• Tidak ada hasil yang ditemukan

materi KEGAWATDARURATAN NEONATUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "materi KEGAWATDARURATAN NEONATUS"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

KEGAWATDARURATAN NEONATUS

KEGAWATDARURATAN NEONATUS

A.

A. PENANGPENANGANAN ANAN HIHIPOPOGLUKEMI GLUKEMI 

a.

a. Bila Bila gadar gadar gula gula darah darah < < 25 25 mgmg 

 Pasang jalur IV bilPasang jalur IV bila belum terpasanga belum terpasang 

 Beri glukosa 10% 2 ml IBeri glukosa 10% 2 ml IV bolus pelan dalam 5 menV bolus pelan dalam 5 menitit 

 Kalau Jalur IV tidak cepat, berikan melKalau Jalur IV tidak cepat, berikan melaui NGT dengan dosis samaaui NGT dengan dosis sama 

 Infuse glukosa Infuse glukosa 10%10% 

 Cek kadar glukosa darah 1 jam setelah bolus, kemCek kadar glukosa darah 1 jam setelah bolus, kemudian per 3 jamudian per 3 jam 

 Lanjutkan Lanjutkan infusinfus

 b.

 b. Bila kadar daBila kadar darah 25-45 mgrah 25-45 mg 

 Lanjutkan Lanjutkan infuseinfuse 

 Cek glukosa dalam peCek glukosa dalam per 3 jam hingga 45 mg/dl atr 3 jam hingga 45 mg/dl atau lebihau lebih

c.

c. Kadar gula darah ≥ 45 mgKadar gula darah ≥ 45 mg 

 Jika bayi mendapat cairan IV : cek per 12 jamJika bayi mendapat cairan IV : cek per 12 jam 

 Jika bayi tidak menJika bayi tidak mendapat cairan IV cek per 12 jadapat cairan IV cek per 12 jam, 2xm, 2x

-- Jika Jika turun : turun : tanganitangani

-- Jika normJika normal : al : hentikan hentikan pengukuranpengukuran

B.

B. KLASIFIKASI SUHU TUBUH ABNORMAL DAN KLASIFIKASI SUHU TUBUH ABNORMAL DAN GEJALANYGEJALANYAA

a.

a. Hipotermi Hipotermi sedang sedang : : dimana dimana suhu suhu BBL BBL 36-3636-364 04 0CC

Gejala :

Gejala : 

 Suhu Suhu 36-3636-364 04 0CC 

 Akral Akral dingindingin 

 Gerakan bayi kuraGerakan bayi kurang normalng normal 

 Kemampuan menghisap Kemampuan menghisap lemahlemah 

 Kulit berwarna tidak ratKulit berwarna tidak rata (cutis marmorata)a (cutis marmorata) 

  T  Tangisan angisan lemahlemah 

 Aktivitas berAktivitas berkurang latarkurang latarghighi

Penanganan :

Penanganan : 

 Ganti pakaian dingiGanti pakaian dingin dan basah dengan pakaian dan basah dengan pakaian hangatn hangat 

 Bila ada ibu/penggantBila ada ibu/pengganti ibu, KMC/perawatan bayi lekat bila tidak ada ibui ibu, KMC/perawatan bayi lekat bila tidak ada ibu 

 Hangatkan dengan alat pemaHangatkan dengan alat pemancar panas/incubancar panas/incubatortor 

 Cek suhu alat penghangCek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berikat dan suhu ruangan, berikan ASI perasan ASI peras 

 Hindari paparan panas yang berleHindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisibihan dan sering ubah posisi 

 ASI lebiASI lebih seringh sering 

 Minta ibu mengenalaMinta ibu mengenalai kegawatan dan segera cari pertolongai kegawatan dan segera cari pertolongan bila adan bila ada

 b.

 b. Hipotermi berHipotermi berat : dimana at : dimana suhu BBL < 36suhu BBL < 3600CC

Gelaja :

Gelaja : 

 Suhu Suhu < 36< 3600CC 

 Seluruh tubSeluruh tubuh teraba dingiuh teraba dinginn 

 Mengantuk/letargis Mengantuk/letargis 

 Sklerema (ada bagiaSklerema (ada bagian tubuh yang mengeras dan berwarna merah)n tubuh yang mengeras dan berwarna merah) 

 Bibir dan Bibir dan kuku kebirkuku kebiruanuan 

  Pern  Pernapasan apasan lambatlambat 

 Pernapasan tPernapasan tidak teraturidak teratur 

 Bunyi Bunyi jantung lemah/lambatjantung lemah/lambat 

 Mungkin timbul hipogMungkin timbul hipoglukemia dan asidosis metalukemia dan asidosis metabolikbolik

Penanganan :

Penanganan : 

 Hangatkan tHangatkan tubuh bayiubuh bayi 

 Jika 1 jam suhu tidak naiJika 1 jam suhu tidak naik, rujuk segerak, rujuk segera 

 Pertahankan Pertahankan kadar gula darakadar gula darahh 

 Anjurkan ibu menjaga bayAnjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalai tetap hangat selama perjalanan rujukannan rujukan 

 Lakukan rLakukan rujukan segeraujukan segera

c.

c. Hipertermi Hipertermi : : dimana dimana suhu suhu bayi bayi > > 37375 05 0CC

Gejala :

Gejala : 

 Suhu Suhu > 37> 375 05 0CC 

 Terdapat taTerdapat tanda-tanda dehidnda-tanda dehidrasirasi

(2)
(3)

-- Mata Mata dan ubudan ubun-ubun ben-ubun besar ceksar cekungung

-- Lidah daLidah dan membrn membrane mukosa ane mukosa keringkering

-- BB BB menurunmenurun

-- Banyaknya Banyaknya air berkeair berkemih bmih berkurangerkurang

  M  Malas alas minumminum   RR > RR > 60 x/menit60 x/menit    Letarghi  Letarghi    Irritable  Irritable Penanganan : Penanganan : 

 Bayi dipindahkan keruaBayi dipindahkan keruangan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-28ngan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-2800CC 

 Tubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normTubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normalal

C.

C. HIHIPERTERMI KARENA PAPARAN PANAS PERTERMI KARENA PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS 

Karena paparan panas

Karena paparan panas 

 Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C) 

 Lepaskan sebagiLepaskan sebagian/seluruh pakaan/seluruh pakaianian 

 Cek suhu Cek suhu aksila /jamaksila /jam 

 Bila Bila > 39> 3900C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 4C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 400C lebih rendah dari tubuh bayiC lebih rendah dari tubuh bayi 

 Jangan gunakan aiJangan gunakan air dinginr dingin 

 Turunkan sTurunkan suhu penghangauhu penghangatt 

 Buka inkubator saBuka inkubator sampai dengan suhu normmpai dengan suhu normalal 

 Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 menitmenit 

 Cek suhu/jam samCek suhu/jam sampai dengan normalpai dengan normal 

 Cek suhu inkubator Cek suhu inkubator /jam sampai deng/jam sampai dengan normalan normal

Bukan kerena paparan panas

Bukan kerena paparan panas 

 Tepai untuk Tepai untuk suspect sepsissuspect sepsis 

 Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C) 

 Lepaskan sebagiLepaskan sebagian seluruh pakaiaan seluruh pakaiann 

 Cek suhu Cek suhu aksila/jamaksila/jam

D.

D. PENANGANAN HIPENANGANAN HIPOTERPOTERMI SEDANG DAN BERAT MI SEDANG DAN BERAT 

Penanganan hipotermi sedang

Penanganan hipotermi sedang 

 Ganti pakaian dingiGanti pakaian dingin dan basah dengan pakaian dan basah dengan pakaian hangatn hangat 

 Bila ada ibu/penggBila ada ibu/penggati ibu, KMC/peraati ibu, KMC/perawatan bayi lekatwatan bayi lekat 

 Bila tidaBila tidak ada ibuk ada ibu 

 Hangatkan dengan alat pemaHangatkan dengan alat pemancar panas/inkubancar panas/inkubatortor 

 Cek suhu alat penghangCek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berat dan suhu ruangan, beri ASI perasi ASI peras 

 Hindari paparan panas yang berleHindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisibihan dan sering ubah posisi 

 ASI lebiASI lebih seringh sering 

 Minta ibu mengenali kegawatMinta ibu mengenali kegawatan dan segera cari pertolongan bilan dan segera cari pertolongan bila adaa ada

Penanganan hipotermi berat

Penanganan hipotermi berat 

 Hangatkan tHangatkan tubuh bayiubuh bayi 

 Bila 1 jam suhu tubuh tBila 1 jam suhu tubuh tidak naik, segera ruidak naik, segera rujukjuk 

 Pertahankan kadar gula Pertahankan kadar gula darahdarah 

 Anjurkan ibu menjaga bayAnjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalai tetap hangat selama perjalanan rujukannan rujukan 

 Lakukan rLakukan rujukan segeraujukan segera

E.

E. CARA CARA MENMENGHANGATKAN BAYI GHANGATKAN BAYI 

 Kontak kulit Kontak kulit dengan kulitdengan kulit 

 KMC/kangaroo KMC/kangaroo mother carmother caree 

  Pe  Pemancar mancar panaspanas 

  Inkubator  Inkubator 

 Ruangan yRuangan yang hangaang hangatt 

 Tempatkan bayTempatkan bayi diruangan yang hangi diruangan yang hangat, jangan ber ACat, jangan ber AC 

 Menyusui juga bisa membuat Menyusui juga bisa membuat si kecil merasa si kecil merasa hangathangat 

 Gunakan tutup kepala karena 25% panas hilaGunakan tutup kepala karena 25% panas hilang pada bayi baru lahir melalui kepalang pada bayi baru lahir melalui kepala 

 Dekap bayi diantara payudarDekap bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodoa ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodok serta kepala menoleh ke suatu sisik serta kepala menoleh ke suatu sisi 

 Metode ini dapat dilakukan pada ibu, bapakMetode ini dapat dilakukan pada ibu, bapak/anggota keluaraga dewa/anggota keluaraga dewasa lainnyasa lainnya

(Sudoyo,

(Sudoyo, Ari. Ari. W W dkk, dkk, ))

Kontak Kulit dengan kulit

(4)
(5)

-- Mata Mata dan ubudan ubun-ubun ben-ubun besar ceksar cekungung

-- Lidah daLidah dan membrn membrane mukosa ane mukosa keringkering

-- BB BB menurunmenurun

-- Banyaknya Banyaknya air berkeair berkemih bmih berkurangerkurang

  M  Malas alas minumminum   RR > RR > 60 x/menit60 x/menit    Letarghi  Letarghi    Irritable  Irritable Penanganan : Penanganan : 

 Bayi dipindahkan keruaBayi dipindahkan keruangan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-28ngan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-2800CC 

 Tubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normTubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normalal

C.

C. HIHIPERTERMI KARENA PAPARAN PANAS PERTERMI KARENA PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS 

Karena paparan panas

Karena paparan panas 

 Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C) 

 Lepaskan sebagiLepaskan sebagian/seluruh pakaan/seluruh pakaianian 

 Cek suhu Cek suhu aksila /jamaksila /jam 

 Bila Bila > 39> 3900C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 4C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 400C lebih rendah dari tubuh bayiC lebih rendah dari tubuh bayi 

 Jangan gunakan aiJangan gunakan air dinginr dingin 

 Turunkan sTurunkan suhu penghangauhu penghangatt 

 Buka inkubator saBuka inkubator sampai dengan suhu normmpai dengan suhu normalal 

 Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 menitmenit 

 Cek suhu/jam samCek suhu/jam sampai dengan normalpai dengan normal 

 Cek suhu inkubator Cek suhu inkubator /jam sampai deng/jam sampai dengan normalan normal

Bukan kerena paparan panas

Bukan kerena paparan panas 

 Tepai untuk Tepai untuk suspect sepsissuspect sepsis 

 Letakkan paLetakkan pada suhu ruangan (da suhu ruangan (25-2825-2800C)C) 

 Lepaskan sebagiLepaskan sebagian seluruh pakaiaan seluruh pakaiann 

 Cek suhu Cek suhu aksila/jamaksila/jam

D.

D. PENANGANAN HIPENANGANAN HIPOTERPOTERMI SEDANG DAN BERAT MI SEDANG DAN BERAT 

Penanganan hipotermi sedang

Penanganan hipotermi sedang 

 Ganti pakaian dingiGanti pakaian dingin dan basah dengan pakaian dan basah dengan pakaian hangatn hangat 

 Bila ada ibu/penggBila ada ibu/penggati ibu, KMC/peraati ibu, KMC/perawatan bayi lekatwatan bayi lekat 

 Bila tidaBila tidak ada ibuk ada ibu 

 Hangatkan dengan alat pemaHangatkan dengan alat pemancar panas/inkubancar panas/inkubatortor 

 Cek suhu alat penghangCek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berat dan suhu ruangan, beri ASI perasi ASI peras 

 Hindari paparan panas yang berleHindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisibihan dan sering ubah posisi 

 ASI lebiASI lebih seringh sering 

 Minta ibu mengenali kegawatMinta ibu mengenali kegawatan dan segera cari pertolongan bilan dan segera cari pertolongan bila adaa ada

Penanganan hipotermi berat

Penanganan hipotermi berat 

 Hangatkan tHangatkan tubuh bayiubuh bayi 

 Bila 1 jam suhu tubuh tBila 1 jam suhu tubuh tidak naik, segera ruidak naik, segera rujukjuk 

 Pertahankan kadar gula Pertahankan kadar gula darahdarah 

 Anjurkan ibu menjaga bayAnjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalai tetap hangat selama perjalanan rujukannan rujukan 

 Lakukan rLakukan rujukan segeraujukan segera

E.

E. CARA CARA MENMENGHANGATKAN BAYI GHANGATKAN BAYI 

 Kontak kulit Kontak kulit dengan kulitdengan kulit 

 KMC/kangaroo KMC/kangaroo mother carmother caree 

  Pe  Pemancar mancar panaspanas 

  Inkubator  Inkubator 

 Ruangan yRuangan yang hangaang hangatt 

 Tempatkan bayTempatkan bayi diruangan yang hangi diruangan yang hangat, jangan ber ACat, jangan ber AC 

 Menyusui juga bisa membuat Menyusui juga bisa membuat si kecil merasa si kecil merasa hangathangat 

 Gunakan tutup kepala karena 25% panas hilaGunakan tutup kepala karena 25% panas hilang pada bayi baru lahir melalui kepalang pada bayi baru lahir melalui kepala 

 Dekap bayi diantara payudarDekap bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodoa ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodok serta kepala menoleh ke suatu sisik serta kepala menoleh ke suatu sisi 

 Metode ini dapat dilakukan pada ibu, bapakMetode ini dapat dilakukan pada ibu, bapak/anggota keluaraga dewa/anggota keluaraga dewasa lainnyasa lainnya

(Sudoyo,

(Sudoyo, Ari. Ari. W W dkk, dkk, ))

Kontak Kulit dengan kulit

(6)
(7)

Kontak kulit bayi

Kontak kulit bayi dengan ibu dapat dengan ibu dapat mempertahamempertahankan suhu nkan suhu bayi dan mencegah bayi dan mencegah bayi kedinginan. Keuntungan selain bisa memberikan kehangatanbayi kedinginan. Keuntungan selain bisa memberikan kehangatan

 bayi juga akan l

 bayi juga akan lebih sering mebih sering menetek, banyenetek, banyak tidur, tidak rak tidur, tidak rewel dan kenaewel dan kenaikan BB lebih cepaikan BB lebih cepat.t.

KMC (perawatan bayi lekat/PBL)

KMC (perawatan bayi lekat/PBL)

-- Kontak kulit ibu-bayi Kontak kulit ibu-bayi secara dini terus secara dini terus menerus dikombinasi ASI menerus dikombinasi ASI ekslusifekslusif

-- Untuk menUntuk menstabilkan stabilkan bayi hingga bayi hingga BB 2500 grBB 2500 gr

-- Tidak untuk Tidak untuk ibu yang ibu yang memiliki penyakit memiliki penyakit beratberat

-- Tidak untuk bayTidak untuk bayi sehat (sepsii sehat (sepsis atau gangguas atau gangguan napas berat)n napas berat)

-- DirokemndasiDirokemndasikan pada kan pada bayi dengan bayi dengan BB < 1800 gBB < 1800 grr

Pemancar panas

Pemancar panas 

 Untuk bayi sakit dengan BB ≥ Untuk bayi sakit dengan BB ≥ 1500 gr 1500 gr  

 Untuk pemerUntuk pemeriksaan awal bayiksaan awal bayii 

 Selama dilSelama dilakukan tindakaakukan tindakann 

 MenghangatMenghangatkan kan kembali bayi kembali bayi hipotermihipotermi 

 Suhu ruangan minimal Suhu ruangan minimal 222200CC 

 Atur suAtur suhu (36-37hu (36-3700C)C)

Inkubator

Inkubator 

 Penghangatan Penghangatan berkelanjutberkelanjutan an dengan dengan BB BB < < 1500 1500 grgr

 Untuk Untuk bayi bayi sakit sakit berat berat (sepsis, (sepsis, gangguan gangguan nafas nafas berat)berat) Ruangan Yang Hangat

Ruangan Yang Hangat 

 Untuk mUntuk merawat erawat bayi debayi dengan BB ngan BB < 2500 < 2500 gr yang gr yang tidak tidak memerlukan memerlukan tindakan tindakan diagnostic/prdiagnostic/prosedur osedur pengobatanpengobatan

 Tidak Tidak untuk untuk bayi bayi sakit sakit beratberat

 Paling Paling rendah rendah 2626ooCC

 BBl BBl 15001500 –  –  1000 suhu ruangan 28 1000 suhu ruangan 28 –  –  30 30ooCC

 BBl BBl > > 2000 2000 suhu suhu ruangan ruangan 2626 –  –  28 28ooCC

F

F.. IKTEIKTERUS RUS FIFISIOLOGIS DAN PATOSIOLOGIS DAN PATOLOGIS LOGIS 

  Ikterus Fisiologis  Ikterus Fisiologis 

 Ikterus Ikterus yang yang timbul timbul pada pada hari hari ke ke 2 2 dan dan ke ke 33

 Tidak Tidak mempunyai mempunyai dasar dasar patologispatologis

 Keadaannya Keadaannya tidak tidak melampaui melampaui kadar kadar kadar kadar yang yang membahayakamembahayakann

 Tidak Tidak mempunyai mempunyai potensi potensi menjadi menjadi Kern Kern IkterusIkterus

 Tidak Tidak menyebabkan menyebabkan suatu suatu morbiditas morbiditas pada pada bayibayi

 Umumnya teUmumnya terjadi parjadi pada BBL, kadar da BBL, kadar Bilirubin Bilirubin tak terkotak terkonjugasi pada njugasi pada minggu peminggu pertama > 2 rtama > 2 mg/dl. Pamg/dl. Pada bayi cukda bayi cukup bulan yaup bulan yang mendapat ng mendapat susu formsusu formula kadarula kadar  bilirubin aka

 bilirubin akan mencapai pn mencapai puncak sekitar uncak sekitar 6 -8 mg/dl pada 6 -8 mg/dl pada hari ke 3, kemhari ke 3, kemudian akan meudian akan menurun cepat senurun cepat selama 2lama 2 –  –  3 hari diikuti dengan penurunan yang  3 hari diikuti dengan penurunan yang lambatlambat

sebesar 1 mg/dl selama 1

sebesar 1 mg/dl selama 1 –  –  2 Minggu. Pada  2 Minggu. Pada bayi cukup bulan yang mendapat ASI kadar Bilirubin akan mencapai kadar yang lebih tinggi (7bayi cukup bulan yang mendapat ASI kadar Bilirubin akan mencapai kadar yang lebih tinggi (7 –  –  14 MS/dl) 14 MS/dl)

dan penurunan terjadi lebih lambat. Bisa terjadi dalam waktu 2

dan penurunan terjadi lebih lambat. Bisa terjadi dalam waktu 2 –  –  4  4 Minggu, bahkan dapat mencapai waktu 6 minggu.Minggu, bahkan dapat mencapai waktu 6 minggu. 

 Ikterus Ikterus terjadi terjadi sebelum sebelum umur umur 24 24 jamjam

 Setiap Setiap peningkatan peningkatan kadar kadar Bilirubin Bilirubin serum serum yang yang memerlukan memerlukan FototweraphyFototweraphy

 Peningkatan Peningkatan kadar kadar Bilirubin Bilirubin total total serum serum 0,5 0,5 mg/dl/jammg/dl/jam

 Adanya tanda-Adanya tanda-tanda penytanda penyakit yang akit yang mendasari pmendasari pada setiap ada setiap bayi (muntabayi (muntah, lerargih, lerargis, malas ms, malas menetek, penurunaenetek, penurunan BB yang n BB yang cepat, apneacepat, apnea, Takipnea/, Takipnea/suhu yangsuhu yang tidak stabil)

tidak stabil) 

 Ikterus Ikterus bertahan bertahan setelah setelah 8 hari 8 hari pada baypada bayi cukup i cukup bulan/setelbulan/setelah 14 ah 14 hari pahari pada bayda bayi kurang i kurang bulanbulan

 Ikterus Ikterus disertai disertai BB < BB < 2000 gr, 2000 gr, massa semassa sestasi < stasi < 36 mingg36 minggu, asfiksu, asfiksia, hipoksia, hipoksia, sinia, sindrom yang drom yang pernafasan, pernafasan, infeksi.infeksi.

  Ikteru  Ikterus s PatologisPatologis 

 Ikterus Ikterus yang yang mempunyai mempunyai dasar dasar PatologisPatologis

 Kadar Kadar Bilirubinnya Bilirubinnya mencapai mencapai nilai nilai hiperbilirubihiperbilirubinemianemia

MACAM-MACAM IK

MACAM-MACAM IKTERUTERUS S 

a.

a. Ikterus Ikterus HemolitikHemolitik

 b.

 b. Ikterus BerkIkterus Berkepanjanganepanjangan

c.

c. Ikterus Ikterus PrematuritasPrematuritas

d.

d. Kern Kern IkterusIkterus

IKTERUS HEMOLITI

IKTERUS HEMOLITIK DAN PENANGANANNYK DAN PENANGANANNYAA

emolitik : Ikterus ikterus yang timbul saat Bayi Baru Lahir yang timbul < 24 jam

emolitik : Ikterus ikterus yang timbul saat Bayi Baru Lahir yang timbul < 24 jam

danya

danya

 Pucat Pucat saat saat lahirlahir

 HB HB < < 13 13 g/dlg/dl

(8)
(9)

an

 Terapi sinar bila kadar Bilirubin sesuai indikasi  Rujuk untuk transfusi tukar

 Hindari obat Antimalaria, golongan sulfa, Aspirin untuk mencegah krisis hemolisis  Transfusi darah bila HB < 12 g/dl

Setelah terapi sinar dihentikan

 Observasi 24 jam, cek kadar bilirubin

 Bila ikterus lagi, lihat kadar bilirubin apakah perlu terapi sinar lagi  Ulangi terus sampai kadar bilirubin normal

 Bila kencing gelap, feces pucat tangani sebagai prolonged jaundice  Follow up cek Hb/mg selama 4 mgg

 Bila Hb < 19 gr beri transfusi darah

PROLONGED JAUNDI CE DAN PENANGANANNYA

d Jaundice : Jika > 2 minggu masih Ikterus/terus berlanjut Tanda-tandanya

 Aterm 2 minggu masih Ikterus

 Urobilin : urin yang pekat → Bilirubin ↑  Feses pucat

 Bilirubin Direct

Penanganan

 Hentikan terapi sinar

 Bila feses pucat, kencing kuning gelap, rujuk ke RS rujukan tingkat III atau dengan fasilitas pelayanan specialis untuk pemantauan selanjutnya  Bila ibu dengan tes sifilis (+) berikan terapi pada bayi untuk sifilis congenital

KERN IK TERUS DAN PENANGANANNYA

ern Ikterus : Suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin indirek pada otak. Kern Ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg %) dan disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsyditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern Ikterus secara klinis berbentuk kelainan syaraf spatis yang terjadi secara kronik.

Usia bayi (jam) Pertimbangan terapi sinar

Terapi sinar Transfuse tukar bila terapi sinar intensif gagal

Transfuse tukar dan terapi sinar intensif  Kadar Bilirubin Indirek serum Mg/dl

< 24

25 – 48 > 9 > 12 > 20 > 25

49 – 72 > 12 > 15 > 25 > 30

> 72 > 15 > 17 > 25 > 30

Bayi lahir kurang bulan perlu fototerapi jika :

Usia (Jam) Berat lahir < 1500 g kadar bilirubin BL 1500 –  2000 g kadar bilirubin BL > 2000 g kadar bilirubin < 24 > 4 > 4 > 5 25 – 48 > 5 > 7 > 8 49 – 72 > 7 > 8 > 10 > 72 > 8 > 9 > 12   Tanda-tandanya  Tidak mau menghisap   Letarghi

 Mata berputar

 Gerakan tidak menentu (involuntary movements)   Kejang

 Tonus otot meninggi

 Leher kaku dan akhirnya opistotonus   Penanganan

(10)
(11)

 Lanjutkan terapi sinar sampai dengan kadar Bilirubin Normal dengan menggunakan lampu, tidak lebih 500 jam (untuk menghindari turunnya energy yang

dihasilkan lampu.

Tekniknya Dalam Melakukan Fototeraphy

 Buka pakaian bayi agar seluruh bagian tubuh bayi kena sinar

 Tutup kedua mata dan gonad dengan penutup yang memantulkan cahaya  Jarak bayi dengan lampu + 40 cm

 Ubah posisi tiap 6 jam

 Periksa kadar bilirubin tiap 8 jam/min 1 x 24 jam  Lakukan cek Hb berkala

 Lakukan observasi dan catat lama Fototeraphy  Sediakan lampu 20 watt (8 –  10 bulan) di susun paralel

 Beri cukup ASI demngan mengeluarkan dari tempat dan membuka tutup mata, serta observasi ada tidaknya iritasi  Pemeriksaan tonus otot atau tingkat kesadaran

IK TERUS PREMATUS DAN PENANGANANNYA

Prematur : Ikterus yang timbul pada hari ke 2  –  5 yang terjadi pada bayi kecil < 2500 gr dengan UK < 37 Mingu

  Penanganan

 Terapi sinar bila kadar bilirubin sesuai

 Bila usia < 3 hari saat terapi sinar dihentikan, pantau Ikterus selama 24 jam berikutnya  Bila > 3 minggu, kencing gelap, feses pucat tangani sebagai prolonged jaundice

G. TRANSFUSI TUK AR 

 Transfusi tukar adalah suatu tindakan pengambilan sejumlah kecil darah yang dilanjutkan dengan pengambilan darah dari donor dalam jumlah yang sama

yang dilakukan berulang-ulang sampai sebagian besar darah penderita tertukar

 Pada hiperbilirubinemia, tindakan ini bertujuan mencegah, terjadinya ensefalopati bilirubin dengan cara mengeluarkan bilirubin indirek dan sirkulasi. Pada

 bayi dengan isoimunisasi, transfuse tukar memiliki manfaat tambahan karena membantu mengeluarkan antibody maternal dari sirkulasi karena membantu mengeluarkan antibodi maternal dan sirkulasi bayi sehingga mencegah hemolisis lebih lanjut dan memperbaiki anemia.

 Teknik Transfusi Tukar

 Simple Double volume push –  pull Tehnique jarum infus dipasang melalui kateter vena umbilikalis/vena saphena magna. Darah dikeluarkan dan

dimasukkan b ergantian

 Isovolumetric : Darah secara bersamaan dan simultan dikeluarkan melalui arteri umbilikalis dan dimasukkkan melalui vena umbilikalis dalam jumlah

yang sama

 Partial Exchange Transfusion : Transfusi Tukar sebagian, dilakukan biasanya pada bayi dengan polisitemia di Indonesia. Untuk kedaruratan, Transfusi

Tukar pertama menggunakan golongan darah orhesus positif. (Sukardi, Abdurrahman dkk. 2000)

 Transfusi Tukar harus dihentikan apabila :  Emboli (emboli, bekuan darah), Trombosis

 Hiperkalemi a, Hipernatremia, hipokalsem ik, Asidosis, Hipoglikemia  Gangguan pembekuan karena pemakaian Heparin

 Perforasi pembuluh darah  Komplikasi Transfusi Tukar

 Vaskular : Emboli udara/Trombus, Trombosis  Kelainan jantung : aritmia, overload, henti jantung

 Gangguan Elektrolit : Hipo/Hiperkalsemia, Hipernatrem dan Asidosis  Koagulasi : Trombositopenia, hepatinisasi berlebih

(Sukardi, Abdurrahman dkk. 2000)

H . MASALAH YANG DIHADAPI PADA BAYI LETARGHI 

 Iri Table mudah terangsang, sering menangis tanpa seba   Mengantuk

 Aktivitas berkurang

Tidak sadar : Tidur yang dalam tidak merespons stimuli, tidak bereaksi terhadap rangsangan sakit

LETARGHI KARENA SEPSIS 

 Beri cairan IV

 Puasakan 12 jam

 Ambil sample darah lab. Kultur dan Hb

 Bila kejang dan ubun-ubun besar menonjol

- Lumbal pungsi : lab. Tx meningitis  Bila Hb < 10 gr%, Hematokrit < 30%

-  Tranfusi

 Beri antibiotic yang sesuai

 Beri ASI setelah 12 jam/mulai membaik

 Obs. 24 jam, bila membaik pulang

 Ulang bila masih ada tanda inf

(12)
(13)

LETARGHI K ARENA ASFI KSIA

: - Resusitasi waktu lahir/tidak ada nafas spontan paling tidak menit setelah terakir - Riwayat ibu infeksi intia uteri, demam curiga infeksi berat/KP - Malas minum/tidak mau minum

: - Bayi tampak sakit

- Mengantuk/aktivitas menurun -  Iritable/gelisah

-  Latergi/rapuh -  Gemetar

- Tiba-tiba kondisi memburuk

- Tanda-tand a progresif (suhu labil dan atau apnea)

I. MANAGEJEMENT UMUM LATERGHI KARENA OBAT 

 Bila RR < 30 x/menit, beri O2

 Bila bayi tidak bernapas/megap-megap CER < 20 x/menit lakukan resusitasi dengan balon dan sungkup)

 Bila masih letarghi setelah 6 jam, tangani sesuai dengan dugaan sepsis/asfiksia

M anagejement umum laterghi 

 Ambil sampel darah, cek kadar glukosa darah, bila < 45 g/dl (2,6 µmol/l) tangani untuk hipoglukemia  Beri dukungan pada ibu untuk menyusui

 Nilai tonus dan aktivitas bayi minimal 1x/hari

 Bila tampak layuh/letarghi, hari-hari saat mengangkat dan mangubah posisi bayi, tahan seluruh tubuh, terutama kepala

 Tentukan kemungkinan diagnosis

Letarghi : keadaan lemah badan dan tidak ada dorongan untuk melakukan kegiatan nafsu tidur berlebihan (apabila dibangunkan langsung tertidur kembali, muncul pada  penderita penyakit otak/keracunan (Surasmin, 2003).

M anagement umum letarghi karena suspect sepsis 

 Beri cairan IV

 Puasakan 12 jam

 Ambil sample darah : lab. Kultur dan Hb

 Bila kejang dan ubun-ubun besar menonjol : lumbal pungsi : lab Tx meningitis

 Bila Hb < 10 gr % Hematokrit < 30 % : tranfusi

M anagement umum letarghi k arena hipoglukemi 

 Beri antibiotik yang sesuai

 Beri ASI setelah 12 jam/mulai membaik

 Observasi 24 jam, membaik pulang

 Ulangi bila masih ada tanda infeksi

 Cek Hb dan Hematokrit selama perawatan dan akan pulang

penanganan dehidrasi berat pada bayi usia < 12 bulan , jik a jarak ke RS 1 jam, bidan punya NGT.

 Beri rehidrasi dengan orait melalui NGT 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg BB)

 Periksa tiap 1-2 jam

 Bila muntah terus dan perut semakin kembung, beri cairan leboh lambat

 Jika dalam 3 jam tidak membaik, rujuk untuk pengobatan intravena

 Periksa bayi setelah 6 jam/anak setelah 3 jam, klasifikasi lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi J. VENA SECTION 

Suatu prosedur untuk mendapatkan akses memasukkan cairan infuse melalui intravena. Apabila dengan pemasangan infuse intravena yang langsung mengalami kegagalan/membutuhkan waktu yang lama. Maka salah satu alternatifnya adalah dengan vena section (Ilmu Kesehatan Anak).

Bagaimana penanganan dehidrasi berat 

a. Bila dapat memberikan cairan IV

 Beri cairan IV secepatnya (100 ml/kg BB ; RL/NaCl) usia < 12 bulan 1-5 tahun 1 jam (30 tetes mikro/menit) 30 menit 5 jam (5 tetes makro/menit) (14 tetes mikro/menit) 2,5 jam

Ulangi bila belum membaik

 Beri oralit bila masih bisa minum

 Periksa tiap 1-2 jam

 Jika belum membaik beri tetesan cairan IV lebih cepat hingga nadi lebih kuat

 Beri oralit 5 ml/kg BB segera setelah anak mau minum Bayi : 3-4 jam

(14)
(15)

Anak : 1-2 jam

 Periksa bayi setelah 6 jam/ anak setelah 3 jam, klasifikasikan lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi

 Membaik/tidak lakukan rujukan segera Bila tidak dapat memberikan cairan IV

 b. Apakah ada fasilitas pemberian cairan IV terdekat? (30 menit) Ya

 Rujuk segera untuk mendapatkan cairan IV

 Jika anak masih bisa minum bekali oralit untuk diminum selama dalam perjalanan Bila tidak ada fasilitas pemberian cairan terdekat

c. Apakah anda terlatih memasang pipa NGT? Ya (dan anak bisa minum)

 Beri rehidrasi dengan oralit melalui NGT 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg BB)

 Periksa tiap 1-2 jam

 Bila muntah terus dan perut semakin kembung, berarti cairan lebih lambat

 Jika dalam 3 jam tidak membaik, rujuk untuk pengobatan intravena

 Periksa bayi setelah 6 jam/anak setelah 3 jam

Klasifikasi lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi

Kompli kasi Dehidrasi Berat 

  Hipernatremia   Hiponatremia   Demam   Oedem   Asidosis   Hipokalemia   Kejang

 Mal absorbsi dan intoleransi laktosa

 Mal absorbsi glukosa

  Muntah

 Gagl ginjal akut (GGA) Tanda-tanda dehidrasi berat

 Gelisah, bingung/mengantuk

 Mulut, kulit dan membran lendir yang sangat kering

 Tidak/kurang berkeringat

 Sedikit/tidak berkemih dan urin yang keluar berwarna gelap

 Mata cekung

 Kulit kering dan berkurang kekenyalannya

 Pada bayi ubun-ubunnya bila diraba akan terasa cekung

 Tekanan darah rendah

 Detak jantung cepat

  Demam

 Terjadi hilangnya kesadaran (Khosim, M. Sholeh, dkk, 2008).

KONDISI-KONDISI YANG MENYEBABKAN KEGAWATDARURATAN NEONATUS

1. Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 36

0

C atau kedua kaki dan tangan teraba

dingin.

Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low

reading termometer) sampai 25

0

C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat

merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.

(16)
(17)

Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya

metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan

glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan

yang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.

Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis,

kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak

adekuat setelah kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.

Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal bayi dengan

hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada hipotermia. Tanda-tanda klinis

hipotermia:

a. Hipotermia sedang (suhu tubuh 32

0

C  –  <36

0

C ), tanda-tandanya antara lain : kaki

teraba dingin, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak

rata atau disebut kutis marmorata.

 b. Hipotermia berat (suhu tubuh < 32

0

C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan

hipotermia sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung

lambat, terkadang disertai hipoglikemi dan asidosisi metabolik.

c. Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan

 berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul

edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)

2. Hipertermia

Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia

terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan

 panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan

membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.

Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah kondisi

akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang

mempunyai panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak

terkendali dan menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi

negative obat jarang terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi

maligna yang merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.

Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran

 pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuan gan panas, bibir bengkak.

Tanda-tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan

serangan panas dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah.

Hal ini dapat menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba.

Tachycardia dan tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan

 jantung. Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit,

(18)
(19)

mengakibatkan kulit pucat atau warna kebiru-biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke

 panas. Beberapa korban, terutama anak-anak kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya,

sebagai organ tubuh mulai gagal, ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.

3. Hiperglikemia

Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam

 plasma darah berlebihan.

Hiperglikemia disebabkan oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia

 biasanya disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi insulin pada

sel. Kadar insulin rendah dan / atau resistensi insulin tubuh disebabkan karena kegagalan

tubuh mengkonversi glukosa menjadi glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak

mungkin

untuk

menghilangkan

kelebihan

glukosa

dari

darah.

Gejala hiperglikemia antara lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri

(sering buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit terjadi

 penyembuhan luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi (pria), infeksi berulang,

kussmaul hiperventilasi,arrhythmia, pingsan, koma.

4. Tetanus neonaturum

Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang

disebabkan karena basil klostridium tetani.

Tanda-tanda klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut mencucu

seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang menangis) dan sering kejang

disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut,

alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.

Penatalaksanaan yang dapat diberikan : bersihkan jalan napas, longgarkan atau buka p akaian

 bayi, masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut bayi, ciptakan

lingkungan yang tenang dan berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.

5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil

Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis gravidarum, abortus,

kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga uterus), molahidatidosa (proliferasi

abnormal dari vili khorialis).

Kehamilan Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre

eklampsi, eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya plasenta dari tempat

implantasi), plasenta previa (implantasi plasenta terletak antara atau pada daerah serviks),

insertio velamentosa, ruptur sinus marginalis, plasenta sirkumvalata).

(20)
(21)

Hipoglikemia Pada Bayi Baru Lahir 

Fatimah Indarso

BATASAN

Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6

mmol/L).

PATOFISIOLOGI

Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa rendah.

Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin

 juga meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa

 berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism) sehingga terjadi

hipoglikemi.

Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang

yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan

kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian.

Kejadian hipoglikemi lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan diabetes melitus.

Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses

 persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir.

Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan

 penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan

 pernapasan.

DIAGNOSIS

Anamnesis

Riwayat bayi menderita asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan

Riwayat bayi prematur 

Riwayat bayi Besar untuk Masa Kehamilan (BMK)

Riwayat bayi Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK)

Riwayat bayi dengan ibu Diabetes Mellitus

Riwayat bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan

Bayi yang beresiko terkena hipoglikemia

-

Bayi dari ibu diabetes (IDM)

-

Bayi yang besar untuk masa kehamilan (LGA)

-

Bayi yang kecil untuk masa kehamilan (SGA)

-

Bayi prematur dan lewat bulan

-

Bayi sakit atau stress (RDS, hipotermia)

-

Bayi puasa

-

Bayi dengan polisitemia

(22)
(23)

-

Obat-obat yang dikonsumsi ibu, misalnya sterorid, beta-simpatomimetik dan

 beta blocker

GEJALA KLINIS/Pemeriksaan fisik

Gejala Hipoglikemi : tremor, jittery, keringat dingin, letargi, kejang, distress nafas 

 Jitteriness

Sianosis

Kejang atau tremor

Letargi dan menyusui yang buruk

Apnea

Tangisan yang lemah atau bernada tinggi

Hipotermia

RDS

DIAGNOSIS BANDING 

insufisiensi adrenal, kelainan jantung, gagal ginjal, penyakit SSP, sepsis, asfiksia, abnormalitas metabolik (hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hipomagnesemia, defisiensi piridoksin).

Penyulit

- Hipoksia otak

- Kerusakan sistem saraf pusat

TATALAKSANA

a. Monitor

Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari pertama :

o Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam

o Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali

pemeriksaan

Kadar glukosa ≤ 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia

o

(24)
(25)

b. Penanganan hipoglikemia dengan gejala :

 Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit

 Pasang jalur iv D10 sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit).

Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 1 8 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila dipakai D 10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/ 10 g x 100 cc= 259 cc D 10% /hari.

 Atau cara lain dengan GIR

Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral

Untuk mencari kecepatan Infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR.

Kecepatan Infus (GIR) = glucosa Infusion Rate

GIR (mg/kg/min) = Kecepatan cairan (cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%)

6 x berat (Kg)

Contoh : Berat bayi 3 kg umur 1 hari

Kebutuhan 80 cc/jam/hari = 80 x 3 = 240 cc/hari = 10 cc/jam

GIR = 10 x 10 (Dextrose 10%) = 100 = 6 mg/kg/min

6 x 3

18

 Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam

 Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas

 Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gej ala klinis :

-

Infus D10 diteruskan

-

Periksa kadar glukosa tiap 3 jam

-

ASI diberikan bila bayi dapat minum

Bila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan

-

Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal (lihat ad d)

-

ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan

-

Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba

c. Kadar glukosa darah < 45 mg/dl

tanpa 

 GEJALA :

ASI teruskan

(26)
(27)

Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :

- Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi (lihat ad b)

- Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum

- Kadar ≥ 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal

d. Kadar glukosa normal IV teruskan

IV teruskan

Periksa kadar glukosa tiap 12 jam

Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas

Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali

 pemeriksaan dalam batas normal, pengukuran dihentikan

Persisten hipoglikemia

(hipoglikemia lebih dari 7 hari)

konsultasi endokrin

terapi : kortikosteroid hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2 mg/kg/hari

 per oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam.

 bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain : somatostatin, glukagon, diazoxide,

human growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)

DAFTAR PUSTAKA

1. Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Neonatology, management, procedures,

on call problems disease and drugs; edisi ke-5. N ew York : Lange Books/Mc Graw-Hill,

2004; 262-66.

2. Khosim S, Indarso F, Irawan G, Hendrarto TW. Buku acuan pelatihan pelayanan obstetri

 Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta : Depkes RI, 2006; 56-7.

3. Wilker RE. Hypoglycemia and hyperglycemia Dalam: Cloherty JP, S tark AR, eds. Manual of

neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams & Wilkins, 2004; 569-76.

4. Khosim MS, Surjono A, Setyowireni D, et al. Buku panduan manajemen masalah bayi baru

lahir untuk dokter, bidan dan perawat di rumah sakit. Jakarta : IDAI, MNH-JHPIEGO,

Depkes RI, 2004; 35-6.

Penanganan Terkini Hipoglikemia Pada Bayi

Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6 mmol/L). Hipoglikemia adalah masalah metabolik paling umum pada neonatus. Pada anak-anak, sebuah glukosa darah nilai kurang dari 40 mg / dL (2,2 mmol / L) merupakan hipoglikemia. Sebuah glukosa plasma tingkat kurang dari 30 mg / dL (1,65 mmol / L) dalam 24 jam pertama kehidupan dan kurang dari 45 mg / dL (2,5 mmol / L) setelahnya merupakan hipoglikemia pada bayi baru lahir.

Pasien dengan hipoglikemia mungkin asimtomatik atau mungkin hadir dengan sistem saraf yang parah pusat (SSP) dan gangguan cardiopulmonary. Manifestasi klinis yang paling umum dapat mencakup tingkat kesadaran yang berubah, kejang, muntah, unresponsiveness, dan kelesuan. Setiap anak sakit harus dievaluasi untuk hipoglikemia, terutama ketika sejarah mengungkapkan asupan oral berkurang. (Lihat Sejarah dan Pemeriksaan Fisik.)

(28)
(29)

Hipoglikemia berkelanjutan atau berulang pada bayi dan anak-anak memiliki dampak yang besar pada perkembangan otak normal dan fungsi. Bukti menunjukkan bahwa hipoksemia dan iskemia mempotensiasi hipoglikemia, menyebabkan kerusakan otak yang permanen dapat mengganggu perkembangan neurologis.

PENYEBAB

Penyebab hipoglikemia pada neonatus berbeda sedikit dari pada bayi yang lebih tua dan anak-anak. Penyebab pada neonatus meliputi berikut

 Perubahan sekresi hormon

 Berkurangnya Substrat cadangan dalam bentuk glikogen hati

 Berkurangnya cadangan Otot sumber asam amino untuk glukoneogenesis  Berkurangnya cadangan Lipid untuk pelepasan asam lemak

Patofisiologi

 Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa rendah.

 Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga

meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism) sehingga terjadi hipoglikemi.

 Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang yang

 berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian.

 Kejadian hipoglikemi lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan diabetes melitus.

 Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses persalinan dan

hari-hari pertama pasca lahir.

 Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan penggunaan

cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan. DIAGNOSIS

Presentasi e klinis hipoglikemia mencerminkan penurunan ketersediaan glukosa untuk SSP serta stimulasi adrenergik disebabkan oleh tingkat darah menurun atau rendah gula. Selama hari pertama atau kedua kehidupan, gejala bervariasi dari asimtomatik ke SSP dan gangguan cardiopulmonary. Kelompok berisiko tinggi yang membutuhkan skrining untuk hipoglikemia pada satu jam pertama kehidupan meliputi

 Bayi yang baru lahir yang beratnya lebih dari 4 kg atau kurang dari 2 kg

 Besar usia kehamilan (LGA) bayi yang berada di atas persentil ke-90, kecil untuk usia kehamilan

(30)
(31)

 Bayi yang lahir dari ibu tergantung insulin (1:1000 wanita hamil) atau ibu dengan diabetes gestasional

(terjadi pada 2% dari wanita hamil)

 Usia kehamilan kurang dari 37 minggu

 Bayi yang baru lahir diduga sepsis atau lahir dari seorang ibu yang diduga menderita korioamnionitis  Bayi yang baru lahir dengan gejala sugestif hipoglikemia, termasuk jitteriness, tachypnea, hypotonia,

makan yang buruk, apnea, ketidakstabilan temperatur, kejang, dan kelesuan

 Selain itu, pertimbangkan skrining hipoglikemia pada bayi dengan hipoksia yang signifikan, gangguan

 perinatal, nilai Apgar 5 menit kurang dari 5, terisolasi hepatomegali (mungkin glikogen-penyimpanan  penyakit), mikrosefali, cacat garis tengah anterior, gigantisme, Makroglosia atau hemihypertrophy

(mungkin Beckwith-Wiedemann Syndrome), atau kemungkinan kesalahan metabolisme bawaan atau ibunya ada di terbutalin, beta blocker, atau agen hipoglikemik oral

 Terjadinya hiperinsulinemia adalah dari lahir sampai usia 18 bulan. Konsentrasi insulin yang tidak

tepat meningkat pada saat hipoglikemia didokumentasikan. Hiperinsulinisme neonatal Transient terjadi pada bayi makrosomia dari ibu diabetes (yang telah berkurang sekresi glukagon dan siapa  produksi glukosa endogen secara signifikan dihambat). Secara klinis, bayi ini makrosomia dan

memiliki tuntutan yang semakin meningkat untuk makan, lesu intermiten, jitteriness, dan kejang jujur.

Bayi dengan hiperinsulinisme neonatal berkepanjangan dapat digambarkan sebagai berikut:

 SGA

 Memiliki asfiksia perinatal  Lahir dari ibu dengan toksemia

 Memiliki tingkat penggunaan glukosa dan sering membutuhkan infus dextrose untuk jangka waktu

lama

 Hipoglikemia ketotik merupakan suatu penyakit, jarang, tapi dramatis. Hal ini diamati pada anak-anak

muda dari usia 5 tahun, yang biasanya menjadi gejala setelah puasa semalam atau berkepanjangan, terutama dengan penyakit dan asupan mulut yang buruk. Anak-anak sering hadir sebagai misterius lesu atau terus terang koma, setelah hanya ditandai dengan hipoglikemia ketonuria.

Anamenesis

 Riwayat bayi menderita asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasa  Riwayat bayi prematur

 Riwayat bayi Besar untuk Masa Kehamilan (BMK)  Riwayat bayi Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK)  Riwayat bayi dengan ibu Diabetes Mellitus

 Riwayat bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan  Bayi yang beresiko terkena hipoglikemia  Bayi dari ibu diabetes (IDM)

(32)
(33)

 Bayi yang besar untuk masa kehamilan (LGA)  Bayi yang kecil untuk masa kehamilan (SGA)  Bayi prematur dan lewat bulan

 Bayi sakit atau stress (RDS, hipotermia)  Bayi puasa

 Bayi dengan polisitemia  Bayi dengan eritroblastosis

 Obat-obat yang dikonsumsi ibu, misalnya sterorid, beta-simpatomimetik dan beta blocker

Pemeriksaan Fisik 

 Manifestasi klinis yang luas dan dapat hasil dari stimulasi adrenergik atau dari penurunan ketersediaan

glukosa untuk SSP. Tidak seperti anak-anak, bayi tidak dapat memverbalisasi gejala mereka dan sangat rentan terhadap hipoglikemia.

 Bayi pada hari pertama atau kedua kehidupan mungkin asimtomatik atau memiliki mengancam jiwa

SSP dan gangguan cardiopulmonary. Gejala dapat meliputi: hpotonia, lesuan, apatis, malas minum, kejang, gagal jantung kongestif, sianosis, apnea, hipotermi

 Manifestasi klinis yang terkait dengan aktivasi sistem saraf otonom meliputi: Kecemasan,

tremulousness,Diaphoresis, takikardi, anemia, mual, dan muntah

 Manifestasi klinis dari hypoglycorrhachia atau neuroglycopenia meliputi:Sakit kepala,Mental

kebingungan, menatap, perubahan perilaku, sulit berkonsentrasi

 Gangguan visual (misalnya, penurunan ketajaman, diplopia)Dysarthria, kejang, Ataksia, mengantuk,

koma, stroke(hemiplegia, aphasia), parestesia, pusing, amnesia, decerebrate atau mengulit sikap Manifestasi klinis   jittery  keringat dingin  letargi  distress nafas  Sianosis

 Kejang atau tremor

 Letargi dan menyusui yang buruk  Apnea atau henti napas

 Tangisan yang lemah atau bernada tinggi  Hipotermia  RDS Diagnosis banding  Insufisiensi adrenal  Kelainan jantung  Gagal ginjal

(34)
(35)

 Penyakit SSP  Sepsis, asfiksia

 Abnormalitas metabolik (hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hipomagnesemia, defisiensi

 piridoksin).

 Fasting  Malnutrition  Diarrhea

 Enzymatic defects of glycogen synthetic pathways  Enzymatic defects of glycogenolytic pathways  Enzymatic defects of gluconeogenic pathways  Glucagon deficiency

 Congenital hyperinsulinism (eg, nesidioblastosis, leucine sensitive hypoglycemia)  Defects of beta cell regulation

 Large tumors

 Decreased or absent fat stores

 Enzymatic defects in fatty acid oxidation

Penyulit

 Hipoksia otak

 Kerusakan sistem saraf pusat

PENANGANAN

 MonitorPada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu D M) perlu dimonitor dalam 3 hari

 pertama : Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam. Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali pemeriksaan. Kadar glukosa ≤ 45 mg/dl atau gejala  positif tangani hipoglikemia

 Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan hipoglikemia selesai  Hipoglikemia harus diperlakukan sesegera mungkin untuk mencegah komplikasi kerusakan

neurologis. Awal makan bayi yang baru lahir dengan ASI atau susu formula dianjurkan. Bagi mereka yang tidak mampu untuk minum, selang nasogastrik dapat digunakan. Andalan terapi untuk anak-anak yang waspada dengan perlindungan jalan nafas utuh termasuk jus jeruk pada 20 mL / kg.

 Bagi mereka yang tidak bisa melindungi jalan napas mereka atau tidak dapat minum, rute nasogastrik,

intramuskular, intraosseous, atau IV dapat digunakan untuk obat berikut digunakan untuk

meningkatkan kadar glukosa: dekstrosa, glukagon, diazoxide, dan octreotide. Laporan kasus telah menunjukkan bahwa nifedipin dapat membantu untuk mempertahankan normoglikemia pada anak dengan PHHI.

 Kortisol tidak boleh digunakan, karena memiliki manfaat akut minimal dan dapat menunda diagnosis

(36)
(37)

 penggunaan glukosa, yang mengarah ke peningkatan glukosa darah secara keseluruhan dan dapat menutupi penyebab sebenarnya dari hipoglikemia.

Anti-hipoglikemik : Obat ini meningkatkan kadar glukosa darah

 Dekstrosa Dextrose adalah pengobatan pilihan. Hal ini diserap dari usus, mengakibatkan peningkatan

 pesat dalam kadar glukosa darah bila diberikan secara oral. Berikan IV dekstrosa untuk bayi dari ibu diabetes dengan hiperinsulinemia neonatal sementara selama beberapa hari sampai hiperinsulinemia mereda. Hindari hiperglikemia membangkitkan pelepasan insulin cepat, yang bisa menyebabkan hipoglikemia rebound. Bayi SGA dan mereka dengan toksemia ibu atau asfiksia perinatal memerlukan tingkat dextrose infus IV lebih dari 20 mg / kg / menit untuk mengontrol tingkat. Pengobatan mungkin diperlukan untuk 2-4 minggu.

 Diazoxide (Proglycem) Diazoxide meningkatkan glukosa darah dengan menghambat pelepasan

insulin pankreas dan mungkin melalui efek extrapancreatic. Efek hiperglikemia dimulai dalam waktu satu jam dan biasanya berlangsung maksimal 8 jam dengan fungsi ginjal normal. Diazoxide

dilaporkan efektif pada bayi SGA dan pada mereka dengan toksemia ibu atau asfiksia perinatal.

 Octreotide (Sandostatin)Octreotide adalah analog long-acting dari somatostatin yang menekan

sekresi insulin untuk pengelolaan jangka pendek hipoglikemia.

 Glukagon (Glukagon Darurat Kit, GlucaGen) G lukagon dapat digunakan untuk mengobati

hipoglikemia sekunder untuk hiperinsulinemia dan dapat diberikan kepada pasien tanpa akses IV awal. ML masing-masing berisi 1 mg (yaitu, 1 U). Konsentrasi glukosa maksimal terjadi antara 5-20 menit setelah pemberian IV dan sekitar 30 menit setelah intramuskular (IM) administrasi.

 Penanganan hipoglikemia dengan gejala :

· Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit

· Pasang jalur iv D10 sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit).

Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 18 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila dipakai D 10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/ 10 g x 100 cc= 259 cc D 10% /hari.

 Atau cara lain dengan GIR

Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral.

· Untuk mencari kecepatan Infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR. Kecepatan Infus (GIR) = glucosa Infusion Rate

GIR (mg/kg/min) = Kecepatan cairan (cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%) 6 x berat (Kg)

Contoh : Berat bayi 3 kg umur 1 hari

Kebutuhan 80 cc/jam/hari = 80 x 3 = 240 cc/hari = 10 cc/jam GIR = 10 x 10 (Dextrose 10%) = 100 = 6 mg/kg/min

(38)
(39)

· Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam

· Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas

 Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis :

- Infus D10 diteruskan

- Periksa kadar glukosa tiap 3 jam - ASI diberikan bila bayi dapat minum

 Bila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan - Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal (lihat ad d)

- ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan

- Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba

 Kadar glukosa darah < 45 mg/dl tanpa GEJALA :

· ASI teruskan

· Pantau, bila ada gejala manajemen seperti diatas

· Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :

 Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi  Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum

 Kadar ≥ 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal  Kadar glukosa normal IV teruskan

· IV teruskan

· Periksa kadar glukosa tiap 12 jam Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas

 Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali pemeriksaan dalam

 batas normal, pengukuran dihentikan.

 Persisten hipoglikemia (hipoglikemia lebih dari 7 hari)

· konsultasi endokrin

· terapi : kortikosteroid hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2 mg/kg/hari per oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam.

· bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain : somatostatin, glukagon, diazoxide, human growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)

DAFTAR PUSTAKA

 Wilker RE. Hypoglycemia and hyperglycemia Dalam: Cloherty JP, Stark AR, eds. Manual of neonatal

care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams & Wilkins, 2004; 569-76

 Raghuveer TS, Garg U, Graf WD. Inborn errors of metabolism in infancy and early childhood: an

(40)
(41)

 Ishiguro A, Namai Y, Ito YM. Managing “healthy” late preterm infants. Pediatr Int . Oct

2009;51(5):720-5.

  Newborn Nursery QI Committee. Portland (ME): The Barbara Bush Children’s Hospital at Maine

Medical Center; 2004 Jul. Neonatal hypoglycemia: initial and follow up management. National Guideline Clearinghouse. 2004

  Narchi H, Skinner A, Williams B. Small for gestational age neonates – are we missing some by only

using standard population growth standards and does it matter?. J Matern Fetal Neonatal Med . Jan 2010;23(1):48-54.

Pengertian Dan Penanganan Asfiksia Pada Bayi

Baru Lahir

A. Definisi

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat

bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat

gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia

pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan

gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau

masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau

sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).

Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat

segera bernafas scr spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini

disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini

berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam

kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir.

Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi

tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan

dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan

kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut

yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999)

(42)
(43)

Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan

gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan

oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam

rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut

menjadi asfiksia bayi baru lahir.

Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab

terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah

faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:

1. Faktor ibu

Preeklampsia dan eklampsia

Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)

Partus lama atau partus macet

Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC,

HIV)

Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

2. Faktor Tali Pusat

Lilitan tali pusat

Tali pusat pendek

Simpul tali pusat

Prolapsus tali pusat

3. Faktor Bayi

Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)

Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia

bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)

Kelainan bawaan (kongenital)

(44)
(45)

Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko

yang berpotensi untuk menimbulkan asfiksia. Apabila

ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus

dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan

perlunya tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya faktor

risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong)

tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu,

penolong harus selalu siap melakukan resusitasi bayi pada

setiap pertolongan persalinan.

C. Perubahan Patofiologis dan Gambaran Klinis

Pernafasan spontan BBL tergantung pada kondisi janin pada

masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan

pertukaran gas atau pengangkutan O

2

 selama kehamilan atau

persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini

akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi

akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai

suatu periode apnu disertai dengan penurunan frekuensi. Pada

penderita asfiksia berat, usaha bernafas tidak tampak dan bayi

selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat

ini terjadi bradikardi dan penurunan TD.

Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan

perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada

tingkat pertama hanya terjadi asidosis respioratorik. Bila

berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an

aerobic yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga

glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan

berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan

kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan

diantaranya :

1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan

mempengaruhi fungsi jantung.

2. Terjadinya asidosis metabolik yang akan menimbulkan

kelemahan otot jantung.

(46)
(47)

3. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan

mengakibatkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah

paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan ke sistem sirkulasi

tubuh lain akan mengalami gangguan. (Rustam, 1998).

Gejala dan Tanda-tanda Asfiksia

Tidak bernafas atau bernafas megap-megap

Warna kulit kebiruan

Kejang

Penurunan kesadaran

D. Diagnosis

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan

dari anoksia / hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia janin

dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya

tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian

yaitu :

1. Denyut jantung janin

Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak

artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah

100 kali per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur,

hal itu merupakan tanda bahaya

2. Mekonium dalam air ketuban

Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan

tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan

oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam

air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi

untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan

dengan mudah.

(48)
(49)

Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat

serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan

diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya

asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun

sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya

gawat janin mungkin disertai asfiksia.

(Wiknjosastro, 1999)

E. Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir

adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan

dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya

resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui

rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan

tindakan lanjutan.

Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan

oleh tiga tanda penting, yaitu :

Penafasan

Denyut jantung

Warna kulit

Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai

resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya

resusitasi. Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa

bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera

ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan

vertilasi dengan tekanan positif (VTP).

F. Persiapan Alat Resusitasi

Sebelum menolong persalinan, selain persalinan, siapkan juga

alat-alat resusitasi dalam keadaan siap pakai, yaitu :

(50)
(51)

2. Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain,

kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm dan

mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala bayi.

3. Alat penghisap lendir de lee atau bola karet.

4. Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal.

5. Kotak alat resusitasi.

6. Jam atau pencatat waktu.

(Wiknjosastro, 2007).

G. Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan

yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :

1. Memastikan saluran terbuka

- Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal

2-3 cm.

- Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.

- Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk

memastikan saluran pernafasan terbuka.

2. Memulai pernafasan

- Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan

- Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa

ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).

3. Mempertahankan sirkulasi

- Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara

- Kompresi dada.

- Pengobatan

(52)

Referensi

Dokumen terkait

Jika matahari tinggi maka radiasi yang jatuh hampir tegak lurus pada permukaan bumi, sedangkan jika matahari rendah ma- ka radiasi akan disebarkan dalam area yang luas sehingga

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif, komitmen ibu untuk tetap memberikan ASI saja sampai usia 6 bulan, dan dukungan sosial yaitu

Penelitian berjudul pertumbuhan dan akuisisi n, p, k bibit kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq.) sistem single stage dengan perlakuan media tanam limbah kelapa

Dari beberapa teori dapat disimpulkan bahwa kemampuan matematika awal adalah kepekaan terhadap cara berpikir ilmiah dan membangun konsep yang ditunjukkan dengan

Dalam pengambilan dan pemanfaatan air tanah selain untuk target pendapatan daerah juga untuk pengendaliannya dengan memperhatikan kondisi air tanah dalam rangka

Bahan Alam Laut: Filum Echinodermata_Kelompok VIII Page 1 of 41 FMIPA (Herbal Farmasi_Estetika Indonesia).. BAB I

Dari Gambar 3 di atas, dapat dilihat bahwa selama penyimpanan jenis plastik multilayer lebih dapat mempertahankan wama seduhan teh hijau selama penyimpanan dibandingkan dengan

Hasil uji analisa data menggunakan uji Nonparametrik Kruskall-Wallis dengan p &lt; 0.05 menunjukkan signifikasi 0.001 yang berarti terdapat pengaruh ekstrak etanol