U ntuk
C inta
Untuk Cinta
‘de Putri dan Ko~HaCopyright © 2013 by (‘de Putri & Ko~Ha)
Ko_Izzy Publ.
Desain Sampul: _Ka_
Diterbitkan melalui:
www.nulisbuku.com
Alhamdulillahirabbil‘alamin. Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas rahmat dan karunia-Nya lah buku ini dapat menjadi sebuah buku yang menjadi bacaan kita semua. Kami ucapkan terimakasih kepada anda yang telah mau membaca, baik sekedar melihat, membaca, menghayati, sampai yang mengapresiasi dan mengkritisi, kami ucapkan terimakasih setulus-tulusnya. Semoga Allah membalas kebaikan anda dengan pahala yang berlipat ganda, amin! Dan kepada anda yang sedang mencintai dan dicintai, terimakasih telah menginspirasi kami.
‘de Putri Words . . .
Diperlukan keyakinan besar bagi hati ini untuk kembali menulis, bercerita, dan membaginya kepada sang waktu. Terkadang berjalan melambat, hingga akhirnya saya dibangunkan oleh rekan saya yang paling kukuh mengajak saya bersama-sama menggoreskan semua rasa saya di buku ini, Ko~Ha, yang dengan semangat dan teguran-teguran kecilnya mampu mengingatkan saya bahwa saya pernah hidup untuk menulis meski hanya sebuah kata saja.
Kepada Ayah dan Mama, yang selama hidupnya tidak pernah kehabisan limit untuk mencintai saya. Entah harus bagaimana saya mampu menggambarkan rasa cinta mereka yang semakin hari makin jelas nyata terlihat kesyahduannya. Ayah, Mama, Kalian adalah sajak terindah yang pernah hadir dan digoreskan oleh tangan Tuhan untuk hidupku. Juga kepada adik perempuan saya, Anggun
Dari rasa kami untuk jiwa anda,
Kami goreskan kata demi kata di dalam buku ini
untuk semua hati yang pernah jatuh cinta, terluka,
saya. Terimakasih honey, karena telah mendampingi dan memegangiku menjalani rahasia kehidupan Tuhan hingga saat ini hingga akhirnya aku mampu menciptakan sebuah ruang yang terisi penuh dengan warna-warna cintamu. Karena engkaulah, setiap kata yang kutuliskan memiliki nyawa.
Dini Suci Islami, Bedah Komariah, dan Nur Hikmah, sahabat-sahabat terbaik yang tak pernah bertanya untuk apa saat saya membutuhkan bantuan. Terimakasih sayang, karena selalu menjadi sumber keceriaan yang tulus selama ini dan selalu memiliki waktu yang tak terhitung saat aku membutuhkannya. Kalian adalah sahabat yang tak pernah memiliki masa akhir bagiku. Juga kepada seluruh guru dan teman-teman almamater SMAN 1 Ciampea yang pernah menjadi tempat saya bagkit dan berdiri saat langkah saya pernah terhenti. Dengan kalian, aku mampu menemukan kembali rasa yang pernah hilang
Vera Linda Purba, Sindi Nursiamdini, Nurhamidah, Tintin Gigih Widiyastuti, Nidya Nanda Harahap, Fauzia Khaerani dan Gusti Dianda Sari yang dengan banyaknya cerita yang pernah kami lewati bersama, suka dan duka, mampu menghadirkan kematangan hati di hidup saya.Serta dukungan dan kekuatan yang tidak pernah berhenti mengalir saat tengah kehilangan kendali. I love you and all of our story guys!!Ever.
Pada teman-teman kecil saya, Andriansyah, Tika Ardini, Rahmat Jayanto, Liza Tunnupus, dan Bilqist yang pernah dan selalu memberi senyum dan kebahagiaan di hidup saya.
Terakhir, ucapan terimakasih tanpa henti saya ucapakan kepada tangan-tangan yang dengan penuh perhatian dan persahabatan yang tulus ikut menuliskan cerita bagi kehidupan saya, Sahabat-sahabat Evergreen terbaik saya, Departemen Silvikultur angkatan 46 Fakultas Kehutanan IPB, tanpa kalian, cerita yang tergoreskan ini tidak akan sempurna. Really Love your heart guys, Thankyou for all support. Salam evergreen!!
“Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu dan hanya
bisa terbang bila saling berpelukan.”
[
Luciano de Crescenzo
]
Tidak mudah untuk bangkit dari keterpurukan. Tulisan ini saya hadirkan kepada anda yang menyelami makna cinta dari berbagai sudut pandang. Semoga anda dapat menikmati suguhan kata-kata yang naif ini.
Saya berterimakasih setulusnya kepada ‘de Putri yang telah menyambut baik niat saya untuk berkarya. Tanpanya, hidangan puisi ini akan hambar bagai hidangan tak bergaram. Darinya saya belajar bahasa kelembutan, yang identik dengan cinta.
Saya juga berterimakasih kepada Ibu dan Ayah saya yang telah mengajari saya untuk kali pertama : apa itu puisi. Serta guru-guru saya yang berjasa membuka tabir diri ini dalam berkelana di dunia kesusastraan.
Kepada kalian yang sempat tercuri pandangannya untuk melihat untaian huruf-huruf di dalam buku ini ... Terimakasih.
Dan tentunya kepada rekan-rekan yang tak dapat saya sebutkan satu-satu, my beloved soulmate, my six pack, SASCOL-ers, Ya Oke-ers, Oni-Oke-ers, Kribondings ... you’re my everything ... ever!
Terakhir, saya berharap semoga tulisan ini dapat memberi inspirasi dan bermanfaat untuk pengembara cinta yang terus berkelana memahami maknanya yang tak terejawantah dengan kata apapun. Selamat menikmati ...
“Kuasailah bahasa yang sesungguhnya, karena dengan bahasa,
kita bisa menguasai dunia”
[
Ko~Ha
]
~Kemarau
Terpa Cinta di Kemarau Senja 1
Cintaku 3 Biasa 4 Kutunggu 5 Curahanku (Cinta) 6 Demi Kebaikanmu 8 Rindu (I) 9 Kurindu Mentari 10 Riak Hati 11 Dalam Keesaan 12 Kutitipkan Rindu 13
Sepucuk Surat untuk Bunda 14
Hikmah Cinta Alam PadaNya 16
Seorang Ayah dan Anaknya 19
Kau (Sahabatku) 22
Tentang Aku, Kami dan Cinta-Mu 24
Untukmu 29
Antara Cinta dan Nafsu 31
Cahaya 35
Dialog Aku dan Matahari : Arti Sebuah Kehadiran 37
Dalam Hening 43
Bersamaku 44
Rindu (II) 46
Kembali 47
Wahai Maha Cinta 57 Cinta Dimana, Cinta Kembali Bicara,
Cinta Bukan Cinta 62
~Hujan
Mungkin Cinta yang Paling Mungkin 71 Langkah Cinta di Atas Bumi Merah Putih 73
Suara 75
Ketidaksempurnaan yang Menyempurnakan 77
Sahabat di Setiap Musim 79
Karena Aku di Sini 81
Tiga Masa, Kau Akan Datang (Lagi) 82
Senja 83
Sajak Kau dan Aku 85
Rindu Pada Waktu 87
Nafas Rindu 89
Khusus Untukmu 90
Jiwa 92
Hilang 93
Dia Berkata Padaku 94
Fase 96
Laki-Laki Pertamaku 98
Pesan 100
Sajak Terindah 101
Sebuah Tiga dalam Bahagia 103
Seperti Biasa, Sebelumnya... 104
Terpa Cinta di Kemarau Senja
Bumi kini kering kerontang ... Darah mengalir hingga ke langit
Tak ada telaga, embun, oase, hanya emosi dan kebengisan
Semua lupa, dulu satu ... Semua lupa, bersama-lah segala Tapi di kemarau senja
Dahaga terus menggigit
Darah mengalir hingga ke langit Oh hijau dulu mengapa menyala kini? Hijau dulu merah bata menjelma
Ada yang terlupa dari kamus ingatan dunia terkembang :
Cinta ... Sederhana,
tapi tak ada yang mampu menemukannya semua luluh lantak diterpa nafsu dan dosa
Ego-ego dan keserakahan, merenggut cinta hijau merah menyala
Oh siapa dia ... pemuda cahaya pembawa pelita Di sekelilingnya peri peri menari ceria
Tak deras arus samudera rupanya, kemarau tak merenggutnya nestapa
“Mari kita kenali; sekali lagi! Cinta yang pernah bersemi di taman sari pertiwi” teriaknya lantang
Semua bertanya ... kenapa kembali lagi cinta? Karena lupa, memahami nya pun tiada
“Ingatlah semua! Kita lupa, hidup dengan harta hanya merenggut nyawa tak berdosa ... hidup dengan tahta hanya membuat kita semakin lupa : kita siapa”
Semua kembali geming gamang Apalah lagi maksud pemuda ini?
“Mari kita ciptakan hujan dengan membakar laut dunia dengan cinta. Kita titipkan rintiknya pada kemarau yang menyiksa. Agar larut-haru semua yang berhati. Syukur senantiasa memagut jiwa. Dan pada akhirnya kembali kita tersadar pada ruang yang kita tanam dengan cinta :
Hidup”
Semua kembali geming gamang
Tapi kali ini gemilang gemirang bergetar rasuk perlahan
Simfoni mulai beralun ... lembut
Di waktu kemarau kala senja penuh lara dan hilang harap
Cinta kembali menerpa dan menitip pesan tanpa bahasa
Hanya diam-diam merasuk ke dalam sukma yang mulia
Untuk kembali menggenggam asa ... memberi makna pada ruang :
Cintaku
Bila hutan itu masih berseri Itulah cintaku
Bila gurun masih membentang Itulah cintaku
Semua berbicara tentang pujangga Dan bidadari kahyangan pada hikayat Tapi aku dan cintaku padamu
Sesederhana pohon yang menjulang ...
Menatap dunia dengan senyum berseri setiap hari, bernapas untukmu: meski harus punah demi kesejahteraan
Cintaku sebesar jari jari tangan Yang menggenggammu Mendekapmu
Cintaku memang tak sebanyak bilangan waktu Yang menyelimuti hidupmu
Dan cintaku padamu ... Sesederhana tanah ...
Yang terhujam: demi membuatmu berdiri kokoh
Biasa
Tak lebih Tak kurang Tak elok Tak buruk Itu yang kumau
Semua yang tampak Tak semua terungkap Aku tak ingin jadi teristimewa Aku tak ingin jadi terhina Biasa ... Di antara
Karena semua yang tersurat
Kutunggu
Senyummu sehangat mentari di kala pagi Senyummu ... mentariku
Mentariku berubah malam
Kau tinggalkan hariku menjemput senja Aku tak peduli
Karena mentariku, mentari pagi
Dan malamku, kan menjadi pagi ... pasti Dan aku akan terus menunggu
Curahanku (Cinta)
Berulang aku mengamati manusia menyebut namaku Aku termangu, terkejut dengan berbagai ungkapan mereka tentangku
Manusia membuatku sibuk membenahi hakikatku Wahai manusia, usahlah menyebutku jika kau hanya mengatas namakan ku
Kau menyebut diriku seakan aku tuhanmu yang akan membela dan membenarkanmu
Sekali-kali tidak!
Aku adalah hakiki yang diciptakan Tuhanku bersama ruh kehidupan
Aku bukan tentang materi yang dapat dijual beli Aku juga bukan tentang aliran ilmu tertentu yang perlu dipelajari
Apalagi aku bukanlah apa yang ada pada kemaluanmu!
Sungguh tega engkau mencoreng namaku atas kehendak nafsumu!
Aku selalu bersanding dengan kehidupan
Menyelinap di hatimu, untuk memberi makna pada perjuangan
Aku adalah sahabat waktu
Aku adalah semesta yang tak pernah kenal kata „lelah‟ dan „menyerah‟
Aku sesederhana tulus dan ikhlas, ketika perjuangan tak mengharap balas
Usahlah kau sebut namaku, jika tak mengenal hakikatku!
Hakikatku,
Pengejawantahanku Hati seorang ibu,
Aku ada pada kaki-kaki lebah dan kupu-kupu Ketika tak lelahnya berjuang menemukan kembang untuk memperjuangkan kehidupan
Aku ada pada gelombang ombak dan ujung lidah pantai
Ketika keduanya tidak menggempur untuk saling memusnahkan,
Hanya memberi arti pada kehidupan Aku ada pada air unsur kehidupan
Yang tak pernah ber‟demo‟ menjadi kotoran
Sudah kukatakan, aku bersanding dengan kehidupan Wahai manusia
usahlah kau menyebut namaku Jika kau hanya tahu aku ada, Tapi tidak pada hakikatku
Demi Kebaikanmu
Kepakkan sayapmu sayang Dan terbanglah
Usahlah kau ragu sayang Aku disisimu
Jangan sayang Jangan kau menyesal Pada mustika abu-abu
Jangan sayang
Jangan kau menyesal kelak Demi kebaikanmu sayang Terbanglah bebas
Rindu (I)
Cintaku . . .
Kau berjalan di ujung pulau, di bibir pantai Menatap sendu cakrawala
Berbisik lembut pada bayu, memberi pesan
Air matamu menyatu samudera yang menderu redam Bila pada waktu aku bertanya
Akankah tiba saat kita jumpa Kita tahu, pada awan ada jawaban Cintaku . . .
Bernapas tanpamu susah sungguh Berjalan tanpamu
Laksana luka terbasuh garam, seketika pilu menggigit Sabar, kita selalu
Kita harus selalu Pada waktunya
Kurindu Mentari
Kilau gemilau mentari Daun daun merindu Kilau gemilau mentari Di sungai ikan ikan merindu Kilau gemilau mentari Pada hujan semua merindu Kilau gemilau mentariku Kurindu, kurindu, kurindu
Riak Hati
Bumi Air Biru
Beriak ombak dimainkan bayu Inginku teriak,
Tapi tak mampu
Pantaskah kutrima rayumu?
Hinakah aku? Padahal insan kita sesama Pantaskah kutrima rayumu?
Sedang hidupku jadi kelabu? Sekali kali tidak!
Aku tak mau Beri aku waktu!
Tuk kupikirkan jernih bersama embun Tuk heningkan riak hati nan menderu
Tuk hentikan hempasan ombak luapan hasrat Yang memaksaku
Biarkan aku Berdiam sejenak Untuk kupastikan Menolakmu!
Dalam Keesaan
Manusia bukan Tuhan
Yang mampu hidup dalam keesaan Sendiri . . . memuji
Sendiri . . . mencaci Sendiri . . . bahagia Sendiri . . . tersiksa Sendiri . . . berisalah Bingung, hendak berbagi Sedang jadi bangkaipun Tak ada yang peduli Hambar rasanya Sebatangkara
Kutitipkan Rindu
Semua berlalu bersama angin lalu Secepat waktu yang terus melaju
Kita dan kisah–akhirnya berakhir sejarah
Dan semua kembali terungkap pada suatu kehidupan kelak
Ketika dipertemukan–bukan untuk bertegur-sapa dan sebelum waktu itu tiba,
Kutitipkan rindu ini pada-Mu, Ya Rabbi
Sepucuk Surat untuk Bunda
Bunda
Saat raga kita satu
Kau titipkan cinta pada keabadian Menanam harapan pada waktu Bibirmu bergetar mengucap syukur Memuji asma-Nya
Tubuhmu rapuh pada ketegaranmu menyala Bunda
Saat raga kita satu
Aku hanya memandang kelam perjuangan Aku tahu cintamu menghidupkan
Mengajarkanku bahasa kehidupan Melalui matamu
Melalui lindunganmu Dalam gelap menggeliatku Bunda
Sekalipun niat tak pernah kau khianat Dalam buaian kau kenalkan aku bahagia
Sedang dalam tangisan hanya kutahu segala ingin Aku ingin lebih, Bunda
Tapi kau sekali lagi ajarkanku bahasa cinta Bahwa hidup tentang perjuangan
Bunda
Sekalipun aku keliling dunia
Tak kutemukan cinta sebesar cintamu Pada matahari engkau rela terbakar Pada bulan engkau rela terjaga Bunda
Sekarang kita ada pada waktu yang beda Dimensi kehidupan yang tak sama Tapi do‟amu senantiasa meliputi Sedang Dia Maha Tahu
Tak ada daya untukku membalas cintamu Bunda
Pada kelam malam aku menghadap-Nya Berharap engkau bahagia dalam lindungan-Nya Bunda
Inikah kehidupan? Yang dulu kau beri pesan Untukku perjuangkan?
Hikmah Cinta Alam PadaNya
Ada cinta pada lebah
Ketika usahanya tak pernah sia-sia Bukan untuk kaumya, tapi umat manusia Bukti cintanya pada Pencipta
Ada cinta pada laba-laba jantan
Ketika raga harus hilang, dimakan sang belahan jiwa Demi kemaslahatan keturunannya
Demi cintanya, kepada Sang Maha Pengasih Ada cinta di sela debur ombak
Hantamannya penuh cinta pada pulau Pulau ingin berlayar, layak engkau Engkau yang tak pernah tahu,
Betapa besar cintanya padamu, demi Dia yang Agung Ada cinta pada gunung yang menjulang
Ketika getarannya menakutkan Bukan untuk menakutimu Tapi untuk berjalan, Yang tak bernada Tanpa langkah berirama
Ada cinta pada sulur sulur pencekik Pohon itu pun menerimanya
Bukan saling menjatuhkan Tapi bersama menjulang Menuju cahaya
Menuju kasih sayangNya
Ada cinta pada awan yang musnah Demi kehidupan di bawah sana Banyak yang menengadah Banyak yang menganga Dan masih ada yang bersujud
Kemusnahan untuk mendapatkan cinta Demi cinta, kepadaNya
Ada cinta pada api yang membakar habis Bukan untuk menyombongkan diri Bukan untuk menghina manusia Tapi untuk mendapatkan cintaNya Mengejawantah keangkuhan kita Ada cinta pada laut yang setia Meski tiap detiknya sengsara, Meski beban dunia ditelannya
Tapi bukan untuk engkau
Atas nama cintaNya Yang Agung Ada cinta pada bulan
Yang merayumu pada kegelapan Membawamu ke alam lain pandangan Demi memberimu secercah cahaya, Dari mega membara, pada kesunyian Senantiasa tersenyum karena cintanya Bukan padamu, tapi padaNya
Kita berkata cinta
Tapi seringnya bertanya cinta Di manakah gerangan?
Wahai yang tak pernah menyaksikan Cinta memang bukan untukmu Tapi hanya untukNya
Sedang Dia mencintaimu Adakah kau cinta padaNya?
Seorang Ayah dan Anaknya
Sembilu luka ternganga
Pada seorang renta yang tak mampu meniup dupa Sesekali menyeka air mata
Terngiang di telinga pada kalimat anaknya :
“Meski bapak sudah tua, tapi Bapak tetaplah tulang punggung keluarga. . .
Tak pantas bapak biarkan ibu bekerja” Wahai tirus wajahnya kelabu sudah Sedang luka tetap menganga Sekali bertanya pada hatinya Adakah luka ini terbalutkan cinta? Dengan lemah ia mendekat Memandang wajah anaknya lekat Dalam tidurnya begitu mirip rupanya Tak jauh memang buah jatuh dari pohonnya Dengan terbata : khawatir mencuri mimpi anaknya Berkatalah ia pada kehampaan kesadarannya --- “Anakku, kau sudah besar sekarang
Rupamu tak lepas dariku dan ibumu Bahagiaku membuncah saat kutahu:
Kau anakku yang hebat
Di seluruh padang telah kau jejaki Di seluruh langit kau jelajahi
Di semua warta, namamu tertulis abadi Kau memang hebat, nak
Aku bangga padamu ... Tapi ...
Kekhilafanku itu ... kini memagut menyelimuti jiwaku Nak, jangan biarkan lidahmu menyayat batu
Aku lupa ...
bahasa kelembutan tak pernah kuejakan padamu Maafkan ayahmu, nak ...
Ayah hanya mementaskan panggung kekuatan Otot otot para pahlawan dan pejuang
Untuk menggenggam dunia dengan tangan sendiri Tapi pada yang tak bertulang ...
Tajamnya bagai duri mawar yang semerbak ... Salah lindung hilang bijak wibawa
Tak pernah ayah ingatkan hati-hati Bermain api bisa terbakar sendiri Maafkan ayahmu, nak ...”
--- Pada hikayat terungkap duka
Pada indahnya mawar durinya melukai pula Setetes air mata terlupa disekanya
Waktu menjadi samudera . . . Kembali kesadaran
Mimpinya ditelan gulita,
Raga enggan memberi tanda pada hidup Ia teringat
Pada bilangan waktu dimensi berbeda Pada kemarau hujan tak kunjung datang jua Sang anak memeluk ayahnya dengan mesra
Dengan penuh tanda tanya ayah hanya tersenyum menyambutnya
Suara angin anaknya Jelas membelai
“Ayah adalah yang terhebat di dunia” Seketika itu luka berubah warna Duri mawar mekar jua
Luka kembali terbuka mengalirkan cinta Paradoks . . . inilah kehidupan
Pada cinta tersayat luka Pada luka terbalut cinta
Kau (Sahabat-ku)
Kau
Yang tak pernah terukir di hatiku Kau yang terlupakan oleh waktu Dan kau
Kau yang mengukir namaku di hatimu Kau yang terus terhujam busur panahku Berulang aku menghitung waktu
Menatanya satu demi satu dalam ingatanku Tak kutemukan namamu
Tapi kau
Yang tak lekang oleh waktu
Membawa secercah cahaya untuk berbagi denganku Ah! Betapa aku malu!
Tapi kau tetap tersenyum
Kau ceritakan pada batu dan debu di jalan setapak Kau ceritakan pada daun – daun di dahan yang rendah Kau ceritakan pada beriak sungai yang berlomba ke muara
Kau bahkan ceritakan pada tiap bulan dan matahari di tiap pergantiannya
Kau tak pernah ada bagiku Sedang kau selalu ada untukku Ah! Betapa aku malu!
Kau tulis di prasasti kerajaan kita Akulah raja, dan kau perdana menteri Kau tulis di lembaran papyrus
Aku tempat kau berbagi tapi tak kusadari Berulang aku mengeja kenangan
Aku tenggelam dalam kolam cinta Aku melayang ke negeri atas awan Aku menari bersama bulan bintang Tapi kau hanya tersenyum padaku
Kau hanya membawa secercah cahaya untukku Tapi sekali lagi aku tak menyadari
Hatimu rela menjadi abu Terlalu bening bagi kaca Sedang hatiku memang kelabu Kau
Dan aku menyadari Ternyata memang kau
Sang pembawa cahaya tanpa angan Yang slalu ada bahkan pada saat aku tiada Kau . . .
Tentang Aku, Kami dan Cinta-Mu
(1)
Wahai Dzat yang Maha Cinta Aku bersimpuh mengetuk langit Berharap bertemu dengan-Mu Wahai Dzat yang Maha Pengasih Masih angkuh diri ini menghadap-Mu
Sedangkan dengan waktu aku berhutang dosa Tapi wahai . . .
Aku tahu betapa Maha Pemaafnya Engkau Wahai Dzat yang Maha Penyayang
Pada rumput pun aku masih tergoda Pada piala dan tinta emas masih kudamba Pada sebatang tembakau kulupakan semua Pada mimpi aku kadang entah memuja
Pada mutiara ciptaanMu tak hentinya kuterlena Wahai hinanya diri ini Tuhanku
Bahkan dengan hati aku enggan mengakui (2)
Pada seberang pulau telah Kau ingatkan Di depanku Engkau bahasakan . . . Nikmat yang Kau anugerahkan Manatah lagi yang dapat kudustakan?
Tapi aku masih berpaling Ya Allah . . .
Pada bumi mana lagi kami akan aman?
Sedang dalam keamanan negri ini masih kami risaukan (3)
Elegi Banda belum membukakan mata Elegi Jogja hanya memenjarakan hati Jelaskanlah pada kami . . .
Padaku
Kemenangan abadi
Dalam lembaran-lembaran telah dilafalkan Bahkan menara menara ditinggikan Seruan kepada-Mu hingga ke bulan
Tapi aku manusia ya Allah, masih dalam kelalaian Jika bukan cintaMu yang Agung
Niscaya hilang ditelan bumi Pada pantun pun adat patuh
Pada rangkaian kalimat pendusta dianggap Dewa Wahai, yang mana lagi hendak kucari?
(1)
Dalam gelap aku mengingat nama-Mu Terbata-bata kueja per huruf
Terlunta dalam kekurangan Masih hina, ya Allah
Sedang dalam bayangan rumah-Mu terlihat Hitam kelambunya bertakhta emas
Putih berbaris, berduyun-duyun Sesak, napas hanya menyebut asma-Mu Pelita menembus cakrawala
Pada cahaya yang berlapis-lapis Tentang cinta-Mu ya Allah Kau jadikan kami sama Kau jadikan kami saudara Tapi apa yang lebih sakit
Selain melukai hati orang yang dicintai
Selain melihat penderitaan orang yang dicintai Tentang cinta-Mu ya Allah
Betapa aku selalu ingkar
Betapa aku selalu dahaga akan kenikmatan semu Betapa aku selalu berulang kembali ke sekutu
(2)
Bahasa kami sarat dusta
Bunga dimana-mana harum kiranya, busuk baunya Kami hebat bukan?
Punya cinta pada antah berantah Sedang hijau disulap kuning Pada akhirnya gigit jari Kau ulangi ingatkan kami Pada Merapi Kau titip didik Pada Krakatau Kau pinta balik
Dan Kau pernah berbisik pada Bengkulu, Jogja dan Tasik
Sedang dari ujung-ujung zamrud Yang dinikmati hanyalah fatamorgana Kembali berkumandang pada „kebenaran‟ Kebenaran kami Tuhan, sudah benarkah? Aku kelu pada setiap aliran darah
Sedang berulang kali aku tahu Tapi aku tak mau tahu
(3)
Kembali pada-Mu, aku Kembali aku pada-Mu Dan aku kembali pada-Mu
Tapi aku kembali ke aku
Demi nama-Mu nan Suci lagi Agung Lindungilah aku dan namaku Aku tak kuasa melawan badan
Sedang pikiran berkelana ke ujung terbenam Cermin jiwa terkungkung penjara rayu
Demi nama-Mu nan Suci lagi Agung Lindungilah aku dan namaku Lindungi keluargaku dan kerabatku Lindungilah mereka yang taat pada-Mu
Berikanlah petunjuk kepada para pencari kebenaran Dan lindungi, segenap untaian zamrud-Mu
Untukmu
Hai Nona manis
Kemanakah „kan kau tuju? Di sinikah kita bisa bersatu? Bukankah demikian maumu? Apatah lagi mauku?
Hai Nona manis
Pada rayuku tak kutambah gula Sekedar garam pecita rasa
Bukan janji biasa, tapi tak jua luar biasa
Padaku kau berlari, padaku kau berserah . . . bukankah demikian?
Apatah lagi mauku? Hai Nona manis Nona manis lagi Yang manakah lagi? Hai Nona manis Kita terbujuk rayu
Pada redup remang mayangda Menari berputar pada segala sisi Menari tarik seruduk ke segala penjuru Di sana tanya, kembali sesal pikir hati Menyesal?
Hai Nona manis Nona manis lagi Ini lain lagi Juga yang ke lain
Kita kecap manisnya di lidah
Rasa-rasanya gula-gula kapas empuk lembut menggumpal
Kita bicara dengan gula-gula kata Maniskah gula?
Gula-gula Jawa Hitam manis . . . ya! Hai si hitam manis Ah, manis lagi Banyak manis Lidahku pahit Kembali lagi . . . ah Hai nona manis
Kita dan redup remang mayangda Nikmati saja
Ini gaya kita
Kata orang-orang „gaya kota‟ . . . percaya tidak, engkau sedang dihina? Cinta? Untukmu? Iyakah? Maaf, tidak ada
Kupersembahkan Gula-gula
Antara Cinta dan Nafsu
Kau berkata cinta
Aku pun mengatakan kata yang sama Tapi cintaku dan cintamu
Bagaikan madu dan racun Aku dan kau sama tahu
Pada kebebasan berbatas yang tak bersekat Kita sama memahami
Pada cinta ada perpaduan
Yang membuat pribadi kita jadi satu: sang buah hati Tapi cintaku dan cintamu, bagaikan madu dan racun Madu beracun, racun madu
Kita sama mematikan, pada jiwa pengelana pencari kebenaran
Tapi kita mematikan perbedaan
Mematikan jiwa pelita benderang menjadi gelap dalam ruang kelam
Membunuh pengganggu jiwa yang menggelapkan untuk kembali terang bercahaya
Pada dimensi semua tersulap
Mata . . . telinga . . . pada semua gerbang semu jiwa dan asal buah karya
Kita terserang dalam diam Dimensi yang hanya terbaca hati
Tapi dalam kesucian,
kita pula yang menghujatNya Aku dan kau tentu beda Kita sama pada semua indrawi Tapi kita beda pada hati
Kini antara madu dan racun sudah sama Tapi akibat meriam yang ditembakkan ke mata Kini madu dibilang racun
Racunlah sebenar-benar madu Akibat semua bom rakitan ke telinga Dan madu tetaplah madu
Racun tetaplah racun
Hanya kita mengatakan sama ---
Kita lagi-lagi membahas keduanya Pada demikian ada api di tangan
Jika besar dan membahana, habislah kita
Tapi api itulah pembakar sajianmu, mengusir jiwa yang menggelapkan temaram
Pada demikian ada air di awan
Jika diturunkan padamu ia kan laksana surga nikmat yang menyejukkan
Jika air bah tak disangka maka terhanyutlah kita ---
Kau berkata cinta
Aku pun mengatakan kata yang sama Tapi cintaku dan cintamu
Bagaikan madu dan racun Aku dan kau sama tahu Kita sama memahami Pada cinta ada perpaduan Kau madu dan racun Aku air dan api Kau madu aku madu Kau racun aku racun Kau air aku air Kau api aku api Tidak semudah itu
Bila terbilang, akan ada pelangi
Bila tak terbilang, semua binasa, kau dan aku ---
Pada antara tanpa sekat
Pada kebebasan berbatas yang telah tak berbatas Kita tembakkan meriam kita ke mata dan mata Kita ledakkan bom rakitan kita ke telinga Dan semua kembali melihat
Dan semua mendengarkan kembali Pada antara tak bersekat
Pada kebebasan tak berbatas
Ada nurani yang memberi sekat dan batas, itulah berkat
Cahaya
Aku melihat temaram di sini
Di sana temara sekali . . . ah, lagi-lagi di sana Di mana dapat kau lihat yang lebih baik?
Jawabannya hanya di sini, temara meski temaram Temara di sana itu temaram
Bayang-bayang lorong-lorong tersembunyi Pekat, tertutup rapat
Di sini abu-abu memang,
Temaram tetap temaram, tak berubah ataupun diubah Apalah lagi arti damai yang kau embarai?
Mereka di sana menjajah demi sepetak tapak seleret Di sinilah cahaya kita
Tempat damai tanpa cela Apalagi yang ditanya?
Kau lihat ke belakang, mandi cahaya Angin riuh rendah sepoi-sepoi Mereka wajar berkelana Mereka pantas mengembara
Karena menaranya tak berair mata–sepi tandus tak berirama
Di sini hujan hijau menari-nari memanggil kilat dan api
Apalah lagi istana yang kau impikan? Temaram di sini kau yang nyalakan
Agar dalam kelam bercengkerama segala misteri Bukankah pelita itu tak ingin kau jadikan benderang? Lihatlah, pelita itu hanya kau simpan dalam dada dan pikiran
Tak kau bagi pada alam dan tetangga, apalagi mereka di sana
Lihatlah pada cahaya Tak pamrih ke segala Menjuru menyeluruh dunia
Pada kau yang merasa suci atau berdosa
Kembalilah pada fana dunia–Perhatikan temaram jiwa Kita, dengan tangan-kaki seluruh indra
Sekali lagi di tanah ini, titisan surga Kembali kita menjelma cahaya Berpendar ke segala penjuru dunia Sebagai pelita . . .
Menari bersama hijau tua dan kuning muda Bersimpuh bersama rindang hujan dan nyanyian samudera
Sadarilah, temara sebenarnya Di mana tempat kau berada
Dialog Aku dan Matahari:
Arti Sebuah Kehadiran
Aku bertanya pada bulan dan bintang Tentang arti sebuah kehadiran Bulan dan bintang hanya terkikik geli Lalu aku bertanya pada matahari Tentang arti sebuah kehadiran
Sedangkan mentari mengerutkan kening: heran Berulang aku mengeja waktu: tahun, bulan, hari, jam, menit, detik dan saat
Tak kutemukan arti hadir dalam bilangan waktu Ah, mungkin memang banyak yang berlalu, tanpa aku Matahari bertanya kembali padaku
: Apakah gerangan dunia ini bila tanpa kehadirannya? Semua juga tahu, rumput-rumput itu pasti lebih mengerti
Betapa gelap kehidupan ini,
Tentu hutan itu akan menyanyikan lagu rindu Atau sejenak kehidupan akan rehat
Tanpa ada yang berani melangkah, ke arah mana Mataharipun tersenyum: dan kembali bertanya padaku : Lalu apakah gerangan dunia ini bila tanpa bulan dan bintang?
Mungkin tidak ada bilangan waktu yang dua belas Tak akan ada yang berjalan kala malam
Tak akan ada pengarung samudera
Tak akan ada yang berpuasa, karena tak ada Ramadhan
Tak ada istilah hari raya dan haji karena tak ada Syawal dan Dzulhijjah
Tak ada yang menahan diri untuk berperang pada empat yang haram
: Apakah kau mengerti? Aku tidak mengerti
: Lalu apa gerangan tanpa ibu dan ayahmu? Akupun tidak ada
: Lalu apa arti hadirnya mereka?
Karena mereka aku mengenal namamu matahari, bulan dan bintang
: Apakah kau mengerti? Belum, aku tidak mengerti
Kau dituliskan Tuhan untuk selalu ada Sehingga siang dan malam menjadi nyata Ibu dan ayahku memiliki aku
Sehingga mereka berkewajiban mengurusku Sedangkan aku . . .
Pada anginpun aku tak tahu arti hadirku Dalam bilangan waktu
Aku hanya bersama mimpiku
: Bukankah telah kau baca Firman-Nya?
Bukankah ada dalam firman-Nya untuk apa kau diciptakan?
: Bukankah ada nenek (bumi) yang perlu kau urus? Ah, apalagi yang tidak kau pahami?
Kuperingatkan kau:
Tugasmu lebih banyak dariku Lalu apa arti hadirku?
Bila aku tidak melakukan tugasku sebagai manusia? Matahari itu temaram
Ada luka pada roman
Dadamu sesak dipenuhi tentangmu Tentang angan-anganmu
Tentang kekurangan keadaan
: Dan segala yang membuatmu nyaman Lalu apa yang harus kulakukan?
: Lakukanlah apa yang dikehendaki-Nya untukmu dan jauhkanlah apa yang dibenci-Nya
: Hanya itu Itu?
: Terdengar mudah memang,
Tapi percayalah bahwa semua butuh perjuangan Tak ada yang mudah ketika kau melaksanakannya Setengah berbisik berkata:
Tapi menjadi mudah bila dengan cinta Cinta?
Apa itu?
: Hanya kalian, manusialah yang lebih memahami apa itu cinta
Lalu apa artinya dengan kehadiranku? : Hadirmu menghadirkannya
Cinta . . . ya
Kau yang bisa menyebutnya, mengubahnya,
menyelami hakikatnya
Tapi aku tidak mau, bukan? : Jangan kau tanya arti hadirmu Wahai apa lagi jawabmu
Aku hanya ingin tahu aku apa ada : Ada
Dan sekali ada, selalu ada
Hingga pada yang beda, tetap ada Karena kau ditetapkan ada Arti hadir?
: Apalah beda pada ada
Karena waktu tak lebih dari garis namamu Ingat itu!
Arti hadir?
: Baiklah, lihatlah di sana
Suara-suara menggema, semua berkumpul Mungkin kau patut di sana
Bayangkan bila merah menyala
Lalu kembang gula menguning menyisakan darah dan pekat raga
Bayangkan kau yang telah kaku dan berhenti menyapaku
Masihkah kau ingin bertanya? Ini sudah banyak makan waktu Baiklah, nanti kusimpulkan
Dalam Hening
Kupu-kupu . . .
di manakah kupu-kupu itu? Ah, pelangi di imaji lagi . . .
Kembali emas terburai berai menjadi manik-manik . . . dan aku hanya tersenyum
Sekali lagi, menikmati dalam hening . . . di sini sepi, di sini rindu itu
Padamu?
mungkin, tapi api itu kembali merayu, Ah ... air itu ...
Penyejuk dahaga masa silam, kapankah mengalir lagi? semua tanya itulah harap ...
pada yang terjawab itulah ilmu, dan aku tersenyum lagi ...
lagi ...
dalam hening, di sini sepi, di sini rindu
Bersamaku
Kemarilah bersamaku Bersamaku berarti sunyi Menikmati simponi sepi Hiduplah bersamaku Bersamaku berarti diam
Bergerak mengendap dalam gelap malam Jika kau ragu, usahlah merayu
Karena pada hatiku
Tak terbuka jendela dan pintu Tapi di hatiku,
Kau bergelayut manja di ufuk cakrawala Diam-diam menyelinap mencuri logika Ketika waktu bicara, kelak
Terungkaplah segala Tapi sesal takkan kumiliki
Karena bukan ragu memagut juwita malamku
Tapi kuatnya hasrat yang membuncah, „ingin bersama‟ Sedangkan kau tahu,
Baiklah, mari kita mainkan drama kehidupan Kita tulis skenarionya
Kita dendangkan lagu cinta, endless love? Bisa jadi Menganyam mimpi menjadi permadani impian Sedikit demi sedikit membangun astana Kembali bergeming pada cahaya Astana
Cahaya
Pada-Nya lah segala bermuara Bersamaku kita kembali Lupakan sajak syair tak bertepi Kita tulis skenarionya lagi Harus kali ini!
Kali ini kita harus kembali
Rindu (II)
Rindu itu sementara, datang dan pergi membaur melebur air menjadi larutan asam-basa
Rindu itu sementara, indah seketika menyisakan luka dan tanya
Berulang aku mengoreksi rindu itu pada hak dan hakikatnya
Tapi rindu ini mengikat tanpa mengenal waktuku bersahaja
Merenggut, mencekik, mengancam jiwa yang dahaga Rindu ini ... rindu itu ... pada bulan yang beda ditatapnya
Kembali
Ini tulisan berapi
Goresan luka dan tinta darah tak bertepi Memagut sendiri jiwa yang sepi
Ini tulisan berapi
Sekali lagi tanya cinta penuh misteri Tapi apalagi selain kehendak Ilahi?
Berenanglah ke samudera, kembali ke tepian Luasnya cakrawala sehebat deburan ombak yang kembali menari
Tapi cakrawala dan ombak bertemu pada horizon tepi merah jingga ungu mega
Tarian tulisan yang kembali berapi Suara bisu hati
Siapa mengerti selain kembali menari Jangan tanyakan di mana cinta Karena lama sekali ia bersembunyi
Hadirnya khawatir membawa tarian goresan salah arti Sekali salah arti
Sesal yang menghampiri Bumi tempat hati-hati
Tapi ucapan hampa bak melodi tanpa nada Sekali ketuk dua tiga tak berpaut
Pautan abadi Hanya ikatan suci Atas nama cinta
Cinta pada Maha Lembut nan Pengasih Sekali lagi api memberi arti bagi yang berusaha memahami
Panasnya bukan untuk sekedar menguji
Tapi menyaksikan sesal pada yang mengkhianati Kembali berbahasa, melodi terberai tanpa isyarat : cinta kembali ke peraduan,
Takkan kau temukan lagi, meski sejuta tahun mencari; menanti
Berenanglah kembali, cari lagi
Sekali menari pada api dan berharap cinta kembali Bisa jadi, jika berharap pada yang memiliki Tulisan ini kembali berapi
Nyalanya penuh misteri
Sajak cinta yang mencuat di dahan-dahan Nanti . . .
Kita percayakan saja Kembali kita,
Ini Cintaku
Ini cinta bukan sembarang cinta Karena ia tak pernah terbagi Ini cinta bukan sembarang cinta Karena sucinya masih terjaga Ini cinta bukan sembarang cinta
Karena cinta ini jawaban sang Ilahi Rabbi Ini cinta bukan sembarang cinta
Karena cinta ini menembus segala dimensi Ini cinta bukan sembarang cinta
Bukan janji-janji, tapi pasti atas kehendak Ilahi Karena kesetiaan abadi
Itu yang kupersembahkan untukmu Atas nama Tuhan kita yang satu
Untuk Cinta
Kekasihku ...
Samudera ini mencari asalnya, setelah lelah alir liar bermuara
Angin ini peluk titip gunung yang menjulang Langit satu menyaksikan kita
Aku dan kamu ... Abadi dalam ikatan suci
:Kekasihku ...
Bukankah langit yang kita lihat adalah langit yang sama?
Lalu mengapa aku merasa begitu dingin ketika menatapnya
Datangkanlah padaku sebuah angin ... Angin yang kau titipkan pada langit untuk menciumku
Riuh rendah sepoi angin itu ... Baikkah kau di sana? Ingatkanku pada astana tempat peraduan
Surga cinta yang kita bangun bersama
:Bukan tentang airmataku yang jatuh saat menggambarkan hatiku atau tentang bibir yang tiba-tiba terasa kelu melihat wajahmu di kedinginan malam
Tapi, ini tentang aku yang ingin memelukmu, di sini ... denganku ...
Pulanglah sayang ... Angin ini tak semerdu dulu Dalam riuh yang bertubi-tubi ...
Ia telah rindu pada lapang hijau yang bergerak lembut menyambut
Pulanglah..
Sertakan aku pada detak dan ingatanmu Teringatku pada tinta emas ...
Buhul buhul kokoh tak telerai berai oleh badai Selayang semua janji kembali ke pandangan Aku harus kembali ... tapi di sini cinta itu
Yang pernah kita bangun dalam mimpi ... wacana putih dalam lembar ingatan
Jiwa ini buncah remuk redam meronta Selayang simalakama dilema
Di sini suara-suara memanggil
Darah dilukis sana-sini ... Aku ingin abadi kekasihku ... Dengan cintamu ... Bersama kembali kepada hidup Air mata di sini air minumnya, sayangku
Tangannya hilang, dimakan serakah ego dan nafsu buta mereka ... Tak ada kisah, sejarah terbang melayang antah berantah ... Ingatan lenyap dengan candu halusinasi
: Aku terus mencoba sayang, saat duduk di bawah patahan malam, beku cuaca ini menuliskan, “kau”
Tapi tak bisakah peri di balik pepohonan itu menceritakan padaku, bagaimana lukisan para bintang yang temaram menorehkan senyummu itu, berhenti ...
Warna tinta itu telah terlalu pucat dimataku.. sudah terasa lelah ...
Bukankah di sana engkau telah terlalu lama berlari bersama angin, yang menerbangkan pelurumu, sayang?
Tidurlah sebentar... aku akan menemanimu ... Akan ku tuliskan petisi pada kejauhanku agar ia mampu membiaskan sinarnya dan
menyuguhkan padamu ...
Segelas teh manis yang ruapnya begitu lembut, menemanimu
Hingga aku akan mendapati pagi saat kau tersenyum padaku
Kau yang bukan berupa ingatan saja, tapi kau yang mampu kupeluk,
Dan kucium dengan tergesa Ya, sayang...
Aku akan disini... tetap
Menghitungi hujan yang jelas tak mampu ku hitung karena begitulah, Aku merindukanmu Rindu yang tak mampu ku sampaikan betapa rindu ... Aku pada rinduku, kau jauh dan dekatku...
Wahai Maha Cinta
Tuhan, lelah sepiku menyadungkan lagu sunyi Peri-peri terkikik geli pada lemah hamba-Mu Sedang mencapai damai-Mu aku masih jauh Wahai Firman yang memberikan jalan terang Cinta yang meliputi dunia menembus angkasa raya Dengan siapa lagi dapat kucurahkan isi hati?
Sedang inang melihatku acuh masih, hanya penolakan pasti
Karena aku yang memuja-Mu dalam tiga rangkai harus berbagi cinta dengannya yang memuja-Mu yang tak berangkai
Kau yang ajarkanku untuk sebarkan kasih-Mu ke ujung dunia
Kau yang ajarkanku untuk dengan sesiapa cinta senantiasa
Aku mencintainya ...
Tapi aku tak ingin mengkhianati-Mu
Bilakah dewa-dewa berperang mulai melegenda? Haruskah kutulis kembali kisah-kisah para penghuni benua Utara?
Lebur dalam segala pertentangan yang selama ini terkesan khayalan?
Cinta yang tak pernah kupertanyakan Hanya kusyukuri adanya dari-Mu Tapi aku tak ingin mengkhianati-Mu
Sedang dia bersamaku nestapa dalam yakinnya Kami sama menghujat
„Kafir‟ kocar-kacir dalam dekapan waktu Tapi belum ada tanda
Siapa harus berubah Karena kami sama
Tak ingin melukai hakikat-Mu Yang beda di benak
Wahai Maha Cinta Wahai Maha Cinta
Dalam setiap kumpulan peristiwa kudapati diriku berjalan di langitMu
Ku lewati detik demi detik lumuran usiaku dengan cintaMu
Segala puja dan puji ku sujudkan pada keagunganMu, Satu.
Lalu aku harus bagaimana bila ternyata aku beradu pada pertemuan malam
Sesak pada sebuah mimpi yang menyapuku dengan sangat lembut
Aku masih tak mampu menemukan jawabannya, Mengapa aku?
Mengapa dia?
Mengapa kita, Engkau Yang Maha Esa dan miliknya yang tentu tak ku ketahui siapa
Bukankah seorang malaikat yang melahirkanku mencintaiku dengan cintaMu?
Lalu siapa yang memberinya cinta yang seharusnya tak kujamah sebagai sebuah surga
Jika memang, kami berbeda.. Mengapa aku merasa kami berada pada lorong putih yang sama.. Jika memang, kami tak sama.. Mengapa Engkau mengizikan aku memiliki cinta yang tentu saja tak berhak mengkhianati cintaku kepadaMu... padaMu, Wahai Zat Yang Maha Suci... padaMu saja.. Engkau nan Esa..
Sejak Kau tiupkan ruh kedalam tubuhku, Aku tau Kau sertakan pula takdir yang harus kunyanyikan keindahannya
Jelaskanlah kepadaku sedikit saja tentang binar yang begitu terang ini..
Yang menyakitkan mataku karena pendarnya yang bertumpuk-tumpuk
Ya Aziz..
Sajadah ini akan terus menemani airmata..
Entah aku harus memulai darimana, nyatanya aku telah sampai pada piluku
Aku mencintai ia yang tak pernah mengenalMu.. Aku mencintai ia yang tak pernah menundukkan kepalanya untuk menyembah Ke-Esa-anMu
Aku, selalu mencintaiMu dan akan tetap seperti itu.. Tapi, aku jelas tak mengerti..
Subuh kini mulai mendekati peraduannya, Dan aku belum juga habis bertanya kepadaMu, ya Rabb..
Matikan rasaku bila memang cintaku kepadanya melebihi rasa cintaku kepadaMu
Cintanya terasa begitu halus dan lembut hingga aku tak mamu melepas ikatannya
Bunuh cintaku bila memang cintanya membuatku mengkhianatiMu..
Tapi.. izinkan aku tetap mencintainya, bila ini kehendakMu..
Meski aku tak tahu mengapa, dan aku tak berhak tau mengapa..
Cinta Dimana, Cinta Kembali
Bicara, Cinta Bukan Cinta
Kembalikan! Dia benihku yang sempurna kutitip padamu
Kembalikan! Aku menginginkannya kembali
Kau dulu yang mengatakannya : “aku cinta padamu” Kini aku ingin buktikan
Manakah kata, dimanakah adanya, jika bukan ... Langit telah berubah warnanya.
Kau lihat? Nyata jelas kemerahan bercampur amis noda
Tak perlu kau bawakan aku ingatan tentang dosaku Karena aku terus membawa dosa ini bergerak pada kesakitannya
Kau bahkan tak pernah tahu, ketika aku tergelincir di satu purnama
Hidup namun tak hidup hingga kuciumi nadi di tanganku dengan ani berlumur amarah dan rasa maluku!
Tapi kau masih mampu melihatku beridiri tegak hari ini
Kau pikir untuk siapa? Kau? Laki-laki yang
Oh.. Bukan!! Bukan untuk kau dan ingatanku padamu.. Tapi untuk cinta yang kubawa dengan rasa sakit selama 9 bulan di dalam tubuhku.. Dia, malaikat kecilku.. bidadari milikku..
Pergi! Jangan bawakan aku dan bahagiaku kenangan tentang rasa sakit itu
Pergi!!
Pergi. Pergi. Pergi. Pergi. Pergi !!!!!!!
Aku selalu membenci diriku ketika aku melihatnya di bola matamu, seperti ini!
Berkali-kali aku meyakinkan langkahku sendiri „tuk tak membenci bagian dirimu yang menyatu di tubuhku selama lebih dari 9 bulan ini..
Berkali-kali, aku terus dicekik oleh tangan-tangan dosa yang tak terlihat
Berkali-kali.. aku, berdiri kaku menatap tubuhku dicermin dan mengingat bahwa tubuh ini pernah disentuh oleh raga menjijikan sepertimu..
Berkali-kali!!!
Sejarah terungkap „tuk kita baca, hikmah di sana perlu dikecap agar manisnya terasa diujung lidah
Aku tak banyak membawamu bunga, durinya kutusukkan pula!
Tapi semua hanya lembaran yang bercerita Hikayat yang dapat di kubur dalam
Dapat terbang melayang setelah mengabu terbakar Dapat tenggelam hilang setelah bermuara
Dapat memudar bersama cahya tak sampai dan sayup suara
Lupakan tentang kita!
Lupakan tentang hitam-abu-abu waktu yang termakan musim tertelan zaman!
Harusnya hutan kembali berseri setelah penambang itu pergi
Hahaha..
Kau ingin, pagi berpura-pura tak melihat malam? Atau ... kau ingin, mawar tak melihat duri yang tumbuh ditubuhnya?
Bagaimana? Bagaimana mungkin kau bisa meminta, Langit seolah tak melihat warna birunya? Duniaku pernah mati oleh kau yang menawarkan aku bahagia atas rasa cinta yang ternyata itu dosa...
Nafasku pernah mengelu sesaat setelah kau meminta aku membunuh nyawa yang hidup di ragaku.. dan nyawa itu, juga adalah nyawamu..
Lalu sekarang kau taburkan kelopak bunga diatas kubur yang kau gali sendiri..
Jangan berharap abu yang kau sulut api dapat kembali menjadi sebuah rumah megah..
Tidak! Tidak saat ini dan tidak pula sampai batas umurku!
Kita adalah kita ...
Bedebah dengan cahaya baru dan bunga mawar! Kita adalah kita ...
Telah terejawantah persatuan kita, di jiwa raga yang rapuh itu
Dia bukan milikmu semata ... aku ingin bagianku juga! Meski kau penuh luka, tapi benihnya dariku jua Biarkan waktu ini kulewati dengan kau: yang baru Sedangkan kau berbahagialah dengannya: yang baru Meski luluh lantak, segala perih dan luka kembali menggigit
Biarkan aku dengan kenangan kita dan biarkan dia bersamaku!
Biarkan aku sekali lagi merangkai kisah, menghapus noda sejarah
dengan detik-detik subuh, kembali bercahaya, hingga gemilang
Bisakah kau kembalikan dulu tahun-tahun yang kulewati dengan menginjak onak? Bisakah kau hapuskan masa-masa di saat tanganku terpasung dari hidupku? Bisakah kau enyahkan wajah mereka yang pernah meludahi aku dengan rasa malu bertubi-tubi dari ingatanku? Bisakah kau!?
Harus! Setelah itu ... Setelah kau bisa ...
Kembalilah padaku untuk meminta bunga mawarmu ... dariku ...
--- Jahannam!!! ---
Neraka itu menyala di mata, di tangan merah-bukan mawar merekah
Senyum indah perlahan redup dijemput maut Suara-suara tertahan, mata kembali membelalak Kejut dan kalut : kekhilafan pertama anak Adam kembali tertulis
Sejarah berputar memang, pada waktu yang tak dapat direka
Setan dan Iblis kembali bersorak-sorai: pesta pora mendapat teman baru di kediamannya kelak Petir itu datang tanpa suara
Ia mengeram tanpa melalui udara
Rambut hitam panjang itu kini terjuntai tanpa nyawa : Hilang sudah
Lalu bagaimana, cerita ini mampu menuliskan akhirnya
Peri kecil itu menangis di antara rerumputan dan kuntum bunga
Karena itulah yang terjadi ketika rasa manusia di penghujung akal sehatnya
Tubuh anak hawa itu kini kaku diatas sapuan langit yang mulai memerah, terenggut oleh sebuah mata pisau yang tak mampu melihat
Oleh orang yang pernah sangat dicintai dan mencintainya..
Padanya tanpa tanya: Entah ini takdir atau akhir dari jalan yang terpaksa dipilih
Bahkan dunia pun seolah menutup mata
ketika detik demi detik menyanyikan lagu kebencian Jangan...Jangan seperti ini...Jangan lagi...
Cinta ... Cinta dimana? Akankah kembali bicara? Cinta! Cinta dimana?
Ah, jikalau sudah begini ...
Cinta bukan cinta, hanya dendang semu yang sekali lagi : mengatas namakannya : Cinta ...
Mungkin Cinta yang Paling
Mungkin
2013 :
Matahari tak lagi bersahabat, bukan?
Kira-kira itulah yang banyak kita perbincangkan di kalender merah ini
Hujan datang lalu pergi tanpa tanda di mula, menemani gemuruh yang bergertak melewati kesadaran raga
dan kita, terpaksa melangkah dengan peluh, jenuh dan keluh
Tahun yang begitu lama dimasa lalu : Matahari masih tersenyum pelan,
melangkah mundur digantikan senja dengan gaun berhias permata ruby
Pelan saja,
hingga angin terasa malu bergerak keras dan justru ia datang,
begitu lembut dan membisikkan wangi rumput disetiap harinya
...
Mungkinkah waktu yang menggali kuburnya sendiri? ...
Kurasa tidak,
Mungkin yang paling mungkin, adalah
matahari, hujan, angin, dan gemuruh menyayangi kita dengan caranya masing-masing
Bukankah sebuah obat yang paling pahit merupakan penyembuh yang ampuh untuk rasa sakit
Mungkin yang paling mungkin, adalah Tuhan mengingatkan manusia melalui tangan-tanganNya di alam semesta itu
agar kita berhenti menarik rasa sakit ke dalam diri kita sendiri
dan mungkin yang paling mungkin, adalah Semua peluh, jenuh, dan keluh sengaja Tuhan ciptakan
agar kita membalikkan badan dan berlari ke arah-Nya Berhenti bersikap serakah,
Berhenti memberikan rasa sakit kepada dunia, Lalu berhenti, untuk berhenti mencintai alam semesta Karena mungkin yang paling mungkin dari semua yang terjadi adalah Cinta Tuhan pada manusia
Langkah Cinta di Atas Bumi Merah
Putih
Pagi buta saat kantukmu belum selesai lenyap : melipat sajadah
Aku mengerling mengantar angin Kau ambil kain lusuh tergantung
Pada bilik yang menitipkan nada tanpa kata lalu Berjalan mencari harap ke padang kebenderangan Ketika bulan semakin pucat terbias
Anakmu berjalan tanpa dentang menghampiri ibunya Mencium lekat tangan keriput yang tergores keras nasib
Tak ada sambutan nasi dan lauk pauk Anakmu,
tetap bergerak dalam terang pagi yang bisu
Berseragam merah putih : lusuh yang bersekutu dengan harapan
Menapak batu Gerisik pasir
Menuju tirai tebaran harap
Istrimu melangkah mengusik tanah lantai yang tenang tertidur
Membawa sekarung mimpi yang masih kosong di punggungnya
Tanpa alas berjalan Tanpa kemewahan Tanpa keluhan
membuka pintu yang berdiri renta tanpa kunci mengantarnya ke luas kehidupan nasib
mimpi harap
: di pusat kota yang menjulangkan tugu emas tinggi
Lalu apa?
Ratusan gunung tinggi tetap tak mampu memangku sedih itu
Banyaknya air di laut pula tak mampu hentikan dahaga
Tetumbuhan rindang tak mampu juga mengeringkan luka di perutmu
Lalu bagaimana? Kau dan jutaan kau
Tak pernah berhenti melangkah Kau dan jutaan kau
Tetap menari dalam nada putih temaram Karena kau dan jutaan kau
Percaya pada harapanmu yang merah menyala Hidup dan membiarkannya hidup
Mencari, dalam kesunyian di atas tanahmerah putih : untuk sebulir cinta dalam harap doa
Suara
Pernah satu kali aku bermimpi, mimpi saja,
tentang sebuah sakura Dan ia tak berwarna..
Ku tunggu, tetap saja tak berubah
Masih menunggu, ia justru semakin pucat dan lemah Pernah sekali waktu aku bercerita,
tentang sebuah istana, megah,
Tapi ia adalah istana yang begitu kosong Tak ada nada, bahkan suara debu saja Aku masih ingin bercerita,
Tapi istana itu hilang sudah, sekedip mata Pernah pula,
di satu sudut aku menari Langkah tariku tanpa bunyi
Meskipun gelang kaki gemerincing, seharusnya Tetap saja, suara itu tak kunjung jua..
Aku ingin berdiri nyata suatu masa
Bukan berdiri sebagai sebuah bayangan saja, Tapi mendengar dengan jelas suara kaki saat melangkah
Hingga mampu menikmati setiap iramanya, satu persatu
Untuk kemudian berlari, Mengejar mimpi,
yang bukan hanya sebuah ingin saja
..dan akan aku mulai denting gelang kakiku, hari ini untuk kedua pasang tangan yang menemaniku belajar berjalan
Untuk kedua pasang tangan yang memegangiku saat aku takut terjatuh
Untuk kedua pasang tangan yang menepuk punggungku saat aku membutuhkan ketenangan Untuk kedua pasang tangan yang selama hidupnya tak pernah melepaskanku,
Meskipun disaat aku terkadang berlari dalam ruangan tanpa suara
Ketidak Sempurnaan yang
Menyempurnakan
Kita terkadang hanya mampu melihat sisi samping dari orang yang berada di sekeliling kita.
Hanya melihat sisi belakang dari masalah yang ada Hanya mampu menerjemahkan sedikit raut wajah yang melihat kita
Tapi tak mampu meraba dengan halus ke dalam kalbunya...
Jika langit diciptakan untuk melindungi, maka Bumi tercipta untuk mengadu
Jika bahagia tercipta untuk membuatmu
tersenyum,maka LUKA tercipta untuk memberi kita ruang merindukan bahagia..
Disana akan tergores pilu yang menganga.. kecil namun terkadang melebar..
Semakin sakit Luka itu, maka semakin besar lubang pilunya..
Dari lubang pilu itu maka akan datang ribuan bahkan jutaan kasih sayang masuk kedalamnya..
membalutnya dengan halus, mengecupnya hingga airmata itu menjadi obat terakhir untuk meneguk manisnya..
Bagiku, tak pernah ada kata SALAH dalam sebuah persahabatan.
Tak ada kata MAAF pula di dalamnya..
karena Sahabat diciptakan bukan untuk menerima kesalahan dan memaafkan..
Namun lebih dalam dari itu, Sahabat disandingkan dalam hatimu untuk membuatmu mengerti bahwa kita adalah manusia yang tak sempurna..
Yang diciptakan untuk melengkapi ketidaksempurnaan itu..
Untuk membuat kita memahami bahwa Tuhan begitu Indah, bahkan Teramat Indah
hingga mampu menciptakan cinta dan ruang Indah Bagi Sahabat sepertimu..
Sahabat di Setiap Musim
Aku berjalan pada lorong yang memendarkan uap bayanganmu
menemui lipatan-lipatan waktu yang renta, menemuimu
membawa secawan do‟a dan bahagia berharap kau meminumnya
di bawah langit yang melengkungkan misteri tak terjawab
“Aku akan datang dan membahagiakanmu”
Pernah sekali waktu di musim hujan, saat kau tumbuh cantik nan gemulai
berselimut nektar manis yang dikawini lebah Seketika,
Kau menelanjangi aku
menyayat Arteriku dengan duri kecilmu Dalam. Banyak. Berkali-kali
Bergulung-gulung debu menyusup lemah, perih! Kenangan yang menyakitkan
melenggangkan bayangan duka di ruang jantung yang palsu
namun tak menghentikan langkahku
“Aku tetap datang dan membahagiakanmu”
Senja mulai memucat ketika kusadari di musim kemarau
jari gerimis meletakkan keabadian detik terus menggali kuburnya sendiri
kalender menghitam ketika sang lebah pergi ke rimbanya
Habis sudah nektarmu, tersisa kotor dan menjijikan
selongsong nadi yang berdetak di tangkaimu, mendingin
Lihat!
Mereka akan secepatnya menyingkirkanmu dari taman, kawan
karena sungguh buruk rupamu
begitu bisu irama yang pernah kau dendangkan Tapi tidak!
Aku tak peduli!
“Aku segera datang dan membahagiakanmu”
Memberimu makan meski di atas kulit tanah yang retak
Memandikanmu agar harum kembali menaburkan senyum
Menunggu kelopak merahmu hadir untuk menyelipkan titik embun
Meski telah kau sakiti aku di musim kemarau Aku tak peduli.
“Aku telah datang untuk membahagiakanmu”, kini Di musim hujan
Karena Aku di Sini
Aku akan melihatmu saat kau membutuhkan ketulusan...
aku akan mengelus rambutmu saat kau menginginkan ketenangan..
dan aku akan tersenyum saat kau meminta keikhlasan.. Bukan tentang aku..
bukan pula tentang riak jemari langit.. tapi ini tentang TITIK
yang menghubungkan setiap patahan menjadi garis mengikat nya menjadi simpul berwarna..
Aku tersimpuh di atas nyala debu
tak akan beranjak sampai kau kembali tenang.. Aku menyimpan tanganku di bawah putih cuaca untuk menyimpan semua gelisahmu
agar tak ada lagi patahan patahan kalender hitam yang mengubur senyummu
karena aku ada disini, untukmu karena aku ada disini..
Tiga Masa, Kau Akan Datang
(Lagi)
Mata,
Kutitipkan engkau di akhir bandara Soekarno Hatta Saat tas punggung itu terakhir kali melambai membawa serta
Melangkah tegap karena ia tau apa yang ia tuju Disana, cita-cita pengembaraannya
Ah, jemari ini..
Sudahlah jangan membuat ini semakin terasa berat dia pun akan pulang
nanti, dimasa dia telah selesai mencari mimpinya Aku tahu ini sulit,
Terlebih untukmu kedua kaki..
Ayo, Bawalah aku berbalik arah dan biarkan punggung ini yang menatapnya saja
Jangan membiarkan ketidakinginanmu untuk pergi, memaksa
Disini, tiga waktu yang akan datang.. Kita akan menjemputnya..
Lalu, jangan biarkan lagi ia pergi..
Maka biarkan saja kita titip kerapuhan ini pada sebuah rindu,
dan pada airmata yang menemani doa untuknya..
Senja
Kau senja,
Disanalah kau memelukku disaat aku telah lelah pada waktu siangku
Siang yang memaksaku berlari ditengah terik dan peluh nyala debu
Debu yang pucat dan memutih meski pantulan sang surya perkasa menderu
Ah senja,
Kau datang tepat pada masanya
Masa dimana aku telah ringkih termakan waktuku sendiri yang menggali kuburnya
Kubur yang terasing dan terangkat nisannya oleh sebuah tiupan angin saja
Senja..
Senjaku, rupanya kau telah merindukanku.. Lantas, apa yang perlu kau tunggu?
Bawalah aku pada sebuah lapang yang hijau oleh rerumputan dan harum segar aromanya
Biarkan aku menari dengan bunga di tangan kananku dan jemarimu di tangan kiriku
Hingga sentuhan malam menjemput dengan perlahan tanpa suara
Lantas, apa lagi yang masih kau tunggu?
Aku telah melepaskan semua yang kumiliki di siang hari
Karena malam tak membutuhkannya
dan selama malam belum tiba, maka biarkan aku berada di dekapanmu
Senja
Sajak Kau dan Aku
Suara :
Hei pengelana gila!
Jangan kau syairkan lagi kata demi kata hanya untuk meruntuhkanku
Bicaralah apa adanya
karena aku mencintaimu.. bukan syairmu!
Aku berdiri disini bukan tanpa nyali. Aku sengaja datang untuk memberitahumu tentang cintaku. Aku tidak bekerja di senayan. Aku tak membawa mobil ferrari. Aku juga tidak memiliki deposito. Tapi apa salahnya jika aku mencintaimu? Ah, mungkin rasanya sombong sekali aku bisa mencintaimu
Pena :
Kuburu angin yang menyentuh wajahmu di sudut temaram ruangan ini
aku tak mampu meskipun hanya membayangkan jika ada sehembus angin pun yang menyentuhmu
aku adalah kesunyian
maka kau menghidupkan aku
tapi aku juga ingin mempersembahkan diriku sebagai puisi yang bisa kau sentuh
Benar. Kau bukan permata. Bukan harta, atau juga tahta.
Kau adalah kehidupanku, oksigen yang menggetarkan darah dan nadiku
Tapi hidupku,
kali ini, izinkan aku yang memelukmu dalam kediaman nada
Biarkan hanya angin yang mencapai seisi ruangan tanpa menyentuhmu
Sudah,
Terasa putih temaram ini..
Rindu Pada Waktu
Aku :
Angin tipis datang mengetuk lembah.
Patahan-patahan memori tercerai dan melompat tanpa kendali, terlalu jauh dan dalam ke dasar
Engkau datang serupa nyala rindu di perapian. Membawa segelas teh hangat di tangan dan sebaris lengkung indah di wajahmu. Mungkin saja, nyala rindu itu menjelma dirimu. Menyentuh pipi dengan kelembutan pikselisasi tinggi. Wajah itu mengingatkanku pada laut Green Sands di pantai Papakolea yang menyimpan pesona lekukan yang begitu indah dan hamparan pasir hijau surealis bagai padang rumput yang menawarkanku keteduhan tanpa batas.
Namun angin,
kini terpaksa menghembus meninggalkan lembah tanpa jejak dedaunan
Ah sudahlah.
Mungkin saja di lembah itu masih tersisa sedikit aliran sungai, atau juga tidak.
Aku hanya tidak ingin angin itu berputar arah dan meninggalkan lembah tanpa kelembutan, lagi
Dia :
Tanggal merah itu kini tiba pada garis tepinya.
Perlahan saja, namun tetap kunjung tiba.
Kukirimkan surat ini pada wanita yang mencintaiku serupa embun yang begitu bening :
“Damaikan hati dalam ketidakinginan aku berpisah denganmu. Jalan yang harus kutuju membutuhkan sedikit waktu dan kesabaran juga baris doa yang begitu tajam kau lafadzkan dari bibir lembut dan hatimu. Aku pergi bukan untuk pergi, tapi untuk membawakanmu kebahagiaan di tepian waktu yang lain. Waktu dimana kita akan menyatukan hidup sebagai satu.”
Aku selalu mencintaimu Waktu :
Sudahlah.
Jangan kau benamkan aku pada sebuah kuburan yang gelap. Karena setiap detik, memiliki masa terang meski tak akan abadi.
Akan tiba saatnya dimana aku akan
mempertemukanmu pada sebuah hamparan sutra indah berhias bunga yang mengantarkanmu pada tawa.
Engkau hanya perlu menunggu aku. Sambil sesekali berjalan dengan cerita-ceritamu. Percayalah.
Hujan menitipkan bingkisan putih bertuliskan “untukmu”
Ia tak ingin membuatmu menangis, namun pada kenyataannya ia membuatmu terjaga pada sebuah malam yang dingin
Nafas Rindu
Ku mohon jangan,
Jangan lepaskan aku sendiri melangkah pada setapak kepalsuan
Rasanya aku belum mampu menantang keegoisan Aku masih perlu menamatkan kesadaranku Coba lihat,
Tanganku belum selesai menuliskan sebuah abjad Mataku masih berputar tak tentu arah
Apa yang kupunya? ketidakmengertian
Kemarilah, dengarkan aku..
Aku hanya ingin menceritakan kisah gerimis pagi Tidak perlu terlalu dekat, tapi ku mohon datanglah.. Aku sengaja membohongi cuaca untuk sekedar mengisahkanmu
Aku hanya perlu kau disini, Mungkin aku salah
Atau juga tidak
“Datanglah.. Aku mohon..”
Biarkan aku menyatukan patahan–patahan embun menjadi sebuah pelangi
“Ku mohon, datanglah..”
Khusus Untukmu
Cinta itu bukan saja
Malaikat pun tidak tahu bagaimana Dia melekat seolah kulit pada dagingnya
Hidup berarti dan tak berarti karena cinta, dan bukan saja
Ada yang kusimpan dan tak terbagi pada ilalang di hamparan sana, bukan getaran angin saja
Maka biarkan nyala gerimis yang mengabarkannya pada kerajaan langit sana
Ah,
Bukankah rahasia itu tetap milik para penyair Yang pada datang dan kepergiannya tak terendus suara
Dan ia ucapkan cintanya pada sebuah lekukan jemari di atas kerinduan putih kertas itu
Maka biarkan saja, rahasia itu tetap milik kesunyiannya
Separuh jalan merah itu ditapaki bulir cinta Atau kerikil yang seharusnya tak ada
Puja dan puji sebuah pena merenda lembut kobaran sajak tak berdosa
Menjadi cahaya, yang tak terkibas hujan ketika melewati dedaunan
Mungkin saja kudapati ilham halus ini meremajaiku Mengajak aku pada sebuah kefanaan yang nyata berkelana
Ah,
kusemburatkan cinta pada kecintaan yang lebih sepi Cinta yang tak bersuara, hanya untuk cinta di hatimu Cinta yang kupinjam dari pemilik Surga,
Jiwa
Dalam raga tak terbentuk cerita, Ia raga saja dan ada..
Tapi cerita hidup dalam jiwa, Jiwa saja, bukan..
Jiwa itu tentang cinta dimana ia pernah melihat pasir putih di istana tenggara
Bermusik minor dengan seruap pendar kenangan
Jelas saja,
Karena jiwa itu hidup sebagai raga yang berjalan di sepanjang koridor batas
Hidup bersekat meski tak terlihat Terjaga meski sudah renta Terang saja,
Karena jiwa itu akan abadi
Selama jarak antara ia dan kenangan sedekat antara darah dan nadinya..
Hilang
Persemayaman sebuah nada tak bertepi pada satu tebing pendakian
Abadi pada ketidakmengertian yang terasa seolah mengerti
Seperti sealun kasih yang tak sengaja dihadirkan dalam gerisik mata temaram
Menepuk lembut seperti angin pada embunnya Lalu, seroja ini menggoda hari dengan wewangian Tak ada yang salah dan tak pula tersalahkan
Karena wewangian itu datang dengan tanpa kepastian masa
Luruh hanya pada angin yang datang membawa aroma ilalang
Lalu, berlalu
Dia Berkata Padaku
Dia disana..
Lalu, datang dan menatapku dengan sebuah daun ditangan kirinya..
Dia berkata padaku
“Kamu adalah perempuan yang baik”
Tak ada yang perlu kutanyakan lagi, benar
Aku mencintainya
Dia disana..
Pergi dan membiarkan aku menatapi punggungnya yang begitu hangat bila ku sentuh
“Kamu adalah perempuan yang baik” ku dengar itu ketika dia berkata padaku
Tapi dia disana..
Aku adalah perempuan yang baik, dan itu saja Mungkin karena itulah dia disana..
Tak ada bunga, tak ada wewangian, dan gemerlap kelembutan..
Aku adalah perempuan yang baik, dan itu saja Karena itulah dia disana..
Tak ada yang lain yang kumiliki
Yang mampu menahannya untuk tetap menggenggam kerapuhanku
Mungkin karena itulah, Dia disana...