite Javanese, Indo-Europeans and Dutchmen together in this period…”22

Golongan Bumiputera merupakan golongan kedua terbanyak menjadi anggota teosofi. Di antara kalangan Bumiputera, orang Jawa merupakan kelompok yang paling dominan menjadi anggota. Konsep teosofi dan pendekatan para pemimpin teosofi adalah dua faktor penyebab utama tertariknya kaum priyayi Jawa terhadap gerakan ini. Ajaran-ajaran teosofi yang bersifat esoterik, spiritual atau “kebatinan” cocok dengan budaya para priyayi Jawa yang menyukai mistik. Ajaran teosofi dianggap banyak kesamaannya dengan ajaran-ajaran rahasia yang

21Ibid., 13. Dalam Pewarta Theosofie Boewat Tanah Hindia Nederland (1919) dijelaskan beberapa organisasi sayap teosofi yang telah didirikan, yaitu (1) Wedijapoestaka, (2) Perdamean Sadoenia, (3) Mim-7 (mimpitoe), dan (4) Bintang Timoer. Lihat, PTHN (1919, no. 5), 68-9.

22M.C. Ricklefs, The History of Modern Indonesia (California: Stanford University Press, 2008), 198.

(15)

398 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

terdapat dalam kitab-kitab kuno berbahasa Jawa (sebagai warisan mulia leluhur orang-orang Jawa). Para priyayi Jawa itu, meskipun menganut agama Hindu, Islam atau Kristen, pada kenyataannya mereka adalah panteis yang berhasil mengkombinasikan kepercayaan dari agama resmi mereka dengan pemikiran leluhur (nenek moyang) yang memiliki sifat mistik. Itulah sebabnya, menurut Nugraha, mengapa Gerakan Teosofi meskipun kemudian menyebar luas di Nusantara, pengaruh terkuatnya justru terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.23

Menurut Nugraha, masuknya seorang Bumiputera dalam lingkungan teosofi yang kebanyakan anggotanya dari kalangan bangsawan tinggi (priyayi) tentu menjadi suatu gengsi atau kebanggaan tersendiri. Anggota-anggota pertama dari kalangan priyayi yang kemudian turut menyebarluaskan ajaran teosofi di kalangan pelajar adalah tokoh-tokoh berkharisma tinggi, baik karena kedudukan, pendidikan maupun karena pemikiran- pemikiran mereka. Faktor inilah yang membuat kaum terpelajar non-priyayi (umumnya orang Jawa) tertarik untuk bergabung dengan teosofi. Kesempatan bergaul dengan kaum priyayi tinggi dan orang-orang Eropa (terutama Belanda) berkedudukan tinggi yang mau menghargai keberadaan mereka, merupakan hal yang sangat langka pada masa itu. Terlebih lagi, Gerakan Teosofi juga memiliki fasilitas intelektual yang memadai, misalnya perpustakaan. C.L.M. Panders, penulis The Life Times of Soekarno (1974), seperti dikutip Nugraha, menceritakan bahwa “Soekarno menghabiskan waktu berjam-jam di Perpustakaan Theosophical Society di mana ia memperoleh akses karena keanggotaan ayahnya. Di sanalah ia bergumul dengan pemikiran tokoh-tokoh politik termasyhur dalam sejarah.”24 Selain perpustakaan yang memiliki koleksi literatur yang lengkap, Gerakan Teosofi (lewat organisasi NITV), juga menyediakan sarana bagi arena diskusi- diskusi terbuka, baik dalam studie-klasse atau dalam bentuk openbare lezing (ceramah terbuka).25

Watak kolonial yang diwarnai oleh pembagian masyarakat berdasarkan warna kulit yang tajam (colour line division) dan

23Nugraha, Teosofi …, 30-1.

24Ibid., 31.

25Ibid., 44.

(16)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 733

prinsip dasar Gerakan Teosofi yang tidak memandang warna kulit, ras, agama dan suku-bangsa, semakin mendorong kalangan Bumiputera terpelajar bergabung dalam organisasi ini. Berkaitan dengan dominasi orang-orang Jawa, pada kongres teosofi pertama di Yogyakarta pada 1907, dari 78 orang utusan yang hadir di rumah M.R.T. Sosronegoro, 19 priyayi bergelar “Raden”

(R), “Raden Mas” (RM), dan “Raden Ngabehi” (R.Ng).

Sementara 17 lainnya adalah priyayi wanita. Meskipun Jawa amat dominan, di antara anggota-anggotanya ada juga yang berasal dari kelompok suku lain seperti Sunda, Minangkabau, Melayu, bahkan Manado dan Ambon. Berdasarkan ladenlijst (daftar keanggotaan) tahun 1914 dan 1915, selain para priyayi Jawa, terdapat banyak kaum bangsawan dari Sumatera Barat (Minangkabau). Hal ini dibuktikan dengan adanya gelar-gelar yang ditulis sesudah nama mereka, yaitu “Galar Sutan,” “Galar Datuk,” “Galar Marah,” “Galar Tan,” “Datuk Rangkayo,” dan lainnya.26 Di antara orang Sumatera Barat yang menjadi anggota adalah Haji Agus Salim, tokoh-pejuang dan pahlawan nasional, dan Dt. Sutan Maharadja, seorang tokoh pergerakan nasional yang sangat terkenal.27 Orang-orang Sunda yang menjadi anggota juga banyak yang bergelar “Raden.”28

Secara detail, Herman Tollenaere menguraikan bahwa pada tahun 1930 keanggotaan teosofi Indonesia mencapai puncaknya, yaitu 2090 orang, yang terdiri dari: (1) 1006 orang-orang Eropa yang lebih dari 50 %-nya adalah orang-orang Belanda, (2) 876 orang-orang asli Indonesia, (3) 208 orang-orang asing dari Asia, dan (4) 190 orang-orang Cina dan India (orang-orang India berjumlah sekitar 20 orang dari angka itu). Secara geografis, keanggotaan (dan loji-loji) berpusat di Jawa, dan secara sosial, sebagian besar anggota orang Indonesia adalah para priyayi Jawa, sebagian kecil orang-orang Sumatera Barat dan ningrat Bali.29

Selain dari gambaran keanggotaan di atas, jika kita menelaah lebih lanjut tulisan-tulisan tentang Islam dalam jurnal-jurnal

26Ibid., 34-5.

27Ibid., 32.

28Ibid., 35.

29Herman Tollenaere, Indian Thought in the Dutch Indies, The Theosophical Society, IIAS Newsletter Online, no. 23 (2000), 1.

(17)

400 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

teosofi, kita juga menemukan satu kelompok lain, yaitu kaum santri Muslim. Kelompok santri ini bisa berasal dari golongan priyayi, meskipun sangat jarang, atau berasal dari kaum terpelajar non-priyayi. Dalam stratifikasi masyarakat Jawa, kaum santri ini kedudukannya lebih tinggi dari orang-orang kecil/biasa (wong cilik) tetapi tetap lebih rendah dari kaum priyayi. Mengenai keanggotaan kaum santri Muslim terpelajar ini, Agus Salim menyatakan: “Saya bergabung ke dalam Theosophical Society karena saya melihat mereka mengakomodasi banyak kaum Muslim, khususnya Muslim yang diasingkan karena pendidikan Baratnya namun masih berpegang kuat pada tradisi. Mereka adalah orang-orang yang tertarik pada Theosophical Society.”30

Teosofi dan Paham Pluralisme Agama Satu Tuhan Banyak Nama

Salah satu kegiatan pokok MTI adalah mempelajari agama- agama, terutama agama yang hidup Nusantara. Pelajaran itu berisi dua hal pokok, yaitu mengkaji aspek mistik agama-agama dan melakukan studi perbandingan agama. Namun, studi Perbandingan Agama yang mereka lakukan lebih banyak dalam bentuk mencari (menemukan) kesamaan-kesamaan ajaran agama-agama dibanding perbedaannya. Karena itu, dalam studi agama-agama atau Perbandingan Agama pada MTI, model pembahasan yang menekankan titik-temu dan kesatuan esensial agama-agama merupakan corak yang sangat dominan. Kita akan menemukan uraian yang luas sekali akan hal ini. Inilah salah satu doktrin inti Gerakan Teosofi seperti yang dijelaskan oleh Blavatsky tentang sistem filsafat eklektik dengan Ammonius Saccas—salah satu tokohnya yang paling menonjol—yang mengajarkan bahwa agama-agama dan keyakinan, baik yang besar maupun yang kecil—merupakan ranting-ranting, tunas dan dahan-dahan dari pohon yang sama, yaitu “Agama Kearifan.”

Karena itu, konsep MTI mengenai Satu Tuhan banyak nama tentu berpijak kuat kepada mistik atau aspek esoterik yang menjadi perhatian utama mereka. Pertama-tama, kita harus melihat konsep mereka tentang Tuhan. Pada teosofi Blavatsky,

30Nugraha, Teosofi …, 32.

(18)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 103

Tuhan dipahami secara Impersonal. Kata “Tuhan” tidak dipahami secara Personal sebagaimana dalam agama-agama besar, namun “Ketuhanan” yang merujuk kepada dewa-dewa masa Yunani ribuan tahun yang lalu,31 jadi, ketuhanan yang abstrak. Tetapi, karena MTI telah dipengaruhi oleh agama-agama mapan Indonesia, maka “Tuhan” pada MTI sama dengan Tuhan dalam agama-agama yang dipahami oleh masyarakat Indonesia.

Dengan mengutip al-Qur‟an, Al-Kitab (Perjanjian Baru), Sutta Pitaka, Amos (Yahudi), Gathas (Zoroaster), Bhagawadgita dan Sukhmani, Guru V (Sikh), MTI meyakini bahwa Tuhan adalah Esa, Pencipta semesta dan semua makhluk, Penguasa dan Raja di langit dan bumi, Maha Agung, Sumber dan Tempat Kembali semua hal dan memiliki banyak nama.32 Jadi, Tuhan bersifat sangat Personal. Di sisi lain, dengan mengutip ajaran kaum sufi Muslim dan Hindu, orang-orang teosofi meyakini bahwa Tuhan tak dapat dijangkau oleh intelek dan segala macam konseptualisasi. Akal tidak bisa menemukan jawaban pasti dari mana asal Tuhan, bagaimana bentuknya, berapa umurnya dan lain-lain. Tuhan Ada, dapat dirasakan tapi tak dapat dilihat, tak bisa dijangkau dengan ukuran manusiawi.33 Karena Kebesaran dan Keagungan Tuhan sulit dipahami, maka kaum beriman membutuhkan nama, sifat atau simbol yang mudah dipahami demi berkomunikasi dengan-Nya. Di sini kaum teosofi meyakini bahwa meski Tuhan itu Esa, tapi para pemeluk agama memanggilnya dengan banyak nama, seperti terbaca dalam kutipan di bawah ini:

Di dalem kitab-kitab Koeno soedah tertoelis Toehanlah tjoemah ada Satoe. Orang Blanda panggil di mana nama “God”, orang Islam menjeboet “Allah taalah”, orang sindhoe namain “Ishwara”, orang Tionghoa namain “Kwan-shai-Yin Thian”, dan lain-lain, tetapi biar nama berbeda, jang Maha Koeasa tjoemah satoe.34

Akan segala bangsa berlain-lainan lafalnja atau katanja boeat menjeboet asma Toehan: Bangsa Arab menjeboet Allah. Bangsa Belanda menjeboet God. Bangsa Jahoedi menjeboet Jehovah. Agama Brahma

31Blavatsky, The Key …, 2.

32PTTI (1954), no. 29, 15-6.

33A. Latif, “Ada,” dalam PTHN (1922), no. 5, 67-8.

34H.E. van Motman, “Kepada Toean redacteur soerat kabar Pewarta Theosophie,” dalam PTHN (1912), 123-4.

(19)

402 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

menjeboet Brahman. Agama Khong Hoe Tjoe menjeboet Thau. Bangsa Griek mengatakan Theo...tidak ada perkataan jang boleh diboeat menjeboet nama Toehan, jang tjotjok seperti rasanja. Lebih djelas:

segala seboetan itoe boekan namanja jang sedjati. Njatalah berlain- lainan bahasanja, tetapi maksoednja boleh dikatakan SAMA.35

Makna yang sama terlihat juga dalam kutipan ini:

Menoeroet jang terseboet diatas, dari pemandanganja Bangsa Blanda (kristen), bangsa Tiong Hoa dan Bangsa kita (Islam) dari hal Toehan sama, djadi tida berbeda, tjoema perkataanja sadja berlainan.36

Sekali lagi, dengan bersandar kepada keyakinan kaum sufi Muslim, seorang anggota teosofi dari Islam meyakini akan keragaman nama-nama Tuhan Yang Esa itu, seperti yang ia tulis:

Toehannja kaoem Soefie itoe, ja Toehannja masing-masing igama dan Toehannja sekalian orang manoesia. Nama: Allah, God, Dieu, Brahma, atau Bhagwan itoe tidak dibeda-bedakan sedjatinja oleh kaoem Soefie.

Semoea nama ini dan nama lain-lainja itoe, djoega nama Toehannja kaoem Soefie, akan tetapi Toehan itoe tidak dibatasi nama tadi.37

Dalam mencari Tuhan, seorang mistikus yang melakukan perjalanan spiritual sampai ke rahasia gaib di dalam dirinya, maka ia menemukan Yang Esa dalam banyak wajah dan nama. Ada yang menyebutnya “Natur” ada pula yang memanggilnya

“Allah,” “God,” “Tuhan,” dan lain-lain.38 Yang Esa itu Dia-Dia juga, tidak berbeda dan bukan yang lain. Sekali lagi, kita lihat seorang anggota teosofi memaparkan keyakinannya:

Allah itoe tjoemah satoe, tetapi wadjahnja amat banjak. Sebagi halnja seorang kepala roemah tangga jang mempunjai isteri, anak soedara dan kawan-kawan, jang diseboet laki oleh si isteri, Bapa oleh si anak dan Toewan oleh si kawan, begitoe djoega halnja Allah, ada jang menjeboet Goesti, ada jang Bapa.39

35S. Si Pitjik, “Membandingkan Agama,” dalam PTHN (1926), No.7, 100. Seorang penulis Tionghoa (beragama Konghucu) juga menyebut nama Gusti, Thian, Monade, Kristus dan Allah ketika merujuk kepada Tuhan yang Sama yang memberi keselamatan. N, “Seng-To! Kow-Li!,” dalam PTHN (1927), 124.

36J.M., “Satoe Pokok,” dalam PTHN (1922), no. 1-2, 21.

37Inayat Khan, “Soefie,” dalam PTHN (1922), no. 5, 66.

38N., “ Djalannja Mentjarik Ingsoen,” dalam PTBI (1930), no. 3, 34.

39Louis Baehler, “Gadadhara atau Ramakrisjna,” dalam PTHN (1916), 98.

(20)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 107

Dari sini, orang-orang teosofi menunjukkan konsep mengenai “Kesatuan Ketuhanan.” Konsep ini memiliki tiga pengertian. Pertama, Tuhan itu benar-benar Satu, hanya nama- Nya saja yang dipanggil berbeda-beda. Dalam bagian lain—yang belum disebut diatas—orang Konghucu menunjukkan adanya konsep kesatuan Tuhan dalam agama Islam, Konghucu dan Tao.

Kedua, ada keyakinan bahwa Tuhan dan manusia sejatinya adalah satu. Manusia berasal atau lahir dari Tuhan. Dalam diri manusia terdapat natur Tuhan. Ketiga, dengan konsep ini muncul konsep mengenai “orang suci penyelamat” atau “ratu adil.” Dari konsep kesatuan ketuhanan atau Satu Tuhan banyak nama, muncul keyakinan bahwa Tuhan yang Esa itu mengutus orang-orang suci untuk menyelamatkan dunia sebagai bentuk manifestasi nama-nama-Nya. Tentang orang-orang suci penyelamat itu, seorang anggota mengatakan:

Dari itoe (satu Tuhan banyak nama) djangan toeroet orang hoeroe- hara... Moedah-moedahan soepaja semoea orang manoesia bisa dan soeka toeroet jang baik dan jang pantes, soepaja jang Termoelia lekas bisa dateng di doenia, boeat bikin betoel kliroe dan bikin damai di mana jang roesoeh. Jaitoe bangsa Christen panggil “De Christus”, jang bangsa Islam seboet “Imam mahdi”, dan rahjat poelo djawa namaken “Sri Toendjoeng Eroe Tjokro”, dan “ratoe Adil”, bangsa Sindoe kata

“djagat Goeroe”, igama Boeddha seboet “Bodhisatwa”, “Maitreija”, bangsa Parsi ngoetjap “Shaosijant” bangsa Jahoedi “Masiha”, dan bangsa lain ada poela namanja.40

Pemahaman akan kesatuan ketuhanan atau Satu Tuhan banyak nama diharapkan oleh MTI agar umat manusia dapat hidup rukun dan menjauhi konflik (atau “hoeroe-hara” dalam bahasa MTI), para pemeluk agama yang beragam agar memiliki keyakinan bahwa agama dan keyakinan mereka berasal dari Sumber yang Sama sehingga tidak perlu membesar-besarkan perbedaan yang hanya akan melahirkan ketegangan dan konflik intra dan antar pemeluk agama. Demikianlah, dalam diskursus filsafat perenial, manusia, sepanjang sejarahnya, menyebut Tuhan Yang Esa dan Mutlak itu dengan berbagai nama dan istilah, namun secara substansial, beragam nama itu menunjuk kepada zat yang sama. Tuhan sebagai wujud Absolut sekaligus

40Motman, “Kepada Toean …, 124.

(21)

404 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

Dia Yang Dikenal inilah yang dijadikan obyek pujaan karena fungsi dan posisi-Nya yang diyakini oleh manusia sebagai pencipta dan penguasa jagad semesta ini. Dari sisi tanzīh, Tuhan diyakini sebagai yang teramat jauh, bahkan tidak terjangkau (transenden), namun pada level tasybīh, Dia juga sekaligus berada bersama manusia; di sini bahkan di dalam diri manusia (imanen).

Karena Yang Satu dan Absolut itu tidak mungkin ditaklukan oleh kapasitas nalar manusia yang amat terbatas, maka Dia ditangkap kehadiran-Nya (penampakan-Nya) melalui simbol- simbol atau nama-nama yang kemudian disakralkan sehingga di mata manusia lalu muncul bentuk tuhan-tuhan yang plural.41 Kesatuan Esensi dan Hubungan Substansial Para Utusan Tuhan

Dengan konsep di atas, doktrin mengenai kesatuan esensial agama-agama menjadi tak terelakkan. Dalam banyak sekali publikasi, MTI mengumandangkan kesatuan esensial keyakinan dan kepercayaan terdalam meski bentuk agama berbeda-beda.

Kita kutip pandangan mereka:

Tetapi memang soenggoeh tidak ada bedanja didalam kepertjajaan apa djoegapoen, memang sama, biarpoen namanja berjenis-jenis jang dipilihnja...42

Ini semoea mertandakan, jang broederschap itoe tida boeat satoe groep atau golongan kepertjajaan, atau satoe agama sadja, akan tetapi boeat semoea orang, walaupoen kepertjajaannja berbeda-beda...dan lagi, djikalau orang, apa agamanja sadja, memperloekan mempeladjari lain agama-agama atau mentjoekoepi pengadjarannja agamanja sendiri tamtoelah mendapat perasaan, jang satoe sama jang lain tida ada bedanja. Tjoema vorm atau ragangannja alias koeroengannja ada perbedaan.43

Kesatuan esensial itu tentu berarti dimensi batinnya. Pada dimensi ini semua agama dan keyakinan berasal dari Tuhan Yang Sama dan memiliki tujuan yang sama pula. Mereka mengatakan,

“Dari itu haroeslah samoea igama kita pandang maksoednja (Tasaoefnja), djanganlah kita pandang dari lahirnja sadja, sebab samoea barang lahir

41Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Gramedia, 2003), 69-70.

42S.M., “Djalan Kesempoernaan,” dalam PTHN (1926), no. 10, 140.

43N.,“Sekarang Datang Swara Baroe, Apa Soedah Tahoe?” dalam PTBI (1929), no. 10, 147-8.

(22)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 103

tida aken langgeng; jang langgeng tjoemah batinnja.”44 Agama-agama yang beragam dan berbeda sejatinya—dalam bahasa mereka adalah “prabot menjembah kepada Toehan, mana sadja jang dipilih.” Orang dapat memilih agama yang dirasa cocok baginya sebab, “Samoea agama tiada ada djeleknja atawa lebih baik dari pada jang lain, mengartinja ija-itoelah sama sadja.”45 Jadi, sumber dan tujuan dari semua agama adalah sama, itu-itu juga, yaitu Tuhan.

Dalam hal kesatuan esensi ini, kita menemukan banyak sekali tulisan orang Islam dalam publikasi-publikasi MTI yang merujuk kepada ajaran-ajaran kaum sufi—dan sebagiannya telah kita lihat dalam penjelasan diatas. Para penulis Muslim itu meyakini bahwa mutiara-mutiara ajaran kaum sufi, apakah Ibn

„Arabī, Rūmī, al-Ghazālī dan al-Junayd sesuai dengan doktrin dan misi Gerakan Teosofi yang menghendaki perdamaian dunia dengan cara mengeksplorasi ajaran kesatuan esensi dalam agama-agama dan pesan kenabian. Menurut para penulis Muslim itu, bahasa kaum Sufi adalah bahasa hati/batin yang dapat mengerti nama-nama atau manifestasi yang berbeda, seperti pengertian Kristus: siapa yang menyandang nama Kristus?

Menurut mereka, kaum sufi tidak terikat pada nama. Semua nama, apakah itu Kristus, Nabi, Priester, Konig, Guru Selamat, Verlosser, Bruidegom, dan Geliefde, semua itu esensinya satu. Kaum Sufi mengerti semua isi dari nama-nama tersebut.46

Konsep Islam mengenai kesatuan esensial agama-agama dan hubungan esensial atau kesatuan pesan para nabi kental sekali dalam tulisan-tulisan orang Islam anggota teosofi. Dengan pemahaman Islam yang esoterik, mereka menegaskan bahwa semua nabi yang diutus Tuhan membawa isi ajaran yang sama meskipun doktrin lahiriahnya berbeda. Seorang anggota menulis:

Nabi siapa sadja jang toeroen di doenia itoe, semoea mengerdjakan Kemaoeannja Toehan. Walaupoen pengadjarannja Nabi-Nabi tadi lahirnja berlainan, dari sebab tiap-tiap bangsa mempoenjai rasa perbedaan dan keperloeannja djoega berlainan. Akan tetapi ISI-nja Agama-Agama jang teradjarkan itoe sama sadja alias SETALI TIGA OEWANG...djikalau orang maoe mempeladjari Mystiek-nja atau

44Siswosoeparto, “Kabar dari M 7,” dalam PTHN (1912), 140.

45Djojodiredjo, “Wadjibnja Orang Hidoep,” dalam PTHN (1912), 45.

46J.M., “Hal Rasoelallah,” dalam PTHN (1920), 87.

(23)

406 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

Occult-nja alias peladjaran gaib-nja itoe Agama-Agama: Itoe semoea asalnja, pokoknja, toeknja dari SATOE, boekan?47

Lalu ia mengutip surat al-Baqarah ayat 87 mengenai keyakinan kesatuan pesan kenabian di atas. Semua pemeluk agama, dalam keyakinan mereka, jika benar-benar mempraktekkan ajaran agama dan memahaminya secara mendalam, maka yang dirasakan adalah kesatuan isi pada agama- agama yang berbeda bentuknya tersebut. Seorang penganut teosofi menulis:

Djikalau selimut jang menggelapi mata terbuka tentoelah kelihatan, jang ISI-nya Agama Islam sama sadja dengan ISI-nja Agama B. Apa jang tida bikin sama? Sabetoelnja semoea sama, akan tetapi tjoema orang jang ta‟ maoe bikin sama. Dari sebab kebodohan jang menggelapkan pikiran. Djikalau orang mendjalanken betoel Agamanja dan mengatahoei ISI-nja Agamanja, tentoelah ta‟ bisa memperbedaken satoe sama lain Agama.48

Tentu yang dimaksud „kebodohan yang menggelapkan pikiran‟ adalah mereka yang tidak paham atau tidak mau paham dan merasakan ajaran batin, esoterik atau terdalam agama, dan tidak mau mempelajari dan memahami esensi agama-agama lain.

Bodoh bagi mereka yang hanya terpaku pada aspek syariat atau eksoterik, dan bahkan menuhankannya. Orang-orang teosofi bahkan menjamin jika seorang penganut agama memahami dan meyakini rasulnya secara lahir dan batin, maka:...soedah tentoe mengerti bahwa lain-lainnja itoe sama sadja, semoewa-semoewanja asal dari satoe sadja, jaitoe Jang Maha Agoeng.49 Selanjutnya, bagi MTI-- khususnya mereka yang Muslim--semua agama adalah Islam.

Dalam pengertian pasrah, selamat, aman, damai, dan penuh cinta kasih, semua agama berarti Islam, dan jika semua pemeluk agama sungguh mempraktekkan ajaran agama mereka, maka pengertian-pengertian Islam tersebut memang menunjukkan bahwa sejak awal agama mereka berarti Islam. Tentu, Islam disini dalam pengertiannya sebagai kualitas atau sikap personal dan bukan sebagai institusi. Seorang teosof Muslim mengatakan:

47N., “Djagad Goeroe,” dalam PTHN (1927), no. 8, 203.

48Ibid., 201.

49Baehler, “Gadadhara …, 52.

(24)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 103 Djikalau Agama-Agama jang doeloe-doeloe itoe bukan Islam, soedah tentoe Nabinja poen pendjoesta, sedang K.N. (mungkin maksudnya Kanjeng Nabi) Mohamad soeroe kepada kita pertjaja kepada semoea Pesoeroeh Toehan (Nabi-Nabi?)50

Karena itu, bagi kaum Muslim anggota teosofi, semua utusan Tuhan membawa ajaran yang mulia, benar dan memiliki kesamaan-kesatuan dengan ajaran Nabi Muhammad. Jika Nabi Muhammad menyuruh kaum Muslim, tidak hanya mempercayai, namun mencintai dan menghormati ajaran para nabi terdahulu, maka murid-murid atau pengikut sekalian para nabi terdahulu harus juga dicintai, dihormati dan diajak hidup rukun damai oleh kaum Muslim. Jika kaum Muslim mencintai dan menghormati Tuhan, maka manusia siapapun dan makhluk Tuhan lainnya harus dicintai juga.51 Inilah ajaran Nabi Muhammad dan ajaran para nabi lainnya.

Dengan ajaran itu, muncul pula doktrin mengenai kesinambungan dan kesatuan esensial kitab suci. MTI meyakini bahwa pertama, semua kitab suci: Taurat, Injil, Weda, Upanisad, Bhagawad Gita, al-Qur‟an, Tripitaka, dan lain-lain merupakan benar-benar kitab suci, berisi ajaran mulia untuk para nabi dalam konteks yang berbeda-beda, namun berasal dari Tuhan Yang Sama.52 Kedua, jika dipahami, didalami dan dipraktekkan oleh setiap pemeluk agama, semua kitab suci itu merupakan penerang bagi hidup yang gelap gulita dan akan membawa keselamatan sejati.53 Ketiga, semua kitab suci sederajat; tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah antara satu dengan yang lainnya. Semua penganut agama yang beragam hendaknya mempelajari dan melakukan studi banding terhadap dua atau beberapa kitab suci itu.54 Keempat, dengan semua kitab suci itu, Tuhan masih terus bersuara dan berbicara kepada semua kaum beriman yang

50W1, “Haroes Terpoedji,” dalam PTHN (1927), no. 6, 129.

51Lid TVTKL, “Katerangan Dari Goeroe Kita,” dalam PTHN (1927), no. 1, 15.

52Pitjik, “Membandingkan …, 104.

53Tanpa penulis, “ Goenanja Roepa-Roepa Pengadjaran Didalam Kitab- Kitab Tasaoef,” dalam PTHN (1920), 108.

54Pitjik, “Membandingkan …, 104.

(25)

408 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

membacanya atau berdialog dengan-Nya melalui kitab-kitab itu.55

Berbagai doktrin MTI tentang kesatuan esensial agama- agama, pesan kenabian dan kitab-kitab suci sesungguhnya merupakan bagian dari usaha Gerakan Teosofi dalam mewujudkan persaudaraan universal di antara umat manusia dengan tanpa memandang ras, bangsa, warna kulit dan agama.

Teosofi menyandarkan ideologinya tentang hal ini melalui mistik agama-agama. Sekali lagi, kaum teosofi menegaskan bahwa semua agama adalah benar, sederajat dan sama-sama berasal dari Kenyataan Ilahi. Karena doktrin ini, seorang teosof tidak suka merendahkan atau menghina agama lain yang berbeda dan tidak setuju jika ada orang berpindah agama. Konversi agama hanya terjadi jika seseorang itu tidak mengerti akan kemuliaan dan keagungan agamanya. Karena doktrin ini pula teosofi menghendaki: “pemandangan persatoean” dan “persaudaraan” seloeroeh doenia.56 Jika setiap orang saling menghina atau merendahkan keyakinan orang lain yang berbeda, sulit terjadi persatuan dan persaudaraan kemanusiaan itu.

Soal Perbedaan Agama

Sedari awal, kaum teosofi Indonesia memahami bahwa bentuk, institusi dan wajah agama-agama berbeda satu sama lain.

Mengapa “badan” agama-agama itu berbeda? Jawaban mereka sederhana saja:

Tjoemah sadja dari sebab samoea Roesoel itoe lahirnja didoenia ada djamannja sendiri, djadi bagi kelahirannja sarak (syari‟at) djoega ada jang berbeda, karena satoe-satoe djaman, keadannja dari pikirannja manoesia djuga tida sama.57

Jadi, perbedaan konteks di mana para utusan Tuhan dan turunnya wahyu maka agama menjadi beragam pula. Argumen logis ini juga digunakan oleh kaum pluralis dan para pendukung filsafat perenial. Dalam bahasa MTI yang lain, karena bentuk (form, vorm) kelahiran agama berbeda-beda sesuai dengan kultur

55Latief “Faedah …, 31.

56Ibid., 11.

57Siswosoeparto, “Kabar dari M 7,” dalam PTHN (1912), 140.

(26)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 103

masing-masing, maka bentuk “Kenyataan” juga berbeda-beda.58 Inilah yang membuat doktrin dan syariat menjadi beragam dan berbeda. Hal itu wajar karena agama turun bukan di ruang yang hampa sejarah. Syariat agama biasanya hadir sebagai respons terhadap situasi dan kondisi zaman. ╩asan ╩anafī, seorang intelektual Muslim kenamaan dari Mesir, menyatakan bahwa wahyu bukanlah sesuatu yang berada di luar konteks yang kokoh tak berubah, melainkan berada dalam konteks yang mengalami perubahan demi perubahan.59 Karena itu, keragaman ras, bangsa, suku bahkan perbedaan ruang dan waktu meniscayakan adanya perbedaan syariat. Sejauh menyangkut aturan-aturan rinci, tak mungkin ada ajaran tunggal dan universal yang bisa dipakai di setiap masa, situasi, dan kondisi.60

Seorang penulis teosofi merujuk kepada cerita tentang empat orang buta yang memegang gajah lalu membuat kesimpulan tentang gajah. Cerita ini sesungguhnya dipopulerkan oleh Rūmī (1207-12) seorang sufi dari Konya, Turki sekarang.61 Tentu saja, hasil rabaan setiap orang buta yang bersifat parsial itu akan melahirkan pemahaman yang parsial pula tentang gajah. Namun, mereka mengklaim telah memahami gajah (baca: agama) secara utuh. Dari sini seringkali muncul konflik dan perselisihan.62

Menurut kaum teosofi, Tuhan menurunkan atau memperbarui wahyu-Nya kepada masyarakat yang sakit yang memang membutuhkan. Sakitnya satu masyarakat dengan yang lain mungkin berbeda, karena itu obatnya (syariat) harus berbeda pula, tidak mungkin sama, mereka membuat tamsil:

Tabiatnja seorang Iboe memelihara anak-anaknja jang sama sakit itoe tidak sama; jang seorang diberi nasi dengan kare, jang kedoea boeboer sagoe dan garoet, jang ketiga roti dengan mentega. Demikian djuga kehendak Toehan adanja Ia mengadakan roepa-roepa agama itoe hanja

58N.,“Sekarang Datang Swara Baroe, Apa Soedah Tahoe?” dalam PTBI (1929), no. 10, 147.

59╩asan ╩anāfī, Dirāsat Islāmiyyat (Mesir: Maktabah al-Anjalū al- Mishriyyah, t.t.), 71.

60Abd. Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur‟an (Depok: KataKita, 2009), 166.

61Jalaluddin Rūmī, The Matsnawi of Jalal al-Din Rumi, ter. & ed. Reynold Nicholson (England: E.J.W. Gibb Memorial Trust, 1990), Book III, 71-72.

62Baehler, “Gadadhara …, 50.

(27)

410 Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013

soepaja djadi djalannja masing-masing bangsa menoeroet tabiat jang setoedjoe dengan kodratnja sendiri-diri, boeat berbakti kepada Toehan.63

Maka, setiap bangsa memilki ajaran yang unik yang cocok bagi diri mereka masing-masing. Setelah dirasa cocok, setiap pemeluk agama harus teguh menjalankan ajaran, kewajiban dan aturan agama masing-masing dengan bebas dan saling menghormati satu sama lain.64

Soal Penghinaan Agama, Konversi, dan Kerukunan

Dalam konteks ini, kaum teosofi sangat tidak suka dengan perkataan dan sikap yang merendahkan, menjelekkan dan menghina agama orang lain yang berbeda. Ada empat (4) prinsip utama kaum teosofi tentang keberadaan banyak agama dan sikap terhadap agama orang lain. Pertama, ada ribuan agama yang cocok bagi bangsanya masing-masing, karena keunikan dan kecocokan kultur itu, maka tidak ada agama yang lebih tinggi dan lebih bagus dari yang lain, dus setiap agama pasti mengandung kebaikan, kemuliaan dan tujuan akhir yang sama.65 Dari sini berarti semua agama sederajat. Kyai Somo Citro, lagi- lagi dengan merujuk kepada kaum Sufi Muslim, menuliskan sikapnya:

Djadi setoedjoe dengan perkata‟an-perkata‟an ahli soefi, bahwa semoea agama itoe satoe toedjoean. Dari sebab itoe, barangsiapa mempeladjari theosofie, soedah tentoe akan lebih teguh perdjalanannja dan akan lebih dalam pengertian dalam agamanja sendiri, apa poela akan tidak mentjela pada lain agama dan kedjadiannja akan menambah keslametan dalam doenia.66

Kedua, sangat tidak pantas jika seseorang membenci dan menghina agama orang lain hanya karena perbedaan keyakinan, apalagi orang tersebut belum mendalami hakekat agamanya sendiri dan belum mempelajari agama yang dicelanya—dengan alasan “haram” mempelajari agama orang lain. Orang yang menghina agama lain disebut oleh kaum teosofi sebagai “Si

63Ibid., 7.

64Ibid., 6-7.

65Karim, “Auwaloeddin …, 45.

66 Tjitro, “Djalan …, 121-2.

(28)

Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013 133

picik” yang tidak luas dan tidak dalam pengetahuan agamanya.

A. Karim, seorang penulis Muslim menunjukkan kekesalannya sebagai berikut:

Agama itoe berpangkat-pangkat, menoeroet orang jang memakainja.

Orang, selamanja memudji agamanja sendiri sadja, dan lebih adjaib sekali, agama jang lain ditjatjatnja, pada halnja ia beloem pernah memeriksa agama-agama jang lain; konon katanja haram. Perkataan itoe hamba pandang hanja oleh kepitjikan ilmoe sadja, sebagai katak dibawah tempoeroeng67

Jika dia Muslim, Kristen atau pengikut Hindu berarti ia belum mendalam pengetahuan agamanya.68 Kaum teosofi meyakini jika seseorang telah sampai pada esensi terdalam dari agamanya, ia tidak akan menghina dan membeda-bedakan agama.69

Ketiga, kasih sayang dan keadilan Tuhan untuk semua orang, bukan hanya untuk satu orang atau satu bangsa saja. Kaum teosofi meyakini jika ada seseorang yang berkeyakinan bahwa hanya dia yang dibimbing Tuhan sedangkan yang lain tidak;

hanya suara dia yang merdu dan fasih ketika berdoa yang didengarkan Tuhan, sedangkan doa dan harapan orang lain yang hening tak bersuara tak akan diperdulikan Tuhan, sungguh orang tersebut tidak meyakini akan keadilan dan kekuasaan Tuhan dan menyangka Tuhan buta dan tuli. Jika ada orang yang gampang memvonis orang lain sebagai “sesat” berarti ia lebih tahu dari Tuhan, menurut kaum teosofi, justru orang itulah yang patut dikasihani dan akan menderita akibat perbuatannya itu.70Hanya Tuhan saja yang lebih tahu agama yang sah, baik, benar dan

67Karim, “Auwaloeddin …, 101.

68Tjantoela, “Peringetan …, 53. Seorang anggota teosofi lainnya yang beragama Islam menulis,”...adanja tjela menjtela dari sesoetoe fihak kepada lain fihak itoe tiada lain tjoema terbawa dari koerang fahamnja masing- masing, atau oleh karena marika itoe beloem menjelidiki maksoednja agama- agama tadi sehingga tertib.” Broto, “Tentang Agama Islam dalam Theosofie,” dalam PTHN (1926), no. 9, 125.

69A. Rivai, “Kedatangan Goeroe (Mahdi),” dalam PTHN (1927), no. 2, 23.

70A. Karim, “Serba-serbi tentang Allah,” dalam PTHN (1925), no. 2, 31.

Referensi

Dokumen terkait

L-52 Lampiran 22 Tabel Data Harapan...L-56 Lampiran 23 Tabel Data Kenyataan/Kinerja...L-58 Lampiran 24 Tabel Data Tingkat Kepentingan...L-60 Lampiran 25 Tabel R

Volume lalu lintas diperlukan untuk menentukan jumlah dan lebar jalur pada suatu jalan dalam penentuan karakteristik geometrik, sedangkan jenis kendaraan akan menentukan

Metode pelaksanaan kegiatan Pembuatan Alat Pembasmi Wereng Berbasis Sistem Kendali dan Ramah Lingkungan untuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Tani digambarkan

Kelima, ada hubungan \DQJ SRVLWLI GDQ VLJQL¿NDQ DQWDUD OLQJNXQJDQ ¿VLN VHNRODK GHQJDQ NLQHUMD JXUX Keenam, DGD KXEXQJDQ \DQJ SRVLWLI GDQ VLJQL¿NDQ antara tingkat pendidikan

Parameter yang digunakan antara lain P adalah laju kematian alami, v adalah laju kelahiran, U adalah peluang terjadinya kontak individu rentan ke individu

Analisis regresi linier berganda dilakukan untuk mengetahui pengaruh Trust (X1), Commitment (X2), Communication (X3), dan Emphaty (X4) terhadap Customer Loyalty (Y)

Di Negara Republik Indonesia, hak paten dirumuskan sebagai bak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu

Sumatera Barat merupakan daerah dilalui oleh dua patahan besar akibat pergerakan lempeng tektonik Eurasia dengan Indo-Ausralia Tumbukan kedua lempeng tersebut terjadi di