KEGAWATDARURATAN NEONATUS
KEGAWATDARURATAN NEONATUS
A.
A. PENANGPENANGANAN ANAN HIHIPOPOGLUKEMI GLUKEMI
a.
a. Bila Bila gadar gadar gula gula darah darah < < 25 25 mgmg
Pasang jalur IV bilPasang jalur IV bila belum terpasanga belum terpasang
Beri glukosa 10% 2 ml IBeri glukosa 10% 2 ml IV bolus pelan dalam 5 menV bolus pelan dalam 5 menitit
Kalau Jalur IV tidak cepat, berikan melKalau Jalur IV tidak cepat, berikan melaui NGT dengan dosis samaaui NGT dengan dosis sama
Infuse glukosa Infuse glukosa 10%10%
Cek kadar glukosa darah 1 jam setelah bolus, kemCek kadar glukosa darah 1 jam setelah bolus, kemudian per 3 jamudian per 3 jam
Lanjutkan Lanjutkan infusinfus
b.
b. Bila kadar daBila kadar darah 25-45 mgrah 25-45 mg
Lanjutkan Lanjutkan infuseinfuse
Cek glukosa dalam peCek glukosa dalam per 3 jam hingga 45 mg/dl atr 3 jam hingga 45 mg/dl atau lebihau lebih
c.
c. Kadar gula darah ≥ 45 mgKadar gula darah ≥ 45 mg
Jika bayi mendapat cairan IV : cek per 12 jamJika bayi mendapat cairan IV : cek per 12 jam
Jika bayi tidak menJika bayi tidak mendapat cairan IV cek per 12 jadapat cairan IV cek per 12 jam, 2xm, 2x
-- Jika Jika turun : turun : tanganitangani
-- Jika normJika normal : al : hentikan hentikan pengukuranpengukuran
B.
B. KLASIFIKASI SUHU TUBUH ABNORMAL DAN KLASIFIKASI SUHU TUBUH ABNORMAL DAN GEJALANYGEJALANYAA
a.
a. Hipotermi Hipotermi sedang sedang : : dimana dimana suhu suhu BBL BBL 36-3636-364 04 0CC
Gejala :
Gejala :
Suhu Suhu 36-3636-364 04 0CC
Akral Akral dingindingin
Gerakan bayi kuraGerakan bayi kurang normalng normal
Kemampuan menghisap Kemampuan menghisap lemahlemah
Kulit berwarna tidak ratKulit berwarna tidak rata (cutis marmorata)a (cutis marmorata)
T Tangisan angisan lemahlemah
Aktivitas berAktivitas berkurang latarkurang latarghighi
Penanganan :
Penanganan :
Ganti pakaian dingiGanti pakaian dingin dan basah dengan pakaian dan basah dengan pakaian hangatn hangat
Bila ada ibu/penggantBila ada ibu/pengganti ibu, KMC/perawatan bayi lekat bila tidak ada ibui ibu, KMC/perawatan bayi lekat bila tidak ada ibu
Hangatkan dengan alat pemaHangatkan dengan alat pemancar panas/incubancar panas/incubatortor
Cek suhu alat penghangCek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berikat dan suhu ruangan, berikan ASI perasan ASI peras
Hindari paparan panas yang berleHindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisibihan dan sering ubah posisi
ASI lebiASI lebih seringh sering
Minta ibu mengenalaMinta ibu mengenalai kegawatan dan segera cari pertolongai kegawatan dan segera cari pertolongan bila adan bila ada
b.
b. Hipotermi berHipotermi berat : dimana at : dimana suhu BBL < 36suhu BBL < 3600CC
Gelaja :
Gelaja :
Suhu Suhu < 36< 3600CC
Seluruh tubSeluruh tubuh teraba dingiuh teraba dinginn
Mengantuk/letargis Mengantuk/letargis
Sklerema (ada bagiaSklerema (ada bagian tubuh yang mengeras dan berwarna merah)n tubuh yang mengeras dan berwarna merah)
Bibir dan Bibir dan kuku kebirkuku kebiruanuan
Pern Pernapasan apasan lambatlambat
Pernapasan tPernapasan tidak teraturidak teratur
Bunyi Bunyi jantung lemah/lambatjantung lemah/lambat
Mungkin timbul hipogMungkin timbul hipoglukemia dan asidosis metalukemia dan asidosis metabolikbolik
Penanganan :
Penanganan :
Hangatkan tHangatkan tubuh bayiubuh bayi
Jika 1 jam suhu tidak naiJika 1 jam suhu tidak naik, rujuk segerak, rujuk segera
Pertahankan Pertahankan kadar gula darakadar gula darahh
Anjurkan ibu menjaga bayAnjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalai tetap hangat selama perjalanan rujukannan rujukan
Lakukan rLakukan rujukan segeraujukan segera
c.
c. Hipertermi Hipertermi : : dimana dimana suhu suhu bayi bayi > > 37375 05 0CC
Gejala :
Gejala :
Suhu Suhu > 37> 375 05 0CC
Terdapat taTerdapat tanda-tanda dehidnda-tanda dehidrasirasi
-- Mata Mata dan ubudan ubun-ubun ben-ubun besar ceksar cekungung
-- Lidah daLidah dan membrn membrane mukosa ane mukosa keringkering
-- BB BB menurunmenurun
-- Banyaknya Banyaknya air berkeair berkemih bmih berkurangerkurang
M Malas alas minumminum RR > RR > 60 x/menit60 x/menit Letarghi Letarghi Irritable Irritable Penanganan : Penanganan :
Bayi dipindahkan keruaBayi dipindahkan keruangan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-28ngan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-2800CC
Tubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normTubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normalal
C.
C. HIHIPERTERMI KARENA PAPARAN PANAS PERTERMI KARENA PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS
Karena paparan panas
Karena paparan panas
Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C)
Lepaskan sebagiLepaskan sebagian/seluruh pakaan/seluruh pakaianian
Cek suhu Cek suhu aksila /jamaksila /jam
Bila Bila > 39> 3900C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 4C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 400C lebih rendah dari tubuh bayiC lebih rendah dari tubuh bayi
Jangan gunakan aiJangan gunakan air dinginr dingin
Turunkan sTurunkan suhu penghangauhu penghangatt
Buka inkubator saBuka inkubator sampai dengan suhu normmpai dengan suhu normalal
Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 menitmenit
Cek suhu/jam samCek suhu/jam sampai dengan normalpai dengan normal
Cek suhu inkubator Cek suhu inkubator /jam sampai deng/jam sampai dengan normalan normal
Bukan kerena paparan panas
Bukan kerena paparan panas
Tepai untuk Tepai untuk suspect sepsissuspect sepsis
Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C)
Lepaskan sebagiLepaskan sebagian seluruh pakaiaan seluruh pakaiann
Cek suhu Cek suhu aksila/jamaksila/jam
D.
D. PENANGANAN HIPENANGANAN HIPOTERPOTERMI SEDANG DAN BERAT MI SEDANG DAN BERAT
Penanganan hipotermi sedang
Penanganan hipotermi sedang
Ganti pakaian dingiGanti pakaian dingin dan basah dengan pakaian dan basah dengan pakaian hangatn hangat
Bila ada ibu/penggBila ada ibu/penggati ibu, KMC/peraati ibu, KMC/perawatan bayi lekatwatan bayi lekat
Bila tidaBila tidak ada ibuk ada ibu
Hangatkan dengan alat pemaHangatkan dengan alat pemancar panas/inkubancar panas/inkubatortor
Cek suhu alat penghangCek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berat dan suhu ruangan, beri ASI perasi ASI peras
Hindari paparan panas yang berleHindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisibihan dan sering ubah posisi
ASI lebiASI lebih seringh sering
Minta ibu mengenali kegawatMinta ibu mengenali kegawatan dan segera cari pertolongan bilan dan segera cari pertolongan bila adaa ada
Penanganan hipotermi berat
Penanganan hipotermi berat
Hangatkan tHangatkan tubuh bayiubuh bayi
Bila 1 jam suhu tubuh tBila 1 jam suhu tubuh tidak naik, segera ruidak naik, segera rujukjuk
Pertahankan kadar gula Pertahankan kadar gula darahdarah
Anjurkan ibu menjaga bayAnjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalai tetap hangat selama perjalanan rujukannan rujukan
Lakukan rLakukan rujukan segeraujukan segera
E.
E. CARA CARA MENMENGHANGATKAN BAYI GHANGATKAN BAYI
Kontak kulit Kontak kulit dengan kulitdengan kulit
KMC/kangaroo KMC/kangaroo mother carmother caree
Pe Pemancar mancar panaspanas
Inkubator Inkubator
Ruangan yRuangan yang hangaang hangatt
Tempatkan bayTempatkan bayi diruangan yang hangi diruangan yang hangat, jangan ber ACat, jangan ber AC
Menyusui juga bisa membuat Menyusui juga bisa membuat si kecil merasa si kecil merasa hangathangat
Gunakan tutup kepala karena 25% panas hilaGunakan tutup kepala karena 25% panas hilang pada bayi baru lahir melalui kepalang pada bayi baru lahir melalui kepala
Dekap bayi diantara payudarDekap bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodoa ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodok serta kepala menoleh ke suatu sisik serta kepala menoleh ke suatu sisi
Metode ini dapat dilakukan pada ibu, bapakMetode ini dapat dilakukan pada ibu, bapak/anggota keluaraga dewa/anggota keluaraga dewasa lainnyasa lainnya
(Sudoyo,
(Sudoyo, Ari. Ari. W W dkk, dkk, ))
Kontak Kulit dengan kulit
-- Mata Mata dan ubudan ubun-ubun ben-ubun besar ceksar cekungung
-- Lidah daLidah dan membrn membrane mukosa ane mukosa keringkering
-- BB BB menurunmenurun
-- Banyaknya Banyaknya air berkeair berkemih bmih berkurangerkurang
M Malas alas minumminum RR > RR > 60 x/menit60 x/menit Letarghi Letarghi Irritable Irritable Penanganan : Penanganan :
Bayi dipindahkan keruaBayi dipindahkan keruangan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-28ngan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-2800CC
Tubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normTubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normalal
C.
C. HIHIPERTERMI KARENA PAPARAN PANAS PERTERMI KARENA PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS
Karena paparan panas
Karena paparan panas
Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C)
Lepaskan sebagiLepaskan sebagian/seluruh pakaan/seluruh pakaianian
Cek suhu Cek suhu aksila /jamaksila /jam
Bila Bila > 39> 3900C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 4C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 400C lebih rendah dari tubuh bayiC lebih rendah dari tubuh bayi
Jangan gunakan aiJangan gunakan air dinginr dingin
Turunkan sTurunkan suhu penghangauhu penghangatt
Buka inkubator saBuka inkubator sampai dengan suhu normmpai dengan suhu normalal
Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 menitmenit
Cek suhu/jam samCek suhu/jam sampai dengan normalpai dengan normal
Cek suhu inkubator Cek suhu inkubator /jam sampai deng/jam sampai dengan normalan normal
Bukan kerena paparan panas
Bukan kerena paparan panas
Tepai untuk Tepai untuk suspect sepsissuspect sepsis
Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C)
Lepaskan sebagiLepaskan sebagian seluruh pakaiaan seluruh pakaiann
Cek suhu Cek suhu aksila/jamaksila/jam
D.
D. PENANGANAN HIPENANGANAN HIPOTERPOTERMI SEDANG DAN BERAT MI SEDANG DAN BERAT
Penanganan hipotermi sedang
Penanganan hipotermi sedang
Ganti pakaian dingiGanti pakaian dingin dan basah dengan pakaian dan basah dengan pakaian hangatn hangat
Bila ada ibu/penggBila ada ibu/penggati ibu, KMC/peraati ibu, KMC/perawatan bayi lekatwatan bayi lekat
Bila tidaBila tidak ada ibuk ada ibu
Hangatkan dengan alat pemaHangatkan dengan alat pemancar panas/inkubancar panas/inkubatortor
Cek suhu alat penghangCek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berat dan suhu ruangan, beri ASI perasi ASI peras
Hindari paparan panas yang berleHindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisibihan dan sering ubah posisi
ASI lebiASI lebih seringh sering
Minta ibu mengenali kegawatMinta ibu mengenali kegawatan dan segera cari pertolongan bilan dan segera cari pertolongan bila adaa ada
Penanganan hipotermi berat
Penanganan hipotermi berat
Hangatkan tHangatkan tubuh bayiubuh bayi
Bila 1 jam suhu tubuh tBila 1 jam suhu tubuh tidak naik, segera ruidak naik, segera rujukjuk
Pertahankan kadar gula Pertahankan kadar gula darahdarah
Anjurkan ibu menjaga bayAnjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalai tetap hangat selama perjalanan rujukannan rujukan
Lakukan rLakukan rujukan segeraujukan segera
E.
E. CARA CARA MENMENGHANGATKAN BAYI GHANGATKAN BAYI
Kontak kulit Kontak kulit dengan kulitdengan kulit
KMC/kangaroo KMC/kangaroo mother carmother caree
Pe Pemancar mancar panaspanas
Inkubator Inkubator
Ruangan yRuangan yang hangaang hangatt
Tempatkan bayTempatkan bayi diruangan yang hangi diruangan yang hangat, jangan ber ACat, jangan ber AC
Menyusui juga bisa membuat Menyusui juga bisa membuat si kecil merasa si kecil merasa hangathangat
Gunakan tutup kepala karena 25% panas hilaGunakan tutup kepala karena 25% panas hilang pada bayi baru lahir melalui kepalang pada bayi baru lahir melalui kepala
Dekap bayi diantara payudarDekap bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodoa ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodok serta kepala menoleh ke suatu sisik serta kepala menoleh ke suatu sisi
Metode ini dapat dilakukan pada ibu, bapakMetode ini dapat dilakukan pada ibu, bapak/anggota keluaraga dewa/anggota keluaraga dewasa lainnyasa lainnya
(Sudoyo,
(Sudoyo, Ari. Ari. W W dkk, dkk, ))
Kontak Kulit dengan kulit
Kontak kulit bayi
Kontak kulit bayi dengan ibu dapat dengan ibu dapat mempertahamempertahankan suhu nkan suhu bayi dan mencegah bayi dan mencegah bayi kedinginan. Keuntungan selain bisa memberikan kehangatanbayi kedinginan. Keuntungan selain bisa memberikan kehangatan
bayi juga akan l
bayi juga akan lebih sering mebih sering menetek, banyenetek, banyak tidur, tidak rak tidur, tidak rewel dan kenaewel dan kenaikan BB lebih cepaikan BB lebih cepat.t.
KMC (perawatan bayi lekat/PBL)
KMC (perawatan bayi lekat/PBL)
-- Kontak kulit ibu-bayi Kontak kulit ibu-bayi secara dini terus secara dini terus menerus dikombinasi ASI menerus dikombinasi ASI ekslusifekslusif
-- Untuk menUntuk menstabilkan stabilkan bayi hingga bayi hingga BB 2500 grBB 2500 gr
-- Tidak untuk Tidak untuk ibu yang ibu yang memiliki penyakit memiliki penyakit beratberat
-- Tidak untuk bayTidak untuk bayi sehat (sepsii sehat (sepsis atau gangguas atau gangguan napas berat)n napas berat)
-- DirokemndasiDirokemndasikan pada kan pada bayi dengan bayi dengan BB < 1800 gBB < 1800 grr
Pemancar panas
Pemancar panas
Untuk bayi sakit dengan BB ≥ Untuk bayi sakit dengan BB ≥ 1500 gr 1500 gr
Untuk pemerUntuk pemeriksaan awal bayiksaan awal bayii
Selama dilSelama dilakukan tindakaakukan tindakann
MenghangatMenghangatkan kan kembali bayi kembali bayi hipotermihipotermi
Suhu ruangan minimal Suhu ruangan minimal 222200CC
Atur suAtur suhu (36-37hu (36-3700C)C)
Inkubator
Inkubator
Penghangatan Penghangatan berkelanjutberkelanjutan an dengan dengan BB BB < < 1500 1500 grgr
Untuk Untuk bayi bayi sakit sakit berat berat (sepsis, (sepsis, gangguan gangguan nafas nafas berat)berat) Ruangan Yang Hangat
Ruangan Yang Hangat
Untuk mUntuk merawat erawat bayi debayi dengan BB ngan BB < 2500 < 2500 gr yang gr yang tidak tidak memerlukan memerlukan tindakan tindakan diagnostic/prdiagnostic/prosedur osedur pengobatanpengobatan
Tidak Tidak untuk untuk bayi bayi sakit sakit beratberat
Paling Paling rendah rendah 2626ooCC
BBl BBl 15001500 – – 1000 suhu ruangan 28 1000 suhu ruangan 28 – – 30 30ooCC
BBl BBl > > 2000 2000 suhu suhu ruangan ruangan 2626 – – 28 28ooCC
F
F.. IKTEIKTERUS RUS FIFISIOLOGIS DAN PATOSIOLOGIS DAN PATOLOGIS LOGIS
Ikterus Fisiologis Ikterus Fisiologis
Ikterus Ikterus yang yang timbul timbul pada pada hari hari ke ke 2 2 dan dan ke ke 33
Tidak Tidak mempunyai mempunyai dasar dasar patologispatologis
Keadaannya Keadaannya tidak tidak melampaui melampaui kadar kadar kadar kadar yang yang membahayakamembahayakann
Tidak Tidak mempunyai mempunyai potensi potensi menjadi menjadi Kern Kern IkterusIkterus
Tidak Tidak menyebabkan menyebabkan suatu suatu morbiditas morbiditas pada pada bayibayi
Umumnya teUmumnya terjadi parjadi pada BBL, kadar da BBL, kadar Bilirubin Bilirubin tak terkotak terkonjugasi pada njugasi pada minggu peminggu pertama > 2 rtama > 2 mg/dl. Pamg/dl. Pada bayi cukda bayi cukup bulan yaup bulan yang mendapat ng mendapat susu formsusu formula kadarula kadar bilirubin aka
bilirubin akan mencapai pn mencapai puncak sekitar uncak sekitar 6 -8 mg/dl pada 6 -8 mg/dl pada hari ke 3, kemhari ke 3, kemudian akan meudian akan menurun cepat senurun cepat selama 2lama 2 – – 3 hari diikuti dengan penurunan yang 3 hari diikuti dengan penurunan yang lambatlambat
sebesar 1 mg/dl selama 1
sebesar 1 mg/dl selama 1 – – 2 Minggu. Pada 2 Minggu. Pada bayi cukup bulan yang mendapat ASI kadar Bilirubin akan mencapai kadar yang lebih tinggi (7bayi cukup bulan yang mendapat ASI kadar Bilirubin akan mencapai kadar yang lebih tinggi (7 – – 14 MS/dl) 14 MS/dl)
dan penurunan terjadi lebih lambat. Bisa terjadi dalam waktu 2
dan penurunan terjadi lebih lambat. Bisa terjadi dalam waktu 2 – – 4 4 Minggu, bahkan dapat mencapai waktu 6 minggu.Minggu, bahkan dapat mencapai waktu 6 minggu.
Ikterus Ikterus terjadi terjadi sebelum sebelum umur umur 24 24 jamjam
Setiap Setiap peningkatan peningkatan kadar kadar Bilirubin Bilirubin serum serum yang yang memerlukan memerlukan FototweraphyFototweraphy
Peningkatan Peningkatan kadar kadar Bilirubin Bilirubin total total serum serum 0,5 0,5 mg/dl/jammg/dl/jam
Adanya tanda-Adanya tanda-tanda penytanda penyakit yang akit yang mendasari pmendasari pada setiap ada setiap bayi (muntabayi (muntah, lerargih, lerargis, malas ms, malas menetek, penurunaenetek, penurunan BB yang n BB yang cepat, apneacepat, apnea, Takipnea/, Takipnea/suhu yangsuhu yang tidak stabil)
tidak stabil)
Ikterus Ikterus bertahan bertahan setelah setelah 8 hari 8 hari pada baypada bayi cukup i cukup bulan/setelbulan/setelah 14 ah 14 hari pahari pada bayda bayi kurang i kurang bulanbulan
Ikterus Ikterus disertai disertai BB < BB < 2000 gr, 2000 gr, massa semassa sestasi < stasi < 36 mingg36 minggu, asfiksu, asfiksia, hipoksia, hipoksia, sinia, sindrom yang drom yang pernafasan, pernafasan, infeksi.infeksi.
Ikteru Ikterus s PatologisPatologis
Ikterus Ikterus yang yang mempunyai mempunyai dasar dasar PatologisPatologis
Kadar Kadar Bilirubinnya Bilirubinnya mencapai mencapai nilai nilai hiperbilirubihiperbilirubinemianemia
MACAM-MACAM IK
MACAM-MACAM IKTERUTERUS S
a.
a. Ikterus Ikterus HemolitikHemolitik
b.
b. Ikterus BerkIkterus Berkepanjanganepanjangan
c.
c. Ikterus Ikterus PrematuritasPrematuritas
d.
d. Kern Kern IkterusIkterus
IKTERUS HEMOLITI
IKTERUS HEMOLITIK DAN PENANGANANNYK DAN PENANGANANNYAA
emolitik : Ikterus ikterus yang timbul saat Bayi Baru Lahir yang timbul < 24 jam
emolitik : Ikterus ikterus yang timbul saat Bayi Baru Lahir yang timbul < 24 jam
danya
danya
Pucat Pucat saat saat lahirlahir
HB HB < < 13 13 g/dlg/dl
an
Terapi sinar bila kadar Bilirubin sesuai indikasi Rujuk untuk transfusi tukar
Hindari obat Antimalaria, golongan sulfa, Aspirin untuk mencegah krisis hemolisis Transfusi darah bila HB < 12 g/dl
Setelah terapi sinar dihentikan
Observasi 24 jam, cek kadar bilirubin
Bila ikterus lagi, lihat kadar bilirubin apakah perlu terapi sinar lagi Ulangi terus sampai kadar bilirubin normal
Bila kencing gelap, feces pucat tangani sebagai prolonged jaundice Follow up cek Hb/mg selama 4 mgg
Bila Hb < 19 gr beri transfusi darah
PROLONGED JAUNDI CE DAN PENANGANANNYA
d Jaundice : Jika > 2 minggu masih Ikterus/terus berlanjut Tanda-tandanya
Aterm 2 minggu masih Ikterus
Urobilin : urin yang pekat → Bilirubin ↑ Feses pucat
Bilirubin Direct
Penanganan
Hentikan terapi sinar
Bila feses pucat, kencing kuning gelap, rujuk ke RS rujukan tingkat III atau dengan fasilitas pelayanan specialis untuk pemantauan selanjutnya Bila ibu dengan tes sifilis (+) berikan terapi pada bayi untuk sifilis congenital
KERN IK TERUS DAN PENANGANANNYA
ern Ikterus : Suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin indirek pada otak. Kern Ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg %) dan disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsyditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern Ikterus secara klinis berbentuk kelainan syaraf spatis yang terjadi secara kronik.
Usia bayi (jam) Pertimbangan terapi sinar
Terapi sinar Transfuse tukar bila terapi sinar intensif gagal
Transfuse tukar dan terapi sinar intensif Kadar Bilirubin Indirek serum Mg/dl
< 24
25 – 48 > 9 > 12 > 20 > 25
49 – 72 > 12 > 15 > 25 > 30
> 72 > 15 > 17 > 25 > 30
Bayi lahir kurang bulan perlu fototerapi jika :
Usia (Jam) Berat lahir < 1500 g kadar bilirubin BL 1500 – 2000 g kadar bilirubin BL > 2000 g kadar bilirubin < 24 > 4 > 4 > 5 25 – 48 > 5 > 7 > 8 49 – 72 > 7 > 8 > 10 > 72 > 8 > 9 > 12 Tanda-tandanya Tidak mau menghisap Letarghi
Mata berputar
Gerakan tidak menentu (involuntary movements) Kejang
Tonus otot meninggi
Leher kaku dan akhirnya opistotonus Penanganan
Lanjutkan terapi sinar sampai dengan kadar Bilirubin Normal dengan menggunakan lampu, tidak lebih 500 jam (untuk menghindari turunnya energy yang
dihasilkan lampu.
Tekniknya Dalam Melakukan Fototeraphy
Buka pakaian bayi agar seluruh bagian tubuh bayi kena sinar
Tutup kedua mata dan gonad dengan penutup yang memantulkan cahaya Jarak bayi dengan lampu + 40 cm
Ubah posisi tiap 6 jam
Periksa kadar bilirubin tiap 8 jam/min 1 x 24 jam Lakukan cek Hb berkala
Lakukan observasi dan catat lama Fototeraphy Sediakan lampu 20 watt (8 – 10 bulan) di susun paralel
Beri cukup ASI demngan mengeluarkan dari tempat dan membuka tutup mata, serta observasi ada tidaknya iritasi Pemeriksaan tonus otot atau tingkat kesadaran
IK TERUS PREMATUS DAN PENANGANANNYA
Prematur : Ikterus yang timbul pada hari ke 2 – 5 yang terjadi pada bayi kecil < 2500 gr dengan UK < 37 Mingu
Penanganan
Terapi sinar bila kadar bilirubin sesuai
Bila usia < 3 hari saat terapi sinar dihentikan, pantau Ikterus selama 24 jam berikutnya Bila > 3 minggu, kencing gelap, feses pucat tangani sebagai prolonged jaundice
G. TRANSFUSI TUK AR
Transfusi tukar adalah suatu tindakan pengambilan sejumlah kecil darah yang dilanjutkan dengan pengambilan darah dari donor dalam jumlah yang sama
yang dilakukan berulang-ulang sampai sebagian besar darah penderita tertukar
Pada hiperbilirubinemia, tindakan ini bertujuan mencegah, terjadinya ensefalopati bilirubin dengan cara mengeluarkan bilirubin indirek dan sirkulasi. Pada
bayi dengan isoimunisasi, transfuse tukar memiliki manfaat tambahan karena membantu mengeluarkan antibody maternal dari sirkulasi karena membantu mengeluarkan antibodi maternal dan sirkulasi bayi sehingga mencegah hemolisis lebih lanjut dan memperbaiki anemia.
Teknik Transfusi Tukar
Simple Double volume push – pull Tehnique jarum infus dipasang melalui kateter vena umbilikalis/vena saphena magna. Darah dikeluarkan dan
dimasukkan b ergantian
Isovolumetric : Darah secara bersamaan dan simultan dikeluarkan melalui arteri umbilikalis dan dimasukkkan melalui vena umbilikalis dalam jumlah
yang sama
Partial Exchange Transfusion : Transfusi Tukar sebagian, dilakukan biasanya pada bayi dengan polisitemia di Indonesia. Untuk kedaruratan, Transfusi
Tukar pertama menggunakan golongan darah orhesus positif. (Sukardi, Abdurrahman dkk. 2000)
Transfusi Tukar harus dihentikan apabila : Emboli (emboli, bekuan darah), Trombosis
Hiperkalemi a, Hipernatremia, hipokalsem ik, Asidosis, Hipoglikemia Gangguan pembekuan karena pemakaian Heparin
Perforasi pembuluh darah Komplikasi Transfusi Tukar
Vaskular : Emboli udara/Trombus, Trombosis Kelainan jantung : aritmia, overload, henti jantung
Gangguan Elektrolit : Hipo/Hiperkalsemia, Hipernatrem dan Asidosis Koagulasi : Trombositopenia, hepatinisasi berlebih
(Sukardi, Abdurrahman dkk. 2000)
H . MASALAH YANG DIHADAPI PADA BAYI LETARGHI
Iri Table mudah terangsang, sering menangis tanpa seba Mengantuk
Aktivitas berkurang
Tidak sadar : Tidur yang dalam tidak merespons stimuli, tidak bereaksi terhadap rangsangan sakit
LETARGHI KARENA SEPSIS
Beri cairan IV
Puasakan 12 jam
Ambil sample darah lab. Kultur dan Hb
Bila kejang dan ubun-ubun besar menonjol
- Lumbal pungsi : lab. Tx meningitis Bila Hb < 10 gr%, Hematokrit < 30%
- Tranfusi
Beri antibiotic yang sesuai
Beri ASI setelah 12 jam/mulai membaik
Obs. 24 jam, bila membaik pulang
Ulang bila masih ada tanda inf
LETARGHI K ARENA ASFI KSIA
: - Resusitasi waktu lahir/tidak ada nafas spontan paling tidak menit setelah terakir - Riwayat ibu infeksi intia uteri, demam curiga infeksi berat/KP - Malas minum/tidak mau minum
: - Bayi tampak sakit
- Mengantuk/aktivitas menurun - Iritable/gelisah
- Latergi/rapuh - Gemetar
- Tiba-tiba kondisi memburuk
- Tanda-tand a progresif (suhu labil dan atau apnea)
I. MANAGEJEMENT UMUM LATERGHI KARENA OBAT
Bila RR < 30 x/menit, beri O2
Bila bayi tidak bernapas/megap-megap CER < 20 x/menit lakukan resusitasi dengan balon dan sungkup)
Bila masih letarghi setelah 6 jam, tangani sesuai dengan dugaan sepsis/asfiksia
M anagejement umum laterghi
Ambil sampel darah, cek kadar glukosa darah, bila < 45 g/dl (2,6 µmol/l) tangani untuk hipoglukemia Beri dukungan pada ibu untuk menyusui
Nilai tonus dan aktivitas bayi minimal 1x/hari
Bila tampak layuh/letarghi, hari-hari saat mengangkat dan mangubah posisi bayi, tahan seluruh tubuh, terutama kepala
Tentukan kemungkinan diagnosis
Letarghi : keadaan lemah badan dan tidak ada dorongan untuk melakukan kegiatan nafsu tidur berlebihan (apabila dibangunkan langsung tertidur kembali, muncul pada penderita penyakit otak/keracunan (Surasmin, 2003).
M anagement umum letarghi karena suspect sepsis
Beri cairan IV
Puasakan 12 jam
Ambil sample darah : lab. Kultur dan Hb
Bila kejang dan ubun-ubun besar menonjol : lumbal pungsi : lab Tx meningitis
Bila Hb < 10 gr % Hematokrit < 30 % : tranfusi
M anagement umum letarghi k arena hipoglukemi
Beri antibiotik yang sesuai
Beri ASI setelah 12 jam/mulai membaik
Observasi 24 jam, membaik pulang
Ulangi bila masih ada tanda infeksi
Cek Hb dan Hematokrit selama perawatan dan akan pulang
penanganan dehidrasi berat pada bayi usia < 12 bulan , jik a jarak ke RS 1 jam, bidan punya NGT.
Beri rehidrasi dengan orait melalui NGT 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg BB)
Periksa tiap 1-2 jam
Bila muntah terus dan perut semakin kembung, beri cairan leboh lambat
Jika dalam 3 jam tidak membaik, rujuk untuk pengobatan intravena
Periksa bayi setelah 6 jam/anak setelah 3 jam, klasifikasi lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi J. VENA SECTION
Suatu prosedur untuk mendapatkan akses memasukkan cairan infuse melalui intravena. Apabila dengan pemasangan infuse intravena yang langsung mengalami kegagalan/membutuhkan waktu yang lama. Maka salah satu alternatifnya adalah dengan vena section (Ilmu Kesehatan Anak).
Bagaimana penanganan dehidrasi berat
a. Bila dapat memberikan cairan IV
Beri cairan IV secepatnya (100 ml/kg BB ; RL/NaCl) usia < 12 bulan 1-5 tahun 1 jam (30 tetes mikro/menit) 30 menit 5 jam (5 tetes makro/menit) (14 tetes mikro/menit) 2,5 jam
Ulangi bila belum membaik
Beri oralit bila masih bisa minum
Periksa tiap 1-2 jam
Jika belum membaik beri tetesan cairan IV lebih cepat hingga nadi lebih kuat
Beri oralit 5 ml/kg BB segera setelah anak mau minum Bayi : 3-4 jam
Anak : 1-2 jam
Periksa bayi setelah 6 jam/ anak setelah 3 jam, klasifikasikan lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi
Membaik/tidak lakukan rujukan segera Bila tidak dapat memberikan cairan IV
b. Apakah ada fasilitas pemberian cairan IV terdekat? (30 menit) Ya
Rujuk segera untuk mendapatkan cairan IV
Jika anak masih bisa minum bekali oralit untuk diminum selama dalam perjalanan Bila tidak ada fasilitas pemberian cairan terdekat
c. Apakah anda terlatih memasang pipa NGT? Ya (dan anak bisa minum)
Beri rehidrasi dengan oralit melalui NGT 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg BB)
Periksa tiap 1-2 jam
Bila muntah terus dan perut semakin kembung, berarti cairan lebih lambat
Jika dalam 3 jam tidak membaik, rujuk untuk pengobatan intravena
Periksa bayi setelah 6 jam/anak setelah 3 jam
Klasifikasi lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi
Kompli kasi Dehidrasi Berat
Hipernatremia Hiponatremia Demam Oedem Asidosis Hipokalemia Kejang
Mal absorbsi dan intoleransi laktosa
Mal absorbsi glukosa
Muntah
Gagl ginjal akut (GGA) Tanda-tanda dehidrasi berat
Gelisah, bingung/mengantuk
Mulut, kulit dan membran lendir yang sangat kering
Tidak/kurang berkeringat
Sedikit/tidak berkemih dan urin yang keluar berwarna gelap
Mata cekung
Kulit kering dan berkurang kekenyalannya
Pada bayi ubun-ubunnya bila diraba akan terasa cekung
Tekanan darah rendah
Detak jantung cepat
Demam
Terjadi hilangnya kesadaran (Khosim, M. Sholeh, dkk, 2008).
KONDISI-KONDISI YANG MENYEBABKAN KEGAWATDARURATAN NEONATUS
1. Hipotermia
Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 36
0C atau kedua kaki dan tangan teraba
dingin.
Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low
reading termometer) sampai 25
0C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat
merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya
metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan
glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan
yang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis,
kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak
adekuat setelah kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.
Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal bayi dengan
hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada hipotermia. Tanda-tanda klinis
hipotermia:
a. Hipotermia sedang (suhu tubuh 32
0C – <36
0C ), tanda-tandanya antara lain : kaki
teraba dingin, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak
rata atau disebut kutis marmorata.
b. Hipotermia berat (suhu tubuh < 32
0C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan
hipotermia sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung
lambat, terkadang disertai hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
c. Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan
berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul
edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)
2. Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia
terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan
panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan
membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah kondisi
akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang
mempunyai panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak
terkendali dan menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi
negative obat jarang terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi
maligna yang merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.
Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran
pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuan gan panas, bibir bengkak.
Tanda-tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan
serangan panas dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah.
Hal ini dapat menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba.
Tachycardia dan tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan
jantung. Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit,
mengakibatkan kulit pucat atau warna kebiru-biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke
panas. Beberapa korban, terutama anak-anak kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya,
sebagai organ tubuh mulai gagal, ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.
3. Hiperglikemia
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam
plasma darah berlebihan.
Hiperglikemia disebabkan oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia
biasanya disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi insulin pada
sel. Kadar insulin rendah dan / atau resistensi insulin tubuh disebabkan karena kegagalan
tubuh mengkonversi glukosa menjadi glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak
mungkin
untuk
menghilangkan
kelebihan
glukosa
dari
darah.
Gejala hiperglikemia antara lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri
(sering buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit terjadi
penyembuhan luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi (pria), infeksi berulang,
kussmaul hiperventilasi,arrhythmia, pingsan, koma.
4. Tetanus neonaturum
Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang
disebabkan karena basil klostridium tetani.
Tanda-tanda klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut mencucu
seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang menangis) dan sering kejang
disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut,
alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan : bersihkan jalan napas, longgarkan atau buka p akaian
bayi, masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut bayi, ciptakan
lingkungan yang tenang dan berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.
5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil
Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis gravidarum, abortus,
kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga uterus), molahidatidosa (proliferasi
abnormal dari vili khorialis).
Kehamilan Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre
eklampsi, eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya plasenta dari tempat
implantasi), plasenta previa (implantasi plasenta terletak antara atau pada daerah serviks),
insertio velamentosa, ruptur sinus marginalis, plasenta sirkumvalata).
Hipoglikemia Pada Bayi Baru Lahir
Fatimah Indarso
BATASAN
Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6
mmol/L).
PATOFISIOLOGI
Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa rendah.
Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin
juga meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa
berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism) sehingga terjadi
hipoglikemi.
Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang
yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan
kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian.
Kejadian hipoglikemi lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan diabetes melitus.
Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses
persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir.
Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan
penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan
pernapasan.
DIAGNOSIS
Anamnesis
Riwayat bayi menderita asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan
Riwayat bayi prematur
Riwayat bayi Besar untuk Masa Kehamilan (BMK)
Riwayat bayi Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK)
Riwayat bayi dengan ibu Diabetes Mellitus
Riwayat bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan
Bayi yang beresiko terkena hipoglikemia
-
Bayi dari ibu diabetes (IDM)
-
Bayi yang besar untuk masa kehamilan (LGA)
-
Bayi yang kecil untuk masa kehamilan (SGA)
-
Bayi prematur dan lewat bulan
-
Bayi sakit atau stress (RDS, hipotermia)
-
Bayi puasa
-
Bayi dengan polisitemia
-
Obat-obat yang dikonsumsi ibu, misalnya sterorid, beta-simpatomimetik dan
beta blocker
GEJALA KLINIS/Pemeriksaan fisik
Gejala Hipoglikemi : tremor, jittery, keringat dingin, letargi, kejang, distress nafas
Jitteriness
Sianosis
Kejang atau tremor
Letargi dan menyusui yang buruk
Apnea
Tangisan yang lemah atau bernada tinggi
Hipotermia
RDS
DIAGNOSIS BANDING
insufisiensi adrenal, kelainan jantung, gagal ginjal, penyakit SSP, sepsis, asfiksia, abnormalitas metabolik (hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hipomagnesemia, defisiensi piridoksin).
Penyulit
- Hipoksia otak
- Kerusakan sistem saraf pusat
TATALAKSANA
a. Monitor
Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari pertama :
o Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam
o Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali
pemeriksaan
Kadar glukosa ≤ 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia
o
b. Penanganan hipoglikemia dengan gejala :
Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit
Pasang jalur iv D10 sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit).
Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 1 8 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila dipakai D 10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/ 10 g x 100 cc= 259 cc D 10% /hari.
Atau cara lain dengan GIR
Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral
Untuk mencari kecepatan Infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR.
Kecepatan Infus (GIR) = glucosa Infusion Rate
GIR (mg/kg/min) = Kecepatan cairan (cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%)
6 x berat (Kg)
Contoh : Berat bayi 3 kg umur 1 hari
Kebutuhan 80 cc/jam/hari = 80 x 3 = 240 cc/hari = 10 cc/jam
GIR = 10 x 10 (Dextrose 10%) = 100 = 6 mg/kg/min
6 x 3
18
Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam
Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas
Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gej ala klinis :
-
Infus D10 diteruskan-
Periksa kadar glukosa tiap 3 jam-
ASI diberikan bila bayi dapat minumBila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan
-
Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal (lihat ad d)
-
ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan
-
Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba
c. Kadar glukosa darah < 45 mg/dl
tanpaGEJALA :
ASI teruskan
Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :
- Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi (lihat ad b)
- Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum
- Kadar ≥ 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal
d. Kadar glukosa normal IV teruskan
IV teruskan
Periksa kadar glukosa tiap 12 jam
Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas
Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali
pemeriksaan dalam batas normal, pengukuran dihentikan
Persisten hipoglikemia
(hipoglikemia lebih dari 7 hari)
konsultasi endokrin
terapi : kortikosteroid hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2 mg/kg/hari
per oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam.
bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain : somatostatin, glukagon, diazoxide,
human growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)
DAFTAR PUSTAKA
1. Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Neonatology, management, procedures,
on call problems disease and drugs; edisi ke-5. N ew York : Lange Books/Mc Graw-Hill,
2004; 262-66.
2. Khosim S, Indarso F, Irawan G, Hendrarto TW. Buku acuan pelatihan pelayanan obstetri
Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta : Depkes RI, 2006; 56-7.
3. Wilker RE. Hypoglycemia and hyperglycemia Dalam: Cloherty JP, S tark AR, eds. Manual of
neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams & Wilkins, 2004; 569-76.
4. Khosim MS, Surjono A, Setyowireni D, et al. Buku panduan manajemen masalah bayi baru
lahir untuk dokter, bidan dan perawat di rumah sakit. Jakarta : IDAI, MNH-JHPIEGO,
Depkes RI, 2004; 35-6.
Penanganan Terkini Hipoglikemia Pada Bayi
Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6 mmol/L). Hipoglikemia adalah masalah metabolik paling umum pada neonatus. Pada anak-anak, sebuah glukosa darah nilai kurang dari 40 mg / dL (2,2 mmol / L) merupakan hipoglikemia. Sebuah glukosa plasma tingkat kurang dari 30 mg / dL (1,65 mmol / L) dalam 24 jam pertama kehidupan dan kurang dari 45 mg / dL (2,5 mmol / L) setelahnya merupakan hipoglikemia pada bayi baru lahir.
Pasien dengan hipoglikemia mungkin asimtomatik atau mungkin hadir dengan sistem saraf yang parah pusat (SSP) dan gangguan cardiopulmonary. Manifestasi klinis yang paling umum dapat mencakup tingkat kesadaran yang berubah, kejang, muntah, unresponsiveness, dan kelesuan. Setiap anak sakit harus dievaluasi untuk hipoglikemia, terutama ketika sejarah mengungkapkan asupan oral berkurang. (Lihat Sejarah dan Pemeriksaan Fisik.)
Hipoglikemia berkelanjutan atau berulang pada bayi dan anak-anak memiliki dampak yang besar pada perkembangan otak normal dan fungsi. Bukti menunjukkan bahwa hipoksemia dan iskemia mempotensiasi hipoglikemia, menyebabkan kerusakan otak yang permanen dapat mengganggu perkembangan neurologis.
PENYEBAB
Penyebab hipoglikemia pada neonatus berbeda sedikit dari pada bayi yang lebih tua dan anak-anak. Penyebab pada neonatus meliputi berikut
Perubahan sekresi hormon
Berkurangnya Substrat cadangan dalam bentuk glikogen hati
Berkurangnya cadangan Otot sumber asam amino untuk glukoneogenesis Berkurangnya cadangan Lipid untuk pelepasan asam lemak
Patofisiologi
Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa rendah.
Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga
meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism) sehingga terjadi hipoglikemi.
Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang yang
berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian.
Kejadian hipoglikemi lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan diabetes melitus.
Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses persalinan dan
hari-hari pertama pasca lahir.
Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan penggunaan
cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan. DIAGNOSIS
Presentasi e klinis hipoglikemia mencerminkan penurunan ketersediaan glukosa untuk SSP serta stimulasi adrenergik disebabkan oleh tingkat darah menurun atau rendah gula. Selama hari pertama atau kedua kehidupan, gejala bervariasi dari asimtomatik ke SSP dan gangguan cardiopulmonary. Kelompok berisiko tinggi yang membutuhkan skrining untuk hipoglikemia pada satu jam pertama kehidupan meliputi
Bayi yang baru lahir yang beratnya lebih dari 4 kg atau kurang dari 2 kg
Besar usia kehamilan (LGA) bayi yang berada di atas persentil ke-90, kecil untuk usia kehamilan
Bayi yang lahir dari ibu tergantung insulin (1:1000 wanita hamil) atau ibu dengan diabetes gestasional
(terjadi pada 2% dari wanita hamil)
Usia kehamilan kurang dari 37 minggu
Bayi yang baru lahir diduga sepsis atau lahir dari seorang ibu yang diduga menderita korioamnionitis Bayi yang baru lahir dengan gejala sugestif hipoglikemia, termasuk jitteriness, tachypnea, hypotonia,
makan yang buruk, apnea, ketidakstabilan temperatur, kejang, dan kelesuan
Selain itu, pertimbangkan skrining hipoglikemia pada bayi dengan hipoksia yang signifikan, gangguan
perinatal, nilai Apgar 5 menit kurang dari 5, terisolasi hepatomegali (mungkin glikogen-penyimpanan penyakit), mikrosefali, cacat garis tengah anterior, gigantisme, Makroglosia atau hemihypertrophy
(mungkin Beckwith-Wiedemann Syndrome), atau kemungkinan kesalahan metabolisme bawaan atau ibunya ada di terbutalin, beta blocker, atau agen hipoglikemik oral
Terjadinya hiperinsulinemia adalah dari lahir sampai usia 18 bulan. Konsentrasi insulin yang tidak
tepat meningkat pada saat hipoglikemia didokumentasikan. Hiperinsulinisme neonatal Transient terjadi pada bayi makrosomia dari ibu diabetes (yang telah berkurang sekresi glukagon dan siapa produksi glukosa endogen secara signifikan dihambat). Secara klinis, bayi ini makrosomia dan
memiliki tuntutan yang semakin meningkat untuk makan, lesu intermiten, jitteriness, dan kejang jujur.
Bayi dengan hiperinsulinisme neonatal berkepanjangan dapat digambarkan sebagai berikut:
SGA
Memiliki asfiksia perinatal Lahir dari ibu dengan toksemia
Memiliki tingkat penggunaan glukosa dan sering membutuhkan infus dextrose untuk jangka waktu
lama
Hipoglikemia ketotik merupakan suatu penyakit, jarang, tapi dramatis. Hal ini diamati pada anak-anak
muda dari usia 5 tahun, yang biasanya menjadi gejala setelah puasa semalam atau berkepanjangan, terutama dengan penyakit dan asupan mulut yang buruk. Anak-anak sering hadir sebagai misterius lesu atau terus terang koma, setelah hanya ditandai dengan hipoglikemia ketonuria.
Anamenesis
Riwayat bayi menderita asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasa Riwayat bayi prematur
Riwayat bayi Besar untuk Masa Kehamilan (BMK) Riwayat bayi Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK) Riwayat bayi dengan ibu Diabetes Mellitus
Riwayat bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan Bayi yang beresiko terkena hipoglikemia Bayi dari ibu diabetes (IDM)
Bayi yang besar untuk masa kehamilan (LGA) Bayi yang kecil untuk masa kehamilan (SGA) Bayi prematur dan lewat bulan
Bayi sakit atau stress (RDS, hipotermia) Bayi puasa
Bayi dengan polisitemia Bayi dengan eritroblastosis
Obat-obat yang dikonsumsi ibu, misalnya sterorid, beta-simpatomimetik dan beta blocker
Pemeriksaan Fisik
Manifestasi klinis yang luas dan dapat hasil dari stimulasi adrenergik atau dari penurunan ketersediaan
glukosa untuk SSP. Tidak seperti anak-anak, bayi tidak dapat memverbalisasi gejala mereka dan sangat rentan terhadap hipoglikemia.
Bayi pada hari pertama atau kedua kehidupan mungkin asimtomatik atau memiliki mengancam jiwa
SSP dan gangguan cardiopulmonary. Gejala dapat meliputi: hpotonia, lesuan, apatis, malas minum, kejang, gagal jantung kongestif, sianosis, apnea, hipotermi
Manifestasi klinis yang terkait dengan aktivasi sistem saraf otonom meliputi: Kecemasan,
tremulousness,Diaphoresis, takikardi, anemia, mual, dan muntah
Manifestasi klinis dari hypoglycorrhachia atau neuroglycopenia meliputi:Sakit kepala,Mental
kebingungan, menatap, perubahan perilaku, sulit berkonsentrasi
Gangguan visual (misalnya, penurunan ketajaman, diplopia)Dysarthria, kejang, Ataksia, mengantuk,
koma, stroke(hemiplegia, aphasia), parestesia, pusing, amnesia, decerebrate atau mengulit sikap Manifestasi klinis jittery keringat dingin letargi distress nafas Sianosis
Kejang atau tremor
Letargi dan menyusui yang buruk Apnea atau henti napas
Tangisan yang lemah atau bernada tinggi Hipotermia RDS Diagnosis banding Insufisiensi adrenal Kelainan jantung Gagal ginjal
Penyakit SSP Sepsis, asfiksia
Abnormalitas metabolik (hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hipomagnesemia, defisiensi
piridoksin).
Fasting Malnutrition Diarrhea
Enzymatic defects of glycogen synthetic pathways Enzymatic defects of glycogenolytic pathways Enzymatic defects of gluconeogenic pathways Glucagon deficiency
Congenital hyperinsulinism (eg, nesidioblastosis, leucine sensitive hypoglycemia) Defects of beta cell regulation
Large tumors
Decreased or absent fat stores
Enzymatic defects in fatty acid oxidation
Penyulit
Hipoksia otak
Kerusakan sistem saraf pusat
PENANGANAN
MonitorPada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu D M) perlu dimonitor dalam 3 hari
pertama : Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam. Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali pemeriksaan. Kadar glukosa ≤ 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia
Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan hipoglikemia selesai Hipoglikemia harus diperlakukan sesegera mungkin untuk mencegah komplikasi kerusakan
neurologis. Awal makan bayi yang baru lahir dengan ASI atau susu formula dianjurkan. Bagi mereka yang tidak mampu untuk minum, selang nasogastrik dapat digunakan. Andalan terapi untuk anak-anak yang waspada dengan perlindungan jalan nafas utuh termasuk jus jeruk pada 20 mL / kg.
Bagi mereka yang tidak bisa melindungi jalan napas mereka atau tidak dapat minum, rute nasogastrik,
intramuskular, intraosseous, atau IV dapat digunakan untuk obat berikut digunakan untuk
meningkatkan kadar glukosa: dekstrosa, glukagon, diazoxide, dan octreotide. Laporan kasus telah menunjukkan bahwa nifedipin dapat membantu untuk mempertahankan normoglikemia pada anak dengan PHHI.
Kortisol tidak boleh digunakan, karena memiliki manfaat akut minimal dan dapat menunda diagnosis
penggunaan glukosa, yang mengarah ke peningkatan glukosa darah secara keseluruhan dan dapat menutupi penyebab sebenarnya dari hipoglikemia.
Anti-hipoglikemik : Obat ini meningkatkan kadar glukosa darah
Dekstrosa Dextrose adalah pengobatan pilihan. Hal ini diserap dari usus, mengakibatkan peningkatan
pesat dalam kadar glukosa darah bila diberikan secara oral. Berikan IV dekstrosa untuk bayi dari ibu diabetes dengan hiperinsulinemia neonatal sementara selama beberapa hari sampai hiperinsulinemia mereda. Hindari hiperglikemia membangkitkan pelepasan insulin cepat, yang bisa menyebabkan hipoglikemia rebound. Bayi SGA dan mereka dengan toksemia ibu atau asfiksia perinatal memerlukan tingkat dextrose infus IV lebih dari 20 mg / kg / menit untuk mengontrol tingkat. Pengobatan mungkin diperlukan untuk 2-4 minggu.
Diazoxide (Proglycem) Diazoxide meningkatkan glukosa darah dengan menghambat pelepasan
insulin pankreas dan mungkin melalui efek extrapancreatic. Efek hiperglikemia dimulai dalam waktu satu jam dan biasanya berlangsung maksimal 8 jam dengan fungsi ginjal normal. Diazoxide
dilaporkan efektif pada bayi SGA dan pada mereka dengan toksemia ibu atau asfiksia perinatal.
Octreotide (Sandostatin)Octreotide adalah analog long-acting dari somatostatin yang menekan
sekresi insulin untuk pengelolaan jangka pendek hipoglikemia.
Glukagon (Glukagon Darurat Kit, GlucaGen) G lukagon dapat digunakan untuk mengobati
hipoglikemia sekunder untuk hiperinsulinemia dan dapat diberikan kepada pasien tanpa akses IV awal. ML masing-masing berisi 1 mg (yaitu, 1 U). Konsentrasi glukosa maksimal terjadi antara 5-20 menit setelah pemberian IV dan sekitar 30 menit setelah intramuskular (IM) administrasi.
Penanganan hipoglikemia dengan gejala :
· Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit
· Pasang jalur iv D10 sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit).
Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 18 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila dipakai D 10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/ 10 g x 100 cc= 259 cc D 10% /hari.
Atau cara lain dengan GIR
Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral.
· Untuk mencari kecepatan Infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR. Kecepatan Infus (GIR) = glucosa Infusion Rate
GIR (mg/kg/min) = Kecepatan cairan (cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%) 6 x berat (Kg)
Contoh : Berat bayi 3 kg umur 1 hari
Kebutuhan 80 cc/jam/hari = 80 x 3 = 240 cc/hari = 10 cc/jam GIR = 10 x 10 (Dextrose 10%) = 100 = 6 mg/kg/min
· Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam
· Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas
Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis :
- Infus D10 diteruskan
- Periksa kadar glukosa tiap 3 jam - ASI diberikan bila bayi dapat minum
Bila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan - Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal (lihat ad d)
- ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan
- Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba
Kadar glukosa darah < 45 mg/dl tanpa GEJALA :
· ASI teruskan
· Pantau, bila ada gejala manajemen seperti diatas
· Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :
Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum
Kadar ≥ 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal Kadar glukosa normal IV teruskan
· IV teruskan
· Periksa kadar glukosa tiap 12 jam Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas
Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali pemeriksaan dalam
batas normal, pengukuran dihentikan.
Persisten hipoglikemia (hipoglikemia lebih dari 7 hari)
· konsultasi endokrin
· terapi : kortikosteroid hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2 mg/kg/hari per oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam.
· bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain : somatostatin, glukagon, diazoxide, human growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)
DAFTAR PUSTAKA
Wilker RE. Hypoglycemia and hyperglycemia Dalam: Cloherty JP, Stark AR, eds. Manual of neonatal
care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams & Wilkins, 2004; 569-76
Raghuveer TS, Garg U, Graf WD. Inborn errors of metabolism in infancy and early childhood: an
Ishiguro A, Namai Y, Ito YM. Managing “healthy” late preterm infants. Pediatr Int . Oct
2009;51(5):720-5.
Newborn Nursery QI Committee. Portland (ME): The Barbara Bush Children’s Hospital at Maine
Medical Center; 2004 Jul. Neonatal hypoglycemia: initial and follow up management. National Guideline Clearinghouse. 2004
Narchi H, Skinner A, Williams B. Small for gestational age neonates – are we missing some by only
using standard population growth standards and does it matter?. J Matern Fetal Neonatal Med . Jan 2010;23(1):48-54.
Pengertian Dan Penanganan Asfiksia Pada Bayi
Baru Lahir
A. Definisi
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat
bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat
gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia
pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan
gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau
masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau
sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat
segera bernafas scr spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini
disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini
berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam
kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir.
Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi
tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan
dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut
yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999)
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan
gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan
oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam
rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut
menjadi asfiksia bayi baru lahir.
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab
terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah
faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:
1. Faktor ibu
Preeklampsia dan eklampsia
Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
Partus lama atau partus macet
Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC,
HIV)
Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
Lilitan tali pusat
Tali pusat pendek
Simpul tali pusat
Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia
bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
Kelainan bawaan (kongenital)
Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko
yang berpotensi untuk menimbulkan asfiksia. Apabila
ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus
dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan
perlunya tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya faktor
risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong)
tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu,
penolong harus selalu siap melakukan resusitasi bayi pada
setiap pertolongan persalinan.
C. Perubahan Patofiologis dan Gambaran Klinis
Pernafasan spontan BBL tergantung pada kondisi janin pada
masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan
pertukaran gas atau pengangkutan O
2selama kehamilan atau
persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini
akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi
akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai
suatu periode apnu disertai dengan penurunan frekuensi. Pada
penderita asfiksia berat, usaha bernafas tidak tampak dan bayi
selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat
ini terjadi bradikardi dan penurunan TD.
Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan
perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada
tingkat pertama hanya terjadi asidosis respioratorik. Bila
berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an
aerobic yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga
glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan
berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan
kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan
diantaranya :
1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan
mempengaruhi fungsi jantung.
2. Terjadinya asidosis metabolik yang akan menimbulkan
kelemahan otot jantung.
3. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan
mengakibatkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah
paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan ke sistem sirkulasi
tubuh lain akan mengalami gangguan. (Rustam, 1998).
Gejala dan Tanda-tanda Asfiksia
Tidak bernafas atau bernafas megap-megap
Warna kulit kebiruan
Kejang
Penurunan kesadaran
D. Diagnosis
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan
dari anoksia / hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia janin
dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya
tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian
yaitu :
1. Denyut jantung janin
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak
artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah
100 kali per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur,
hal itu merupakan tanda bahaya
2. Mekonium dalam air ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan
tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan
oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam
air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi
untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan
dengan mudah.
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat
serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan
diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya
asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun
sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya
gawat janin mungkin disertai asfiksia.
(Wiknjosastro, 1999)
E. Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir
adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan
dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya
resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui
rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan
tindakan lanjutan.
Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan
oleh tiga tanda penting, yaitu :
Penafasan
Denyut jantung