• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Antologi Puisi Untuk Cinta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Buku Antologi Puisi Untuk Cinta"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

U ntuk

C inta

(4)

Untuk Cinta

‘de Putri dan Ko~Ha

Copyright © 2013 by (‘de Putri & Ko~Ha)

Ko_Izzy Publ.

Desain Sampul: _Ka_

Diterbitkan melalui:

www.nulisbuku.com

(5)

Alhamdulillahirabbil‘alamin. Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas rahmat dan karunia-Nya lah buku ini dapat menjadi sebuah buku yang menjadi bacaan kita semua. Kami ucapkan terimakasih kepada anda yang telah mau membaca, baik sekedar melihat, membaca, menghayati, sampai yang mengapresiasi dan mengkritisi, kami ucapkan terimakasih setulus-tulusnya. Semoga Allah membalas kebaikan anda dengan pahala yang berlipat ganda, amin! Dan kepada anda yang sedang mencintai dan dicintai, terimakasih telah menginspirasi kami.

‘de Putri Words . . .

Diperlukan keyakinan besar bagi hati ini untuk kembali menulis, bercerita, dan membaginya kepada sang waktu. Terkadang berjalan melambat, hingga akhirnya saya dibangunkan oleh rekan saya yang paling kukuh mengajak saya bersama-sama menggoreskan semua rasa saya di buku ini, Ko~Ha, yang dengan semangat dan teguran-teguran kecilnya mampu mengingatkan saya bahwa saya pernah hidup untuk menulis meski hanya sebuah kata saja.

Kepada Ayah dan Mama, yang selama hidupnya tidak pernah kehabisan limit untuk mencintai saya. Entah harus bagaimana saya mampu menggambarkan rasa cinta mereka yang semakin hari makin jelas nyata terlihat kesyahduannya. Ayah, Mama, Kalian adalah sajak terindah yang pernah hadir dan digoreskan oleh tangan Tuhan untuk hidupku. Juga kepada adik perempuan saya, Anggun

Dari rasa kami untuk jiwa anda,

Kami goreskan kata demi kata di dalam buku ini

untuk semua hati yang pernah jatuh cinta, terluka,

(6)

saya. Terimakasih honey, karena telah mendampingi dan memegangiku menjalani rahasia kehidupan Tuhan hingga saat ini hingga akhirnya aku mampu menciptakan sebuah ruang yang terisi penuh dengan warna-warna cintamu. Karena engkaulah, setiap kata yang kutuliskan memiliki nyawa.

Dini Suci Islami, Bedah Komariah, dan Nur Hikmah, sahabat-sahabat terbaik yang tak pernah bertanya untuk apa saat saya membutuhkan bantuan. Terimakasih sayang, karena selalu menjadi sumber keceriaan yang tulus selama ini dan selalu memiliki waktu yang tak terhitung saat aku membutuhkannya. Kalian adalah sahabat yang tak pernah memiliki masa akhir bagiku. Juga kepada seluruh guru dan teman-teman almamater SMAN 1 Ciampea yang pernah menjadi tempat saya bagkit dan berdiri saat langkah saya pernah terhenti. Dengan kalian, aku mampu menemukan kembali rasa yang pernah hilang

Vera Linda Purba, Sindi Nursiamdini, Nurhamidah, Tintin Gigih Widiyastuti, Nidya Nanda Harahap, Fauzia Khaerani dan Gusti Dianda Sari yang dengan banyaknya cerita yang pernah kami lewati bersama, suka dan duka, mampu menghadirkan kematangan hati di hidup saya.Serta dukungan dan kekuatan yang tidak pernah berhenti mengalir saat tengah kehilangan kendali. I love you and all of our story guys!!Ever.

Pada teman-teman kecil saya, Andriansyah, Tika Ardini, Rahmat Jayanto, Liza Tunnupus, dan Bilqist yang pernah dan selalu memberi senyum dan kebahagiaan di hidup saya.

Terakhir, ucapan terimakasih tanpa henti saya ucapakan kepada tangan-tangan yang dengan penuh perhatian dan persahabatan yang tulus ikut menuliskan cerita bagi kehidupan saya, Sahabat-sahabat Evergreen terbaik saya, Departemen Silvikultur angkatan 46 Fakultas Kehutanan IPB, tanpa kalian, cerita yang tergoreskan ini tidak akan sempurna. Really Love your heart guys, Thankyou for all support. Salam evergreen!!

“Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu dan hanya

bisa terbang bila saling berpelukan.”

[

Luciano de Crescenzo

]

(7)

Tidak mudah untuk bangkit dari keterpurukan. Tulisan ini saya hadirkan kepada anda yang menyelami makna cinta dari berbagai sudut pandang. Semoga anda dapat menikmati suguhan kata-kata yang naif ini.

Saya berterimakasih setulusnya kepada ‘de Putri yang telah menyambut baik niat saya untuk berkarya. Tanpanya, hidangan puisi ini akan hambar bagai hidangan tak bergaram. Darinya saya belajar bahasa kelembutan, yang identik dengan cinta.

Saya juga berterimakasih kepada Ibu dan Ayah saya yang telah mengajari saya untuk kali pertama : apa itu puisi. Serta guru-guru saya yang berjasa membuka tabir diri ini dalam berkelana di dunia kesusastraan.

Kepada kalian yang sempat tercuri pandangannya untuk melihat untaian huruf-huruf di dalam buku ini ... Terimakasih.

Dan tentunya kepada rekan-rekan yang tak dapat saya sebutkan satu-satu, my beloved soulmate, my six pack, SASCOL-ers, Ya Oke-ers, Oni-Oke-ers, Kribondings ... you’re my everything ... ever!

Terakhir, saya berharap semoga tulisan ini dapat memberi inspirasi dan bermanfaat untuk pengembara cinta yang terus berkelana memahami maknanya yang tak terejawantah dengan kata apapun. Selamat menikmati ...

“Kuasailah bahasa yang sesungguhnya, karena dengan bahasa,

kita bisa menguasai dunia”

[

Ko~Ha

]

(8)

~Kemarau

Terpa Cinta di Kemarau Senja 1

Cintaku 3 Biasa 4 Kutunggu 5 Curahanku (Cinta) 6 Demi Kebaikanmu 8 Rindu (I) 9 Kurindu Mentari 10 Riak Hati 11 Dalam Keesaan 12 Kutitipkan Rindu 13

Sepucuk Surat untuk Bunda 14

Hikmah Cinta Alam PadaNya 16

Seorang Ayah dan Anaknya 19

Kau (Sahabatku) 22

Tentang Aku, Kami dan Cinta-Mu 24

Untukmu 29

Antara Cinta dan Nafsu 31

Cahaya 35

Dialog Aku dan Matahari : Arti Sebuah Kehadiran 37

Dalam Hening 43

Bersamaku 44

Rindu (II) 46

Kembali 47

(9)

Wahai Maha Cinta 57 Cinta Dimana, Cinta Kembali Bicara,

Cinta Bukan Cinta 62

~Hujan

Mungkin Cinta yang Paling Mungkin 71 Langkah Cinta di Atas Bumi Merah Putih 73

Suara 75

Ketidaksempurnaan yang Menyempurnakan 77

Sahabat di Setiap Musim 79

Karena Aku di Sini 81

Tiga Masa, Kau Akan Datang (Lagi) 82

Senja 83

Sajak Kau dan Aku 85

Rindu Pada Waktu 87

Nafas Rindu 89

Khusus Untukmu 90

Jiwa 92

Hilang 93

Dia Berkata Padaku 94

Fase 96

Laki-Laki Pertamaku 98

Pesan 100

Sajak Terindah 101

Sebuah Tiga dalam Bahagia 103

Seperti Biasa, Sebelumnya... 104

(10)
(11)
(12)
(13)

Terpa Cinta di Kemarau Senja

Bumi kini kering kerontang ... Darah mengalir hingga ke langit

Tak ada telaga, embun, oase, hanya emosi dan kebengisan

Semua lupa, dulu satu ... Semua lupa, bersama-lah segala Tapi di kemarau senja

Dahaga terus menggigit

Darah mengalir hingga ke langit Oh hijau dulu mengapa menyala kini? Hijau dulu merah bata menjelma

Ada yang terlupa dari kamus ingatan dunia terkembang :

Cinta ... Sederhana,

tapi tak ada yang mampu menemukannya semua luluh lantak diterpa nafsu dan dosa

Ego-ego dan keserakahan, merenggut cinta hijau merah menyala

Oh siapa dia ... pemuda cahaya pembawa pelita Di sekelilingnya peri peri menari ceria

Tak deras arus samudera rupanya, kemarau tak merenggutnya nestapa

“Mari kita kenali; sekali lagi! Cinta yang pernah bersemi di taman sari pertiwi” teriaknya lantang

(14)

Semua bertanya ... kenapa kembali lagi cinta? Karena lupa, memahami nya pun tiada

“Ingatlah semua! Kita lupa, hidup dengan harta hanya merenggut nyawa tak berdosa ... hidup dengan tahta hanya membuat kita semakin lupa : kita siapa”

Semua kembali geming gamang Apalah lagi maksud pemuda ini?

“Mari kita ciptakan hujan dengan membakar laut dunia dengan cinta. Kita titipkan rintiknya pada kemarau yang menyiksa. Agar larut-haru semua yang berhati. Syukur senantiasa memagut jiwa. Dan pada akhirnya kembali kita tersadar pada ruang yang kita tanam dengan cinta :

Hidup”

Semua kembali geming gamang

Tapi kali ini gemilang gemirang bergetar rasuk perlahan

Simfoni mulai beralun ... lembut

Di waktu kemarau kala senja penuh lara dan hilang harap

Cinta kembali menerpa dan menitip pesan tanpa bahasa

Hanya diam-diam merasuk ke dalam sukma yang mulia

Untuk kembali menggenggam asa ... memberi makna pada ruang :

(15)

Cintaku

Bila hutan itu masih berseri Itulah cintaku

Bila gurun masih membentang Itulah cintaku

Semua berbicara tentang pujangga Dan bidadari kahyangan pada hikayat Tapi aku dan cintaku padamu

Sesederhana pohon yang menjulang ...

Menatap dunia dengan senyum berseri setiap hari, bernapas untukmu: meski harus punah demi kesejahteraan

Cintaku sebesar jari jari tangan Yang menggenggammu Mendekapmu

Cintaku memang tak sebanyak bilangan waktu Yang menyelimuti hidupmu

Dan cintaku padamu ... Sesederhana tanah ...

Yang terhujam: demi membuatmu berdiri kokoh

(16)

Biasa

Tak lebih Tak kurang Tak elok Tak buruk Itu yang kumau

Semua yang tampak Tak semua terungkap Aku tak ingin jadi teristimewa Aku tak ingin jadi terhina Biasa ... Di antara

Karena semua yang tersurat

(17)

Kutunggu

Senyummu sehangat mentari di kala pagi Senyummu ... mentariku

Mentariku berubah malam

Kau tinggalkan hariku menjemput senja Aku tak peduli

Karena mentariku, mentari pagi

Dan malamku, kan menjadi pagi ... pasti Dan aku akan terus menunggu

(18)

Curahanku (Cinta)

Berulang aku mengamati manusia menyebut namaku Aku termangu, terkejut dengan berbagai ungkapan mereka tentangku

Manusia membuatku sibuk membenahi hakikatku Wahai manusia, usahlah menyebutku jika kau hanya mengatas namakan ku

Kau menyebut diriku seakan aku tuhanmu yang akan membela dan membenarkanmu

Sekali-kali tidak!

Aku adalah hakiki yang diciptakan Tuhanku bersama ruh kehidupan

Aku bukan tentang materi yang dapat dijual beli Aku juga bukan tentang aliran ilmu tertentu yang perlu dipelajari

Apalagi aku bukanlah apa yang ada pada kemaluanmu!

Sungguh tega engkau mencoreng namaku atas kehendak nafsumu!

Aku selalu bersanding dengan kehidupan

Menyelinap di hatimu, untuk memberi makna pada perjuangan

Aku adalah sahabat waktu

(19)

Aku adalah semesta yang tak pernah kenal kata „lelah‟ dan „menyerah‟

Aku sesederhana tulus dan ikhlas, ketika perjuangan tak mengharap balas

Usahlah kau sebut namaku, jika tak mengenal hakikatku!

Hakikatku,

Pengejawantahanku Hati seorang ibu,

Aku ada pada kaki-kaki lebah dan kupu-kupu Ketika tak lelahnya berjuang menemukan kembang untuk memperjuangkan kehidupan

Aku ada pada gelombang ombak dan ujung lidah pantai

Ketika keduanya tidak menggempur untuk saling memusnahkan,

Hanya memberi arti pada kehidupan Aku ada pada air unsur kehidupan

Yang tak pernah ber‟demo‟ menjadi kotoran

Sudah kukatakan, aku bersanding dengan kehidupan Wahai manusia

usahlah kau menyebut namaku Jika kau hanya tahu aku ada, Tapi tidak pada hakikatku

(20)

Demi Kebaikanmu

Kepakkan sayapmu sayang Dan terbanglah

Usahlah kau ragu sayang Aku disisimu

Jangan sayang Jangan kau menyesal Pada mustika abu-abu

Jangan sayang

Jangan kau menyesal kelak Demi kebaikanmu sayang Terbanglah bebas

(21)

Rindu (I)

Cintaku . . .

Kau berjalan di ujung pulau, di bibir pantai Menatap sendu cakrawala

Berbisik lembut pada bayu, memberi pesan

Air matamu menyatu samudera yang menderu redam Bila pada waktu aku bertanya

Akankah tiba saat kita jumpa Kita tahu, pada awan ada jawaban Cintaku . . .

Bernapas tanpamu susah sungguh Berjalan tanpamu

Laksana luka terbasuh garam, seketika pilu menggigit Sabar, kita selalu

Kita harus selalu Pada waktunya

(22)

Kurindu Mentari

Kilau gemilau mentari Daun daun merindu Kilau gemilau mentari Di sungai ikan ikan merindu Kilau gemilau mentari Pada hujan semua merindu Kilau gemilau mentariku Kurindu, kurindu, kurindu

(23)

Riak Hati

Bumi Air Biru

Beriak ombak dimainkan bayu Inginku teriak,

Tapi tak mampu

Pantaskah kutrima rayumu?

Hinakah aku? Padahal insan kita sesama Pantaskah kutrima rayumu?

Sedang hidupku jadi kelabu? Sekali kali tidak!

Aku tak mau Beri aku waktu!

Tuk kupikirkan jernih bersama embun Tuk heningkan riak hati nan menderu

Tuk hentikan hempasan ombak luapan hasrat Yang memaksaku

Biarkan aku Berdiam sejenak Untuk kupastikan Menolakmu!

(24)

Dalam Keesaan

Manusia bukan Tuhan

Yang mampu hidup dalam keesaan Sendiri . . . memuji

Sendiri . . . mencaci Sendiri . . . bahagia Sendiri . . . tersiksa Sendiri . . . berisalah Bingung, hendak berbagi Sedang jadi bangkaipun Tak ada yang peduli Hambar rasanya Sebatangkara

(25)

Kutitipkan Rindu

Semua berlalu bersama angin lalu Secepat waktu yang terus melaju

Kita dan kisah–akhirnya berakhir sejarah

Dan semua kembali terungkap pada suatu kehidupan kelak

Ketika dipertemukan–bukan untuk bertegur-sapa dan sebelum waktu itu tiba,

Kutitipkan rindu ini pada-Mu, Ya Rabbi

(26)

Sepucuk Surat untuk Bunda

Bunda

Saat raga kita satu

Kau titipkan cinta pada keabadian Menanam harapan pada waktu Bibirmu bergetar mengucap syukur Memuji asma-Nya

Tubuhmu rapuh pada ketegaranmu menyala Bunda

Saat raga kita satu

Aku hanya memandang kelam perjuangan Aku tahu cintamu menghidupkan

Mengajarkanku bahasa kehidupan Melalui matamu

Melalui lindunganmu Dalam gelap menggeliatku Bunda

Sekalipun niat tak pernah kau khianat Dalam buaian kau kenalkan aku bahagia

Sedang dalam tangisan hanya kutahu segala ingin Aku ingin lebih, Bunda

Tapi kau sekali lagi ajarkanku bahasa cinta Bahwa hidup tentang perjuangan

(27)

Bunda

Sekalipun aku keliling dunia

Tak kutemukan cinta sebesar cintamu Pada matahari engkau rela terbakar Pada bulan engkau rela terjaga Bunda

Sekarang kita ada pada waktu yang beda Dimensi kehidupan yang tak sama Tapi do‟amu senantiasa meliputi Sedang Dia Maha Tahu

Tak ada daya untukku membalas cintamu Bunda

Pada kelam malam aku menghadap-Nya Berharap engkau bahagia dalam lindungan-Nya Bunda

Inikah kehidupan? Yang dulu kau beri pesan Untukku perjuangkan?

(28)

Hikmah Cinta Alam PadaNya

Ada cinta pada lebah

Ketika usahanya tak pernah sia-sia Bukan untuk kaumya, tapi umat manusia Bukti cintanya pada Pencipta

Ada cinta pada laba-laba jantan

Ketika raga harus hilang, dimakan sang belahan jiwa Demi kemaslahatan keturunannya

Demi cintanya, kepada Sang Maha Pengasih Ada cinta di sela debur ombak

Hantamannya penuh cinta pada pulau Pulau ingin berlayar, layak engkau Engkau yang tak pernah tahu,

Betapa besar cintanya padamu, demi Dia yang Agung Ada cinta pada gunung yang menjulang

Ketika getarannya menakutkan Bukan untuk menakutimu Tapi untuk berjalan, Yang tak bernada Tanpa langkah berirama

(29)

Ada cinta pada sulur sulur pencekik Pohon itu pun menerimanya

Bukan saling menjatuhkan Tapi bersama menjulang Menuju cahaya

Menuju kasih sayangNya

Ada cinta pada awan yang musnah Demi kehidupan di bawah sana Banyak yang menengadah Banyak yang menganga Dan masih ada yang bersujud

Kemusnahan untuk mendapatkan cinta Demi cinta, kepadaNya

Ada cinta pada api yang membakar habis Bukan untuk menyombongkan diri Bukan untuk menghina manusia Tapi untuk mendapatkan cintaNya Mengejawantah keangkuhan kita Ada cinta pada laut yang setia Meski tiap detiknya sengsara, Meski beban dunia ditelannya

(30)

Tapi bukan untuk engkau

Atas nama cintaNya Yang Agung Ada cinta pada bulan

Yang merayumu pada kegelapan Membawamu ke alam lain pandangan Demi memberimu secercah cahaya, Dari mega membara, pada kesunyian Senantiasa tersenyum karena cintanya Bukan padamu, tapi padaNya

Kita berkata cinta

Tapi seringnya bertanya cinta Di manakah gerangan?

Wahai yang tak pernah menyaksikan Cinta memang bukan untukmu Tapi hanya untukNya

Sedang Dia mencintaimu Adakah kau cinta padaNya?

(31)

Seorang Ayah dan Anaknya

Sembilu luka ternganga

Pada seorang renta yang tak mampu meniup dupa Sesekali menyeka air mata

Terngiang di telinga pada kalimat anaknya :

“Meski bapak sudah tua, tapi Bapak tetaplah tulang punggung keluarga. . .

Tak pantas bapak biarkan ibu bekerja” Wahai tirus wajahnya kelabu sudah Sedang luka tetap menganga Sekali bertanya pada hatinya Adakah luka ini terbalutkan cinta? Dengan lemah ia mendekat Memandang wajah anaknya lekat Dalam tidurnya begitu mirip rupanya Tak jauh memang buah jatuh dari pohonnya Dengan terbata : khawatir mencuri mimpi anaknya Berkatalah ia pada kehampaan kesadarannya --- “Anakku, kau sudah besar sekarang

Rupamu tak lepas dariku dan ibumu Bahagiaku membuncah saat kutahu:

(32)

Kau anakku yang hebat

Di seluruh padang telah kau jejaki Di seluruh langit kau jelajahi

Di semua warta, namamu tertulis abadi Kau memang hebat, nak

Aku bangga padamu ... Tapi ...

Kekhilafanku itu ... kini memagut menyelimuti jiwaku Nak, jangan biarkan lidahmu menyayat batu

Aku lupa ...

bahasa kelembutan tak pernah kuejakan padamu Maafkan ayahmu, nak ...

Ayah hanya mementaskan panggung kekuatan Otot otot para pahlawan dan pejuang

Untuk menggenggam dunia dengan tangan sendiri Tapi pada yang tak bertulang ...

Tajamnya bagai duri mawar yang semerbak ... Salah lindung hilang bijak wibawa

Tak pernah ayah ingatkan hati-hati Bermain api bisa terbakar sendiri Maafkan ayahmu, nak ...”

--- Pada hikayat terungkap duka

Pada indahnya mawar durinya melukai pula Setetes air mata terlupa disekanya

(33)

Waktu menjadi samudera . . . Kembali kesadaran

Mimpinya ditelan gulita,

Raga enggan memberi tanda pada hidup Ia teringat

Pada bilangan waktu dimensi berbeda Pada kemarau hujan tak kunjung datang jua Sang anak memeluk ayahnya dengan mesra

Dengan penuh tanda tanya ayah hanya tersenyum menyambutnya

Suara angin anaknya Jelas membelai

“Ayah adalah yang terhebat di dunia” Seketika itu luka berubah warna Duri mawar mekar jua

Luka kembali terbuka mengalirkan cinta Paradoks . . . inilah kehidupan

Pada cinta tersayat luka Pada luka terbalut cinta

(34)

Kau (Sahabat-ku)

Kau

Yang tak pernah terukir di hatiku Kau yang terlupakan oleh waktu Dan kau

Kau yang mengukir namaku di hatimu Kau yang terus terhujam busur panahku Berulang aku menghitung waktu

Menatanya satu demi satu dalam ingatanku Tak kutemukan namamu

Tapi kau

Yang tak lekang oleh waktu

Membawa secercah cahaya untuk berbagi denganku Ah! Betapa aku malu!

Tapi kau tetap tersenyum

Kau ceritakan pada batu dan debu di jalan setapak Kau ceritakan pada daun – daun di dahan yang rendah Kau ceritakan pada beriak sungai yang berlomba ke muara

Kau bahkan ceritakan pada tiap bulan dan matahari di tiap pergantiannya

Kau tak pernah ada bagiku Sedang kau selalu ada untukku Ah! Betapa aku malu!

(35)

Kau tulis di prasasti kerajaan kita Akulah raja, dan kau perdana menteri Kau tulis di lembaran papyrus

Aku tempat kau berbagi tapi tak kusadari Berulang aku mengeja kenangan

Aku tenggelam dalam kolam cinta Aku melayang ke negeri atas awan Aku menari bersama bulan bintang Tapi kau hanya tersenyum padaku

Kau hanya membawa secercah cahaya untukku Tapi sekali lagi aku tak menyadari

Hatimu rela menjadi abu Terlalu bening bagi kaca Sedang hatiku memang kelabu Kau

Dan aku menyadari Ternyata memang kau

Sang pembawa cahaya tanpa angan Yang slalu ada bahkan pada saat aku tiada Kau . . .

(36)

Tentang Aku, Kami dan Cinta-Mu

(1)

Wahai Dzat yang Maha Cinta Aku bersimpuh mengetuk langit Berharap bertemu dengan-Mu Wahai Dzat yang Maha Pengasih Masih angkuh diri ini menghadap-Mu

Sedangkan dengan waktu aku berhutang dosa Tapi wahai . . .

Aku tahu betapa Maha Pemaafnya Engkau Wahai Dzat yang Maha Penyayang

Pada rumput pun aku masih tergoda Pada piala dan tinta emas masih kudamba Pada sebatang tembakau kulupakan semua Pada mimpi aku kadang entah memuja

Pada mutiara ciptaanMu tak hentinya kuterlena Wahai hinanya diri ini Tuhanku

Bahkan dengan hati aku enggan mengakui (2)

Pada seberang pulau telah Kau ingatkan Di depanku Engkau bahasakan . . . Nikmat yang Kau anugerahkan Manatah lagi yang dapat kudustakan?

(37)

Tapi aku masih berpaling Ya Allah . . .

Pada bumi mana lagi kami akan aman?

Sedang dalam keamanan negri ini masih kami risaukan (3)

Elegi Banda belum membukakan mata Elegi Jogja hanya memenjarakan hati Jelaskanlah pada kami . . .

Padaku

Kemenangan abadi

Dalam lembaran-lembaran telah dilafalkan Bahkan menara menara ditinggikan Seruan kepada-Mu hingga ke bulan

Tapi aku manusia ya Allah, masih dalam kelalaian Jika bukan cintaMu yang Agung

Niscaya hilang ditelan bumi Pada pantun pun adat patuh

Pada rangkaian kalimat pendusta dianggap Dewa Wahai, yang mana lagi hendak kucari?

(38)

(1)

Dalam gelap aku mengingat nama-Mu Terbata-bata kueja per huruf

Terlunta dalam kekurangan Masih hina, ya Allah

Sedang dalam bayangan rumah-Mu terlihat Hitam kelambunya bertakhta emas

Putih berbaris, berduyun-duyun Sesak, napas hanya menyebut asma-Mu Pelita menembus cakrawala

Pada cahaya yang berlapis-lapis Tentang cinta-Mu ya Allah Kau jadikan kami sama Kau jadikan kami saudara Tapi apa yang lebih sakit

Selain melukai hati orang yang dicintai

Selain melihat penderitaan orang yang dicintai Tentang cinta-Mu ya Allah

Betapa aku selalu ingkar

Betapa aku selalu dahaga akan kenikmatan semu Betapa aku selalu berulang kembali ke sekutu

(39)

(2)

Bahasa kami sarat dusta

Bunga dimana-mana harum kiranya, busuk baunya Kami hebat bukan?

Punya cinta pada antah berantah Sedang hijau disulap kuning Pada akhirnya gigit jari Kau ulangi ingatkan kami Pada Merapi Kau titip didik Pada Krakatau Kau pinta balik

Dan Kau pernah berbisik pada Bengkulu, Jogja dan Tasik

Sedang dari ujung-ujung zamrud Yang dinikmati hanyalah fatamorgana Kembali berkumandang pada „kebenaran‟ Kebenaran kami Tuhan, sudah benarkah? Aku kelu pada setiap aliran darah

Sedang berulang kali aku tahu Tapi aku tak mau tahu

(3)

Kembali pada-Mu, aku Kembali aku pada-Mu Dan aku kembali pada-Mu

(40)

Tapi aku kembali ke aku

Demi nama-Mu nan Suci lagi Agung Lindungilah aku dan namaku Aku tak kuasa melawan badan

Sedang pikiran berkelana ke ujung terbenam Cermin jiwa terkungkung penjara rayu

Demi nama-Mu nan Suci lagi Agung Lindungilah aku dan namaku Lindungi keluargaku dan kerabatku Lindungilah mereka yang taat pada-Mu

Berikanlah petunjuk kepada para pencari kebenaran Dan lindungi, segenap untaian zamrud-Mu

(41)

Untukmu

Hai Nona manis

Kemanakah „kan kau tuju? Di sinikah kita bisa bersatu? Bukankah demikian maumu? Apatah lagi mauku?

Hai Nona manis

Pada rayuku tak kutambah gula Sekedar garam pecita rasa

Bukan janji biasa, tapi tak jua luar biasa

Padaku kau berlari, padaku kau berserah . . . bukankah demikian?

Apatah lagi mauku? Hai Nona manis Nona manis lagi Yang manakah lagi? Hai Nona manis Kita terbujuk rayu

Pada redup remang mayangda Menari berputar pada segala sisi Menari tarik seruduk ke segala penjuru Di sana tanya, kembali sesal pikir hati Menyesal?

(42)

Hai Nona manis Nona manis lagi Ini lain lagi Juga yang ke lain

Kita kecap manisnya di lidah

Rasa-rasanya gula-gula kapas empuk lembut menggumpal

Kita bicara dengan gula-gula kata Maniskah gula?

Gula-gula Jawa Hitam manis . . . ya! Hai si hitam manis Ah, manis lagi Banyak manis Lidahku pahit Kembali lagi . . . ah Hai nona manis

Kita dan redup remang mayangda Nikmati saja

Ini gaya kita

Kata orang-orang „gaya kota‟ . . . percaya tidak, engkau sedang dihina? Cinta? Untukmu? Iyakah? Maaf, tidak ada

Kupersembahkan Gula-gula

(43)

Antara Cinta dan Nafsu

Kau berkata cinta

Aku pun mengatakan kata yang sama Tapi cintaku dan cintamu

Bagaikan madu dan racun Aku dan kau sama tahu

Pada kebebasan berbatas yang tak bersekat Kita sama memahami

Pada cinta ada perpaduan

Yang membuat pribadi kita jadi satu: sang buah hati Tapi cintaku dan cintamu, bagaikan madu dan racun Madu beracun, racun madu

Kita sama mematikan, pada jiwa pengelana pencari kebenaran

Tapi kita mematikan perbedaan

Mematikan jiwa pelita benderang menjadi gelap dalam ruang kelam

Membunuh pengganggu jiwa yang menggelapkan untuk kembali terang bercahaya

Pada dimensi semua tersulap

Mata . . . telinga . . . pada semua gerbang semu jiwa dan asal buah karya

Kita terserang dalam diam Dimensi yang hanya terbaca hati

(44)

Tapi dalam kesucian,

kita pula yang menghujatNya Aku dan kau tentu beda Kita sama pada semua indrawi Tapi kita beda pada hati

Kini antara madu dan racun sudah sama Tapi akibat meriam yang ditembakkan ke mata Kini madu dibilang racun

Racunlah sebenar-benar madu Akibat semua bom rakitan ke telinga Dan madu tetaplah madu

Racun tetaplah racun

Hanya kita mengatakan sama ---

Kita lagi-lagi membahas keduanya Pada demikian ada api di tangan

Jika besar dan membahana, habislah kita

Tapi api itulah pembakar sajianmu, mengusir jiwa yang menggelapkan temaram

(45)

Pada demikian ada air di awan

Jika diturunkan padamu ia kan laksana surga nikmat yang menyejukkan

Jika air bah tak disangka maka terhanyutlah kita ---

Kau berkata cinta

Aku pun mengatakan kata yang sama Tapi cintaku dan cintamu

Bagaikan madu dan racun Aku dan kau sama tahu Kita sama memahami Pada cinta ada perpaduan Kau madu dan racun Aku air dan api Kau madu aku madu Kau racun aku racun Kau air aku air Kau api aku api Tidak semudah itu

Bila terbilang, akan ada pelangi

Bila tak terbilang, semua binasa, kau dan aku ---

(46)

Pada antara tanpa sekat

Pada kebebasan berbatas yang telah tak berbatas Kita tembakkan meriam kita ke mata dan mata Kita ledakkan bom rakitan kita ke telinga Dan semua kembali melihat

Dan semua mendengarkan kembali Pada antara tak bersekat

Pada kebebasan tak berbatas

Ada nurani yang memberi sekat dan batas, itulah berkat

(47)

Cahaya

Aku melihat temaram di sini

Di sana temara sekali . . . ah, lagi-lagi di sana Di mana dapat kau lihat yang lebih baik?

Jawabannya hanya di sini, temara meski temaram Temara di sana itu temaram

Bayang-bayang lorong-lorong tersembunyi Pekat, tertutup rapat

Di sini abu-abu memang,

Temaram tetap temaram, tak berubah ataupun diubah Apalah lagi arti damai yang kau embarai?

Mereka di sana menjajah demi sepetak tapak seleret Di sinilah cahaya kita

Tempat damai tanpa cela Apalagi yang ditanya?

Kau lihat ke belakang, mandi cahaya Angin riuh rendah sepoi-sepoi Mereka wajar berkelana Mereka pantas mengembara

Karena menaranya tak berair mata–sepi tandus tak berirama

Di sini hujan hijau menari-nari memanggil kilat dan api

(48)

Apalah lagi istana yang kau impikan? Temaram di sini kau yang nyalakan

Agar dalam kelam bercengkerama segala misteri Bukankah pelita itu tak ingin kau jadikan benderang? Lihatlah, pelita itu hanya kau simpan dalam dada dan pikiran

Tak kau bagi pada alam dan tetangga, apalagi mereka di sana

Lihatlah pada cahaya Tak pamrih ke segala Menjuru menyeluruh dunia

Pada kau yang merasa suci atau berdosa

Kembalilah pada fana dunia–Perhatikan temaram jiwa Kita, dengan tangan-kaki seluruh indra

Sekali lagi di tanah ini, titisan surga Kembali kita menjelma cahaya Berpendar ke segala penjuru dunia Sebagai pelita . . .

Menari bersama hijau tua dan kuning muda Bersimpuh bersama rindang hujan dan nyanyian samudera

Sadarilah, temara sebenarnya Di mana tempat kau berada

(49)

Dialog Aku dan Matahari:

Arti Sebuah Kehadiran

Aku bertanya pada bulan dan bintang Tentang arti sebuah kehadiran Bulan dan bintang hanya terkikik geli Lalu aku bertanya pada matahari Tentang arti sebuah kehadiran

Sedangkan mentari mengerutkan kening: heran Berulang aku mengeja waktu: tahun, bulan, hari, jam, menit, detik dan saat

Tak kutemukan arti hadir dalam bilangan waktu Ah, mungkin memang banyak yang berlalu, tanpa aku Matahari bertanya kembali padaku

: Apakah gerangan dunia ini bila tanpa kehadirannya? Semua juga tahu, rumput-rumput itu pasti lebih mengerti

Betapa gelap kehidupan ini,

Tentu hutan itu akan menyanyikan lagu rindu Atau sejenak kehidupan akan rehat

Tanpa ada yang berani melangkah, ke arah mana Mataharipun tersenyum: dan kembali bertanya padaku : Lalu apakah gerangan dunia ini bila tanpa bulan dan bintang?

(50)

Mungkin tidak ada bilangan waktu yang dua belas Tak akan ada yang berjalan kala malam

Tak akan ada pengarung samudera

Tak akan ada yang berpuasa, karena tak ada Ramadhan

Tak ada istilah hari raya dan haji karena tak ada Syawal dan Dzulhijjah

Tak ada yang menahan diri untuk berperang pada empat yang haram

: Apakah kau mengerti? Aku tidak mengerti

: Lalu apa gerangan tanpa ibu dan ayahmu? Akupun tidak ada

: Lalu apa arti hadirnya mereka?

Karena mereka aku mengenal namamu matahari, bulan dan bintang

: Apakah kau mengerti? Belum, aku tidak mengerti

(51)

Kau dituliskan Tuhan untuk selalu ada Sehingga siang dan malam menjadi nyata Ibu dan ayahku memiliki aku

Sehingga mereka berkewajiban mengurusku Sedangkan aku . . .

Pada anginpun aku tak tahu arti hadirku Dalam bilangan waktu

Aku hanya bersama mimpiku

: Bukankah telah kau baca Firman-Nya?

Bukankah ada dalam firman-Nya untuk apa kau diciptakan?

: Bukankah ada nenek (bumi) yang perlu kau urus? Ah, apalagi yang tidak kau pahami?

Kuperingatkan kau:

Tugasmu lebih banyak dariku Lalu apa arti hadirku?

Bila aku tidak melakukan tugasku sebagai manusia? Matahari itu temaram

Ada luka pada roman

(52)

Dadamu sesak dipenuhi tentangmu Tentang angan-anganmu

Tentang kekurangan keadaan

: Dan segala yang membuatmu nyaman Lalu apa yang harus kulakukan?

: Lakukanlah apa yang dikehendaki-Nya untukmu dan jauhkanlah apa yang dibenci-Nya

: Hanya itu Itu?

: Terdengar mudah memang,

Tapi percayalah bahwa semua butuh perjuangan Tak ada yang mudah ketika kau melaksanakannya Setengah berbisik berkata:

Tapi menjadi mudah bila dengan cinta Cinta?

Apa itu?

: Hanya kalian, manusialah yang lebih memahami apa itu cinta

(53)

Lalu apa artinya dengan kehadiranku? : Hadirmu menghadirkannya

Cinta . . . ya

Kau yang bisa menyebutnya, mengubahnya,

menyelami hakikatnya

Tapi aku tidak mau, bukan? : Jangan kau tanya arti hadirmu Wahai apa lagi jawabmu

Aku hanya ingin tahu aku apa ada : Ada

Dan sekali ada, selalu ada

Hingga pada yang beda, tetap ada Karena kau ditetapkan ada Arti hadir?

: Apalah beda pada ada

(54)

Karena waktu tak lebih dari garis namamu Ingat itu!

Arti hadir?

: Baiklah, lihatlah di sana

Suara-suara menggema, semua berkumpul Mungkin kau patut di sana

Bayangkan bila merah menyala

Lalu kembang gula menguning menyisakan darah dan pekat raga

Bayangkan kau yang telah kaku dan berhenti menyapaku

Masihkah kau ingin bertanya? Ini sudah banyak makan waktu Baiklah, nanti kusimpulkan

(55)

Dalam Hening

Kupu-kupu . . .

di manakah kupu-kupu itu? Ah, pelangi di imaji lagi . . .

Kembali emas terburai berai menjadi manik-manik . . . dan aku hanya tersenyum

Sekali lagi, menikmati dalam hening . . . di sini sepi, di sini rindu itu

Padamu?

mungkin, tapi api itu kembali merayu, Ah ... air itu ...

Penyejuk dahaga masa silam, kapankah mengalir lagi? semua tanya itulah harap ...

pada yang terjawab itulah ilmu, dan aku tersenyum lagi ...

lagi ...

dalam hening, di sini sepi, di sini rindu

(56)

Bersamaku

Kemarilah bersamaku Bersamaku berarti sunyi Menikmati simponi sepi Hiduplah bersamaku Bersamaku berarti diam

Bergerak mengendap dalam gelap malam Jika kau ragu, usahlah merayu

Karena pada hatiku

Tak terbuka jendela dan pintu Tapi di hatiku,

Kau bergelayut manja di ufuk cakrawala Diam-diam menyelinap mencuri logika Ketika waktu bicara, kelak

Terungkaplah segala Tapi sesal takkan kumiliki

Karena bukan ragu memagut juwita malamku

Tapi kuatnya hasrat yang membuncah, „ingin bersama‟ Sedangkan kau tahu,

(57)

Baiklah, mari kita mainkan drama kehidupan Kita tulis skenarionya

Kita dendangkan lagu cinta, endless love? Bisa jadi Menganyam mimpi menjadi permadani impian Sedikit demi sedikit membangun astana Kembali bergeming pada cahaya Astana

Cahaya

Pada-Nya lah segala bermuara Bersamaku kita kembali Lupakan sajak syair tak bertepi Kita tulis skenarionya lagi Harus kali ini!

Kali ini kita harus kembali

(58)

Rindu (II)

Rindu itu sementara, datang dan pergi membaur melebur air menjadi larutan asam-basa

Rindu itu sementara, indah seketika menyisakan luka dan tanya

Berulang aku mengoreksi rindu itu pada hak dan hakikatnya

Tapi rindu ini mengikat tanpa mengenal waktuku bersahaja

Merenggut, mencekik, mengancam jiwa yang dahaga Rindu ini ... rindu itu ... pada bulan yang beda ditatapnya

(59)

Kembali

Ini tulisan berapi

Goresan luka dan tinta darah tak bertepi Memagut sendiri jiwa yang sepi

Ini tulisan berapi

Sekali lagi tanya cinta penuh misteri Tapi apalagi selain kehendak Ilahi?

Berenanglah ke samudera, kembali ke tepian Luasnya cakrawala sehebat deburan ombak yang kembali menari

Tapi cakrawala dan ombak bertemu pada horizon tepi merah jingga ungu mega

Tarian tulisan yang kembali berapi Suara bisu hati

Siapa mengerti selain kembali menari Jangan tanyakan di mana cinta Karena lama sekali ia bersembunyi

Hadirnya khawatir membawa tarian goresan salah arti Sekali salah arti

Sesal yang menghampiri Bumi tempat hati-hati

(60)

Tapi ucapan hampa bak melodi tanpa nada Sekali ketuk dua tiga tak berpaut

Pautan abadi Hanya ikatan suci Atas nama cinta

Cinta pada Maha Lembut nan Pengasih Sekali lagi api memberi arti bagi yang berusaha memahami

Panasnya bukan untuk sekedar menguji

Tapi menyaksikan sesal pada yang mengkhianati Kembali berbahasa, melodi terberai tanpa isyarat : cinta kembali ke peraduan,

Takkan kau temukan lagi, meski sejuta tahun mencari; menanti

Berenanglah kembali, cari lagi

Sekali menari pada api dan berharap cinta kembali Bisa jadi, jika berharap pada yang memiliki Tulisan ini kembali berapi

Nyalanya penuh misteri

Sajak cinta yang mencuat di dahan-dahan Nanti . . .

Kita percayakan saja Kembali kita,

(61)

Ini Cintaku

Ini cinta bukan sembarang cinta Karena ia tak pernah terbagi Ini cinta bukan sembarang cinta Karena sucinya masih terjaga Ini cinta bukan sembarang cinta

Karena cinta ini jawaban sang Ilahi Rabbi Ini cinta bukan sembarang cinta

Karena cinta ini menembus segala dimensi Ini cinta bukan sembarang cinta

Bukan janji-janji, tapi pasti atas kehendak Ilahi Karena kesetiaan abadi

Itu yang kupersembahkan untukmu Atas nama Tuhan kita yang satu

(62)
(63)
(64)
(65)

Untuk Cinta

Kekasihku ...

Samudera ini mencari asalnya, setelah lelah alir liar bermuara

Angin ini peluk titip gunung yang menjulang Langit satu menyaksikan kita

Aku dan kamu ... Abadi dalam ikatan suci

:Kekasihku ...

Bukankah langit yang kita lihat adalah langit yang sama?

Lalu mengapa aku merasa begitu dingin ketika menatapnya

Datangkanlah padaku sebuah angin ... Angin yang kau titipkan pada langit untuk menciumku

Riuh rendah sepoi angin itu ... Baikkah kau di sana? Ingatkanku pada astana tempat peraduan

Surga cinta yang kita bangun bersama

:Bukan tentang airmataku yang jatuh saat menggambarkan hatiku atau tentang bibir yang tiba-tiba terasa kelu melihat wajahmu di kedinginan malam

(66)

Tapi, ini tentang aku yang ingin memelukmu, di sini ... denganku ...

Pulanglah sayang ... Angin ini tak semerdu dulu Dalam riuh yang bertubi-tubi ...

Ia telah rindu pada lapang hijau yang bergerak lembut menyambut

Pulanglah..

Sertakan aku pada detak dan ingatanmu Teringatku pada tinta emas ...

Buhul buhul kokoh tak telerai berai oleh badai Selayang semua janji kembali ke pandangan Aku harus kembali ... tapi di sini cinta itu

Yang pernah kita bangun dalam mimpi ... wacana putih dalam lembar ingatan

Jiwa ini buncah remuk redam meronta Selayang simalakama dilema

Di sini suara-suara memanggil

Darah dilukis sana-sini ... Aku ingin abadi kekasihku ... Dengan cintamu ... Bersama kembali kepada hidup Air mata di sini air minumnya, sayangku

(67)

Tangannya hilang, dimakan serakah ego dan nafsu buta mereka ... Tak ada kisah, sejarah terbang melayang antah berantah ... Ingatan lenyap dengan candu halusinasi

: Aku terus mencoba sayang, saat duduk di bawah patahan malam, beku cuaca ini menuliskan, “kau”

Tapi tak bisakah peri di balik pepohonan itu menceritakan padaku, bagaimana lukisan para bintang yang temaram menorehkan senyummu itu, berhenti ...

Warna tinta itu telah terlalu pucat dimataku.. sudah terasa lelah ...

Bukankah di sana engkau telah terlalu lama berlari bersama angin, yang menerbangkan pelurumu, sayang?

Tidurlah sebentar... aku akan menemanimu ... Akan ku tuliskan petisi pada kejauhanku agar ia mampu membiaskan sinarnya dan

menyuguhkan padamu ...

Segelas teh manis yang ruapnya begitu lembut, menemanimu

Hingga aku akan mendapati pagi saat kau tersenyum padaku

(68)

Kau yang bukan berupa ingatan saja, tapi kau yang mampu kupeluk,

Dan kucium dengan tergesa Ya, sayang...

Aku akan disini... tetap

Menghitungi hujan yang jelas tak mampu ku hitung karena begitulah, Aku merindukanmu Rindu yang tak mampu ku sampaikan betapa rindu ... Aku pada rinduku, kau jauh dan dekatku...

(69)

Wahai Maha Cinta

Tuhan, lelah sepiku menyadungkan lagu sunyi Peri-peri terkikik geli pada lemah hamba-Mu Sedang mencapai damai-Mu aku masih jauh Wahai Firman yang memberikan jalan terang Cinta yang meliputi dunia menembus angkasa raya Dengan siapa lagi dapat kucurahkan isi hati?

Sedang inang melihatku acuh masih, hanya penolakan pasti

Karena aku yang memuja-Mu dalam tiga rangkai harus berbagi cinta dengannya yang memuja-Mu yang tak berangkai

Kau yang ajarkanku untuk sebarkan kasih-Mu ke ujung dunia

Kau yang ajarkanku untuk dengan sesiapa cinta senantiasa

Aku mencintainya ...

Tapi aku tak ingin mengkhianati-Mu

Bilakah dewa-dewa berperang mulai melegenda? Haruskah kutulis kembali kisah-kisah para penghuni benua Utara?

Lebur dalam segala pertentangan yang selama ini terkesan khayalan?

(70)

Cinta yang tak pernah kupertanyakan Hanya kusyukuri adanya dari-Mu Tapi aku tak ingin mengkhianati-Mu

Sedang dia bersamaku nestapa dalam yakinnya Kami sama menghujat

„Kafir‟ kocar-kacir dalam dekapan waktu Tapi belum ada tanda

Siapa harus berubah Karena kami sama

Tak ingin melukai hakikat-Mu Yang beda di benak

Wahai Maha Cinta Wahai Maha Cinta

Dalam setiap kumpulan peristiwa kudapati diriku berjalan di langitMu

Ku lewati detik demi detik lumuran usiaku dengan cintaMu

Segala puja dan puji ku sujudkan pada keagunganMu, Satu.

(71)

Lalu aku harus bagaimana bila ternyata aku beradu pada pertemuan malam

Sesak pada sebuah mimpi yang menyapuku dengan sangat lembut

Aku masih tak mampu menemukan jawabannya, Mengapa aku?

Mengapa dia?

Mengapa kita, Engkau Yang Maha Esa dan miliknya yang tentu tak ku ketahui siapa

Bukankah seorang malaikat yang melahirkanku mencintaiku dengan cintaMu?

Lalu siapa yang memberinya cinta yang seharusnya tak kujamah sebagai sebuah surga

Jika memang, kami berbeda.. Mengapa aku merasa kami berada pada lorong putih yang sama.. Jika memang, kami tak sama.. Mengapa Engkau mengizikan aku memiliki cinta yang tentu saja tak berhak mengkhianati cintaku kepadaMu... padaMu, Wahai Zat Yang Maha Suci... padaMu saja.. Engkau nan Esa..

Sejak Kau tiupkan ruh kedalam tubuhku, Aku tau Kau sertakan pula takdir yang harus kunyanyikan keindahannya

(72)

Jelaskanlah kepadaku sedikit saja tentang binar yang begitu terang ini..

Yang menyakitkan mataku karena pendarnya yang bertumpuk-tumpuk

Ya Aziz..

Sajadah ini akan terus menemani airmata..

Entah aku harus memulai darimana, nyatanya aku telah sampai pada piluku

Aku mencintai ia yang tak pernah mengenalMu.. Aku mencintai ia yang tak pernah menundukkan kepalanya untuk menyembah Ke-Esa-anMu

Aku, selalu mencintaiMu dan akan tetap seperti itu.. Tapi, aku jelas tak mengerti..

Subuh kini mulai mendekati peraduannya, Dan aku belum juga habis bertanya kepadaMu, ya Rabb..

Matikan rasaku bila memang cintaku kepadanya melebihi rasa cintaku kepadaMu

Cintanya terasa begitu halus dan lembut hingga aku tak mamu melepas ikatannya

Bunuh cintaku bila memang cintanya membuatku mengkhianatiMu..

(73)

Tapi.. izinkan aku tetap mencintainya, bila ini kehendakMu..

Meski aku tak tahu mengapa, dan aku tak berhak tau mengapa..

(74)

Cinta Dimana, Cinta Kembali

Bicara, Cinta Bukan Cinta

Kembalikan! Dia benihku yang sempurna kutitip padamu

Kembalikan! Aku menginginkannya kembali

Kau dulu yang mengatakannya : “aku cinta padamu” Kini aku ingin buktikan

Manakah kata, dimanakah adanya, jika bukan ... Langit telah berubah warnanya.

Kau lihat? Nyata jelas kemerahan bercampur amis noda

Tak perlu kau bawakan aku ingatan tentang dosaku Karena aku terus membawa dosa ini bergerak pada kesakitannya

Kau bahkan tak pernah tahu, ketika aku tergelincir di satu purnama

Hidup namun tak hidup hingga kuciumi nadi di tanganku dengan ani berlumur amarah dan rasa maluku!

Tapi kau masih mampu melihatku beridiri tegak hari ini

Kau pikir untuk siapa? Kau? Laki-laki yang

(75)

Oh.. Bukan!! Bukan untuk kau dan ingatanku padamu.. Tapi untuk cinta yang kubawa dengan rasa sakit selama 9 bulan di dalam tubuhku.. Dia, malaikat kecilku.. bidadari milikku..

Pergi! Jangan bawakan aku dan bahagiaku kenangan tentang rasa sakit itu

Pergi!!

Pergi. Pergi. Pergi. Pergi. Pergi !!!!!!!

Aku selalu membenci diriku ketika aku melihatnya di bola matamu, seperti ini!

Berkali-kali aku meyakinkan langkahku sendiri „tuk tak membenci bagian dirimu yang menyatu di tubuhku selama lebih dari 9 bulan ini..

Berkali-kali, aku terus dicekik oleh tangan-tangan dosa yang tak terlihat

Berkali-kali.. aku, berdiri kaku menatap tubuhku dicermin dan mengingat bahwa tubuh ini pernah disentuh oleh raga menjijikan sepertimu..

Berkali-kali!!!

Sejarah terungkap „tuk kita baca, hikmah di sana perlu dikecap agar manisnya terasa diujung lidah

(76)

Aku tak banyak membawamu bunga, durinya kutusukkan pula!

Tapi semua hanya lembaran yang bercerita Hikayat yang dapat di kubur dalam

Dapat terbang melayang setelah mengabu terbakar Dapat tenggelam hilang setelah bermuara

Dapat memudar bersama cahya tak sampai dan sayup suara

Lupakan tentang kita!

Lupakan tentang hitam-abu-abu waktu yang termakan musim tertelan zaman!

Harusnya hutan kembali berseri setelah penambang itu pergi

Hahaha..

Kau ingin, pagi berpura-pura tak melihat malam? Atau ... kau ingin, mawar tak melihat duri yang tumbuh ditubuhnya?

Bagaimana? Bagaimana mungkin kau bisa meminta, Langit seolah tak melihat warna birunya? Duniaku pernah mati oleh kau yang menawarkan aku bahagia atas rasa cinta yang ternyata itu dosa...

(77)

Nafasku pernah mengelu sesaat setelah kau meminta aku membunuh nyawa yang hidup di ragaku.. dan nyawa itu, juga adalah nyawamu..

Lalu sekarang kau taburkan kelopak bunga diatas kubur yang kau gali sendiri..

Jangan berharap abu yang kau sulut api dapat kembali menjadi sebuah rumah megah..

Tidak! Tidak saat ini dan tidak pula sampai batas umurku!

Kita adalah kita ...

Bedebah dengan cahaya baru dan bunga mawar! Kita adalah kita ...

Telah terejawantah persatuan kita, di jiwa raga yang rapuh itu

Dia bukan milikmu semata ... aku ingin bagianku juga! Meski kau penuh luka, tapi benihnya dariku jua Biarkan waktu ini kulewati dengan kau: yang baru Sedangkan kau berbahagialah dengannya: yang baru Meski luluh lantak, segala perih dan luka kembali menggigit

Biarkan aku dengan kenangan kita dan biarkan dia bersamaku!

(78)

Biarkan aku sekali lagi merangkai kisah, menghapus noda sejarah

dengan detik-detik subuh, kembali bercahaya, hingga gemilang

Bisakah kau kembalikan dulu tahun-tahun yang kulewati dengan menginjak onak? Bisakah kau hapuskan masa-masa di saat tanganku terpasung dari hidupku? Bisakah kau enyahkan wajah mereka yang pernah meludahi aku dengan rasa malu bertubi-tubi dari ingatanku? Bisakah kau!?

Harus! Setelah itu ... Setelah kau bisa ...

Kembalilah padaku untuk meminta bunga mawarmu ... dariku ...

--- Jahannam!!! ---

Neraka itu menyala di mata, di tangan merah-bukan mawar merekah

Senyum indah perlahan redup dijemput maut Suara-suara tertahan, mata kembali membelalak Kejut dan kalut : kekhilafan pertama anak Adam kembali tertulis

(79)

Sejarah berputar memang, pada waktu yang tak dapat direka

Setan dan Iblis kembali bersorak-sorai: pesta pora mendapat teman baru di kediamannya kelak Petir itu datang tanpa suara

Ia mengeram tanpa melalui udara

Rambut hitam panjang itu kini terjuntai tanpa nyawa : Hilang sudah

Lalu bagaimana, cerita ini mampu menuliskan akhirnya

Peri kecil itu menangis di antara rerumputan dan kuntum bunga

Karena itulah yang terjadi ketika rasa manusia di penghujung akal sehatnya

Tubuh anak hawa itu kini kaku diatas sapuan langit yang mulai memerah, terenggut oleh sebuah mata pisau yang tak mampu melihat

Oleh orang yang pernah sangat dicintai dan mencintainya..

Padanya tanpa tanya: Entah ini takdir atau akhir dari jalan yang terpaksa dipilih

Bahkan dunia pun seolah menutup mata

ketika detik demi detik menyanyikan lagu kebencian Jangan...Jangan seperti ini...Jangan lagi...

(80)

Cinta ... Cinta dimana? Akankah kembali bicara? Cinta! Cinta dimana?

Ah, jikalau sudah begini ...

Cinta bukan cinta, hanya dendang semu yang sekali lagi : mengatas namakannya : Cinta ...

(81)
(82)
(83)

Mungkin Cinta yang Paling

Mungkin

2013 :

Matahari tak lagi bersahabat, bukan?

Kira-kira itulah yang banyak kita perbincangkan di kalender merah ini

Hujan datang lalu pergi tanpa tanda di mula, menemani gemuruh yang bergertak melewati kesadaran raga

dan kita, terpaksa melangkah dengan peluh, jenuh dan keluh

Tahun yang begitu lama dimasa lalu : Matahari masih tersenyum pelan,

melangkah mundur digantikan senja dengan gaun berhias permata ruby

Pelan saja,

hingga angin terasa malu bergerak keras dan justru ia datang,

begitu lembut dan membisikkan wangi rumput disetiap harinya

(84)

...

Mungkinkah waktu yang menggali kuburnya sendiri? ...

Kurasa tidak,

Mungkin yang paling mungkin, adalah

matahari, hujan, angin, dan gemuruh menyayangi kita dengan caranya masing-masing

Bukankah sebuah obat yang paling pahit merupakan penyembuh yang ampuh untuk rasa sakit

Mungkin yang paling mungkin, adalah Tuhan mengingatkan manusia melalui tangan-tanganNya di alam semesta itu

agar kita berhenti menarik rasa sakit ke dalam diri kita sendiri

dan mungkin yang paling mungkin, adalah Semua peluh, jenuh, dan keluh sengaja Tuhan ciptakan

agar kita membalikkan badan dan berlari ke arah-Nya Berhenti bersikap serakah,

Berhenti memberikan rasa sakit kepada dunia, Lalu berhenti, untuk berhenti mencintai alam semesta Karena mungkin yang paling mungkin dari semua yang terjadi adalah Cinta Tuhan pada manusia

(85)

Langkah Cinta di Atas Bumi Merah

Putih

Pagi buta saat kantukmu belum selesai lenyap : melipat sajadah

Aku mengerling mengantar angin Kau ambil kain lusuh tergantung

Pada bilik yang menitipkan nada tanpa kata lalu Berjalan mencari harap ke padang kebenderangan Ketika bulan semakin pucat terbias

Anakmu berjalan tanpa dentang menghampiri ibunya Mencium lekat tangan keriput yang tergores keras nasib

Tak ada sambutan nasi dan lauk pauk Anakmu,

tetap bergerak dalam terang pagi yang bisu

Berseragam merah putih : lusuh yang bersekutu dengan harapan

Menapak batu Gerisik pasir

Menuju tirai tebaran harap

Istrimu melangkah mengusik tanah lantai yang tenang tertidur

(86)

Membawa sekarung mimpi yang masih kosong di punggungnya

Tanpa alas berjalan Tanpa kemewahan Tanpa keluhan

membuka pintu yang berdiri renta tanpa kunci mengantarnya ke luas kehidupan nasib

mimpi harap

: di pusat kota yang menjulangkan tugu emas tinggi

Lalu apa?

Ratusan gunung tinggi tetap tak mampu memangku sedih itu

Banyaknya air di laut pula tak mampu hentikan dahaga

Tetumbuhan rindang tak mampu juga mengeringkan luka di perutmu

Lalu bagaimana? Kau dan jutaan kau

Tak pernah berhenti melangkah Kau dan jutaan kau

Tetap menari dalam nada putih temaram Karena kau dan jutaan kau

Percaya pada harapanmu yang merah menyala Hidup dan membiarkannya hidup

Mencari, dalam kesunyian di atas tanahmerah putih : untuk sebulir cinta dalam harap doa

(87)

Suara

Pernah satu kali aku bermimpi, mimpi saja,

tentang sebuah sakura Dan ia tak berwarna..

Ku tunggu, tetap saja tak berubah

Masih menunggu, ia justru semakin pucat dan lemah Pernah sekali waktu aku bercerita,

tentang sebuah istana, megah,

Tapi ia adalah istana yang begitu kosong Tak ada nada, bahkan suara debu saja Aku masih ingin bercerita,

Tapi istana itu hilang sudah, sekedip mata Pernah pula,

di satu sudut aku menari Langkah tariku tanpa bunyi

Meskipun gelang kaki gemerincing, seharusnya Tetap saja, suara itu tak kunjung jua..

Aku ingin berdiri nyata suatu masa

Bukan berdiri sebagai sebuah bayangan saja, Tapi mendengar dengan jelas suara kaki saat melangkah

(88)

Hingga mampu menikmati setiap iramanya, satu persatu

Untuk kemudian berlari, Mengejar mimpi,

yang bukan hanya sebuah ingin saja

..dan akan aku mulai denting gelang kakiku, hari ini untuk kedua pasang tangan yang menemaniku belajar berjalan

Untuk kedua pasang tangan yang memegangiku saat aku takut terjatuh

Untuk kedua pasang tangan yang menepuk punggungku saat aku membutuhkan ketenangan Untuk kedua pasang tangan yang selama hidupnya tak pernah melepaskanku,

Meskipun disaat aku terkadang berlari dalam ruangan tanpa suara

(89)

Ketidak Sempurnaan yang

Menyempurnakan

Kita terkadang hanya mampu melihat sisi samping dari orang yang berada di sekeliling kita.

Hanya melihat sisi belakang dari masalah yang ada Hanya mampu menerjemahkan sedikit raut wajah yang melihat kita

Tapi tak mampu meraba dengan halus ke dalam kalbunya...

Jika langit diciptakan untuk melindungi, maka Bumi tercipta untuk mengadu

Jika bahagia tercipta untuk membuatmu

tersenyum,maka LUKA tercipta untuk memberi kita ruang merindukan bahagia..

Disana akan tergores pilu yang menganga.. kecil namun terkadang melebar..

Semakin sakit Luka itu, maka semakin besar lubang pilunya..

Dari lubang pilu itu maka akan datang ribuan bahkan jutaan kasih sayang masuk kedalamnya..

membalutnya dengan halus, mengecupnya hingga airmata itu menjadi obat terakhir untuk meneguk manisnya..

(90)

Bagiku, tak pernah ada kata SALAH dalam sebuah persahabatan.

Tak ada kata MAAF pula di dalamnya..

karena Sahabat diciptakan bukan untuk menerima kesalahan dan memaafkan..

Namun lebih dalam dari itu, Sahabat disandingkan dalam hatimu untuk membuatmu mengerti bahwa kita adalah manusia yang tak sempurna..

Yang diciptakan untuk melengkapi ketidaksempurnaan itu..

Untuk membuat kita memahami bahwa Tuhan begitu Indah, bahkan Teramat Indah

hingga mampu menciptakan cinta dan ruang Indah Bagi Sahabat sepertimu..

(91)

Sahabat di Setiap Musim

Aku berjalan pada lorong yang memendarkan uap bayanganmu

menemui lipatan-lipatan waktu yang renta, menemuimu

membawa secawan do‟a dan bahagia berharap kau meminumnya

di bawah langit yang melengkungkan misteri tak terjawab

“Aku akan datang dan membahagiakanmu”

Pernah sekali waktu di musim hujan, saat kau tumbuh cantik nan gemulai

berselimut nektar manis yang dikawini lebah Seketika,

Kau menelanjangi aku

menyayat Arteriku dengan duri kecilmu Dalam. Banyak. Berkali-kali

Bergulung-gulung debu menyusup lemah, perih! Kenangan yang menyakitkan

melenggangkan bayangan duka di ruang jantung yang palsu

namun tak menghentikan langkahku

“Aku tetap datang dan membahagiakanmu”

Senja mulai memucat ketika kusadari di musim kemarau

(92)

jari gerimis meletakkan keabadian detik terus menggali kuburnya sendiri

kalender menghitam ketika sang lebah pergi ke rimbanya

Habis sudah nektarmu, tersisa kotor dan menjijikan

selongsong nadi yang berdetak di tangkaimu, mendingin

Lihat!

Mereka akan secepatnya menyingkirkanmu dari taman, kawan

karena sungguh buruk rupamu

begitu bisu irama yang pernah kau dendangkan Tapi tidak!

Aku tak peduli!

Aku segera datang dan membahagiakanmu”

Memberimu makan meski di atas kulit tanah yang retak

Memandikanmu agar harum kembali menaburkan senyum

Menunggu kelopak merahmu hadir untuk menyelipkan titik embun

Meski telah kau sakiti aku di musim kemarau Aku tak peduli.

“Aku telah datang untuk membahagiakanmu”, kini Di musim hujan

(93)

Karena Aku di Sini

Aku akan melihatmu saat kau membutuhkan ketulusan...

aku akan mengelus rambutmu saat kau menginginkan ketenangan..

dan aku akan tersenyum saat kau meminta keikhlasan.. Bukan tentang aku..

bukan pula tentang riak jemari langit.. tapi ini tentang TITIK

yang menghubungkan setiap patahan menjadi garis mengikat nya menjadi simpul berwarna..

Aku tersimpuh di atas nyala debu

tak akan beranjak sampai kau kembali tenang.. Aku menyimpan tanganku di bawah putih cuaca untuk menyimpan semua gelisahmu

agar tak ada lagi patahan patahan kalender hitam yang mengubur senyummu

karena aku ada disini, untukmu karena aku ada disini..

(94)

Tiga Masa, Kau Akan Datang

(Lagi)

Mata,

Kutitipkan engkau di akhir bandara Soekarno Hatta Saat tas punggung itu terakhir kali melambai membawa serta

Melangkah tegap karena ia tau apa yang ia tuju Disana, cita-cita pengembaraannya

Ah, jemari ini..

Sudahlah jangan membuat ini semakin terasa berat dia pun akan pulang

nanti, dimasa dia telah selesai mencari mimpinya Aku tahu ini sulit,

Terlebih untukmu kedua kaki..

Ayo, Bawalah aku berbalik arah dan biarkan punggung ini yang menatapnya saja

Jangan membiarkan ketidakinginanmu untuk pergi, memaksa

Disini, tiga waktu yang akan datang.. Kita akan menjemputnya..

Lalu, jangan biarkan lagi ia pergi..

Maka biarkan saja kita titip kerapuhan ini pada sebuah rindu,

dan pada airmata yang menemani doa untuknya..

(95)

Senja

Kau senja,

Disanalah kau memelukku disaat aku telah lelah pada waktu siangku

Siang yang memaksaku berlari ditengah terik dan peluh nyala debu

Debu yang pucat dan memutih meski pantulan sang surya perkasa menderu

Ah senja,

Kau datang tepat pada masanya

Masa dimana aku telah ringkih termakan waktuku sendiri yang menggali kuburnya

Kubur yang terasing dan terangkat nisannya oleh sebuah tiupan angin saja

Senja..

Senjaku, rupanya kau telah merindukanku.. Lantas, apa yang perlu kau tunggu?

Bawalah aku pada sebuah lapang yang hijau oleh rerumputan dan harum segar aromanya

Biarkan aku menari dengan bunga di tangan kananku dan jemarimu di tangan kiriku

Hingga sentuhan malam menjemput dengan perlahan tanpa suara

(96)

Lantas, apa lagi yang masih kau tunggu?

Aku telah melepaskan semua yang kumiliki di siang hari

Karena malam tak membutuhkannya

dan selama malam belum tiba, maka biarkan aku berada di dekapanmu

Senja

(97)

Sajak Kau dan Aku

Suara :

Hei pengelana gila!

Jangan kau syairkan lagi kata demi kata hanya untuk meruntuhkanku

Bicaralah apa adanya

karena aku mencintaimu.. bukan syairmu!

Aku berdiri disini bukan tanpa nyali. Aku sengaja datang untuk memberitahumu tentang cintaku. Aku tidak bekerja di senayan. Aku tak membawa mobil ferrari. Aku juga tidak memiliki deposito. Tapi apa salahnya jika aku mencintaimu? Ah, mungkin rasanya sombong sekali aku bisa mencintaimu

Pena :

Kuburu angin yang menyentuh wajahmu di sudut temaram ruangan ini

aku tak mampu meskipun hanya membayangkan jika ada sehembus angin pun yang menyentuhmu

aku adalah kesunyian

maka kau menghidupkan aku

tapi aku juga ingin mempersembahkan diriku sebagai puisi yang bisa kau sentuh

Benar. Kau bukan permata. Bukan harta, atau juga tahta.

(98)

Kau adalah kehidupanku, oksigen yang menggetarkan darah dan nadiku

Tapi hidupku,

kali ini, izinkan aku yang memelukmu dalam kediaman nada

Biarkan hanya angin yang mencapai seisi ruangan tanpa menyentuhmu

Sudah,

Terasa putih temaram ini..

(99)

Rindu Pada Waktu

Aku :

Angin tipis datang mengetuk lembah.

Patahan-patahan memori tercerai dan melompat tanpa kendali, terlalu jauh dan dalam ke dasar

Engkau datang serupa nyala rindu di perapian. Membawa segelas teh hangat di tangan dan sebaris lengkung indah di wajahmu. Mungkin saja, nyala rindu itu menjelma dirimu. Menyentuh pipi dengan kelembutan pikselisasi tinggi. Wajah itu mengingatkanku pada laut Green Sands di pantai Papakolea yang menyimpan pesona lekukan yang begitu indah dan hamparan pasir hijau surealis bagai padang rumput yang menawarkanku keteduhan tanpa batas.

Namun angin,

kini terpaksa menghembus meninggalkan lembah tanpa jejak dedaunan

Ah sudahlah.

Mungkin saja di lembah itu masih tersisa sedikit aliran sungai, atau juga tidak.

Aku hanya tidak ingin angin itu berputar arah dan meninggalkan lembah tanpa kelembutan, lagi

Dia :

Tanggal merah itu kini tiba pada garis tepinya.

Perlahan saja, namun tetap kunjung tiba.

(100)

Kukirimkan surat ini pada wanita yang mencintaiku serupa embun yang begitu bening :

“Damaikan hati dalam ketidakinginan aku berpisah denganmu. Jalan yang harus kutuju membutuhkan sedikit waktu dan kesabaran juga baris doa yang begitu tajam kau lafadzkan dari bibir lembut dan hatimu. Aku pergi bukan untuk pergi, tapi untuk membawakanmu kebahagiaan di tepian waktu yang lain. Waktu dimana kita akan menyatukan hidup sebagai satu.”

Aku selalu mencintaimu Waktu :

Sudahlah.

Jangan kau benamkan aku pada sebuah kuburan yang gelap. Karena setiap detik, memiliki masa terang meski tak akan abadi.

Akan tiba saatnya dimana aku akan

mempertemukanmu pada sebuah hamparan sutra indah berhias bunga yang mengantarkanmu pada tawa.

Engkau hanya perlu menunggu aku. Sambil sesekali berjalan dengan cerita-ceritamu. Percayalah.

Hujan menitipkan bingkisan putih bertuliskan “untukmu”

Ia tak ingin membuatmu menangis, namun pada kenyataannya ia membuatmu terjaga pada sebuah malam yang dingin

(101)

Nafas Rindu

Ku mohon jangan,

Jangan lepaskan aku sendiri melangkah pada setapak kepalsuan

Rasanya aku belum mampu menantang keegoisan Aku masih perlu menamatkan kesadaranku Coba lihat,

Tanganku belum selesai menuliskan sebuah abjad Mataku masih berputar tak tentu arah

Apa yang kupunya? ketidakmengertian

Kemarilah, dengarkan aku..

Aku hanya ingin menceritakan kisah gerimis pagi Tidak perlu terlalu dekat, tapi ku mohon datanglah.. Aku sengaja membohongi cuaca untuk sekedar mengisahkanmu

Aku hanya perlu kau disini, Mungkin aku salah

Atau juga tidak

Datanglah.. Aku mohon..

Biarkan aku menyatukan patahan–patahan embun menjadi sebuah pelangi

“Ku mohon, datanglah..”

(102)

Khusus Untukmu

Cinta itu bukan saja

Malaikat pun tidak tahu bagaimana Dia melekat seolah kulit pada dagingnya

Hidup berarti dan tak berarti karena cinta, dan bukan saja

Ada yang kusimpan dan tak terbagi pada ilalang di hamparan sana, bukan getaran angin saja

Maka biarkan nyala gerimis yang mengabarkannya pada kerajaan langit sana

Ah,

Bukankah rahasia itu tetap milik para penyair Yang pada datang dan kepergiannya tak terendus suara

Dan ia ucapkan cintanya pada sebuah lekukan jemari di atas kerinduan putih kertas itu

Maka biarkan saja, rahasia itu tetap milik kesunyiannya

Separuh jalan merah itu ditapaki bulir cinta Atau kerikil yang seharusnya tak ada

Puja dan puji sebuah pena merenda lembut kobaran sajak tak berdosa

(103)

Menjadi cahaya, yang tak terkibas hujan ketika melewati dedaunan

Mungkin saja kudapati ilham halus ini meremajaiku Mengajak aku pada sebuah kefanaan yang nyata berkelana

Ah,

kusemburatkan cinta pada kecintaan yang lebih sepi Cinta yang tak bersuara, hanya untuk cinta di hatimu Cinta yang kupinjam dari pemilik Surga,

(104)

Jiwa

Dalam raga tak terbentuk cerita, Ia raga saja dan ada..

Tapi cerita hidup dalam jiwa, Jiwa saja, bukan..

Jiwa itu tentang cinta dimana ia pernah melihat pasir putih di istana tenggara

Bermusik minor dengan seruap pendar kenangan

Jelas saja,

Karena jiwa itu hidup sebagai raga yang berjalan di sepanjang koridor batas

Hidup bersekat meski tak terlihat Terjaga meski sudah renta Terang saja,

Karena jiwa itu akan abadi

Selama jarak antara ia dan kenangan sedekat antara darah dan nadinya..

(105)

Hilang

Persemayaman sebuah nada tak bertepi pada satu tebing pendakian

Abadi pada ketidakmengertian yang terasa seolah mengerti

Seperti sealun kasih yang tak sengaja dihadirkan dalam gerisik mata temaram

Menepuk lembut seperti angin pada embunnya Lalu, seroja ini menggoda hari dengan wewangian Tak ada yang salah dan tak pula tersalahkan

Karena wewangian itu datang dengan tanpa kepastian masa

Luruh hanya pada angin yang datang membawa aroma ilalang

Lalu, berlalu

(106)

Dia Berkata Padaku

Dia disana..

Lalu, datang dan menatapku dengan sebuah daun ditangan kirinya..

Dia berkata padaku

“Kamu adalah perempuan yang baik”

Tak ada yang perlu kutanyakan lagi, benar

Aku mencintainya

Dia disana..

Pergi dan membiarkan aku menatapi punggungnya yang begitu hangat bila ku sentuh

“Kamu adalah perempuan yang baik” ku dengar itu ketika dia berkata padaku

Tapi dia disana..

Aku adalah perempuan yang baik, dan itu saja Mungkin karena itulah dia disana..

Tak ada bunga, tak ada wewangian, dan gemerlap kelembutan..

(107)

Aku adalah perempuan yang baik, dan itu saja Karena itulah dia disana..

Tak ada yang lain yang kumiliki

Yang mampu menahannya untuk tetap menggenggam kerapuhanku

Mungkin karena itulah, Dia disana...

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, perancangan dan promosi buku ilustrasi “Ayo Kenali Reptil” dirasa perlu untuk mengajak anak -anak agar lebih tertarik kepada reptil dan menyayangi mereka,

Beberapa pengujian pada program administrasi untuk rental buku berbasis web ini telah dilakukan untuk menguji apakah program berjalan dengan baik dan lancar, setiap proses

Melalui masalah tersebut, buku komik Semut Strip ini memiliki tujuan untuk mengajak remaja, khususnya remaja menengah keatas agar mau menghidupkan kembali semangat dari

Melalui masalah tersebut, buku komik Semut Strip ini memiliki tujuan untuk mengajak remaja, khususnya remaja menengah keatas agar mau menghidupkan kembali semangat dari

Maka perancangan buku islami pop-up bergambar ini diharapkan dapat membantu para orang tua untuk mengajak anak anaknya belajar nilai nilai agama dengan media yang interaktif

34 Buku menyajikan materi dan aktivitas yang memungkinkan anak untuk memperoleh informasi 5 35 Buku dapat digunakan secara mandiri oleh anak atau dengan bantuan guru 5 36

Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No. Berdasar peraturan bersama ini, disebutkan dalam pasal 42: Peraturan Bersama ini mulai berlaku

Maka perancangan buku islami pop-up bergambar ini diharapkan dapat membantu para orang tua untuk mengajak anak anaknya belajar nilai nilai agama dengan media yang interaktif